Minggu, 01 Mei 2016

Manusia Memerlukan Petunjuk "Wahyu Ilahi" Berkenaan Hal-hal yang "Logika" (Akal) Tidak Mampu Menjangkaunya, Terutama "Kepastian Keberadaan" Allah Swt, Tuhan Pencipta Alam Semesta





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


  Manusia Memerlukan Petunjuk   Wahyu Ilahi” Berkenaan Hal-hal yang Logika (Akal) Tidak Mampu Menjangkaunya, Terutama Kepastian Keberadaan Allah Swt., Tuhan Pencipta Alam Semesta

Bab 34


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai pentingnya menerima kabar gembira melalui wahyu Ilahi agar hati tetap teguh  dan tentram menghadapi kesulitan hidup:
     Yang Maha Bijaksana tidak berkeinginan membiarkan manusia yang lemah terperangkap dalam imajinasi (angan-angan) dan dugaannya sendiri. Dia telah memberikan bermacam pengkhutbah dan pendidik yang dapat memuaskan manusia dan memberikan kedamaian pada jiwanya yang gelisah serta membekalinya dengan firman yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kaidah hukum alam dari Tuhan memastikan perlunya wahyu untuk itu.
     Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa ketika berjuta-juta manusia yang terkekang penderitaan akibat dosa dan penyelewengan, kemudian bisa dipengaruhi oleh bicara seorang pengkhutbah atau penasihat, karena ilmu dan fikiran mereka sendiri sudah tidak lagi memadai?
    Kepuasan yang diperoleh umat manusia dari sumber-sumber seperti itu tergantung juga pada kadar kekaguman dan penghormatan yang diberikan kepada sumber tersebut. Hanya janji-janji dari seorang yang bersifat amanah pada janjinya serta memiliki kemampuan memperbaiki mereka yang akan memberikan kepuasan dan ketenteraman kepada para pendengar atau pengikutnya.
    Dalam keadaan seperti itu, siapa yang akan meragukan jika ada yang menyatakan bahwa berkaitan dengan keadaan manusia setelah mati dan hal-hal yang bersifat metaphisika, cara terbaik mendapatkan kepuasan dan pemupus kesakitan ruhani adalah firman Tuhan.

Manusia Membutuhkan Petunjuk Wahyu Ilahi

       Jika seseorang beriman sepenuhnya pada firman Tuhan maka hal itu akan menyelamatkan yang bersangkutan dari berbagai pusaran permasalahan, meredam nafsu-nafsu yang berlebihan serta mengaruniakan kepadanya keteguhan hati menghadapi musibah-musibah yang menakutkan.
      Ketika seorang bijak pada saat kesulitan atau sedang dalam cengkeraman nafsu, bisa menemukan janji atau peringatan Tuhan di dalam firman-Nya, atau melalui penjelasan dari seseorang tentang apa yang diperintahkan Tuhan maka yang bersangkutan akan demikian terpengaruh sehingga langsung bertobat.
     Manusia selalu membutuhkan Tuhan guna menenteramkan dirinya. Demikian seringnya ia harus menghadapi berbagai musibah sehingga jika tidak ada firman Tuhan yang memberikan kabar suka, pasti ia akan berputus asa sedemikian rupa sampai-sampai ia akan menyangkal Tuhan-nya, atau bahkan dalam kekecewaannya malah meninggalkan Tuhan sama sekali atau juga mati karena kesedihan. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan:
 وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
“Dan niscaya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan; tetapi hai Rasul berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Mereka inilah yang dilimpahi berkah dan rahmat dari Tuhan mereka pulalah yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
       Dengan cara yang sama, guna mengatasi nafsu seseorang maka dibutuhkan firman Tuhan karena pada setiap langkahnya manusia selalu terantuk pada permasalahan yang hanya bisa diatasi dengan bantuan firman Tuhan. Bila seseorang berkeinginan berpaling kembali kepada Tuhan, ia akan menghadapi berbagai rintangan. Terkadang ia teringat kembali pada segala kenikmatan duniawi, tertarik kepada keakraban kawan-kawannya atau gamang menghadapi kesulitan dalam jalan yang akan ditempuh.
      Kadang kala kebiasaan dan adat setempat menghalangi jalannya, atau juga pertimbangan mengenai derajat kehormatan, kemuliaan atau pun kekuasaan duniawi. Bisa jadi semuanya itu bergabung bersama menjadi satu seperti gerombolan yang berusaha menariknya ke arah mereka dan menawarkan kepadanya berbagai kemudahan atau kenikmatan dimana kesatuan mereka itu menekan fikirannya sedemikian rupa sehingga tidak tertahankan lagi.
       Dalam perseteruan seperti itu maka persenjataan yang efektif berupa firman Tuhan amat diperlukan guna menumpas kekuatan lawan pada serangan pertama. Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya pada satu sisi saja. Tak mungkin Tuhan akan berdiam diri seperti batu sedangkan hamba-Nya berusaha mencapai kemajuan dengan kekuatannya sendiri guna mengembangkan kesetiaan, ketulusan dan keteguhan hati. Manusia akan melaju maju dalam kasih dan diperkuat oleh keyakinan bahwa ada Wujud Yang menciptakan langit dan bumi. Dugaan saja tidak akan pernah bisa menggantikan fakta.
      Sebagai contoh, misalkan seorang miskin yang berutang memperoleh janji dari seorang kaya yang jujur bahwa pada saat pelunasannya nanti ia akan dibantu menyelesaikan semua utangnya, dibandingkan dengan pengutang lain yang tidak mendapat janji dari siapa pun dimana ia terpaksa menahan diri untuk tidak berangan-angan bahwa ia akan dibantu seseorang melunasi utangnya ketika saatnya tiba. Apakah mungkin kedua orang seperti itu memiliki tingkat kepuasan yang sama? Jelas tidak!
      Semua hal ini tercakup dalam hukum alam dan tidak ada kebenaran lain yang berada di luarnya. Sial sekali mereka yang katanya mengaku mengikuti hukum alam tetapi kemudian melepaskan diri dan malah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 340-342, London, 1984).

Keselarasan Wahyu Ilahi dengan “Hukum Alam

    Sehubungan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran mengenai adanya keselarasan antara  wahyu Al-Quran dengan hukum alam:
اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ  کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا ﴿﴾
Maka  tidakkah mereka ingin merenungkan Al-Quran? Dan seandainya  Al-Quran ini  berasal dari sisi yang bukan-Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya. (An-Nisa [4]:83).
     “Pertentangan” dapat mengacu kepada pertentangan-pertentangan dalam teks Al-Quran dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya; atau kepada ketidakadaan persesuaian antara nubuatan-nubuatan yang tersebut dalam Al-Quran dengan hasil atau penggenapan nubuatan-nubuatan itu.
      Demikian pula halnya dengan keserasian tatanan alam semesta jasmani. Sebab Al-Quran mau pun alam semesta bersumber dari Tuhan yang sama, yaitu Allah Swt., sehingga mustahil terdapat kontradiksi antara  firman-Nya – yakni wahyu Ilahi , dalam hal ini wahyu Al-Quran -- dengan perbuatan-Nya  yaitu alam semesta, firman-Nya: 
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ  --   Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Anbiya [21]:23-24).
       Ayat 23  merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam raya.
       Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas” mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
      Ayat لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ  --   Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya”   menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib tatanan alam semesta, sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, yaitu Allah Swt.,  dan mengisyaratkan pula kepada ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt.  mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.

Keterkecohan Para Penyembah “Hukum Alam” Mengenai Keberadaan “Tuhan Pencipta” Alam Semesta

    Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. selanjutnya menjelaskan mengenai keterkecohan  orang-orang yang menyatakan bahwa ada kontradisi antara logika dengan wahyu Ilahi , terutama dengan  wahyu Al-Quran:
    Aku tidak mengerti siapa yang telah mengecoh kalian sehingga kalian  membayangkan ada kontradiksi di antara logika dan wahyu, dimana dikatakan keduanya tidak mungkin berada bersamaan. Semoga Allah Swt. mengkaruniakan daya penglihatan bagi kalian dan mengangkat tabir yang menutup kalbu kalian.
      Sulitkah bagi kalian untuk memahami masalah sederhana ini bahwa justru berkat adanya wahyu maka logika mencapai kesempurnaannya, terpelihara dari segala kesalahan, menemukan jalan yang lurus, dipelihara dari segala kerancuan dalam proses berfikir, terjaga dari kesia-siaan dalam upaya dan usaha serta mengubah segala keraguan dugaan menjadi suatu kepastian hakiki.
   Justru berkat dari wahyu maka mereka yang selama ini hanya bisa menduga-duga diberitahu akan faktanya yang benar, sehingga yang bersangkutan bisa mencapai kepuasan. Karena semua hal ini, lalu apakah wahyu harus dianggap sebagai musuh akal atau malah merupakan suatu berkat penolong dan penopang?
      Alangkah piciknya pandangan yang menganggap sosok penolong sebagai perampok dan penghadang, serta menganggap seseorang yang menarik korban dari lubang perangkap malah dianggap sebagai yang telah memperosokkan. Seluruh dunia menyadari dan mereka yang punya mata bisa melihat serta mereka yang bisa berfikir  jelas mengetahui bahwa di dunia ini terdapat berjuta-juta manusia seperti itu di masa lalu mau pun di masa kini,  dimana mereka ini hanya mengandalkan keagungan daya fikir sedemikian rupa sehingga mereka malah dianggap sebagai orang-orang bijak, namun mereka menyangkal eksistensi Tuhan dan mereka ketika mati pun masih dalam keadaan seperti itu.
      Sebaliknya, tunjukkanlah kepada kami apakah ada orang yang beriman kepada wahyu tetapi masih juga menyangkal Tuhan. Karena wahyu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan bagi keimanan yang teguh kepada Tuhan,   maka akan jelas kiranya bahwa jika tidak ada wahyu maka tidak akan ada keimanan yang benar. Jelas juga bahwa mereka yang menyangkal keberadaan wahyu sebenarnya secara sengaja memang menginginkan keadaan tanpa keimanan dan lebih menyukai faham atheisme.
      Mereka tidak menyadari bahwa jika pendengaran mereka diluputkan dari kesempatan mendengar firman Tuhan maka bagaimana mungkin seseorang beriman kepada eksistensi suatu Wujud Yang Maha Tersembunyi yang tidak bisa dilihat, dicium   aromanya  atau pun disentuh?

Kemungkinan  Bukan Merupakan Kepastian yang  Meyakinkan

      Walaupun dengan mengamati proses penciptaan alam ini mungkin muncul pendapat adanya eksistensi Sang Pencipta, namun seorang pencari kebenaran jika ia tidak pernah memandang sosok-Nya, tidak pernah mendengar suara-Nya atau pun menjumpai tanda-tanda dari suatu Wujud Yang Maha Hidup, apakah yang bersangkutan bukannya akan merasa keliru  telah menganggap bahwa Sang Pencipta itu memang sesungguhnya ada?
      Barangkali para atheis atau ahli fisika tersebut memang benar dimana mereka  menganggap beberapa elemen di alam ini sebagai pencipta unsur-unsur lainnya sehingga tidak perlu ada sosok Sang Pencipta? Aku mengerti benar bahwa mereka yang membanggakan  logika, jika mereka memikirkan hal ini maka fikirannya akan disergap keraguan seperti itu. Ia tidak akan mungkin mengelak dari keraguan tersebut ketika ia mengalami kegagalan dalam pencahariannya akan tanda-tanda Tuhan.
      Sudah menjadi fitrat manusia bahwa jika ia menganggap sesuatu itu perlu dan penting bagi pandangannya tetapi tidak menemukan eksistensinya meski ia telah mencari, maka ia akan mulai meragukan kebenaran pandangannya sendiri dimana pada akhirnya malah akan menyangkalnya. 
      Sebagai manusia kita ini sering menduga-duga jika berhadapan dengan suatu hal yang tersembunyi bahwa bentuknya adalah seperti ini atau seperti itu. Tetapi ketika faktanya menjadi jelas ternyata gambarannya malah lain (berbeda) sama sekali.
    Pengalaman keseharian seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa bodoh benar kita jika hanya mengandalkan diri pada dugaan-dugaan semata. Sampai dengan suatu dugaan telah ditopang oleh fakta maka semua kinerja logika hanyalah khayalan semata, tidak lebih.
     Hal seperti itu hanya akan membawa seseorang kepada atheisme. Kalau kalian memang sesungguhnya ingin menjadi atheis, silakan lakukan apa yang kalian suka. Namun jika tidak, maka kalian sebenarnya bisa diselamatkan dari sergapan keraguan yang telah menghanyutkan ribuan orang-orang yang lebih bijak dari kalian, yaitu dengan cara berpegang teguh kepada wahyu.
    Tidak mungkin dengan hanya berpegang pada akal yang berbasis logika bahwa kalian akan mempunyai kesempatan bisa melihat Tuhan sedang duduk-duduk di suatu tempat. Akhir dari  cara berfikir seperti itu karena tidak bisa menemukan tanda-tanda Tuhan dan ketika sudah lelah mencarinya, akhirnya kalian akan bergabung dengan para atheis. (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld., hlm.  344-346, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar