Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Manusia Memerlukan Petunjuk “Wahyu Ilahi” Berkenaan Hal-hal yang Logika (Akal) Tidak Mampu Menjangkaunya,
Terutama Kepastian Keberadaan Allah Swt., Tuhan Pencipta Alam Semesta
Bab 34
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai pentingnya menerima kabar gembira melalui wahyu Ilahi agar hati tetap teguh dan tentram
menghadapi kesulitan hidup:
“Yang
Maha Bijaksana tidak berkeinginan
membiarkan manusia yang lemah terperangkap dalam imajinasi (angan-angan) dan dugaannya
sendiri. Dia telah memberikan bermacam pengkhutbah
dan pendidik yang dapat memuaskan manusia dan memberikan kedamaian pada jiwanya yang gelisah
serta membekalinya dengan firman yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kaidah hukum alam dari Tuhan
memastikan perlunya wahyu untuk itu.
Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa ketika berjuta-juta manusia yang terkekang penderitaan akibat dosa dan penyelewengan,
kemudian bisa dipengaruhi oleh bicara seorang pengkhutbah atau penasihat,
karena ilmu dan fikiran mereka sendiri sudah tidak
lagi memadai?
Kepuasan yang diperoleh umat manusia dari sumber-sumber seperti itu tergantung juga pada kadar kekaguman dan penghormatan
yang diberikan kepada sumber
tersebut. Hanya janji-janji dari
seorang yang bersifat amanah pada
janjinya serta memiliki kemampuan
memperbaiki mereka yang akan memberikan kepuasan dan ketenteraman
kepada para pendengar atau pengikutnya.
Dalam keadaan seperti itu, siapa yang
akan meragukan jika ada yang
menyatakan bahwa berkaitan dengan keadaan
manusia setelah mati dan hal-hal
yang bersifat metaphisika, cara terbaik mendapatkan kepuasan dan pemupus kesakitan ruhani adalah firman Tuhan.
Manusia Membutuhkan
Petunjuk Wahyu Ilahi
Jika seseorang beriman sepenuhnya pada firman Tuhan maka hal itu akan menyelamatkan yang bersangkutan dari
berbagai pusaran permasalahan, meredam nafsu-nafsu yang berlebihan serta mengaruniakan kepadanya keteguhan
hati menghadapi musibah-musibah
yang menakutkan.
Ketika seorang bijak pada saat kesulitan
atau sedang dalam cengkeraman nafsu,
bisa menemukan janji atau peringatan Tuhan di dalam firman-Nya, atau melalui penjelasan dari seseorang tentang apa yang diperintahkan
Tuhan maka yang bersangkutan akan demikian terpengaruh sehingga langsung bertobat.
Manusia selalu membutuhkan Tuhan guna menenteramkan
dirinya. Demikian seringnya ia
harus menghadapi berbagai musibah
sehingga jika tidak ada firman Tuhan
yang memberikan kabar suka, pasti ia
akan berputus asa sedemikian rupa
sampai-sampai ia akan menyangkal
Tuhan-nya, atau bahkan dalam kekecewaannya
malah meninggalkan Tuhan sama sekali
atau juga mati karena kesedihan. Sebagai contoh, Al-Quran
menyatakan:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ
اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ
قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
“Dan niscaya
akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan
dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan;
tetapi hai Rasul berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Mereka inilah yang dilimpahi berkah dan rahmat dari Tuhan mereka pulalah yang mendapat petunjuk’ (Al-Baqarah [2]:156-158).
Dengan cara
yang sama, guna mengatasi nafsu
seseorang maka dibutuhkan firman
Tuhan karena pada setiap langkahnya
manusia selalu terantuk pada permasalahan yang hanya bisa diatasi
dengan bantuan firman Tuhan. Bila
seseorang berkeinginan berpaling kembali kepada Tuhan, ia akan menghadapi berbagai rintangan. Terkadang ia teringat kembali pada segala kenikmatan
duniawi, tertarik kepada keakraban
kawan-kawannya atau gamang
menghadapi kesulitan dalam jalan yang akan ditempuh.
Kadang kala kebiasaan dan adat
setempat menghalangi jalannya, atau
juga pertimbangan mengenai derajat kehormatan, kemuliaan atau pun kekuasaan duniawi. Bisa jadi semuanya itu bergabung bersama menjadi satu
seperti gerombolan yang berusaha menariknya ke arah mereka dan menawarkan kepadanya berbagai kemudahan atau kenikmatan dimana kesatuan
mereka itu menekan fikirannya
sedemikian rupa sehingga tidak tertahankan
lagi.
Dalam perseteruan seperti itu maka persenjataan
yang efektif berupa firman Tuhan amat diperlukan guna menumpas
kekuatan lawan pada serangan pertama.
Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya
pada satu sisi saja. Tak mungkin Tuhan akan berdiam diri seperti batu
sedangkan hamba-Nya berusaha
mencapai kemajuan dengan kekuatannya sendiri guna mengembangkan kesetiaan, ketulusan dan keteguhan hati. Manusia akan melaju
maju dalam kasih dan diperkuat oleh keyakinan bahwa ada Wujud
Yang menciptakan langit dan bumi.
Dugaan saja tidak akan pernah bisa
menggantikan fakta.
Sebagai contoh, misalkan seorang miskin yang berutang memperoleh janji
dari seorang kaya yang jujur bahwa pada saat pelunasannya nanti ia akan dibantu menyelesaikan semua utangnya, dibandingkan dengan pengutang lain yang tidak mendapat janji dari siapa pun
dimana ia terpaksa menahan diri
untuk tidak berangan-angan bahwa ia
akan dibantu seseorang melunasi utangnya ketika saatnya tiba. Apakah mungkin kedua orang seperti
itu memiliki tingkat kepuasan yang sama? Jelas tidak!
Semua hal ini tercakup dalam hukum alam
dan tidak ada kebenaran lain yang
berada di luarnya. Sial sekali
mereka yang katanya mengaku mengikuti
hukum alam tetapi kemudian melepaskan
diri dan malah melakukan hal yang bertentangan
dengan apa yang mereka yakini.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
340-342, London, 1984).
Keselarasan Wahyu Ilahi dengan “Hukum Alam”
Sehubungan sabda Masih
Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran mengenai adanya keselarasan
antara wahyu Al-Quran dengan hukum
alam:
اَفَلَا
یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ
کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا
کَثِیۡرًا ﴿﴾
Maka tidakkah
mereka ingin merenungkan Al-Quran? Dan seandainya Al-Quran ini berasal dari sisi yang bukan-Allah, niscaya mereka
akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya. (An-Nisa [4]:83).
“Pertentangan”
dapat mengacu kepada pertentangan-pertentangan
dalam teks Al-Quran dan ajaran-ajaran yang terkandung di
dalamnya; atau kepada ketidakadaan
persesuaian antara nubuatan-nubuatan
yang tersebut dalam Al-Quran dengan hasil atau penggenapan nubuatan-nubuatan itu.
Demikian pula halnya dengan keserasian
tatanan alam semesta jasmani. Sebab Al-Quran
mau pun alam semesta bersumber dari Tuhan yang sama, yaitu Allah Swt.,
sehingga mustahil terdapat kontradiksi antara
firman-Nya – yakni wahyu Ilahi , dalam hal ini wahyu
Al-Quran -- dengan perbuatan-Nya yaitu alam
semesta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ وَ
ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah
kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. لَا
یُسۡـَٔلُ عَمَّا یَفۡعَلُ
وَ ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ -- Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya. (Al-Anbiya
[21]:23-24).
Ayat 23 merupakan dalil
yang jitu dan pasti untuk menolak
kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak
percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan
meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam
raya.
Seandainya ada Tuhan lebih
dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan
alam-semesta dengan peraturan-peraturannya
yang khusus — dan dengan demikian
sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang
tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam
akan menjadi hancur berantakan.
Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas” mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
Ayat لَا
یُسۡـَٔلُ عَمَّا یَفۡعَلُ
وَ ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ -- “Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya” menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya
tata-tertib tatanan alam semesta,
sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan
Pencipta dan Pengaturnya, yaitu Allah Swt., dan mengisyaratkan pula kepada ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi segala
sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya.
Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.
Keterkecohan Para Penyembah
“Hukum Alam” Mengenai Keberadaan “Tuhan Pencipta” Alam Semesta
Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. selanjutnya menjelaskan
mengenai keterkecohan orang-orang yang menyatakan bahwa ada kontradisi antara logika dengan wahyu Ilahi
, terutama dengan wahyu Al-Quran:
“Aku tidak mengerti siapa yang telah mengecoh
kalian sehingga kalian membayangkan ada kontradiksi di antara logika dan wahyu, dimana dikatakan keduanya
tidak mungkin berada bersamaan.
Semoga Allah Swt. mengkaruniakan daya
penglihatan bagi kalian dan mengangkat
tabir yang menutup kalbu kalian.
Sulitkah bagi kalian untuk memahami masalah sederhana ini bahwa justru berkat adanya wahyu maka logika
mencapai kesempurnaannya, terpelihara dari segala kesalahan, menemukan jalan yang lurus, dipelihara dari
segala kerancuan dalam proses berfikir, terjaga dari kesia-siaan dalam upaya dan usaha serta
mengubah segala keraguan dugaan menjadi suatu kepastian
hakiki.
Justru berkat dari wahyu maka
mereka yang selama ini hanya bisa menduga-duga
diberitahu akan faktanya yang benar, sehingga yang bersangkutan bisa
mencapai kepuasan. Karena semua hal
ini, lalu apakah wahyu harus
dianggap sebagai musuh akal atau malah merupakan suatu berkat penolong dan penopang?
Alangkah piciknya pandangan yang
menganggap sosok penolong sebagai perampok dan penghadang, serta menganggap seseorang yang menarik korban dari lubang
perangkap malah dianggap sebagai
yang telah memperosokkan. Seluruh
dunia menyadari dan mereka yang punya
mata bisa melihat serta mereka
yang bisa berfikir jelas
mengetahui bahwa di dunia ini terdapat berjuta-juta
manusia seperti itu di masa lalu mau pun di masa kini, dimana mereka ini hanya mengandalkan keagungan daya
fikir sedemikian rupa sehingga mereka malah dianggap sebagai orang-orang
bijak, namun mereka menyangkal
eksistensi Tuhan dan mereka ketika mati
pun masih dalam keadaan seperti itu.
Sebaliknya, tunjukkanlah kepada kami
apakah ada orang yang beriman kepada
wahyu tetapi masih juga menyangkal Tuhan. Karena wahyu merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan bagi keimanan yang teguh kepada Tuhan, maka akan jelas kiranya bahwa jika tidak ada wahyu maka tidak akan ada
keimanan yang benar. Jelas juga bahwa mereka yang menyangkal keberadaan wahyu sebenarnya secara sengaja memang
menginginkan keadaan tanpa keimanan
dan lebih menyukai faham atheisme.
Mereka tidak menyadari bahwa jika pendengaran mereka diluputkan dari kesempatan mendengar
firman Tuhan maka bagaimana mungkin seseorang beriman kepada eksistensi
suatu Wujud Yang Maha Tersembunyi
yang tidak bisa dilihat, dicium
aromanya atau pun disentuh?
Kemungkinan Bukan
Merupakan Kepastian yang Meyakinkan
Walaupun dengan mengamati proses penciptaan alam ini mungkin muncul pendapat adanya
eksistensi Sang Pencipta, namun seorang pencari kebenaran jika ia tidak
pernah memandang sosok-Nya, tidak pernah mendengar suara-Nya atau
pun menjumpai tanda-tanda dari suatu
Wujud Yang Maha Hidup, apakah yang
bersangkutan bukannya akan merasa keliru
telah menganggap bahwa Sang
Pencipta itu memang sesungguhnya ada?
Barangkali para atheis atau ahli fisika
tersebut memang benar dimana mereka menganggap beberapa elemen di alam ini sebagai pencipta unsur-unsur lainnya sehingga
tidak perlu ada sosok Sang Pencipta?
Aku mengerti benar bahwa mereka yang membanggakan logika,
jika mereka memikirkan hal ini maka
fikirannya akan disergap keraguan
seperti itu. Ia tidak akan mungkin mengelak
dari keraguan tersebut ketika ia
mengalami kegagalan dalam pencahariannya akan tanda-tanda Tuhan.
Sudah menjadi fitrat manusia bahwa jika ia menganggap
sesuatu itu perlu dan penting bagi pandangannya tetapi tidak menemukan eksistensinya meski ia
telah mencari, maka ia akan mulai meragukan kebenaran pandangannya
sendiri dimana pada akhirnya malah akan menyangkalnya.
Sebagai manusia kita ini sering menduga-duga jika berhadapan dengan suatu hal yang tersembunyi
bahwa bentuknya adalah seperti ini
atau seperti itu. Tetapi ketika faktanya
menjadi jelas ternyata gambarannya malah lain (berbeda) sama sekali.
Pengalaman
keseharian seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa bodoh benar kita jika hanya mengandalkan
diri pada dugaan-dugaan semata.
Sampai dengan suatu dugaan telah
ditopang oleh fakta maka semua kinerja logika hanyalah khayalan semata, tidak lebih.
Hal seperti itu hanya akan membawa seseorang kepada atheisme. Kalau kalian memang
sesungguhnya ingin menjadi atheis,
silakan lakukan apa yang kalian suka. Namun jika tidak, maka kalian sebenarnya
bisa diselamatkan dari sergapan keraguan yang telah menghanyutkan ribuan orang-orang yang lebih bijak dari kalian, yaitu dengan
cara berpegang teguh kepada wahyu.
Tidak
mungkin dengan hanya berpegang
pada akal yang berbasis logika bahwa kalian akan mempunyai kesempatan bisa melihat Tuhan sedang duduk-duduk di suatu tempat. Akhir dari cara
berfikir seperti itu karena tidak bisa menemukan tanda-tanda Tuhan dan ketika sudah lelah mencarinya, akhirnya kalian akan bergabung dengan para atheis. (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld., hlm. 344-346, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 1 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar