Kamis, 26 Mei 2016

Cara Allah Swt. Melalui Sifat "Rahmaaniyyat" (Maha Pemurah) Memenuhi Keperluan Manusia & Keberadaan "Nikmat-nikmat" Allah Swt. yang Tidak Terbatas



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 CARA ALLAH SWT. MELALUI  SIFAT RAHMAANIYAT (MAHA PEMURAH)  MEMENUHI  KEPERLUAN MANUSIA & KEBERADAAN  NIKMAT-NIKMAT ALLAH SWT. YANG TIDAK TERBATAS 


Bab 54

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  lemahnya keadaan “sarang laba-laba”   berkenaan   kekuasaan dan kekayaan duniawi  orang-orang kafir yang mereka bangga-banggakan dalam menentang para Rasul Allah yang diutus kepada  mereka itu (QS.7:35-37), ternyata pada akhirnya  sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada mereka terhadap azab Ilahi,  seperti halnya keadaan sarang laba-laba, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ  ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ  اِلَّا  الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾   خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya selemah-lemah  rumah pasti rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui.  Sesungguhnya Allah mengetahui  sesuatu apa pun yang mereka seru selain-Nya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan  itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali  tidak  ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾   --   Allah menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan haq, sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  merupaka Tanda bagi  orang-orang yang beriman. (Al-Ankabūt [29]:42-45).
       Masalah Ke-Esa-an Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah Al-Ankabut disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.
  Sehubungan dengan hal tersebut, kembali kepada Surah  Ar-Rahmān [55]:27-46 mengenai golongan jin dan ins, makna ayat selanjutnya:   کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ --   “Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --  dan akan kekal hanyalah Wujud  Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan” (ayat 27-28). Yakni karena kehidupan di dunia ini bukan kehidupan sebenarnya,  itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan (menakdirkan) bahwa seluruh alam semesta  tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, karena itu alam semesta  ini ditakdirkan akan binasa.
   Jika alam semesta ini  sesuatu yang “tidak kekal”, terlebih lagi “tuhan-tuhan palsu” sembahan orang-orang musyrik. Hanya Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta sajalah  Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, dan Pemelihara segala sesuatu dan diperlukan oleh segala sesuatu, dan Dia adalah  Tuhan sembahan manusia  yang hakiki.  Wajh antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).
   Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilang-sirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan Yang Menciptakan seluruh alam semesta, dan juga alam kehidupan akhirat  yang akan dimasuki manusia setelah mengalami kematian secara jasmani.
    Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu  (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.

Cara Allah Swt.  Mencukup (Memenuhi) Semua  Kebutuhan  Manusia

   Dalam melaksanakan hukum-Nya yang kedua tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman: کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  --  Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”, yakni  untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka.
 Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa, sebagaimana telah ditetapkan-Nya dalam penciptaan alam semesta ini, firman-Nya:
قُلۡ  اَئِنَّکُمۡ  لَتَکۡفُرُوۡنَ بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ  اَنۡدَادًا ؕ  ذٰلِکَ رَبُّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾  وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾  فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ  الۡعَزِیۡزِ  الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah kamu benar-benar kafir kepada Dzat Yang menciptakan bumi dalam dua hari?  Dan kamu menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.    وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا   --  Dan Dia menjadikan   padanya gunung-gunung di atasnya وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ    -- dan memberkatinya,  dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya  dalam empat hari, سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ --  sama rata bagi orang-orang yang bertanya.   ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ --   Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.” فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ    -- Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا --  dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnyaوَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا --   Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta  memeliharanya.  ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ  الۡعَزِیۡزِ  الۡعَلِیۡمِ  --  Demikian itu  adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.   (Ha Mim – As-Sajdah (Al-Fushshilat) [41]:10-13).
    Tidak mungkin memperkirakan  lamanya penciptaan bumi dalam  ”dua hari” itu. Jangkauannya mungkin sampai ribuan tahun, bahkan milyaran tahun.  Dalam Al-Quran  yaum (hari) telah disebut sama dengan 1000 tahun (QS.22:48) atau malahan sama dengan 50.000 tahun (QS.70:5).
    Menjadikan bumi dalam 2 hari dapat berarti 2 tahap  atau dua periode yang harus dilalui oleh bumi, yakni melalui Sifat Rububiyat-Nya  (QS.1:2) Allah Swt. menciptakan bumi  dari zat tidak berbentuk berangsur-angsur berkembang menjadi bentuk tertentu sesudah mendingin dan memadat.

Ketidakterbatasan “Khazanah” Segala Sesuatu Milik Allah Swt.

      Makna ayat selanjutnya:  ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ  -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”.  Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”  فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا    --    Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya.”
      ”Dua hari” atau tahap-tahap yang disebut dalam ayat sebelumnya -- yang harus dilalui oleh bumi sebelum bumi memperoleh bentuk seperti sekarang  -- termasuk di dalam ”empat hari” yang disebut dalam ayat ini; sedang ”dua hari” tambahannya itu dimaksudkan 2  tahap penempatan gunung-gunung, sungai-sungai  dan sebagainya serta  pertumbuhan kehidupan nabati dan hewani di atasnya.
       Berkenaan dengan penciptaan bumi dalam ayat sebelumnya, kata-kata وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ    -- dan memberkatinya,  dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya  dalam empat hari, سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ --  sama rata bagi orang-orang yang bertanya (mencari),” makna ungkapan   ”Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya” berarti  bahwa bumi itu sepenuhnya mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan untuk semua makhluk yang hidup di atasnya.
     Makna tersebut sesuai dengan  firman-Nya dalam Surah Ar-Rahmān ayat 30 sebelumnya: یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ    --  “kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  --  setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.”   Yakni  untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa, sebagaimana telah ditetapkan-Nya dalam penciptaan alam semesta ini (QS.21:31-34).
   Ungkapan سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ --  “sama rata bagi orang-orang yang bertanya,”  dapat mengandung arti, bahwa makanan yang disediakan oleh  Allah Swt. di bumi ini dapat diperoleh tiap-tiap pencahari yang berusaha mendapatnya sesuai dengan hukum alam. Ungkapan itu dapat pula berarti bahwa segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin dengan kecukupan dalam makanan yang tumbuh dari bumi.
  Karena itu kekhawatiran bahwa bumi pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan cukup makanan bagi penduduk bumi yang cepat bertambah itu, sungguh tidak beralasan. ”Bumi ini dapat menjamin makanan, serat dan segala hasil pertanian lain, yang diperlukan bagi 28 biliun jiwa, sepuluh kali lipat jumlah penduduk bumi dewasa ini” (Prof. Colin Clark, direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian dari Universitas Oxford).
  Baru-baru ini FAO (United Nations Food and Agricultural Organization), yaitu organisasi urusan makanan dan pertanian PBB menjelaskan dalam laporannya: ”Keadaan Makanan dan Pertanian 1959,” bahwa persediaan makanan dunia berkembang dua kali secepat pertambahan penduduknya. Benarlah firman-Nya berikut ini:
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan  tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
       Allah  Swt.  memiliki khazanah (persediaan) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu.
       Seperti halnya alam semesta kebendaan, Al-Quran juga merupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman (QS.72:27-29).

Manusia Tidak Akan Mampu Menghitung Nikmat-nikmat Allah Swt.

Pendek kata,  Allah Swt. telah menjamin  berbagai keperluan manusia – baik keperluan jasmani mau pun ruhani   -- yang manusia tidak mungkin dapat menghitungnya, firman-Nya: 
وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya,  dan jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim [14]:35).
    Kata-kata مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ --  “yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusa yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt.  telah  menyediakan bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia, firman-Nya: 
اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau meng-ambil pelajaran? Dan jika  kamu  menghitung nikmat-nikmat Allāhkamu tidak akan dapat menghitungnya, sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Nahl [16]:18-19).
Firman-Nya lagi:
اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ لَکُمۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ  ظَاہِرَۃً  وَّ بَاطِنَۃً ؕ وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یُّجَادِلُ فِی اللّٰہِ  بِغَیۡرِ عِلۡمٍ وَّ لَا ہُدًی وَّ لَا کِتٰبٍ مُّنِیۡرٍ ﴿﴾
Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah telah menundukkan bagi kamu apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi, dan Dia telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang tidak nampak? Dan di antara manusia ada orang-orang yang  berbantah mengenai Allah tanpa pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang terang.   (Luqman [31]:21).
       Kata-kata  وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ  ظَاہِرَۃً  وَّ بَاطِنَۃً  -- “dan Dia telah melengkapkan atasmu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang tidak nampak?“ itu dapat mengandung arti semua keperluan manusia — baik jasmani maupun ruhaninya, yang bersifat kebendaan maupun akal-pikiran, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
      Pendek kata, ayat-ayat tersebut merupakan penjelasan atau tafsir dari firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Rahman ayat 30-31 sebelum ini:  یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ    --  Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  --  Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?”
       Setelah menjelaskan mengenai penciptaan bumi dalam “dua hari” (QS.41:10-11) selanjutnya Allah Swt. berfirman: ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ    -- Kemudian “Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap,  فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا  -- lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ --   Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela” (ayat 12).
   Kurhan atau karhan dalam kedua bentuknya, adalah katabenda (ism) masdar dari kata kariha (ia tidak menyukai); yang pertama (kurhan) berarti “apa yang kamu sendiri tidak menyukai”, dan yang kedua (kurhan) berarti  “apa yang kamu terpaksa mengerjakannya, bertentangan dengan kemauanmu sendiri atas kehendak orang lain.” Fa'alahu karhan berarti  ia melakukannya karena terpaksa (Lexicon Lane).
  Ayat ini berarti bahwa  karena  para malaikat yang  mengendalikan segala sesuatu segala sesuatu di dalam alam semesta ini, karena itu alam semesta ini  tunduk kepada dan bekerja sesuai dengan hukum-hukum tertentu yang telah ditetapkan Allah Swt.  Yakni sebagaimana halnya keadaan para malaikat, demikian segala sesuatu tidak mempunyai kebebasan berbuat.
  Hanya manusialah yang dianugerahi kehendak atau pikiran untuk menuruti ataupun menentang hukum Ilahi, dan bukan tidak jarang ia mempergunakan pikirannya yang membawa kerugian kepada dirinya sendiri. Itu pulalah arti dan maksud kata zalim dan jahil dalam   ayat QS.33:73 mengenai insan (manusia). 

Upaya  Golongan Jin dan Ins  “Menembus Langit dan Bumi

    Jadi, kembali kepada  makna  dua golongan manusia yang disebut  jin dan ins dalam Surah Ar-Rahman  ayat 32 berkenaan ayat: سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ  -- “segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat.” Kata    ats-tsaqalān  berarti:  dua jenis barang yang berat (Lexicon Lane), dapat berarti “ins” (manusia)  dan “jin”, sebagaimana diperlihatkan oleh seluk-beluk kalimatnya (konteks-nya), atau orang-orang Arab dan orang-orang bukan Arab.
   Atau dalam bahasa politik dewasa ini  kata Ats-tsaqalān   berarti  “dua blok besar” – Rusia atau Cina dan sekutu-sekutu mereka di satu pihak yang menganut faham Sosialisme, dan Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya di pihak lain yang menganut faham kapitalisme;  dengan demikian kata jin dan ins itu dapat diartikan kelas kapitalis dan kelas buruh, yang terus-menerus bersaing dalam dunia politik dan ekonomi  serta dalam pengembangan kekuatan  militer.
 Dari cara kedua blok besar itu bertingkah laku nampaknya sewaktu-waktu mereka dapat terlibat dalam sengketa maut yang akan menghancur-leburkan seluruh karya manusia yang dilakukan dari abad ke abad untuk mengembangkan seni dan ilmu pengetahuan dapat menyebabkan kehidupan di atas bumi ini, nyaris tiada. Ayat ini nampaknya   mengandung peringatan akan kemungkinan itu, firman-Nya: سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ  -- “segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat,”   karena kedua golongan  mengingkari   Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta.  
  Makna ayat selanjutnya:  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslahلَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ --  namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan.”   (Ar-Rahman [55]:34).      
     Ayat ini telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, bahwa  para ilmuwan dan para ahli filsafat yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka dalam bidang ilmu duniawi telah diberitahu, bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu serta teknologi (iptek), tetapi  mereka tidak akan  dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta ini dengan sepenuhnya.
  Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian mereka, sebab khazanah pengetahuan milik Allah Swt. yang dikandung alam semesta  tidak terbatas, firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya.  (Al-Kahf [18]:110).
Firman-Nya lagi:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena dan laut    ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Luqman [31]:28).
      Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim.
   Sehubungan dengan ayat:  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslahلَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ --  namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan,”  (Ar-Rahman [55]:34), bangsa-bangsa Kristen dari barat – penganut system kapitalisme atau “jin”--  dan  penganut sosialisme atau “ins”  yang atheis,  kedua golongan besar tersebut membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan, dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
  Menurut Allah Swt. hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka, sebab rahasia-rahasia Allah Swt. tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah  atau rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26  Mei    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar