Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
CARA
ALLAH SWT. MELALUI SIFAT RAHMAANIYAT (MAHA PEMURAH) MEMENUHI
KEPERLUAN MANUSIA &
KEBERADAAN NIKMAT-NIKMAT ALLAH SWT. YANG TIDAK TERBATAS
Bab 54
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan lemahnya keadaan “sarang laba-laba” berkenaan
kekuasaan dan kekayaan duniawi orang-orang kafir yang mereka bangga-banggakan dalam menentang para Rasul Allah yang diutus
kepada mereka itu (QS.7:35-37), ternyata
pada akhirnya sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada
mereka terhadap azab Ilahi, seperti halnya keadaan sarang laba-laba, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ
وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ
الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ لَوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ وَ
تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ اِلَّا
الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾ خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan
orang-orang yang mengambil
penolong-penolong selain Allah
adalah seperti perumpamaan laba-laba
yang membuat rumah, dan sesungguhnya
selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui sesuatu apa pun yang mereka seru selain-Nya,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan itulah
perumpamaan-perumpamaan yang Kami
kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali tidak
ada yang memahaminya kecuali orang-orang
yang berilmu. خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾ -- Allah
menciptakan seluruh langit dan bumi
sesuai dengan haq, sesungguhnya
dalam yang demikian itu benar-benar merupaka Tanda bagi
orang-orang yang beriman. (Al-Ankabūt
[29]:42-45).
Masalah
Ke-Esa-an
Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah Al-Ankabut disudahi dalam ayat ini
dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang
indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum
musyrik ketololan, kesia-siaan,
dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan
dan kebiasaan-kebiasaan syirik
mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.
Sehubungan dengan hal tersebut, kembali kepada Surah Ar-Rahmān [55]:27-46 mengenai
golongan jin dan ins, makna ayat selanjutnya:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ -- “Segala sesuatu yang ada di atasnya akan
binasa, وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan” (ayat 27-28). Yakni karena kehidupan di dunia ini bukan kehidupan sebenarnya, itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan (menakdirkan) bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian,
karena itu alam semesta ini ditakdirkan
akan binasa.
Jika alam semesta ini sesuatu yang “tidak kekal”, terlebih lagi “tuhan-tuhan
palsu” sembahan orang-orang musyrik.
Hanya Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta sajalah Yang
kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri,
dan Pemelihara segala sesuatu dan diperlukan oleh segala sesuatu, dan Dia
adalah Tuhan sembahan manusia yang
hakiki. Wajh antara lain
berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya
seseorang mencurahkan perhatiannya
(QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).
Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda
langit akan dilenyapkan semuanya
dan seluruh alam jasmani dihilang-sirnakan,
tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada
suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan
Yang Menciptakan seluruh alam semesta,
dan juga alam kehidupan akhirat yang akan dimasuki
manusia setelah mengalami kematian
secara jasmani.
Ayat yang sekarang dan
ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua
hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum
kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum
Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
Cara Allah Swt. Mencukup
(Memenuhi) Semua Kebutuhan Manusia
Dalam melaksanakan hukum-Nya yang kedua tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman: کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ
-- “Setiap
hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam
keadaan yang berlainan”, yakni untuk mempertahankan hidup
dan memenuhi segala keperluannya,
sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka.
Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai
cara di sepanjang masa, sebagaimana telah ditetapkan-Nya dalam penciptaan
alam semesta ini, firman-Nya:
قُلۡ
اَئِنَّکُمۡ لَتَکۡفُرُوۡنَ
بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ اَنۡدَادًا ؕ
ذٰلِکَ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾ وَ جَعَلَ فِیۡہَا رَوَاسِیَ
مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ
اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾ فَقَضٰہُنَّ
سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ
ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾
Katakanlah:
”Apakah kamu benar-benar kafir
kepada Dzat Yang menciptakan bumi
dalam dua hari? Dan kamu
menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.
وَ جَعَلَ
فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا -- Dan Dia menjadikan padanya
gunung-gunung di atasnya وَ
بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ
اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ -- dan memberkatinya, dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama
rata bagi orang-orang yang bertanya.
ثُمَّ
اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ
ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ
ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا -- Kemudian Dia
mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman
kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah
kamu berdua dengan rela atau pun
terpaksa”. ؕ
قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.” فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ -- Maka Dia
menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, وَ اَوۡحٰی فِیۡ
کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap
langit tugasnya. وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ
وَ حِفۡظًا -- Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta memeliharanya. ذٰلِکَ
تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ -- Demikian itu adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha
Mengetahui. (Ha
Mim – As-Sajdah (Al-Fushshilat) [41]:10-13).
Tidak mungkin memperkirakan lamanya
penciptaan bumi dalam ”dua hari” itu. Jangkauannya mungkin
sampai ribuan tahun, bahkan milyaran tahun. Dalam Al-Quran yaum (hari) telah disebut sama dengan
1000 tahun (QS.22:48) atau malahan sama dengan 50.000 tahun (QS.70:5).
Menjadikan bumi dalam 2 hari dapat
berarti 2 tahap atau dua periode yang harus dilalui oleh bumi, yakni melalui Sifat Rububiyat-Nya (QS.1:2) Allah Swt. menciptakan bumi
dari zat tidak berbentuk
berangsur-angsur berkembang menjadi bentuk tertentu sesudah mendingin dan memadat.
Ketidakterbatasan “Khazanah”
Segala Sesuatu Milik Allah Swt.
Makna ayat
selanjutnya: ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Kemudian
Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela
atau pun terpaksa”. Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”
فَقَضٰہُنَّ
سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya.”
”Dua hari” atau tahap-tahap yang disebut dalam ayat sebelumnya -- yang harus
dilalui oleh bumi sebelum bumi
memperoleh bentuk seperti sekarang -- termasuk di dalam ”empat hari” yang
disebut dalam ayat ini; sedang ”dua hari” tambahannya itu dimaksudkan 2
tahap penempatan gunung-gunung,
sungai-sungai dan sebagainya serta pertumbuhan
kehidupan nabati dan hewani di
atasnya.
Berkenaan dengan penciptaan bumi dalam ayat sebelumnya, kata-kata وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ
اَیَّامٍ -- dan memberkatinya, dan Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanannya
dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama
rata bagi orang-orang yang bertanya
(mencari),” makna ungkapan ”Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanannya” berarti bahwa bumi
itu sepenuhnya mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan untuk semua makhluk yang hidup di atasnya.
Makna tersebut sesuai dengan
firman-Nya dalam Surah Ar-Rahmān
ayat 30 sebelumnya: یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “kepada-Nya
memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ
-- setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.” Yakni untuk mempertahankan hidup
dan memenuhi segala keperluannya,
sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara
mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak
mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat itu menjelmakan
diri dalam berbagai cara di
sepanjang masa, sebagaimana telah ditetapkan-Nya
dalam penciptaan alam semesta ini (QS.21:31-34).
Ungkapan سَوَآءً لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- “sama
rata bagi orang-orang yang bertanya,”
dapat mengandung arti, bahwa makanan yang disediakan oleh Allah Swt. di bumi ini dapat diperoleh tiap-tiap
pencahari yang berusaha mendapatnya sesuai
dengan hukum alam. Ungkapan itu dapat pula berarti bahwa segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin dengan kecukupan dalam makanan
yang tumbuh dari bumi.
Karena itu kekhawatiran bahwa bumi
pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan
cukup makanan bagi penduduk bumi
yang cepat bertambah itu, sungguh tidak beralasan. ”Bumi ini dapat menjamin makanan, serat dan segala hasil pertanian lain,
yang diperlukan bagi 28 biliun jiwa, sepuluh kali lipat jumlah penduduk bumi
dewasa ini” (Prof. Colin Clark,
direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian dari Universitas Oxford).
Baru-baru ini FAO (United Nations Food and
Agricultural Organization), yaitu organisasi
urusan makanan dan pertanian PBB
menjelaskan dalam laporannya: ”Keadaan
Makanan dan Pertanian 1959,” bahwa persediaan
makanan dunia berkembang dua kali secepat pertambahan penduduknya. Benarlah firman-Nya berikut ini:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak
ada suatu pun benda melainkan pada
Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan Kami
sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
Allah Swt. memiliki khazanah (persediaan) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu.
Seperti halnya alam semesta kebendaan, Al-Quran juga merupakan alam
semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah
ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia
sesuai dengan keperluan zaman
(QS.72:27-29).
Manusia Tidak Akan Mampu Menghitung
Nikmat-nikmat Allah Swt.
Pendek kata, Allah Swt. telah menjamin berbagai keperluan manusia – baik keperluan jasmani mau pun ruhani
-- yang manusia tidak mungkin dapat menghitungnya,
firman-Nya:
وَ اٰتٰىکُمۡ
مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ
لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta
kepada-Nya, dan jika
kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim
[14]:35).
Kata-kata مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ -- “yang kamu minta kepada-Nya”
menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan
fitrat manusa yang telah terpenuhi
seluruhnya. Allah Swt. telah menyediakan
bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia,
firman-Nya:
اَفَمَنۡ
یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan
yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau meng-ambil pelajaran?
Dan jika
kamu menghitung nikmat-nikmat
Allāh, kamu tidak akan dapat menghitungnya, sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Nahl [16]:18-19).
Firman-Nya
lagi:
اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ
لَکُمۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ
نِعَمَہٗ ظَاہِرَۃً وَّ بَاطِنَۃً ؕ وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ
یُّجَادِلُ فِی اللّٰہِ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ
وَّ لَا ہُدًی وَّ لَا کِتٰبٍ مُّنِیۡرٍ ﴿﴾
Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah telah menundukkan bagi kamu apa yang ada di seluruh langit dan
apa yang ada di bumi, dan Dia telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya,
baik yang nampak atau pun yang tidak nampak? Dan di antara manusia ada orang-orang yang berbantah mengenai Allah tanpa
pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang terang. (Luqman [31]:21).
Kata-kata
وَ اَسۡبَغَ
عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ ظَاہِرَۃً وَّ بَاطِنَۃً -- “dan
Dia telah melengkapkan atasmu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang
tidak nampak?“ itu dapat mengandung arti semua keperluan manusia — baik jasmani
maupun ruhaninya, yang bersifat kebendaan maupun akal-pikiran, baik yang diketahui
maupun yang tidak diketahui.
Pendek kata, ayat-ayat tersebut merupakan penjelasan atau tafsir
dari firman Allah Swt. dalam Surah Ar-Rahman
ayat 30-31 sebelum ini: یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ -- Kepada-Nya memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi.
کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ -- Setiap hari Dia menampakkan
sifat-Nya dalam keadaan yang
berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) berdua
yang manakah yang kamu berdua
dustakan?”
Setelah menjelaskan mengenai penciptaan bumi dalam “dua hari” (QS.41:10-11) selanjutnya
Allah Swt. berfirman: ثُمَّ
اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ
ہِیَ دُخَانٌ -- Kemudian “Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ
ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا -- lalu Dia
berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua
dengan rela atau pun terpaksa”. ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela” (ayat 12).
Kurhan atau karhan dalam kedua
bentuknya, adalah katabenda (ism) masdar dari kata kariha (ia tidak
menyukai); yang pertama (kurhan) berarti “apa yang kamu sendiri tidak menyukai”, dan yang kedua (kurhan)
berarti “apa yang kamu terpaksa mengerjakannya, bertentangan dengan kemauanmu
sendiri atas kehendak orang lain.” Fa'alahu karhan berarti ia melakukannya karena terpaksa (Lexicon Lane).
Ayat
ini berarti bahwa karena para malaikat
yang mengendalikan
segala sesuatu segala sesuatu di
dalam alam semesta ini, karena itu alam semesta ini tunduk
kepada dan bekerja sesuai dengan hukum-hukum tertentu yang telah ditetapkan Allah Swt. Yakni sebagaimana halnya keadaan para malaikat, demikian segala sesuatu tidak mempunyai kebebasan
berbuat.
Hanya manusialah yang dianugerahi kehendak atau pikiran untuk menuruti
ataupun menentang hukum Ilahi, dan
bukan tidak jarang ia mempergunakan
pikirannya yang membawa kerugian
kepada dirinya sendiri. Itu pulalah arti dan maksud kata zalim dan jahil dalam ayat
QS.33:73 mengenai insan
(manusia).
Upaya Golongan Jin dan Ins “Menembus Langit dan Bumi”
Jadi,
kembali kepada makna dua
golongan manusia yang disebut jin dan ins dalam Surah Ar-Rahman ayat 32 berkenaan ayat: سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ
اَیُّہَ الثَّقَلٰنِ -- “segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat.” Kata ats-tsaqalān
berarti:
dua jenis barang yang berat (Lexicon Lane), dapat berarti “ins” (manusia) dan “jin”,
sebagaimana diperlihatkan oleh seluk-beluk kalimatnya (konteks-nya), atau orang-orang Arab dan orang-orang bukan Arab.
Atau
dalam bahasa politik dewasa ini kata Ats-tsaqalān berarti
“dua blok besar” – Rusia atau Cina dan sekutu-sekutu
mereka di satu pihak yang menganut faham Sosialisme,
dan Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya di pihak lain yang
menganut faham kapitalisme; dengan demikian kata jin dan ins itu dapat
diartikan kelas kapitalis dan kelas buruh, yang terus-menerus bersaing dalam dunia politik dan ekonomi
serta dalam pengembangan kekuatan militer.
Dari cara kedua blok besar
itu bertingkah laku nampaknya
sewaktu-waktu mereka dapat terlibat
dalam sengketa maut yang akan menghancur-leburkan seluruh karya manusia yang dilakukan dari abad
ke abad untuk mengembangkan seni dan ilmu pengetahuan dapat menyebabkan kehidupan di atas bumi ini, nyaris tiada.
Ayat ini nampaknya mengandung peringatan akan kemungkinan itu,
firman-Nya: سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ
اَیُّہَ الثَّقَلٰنِ -- “segera Kami akan menghadapi
kamu, hai dua golongan yang kuat,”
karena kedua golongan
mengingkari Allah Swt., Tuhan Pencipta
alam semesta.
Makna ayat selanjutnya: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu
memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا
تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman [55]:34).
Ayat ini telah diberi
bermacam-macam penafsiran. Menurut
suatu penafsiran, bahwa para ilmuwan dan para ahli filsafat yang membanggakan
diri mengenai kemajuan besar yang
telah dicapai mereka dalam bidang ilmu duniawi
telah diberitahu, bahwa kendati pun
betapa besarnya kemajuan yang mungkin
telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu serta teknologi
(iptek), tetapi mereka tidak akan dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam
semesta ini dengan sepenuhnya.
Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian
mereka, sebab khazanah pengetahuan milik
Allah Swt. yang dikandung alam semesta
tidak terbatas, firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ
لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ
کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku
(Tuhan-ku), niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan,
sekalipun Kami datangkan sebanyak itu
lagi sebagai tambahannya. (Al-Kahf
[18]:110).
Firman-Nya
lagi:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ
شَجَرَۃٍ اَقۡلَامٌ وَّ
الۡبَحۡرُ یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ
مَّا نَفِدَتۡ کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan seandainya
pohon-pohon di bumi ini menjadi pena dan laut ditambahkan
kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi
tinta, kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah
besar, dan bukan benar-benar “tujuh”
dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka
bilangan lazim.
Sehubungan
dengan ayat: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin
dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus
batas-batas seluruh langit dan bumi
maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan,” (Ar-Rahman [55]:34), bangsa-bangsa
Kristen dari barat – penganut system kapitalisme atau “jin”-- dan penganut sosialisme
atau “ins” yang atheis, kedua golongan
besar tersebut membanggakan diri
atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan, dan nampaknya mereka
dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui
seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq
(penciptaan) itu sendiri.
Menurut Allah
Swt. hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka, sebab rahasia-rahasia Allah Swt. tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia
Allah atau rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 26 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar