Sabtu, 30 April 2016

Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib & Tanda Pertama Orang-orang yang Bertakwa "Beriman Kepada yang Gaib"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib  &   Tanda  Pertama Orang Bertakwa  Beriman kepada yang Gaib

Bab 33


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan  sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai kejahilan para pemuja logika:
Perhatikanlah bahwa tanpa wahyu tidak mungkin mencapai suatu kepastian hakiki atau menghindari kesalah-pahaman, atau mendasarkan diri pada Ketauhidan Ilahi atau pun mengatasi gejolak nafsu dirinya sendiri. Hanya melalui wahyu saja maka kita akan bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ‘memang ada.’ Adalah keberadaan wahyu yang sejak awal telah mengilhami hati manusia dengan kepastian bahwa Tuhan itu ‘memang ada.’ Hanya melalui wahyu maka para penyembah memperoleh kenikmatan dalam ibadah dan para mukminin diyakinkan akan eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kehidupan setelah kematian di dunia.
     Adalah wahyu Ilahi yang telah menguatkan hati berjuta-juta orang-orang bertakwa  meninggalkan dunia ini dengan keteguhan hati dan hasrat akan kasih Ilahi. Kebenaran  wahyu telah dibuktikan oleh darah dari beribu-ribu syuhada. Adalah daya tarik dari wahyu yang telah menggerakkan raja-raja mengenakan jubah pengemis dan banyak orang kaya yang lebih memilih kepapaan daripada kekayaan. Berkat dari wahyu juga yang menyebabkan berjuta-juta wanita tua tidak terpelajar telah meninggalkan dunia ini dengan keimanan penuh hasrat.
     Wahyu Ilahi adalah bahtera yang telah mengangkut tidak terbilang manusia melalui lubuk pusaran dari penyembahan makhluk dan keraguan menuju keselamatan dari Ketauhidan Ilahi dan kepastian hakiki. Adalah wahyu yang menjadi teman di saat terakhir dan penolong dalam keadaan yang berbahaya.
      Kemudharatan yang dilakukan terhadap dunia  akibat dari mengikuti logika saja bukanlah suatu hal yang tersembunyi. Apa yang telah menjadikan Plato dan para pengikutnya maka mereka menyangkal bahwa Tuhan adalah Sang Maha Pencipta? Apa yang menyebabkan Galen[1] meragukan keabadian ruh manusia dan realitas  (keberadaan)  Hari Penghisaban? Apa yang telah menjadikan para filosof mengingkari kenyataan bahwa Tuhan mengetahui segala hal? Apa yang telah menyebabkan para filosof akbar malah menyembah berbagai berhala? Apa yang telah mendorong manusia untuk mengorbankan ayam atau hewan lain di depan altar berhala? Tidakkah jelas bahwa semuanya itu akibat dari akal atau logika yang tidak disertai wahyu?
      Tidak benar pandangan yang mengatakan bahwa manusia tetap saja menjadi penyembah berhala atau menciptakan sesembahan baru meskipun telah mengikuti wahyu. Hal ini bukan karena kesalahan wahyu itu sendiri tetapi akibat kebiasaan mereka mencampuradukkan kedustaan dengan kebenaran dan karena lebih menyukai pemuasan nafsu mereka sendiri daripada  hasrat menyembah Tuhan. Namun nyatanya wahyu Ilahi tidak melupakan perbaikan akhlak mereka. Selalu ada wahyu-wahyu segar bagi perbaikan mereka.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 163-164, London, 1984).

Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib

       Mengenai orang-orang yang jahil yang membanggakan logika tersebut Allah Swt. menyatakan seperti  orang buta  dituntun oleh orang buta pula, firman-Nya:
بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya, tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu, bahkan mengenainya mereka buta”   (An-Naml [27]:67).
     Pengetahuan dan akal saja, tidak dapat melepaskan kerinduan jiwa manusia, tidak dapat pula secara meyakinkan membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati, kedua rukun iman yang pokok itu, sebab pengertian yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia.
      Hanya makrifat yang diperoleh dengan perantaraan wahyu Ilahi sajalah yang dapat menimbulkan dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan dalam pikiran manusia tentang hal itu. Pengetahuan manusia dengan semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan  bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan  sesudah mati itu ada, tetapi hanya wahyu Ilahi sajalah yang dapat mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian bahwa Tuhan itu “benar-benar ada”. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Memang benar bahwa yang namanya logika bukannya sesuatu yang tidak berguna dan kami pun tidak ada mengatakannya demikian. Hanya saja kita tidak bisa mengingkari bahwa dengan logika dan dugaan semata kita tidak akan memperoleh kepastian hakiki, belum lagi munculnya kesalahan karena pembenaran sendiri dan akibat merasa diri penting. Kepastian tersebut hanya mungkin dicapai melalui kombinasi akal dan wahyu.
      Pandangan hasil rekaan fikiran sendiri tidak akan dapat mengatasi nafsu kita sebagaimana halnya keagungan dan keluhuran firman Tuhan. Daya khayal kita tidak bisa menghasilkan kegembiraan dan kepuasan sebagaimana yang disampaikan oleh firman-firman yang menyejukkan hati dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
      Apakah setelah menyadari hal itu lalu kita hanya akan bersandar pada logika saja dan mengambil risiko mengalami berbagai kesalahan, kesulitan, kerugian dan ribuan musibah? Tidak ada manusia waras yang bisa menerima bahwa setelah Tuhan memberikan kepada manusia cita kehausan akan pemahaman hakiki, lalu meluputkan kita dari sarana pemuasannya.
         Tidak mungkin bahwa Dia yang telah menarik kalbu manusia ke arah Wujud-Nya lalu menutup pintu pemahaman hakiki dan membatasi pengenalan Tuhan hanya sebatas renungan kebutuhan fiktif belaka. Apakah mungkin bahwa Tuhan telah menciptakan manusia yang demikian sialnya sehingga tidak mampu memperoleh kepuasan batin di dunia ini juga dalam mencari pengenalan Tuhan serta hasrat yang memenuhi kalbunya?
    Apakah tidak ada satu pun dari kalian yang beribu-ribu banyaknya ini yang memahami bahwa pintu pemahaman yang hanya dapat dibuka oleh Tuhan tidak mungkin dibukakan oleh tenaga manusia, dan bahwa imajinasi (angan-angan) manusia tidak akan pernah bisa mengimbangi keyakinan yang telah diberikan Tuhan bahwa ‘Aku ini ada.’
    Penegasan mengenai Wujud-Nya yang diberikan Tuhan kepada kita tidak mungkin dihasilkan dari dugaan semata. Kalau disadari bahwa dugaan yang didasarkan pada logika semata tidak mungkin menyamai firman Tuhan yang menegaskan Eksistensi-Nya, tidakkah itu berarti bahwa firman-Nya dibutuhkan guna kesempurnaan keyakinan? Tidakkah hati kalian tergugah melihat disparitas (ketidak-seimbangan) demikian? Tidak adakah sesuatu dari semua hal yang telah kami ungkapkan ini yang bisa menyentuh hati kalian?
   Tidak sulit kiranya untuk menyadari bahwa akal manusia tidak mungkin menjadi sarana guna memastikan segala sesuatu yang tersembunyi. Siapakah dari antara kalian yang dapat menyangkal bahwa apa saja yang akan kita temui setelah kematian sesungguhnya merupakan hal yang tersembunyi?
     Sebagai contoh, apakah dari antara kalian ada yang mengetahui bagaimana nyawa memisahkan diri dari jasad saat kematian, kemana ruh itu pergi, dengan siapa perginya dan apa saya yang dialaminya? Bagaimana mungkin akal manusia memberikan kepastian tentang hal-hal seperti ini?
   Suatu pernyataan yang bersifat konklusif  (lengkap/pasti) hanya mungkin diberikan apabila manusia memang mengalami kematian lebih dari satu kali dimana ia telah mengenal jalan menuju kepada Tuhan-nya dan ia memiliki ingatan dimana saja tempat persinggahan yang telah dilaluinya dalam perjalanannya tersebut. 
    Nyatanya kita hanya memiliki dugaan-dugaan saja karena tidak ada seorang pun yang telah pernah melihat segala hal tersebut, padahal dugaan saja tidak mungkin memberikan kepastian hakiki.
     Bila kalian bermaksud menganalisis persoalan ini dengan pandangan seorang peneliti, kalian akan meyakini bahwa akal dan kesadaran manusia saja tidak akan bisa mengungkapkan hal-hal tersebut sebagai suatu kepastian,  dan tidak ada norma-norma dari hukum alam yang bisa menunjukkan arah.
    Jika berdiri sendiri, sebenarnya akal atau logika sudah kebingungan sejak awal dan tidak mampu menjelaskan apa itu nyawa atau ruh, bagaimana cara masuknya ke dalam tubuh manusia dan bagaimana cara meninggalkannya.
     Tidak ada seorang pun yang pernah melihat bagaimana ruh itu masuk dan pergi. Misalnya pun kalian masukkan suatu makhluk bernyawa ke dalam sebuah gelas (botol/tabung) terbuat dari kaca pada saat kematiannya, tetap saja kalian tidak akan melihat ada sesuatu yang meninggalkan jasadnya ketika hal (kematian)  itu terjadi.
    Menetasnya sebuah telur menimbulkan keterpesonaan yang lebih besar lagi. Bagaimana caranya nyawa memasuki telur tersebut, dan kalau  misalnya isinya mati muda, melalui cara mana nyawa itu pergi lagi? Adakah seorang bijak yang mampu menjelaskan teka-teki ini hanya berdasar logika saja?
    Bisa saja muncul berbagai dugaan, namun mengandalkan akal saja tidak mungkin mencapai suatu kepastian. Apalagi jika ingin berbicara mengenai segala hal yang ada dalam kehidupan setelah kematian kita.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 336-338, London, 1984).

Salah Satu Ciri Orang Bertakwa adalah  “Beriman  Kepada yang Gaib

     Mengisyaratkan kepada kelemahan akal (logika) manusia itu pulalah maka Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyebut  ciri  pertama orang-orang yang bertakwa adalah mereka   beriman kepada yang gaib, firman-Nya:
ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾
Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di da-lamnya,  petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.  Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka. (Al-Baqarah [2]:3-4).
      Al-ghaib berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah  Swt.,   para malaikat dan hari kiamat,  semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).
     Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
    Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal (logika) atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran (keberadaan) benda-benda yang tidak nampak itu.
     Keyakinan yang kokoh terhadap “yang gaib”   -- terutama Allah Swt. dan alam akhirat – itulah yang   menjuruskan orang-orang bertakwa tersebut  berusaha menjalin “hubungan komunikasi” dengan Allah Swt.  dalam bentuk یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ  -- “mendirikan shalat”.
     Anak kalimat  وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ  -- “dan mendirikan shalat” berarti: mereka melakukan shalat dengan segala syarat yang telah ditetapkan; aqama berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat (Lexicon Lane). Beribadah itu merupakan ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Allah Swt.Wujud Yang Maha Gaib.  Tambahan pula  karunia Ilahi  meliputi baik jasmani  maupun ruh.
    Jadi ibadah yang sempurna adalah saat ketika jasmani dan ruhani manusia keduanya sama-sama berperan. Tanpa keduanya jiwa sejati ibadah   tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan oleh jasmani hanya kulitnya, namun isi tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulit binasa isinya pun  pasti  mengalami nasib yang sama.
      Rizq  dalam ayat:   یُنۡفِقُوۡنَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ   وَ --  “dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka“   berarti  sesuatu yang dianugerahkan  Allah Swt.    kepada manusia, baik anugerah itu, bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradat).
Ayat  ini  menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan ruhani manusia:
      (1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian  menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
    (2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya, dan bila  sebagai hasil dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menciptakan  maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat  tersebut terpenuhi dengan mendirikan shalat.
      (3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup dengan Khāliq-nya (Pencipta-nya), ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti kepada sesama manusia berupa mengorbankan sebagian   rezeki yang dianugerahkan Allah Swt..
     Bahkan mengenai Nabi Besar Muhammad saw., bukan lagi “mengorbankan sebagian   rezeki yang dianugerahkan Allah Swt.“ melainkan firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupan-ku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam,  tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan, وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:163-164).
   Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan  Nabi Besar Muhammad saw. disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,  semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau  saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Hukum Alam Mengharuskan Adanya Wahyu

Jadi, betapa  hebatnya pengaruh wahyu Ilahi  terhadap munculnya keyakinan, terutama wahyu Al-Quran terhadap keyakinan Nabi Besar Muhammad saw.       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya menerima kabar gembira melalui wahyu Ilahi agar hati tetap teguh  dan tentram menghadapi kesulitan hidup:
     “Yang Maha Bijaksana tidak berkeinginan membiarkan manusia yang lemah terperangkap dalam imajinasi (angan-angan) dan dugaannya sendiri. Dia telah memberikan bermacam pengkhutbah dan pendidik yang dapat memuaskan manusia dan memberikan kedamaian pada jiwanya yang gelisah serta membekalinya dengan firman yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kaidah hukum alam dari Tuhan memastikan perlunya wahyu untuk itu.
    Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa ketika berjuta-juta manusia yang terkekang penderitaan akibat dosa dan penyelewengan, kemudian bisa dipengaruhi oleh bicara seorang pengkhutbah atau penasihat, karena ilmu dan fikiran mereka sendiri sudah tidak lagi memadai?
    Kepuasan yang diperoleh umat manusia dari sumber-sumber seperti itu tergantung juga pada kadar kekaguman dan penghormatan yang diberikan kepada sumber tersebut. Hanya janji-janji dari seorang yang bersifat amanah pada janjinya serta memiliki kemampuan memperbaiki mereka yang akan memberikan kepuasan dan ketenteraman kepada para pendengar atau pengikutnya.
   Dalam keadaan seperti itu, siapa yang akan meragukan jika ada yang menyatakan bahwa berkaitan dengan keadaan manusia setelah mati dan hal-hal yang bersifat metaphisika, cara terbaik mendapatkan kepuasan dan pemupus kesakitan ruhani adalah firman Tuhan.
    Jika seseorang beriman sepenuhnya pada firman Tuhan maka hal itu akan menyelamatkan yang bersangkutan dari berbagai pusaran permasalahan, meredam nafsu-nafsu yang berlebihan serta mengaruniakan kepadanya keteguhan hati menghadapi musibah-musibah yang menakutkan.
    Ketika seorang bijak pada saat kesulitan atau sedang dalam cengkeraman nafsu, bisa menemukan janji atau peringatan Tuhan di dalam firman-Nya, atau melalui penjelasan dari seseorang tentang apa yang diperintahkan Tuhan maka yang bersangkutan akan demikian terpengaruh sehingga langsung bertobat.
    Manusia selalu membutuhkan Tuhan guna menenteramkan dirinya. Demikian seringnya ia harus menghadapi berbagai musibah sehingga jika tidak ada firman Tuhan yang memberikan kabar suka, pasti ia akan berputus asa sedemikian rupa sampai-sampai ia akan menyangkal Tuhan-nya, atau bahkan dalam kekecewaannya malah meninggalkan Tuhan sama sekali atau juga mati karena kesedihan. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan:
 وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
“Dan niscaya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan; tetapi hai Rasul berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Mereka inilah yang dilimpahi berkah dan rahmat dari Tuhan mereka pulalah yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
      Dengan cara yang sama, guna mengatasi nafsu seseorang maka dibutuhkan firman Tuhan karena pada setiap langkahnya manusia selalu terantuk pada permasalahan yang hanya bisa diatasi dengan bantuan firman Tuhan. Bila seseorang berkeinginan berpaling kembali kepada Tuhan, ia akan menghadapi berbagai rintangan. Terkadang ia teringat kembali pada segala kenikmatan duniawi, tertarik kepada keakraban kawan-kawannya atau gamang menghadapi kesulitan dalam jalan yang akan ditempuh.
      Kadang kala kebiasaan dan adat setempat menghalangi jalannya, atau juga pertimbangan mengenai derajat kehormatan, kemuliaan atau pun kekuasaan duniawi. Bisa jadi semuanya itu bergabung bersama menjadi satu seperti gerombolan yang berusaha menariknya ke arah mereka dan menawarkan kepadanya berbagai kemudahan atau kenikmatan dimana kesatuan mereka itu menekan fikirannya sedemikian rupa sehingga tidak tertahankan lagi.
       Dalam perseteruan seperti itu maka persenjataan yang efektif berupa firman Tuhan amat diperlukan guna menumpas kekuatan lawan pada serangan pertama. Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya pada satu sisi saja. Tak mungkin Tuhan akan berdiam diri seperti batu sedangkan hamba-Nya berusaha mencapai kemajuan dengan kekuatannya sendiri guna mengembangkan kesetiaan, ketulusan dan keteguhan hati. Manusia akan melaju maju dalam kasih dan diperkuat oleh keyakinan bahwa ada Wujud Yang menciptakan langit dan bumi. Dugaan saja tidak akan pernah bisa menggantikan fakta.
      Sebagai contoh, misalkan seorang miskin yang berutang memperoleh janji dari seorang kaya yang jujur bahwa pada saat pelunasannya nanti ia akan dibantu menyelesaikan semua utangnya, dibandingkan dengan pengutang lain yang tidak mendapat janji dari siapa pun dimana ia terpaksa menahan diri untuk tidak berangan-angan bahwa ia akan dibantu seseorang melunasi utangnya ketika saatnya tiba. Apakah mungkin kedua orang seperti itu memiliki tingkat kepuasan yang sama? Jelas tidak!
     Semua hal ini tercakup dalam hukum alam dan tidak ada kebenaran lain yang berada di luarnya. Sial sekali mereka yang katanya mengaku mengikuti hukum alam tetapi kemudian melepaskan diri dan malah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 340-342, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 30 April    2016






[1] Galen adalah ahli pengobatan, pengarang dan filosof Yunani yang lahir di Pergamum 10 (sekarang Bergama, Turki) tahun 129 meninggal 216. Jalan fikirannya amat dominan mempengaruhi teori-teori kedokteran Barat mau pun Islam sampai dengan abad ke 17. (Penterjemah/Khalid A. Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar