Sabtu, 21 Mei 2016

"Perjanjian Hudaibiyah" Berawal dari "Salah Tafsir" Penuh Berkat Mengenai Kasyaf Melakukan 'Umrah & Makna "Maghfirah" Berkenaan Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  PERJANJIAN HUDAIBIYAH  BERAWAL  DARI  “SALAH TAFSIR”  PENUH BERKAT MENGENAI KASYAF  MELAKUKAN ‘UMRAH  & MAKNA MAGHFIRAH  BERKENAAN NABI BESAR MUHAMMAD  SAW.


Bab 49

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan penjelasan Masih Mau’ud a.s.   sehubungan hakikat  munculnya  keanekaragaman tumbuh-tumbuhan  padahal disiram dengan air hujan yang sama, firman-Nya:
وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿۴
Dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan, dan kebun-kebun anggurladang-ladang,   pohon-pohon kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  --  semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --  tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ  --  sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d [13]:5).
     Ungkapan ayat:    یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  --  semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --  tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya   mengandung arti, bahwa bila pohon-pohon yang diairi oleh air yang sama, tetapi berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna. Demikan juga  betapa Nabi Besar Muhammad saw. — yang meskipun beliau tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama yakni kaum jahiliyah  Quraisy Mekkah — betapa beliau saw. dapat melebihi mereka; apalagi mengingat  beliau saw. dipupuk dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi, sedang musuh-musuh beliau saw. pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawannya dibesarkan di bawah asuhan syaitan.
Sehubungan dengan  pengaruh  yang ditimbulkan oleh Ruhul kudus atau  wahyu Ilahi  yang di bawa oleh malaikat Jibril a.s. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
   “Hamba yang lemah ini mengetahui melalui pengalaman sendiri bahwa kesucian Ruhul Kudus beroperasi sepanjang waktu pada semua indera dari seorang penerima wahyu tanpa ada kesudahan. Tanpa pengaruh kesucian Ruhul Kudus tersebut maka ia merasa tidak dapat menjaga dirinya dari segala kekotoran.
    Yang menjadi penyebab dari munculnya nur abadi, keteguhan hati, belas kasih, keluputan dari dosa dan segala keberkatan adalah karena Ruhul Kudus selalu menyertai dirinya setiap waktu. Karena itu bagaimana mungkin membayangkan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. pernah mengalami kekosongan tanpa keberkatan, kesucian dan nur ini.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 93-94, London, 1984).

Kedudukan Ruhani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Dalam Mi’raj  Berada di Langit Kedua Bersama Nabi Yahya a.s.

       Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam setiap pemikiran, ucapan dan perbuatan beliau saw. senantiasa dalam bimbingan wahyu Ilahi atau senantiasa disertai Ruhul Kudus, berkenaan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai kesempurnaan ketinggian martabat ruhani beliau saw. dalam peristiwa  mi’raj,  yang bahkan malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup lagi mendampingi beliau saw.,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾   فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی﴿ۙ﴾  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ ﴾  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  ﴿ ﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی   -- Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی    -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی   -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukanعَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --   Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    --    Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  --  dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanyaفَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --       maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  -- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.   مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  --   Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  -- dekat pohon Sidrah tertinggiعِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --     yang di dekatnya ada surga tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی --  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  --  Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya. (An-Najm [53]:1-19).
       Dalam peristiwa mi’raj (kenaikan ruhani) tersebut – yang setiap tahun diperingati umat Islam  --    kedudukan ruhani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berada pada “tingkatan langit kedua” bersama dengan rekan beliau,  Nabi Yahya a.s. --  sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. mampu mencapai Sidratul-Muntaha.

Mereka yang Menghinakan Kesempurnaan Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.

    Oleh karena itu kalau ada Rasul Allah yang layak dipertuhan  atau yang  hidup kekal maka seharusnya  bukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israil, melainkan Nabi Besar Muhammad saw. Namun karena wafat merupakan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. dan para Rasul Allah  yang diutus  sebelum beliau saw. tanpa kecuali (QS.21:35-36; QS.3:56; QS.5:117-119). Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Patut disimak bagaimana para ulama atau maulvi ini telah mengangkat tinggi derajat Yesus a.s. dalam segala hal dan menghina Penghulu dan Junjungan kita sendiri Hadhrat Rasulullah Saw.. Sungguh disayangkan bahwa mereka meyakini kalau Ruhul Kudus tidak pernah meninggalkan diri Yesus a.s. dan bahwa beliau bersih dari sentuhan syaitan, sehingga kedua karakteristik tersebut dianggap menjadi hal yang khusus baginya, tetapi justru berkaitan dengan Hadhrat Rasulullah Saw. mereka berpendapat Ruhul Kudus tidak selalu beserta beliau setiap saat, bahkan beliau tidak luput dari sentuhan Iblis (Na’ūdzubillāh).
    Anehnya dengan keyakinan seperti itu mereka menamakan dirinya Muslim. Dalam pandangan mereka, Penghulu dan Junjungan kita Hadhrat Rasulullah Saw. sudah wafat, tetapi Yesus dianggap masih tetap hidup; Ruhul Kudus dianggap sebagai sahabat abadi Yesus tetapi Hadhrat Rasulullah Saw. tidak diberkati dengan hal itu, serta anggapan bahwa Yesus dipelihara dari sentuhan syaitan sedangkan Hadhrat Rasulullah Saw. tidak demikian.
     Dapatkah dibayangkan besarnya kemudharatan yang ditimbulkan atas agama Islam di zaman ini oleh orang-orang yang berpandangan demikian? Mereka itulah yang sesungguhnya musuh-musuh tersembunyi dari Hadhrat Rasulullah Saw., dan sebaiknya setiap Muslim dan para pecinta beliau menjauhi mereka ini.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 110-111, London, 1984).

Hikmah Kekeliruan Pendapat Para Rasul Allah    

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai “kekeliruan pendapat” atau “salah tafsir” yang kadang-kadang terjadi juga pada diri para Rasul Allah, termasuk Nabi Besar Muhammad saw., yang sangat  berbeda dengan kekeliruan pendapat  yang biasa terjadi di kalangan orang-orang umum:
      “Demikian juga halnya dalam hal terjadi kesalahan deduksi (kesimpulan) oleh seorang nabi. Ruhul Kudus memang tidak pernah meninggalkan seorang nabi, hanya saja pada beberapa kejadian --  mungkin untuk suatu tujuan tertentu -- Allah Swt. mengambil alih daya nalar dan persepsi seorang nabi, dimana pada kondisi demikian sepertinya nabi tersebut mengutarakan perkataan atau tindakan yang terlihat sebagai kealpaan atau kesalahan, dan baru kemudian takdir Ilahi diperlihatkan maksudnya. Sungai wahyu kemudian turun menderas dan kesalahan nabi tersebut dihapuskan seolah-olah tidak pernah ada.
    Yesus a.s. pernah menghampiri sebuah pohon ara[1] untuk menyantap buahnya dan meskipun beliau ditemani oleh Ruhul Kudus, sepertinya malaikat ini lupa memberitahukan kepada beliau bahwa pohon tersebut sedang tidak berbuah. Hanya saja harus dimengerti bahwa suatu kejadian yang sangat jarang sebenarnya sama saja dengan tidak pernah terjadi.
   Dalam jutaan kata dan tindakan dari Penghulu dan Junjungan kita Hadhrat Rasulullah Saw. bisa dilihat adanya manifestasi Ilahi dan nur cemerlang dari Ruhul Kudus. Dengan demikian apalah artinya jika sifat manusiawi beliau muncul sekali atau dua kali. Justru hal-hal seperti itu perlu sekali waktu sehingga fitrat kemanusiaan beliau menjadi jelas dan manusia tidak menjadi terbawa syirik.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 115-116, London, 1984).
    Contoh “kesalahan pendapat” yang  dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah  keberangkatan beliau saw. besama sekitar 1.500 orang sahabah pergi untuk  menunaikan ‘umrah, tetapi  para pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah tidak mengizinkan beliau saw. dan rombongan  memasuki kota Mekkah, sehingga mengakibatkan terjadinya “Perjanjian Hudaibiyah” yang dalam Al-Quran disebut sebagai “kemenangan yang nyata”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).

Perjanjian Hudaibiyah”   Sebagai “Kemenangan yang Nyata

   Ada pun yang diisyaratkan oleh kata-kata "kemenangan nyata" dalam ayat  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا   -- “Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata“ nampaknya  "Perjanjian Hudaibiyah." Sungguh aneh bahwa walaupun selama masa singkat yaitu 6 tahun permulaan ketika Nabi Besar Muhammad saw.   tinggal di kota Medinah, beliau saw. telah mendapat kemenangan-kemenangan besar atas musuh-musuh beliau saw. – mulai dari Perang Badar sampai dengan Perang Ahzab   -- sehingga telah melumpuhkan dan mematahkan daya juang mereka kaum kafir Mekkah, namun demikian tidak satu pun dari kemenangan-kemenangan itu disebut "kemenangan nyata" di dalam Al-Quran.
 Sebutan itu dicadangkan untuk “Perjanjian Hudaibiyah” guna menerima kehormatan luar biasa ini, kendatipun syarat-syarat (dalam perjanjian) pada lahirnya nampak sangat merendahkan derajat dan orang-orang Muslim sangat bingung atas peristiwa yang nampaknya sebagai suatu penghinaan terhadap kehormatan Islam, demikian rupa hingga bahkan seorang yang gagah seperti Sayyidina Umar bin Khaththab r.a.   berseru karena sedih dan jengkelnya bahwa andaikata syarat-syarat Perjanjian itu telah ditetapkan oleh orang lain selain  Nabi Besar Muhammad saw. niscaya beliau akan mencemoohkan syarat-syarat itu (Hisyam).
  Dalam perkembangan selanjutnya membuktikan bahwa sungguh Perjanjian Hudaibiyah itu merupakan kemenangan besar, sebab telah membuka jalan bagi pengembangan dan penyebaran Islam dan menjurus kepada jatuhnya kota Mekkah (Fathah Makkah), dan akhirnya kepada penundukkan seluruh wilayah tanah Arab.
    Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah itu ternyata merupakan keunggulan siasat  Nabi Besar Muhammad saw. karena dengan Perjanjian itu Islam mempunyai "kedudukan politik sebagai satu kekuatan yang semartabat dan merdeka serta berdaulat yang diakui oleh kaum Quraisy" demikian pendapat Montgomery Watt  dalam bukunya "Mohammad at Medinah."  
     Nabi Besar Muhammad saw.    telah melihat sebuah kasyaf bahwa beliau saw. sedang berthawaf bersama serombongan sahabat beliau r.a… Guna menggenapi kasyaf itu bertolaklah beliau saw. ke Mekkah dengan sejumlah kira-kira 1500 orang Islam untuk mengerjakan ‘umrah dalam bulan suci yang selama bulan itu — menurut adat kebiasaan orang-orang Arab — peperangan terlarang, dan hal itu malahan berlaku juga sebelum Islam.
     Tatkala  Nabi Besar Muhammad saw.  tiba di 'Usfan, suatu tempat yang terletak beberapa mil dari Mekkah,  beliau saw. diberi kabar oleh regu perintis yang dikirim beliau saw. di bawah pimpinan 'Abbad bin Bisyr bahwa kaum Quraisy berniat menghambat beliau masuk ke kota Mekkah.
  Untuk menghindari bentrokan senjata  Nabi Besar Muhammad saw.   mengubah haluan beliau saw., dan "Sesudah menempuh perjalanan yang melelahkan melalui jalan berkelok-kelok lagi  sukar ditempuh sampailah beliau ke Hudaibiyah,  di sana beliau berkemah. Rasulullah saw. menyatakan bahwa beliau akan menerima segala tuntutan orang-orang Quraisy demi kehormatan Tanah Suci” (Hisyam), tetapi orang-orang Quraisy  bersikeras dalam tekad mereka untuk tidak membiarkan beliau saw. memasuki kota Mekkah, biar apa pun yang dika-takan beliau saw..

Solusi Pemecahan” yang Menguras Kesabaran  Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.

  Kedua belah pihak saling mengirimkan pesan dalam upaya mencari pemecahan sebagai jalan keluar dari kemacetan perundingan itu. Sesudah dilangsungkan pembicaraan-pembicaraan panas dan berlarut-larut yang diusahakan oleh    Nabi Besar Muhammad saw. dengan segala daya upaya, bahkan dengan mempertaruhkan kewibawaan beliau  saw. sendiri agar dapat sampai kepada suatu kompromi yang pantas dengan kaum Quraisy maka ditanda-tanganilah persetujuan yang syarat-syaratnya antara lain berbunyi: 
1.  Kaum Muslimin harus kembali ke kota Madinah pada tahun itu juga dan membatalkan niat ibadah Umrah.
2.     Kaum Muslimin boleh kembali di tahun depan akan tetapi mereka tidak boleh berada di kota Mekkah lebih dari 3 hari.
3. Kaum Muslimin tidak boleh membawa senjata apapun selain pisau atau pedang kecil.  
4.  Tidak boleh ada peperangan antara kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy dalam kurun waktu 10 tahun.
5.   Kaum Muslimin yang tinggal di kota Mekah dan pindah ke Madinah tanpa ijin dari sukunya harus dikembalikan ke kota Mekah; sedangkan kaum Muslimin yang berasal dari Madinah kemudian kembali ke kota Mekah tanpa ijin tidak boleh kembali ke kota Madinah.
6.     Kaum Musyrikin atau penduduk kota Mekah yang berhijrah ke kota Madinah tanpa izin dari sukunya harus dikembalikan ke kota Mekah; akan tetapi kaum Muslimin dari kota Madinah yang pergi ke Mekah tanpa izin tidak diperbolehkan kembali ke kota Madinah.
7.     Setiap suku di jazirah Arab dibebaskan untuk bergabung ke pihak manapun, dan kedua belah pihak harus terikat dengan perjanjian ini.
  Syarat-syarat itu nampaknya merupakan penghinaan besar, sehingga orang-orang Islam  -- terutama Umar bin Khaththab  r.a.   -- sangat bingung dan marah. Tidak ada kata memadai untuk melukiskan keprihatinan mereka dan rasa terhina serta rasa harga diri mereka yang ternoda. Teristimewa syarat yang ketigalah dirasakan pahit sepahit empedu.
   Tetapi  Nabi Besar Muhammad saw.   tetap tenang dan berkepala dingin. Oleh karena yakin akan kekuatan moral Islam, beliau saw. mengetahui bahwa "seorang beriman yang telah sekali mencicipi manisnya keimanan akan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekafiran" (Bukhari), dan bahwa ia akan membuktikan diri menjadi sumber kekuatan bagi agamanya di mana pun ia berada.
     Perjanjian Hudaibiyah terbukti kemudian menjadi "kemenangan yang nyata." Para sahabat Rasulullah s.a.w. sewajarnya merasa bangga atas kehadiran mereka pada peristiwa itu, dan tepat sekali memandang Perjanjian itu  —dan bukan peristiwa penaklukan Mekkah— sebagai "kemenangan yang diisyaratkan dalam ayat ini" (Bukhari).
     Menurut mereka tidak ada kemenangan yang lebih besar dan lebih jauh jangkauannya dalam hasil dan pengaruhnya daripada Perjanjian itu (Hisyam). Dan  Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri menyebutnya “kemenangan besar” (Baihaqi). Al-Quran menyebutnya "kemenangan nyata" (QS.48:2), "keberhasilan besar" (QS.48:6), "ganjaran besar" (ayat 11) dan penggenapan serta penyempurnaan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.48:3) sebab peristiwa itu membukakan pintu-air-kemenangan ruhani dan politik agama Islam.
    Jadi, “kesalahan pendapat” atau "salah tafsir" yang terjadi di kalangan para Rasul Allah – terutama Nabi Besar Muhammad  saw. --  tidak pernah menimbulkan kemudharatan bahkan senantiasa mengandung hikmah yang lebih besar  yang manfaatnya jauh lebih besar serta di luar jangkauan akal (logika).

Makna Maghfirah Berkenaan Nabi Besar Muhammad saw.

       Mengenai makna  maghfirah (pengampuan) ayat selanjutnya: لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ   -- “supaya Allah melindungi engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا  -- “dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.” (Al-Fath [48]:3-4).
   Ayat 3 ini dengan sengaja disalahkemukakan, atau  karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
    Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintahkan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.untuk membersihkan manusia dari dosa  maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa. Dan dari antara utusan-utusan Allah tersebut Nabi Besar Muhammad saw.   paling mulia dan paling suci.
    Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup beliau (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).  
Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu seperti Nabi Besar Muhammad saw., yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam (QS.30:42-44) — ke puncak kemulaian ruhani tertinggi, tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
 Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb, telah dimanfaatkan untuk memfitnah Nabi Besar Muhammad saw.. Kata  dzanb itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
  Ayat  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ    mengandung arti bahwa Allah  Swt. akan melindungi  Nabi Besar Muhammad saw.  terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya. Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan.
  Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., pada waktu itu diperintahkan supaya memohon perlindungan Allah Swt.  terhadap dzanb  beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw. (QS.110:1-4).

Perbedaan Kata  Dazb dengan Junnah, Jurm dan Itsm

   Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya. Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya; atau dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka (bagi engkau) dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku)  berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.” Jadi, ayat yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh   Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau, yakni bahwa beliau saw. adalah seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt.  dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
 Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam maka dosa mereka diampuni oleh Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf a.s. terhadap kesalahan-kesalahan saudara-saudara beliau (QS.12:93).  
  Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas    Nabi Besar Muhammad saw.   kepada  diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ --  “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau  saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
  Pertolongan Ilahi  dalam ayat  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  “dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa”  datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan Nabi Besar Muhammad saw.  diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat.
     Itulah berbagai hikmah yang timbul dari “kekeliruan tafsir” Nabi Besar Muhammad saw. terhadap kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami beliau sehingga menghasilkan “Perjanjian Hudaibiyah” yang kemudian disebut “kemenangan yang nyata”اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا -- “Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 20  Mei    2016





[1] Kejadian tersebut terdapat dalam Injil Matius 21:19 dimana diungkapkan Yesus a.s.   mengutuk sebuah pohon ara karena tidak memberikan buah saat beliau sedang lapar. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar