Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN MALAIKAT-MALAIKAT DENGAN
TATANAN ALAM SEMESTA BAGAIKAN
HUBUNGAN RUH DENGAN TUBUH JASMANI &
PERAN WAHYU ILAHI PADA LEBAH MADU
Bab 41
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya
telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai peran malaikat-malaikat sebagai sarana perantara antara Allah Swt. dengan makhluknya yang memiliki wujud fisik dalam hal ini alam semesta:
“…Berhubung
dengan itu maka kebijakan Sang Maha
Agung menetapkan bahwa sebagai manifestasi
utama dari segala rekayasa Wujud-Nya
haruslah ada suatu bentuk ciptaan
yang tidak terhalang oleh tirai dirinya sendiri. Bentuk ciptaan ini harus memiliki bentuk yang berbeda
dengan benda lainnya yaitu terbebas dari egonya sendiri dan melayani
Tuhan sebagai bagian dari anggota Tubuh-Nya, dimana jumlah kuantitas mereka harus sejalan dan seimbang dengan perencanaan
Allah Swt. berkaitan dengan keseluruhan
makhluk ciptaan-Nya.
Wujud ciptaan tersebut haruslah memiliki fitrat sebagai cermin yang tembus pandang dan harus
selalu hadir di Hadirat Allah Swt.. Makhluk ciptaan tersebut harus mempunyai dua arahan. Arahan pertama ialah makhluk itu harus bersifat unik dan transcendental
(di luar batas-batas). Karena tidak
kasat mata dan terbebas dari
segala tirai maka makhluk ini harus berbeda bentuk dari segala ciptaan lainnya dan amat
mirip dengan Tuhan-nya karena merefleksikan (memantulkan) Wujud Sang Maha Kuasa.
Arahan lainnya ialah karena juga merupakan makhluk ciptaan maka mereka ini dengan
sendirinya bisa mempunyai hubungan
dengan makhluk lainnya, dan bisa
mengadakan pendekatan dengan mereka. Melalui perencanaan-Nya tersebut maka Allah
Swt. telah menciptakan makhluk yang disebut sebagai malaikat. Para malaikat ini semuanya larut
dalam kepatuhan kepada Allah Swt. dan mereka tidak memiliki niat, rencana atau keinginan tersendiri.
Mereka tidak bisa berbaik hati kepada siapa
pun atau murka kepada siapa pun atau
mengharapkan sesuatu untuk dirinya sendiri atau pun tidak menyukai sesuatu berdasarkan keinginan dirinya sendiri, karena mereka sepenuhnya menjadi laiknya (seperti) anggota Tubuh Tuhan. Semua rencana
dan rekayasa Allah Swt. direfleksikan pada cermin transparan mereka, lalu melalui mediasi (perantaraan) mereka
disebarkan kepada seluruh ciptaan.
Mengingat Allah Yang Maha Agung, karena fitrat
Kesucian-Nya Yang Maha Sempurna merupakan Wujud Yang Maha Unik dan Transendental
maka semua makhluk yang tidak terbebas dari ego dan kekaburan dari tirai
eksistensi mereka serta hanya sadar
akan eksistensi dirinya saja, tidak mungkin mempunyai hubungan langsung
dengan Sumber segala Berkat. Karena
itu diperlukan adanya suatu bentuk makhluk yang di satu sisi berhubungan dengan Allah Swt. dan di sisi lain dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana dengan cara ini makhluk tersebut memperoleh berkat
dari satu sisi dan menyalurkannya ke
sisi lain.”
(Ayena Kamalati Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 165-170, London, 1984).
Nabi Sulaiman a.s.
& Pembuatan Singgasana dan Istana Unik
Penjelasan Masih
Mau’ud a.s. mengenai malaikat sebagai makhluk yang berwujud “transfaran” (tembus pandang)
mengisyaratkan kepada “lantai kaca bening” istana Nabi Sulaiman a.s. yang di bawahnya dialirkan air, sehingga “lantai
kaca bening” istana tersebut nampak bagaikan
bentangan air yang membuat Ratu Saba menyingkapkan pakaian
kebesarannya sehingga betisnya
terlihat, firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia (Ratu Saba): “Masuklah ke
istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang
dalam, dan ia menyingkapkan kain dari
betisnya. Ia, Sulaiman,
berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca bening.” Ia, ratu,
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku
sendiri dan aku tunduk bersama
Sulaiman kepada Allah Rabb ( Tuhan)
seluruh alam.” (An-Naml [27]:45).
Kasyāfa ’an sāqihi sehubungan ayat: وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ
سَاقَیۡہَا -- dan ia
menyingkapkan kain dari betisnya” adalah
muhawarah (idiom) yang terkenal dalam
bahasa Arab, yang berarti “menjadi siap untuk menghadapi kesukaran”
atau “pikirannya menjadi kacau-balau atau
kebingungan”. Kasyāfat ’an sāqaiha berarti: (1) ia (perempuan) menyingkapkan
kain dari betisnya; (2) ia bersiap-sedia
menghadapi keadaan itu; ia menjadi kacau-balau
pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
Nabi Sulaiman a.s.
menginginkan agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan
dan menerima agama yang hakiki. Untuk
maksud itu beliau secara bijaksana
sekali memakai cara demikian yang niscaya menyebabkan perempuan yang
mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya.
Pembuatan singgasana
yang Nabi Sulaiman a.s. telah
perintahkan untuk disiapkan bagi Ratu
Saba itu dalam ayat-ayat sebelumnya
(QS.27:42-44) dimaksudkan guna tujuan itu pula. Singgasana
itu dibuat jauh lebih indah dan dalam
segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu sendiri yang sangat
dibanggakannya.
Nabi
Sulaiman a.s. berbuat
demikian, agar supaya Ratu Saba
dapat menyadari, bahwa Nabi Sulaiman
a.s. itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani itu jauh lebih
berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan kepadanya, firman-Nya:
قَالَ نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا
جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ
قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ صَدَّہَا مَا کَانَتۡ
تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا
کَانَتۡ مِنۡ قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” Maka
tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: “Serupa inikah singgasana engkau?” Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Tetapi apa
yang senantiasa disembahnya selain Allah
telah menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir. (An-Naml
[27]:42-44).
Nabi Sulaiman a.s. & Falsafah Istana
Berlantai Kaca Bening
Tetapi keunggulan singgasana yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. hanya
membuat Ratu Saba mengakui keunggulan
Nabi Sulaiman a.s. dari segi SDM (sumber daya manusia) saja, sehingga Ratu Saba mengambil keputusan untuk “berserah
diri” (menyerah), sebagaimana peringatan Nabi Sulaiman a.s. dalam surat beliau yang telah dikirim
sebelumnya kepada Ratu Saba
(QS.27:29-38).
Demikian pula tujuan pembuatan istana yang disinggung dalam ayat ini
pun dibangun dengan tujuan yang sama,
yaitu mengajak Ratu Saba secara
ruhani berserah-diri kepada Tauhi Ilahi dan meninggalkan kemusyrikan. Sebagaimana diperlihatkan
dalam ayat ini (QS.27:45), jalan masuk
ke istana itu berlantaikan ubin terbuat
dari kaca bening yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali,
firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.”
Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka
itu air yang dalam, dan ia
menyingkapkan kain dari betisnya. Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya
ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca bening.” Ia, ratu,
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku
sendiri dan aku tunduk bersama
Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan)
seluruh alam.” (An-Naml [27]:45).
Tatkala Ratu Saba memasuki istana
itu ia menyangka bahwa kaca bening
itu air, lalu menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya – yang merupakan aurat perempuan -- dan pemandangan air itu membingungkannya, dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia
lakukan.
Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s. menarik perhatian Sang Ratu kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba telah salah duga bahwa ubin kaca itu air, seperti itu pula matahari
dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan sumber cahaya sebenarnya.
Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan
cahaya tetapi mereka itu benda-benda
mati belaka. Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda
langit itu cahaya yang dipancarkannya serta berbagai kemampuan lainnya.
Dengan
jalan itu Nabi Sulaiman a.s. berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya melakukan kemusyrikan, dan dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu, beliau menjadi seorang abdi mukhlis Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi, air yang ada di balik “lantai kaca bening” istana yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. tersebut mengumpamakan
para malaikat yang menjadi sarana penghubung antara
Allah Swt. dengan alam semesta ini, sehingga alam
semesta memperlihatkan berbagai khasiat
yang luar biasa yang khazanahnya
tidak terhingga (QS.18:110;
QS.31:28).
Lebah Madu dan Wahyu Ilahi
Keunikan istana yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. secara khusus – yang membuat Ratu Saba meninggalkan kemusyrikannya -- tersebut tidak lepas dari peran wahyu Ilahi kepada Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana halnya keunikan yang dilakukan lebah madu dalam hal membuat sarang dan menghasilkan madu,
firman-Nya:
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ
اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا
یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً
لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah:
“Buatlah rumah-rumah yakni sarang
di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.
Kemudian makanlah dari
setiap buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ
مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ
لِّلنَّاسِ -- Keluar
dari perutnya minuman beraneka warnanya,
di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- Se-sungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang me-mikirkan. (An-Nahl
[16]:69-70).
Makna wahyu dalam ayat: وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ
اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا
یَعۡرِشُوۡنَ -- “Dan
Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah:
“Buatlah rumah-rumah yakni sarang
di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”
berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah Swt. telah
menganugerahi semua makhluk melalui
peran para malaikat.
Ayat ini mengandung satu isyarat
yang indah sekali bahwa bekerjanya
seluruh alam semesta dengan lancar
dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun tersembunyi. Dengan
perkataan lain, segala benda dan makhluk ciptaan Allah Swt. memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan
serta pembawaan-pembawaan aslinya.
Lebah telah dipilih sebagai satu
contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi
dan kinerjanya yang menakjubkan
itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja,
dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.
Madu-ruhani Al-Quran yang Berlimpah-ruahn
Pokok
masalah lebah telah dipaparkan lebih
lanjut dalam ayat ini: ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ
کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا -- “Kemudian makanlah dari setiap buah-buahan,
dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan,“ Allah mewahyukan kepada lebah
untuk menghimpunkan makanannya dari
berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu: یَخۡرُجُ مِنۡۢ
بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ – “Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia.”
Madu mempunyai
bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang
berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti
bahwa wahyu telah terus-menerus turun
kepada nabi-nabi Allah di berbagai
zaman, dan bahwa ajaran-ajaran
seorang nabi Allah dalam beberapa hal
yang kecil-kecil berbeda dari
ajaran-ajaran nabi-nabi Allah lain,
walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana
untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau
diutus.
Dari semua jenis madu ruhani ajaran para rasul Allah yang diwahyukan Allah
Swt., yang paling sempurna dalam
segala seginya adalah “madu ruhani”
wahyu Al-Quran yang diwahyukan kepada
Nabi Besar Muhammad saw., sebab merupakan
madu ruhani hukum-hukum
syariat yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4), yang khazanah-khazanahnya tidak akan pernah
habis sampai kapan pun, sebagaimana yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman ini (QS.15:22; QS.18:110; QS.31:28; QS.72:27-29).
Sarana Eksternal Kebutuhan Keruhanian
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai peran
para malaikat bagi aktifitas
alam semesta jasmani dan juga aktifitas tubuh manusia, termasuk seluruh inderanya:
“Agar
bisa menerima eksistensi
(keberadaan) malaikat, cara termudah adalah dengan mengarahkan fikiran kita kepada hal
berikut ini. Kita sudah sama mengakui bahwa untuk melatih dan menyempurnakan
tubuh agar semua tindakan dari pengoperasian keseluruhan indera
memberikan hasil yang baik, maka Allah Yang Maha Kuasa telah mengatur hukum alam sedemikian rupa dengan cara memanfaatkan unsur-unsur alam, matahari, bulan dan bintang-bintang dimana
semuanya itu dikerahkan untuk membantu fitrat dan jasmani kita (sebagai makhluk ciptaan),
agar bisa melaksanakan fungsi-fungsinya
dengan sebaik-baiknya.
Karena itu kita
tidak mungkin menyangkal kenyataan
bahwa mata kita tidak mampu berfungsi dengan sinarnya
sendiri kecuali dibantu oleh sinar matahari, dan telinga
kita tak mungkin mendengar dengan fitratnya sendiri kecuali dibantu adanya udara.
Apakah hal ini
tidak cukup untuk membuktikan kalau kaidah
Ilahi telah menetapkan bahwa penyempurnaan fitrat diri kita
memerlukan bantuan, dan bahwa sudah
menjadi keniscayaan kalau fitrat tersebut bergantung pada sarana eksternal (dari luar)?
Jika kita amati secara cermat, kita akan
menemukan kenyataan bahwa bukan
dalam satu atau dua keadaan saja tetapi bagi kesempurnaan kinerja keseluruhan
indera dan kekuatan jasmani kita
amat bergantung pada bantuan sarana eksternal.
Mengingat bahwa sistem dan kaidah hukum
Tuhan ini yang telah diatur
bekerja secara pasti, tepat dan menyeluruh bagi kebutuhan
eksternal dari indera dan kemampuan jasmani, lalu apakah tidak
menjadi suatu keniscayaan bahwa tentunya ada suatu sistem yang juga berfungsi bagi kesempurnan dan kinerja
keruhanian, dan dengan demikian membuktikan
bahwa identitas dari kedua sistem tersebut malah membuktikan
Ke-Esa-an Sang Maha Pencipta?
Pasangan Sarana
Jasmani dan Sarana Ruhani
Kiranya jelas
bahwa Wujud Yang Maha Bijak, Yang
telah menerapkan sistem eksternal
ini dimana melalui efek (pengaruh)
dari sarana eksternal seperti unsur-unsur alam dan benda-benda langit maka kinerja tubuh jasmani dan indera manusia telah disempurnakan, maka tentunya Wujud Yang Maha Bijak dan Maha Kuasa yang sama telah juga memilih sistem yang identik bagi kesempurnaan keruhanian, karena Dia itu
tanpa sekutu dan selalu ada kesatuan dalam Kebijakan dan Kinerja-Nya.
Dalam hal ini
sebagaimana matahari dan bulan membantu kebutuhan jasmani, maka sarana
eksternal yang mempengaruhi
secara keruhanian dan memenuhi kebutuhan ruhani dikenal dengan nama malaikat. Hal ini membuktikan eksistensi
(keberadaan) para malaikat dimana jika kita perhatikan hukum alam secara keseluruhan kita
harus mengakui keberadaan mereka meskipun kita tidak mampu menembus realitasnya (yang rasanya juga memang
tidak perlu).
Kalau kita mengakui adanya hukum alam eksternal, tidak ada alasan bahwa kita tidak bisa menerima hukum alam internal. Bila kita menerima
(mengakui) kaidah hukum alam eksternal maka sepatutnya juga kita mengakui hukum alam internal tersebut.
Hal itu juga yang menjadi dasar
pertimbangan mengapa Allah Yang Maha
Agung dalam Kitab Suci telah
menempatkan kedua kaidah itu dalam
satu ayat secara bersamaan seperti:
وَالذّٰرِیٰتِ ذَرۡوًا ۙ﴿﴾ فَالۡحٰمِلٰتِ وِقۡرًا ۙ﴿﴾ فَالۡجٰرِیٰتِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ فَالۡمُقَسِّمٰتِ
اَمۡرًا ۙ﴿﴾
“Demi [angin] yang
menyebarkan [uap air] dengan
penyebaran yang sebenar-benar penyebaran.
Kemudian mengandung muatan. Kemudian
melaju perlahan-lahan dan kemudian membagi-bagikan atas perintah Kami”(Al-Dzāriyāt [51]:2-5), dimana Allah
Swt. telah mengemukakan kesaksian angin yang telah memisahkan uap air dari permukaan
samudra dan sungai, yang
kemudian membawanya seperti kandungan seorang wanita hamil untuk
kemudian meniupkannya ke arah sasaran yang dituju, serta kesaksian
para malaikat yang telah mewujudkan keseluruhan kejadian
tersebut.
Peran-serta Para Malaikat
Dari ayat ini diindikasikan bahwa angin
tidak memiliki kekuatan sendiri guna
menarik uap air dari permukaan laut dan mengkonversinya (mengubahnya) menjadi awan untuk kemudian turun sebagai hujan di tempat yang dibutuhkan. Semua
itu menjadi fungsi dari para malaikat.
Dalam ayat tersebut di atas Allah Swt. mengindikasikan laiknya seorang
filosof tentang penyebab turunnya
hujan dari awan, dan menjelaskan bagaimana air menjadi uap air yang kemudian berbentuk awan. Lalu dijelaskan dalam ayat terakhir bahwa:
فَالۡمُقَسِّمٰتِ اَمۡرًا
“Kemudian membagi-bagikan atas perintah
Kami” (Al-Dzāriyāt [51]:5),
Darinya disimpulkan realitas
(kenyataan), supaya jangan ada yang mengkhayal
kalau sistem dari kausa dan efek benda jasmani itu cukup adanya bagi pengaturan Samawi, karena nyatanya ada sistem kausa spiritual di belakang sistem fisikal yang mendukung sistem
yang kasat mata tersebut.
Di tempat lain
dinyatakan bahwa:
وَ الۡمُرۡسَلٰتِ عُرۡفًا ۙ﴿﴾ فَالۡعٰصِفٰتِ عَصۡفًا ۙ﴿﴾ وَّ
النّٰشِرٰتِ نَشۡرًا ۙ﴿﴾ فَالۡفٰرِقٰتِ
فَرۡقًا ۙ﴿﴾ فَالۡمُلۡقِیٰتِ ذِکۡرًا ۙ﴿﴾
“Demi mereka yang diutus guna menyebarkan kebaikan. Kemudian mereka terus bergerak maju dengan suatu gerakan ke muka yang sekuat-kuatnya,
dan demi mereka yang menyebarkan kebenaran dengan sebaik-baik penyebaran. Maka mereka membedakan sebeda-bedanya antara
haq dan batil. Kemudian mereka menyampaikan
seruan Allah seluas-luasnya” (Al-Mursalāt [77]:2-6).
Dari sini disimpulkan kalau Allah Swt. telah
mengemukakan kesaksian tentang angin dan malaikat yang bergerak
perlahan untuk kemudian cepat,
tentang angin yang memindahkan awan-awan serta malaikat yang bertugas menanganinya, lalu tentang angin yang membawa risalah
ke telinga manusia dan malaikat yang membawa firman Tuhan ke dalam kalbu.
Dengan cara demikian maka Allah Yang
Maha Kuasa telah menggabungkan
para malaikat dengan bintang-bintang dalam ayat:
فَالۡمُدَبِّرٰتِ اَمۡرًا ۘ﴿﴾
“Kemudian mereka (para malaikat) mengelola urusan-urusan dengan cara sebaik-baiknya (An-Nāzi’āt
[79]:6).
Hubungan Para Malaikat
dengan Benda-benda Langit (Angkasa)
Ketujuh buah planet diungkapkan sebagai pengaturan
masalah bumi secara eksternal,
sedangkan para malaikat sebagai unsur yang mengaturnya secara internal.
Tafsir dari kitab Fath-ul-Bayan mengemukakan pandangan di atas
berdasarkan ulasan Muaz bin Jabal[1] dan Qashiri.
Diberitakan oleh
Ibn Katsir[2] berdasarkan penjelasan Hasan bahwa pengaturan segala sesuatu di langit
dan di bumi dilaksanakan melalui
para malaikat, dan Ibn Katsir
menyatakan bahwa hal ini merupakan penafsiran
yang telah disepakati.
Ibn Jarir[3] menafsirkan ayat: “Mereka membagi-bagikan atas perintah Kami” dengan pengertian bahwa para
malaikat itulah yang melaksanakan pengaturan alam semesta
yaitu meskipun di permukaan yang terlihat adalah bintang-bintang, matahari,
bulan dan unsur-unsur alam tersebut mengatur dirinya sendiri, namun sebenarnya yang melaksanakan adalah para malaikat.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 133-137, London, 1984).
Eksistensi Malaikat yang Independen (Mandiri)
Mengenai
peran para malaikat sebagai “sarana perantara” antara Allah Swt. dengan semua ciptaan-Nya,
terutama manusia, selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Dari
hasil renungan dan refleksi kami serta penalaran menunjukkan bahwa untuk setiap berkat selalu ada kausa (sebab) yang menjadi perantara di antara Allah
Yang Maha Kuasa dengan diri kita,
dimana setiap fitrat memperoleh karunia sebanding dengan kebutuhannya. Hal ini meneguhkan eksistensi (keberadaan)
malaikat dan jin.
Kita bisa
melihat bahwa pekerjaan apa pun -- buruk atau pun baik -- nyatanya kemampuan
fitrat kita saja tidak
mencukupi dan kita membutuhkan
bantuan dan pertolongan yang
bersifat eksternal (dari luar). Penolong atau pembantu tersebut tidak
beroperasi secara langsung tanpa mediasi
(perantara). Untuk itu harus ada lagi sejenis sarana mediasi (perantara).
Penelitian atas
hukum alam menunjukkan secara konklusif (lengkap) dan pasti bahwa unsur atau elemen penolong
tersebut berada di luar diri kita.
Kita mungkin tidak mampu menyadari realitas
(keberadaan) mereka yang sebenarnya,
namun kita tahu pasti bahwa unsur tersebut bukanlah Allah Swt. Sendiri yang bertindak secara langsung, tetapi juga bukan kemampuan dan fitrat
kita sendiri. Unsur penolong
tersebut merupakan spesi makhluk ciptaan
dengan eksistensi yang bersifat independen (mandiri).
Jika ada dari unsur tersebut yang kita perkaitkan dengan amal atau pekerjaan yang
baik, kita menyebutnya sebagai Ruhulqudus atau Jibrail, dan jika mengkaitkan
yang bersangkutan dengan kejahatan
atau dosa maka kita menyebutnya
sebagai syaitan atau iblis. Unsur-unsur ini tidak mudah terlihat tetapi bagi seorang yang mempunyai wawasan bisa
melihatnya antara lain melalui kasyaf.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.
86-88, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 9 Mei 2016
[1] Salah seorang sahabat dari kaum Anshar,
wafat tahun 18 H . Dikenal sebagai perawi Hadits dan salah seorang pengumpul
Al-Quran di masa Rasulullah Saw. Pernah ditugaskan sebagai Qadhi di Yaman . (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
[2]
Nama
lengkapnya adalah Abu Al-Fida Imadaddin Ismail bin Umar bin Katsir
al-Qurashi al-Busrawi (701-774 H,
1300-1373 M ). Salah seorang ahli tafsir Al-Quran yang penjelasannya dianggap
termasuk paling baik berdasarkan Hadits shahih dan tafsir para sahabat
Rasulullah saw. (Penterjemah/Khalid
A. Qayum)
[3] Abu Jafar Muhammad ibn Jarir at-Tabari
(839-923 M) salah seorang ahli tafsir Al-Quran dan penulis sejarah Islam (Tarikh
ar-Rusul wa al-Muluk) serta dikenal sebagai salah satu kontributor bagi
konsolidasi pemikiran kaum Sunni di abad 9 M. (Penterjemah/Khalid. A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar