Minggu, 08 Mei 2016

Hubungan Malaikat-malaikat Dengan Tatanan Alam Semesta Bagaikan Hubungan "Ruh" Dengan "Tubuh Jasmani" & Peran "Wahyu Ilahi" Pada Lebah Madu


Bismillaahirrahmaanirrahiim

   MALAIKAT ALLAH  



HUBUNGAN MALAIKAT-MALAIKAT  DENGAN   TATANAN ALAM SEMESTA BAGAIKAN HUBUNGAN RUH DENGAN TUBUH JASMANI  &  PERAN WAHYU ILAHI PADA LEBAH MADU 


Bab 41

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai  peran malaikat-malaikat sebagai sarana perantara  antara Allah Swt. dengan makhluknya yang memiliki wujud fisik dalam hal ini alam semesta:
      “…Berhubung dengan itu maka kebijakan Sang Maha Agung menetapkan bahwa sebagai manifestasi utama dari segala rekayasa Wujud-Nya  haruslah ada suatu bentuk ciptaan yang tidak terhalang oleh tirai dirinya sendiri. Bentuk ciptaan ini harus memiliki bentuk yang berbeda dengan benda lainnya yaitu terbebas dari egonya sendiri dan melayani Tuhan sebagai bagian dari anggota Tubuh-Nya, dimana jumlah kuantitas mereka harus sejalan dan seimbang dengan perencanaan Allah Swt. berkaitan dengan keseluruhan makhluk ciptaan-Nya.
      Wujud ciptaan tersebut haruslah memiliki fitrat sebagai cermin yang tembus pandang dan harus selalu hadir di Hadirat Allah Swt.. Makhluk ciptaan tersebut harus mempunyai dua arahan. Arahan pertama ialah makhluk itu harus bersifat unik dan transcendental (di luar batas-batas). Karena tidak kasat mata dan terbebas dari segala tirai maka makhluk ini harus berbeda bentuk dari segala ciptaan lainnya dan amat mirip dengan Tuhan-nya karena merefleksikan (memantulkan) Wujud Sang Maha Kuasa.
       Arahan lainnya ialah karena juga merupakan makhluk ciptaan maka mereka ini dengan sendirinya bisa mempunyai hubungan dengan makhluk lainnya,  dan bisa mengadakan pendekatan dengan mereka. Melalui perencanaan-Nya tersebut maka Allah Swt. telah menciptakan makhluk yang disebut sebagai malaikat. Para malaikat ini semuanya larut dalam kepatuhan kepada Allah Swt. dan mereka tidak memiliki niat, rencana atau keinginan tersendiri.    
     Mereka tidak bisa berbaik hati kepada siapa pun atau murka kepada siapa pun atau mengharapkan sesuatu untuk dirinya sendiri atau pun tidak menyukai sesuatu berdasarkan keinginan dirinya sendiri, karena mereka sepenuhnya menjadi laiknya (seperti) anggota Tubuh Tuhan. Semua rencana dan rekayasa Allah Swt. direfleksikan pada cermin transparan mereka, lalu melalui mediasi (perantaraan) mereka disebarkan kepada seluruh ciptaan.
     Mengingat Allah Yang Maha Agung,  karena fitrat Kesucian-Nya Yang Maha Sempurna merupakan Wujud Yang Maha Unik dan Transendental maka semua makhluk yang tidak terbebas dari ego dan kekaburan dari tirai eksistensi mereka serta hanya sadar akan eksistensi dirinya saja, tidak mungkin mempunyai hubungan langsung dengan Sumber segala Berkat. Karena itu diperlukan adanya suatu bentuk makhluk yang di satu sisi berhubungan dengan Allah Swt. dan di sisi lain dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana dengan cara ini makhluk tersebut memperoleh berkat dari satu sisi dan menyalurkannya ke sisi lain.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 165-170, London, 1984).

Nabi Sulaiman a.s.  &  Pembuatan Singgasana dan Istana Unik

    Penjelasan Masih Mau’ud a.s.   mengenai malaikat sebagai makhluk yang  berwujud “transfaran (tembus pandang) mengisyaratkan kepada  “lantai kaca beningistana Nabi Sulaiman a.s. yang di bawahnya dialirkan air, sehingga “lantai kaca   beningistana tersebut nampak bagaikan bentangan air  yang membuat Ratu Saba menyingkapkan pakaian  kebesarannya  sehingga betisnya terlihat, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia (Ratu Saba): “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya.  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca bening.” Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb ( Tuhan) seluruh alam.” (An-Naml [27]:45).
       Kasyāfa ’an sāqihi sehubungan  ayat:  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا -- dan ia menyingkapkan kain dari betisnya”  adalah muhawarah (idiom) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti “menjadi siap untuk menghadapi kesukaran” atau “pikirannya menjadi kacau-balau atau kebingungan”. Kasyāfat ’an sāqaiha berarti: (1) ia (perempuan)  menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia  bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia  menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
      Nabi Sulaiman a.s. menginginkan  agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu beliau secara bijaksana sekali memakai cara demikian  yang niscaya menyebabkan perempuan  yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya.
      Pembuatan singgasana yang Nabi Sulaiman a.s.  telah perintahkan untuk disiapkan bagi Ratu Saba itu  dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.27:42-44) dimaksudkan guna tujuan itu pula.  Singgasana itu dibuat jauh lebih indah dan dalam segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu sendiri yang sangat dibanggakannya.
       Nabi Sulaiman a.s.  berbuat demikian, agar supaya   Ratu Saba dapat menyadari, bahwa Nabi Sulaiman a.s.   itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani itu jauh lebih berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan kepadanya,  firman-Nya:
قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: “Serupa inikah singgasana engkau?” Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”   Tetapi  apa yang senantiasa disembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir. (An-Naml [27]:42-44).

Nabi Sulaiman a.s. &  Falsafah Istana Berlantai Kaca Bening

      Tetapi keunggulan singgasana   yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. hanya membuat  Ratu Saba mengakui keunggulan Nabi Sulaiman a.s. dari segi SDM  (sumber daya manusia)  saja,  sehingga Ratu Saba mengambil keputusan untuk “berserah diri” (menyerah),  sebagaimana peringatan Nabi Sulaiman a.s. dalam surat beliau yang telah dikirim sebelumnya kepada Ratu Saba (QS.27:29-38).
      Demikian pula tujuan pembuatan istana yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun dengan tujuan yang sama, yaitu mengajak Ratu Saba secara ruhani berserah-diri kepada Tauhi Ilahi dan meninggalkan kemusyrikan. Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini (QS.27:45), jalan masuk ke istana itu berlantaikan  ubin terbuat dari kaca bening yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya.  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca bening.” Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam.” (An-Naml [27]:45).
       Tatkala Ratu Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya – yang merupakan aurat perempuan -- dan pemandangan air itu membingungkannya, dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
     Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s. menarik  perhatian Sang Ratu kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu  Saba telah salah duga  bahwa  ubin kaca itu air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan sumber cahaya sebenarnya.
        Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka. Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri  Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda langit itu cahaya yang dipancarkannya serta berbagai kemampuan lainnya.
       Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s.  berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya melakukan kemusyrikan, dan dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu, beliau menjadi seorang abdi mukhlis Tuhan Yang Maha Esa.
       Jadi, air yang ada di balik  “lantai kaca beningistana yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. tersebut  mengumpamakan para malaikat  yang menjadi sarana penghubung  antara Allah Swt.  dengan alam semesta ini, sehingga alam semesta memperlihatkan berbagai khasiat yang luar biasa  yang khazanahnya tidak terhingga (QS.18:110; QS.31:28).

Lebah Madu dan Wahyu Ilahi   

     Keunikan istana yang dibuat Nabi Sulaiman a.s. secara khusus – yang membuat Ratu Saba meninggalkan kemusyrikannya -- tersebut  tidak lepas dari peran wahyu Ilahi kepada Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana halnya keunikan yang dilakukan lebah madu  dalam hal membuat sarang dan menghasilkan madu, firman-Nya: 
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾   ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan  kepada lebah: “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.  Kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.”  یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ --  Se-sungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang me-mikirkan.  (An-Nahl [16]:69-70).
         Makna wahyu dalam ayat:  وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ  -- “Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan  kepada lebah: “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”   berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah Swt.  telah menganugerahi semua makhluk melalui peran para malaikat.
      Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun tersembunyi.   Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluk ciptaan Allah Swt. memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya.
      Lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kinerjanya  yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.

Madu-ruhani Al-Quran yang Berlimpah-ruahn

         Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayat ini: ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا  -- “Kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan,“   Allah   mewahyukan  kepada  lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt.    kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi maduیَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ – “Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia.”
      Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti bahwa wahyu telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi Allah di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi Allah dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi Allah lain, walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus.
      Dari semua jenis madu ruhani  ajaran para rasul Allah yang diwahyukan Allah Swt., yang paling sempurna dalam segala seginya adalah  “madu ruhani” wahyu Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab merupakan  madu ruhani hukum-hukum syariat yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4), yang khazanah-khazanahnya tidak akan pernah habis sampai kapan pun, sebagaimana yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini (QS.15:22; QS.18:110; QS.31:28; QS.72:27-29).

Sarana Eksternal Kebutuhan Keruhanian

        Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan  mengenai peran para malaikat  bagi aktifitas alam semesta jasmani dan juga  aktifitas  tubuh manusia, termasuk seluruh inderanya:
     “Agar bisa menerima eksistensi (keberadaan) malaikat, cara termudah adalah dengan mengarahkan fikiran kita kepada hal berikut ini. Kita sudah sama mengakui bahwa untuk melatih dan menyempurnakan tubuh agar semua tindakan dari pengoperasian keseluruhan indera memberikan hasil yang baik, maka Allah Yang Maha Kuasa telah mengatur hukum alam sedemikian rupa dengan cara memanfaatkan unsur-unsur alam, matahari, bulan dan bintang-bintang dimana semuanya itu dikerahkan untuk membantu fitrat dan jasmani kita (sebagai makhluk ciptaan), agar bisa melaksanakan fungsi-fungsinya dengan sebaik-baiknya.
      Karena itu kita tidak mungkin menyangkal kenyataan bahwa mata kita tidak mampu berfungsi dengan sinarnya sendiri kecuali dibantu oleh sinar matahari,  dan telinga kita tak mungkin mendengar dengan fitratnya sendiri kecuali dibantu adanya udara.
   Apakah hal ini tidak cukup untuk membuktikan kalau kaidah Ilahi telah menetapkan bahwa penyempurnaan fitrat diri kita memerlukan bantuan, dan bahwa sudah menjadi keniscayaan kalau fitrat tersebut bergantung pada sarana eksternal (dari luar)?
      Jika kita amati secara cermat, kita akan menemukan kenyataan bahwa bukan dalam satu atau dua keadaan saja  tetapi bagi kesempurnaan kinerja keseluruhan indera dan kekuatan jasmani kita amat bergantung pada bantuan sarana eksternal.
        Mengingat bahwa sistem dan kaidah hukum Tuhan ini yang telah diatur bekerja secara pasti, tepat dan menyeluruh bagi kebutuhan eksternal dari indera dan kemampuan jasmani, lalu apakah tidak menjadi suatu keniscayaan bahwa tentunya ada suatu sistem yang juga berfungsi bagi kesempurnan dan kinerja keruhanian, dan dengan demikian membuktikan bahwa identitas dari kedua sistem tersebut malah membuktikan Ke-Esa-an Sang Maha Pencipta?

Pasangan Sarana Jasmani dan Sarana Ruhani

      Kiranya jelas bahwa Wujud Yang Maha Bijak, Yang telah menerapkan sistem eksternal ini dimana melalui efek (pengaruh) dari sarana eksternal seperti unsur-unsur alam dan benda-benda langit maka kinerja tubuh jasmani dan indera manusia telah disempurnakan, maka tentunya Wujud Yang Maha Bijak dan Maha Kuasa yang sama telah juga memilih sistem yang identik bagi kesempurnaan keruhanian, karena Dia itu tanpa sekutu dan selalu ada kesatuan dalam Kebijakan dan Kinerja-Nya.
   Dalam hal ini sebagaimana matahari dan bulan membantu kebutuhan jasmani, maka sarana eksternal yang mempengaruhi secara keruhanian dan memenuhi kebutuhan ruhani  dikenal dengan nama malaikat. Hal ini membuktikan eksistensi (keberadaan)   para malaikat dimana jika kita perhatikan hukum alam secara keseluruhan  kita harus mengakui keberadaan mereka meskipun kita tidak mampu menembus realitasnya (yang rasanya juga memang tidak perlu).
     Kalau kita mengakui adanya hukum alam eksternal, tidak ada alasan bahwa kita tidak bisa menerima hukum alam internal. Bila kita menerima (mengakui)  kaidah hukum alam eksternal maka sepatutnya juga kita mengakui hukum alam internal tersebut. Hal itu juga yang menjadi dasar pertimbangan mengapa Allah Yang Maha Agung dalam Kitab Suci telah menempatkan kedua kaidah itu dalam satu ayat secara bersamaan seperti:
وَالذّٰرِیٰتِ ذَرۡوًا ۙ﴿﴾   فَالۡحٰمِلٰتِ  وِقۡرًا ۙ﴿﴾   فَالۡجٰرِیٰتِ  یُسۡرًا ۙ﴿﴾  فَالۡمُقَسِّمٰتِ  اَمۡرًا ۙ﴿﴾
Demi [angin] yang menyebarkan [uap air] dengan penyebaran yang sebenar-benar penyebaran. Kemudian mengandung muatan. Kemudian melaju perlahan-lahan dan kemudian membagi-bagikan atas perintah Kami”(Al-Dzāriyāt [51]:2-5), dimana Allah Swt. telah mengemukakan kesaksian   angin yang telah memisahkan uap air dari permukaan samudra dan sungai, yang kemudian membawanya seperti kandungan seorang wanita hamil untuk kemudian meniupkannya ke arah sasaran yang dituju,  serta kesaksian para malaikat yang telah mewujudkan keseluruhan kejadian tersebut.

Peran-serta Para Malaikat

       Dari ayat ini diindikasikan bahwa angin tidak memiliki kekuatan sendiri guna menarik uap air dari permukaan laut dan mengkonversinya (mengubahnya) menjadi awan untuk kemudian turun sebagai hujan di tempat yang dibutuhkan.        Semua itu menjadi fungsi dari para malaikat.
      Dalam ayat tersebut di atas  Allah Swt. mengindikasikan laiknya seorang filosof tentang penyebab turunnya hujan dari awan,  dan menjelaskan bagaimana air menjadi uap air yang kemudian berbentuk awan. Lalu dijelaskan dalam ayat terakhir bahwa:
فَالۡمُقَسِّمٰتِ  اَمۡرًا
 “Kemudian membagi-bagikan atas perintah Kami”  (Al-Dzāriyāt [51]:5),
Darinya disimpulkan realitas (kenyataan), supaya jangan ada yang mengkhayal kalau sistem dari kausa dan efek benda jasmani itu cukup adanya bagi pengaturan Samawi, karena nyatanya ada sistem kausa spiritual di belakang sistem fisikal yang mendukung sistem yang kasat mata tersebut.
       Di tempat lain dinyatakan bahwa:
وَ الۡمُرۡسَلٰتِ  عُرۡفًا ۙ﴿﴾   فَالۡعٰصِفٰتِ عَصۡفًا ۙ﴿﴾   وَّ  النّٰشِرٰتِ نَشۡرًا ۙ﴿﴾  فَالۡفٰرِقٰتِ فَرۡقًا ۙ﴿﴾  فَالۡمُلۡقِیٰتِ ذِکۡرًا ۙ﴿﴾
“Demi mereka yang diutus guna menyebarkan kebaikan. Kemudian mereka terus bergerak maju dengan suatu gerakan ke muka yang sekuat-kuatnya, dan demi mereka yang menyebarkan kebenaran dengan sebaik-baik penyebaran. Maka mereka membedakan sebeda-bedanya antara haq dan batil. Kemudian mereka menyampaikan seruan Allah seluas-luasnya” (Al-Mursalāt [77]:2-6).
      Dari sini disimpulkan kalau Allah Swt. telah mengemukakan kesaksian tentang angin dan malaikat yang bergerak perlahan untuk kemudian cepat, tentang angin yang memindahkan awan-awan serta malaikat yang bertugas menanganinya, lalu tentang angin yang membawa risalah ke telinga manusia dan malaikat yang membawa firman Tuhan ke dalam kalbu. Dengan cara demikian maka Allah Yang Maha Kuasa telah menggabungkan para malaikat dengan   bintang-bintang dalam ayat:
فَالۡمُدَبِّرٰتِ اَمۡرًا ۘ﴿﴾
“Kemudian mereka (para malaikat) mengelola urusan-urusan dengan cara sebaik-baiknya  (An-Nāzi’āt [79]:6).

Hubungan Para Malaikat dengan Benda-benda Langit (Angkasa)

       Ketujuh buah planet diungkapkan sebagai pengaturan masalah bumi secara eksternal, sedangkan para malaikat sebagai unsur yang mengaturnya secara internal. Tafsir dari kitab Fath-ul-Bayan mengemukakan pandangan di atas berdasarkan ulasan Muaz bin Jabal[1] dan Qashiri.
      Diberitakan oleh Ibn Katsir[2] berdasarkan penjelasan Hasan bahwa pengaturan segala sesuatu di langit dan di bumi dilaksanakan melalui para malaikat, dan Ibn Katsir menyatakan bahwa hal ini merupakan penafsiran yang telah disepakati.
      Ibn Jarir[3] menafsirkan ayat: “Mereka membagi-bagikan atas perintah Kami” dengan pengertian bahwa para malaikat itulah yang melaksanakan pengaturan alam semesta yaitu meskipun di permukaan yang terlihat adalah bintang-bintang, matahari, bulan dan unsur-unsur alam tersebut mengatur dirinya sendiri,  namun sebenarnya yang melaksanakan adalah para malaikat.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 133-137, London, 1984).

Eksistensi Malaikat yang Independen (Mandiri)

     Mengenai peran para malaikat sebagai “sarana perantara” antara Allah Swt. dengan  semua ciptaan-Nya, terutama manusia, selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Dari hasil renungan dan refleksi kami serta penalaran menunjukkan bahwa untuk setiap berkat selalu ada kausa (sebab) yang menjadi perantara di antara Allah Yang Maha Kuasa dengan diri kita, dimana setiap fitrat memperoleh karunia sebanding dengan kebutuhannya. Hal ini meneguhkan eksistensi  (keberadaan)  malaikat dan jin.
    Kita bisa melihat bahwa pekerjaan apa pun  --  buruk atau pun baik --  nyatanya kemampuan  fitrat kita saja tidak mencukupi dan kita membutuhkan bantuan dan pertolongan yang bersifat eksternal (dari luar). Penolong atau pembantu tersebut tidak beroperasi secara langsung tanpa mediasi (perantara). Untuk itu harus ada lagi sejenis sarana mediasi (perantara).
     Penelitian atas hukum alam menunjukkan secara konklusif (lengkap) dan pasti bahwa unsur atau elemen penolong tersebut berada di luar diri kita. Kita mungkin tidak mampu menyadari realitas (keberadaan) mereka yang sebenarnya, namun kita tahu pasti bahwa unsur tersebut bukanlah Allah Swt. Sendiri yang bertindak secara langsung,  tetapi juga bukan kemampuan dan fitrat kita sendiri. Unsur penolong tersebut merupakan spesi makhluk ciptaan dengan eksistensi yang bersifat independen (mandiri).
      Jika ada dari unsur tersebut yang kita perkaitkan dengan amal atau pekerjaan yang baik, kita menyebutnya sebagai Ruhulqudus atau Jibrail, dan jika mengkaitkan yang bersangkutan dengan kejahatan atau dosa maka kita menyebutnya sebagai syaitan atau iblis. Unsur-unsur ini tidak mudah terlihat tetapi bagi seorang yang mempunyai wawasan bisa melihatnya  antara lain melalui kasyaf.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.  86-88, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9 Mei    2016



[1]  Salah seorang sahabat dari kaum Anshar, wafat tahun 18 H . Dikenal sebagai perawi Hadits dan salah seorang pengumpul Al-Quran di masa Rasulullah Saw. Pernah ditugaskan sebagai Qadhi di Yaman . (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Nama lengkapnya adalah Abu Al-Fida Imadaddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurashi  al-Busrawi (701-774 H, 1300-1373 M ). Salah seorang ahli tafsir Al-Quran yang penjelasannya dianggap termasuk paling baik berdasarkan Hadits shahih dan tafsir para sahabat Rasulullah saw. (Penterjemah/Khalid A. Qayum)

[3]  Abu Jafar Muhammad ibn Jarir at-Tabari (839-923 M) salah seorang ahli tafsir Al-Quran dan penulis sejarah Islam (Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk) serta dikenal sebagai salah satu kontributor bagi konsolidasi pemikiran kaum Sunni di abad 9 M. (Penterjemah/Khalid. A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar