Rabu, 18 Mei 2016

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah "Insan-ul-Kamil" (Manusia Sempurna) Hakiki & Kesejajaran Prinsip Turunnya "Wahyu Ilahi" Dengan "Hukum Alam"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  ADALAH INSAN-UL-KAMIL (MANUSIA SEMPURNA) HAKIKI  & KESEJAJARAN PRINSIP TURUNNYA WAHYU ILAHI DENGAN HUKUM ALAM


Bab 48

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan penjelasan Masih Mau’ud a.s.  sehubungan dengan   pentingnya kesempurnaan kuantitas dan kualitas kalbu  manusia guna meraih manfaat dari wahyu Ilahi  yang ditebarkan malaikat Jibril a.s.:
    “Sama halnya dengan malaikat Jibril, bahwa  malaikat Jibril  yang menebarkan efek wahyu di hati seorang manusia suci yang sederhana, dan Jibril yang sama juga yang telah menebarkan efek wahyu di kalbu Hadhrat Rasulullah Saw.. Perbedaan di antara kedua bentuk wahyu tersebut adalah sebagaimana perbedaan refleksi di cermin yang sebesar cincin dengan cermin yang sebesar badan. Meskipun malaikatnya sama yaitu Jibril dan ia memberikan efek yang sama, namun yang dipengaruhinya tidak akan memperoleh kesan dan kejernihan yang sama.
       Perbedaan efek Jibrail tidak saja dalam masalah kuantitas tetapi juga dalam masalah kualitas atau mutu. Dengan kata lain, derajat kemurnian kalbu yang menjadi syarat penerimaan wahyu tidaklah sama pada semua penerima wahyu. Sebagaimana kalian ketahui, tidak semua cermin memiliki tingkat transparansi yang sama.
       Sebagian ada yang demikian jernih dan terang sehingga refleksi yang melihat ke dalamnya terlihat begitu sempurna, sedangkan yang lainnya terlihat buram dan berdebu yang menjadikan sulit melihat refleksi di dalamnya. Bahkan banyak cermin yang terdistorsi (berlekuk-lekuk) dimana refleksi mata mungkin terlihat tetapi hidungnya tidak, atau sebaliknya.
      Hal yang sama juga berlaku bagi cermin hati. Refleksi pada sebuah hati yang teramat murni akan terlihat amat jelas, adapun di hati yang berdebu maka pantulannya juga akan sedikit banyak buram. Kemurnian hati yang tertinggi dengan derajat yang paling sempurna hanya dimiliki oleh Hadhrat Rasulullah Saw.,  dan tidak ada kalbu manusia lainnya yang bisa menyamai kemurnian hati beliau.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 87-88, London, 1984).

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah Insan-ul-Kamil (Manusia Sempurna)

     Dikarenakan  pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. perkembangan kemampuan ruhani manusia telah mencapai kepada kedewasaan untuk menerima serta mengamalkan hukum-hukum syariat yang terakhir dan tersempurna berupa wahyu Al-Quran (QS.5:4), sejalan dengan itu pula keadaan  kuantitas dan kualitas ruhani wujud (orang) yang mendapat tugas untuk menerima wahyu Al-Quran pun telah mencapai kesiapan  yang sebanding pula kesempurnaannya sebagai   seorang insan-ul-kamil (manusia), yaitu Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, dan bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- akan sedangkan manusia memikulnya,  اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:73-74).
      Makna   kata  hamala dalam ayat: وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- akan sedangkan manusia memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.   Kalimat  Hamala al-amānata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti  lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).

Nabi yang Seperti Musa a.s. atau Roh Kebenaran yang Membawa Seluruh Kebenaran

      (1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi untuk menayang citra (bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini  yang ternyata sanggup melaksanakannya; sedangkan makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung   -- sama sekali tidak dapat menandinginya: اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا --  “Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, dan bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya.”
        Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Tetapi manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap dirinya sendiri dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu  ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup: وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- akan sedangkan manusia memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.        (2) Jika kata al-amānat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna, yakni, Nabi Besar Muhammad saw.,  maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah beliau saw.   sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan penutup, yaitu syariat Al-Quran (QS.5:4), sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya, termasuk Nabi Musa a.s. pun tidak memilikinya (QS.7:144), sebab sampai dengan zaman Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “daya pikul” umat manusia   dan para Rasul Allah  belum mencapai para kedewasaannya, sebagaimana firman Allah Swt. melalui Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.    16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran  ;  sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Injil Yohanes 16:12-13).
Sebelumnya Allah Swt. berfirman melalui Nabi Musa a.s. berkata:
18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.   18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban (Ulangan 18:18-19).   
        (3) Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
       Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya yang ditetapkan Allah Swt. dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan (QS.10:100-101; QS.18:30)  mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:12.

Kesejajaran Prinsip Turunnya Wahyu Ilahi Dengan Hukum Alam

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kesejajaran prinsip turunnya wahyu Ilahi dengan hukum alam:
      Aku terkadang meragukan kemampuan nalar orang yang meyakini bahwa untuk turunnya hujan diperlukan adanya mediasi uap air yang naik ke awan,  dan orang ini juga meyakini bahwa tidak mungkin hujan bisa turun tanpa adanya awan, tetapi karena kebodohannya ia menertawakan perlunya mediasi (perantara)  malaikat bagi turunnya hujan wahyu padahal hal ini sejalan dengan hukum alam. Orang-orang seperti ini mempertanyakan mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa tidak bisa mengirim langsung wahyu-Nya tanpa harus melalui mediasi malaikat.
     Mereka sendiri mengakui bahwa sejalan dengan hukum alam maka untuk mampu mendengar tidak mungkin terjadi jika tidak ada mediasi udara, padahal hukum alam juga menentukan bahwa untuk membawa suara Tuhan dalam bentuk wahyu ke kalbu manusia secara keruhanian juga diperlukan mediasi (perantara) serupa itu. Mereka setuju bahwa mata jasmani ini baru bisa melihat dengan bantuan sinar mentari, namun mereka tidak mengakui perlunya nur samawi bagi mata ruhani.
     Kita mengetahui bahwa sejalan dengan kaidah Samawi, alam semesta dengan fitrat jasmani dan ruhaninya ini laiknya anggota tubuh Tuhan Sendiri. Segala sesuatu -- menurut tempat dan waktunya -- berlaku sebagai anggota tubuh tersebut. Setiap rancangan Allah Yang Maha Kuasa dimanifestasikan (diwujudkan)  melalui anggota-anggota tubuh ini,  dan tidak ada rancangan yang dimanifestasikan tanpa mediasi mereka. Karena itu jelas kiranya bahwa hubungan Jibril dengan wahyu Ilahi yang turun ke kalbu yang suci -- yang diyakini sebagai suatu hal yang pokok dalam akidah Islam -- juga tergantung pada kaidah yang sama.
    Sejalan dengan hukum alam yang telah dikemukakan di atas, untuk penyampaian komunikasi berupa wahyu, atau untuk memberikan karunia berupa kemampuan menerima wahyu, perlu kiranya ada suatu makhluk ciptaan yang berlaku sebagai anggota tubuh bagi manifestasi rancangan Ilahi berbentuk wahyu, sebagaimana halnya untuk pemenuhan rancangan Ilahi yang bersifat fisikal (jasmani). Anggota tubuh ini dengan kata lain adalah malaikat Jibril yang mengikuti gerakan Ilahi lalu langsung bergerak sebagai bagian dari anggota tubuh.
    Saat Allah Swt. menengok dengan kasih kepada nurani manusia yang mencintai-Nya maka sejalan dengan kaidah yang disebutkan di atas, Jibril yang terkait dengan Tuhan -- laiknya udara dari nafas atau sinar dari mata -- segera bergerak bersamaan. Dengan kata lain, bersamaan dengan gerakan Allah Swt. maka Jibril pun bergerak dengan sendirinya sebagaimana bayang-bayang tubuh mengikuti tubuhnya.

Turunnya Ruhul Kudus

     Ketika nur Jibril bergerak di bawah pengaruh daya tarik dan gerakan nafas cemerlang Allah Swt. maka secara simultan (langsung) refleksi dari hal itu -- yang disebut sebagai Ruhul Kudus --akan terukir di kalbu pencinta Tuhan dan menjadi bagian dari rasa pengkhidmatan kasihnya tersebut.
    Kekuatan tersebut menimbulkan suatu kapasitas seperti telinga untuk mendengar suara Tuhan dan menjadi substitusi mata guna melihat keajaiban Wujud-Nya. Kekuatan ini menjadi suatu kehangatan enerji yang menjadikan wahyu-Nya mengalir dari lidah manusia dan mengarahkan lidah tersebut sejalan dengan isi wahyu.
     Sampai dengan fitrat ini dibangkitkan, sebenarnya kalbu manusia itu buta dan lidahnya seperti wagon (gerbong) kereta api yang lepas dari lokomotifnya. Hanya saja harus selalu diingat, kalau fitrat yang disebut sebagai Ruhul Kudus itu tidak dihasilkan secara sama di setiap nurani, karena tingkat pengaruh nur Jibril ini amat tergantung pada derajat kecintaan manusia kepada Tuhan-nya.
      Harus juga diingat, bahwa karena adanya kekuatan Ruhul Kudus -- sebagai hasil pertemuan kedua bentuk kecintaan yang terukir di kalbu manusia melalui refleksi nur Jibril --  tidak berarti orang tersebut akan selalu mendengar suara Tuhan atau terus menerus melihat sesuatu melalui kasyaf. Hal ini hanyalah sarana guna menyerap nur Samawi. Dengan kata lain, hal ini adalah cahaya ruhani yang memungkinkan mata ruhani untuk melihat atau sebagai udara ruhani yang merambatkan suara dari Tuhan ke telinga ruhani.
       Dengan demikian  jelas, kalau tidak ada [obyek/sesuatu] yang akan dilihat maka cahaya saja tidak akan memperlihatkan apa pun,  dan kalau tidak ada suara yang keluar dari mulut seseorang maka tidak ada yang akan singgah ke telinga. Cahaya atau udara tersebut merupakan bantuan Samawi yang dikaruniakan kepada indera ruhani, sebagaimana juga mata jasmani memanfaatkan sinar matahari,  dan udara berfungsi sebagai media perantara untuk perambatan suara.

Proses Terjadinya Wahyu Ilahi  & Tiga Fungsi Malaikat Jibril

     Bilamana Tuhan bermaksud menyampaikan firman-Nya ke hati seorang penerima wahyu maka pada wujud Jibril -- untuk penyampaiannya -- seketika akan timbul gelombang cahaya atau udara atau enerji panas yang berguna untuk menggerakkan lidah si penerima wahyu. Sebagai akibat dari gelombang atau enerji panas tersebut maka di hadapan mata si penerima wahyu akan muncul sebentuk tulisan, atau berupa suara yang masuk ke telinga,  atau juga kata-katanya mengalir keluar dari lidahnya.
     Indera keruhanian dan nur keruhanian dikaruniakan sebagai fitrat atau kemampuan manusia sebelum wahyu diturunkan. Jika wahyu turun ketika nurani si penerima belum memiliki indera keruhanian atau nur Ruhul Kudus belum menyentuh mata atau hatinya, bagaimana mungkin yang bersangkutan menyadari wahyu Ilahi? Karena itulah maka kedua fitrat itu dikaruniakan terlebih dahulu sebelum turunnya wahyu.
      Malaikat Jibrail memiliki 3 fungsi berkaitan dengan wahyu. Pertama, ketika sebuah rahim menerima benih calon manusia --  yang fitratnya oleh Tuhan berdasarkan sifat Rahmaniyat-Nya dimaksudkan akan mampu menerima wahyu --  maka Dia akan mengukir refleksi nur Jibril atas nutfah tersebut. Kemudian fitrat manusia itu untuk menerima wahyu selanjutnya akan berkembang di bawah bimbingan Ilahi dan yang bersangkutan memperoleh indera yang memungkinkannya menerima wahyu.
          Kedua, ketika kecintaan seorang hamba masuk dalam bayangan kecintaan Ilahi maka karena Sifat Penyayang Allah Yang Maha Kuasa, muncul gerakan pada nur Jibril yang akan menerangi kalbu pecinta hakiki. Refleksi dari nur tersebut jatuh di hatinya dan menimbulkan refleksi dari Jibril yang berfungsi sebagai cahaya atau udara atau enerji yang bermukim di dalam dirinya sebagai fitrat untuk menerima wahyu. Ujung sinar itu satunya tertanam dalam nur Jibril dan ujung lainnya di dalam kalbu si penerima wahyu. Dengan kata lain, inilah yang disebut sebagai Ruhul Kudus atau refleksinya.
      Ketiga, adalah fungsi Jibrail bahwa ketika firman Tuhan memanifestasikan wujudnya maka ia bergerak laiknya gelombang yang membawa firman tersebut ke telinga kalbu tersebut, atau jika bentuknya seperti cahaya akan menyampaikannya kepada mata, atau juga jika berbentuk enerji akan menggerakkan lidah untuk mengucapkan kata-kata wahyu tersebut.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 91-94, London, 1984).

Kebersamaan Ruhul-Kudus dengan “Orang-orang Suci

     Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. dalam buku  Ayena Kamalati Islam   menjelaskan:
     Ketika kasih Allah turun atas kasih manusia maka pada pertemuan keduanya akan muncul cahaya yang terang dan sempurna sebagai bayangan Ruhul Kudus yang akan terukir di kalbu manusia. Pada tingkat komunikasi demikian cahaya dari Ruhul Kudus amatlah terang.
       Kekuatan luar biasa seperti itu muncul dari orang-orang seperti ini karena nur dari Ruhul Kudus selalu beserta mereka dan bermukim di kalbu mereka, dimana nur itu tidak pernah meninggalkan mereka dan mereka tidak pernah terpisah daripadanya.
      Nur tersebut muncul dari mereka setiap saat bersamaan dengan nafas mereka, jatuh di atas segala suatu yang mereka pandang dan memperlihatkan kecemerlangan dalam perkataan mereka. Nama dari pada nur ini ialah Ruhul Kudus, namun bukan Ruhul Kudus itu sendiri karena Ruhul Kudus itu sendiri ada di langit.
       Ruhul Kudus yang dimaksud ini adalah refleksi yang bermukim selamanya di dada, hati dan otak yang suci, serta tidak pernah meninggalkannya.  Siapa pun yang berfikir bahwa Ruhul Kudus dengan segala pengaruhnya itu pernah meninggalkan orang-orang suci ini  adalah dusta dan menghina para kekasih Allah dengan fikiran buramnya tersebut.
     Meskipun Ruhul Kudus yang sebenarnya tetap berada di posisinya di langit, tetapi refleksinya -- yang secara metaphorika (kiasan) disebut juga sebagai Ruhul Kudus -- masuk ke dalam dada, hati, otak dan anggota tubuh mereka yang patut menerima kasih Allah yang sempurna, karena mereka ini telah mencapai maqam (martabat) keabadian (baqa) dan kedekatan (liqa) dengan Tuhan. Ketika Ruhul Kudus itu turun maka ia menciptakan hubungan dengan pribadi tersebut seperti halnya pertalian jiwa dengan raga.
     Ruhul Kudus ini menjadi fitrat penglihatan dan berfungsi di mata, jika menjadi fitrat pendengaran lalu memberikan indera keruhanian kepada telinga, atau juga menjadi daya bicara bagi lidah, sebagai ketakwaan di dalam hati, kemampuan nalar di otak serta mengalir di tangan dan kakinya. Singkat kata, Ruhul Kudus itu akan mengangkat segala kegelapan dari tubuh dan meneranginya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Jika Ruhul Kudus ini pergi meski sekejap, kegelapan akan langsung menggantikannya.
      Ruhul Kudus merupakan sahabat setia bagi manusia-manusia sempurna dan tak pernah meninggalkan mereka meski sekejap pun. Membayangkan bahwa Ruhul Kudus bisa meninggalkan mereka sama saja dengan mengatakan bahwa setelah masuk ke dalam suasana pencerahan, mereka ini kembali tenggelam dalam kegelapan, atau setelah memperoleh perlindungan dari fikiran yang cenderung kepada nafsu buruk lalu mereka kembali kepadanya, atau juga seperti mereka setelah memperoleh indera keruhanian lalu indera itu semuanya dianggap tidak berguna lagi.
      Setiap nur cahaya, ketentraman, kepuasan, berkat, keteguhan dan segala karunia keruhanian diberikan kepada orang-orang terpilih melalui Ruhul Kudus. Bagi mereka yang kafir dan para pendosa, adalah syaitan yang ditunjuk sebagai sahabat abadi mereka agar ia bisa menebarkan kegelapan di hati mereka setiap saat, dan akan selalu beserta mereka dalam gerak dan diamnya.
     Adapun bagi mereka yang dekat kepada Tuhan, adalah Ruhul Kudus yang ditugaskan sebagai sahabat mereka sepanjang waktu agar ia menurunkan hujan nur cahaya atas mereka, menolong mereka setiap saat dan tidak pernah meninggalkan mereka untuk selamanya.
       Jelas bahwa berbeda dengan sahabat buruk yang menjadi hamba dan teman dari para pendosa, adalah suatu keniscayaan kalau sahabat yang baik selalu perlu menemani mereka yang dekat dengan Tuhan dan hal ini diperkuat oleh Al-Quran.
     Para lawan kita nyatanya membayangkan dan menekankan bahwa Ruhul Kudus adalah nama dari malaikat Jibrail yang terkadang turun dari langit dan selalu berhubungan dengan orang-orang pilihan, sedemikian rupa sehingga ia dianggap masuk dalam kalbu mereka tetapi sesekali meninggalkan dan berpisah dengan mereka, kembali naik ke langit pada suatu jarak tak terhingga, dimana ia memisahkan diri sama sekali di maqamnya (kedudukannya) sendiri dari   orang-orang pilihan tersebut. Dengan demikian orang-orang pilihan tersebut dianggap diluputkan dari nur dan berkat yang menebar dalam hati dan fikiran mereka ketika ia turun kepada mereka.
      Jika memang demikian keadaannya, mestinya secara nalar dapat dikatakan bahwa di saat Ruhul Kudus meninggalkan mereka maka para orang pilihan itu kembali ditingkar (dikepung) oleh kegelapan batin dimana sebagai ganti dari sahabat baik tersebut mereka jadinya jatuh di bawah pengaruh sahabat yang buruk?
      Demi takut kita kepada Allah Swt., cobalah renungkan apakah hal ini konsisten dengan keimanan, wawasan dan kecintaan Hadhrat Rasulullah Saw. jika kita membayangkan bahwa beliau kemungkinan bisa mengalami kondisi buruk seperti itu dimana Ruhul Kudus meninggalkan beliau berhari-hari, sehingga selama jangka waktu tersebut beliau diluputkan dari nur suci yang merupakan refleksi dari Ruhul Kudus.
      Apakah bukan suatu ironi kalau umat Kristen amat meyakini bahwa sejak turunnya Ruhul Kudus kepada Yesus a.s. maka ia tidak pernah lagi meninggalkan beliau dan setiap saat selalu ditemani dan dibantu Ruhul Kudus sedemikian rupa,  sehingga dalam tidurnya pun beliau tidak pernah ditinggalkan sendirian karena harus kembali ke langit, sedangkan umat Muslim beranggapan bahwa terkadang Ruhul Kudus sesekali memisahkan diri dari Hadhrat Rasulullah Saw.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. V, hlm.  72-75, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 18 Mei    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar