Senin, 02 Mei 2016

"Kitab Terbuka" Hakiki Bukan "Hukum Alam" Melainkan "Wahyu Ilahi" & Efektivitas "Pengaruh Suci" Wahyu Al-Quran




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Kitab Terbuka” yang Hakiki  Bukan Hukum Alam Melainkan “Wahyu Ilahi  & Efektivitas Pengaruh  Suci   Wahyu Al-Quran    

Bab 35


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  Bab sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai pentingnya keberadaan wahyu Ilahi  bagi logika (akal) guna memahami hal-hal gaib yang tidak dapat dijangkau akal, selanjutnya  Masih Mau’ud a.s.  menjawab pendapat keliru golongan Brahmo Samaj  yang mengatakan bahwa   hukum alam  merupakan “kitab yang terbuka”, sedang  wahyu Ilahi – menurut mereka -- merupakan “kitab” yang kadang-kadang  terbuka:
      SANGKALAN: Pemahaman yang sempurna hanya bisa diperoleh melalui suatu hal yang dapat diperhatikan sepanjang masa dan sepanjang zaman. Karakteristik ini ada dalam hukum alam yang selalu terbuka dan tidak pernah tertutup, dan karena itu bisa dianggap sebagai pedoman. Sesuatu tidak bisa dianggap sebagai pedoman atau tuntunan jika pintunya hampir selalu tertutup dan hanya terbuka pada saat-saat tertentu saja.
      JAWABAN: Siapa yang menganggap bahwa buku hukum alam selalu terbuka dibanding dengan wahyu Ilahi, sesungguhnya menggambarkan tanda-tanda kebutaan yang bersangkutan. Mereka yang memiliki wawasan yang sehat tentunya menyadari bahwa suatu buku bisa dianggap terbuka jika semua isi tulisannya dapat dimengerti sepenuhnya dimana si pembaca sama sekali tidak lagi dihinggapi keraguan apa pun.
      Lalu sekarang siapa yang dapat membuktikan bahwa keraguan seseorang bisa hilang hanya karena telah melihat buku hukum alam? Siapa yang bisa memastikan bahwa ia telah dibimbing menuju sasaran oleh buku hukum alam? Siapa yang mau mengakui bahwa ia sudah sepenuhnya memahami semua argumentasi dari buku hukum alam?

Hukum Alam Bukan “Kitab  yang Terbuka

       Kalau hukum alam merupakan buku yang terbuka lebar, lalu mengapa yang mengandalkan diri mereka kepadanya ternyata telah melakukan berbagai kesalahan? Hanya dari satu sumber hukum alam ini mengapa bisa terjadi berbagai perbedaan pandangan di antara sesama manusia dimana sebagian di antaranya mengakui keberadaan Tuhan sampai suatu tingkat tertentu, sedangkan bagian lainnya malah menyangkalnya sama sekali?
      Andaikata diasumsikan pun, semata-mata hanya sebagai argumentasi, bahwa seseorang setelah mempelajari hukum alam lalu berkesimpulan bahwa tidak perlu adanya wujud Tuhan, kemudian yang bersangkutan dikaruniai umur panjang untuk menemukan kesalahannya, masih saja ada pertanyaan tertinggal yaitu jika buku ini benar terbuka, mengapa hasilnya malah telah menimbulkan kekeliruan seperti itu?
      Apakah kalian sependapat bahwa sebuah buku yang terbuka malah akan menimbulkan perbedaan persepsi yang demikian beragam di antara para pembacanya, khususnya yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan, dimana mereka telah tersesat sejak langkah awal?  Tidakkah disadari bahwa setelah mempelajari hukum alam ini malah ribuan para filosof yang menjadi atheis atau tetap saja sebagai penyembah berhala?
     Dari antara mereka itu hanya yang beriman kepada wahyu Ilahi yang nyatanya kemudian mendapat tuntunan di jalan yang benar. Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa mereka yang membatasi diri pada membaca hukum alam ini serta dianggap sebagai filosof akbar, justru mereka ini yang tetap saja menyangkal pengendalian Tuhan terhadap alam semesta ini serta pengetahuan-Nya mengenai segala hal yang menjadi isinya, sehingga mereka kemudian mati masih dalam keadaan penyangkalan tersebut?

Berbagai Perbedaan Pendapat Mengenai “Hukum Alam”

      Apakah kalian tidak mempunyai kemampuan berfikir yang cukup untuk mengetahui, bahwa sebuah perkataan dianggap mempunyai pengertian  seperti pandangan si “X”, tetapi diartikan lain oleh si “Y”, bahkan ditafsirkan sama sekali bertolak belakang oleh si “Z”, jelas bahwa perkataan atau kaidah demikian tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang terbuka, bahkan lebih banyak menghasilkan keraguan dan kerancuan.
      Guna memahami hal seperti ini tidak diharuskan kalian memiliki intelegensia tinggi karena merupakan kebenaran yang nyata. Hanya saja apa yang bisa kita katakan jika mereka tetap saja degil menyatakan kegelapan sebagai pencerahan dan nur sebagai kekelaman, malam dikatakan siang sedangkan siang benderang sebagai kelam malam? Bahkan seorang anak kecil pun tahu bahwa untuk mengerti sesuatu sebagaimana mestinya adalah jika hal itu dikemukakan dalam bahasa yang jelas.
     Instrumen untuk menyatakan isi fikiran adalah kemampuan berbicara, karena hanya dengan sarana ini maka orang lain mendapat informasi tentang apa yang ada di kepala  (benak) kita. Semua hal yang tidak dikemukakan melalui sarana ini  (kemampuan berbicara) sulit dimengerti secara sempurna.
      Ada beribu-ribu permasalahan yang sulit diperoleh pemahamannya secara sempurna jika hanya didasarkan pada argumentasi alamiah semata,  sedangkan hasil perenungan kita juga masih sangat mungkin mengalami kesalahan.       Sebagai contoh, Tuhan telah memberikan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan lidah untuk berbicara. Sebatas itulah yang kita pahami dengan memperhatikan fitrat dari anggota tubuh tersebut.
     Kalau kemudian kita tidak memperhatikan dan mempedomani penjelasan dari wahyu Ilahi maka merupakan kecenderungan alamiah bahwa kita tidak akan membedakan di antara kepantasan dan ketidak-pantasan suasana guna pemanfaatannya,  karena kita hanya akan melihat apa yang kita mau, mendengar apa yang kita suka dan mengatakan apa yang terlintas sesaat di kepala kita.
     Hukum alam hanya menentukan bahwa mata gunanya untuk melihat, telinga untuk mendengar dan lidah diciptakan untuk berbicara. Kita akan terperosok dalam kesalahan besar jika kemudian menganggap bahwa penggunaan fitrat penglihatan, pendengaran dan bicara tersebut lalu bisa digunakan semau-maunya tanpa kendali sama sekali.

Pentingnya  Peran “Wahyu Ilahi  Sebagai  Kitab Terbuka” yang Hakiki

       Jika tidak ada firman Tuhan yang mengatur batasan dari hukum alam dan tidak menjelaskan kerancuan di dalamnya dengan penjelasan dan pernyataan terbuka, maka manusia jelas mempunyai risiko akan menghadapi berbagai bahaya kalau hanya mengikuti hukum alam saja.
      Hanya firman Tuhan saja yang bisa menegaskan melalui kaidah-kaidahnya yang jelas bahwa ada batasan dalam hak kita berbicara, bertindak, bergerak atau pun menahan diri, serta mengajarkan kepada kita adab sopan-santun dan memberikan pencerahan hati yang murni. Adalah firman Tuhan yang demi menjaga kesopanan pandangan, pendengaran dan bicara kita lalu menetapkan:
قُلۡ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ یَغُضُّوۡا مِنۡ  اَبۡصَارِہِمۡ وَ یَحۡفَظُوۡا فُرُوۡجَہُمۡ ؕ ذٰلِکَ اَزۡکٰی لَہُمۡ ؕ 
“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman, mereka hendaklah menundukkan pandangan mereka dan memelihara aurat mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka (Al-Nūr [24]:31).
      Dari sini jelas bahwa orang-orang beriman  harus menjaga mata, telinga dan bagian tubuh yang tersembunyi dimana mereka harus menghindari tindakan yang tidak diinginkan berkaitan dengan penglihatan, pendengaran serta aurat mereka. Dengan cara demikian itulah mereka bisa mencapai kemurnian batin.
       Dengan kata lain, fikiran mereka akan terjaga dari hawa nafsu karena anggota-anggota tubuh inilah yang bisa merangsang nafsu dan menghidupkan naluri hewaniah. Perhatikanlah bagaimana Al-Quran meletakkan tekanan pada pengendalian mata, telinga dan bagian tubuh yang tersembunyi agar tidak bergelimang dalam ketidak-sucian. Dengan cara yang sama kepada lidah pun ditetapkan aturan agar berpegang kepada kebenaran sebagaimana difirmankan:
قُوۡلُوۡا  قَوۡلًا  سَدِیۡدًا
 Ucapkanlah perkataan yang jujur” (Al-Ahzāb [33]:71).
Yang dimaksudkan disini ialah agar manusia hanya berbicara mengenai hal-hal yang benar dan pantas saja dan menghindari segala bualan dan kedustaan. Agar semua fitrat manusia bisa dibawa ke jalan yang lurus, juga diberikan peringatan yang bersifat komprehensif agar yang lalai pun menjadi sadar, karena ditetapkan:
اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا 
Sesungguhnya telinga dan mata dan hati, tentang semuanya ini akan ditanya (Bani Israil [17]:37).
        Dengan demikian semua anggota tubuh manusia berikut semua fitrat yang dimilikinya akan dimintakan pertanggung-jawaban kelak jika digunakan secara tidak wajar.
      Jelas kiranya bahwa semua anggota tubuh dan fitrat yang dimiliki manusia diarahkan melalui firman Tuhan secara langsung dan tegas kepada kebaikan dan penggunaan yang wajar, dimana pedoman tersebut diutarakan dalam bahasa yang jelas tanpa ada keraguan atau kerancuan, serta manusia diberikan bimbingan untuk mengikuti jalan yang lurus.
     Mungkinkah kita bisa memahami penjelasan dan rincian seperti tersebut di atas dengan membaca hukum alam? Jelas tidak. Lalu yang mana yang dapat disebut sebagai kitab yang terbuka? Kitab mana yang memberikan petunjuk tentang batasan dan penggunaan yang pantas dari fitrat alamiah manusia? Jika kiranya cukup dengan apa yang tersirat atau diindikasikan saja, lalu buat apa manusia dilengkapi dengan lidah?

Allah Swt. Maha Kuasa   Melakukan Apa Pun yang Dikehendaki-Nya

      Tuhan telah mengaruniakan lidah kepada kalian. Apakah masuk akal bahwa Dia Sendiri tidak mempunyai kemampuan berbicara? Patutkah kita menyatakan bahwa Dia Yang telah menciptakan seluruh alam semesta tanpa bantuan apa pun dan tanpa memperkerjakan buruh bangunan atau tukang kayu siapa pun -- dimana Dia mencipta semata-mata berdasar keinginan-Nya --  lalu dikatakan bahwa Dia tidak memiliki kemampuan berbicara?
     Atau mungkin memang bisa berbicara tetapi karena kekikiran-Nya lalu Dia tidak mau mengaruniakan berkat firman-Nya kepada manusia? Apakah pantas jika ada yang menganggap bahwa Sang Maha Kuasa itu lebih lemah bahkan dari hewan sekali pun? 
       Bahkan hewan dari tingkat yang terendah pun masih bisa berkomunikasi dengan yang lainnya menyampaikan hal eksistensinya melalui suaranya. Seekor lalat bisa memberitahukan kepada lalat lainnya akan keberadaan dirinya melalui suara dengungnya. Menurut kalian, Yang Maha Perkasa bahkan tidak memiliki fitrat yang ada pada seekor lalat.
      Sebagaimana kalian sampaikan secara tegas bahwa Dia tidak  pernah membuka mulut-Nya dan tidak pernah memiliki kemampuan berbicara, seolah kalian ingin menegaskan bahwa Dia itu tidak sempurna dan cacat adanya, dimana fitrat lainnya dikenal tetapi kemampuan berbicara-Nya belum ditemukan. Lalu bagaimana kalian bisa mengatakan berkaitan dengan Wujud-Nya bahwa Dia telah mengaruniakan kepada kalian sebuah buku hukum alam yang terbuka dimana Dia telah mengutarakan segala hal yang ada dalam fikiran-Nya?
     Sesungguhnya pandangan kalian tersebut bisa disimpulkan sebagai ungkapan bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak ada memberikan petunjuk apa pun,  dan adalah kalian yang telah menemukan segalanya berdasarkan kemampuan diri kalian sendiri.
        Wahyu Ilahi bisa dianggap terbuka dalam pengertian bahwa wahyu tersebut dapat mempengaruhi kalbu dimana setiap bentuk temperamen memperoleh kemaslahatan,  dan setiap pencari kebenaran memperoleh pertolongan darinya.       Hal itu juga yang menjadikan jelas bahwa terdapat demikian banyak orang yang telah memperoleh petunjuk melalui wahyu Ilahi, dan hanya sedikit sekali, atau bahkan hampir nihil  yang mendapat pencerahan semata-mata dari logika saja. Setiap orang yang waras pun membenarkan hal ini.

Pengaruh Baik   Ucapan Orang yang Benar Terhadap Hati Para Pendengar

     Jelas pula ketika seorang yang dikenal masyarakat sebagai seorang pembicara yang jujur, lalu ia mengemukakan pengalaman dan hasil telaahnya berkenaan dengan segala hal tentang kehidupan manusia setelah matinya, kemudian ia juga menggunakan logika untuk menjelaskan pemahamannya, maka sebenarnya ia mempunyai kekuatan ganda yang bisa dimanfaatkannya:
      Pertama, bahwa umat telah meyakini diri yang bersangkutan memang telah mengalami dan melihat sendiri apa yang dibicarakannya.
      Kedua, ia mengilustrasikan kebenaran yang dikemukakannya dengan nur argumentasi yang jernih.     
    Kombinasi kedua bentuk pembuktian tersebut akan memberikan bobot istimewa dalam khutbah dan nasihat yang bersangkutan, sehingga ia bisa mencairkan hati yang membatu sekali pun dan mempengaruhi sejala jenis nurani.
       Apa yang dikemukakannya terdiri dari berbagai bentuk ilustrasi yang mudah dipahami oleh berbagai jenis manusia, sepanjang mereka masih memiliki nalar yang waras. Ia akan dapat memuaskan berbagai macam manusia menurut temperamen mereka masing-masing, dan pada setiap tingkat kemampuan daya akal mereka.  
      Khutbahnya memiliki daya tarik besar untuk menggiring manusia ke arah Tuhan dan menjadikan mereka menanggalkan kecintaan duniawi serta menanamkan dalam hati mereka konsep tentang kehidupan akhirat. Bicaranya tidak terkungkung pada konsep gelap yang sempit yang biasanya menelikung para penganut logika. Pengaruh bicaranya akan meluas dan kemaslahatan yang dihasilkannya pun akan sempurna.
      Setiap wadah hanya bisa diisi sekadar kemampuan tampungnya. Hal ini diindikasikan dalam firman Allah Yang Maha Kuasa:
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا
“Dia menurunkan air dari langit, maka lembah-lembah mengalir menurut ukurannya (Al-Rā’d:18).
      Berarti bahwa Tuhan menurunkan firman-Nya dari langit dan setiap lembah dialiri dengan firman Tuhan setara dengan kadar daya tampung masing-masing. Dengan kata lain, setiap orang memetik kemaslahatan setara dengan kadar temperamen, fikiran dan kemampuannya.
      Wujud-wujud yang diagungkan memperoleh manfaat dari misteri-misteri bijak, sedangkan mereka yang lebih tinggi lagi malah mendapat pencerahan deskripsi (penguraian/pelukisan) yang di luar kemampuan kata-kata untuk mengungkapkannya.
      Adapun mereka dengan kapasitas yang lebih rendah, dengan memperhatikan keakbaran dan kesempurnaan sosok seorang pembaharu yang saleh, mereka  beriman sepenuhnya pada apa yang dikatakan oleh yang bersangkutan dan dengan cara demikian juga bisa mencapai pantai keselamatan dengan menumpang bahtera kepastian. Sedangkan mereka yang tertinggal di luar bahtera, sesungguhnya mereka tidak ada urusan dengan Tuhan dan mereka itu hanyalah serangga di muka bumi.

Kitab Wahyu sebagai Kitab Terbuka yang Tunggal

      Dengan memperhatikan efektivitasnya, sesungguhnya jalan untuk mengikuti wahyu itu terbuka lebar. Kita semua tahu bahwa suatu khutbah membawa kharisma, berkat, daya tarik dan gairah setara dengan tingkat keteguhan pijakan langkah si pembicara dalam kepastian, ketulusan dan kejujuran.
     Kesempurnaan demikian hanya mungkin ditemui dalam bicara (ucapan) seseorang yang memiliki pemahaman Samawi. Setiap orang bijak menyadari bahwa khutbah yang efektive, seharusnya keluar dari mulut seseorang yang hatinya penuh dengan hasrat dan keyakinan,  karena hanya kata-kata yang keluar dari hati yang yakin sepenuhnya yang bisa mempengaruhi nurani manusia lainnya.
       Hal ini juga menunjukkan bahwa dari sudut pandang efektivitas, sebenarnya pelatihan dalam pengetahuan Samawi merupakan pembuka pintu dari gerbang pengetahuan. Melihat demikian luasnya jangkauan maka yang terbukti memang dalam keadaan terbuka hanyalah kitab wahyu saja. 
        Menjadi jelas karenanya,  bahwa manusia yang paling berberkat bagi para makhluk Tuhan lainnya adalah ia yang menggabungkan dalam dirinya hakikat wahyu dan logika. Ia ini akan dapat memberi manfaat bagi setiap jenis temperamen dan fitrat yang ada pada manusia.
      Seseorang yang menarik umat manusia ke jalan yang lurus melalui argumentasi logika semata hanya akan bermanfaat (itu pun kalau ada) bagi sekelompok kecil manusia lainnya yang memang terpelajar dan mampu mengikuti jalan fikirannya.
        Rata-rata umat pada umumnya tidak mempunyai intelegensia cukup guna mengikuti diskursus (paparan)  filosofi. Dengan demikian berkat dari pengetahuan yang dimiliki orang yang bersangkutan terbatas hanya bagi beberapa orang yang memahami jalan fikirannya serta terbiasa dengan metoda penalarannya.
       Hal ini bisa dibuktikan dengan membandingkan tingkat pencapaian logika dengan wahyu Ilahi. Mereka yang mempelajari keadaan dari para filosof di masa lalu, sesungguhnya menyadari betul mengapa para filosof tersebut telah gagal dalam menyebar-luaskan ajarannya serta bagaimana keterbatasan dan ketidak-lengkapan eksposisi (keterangan) mereka telah gagal mempengaruhi kalbu umat manusia yang awam.

Efektivitas Pengaruh Suci Wahyu Al-Quran

      Bandingkan hal itu dengan efektivitas  Kitab Suci Al-Quran.  Bagaimana dahsyatnya Kitab ini telah mengisi nurani para penganutnya dengan Ketauhidan Ilahi dan bagaimana dengan cara yang demikian indah telah mencerabut segala kebiasaan dan adat buruk yang telah berlangsung selama beratus-ratus tahun.
       Kitab ini telah mencerabut segala keburukan dari kalbu manusia dengan menyapu bersih nafsu-nafsu rendah dari hati mereka dan menggantikannya dengan minuman nikmat dari sumber mata air Ketauhidan Ilahi. Semua itu terjadi di kalbu berjuta-juta manusia.
      Adalah Al-Quran yang dengan memperlihatkan efektivitas dan menghasilkan kebaikan yang bertahan lama semata-mata dari kekuatan isinya yang telah memaksa para lawan untuk mengakui keluhurannya yang tanpa banding. Bahkan mereka yang berkeras dalam kekafirannya merasa demikian terpengaruh sehingga mereka terpaksa mengakui tetapi juga dengan tetap menyangkal sambil mengatakan:
اِنۡ  ہٰذَاۤ اِلَّا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ
Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata” (Al-Sabā [34]:44).
      Nyatanya hanya daya tarik Al-Quran yang mampu mengatasi segala kebiasaan yang telah mengakar di antara manusia dan menarik nurani kepada Tuhan, sehingga berjuta-juta manusia yang kemudian bersedia mengikhlaskan darah mereka demi Ketauhidan Ilahi. Dengan cara begini inilah maka wahyu sejak awal telah membuktikan wujudnya sebagai pedoman yang membantu mengembangkan daya logika manusia.
     Sebaliknya, para filosof akbar dan orang-orang bijak mengalami kesulitan yang mustahil bisa diatasi dalam menggali rincian dari yang namanya metaphisika. Mereka yang tidak dilengkapi dengan logika yang normal dan tidak memiliki sarana untuk berupaya ke arah yang sama, mereka ini tetap tertinggal tanpa mengetahui apa pun mengenai hal-hal ini.
       Fasilitas yang diberikan oleh wahyu Ilahi yang hakiki dan sempurna, yaitu Kitab Suci Al-Quran, telah sangat membantu daya fikir manusia dimana keberhasilan Kitab ini mengangkat segala kerancuan renungan dan observasi manusia, merupakan fakta yang selalu disyukuri orang-orang bijak yang tahu bersyukur.
      Mengingat pengenalan Tuhan itu dimulai melalui wahyu serta kebangkitan kembali pemahaman Ketuhanan selalu terjadi berkat wahyu dan bantuan pertolongan dari segala kesukaran juga didapat melalui wahyu, maka setiap orang bijak harus mengakui bahwa jalan yang terang, lurus dan selalu terbuka adalah melalui wahyu Ilahi. Menganggap bahwa wahyu bukan kitab yang terbuka adalah suatu ketololan yang nyata.

Perbedaan “Kemungkinan Ada Tuhan” dengan “Tuhan Benar-benar  Ada

      Kami telah menguraikan secara rinci bahwa pemahaman Tuhan oleh kaum Brahmo Samaj yang berdasarkan logika semata, hanya akan membawa manusia ke tingkatan pemahaman ‘kemungkinan ada dan mereka belum lagi sampai pada tingkatan sempurna dari ‘memang ada.’ Hal ini juga memperlihatkan bahwa jalan yang jelas dan terbuka mengenai pemahaman Ketuhanan hanya mungkin ditemukan melalui firman Tuhan karena tidak ada lagi jalan lainnya.
       Jika seorang anak yang baru lahir tidak diberikan pendidikan dan diserahkan sepenuhnya kepada hukum alam -- yang menurut kaum Brahmo Samaj adalah kitab yang terbuka -- maka anak itu tidak akan mendapat banyak pengetahuan dan tidak akan mengenali siapa Tuhan-nya.
         Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang yang tidak dikenalkan kepada wahyu mengenai eksistensi Tuhan maka yang bersangkutan tidak akan mampu menentukan apakah memang ada sosok Pencipta di alam ini. Kalau pun ia kemudian berusaha mencari tahu siapa Sang Pencipta tersebut, ia biasanya berakhir menjadi penyembah bagian dari benda ciptaan seperti air, api, bulan atau matahari seperti yang dapat ditemukan pada bangsa-bangsa liar.
      Hanya melalui berkat wahyu saja maka manusia bisa mengenali Tuhan Sang Maha Agung Yang tanpa banding sepadan dengan Wujud-Nya Yang Maha Sempurna. Mereka yang tidak mengenal apa yang namanya wahyu dan tidak memiliki kitab yang diwahyukan untuk dijadikan sebagai pedoman serta tidak mempunyai sarana apa pun guna mengetahui apa yang disebut sebagai wahyu, dengan sendirinya tidak akan memahami Ketuhanan walaupun mereka itu punya mata dan telinga.
     Secara bertahap mereka akan meninggalkan citra kemanusiaan dan mendekati taraf hewaniah yang tidak mempunyai kemampuan berfikir, dimana mereka jadinya tidak akan bisa memanfaatkan kaidah hukum-hukum alam. Jelas kiranya jika buku hukum alam itu memang bersifat terbuka maka suku-suku bangsa liar tersebut mestinya telah dapat memanfaatkannya dan dengan demikian bisa mencapai kesetaraan dengan mereka yang mengenali Tuhan melalui wahyu Ilahi.
      Karena itu bukti apa lagi yang harus diberikan untuk membuktikan bahwa buku hukum alam sebenarnya bersifat tertutup, dimana siapa pun yang bersandar kepadanya semata-mata dan tidak pernah mendengar yang namanya wahyu, dengan sendirinya mereka itu diluputkan dari pemahaman tentang Wujud Tuhan dan bahkan juga melupakan adab mereka sebagai manusia. Kalau yang dimaksud bahwa buku hukum alam bersifat terbuka itu adalah kasat mata, maka hal ini menjadi tidak ada kaitannya dengan pokok bahasan yang sedang diungkapkan.
      Bila kalian sudah menyadari bahwa dengan merenungi buku hukum alam tidak ada seorang pun yang akan memperoleh manfaat ruhani darinya dan tidak akan dapat menemukan Tuhan kecuali dituntun oleh wahyu Ilahi, maka tidak ada masalah sama sekali apakah alam itu selalu dalam keadaan kasat mata atau tidak.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 207-216, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 2 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar