Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
“Kitab Terbuka”
yang Hakiki Bukan Hukum Alam Melainkan “Wahyu
Ilahi & Efektivitas Pengaruh Suci Wahyu Al-Quran
Bab 35
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dikemukakan
sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya keberadaan wahyu Ilahi bagi logika
(akal) guna memahami hal-hal gaib
yang tidak dapat dijangkau akal, selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjawab pendapat
keliru golongan Brahmo Samaj yang mengatakan bahwa hukum
alam merupakan “kitab yang terbuka”,
sedang
wahyu Ilahi – menurut mereka
-- merupakan “kitab” yang kadang-kadang terbuka:
SANGKALAN: Pemahaman yang sempurna hanya bisa diperoleh melalui suatu
hal yang dapat diperhatikan sepanjang
masa dan sepanjang zaman.
Karakteristik ini ada dalam hukum alam
yang selalu terbuka dan tidak pernah
tertutup, dan karena itu bisa dianggap sebagai pedoman. Sesuatu tidak bisa dianggap sebagai pedoman
atau tuntunan jika pintunya hampir selalu tertutup dan hanya terbuka pada saat-saat
tertentu saja.
JAWABAN: Siapa yang menganggap
bahwa buku hukum alam selalu terbuka dibanding dengan wahyu Ilahi, sesungguhnya menggambarkan
tanda-tanda kebutaan yang
bersangkutan. Mereka yang memiliki wawasan
yang sehat tentunya menyadari bahwa
suatu buku bisa dianggap terbuka jika semua isi tulisannya dapat dimengerti sepenuhnya dimana si pembaca sama sekali tidak lagi
dihinggapi keraguan apa pun.
Lalu sekarang siapa yang dapat membuktikan
bahwa keraguan seseorang bisa hilang
hanya karena telah melihat buku hukum
alam? Siapa yang bisa memastikan
bahwa ia telah dibimbing menuju sasaran oleh buku hukum alam? Siapa yang mau mengakui bahwa ia sudah sepenuhnya
memahami semua argumentasi dari buku hukum alam?
Hukum Alam Bukan “Kitab yang Terbuka”
Kalau hukum
alam merupakan buku yang terbuka lebar, lalu mengapa yang mengandalkan diri mereka kepadanya ternyata telah melakukan berbagai kesalahan? Hanya dari satu
sumber hukum alam ini mengapa bisa terjadi berbagai perbedaan pandangan di antara sesama
manusia dimana sebagian di antaranya mengakui
keberadaan Tuhan sampai suatu tingkat tertentu, sedangkan bagian lainnya
malah menyangkalnya sama sekali?
Andaikata diasumsikan pun, semata-mata hanya sebagai argumentasi, bahwa seseorang setelah mempelajari hukum alam lalu berkesimpulan bahwa tidak perlu adanya wujud Tuhan,
kemudian yang bersangkutan dikaruniai umur
panjang untuk menemukan kesalahannya, masih saja ada pertanyaan tertinggal yaitu jika buku ini benar terbuka, mengapa hasilnya
malah telah menimbulkan kekeliruan
seperti itu?
Apakah kalian sependapat bahwa sebuah buku yang terbuka malah akan menimbulkan perbedaan
persepsi yang demikian beragam
di antara para pembacanya, khususnya
yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan,
dimana mereka telah tersesat sejak langkah awal? Tidakkah disadari
bahwa setelah mempelajari hukum alam
ini malah ribuan para filosof yang menjadi atheis atau tetap saja sebagai penyembah berhala?
Dari antara mereka itu hanya yang
beriman kepada wahyu Ilahi yang
nyatanya kemudian mendapat tuntunan
di jalan yang benar. Bukankah
merupakan suatu kenyataan bahwa
mereka yang membatasi diri pada membaca hukum alam ini serta dianggap
sebagai filosof akbar, justru mereka
ini yang tetap saja menyangkal pengendalian Tuhan terhadap alam semesta ini serta pengetahuan-Nya mengenai segala hal
yang menjadi isinya, sehingga mereka kemudian mati masih dalam keadaan penyangkalan
tersebut?
Berbagai Perbedaan Pendapat Mengenai “Hukum Alam”
Apakah kalian tidak mempunyai kemampuan berfikir yang cukup untuk
mengetahui, bahwa sebuah perkataan
dianggap mempunyai pengertian seperti pandangan
si “X”, tetapi diartikan lain oleh
si “Y”, bahkan ditafsirkan sama
sekali bertolak belakang oleh si “Z”,
jelas bahwa perkataan atau kaidah demikian tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang terbuka, bahkan lebih banyak
menghasilkan keraguan dan kerancuan.
Guna memahami
hal seperti ini tidak diharuskan
kalian memiliki intelegensia tinggi
karena merupakan kebenaran yang nyata. Hanya saja apa yang bisa kita
katakan jika mereka tetap saja degil menyatakan kegelapan sebagai pencerahan
dan nur sebagai kekelaman, malam
dikatakan siang sedangkan siang benderang sebagai kelam malam? Bahkan seorang anak kecil pun tahu bahwa untuk mengerti sesuatu sebagaimana
mestinya adalah jika hal itu dikemukakan
dalam bahasa yang jelas.
Instrumen
untuk menyatakan isi fikiran adalah kemampuan berbicara, karena hanya
dengan sarana ini maka orang lain
mendapat informasi tentang apa yang ada di kepala (benak) kita. Semua
hal yang tidak dikemukakan melalui sarana ini (kemampuan berbicara) sulit dimengerti secara sempurna.
Ada beribu-ribu permasalahan
yang sulit diperoleh pemahamannya secara sempurna
jika hanya didasarkan pada argumentasi alamiah semata, sedangkan hasil perenungan kita juga masih sangat
mungkin mengalami kesalahan. Sebagai contoh, Tuhan telah memberikan mata
untuk melihat, telinga untuk mendengar
dan lidah untuk berbicara. Sebatas itulah yang kita pahami dengan memperhatikan fitrat
dari anggota tubuh tersebut.
Kalau kemudian kita tidak memperhatikan dan mempedomani
penjelasan dari wahyu Ilahi maka
merupakan kecenderungan alamiah
bahwa kita tidak akan membedakan di
antara kepantasan dan ketidak-pantasan suasana guna pemanfaatannya, karena kita hanya akan melihat apa yang kita mau, mendengar apa yang kita suka
dan mengatakan apa yang terlintas sesaat di kepala kita.
Hukum
alam hanya menentukan bahwa mata gunanya untuk melihat, telinga untuk mendengar dan lidah diciptakan untuk berbicara.
Kita akan terperosok dalam kesalahan besar jika kemudian menganggap bahwa penggunaan fitrat penglihatan, pendengaran
dan bicara tersebut lalu bisa digunakan semau-maunya tanpa kendali sama sekali.
Pentingnya Peran “Wahyu
Ilahi” Sebagai “Kitab
Terbuka” yang Hakiki
Jika tidak ada firman Tuhan yang mengatur
batasan dari hukum alam dan
tidak menjelaskan kerancuan di
dalamnya dengan penjelasan dan pernyataan terbuka, maka manusia jelas
mempunyai risiko akan menghadapi
berbagai bahaya kalau hanya mengikuti hukum alam saja.
Hanya firman Tuhan saja yang bisa menegaskan
melalui kaidah-kaidahnya yang jelas
bahwa ada batasan dalam hak kita berbicara, bertindak, bergerak atau pun menahan diri, serta mengajarkan
kepada kita adab sopan-santun dan
memberikan pencerahan hati yang murni. Adalah firman Tuhan yang demi menjaga
kesopanan pandangan, pendengaran
dan bicara kita lalu menetapkan:
قُلۡ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
یَغُضُّوۡا مِنۡ اَبۡصَارِہِمۡ وَ
یَحۡفَظُوۡا فُرُوۡجَہُمۡ ؕ ذٰلِکَ اَزۡکٰی لَہُمۡ ؕ
“Katakanlah kepada orang-orang
laki-laki yang beriman, mereka hendaklah menundukkan pandangan mereka dan
memelihara aurat mereka. Yang
demikian itu lebih suci bagi mereka” (Al-Nūr
[24]:31).
Dari sini jelas bahwa orang-orang beriman harus menjaga
mata, telinga dan bagian tubuh yang tersembunyi dimana mereka harus
menghindari tindakan yang tidak
diinginkan berkaitan dengan penglihatan,
pendengaran serta aurat mereka. Dengan cara demikian itulah mereka bisa
mencapai kemurnian batin.
Dengan kata lain, fikiran mereka akan terjaga dari hawa nafsu karena anggota-anggota
tubuh inilah yang bisa merangsang
nafsu dan menghidupkan naluri
hewaniah. Perhatikanlah bagaimana Al-Quran
meletakkan tekanan pada pengendalian mata, telinga dan bagian tubuh
yang tersembunyi agar tidak bergelimang dalam ketidak-sucian. Dengan cara
yang sama kepada lidah pun
ditetapkan aturan agar berpegang
kepada kebenaran sebagaimana
difirmankan:
قُوۡلُوۡا قَوۡلًا
سَدِیۡدًا
“Ucapkanlah
perkataan yang jujur” (Al-Ahzāb
[33]:71).
Yang dimaksudkan disini
ialah agar manusia hanya berbicara
mengenai hal-hal yang benar dan pantas saja dan menghindari
segala bualan dan kedustaan. Agar semua fitrat manusia bisa dibawa ke jalan yang lurus, juga diberikan peringatan yang bersifat komprehensif agar yang lalai pun menjadi sadar, karena ditetapkan:
اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ
وَ الۡفُؤَادَ کُلُّ اُولٰٓئِکَ کَانَ عَنۡہُ
مَسۡـُٔوۡلًا
“Sesungguhnya telinga dan mata dan hati, tentang semuanya ini akan
ditanya” (Bani Israil [17]:37).
Dengan demikian semua anggota tubuh manusia berikut semua fitrat yang dimilikinya
akan dimintakan pertanggung-jawaban
kelak jika digunakan secara tidak wajar.
Jelas kiranya bahwa semua anggota tubuh dan fitrat
yang dimiliki manusia diarahkan melalui firman Tuhan secara langsung
dan tegas kepada kebaikan dan penggunaan yang wajar, dimana pedoman
tersebut diutarakan dalam bahasa
yang jelas tanpa ada keraguan atau kerancuan, serta manusia diberikan bimbingan untuk mengikuti
jalan yang lurus.
Mungkinkah
kita bisa memahami penjelasan dan rincian seperti tersebut di atas dengan
membaca hukum alam? Jelas tidak. Lalu yang mana yang dapat
disebut sebagai kitab yang terbuka? Kitab mana yang memberikan petunjuk tentang batasan
dan penggunaan yang pantas dari fitrat alamiah manusia? Jika kiranya cukup dengan apa yang tersirat atau diindikasikan saja, lalu buat apa manusia dilengkapi dengan lidah?
Allah Swt. Maha Kuasa Melakukan
Apa Pun yang Dikehendaki-Nya
Tuhan telah mengaruniakan lidah kepada kalian. Apakah masuk akal bahwa Dia Sendiri
tidak mempunyai kemampuan berbicara?
Patutkah kita menyatakan bahwa Dia Yang
telah menciptakan seluruh alam semesta tanpa bantuan apa pun dan tanpa memperkerjakan
buruh bangunan atau tukang kayu
siapa pun -- dimana Dia mencipta
semata-mata berdasar keinginan-Nya
-- lalu dikatakan bahwa Dia tidak memiliki kemampuan berbicara?
Atau mungkin memang bisa berbicara tetapi karena kekikiran-Nya
lalu Dia tidak mau mengaruniakan berkat firman-Nya kepada manusia? Apakah pantas jika ada yang menganggap
bahwa Sang Maha Kuasa itu lebih lemah
bahkan dari hewan sekali pun?
Bahkan hewan
dari tingkat yang terendah pun masih
bisa berkomunikasi dengan yang
lainnya menyampaikan hal eksistensinya melalui suaranya. Seekor lalat bisa memberitahukan kepada lalat lainnya akan keberadaan
dirinya melalui suara dengungnya. Menurut kalian, Yang Maha Perkasa bahkan tidak memiliki fitrat yang ada pada seekor lalat.
Sebagaimana kalian sampaikan secara tegas bahwa Dia tidak pernah membuka
mulut-Nya dan tidak pernah memiliki
kemampuan berbicara, seolah kalian ingin menegaskan bahwa Dia itu
tidak sempurna dan cacat adanya,
dimana fitrat lainnya dikenal tetapi kemampuan berbicara-Nya belum ditemukan.
Lalu bagaimana kalian bisa mengatakan
berkaitan dengan Wujud-Nya bahwa Dia telah mengaruniakan kepada kalian
sebuah buku hukum alam yang terbuka
dimana Dia telah mengutarakan segala hal
yang ada dalam fikiran-Nya?
Sesungguhnya pandangan kalian tersebut bisa disimpulkan
sebagai ungkapan bahwa Allah Yang Maha
Kuasa tidak ada memberikan petunjuk
apa pun, dan adalah kalian yang telah menemukan segalanya berdasarkan kemampuan diri kalian sendiri.
Wahyu
Ilahi bisa dianggap terbuka
dalam pengertian bahwa wahyu
tersebut dapat mempengaruhi kalbu
dimana setiap bentuk temperamen
memperoleh kemaslahatan, dan setiap pencari kebenaran memperoleh pertolongan
darinya. Hal itu juga yang
menjadikan jelas bahwa terdapat demikian banyak orang yang
telah memperoleh petunjuk melalui wahyu Ilahi, dan hanya sedikit sekali, atau bahkan hampir nihil yang mendapat pencerahan semata-mata dari logika
saja. Setiap orang yang waras pun membenarkan hal ini.
Pengaruh Baik Ucapan
Orang yang Benar Terhadap Hati Para
Pendengar
Jelas pula ketika seorang yang dikenal
masyarakat sebagai seorang pembicara
yang jujur, lalu ia mengemukakan pengalaman
dan hasil telaahnya berkenaan dengan
segala hal tentang kehidupan manusia setelah matinya,
kemudian ia juga menggunakan logika
untuk menjelaskan pemahamannya, maka
sebenarnya ia mempunyai kekuatan ganda
yang bisa dimanfaatkannya:
Pertama, bahwa umat telah meyakini diri
yang bersangkutan memang telah mengalami
dan melihat sendiri apa yang dibicarakannya.
Kedua,
ia mengilustrasikan kebenaran yang
dikemukakannya dengan nur argumentasi yang
jernih.
Kombinasi
kedua bentuk pembuktian tersebut
akan memberikan bobot istimewa dalam
khutbah dan nasihat yang bersangkutan, sehingga ia bisa mencairkan hati yang membatu
sekali pun dan mempengaruhi sejala
jenis nurani.
Apa yang dikemukakannya terdiri dari berbagai bentuk ilustrasi yang mudah
dipahami oleh berbagai jenis manusia,
sepanjang mereka masih memiliki nalar
yang waras. Ia akan dapat memuaskan
berbagai macam manusia menurut temperamen
mereka masing-masing, dan pada setiap tingkat
kemampuan daya akal mereka.
Khutbahnya
memiliki daya tarik besar untuk menggiring manusia ke arah Tuhan dan menjadikan mereka menanggalkan kecintaan duniawi serta menanamkan dalam hati mereka konsep tentang kehidupan
akhirat. Bicaranya tidak terkungkung
pada konsep gelap yang sempit yang biasanya menelikung para penganut logika. Pengaruh bicaranya
akan meluas dan kemaslahatan yang dihasilkannya
pun akan sempurna.
Setiap wadah hanya bisa diisi
sekadar kemampuan tampungnya. Hal
ini diindikasikan dalam firman Allah Yang Maha Kuasa:
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً
فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا
“Dia menurunkan air
dari langit, maka lembah-lembah
mengalir menurut ukurannya” (Al-Rā’d:18).
Berarti bahwa Tuhan menurunkan firman-Nya dari langit dan setiap lembah
dialiri dengan firman Tuhan setara dengan kadar
daya tampung masing-masing. Dengan kata lain, setiap orang memetik kemaslahatan
setara dengan kadar temperamen, fikiran
dan kemampuannya.
Wujud-wujud
yang diagungkan memperoleh manfaat dari misteri-misteri bijak, sedangkan mereka yang lebih tinggi
lagi malah mendapat pencerahan deskripsi (penguraian/pelukisan) yang di luar kemampuan kata-kata untuk mengungkapkannya.
Adapun mereka dengan kapasitas yang lebih rendah,
dengan memperhatikan keakbaran dan kesempurnaan sosok seorang pembaharu yang saleh,
mereka beriman sepenuhnya pada
apa yang dikatakan oleh yang bersangkutan dan dengan cara demikian juga bisa mencapai pantai keselamatan dengan menumpang bahtera kepastian. Sedangkan mereka
yang tertinggal di luar bahtera, sesungguhnya mereka tidak ada urusan dengan Tuhan dan
mereka itu hanyalah serangga di muka
bumi.
Kitab Wahyu sebagai Kitab
Terbuka yang Tunggal
Dengan memperhatikan efektivitasnya, sesungguhnya jalan
untuk mengikuti wahyu itu terbuka lebar. Kita semua tahu bahwa
suatu khutbah membawa kharisma, berkat, daya tarik dan gairah setara dengan tingkat keteguhan pijakan langkah si
pembicara dalam kepastian, ketulusan dan kejujuran.
Kesempurnaan
demikian hanya mungkin ditemui dalam
bicara (ucapan) seseorang yang memiliki pemahaman
Samawi. Setiap orang bijak
menyadari bahwa khutbah yang efektive, seharusnya keluar dari mulut seseorang yang hatinya
penuh dengan hasrat dan keyakinan, karena hanya kata-kata yang keluar dari hati
yang yakin sepenuhnya yang bisa mempengaruhi
nurani manusia lainnya.
Hal ini juga menunjukkan bahwa dari sudut pandang efektivitas, sebenarnya pelatihan
dalam pengetahuan Samawi merupakan pembuka pintu dari gerbang pengetahuan. Melihat demikian luasnya jangkauan maka yang terbukti
memang dalam keadaan terbuka
hanyalah kitab wahyu saja.
Menjadi jelas karenanya, bahwa manusia
yang paling berberkat bagi para makhluk Tuhan lainnya adalah ia yang menggabungkan dalam dirinya hakikat
wahyu dan logika. Ia ini akan
dapat memberi manfaat bagi setiap jenis temperamen dan fitrat yang ada pada manusia.
Seseorang
yang menarik umat manusia ke jalan yang lurus melalui argumentasi logika semata hanya akan bermanfaat (itu pun kalau ada) bagi sekelompok kecil manusia lainnya yang
memang terpelajar dan mampu mengikuti jalan fikirannya.
Rata-rata umat pada umumnya tidak
mempunyai intelegensia cukup guna mengikuti diskursus (paparan) filosofi. Dengan demikian berkat dari pengetahuan yang dimiliki orang yang bersangkutan terbatas hanya bagi beberapa orang yang memahami jalan fikirannya serta terbiasa dengan metoda penalarannya.
Hal ini bisa dibuktikan dengan membandingkan
tingkat pencapaian logika dengan wahyu Ilahi. Mereka yang mempelajari keadaan dari para filosof di masa lalu, sesungguhnya menyadari betul mengapa para filosof tersebut telah gagal dalam menyebar-luaskan ajarannya serta bagaimana keterbatasan dan ketidak-lengkapan
eksposisi (keterangan) mereka telah gagal mempengaruhi kalbu umat manusia
yang awam.
Efektivitas Pengaruh Suci Wahyu Al-Quran
Bandingkan hal itu dengan efektivitas
Kitab Suci Al-Quran.
Bagaimana dahsyatnya Kitab
ini telah mengisi nurani para
penganutnya dengan Ketauhidan Ilahi dan
bagaimana dengan cara yang demikian
indah telah mencerabut segala
kebiasaan dan adat buruk yang
telah berlangsung selama beratus-ratus
tahun.
Kitab
ini telah mencerabut segala keburukan dari kalbu manusia dengan menyapu bersih nafsu-nafsu rendah dari hati
mereka dan menggantikannya dengan minuman nikmat dari sumber mata air Ketauhidan Ilahi. Semua
itu terjadi di kalbu berjuta-juta
manusia.
Adalah Al-Quran yang dengan memperlihatkan efektivitas dan menghasilkan kebaikan
yang bertahan lama semata-mata dari kekuatan isinya yang telah memaksa para lawan untuk mengakui
keluhurannya yang tanpa banding.
Bahkan mereka yang berkeras dalam kekafirannya merasa demikian terpengaruh sehingga mereka terpaksa mengakui tetapi juga dengan
tetap menyangkal sambil mengatakan:
اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ
“Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata” (Al-Sabā
[34]:44).
Nyatanya hanya daya tarik Al-Quran yang mampu mengatasi
segala kebiasaan yang telah mengakar di antara manusia dan menarik nurani kepada Tuhan, sehingga berjuta-juta manusia yang kemudian bersedia mengikhlaskan darah mereka demi Ketauhidan Ilahi. Dengan cara
begini inilah maka wahyu sejak awal
telah membuktikan wujudnya sebagai pedoman yang membantu mengembangkan daya logika manusia.
Sebaliknya, para filosof akbar dan orang-orang
bijak mengalami kesulitan yang mustahil bisa diatasi dalam menggali rincian dari yang namanya metaphisika. Mereka yang tidak dilengkapi dengan logika yang normal dan tidak memiliki sarana untuk berupaya ke arah yang sama, mereka ini tetap tertinggal tanpa mengetahui
apa pun mengenai hal-hal ini.
Fasilitas yang diberikan oleh wahyu Ilahi yang hakiki dan sempurna,
yaitu Kitab Suci Al-Quran, telah sangat membantu daya fikir manusia
dimana keberhasilan Kitab ini mengangkat segala kerancuan renungan dan observasi
manusia, merupakan fakta yang
selalu disyukuri orang-orang bijak
yang tahu bersyukur.
Mengingat pengenalan Tuhan itu dimulai
melalui wahyu serta kebangkitan kembali pemahaman Ketuhanan
selalu terjadi berkat wahyu dan bantuan pertolongan dari segala kesukaran juga didapat melalui wahyu, maka setiap orang bijak harus mengakui bahwa jalan yang terang, lurus
dan selalu terbuka adalah melalui wahyu Ilahi. Menganggap bahwa wahyu bukan kitab yang terbuka adalah suatu ketololan yang nyata.
Perbedaan “Kemungkinan Ada Tuhan” dengan “Tuhan Benar-benar Ada”
Kami telah menguraikan secara rinci bahwa pemahaman
Tuhan oleh kaum Brahmo Samaj
yang berdasarkan logika semata,
hanya akan membawa manusia ke tingkatan pemahaman ‘kemungkinan ada’
dan mereka belum lagi sampai pada tingkatan sempurna dari ‘memang
ada.’ Hal ini juga memperlihatkan bahwa jalan yang jelas dan terbuka
mengenai pemahaman Ketuhanan hanya mungkin ditemukan melalui firman Tuhan karena tidak ada lagi jalan lainnya.
Jika seorang anak yang baru lahir tidak diberikan pendidikan dan diserahkan sepenuhnya kepada hukum alam -- yang menurut kaum Brahmo Samaj adalah kitab
yang terbuka -- maka anak itu tidak akan mendapat banyak pengetahuan
dan tidak akan mengenali siapa Tuhan-nya.
Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang yang tidak dikenalkan kepada wahyu mengenai eksistensi Tuhan maka yang bersangkutan tidak akan mampu menentukan apakah memang ada sosok Pencipta di alam
ini. Kalau pun ia kemudian berusaha
mencari tahu siapa Sang Pencipta
tersebut, ia biasanya berakhir
menjadi penyembah bagian dari benda ciptaan seperti air, api, bulan atau matahari seperti yang dapat ditemukan
pada bangsa-bangsa liar.
Hanya melalui berkat wahyu saja maka manusia
bisa mengenali Tuhan Sang Maha Agung Yang tanpa banding sepadan dengan Wujud-Nya Yang Maha Sempurna. Mereka
yang tidak mengenal apa yang namanya
wahyu dan tidak memiliki kitab yang diwahyukan untuk dijadikan sebagai pedoman serta tidak mempunyai sarana apa pun guna mengetahui apa yang disebut sebagai wahyu, dengan sendirinya tidak
akan memahami Ketuhanan walaupun mereka itu punya mata dan telinga.
Secara bertahap mereka akan
meninggalkan citra kemanusiaan dan mendekati
taraf hewaniah yang tidak mempunyai
kemampuan berfikir, dimana mereka jadinya tidak akan bisa memanfaatkan kaidah hukum-hukum alam. Jelas kiranya
jika buku hukum alam itu memang bersifat terbuka maka suku-suku bangsa liar tersebut mestinya telah dapat memanfaatkannya dan dengan demikian bisa mencapai kesetaraan dengan mereka yang mengenali Tuhan melalui wahyu Ilahi.
Karena itu bukti apa lagi yang harus
diberikan untuk membuktikan
bahwa buku hukum alam sebenarnya bersifat tertutup, dimana siapa pun yang bersandar kepadanya
semata-mata dan tidak pernah mendengar
yang namanya wahyu, dengan sendirinya mereka
itu diluputkan dari pemahaman tentang Wujud Tuhan dan bahkan juga melupakan adab mereka sebagai manusia. Kalau yang dimaksud bahwa buku hukum alam bersifat terbuka itu
adalah kasat mata, maka hal ini
menjadi tidak ada kaitannya dengan pokok bahasan yang sedang diungkapkan.
Bila kalian sudah menyadari bahwa dengan
merenungi buku hukum alam tidak ada
seorang pun yang akan memperoleh
manfaat ruhani darinya dan tidak
akan dapat menemukan Tuhan kecuali dituntun
oleh wahyu Ilahi, maka tidak ada
masalah sama sekali apakah alam itu
selalu dalam keadaan kasat mata atau
tidak.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
207-216, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 2 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar