Minggu, 22 Mei 2016

"Kekeliruan Pendapat" Nabi Besar Muhammad Saw. yang Menghasilkan "Perjanjian Hudaibiyah" Sebagai "Kemenangan yang Nyata" yang Berujung Peristiwa "Fathah Makkah"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


KEKELIRUAN PENDAPAT”  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. YANG MENGHASILKAN “PERJANJIAN HUDAIBIYAH”  SEBAGAI “KEMENANGAN  YANG NYATA” YANG BERUJUNG PERISTIWA FATHAH MAKKAH


Bab 50

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  hikmah  “kekeliruan pendapat” Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan kasyaf (pengalaman ruhani) yang beliau saw. alami, namun kemudian menyebabkan terjadinya “Perjanjian Hudaibiyah” yang disebut dalam Surah Al-Fath ayat 2 sebagai “kemenangan yang nyata”, walau pun  dalam kenyataannya poin-poin (butir-butir) dalam Perjanjian Hudaibiyah tersebut  nampak seakan-akan merugikan umat Islam, sebagaimana yang tergambar dari hadits Muslim berikut ini mengenai sikap  Umar bin Khaththab r.a.:
   “Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Numair].   Telah menceritakan kepada kami [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Siyah] telah menceritakan kepada kami [Habib bin Abu Tsabit] dari [Abu Wa`il] dia berkata, "[Sahal bin Hunaif] pernah berdiri ketika terjadi perang Shifin, dia berseru, "Wahai manusia, koreksilah diri kalian masing-masing. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah, kami bersama-sama dengan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam. Seandainya waktu itu kami melihat adanya pembunuhan [Ustman r.a.], pasti kami telah berperang. Hal ini terjadi ketika terjadi perjanjian damai antara Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam dengan orang-orang musyrik. Maka Umar bin Khatthab datang menghampiri Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?" Beliau bersabda: "Ya." Dia berkata, "Bukankah jika kita terbunuh akan masuk surga? sedangkan jika mereka terbunuh, mereka akan masuk neraka?" Beliau menjawab: "Ya benar." Umar bertanya, "Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?" Beliau menjawab: "Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selama-lamanya." Abu Wa'il berkata, "Umar lalu pergi dalam keadaan tidak puas, bahkan terlihat marah. Lalu dia mendatangi Abu Bakar seraya berkata, "Wahai Abu Bakar, bukankah kita di atas yang hak dan mereka dalam kebathilan." Dia menjawab, "Ya, benar." Umar bertanya, "Tidakkah jika kita terbunuh, maka kita akan masuk surga, sedangkan jika mereka yang terbunuh, maka mereka akan masuk neraka?" Abu Bakar menjawab, "Ya, benar." Umar bertanya lagi, "Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?" Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya beliau adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau selama-lamanya." Suhail berkata, "Maka turunlah ayat Al Quran kepada Rasulullah, yaitu surah Al-Fath. Maka beliau menyuruh seseorang untuk membacakan kepada Umar, lantas dia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu yang dimaksud dengan kemenangan?" beliau bersabda: "Ya, benar." Barulah dia bertaubat dan kembali." (Muslim No.3338).

Keberatan Terhadap  Kalimat “Muhammad Rasulullah

       Berikut  adalah Hadits mengenai berbagai  keberatan yang diajukan pihak kafir Quraisy Mekkah    sebelum tercapainya kesepakatan Perjanjian Hudaibiyah, yang oleh Umar Bbin Khaththab r.a. sangat merugikan umat Islam:
   “Telah menceritakan kepadaku ['Ubaidullah bin Mua'd Al 'Anbari] telah menceritakan kepada kami [ayahku] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dia berkata; aku mendengar [Al Barra bin 'Azzib] berkata, "Ali bin Abu Thalib pernah menuliskan perjanjian damai antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan orang-orang musyrik [Makkah] ketika perjanjian Hudaibiyyah. Ali menuliskan, "Ini adalah perjanjian yang ditulis oleh Muhammad Rasulullah." Lantas mereka berkata, "Jikalau kami tahu bahwa engkau adalah Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangi engkau." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ali: "Hapus kata-kata itu (tulisan 'Rasulullah')." Ali menjawab, "Aku tidak mau menghapusnya." Maka Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam yang menghapusnya dengan tangannya sendiri." Al Barra` berkata, "Isi perjanjian itu antara lain menetapkan bahwa kaum Muslimin boleh masuk dan tinggal di kota Makkah selama tiga hari. Tidak boleh membawa senjata kecuali diletakkan dalam sarungnya." Aku bertanya kepada Abu Ishaq, "Apa yang dimaksud dengan sarung pedang?" dia menjawab, "Yaitu sarung pedang dan sesuatu yang ada di dalamnya." Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Ibnu Basyar] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dia berkata; aku mendengar [Al Barra` bin 'Azib] berkata, "Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam pernah mengadakan perjanjian Hudaibiyyah, lantas Ali menulis suatu catatan di antara mereka." Al Barra` berkata, "Lalu dia menulis; Muhammad Rasulullah...kemudian dia menyebutkan seperti hadits Mu'adz, namun dalam haditsnya dia tidak menyebutkan, "Ini adalah perjanjian yang ditulis olehnya." (Muslim No.3335).
     Berikut adalah butir-butir Perjanjian Hudaibiyah  yang menurut beberapa sahabat sangat merugikan pihak Muslim,  namun Allah Swt. menyebutnya sebagai “kemenangan yang nyata”:
      1.  Kaum Muslimin harus kembali ke kota Madinah pada tahun itu juga dan membatalkan niat ibadah Umrah.
      2.Kaum Muslimin boleh kembali di tahun depan akan tetapi mereka tidak boleh berada di kota Mekah lebih dari 3 hari.
   3. Kaum Muslimin tidak boleh membawa senjata apapun selain pisau atau pedang kecil.
    4.Tidak boleh ada peperangan antara kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy dalam kurun waktu 10 tahun.
    5. Kaum Muslimin yang tinggal di kota Mekah dan pindah ke Madinah tanpa izin dari sukunya harus dikembalikan ke kota Mekah; sedangkan kaum Muslimin yang berasal dari Madinah kemudian kembali ke kota Mekah tanpa ijin tidak boleh kembali ke kota Madinah.
     6. Kaum Musyrikin atau penduduk kota Mekah yang berhijrah ke kota Madinah tanpa izin dari sukunya harus dikembalikan ke kota Mekah; akan tetapi kaum Muslimin dari kota Madinah yang pergi ke Mekah tanpa izin tidak diperbolehkan kembali ke kota Madinah.
     7. Setiap suku di jazirah Arab dibebaskan untuk bergabung ke pihak manapun, dan kedua belah pihak harus terikat dengan perjanjian ini.

Perjanjian Hudaibiyah Menghasilkan “Fathah Makkah

    Sehubungan dengan adanya  “kesalahan pendapat”, sebagaimana contohnya  mengenai pelaksanaan  kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.  -- yang dilaksanakan berupa keberangkatan beliau saw.   dengan 1500 orang sahabah r.a.    untuk melaksanakan ‘umrah ke Mekkah   --   kemudian terjadi Perjanjian Hudaibiyah  yang disebut Allah Swt. sebagai sebagai “kemenangan  yang nyata”,   karena dalam kenyataannya “kesalahan tafsir” mengenai kasyaf tersebut  mengakibatkan terjadi peristiwa Fathah Mekkah (Pembukaan Mekkah).  Sehubungan dengan “kesalahan pendapat” seperti itu  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Demikian juga halnya dalam hal terjadi kesalahan deduksi (kesimpulan) oleh seorang nabi. Ruhul Kudus memang tidak pernah meninggalkan seorang nabi, hanya saja pada beberapa kejadian --  mungkin untuk suatu tujuan tertentu -- Allah Swt. mengambil alih daya nalar dan persepsi seorang nabi, dimana pada kondisi demikian sepertinya nabi tersebut mengutarakan perkataan atau tindakan yang terlihat sebagai kealpaan atau kesalahan, dan baru kemudian takdir Ilahi diperlihatkan maksudnya. Sungai wahyu kemudian turun menderas dan kesalahan nabi tersebut dihapuskan seolah-olah tidak pernah ada.
    Yesus a.s. pernah menghampiri sebuah pohon ara[1] untuk menyantap buahnya dan meskipun beliau ditemani oleh Ruhul Kudus, sepertinya malaikat ini lupa memberitahukan kepada beliau bahwa pohon tersebut sedang tidak berbuah. Hanya saja harus dimengerti bahwa suatu kejadian yang sangat jarang sebenarnya sama saja dengan tidak pernah terjadi.
      Dalam jutaan kata dan tindakan dari Penghulu dan Junjungan kita Hadhrat Rasulullah Saw. bisa dilihat adanya manifestasi Ilahi dan nur cemerlang dari Ruhul Kudus. Dengan demikian apalah artinya jika sifat manusiawi beliau muncul sekali atau dua kali. Justru hal-hal seperti itu perlu sekali waktu sehingga fitrat kemanusiaan beliau menjadi jelas dan manusia tidak menjadi terbawa syirik.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 115-116, London, 1984).

Turunnya Ruhul Kudus Secara Umum

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai turunnya Ruhul Kudus  kepada orang-orang yang bukan “hamba-hamba  pilihan Ilahi”:
     “Muncul pertanyaan, yaitu kalau Ruhul Kudus hanya dikaruniakan kepada hamba-hamba pilihan Ilahi yang telah mencapai tahapan maqam (derajat) keabadian (baqa) dan kedekatan (perjumpaan - liqa) dengan Tuhan, lalu bagaimana hal itu bisa memelihara  juga umat manusia lainnya?
    Jawabannya ialah, benar turunnya Ruhul Kudus secara sempurna terjadi pada para hamba Allah pilihan, namun bantuannya secara umum juga dinikmati manusia lainnya sepadan  dengan tingkat kecintaan dan ketulusan merekaManifestasi Ruhul Kudus dengan derajat yang lebih luhur terjadi pada tahapan baqa dan liqa dimana kasih (kecintaan) Ilahi turun di atas kasih (kecintaan) manusia,  dan pada pertemuan tersebut dimanifestasikan Ruhul Kudus, yang jika dibandingkan akan menisbikan manifestasi (penampakan) lainnya.
     Tetapi tidak berarti manifestasi lainnya lalu menjadi tidak bermakna lagi. Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan ketulusan kecintaan manusia menjadi sia-sia meski hanya sebesar zarah. Ketika kasih-Nya (kecintaan-Nya) turun di atas kecintaan manusia kepada Tuhan-nya, Ruhul Kudus akan berkilau sampai suatu tingkatan tertentu.
    Tingkatan ini ditentukan oleh ketinggian derajat kecintaan manusia tersebut. Saat sungai kecintaan manusia kepada Tuhan-nya mengalir, maka di sisi lain akan turun mengalir kasih Allah, dimana pada pertemuan kedua sungai itu muncul sinar cemerlang yang dalam istilah kami disebut sebagai Ruhul Kudus.
    Kalian tentunya memperhatikan ketika sesendok kecil gula dimasukkan ke dalam suatu bejana besar berisi air, tidak akan terasa air itu menjadi manis, tetapi tidak ada yang akan menyangkal bahwa sudah ditambahkan gula ke dalamnya.
     Begitu juga halnya dengan Ruhul Kudus yang turun secara tidak sempurna di atas manusia yang tidak sempurna pula. Turunnya Ruhul Kudus tersebut tidak diragukan karena tetap saja akan muncul pemikiran baik dalam fikiran dari orang yang paling nista sekali pun.
   Terkadang seorang pendosa juga mendapatkan ru’ya atau mimpi hakiki sebagai akibat pengaruh Ruhul Kudus sebagaimana dinyatakan Al-Quran dan Hadits shahih, hanya saja jika dibandingkan dengan orang-orang suci dan kekasih Allah, maka nilainya hampir tidak berarti seolah-olah tidak pernah ada.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. V, hlm.  77-80, London, 1984).

Penampakan Malaikat Bisa Dilihat  Secara Kasyaf

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai masalah penampakan para malaikat:
      “Mengapa malaikat tidak bisa dilihat adalah suatu spekulasi (dugaan) yang tidak ada gunanya. Para malaikat sebagaimana halnya juga dengan Tuhan termasuk dalam hal-hal yang tidak kasat mata (gaib). Mungkinkah mereka bisa dilihat dengan mata jasmani? Apakah Allah Yang Maha Agung,  yang eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) diakui oleh para filosof tersebut, bisa dilihat dengan mata jasmani kita?
     Sebenarnya adalah tidak benar jika dikatakan bahwa malaikat tidak bisa dilihat dengan cara apa pun. Mereka yang memiliki wawasan batin bisa melihat malaikat dengan mata ruhani dalam kasyaf mereka yang seringkali mereka alami dalam keadaan jaga. Mereka bisa berbicara dengan para malaikat dan memperoleh banyak pengetahuan karenanya.
      Aku bersumpah demi Allah bahwa aku menceritakan yang sebenarnya jika aku mengatakan bahwa aku sering melihat malaikat dalam kasyafku dan aku diberikan amaran (penjelasan) tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu mau pun masa depan,  yang ternyata semuanya memang adalah fakta. Jadi bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa malaikat tidak bisa dilihat? Mereka jelas dapat dilihat tetapi dengan mata lainnya.
     Kalau banyak yang menertawakan hal ini, sebenarnya mereka yang memiliki wawasan batin menangis melihat kondisi umat seperti itu. Kalau saja orang-orang seperti ini mau mendekat kepadaku maka mereka akan dipuaskan melalui kasyaf. Hanya saja masalahnya mereka ini dijangkiti penyakit takabur yang tidak memungkinkan mereka datang secara rendah hati sebagai para pencari kebenaran.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 181-183, London, 1984).
     Maryam binti ‘Imran dalam kasyaf menyaksikan penampakan satu malaikat  berupa wujud seorang laki-laki yang sempurna, ketika malaikat tersebut menyampaikan kabar gembira dari Allah Swt. kepadanya mengenai kelahiran Nabi Isa ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ مَرۡیَمَ ۘ اِذِ انۡتَبَذَتۡ مِنۡ اَہۡلِہَا مَکَانًا شَرۡقِیًّا ﴿ۙ﴾  فَاتَّخَذَتۡ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ  حِجَابًا ۪۟ فَاَرۡسَلۡنَاۤ  اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا ﴿﴾  قَالَتۡ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا ﴿﴾  قَالَ  اِنَّمَاۤ  اَنَا رَسُوۡلُ رَبِّکِ ٭ۖ لِاَہَبَ لَکِ غُلٰمًا  زَکِیًّا ﴿﴾   قَالَتۡ اَنّٰی یَکُوۡنُ لِیۡ غُلٰمٌ وَّ لَمۡ یَمۡسَسۡنِیۡ  بَشَرٌ  وَّ  لَمۡ   اَکُ  بَغِیًّا ﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکِ ۚ قَالَ رَبُّکِ ہُوَ  عَلَیَّ ہَیِّنٌ ۚ وَ  لِنَجۡعَلَہٗۤ  اٰیَۃً  لِّلنَّاسِ وَ رَحۡمَۃً  مِّنَّا ۚ وَ کَانَ  اَمۡرًا مَّقۡضِیًّا ﴿﴾
Dan ceriterakanlah di dalam Kitab itu mengenai Maryam, ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,  maka ia membuat di antara mereka tabir lalu Kami  mengutus kepadanya  malaikat Kami  lalu ia menampak kepadanya berupa manusia sempurna.  Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari engkau, jika engkau bertakwa.”  Ia, malaikat, menjawab: "Sesungguhnya aku    utusan  Rabb (Tuhan) engkau supaya  aku memberikan kabar gembira kepada engkau  mengenai seorang anak laki-laki suci."   Ia, Maryam,  berkata:  Bagai­manakah akan menjadikan seorang anak laki-laki bagiku, padahal tidak ada seorang manusia menyentuhku  dan aku tidak berzina”   Ia, malaikat, berkata: "Demi-kianlah. Rabb (Tuhan engkau) ber­firman: "Itu mudah bagi-Ku, dan supaya Kami menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia serta suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah perkara yang telah di­putuskan.   (Maryam [19]:17-22).

Malaikat Sebagai Mediator Perkembangan Ruhani

      Kemudian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  fungsi para malaikat sebagai instrument pelaksanakan kehendak Allah Swt., baik di alam jasmani  mau pun ruhani  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Salah satu pertanyaan yang mencuat ialah: Mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa memerlukan malaikat-malaikat untuk mengoperasikan segala rancangan-Nya? Apakah kerajaan-Nya bergantung juga pada pegawai dan staf sebagaimana halnya pemerintahan manusia dan apakah Dia juga memerlukan bala tentara?’
     Jawaban untuk itu ialah Tuhan tidak membutuhkan apa pun, baik malaikat, bulan, bintang atau pun matahari, hanya saja Dia menginginkan bahwa kekuasaan-Nya diperlihatkan melalui mediasi (perantara) berbagai sarana agar kebijakan dan pengetahuan bisa berkembang di antara umat manusia. Jika tidak ada mediasi seperti itu maka tidak akan ada ahli astronomi, ahli phisika, ahli kedokteran atau pun ahli botani. Adalah pemanfaatan dari sarana-sarana tersebut yang memunculkan ilmu-ilmu pengetahuan di kalangan manusia.
    Jika kalian renungkan maka kalian akan menyadari bahwa menyangkal pemanfaatan malaikat sama saja dengan menyangkal pemanfaatan mentari, bulan, flora, mineral dan unsur-unsur alam lainnya. Mereka yang mempunyai wawasan batin mengetahui bahwa setiap zarah (partikel) yang ada berfungsi sejalan dengan rancangan Ilahi dimana bahkan setetes air pun yang masuk ke dalam diri kita tidak bisa menghasilkan hal yang merugikan atau menguntungkan tanpa perkenan (izin) Ilahi.
    Dengan demikian, sebenarnya semua partikel dan benda-benda langit pada realitasnya adalah sejenis malaikat yang beroperasi melayani setiap saat, sebagian melayani kebutuhan jasmani manusia dan sebagian lagi kebutuhan ruhaninya.

Para Malaikat Sebagai Mediator

     Yang Maha Bijak yang telah memilih berbagai media (sarana perantara) bagi pengembangan jasmani manusia dan menciptakan demikian banyak mediator jasmani guna mempengaruhi jasad manusia dalam berbagai cara, begitu juga Dia Yang Maha Tunggal, Yang kinerja-Nya selalu mengandung kesatuan dan simetri, telah menentukan bahwa pengembangan keruhanian manusia juga harus mengikuti sistem yang sama dengan pengembangan jasmani agar kedua sistem itu (yang eksternal mau pun yang internal, yang jasmani mau pun ruhani) melalui keseimbangan dan keselarasan di antara keduanya hanya akan mengarah kepada Satu Pencipta Yang mengatur segala sesuatu menurut kehendak-Nya.
     Hal inilah yang menjadi alasan bahwa untuk pengembangan jasmani dan ruhani manusia, ditetapkanlah para malaikat sebagai mediator. Semua mediator tersebut berada di bawah kendali Allah Swt. laiknya sebuah mesin yang dikendalikan Tangan-Nya. Mereka ini tidak mempunyai keinginan tersendiri dan juga tidak mempunyai kekuasaan kendali apa pun. Seperti halnya udara mempengaruhi tubuh kita dengan perkenan Ilahi dan keluarnya pun dengan perkenan-Nya, begitu juga halnya dengan para malaikat:
یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ
 “Mereka kerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka”  (Al-Nahl [16]:51).
   Sayang sekali Pandit Dayanand[2] menyangkal adanya sistem pendaya-gunaan malaikat ini. Kalau saja ia memiliki pengetahuan tentang sistem jasmani dan ruhani dari Tuhan, maka ia tidak akan menyangkal hal ini dan meyakini akan keluhuran ajaran Al-Quran sebagai gambaran yang benar dari sistem hukum alam.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 85-88, London, 1984).
      Firman Allah Swt. berikut ini membuktikan kebenaran sabda Masih Mau’ud a.s. berkenan fungsi dan peran para malaikat  dalam melaksanakan berbagai kehendak Allah Swt.:
وَ کَمۡ مِّنۡ مَّلَکٍ فِی السَّمٰوٰتِ لَا  تُغۡنِیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ اَنۡ یَّاۡذَنَ اللّٰہُ  لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ  یَرۡضٰی ﴿﴾
Dan berapa banyak malaikat di seluruh langit  syafaat mereka tidak akan berfaedah sedikit pun, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.  (An-Najm [53]:27).

Bekerjanya Kekuatan Alam  Dalam Perang Badar

  Di samping arti yang diberikan dalam teks  ungkapan ini berarti  “kecuali berkenaan dengan orang yang menyesuaikan diri dengan kehendak Allah Swt.   dan yang Dia ridhai.” Salah satu bentuk  persesuaian antara kehendak  manusia – khususnya para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw.  – dengan kehendak Allah Swt. adalah terjadinya mukjizat atau karamah   -- firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾   ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ  مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَعُوۡدُوۡا نَعُدۡ ۚ وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ  کَثُرَتۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ مَعَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.   Demikianlah yang terjadi, dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ --  Hai orang-orang kafir,  jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu.  Dan  jika kamu menahan diri maka lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali berbuat kejahatan, Kami pun akan kembali menghukum, dan golongan kamu walau pun banyak  tetapi tidak akan pernah  berguna  sedikit pun, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya  Allah beserta orang-orang  yang beriman.  (Al-Anfāl [8]:18-20).
  Ayat 18 menjelaskan bahwa  kemenangan  umat Islam dalam perang Badar  melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya 3 kali lipat itu sebenarnya  bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan terhadap satu lasykar yang jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih terlatih.
  Pelemparan segenggam kerikil dan pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s.:  وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- “bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar.
   Sebagaimana dalam kejadian tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya melalui perbuatan Nabi Musa a.s. itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan bagi air-pasang naik kembali sehingga membawa akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  pun   merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal  -- yang pernah disebut oleh beliau saw.   sebagai Fir’aun kaumnya -- dan lasykarnya di padang pasir itu. Dalam kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam  yang berada di bawah pengendalian para malaikat  itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi  Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt..

Yaumul-Furqan (Hari Pembeda)  Haq dan Batil

       Makna ayat 20:  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ --  Hai orang-orang kafir,  jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu” orang-orang kafir menuntut kepada Nabi Besar Muhammad saw. keputusan dari  Allah Swt.  berupa kemenangan. Kepada mereka diberitahukan bahwa keputusan Tuhan memang telah datang dalam bentuk serupa dengan apa yang diminta mereka (yaitu kemenangan lasykar Islam) dalam Perang Badar yang disebut sebagai yaumul-furqan  yakni Hari Pembeda atau Hari Pemisah  antara haq (kebenaran) dan bathil (kepalsuan – QS.8:42-45).
           Dengan demikian tewasnya secara hina Abu Jahal dan ketujuh  pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah dalam Perang Badar tersebut pada hakikatnya merupakan pengabulan  Allah Swt. atas  doa Abu Jahal sendiri, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  قَالُوا اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ ؕ اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika mereka berkata: اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ  --  “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.   Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka,  dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun.   Dan  mengapa  Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan  mereka menghalang-halangi orang-orang dari Masjidilharam, dan mereka sekali-kali bukanlah orang-orang yang berhak melindunginya?  Tidak lain  yang berhak melindunginya  melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Anfāl [8]:33-35).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 21  Mei    2016




[1] Kejadian tersebut terdapat dalam Injil Matius 21:19 dimana diungkapkan Yesus a.s.   mengutuk sebuah pohon ara karena tidak memberikan buah saat beliau sedang lapar. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Dayanand Sarasvati (nama aslinya Mula Sankara), lahir 1824, meninggal 30 Okt. 1883, diduga karena diracun. Sosok asketik agama Hindu yang mencoba menafsirkan kembali ajaran kitab suci Hindu yaitu Veda. Mendirikan gerakan Arya Samaj pada tahun 1875. (Penterjemah/Khalid  A.Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar