Selasa, 31 Mei 2016

Kesaksian "Kain Kafan" Turin Mengenai Terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari "Kematian Terkutuk" di Tiang Salib Menggagalkan "Makar Buruk" Para Pemuka Agama Yahudi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 KESAKSIAN “KAIN KAFAN”  TURIN  MENGENAI TERHINDARNYA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DARI “KEMATIAN TERKUTUK” DI TIANG SALIB        MENGGAGALKAN    MAKAR BURUK PARA PEMUKA AGAMA  YAHUDI


Bab 57

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai  makna kiasan ayat:  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?” dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾   وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾  اَلۡقِیَا فِیۡ جَہَنَّمَ  کُلَّ  کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ﴿ۙ﴾  مَّنَّاعٍ  لِّلۡخَیۡرِ  مُعۡتَدٍ  مُّرِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ مَعَ  اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ الشَّدِیۡدِ  ﴿﴾  قَالَ  قَرِیۡنُہٗ  رَبَّنَا مَاۤ  اَطۡغَیۡتُہٗ  وَ لٰکِنۡ  کَانَ  فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾  قَالَ  لَا تَخۡتَصِمُوۡا لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ اِلَیۡکُمۡ  بِالۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  مَا یُبَدَّلُ  الۡقَوۡلُ  لَدَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا بِظَلَّامٍ  لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿٪﴾  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ 
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.  Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya.  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawas. Dan sakratulmaut pasti akan datang, itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinya.  Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian.  Kami berfirman: Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini,  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  Kami berfirman: Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam Jahannam setiap pengingkar yang keras kepala. Penghalang kebaikan, pelanggar batas, peragu, yang menjadikan bersama  Allah tuhan lain, maka lemparkanlah dia oleh kamu berdua ke dalam azab yang sangat keras.” Dan  teman-teman yang menyertainya berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali bukan  aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang  dalam kesesatan yang jauh.”  Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan  sungguh Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepadamu.   Keputusan di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah   dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Ku.”  Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?”  (Qāf [50]:17-31).

Kiasan “Dialog” Allah Swt. dengan Neraka Jahannam

  Percakapan dalam ayat  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?” adalah tamsilan, dan neraka di sini diibaratkan sebagai manusia yang menghuninya,  sedangkan perkataan diletakkan pada mulutnya untuk menyatakan keadaannya dan bukan benar-benar akan berbicara, atau seolah-olah neraka itu  dapat berbicara.
      Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang tercantum dalam QS.41:12, firman-Nya:    ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ   -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”. قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ --   Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”   
  Dalam ayat tersebut  langit dan bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka seperti menaati hukum llahi dengan tulus ikhlas. Inilah salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang mempergunakan kata dan ungkapan untuk benda-benda tidak bernyawa, seperti yang dipergunakan bagi manusia.
  Contoh lainnya mengenai kiasan seperti itu adalah “dialog” antara Allah Swt. dan para malaikat  sehubungan dengan  penciptaan seorang “khalifah Allah”, yang merupakan Sunnatullāh setiap kali Allah Swt. mengutus Rasul Allah  pasti ada yang beriman kepadanya  dan ada pula yang menentangnya, yang disebut iblis,  sampai-sampai terjadi penumpahan darah  di kalangan orang-orang yang beriman sebagaimana yang “diprediksi” para malaikat (QS.2:31-33; QS.7:12-19).
   Ungkapan kiasan dalam ayat  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ   -- Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?”  pada hakikatnya mengisyaratkan kepada kemampuan manusia yang tidak berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi, dan dengan demikian ia menempuh jalan ke neraka, sebagaimana  peringatan Allah Swt. dalam   Surah Al-Balad ayat 1-21; At-Takatsur, Al-Ashr, dan  Al-Humazah  dalam Bab-bab sebelumnya, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾   حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ  ﴿٪﴾      وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari ketika   musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya  telinga merekamata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan.  Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.   Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi  bahwa telinga kamu, dan tidak pula  mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.   Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu  yang telah membinasakanmu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.”   Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak termasuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan  umat-umat  yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan  ins (manusia),  sesungguhnya mereka itu orang-orang yang  rugi. (Ha MimAs-Sajdah [41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.

Alat Perekam Canggih   Mendukung Kebenaran Al-Quran  &  Kesaksian “Kain Kafan Turin”  Mengenai Terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib

  Firman Allah Swt. tersebut didukung kebenarannya  oleh   teknologi canggih yang diciptakan    bangsa-bangsa Non-Muslim golongan jin (penganut Kapitalisme) mau pun golongan ins (penganut Sosialisme)   -- yang mendustakan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran --  tersebut, dan  mereka   merasa bangga  karena mereka telah mampu membuat alat-alat perekam canggih yang dapat merekam segala sesuatu  serta menyimpan hasil rekamannya, padahal   Al-Quran 1400 tahun sebelumnya telah terlebih dulu mengisyaratkannya  (QS.17:37;  QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23), yakni  para malaikat pencacat amal telah mencatat  semua  isi hati dan perbuatan mereka.
    Semua hasil-karya iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) mereka itu akan berbalik menjadi saksi-saksi yang mendukung kesempurnaan Al-Quran dan   menjadi saksi-saksi yang memberatkan golongan jin  penganut faham  Kapitalisme serta membatalkan ajaran  yang mereka anut bahwa dosa-dosa mereka telah ditebus oleh kematian terkutuk Yesus Kristus a.s. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.)  di tiang salib, padahal menurut Allah Swt. penyaliban yang dialami beliau  selama  3 jam tidak sampai membuatnya terbunuh, karena beliau benar-benar  seorang rasul Allah  yang diutus kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan mereka diazab karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah mem-bunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  akan tetapi ia disamarkan  kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا  --   Bahkan Allah telah meng-angkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:158-159).
        “Perekaman” tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  oleh kain kafan  -- yang disimpan di kota Turin - Italia -- yang dipakai  membungkus   tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di dalam  “kuburan” (goa), setelah  beliau diturunkan dalam keadaan mati suri (pingsan berat) dari tiang salib, kesaksian “kain kafan Turin” tersebut  membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa segala  sesuatu  di alam semesta  merupakan alat  “perekam”, sebab – sebagaimana sabda Masih Mau’ud a.s.  – semua komponen alam semesta  ada dalam pengendalian para malaikat Allah, bahkan dapat disebut sebagai para “malaikat” Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ ؕؑ وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ  فِیۡۤ   اِمَامٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami menghidupkan yang telah mati  وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ  -- dan Kami mencatat apa yang telah  mereka dahulukan serta bekas-bekas mereka, وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ  فِیۡۤ   اِمَامٍ  مُّبِیۡنٍ --   dan segala sesuatu  Kami menghitungnya dalam Kitab yang nyata. (Yā Sīn [36]:13).

Penolakan Iptek Terhadap Kepercayaan  Golongan Atheis

       Demikian pula kemajuan iptek  (ilmu pengetahuan) itu pun   akan  menjadi saksi-saksi yang memberatkan golongan ins penganut Sosialisme  yang mendustakan keberadaan Tuhan dan alam akhirat,  sebab dalam kenyataaan di dunia ini juga mereka  dimasukkan ke dalam kobaran api dan mereka tidak dapat keluar darinya sebagaimana yang diisyaratkan dalam Surah  Ar-Rahmān [55]:40-46, , firman-Nya: 
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾   حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾   
“Dan ingatlah hari ketika   musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga merekamata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan.”  
وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.”
 وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
“Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi  bahwa telinga kamu, dan tidak pula  mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu  yang telah membinasakanmu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.”
فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ
“Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak termasuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya.”
وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
“Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan  umat-umat  yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan  ins (manusia),  sesungguhnya mereka itu orang-orang yang  rugi.”

Akibat Buruk Perlombaan Tidak Sehat Memperbanyak  Kekayaan Duniawi

  Kembali kepada Surah Ar-Rahmān ayat 34-46,   nampaknya ayat-ayat tersebut mengisyaratkan kepada keadaan resah yang akan mencekam umat manusia ketika bila kedua blok besar golongan jin dan ins tersebut di atas berhadap-hadapan, dan  juga mengisyaratkan kepada kekhawatiran akan terjadi peperangan nuklir yang laksana pedang algojo dalam keadaan terhunus di atas kepala mereka.
 Pengelompokan negara-negara dan ketegangan-ketegangan internasional dewasa ini yang berlomba-lomba dalam persaingan duniawi tersebut, niscaya akan menjurus kepada suatu bentrokan senjata,  yang akan menimbulkan  akibat  buruk yang akan tiada tara bandingnya.
  Bentrokan itu sendiri akan benar-benar merupakan suatu neraka, tetapi persiapan-persiapan untuk bertarung di antara kedua blok besar   itu  sendiri menimbulkan keadaan-keadaan yang tidak kurang dari siksaan lahir maupun batin yang abadi dalam satu atau lain bentuk.
 Menurut Allah Swt. ketegangan internasional   itu pun pasa hakikatnya  merupakan bagian dari kobaran  “api neraka” sebagai akibat perlombaan  tidak sehat dalam mencari kekuasaan dan kekayaan duniawi, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾   حَتّٰی زُرۡتُمُ  الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾   کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾  ثُمَّ  کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾  کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾   لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾   ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾  ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang   اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ  --   Dalam  upaya memperbanyak kekayaan   telah melalaikan kamu, حَتّٰی زُرۡتُمُ  الۡمَقَابِرَ  -- hingga kamu sampai di kuburan. کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ --  Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui, ثُمَّ  کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ ُ -- kemudian, sekali-kali tidak demikian, segera kamu akan mengetahui.  کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ  --   Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin  لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  -- niscaya kamu akan melihat Jahannam, ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ --   kemudian kamu niscaya  akan melihatnya  dengan mata yakin.  ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ --  Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan. (At-Takatsur  [102]:1-9).
   Makna ayat     اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ  --    “Dalam  upaya memperbanyak kekayaan   telah melalaikan kamu” mengisyaratkan  dan memperingatkan mengenai   ketamakan dan hasrat berlebihan pada manusia untuk mengungguli orang lain dalam jumlah kekayaan, kedudukan dan gengsi, bahwa semua itu  merupakan penyebab utama segala kesulitan manusia dalam kehidupan di dunia dan merupakan penyebab kelalaian manusia terhadap nilai-nilai hidup yang lebih tinggi sebagaimana tujuan utama penciptaan manusia di dunia ini yakni untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).

Penyesalan yang Terlambat & Makna “Rantai Pengikat” Sepanjang 70 Hasta

  Merupakan kemalangan manusia yang sangat besar bahwa nafsunya untuk memperoleh barang-barang duniawi tidak mengenal batas dan tidak menyisihkan waktu sedikit pun untuk memikirkan Allah Swt.  --  Tuhan Pencipta  alam semesta dan alam akhirat  -- yang kepada-Nya mereka akan kembali dan harus  mempertanggungjawaban amal perbuatannya di alam akhirat.
  Umumnya  manusia tetap asyik dengan hal-hal tersebut, hingga maut (kematian) merenggutnya, dan baru pada saat itulah  manusia menyadari  serta menyesali bahwa ia telah menyia-nyiakan hidupnya yang sangat berharga dalam mengejar-ngejar sesuatu yang tiada gunanya itu, sehingga mengenai akibatnya Allah Swt. berfirman:
 وَ اَمَّا مَنۡ  اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ  لَمۡ  اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ  ﴿ۚ﴾ وَ  لَمۡ  اَدۡرِ  مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾  یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾   ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾   خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾   ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾   اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾  فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾   وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾   لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Dan barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kirinya, فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ  لَمۡ  اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ   --   maka ia berkata: “Aduhai  kiranya aku tidak diberi kitabku,  وَ  لَمۡ  اَدۡرِ  مَا حِسَابِیَہۡ   --  dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku ituیٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ --    Aduhai  sekiranya kematianku mengakhiri hidupku!  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ  -- Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartakuہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ   -- Hilang lenyap dariku kekuasaanku.” Dia berfirman,  خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ  --  Tangkaplah dia dan belenggulah dia, ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ --   kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ --  lalu ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta   اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ  --  Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar,  وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ --   dan ia tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin. فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ --  Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana seorang sahabat karib. وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ  --  Dan tidak ada makanan kecuali bekas  cucian luka.  لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ -- Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
   Seseorang diberikan rekaman amalnyanya di dalam tangan kirinya adalah istilah (kiasan) yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan dalam ujian, atau mengisyaratkan sikap tidak peduli  orang-orang kafir terhadap perintah atau pun larangan Allah Swt., sehingga di akhirat Allah Swt. pun   akan memperlakukan mereka dengan sikap yang sama (QS.7:52; QS.9:67 &127;  QS.45:35-36; QS.59:20; QS.61:6).

Manusia   Menganiaya Dirinya Sendiri

  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah Allah Swt.  telah menyatakan bahwa pada hakikatnya yang menghukum manusia  terhadap berbagai pelangaran atau dosa yang dilakukannya  bukan Allah Swt. melainkan  diri manusia sendiri yang menzalimi (menganiaya) dirinya, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَظۡلِمُ النَّاسَ شَیۡئًا وَّ لٰکِنَّ النَّاسَ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Allah tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.  (Yunus [10]:45). Lihat pula QS.4:41; QS.9:70; QS.18:50; QS.30:10.
      Ucapan orang-orang kafir di dalam neraka di   akhirat: یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ  -- Aduhai  sekiranya kematianku mengakhiri hidupku!  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ    --   Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku. ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ  --  Hilang lenyap dariku kekuasaanku.” (Al-Hāqqah [69]:28-30), mengambarkan bagaimana hebatnya penderitaan   yang dialami  para penghuni neraka  sehingga  mereka menginginkan agar kematian    -- sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan di dunia --  agar dapat mengakhiri penderitaan mereka, tetapi di alam akhirat manusia tidak akan mengalami lagi keadaan pingsan mau pun kematian  dan para penghuni neraka harus merasakan sakitnya proses rehabilitasi  dalam neraka jahanam  yang tidak tertahankan tersebut, firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُجۡرِمِیۡنَ فِیۡ عَذَابِ جَہَنَّمَ خٰلِدُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾  لَا یُفَتَّرُ عَنۡہُمۡ  وَ ہُمۡ فِیۡہِ مُبۡلِسُوۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ مَا ظَلَمۡنٰہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡا ہُمُ الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾   وَ نَادَوۡا یٰمٰلِکُ لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ  اِنَّکُمۡ   مّٰکِثُوۡنَ ﴿﴾  لَقَدۡ جِئۡنٰکُمۡ بِالۡحَقِّ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَکُمۡ  لِلۡحَقِّ  کٰرِہُوۡنَ ﴿﴾ اَمۡ  اَبۡرَمُوۡۤا  اَمۡرًا فَاِنَّا مُبۡرِمُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa itu di dalam azab Jahannam akan kekal. Tidak akan diringankan azab dari mereka dan mereka di dalamnya akan berputus-asa.   Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim terhadap mereka  tetapi mereka sendirilah orang-orang zalim. وَ نَادَوۡا یٰمٰلِکُ لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ  اِنَّکُمۡ   مّٰکِثُوۡنَ  --   Dan mereka akan berseru: "Hai Malik,  biarlah Rabb (Tuhan) engkau mematikan kami." Ia berkata: "Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal."   Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami membawa kepadamu kebenaran, akan tetapi kebanyakan kamu membenci kebenaran itu." (Az-Zukhruf [43]:75-79).
   Mālik  dalam ayat وَ نَادَوۡا یٰمٰلِکُ لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ  اِنَّکُمۡ   مّٰکِثُوۡنَ  --   Dan mereka akan berseru: "Hai Malik,  biarlah Rabb (Tuhan) engkau mematikan kami,"     berarti majikan, umumnya dianggap malaikat penjaga neraka,   dan  malaikat penjaga neraka itu  akan menjawab:  قَالَ  اِنَّکُمۡ   مّٰکِثُوۡنَ    -- Ia berkata: "Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal."   
        Kembali kepada Surah At-Takatsur,  setelah Allah Swt. berfirman:    اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ  --    Dalam  upaya memperbanyak kekayaan   telah melalaikan kamu, حَتّٰی زُرۡتُمُ  الۡمَقَابِرَ  -- hingga kamu sampai di kuburan,”   ayat 2-3, dalam selanjutnya Allah Swt. berfirman sebanyak 3 kali dalam nada menjawab  berbagai helah atau sanggahan  atau  yang dikemukakan orang-orang yang diperingatkan dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:  کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ --  Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui, ثُمَّ  کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ ُ -- kemudian, sekali-kali tidak demikian, segera kamu akan mengetahui.  کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ   --   Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  --     Niscaya kamu akan melihat Ja-hannam,   ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ --   Kemudian kamu niscaya  akan melihatnya  dengan mata yakin. ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ  --  Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan. (At-Takatsur  [102]:1-9).
        Pernyataan Allah Swt. menggunakan kata kallā  (sekali-kali tidak) sebanyak 3 kali menyatakan bahwa    dalam   pengetahuan-Nya yang sempurna  apa pun  helah dan alasan   yang dikemukakan  para pecinta kehidupan duniawi dalam upayanya memperbanyak kekuasaan dan harta kekayaan duniawi  sama sekali tidak benar, sebab dalam kenyataan  mereka di alam akhirat   akan menyesalinya, sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Haqqah  dan surah Az-Zukhruf,, firman-Nya:
 وَ اَمَّا مَنۡ  اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ  لَمۡ  اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ  ﴿ۚ﴾ وَ  لَمۡ  اَدۡرِ  مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾  یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾   ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾  
Tetapi barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kirinya,  maka ia berkata: “Aduhai  kiranya aku tidak diberi kitabku,         dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku itu.  یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- Aduhai  sekiranya kematianku mengakhiri hidupku!  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ -- Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku. ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ  --  Hilang lenyap dariku kekuasaanku.” (Al-Hāqqah [69]:26-30).
  Jadi, orang-orang kafir para pecinta duniawi tersebut akan mengharapkan bahwa kematian akan menyudahi segala sesuatu sehingga tidak bakal ada kehidupan lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah Swt..  Menangggapi penyesalan para pencinta duniawi tersebut Allah Swt. berfirman:
خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾   ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾   اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾  فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾   وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾   لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
 Dia berfirman, خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ  --         Tangkaplah dia dan belenggulah dia, ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ  -- kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ --   lalu ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta   اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ   -- Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ --  dan ia tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.  فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ --  Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana seorang sahabat karib. وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ  --   Dan tidak ada makanan kecuali bekas  cucian luka. لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ  --  Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
   Berulang-ulang telah diterangkan di dalam Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati bukan kehidupan baru, melainkan hanya merupakan citra (gambaran) dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan dunia sekarang telah ditampilkan sebagai siksaan “jasmani”  atau siksaan yang nyata di akhirat.
Rantai yang akan dikalungkan sekeliling leher menampilkan hasrat-hasrat duniawi, dan hasrat-hasrat itulah yang akan mengambil bentuk belenggu di akhirat. Demikian pula keterikatan pada kehidupan dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak seperti lidah api yang menjulur-julur.
  Makna rantai sepanjang  70 hasta  mengisyaratkam kepada batas umur manusia pada umumnya  dapat ditetapkan 70 tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan ajakan hawa nafsunya. Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat  rantai nafsu yang selama 70 tahun ia bergelimang di dalamnya  akan diwujudkan dalam bentuk rantai sepanjang 70 hasta, setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu.
  Pengulangan ayat  کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ --  Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui” ini bertujuan menambahkan tekanan pada dan membuat lebih ampuh peringatan yang terkandung dalam Surah At-Takatsur. Atau, Surah  At-Takatsur ini dapat ditujukan kepada pembalasan yang akan datang di belakang kesibukan manusia, yang secara membabi-buta berusaha memperoleh barang-barang duniawi di dalam kehidupan ini.
  Makna ayat: کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ   --   Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  --     Niscaya kamu akan melihat Ja-hannam”,  bahwa seandainya manusia mempergunakan akal sehatnya dan mempergunakan ilmu yang dimilikinya, niscaya  ia akan melihat neraka Jahannam sungguh-sungguh menganga di hadapan matanya sendiri di dunia ini juga, yaitu ia akan mengetahui bahwa kesibukannya dalam mengejar kebesaran, kemegahan, dan keuntungan kebendaan dalam kehidupan  di dunia yang  sementara ini menyebabkan kehancuran total akhlaknya.
  Surah At-Takatsur ayat-ayat 5-8 tidak meninggalkan syak sekelumit pun mengenai awal kehidupan neraka  di dalam dunia ini juga, sedangkan neraka di akhirat itu sebenamya disediakan di dunia ini, yang tersembunyi dari mata manusia tetapi dapat dikenal, dengan perantaraan ‘ilmulyaqin  oleh mereka yang merenungkannya:
  Jadi, ayat-ayat  tersebut menggambarkan tiga tingkat keyakinan manusia bertalian dengan neraka, yaitu:
  (1) ’ilmulyaqin atau keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu dengan mengambil kesimpulan;
 (2) ‘ainulyaqin yaitu keyakinan dengan perantaraan atau berdasarkan penglihatan;  
   (3) haqqulyaqin, yaitu keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri.
   ‘Ilmulyaqin dapat diperoleh di dunia ini juga, dengan mengambil kesimpulan oleh mereka yang merenungkan dan menekuni hakikat kejahatan (QS.3:191-193), namun sesudah mati ia akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri, sedang pada Hari Kebangkitan ia akan menghayati sepenuhnya haqqulyaqin dengan benar-benar mengalami setelah masuk ke dalam neraka: ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ  -- “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan.”

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 29  Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar