Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
KESAKSIAN
“KAIN KAFAN” TURIN MENGENAI TERHINDARNYA
NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DARI “KEMATIAN
TERKUTUK” DI TIANG SALIB MENGGAGALKAN MAKAR BURUK PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI
Bab 57
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
makna kiasan ayat: یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:
“Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: “Apakah
masih ada tambahan lagi?” dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ
نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ نَفۡسُہٗ ۚۖ
وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾ اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ
الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾ مَا
یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ
رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾ وَ
جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ
ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ تَحِیۡدُ ﴿﴾ وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾ وَ
جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ لَقَدۡ
کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا
فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾ وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ ہٰذَا
مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اَلۡقِیَا
فِیۡ جَہَنَّمَ کُلَّ کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ﴿ۙ﴾ مَّنَّاعٍ لِّلۡخَیۡرِ
مُعۡتَدٍ مُّرِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ جَعَلَ مَعَ
اللّٰہِ اِلٰـہًا اٰخَرَ
فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ الشَّدِیۡدِ
﴿﴾ قَالَ قَرِیۡنُہٗ
رَبَّنَا مَاۤ اَطۡغَیۡتُہٗ وَ لٰکِنۡ
کَانَ فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ قَالَ لَا تَخۡتَصِمُوۡا
لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ اِلَیۡکُمۡ
بِالۡوَعِیۡدِ ﴿﴾ مَا
یُبَدَّلُ الۡقَوۡلُ لَدَیَّ وَ مَاۤ اَنَا بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿٪﴾ یَوۡمَ
نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
menciptakan manusia dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya. Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan
di sebelah kirinya. Ia tidak
mengucapkan sepatah kata pun melainkan di dekatnya sudah siap pengawas.
Dan sakratulmaut pasti akan datang,
itulah apa yang engkau selalu menghindar darinya. Dan nafiri
akan ditiup, itulah Hari azab
yang dijanjikan. Dan datang setiap
jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. Kami berfirman: “Sungguh
dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini, maka Kami singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat
tajam.” Dan teman yang
menyertainya berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan
amal engkau.” Kami berfirman: “Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam
Jahannam setiap pengingkar yang
keras kepala. Penghalang
kebaikan, pelanggar batas, peragu, yang menjadikan bersama Allah tuhan
lain, maka lemparkanlah dia oleh
kamu berdua ke dalam azab yang sangat keras.” Dan teman-teman
yang menyertainya berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali bukan aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang dalam kesesatan yang jauh.” Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan sungguh
Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepadamu. Keputusan
di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah
dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap
hamba-hamba-Ku.” Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam
itu akan menjawab: “Apakah masih ada tambahan lagi?” (Qāf [50]:17-31).
Kiasan “Dialog” Allah Swt.
dengan Neraka Jahannam
Percakapan dalam ayat یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:
“Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: “Apakah
masih ada tambahan lagi?” adalah tamsilan,
dan neraka di sini diibaratkan
sebagai manusia yang menghuninya, sedangkan perkataan
diletakkan pada mulutnya untuk
menyatakan keadaannya dan bukan
benar-benar akan berbicara, atau
seolah-olah neraka itu dapat
berbicara.
Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang
tercantum dalam QS.41:12, firman-Nya: ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan
kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela
atau pun terpaksa”. قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.”
Dalam ayat tersebut langit
dan bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka seperti menaati hukum
llahi dengan tulus ikhlas. Inilah
salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang
mempergunakan kata dan ungkapan untuk
benda-benda tidak bernyawa, seperti
yang dipergunakan bagi manusia.
Contoh
lainnya mengenai kiasan seperti itu
adalah “dialog” antara Allah Swt. dan para malaikat sehubungan
dengan penciptaan seorang “khalifah Allah”, yang merupakan Sunnatullāh setiap kali Allah Swt.
mengutus Rasul Allah pasti ada yang beriman kepadanya dan ada
pula yang menentangnya, yang disebut iblis,
sampai-sampai terjadi penumpahan
darah di kalangan orang-orang yang beriman sebagaimana
yang “diprediksi” para malaikat (QS.2:31-33;
QS.7:12-19).
Ungkapan kiasan dalam ayat یَوۡمَ نَقُوۡلُ
لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:
“Apakah engkau sudah penuh?” وَ تَقُوۡلُ
ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- Dan Jahannam
itu akan menjawab: “Apakah masih ada tambahan lagi?” pada hakikatnya mengisyaratkan kepada kemampuan manusia yang tidak berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan
duniawi, dan dengan demikian ia menempuh jalan ke neraka, sebagaimana peringatan Allah Swt. dalam Surah Al-Balad
ayat 1-21; At-Takatsur, Al-Ashr, dan Al-Humazah
dalam Bab-bab sebelumnya,
firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ اللّٰہِ
اِلَی النَّارِ فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ
سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ
لِمَ شَہِدۡتُّمۡ عَلَیۡنَا ؕ
قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ
الَّذِیۡۤ اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ
وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ
سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا
جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ اَنَّ
اللّٰہَ لَا یَعۡلَمُ کَثِیۡرًا
مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ
یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ
اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ
قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ
عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari ketika musuh-musuh
Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka
akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai
kepadanya telinga
mereka, mata mereka, dan kulit
mereka menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ”Mengapa
kamu memberi
kesaksian terhadap kami?” Kulit
mereka akan menjawab: ”Allah-lah
Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan
kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi bahwa telinga
kamu, dan tidak pula mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah
tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah
sangkaanmu yang kamu sangkakan
kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah
membinasakanmu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” Lalu jika mereka bersabar maka Api
tempat-tinggal bagi mereka, dan jika
mereka mengemukakan alasan maka sekali-kali mereka tidak termasuk
orang-orang yang
diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan umat-umat
yang telah berlalu
sebelum mereka dari jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.
Alat Perekam Canggih Mendukung Kebenaran Al-Quran & Kesaksian “Kain
Kafan Turin” Mengenai Terhindarnya
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kematian
Terkutuk di Tiang Salib
Firman Allah Swt. tersebut didukung kebenarannya oleh teknologi canggih yang diciptakan bangsa-bangsa Non-Muslim golongan jin
(penganut Kapitalisme) mau pun
golongan ins (penganut Sosialisme) -- yang mendustakan
Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran -- tersebut, dan
mereka merasa bangga
karena mereka telah mampu
membuat alat-alat perekam canggih
yang dapat merekam segala sesuatu serta menyimpan hasil rekamannya, padahal Al-Quran 1400 tahun sebelumnya telah
terlebih dulu mengisyaratkannya (QS.17:37; QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23), yakni para malaikat
pencacat amal telah mencatat semua isi hati dan perbuatan mereka.
Semua hasil-karya
iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi) mereka itu akan berbalik menjadi
saksi-saksi yang mendukung kesempurnaan Al-Quran
dan menjadi saksi-saksi yang memberatkan
golongan jin penganut faham
Kapitalisme serta membatalkan ajaran yang mereka anut bahwa dosa-dosa mereka telah ditebus
oleh kematian terkutuk Yesus Kristus a.s.
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) di tiang
salib, padahal menurut Allah Swt. penyaliban
yang dialami beliau selama 3 jam
tidak sampai membuatnya terbunuh,
karena beliau benar-benar seorang rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿﴾ۙ بَلۡ
رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan mereka
diazab karena ucapan mereka: “Sesungguhnya
kami telah mem-bunuh Al-Masih, Isa
Ibnu Maryam, Rasul Allah,”
padahal mereka tidak membunuhnya secara
biasa dan tidak pula mematikannya
melalui penyaliban, akan
tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini
niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,
mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai ini
melainkan menuruti dugaan belaka
dan mereka tidak yakin telah membunuhnya بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah meng-angkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:158-159).
“Perekaman” tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. oleh kain kafan
-- yang disimpan di kota Turin - Italia -- yang dipakai membungkus tubuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di
dalam “kuburan” (goa), setelah
beliau diturunkan dalam keadaan mati
suri (pingsan berat) dari tiang salib,
kesaksian “kain kafan Turin”
tersebut membuktikan kebenaran
pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa segala sesuatu
di alam semesta merupakan alat “perekam”,
sebab – sebagaimana sabda Masih Mau’ud
a.s. – semua komponen alam semesta ada
dalam pengendalian para malaikat Allah, bahkan dapat disebut
sebagai para “malaikat” Allah Swt.,
firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ ؕؑ وَ کُلَّ شَیۡءٍ
اَحۡصَیۡنٰہُ فِیۡۤ اِمَامٍ
مُّبِیۡنٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami menghidupkan yang telah mati وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ -- dan Kami
mencatat apa yang telah mereka dahulukan
serta bekas-bekas mereka, وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ فِیۡۤ
اِمَامٍ مُّبِیۡنٍ -- dan segala sesuatu Kami menghitungnya
dalam Kitab yang nyata. (Yā Sīn [36]:13).
Penolakan Iptek Terhadap Kepercayaan
Golongan Atheis
Demikian pula kemajuan iptek (ilmu pengetahuan) itu
pun akan
menjadi saksi-saksi yang memberatkan golongan ins penganut Sosialisme yang mendustakan keberadaan Tuhan dan alam akhirat, sebab dalam
kenyataaan di dunia ini juga
mereka dimasukkan ke dalam kobaran api dan mereka tidak dapat keluar darinya sebagaimana
yang diisyaratkan dalam Surah Ar-Rahmān
[55]:40-46, , firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ اللّٰہِ
اِلَی النَّارِ فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ
سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
“Dan ingatlah
hari ketika musuh-musuh
Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka
akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga
mereka, mata mereka, dan kulit
mereka menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan.”
وَ قَالُوۡا
لِجُلُوۡدِہِمۡ لِمَ شَہِدۡتُّمۡ عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا
اللّٰہُ الَّذِیۡۤ اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
خَلَقَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ”Mengapa kamu memberi kesaksian terhadap kami?”
Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah
Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan
kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.”
وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ
سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا
جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ اَنَّ
اللّٰہَ لَا یَعۡلَمُ کَثِیۡرًا
مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
“Dan
kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi
bahwa telinga kamu, dan tidak pula
mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah
tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah
sangkaanmu yang kamu sangkakan
kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah
membinasakanmu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.”
فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی
لَّہُمۡ ۚ وَ اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا
ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ
“Lalu jika mereka bersabar maka Api tempat-tinggal bagi mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan maka sekali-kali
mereka tidak termasuk orang-orang yang diterima alasan-alasannya.”
وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ
فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
“Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan umat-umat
yang telah berlalu
sebelum mereka dari jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi.”
Akibat Buruk
Perlombaan Tidak Sehat Memperbanyak Kekayaan
Duniawi
Kembali
kepada Surah Ar-Rahmān ayat 34-46, nampaknya
ayat-ayat tersebut mengisyaratkan
kepada keadaan resah yang akan mencekam umat manusia ketika bila kedua blok besar golongan jin dan ins tersebut di
atas berhadap-hadapan, dan juga mengisyaratkan kepada kekhawatiran akan terjadi peperangan nuklir yang laksana pedang algojo dalam keadaan terhunus di atas kepala mereka.
Pengelompokan negara-negara dan ketegangan-ketegangan internasional dewasa ini yang berlomba-lomba
dalam persaingan duniawi tersebut,
niscaya akan menjurus kepada suatu bentrokan senjata, yang akan menimbulkan akibat buruk yang akan tiada tara bandingnya.
Bentrokan
itu sendiri akan benar-benar merupakan suatu neraka, tetapi persiapan-persiapan
untuk bertarung di antara kedua blok besar itu sendiri
menimbulkan keadaan-keadaan yang
tidak kurang dari siksaan lahir
maupun batin yang abadi dalam satu atau lain bentuk.
Menurut Allah Swt. ketegangan internasional itu pun pasa hakikatnya merupakan bagian
dari kobaran “api neraka” sebagai akibat perlombaan
tidak
sehat dalam mencari kekuasaan dan
kekayaan duniawi, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾ حَتّٰی
زُرۡتُمُ الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾ کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾ کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾ لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ
لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾ ثُمَّ
لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ -- Dalam upaya
memperbanyak kekayaan telah
melalaikan kamu, حَتّٰی
زُرۡتُمُ الۡمَقَابِرَ -- hingga kamu
sampai di kuburan. کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, segera kamu akan
mengetahui, ثُمَّ کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ ُ -- kemudian, sekali-kali
tidak demikian, segera kamu akan
mengetahui. کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ
الۡیَقِیۡنِ -- Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ -- niscaya kamu akan melihat Jahannam, ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ -- kemudian
kamu niscaya akan melihatnya dengan mata
yakin. ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ
النَّعِیۡمِ -- Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya mengenai kenikmatan.
(At-Takatsur [102]:1-9).
Makna
ayat اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ -- “Dalam
upaya memperbanyak kekayaan
telah melalaikan kamu” mengisyaratkan dan memperingatkan mengenai ketamakan
dan hasrat berlebihan pada manusia
untuk mengungguli orang lain dalam jumlah kekayaan, kedudukan dan gengsi,
bahwa semua itu merupakan penyebab utama segala kesulitan manusia dalam kehidupan di dunia dan merupakan penyebab
kelalaian manusia terhadap nilai-nilai
hidup yang lebih tinggi sebagaimana tujuan
utama penciptaan manusia di dunia ini yakni untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
Penyesalan yang Terlambat & Makna “Rantai Pengikat” Sepanjang 70 Hasta
Merupakan kemalangan
manusia yang sangat besar bahwa nafsunya untuk memperoleh barang-barang duniawi tidak mengenal batas dan tidak menyisihkan waktu sedikit pun untuk memikirkan Allah Swt. -- Tuhan Pencipta alam semesta dan alam akhirat -- yang kepada-Nya mereka akan kembali dan harus mempertanggungjawaban amal perbuatannya di alam akhirat.
Umumnya manusia tetap asyik dengan hal-hal tersebut, hingga maut (kematian) merenggutnya,
dan baru pada saat itulah manusia menyadari serta menyesali
bahwa ia telah menyia-nyiakan hidupnya
yang sangat berharga dalam mengejar-ngejar sesuatu yang tiada gunanya itu, sehingga mengenai akibatnya Allah Swt. berfirman:
وَ اَمَّا مَنۡ اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ
یٰلَیۡتَنِیۡ لَمۡ اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ ﴿ۚ﴾ وَ لَمۡ
اَدۡرِ مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾ یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ
اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾ ہَلَکَ عَنِّیۡ سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾ خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ الۡجَحِیۡمَ
صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ
لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾ فَلَیۡسَ
لَہُ الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ وَّ لَا طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَاۡکُلُہٗۤ اِلَّا
الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Dan barangsiapa diberikan
kitabnya di tangan kirinya, فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ لَمۡ
اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ -- maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi
kitabku, وَ لَمۡ
اَدۡرِ مَا حِسَابِیَہۡ -- dan aku
tidak mengetahui apa perhitunganku itu.
یٰلَیۡتَہَا
کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- Aduhai
sekiranya kematianku mengakhiri
hidupku! مَاۤ اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ -- Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku. ہَلَکَ عَنِّیۡ سُلۡطٰنِیَہۡ -- Hilang
lenyap dariku kekuasaanku.” Dia
berfirman, خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ -- “Tangkaplah dia dan belenggulah
dia, ثُمَّ الۡجَحِیۡمَ
صَلُّوۡہُ -- kemudian
masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ -- lalu ikatlah
dia dengan rantai yang panjangnya
tujuh puluh hasta. اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ -- Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang
Maha Besar, وَّ لَا طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ -- dan ia
tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin. فَلَیۡسَ لَہُ الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ -- Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana
seorang sahabat karib. وَّ لَا طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ -- Dan tidak ada makanan kecuali bekas cucian luka. لَّا
یَاۡکُلُہٗۤ اِلَّا
الۡخَاطِـُٔوۡنَ -- Tidak
ada yang memakannya kecuali orang-orang
berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
Seseorang diberikan rekaman amalnyanya di dalam tangan
kirinya adalah istilah (kiasan) yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan
dalam ujian, atau mengisyaratkan sikap tidak peduli orang-orang kafir terhadap perintah
atau pun larangan Allah Swt.,
sehingga di akhirat Allah Swt. pun akan memperlakukan mereka dengan sikap yang sama (QS.7:52; QS.9:67 &127; QS.45:35-36; QS.59:20; QS.61:6).
Manusia Menganiaya
Dirinya Sendiri
Mengisyaratkan kepada
kenyataan itulah Allah Swt. telah
menyatakan bahwa pada hakikatnya yang
menghukum manusia terhadap berbagai pelangaran atau dosa yang
dilakukannya bukan Allah Swt.
melainkan diri manusia sendiri yang menzalimi
(menganiaya) dirinya, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَظۡلِمُ
النَّاسَ شَیۡئًا وَّ لٰکِنَّ النَّاسَ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Allah tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah
yang berbuat zalim terhadap dirinya
sendiri. (Yunus [10]:45). Lihat
pula QS.4:41; QS.9:70; QS.18:50; QS.30:10.
Ucapan orang-orang kafir di dalam neraka
di akhirat:
یٰلَیۡتَہَا
کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- Aduhai
sekiranya kematianku mengakhiri
hidupku! مَاۤ اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ -- Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku.
ہَلَکَ
عَنِّیۡ سُلۡطٰنِیَہۡ -- Hilang
lenyap dariku kekuasaanku.” (Al-Hāqqah
[69]:28-30), mengambarkan bagaimana hebatnya penderitaan yang
dialami para penghuni neraka
sehingga mereka menginginkan agar kematian -- sebagaimana
yang terjadi dalam kehidupan di dunia
-- agar dapat mengakhiri penderitaan mereka, tetapi di alam akhirat manusia tidak akan mengalami
lagi keadaan pingsan mau pun kematian dan para penghuni neraka harus merasakan sakitnya proses rehabilitasi dalam neraka jahanam yang tidak tertahankan
tersebut, firman-Nya:
اِنَّ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ فِیۡ عَذَابِ جَہَنَّمَ خٰلِدُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾ لَا یُفَتَّرُ عَنۡہُمۡ وَ
ہُمۡ فِیۡہِ مُبۡلِسُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ
مَا ظَلَمۡنٰہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡا ہُمُ الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾ وَ
نَادَوۡا یٰمٰلِکُ لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ اِنَّکُمۡ
مّٰکِثُوۡنَ ﴿﴾ لَقَدۡ
جِئۡنٰکُمۡ بِالۡحَقِّ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَکُمۡ لِلۡحَقِّ کٰرِہُوۡنَ ﴿﴾ اَمۡ اَبۡرَمُوۡۤا
اَمۡرًا فَاِنَّا مُبۡرِمُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa itu di dalam
azab Jahannam akan kekal. Tidak
akan diringankan azab dari mereka dan mereka di dalamnya akan berputus-asa. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim
terhadap mereka tetapi mereka sendirilah orang-orang zalim. وَ نَادَوۡا یٰمٰلِکُ
لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ
اِنَّکُمۡ مّٰکِثُوۡنَ -- Dan
mereka akan berseru: "Hai Malik,
biarlah Rabb (Tuhan) engkau mematikan
kami." Ia berkata: "Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal." Allah
berfirman: "Sesungguhnya Kami
membawa kepadamu kebenaran, akan tetapi kebanyakan kamu membenci kebenaran itu." (Az-Zukhruf [43]:75-79).
Mālik dalam ayat وَ نَادَوۡا یٰمٰلِکُ
لِیَقۡضِ عَلَیۡنَا رَبُّکَ ؕ قَالَ
اِنَّکُمۡ مّٰکِثُوۡنَ -- Dan
mereka akan berseru: "Hai Malik,
biarlah Rabb (Tuhan) engkau mematikan
kami," berarti majikan,
umumnya dianggap malaikat penjaga neraka,
dan malaikat penjaga neraka itu akan menjawab:
قَالَ اِنَّکُمۡ
مّٰکِثُوۡنَ -- Ia
berkata: "Sesungguhnya kamu akan
tetap tinggal."
Kembali kepada Surah At-Takatsur, setelah Allah
Swt. berfirman: اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ -- Dalam
upaya memperbanyak kekayaan
telah melalaikan kamu, حَتّٰی زُرۡتُمُ
الۡمَقَابِرَ -- hingga kamu sampai di kuburan,” ayat 2-3, dalam selanjutnya Allah Swt.
berfirman sebanyak 3 kali dalam nada menjawab berbagai
helah atau sanggahan atau yang dikemukakan orang-orang yang diperingatkan
dalam ayat sebelumnya, firman-Nya: کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, segera kamu
akan mengetahui, ثُمَّ کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ ُ -- kemudian, sekali-kali
tidak demikian, segera kamu akan
mengetahui. کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ
الۡیَقِیۡنِ -- Sekali-kali
tidak! Jika kamu mengetahui hakikat
itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ
الۡجَحِیۡمَ -- Niscaya kamu
akan melihat Ja-hannam, ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ -- Kemudian kamu
niscaya akan melihatnya dengan mata
yakin. ثُمَّ
لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ
-- Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya
mengenai kenikmatan. (At-Takatsur [102]:1-9).
Pernyataan Allah Swt. menggunakan kata kallā (sekali-kali tidak) sebanyak 3 kali menyatakan
bahwa dalam pengetahuan-Nya
yang sempurna apa pun
helah dan alasan yang dikemukakan para pecinta
kehidupan duniawi dalam upayanya
memperbanyak kekuasaan dan harta kekayaan duniawi sama sekali tidak benar, sebab dalam kenyataan mereka di alam akhirat akan menyesalinya,
sebagaimana dikemukakan dalam surah Al-Haqqah dan surah Az-Zukhruf,,
firman-Nya:
وَ اَمَّا مَنۡ
اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ لَمۡ
اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ ﴿ۚ﴾ وَ
لَمۡ اَدۡرِ مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾ یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ
اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾ ہَلَکَ عَنِّیۡ سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾
Tetapi barangsiapa
diberikan kitabnya di tangan kirinya, maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi
kitabku, dan aku
tidak mengetahui apa perhitunganku itu. یٰلَیۡتَہَا
کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- Aduhai
sekiranya kematianku mengakhiri
hidupku! مَاۤ اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ -- Sekali-kali
tidak bermanfaat bagiku hartaku. ہَلَکَ عَنِّیۡ سُلۡطٰنِیَہۡ -- Hilang
lenyap dariku kekuasaanku.” (Al-Hāqqah
[69]:26-30).
Jadi, orang-orang
kafir para pecinta duniawi
tersebut akan mengharapkan bahwa kematian
akan menyudahi segala sesuatu sehingga tidak bakal ada kehidupan lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban mempertanggung-jawabkan
perbuatan mereka di hadapan Allah Swt.. Menangggapi penyesalan para pencinta
duniawi tersebut Allah Swt. berfirman:
خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ فِیۡ
سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾ فَلَیۡسَ لَہُ
الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ وَّ لَا طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَاۡکُلُہٗۤ اِلَّا
الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Dia berfirman, خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ -- “Tangkaplah dia dan belenggulah
dia, ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ -- kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ -- lalu
ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ -- Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ -- dan ia
tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin. فَلَیۡسَ
لَہُ الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ -- Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana
seorang sahabat karib. وَّ لَا طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ
غِسۡلِیۡنٍ -- Dan tidak
ada makanan kecuali bekas cucian luka. لَّا یَاۡکُلُہٗۤ
اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ -- Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
Berulang-ulang telah diterangkan di dalam Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati bukan kehidupan
baru, melainkan hanya merupakan citra
(gambaran) dan penampilan fakta-fakta
kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan
dunia sekarang telah ditampilkan sebagai siksaan “jasmani” atau siksaan yang nyata di akhirat.
Rantai yang akan dikalungkan sekeliling leher menampilkan hasrat-hasrat duniawi, dan hasrat-hasrat itulah yang akan mengambil
bentuk belenggu di akhirat. Demikian pula keterikatan pada kehidupan dunia ini
akan nampak sebagai belenggu kaki.
Begitu juga terbakarnya hati di dunia
pun nampak seperti lidah api yang menjulur-julur.
Makna rantai
sepanjang 70 hasta mengisyaratkam
kepada batas umur manusia pada umumnya
dapat ditetapkan 70 tahun, tanpa
mencakup masa kanak-kanak dan masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan ajakan hawa nafsunya. Ia tidak
berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di
akhirat rantai nafsu yang selama 70
tahun ia bergelimang di dalamnya akan diwujudkan
dalam bentuk rantai sepanjang 70 hasta,
setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu.
Pengulangan ayat کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- “Sekali-kali tidak, segera kamu
akan mengetahui” ini bertujuan menambahkan tekanan pada dan membuat lebih ampuh peringatan yang terkandung dalam Surah At-Takatsur. Atau, Surah At-Takatsur ini dapat ditujukan kepada pembalasan yang akan datang di belakang kesibukan manusia, yang secara membabi-buta berusaha memperoleh barang-barang duniawi di dalam kehidupan ini.
Makna
ayat: کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡیَقِیۡنِ -- Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ
الۡجَحِیۡمَ
-- Niscaya kamu
akan melihat Ja-hannam”,
bahwa seandainya
manusia mempergunakan akal sehatnya
dan mempergunakan ilmu yang
dimilikinya, niscaya ia akan melihat neraka Jahannam sungguh-sungguh menganga di hadapan matanya sendiri di dunia ini juga, yaitu ia akan mengetahui
bahwa kesibukannya dalam mengejar kebesaran, kemegahan, dan keuntungan
kebendaan dalam kehidupan di dunia
yang sementara ini menyebabkan kehancuran total akhlaknya.
Surah At-Takatsur ayat-ayat 5-8 tidak
meninggalkan syak sekelumit pun mengenai awal
kehidupan neraka di dalam dunia ini juga, sedangkan neraka di akhirat itu sebenamya disediakan
di dunia ini, yang tersembunyi dari mata manusia tetapi dapat dikenal,
dengan perantaraan ‘ilmulyaqin oleh
mereka yang merenungkannya:
Jadi, ayat-ayat tersebut menggambarkan tiga tingkat keyakinan manusia bertalian dengan neraka, yaitu:
(1) ’ilmulyaqin
atau keyakinan yang diperoleh
berdasarkan ilmu dengan mengambil kesimpulan;
(2) ‘ainulyaqin yaitu keyakinan dengan perantaraan atau berdasarkan penglihatan;
(3) haqqulyaqin, yaitu keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri.
‘Ilmulyaqin
dapat diperoleh di dunia ini
juga, dengan mengambil kesimpulan
oleh mereka yang merenungkan dan
menekuni hakikat kejahatan
(QS.3:191-193), namun sesudah mati ia
akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri, sedang pada Hari Kebangkitan ia akan menghayati
sepenuhnya haqqulyaqin dengan benar-benar mengalami setelah masuk ke dalam neraka: ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ -- “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya
mengenai kenikmatan.”
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 29 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar