Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Keterkecohan Para “Penyembah Logika” Berkenaan
dengan “Keberadaan Tuhan” Melebihi Para Penyembah Berhala &
Tiga Bentuk Ru’ya (Mimpi) dan Dua
Macam Penganugerahan Wahyu Ilahi
Bab 36
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dikermukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai perbedaan
penelaahan hukum alam melalui logika yang hanya menghasilkan “kemungkinan adanya Tuhan” dengan kepastian bahwa “Tuhan
itu ada” yang dikemukakan wahyu Ilahi.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Para ahli
sejarah tahu betul bahwa di masa lalu
jika ada sosok seseorang yang
memperoleh pengetahuan sempurna
tentang Wujud Tuhan beserta semua Sifat-sifat-Nya yang sempurna, orang tersebut pasti mendapatkannya melalui wahyu karena konsep Ketauhidan Ilahi tidak pernah diajarkan berdasarkan sarana logika semata. Itulah sebabnya bangsa-bangsa yang tidak
mengenal wahyu, tetap saja tidak
mengenal Wujud Tuhan dan status
mereka tertinggal dalam kebudayaan dan tidak beradab laiknya hewan.
Siapa dari antara kalian yang mampu
menunjukkan adanya sebuah kitab dari
masa lalu yang ditulis mengenai pemahaman Ketuhanan dan mengandung berbagai kebenaran, tetapi pengarangnya menyatakan bahwa ia
menemukan jalan yang lurus mengenai pemahaman
Tuhan tersebut tanpa melalui
perantaraan wahyu sama sekali,
bahwa ia tidak pernah mendengar tentang eksistensi
(keberadaan) Tuhan Yang Maha Esa, bahwa ia mendapat
pengetahuan tentang Sifat-sifat
Ilahi tersebut hanya berdasarkan
logika dan perenungan tanpa bantuan sarana
apa pun lainnya, dan bahwa ia sampai pada kesimpulan
tentang Ketauhidan Ilahi dan pengenalan Allah Yang Maha Agung
semata-mata dari hasil olah otaknya
sendiri?
Siapa yang bisa membuktikan kepada kita bahwa pernah ada zamannya di masa lalu dimana saat itu wahyu Ilahi tidak dikenal,
juga tidak ada sebuah pun Kitab Suci yang bisa dijadikan sebagai pedoman, namun manusia di zaman itu beriman dan mengakui Ketauhidan Ilahi serta mengenali Wujud-Nya semata-mata berdasarkan perenungan atas hukum alam
saja?
Siapakah yang dapat memberitahukan kepada
kita tentang negeri yang penduduknya meski tidak mengenal wahyu, tetapi telah mendapat bimbingan Tuhan semata-mata berdasarkan
logika saja, dan meyakini Ketauhidan
Ilahi hanya dari hasil renungan
dan observasi mereka sendiri?” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal.
219-220, London, 1984).
Ketauhidan Ilahi Tidak Mungkin Tanpa Wahyu
Menurut Masih Mau’ud a.s. keterkecohan para “penyembah logika” seperti itu berkenaan dengan Tuhan lebih sesat
daripada para penyembah berhala:
“Mengapa konsep Ketauhidan Ilahi yang murni tidak
mungkin dipahami tanpa wahyu Ilahi, dan mengapa orang yang menyangkal adanya wahyu sebenarnya tidak bersih dari paganisme, akan menjadi jelas jika kita pelajari realitas
dari Ketauhidan Ilahi.
Ketauhidan
mengandung arti bahwa kita harus meyakini
kalau Wujud dan Fitrat Ilahi sesungguhnya bebas
dari segala sekutu dan kita harus mengimani bahwa segala hal yang terwujud
berkat kekuasaan Tuhan, tidak akan mungkin terjadi melalui kekuatan
siapa pun lainnya.
Adalah karena meninggalkan keimanan
pada Ketauhidan tersebut yang telah
menjadikan para penyembah api, matahari dan berhala lainnya disebut sebagai pagan[1] karena mereka menyembah berhala dan dewa-dewa mereka berdasarkan sifat-sifat yang sebenarnya hasil karunia dari Tuhan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa mereka yang menyangkal keberadaan wahyu Ilahi dengan sendirinya sebagaimana para penyembah berhala tersebut, mereka meyakini bahwa makhluk pun bisa dibekali
dengan fitrat Ilahi.
Mereka meyakini bahwa kekuasaan
Yang Maha Kuasa juga bisa dimiliki
oleh manusia. Mereka menganggap bahwa mereka telah menemukan Tuhan melalui logika mereka, dan pada awalnya adalah manusia yang telah menetapkan adanya sosok Tuhan dimana karena usaha mereka itulah Tuhan
diwujudkan dari keadaan tidak
dikenal menjadi dikenal dan disembah. Sebelumnya Dia dianggap tidak dikenal dan tidak ada
seorang pun yang menyadari akan
eksistensi-Nya. Adalah melalui usaha orang-orang bijak maka Dia kemudian menjadi berwujud.
Apakah keadaan seperti ini bisa disebut berbeda dengan penyembahan
berhala namanya? Jelas tidak! Perbedaan yang ada hanyalah berupa
bahwa para penyembah berhala memilih
benda-benda lainnya sebagai pelindung mereka, sedangkan orang-orang ini menganggap logika berkabut mereka sebagai pedoman dan pelindung mereka.
Para “Penyembah
Logika” Melebihi Kesesatan Penyembah
Berhala
Pada satu sisi, apa yang dikemukakan
terakhir tersebut sebenarnya malah melampaui
status para penyembah berhala.
Kalau para penyembah berhala masih meyakini bahwa Tuhan telah mengaruniakan kekuasaan
besar kepada sesembahan mereka,
dimana karena senang pada sesajen maka dewa-dewa itu dianggap
akan mengabulkan permohonan mereka,
namun mereka tidak ada menyatakan bahwa wujud
Tuhan ditemukan oleh para sesembahan
mereka itu dan eksistensi Tuhan mereka
pahami hanya melalui berhala mereka
itulah.
Orang-orang yang menyangkal keberadaan wahyu tersebut menyatakan bahwa Tuhan merupakan hasil temuan mereka dan adalah karena karya akbar mereka tanpa petunjuk
siapa pun maka Tuhan jadi berwujud.
Dia itu dianggap membisu seperti
orang yang tertidur atau mati dan mereka menemukan jejak-Nya melalui hasil
renungan logika mereka. Karena itu mereka menyangkal ketentuan tentang adanya kewajiban manusia kepada Tuhan,
bahkan meletakkan kewajiban Tuhan
kepada mereka sebagai manusia.
Mereka menganut tuhan fiktif tersebut dan tidak
ada yang memberitahukan kepada
mereka atau menegaskan kepada mereka
bahwa Tuhan itu eksis dan kedurhakaan
kepada-Nya akan membawa azab
bagi mereka, sedangkan kepatuhan
kepada-Nya akan membawa berkat.
Menurut pandangan
mereka yang namanya Tuhan itu kondisi-Nya sangat lemah dan tidak bisa mengemukakan sendiri akan
eksistensi-Nya serta tidak mampu
memberikan kepastian berkenaan dengan janji-janji-Nya.
Dia itu tadinya tersembunyi dan
adalah mereka yang telah mengungkapkan-Nya; Dia tidak dikenal dan mereka menjadikan-Nya terkenal; Dia itu membisu dan mereka yang menjadi perantara-Nya. Sifat Ketuhanan-Nya baru terungkap belum lama ini dan itu pun karena usaha mereka, katanya.
Setiap orang yang waras akan memahami
bahwa pernyataan mereka itu telah melampaui pandangan para penyembah berhala umumnya. Para penyembah berhala meyakini sembahan mereka sebagai wujud penolong, sedangkan mereka yang menyangkal wahyu Ilahi tersebut
menyatakan bahwa logika yang telah
merupakan sembahan mereka adalah
yang menjadi wujud penolong, tidak
saja bagi diri mereka tetapi juga
bagi sosok Tuhan, karena Tuhan menjadi dikenal akibat dari pemanfaatan
nalar.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa
dengan menyangkal keberadaan wahyu Ilahi,
mereka jadinya tidak saja memiliki keimanan
yang rancu terhadap Tuhan.
Mereka tidak saja telah bergelimang
dalam segala bentuk kesalahan,
bahkan mereka juga diluputkan dari keimanan kepada Ketauhidan Ilahi yang sempurna dan dicemari dengan konsep
paganisme.
Apa yang mereka yakini sebagai sekutu Tuhan sebenarnya adalah bentuk dari karunia dan berkat yang
telah diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
165-167, London, 1984).
Tiga Kelompok Manusia yang Melihat dan Menerima Tanda Samawi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tiga kelompok manusia yang melihat dan menerima Tanda Samawi (Tanda langit):
“Terdapat 3 macam kelompok manusia yang melihat
dan mengalami Tanda-tanda Samawi:
Pertama, adalah mereka yang tidak berbudi dan tidak mempunyai hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa, namun karena kemampuan intelektualnya bisa melihat
beberapa ru’ya atau mimpi hakiki dan memperoleh kasyaf. Hanya saja apa yang mereka lihat dan alami tersebut tidak ada
berisi indikasi bahwa mereka itu diridhai oleh Allah Swt.
atau pun dikasihi oleh-Nya, dan
mereka pun tidak bisa memperoleh manfaat
dari ru’ya dan kasyaf mereka. Ribuan
manusia jahil dan jahat juga
menerima ru’ya dan kasyaf busuk seperti itu.
Kedua,
adalah kelompok manusia yang ada sedikit mempunyai hubungan dengan Allah Swt. namun sifat hubungan tersebut tidak
sempurna. Ru’ya dan kasyaf yang mereka terima mirip dengan pengalaman seseorang yang pada suatu malam yang gelap dan amat
dingin melihat nyala api di
kejauhan dan karena itu bisa berjalan di
tapak yang lurus yang dikelilingi
lubang (jurang), semak duri dan batu karang serta dipenuhi berbagai ular dan binatang buas. Hanya saja nyala
api tersebut tidak bisa
memeliharanya terhadap kedinginan
dan kematian. Jika ia tidak berhasil menghampiri lingkaran api yang hangat maka ia pun akan hancur
sebagaimana mereka yang berjalan di kegelapan.
Ketiga,
adalah mereka yang mengalami ru’ya
dan kasyaf mirip dengan seseorang
yang dalam kegelapan malam yang amat dingin, ia tidak saja berhasil menemukan kecemerlangan cahaya api
dan berjalan di dalam sinarnya
tetapi juga memperoleh keselamatan dari kedinginan
karena telah berhasil memasuki lingkaran
kehangatannya.
Tingkatan
seperti ini hanya bisa dicapai oleh
mereka yang telah membakar habis hawa
nafsu mereka dalam api dari kecintaan Ilahi dan memilih
hidup pahit demi Tuhan-nya. Mereka melihat maut (kematian) di hadapan mereka, tetapi mereka malah lari menghampirinya. Mereka memikul
segala bentuk aniaya siksaan demi Tuhan-nya dan karena demi Tuhan-nya tersebut mereka malah
menjadi musuh egonya sendiri.
Mereka menunjukkan kekuatan keimanan mereka sedemikian rupa, sehingga para malaikat pun terpesona karenanya. Mereka menjadi pemuka-pemuka dalam keruhanian
dan segala serangan syaitan menjadi
sama sekali tidak berarti menghadapi
kekuatan ruhani mereka tersebut.
Kesempurnaan Refleksi Cahaya Matahari Oleh Cermin
Wahyu
hakiki dari jenis ketiga yang
diturunkan bagi manusia-manusia sempurna
mirip dengan sinar surya yang jatuh
di atas sebuah cermin yang bersih yang selalu menghadap ke arahnya. Sinar
itu kemudian digandakan 10 kali lipat
sehingga kecemerlangannya menyilaukan mata.
Ketika wahyu
turun ke kalbu yang telah disucikan maka nurnya yang luar biasa akan
menyorot terang, dan pantulan
dari Sifat-sifat Ilahi akan terlihat
pada kalbu tersebut sehingga perwujudan Yang Maha Esa terungkap
sempurna.
Nur
dari wahyu Ilahi diterima dalam
keadaan sempurna oleh kalbu yang telah disucikan sepenuhnya. Semata hanya ru’ya dan kasyaf saja tidak menggambarkan keluhuran apa pun
pada diri penerimanya kecuali batinnya memang telah disucikan secara sempurna dan yang
bersangkutan memperlihatkan refleksi
tersebut dimana perwujudan dari Yang Maha Terkasih terlihat dalam kalbunya.” (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.
22-26, London, 1984).
Tiga Bentuk Ru’ya (Mimpi)
Lebih jauh lagi Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
tiga macam mimpi atau ru’ya. Beliau bersabda:
“Mimpi atau ru’ya
terdiri dari 3 jenis yaitu egoist (nafsu),
dari syaitan dan yang bersifat Rahmān. (1) Ru’ya egoistis merupakan cerminan
dari fikiran seseorang yang mirip
dengan kucing yang memimpikan sekerat daging. (2) Mimpi dari syaitan bersifat liar dan menakutkan. (3)
Adapun ru’ya yang bersifat Rahmān merupakan pesan dari Tuhan.
Pembuktiannya
merupakan masalah pengalaman. Mimpi merupakan masalah yang hanya diketahui
Ilahi dan berbeda dengan segala
hal di dunia. Kalau kita menilainya berdasar logika maka orang lain tidak akan bisa memahaminya. Semuanya itu merupakan tanda-tanda eksistensi (keberadaan) Tuhan yang diturunkannya kepada hati manusia dari suatu tempat
tersembunyi (alam gaib).
Ketika kemudian kita menyadari sesuatu telah terjadi sejalan dengan pemberitahuan
yang kita terima kita akan mulai mempercayainya. Sarana yang ada di dunia tidak mungkin mengenali hal-hal seperti ini. Semua
itu merupakan masalah keruhanian
yang hanya dapat dikenali secara ruhani
juga. Adapun ru’ya hakiki menjadi saksi atas kebenarannya sendiri.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 368-369).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai
perbedaan ru’ya dengan kasyaf (terbuka hijab):
“Ru’ya dan kasyaf itu berbeda. Kasyaf
hakiki dalam Al-Quran dikemukakan
sebagai pengungkapan suatu yang tersembunyi (gaib) laiknya sebuah lingkaran sempurna, dan kasyaf
tidak diberikan kepada sembarang orang
karena dikhususkan hanya bagi mereka yang terpilih. Kasyaf atau wahyu yang turun kepada seorang
yang cacat menjadi cacat juga
dengan sendirinya dan menjadikan yang bersangkutan dipermalukan.
Pengungkapan
sesuatu yang tersembunyi (gaib)
merupakan pengalaman, seperti seseorang yang memanjat ke atap sebuah
gedung yang tinggi dan dari sana
memperhatikan sekeliling dimana ia bisa mengenali segala hal yang ada. Seseorang yang bermaksud melakukan hal yang sama dari tempat
yang rendah dengan sendirinya banyak
sekali yang akan luput dari pandangannya.
Hal
ini merupakan cara Tuhan berkenaan
dengan orang-orang yang terpilih dimana Dia telah meningkatkan daya lihat mereka ke suatu tingkatan sehingga mereka bisa memperhatikan segala sesuatu secara mudah dan bisa memberikan
keterangan tentang akhir dari suatu
masalah.
Seseorang
yang berdiri di tempat yang rendah
tidak mungkin meramalkan akhir dari suatu hal. Hal itu yang terjadi pada Bileam[2]
yang terkecoh berkaitan dengan Nabi Musa a.s. karena ia tidak menyadari derajat beliau yang demikian tinggi
dimana ia seharusnya menghormati beliau.” (Haqiqatul
Mahdi, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV,
hlm. 442-443, London, 1984).
Mengenai Bileam dan orang-orang yang seperti dia,
Allah Swt. dalam Al-Quran memisalkannya
seperti seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil mengendus-endus permukaan bumi,
firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ
اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ
الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ
یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang
yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan seandainya Kami meng-hendaki
niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti
hawa nafsunya, maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. Sangat
buruk misal orang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada
diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah
Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah tapi mereka mendustakannya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain
dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
Ayat itu telah
dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam
bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan
kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran
yang melakukan penentangan terhadap Rasul Allah, termasuk di Akhir Zaman ini (QS.61:10; QS.62:3-4).
Makna
ayat: وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- “akan
tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti
hawa nafsunya”, hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan
akan uang, فَمَثَلُہٗ
کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ
تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- “maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya.“
Yalhats dari lahatsa
yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan -- maksudnya
adalah baik diminta ataupun tidak untuk
berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor
anjing kehausan, seakan-akan beban
pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
Wahyu Cobaan dan Wahyu Kesukaan
“Patut kiranya diperhatikan bahwa wahyu Ilahi terdiri dari 2 macam yaitu (1) wahyu yang merupakan cobaan
dari Tuhan dan (2) wahyu yang menggambarkan kesukaan. Wahyu yang bersifat cobaan terkadang membawa bencana bagi penerimanya sebagaimana yang terjadi pada diri Bileam. Adapun mereka yang menerima wahyu kesukaan tidak akan pernah mengalami kemudharatan.
Bahkan yang namanya wahyu cobaan pun tidak disampaikan kepada sembarang orang. Sebagian temperamen
manusia bersifat cacat karena
ada yang dilahirkan buta, tuli atau bisu. Sama dengan keadaan demikian ialah ketiadaan kemampuan keruhanian pada beberapa orang sehingga mereka harus berjalan dengan bantuan
bimbingan orang lain.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXII, hlm. 11, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,
3 Mei
2016
[1]
Berasal
dari kata bahasa Latin ‘paganus’ yang
diartikan sebagai orang-orang kafir penganut agama polytheisme sebagaimana di Roma zaman
purba atau para penyembah berhala di zaman sekarang. Terkadang juga diartikan
sebagai hedonist yaitu orang-orang yang hanya mementingkan kenikmatan sensual
dan duniawi semata. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum)
[2]
Bileam
bin Beor (atau Balaam dalam Injil bahasa Inggris) adalah seorang nabi
non-Yahudi yang bermukim di Petor di
tepi sungai Euphrat,yang dimintakan tolong oleh raja bangsa Moab, Balak bin
Zipor, untuk mengutuk bangsa Yahudi yang telah mendekati kediaman mereka. Kisah
ini terdapat dalam Perjanjian Lama, Bilangan pasal 22 - 24 dimana Bileam
digambarkan sebagai seorang yang patuh kepada Tuhan-nya dan menolak mengutuk
bangsa Israil, tetapi dalam Perjanjian Baru, Surat Rasul yang Pertama 2:15
Bileam digambarkan sebagai seorang nabi palsu yang suka menerima upah untuk
perbuatan-perbuatan yang jahat. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar