Selasa, 03 Mei 2016

Keterkecohan Para "Penyembah Logika" Berkenaan Dengan "Keberadaan Tuhan" Melebihi Para "Penyembah Berhakla" & Tiga Bentuk "Ru'ya" (Mimpu) dan Dua Macam Penganugerahan "Wahyu Ilahi"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Keterkecohan Para “Penyembah Logika”  Berkenaan dengan “Keberadaan Tuhan” Melebihi Para Penyembah Berhala   & Tiga Bentuk Ru’ya (Mimpi) dan Dua Macam Penganugerahan  Wahyu Ilahi

Bab 36


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dikermukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai perbedaan penelaahan hukum alam melalui logika yang hanya menghasilkan “kemungkinan adanya Tuhan” dengan kepastian  bahwa “Tuhan itu ada” yang dikemukakan wahyu Ilahi. Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Para ahli sejarah tahu betul bahwa di masa lalu jika ada sosok seseorang yang memperoleh pengetahuan sempurna tentang Wujud Tuhan beserta semua Sifat-sifat-Nya yang sempurna, orang tersebut pasti mendapatkannya melalui wahyu  karena konsep Ketauhidan Ilahi tidak pernah diajarkan berdasarkan sarana logika semata.  Itulah sebabnya bangsa-bangsa yang tidak mengenal wahyu, tetap saja tidak mengenal Wujud Tuhan dan status mereka tertinggal dalam kebudayaan dan tidak beradab laiknya hewan.
     Siapa dari antara kalian yang mampu menunjukkan adanya sebuah kitab dari masa lalu yang ditulis mengenai pemahaman Ketuhanan dan mengandung berbagai kebenaran, tetapi pengarangnya menyatakan bahwa ia menemukan jalan yang lurus mengenai pemahaman Tuhan tersebut tanpa melalui perantaraan wahyu sama sekali, bahwa ia tidak pernah mendengar tentang eksistensi (keberadaan)  Tuhan Yang Maha Esa, bahwa ia mendapat pengetahuan tentang Sifat-sifat Ilahi tersebut hanya berdasarkan logika dan perenungan tanpa bantuan sarana apa pun lainnya, dan bahwa ia sampai pada kesimpulan tentang Ketauhidan Ilahi dan pengenalan Allah Yang Maha Agung semata-mata dari hasil olah otaknya sendiri?
     Siapa yang bisa membuktikan kepada kita bahwa pernah ada zamannya di masa lalu dimana saat itu wahyu Ilahi tidak dikenal, juga tidak ada sebuah pun Kitab Suci yang bisa dijadikan sebagai pedoman, namun manusia di zaman itu beriman dan mengakui Ketauhidan Ilahi serta mengenali Wujud-Nya semata-mata berdasarkan perenungan atas hukum alam saja?
   Siapakah yang dapat memberitahukan kepada kita tentang negeri yang penduduknya meski tidak mengenal wahyu, tetapi telah mendapat bimbingan Tuhan semata-mata berdasarkan logika saja, dan meyakini Ketauhidan Ilahi hanya dari hasil renungan dan observasi mereka sendiri?” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 219-220, London, 1984).

Ketauhidan Ilahi  Tidak  Mungkin Tanpa Wahyu    
     
    Menurut Masih Mau’ud a.s. keterkecohan para “penyembah logika” seperti itu berkenaan dengan Tuhan lebih sesat daripada para penyembah berhala:
     “Mengapa konsep Ketauhidan Ilahi yang murni tidak mungkin dipahami tanpa wahyu Ilahi, dan mengapa orang yang menyangkal adanya wahyu sebenarnya tidak bersih dari paganisme, akan menjadi jelas jika kita pelajari realitas dari  Ketauhidan Ilahi.
     Ketauhidan mengandung arti bahwa kita harus meyakini kalau Wujud dan Fitrat Ilahi sesungguhnya bebas dari segala sekutu dan kita harus mengimani bahwa segala hal yang terwujud berkat kekuasaan Tuhan,  tidak akan mungkin terjadi melalui kekuatan siapa pun lainnya.
     Adalah karena meninggalkan keimanan pada Ketauhidan tersebut yang telah menjadikan para penyembah api, matahari dan berhala lainnya disebut sebagai pagan[1] karena mereka menyembah berhala dan dewa-dewa mereka berdasarkan sifat-sifat yang sebenarnya hasil karunia dari Tuhan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa mereka yang menyangkal keberadaan wahyu Ilahi  dengan sendirinya sebagaimana para penyembah berhala tersebut, mereka meyakini bahwa makhluk pun bisa dibekali dengan fitrat Ilahi.
    Mereka meyakini bahwa kekuasaan Yang Maha Kuasa juga bisa dimiliki oleh manusia. Mereka menganggap bahwa mereka telah menemukan Tuhan melalui logika mereka, dan pada awalnya adalah manusia yang telah menetapkan adanya sosok Tuhan dimana karena usaha mereka itulah Tuhan diwujudkan dari keadaan tidak dikenal menjadi dikenal dan disembah. Sebelumnya Dia dianggap tidak dikenal dan tidak ada seorang pun yang menyadari akan eksistensi-Nya.         Adalah melalui usaha orang-orang bijak maka Dia kemudian menjadi berwujud.
     Apakah keadaan seperti ini bisa disebut berbeda dengan penyembahan berhala namanya? Jelas tidak! Perbedaan yang ada hanyalah berupa bahwa para penyembah berhala memilih benda-benda lainnya sebagai pelindung mereka, sedangkan orang-orang ini menganggap logika berkabut mereka sebagai pedoman dan pelindung mereka.

Para “Penyembah Logika” Melebihi Kesesatan Penyembah Berhala  

   Pada satu sisi, apa yang dikemukakan terakhir tersebut sebenarnya malah melampaui status para penyembah berhala. Kalau para penyembah berhala masih meyakini bahwa Tuhan telah mengaruniakan kekuasaan besar kepada sesembahan mereka, dimana karena senang pada sesajen maka dewa-dewa itu dianggap akan mengabulkan permohonan mereka, namun mereka tidak ada menyatakan bahwa wujud Tuhan ditemukan oleh para sesembahan mereka itu dan eksistensi Tuhan mereka pahami hanya melalui berhala mereka itulah.
     Orang-orang yang menyangkal keberadaan wahyu tersebut menyatakan bahwa Tuhan merupakan hasil temuan mereka dan adalah karena karya akbar mereka tanpa petunjuk siapa pun maka Tuhan jadi berwujud. Dia itu dianggap membisu seperti orang yang tertidur atau mati dan mereka menemukan jejak-Nya melalui hasil renungan logika mereka. Karena itu mereka menyangkal ketentuan tentang adanya kewajiban manusia kepada Tuhan, bahkan meletakkan kewajiban Tuhan kepada mereka sebagai manusia.
      Mereka menganut tuhan fiktif tersebut dan tidak ada yang memberitahukan kepada mereka atau menegaskan kepada mereka bahwa Tuhan itu eksis dan kedurhakaan kepada-Nya akan membawa azab bagi mereka, sedangkan kepatuhan kepada-Nya akan membawa berkat.
       Menurut pandangan mereka yang namanya Tuhan itu kondisi-Nya sangat lemah dan tidak bisa mengemukakan sendiri akan eksistensi-Nya serta tidak mampu memberikan kepastian berkenaan dengan janji-janji-Nya. Dia itu tadinya tersembunyi dan adalah mereka yang telah mengungkapkan-Nya; Dia tidak dikenal dan mereka menjadikan-Nya terkenal; Dia itu membisu dan mereka yang menjadi perantara-Nya. Sifat Ketuhanan-Nya baru terungkap belum lama ini dan itu pun karena usaha mereka,  katanya.
       Setiap orang yang waras akan memahami bahwa pernyataan mereka itu telah melampaui pandangan para penyembah berhala umumnya. Para penyembah berhala meyakini sembahan mereka sebagai wujud penolong, sedangkan mereka yang menyangkal wahyu Ilahi tersebut menyatakan bahwa logika yang telah merupakan sembahan mereka adalah yang menjadi wujud penolong, tidak saja bagi diri mereka tetapi juga bagi sosok Tuhan, karena Tuhan menjadi dikenal akibat dari pemanfaatan nalar.
     Dengan demikian menjadi jelas bahwa dengan menyangkal keberadaan wahyu Ilahi, mereka jadinya tidak saja memiliki keimanan yang rancu terhadap Tuhan. Mereka tidak saja telah bergelimang dalam segala bentuk kesalahan, bahkan mereka juga diluputkan dari keimanan kepada Ketauhidan Ilahi yang sempurna dan dicemari dengan konsep paganisme.
       Apa yang mereka yakini sebagai sekutu  Tuhan sebenarnya adalah bentuk dari karunia dan berkat yang telah diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 165-167, London, 1984).

Tiga Kelompok Manusia  yang Melihat dan Menerima Tanda Samawi

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tiga kelompok manusia yang melihat dan menerima Tanda Samawi  (Tanda langit): 
     “Terdapat 3 macam kelompok manusia yang melihat dan mengalami Tanda-tanda Samawi:
      Pertama, adalah mereka yang tidak berbudi dan tidak mempunyai hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa, namun karena kemampuan intelektualnya bisa melihat beberapa ru’ya atau mimpi hakiki dan memperoleh kasyaf. Hanya saja apa yang mereka lihat dan alami tersebut tidak ada berisi indikasi bahwa mereka itu diridhai oleh Allah Swt. atau pun dikasihi oleh-Nya, dan mereka pun tidak bisa memperoleh manfaat dari ru’ya dan kasyaf mereka. Ribuan manusia jahil dan jahat juga menerima ru’ya dan kasyaf busuk seperti itu.
      Kedua, adalah kelompok manusia yang ada sedikit mempunyai hubungan dengan Allah Swt. namun sifat hubungan tersebut tidak sempurna. Ru’ya dan kasyaf yang mereka terima mirip dengan pengalaman seseorang yang pada suatu malam yang gelap dan amat dingin melihat nyala api di kejauhan dan karena itu bisa berjalan di tapak yang lurus yang dikelilingi lubang (jurang), semak duri dan batu karang serta dipenuhi berbagai ular dan binatang buas. Hanya saja nyala api tersebut tidak bisa memeliharanya terhadap kedinginan dan kematian. Jika ia tidak berhasil menghampiri lingkaran api yang hangat maka ia pun akan hancur sebagaimana mereka yang berjalan di kegelapan.
   Ketiga, adalah mereka yang mengalami ru’ya dan kasyaf mirip dengan seseorang yang dalam kegelapan malam yang amat dingin, ia tidak saja berhasil menemukan kecemerlangan cahaya api dan berjalan di dalam sinarnya tetapi  juga memperoleh keselamatan dari kedinginan karena telah berhasil memasuki lingkaran kehangatannya.
     Tingkatan seperti ini hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah membakar habis hawa nafsu mereka dalam api dari kecintaan Ilahi dan memilih hidup pahit demi Tuhan-nya.   Mereka melihat maut (kematian) di hadapan mereka, tetapi mereka malah lari menghampirinya.  Mereka memikul segala bentuk aniaya siksaan demi Tuhan-nya dan karena demi Tuhan-nya tersebut mereka malah menjadi musuh egonya sendiri.
       Mereka menunjukkan kekuatan keimanan mereka sedemikian rupa, sehingga para malaikat pun terpesona karenanya. Mereka menjadi pemuka-pemuka dalam keruhanian dan segala serangan syaitan menjadi sama sekali tidak berarti menghadapi kekuatan ruhani mereka tersebut.

Kesempurnaan Refleksi Cahaya Matahari Oleh Cermin

   Wahyu hakiki dari jenis ketiga yang diturunkan bagi manusia-manusia sempurna mirip dengan sinar surya yang jatuh di atas sebuah cermin yang bersih yang selalu menghadap ke arahnya. Sinar itu kemudian digandakan 10 kali lipat sehingga kecemerlangannya menyilaukan mata.
    Ketika wahyu turun ke kalbu yang telah disucikan maka nurnya yang luar biasa akan menyorot terang,  dan pantulan dari Sifat-sifat Ilahi akan terlihat pada kalbu tersebut sehingga perwujudan Yang Maha Esa terungkap sempurna.
     Nur dari wahyu Ilahi diterima dalam keadaan sempurna oleh kalbu yang telah disucikan sepenuhnya. Semata hanya ru’ya dan kasyaf saja tidak menggambarkan keluhuran apa pun pada diri penerimanya kecuali batinnya memang telah disucikan secara sempurna dan yang bersangkutan memperlihatkan refleksi tersebut dimana perwujudan dari Yang Maha Terkasih terlihat dalam kalbunya.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm. 22-26, London, 1984).

Tiga Bentuk Ru’ya  (Mimpi)

      Lebih jauh lagi Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai tiga macam mimpi atau ru’ya. Beliau bersabda:
     “Mimpi atau ru’ya terdiri dari 3 jenis yaitu egoist (nafsu), dari syaitan dan yang bersifat Rahmān. (1) Ru’ya egoistis merupakan cerminan dari fikiran seseorang yang mirip dengan kucing yang memimpikan sekerat daging. (2) Mimpi dari syaitan bersifat liar dan menakutkan. (3) Adapun ru’ya yang bersifat Rahmān merupakan pesan dari Tuhan.
    Pembuktiannya merupakan masalah pengalaman. Mimpi merupakan masalah yang hanya diketahui Ilahi dan berbeda dengan segala hal di dunia. Kalau kita menilainya berdasar logika maka orang lain tidak akan bisa memahaminya. Semuanya itu merupakan tanda-tanda eksistensi (keberadaan) Tuhan yang diturunkannya kepada hati manusia dari suatu tempat tersembunyi (alam gaib).
   Ketika kemudian kita menyadari sesuatu telah terjadi sejalan dengan pemberitahuan yang kita terima  kita akan mulai mempercayainya. Sarana yang ada di dunia tidak mungkin mengenali hal-hal seperti ini. Semua itu merupakan masalah keruhanian yang hanya dapat dikenali secara ruhani juga. Adapun ru’ya hakiki menjadi saksi atas kebenarannya sendiri.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 368-369).
     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai perbedaan ru’ya dengan kasyaf (terbuka hijab):
      “Ru’ya dan kasyaf itu berbeda. Kasyaf hakiki dalam Al-Quran dikemukakan sebagai pengungkapan suatu yang tersembunyi (gaib) laiknya sebuah lingkaran sempurna,  dan kasyaf tidak diberikan kepada sembarang orang karena dikhususkan hanya bagi mereka yang terpilih.     Kasyaf atau wahyu yang turun kepada seorang yang cacat menjadi cacat juga dengan sendirinya dan menjadikan yang bersangkutan dipermalukan.
      Pengungkapan sesuatu yang tersembunyi (gaib) merupakan pengalaman,  seperti seseorang yang memanjat ke atap sebuah gedung yang tinggi dan dari sana memperhatikan sekeliling dimana ia bisa mengenali segala hal yang ada. Seseorang yang bermaksud melakukan hal yang sama dari tempat yang rendah dengan sendirinya banyak sekali yang akan luput dari pandangannya.
      Hal ini merupakan cara Tuhan berkenaan dengan orang-orang yang terpilih dimana Dia telah meningkatkan daya lihat mereka ke suatu tingkatan sehingga mereka bisa memperhatikan segala sesuatu secara mudah dan bisa memberikan keterangan tentang akhir dari suatu masalah.
       Seseorang yang berdiri di tempat yang rendah tidak mungkin meramalkan akhir dari suatu hal. Hal itu yang terjadi pada Bileam[2] yang terkecoh berkaitan dengan Nabi Musa a.s. karena ia tidak menyadari derajat beliau yang demikian tinggi dimana ia seharusnya menghormati beliau.” (Haqiqatul Mahdi, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm.  442-443, London, 1984).
       Mengenai Bileam dan orang-orang yang seperti dia, Allah Swt.   dalam Al-Quran memisalkannya seperti seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil mengendus-endus permukaan bumi, firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.  Dan seandainya  Kami meng-hendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya.   Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim.  (Al-A’rāf [7]:176-178).
  Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.    memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah tapi mereka mendustakannya.  Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
  Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura  (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran yang melakukan penentangan terhadap Rasul Allah, termasuk di Akhir Zaman ini (QS.61:10; QS.62:3-4).
 Makna ayat:  وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya”,    hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ   -- “maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya.
  Yalhats   dari lahatsa yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan  --  maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.

Wahyu Cobaan  dan Wahyu Kesukaan

     “Patut kiranya diperhatikan bahwa wahyu Ilahi terdiri dari 2 macam yaitu (1) wahyu yang merupakan cobaan dari Tuhan dan (2) wahyu yang menggambarkan kesukaan. Wahyu yang bersifat cobaan terkadang membawa bencana bagi penerimanya sebagaimana yang terjadi pada diri Bileam. Adapun mereka yang menerima wahyu kesukaan tidak akan pernah mengalami kemudharatan.
    Bahkan yang namanya wahyu cobaan pun tidak disampaikan kepada sembarang orang. Sebagian temperamen manusia bersifat cacat karena ada yang dilahirkan buta, tuli atau bisu. Sama dengan keadaan demikian ialah ketiadaan kemampuan keruhanian pada beberapa orang sehingga mereka harus berjalan dengan bantuan bimbingan orang lain.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  11, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 3  Mei    2016


[1] Berasal dari  kata bahasa Latin ‘paganus’ yang diartikan sebagai orang-orang kafir penganut  agama polytheisme sebagaimana di Roma zaman purba atau para penyembah berhala di zaman sekarang. Terkadang juga diartikan sebagai hedonist yaitu orang-orang yang hanya mementingkan kenikmatan sensual dan duniawi semata. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Bileam bin Beor (atau Balaam dalam Injil bahasa Inggris) adalah seorang nabi non-Yahudi  yang bermukim di Petor di tepi sungai Euphrat,yang dimintakan tolong oleh raja bangsa Moab, Balak bin Zipor, untuk mengutuk bangsa Yahudi yang telah mendekati kediaman mereka. Kisah ini terdapat dalam Perjanjian Lama, Bilangan pasal 22 - 24 dimana Bileam digambarkan sebagai seorang yang patuh kepada Tuhan-nya dan menolak mengutuk bangsa Israil, tetapi dalam Perjanjian Baru, Surat Rasul yang Pertama 2:15 Bileam digambarkan sebagai seorang nabi palsu yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar