Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
KEWAJIBAN
BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT DALAM RUKUN
IMAN & ORANG-ORANG YANG MEMUSUHI ALLAH SWT. DAN MALAIKAT
JIBRIL A.S.
Bab 39
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya
telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai
perbedaan Sunnah dengan Hadits, selanjutnya beliau menjelaskan
masalah malaikat, yang merupakan rukun kedua dalam Rukun Iman: (1) Beriman kepada Allah Swt., (2) Beriman kepada malaikat-malaikat, (3) Beriman kepada Kitab-kitab, (4) Beriman kepada Rasul-rasul, (5) Beriman kepada Hari Kiamat, (6) Beriman kepada qadha
dan qadar (takdir). Mengenai hal
tersebut Allah Swt. berfirman:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini
beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari
Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula orang-orang
beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
dan mereka berkata: “Kami telah
mendengar dan kami taat. Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan)
kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.”
(Al-Baqarah
286).
Hubungan Rukun Iman dengan Rukun Islam
Amal-amal baik -- sebagaimana dirinci dalam Rukun Islam -- memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian
ruhani, tetapi amal-amal baik itu
bersumber pada kesucian hati yang
dapat dicapai hanya dengan berpegang pada
itikad-itikad yang benar. Dari itu, ayat tersebut merinci
dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu beriman kepada Allah Swt., para Malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan seterusnya menurut urutan atau tertib yang
wajar.
Larangan melakukan pengecualian berkenaan beriman kepada para Rasul Allah dalam ayat: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”
berlaku pula berkenaan iman kepada para malaikat, sebagaimana
firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا
لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا
لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ
جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ
لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena sesungguhnya
dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada sebelumnya,
sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا
لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka
sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah [2]:98-99).
Orang-orang yang mengatakan bahwa turunnya
semua jenis wahyu Ilahi telah tertutup rapat atau telah
berakhir dengan diwahyukan-Nya
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad
saw. termasuk dalam sikap memusuhi
Allah Swt. dan malaikat Jibril a.s.
karena berarti bahwa Sifat Al-Mutakallim
(Maha Berbicara) Allah Swt. dan tugas utama malaikat
Jibril a.s. menyampaikan wahyu Ilahi
kepada manusia juga telah berakhir,
padahal Allah Swt. telah berfirman:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا
ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah
Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak
mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula
apa iman itu, وَ لٰکِنۡ
جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi
petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah
segala perkara kembali. (Asy-Syūra [42]:52-54).
Sikap Orang-orang Yahudi Memusuhi Malaikat Jibril a.s.
Jibril
itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti: orang-Tuhan
yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber
berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William
Geseneus; (Bukhari, bab
Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari
Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir). Jibril sebagai penghulu di antara para
malaikat (Durr Mantsur)
itu adalah pembawa wahyu Al-Quran
(QS.16:103; QS.26:193-197). Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril itu
searti dengan Ruhulqudus dan Ruhul-Amin.
Menurut Bible pun tugas malaikat
Jibril a.s. adalah menyampaikan Amanat
Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan.
8:16; 9:21 dan Lukas 1:19). Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini,
menetapkan tugas yang sama kepada malaikat
Jibril a.s.. Tetapi dalam tulisan-tulisan
Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica, pada Gabriel).
Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang
Yahudi menganggap malaikat Jibril
a.s. sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad
Ahmad). Sikap buruk tersebut dicela keras Allah Swt. dalam firman-Nya sebelum ini.
Mikal
(Mikail) pun salah satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang
sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti
Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia
dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai
malaikat yang paling mereka sukai (Yewish
Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan
(Tafsir
Ibnu Katsir) dan
dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
Keberlangsungan Pengutusan
Para Rasul
dari Kalangan Malaikat dan Manusia
Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan
maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya,
ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.
Dalam firman
Allah Swt. berikut dijelaskan
bahwa tanpa keberadaaan wahyu Ilahi manusia
-- yakni para rasul Allah, termasuk Nabi
Besar Muhammad saw.. – tidak mengetahui Kitab
suci atau pun hakikat iman, sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا
ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah
Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ -- Engkau sekali-kali tidak
mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula
apa iman itu, وَ لٰکِنۡ
جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi
petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah
segala perkara kembali. (Asy-Syūra [42]:52-54).
Jadi, manusia yang memusuhi malaikat Jibril a.s. ia
telah meluputkan diri dari rahmat dan karunia yang
dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah
Swt. yang benar, dan menjadikan
dirinya layak menerima siksaan yang
ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar,
sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا
لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا
لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena sesungguhnya
dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada sebelumnya,
sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا
لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka
sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah [2]:98-99).
Kerugian Mempercayai Itikad Sesat
“Lā Nabiyya Ba’dahu”
Dengan demikian jelaslah bahwa itikad Lā nabiyya
ba’dahu” (tidak ada lagi sesudahnya) sehubungan dengan telah diutusnya
Nabi Besar Muhammad saw. membawa agama
dan kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), hal tersebut pun merupakan
satu bentuk permusuhan
terhadap Allah Swt. dan dan malaikat Jibril a.s., karena Allah Swt. telah menetapkan malaikat
Jibril a.s. sebagai penghulu malaikat
yang bertugas mengirimkan berbagai
macam wahyu Ilahi kepada para Rasul
Allah, firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari an-tara
manusia, sesungguhnya Allah Maha
Mendengar, Maha Melihat. (Al-Hājj
[22]:76).
Kalimat yasthafi adalah bentuk kata
kerja fi’il mudhari yang mengisyaratkan kepada pekerjaan yang telah dilakukan, sedang di
lakukan dan akan dilakukan, berikut
firman Allah Swt. mengenai hal tersebut:
وَ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖۤ اِذۡ قَالُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ عَلٰی بَشَرٍ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ قُلۡ مَنۡ اَنۡزَلَ الۡکِتٰبَ الَّذِیۡ جَآءَ بِہٖ مُوۡسٰی
نُوۡرًا وَّ ہُدًی لِّلنَّاسِ
تَجۡعَلُوۡنَہٗ قَرَاطِیۡسَ تُبۡدُوۡنَہَا وَ تُخۡفُوۡنَ کَثِیۡرًا ۚ وَ عُلِّمۡتُمۡ
مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنۡتُمۡ
وَ لَاۤ اٰبَآؤُکُمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ ۙ ثُمَّ ذَرۡہُمۡ
فِیۡ خَوۡضِہِمۡ یَلۡعَبُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka
sekali-kali tidak menghargai Allah dengan penghargaan sebenar-benarnya ketika mereka berkata: “Allah sekali-kali tidak pernah menurunkan
sesuatu kepada seorang manusia
pun.” Katakanlah: “Siapakah
yang telah menurunkan Kitab yang dibawa
oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, walaupun kemudian kamu menjadikannya sebagai lembaran-lembaran
kertas biasa, yang sebagian kamu
perlihatkan, sedangkan sebagian
besarnya kamu sembunyikan,
dan telah diajarkan kepada kamu apa pun
yang tidak kamu dan tidak pula bapak-bapakmu ketahui?” قُلِ
اللّٰہُ ۙ ثُمَّ ذَرۡہُمۡ فِیۡ
خَوۡضِہِمۡ یَلۡعَبُوۡنَ -- Katakanlah: “Allah-lah yang telah
menurunkannya!” kemudian biarkanlah
mereka bermain-main dalam percakapan
dusta mereka. (Al-An’ām [6]:92).
Kata-kata وَ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ
حَقَّ قَدۡرِہٖۤ اِذۡ قَالُوۡا -- “Dan mereka
sekali-kali tidak menghargai Allah dengan penghargaan sebenar-benarnya ketika mereka berkata: مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ عَلٰی بَشَرٍ مِّنۡ شَیۡءٍ
-- “Allah sekali-kali tidak
pernah menurunkan sesuatu kepada seorang
manusia pun” berarti: “Seandainya
Kitab ini (Al-Quran) tidak diwahyukan oleh Allah Swt. maka siapakah yang memasukkan ke
dalamnya ajaran-ajaran yang bijak dan padat yang tidak dikenal oleh kamu maupun
oleh bapak-bapakmu ini — ajaran-ajaran
yang ada di luar kesanggupan kamu untuk menghasilkannya. Hanya Allah Swt. yang dapat memberikan ajaran-ajaran
demikian.”
Kebiasaan Buruk Menghujat Allah Swt. dan Rasul Allah di Kalangan Kaum Yahudi & Keberlangsungan Sifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) Allah Swt.
Dalam ayat
selanjutnya orang-orang Yahudi disalahkan
karena mereka mengemukakan sebagian Taurat
dan menyembunyikan bagian lain yang
mengandung nubuatan-nubuatan dan tanda-tanda tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., padahal
mereka mengetahuinya bagaikan mengenali
anak-anak mereka sendiri (QS.2:147):
قُلۡ مَنۡ
اَنۡزَلَ الۡکِتٰبَ الَّذِیۡ جَآءَ بِہٖ
مُوۡسٰی نُوۡرًا وَّ ہُدًی لِّلنَّاسِ تَجۡعَلُوۡنَہٗ
قَرَاطِیۡسَ تُبۡدُوۡنَہَا وَ تُخۡفُوۡنَ
کَثِیۡرًا -- “Katakanlah: “Siapakah yang telah menurunkan Kitab
yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh
manusia, walaupun kemudian kamu
menjadikannya sebagai lembaran-lembaran
kertas biasa, yang sebagian kamu
perlihatkan, sedangkan sebagian
besarnya kamu sembunyikan,
وَ عُلِّمۡتُمۡ مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنۡتُمۡ وَ لَاۤ اٰبَآؤُکُمۡ -- dan telah
diajarkan kepada kamu apa pun yang tidak kamu dan tidak
pula bapak-bapakmu ketahui?”
Selanjutnya Allah Swt. menjawab tuduhan mereka berkenaan dengan diwahyukan-Nya Taurat kepada Nabi Musa
a.s.: قُلِ
اللّٰہُ ۙ ثُمَّ ذَرۡہُمۡ فِیۡ
خَوۡضِہِمۡ یَلۡعَبُوۡنَ -- Katakanlah: “Allah-lah yang telah
menurunkannya!” kemudian biarkanlah
mereka bermain-main dalam percakapan
dusta mereka.”
Kemudian mengenai berkesinambungannya Sifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) Allah Swt. Dia selanjutnya berfirman mengenai pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw., sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Taurat:
وَ ہٰذَا کِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰہُ مُبٰرَکٌ مُّصَدِّقُ الَّذِیۡ بَیۡنَ
یَدَیۡہِ وَ لِتُنۡذِرَ اُمَّ الۡقُرٰی
وَ مَنۡ حَوۡلَہَا ؕ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ ہُمۡ عَلٰی
صَلَاتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ ﴿﴾
Dan inilah Al-Quran sebuah
Kitab penuh berkat yang Kami telah
menurunkannya, menggenapi yang sebelumnya, وَ لِتُنۡذِرَ اُمَّ الۡقُرٰی وَ مَنۡ حَوۡلَہَا -- dan supaya
engkau memberi peringatan kepada Ummul
Qura dan orang-orang
yang di sekitarnya. وَ الَّذِیۡنَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِہٖ -- Dan
orang-orang yang beriman kepada akhirat, mereka beriman pula kepada Al-Quran ini وَ ہُمۡ عَلٰی صَلَاتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ
-- dan mereka senantiasa memelihara shalat mereka. (Al-An’ām [6]:93).
Tempat seorang nabi Allah turun (diutus)
– disebut “Ummul Qura” (ibu
kota), sebab di sanalah manusia minum air-susu ruhani yang dibawa rasul Allah – terutama ajaran Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagaimana halnya bayi minum susu dari dada
ibunya. Kata-kata وَ مَنۡ
حَوۡلَہَا -- orang-orang di
sekitarnya, dapat diartikan seluruh
dunia karena amanat Islam (Al-Quran)
yang diwahyukan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. dirancang
untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:20).
Makna ayat selanjutnya وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- “Dan
orang-orang yang beriman kepada akhirat, mereka beriman pula kepada Al-Quran ini” menunjukkan bahwa orang-orang
yang percaya (beriman) kepada kehidupan
akhirat, harus percaya kepada Al-Quran
juga. Oleh karena itu beriman kepada Al-Quran dan beriman kepada akhirat
itu bertalian erat, yang satu tidak ada artinya tanpa yang lain (QS.2:3-6), karena arti lain dari al-ākhirat adalah wahyu
yang akan datang (QS.7:35-37;
QS.62:3-4), sebab wahyu Ilahi merupakan salah satu dari tiga sarana
Allah Swt. untuk berkomunikasi dengan manusia
(QS.42:52-54).
Peringatan Allah Swt.
kepada Pihak yang Berdusta dan Pihak yang Mendustakan
Jadi Allah Swt.
sesuai dengan Sifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) tidak akan pernah menghentikan kesinambungan
turunnya wahyu Ilahi kepada
para Rasul-Nya -- karena hal tersebut merupakan tugas
utama malaikat Jibril a.s. (Al-Baqarah
[2]:98-99) -- karena itu Allah Swt. dalam ayat selanjutnya telah memperingatkan dua pihak yang melakukan kedustaan terhadap Allah Swt.:
(1) pihak yang mengada-adakan kedustaan berkenaan dengan wahyu Ilahi atau mendakwakan sebagai nabi (rasul) Allah,
(2) memperingatkan
pihak yang mendustakan pendakwaan dari
seorang yang benar-benar diutus sebagai rasul (nabi)
Allah sesuai dengan nubuatan
dalam Kitab-kitab suci dan nubuatan
para rasul Allah yang diutus
sebelumnya (QS.7:35-37 & 173-175), firman-Nya:
وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی
عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ قَالَ
اُوۡحِیَ اِلَیَّ وَ لَمۡ
یُوۡحَ اِلَیۡہِ شَیۡءٌ وَّ مَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا اَیۡدِیۡہِمۡ
ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ
تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepadaku” padahal tidak pernah ada sesuatu diwahyukan
kepadanya, dan juga barangsiapa
yang berkata: “Segera aku akan
menurunkan seperti yang telah diturunkan Allah.” وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ -- Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu berada dalam
penderitaan sakaratul-maut, وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا
اَیۡدِیۡہِمۡ -- dan malaikat-malaikat
merentangkan tangan mereka sambil berkata: اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ -- “Keluarkanlah nyawa kamu! اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ
-- Hari
ini kamu dibalas dengan azab yang menghi-nakan disebabkan apa yang senantiasa kamu katakan terhadap
Allah tidak benar وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ
تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ -- dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya.” (Al-An’am [6]:94). Lihat
pula QS.6:22; QS.7:38-42; QS.10:18;
11:19-23; QS.61:8-10.
Siksaan
terhadap para pendusta tersebut tidak boleh disamakan dengan sakratulmaut (penderitaan menjelang
maut) yang dialami di bawah hukum-alam biasa, baik oleh orang-orang bertakwa maupun yang
tidak-bertakwa, melainkan adalah hukuman
khas yang mencengkeram para pengingkar nabi-nabi Allah, sejak saat kematian mereka.
Ancaman Allah Swt. yang mengerikan tersebut berlaku pula bagi Nabi Besar Muhammad saw. seandainya beliau saw. – na’ūdzubillāhi
min dzālik -- melakukan kedustaan atas nama Allah,
sebagaimana tuduhan dusta para penentang beliau saw., firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ
مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا
مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ
مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا
مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ
﴿﴾ وَ اِنَّہٗ لَتَذۡکِرَۃٌ
لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا
لَنَعۡلَمُ اَنَّ مِنۡکُمۡ
مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنَّہٗ لَحَسۡرَۃٌ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾
فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan
apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar firman
yang disampaikan seorang Rasul
mulia, dan bukanlah
Al-Quran itu perkataan seorang
penyair, sedikit se-kali apa yang
kamu percayai. Dan bukanlah ini perkataan ahli nujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ini
adalah wahyu yang diturunkan dari
Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا
مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ
لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. Dan sesungguhnya
Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan
Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar
kebenaran yang diyakini. Maka sucikanlah nama Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 7 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar