Jumat, 06 Mei 2016

Kewajiban Beriman Kepada Malaikat-malaikat Dalam Rukun Iman & Orang-orang yang Memusuhi Allah Swt. dan Malaikat Jibril a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH  



 KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT   DALAM RUKUN IMAN  & ORANG-ORANG  YANG MEMUSUHI ALLAH SWT. DAN MALAIKAT JIBRIL A.S.


Bab 39

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam     Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai perbedaan  Sunnah  dengan Hadits, selanjutnya beliau menjelaskan masalah  malaikat, yang merupakan   rukun kedua dalam Rukun Iman: (1) Beriman kepada Allah Swt., (2) Beriman kepada malaikat-malaikat, (3) Beriman kepada Kitab-kitab, (4) Beriman kepada Rasul-rasul, (5)  Beriman kepada Hari Kiamat, (6) Beriman kepada qadha dan qadar (takdir). Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,  mereka berkata:  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ  --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah 286).

Hubungan Rukun Iman dengan Rukun Islam

      Amal-amal baik  -- sebagaimana dirinci dalam Rukun Islam  -- memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar. Dari itu, ayat tersebut  merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah Swt., para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya  dan seterusnya menurut urutan atau tertib yang wajar.
    Larangan melakukan pengecualian berkenaan beriman kepada para Rasul Allah   dalam ayat: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ  --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya” berlaku pula berkenaan  iman  kepada para malaikat,   sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena sesungguhnya dialah yang  menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ  --    Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.”  (Al-Baqarah [2]:98-99).
      Orang-orang yang mengatakan bahwa  turunnya semua jenis   wahyu Ilahi  telah tertutup rapat  atau telah berakhir dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. termasuk dalam sikap memusuhi Allah Swt. dan malaikat Jibril a.s. karena berarti bahwa Sifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) Allah Swt. dan tugas utama malaikat Jibril a.s. menyampaikan wahyu Ilahi kepada manusia juga telah berakhir, padahal Allah Swt. telah berfirman:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --    Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ   -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا  --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ --  Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ   -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syūra [42]:52-54).

Sikap Orang-orang Yahudi Memusuhi Malaikat Jibril a.s.

      Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti: orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
       Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir).   Jibril sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran (QS.16:103; QS.26:193-197). Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril itu searti dengan Ruhulqudus  dan Ruhul-Amin.
      Menurut Bible pun tugas malaikat Jibril a.s. adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada malaikat Jibril a.s.. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia  Biblica, pada Gabriel).
      Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw.  orang-orang Yahudi menganggap malaikat Jibril a.s. sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad). Sikap buruk tersebut dicela keras  Allah Swt. dalam firman-Nya sebelum ini.
       Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia  dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.

Keberlangsungan Pengutusan Para   Rasul  dari  Kalangan Malaikat dan Manusia  

         Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya, ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.
        Dalam  firman  Allah Swt.  berikut dijelaskan bahwa tanpa keberadaaan wahyu Ilahi manusia --  yakni para rasul Allah, termasuk Nabi Besar Muhammad saw.. – tidak mengetahui Kitab suci atau pun hakikat iman,  sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا --    Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ   -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا  --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ --  Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ   -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syūra [42]:52-54).
       Jadi, manusia  yang  memusuhi malaikat Jibril a.s.  ia telah meluputkan  diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah Swt. yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar, sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena sesungguhnya dialah yang  menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ  --    Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.”  (Al-Baqarah [2]:98-99).

Kerugian Mempercayai Itikad Sesat “Lā Nabiyya Ba’dahu”

       Dengan demikian jelaslah bahwa itikad Lā nabiyya ba’dahu” (tidak ada lagi sesudahnya) sehubungan dengan telah diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. membawa agama dan kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), hal tersebut pun merupakan  satu bentuk   permusuhan terhadap Allah Swt. dan dan malaikat Jibril a.s.,  karena Allah Swt. telah menetapkan  malaikat Jibril a.s. sebagai penghulu malaikat yang bertugas mengirimkan berbagai macam  wahyu Ilahi kepada para Rasul Allah, firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari an-tara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Al-Hājj [22]:76).
      Kalimat yasthafi  adalah bentuk kata kerja fi’il mudhari  yang mengisyaratkan kepada pekerjaan yang telah dilakukan, sedang di lakukan dan akan dilakukan, berikut firman Allah Swt.  mengenai hal tersebut:
وَ مَا  قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖۤ  اِذۡ قَالُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ  عَلٰی بَشَرٍ مِّنۡ  شَیۡءٍ ؕ قُلۡ مَنۡ اَنۡزَلَ  الۡکِتٰبَ الَّذِیۡ جَآءَ بِہٖ مُوۡسٰی نُوۡرًا وَّ  ہُدًی لِّلنَّاسِ تَجۡعَلُوۡنَہٗ قَرَاطِیۡسَ تُبۡدُوۡنَہَا وَ تُخۡفُوۡنَ  کَثِیۡرًا ۚ وَ  عُلِّمۡتُمۡ  مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا  اَنۡتُمۡ وَ لَاۤ  اٰبَآؤُکُمۡ ؕ قُلِ  اللّٰہُ ۙ ثُمَّ  ذَرۡہُمۡ  فِیۡ  خَوۡضِہِمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ  ﴿﴾
Dan    mereka sekali-kali tidak menghargai Allah dengan penghargaan sebenar-benarnya ketika  mereka berkata: “Allah sekali-kali tidak pernah menurunkan sesuatu kepada seorang manusia pun.” Katakanlah: “Siapakah yang telah menurunkan Kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, walaupun kemudian kamu menjadikannya  sebagai lembaran-lembaran kertas biasa, yang sebagian kamu perlihatkan, sedangkan sebagian besarnya  kamu sembunyikan, dan telah diajarkan kepada kamu apa pun yang tidak kamu  dan tidak pula bapak-bapakmu ketahui?” قُلِ  اللّٰہُ ۙ ثُمَّ  ذَرۡہُمۡ  فِیۡ  خَوۡضِہِمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ  -- Katakanlah: “Allah-lah yang telah  menurunkannya!” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam percakapan dusta mereka. (Al-An’ām [6]:92).
  Kata-kata    وَ مَا  قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖۤ  اِذۡ قَالُوۡا  -- “Dan  mereka sekali-kali tidak menghargai Allah dengan penghargaan sebenar-benarnya ketika  mereka berkata: مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ  عَلٰی بَشَرٍ مِّنۡ  شَیۡءٍ  -- “Allah sekali-kali tidak pernah menurunkan sesuatu kepada seorang manusia pun” berarti: “Seandainya Kitab ini (Al-Quran) tidak diwahyukan oleh Allah Swt.  maka siapakah yang memasukkan ke dalamnya ajaran-ajaran yang bijak dan padat yang tidak dikenal oleh kamu maupun oleh bapak-bapakmu  ini — ajaran-ajaran yang ada di luar kesanggupan kamu untuk menghasilkannya. Hanya Allah Swt.  yang dapat memberikan ajaran-ajaran demikian.”

Kebiasaan Buruk Menghujat Allah Swt.  dan Rasul Allah di Kalangan Kaum Yahudi  & Keberlangsungan Sifat Al-Mutakallim  (Maha Berbicara)  Allah Swt.

 Dalam ayat selanjutnya  orang-orang Yahudi   disalahkan  karena mereka mengemukakan sebagian Taurat dan menyembunyikan bagian lain yang mengandung nubuatan-nubuatan dan tanda-tanda tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,  padahal  mereka mengetahuinya bagaikan mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147):  قُلۡ مَنۡ اَنۡزَلَ  الۡکِتٰبَ الَّذِیۡ جَآءَ بِہٖ مُوۡسٰی نُوۡرًا وَّ  ہُدًی لِّلنَّاسِ تَجۡعَلُوۡنَہٗ قَرَاطِیۡسَ تُبۡدُوۡنَہَا وَ تُخۡفُوۡنَ  کَثِیۡرًا  -- “Katakanlah: “Siapakah yang telah menurunkan Kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, walaupun kemudian kamu menjadikannya  sebagai lembaran-lembaran kertas biasa, yang sebagian kamu perlihatkan, sedangkan sebagian besarnya  kamu sembunyikan,  وَ  عُلِّمۡتُمۡ  مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا  اَنۡتُمۡ وَ لَاۤ  اٰبَآؤُکُمۡ  -- dan telah diajarkan kepada kamu apa pun yang tidak kamu  dan tidak pula bapak-bapakmu ketahui?”
   Selanjutnya Allah Swt. menjawab tuduhan mereka berkenaan dengan diwahyukan-Nya   Taurat  kepada Nabi Musa a.s.: قُلِ  اللّٰہُ ۙ ثُمَّ  ذَرۡہُمۡ  فِیۡ  خَوۡضِہِمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ  -- Katakanlah: “Allah-lah yang telah  menurunkannya!” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam percakapan dusta mereka.”
Kemudian mengenai berkesinambungannya Sifat Al-Mutakallim   (Maha Berbicara) Allah Swt.  Dia selanjutnya berfirman mengenai pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw., sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Taurat:  
وَ ہٰذَا کِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰہُ  مُبٰرَکٌ مُّصَدِّقُ الَّذِیۡ  بَیۡنَ  یَدَیۡہِ  وَ لِتُنۡذِرَ اُمَّ الۡقُرٰی وَ مَنۡ حَوۡلَہَا ؕ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ  یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ ہُمۡ عَلٰی صَلَاتِہِمۡ  یُحَافِظُوۡنَ ﴿﴾
Dan inilah Al-Quran sebuah Kitab penuh berkat yang Kami telah menurunkannyamenggenapi yang sebelumnya, وَ لِتُنۡذِرَ اُمَّ الۡقُرٰی وَ مَنۡ حَوۡلَہَا -- dan supaya engkau  memberi peringatan kepada  Ummul Qura  dan  orang-orang yang di sekitarnya. وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ  یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ   --  Dan orang-orang yang beriman kepada akhirat, mereka beriman pula kepada Al-Quran ini وَ ہُمۡ عَلٰی صَلَاتِہِمۡ  یُحَافِظُوۡنَ  --  dan   mereka  senantiasa memelihara  shalat mereka. (Al-An’ām [6]:93).
  Tempat seorang nabi Allah turun  (diutus) –   disebut “Ummul Qura” (ibu kota),  sebab di sanalah manusia minum air-susu ruhani yang dibawa rasul Allah – terutama ajaran Al-Quran yang diwahyukan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   -- sebagaimana halnya bayi minum susu dari dada ibunya. Kata-kata وَ مَنۡ حَوۡلَہَا --  orang-orang di sekitarnya, dapat diartikan seluruh dunia karena amanat  Islam (Al-Quran) yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   dirancang untuk seluruh  umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;  QS.34:20).
  Makna ayat selanjutnya وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ  یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ   --  “Dan orang-orang yang beriman kepada akhirat, mereka beriman pula kepada Al-Quran ini” menunjukkan bahwa orang-orang yang percaya (beriman)  kepada kehidupan akhirat, harus percaya kepada Al-Quran juga. Oleh karena itu beriman kepada Al-Quran dan beriman kepada akhirat itu bertalian erat, yang satu tidak ada artinya tanpa yang lain  (QS.2:3-6), karena arti lain dari al-ākhirat  adalah wahyu yang akan datang (QS.7:35-37; QS.62:3-4), sebab wahyu Ilahi  merupakan salah satu dari tiga sarana Allah Swt. untuk  berkomunikasi dengan manusia (QS.42:52-54).

Peringatan Allah Swt. kepada  Pihak yang Berdusta  dan Pihak yang Mendustakan

Jadi  Allah Swt. sesuai dengan Sifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) tidak akan pernah menghentikan kesinambungan turunnya wahyu Ilahi  kepada  para Rasul-Nya   --     karena hal tersebut  merupakan tugas utama malaikat Jibril a.s.  (Al-Baqarah [2]:98-99) --   karena itu Allah Swt.  dalam ayat selanjutnya telah memperingatkan  dua pihak yang melakukan kedustaan terhadap Allah Swt.:
 (1)  pihak yang mengada-adakan kedustaan  berkenaan dengan wahyu Ilahi atau mendakwakan sebagai nabi (rasul) Allah,
 (2)   memperingatkan pihak yang mendustakan pendakwaan dari seorang  yang benar-benar diutus sebagai rasul (nabi) Allah  sesuai dengan  nubuatan dalam Kitab-kitab suci  dan nubuatan para rasul Allah yang diutus sebelumnya (QS.7:35-37 & 173-175), firman-Nya:
وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  وَ لَمۡ  یُوۡحَ  اِلَیۡہِ شَیۡءٌ وَّ  مَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ  ﴿﴾
Dan  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepadaku” padahal tidak pernah ada sesuatu diwahyukan kepadanya,  dan juga barangsiapa yang berkata: “Segera aku akan menurunkan seperti yang telah diturunkan Allah.” وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ -- Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim itu  berada dalam penderitaan sakaratul-maut, وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا  اَیۡدِیۡہِمۡ   --  dan malaikat-malaikat merentangkan tangan mereka sambil berkata: اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ  --  “Keluarkanlah nyawa kamu! اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ  --   Hari ini kamu  dibalas dengan azab yang menghi-nakan disebabkan apa yang senantiasa kamu katakan terhadap Allah tidak benar  وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ  -- dan karena kamu bersikap takabur terhadap Tanda-tanda-Nya.” (Al-An’am [6]:94). Lihat pula QS.6:22; QS.7:38-42; QS.10:18;  11:19-23; QS.61:8-10.
  Siksaan terhadap para pendusta  tersebut  tidak boleh disamakan dengan sakratulmaut (penderitaan menjelang maut) yang dialami  di bawah hukum-alam biasa, baik oleh orang-orang bertakwa  maupun yang tidak-bertakwa, melainkan adalah hukuman khas yang mencengkeram para pengingkar nabi-nabi Allah, sejak saat kematian mereka. 
 Ancaman Allah Swt. yang mengerikan tersebut berlaku pula   bagi Nabi Besar Muhammad saw. seandainya beliau saw.  – na’ūdzubillāhi min dzālik  -- melakukan kedustaan atas nama Allah, sebagaimana tuduhan dusta para penentang beliau saw., firman-Nya:
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَتَذۡکِرَۃٌ  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا  لَنَعۡلَمُ  اَنَّ مِنۡکُمۡ مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَسۡرَۃٌ  عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾ فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat,   dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,    dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai.   Dan bukanlah ini perkataan ahli nujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihatتَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ --   Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ   --   niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --       kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --        dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa.  Dan sesungguhnya  Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran.  Dan sesungguhnya  Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafir.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini Maka sucikanlah nama Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 7  Mei    2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar