Senin, 30 Mei 2016

"Kesaksian" Tubuh Manusia Sebagai Bukti Benarnya Al-Quran Tentang "Catatan Amal" Manusia & Akibat Buruk Perlombaan Tidak Sehat Menimbun Kekayaan Duniawi di Kalangan Golongan "Jin" dan "Ins"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


 KESAKSIAN TUBUH MANUSIA SEBAGAI BUKTI BENARNYA AL-QURAN TENTANG  “CATATAN AMAL” MANUSIA  &  AKIBAT BURUK PERLOMBAAN TIDAK SEHAT  MENIMBUN  KEKAYAAN DUNIAWI DI KALANGAN GOLONGAN JIN DAN INS


Bab 56

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai   golongan jin dan ins    yang bangga dengan keberhasilan duniawi  mereka  serta  keingkaran  mereka kepada Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., sehingga pada akhirnya  mereka akan diperlakukan Allah Swt. secara hina: یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang berdosa  ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang (diseret) pada jambul dan kakinya.”  (Ar-Rahmān [55]:42), firman-Nya:
 فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾   یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾ 
Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  ins (manusia)  dan tidak pula  jin. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ   -- Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?  Orang-orang berdosa  ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang pada jambul dan kakinya.  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  -- Maka nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ --  Inilah Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ --  mereka akan berkeliling-keliling di antara Jahannam  itu  dan air panas mendidihفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ        -- Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua  yang kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:40-46).

Dosa yang Nyata yang Dilakukan  Golongan Jin dan Ins  &  Kesaksian “Tubuh” Manusia Mengenai  Perbuatannya

   Makna ayat  فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ --  “Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  ins (manusia)  dan tidak pula  jin”.  Amal-amal buruk orang-orang durhaka akan tertera pada wajah mereka, sehingga mereka tidak akan ditanya lagi mengenai apakah mereka telah melakukan kedurhakaan atau tidak.
  Sebagaimana tersebut   dalam surah Al-Quran yang lain (QS.41:21), di alam akhirat  anggota-anggota tubuh orang-orang kafir itu sendiri akan menjadi saksi atas  perbuatan mereka, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾   حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ  ﴿٪﴾      وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari ketika   musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok.  Hingga apabila mereka sampai kepadanya  telinga merekamata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.   Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi  bahwa telinga kamu, dan tidak pula  mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.   Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu  yang telah membinasakanmu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.”   Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak termasuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan  umat-umat  yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan  ins (manusia),  sesungguhnya mereka itu orang-orang yang  rugi. (Ha MimAs-Sajdah [41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.

Alat Perekam Canggih   Mendukung Kebenaran Al-Quran

      Firman Allah Swt. tersebut didukung kebenarannya  oleh   teknologi canggih yang diciptakan    bangsa-bangsa Non-Muslim golongan jin (penganut Kapitalisme) mau pun golongan ins (penganut Sosialisme)   -- yang mendustakan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran --  tersebut, dan  mereka   merasa bangga  karena mereka telah mampu membuat alat-alat perekam canggih yang dapat merekam segala sesuatu  serta menyimpan hasil rekamannya, padahal   Al-Quran 1400 tahun sebelumnya telah terlebih dulu mengisyaratkannya  (QS.17:37;  QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23), yakni  para malaikat pencacat amal telah mencatat  semua  isi hati dan perbuatan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾   وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾  اَلۡقِیَا فِیۡ جَہَنَّمَ  کُلَّ  کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ﴿ۙ﴾  مَّنَّاعٍ  لِّلۡخَیۡرِ  مُعۡتَدٍ  مُّرِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ مَعَ  اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ الشَّدِیۡدِ  ﴿﴾  قَالَ  قَرِیۡنُہٗ  رَبَّنَا مَاۤ  اَطۡغَیۡتُہٗ  وَ لٰکِنۡ  کَانَ  فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾  قَالَ  لَا تَخۡتَصِمُوۡا لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ اِلَیۡکُمۡ  بِالۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  مَا یُبَدَّلُ  الۡقَوۡلُ  لَدَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا بِظَلَّامٍ  لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿٪﴾  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ 
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.  Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya.  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawas. Dan sakratulmaut pasti akan datang, itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinya.  Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian.   Kami berfirman: Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini,  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  Kami berfirman: Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam Jahannam setiap pengingkar yang keras kepala. Penghalang kebaikan, pelanggar batas, peragu, yang menjadikan bersama  Allah tuhan lain, maka lemparkanlah dia oleh kamu berdua ke dalam azab yang sangat keras.” Dan  teman-teman yang menyertainya berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali bukan  aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang  dalam kesesatan yang jauh.”  Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan  sungguh Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepadamu.   Keputusan di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah   dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Ku.”  Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?”  (Qāf [50]:17-31).

Sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Malaikat Hafazhah (Penjaga Amal) Manusia

   Menurut beberapa ahli tafsir, malaikat yang duduk di sebelah kanan manusia mencatat amal baiknya dan yang ada di sebelah kirinya mencatat amal buruknya – perkataan “di sebelah kanan” menunjuk kepada amal baik dan “di sebelah kiri” kepada amal buruknya. Tiap perbuatan dan perkataan yang diucapkan meninggalkan bekasnya di udara dan dengan demikian tetap tersimpan. Itulah makna ayat: اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ  -- “Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ --  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawas.”
  Dalam surah lainnya  dalam Al-Quran  (QS.17:37;  QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23) dinyatakan bahwa anggota tubuh manusia – lengan, kaki dan lidahnya – akan meniadi saksi terhadap dia pada Hari Peradilan. Oleh karena itu berbagai-bagai tubuh manusia juga akan menjadi “pencatat- pencatat” seperti disinggung dalam ayat ini sebagai malaikat-malaikat pencatat.
   Pernyataan Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ   - “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya,  وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ  -- “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya  menyatakan bahwa pengetahuan  Allah Swt.  mengenai semua jenis aktivitas manusia bahkan  melebihi apa yang dicatat oleh para malaikat pencatat amal, sebagaimana penjelasan Nabi Besar Muhammad saw. kepada Mu’adz bin Jabal r.a. berikut ini:
  “Hai Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang malaikat penjaga pintu dan setiap pintu langit dijaga oleh seorang malaikat, menurut derajat pintu dan keagungannya.  Dengan demikian, malaikatlah yang memelihara amal si hamba.
  Kemudian sang pencatat membawa amalan si hamba ke langit dengan kemilau cahaya bagaikan matahari.  Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan-amalan itu. Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah:
Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Untuk mencapai langit berikutnya aku tidak mengizinkan ia melewatiku
.”
     Keesokan harinya, kembali malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal shalih yang berkilau, yang menurut malaikat Hafazhah sangat banyak dan terpuji. Sesampainya ke langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata: “Berhenti, dan tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan itu tidak sampai ke langit berikutnya.”     Maka para malaikat melaknat orang itu.
   Hari berikutnya, kembali malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafazhah dianggap sangat mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata: “Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat menjaga kibr (sombong). Allah memerintahkan aku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak sampai ke langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis.”
   Singkatnya, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya di langit keempat, malaikat penjaga langit berkata: “Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ujub. Allah memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku, sebab amalnya selalu disertai ujub.
    Kembali malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, haji, umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mengatakan:
“Aku malaikat penjaga sifat hasad (dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri dengki kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan dari Allah Swt., berarti ia membenci yang meridhai  yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”
   Lagi, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Sesampainya di langit keenam, malaikat penjaga berkata:
“Aku malaikat penjaga Rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihi orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”
  Kembali malaikat Hafazhah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan yang tidak kalah baik dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’. Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar, bercahaya bak kilat.
 Tetapi sesampainya di langit ke tujuh, malaikat penjaga berkata: “Aku malaikat penjaga sum’ah  (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin dapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya  (pamer). Allah tidak menerima ibadah orang-orang riya’.
Kemudian malaikat Hafazhah membawa amalan berupa shalat, puasa, haji, umrah, akhlaq mulia, pendiam, suka berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, malaikat Hafazhah sampai kelangit ketujuh hingga menembus hijab-hijab dan sampailah di hadapan Allah Swt. Para malaikat berdiri di depan Allah. Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu dilakukan hamba-Nya dengan shahih dan ikhlas karena Allah Swt..

Tanggapan Allah Swt. Mengenai "Amal Shaleh" Manusia

   Kemudian Allah berfirman: “Hai Hafazhah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tetapi diperuntukkan bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlashkan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui dari pada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang lain dan juga menipu kalian (para malaikat Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu olehnya.
   Aku-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Aku Mengetahui segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar bagi-Ku. Setiap yang tersembunyi tidak tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian.
  Aku lebih mengetahui atas segala sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa mereka menipu sesama makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Aku tetap melaknatnya.”
  Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata: “Ya Rabb (Tuhan), dengan demikian tetaplah laknat Engkau dan laknat kami atas mereka.”
Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan:   “Tetaplah laknat Allah kepadanya  dan laknat orang yang melaknat.”
       Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis tersedu-sedu. Selanjutnya berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang baru engkau ceritakan itu ?” Jawab Rasulullah saw.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabi engkau dalam masalah keyakinan.”
     Tanyaku lagi: “Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Bersabda Rasulullah saw.: “Ya begitulah, kalau dalam amalan engkau ada kelalaian maka tahanlah lidah engkau jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah diri engkau sendiri pun penuh dengan aib, maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain.  Jangan riya  dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan Akhirat. Engkau jangan berbisik berdua ketika di sebelah engkau ada orang lain yang tidak diajak berbisik.  Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalan engkau dunia dan Akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut pada engkau. Jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan. Jangan merobekkan pribadi orang lain dengan mulut engkau, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing jahanam. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan manusia.
     Tanyaku selanjutnya, “Ya Rasulullah, siapa yang bakal kuat menanggung penderitaan berat itu?” Jawab Rasulullah saw.: “Mu’adz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah Swt.. Cukuplah untuk menghindar semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi diri engkau sendiri dan benci apa yang berlaku kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh diri engkau sendiri. Kalau begitu engkau akan selamat dan diri engkau pasti akan terhindar.”
  Demikianlah makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ   - “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya,  وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ  -- “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”  (Qāf [50]:17).

Dua Malaikat Pengiring Manusia

  Kemudian makna  ayat:      وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ   -- “Dan sakratulmaut pasti akan datang, itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinya.    وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ -- Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ -- Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian.”
  Sā’iq   boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kiri manusia dan mencatat amal buruknya dan sebagai hukuman atas amal buruk itu, akan menggiring orang itu ke neraka, sedangkan    syahīd boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kanan dan mencatat perbuatan baiknya dan akan menjadi saksi baginya.
 Atau, kedua kata sā’iq dan syahīd itu secara kiasan masing-masing dapat menyatakan anggota tubuh dan kemampuan manusia yang disalahgunakan, serta anggota tubuh dan kemampāuan manusia yang digunakan dengan baik dan setepat-tepatnya  (QS.17:37;  QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23).
  Makna ayat selanjutnya:  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ -- “Kami berfirman: Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini,  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.”
    Pada Hari Kemudian (akhirat) tabir akan disingkapkan dari mata manusia dan pandangan serta penglihatan mentalnya akan menjadi lebih terang dan lebih tajam. Ia akan melihat akibat perbuatan-perbuatannya dalam bentuk jasad yang dahulu di dunia ini tersembunyi dari matanya dan akan menyadari bahwa apa yang biasa dianggapnya semata-mata suatu khayalan belaka  hal itu merupakan kenyataan yang sesungguhnya.
   Makna ayat selanjutnya:  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ   -- “Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  اَلۡقِیَا فِیۡ جَہَنَّمَ  کُلَّ  کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ  -- Kami berfirman: Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam Jahannam setiap pengingkar yang keras kepala.  مَّنَّاعٍ  لِّلۡخَیۡرِ  مُعۡتَدٍ  مُّرِیۡبِۣ  --  Penghalang kebaikan, pelanggar batas, peragu, الَّذِیۡ جَعَلَ مَعَ  اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ الشَّدِیۡدِ      --  yang menjadikan bersama  Allah tuhan lain, maka lemparkanlah dia oleh kamu berdua ke dalam azab yang sangat keras.”
   Bentuk mutsana (dua orang) kata alqiya dipergunakan, sebab perintah itu diberikan kepada kedua malaikat – Sā’iq dan Syahīd – atau untuk memberikan tekanan maksud perintah itu. Bentuk ungkapan ini pun dipergunakan pula dalam QS.23:100, di sana kata kerja jamak, dipakai untuk pokok kalimat dalam bentuk tunggal. Dan ini cocok benar dengan kaedah logat bahasa Arab.

Makna Kiasan “Percakapan” Allah Swt. dengan  Neraka Jahannam

  Ayat selanjutnya:  قَالَ  قَرِیۡنُہٗ  رَبَّنَا مَاۤ  اَطۡغَیۡتُہٗ  وَ لٰکِنۡ  کَانَ  فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ -- “Dan  teman-teman yang menyertainya berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali bukan  aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang  dalam kesesatan yang jauh.”  Merupakan suatu tabiat manusia yaitu apabila seorang pelaku dosa dihadapkan kepada akibat buruk perbuatannya ia berusaha mengalihkan tanggung-jawabnya kepada orang lain.
   Keadaan pikiran orang-orang kafir itulah yang dilukiskan dalam ayat ini. Ia akan menganggap syaitan bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa dirinya sendiri. Namun syaitan yang  dijadikan temannya akan membantahnya:    قَالَ  قَرِیۡنُہٗ  رَبَّنَا مَاۤ  اَطۡغَیۡتُہٗ  وَ لٰکِنۡ  کَانَ  فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ   -- “Dan  teman-teman yang menyertainya berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali bukan  aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang  dalam kesesatan yang jauh.”
 Sehubungan “perbantahan” mereka itu Allah Swt. berfirman: قَالَ  لَا تَخۡتَصِمُوۡا لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ اِلَیۡکُمۡ  بِالۡوَعِیۡدِ  -- “Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan  sungguh Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepada kamu. مَا یُبَدَّلُ  الۡقَوۡلُ  لَدَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا بِظَلَّامٍ  لِّلۡعَبِیۡدِ  --   Keputusan di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Ku.”    
   Selanjutnya mengenai makna kiasan ayat:  یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab:  “Apakah masih ada tambahan lagi?”   
  Percakapan itu tamsilan, dan neraka di sini diibaratkan sebagai manusia yang menghuninya,  sedangkan perkataan diletakkan pada mulutnya untuk menyatakan keadaannya dan bukan benar-benar akan berbicara, atau seolah-olah neraka itu  dapat berbicara.
  Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang tercantum dalam QS.41:12, firman-Nya:    ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ   -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya (langit) dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”. قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ --   Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”   
 Dalam ayat tersebut  langit dan bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka seperti menaati hukum llahi dengan tulus ikhlas. Inilah salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang mempergunakan kata dan ungkapan untuk benda-benda tidak bernyawa, seperti yang dipergunakan bagi manusia. Contoh lainnya mengenai kiasan seperti itu adalah “dialog” antara Allah Swt. dan para malaikat  sehubungan dengan  penciptaan seorang “khalifah Allah” (QS.2:31-33).
   Ungkapan kiasan dalam ayat tersebut  pada hakikatnya mengisyaratkan kepada kemampuan manusia yang tidak berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi, dan dengan demikian ia menempuh jalan ke neraka, sebagaimana  peringatan Allah Swt. dalam   Surah Al-Balad ayat 1-21; At-Takatsur, Al-Ashr, dan  Al-Humazah  dalam Bab-bab sebelumnya, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾   حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ  ﴿٪﴾      وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari ketika   musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok.  Hingga apabila mereka sampai kepadanya  telinga merekamata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan.      Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.   Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi  bahwa telinga kamu, dan tidak pula  mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.   Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu  yang telah membinasakanmu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.”   Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak termasuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan  umat-umat  yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan  ins (manusia),  sesungguhnya mereka itu orang-orang yang  rugi. (Ha MimAs-Sajdah [41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 28  Mei    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar