Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
KESAKSIAN
TUBUH MANUSIA SEBAGAI BUKTI BENARNYA AL-QURAN
TENTANG “CATATAN AMAL” MANUSIA & AKIBAT BURUK PERLOMBAAN TIDAK SEHAT MENIMBUN KEKAYAAN
DUNIAWI DI KALANGAN GOLONGAN JIN
DAN INS
Bab 56
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
golongan jin dan ins
yang bangga dengan keberhasilan
duniawi mereka serta keingkaran mereka kepada Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., sehingga pada
akhirnya mereka akan diperlakukan Allah Swt. secara hina: یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ
الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang berdosa ciri-ciri
mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang (diseret) pada jambul dan kakinya.” (Ar-Rahmān
[55]:42), firman-Nya:
فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ
فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ
بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ
بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Pada hari itu tidak akan ditanya dosa ins (manusia) dan tidak
pula jin. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka
nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? Orang-orang berdosa ciri-ciri
mereka akan dikenal lalu mereka akan
dipegang pada jambul dan kakinya.
فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Inilah Jahannam yang orang-orang
berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ
بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ -- mereka akan
berkeliling-keliling di antara Jahannam
itu dan air
panas mendidih. فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan)
kamu berdua yang kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:40-46).
Dosa yang Nyata yang Dilakukan Golongan Jin
dan Ins &
Kesaksian “Tubuh” Manusia
Mengenai Perbuatannya
Makna ayat فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ --
“Pada hari itu tidak akan ditanya
dosa
ins (manusia) dan tidak pula jin”.
Amal-amal buruk orang-orang durhaka
akan tertera pada wajah mereka,
sehingga mereka tidak akan ditanya
lagi mengenai apakah mereka telah melakukan kedurhakaan
atau tidak.
Sebagaimana tersebut dalam surah
Al-Quran yang lain (QS.41:21), di alam akhirat anggota-anggota
tubuh orang-orang kafir itu sendiri
akan menjadi saksi atas perbuatan
mereka, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ اللّٰہِ اِلَی النَّارِ فَہُمۡ یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی
اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ
جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ لِمَ شَہِدۡتُّمۡ عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا
اللّٰہُ الَّذِیۡۤ اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
خَلَقَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ
ظَنَنۡتُمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَا یَعۡلَمُ
کَثِیۡرًا مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ
الۡمُعۡتَبِیۡنَ ﴿٪﴾
وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ
فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari ketika musuh-musuh
Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka
akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga
mereka, mata mereka, dan kulit
mereka menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. Dan
mereka berkata kepada kulit mereka: ”Mengapa kamu memberi kesaksian terhadap kami?”
Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah
Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan
kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi bahwa telinga
kamu, dan tidak pula mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah
tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah
sangkaanmu yang kamu sangkakan
kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah
membinasakanmu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” Lalu jika mereka bersabar maka Api
tempat-tinggal bagi mereka, dan jika
mereka mengemukakan alasan maka sekali-kali mereka tidak termasuk
orang-orang yang
diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan umat-umat
yang telah berlalu
sebelum mereka dari jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.
Alat Perekam Canggih Mendukung
Kebenaran Al-Quran
Firman Allah Swt. tersebut didukung kebenarannya oleh teknologi
canggih yang diciptakan bangsa-bangsa Non-Muslim golongan jin (penganut
Kapitalisme) mau pun golongan ins (penganut Sosialisme) --
yang mendustakan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran
-- tersebut, dan mereka merasa bangga karena mereka telah mampu membuat alat-alat
perekam canggih yang dapat merekam
segala sesuatu serta menyimpan hasil rekamannya, padahal Al-Quran
1400 tahun sebelumnya telah terlebih dulu mengisyaratkannya (QS.17:37; QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23), yakni para malaikat
pencacat amal telah mencatat semua isi hati dan perbuatan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ
نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ نَفۡسُہٗ ۚۖ
وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾ اِذۡ
یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾ مَا
یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ
رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾ وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ
الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ تَحِیۡدُ ﴿﴾ وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾ وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ لَقَدۡ
کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا
فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾ وَ
قَالَ قَرِیۡنُہٗ ہٰذَا مَا لَدَیَّ
عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اَلۡقِیَا فِیۡ جَہَنَّمَ
کُلَّ کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ﴿ۙ﴾ مَّنَّاعٍ لِّلۡخَیۡرِ
مُعۡتَدٍ مُّرِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ
جَعَلَ مَعَ اللّٰہِ اِلٰـہًا اٰخَرَ فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ
الشَّدِیۡدِ ﴿﴾ قَالَ قَرِیۡنُہٗ رَبَّنَا مَاۤ
اَطۡغَیۡتُہٗ وَ لٰکِنۡ کَانَ
فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ قَالَ لَا تَخۡتَصِمُوۡا
لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ اِلَیۡکُمۡ
بِالۡوَعِیۡدِ ﴿﴾ مَا یُبَدَّلُ
الۡقَوۡلُ لَدَیَّ وَ مَاۤ اَنَا بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿٪﴾ یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
menciptakan manusia dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya. Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan
di sebelah kirinya. Ia tidak
mengucapkan sepatah kata pun melainkan di dekatnya sudah siap pengawas.
Dan sakratulmaut pasti akan datang,
itulah apa yang engkau selalu menghindar darinya. Dan nafiri
akan ditiup, itulah Hari azab
yang dijanjikan. Dan datang setiap
jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. Kami berfirman: “Sungguh
dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini, maka Kami singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat
tajam.” Dan teman yang
menyertainya berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan
amal engkau.” Kami berfirman: “Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam
Jahannam setiap pengingkar yang
keras kepala. Penghalang
kebaikan, pelanggar batas, peragu, yang menjadikan bersama Allah tuhan
lain, maka lemparkanlah dia oleh
kamu berdua ke dalam azab yang sangat keras.” Dan teman-teman
yang menyertainya berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali bukan aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang dalam kesesatan yang jauh.” Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan sungguh
Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepadamu. Keputusan
di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah
dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap
hamba-hamba-Ku.” Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam
itu akan menjawab: “Apakah masih ada tambahan lagi?” (Qāf [50]:17-31).
Sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Malaikat
Hafazhah (Penjaga Amal) Manusia
Menurut beberapa ahli tafsir, malaikat yang duduk di sebelah kanan manusia mencatat
amal baiknya dan yang ada di sebelah
kirinya mencatat amal buruknya –
perkataan “di sebelah kanan” menunjuk kepada amal baik dan “di sebelah kiri” kepada amal buruknya. Tiap perbuatan
dan perkataan yang diucapkan meninggalkan bekasnya di udara dan dengan demikian tetap tersimpan. Itulah makna ayat: اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ
الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ -- “Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan
di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ -- Ia tidak
mengucapkan sepatah kata pun melainkan di dekatnya sudah siap pengawas.”
Dalam surah lainnya dalam Al-Quran (QS.17:37;
QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23) dinyatakan bahwa anggota tubuh manusia – lengan, kaki dan lidahnya – akan meniadi saksi terhadap dia pada Hari Peradilan. Oleh karena itu
berbagai-bagai tubuh manusia juga
akan menjadi “pencatat- pencatat”
seperti disinggung dalam ayat ini sebagai malaikat-malaikat
pencatat.
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ
نَفۡسُہٗ - “Dan
sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ
اِلَیۡہِ مِنۡ حَبۡلِ
الۡوَرِیۡدِ -- “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya”
menyatakan bahwa pengetahuan Allah Swt.
mengenai semua jenis aktivitas
manusia bahkan melebihi apa yang dicatat
oleh para malaikat pencatat amal,
sebagaimana penjelasan Nabi Besar
Muhammad saw. kepada Mu’adz bin Jabal
r.a. berikut ini:
“Hai Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh
malaikat. Pada setiap langit
terdapat seorang malaikat penjaga pintu
dan setiap pintu langit dijaga oleh
seorang malaikat, menurut derajat
pintu dan keagungannya. Dengan demikian, malaikatlah yang memelihara amal si hamba.
Kemudian sang pencatat membawa amalan si hamba ke langit dengan kemilau cahaya
bagaikan matahari. Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan-amalan itu. Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah:
“Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Untuk mencapai langit berikutnya aku tidak mengizinkan ia melewatiku.”
“Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Untuk mencapai langit berikutnya aku tidak mengizinkan ia melewatiku.”
Keesokan
harinya, kembali malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal shalih yang berkilau, yang menurut
malaikat Hafazhah sangat banyak dan
terpuji. Sesampainya ke langit kedua
(ia lolos dari langit pertama, sebab
pemiliknya bukan pengumpat), penjaga
langit kedua berkata: “Berhenti, dan tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan
itu tidak sampai ke langit berikutnya.”
Maka para malaikat melaknat orang
itu.
Hari berikutnya, kembali malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amalan
seorang hamba yang sangat memuaskan,
penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan,
yang oleh malaikat Hafazhah dianggap
sangat mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata: “Berhenti!
Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya.
Aku malaikat menjaga kibr (sombong).
Allah memerintahkan aku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku
dan tidak sampai ke langit berikutnya.
Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis.”
Singkatnya, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan
itu bersifat bak bintang kejora,
mengeluarkan suara gemuruh, penuh
dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya di langit
keempat, malaikat penjaga langit berkata: “Berhenti! Tamparkan amal itu
ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat
penjaga ujub. Allah memerintahkanku
agar amal ini tidak melewatiku, sebab
amalnya selalu disertai ujub.
Kembali
malaikat Hafazhah naik ke langit membawa
amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, haji, umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mengatakan:
“Aku malaikat penjaga sifat hasad (dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri dengki kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan dari Allah Swt., berarti ia membenci yang meridhai yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”
“Aku malaikat penjaga sifat hasad (dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri dengki kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan dari Allah Swt., berarti ia membenci yang meridhai yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”
Lagi, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa
amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah.
Sesampainya di langit keenam, malaikat
penjaga berkata:
“Aku malaikat penjaga Rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihi orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”
“Aku malaikat penjaga Rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihi orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”
Kembali malaikat Hafazhah naik ke langit. Dan
kali ini adalah langit ke tujuh. Ia
membawa amalan yang tidak kalah baik
dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’. Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar,
bercahaya bak kilat.
Tetapi sesampainya di langit ke tujuh, malaikat penjaga berkata: “Aku malaikat penjaga sum’ah (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran
dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin dapat pengaruh dari para pemimpin. Aku
diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain.
Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya (pamer). Allah tidak menerima ibadah orang-orang
riya’.
Kemudian malaikat Hafazhah
membawa amalan berupa shalat, puasa, haji, umrah, akhlaq mulia, pendiam, suka berdzikir
kepada Allah. Dengan diiringi para
malaikat, malaikat Hafazhah sampai
kelangit ketujuh hingga menembus
hijab-hijab dan sampailah di hadapan
Allah Swt. Para malaikat berdiri
di depan Allah. Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu dilakukan hamba-Nya dengan shahih dan ikhlas karena
Allah Swt..
Tanggapan Allah Swt. Mengenai "Amal Shaleh" Manusia
Kemudian Allah berfirman: “Hai
Hafazhah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi hatinya.
Ia beramal bukan untuk Aku, tetapi diperuntukkan bagi selain Aku, bukan
diniatkan dan diikhlashkan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui dari pada kalian. Aku
laknat mereka yang telah menipu orang lain dan juga menipu kalian (para
malaikat Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu olehnya.
Aku-lah Yang Maha Mengetahui
hal-hal ghaib. Aku Mengetahui segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar
bagi-Ku. Setiap yang tersembunyi tidak tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas
segala yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas
orang-orang terdahulu sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian.
Aku lebih mengetahui atas segala sesuatu yang samar dan rahasia.
Bagaimana bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa mereka menipu sesama
makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Aku tetap melaknatnya.”
Tujuh malaikat di antara tiga
ribu malaikat berkata: “Ya Rabb
(Tuhan), dengan demikian tetaplah laknat Engkau dan laknat kami atas mereka.”
Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat.”
Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat.”
Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini)
kemudian menangis tersedu-sedu.
Selanjutnya berkata: “Ya Rasulullah,
bagaimana aku bisa selamat dari semua
yang baru engkau ceritakan itu ?” Jawab Rasulullah saw.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabi engkau dalam masalah keyakinan.”
Tanyaku lagi: “Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah Mu’adz bin Jabal.
Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Bersabda Rasulullah saw.: “Ya begitulah,
kalau dalam amalan engkau ada kelalaian maka
tahanlah lidah engkau jangan sampai
memburukkan orang lain. Ingatlah
diri engkau sendiri pun penuh dengan aib, maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain. Jangan riya dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan
termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan Akhirat. Engkau jangan berbisik berdua ketika di
sebelah engkau ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput
amalan engkau dunia dan Akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis
dengan maksud supaya orang takut pada engkau. Jangan mengungkit-ungkit apabila
membuat kebaikan. Jangan merobekkan pribadi orang lain dengan mulut engkau,
kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing jahanam. Sebagaimana firman
Allah yang bermaksud: “Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan manusia.”
Tanyaku selanjutnya,
“Ya Rasulullah, siapa yang bakal
kuat menanggung penderitaan berat itu?”
Jawab Rasulullah saw.: “Mu’adz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi
mereka yang dimudahkan Allah Swt.. Cukuplah untuk menghindar semua itu, engkau
menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi diri engkau sendiri dan benci apa yang berlaku kepada orang lain
apa-apa yang dibenci oleh diri engkau sendiri. Kalau begitu engkau akan selamat dan diri engkau pasti akan terhindar.”
Demikianlah makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ
نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ نَفۡسُہٗ -
“Dan sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ
اِلَیۡہِ مِنۡ حَبۡلِ
الۡوَرِیۡدِ -- “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya” (Qāf [50]:17).
Dua Malaikat Pengiring
Manusia
Kemudian makna ayat: وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ
الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ تَحِیۡدُ --
“Dan sakratulmaut pasti akan datang,
itulah apa yang engkau selalu menghindar darinya. وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡوَعِیۡدِ -- Dan nafiri akan
ditiup, itulah Hari azab yang
dijanjikan. وَ جَآءَتۡ
کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ -- Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian.”
Sā’iq boleh jadi malaikat
yang duduk di sebelah kiri manusia
dan mencatat amal buruknya dan
sebagai hukuman atas amal buruk itu, akan menggiring orang itu ke neraka, sedangkan syahīd boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kanan dan mencatat
perbuatan baiknya dan akan menjadi saksi
baginya.
Atau, kedua kata sā’iq dan syahīd
itu secara kiasan masing-masing dapat
menyatakan anggota tubuh dan kemampuan manusia yang disalahgunakan, serta anggota tubuh dan kemampāuan manusia yang digunakan
dengan baik dan setepat-tepatnya (QS.17:37;
QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23).
Makna
ayat selanjutnya: لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ
غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ -- “Kami berfirman: “Sungguh dahulu engkau
benar-benar lalai mengenai hari ini,
maka Kami singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat
tajam.”
Pada Hari
Kemudian (akhirat) tabir akan disingkapkan dari mata manusia dan pandangan serta penglihatan mentalnya akan menjadi lebih terang dan lebih tajam.
Ia akan melihat akibat
perbuatan-perbuatannya dalam bentuk jasad
yang dahulu di dunia ini tersembunyi dari matanya dan akan menyadari
bahwa apa yang biasa dianggapnya
semata-mata suatu khayalan belaka hal itu merupakan kenyataan yang sesungguhnya.
Makna ayat selanjutnya: وَ قَالَ
قَرِیۡنُہٗ ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ -- “Dan
teman yang menyertainya berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.” اَلۡقِیَا فِیۡ جَہَنَّمَ کُلَّ
کَفَّارٍ عَنِیۡدٍ -- Kami berfirman: “Lemparkanlah oleh kamu berdua ke dalam
Jahannam setiap pengingkar yang
keras kepala. مَّنَّاعٍ لِّلۡخَیۡرِ
مُعۡتَدٍ مُّرِیۡبِۣ -- Penghalang
kebaikan, pelanggar batas, peragu, الَّذِیۡ جَعَلَ
مَعَ اللّٰہِ اِلٰـہًا اٰخَرَ فَاَلۡقِیٰہُ فِی الۡعَذَابِ
الشَّدِیۡدِ -- yang menjadikan
bersama Allah tuhan lain, maka lemparkanlah dia oleh kamu berdua ke dalam
azab yang sangat keras.”
Bentuk mutsana (dua orang) kata alqiya
dipergunakan, sebab perintah itu diberikan kepada kedua malaikat – Sā’iq
dan Syahīd – atau untuk memberikan tekanan maksud perintah itu. Bentuk ungkapan ini pun
dipergunakan pula dalam QS.23:100, di sana kata
kerja jamak, dipakai untuk pokok kalimat dalam bentuk tunggal. Dan ini cocok benar dengan kaedah logat bahasa Arab.
Makna Kiasan “Percakapan” Allah
Swt. dengan Neraka Jahannam
Ayat
selanjutnya: قَالَ قَرِیۡنُہٗ
رَبَّنَا مَاۤ اَطۡغَیۡتُہٗ وَ لٰکِنۡ
کَانَ فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ -- “Dan teman-teman
yang menyertainya berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali bukan aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang dalam kesesatan yang jauh.” Merupakan suatu tabiat manusia yaitu apabila seorang pelaku dosa dihadapkan kepada akibat buruk perbuatannya ia berusaha mengalihkan tanggung-jawabnya kepada
orang lain.
Keadaan pikiran orang-orang kafir
itulah yang dilukiskan dalam ayat
ini. Ia akan menganggap syaitan
bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran
dan dosa-dosa dirinya sendiri. Namun syaitan yang dijadikan temannya
akan membantahnya: قَالَ قَرِیۡنُہٗ رَبَّنَا مَاۤ
اَطۡغَیۡتُہٗ وَ لٰکِنۡ کَانَ
فِیۡ ضَلٰلٍۭ بَعِیۡدٍ -- “Dan teman-teman
yang menyertainya berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali bukan aku yang menyebabkannya durhaka tetapi ia sendirilah yang dalam kesesatan yang jauh.”
Sehubungan “perbantahan” mereka itu Allah Swt. berfirman: قَالَ لَا تَخۡتَصِمُوۡا لَدَیَّ وَ قَدۡ قَدَّمۡتُ
اِلَیۡکُمۡ بِالۡوَعِیۡدِ -- “Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku,
dan sungguh
Aku telah terlebih dulu memberi peringatan kepada kamu. مَا یُبَدَّلُ الۡقَوۡلُ
لَدَیَّ وَ مَاۤ اَنَا
بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ -- Keputusan
di sisi-Ku sekali-kali tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Ku.”
Selanjutnya mengenai makna kiasan ayat: یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ -- “Pada hari itu Kami akan
berkata kepada Jahannam: “Apakah engkau
sudah penuh?” Dan Jahannam itu
akan menjawab: “Apakah masih ada tambahan lagi?”
Percakapan itu tamsilan, dan neraka di
sini diibaratkan sebagai manusia yang
menghuninya, sedangkan perkataan
diletakkan pada mulutnya untuk
menyatakan keadaannya dan bukan
benar-benar akan berbicara, atau
seolah-olah neraka itu dapat
berbicara.
Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang
tercantum dalam QS.41:12, firman-Nya: ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ -- Kemudian
Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
lalu Dia berfirman kepadanya (langit)
dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa”. قَالَتَاۤ
اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.”
Dalam ayat tersebut langit
dan bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka seperti menaati hukum
llahi dengan tulus ikhlas. Inilah
salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang
mempergunakan kata dan ungkapan untuk
benda-benda tidak bernyawa, seperti
yang dipergunakan bagi manusia. Contoh
lainnya mengenai kiasan seperti itu
adalah “dialog” antara Allah Swt. dan para malaikat sehubungan
dengan penciptaan seorang “khalifah Allah” (QS.2:31-33).
Ungkapan kiasan dalam ayat tersebut pada hakikatnya mengisyaratkan kepada kemampuan manusia yang tidak berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan
duniawi, dan dengan demikian ia menempuh jalan ke neraka, sebagaimana peringatan Allah Swt. dalam Surah Al-Balad
ayat 1-21; At-Takatsur, Al-Ashr, dan Al-Humazah
dalam Bab-bab sebelumnya,
firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ اللّٰہِ
اِلَی النَّارِ فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی
اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ
جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ لِمَ شَہِدۡتُّمۡ عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا
اللّٰہُ الَّذِیۡۤ اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
خَلَقَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ
ظَنَنۡتُمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَا یَعۡلَمُ
کَثِیۡرًا مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ
الۡمُعۡتَبِیۡنَ ﴿٪﴾
وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ
فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari ketika musuh-musuh
Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka
akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga
mereka, mata mereka, dan kulit
mereka menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. Dan
mereka berkata kepada kulit mereka: ”Mengapa kamu memberi kesaksian terhadap kami?”
Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah
Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan
kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi bahwa telinga
kamu, dan tidak pula mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak
mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah
sangkaanmu yang kamu sangkakan
kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah
membinasakanmu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” Lalu jika mereka bersabar maka Api
tempat-tinggal bagi mereka, dan jika
mereka mengemukakan alasan maka sekali-kali mereka tidak termasuk
orang-orang yang
diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan umat-umat
yang telah berlalu
sebelum mereka dari jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 28 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar