Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
HUBUNGAN SIFAT RAHIIMIYAT
(MAHA PENYAYANG) ALLAH SWT. DENGAN “RUMAH SURGAWI” DI AKHIRAT MELALUI
“JALAN PENDAKIAN YANG TERJAL”
& PERUMPAMAAN “SARANG LABA-LABA”
Bab 53
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah
dikemukakan mengenai doa “Sapujagat” cara meraih kesuksesan
dunia dan akhirat, yakni
sesuai dengan cara “bersyukur yang hakiki” Allah Swt. telah mengajarkan doa “sapujagat” dalam firman-Nya berikut ini,
sehubungan dengan ibadah haji dan doa Nabi Ibrahim a.s. pemberian
rezeki (QS.2:127):
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ مَّنَاسِکَکُمۡ
فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ کَذِکۡرِکُمۡ
اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ
مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا
فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی
الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ
مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila
kamu telah menunaikan cara-cara ibadah hajimu, maka ingatlah Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapakmu atau mengingat-Nya lebih keras lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan di
antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan
hidup di dunia ini”, dan tidak ada
baginya bagian di akhirat. وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا
حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ
حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Dan di antara mereka ada yang
mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di
dunia dan segala yang baik di
akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Mereka
inilah yang akan memperoleh bagian
sebagai pahala dari apa yang
mereka usahakan, dan Allah Mahacepat
dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
Ayat 201 menyebut golongan orang-orang yang tujuan hidupnya hanya terbatas untuk
mencari kesenangan hidup di dunia: فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ
یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی
الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ
مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan di
antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan
hidup di dunia ini”, dan tidak ada
baginya bagian di akhirat.”
Sedangkan ayat 202 menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya
terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik (hasanah) dari dunia ini dan pula segala yang baik (hasanah) dari alam
ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-’Arus).
Doa ini sangat padat dan Nabi
Besar Muhammad saw. amat
sering mempergunakannya (Muslim).
Bagi orang-orang yang bertakwa yang
mencari “rumah di akhirat” melalui
sarana kesuksesan duniawi yang
diraihnya seperti itu Allah Swt.
berfirman sehubungan dengan kisah Qarun (QS.[28]:77-83):
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ
عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ
جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ خَیۡرٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا
السَّیِّاٰتِ اِلَّا مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿ ﴾
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan
di bumi, dan tidak pula kerusakan.
Dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertakwa.
Barangsiapa berbuat ihsan (kebaikan) maka
baginya ada balasan yang lebih
baik dari itu, dan barangsiapa yang
berbuat kejahatan maka tidak akan
dibalas orang-orang yang berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Qashash
[28]:84-85).
Hukum pembalasan dari Allah Swt. bekerja dengan cara ini, yaitu untuk amal-amal
yang baik ganjarannya beberapa kali
lipat lebih besar, sedangkan hukuman
atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal dengan itu.
“Jalan Pendakian yang Terjal”
Orang-orang kafir yang memperoleh keberhasilan duniawi tersebut lupa,
bahwa kesuksesana duniawi mereka itu adalah berkat sifat Rububiyyat-Nya dan Rahmāniyat-Nya
Allah Swt. Yang telah telah menganugerahkan berbagai kemampuan jasmani dan ruhani kepada manusia -- antara lain berupa berbagai indera
jasmani dan ruhani untuk memperoleh pengetahuan
serta lidah
dan bibir untuk berbicara, dan juga karena Allah Swt. telah “menundukkan” alam semesta ini untuk mengkhidmati manusia manusia, baik berupa tersedianya SDA (Sumber Daya Alam) mau pun
SDM (Sumber Daya Manusia)
-- karena tanpa semua itu manusia tidak
akan mampu melakukan apa pun, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾ وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا
الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾ وَ وَالِدٍ وَّ مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ کَبَدٍ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ ۘ﴿﴾ یَقُوۡلُ
اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ
یَرَہٗۤ اَحَدٌ ؕ﴿﴾ اَلَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ
لِسَانًا وَّ شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ ہَدَیۡنٰہُ النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾ فَلَا
اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ
اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ
نَارٌ مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tidak demikian, Aku bersumpah dengan kota ini, dan engkau akan singgah di kota ini. Dan demi ayah dan anak. لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ کَبَدٍ -- Sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia supaya bekerja keras. اَیَحۡسَبُ
اَنۡ لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ --Apakah
ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا -- Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang
banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ یَرَہٗۤ
اَحَدٌ
-- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ -- Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang
mata? وَ لِسَانًا وَّ شَفَتَیۡنِ -- Dan sebuah lidah
serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ
النَّجۡدَیۡنِ -- Dan Kami telah menunjukkan kepadanya
dua jalan. فَلَا اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak
mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ -- Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian
terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ -- Yaitu
memerdekakan budak, اَوۡ اِطۡعٰمٌ
فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ
-- atau memberi
makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ -- kepada
anak yatim kerabat, اَوۡ مِسۡکِیۡنًا
ذَا مَتۡرَبَۃٍ -- atau kepada orang miskin yang terbaring
di debu. ثُمَّ کَانَ مِنَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ -- Kemudian dia menjadi di antara orang-orang
beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain
berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ -- Mereka
ini golongan kanan. وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ
اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ -- Dan
orang-orang yang kafir kepada
Tanda-tanda Kami mereka itu golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ نَارٌ
مُّؤۡصَدَۃٌ --
Atas mereka akan ada Api yang tertutup. (Al-Balad [90]:1-21).
Makna “Jalan Pendakian
yang Terjal”
An-najdain berarti:
dua jalan raya kebaikan dan kejahatan; dua jalan kebenaran dan kepalsuan; dan dua jalan raya kemajuan
ruhani dan jasmani. Allah Swt. telah membekali manusia dengan segala sarana
yang dengan sarana itu ia dapat
menemukan jalan lurus, dapat menyaring yang benar dari yang salah,
dan kebenaran dari kepalsuan.
Manusia telah dianugerahi
mata, baik mata ruhani maupun mata
jasmani, yang dengan itu ia dapat membedakan
kebaikan dari keburukan, dan ia
diberi pula lidah dengan dua buah bibir, agar ia dapat meminta petunjuk, dan di atas segala-galanya Allah
Swt, telah meletakkan di hadapannya tujuan
tertinggi, supaya ia sebagai Khalifah
Allah (wakil Allah) di muka bumi, dapat membaktikan
semua kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan itu.
Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu
Al-Quran Allah Swt. telah membukakan segala jalan dan sarana
yang dengan mempergunakannya manusia
dapat mencapai kemajuan ruhani dan jasmani yang tiada hingganya, tetapi
mereka menolak memberikan pengorbanan
yang diperlukan guna mencapai tujuan
tersebut, karena memang merupakan “jalan
pendakian yang terjal.”
Ayat-ayat 14-17 membicarakan dua cara -- yakni jalan “pendakian yang terjal” -- yang
dapat meninggikan martabat akhlak
suatu kaum:
(a) Pembebasan hamba sahaya dengan mengangkat golongan masyarakat
yang tertekan, tertindas, dan hina kepada tingkat yang sama dalam kehidupan.
(b)
Pemberian pertolongan kepada anak-anak yatim dan orang-orang
miskin supaya dapat berdiri di atas
kaki sendiri (mandiri) dan menjadi anggota
masyarakat yang berguna.
Tetapi amal-amal
baik yang disebut dalam ayat 14-17 yang mendahuluinya tidaklah memadai
untuk mengangkat martabat suatu masyarakat seutuhnya, karena diperlukan cita-cita dan asas-asas benar yang berpadu
dengan kesetiaan yang tetap lagi teguh pada jalan yang menjurus kepada akhlak lurus, serta mengajarkan
nilai kebaikan kepada orang lain, adalah sama pentingnya untuk mencapai tujuan
mulia tersebut di atas, karena itu
selanjutnya Allah Swt. berfirman: ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ – “Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman
dan menasihati satu sama lain supaya
bersabar dan mengajak satu
sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ -- Mereka ini golongan
kanan.” (Al-Balad [90]:17-18).
Dua Golongan “Jin” dan “Ins” yang Mendustakan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.
& Kobaran
“Api Hidyogen” dan “Api Nuklir”
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai kesuksesan
duniawi yang diraih Fir’aun dan Qarun, tetapi karena tidak bersyukur kepada Allah Swt. yang memberlakukan Sifat Rahmaniyat-Nya kepada mereka maka
akibat ketidak-bersyukuran tersebut menyebabkan keduanya “ditenggelamkan”
Allah Swt., yakni Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan di lautan, sedangkan Qarun
dan seluruh kekayaannya
ditenggelamkan di daratan ke dalam bumi.
Makna ayat selanjutnya
mengenai api yang tersedia bagi orang-orang yang menolak menempuh jalan “pendakian
yang terjal”, firman-Nya: وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ -- Dan orang-orang
yang kafir kepada Tanda-tanda Kami mereka itu golongan
kiri. عَلَیۡہِمۡ نَارٌ
مُّؤۡصَدَۃٌ
-- Atas mereka akan ada Api yang tertutup.”
(Al-Balad
[90]:20-21).
Api bila tertutup dari keempat jurusan menjadi sangat membinasakan. Nampaknya yang dimaksud dengan “api yang tertutup” adalah mengisyaratkan kepada negara-negara Barat Non-Muslim,
yang demi meraih kekuasaan dan kekayaan duniawi
telah memanfatkan “kekuatan api” pada berbagai sarana tranportasi dan kemiliteran mereka dengan menciptakan
bom-bom hydrogen atau senjata
berhulu-ledak nuklir, yang akibatnya telah
dan akan menghantam mereka sendiri, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ar-Rahmān:
کُلُّ
مَنۡ عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ
یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ
اَیُّہَ الثَّقَلٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ
الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Tuhan
engkau, Pemilik segala kemegahan dan
kemuliaan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Kepada-Nya memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi.
کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ
اَیُّہَ الثَّقَلٰنِ -- Segera
Kami akan menghadapi kamu, hai dua
golongan yang kuat. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin
dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus
batas-batas seluruh langit dan bumi
maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ
وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ -- Akan
dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) berdua
yang manakah yang kamu berdua dustakan?
فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ -- Dan ketika langit terbelah dan menjadi
merah bagaikan kulit merah. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka
nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu dustakan? فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ
-- Pada hari itu tidak akan ditanya dosa
manusia dan tidak pula
jin. Maka nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ
بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang berdosa ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang (diseret)
pada jambul dan kakinya. فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? ہٰذِہٖ
جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Inilah Jahannam yang orang-orang
berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ
بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ -- mereka akan berkeliling-keliling di
antara Jahannam itu dan air
panas mendidih. فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb
(Tuhan) berdua yang kamu
dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-46).
Hubungan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt. dengan Kehidupan Surgawi di Dunia
dan di Akhirat
Dalam Surah Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. memperingat dua golongan
manusia yakni golongan jin (penganut system kapitalisme) dan
golongan ins (penganut golongan
sosialisma) bahwa – sebagaimana kaum-kaum
purbakala, Fir’aun dan Qarun
-- pada hakikatnya keberhasilan
duniawi yang mereka raih adalah karena Sifat
Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., yang telah menyediakan segala sesuatu keperluan umat manusia di
alam semesta ini secara gratis.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah dalam Surah
Ar Rahmān Allah Swt. berulang-ulang mengingatkan
golongan “jin” (penganut kapitalisme)
dan “ins” (penganut sosialisme) dengan berfirman: فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- “Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu dustakan?”
Kemudian umat manusia terutama dua
golonga jin dan ins -- diperingatkan, bahwa kehidupan
duniawi ini bersifat sementara, sebab kehidupan duniawi dengan segala
keberhasilannya bukanlah merupakan tujuan
utama diciptakan-Nya umat manusia,
karena tujuan utama diciptakan-Nya manusia adalah untuk “beribadah” kepada Allah Swt. (QS.51:57).
Yakni agar melalui Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt. umat manusia benar-benar dapat menjadi “khalifah Allah” yang hakiki di muka bumi, dan manusia
akan dapat melanjutkan kehidupannya
di akhirat dalam suasana kesuksesan, yang disebut “kehidupan
surgawi” yang tidak ada batas akhirnya (QS.66:9) -- sebagaimana diperingatkan kepada Qarun mengenai pentingnya memiliki “rumah
akhirat” (QS.28:77-84) -- sebab jika tidak maka pada akhirnya “neraka
jahannam” yang akan menjadi tempat
tinggal mereka, sebagaimana yang menimpa kaum-kaum purbakala, firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ
۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ مُّوۡسٰی
بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَکُلًّا اَخَذۡنَا
بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا
بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami membinasakan Qarun,
Fir’aun dan Haman. Dan sungguh Musa benar-benar telah da-tang kepada mereka
dengan Tanda-tanda yang nyata tetapi mereka
ber-laku sombong di bumi dan mereka
sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami. Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya, di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir, di antara mereka ada yang Kami
benamkan di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka
menzalimi diri mereka sendiri.
(Al-Ankabūt
[29]:40-41).
Al-Quran telah mempergunakan
berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman
yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi Allah pada zamannya masing-masing azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai
badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan
QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa
bumi (QS.7:79); ledakan
(QS.11:68; QS.54:32), halilintar
(QS.41:18), dan ledakan dahsyat
(QS.69:6); azab yang menghancurkan
umat Nabi Luth a.s. sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi
Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
Terakhir dari semua itu ialah azab
Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah),
dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan,
“Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51;
QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).
Lemah Bagaikan “Sarang
laba-laba” & Hanya “Wujud”
Allah Swt. yang Kekal
Jadi betapa kekuasaan
dan kekayaan duniawi yang mereka bangga-banggakan dalam menentang para Rasul Allah yang diutus
kepada mereka itu (QS.7:35-37) sama
sekali tidak memberikan perlindungan
kepada mereka terhadap azab Ilahi,
begitu lemah seperti lemahnya keadaan
sarang laba-laba, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ
وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ
الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ لَوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ وَ
تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ اِلَّا
الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾ خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan
orang-orang yang mengambil
penolong-penolong selain Allah
adalah seperti perumpamaan laba-laba
yang membuat rumah, dan sesungguhnya
selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui sesuatu apa pun
yang mereka seru selain-Nya, dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan itulah
perumpamaan-perumpamaan yang Kami
kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali tidak
ada yang memahaminya kecuali orang-orang
yang berilmu. خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾ -- Allah
menciptakan seluruh langit dan bumi
sesuai dengan haq, sesungguhnya
dalam yang demikian itu benar-benar merupaka Tanda bagi
orang-orang yang beriman. (Al-Ankabūt
[29]:42-45).
Masalah
Ke-Esa-an
Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah Al-Ankabut disudahi dalam ayat ini
dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang
indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum
musyrik ketololan, kesia-siaan,
dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan
dan kebiasaan-kebiasaan syirik
mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.
Sehubungan dengan hal tersebut, kembali kepada Surah Ar-Rahmān [55]:27-46 mengenai
golongan jin dan ins, makna ayat selanjutnya:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ -- “Segala sesuatu yang ada di atasnya akan
binasa, وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.” Yakni karena kehidupan di dunia ini bukan kehidupan sebenarnya, itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan (menakdirkan) bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian,
karena itu alam semesta ini ditakdirkan
akan binasa.
Jika alam semesta ini sesuatu yang “tidak kekal”, terlebih lagi “tuhan-tuhan
palsu” sembahan orang-orang musyrik.
Hanya Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta sajalah Yang
kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri,
dan Pemelihara segala sesuatu dan diperlukan oleh segala sesuatu, dan Dia
adalah Tuhan sembahan manusia yang
hakiki. Wajh antara lain
berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya
seseorang mencurahkan perhatiannya
(QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).
Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda
langit akan dilenyapkan semuanya
dan seluruh alam jasmani dihilang-sirnakan,
tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada
suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan
Yang Menciptakan seluruh alam semesta,
dan juga alam kehidupan akhirat yang akan dimasuki
manusia setelah mengalami kematian
secara jasmani.
Ayat
yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara
serempak, yaitu (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan,
dan kematian; dan (2) sesuai dengan
hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 25 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar