Rabu, 25 Mei 2016

Hubungan Sifat "Rahiimiyat" (Maha Penyayang) Allah Swt. Dengan "Rumah Surgawi" di Akhirat Melalui "Jalan Pendakian yang Terjal" & Perumpamaan "Sarang Laba-laba"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


HUBUNGAN SIFAT RAHIIMIYAT (MAHA PENYAYANG) ALLAH SWT. DENGAN  “RUMAH SURGAWI” DI AKHIRAT  MELALUI   “JALAN PENDAKIAN YANG TERJAL” & PERUMPAMAAN “SARANG LABA-LABA”


Bab 53

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai   doa “Sapujagat” cara meraih kesuksesan dunia dan akhirat,  yakni sesuai dengan cara “bersyukur yang hakiki”  Allah Swt. telah mengajarkan doa “sapujagat” dalam firman-Nya berikut ini, sehubungan dengan ibadah haji dan doa Nabi Ibrahim a.s.  pemberian rezeki (QS.2:127):
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ مَّنَاسِکَکُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ  کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila  kamu telah  menunaikan  cara-cara ibadah hajimu, maka  ingatlah  Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapakmu atau mengingat-Nya  lebih keras  lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ --  Dan  di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat.  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ --  Dan  di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat,  dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
        Ayat 201 menyebut golongan orang-orang yang tujuan hidupnya hanya terbatas untuk mencari kesenangan hidup di dunia: فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ --  Dan  di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat.” 
     Sedangkan ayat 202   menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik (hasanah) dari dunia ini dan pula segala yang baik (hasanah) dari alam ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-’Arus).
   Doa ini sangat padat dan Nabi Besar Muhammad saw.   amat sering mempergunakannya (Muslim). Bagi orang-orang yang bertakwa yang mencari “rumah di akhirat” melalui sarana kesuksesan duniawi yang diraihnya  seperti itu Allah Swt. berfirman sehubungan dengan kisah Qarun (QS.[28]:77-83):
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ  خَیۡرٌ  مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ  فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا السَّیِّاٰتِ  اِلَّا مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi, dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa berbuat ihsan (kebaikan) maka baginya ada balasan yang lebih baik dari itu, dan barangsiapa yang berbuat kejahatan maka tidak akan dibalas orang-orang yang berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Qashash [28]:84-85).
      Hukum pembalasan dari Allah Swt. bekerja dengan cara ini, yaitu  untuk amal-amal yang baik ganjarannya beberapa kali lipat lebih besar, sedangkan hukuman atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal dengan itu.

“Jalan Pendakian yang Terjal

       Orang-orang kafir yang memperoleh keberhasilan duniawi tersebut  lupa, bahwa  kesuksesana duniawi mereka itu adalah  berkat sifat Rububiyyat-Nya dan Rahmāniyat-Nya Allah Swt. Yang telah telah menganugerahkan berbagai kemampuan jasmani dan ruhani  kepada manusia   -- antara lain berupa  berbagai indera jasmani  dan ruhani untuk memperoleh pengetahuan   serta lidah dan bibir untuk berbicara,  dan  juga karena Allah Swt. telah “menundukkan” alam semesta ini untuk mengkhidmati manusia manusia, baik  berupa tersedianya SDA (Sumber Daya Alam) mau pun  SDM (Sumber Daya  Manusia)  --  karena tanpa semua itu manusia tidak akan mampu melakukan apa pun, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  لَاۤ  اُقۡسِمُ  بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾   وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾  وَ  وَالِدٍ وَّ  مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾   لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ  ۘ﴿﴾  یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ ؕ﴿﴾  اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tidak demikian,  Aku bersumpah dengan kota ini,  dan engkau akan singgah  di kota ini. Dan demi ayah dan anak.  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ  -- Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia  supaya bekerja keras.   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ    --Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا  --   Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ  -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ  --  Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang mata? وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ --  Dan sebuah lidah serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ  --  Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak  mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ  --   Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ  --  Yaitu memerdekakan budak, اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ      --  atau memberi makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ --  kepada anak yatim kerabat,  اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ --    atau kepada orang miskin yang terbaring di debu.  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ   --     Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.  وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ  --  Dan orang-orang yang kafir kepada  Tanda-tanda Kami mereka itu  golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ  --  Atas mereka akan ada Api yang  tertutup.  (Al-Balad [90]:1-21).
                                                    
Makna “Jalan Pendakian yang Terjal

    An-najdain berarti: dua jalan raya kebaikan dan kejahatan; dua jalan kebenaran dan kepalsuan; dan dua jalan raya kemajuan ruhani dan jasmani. Allah  Swt. telah membekali manusia dengan segala sarana yang dengan sarana itu ia dapat menemukan jalan lurus, dapat menyaring yang benar dari yang salah, dan kebenaran dari kepalsuan.
   Manusia telah dianugerahi mata, baik mata ruhani maupun mata jasmani, yang dengan itu ia dapat membedakan kebaikan dari keburukan, dan ia diberi pula lidah dengan dua buah bibir, agar ia dapat meminta petunjuk, dan di atas segala-galanya Allah Swt, telah meletakkan di hadapannya tujuan tertinggi, supaya ia sebagai Khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi, dapat membaktikan semua kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan itu.
   Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran   Allah Swt. telah membukakan segala jalan dan sarana yang dengan mempergunakannya manusia dapat mencapai kemajuan ruhani dan jasmani yang tiada hingganya, tetapi mereka menolak memberikan pengorbanan yang diperlukan guna mencapai tujuan tersebut, karena memang merupakan “jalan pendakian yang terjal.
  Ayat-ayat 14-17 membicarakan dua cara --  yakni jalan “pendakian yang terjal”   -- yang dapat meninggikan martabat akhlak suatu kaum:
(a)       Pembebasan hamba sahaya dengan mengangkat golongan masyarakat yang tertekan, tertindas, dan hina kepada tingkat yang sama dalam kehidupan.
(b)             Pemberian pertolongan kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin supaya dapat berdiri di atas kaki sendiri (mandiri) dan menjadi anggota masyarakat yang berguna.
  Tetapi amal-amal baik yang disebut dalam ayat 14-17 yang mendahuluinya tidaklah memadai untuk mengangkat martabat suatu masyarakat seutuhnya, karena diperlukan cita-cita dan asas-asas benar yang  berpadu dengan kesetiaan yang tetap lagi teguh pada jalan yang menjurus kepada akhlak lurus, serta mengajarkan nilai kebaikan kepada orang lain, adalah sama pentingnya untuk mencapai tujuan mulia tersebut di atas,  karena itu selanjutnya Allah Swt. berfirman: ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ     “Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya  bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.”  (Al-Balad [90]:17-18).

Dua Golongan “Jin” dan “Ins”  yang Mendustakan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. &  Kobaran “Api Hidyogen” dan “Api Nuklir

   Dalam Bab  sebelumnya telah dikemukakan  mengenai kesuksesan duniawi yang diraih Fir’aun dan Qarun, tetapi karena tidak bersyukur  kepada Allah Swt. yang memberlakukan Sifat Rahmaniyat-Nya kepada mereka maka akibat ketidak-bersyukuran tersebut  menyebabkan keduanya  “ditenggelamkan” Allah Swt., yakni Fir’aun dan pasukannya  ditenggelamkan di lautan, sedangkan Qarun dan seluruh kekayaannya ditenggelamkan di daratan ke dalam bumi.
  Makna ayat selanjutnya mengenai api yang tersedia bagi orang-orang yang menolak menempuh jalan  “pendakian yang terjal”, firman-Nya:   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ  --  Dan orang-orang yang kafir kepada  Tanda-tanda Kami mereka itu  golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ  --  Atas mereka akan ada Api yang  tertutup.” (Al-Balad [90]:20-21).  
 Api bila tertutup dari keempat jurusan  menjadi sangat membinasakan. Nampaknya yang dimaksud dengan “api yang tertutup” adalah mengisyaratkan kepada negara-negara Barat   Non-Muslim, yang demi meraih kekuasaan dan kekayaan   duniawi  telah memanfatkan “kekuatan api” pada berbagai sarana tranportasi dan kemiliteran mereka dengan  menciptakan  bom-bom hydrogen atau   senjata berhulu-ledak nuklir, yang akibatnya   telah dan akan   menghantam mereka sendiri, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ar-Rahmān:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾   یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾   یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan akan kekal hanyalah Wujud  Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  dustakan?  یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ    --  Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ  -- Segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --          Maka nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslahلَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ --  namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --    Maka  nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan? یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ --  Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --   Maka   nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ --  Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merahفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka  nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang  kamu dustakan? فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ  --  Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  manusia  dan tidak pula  jin. Maka  nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan? یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang berdosa  ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang (diseret) pada jambul dan kakinya. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ  --  Inilah Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ --   mereka akan berkeliling-keliling di antara Jahannam  itu  dan air panas mendidihفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan)  berdua  yang kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-46).

Hubungan Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt. dengan Kehidupan Surgawi  di Dunia dan di Akhirat

       Dalam Surah Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. memperingat dua golongan manusia  yakni golongan jin (penganut system kapitalisme) dan golongan ins (penganut golongan sosialisma) bahwa – sebagaimana kaum-kaum purbakala, Fir’aun dan Qarun  -- pada hakikatnya keberhasilan duniawi yang mereka raih adalah karena Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt., yang telah menyediakan segala sesuatu keperluan umat manusia di alam semesta ini secara gratis.
      Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah   dalam Surah Ar Rahmān Allah Swt. berulang-ulang mengingatkan golongan “jin” (penganut  kapitalisme) dan “ins” (penganut sosialisme) dengan berfirman: فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  “Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  dustakan?”  
      Kemudian umat manusia   terutama dua golonga jin dan ins -- diperingatkan,  bahwa kehidupan duniawi ini  bersifat sementara, sebab kehidupan duniawi dengan segala keberhasilannya bukanlah merupakan tujuan utama  diciptakan-Nya umat manusia, karena  tujuan utama diciptakan-Nya manusia adalah untuk “beribadah” kepada Allah Swt. (QS.51:57).
     Yakni agar melalui Sifat Rahīmiyat (Maha Penyayang) Allah Swt.  umat manusia benar-benar dapat menjadi “khalifah Allah” yang hakiki di muka bumi, dan  manusia  akan dapat  melanjutkan   kehidupannya  di akhirat    dalam suasana kesuksesan, yang disebut “kehidupan surgawi” yang tidak ada batas akhirnya (QS.66:9) --  sebagaimana diperingatkan kepada Qarun  mengenai pentingnya  memiliki “rumah akhirat” (QS.28:77-84) -- sebab jika tidak maka pada akhirnya  “neraka jahannam” yang akan menjadi tempat tinggal mereka, sebagaimana yang menimpa kaum-kaum purbakala, firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sungguh  Musa benar-benar telah da-tang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka ber-laku sombong di bumi dan mereka sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.   Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami benamkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan,  dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  menzalimi  diri mereka sendiri. (Al-Ankabūt [29]:40-41).
      Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi Allah pada zamannya masing-masing azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Luth a.s.   sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s.  sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
      Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).

Lemah Bagaikan “Sarang laba-laba” & Hanya “Wujud” Allah Swt. yang Kekal

      Jadi betapa  kekuasaan dan kekayaan duniawi yang mereka bangga-banggakan dalam menentang para Rasul Allah yang diutus kepada  mereka itu (QS.7:35-37) sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada mereka terhadap azab Ilahi, begitu lemah seperti lemahnya keadaan sarang laba-laba, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ  ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ  اِلَّا  الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾   خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya selemah-lemah  rumah pasti rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui  sesuatu apa pun yang mereka seru selain-Nya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan  itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali  tidak  ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾   --   Allah menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan haq, sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  merupaka  Tanda bagi  orang-orang yang beriman. (Al-Ankabūt [29]:42-45).
       Masalah Ke-Esa-an Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah Al-Ankabut disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.
  Sehubungan dengan hal tersebut, kembali kepada Surah  Ar-Rahmān [55]:27-46 mengenai golongan jin dan ins, makna ayat selanjutnya:   کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ --   “Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --  dan akan kekal hanyalah Wujud  Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.” Yakni karena kehidupan di dunia ini bukan kehidupan sebenarnya,  itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan (menakdirkan) bahwa seluruh alam semesta  tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, karena itu alam semesta  ini ditakdirkan akan binasa.
   Jika alam semesta ini  sesuatu yang “tidak kekal”, terlebih lagi “tuhan-tuhan palsu” sembahan orang-orang musyrik. Hanya Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta sajalah  Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, dan Pemelihara segala sesuatu dan diperlukan oleh segala sesuatu, dan Dia adalah  Tuhan sembahan manusia  yang hakiki.  Wajh antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).
   Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilang-sirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan Yang Menciptakan seluruh alam semesta, dan juga alam kehidupan akhirat  yang akan dimasuki manusia setelah mengalami kematian secara jasmani.
    Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam, yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu  (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 25  Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar