Jumat, 20 Mei 2016

"Air Hujan" yang Sama Menumbuhkan Aneka-Ragam Tumbuhan & Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. Melalui "Wahyu Ilahi" (Al-Quran)


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


AIR HUJAN YANG SAMA MENUMBUHKAN ANEKA RAGAM TUMBUHAN & KESEMPURNAAN AKHLAK DAN RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MELALUI WAHYU ILAHI  (AL-QURAN)       


Bab 48

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan penjelasan Masih Mau’ud a.s. sehubungan  hakikat “turunnya Ruhul-kudus”, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ نَزَّلَہٗ  رُوۡحُ الۡقُدُسِ مِنۡ رَّبِّکَ بِالۡحَقِّ  لِیُـثَبِّتَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  وَ ہُدًی  وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ نَعۡلَمُ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  اِنَّمَا  یُعَلِّمُہٗ بَشَرٌ ؕ لِسَانُ الَّذِیۡ یُلۡحِدُوۡنَ  اِلَیۡہِ اَعۡجَمِیٌّ  وَّ ہٰذَا لِسَانٌ عَرَبِیٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾  اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ۙ لَا یَہۡدِیۡہِمُ  اللّٰہُ  وَ لَہُمۡ  عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah:  Ruhul kudus telah menurunkannya dari  Rabb (Tuhan) engkau dengan haq, supaya Dia meneguhkan orang-orang yang beriman, dan juga  sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”  Dan  sungguh  Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka itu berkata: اِنَّمَا  یُعَلِّمُہٗ بَشَرٌ --”Sesungguhnya hanya seorang manusia yang mengajarnya. لِسَانُ الَّذِیۡ یُلۡحِدُوۡنَ  اِلَیۡہِ اَعۡجَمِیٌّ َّ  --   Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan mengajarkannya bahasa asing,   ہٰذَا لِسَانٌ عَرَبِیٌّ  مُّبِیۡنٌ وَّ  --  sedangkan Alquran ini adalah bahasa Arab yang fasih dan terang.     --  Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada Tanda-tanda AllahAllah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, dan bagi mereka ada azab yang pedih. (An-Nahl [16]:103-105).

Nama-nama yang Dituduh Membantu Menggubah Al-Quran

     Sehubungan dengan ayat 104, nama-nama berbagai orang telah disebut dalam riwayat-riwayat, yang menurut  sangkaan orang-orang kafir membantu Nabi Besar Muhammad saw.  dalam menggubah Al-Quran, orang-orang itu  Jabir, seorang budak beragama Nasrani, ‘Aisy atau Ya’isy, sahaya al-Huwaithib Ibn Abdul Uzza dan Abu Fukaih, yang terkenal sebagai Yasar, dan Addas atau Adas, seorang budak Aus bin Rabi (Ruh-ul- Ma’ani & Fath-ul-Bari). Nama-nama Ammar, Shuhaib, Salman, Abdullah bin Salam, dan nama Sergius, seorang rahib Nasrani mazhab Nestoria, telah juga disebut dalam hubungan ini.
     Pada hakikatnya, Al-Quran dalam ayat ini menunjuk kepada dua kecaman orang-orang kafir; yang satu bertalian dengan beberapa budak yang masuk Islam, yang darinya Nabi Besar Muhammad  saw. dikatakan telah mendapat bantuan dalam menggubah Al-Quran, seperti tersebut dalam QS.25:5-7, dan lainnya kepada apa yang beliau saw. dengar mengenai Injil dari seorang budak Nasrani yang masuk Islam, dan yang dimasukkan dalam Al-Quran sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ini.
     Bertalian dengan kecaman yang kedua timbul pertanyaan, apakah sang budak tersebut membacakan Injil dalam bahasa Arab atau bahasa Yunani atau Ibrani? Jika ia membacakan versi Arabnya, maka harus dibuktikan bahwa Wasiat Baru  (Perjanjian Baru) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan terjemahan itu sudah demikian umumnya, sehingga budak-budak pun membacanya selagi mereka bekerja di kedai-kedai mereka.
     Akan tetapi hingga zaman Nabi Besar Muhammad saw.   terjemahan Injil belum dikerjakan dalam bahasa apa pun. Kabilah-kabilah Yahudi di Medinah pada zaman itu belum pula menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab, dan manakala beliau menghendaki sesuatu keterangan mengenai kitab ini, beliau menanyakan kepada Abdullah bin Salam.
     Seorang ahli bahasa Ibrani yang besar, Dr. Alexander Souter, M.A., L.L.D., menulis dalam bukunya  “The Test and Canon of The New Testament” (cetakan kedua, 1925, halaman 74), di bawah judul, “Arabic Versions”: ‘Naskah tertua (versi bahasa Arab) tidak terdapat sebelum abad ke-8. Dua naskah versi bahasa Arab menurut riwayat telah dibuat di Alexandria dalam abad ke-13.” Dan jika budak yang masuk Islam dari Kristen itu membacakan kepada  Nabi Besar Muhammad saw..
       Injil dalam bahasa Ibrani atau Yunani, bagaimanakah Nabi Besar Muhammad saw.  dapat mengambil faedah dengan mendengarkan sebuah kitab yang beliau saw. tidak mengerti, dan bagaimanakah seorang orang Ajami (asing dan tidak fasih dalam bicara) yang darinya beliau saw. dikatakan telah menerima bantuan untuk menggubah Al-Quran, dapat menerangkan kepada beliau, dalam bahasa Arab yang tidak lancar itu, kebenaran-kebenaran besar lagi abadi yang dikandung oleh Al-Quran, dan yang untuk menerang-kannya diperlukan pengetahuan dan penguasaan bahasa Arab yang luas dan mendalam?  

Turunnya Para Malaikat Bersama Seorang Khalifah Allah

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai makna “turunnya” para malaikat bersamaan dengan diutus-Nya para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5):
       “Mungkin ada yang mempertanyakan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan turunnya malaikat? Sudah menjadi tata cara Allah Swt. setiap kali seorang rasul atau nabi atau pun muhaddats turun dari langit guna memperbaiki umat manusia, malaikat-malaikat pun turun bersamaan untuk menyebarkan bimbingan (petunjuk) bagi nurani yang berhasrat dan menjadikan umat cenderung kepada kebaikan. Para malaikat ini akan tetap turun hingga kegelapan kekafiran serta kedurhakaan menghilang dan fajar keimanan serta ketakwaan telah merekah. Allah Swt. menyatakan bahwa:
تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ﴾  سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ ٪﴿﴾
“Di dalamnya turun malaikat-malaikat dan ruh atas izin Rabb (Tuhan) mereka dengan takdir Ilahi mengenai segala perkara. Serba damai hingga fajar terbit” (Al-Qadr [97]:5-6).
    Dengan demikian, turunnya para malaikat dan Ruhul Kudus dari langit terjadi saat ada sesosok pribadi akbar yang dibekali dengan jubah Khilafat dan firman Tuhan turun untuk diutus ke dunia. Pribadi seperti itu disertai Ruhul Kudus dan para malaikat   menemani  yang bersangkutan turun di kalbu mereka yang berhasrat tinggi di seluruh dunia.
      Ketika kemudian bertemu dengan orang-orang yang memiliki kapasitas yang sepadan, maka refleksi (pantulan) dari nur tersebut akan jatuh di atas mereka dan ada nyala nur yang merona di seluruh alam. Melalui pengaruh suci para malaikat itu akan muncul konsep-konsep pemikiran suci dan timbul kecintaan kepada Ketauhidan Ilahi.
       Ruh (semangat) mencintai kebenaran, pencarian hakikat ditiupkan ke dalam nurani manusia-manusia lurus, sedangkan yang lemah menjadi lebih kuat serta muncul angin yang mulai bertiup yang akan membantu pencapaian tujuan dan sasaran dari sang Pembaharu.

Terjadi Kebangkitan Ruhani Manusia & Bertiupnya “Angin Pembiak

     Berkat dorongan tangan yang tersembunyi, umat manusia mulai bergerak ke arah kebaikan dan gerakan itu timbul di antara bangsa-bangsa. Mereka yang awam membayangkan bahwa jalan fikiran dunia bergerak dengan sendirinya ke arah kebenaran, namun sebenarnya hal itu berkat kinerja para malaikat yang turun dari langit bersamaan dengan seorang Khalifah Tuhan dan melalui mereka itulah ditebarkan kemampuan menerima dan memahami kebenaran.
    Mereka membangunkan manusia yang tertidur, menggugah mereka yang acuh, membuka telinga mereka yang tuli, meniupkan ruh kehidupan atas mereka yang mati serta menarik keluar mereka yang ada di dalam kubur. Kemudian secara tiba-tiba, manusia mulai membuka mata dan hati mereka untuk mulai memahami segala hal yang tadinya tersembunyi.
     Para malaikat tersebut bukanlah suatu hal yang terpisah dari sosok Khalifah Tuhan. Mereka menjadi nur dari  Wujud-Nya dan mereka menjadi tanda-tanda gemilang dari tekad-Nya, dimana melalui kekuatan daya tariknya mereka lalu menarik orang-orang yang sejalan dengan mereka meskipun secara fisik orang-orang itu berada jauh atau dekat, apakah dikenal atau seorang asing, atau pun mereka yang sama sekali tidak mengenal nama sang Khalifah.
      Pada saat demikian muncullah gerakan ke arah kebaikan dan hasrat pencarian hakikat -- baik di antara bangsa-bangsa di Asia, Eropa atau Amerika -- yang semuanya didorong oleh para malaikat yang turun bersamaan dengan seorang Khalifah Tuhan. Semua ini merupakan kaidah Ilahi yang tidak pernah berubah dan mudah untuk dipahami.” (Fathi Islam; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 12-13, London, 1984).
      Sehubungan dengan kebangkitan ruhani di kalangan manusia-manusia   pada saat diutusnya Rasul Allah akibat kinerja para malaikat yang menyertainya tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اَرۡسَلۡنَا الرِّیٰحَ لَوَاقِحَ فَاَنۡزَلۡنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَسۡقَیۡنٰکُمُوۡہُ ۚ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ  لَہٗ  بِخٰزِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا لَنَحۡنُ نُحۡیٖ وَ نُمِیۡتُ وَ نَحۡنُ الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami telah mengirimkan angin pembiak,  maka Kami  menurunkan air dari awan, lalu Kami mem-berikannya kepada kamu untuk minum, dan   sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.   Dan sesungguhnya    Kami be-nar-benar yang menghidupkan dan Kami yang mematikan, dan  Kami pula yang menjadi pewaris. (Al-Hijr [15]:23-24).
   Lawāqih adalah semacam angin yang menerbangkan tepung-sari bunga dari pohon-pohon jantan ke pohon-pohon betina, supaya pohon-pohon itu berbiak, yakni berbuah. Kata itu pun berarti angin yang mengangkut uap yang mengepul dari bumi naik ke lapisan-lapisan udara yang tinggi, dan uap itu mengambil bentuk awan-gemawan, yang kemudian berubah menjadi curahan air hujan yang menghidupkan permukaan bumi yang mati akibat musim kemarau panjang (QS.35:10; QS.57:17-18).

Pengaruh Air Hujan Pada Permukaan Bumi

 Selanjutnya  Allah Swt. berfirman mengenai pengaruh  turunnya “air hujan ruhani” berupa wahyu Ilahi kepada manusia:
وَ لَقَدۡ عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَقۡدِمِیۡنَ مِنۡکُمۡ وَ لَقَدۡ  عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَاۡخِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ یَحۡشُرُہُمۡ ؕ اِنَّہٗ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ ﴿٪
Dan sungguh Kami benar-benar mengetahui orang-orang yang terdepan dari antara kamu dan sungguh Kami benar-benar mengetahui pula orang-orang yang tertinggal di belakang.  Dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau yang akan menghimpunkan mereka, sesungguhnya Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. (Al-Hijr [15]:25-26).
     Mengenai makna dari ayat: وَ لَقَدۡ عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَقۡدِمِیۡنَ مِنۡکُمۡ  -- “Dan sungguh Kami benar-benar mengetahui orang-orang yang terdepan dari antara kamu وَ لَقَدۡ  عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَاۡخِرِیۡنَ  --  dan sungguh Kami benar-benar mengetahui pula orang-orang yang tertinggal di belakang“ dalam surah lain diumpamakan sebagai tunas tumbuh-tumbuhan dalam  tanah yang berubah menjadi tanaman yang tumbuh dengan baik, dan tunas-tunas    yang  tumbuh sebagai pohon-pohon yang kerdil, firman-Nya:
 وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ   اَقَلَّتۡ  سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya, hingga apabila angin itu membawa awan yang berat, Kami menghalaunya ke suatu negeri yang mati, maka Kami  turunkan air darinya, lalu dengan itu Kami mengeluarkan segala macam buah-buahan. کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ --  Seperti itulah  Kami mengeluarkan orang-orang mati ruhani supaya kamu mengambil pelajaran.  وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ  --  Dan negeri yang baik menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya),  وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا  --sedangkan  negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit. ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ  --  Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf [7]:58-59).
   Kata rahmat di sini mengisyaratkan kepada hujan,  tak ubahnya seperti di alam jasmani, hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai pertandanya, begitu pula sebelum seorang nabi  Allah menampakkan diri (diutus), ada semacam kebangkitan  semangat keagamaan meluas di tengah-tengah umat manusia.
Ayat   وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا  --  “sedangkan  negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit”   berarti bahwa tidak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan baru kepada tanah untuk dipergunakan orang lain.  Tetapi mereka itu – terutama yang mendustakan Rasul Allah  -- laksana sebidang tanah yang tidak mengeluarkan hasil apa pun dan tidak pula menghimpun air supaya manusia dan binatang-binatang dapat minum darianya.

Keunggulan  Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad saw. atas  Abu Jahal  dan Kawan-kawannya

  Dalam Surah lain Allah Swt. menjelaskan mengenai hakikat   munculnya  keanekaragaman tumbuh-tumbuhan  padahal disiram dengan air hujan yang sama, firman-Nya:
وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿۴
Dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling ber-dampingan, dan kebun-kebun anggurladang-ladang,   pohon-pohon kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  --  semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --  tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ  --  sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d [13]:5).
       Ungkapan ayat:    یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  --  semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --  tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya   mengandung arti, bahwa bila pohon-pohon yang diairi oleh air yang sama, tetapi berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna. Demikan juga  betapa Nabi Besar Muhammad saw. — yang meskipun beliau tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama (kaum Quraisy Mekkah) — betapa beliau saw. dapat melebihi mereka; apalagi mengingat  beliau saw. dipupuk dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi, sedang musuh-musuh beliau saw. pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawannya dibesarkan di bawah asuhan syaitan.
     Sehubungan dengan  pengaruh  yang ditimbulkan oleh Ruhul kudus atau  wahyu Ilahi  yang di bawa oleh malaikat Jibril a.s. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Hamba yang lemah ini mengetahui melalui pengalaman sendiri bahwa kesucian Ruhul Kudus beroperasi sepanjang waktu pada semua indera dari seorang penerima wahyu tanpa ada kesudahan. Tanpa pengaruh kesucian Ruhul Kudus tersebut maka ia merasa tidak dapat menjaga dirinya dari segala kekotoran.
        Yang menjadi penyebab dari munculnya nur abadi, keteguhan hati, belas kasih, keluputan dari dosa dan segala keberkatan adalah karena Ruhul Kudus selalu menyertai dirinya setiap waktu. Karena itu bagaimana mungkin membayangkan bahwa Hadhrat Rasulullah Saw. pernah mengalami kekosongan tanpa keberkatan, kesucian dan nur ini.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 93-94, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 19 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar