Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
AIR HUJAN
YANG SAMA MENUMBUHKAN ANEKA RAGAM
TUMBUHAN & KESEMPURNAAN AKHLAK
DAN RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MELALUI
WAHYU ILAHI (AL-QURAN)
Bab 48
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan
penjelasan Masih Mau’ud a.s. sehubungan
hakikat “turunnya Ruhul-kudus”, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
قُلۡ نَزَّلَہٗ رُوۡحُ الۡقُدُسِ مِنۡ رَّبِّکَ بِالۡحَقِّ لِیُـثَبِّتَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ نَعۡلَمُ اَنَّہُمۡ یَقُوۡلُوۡنَ اِنَّمَا یُعَلِّمُہٗ بَشَرٌ ؕ لِسَانُ الَّذِیۡ
یُلۡحِدُوۡنَ اِلَیۡہِ اَعۡجَمِیٌّ وَّ ہٰذَا لِسَانٌ
عَرَبِیٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ۙ لَا
یَہۡدِیۡہِمُ اللّٰہُ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Ruhul kudus telah menurunkannya
dari Rabb (Tuhan) engkau dengan
haq, supaya Dia meneguhkan
orang-orang yang beriman, dan juga sebagai
petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” Dan
sungguh Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka itu berkata: اِنَّمَا یُعَلِّمُہٗ بَشَرٌ --”Sesungguhnya
hanya seorang manusia yang mengajarnya.
لِسَانُ
الَّذِیۡ یُلۡحِدُوۡنَ اِلَیۡہِ
اَعۡجَمِیٌّ َّ -- Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan mengajarkannya bahasa asing, ہٰذَا لِسَانٌ عَرَبِیٌّ مُّبِیۡنٌ وَّ -- sedangkan Alquran ini adalah bahasa Arab yang fasih dan terang. -- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada Tanda-tanda Allah, Allah
tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, dan bagi mereka ada azab yang pedih. (An-Nahl [16]:103-105).
Nama-nama yang Dituduh Membantu Menggubah Al-Quran
Sehubungan dengan ayat
104, nama-nama berbagai orang telah disebut dalam riwayat-riwayat, yang menurut
sangkaan
orang-orang kafir membantu Nabi Besar
Muhammad saw. dalam menggubah Al-Quran, orang-orang itu Jabir,
seorang budak beragama Nasrani, ‘Aisy
atau Ya’isy, sahaya al-Huwaithib Ibn Abdul Uzza dan Abu Fukaih, yang terkenal sebagai Yasar, dan Addas atau Adas, seorang
budak Aus bin Rabi (Ruh-ul- Ma’ani
& Fath-ul-Bari). Nama-nama
Ammar, Shuhaib, Salman, Abdullah bin Salam, dan nama Sergius, seorang rahib Nasrani mazhab
Nestoria, telah juga disebut dalam hubungan ini.
Pada hakikatnya, Al-Quran dalam ayat ini menunjuk kepada dua kecaman orang-orang kafir; yang satu
bertalian dengan beberapa budak yang
masuk Islam, yang darinya Nabi Besar
Muhammad saw. dikatakan telah mendapat bantuan dalam menggubah Al-Quran, seperti tersebut dalam QS.25:5-7, dan lainnya
kepada apa yang beliau saw. dengar mengenai Injil
dari seorang budak Nasrani yang masuk Islam, dan yang dimasukkan dalam Al-Quran
sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ini.
Bertalian dengan kecaman yang kedua timbul pertanyaan,
apakah sang budak tersebut membacakan Injil dalam bahasa Arab atau bahasa Yunani atau Ibrani? Jika
ia membacakan versi Arabnya, maka harus dibuktikan bahwa Wasiat Baru (Perjanjian Baru) telah diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan terjemahan
itu sudah demikian umumnya, sehingga budak-budak
pun membacanya selagi mereka bekerja di kedai-kedai mereka.
Akan tetapi hingga zaman Nabi Besar Muhammad
saw. terjemahan
Injil belum dikerjakan dalam bahasa apa pun. Kabilah-kabilah Yahudi di
Medinah pada zaman itu belum pula menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab, dan manakala beliau menghendaki
sesuatu keterangan mengenai kitab ini, beliau menanyakan kepada Abdullah bin Salam.
Seorang ahli bahasa Ibrani yang
besar, Dr. Alexander Souter, M.A., L.L.D., menulis dalam bukunya “The
Test and Canon of The New Testament” (cetakan kedua, 1925, halaman 74),
di bawah judul, “Arabic Versions”:
‘Naskah tertua (versi bahasa Arab) tidak terdapat sebelum abad ke-8. Dua naskah
versi bahasa Arab menurut riwayat telah dibuat di Alexandria dalam abad ke-13.”
Dan jika budak yang masuk Islam dari Kristen itu membacakan kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Injil dalam bahasa Ibrani
atau Yunani, bagaimanakah Nabi Besar
Muhammad saw. dapat mengambil
faedah dengan mendengarkan sebuah kitab
yang beliau saw. tidak mengerti, dan bagaimanakah seorang orang Ajami (asing dan tidak fasih dalam
bicara) yang darinya beliau saw. dikatakan telah menerima bantuan untuk menggubah Al-Quran, dapat menerangkan
kepada beliau, dalam bahasa Arab yang
tidak lancar itu, kebenaran-kebenaran besar lagi abadi yang dikandung oleh Al-Quran, dan yang untuk menerang-kannya
diperlukan pengetahuan dan penguasaan
bahasa Arab yang luas dan mendalam?
Turunnya Para Malaikat Bersama Seorang Khalifah Allah
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
makna “turunnya” para malaikat bersamaan dengan diutus-Nya para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
(QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-5):
“Mungkin
ada yang mempertanyakan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan turunnya malaikat? Sudah menjadi tata cara Allah Swt. setiap kali
seorang rasul atau nabi atau pun muhaddats turun
dari langit guna memperbaiki umat manusia, malaikat-malaikat pun turun bersamaan untuk menyebarkan bimbingan (petunjuk) bagi nurani yang berhasrat dan menjadikan umat cenderung
kepada kebaikan. Para malaikat ini akan tetap turun hingga kegelapan kekafiran serta kedurhakaan
menghilang dan fajar keimanan serta ketakwaan telah merekah. Allah Swt. menyatakan bahwa:
تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ
فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ
کُلِّ اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ﴾ سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ ٪﴿﴾
“Di dalamnya turun malaikat-malaikat dan ruh atas izin Rabb (Tuhan) mereka dengan takdir Ilahi mengenai segala
perkara. Serba damai hingga fajar terbit” (Al-Qadr
[97]:5-6).
Dengan demikian, turunnya para malaikat dan Ruhul Kudus
dari langit terjadi saat ada sesosok pribadi akbar yang dibekali dengan jubah Khilafat dan firman Tuhan turun untuk diutus ke dunia. Pribadi seperti itu disertai Ruhul
Kudus dan para malaikat menemani yang bersangkutan turun di kalbu mereka yang berhasrat tinggi di seluruh dunia.
Ketika kemudian bertemu dengan orang-orang yang memiliki kapasitas yang sepadan, maka refleksi (pantulan) dari nur
tersebut akan jatuh di atas mereka
dan ada nyala nur yang merona di seluruh alam. Melalui pengaruh suci para malaikat itu akan
muncul konsep-konsep pemikiran suci dan
timbul kecintaan kepada Ketauhidan Ilahi.
Ruh
(semangat) mencintai kebenaran, pencarian hakikat ditiupkan ke dalam nurani manusia-manusia lurus,
sedangkan yang lemah menjadi lebih kuat serta muncul angin yang mulai bertiup yang akan membantu pencapaian
tujuan dan sasaran dari sang Pembaharu.
Terjadi Kebangkitan
Ruhani Manusia & Bertiupnya “Angin
Pembiak”
Berkat dorongan tangan yang tersembunyi, umat manusia
mulai bergerak ke arah kebaikan dan gerakan itu timbul di antara bangsa-bangsa.
Mereka yang awam membayangkan bahwa jalan fikiran dunia bergerak dengan sendirinya ke arah kebenaran, namun sebenarnya hal itu berkat kinerja para malaikat yang turun dari langit bersamaan dengan seorang
Khalifah Tuhan dan melalui mereka itulah ditebarkan kemampuan menerima
dan memahami kebenaran.
Mereka membangunkan manusia yang tertidur, menggugah mereka yang acuh,
membuka telinga mereka yang tuli, meniupkan ruh kehidupan atas mereka yang mati
serta menarik keluar mereka yang ada
di dalam kubur. Kemudian secara tiba-tiba, manusia mulai membuka mata dan hati mereka untuk mulai memahami
segala hal yang tadinya tersembunyi.
Para malaikat tersebut bukanlah suatu hal
yang terpisah dari sosok Khalifah Tuhan. Mereka menjadi nur dari Wujud-Nya
dan mereka menjadi tanda-tanda gemilang
dari tekad-Nya, dimana melalui kekuatan daya tariknya mereka lalu menarik orang-orang yang sejalan dengan mereka meskipun secara fisik orang-orang itu berada jauh atau dekat, apakah dikenal
atau seorang asing, atau pun mereka yang sama sekali tidak mengenal nama sang Khalifah.
Pada saat
demikian muncullah gerakan ke arah kebaikan dan hasrat pencarian hakikat -- baik di antara bangsa-bangsa di Asia, Eropa atau Amerika --
yang semuanya didorong oleh para malaikat yang turun bersamaan dengan seorang Khalifah
Tuhan. Semua ini merupakan kaidah
Ilahi yang tidak pernah berubah
dan mudah untuk dipahami.” (Fathi Islam; sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld.
III, hlm. 12-13, London, 1984).
Sehubungan dengan kebangkitan ruhani di kalangan manusia-manusia pada saat diutusnya Rasul Allah akibat kinerja
para malaikat yang menyertainya
tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اَرۡسَلۡنَا الرِّیٰحَ لَوَاقِحَ
فَاَنۡزَلۡنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَسۡقَیۡنٰکُمُوۡہُ ۚ وَ مَاۤ
اَنۡتُمۡ لَہٗ بِخٰزِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا
لَنَحۡنُ نُحۡیٖ وَ نُمِیۡتُ وَ نَحۡنُ الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
telah mengirimkan angin pembiak, maka Kami menurunkan air dari awan, lalu Kami mem-berikannya kepada kamu untuk minum, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. Dan
sesungguhnya Kami
be-nar-benar yang menghidupkan dan Kami
yang mematikan, dan Kami pula yang menjadi pewaris. (Al-Hijr
[15]:23-24).
Lawāqih adalah semacam angin yang menerbangkan tepung-sari bunga dari pohon-pohon jantan ke pohon-pohon
betina, supaya pohon-pohon itu berbiak, yakni berbuah. Kata itu pun
berarti angin yang mengangkut uap yang mengepul dari bumi
naik ke lapisan-lapisan udara yang tinggi, dan uap itu mengambil bentuk awan-gemawan,
yang kemudian berubah menjadi curahan air
hujan yang menghidupkan permukaan
bumi yang mati akibat musim kemarau panjang (QS.35:10;
QS.57:17-18).
Pengaruh Air Hujan Pada Permukaan Bumi
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pengaruh turunnya “air
hujan ruhani” berupa wahyu Ilahi
kepada manusia:
وَ لَقَدۡ
عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَقۡدِمِیۡنَ مِنۡکُمۡ وَ لَقَدۡ عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَاۡخِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ یَحۡشُرُہُمۡ ؕ اِنَّہٗ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ ﴿٪ ﴾
Dan sungguh Kami benar-benar mengetahui orang-orang yang terdepan dari antara
kamu dan sungguh Kami benar-benar
mengetahui pula orang-orang
yang tertinggal di belakang. Dan
sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau
yang akan menghimpunkan mereka,
sesungguhnya Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. (Al-Hijr [15]:25-26).
Mengenai makna dari ayat: وَ لَقَدۡ عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَقۡدِمِیۡنَ
مِنۡکُمۡ -- “Dan
sungguh Kami benar-benar mengetahui orang-orang yang terdepan dari antara
kamu وَ لَقَدۡ عَلِمۡنَا الۡمُسۡتَاۡخِرِیۡنَ -- dan sungguh Kami benar-benar mengetahui pula orang-orang yang tertinggal di belakang“ dalam surah lain
diumpamakan sebagai tunas tumbuh-tumbuhan
dalam tanah yang berubah menjadi tanaman yang tumbuh dengan baik, dan tunas-tunas
yang tumbuh sebagai pohon-pohon yang kerdil,
firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا
بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَاۤ اَقَلَّتۡ سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ
فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ
کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ
لَا یَخۡرُجُ اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ
نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia-lah
Yang mengirimkan angin sebagai pembawa
kabar gembira sebelum datang
rahmat-Nya, hingga apabila angin itu membawa awan yang berat,
Kami menghalaunya ke suatu negeri yang mati, maka Kami turunkan air darinya,
lalu dengan itu Kami mengeluarkan segala
macam buah-buahan. کَذٰلِکَ
نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ
تَذَکَّرُوۡنَ -- Seperti itulah Kami
mengeluarkan orang-orang mati ruhani supaya kamu mengambil pelajaran. وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ
بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan negeri
yang baik menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ
اِلَّا نَکِدًا --sedangkan negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit. ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ
یَّشۡکُرُوۡنَ -- Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf
[7]:58-59).
Kata rahmat
di sini mengisyaratkan kepada hujan, tak ubahnya seperti di alam jasmani, hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai
pertandanya, begitu pula sebelum seorang
nabi Allah menampakkan diri (diutus),
ada semacam kebangkitan semangat keagamaan meluas di
tengah-tengah umat manusia.
Ayat وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ اِلَّا نَکِدًا
-- “sedangkan negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit” berarti bahwa tidak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan baru kepada tanah
untuk dipergunakan orang lain. Tetapi mereka itu – terutama yang mendustakan Rasul Allah -- laksana sebidang tanah yang tidak
mengeluarkan hasil apa pun dan tidak
pula menghimpun air supaya manusia
dan binatang-binatang dapat minum darianya.
Keunggulan Akhlak
dan Ruhani Nabi Besar Muhammad saw. atas Abu
Jahal dan Kawan-kawannya
Dalam
Surah lain Allah Swt. menjelaskan mengenai hakikat munculnya
keanekaragaman tumbuh-tumbuhan padahal disiram
dengan air hujan yang sama,
firman-Nya:
وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ
وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ
صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی
الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿۴﴾
Dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling ber-dampingan,
dan kebun-kebun anggur, ladang-ladang, pohon-pohon
kurma berumpun yang tumbuh dari satu
akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ -- semuanya itu disirami dengan air yang
sama, وَ نُفَضِّلُ
بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ -- tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian
yang lain dalam buahnya, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّعۡقِلُوۡنَ -- sesungguhnya dalam yang
demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d
[13]:5).
Ungkapan ayat: یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ -- semuanya
itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی
الۡاُکُلِ -- tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian
yang lain dalam buahnya” mengandung arti, bahwa bila pohon-pohon yang diairi oleh air yang sama, tetapi berbuah
sangat berbeda dalam rasa dan warna. Demikan juga betapa Nabi Besar Muhammad saw. . — yang meskipun beliau tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama (kaum Quraisy Mekkah) — betapa
beliau saw. dapat melebihi mereka;
apalagi mengingat beliau saw. dipupuk
dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi, sedang musuh-musuh beliau saw.
pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawannya
dibesarkan di bawah asuhan syaitan.
Sehubungan dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh Ruhul kudus atau wahyu Ilahi yang di bawa oleh malaikat Jibril a.s.
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Hamba yang lemah ini mengetahui melalui pengalaman
sendiri bahwa kesucian Ruhul Kudus beroperasi sepanjang waktu pada semua indera dari seorang penerima wahyu tanpa ada kesudahan. Tanpa pengaruh kesucian Ruhul Kudus tersebut maka ia merasa tidak dapat menjaga dirinya dari segala
kekotoran.
Yang menjadi penyebab dari munculnya nur abadi, keteguhan hati, belas kasih,
keluputan dari dosa dan segala keberkatan
adalah karena Ruhul Kudus selalu menyertai dirinya setiap waktu. Karena
itu bagaimana mungkin membayangkan bahwa Hadhrat
Rasulullah Saw. pernah mengalami kekosongan
tanpa keberkatan, kesucian dan nur ini.” (Ayena Kamalati
Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal.
93-94, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar