Selasa, 24 Mei 2016

Hubungan Sifat Rahmaaniyat" (Maha Pemurah) Allah Swt. Dengan Kesuksesan Duniawi Orang-orang Kafir & Jawaban Allah Swt. Terhadap Doa Nabi Ibrahim a.s. Bagi Penduduk Makkah



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


HUBUNGAN SIFAT RAHMĀNIYAT (MAHA PEMURAH) ALLAH SWT. DENGAN KESUKSESAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR & JAWABAN ALLAH SWT. TERHADAP DOA NABI IBRAHIM A.S. BAGI PENDUDUK MAKKAH


Bab 52

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai  pentingnya bersyukur secara hakiki kepada Allah Swt. dalam meraih kesuksesan kehidupan duniawi dan ruhani, firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.”   Dan Musa berkata: “Jika  kamu kafir, kamu dan siapa pun yang ada di bumi ini semuanya tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
      Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya   -- jasmani dan ruhani  -- dengan tepat sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum  ruhani (hukum syariat), terutama agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
       Tetapi sikap “bersyukurnya” orang-orang  duniawi seperti itu – termasuk kaum-kaum purbakala – hanyalah dalam segi duniawi, yakni  mereka telah memanfaatkan  secara tepat SDA dan SDM yang mereka miliki sesuai hukum-hukum Allah (hukum-hukum alam) maka mereka – sekali pun  mereka itu orang-orang musyrik atau orang-orang Atheis --  maka mereka meraih kesuksesan duniawi, sebab hal tersebut sesuai dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.: لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ    -- “Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu” (QS.14:8).

Ketakaburan dan Ketidak-bersyukuran Fir’aun  dan Qarun

       Namun orang-orang kafir tersebut menisbahkan kesuksesan duniawi mereka itu sebagai  buah (hasil) dari upaya dan kerja-keras mereka sendiri, sebagaimana yang dikatakan  Fir’aun dan Qarun, firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ  فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّاۤ  اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  فَجَعَلۡنٰہُمۡ  سَلَفًا وَّ  مَثَلًا  لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?   Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang   yang hina ini (Musa) dan ia tidak dapat menjelaskan?  Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?"   Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka.   Maka ketika mereka membuat Kami murka,  Kami menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka semua,   dan Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf [43]:52-57).
       Kemudian mengenai ketakaburan Qarun   -- yang merupakan  salah seorang kepercayaan Fir’aun selain Haman,   ia sebagai menteri pertambangan Fir’aun  --  Allah Swt. berfirman:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾   وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya,  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ --  “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ    --   Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  --  dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی --  dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).

Hubungan Sifat Rububiyyat dan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. Dengan  Kesuksesan Duniawi Orang-orang Kafir

       Qarun adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya. Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang mas milik Fir’aun dan seorang ahli dalam teknik penggalian mas dari tambang-tambang.  Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti “tiang,” atau “cahaya,” maka kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan.
       Konon ia seorang orang Israil dan beriman kepada Nabi Musa a.s., tetapi untuk mengambil hati Fir’aun agaknya ia telah menganiaya bangsanya sendiri dan berlaku sombong terhadap mereka, sebagai akibatnya azab Tuhan menimpa dirinya dan ia binasa ditelan bumi  yang sebelumnya ia kelola (explorasi) (QS.28:82).
     Mafatih adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah, yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane). Menanggapi nasihat  kaumnya tersebut – mungkin Nabi Musa a.s.   – selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Qarun:
قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿
Ia  berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya? Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka.  (Al-Qashash [28]:79).
    Jadi, betapa orang-orang duniawi yang tidak bersyukur kepada Allah Swt. semacam Qarun tersebut telah membanggakan diri bahwa semua keberhasilan duniawi mereka adalah semata-mata berkat  ilmu pengetahuan yang mereka miliki  dan upaya-upaya  dan kerja-keras yang mereka lakukan, padahal semua itu karena Sifat Rububiyyat dan  Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. yang sampai batas tertentu  berlaku bagi orang-orang kafir juga, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Ibrahim a.s.:
وَ اِذۡ قَالَ  اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata:  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا    -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),  jadikanlah tempat ini kota yang aman وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  -- dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman  kepada  Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا   -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ     -- kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ   --  dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).

Keberkatan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. Bagi Semua Manusia

       Orang-orang kafir yang memperoleh keberhasilan duniawi tersebut  lupa bahwa  berkat sifat Rububiyyat-Nya dan Rahmāniyat-Nya Allah Swt. Yang telah telah menganugerahkan berbagai kemampuan jasmani dan ruhani  kepada manusia   -- antara lain berupa  berbagai indera jasmani  dan ruhani untuk memperoleh pengetahuan   serta lidah dan bibir untuk berbicara -- dan Allah Swt. telah “menundukkan” alam semesta ini untuk mengkhidmati manusia manusia, baik berupa tersedianya SDA (Sumber Daya Alam) mau pun  SDM (Sumber Daya  Manusia),  karena tanpa semua itu manusia tidak akan mampu melakukan apa pun, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  لَاۤ  اُقۡسِمُ  بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾   وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾  وَ  وَالِدٍ وَّ  مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾   لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ  ۘ﴿﴾  یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ ؕ﴿﴾  اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tidak demikian,  Aku bersumpah dengan kota ini,  dan engkau akan singgah  di kota ini. Dan demi ayah dan anak.  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ  -- Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia  supaya bekerja keras.   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ    --Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا  --   Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ  -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ  --  Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang mata? وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ --  Dan sebuah lidah serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ  --   Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak  mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ  --   Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ  --  Yaitu memerdekakan budak, اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ      --  atau memberi makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ --  kepada anak yatim kerabatاَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ --    atau kepada orang miskin yang terbaring di debu.  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ --     Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya  bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.  وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ  --  Dan orang-orang yang kafir kepada  Tanda-tanda Kami mereka itu  golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ  --  Atas mereka akan ada Api yang  tertutup.  (Al-Balad [90]:1-21).

Makna “Jalan Pendakian yang Terjal

    An-najdain berarti: dua jalan raya kebaikan dan kejahatan; dua jalan kebenaran dan kepalsuan; dan dua jalan raya kemajuan ruhani dan jasmani. Allah  Swt. telah membekali manusia dengan segala sarana yang dengan sarana itu ia dapat menemukan jalan lurus, dapat menyaring yang benar dari yang salah, dan kebenaran dari kepalsuan.
   Manusia telah dianugerahi mata, baik mata ruhani maupun mata jasmani, yang dengan itu ia dapat membedakan kebaikan dari keburukan, dan ia diberi pula lidah dengan dua buah bibir, agar ia dapat meminta petunjuk, dan di atas segala-galanya Allah Swt, telah meletakkan di hadapannya tujuan tertinggi, supaya ia sebagai Khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi, dapat membaktikan semua kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan itu.
   Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran   Allah Swt. telah membukakan segala jalan dan sarana yang dengan mempergunakannya manusia dapat mencapai kemajuan ruhani dan jasmani yang tiada hingganya, tetapi mereka menolak memberikan pengorbanan yang diperlukan guna mencapai tujuan tersebut, karena memang merupakan “jalan pendakian yang terjal.
   Ayat-ayat 14-17 membicarakan dua cara --  yakni jalan “pendakian yang terjal”   -- yang dapat meninggikan martabat akhlak suatu kaum:
(a)       Pembebasan hamba sahaya dengan mengangkat golongan masyarakat yang tertekan, tertindas, dan hina kepada tingkat yang sama dalam kehidupan.
(b)         Pemberian pertolongan kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin supaya dapat berdiri di atas kaki sendiri (mandiri) dan menjadi anggota masyarakat yang berguna.
  Tetapi amal-amal baik yang disebut dalam ayat 14-17 yang mendahuluinya tidaklah memadai untuk mengangkat martabat suatu masyarakat seutuhnya, karena diperlukan cita-cita dan asas-asas benar yang  berpadu dengan kesetiaan yang tetap lagi teguh pada jalan yang menjurus kepada akhlak lurus, serta mengajarkan nilai kebaikan kepada orang lain, adalah sama pentingnya untuk mencapai tujuan mulia tersebut di atas,  karena itu selanjutnya Allah Swt. berfirman: کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ      ثُمَّ    --  “Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya  bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.”  (Al-Balad [90]:17-18).

Sebagai Sarana “Membangun Rumah di Akhirat

   Kembali kepada kesuksesan duniawi  yang diraih Qarun   dan nasihat dari  Nabi Musa a.s. kepada-Nya:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾   وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya,  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ --  “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ    --   Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  --  dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی --  dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).
   Jadi tujuan Allah Swt. mengaugerahkan kesuksesan duniawi terhadap manusia  adalah agar menjadi  sarana  untuk membangun  “rumah di akhirat” dengan berlaku ihsan terhadap sama manusia yang membutuhkan pertolongan, yaitu  menempuh “jalan  pendakian yang terjal” (Al-Balad [90]:5-21):  وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ    --   Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  --  dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau. وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی --  dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Jawaban Takabbur Qarun

  Terhadap nasihat Nabi Musa a.s. tersebut Qarun menjawab dengan takabur, firman-Nya:
قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿
Ia  berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya? Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka.  (Al-Qashash [28]:79).
    Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai ketakaburan Qarun yang tidak tahu bersyukur kepada ihsan Allah Swt. tersebut:
فَخَرَجَ عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia keluar  di hadapan kaumnya dengan kemegahan. Berkata orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:  یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ  -- “Wahai alangkah baiknya, apabila kami pun mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun! اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ --  Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.”  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا --   Tetapi orang-orang yang diberi pengetahuan berkata:   Celakalah kamu, ganjaran dari Allah adalah lebih baik bagi siapa yang beriman dan beramal saleh, وَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ --  dan itu tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).
      Jadi, kesuksesan duniawi   yang berhasil diraih Qarun      mau pun oleh kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para rasul Allah  yang kedatangannya  dijanjikan kepada  mereka (QS.35-37) sesuai dengan jawaban Allah Swt. terhadap doa Nabi Ibrahim a.s. sebelum ini, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ  اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata:  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا    -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),  jadikanlah tempat ini kota yang aman وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  -- dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman  kepada  Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا   -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ     -- kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ   --  dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).

Sunnatullah Bagi Orang-orang yang Bersyukur dan yang Tidak Bersyukur

        Sesuai ketetapan Allah Swt.  berdasarkan Sifat Rahmaniyat-Nya dalam firman-Nya tersebut:  قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا   -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ     -- kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ   --  dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,” terjadi pula pada Qarun yang tidak-bersyukur kepada  ihsan Allah Swt. kepadanya, yakni Allah Swt. memerintahkan para malaikat yang mengendalikan kekuatan-kekuatan bumi -- untuk menenggelamkan Qarun dan seluruh kekayaannya  -- sebagai bukti “sujudnya” para malaikat  kepada Nabi Musa a.s. yang merupakan Khalifah Allah pada zaman itu,  firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ  الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا  کَانَ لَہٗ  مِنۡ فِئَۃٍ  یَّنۡصُرُوۡنَہٗ  مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا  کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ مَّنَّ  اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ  لَا  یُفۡلِحُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka  Kami membenamkan dia   beserta rumahnya ke dalam bumi,  dan  selain Allah tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang dapat membela diri. وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ  -- Dan jadilah orang-orang yang kemarin ingin mendapat kedudukannya itu   berkata: وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ --  “Celakalah bagi engkau! Sesungguhnya Allāh-lah Yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkan. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ مَّنَّ  اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا  --  Seandainya Allah tidak menganugerahkan kemurahan-Nya kepada kami niscaya Dia akan membenamkan kami juga.  وَیۡکَاَنَّہٗ  لَا  یُفۡلِحُ  الۡکٰفِرُوۡنَ  --  Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.” (Al-Qashash [28]:81-83).
       Jadi betapa  pentingnya manusia  bersyukur secara hakiki kepada Allah Swt.  ketika – berkat sifat Rahmaniyat-Nya  --  berhasilmeraih   kesuksesan kehidupan duniawi dan ruhani, dan hendaknya menjadikannya sebagai sana untuk mencari “rumah di akhirat”, sebab jika tidak bersyukur yang hakiki maka  pasti  nasib buruk yang dialami Qarun mau pun kaum-kaum purbakala  yang mendustakan dan menentang para rasul Allah akan menimpa,  firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.”   Dan Musa berkata: “Jika  kamu kafir, kamu dan siapa pun yang ada di bumi ini semuanya tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
       Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya   -- jasmani dan ruhani  -- dengan tepat sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum  ruhani (hukum syariat), terutama agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).

Doa “Sapujagat” Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat  

     Sesuai dengan cara “bersyukur yang hakiki” tersebut Allah Swt. telah mengajarkan doa “sapujagat” dalam firman-Nya berikut ini, sehubungan dengan ibadah haji dan doa Nabi Ibrahim a.s.  pemberian rezeki (QS.2:127):
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ مَّنَاسِکَکُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ  کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila  kamu telah  menunaikan acara-cara ibadah hajimu, maka  ingatlah  Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapakmu atau mengingat-Nya  lebih keras  lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ --  Dan  di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat.  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ --  Dan  di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat,  dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
      Ayat 202   menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik (hasanah) dari dunia ini dan pula segala yang baik (hasanah) dari alam ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-’Arus).
    Doa ini sangat padat dan Nabi Besar Muhammad saw.   amat sering mempergunakannya (Muslim). Bagi orang-orang yang bertakwa yang mencari “rumah di akhirat” melalui sarana kesuksesan duniawi yang diraihnya  seperti itu Allah Swt. berfirman:
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ  خَیۡرٌ  مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ  فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا السَّیِّاٰتِ  اِلَّا مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombong-an di bumi, dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.   Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya ada balasan yang lebih baik dari itu, dan barangsiapa yang berbuat kejahatan maka tidak akan dibalas orang-orang yang berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Qashash [28]:84-85).
         Hukum pembalasan dari Allah Swt. bekerja dengan cara ini, yaitu  untuk amal-amal yang baik ganjarannya beberapa kali lipat lebih besar, sedangkan hukuman atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal dengan itu.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 24  Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar