Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN SIFAT RAHMĀNIYAT
(MAHA PEMURAH) ALLAH SWT. DENGAN KESUKSESAN
DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR & JAWABAN
ALLAH SWT. TERHADAP DOA NABI IBRAHIM
A.S. BAGI PENDUDUK MAKKAH
Bab 52
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah
dikemukakan mengenai pentingnya bersyukur
secara hakiki kepada Allah Swt. dalam
meraih kesuksesan kehidupan duniawi
dan ruhani, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak
karunia kepada kamu, tetapi jika
kamu benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” Dan Musa berkata: “Jika kamu
kafir, kamu dan siapa pun yang ada
di bumi ini semuanya tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena
se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya -- jasmani
dan ruhani -- dengan tepat
sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum ruhani (hukum syariat), terutama agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ
اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ
اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah
benar-benar Maha Menghargai,
Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Tetapi sikap “bersyukurnya” orang-orang duniawi seperti itu – termasuk kaum-kaum purbakala – hanyalah dalam segi duniawi, yakni mereka telah memanfaatkan secara tepat SDA dan SDM yang mereka
miliki sesuai hukum-hukum Allah
(hukum-hukum alam) maka mereka – sekali pun
mereka itu orang-orang musyrik
atau orang-orang Atheis -- maka mereka meraih kesuksesan duniawi, sebab hal tersebut sesuai dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah
Swt.: لَئِنۡ
شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ -- “Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak
karunia kepada kamu” (QS.14:8).
Ketakaburan dan Ketidak-bersyukuran Fir’aun dan Qarun
Namun orang-orang kafir tersebut menisbahkan kesuksesan duniawi mereka itu sebagai buah
(hasil) dari upaya dan kerja-keras mereka sendiri, sebagaimana
yang dikatakan Fir’aun dan Qarun,
firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ
قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ
اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ
ہُوَ مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ
مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾ فَاسۡتَخَفَّ
قَوۡمَہٗ فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ
کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ
فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ فَجَعَلۡنٰہُمۡ سَلَفًا
وَّ مَثَلًا لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah
kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai
ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat? Atau
tidakkah aku lebih baik daripada
orang
yang hina ini (Musa) dan ia
tidak dapat menjelaskan? Mengapakah
tidak dianugerahkan kepadanya
gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?" Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka
patuh kepadanya, sesungguhnya mereka
adalah kaum durhaka. Maka ketika
mereka membuat Kami murka, Kami
menuntut balas dari mereka dan Kami
menenggelamkan mereka semua, dan Kami
menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal
bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf [43]:52-57).
Kemudian mengenai ketakaburan Qarun -- yang merupakan salah seorang kepercayaan Fir’aun selain Haman, ia sebagai menteri
pertambangan Fir’aun -- Allah Swt. berfirman:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ
قَوۡمِ مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ
اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ
مَفَاتِحَہٗ لَتَنُوۡٓاُ
بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭
اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ
ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ
اَحۡسِنۡ کَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk
kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya
terhadap mereka. Dan Kami telah
memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah
diangkat oleh sejumlah orang-orang
kuat. Ketika kaumnya berkata
kepadanya, لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ -- “Janganlah
engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- Dan
carilah rumah akhirat itu dalam
apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ
نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ
اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat
ihsanlah sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di
bumi, sesungguhnya Allah tidak
mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).
Hubungan Sifat Rububiyyat dan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. Dengan Kesuksesan
Duniawi Orang-orang Kafir
Qarun adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh
Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya. Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang mas milik Fir’aun dan seorang ahli
dalam teknik penggalian mas dari
tambang-tambang. Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang
emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti “tiang,” atau “cahaya,” maka
kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan.
Konon ia seorang orang Israil
dan beriman kepada Nabi Musa a.s.,
tetapi untuk mengambil hati Fir’aun
agaknya ia telah menganiaya bangsanya
sendiri dan berlaku sombong terhadap
mereka, sebagai akibatnya azab Tuhan
menimpa dirinya dan ia binasa ditelan bumi yang sebelumnya ia
kelola (explorasi) (QS.28:82).
Mafatih
adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah, yang pertama
berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane). Menanggapi nasihat
kaumnya tersebut – mungkin Nabi Musa a.s. – selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Qarun:
قَالَ
اِنَّمَاۤ اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی
عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ
مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ قُوَّۃً وَّ
اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ ﴾
Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan banyak generasi
sebelumnya yang lebih besar kekuasaannya daripada
dia dan lebih banyak harta kekayaannya?
Dan orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa
mereka. (Al-Qashash
[28]:79).
Jadi, betapa orang-orang duniawi yang tidak
bersyukur kepada Allah Swt. semacam Qarun tersebut telah membanggakan diri bahwa semua keberhasilan duniawi mereka adalah
semata-mata berkat ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan upaya-upaya dan kerja-keras yang mereka lakukan, padahal
semua itu karena Sifat Rububiyyat dan Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. yang
sampai batas tertentu berlaku bagi orang-orang kafir juga, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Ibrahim
a.s.:
وَ اِذۡ
قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا
بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ
مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ
کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ
قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ
اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ
بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا -- “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota yang aman
وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ -- dan berikanlah
rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ
وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun
maka Aku akan memberi
sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ -- kemudian
akan Aku paksa ia masuk ke
dalam azab Api, وَ بِئۡسَ
الۡمَصِیۡرُ -- dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).
Keberkatan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. Bagi
Semua Manusia
Orang-orang kafir yang memperoleh keberhasilan duniawi tersebut lupa
bahwa berkat sifat Rububiyyat-Nya dan Rahmāniyat-Nya
Allah Swt. Yang telah telah menganugerahkan berbagai kemampuan jasmani dan ruhani kepada manusia -- antara lain berupa berbagai indera
jasmani dan ruhani untuk memperoleh pengetahuan
serta lidah
dan bibir untuk berbicara -- dan Allah Swt. telah “menundukkan” alam semesta ini untuk mengkhidmati manusia manusia, baik berupa tersedianya SDA (Sumber Daya Alam) mau pun SDM
(Sumber Daya Manusia), karena tanpa
semua itu manusia tidak akan mampu
melakukan apa pun, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾ وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا
الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾ وَ وَالِدٍ
وَّ مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ کَبَدٍ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ ۘ﴿﴾ یَقُوۡلُ
اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ
یَرَہٗۤ اَحَدٌ ؕ﴿﴾ اَلَمۡ نَجۡعَلۡ لَّہٗ
عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ لِسَانًا وَّ
شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ
ہَدَیۡنٰہُ النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾ فَلَا اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ
﴿۫ۖ﴾ وَ
مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ
﴿ۙ﴾ اَوۡ اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ نَارٌ
مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Tidak demikian, Aku
bersumpah dengan kota ini, dan engkau
akan singgah di kota ini.
Dan demi ayah dan anak. لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ
کَبَدٍ -- Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia
supaya bekerja keras. اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّنۡ
یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ --Apakah
ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya?
یَقُوۡلُ اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا
-- Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ یَرَہٗۤ
اَحَدٌ -- Apakah ia
menyangka bahwa tidak ada seorang
pun melihatnya? اَلَمۡ نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ -- Tidakkah
Kami menjadikan baginya sepasang mata?
وَ
لِسَانًا وَّ شَفَتَیۡنِ -- Dan sebuah
lidah serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ
النَّجۡدَیۡنِ -- Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. فَلَا
اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia
tidak mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ
-- Dan apakah
yang engkau ketahui apa pendakian
terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ -- Yaitu
memerdekakan budak, اَوۡ
اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ --
atau memberi makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ -- kepada anak yatim kerabat, اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ -- atau kepada
orang miskin yang terbaring di debu.
ثُمَّ کَانَ
مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا
بِالصَّبۡرِ وَ تَوَاصَوۡا
بِالۡمَرۡحَمَۃِ -- Kemudian dia
menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar
dan mengajak satu sama lain berbelas
kasih. اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ --
Mereka ini golongan kanan. وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ -- Dan
orang-orang yang kafir kepada Tanda-tanda
Kami mereka itu golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ
نَارٌ مُّؤۡصَدَۃٌ -- Atas
mereka akan ada Api yang tertutup.
(Al-Balad [90]:1-21).
Makna “Jalan Pendakian
yang Terjal”
An-najdain berarti:
dua jalan raya kebaikan dan kejahatan; dua jalan kebenaran dan kepalsuan; dan dua jalan raya kemajuan
ruhani dan jasmani. Allah Swt. telah membekali manusia dengan segala sarana
yang dengan sarana itu ia dapat
menemukan jalan lurus, dapat menyaring yang benar dari yang salah,
dan kebenaran dari kepalsuan.
Manusia telah dianugerahi
mata, baik mata ruhani maupun mata
jasmani, yang dengan itu ia dapat membedakan
kebaikan dari keburukan, dan ia
diberi pula lidah dengan dua buah bibir, agar ia dapat meminta petunjuk, dan di atas segala-galanya Allah
Swt, telah meletakkan di hadapannya tujuan
tertinggi, supaya ia sebagai Khalifah
Allah (wakil Allah) di muka bumi, dapat membaktikan
semua kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan itu.
Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu
Al-Quran Allah Swt. telah membukakan segala jalan dan sarana
yang dengan mempergunakannya manusia
dapat mencapai kemajuan ruhani dan jasmani yang tiada hingganya, tetapi
mereka menolak memberikan pengorbanan
yang diperlukan guna mencapai tujuan
tersebut, karena memang merupakan “jalan
pendakian yang terjal.”
Ayat-ayat 14-17 membicarakan dua cara -- yakni jalan “pendakian yang terjal” -- yang
dapat meninggikan martabat akhlak
suatu kaum:
(a) Pembebasan hamba sahaya dengan mengangkat golongan masyarakat
yang tertekan, tertindas, dan hina kepada tingkat yang sama dalam kehidupan.
(b) Pemberian pertolongan kepada anak-anak yatim dan orang-orang
miskin supaya dapat berdiri di atas
kaki sendiri (mandiri) dan menjadi anggota
masyarakat yang berguna.
Tetapi amal-amal
baik yang disebut dalam ayat 14-17 yang mendahuluinya tidaklah memadai
untuk mengangkat martabat suatu masyarakat seutuhnya, karena diperlukan cita-cita dan asas-asas benar yang berpadu
dengan kesetiaan yang tetap lagi teguh pada jalan yang menjurus kepada akhlak lurus, serta mengajarkan
nilai kebaikan kepada orang lain, adalah sama pentingnya untuk mencapai tujuan
mulia tersebut di atas, karena itu
selanjutnya Allah Swt. berfirman: کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ثُمَّ – -- “Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman
dan menasihati satu sama lain supaya
bersabar dan mengajak satu
sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ -- Mereka ini golongan
kanan.” (Al-Balad [90]:17-18).
Sebagai Sarana “Membangun Rumah di Akhirat”
Kembali kepada kesuksesan duniawi yang diraih Qarun
dan nasihat dari Nabi Musa a.s. kepada-Nya:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ
قَوۡمِ مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ
اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ
مَفَاتِحَہٗ لَتَنُوۡٓاُ
بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭
اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ
ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ
اَحۡسِنۡ کَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk
kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya
terhadap mereka. Dan Kami telah
memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah
diangkat oleh sejumlah orang-orang
kuat. Ketika kaumnya berkata
kepadanya, لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ -- “Janganlah
engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- Dan
carilah rumah akhirat itu dalam
apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ
نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ
اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat
ihsanlah sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di
bumi, sesungguhnya Allah tidak
mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).
Jadi tujuan Allah Swt. mengaugerahkan kesuksesan duniawi terhadap manusia
adalah agar menjadi sarana
untuk membangun “rumah di akhirat” dengan berlaku ihsan terhadap sama manusia yang membutuhkan pertolongan,
yaitu menempuh “jalan pendakian yang terjal”
(Al-Balad
[90]:5-21): وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- Dan
carilah rumah akhirat itu dalam
apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ
نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ
اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat
ihsanlah sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan terhadap engkau. وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِی -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di
bumi, sesungguhnya Allah tidak
mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Jawaban Takabbur Qarun
Terhadap nasihat Nabi Musa a.s. tersebut Qarun menjawab dengan takabur, firman-Nya:
قَالَ
اِنَّمَاۤ اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی
عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ
مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ قُوَّۃً وَّ
اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ ﴾
Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan banyak generasi
sebelumnya yang lebih besar kekuasaannya daripada
dia dan lebih banyak harta kekayaannya?
Dan orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa
mereka. (Al-Qashash
[28]:79).
Lebih lanjut Allah Swt.
berfirman mengenai ketakaburan Qarun
yang tidak tahu bersyukur kepada ihsan Allah Swt. tersebut:
فَخَرَجَ عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ
زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ
قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ لِّمَنۡ
اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ
﴿﴾
Maka ia keluar
di hadapan kaumnya dengan kemegahan.
Berkata orang-orang yang menghendaki
kehidupan dunia: یٰلَیۡتَ لَنَا
مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ -- “Wahai alangkah baiknya, apabila
kami pun mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun! اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ -- Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.” وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ
خَیۡرٌ لِّمَنۡ اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا -- Tetapi orang-orang
yang diberi pengetahuan berkata: Celakalah kamu, ganjaran dari Allah adalah lebih baik bagi siapa yang beriman dan beramal
saleh, وَ
لَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ -- dan itu
tidak akan diberikan kecuali kepada
orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).
Jadi, kesuksesan
duniawi yang berhasil diraih Qarun mau pun oleh kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.35-37) sesuai dengan jawaban Allah Swt. terhadap doa Nabi Ibrahim a.s. sebelum ini,
firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا
بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ
مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ
کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ
قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ
اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ
بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا -- “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota yang aman
وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ -- dan berikanlah
rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ
وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun
maka Aku akan memberi
sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ -- kemudian
akan Aku paksa ia masuk ke
dalam azab Api, وَ بِئۡسَ
الۡمَصِیۡرُ -- dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).
Sunnatullah Bagi Orang-orang yang Bersyukur dan yang Tidak Bersyukur
Sesuai ketetapan Allah Swt.
berdasarkan Sifat Rahmaniyat-Nya
dalam firman-Nya tersebut: قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا -- Dia
berfirman: “Dan orang yang kafir pun maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ -- kemudian akan
Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ -- dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,” terjadi pula pada Qarun yang tidak-bersyukur kepada ihsan Allah Swt. kepadanya, yakni Allah
Swt. memerintahkan para malaikat yang mengendalikan kekuatan-kekuatan bumi -- untuk menenggelamkan Qarun dan seluruh kekayaannya -- sebagai bukti “sujudnya” para malaikat kepada Nabi
Musa a.s. yang merupakan Khalifah
Allah pada zaman itu, firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا کَانَ لَہٗ
مِنۡ فِئَۃٍ یَّنۡصُرُوۡنَہٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ
یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ
عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ اَنۡ
مَّنَّ اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا
ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ
الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka Kami
membenamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi,
dan selain
Allah tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang
dapat membela diri. وَ اَصۡبَحَ
الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ
-- Dan jadilah orang-orang
yang kemarin ingin mendapat kedudukannya
itu berkata: وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ
یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ -- “Celakalah
bagi engkau! Sesungguhnya
Allāh-lah Yang melapangkan rezeki
bagi siapa yang Dia kehendaki dari
hamba-hamba-Nya dan menyempitkan.
لَوۡ لَاۤ اَنۡ مَّنَّ
اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا
-- Seandainya Allah tidak menganugerahkan kemurahan-Nya
kepada kami niscaya Dia akan membenamkan kami juga. وَیۡکَاَنَّہٗ
لَا یُفۡلِحُ الۡکٰفِرُوۡنَ -- Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.” (Al-Qashash [28]:81-83).
Jadi
betapa pentingnya manusia bersyukur
secara hakiki kepada Allah Swt. ketika – berkat sifat Rahmaniyat-Nya -- berhasilmeraih kesuksesan
kehidupan duniawi dan ruhani, dan
hendaknya menjadikannya sebagai sana untuk mencari “rumah di akhirat”, sebab jika tidak bersyukur yang hakiki
maka pasti nasib
buruk yang dialami Qarun mau pun kaum-kaum purbakala yang mendustakan
dan menentang para rasul Allah akan menimpa, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak
karunia kepada kamu, tetapi jika
kamu benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” Dan Musa berkata: “Jika kamu
kafir, kamu dan siapa pun yang ada
di bumi ini semuanya tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena
se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya -- jasmani
dan ruhani -- dengan tepat
sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum ruhani (hukum
syariat), terutama agama Islam (Al-Quran),
firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ
اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ
اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah
benar-benar Maha Menghargai,
Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Doa “Sapujagat” Meraih Kesuksesan
Dunia dan Akhirat
Sesuai dengan cara “bersyukur yang hakiki” tersebut Allah
Swt. telah mengajarkan doa “sapujagat”
dalam firman-Nya berikut ini, sehubungan dengan ibadah haji dan doa Nabi
Ibrahim a.s. pemberian rezeki (QS.2:127):
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ مَّنَاسِکَکُمۡ
فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ کَذِکۡرِکُمۡ
اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ
مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا
فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی
الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ
مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila
kamu telah menunaikan acara-cara
ibadah hajimu, maka ingatlah Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapakmu atau mengingat-Nya lebih keras lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan di
antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan
hidup di dunia ini”, dan tidak ada
baginya bagian di akhirat. وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا
حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ
حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Dan di antara mereka ada yang
mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di
dunia dan segala yang baik di
akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Mereka
inilah yang akan memperoleh bagian
sebagai pahala dari apa yang
mereka usahakan, dan Allah Mahacepat
dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
Ayat 202 menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya
terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik (hasanah) dari dunia ini dan pula segala yang baik (hasanah) dari alam
ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-’Arus).
Doa ini sangat padat dan Nabi
Besar Muhammad saw. amat
sering mempergunakannya (Muslim).
Bagi orang-orang yang bertakwa yang
mencari “rumah di akhirat” melalui
sarana kesuksesan duniawi yang
diraihnya seperti itu Allah Swt.
berfirman:
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ
عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ
جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ خَیۡرٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا
السَّیِّاٰتِ اِلَّا مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿ ﴾
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombong-an
di bumi, dan tidak pula kerusakan.
Dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya
ada balasan yang lebih baik dari itu, dan barangsiapa yang berbuat kejahatan maka tidak akan dibalas orang-orang yang berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan
apa yang telah mereka kerjakan.
(Al-Qashash [28]:84-85).
Hukum pembalasan dari Allah Swt. bekerja dengan cara ini, yaitu untuk amal-amal
yang baik ganjarannya beberapa kali
lipat lebih besar, sedangkan hukuman
atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal dengan itu.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar