Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
HUBUNGAN DUA FUNGSI SISTIM ALAM SEMESTA
JASMANI DAN RUHANI & GOLONGAN “JIN” YANG SECARA DIAM-DIAM DI MALAM HARI MENGHADAP NABI BESAR MUHAMMAD
SAW.
Bab 45
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab
sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai para malaikat sebagai “instrument”
pelaksana kehendak Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ کَمۡ مِّنۡ مَّلَکٍ فِی السَّمٰوٰتِ
لَا تُغۡنِیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ اَنۡ یَّاۡذَنَ اللّٰہُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یَرۡضٰی ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ
لَیُسَمُّوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ تَسۡمِیَۃَ
الۡاُنۡثٰی ﴿﴾ وَ
مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ ؕ اِنۡ
یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ ۚ وَ
اِنَّ الظَّنَّ لَا یُغۡنِیۡ مِنَ
الۡحَقِّ شَیۡئًا ﴿ۚ﴾
Dan berapa banyak malaikat di seluruh
langit syafaat mereka tidak akan
berfaedah sedikit pun, kecuali sesudah
Allah mengizinkan bagi siapa yang
Dia kehendaki dan Dia ridhai. اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ تَسۡمِیَۃَ الۡاُنۡثٰی
-- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat niscaya mereka memberikan nama-nama perempuan kepada malaikat-malaikat. وَ مَا
لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ
-- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya. اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ -- Mereka tidak
mengikuti melainkan dugaan, وَ اِنَّ الظَّنَّ لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا -- dan sesungguhnya dugaan
itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (An-Najm [53]:27-29).
Sebagaimana tidak ada
peralatan mekanik mau pun elektronik buatan
manusia yang berstatus jantan (laki-laki) dan betina (perempuan), demikian pula halnya dengan para malaikat -- yang merupakan instrument (sarana) Allah Swt. -- yang melaksanakan kehendak-Nya mengenai seluruh makhluk-Nya, terutama manusia, sebab para malaikat
tidak memiliki kehendak sendiri
selain melakanakan kehendak Allah
Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ
وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ
قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ
مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
diri kamu dan keluargamu dari Api,
yang bahan bakarnya manusia dan batu, عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ
مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ -- penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah apa yang Dia perintahkan kepada mereka وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ -- dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.
(At-Tahrīm
[66]:7).
Peran Para Malaikat Bagi Kinerja Alam Semesta
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
mengenai peran para malaikat bagi seluruh tatanan alam semesta jasmani yaitu ibarat ruh bagi tubuh:
“Segala
sesuatu yang memiliki ruh akan dijaga oleh para malaikat.
Berdasarkan isi ayat ini, kita harus mengimani
hal-hal yang berkaitan dengan ruh semua planet seperti bintang-bintang, matahari, bulan, planet Mercuri,
planet Mars dan lain-lain, semuanya itu berada di bawah pemeliharaan malaikat-malaikat. Dengan kata lain, masing-masing ciptaan tersebut memiliki satu malaikat yang menjaga
dan memungkinkan dirinya berfungsi
secara patut.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.
77, London, 1984).
Kemudian mengenai cara “penjagaan”
yang dilakukan para malaikat dalam
menghindarkan manusia dari bahaya
bencana, selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Para
malaikat juga menjaga terhadap bencana
fisikal, hanya saja penjagaan
ini bersifat spiritual. Sebagai
contoh, bila ada seseorang yang
sedang berdiri di suatu tempat berdekatan dengan sebuah dinding tinggi yang akan roboh, dalam hal seperti itu tidak
akan ada satu malaikat yang datang menggendong (membopong) orang itu dengan tangannya dan membawanya pergi ke tempat yang aman.
Apabila orang itu
termasuk mereka yang akan diselamatkan,
malaikat akan datang menyampaikan pesan agar ia bergegas meninggalkan tempat
tersebut. Adapun pemeliharaan dan penjagaan bintang-bintang dan unsur-unsur alam bersifat fisikal.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.
99, London, 1984).
Sehubungan dengan cara “penyelamatan”
yang dilakukan malaikat tersebut dialami pula oleh Masih Mau’ud a.s., yaitu ketika beliau dengan beberapa orang pengikut
beliau berada dalam satu bangunan. Tiba-tiba beliau mendengar suara yang mencurigakan yang menurut firasat beliau menandakan bahwa atap bangunan tersebut akan roboh.
Segera Masih
Mau’ud a.s. bergegas menuju pintu
keluar sambil memerintahkan semua orang yang berada dalam ruangan segera
keluar, setelah semua orang keluar dari ruangan itu barulah beliau melangkahkan
kaki keluar pintu. Begitu Masih Mau’ud
a.s. melangkahkan kaki keluar
ruangan tiba-tiba atap bangunan tersebut roboh.
Dua Sistem Fungsi Alam
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
hikmah di balik terjadinya gejala meteorik berupa “bintang jatuh” yang
juga tidak lepas dari peran (kinerja)
para malaikat:
“Tuhan Yang Maha Kuasa tidak membatasi
peristiwa-peristiwa di dunia hanya
pada suatu sistem yang kasat mata, karena sebenarnya ada suatu
sistem tersembunyi yang beroperasi setiap saat. Matahari, bulan dan bumi, uap awan yang menjadi hujan, angin yang bertiup kencang, badai yang menerpa bumi serta bintang jatuh (meteor), semuanya memiliki kausa (sebab) fisikal (jasmani) dalam gerakan, perubahan, perputaran
serta perwujudan, sebagaimana
diuraikan dalam buku-buku mengenai ilmu
astronomi dan phisika. Hanya
saja mereka yang mempunyai wawasan
mengetahui bahwa di belakang semua kausa
(sebab) tersebut ada lagi kausa-kausa
lain yang mengatur mereka yang
disebut sebagai malaikat.
Dengan apa pun
para malaikat ini terkait, para malaikat tersebut menjadikan benda-benda
itu melaksanakan fungsinya dan membawanya kepada tujuan penciptaan mereka berdasarkan tujuan keruhanian yang telah ditugaskan
Allah Swt. atas pundak mereka. Gerakan mereka tidak ada yang sia-sia karena
semua yang mereka kerjakan adalah untuk mencapai tujuan penciptaan.
Adalah suatu kebenaran hakiki sebagaimana telah
dijelaskan dalam buku kecilku “Tauzih Maram”, bahwa
Yang Maha Bijaksana telah menegakkan
2 sistem bagi pelaksanaan fungsi alam yang sempurna. Sistem yang tersembunyi
terkait dengan para malaikat. Setiap
sistem yang kasat mata di belakangnya selalu didukung sistem yang tersembunyi.
Dengan demikian mudah dipahami bahwa semua kausa
(sebab) kasat mata dari suatu bintang jatuh tidak bertentangan dengan kausa dari sistem keruhanian. Menurut sistem
keruhanian, yang terkesan adalah adanya
satu malaikat yang ditugaskan di
setiap meteor, yang menggerakkan
benda itu ke arah yang
ditentukan. Gerakan dari bintang jatuh tersebut membenarkan hal
ini.
Hubungan Bintang Jatuh dengan Pengusiran Syaitan
Jelas kiranya
bahwa fungsi dari para malaikat bukannya tanpa tujuan. Di latar belakangnya ada suatu tujuan yang membawa kemaslahatan bagi keimanan dan bagi dunia,
hanya saja tidak mungkin kita memahami
tujuan dari fungsi malaikat tanpa mediasi (perantaraan) para malaikat juga. Karena itulah melalui mediasi malaikat Jibrail telah
diungkapkan kepada Hadhrat Rasulullah
Saw. bahwa tujuan dari para malaikat pada bintang-bintang jatuh adalah untuk mengusir iblis atau syaitan.
Misteri terusirnya
syaitan yang dilontar dengan bintang jatuh rupanya diakibatkan oleh permusuhan di antara para malaikat
dengan para syaitan. Pada saat
dilepaskannya bintang-bintang jatuh
tersebut -- yang dipengaruhi oleh
panasnya bintang-bintang -- para malaikat mengembangkan kekuatan terang mereka di alam, dan setiap bintang jatuh yang bergerak
memiliki kehidupan malaikat yang memiliki fitrat untuk memusnahkan syaitan.
Dengan
demikian tidak benar jika dikatakan,
bahwa mengingat jin diciptakan dari api, lalu jadinya tidak bisa
dicederai oleh api. Karena cedera
yang ditimpakan bintang-bintang jatuh
atas para jin itu bukan karena apinya semata tetapi karena nur
yang dinyalakan para malaikat yang menyertai bintang jatuh tersebut, dimana salah satu fitratnya adalah untuk memusnahkan syaitan.
Sepanjang seseorang beriman pada eksistensi
Tuhan -- dan yang bersangkutan bukan seorang
atheis -- ia akan menyadari
bahwa semua sistem tersebut bukanlah suatu hal yang sia-sia, karena semua
yang terjadi bermula pada kebijakan dan rancangan sempurna Allah Yang
Maha Kuasa, dimana rancangan itu
mewujud sejalan dengan sistem sarana fisikal (jasmani).
Karena Tuhan
tidak membekali benda-benda tersebut dengan akal dan pengetahuan maka untuk pencapaian tujuan yang memerlukan
akal dan pengetahuan
digunakanlah mediasi (perantara)
yang memiliki kedua hal tersebut
yaitu para malaikat.
Karena para malaikat mempunyai tujuan dalam segala hal yang
dilakukannya serta tidak berfungsi
secara sia-sia dan tanpa tujuan, maka dapat dimaklumi
bahwa mereka itu mempunyai tujuan
pada saat pelepasan bintang-bintang
jatuh (meteor). Hanya saja karena akal
manusia masih belum dapat memahami
tujuan tersebut, kiranya tidak akan
ada gunanya untuk memacu akal
guna memecahkan misteri ini.
Peran Penting Wahyu
Ilahi
Guna memahami tujuan yang tidak terjangkau akal seperti itu, logika membutuhkan sarana lain. Sarana tersebut adalah wahyu yang diturunkan kepada
manusia, yang akan membawanya kepada
wawasan dan hakikat yang tak mungkin
dipahami oleh akal semata.
Melalui sarana tersebut akan dibukakan kepadanya segala misteri tersembunyi yang tidak dimengerti oleh akal.
Yang kami maksud
sebagai wahyu dalam hal ini adalah Al-Quran, yang telah mengungkapkan tujuan malaikat dalam melepaskan
meteor-meteor guna mengusir para
syaitan. Bentuknya adalah sebagai penyebaran
nur oleh malaikat yang akan mengalahkan kegelapan para jin dan menghambat
gerakan mereka.
Jika penyebaran nur tersebut terjadi dalam harkat yang mulia maka daya tarik magnetisnya akan
menghasilkan manifestasi nur yang sempurna di antara manusia, dimana nurani manusia menjadi tertarik kepada kecemerlangan nur dan ketakwaan.
Sistem Samawi telah mengatur bahwa segala sesuatu yang terjadi pada benda-benda dan di alam -- atau pun mewujud karenanya -- bukanlah karena hasil gerakan tidak terarah dari benda-benda tersebut. Yang
Maha Bijaksana dan Maha Kuasa
telah menyerahkan pengaturan
semuanya kepada para malaikat yang mengemban tugas masing-masing setiap
saat, di bawah perintah Yang Maha Kuasa.
Mereka tidak berfungsi secara sia-sia dan mereka melaksanakan fungsi mereka guna menimbulkan berbagai gerakan di langit dan di bumi dengan cara yang bijak, demi pencapaian
suatu tujuan mulia. Tidak ada tindakan
mereka itu yang bersifat sia-sia
atau tanpa arti.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 124-133, London, 1984).
Makna Dua Golongan “Jin” yang Menghadap Nabi Besar Muhammad
Saw.
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai hubungan “bintang
jatuh” dengan “pengusiran syaitan”
tersebut dijelaskan juga dalam firman-Nya berkenaan dengan “segolongan jin” yang mendengarkan wahyu Al-Quran, firman-Nya:
وَ اِذۡ صَرَفۡنَاۤ اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ
یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی
قَوۡمِہِمۡ مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا
کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ
اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
یٰقَوۡمَنَاۤ اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ وَ
یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ
مَنۡ لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami hadapkan kepada engkau
segolongan dari jin yang ingin
mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka berkata: "Diamlah dan dengarkanlah!" Maka tatkala
telah selesai mereka kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan. قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی -- Mereka berkata: -- "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan
sesudah Musa2 مُصَدِّقًا لِّمَا
بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ
وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan memimpin
kepada kebenaran serta kepada jalan
yang lurus. Hai kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya Dia
akan mengampuni do-sa-dosa kamu, dan
Dia akan melin-dungi kamu dari azab yang
pedih. وَ مَنۡ لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءُ --
Dan barangsiapa tidak menyambut penyeru kepada
Allah, maka ia tidak dapat melemahkannya di bumi dan
tidak ada baginya pelindung-pelindung selain Dia, اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- mereka itu dalam kesesatan
yang nyata." (Al-Ahqaf [46]:30-33).
Golongan jin
yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah orang-orang
Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang Yahudi dari Maushal atau
Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang Mekkah, mereka
menjumpai Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu malam, dan setelah
mendengarkan pembacaan Al-Quran dan tutur beliau saw. mereka masuk
Islam dan menyampaikan agama baru
itu kepada kaum mereka yang juga dengan suka hati menerimanya (Bayan, jilid ke-8).
Ayat 31
menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi, sebab mereka
mengatakan tentang Al-Quran sebagai
"Kitab yang telah diturunkan sesudah
Musa." (QS.46:31). Dalam Surah
yang lain Allah Swt. berfirman mengenai segolongan “jin” yang mendengar
wahyu
Al-Quran, namun nampaknya “rombongan
jin” ini berhubungan erat dengan agama Kristen, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾قُلۡ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ اَنَّہُ اسۡتَمَعَ
نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا
اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا
ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ
اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا
وَلَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan
jin mendengarkan Al-Quran, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.
Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ
اَحَدًا -- Dan
kami
tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ
رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, Dia
sekali-kali tidak beristri dan tidak
pula beranak (Al-Jin [72]:1-4).
Golongan
Kristen
Isyarat ini mungkin tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin.
Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing maka
mereka disebut “jin”, yang berarti
antara lain berarti orang asing (Lexicon Lane).
Peristiwa yang disebut dalam ayat ini nampaknya berbeda
dari peristiwa yang disebut dalam QS.46:30-33 sebelumnya, meskipun ayat ini
dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata
yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat
ini mempunyai kemiripan dengan
kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin
yang disebut dalam QS.46:30-33.
Ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu adalah orang-orang Kristen yang berpegang
kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi yang bersekutu erat dengan mereka atau, yang
karena ada di bawah pengaruh mereka –
baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen. Selanjutnya mereka berkata:
وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ اَنۡ
لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ
یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا
ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ
فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya orang-orang bodoh di antara kami berkata
dusta berlebihan terhadap Allah.
Dan sesungguhnya kami menyangka ins (manusia) dan jin tidak akan pernah mengatakan
perkataan dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya ada
beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa
orang dari jin maka menambah kesombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- dan sesungguhnya
mereka menyangka sebagaimana kamu
juga menyangka bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan
seorang rasul. وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا
السَّمَآءَ فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ
حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا -- Dan sesungguhnya
kami benar-benar telah berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan
yang kuat dan nyala api. (Al-Jin
[72]:5-9).
Penggunaan
Kata Rijāl Hanya Untuk Manusia & Kepercayaan
Sesat Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya)
Karena kata rijāl dalam
ayat: وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ
یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا -- “Dan
sesungguhnya ada beberapa orang dari
manusia yang meminta
perlindungan kepada beberapa orang
dari jin“ hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam
ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu
adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun yang juga
disebut juga “jin”.
Kata Arab jin di sini, dapat
berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins –
orang-orang rendah dan hina atau golongan awam, yang dengan mengikuti golongan jin tersebut dan mencari lindungan mereka itu meningkatkan kesombongan dan keangkuhan mereka.
Makna ayat selanjutnya وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- “dan sesungguhnya mereka menyangka
sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul”, sejak
zaman Nabi Yusuf a.s. orang-orang
Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ
قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ
شَکٍّ مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf
sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari
apa yang dengannya dia datang kepadamu, حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ
قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا --- hingga apabila ia telah mati kamu
berkata: “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ
مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ -- Demikianlah Allah menyesatkan barangsiapa
yang melampaui batas, yang ragu-ragu.
الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ -- Yaitu
orang-orang yang bertengkar
mengenai Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Sangat
besar kebencian di sisi Allah dan di
sisi orang-orang yang beriman, ؕ
کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ -- demikianlah
Allah mencap setiap hati orang sombong lagi sewenang-senang.
(Al-Mu’mīn
[40]:35-36).
Nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke dunia
semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran
orang-orang — setiap kali datang seorang nabi
baru, mereka menolak dan menentangnya (QS.36:31), dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi Allah itu berkata
bahwa tidak ada nabi akan datang lagi
dan pintu wahyu telah tertutup untuk
selama-lamanya.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 14 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar