Jumat, 13 Mei 2016

Hubungan Dua Fungsi "Sistem" Alam Semesta Jasmani dan Ruhani & Golongan "Jin" yang Secara Diam-diam Di Malam Hari Menghadap Nabi Besar Muhammad Sawa.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH  



HUBUNGAN DUA  FUNGSI  SISTIM  ALAM SEMESTA  JASMANI DAN RUHANI &    GOLONGAN “JIN” YANG SECARA DIAM-DIAM DI MALAM HARI  MENGHADAP NABI BESAR MUHAMMAD SAW. 


Bab 45

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai    para malaikat  sebagai “instrument” pelaksana kehendak Allah Swt., firman-Nya:
وَ کَمۡ مِّنۡ مَّلَکٍ فِی السَّمٰوٰتِ لَا  تُغۡنِیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ اَنۡ یَّاۡذَنَ اللّٰہُ  لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ  یَرۡضٰی ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ  الۡمَلٰٓئِکَۃَ  تَسۡمِیَۃَ  الۡاُنۡثٰی ﴿﴾  وَ مَا  لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا الظَّنَّ ۚ وَ اِنَّ الظَّنَّ  لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا ﴿ۚ﴾
Dan berapa banyak malaikat di seluruh langit  syafaat mereka tidak akan berfaedah sedikit pun, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ  الۡمَلٰٓئِکَۃَ  تَسۡمِیَۃَ  الۡاُنۡثٰی  -- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat  niscaya mereka memberikan nama-nama perempuan kepada malaikat-malaikat. وَ مَا  لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ   --  Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya. اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا الظَّنَّ -- Mereka tidak mengikuti  melainkan dugaan, وَ اِنَّ الظَّنَّ  لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا  -- dan sesungguhnya   dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.  (An-Najm [53]:27-29).
     Sebagaimana  tidak ada  peralatan mekanik mau pun elektronik      buatan manusia yang berstatus  jantan (laki-laki) dan betina  (perempuan), demikian pula halnya dengan para malaikat -- yang merupakan instrument (sarana)  Allah Swt. -- yang melaksanakan kehendak-Nya mengenai seluruh makhluk-Nya, terutama manusia, sebab  para malaikat tidak memiliki kehendak sendiri selain melakanakan kehendak Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا قُوۡۤا  اَنۡفُسَکُمۡ  وَ اَہۡلِیۡکُمۡ  نَارًا وَّ قُوۡدُہَا  النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ  غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ  اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari  Api, yang bahan bakarnya manusia dan batu, عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ  غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ  اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ  -- penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah apa yang Dia perintahkan kepada mereka وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ --  dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrīm [66]:7). 

Peran Para Malaikat Bagi Kinerja Alam Semesta

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan  mengenai peran para malaikat bagi seluruh tatanan alam semesta jasmani yaitu ibarat  ruh  bagi  tubuh:
      Segala sesuatu yang memiliki ruh akan dijaga oleh para malaikat. Berdasarkan isi ayat ini, kita harus mengimani hal-hal yang berkaitan dengan ruh semua planet seperti bintang-bintang, matahari, bulan, planet Mercuri, planet Mars dan lain-lain, semuanya itu berada di bawah pemeliharaan malaikat-malaikat.   Dengan kata lain, masing-masing ciptaan tersebut memiliki satu malaikat yang menjaga dan memungkinkan dirinya berfungsi secara patut.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.  77, London, 1984).
       Kemudian mengenai cara  penjagaan  yang dilakukan para malaikat   dalam menghindarkan manusia dari bahaya bencana, selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Para malaikat juga menjaga terhadap bencana fisikal, hanya saja penjagaan ini bersifat spiritual. Sebagai contoh, bila ada seseorang yang sedang berdiri di suatu tempat berdekatan dengan sebuah dinding tinggi yang akan roboh, dalam hal seperti itu tidak akan ada  satu malaikat  yang datang menggendong (membopong) orang itu dengan tangannya dan membawanya pergi ke tempat yang aman.
    Apabila orang itu termasuk mereka yang akan diselamatkan, malaikat akan datang menyampaikan pesan agar ia bergegas meninggalkan tempat tersebut. Adapun pemeliharaan dan penjagaan bintang-bintang dan unsur-unsur alam bersifat fisikal.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.  99, London, 1984).
     Sehubungan dengan cara “penyelamatan” yang dilakukan malaikat   tersebut dialami pula oleh  Masih Mau’ud a.s., yaitu  ketika beliau dengan beberapa orang pengikut beliau berada dalam satu bangunan. Tiba-tiba beliau mendengar suara yang mencurigakan yang menurut firasat beliau menandakan bahwa atap bangunan tersebut akan roboh.
        Segera  Masih Mau’ud a.s. bergegas menuju   pintu  keluar sambil memerintahkan semua orang yang berada dalam ruangan segera keluar, setelah semua orang keluar dari ruangan itu barulah beliau melangkahkan kaki keluar pintu. Begitu Masih Mau’ud a.s. melangkahkan kaki keluar  ruangan tiba-tiba atap bangunan tersebut roboh.  

Dua Sistem Fungsi Alam 

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda  mengenai hikmah di balik terjadinya gejala meteorik berupa “bintang jatuh” yang juga tidak lepas dari peran (kinerja) para malaikat:
    Tuhan Yang Maha Kuasa tidak membatasi peristiwa-peristiwa di dunia hanya pada suatu sistem yang kasat mata, karena sebenarnya ada suatu sistem tersembunyi yang beroperasi setiap saat. Matahari, bulan dan bumi, uap awan yang menjadi hujan, angin yang bertiup kencang, badai yang menerpa bumi serta bintang jatuh (meteor), semuanya memiliki kausa (sebab) fisikal (jasmani) dalam gerakan, perubahan, perputaran serta perwujudan, sebagaimana diuraikan dalam buku-buku mengenai ilmu astronomi dan phisika. Hanya saja mereka yang mempunyai wawasan mengetahui bahwa di belakang semua kausa (sebab) tersebut ada lagi kausa-kausa lain yang mengatur mereka yang disebut sebagai malaikat.
     Dengan apa pun para malaikat ini terkait, para malaikat tersebut menjadikan benda-benda itu melaksanakan fungsinya dan membawanya kepada tujuan penciptaan mereka berdasarkan tujuan keruhanian yang telah ditugaskan Allah Swt. atas pundak mereka. Gerakan mereka tidak ada yang sia-sia karena semua yang mereka kerjakan adalah untuk mencapai tujuan penciptaan.
     Adalah suatu kebenaran hakiki sebagaimana telah dijelaskan dalam buku kecilku “Tauzih Maram”,  bahwa Yang Maha Bijaksana telah menegakkan 2 sistem bagi pelaksanaan fungsi alam yang sempurna. Sistem yang tersembunyi terkait dengan para malaikat. Setiap sistem yang kasat mata di belakangnya selalu didukung sistem yang tersembunyi.
      Dengan demikian mudah dipahami bahwa semua kausa (sebab) kasat mata dari suatu bintang jatuh tidak bertentangan dengan kausa dari sistem keruhanian. Menurut sistem keruhanian, yang terkesan adalah adanya satu malaikat yang ditugaskan di setiap meteor,  yang menggerakkan benda itu ke arah yang ditentukan. Gerakan dari bintang jatuh tersebut membenarkan hal ini.

Hubungan Bintang Jatuh dengan Pengusiran  Syaitan

      Jelas kiranya bahwa fungsi dari para malaikat bukannya tanpa tujuan. Di latar belakangnya ada suatu tujuan yang membawa kemaslahatan bagi keimanan dan bagi dunia, hanya saja tidak mungkin kita memahami tujuan dari fungsi malaikat tanpa mediasi (perantaraan) para malaikat juga. Karena itulah melalui mediasi malaikat Jibrail telah diungkapkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. bahwa tujuan dari para malaikat pada bintang-bintang jatuh adalah untuk mengusir iblis atau syaitan.
   Misteri terusirnya syaitan yang dilontar dengan bintang jatuh rupanya diakibatkan oleh permusuhan di antara para malaikat dengan para syaitan. Pada saat dilepaskannya bintang-bintang jatuh tersebut -- yang dipengaruhi oleh panasnya bintang-bintang -- para malaikat mengembangkan kekuatan terang mereka di alam, dan setiap bintang jatuh yang bergerak memiliki kehidupan  malaikat yang memiliki fitrat untuk memusnahkan syaitan.
      Dengan demikian tidak benar jika dikatakan, bahwa mengingat jin  diciptakan dari api, lalu jadinya tidak bisa dicederai oleh api. Karena cedera yang ditimpakan bintang-bintang jatuh atas para jin  itu bukan karena apinya semata tetapi karena nur yang dinyalakan para malaikat yang menyertai bintang jatuh tersebut, dimana salah satu fitratnya adalah untuk memusnahkan syaitan.
      Sepanjang seseorang beriman pada eksistensi Tuhan -- dan yang bersangkutan bukan seorang atheis -- ia akan menyadari bahwa semua sistem tersebut bukanlah suatu hal yang sia-sia,  karena semua yang terjadi bermula pada kebijakan dan rancangan sempurna  Allah Yang Maha Kuasa, dimana rancangan itu mewujud sejalan dengan sistem sarana fisikal (jasmani).
    Karena Tuhan tidak membekali benda-benda tersebut dengan akal dan pengetahuan  maka untuk pencapaian tujuan yang memerlukan akal dan pengetahuan digunakanlah mediasi (perantara) yang memiliki kedua hal tersebut yaitu para malaikat.
    Karena para malaikat mempunyai tujuan dalam segala hal yang dilakukannya serta tidak berfungsi secara sia-sia dan tanpa tujuan, maka dapat dimaklumi bahwa mereka itu mempunyai tujuan pada saat pelepasan bintang-bintang jatuh (meteor). Hanya saja karena akal manusia masih belum dapat memahami tujuan tersebut, kiranya tidak akan ada gunanya untuk memacu akal guna memecahkan misteri ini.

Peran Penting Wahyu Ilahi

      Guna memahami tujuan yang tidak terjangkau akal seperti itu, logika membutuhkan sarana lain. Sarana tersebut adalah wahyu yang diturunkan kepada manusia,  yang akan membawanya kepada wawasan dan hakikat yang tak mungkin dipahami oleh akal semata. Melalui sarana tersebut akan dibukakan kepadanya segala misteri tersembunyi yang tidak dimengerti oleh akal.
      Yang kami maksud sebagai wahyu dalam hal ini adalah Al-Quran,  yang telah mengungkapkan tujuan malaikat dalam melepaskan meteor-meteor guna mengusir para syaitan. Bentuknya adalah sebagai penyebaran nur oleh malaikat yang akan mengalahkan kegelapan para jin  dan menghambat gerakan mereka.
       Jika penyebaran nur tersebut terjadi dalam harkat yang mulia maka daya tarik magnetisnya akan menghasilkan manifestasi nur yang sempurna di antara manusia,  dimana nurani manusia menjadi tertarik kepada kecemerlangan nur dan ketakwaan.
      Sistem Samawi telah mengatur bahwa segala sesuatu yang terjadi pada benda-benda dan di alam -- atau pun mewujud karenanya -- bukanlah karena hasil gerakan tidak terarah dari benda-benda tersebut. Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa telah menyerahkan pengaturan semuanya kepada para malaikat yang mengemban tugas masing-masing setiap saat, di bawah perintah Yang Maha Kuasa.
      Mereka tidak berfungsi secara sia-sia dan mereka melaksanakan fungsi mereka guna menimbulkan berbagai gerakan di langit dan di bumi dengan cara yang bijak,  demi pencapaian suatu tujuan mulia. Tidak ada tindakan mereka itu yang bersifat sia-sia atau tanpa arti.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 124-133, London, 1984).

Makna  Dua Golongan “Jin” yang Menghadap Nabi Besar Muhammad Saw.

      Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai hubungan   bintang jatuh” dengan “pengusiran syaitan” tersebut dijelaskan juga dalam firman-Nya  berkenaan dengan “segolongan jin”  yang mendengarkan wahyu Al-Quran, firman-Nya:
 وَ اِذۡ صَرَفۡنَاۤ  اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا  اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ  مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾ یٰقَوۡمَنَاۤ  اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ  وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ  وَ   یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ مَنۡ  لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ  فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی  الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepada engkau segolongan dari jin yang ingin mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka berkata: "Diamlah dan dengarkanlah!"  Maka tatkala telah selesai mereka kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan.  قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی -- Mereka berkata:   -- "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa2  مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan  memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus.  Hai  kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya  Dia akan mengampuni do-sa-dosa kamu, dan Dia akan melin-dungi kamu dari azab yang pedih.   وَ مَنۡ  لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ  فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی  الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ  -- Dan barangsiapa tidak menyambut penyeru kepada Allah,  maka ia tidak dapat melemahkannya di bumi dan tidak ada baginya pelindung-pelindung selain Dia,  اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ --  mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf [46]:30-33).
  Golongan jin yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang Yahudi dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang Mekkah, mereka menjumpai  Nabi Besar Muhammad saw.   pada waktu malam, dan setelah mendengarkan pembacaan Al-Quran dan tutur beliau saw.  mereka masuk Islam dan menyampaikan agama baru itu kepada kaum mereka yang juga dengan suka hati menerimanya (Bayan, jilid ke-8).  
      Ayat 31  menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi, sebab mereka mengatakan tentang Al-Quran sebagai "Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa." (QS.46:31).  Dalam Surah yang lain Allah Swt. berfirman mengenai segolongan “jin” yang   mendengar  wahyu Al-Quran, namun  nampaknya  rombongan jin  ini berhubungan erat dengan   agama Kristenfirman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang  menakjubkan.   Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  -- Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا --  dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak (Al-Jin [72]:1-4).

Golongan Kristen

    Isyarat ini mungkin tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing  maka mereka disebut “jin”, yang berarti antara lain berarti  orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini nampaknya  berbeda dari peristiwa yang disebut dalam QS.46:30-33 sebelumnya, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46:30-33.
  Ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu adalah orang-orang Kristen yang berpegang kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi  yang bersekutu erat dengan mereka atau, yang karena ada di bawah pengaruh mereka – baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen. Selanjutnya mereka berkata: 
وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah. Dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah.       Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا --  dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul.  وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا  --  Dan sesungguhnya kami benar-benar telah berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan yang kuat dan nyala api. (Al-Jin [72]:5-9). 

Penggunaan Kata Rijāl  Hanya Untuk Manusia  & Kepercayaan Sesat   Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya)

       Karena kata rijāl  dalam ayat: وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا  -- “Dan sesungguhnya ada beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin  hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun yang juga disebut juga “jin”.
       Kata Arab jin di sini, dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina atau golongan awam,  yang dengan mengikuti golongan jin tersebut  dan mencari lindungan mereka itu meningkatkan kesombongan dan keangkuhan mereka.
 Makna ayat selanjutnya وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا --  “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul”, sejak zaman Nabi Yusuf a.s. orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  --- hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ   --  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu.  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ  --  Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman,  ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ -- demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang. (Al-Mu’mīn [40]:35-36).
   Nabi-nabi  Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya (QS.36:31), dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi Allah itu berkata bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar