Bismillaahirrahmaanirrahiim
RAHASIA MALAIKAT ALLAH SWT.
MAKNA JUMLAH “SAYAP” PARA MALAIKAT & PENJELASAN MASIH MAU’UD A.S. MENGENAI KEBERADAAN
DAN PERAN PARA MALAIKAT
Bab 40
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya
telah dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai ancaman Allah Swt. yang mengerikan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. seandainya
beliau saw. – na’ūdzubillāhi min dzālik -- melakukan kedustaan atas nama Allah,
sebagaimana tuduhan dusta para penentang beliau saw. (QS.25:5-10),
firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ
مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا
مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ
مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا
مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ
﴿﴾ وَ اِنَّہٗ لَتَذۡکِرَۃٌ
لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا
لَنَعۡلَمُ اَنَّ مِنۡکُمۡ
مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنَّہٗ لَحَسۡرَۃٌ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾
فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan
apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar firman
yang disampaikan seorang Rasul
mulia, dan bukanlah
Al-Quran itu perkataan seorang penyair,
sedikit se-kali apa yang kamu percayai.
Dan bukanlah ini perkataan ahli nujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ini
adalah wahyu yang diturunkan dari
Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan
kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian
niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. Dan sesungguhnya
Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan
Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar
kebenaran yang diyakini. Maka sucikanlah nama Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
Ancaman Kebinasaan dari Allah
Swt. Terhadap Para Nabi Palsu
Dalam ayat 46-48 keterangan-keterangan telah diberikan bahwa
bila Nabi Besar Muhamad saw. itu pendusta
– na’ūdzubillāhi min dzālik -- maka tangan perkasa Allah pasti menangkap
dan memutuskan urat pada leher beliau
saw. dan pasti beliau saw. telah menemui kematian
yang pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur
berantakan, sebab memang demikianlah nasib
seorang nabi palsu, firman-Nya:: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا
مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya” (Al-Hāqqah [69]:45-48).
Dakwa dan keterangan yang
tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari
peryataan Bible dalam Ulangan
18:20:
18:17Lalu berkatalah TUHAN
kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka,
seperti engkau ini; 18:18 Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan
kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi
itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku
perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata
demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:17-20).
Jadi, pengutusan Nabi Musa
a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di kalangan Bani Israil (QS.2:88-89)
membatalkan itikad sesat lā nabiyya ba’dahu (tidak ada lagi nabi
sesudahnya) sejak wafatnya Nabi Yusuf a.s. di Mesir (QS.40:35-36; QS.72:8; QS.10:75),
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ
قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ
شَکٍّ مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada
kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang
dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila
ia telah mati kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ -- Demikianlah Allah menyesatkan barangsiapa
yang melampaui batas, yang ragu-ragu.
الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ -- Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai Tanda-tanda
Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Sangat besar kebencian di sisi Allah dan
di sisi orang-orang yang beriman, کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ -- demikianlah Allah mencap setiap hati orang
sombong lagi sewe-nang-wenang. (Al-Mu’mīn [40]:35-36).
Nabi-nabi dan rasul-rasul
Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam
(QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya
pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak
dan menentangnya,dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada
nabi itu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan pernah
mengutus seorang rasul pun sesudahnya” atau mengatakan lā
nabiyya ba’dahu bahwa tidak ada
nabi akan datang lagi dan pintu wahyu
telah tertutup untuk selama-lamanya.
Kesinambungan Turunnya Wahyu
Ilahi Non-Syariat Setelah Pewahyuan
Al-Quran Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Demikian pula halnya setelah
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan diwahyukan-Nya sebagai agama dan kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4), Sifat Mutakallīm
(Maha Berbicara) dan Sifat Al-Mursilīn (Yang senantiasa
mengutus - QS.28:46; QS.44:6) Allah Swt. tetap berlangsung (QS.7:35-37; QS.62:3-4), dengan demikian tugas utama malaikat Jibril a.s.
menyampaikan wahyu Ilahi juga
tetap berlangsung, firman-Nya:
مِاَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ
یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا
یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap
dua, tiga dan empat.
Dia menambahkan pada ciptaan-Nya
apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ -- Rahmat
apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ -- dan apa
pun yang ditahan-Nya maka
tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fāthir
[35]:2-3).
Kepada malaikat-malaikat
dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas
dan tanggungjawab yang dibebankan
kepada mereka. Tugas mereka yang lain
dan yang lebih berat yaitu melaksanakan
perintah dan kehendak Allah Swt.
kepada rasul-rasul-Nya.
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan
lebih banyak lagi dari Sifat-sifat
itu. Itulah makna jumlah ‘ajnihah” (sayap) para malaikat: جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ
یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga dan empat.
Dia menambahkan pada ciptaan-Nya
apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.“
Makna “Ajnihah”
(Sayap-sayap) Para Malaikat &
Penampakan Malaikat Jibril a.s.
Karena ajnihah
merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat ini mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda
derajatnya sesuai dengan kepentingan
pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing.
Sebagian malaikat
dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada
yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah
penghulu semua malaikat karena itu pekerjaan mahapenting yakni menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.
Imam Bukhari meriwayatkan melalui shahabat
Nabi Besar
Muhammad saw., Abdullah Ibn Mas’ud r.a., bahwa beliau saw. bersabda:
أَنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّ مِائَةِ
جَنَاحٍ
Artinya: “Melihat Jibril memiliki enam
ratus sayap.” (HR. Bukhari).
Makna ayat selanjutnya: مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ -- Rahmat
apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak ada yang dapat menahannya,” sesudah menyebutkan dalam ayat sebelumnya
bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh langit dan
bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan
selengkap-lengkapnya, ayat yang sedang dibahas mengandung arti bahwa Allah Swt.
sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia
dalam bentuk wahyu Al-Quran yang
diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
Kalau dalam ayat sebelum ini
perbedaan derajat para malaikat
ditentukan dengan perbedaan jumlah ajnihah (sayap) mereka, dalam firman berikut keadaan mereka dalam melaksanakan tugas yang telah ditetapkan Allah Swt. digambarkan dengan shaf-shaf (barisan-barisan),
firman-Nya:
وَ مَا
مِنَّاۤ اِلَّا لَہٗ
مَقَامٌ مَّعۡلُوۡمٌ ﴿﴾ۙ وَّ اِنَّا لَنَحۡنُ الصَّآفُّوۡنَ ﴿﴾ۚ وَ اِنَّا لَنَحۡنُ
الۡمُسَبِّحُوۡنَ ﴿﴾
Dan
sekali-kali tidak ada di antara kami
melainkan ia memiliki kedudukan yang
ditentukan, dan sesungguhnya kami benar-benar berjajar-jajar di hadapan Tuhan, dan sesungguhnya kami benar-benar
senantiasa bertasbih.” (Ash-Shāffat [37]:165-167).
Dalam beberapa uraian kisah Nabi Besar
Muhammad saw., malaikat Jibril a.s. pernah
menampakkan rupa aslinya kepada beliau
saw. yaitu pada saat beliau saw. menerima
wahyu untuk kali kedua. Pada saat itu, Nabi Besar Muhammad saw. meminta
malaikat Jibril a.s. menampakkan wujud aslinya.
Lalu bagaimana wujud asli malaikat Jibril a.s. yang sebenarnya? Ketika
menemui Nabi Besar Muhammad saw. malaikat Jibril a.s. selalu menampakkan dirinya dalam wujud manusia. Sebagaimana kita ketahui,
para malaikat diberikan kemampuan oleh Allah Swt. untuk mengubah wujudnya.
Terkadang, ketika Nabi Besar Muhammad saw. sedang berjalan, dia
menyaksikan wujud malaikat Jibril a.s. memenuhi cakrawala, dan jika dia berpaling beliau saw. tetap menyaksikan malaikat Jibril a.s. di hadapannya. Hal ini menggambarkan betapa
besarnya penampilan malaikat Jibril a.s. dalam pandangan mata manusia.
Ketika menampakkan wujud aslinya, terlihatlah bentuk malaikat Jibril a.s. yang sangat besar, dan malaikat
Jibril a.s. menampakkan
wujudnya dengan 600 sayap antara
barat-timur (masyrik dan maghrib). Busana kebesaran malaikat Jibril a.s. adalah putih laksana mutiara yang begitu indah
dan rupawan dengan kekuatan yang dahsyat dan penuh mukjizat dari Allah Swt..
Kesaksian Masih Mau’ud a.s.
Mengenai Keberadaan dan Peran Para Malaikat
Sehubungan dengan kewajiban beriman
kepada para malaikat dalam Rukun Iman bagi umat Islam, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sungguh
kasihan mereka yang karena terpengaruh kegelapan filosofi yang keliru, lalu menyangkal keberadaan
malaikat dan syaitan. Mereka menolak ayat-ayat yang jelas serta bukti-bukti yang telah diberikan Al-Quran dan mereka jadinya terperosok ke dalam bid’ah.
Allah Swt. telah
menugaskan kepada diriku semata mengenai masalah pembuktian hal ini berdasarkan kebenaran
yang diungkapkan Al-Quran. Segala puji bagi Allah untuk hal ini.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.
V, hlm. 89, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai hubungan malaikat dengan alam semesta:
“Allah Yang Maha Kuasa, Yang Kesucian
dan Keluhuran-Nya mengatasi
segalanya, telah memanfaatkan
sarana-sarana yang tepat bagi manifestasi
(penjelmaan) Wujud-Nya. Jasmani dan segala benda yang bersifat material terkungkung oleh karakteristik
pribadi mereka sendiri, sehingga setiap niat dan tindakan alamiahnya
membatasi kesadaran pada eksistensi (keberadaan) dirinya sendiri saja.
Karena juga
memiliki eksistensi yang nyata dan tetap, yang mencakup egonya (keakuannya) sendiri dengan meluputkan yang non-ego, maka ia terpisah jauh dari Sang
Maha Sumber Yang Maha Pemurah dimana ia terkucilkan oleh tirai tabir
yang tebal berupa eksistensinya sendiri beserta ego dan karena ia adalah benda ciptaan.
Mereka tidak berhak menerima berkat-berkat Allah Yang Maha Agung
secara langsung, selama tabir
tersebut masih ada dan eksistensi mereka belum mendekati keadaan non-eksisten. Karena eksistensi
mereka tidak mirip dengan keadaan
non-eksisten maka setiap jenis ciptaan
seperti ini akan menyatakan eksistensinya
secara gamblang.
Matahari menyatakan bahwa wujudnya merupakan sumber panas dan dingin
yang bisa mempengaruhi dunia selama
365 hari dalam setahun, dimana ia menciptakan
panas melalui sinarnya dan menimbulkan dingin karena diversi (pengubahan) dari sinar tersebut.
Dunia
menyatakan perwujudan dirinya
sebagai bumi yang terdiri dari 1000
negeri, menghasilkan berbagai jenis tanaman, mengandung berbagai bentuk batuan mineral di dalam dirinya dan ia menerima segala perlakuan langit sebagaimana halnya seorang perempuan.
Adapun api mewujudkan dirinya sebagai sesuatu
yang membakar dan menyala serta menjadi substitusi (pengganti) matahari ketika hari gelap. Jadi segala benda di bumi ini memuji dan menyatakan dirinya sendiri. Semua
benda-benda tersebut menyatakan wujud
mereka masing-masing dan terkungkung
oleh tirai dari karakteristik diri mereka sendiri serta meluputkan diri tidak berhubungan
langsung dengan Sumber dari
segala Berkat. Karena adanya tirai dimaksud maka tidak ada hubungan langsung yang
tercipta di antara Sang Maha Pencipta dengan
wujud mereka.
Peran Malaikat
Sebagai Sarana Perantara
Berhubung dengan
itu maka kebijakan Sang Maha Agung
menetapkan bahwa sebagai manifestasi
utama dari segala rekayasa Wujud-Nya
haruslah ada suatu bentuk ciptaan
yang tidak terhalang oleh tirai dirinya sendiri. Bentuk ciptaan ini harus memiliki bentuk yang berbeda
dengan benda lainnya yaitu terbebas dari egonya sendiri dan melayani
Tuhan sebagai bagian dari anggota Tubuh-Nya, dimana jumlah kuantitas mereka harus sejalan dan seimbang dengan perencanaan
Allah Swt. berkaitan dengan keseluruhan
makhluk ciptaan-Nya.
Wujud ciptaan tersebut haruslah memiliki fitrat sebagai cermin yang tembus pandang dan harus
selalu hadir di Hadirat Allah Swt.. Makhluk ciptaan tersebut harus mempunyai dua arahan. Arahan pertama ialah makhluk itu harus bersifat unik dan transcendental
(di luar batas-batas). Karena tidak
kasat mata dan terbebas dari
segala tirai maka makhluk ini harus berbeda bentuk dari segala ciptaan lainnya dan amat
mirip dengan Tuhan-nya karena merefleksikan (memantulkan) Wujud Sang Maha Kuasa.
Arahan lainnya
ialah karena juga merupakan makhluk
ciptaan maka mereka ini dengan sendirinya bisa mempunyai hubungan dengan makhluk
lainnya, dan bisa mengadakan pendekatan dengan mereka. Melalui perencanaan-Nya tersebut maka Allah
Swt. telah menciptakan makhluk yang
disebut sebagai malaikat. Para malaikat ini semuanya larut dalam kepatuhan kepada Allah Swt.
dan mereka tidak memiliki niat, rencana atau keinginan
tersendiri.
Mereka tidak bisa berbaik hati kepada siapa
pun atau murka kepada siapa pun atau
mengharapkan sesuatu untuk dirinya sendiri atau pun tidak menyukai sesuatu berdasarkan keinginan dirinya sendiri, karena mereka sepenuhnya menjadi laiknya (seperti) anggota Tubuh Tuhan. Semua rencana
dan rekayasa Allah Swt. direfleksikan pada cermin transparan mereka, lalu melalui mediasi (perantaraan) mereka
disebarkan kepada seluruh ciptaan.
Mengingat Allah Yang Maha Agung, karena fitrat
Kesucian-Nya Yang Maha Sempurna merupakan Wujud Yang Maha Unik dan Transendental
maka semua makhluk yang tidak terbebas dari ego dan kekaburan dari tirai
eksistensi mereka serta hanya sadar
akan eksistensi dirinya saja, tidak mungkin mempunyai hubungan langsung
dengan Sumber segala Berkat. Karena
itu diperlukan adanya suatu bentuk makhluk yang di satu sisi berhubungan dengan Allah Swt. dan di sisi lain dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana dengan cara ini makhluk tersebut memperoleh berkat
dari satu sisi dan menyalurkannya ke
sisi lain.”
(Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 161-170, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 8 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar