Sabtu, 07 Mei 2016

Makna Jumlah "Sayap" Para Malaikat & Penjelasan Masih Mau'ud a.s. Mengenai Keberadaan dan Peran Para Malaikat



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 RAHASIA MALAIKAT ALLAH SWT.



  MAKNA JUMLAH “SAYAP” PARA MALAIKAT  & PENJELASAN MASIH MAU’UD A.S. MENGENAI KEBERADAAN DAN PERAN PARA MALAIKAT    


Bab 40

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai ancaman Allah Swt. yang mengerikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. seandainya beliau saw.  – na’ūdzubillāhi min dzālik  -- melakukan kedustaan atas nama Allah, sebagaimana tuduhan dusta para penentang beliau saw. (QS.25:5-10), firman-Nya:
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَتَذۡکِرَۃٌ  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا  لَنَعۡلَمُ  اَنَّ مِنۡکُمۡ مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَسۡرَۃٌ  عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾ فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat,   dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,    dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai.   Dan bukanlah ini perkataan ahli nujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihatتَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ --   Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami,  لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --       kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --        dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa.  Dan sesungguhnya  Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran.  Dan sesungguhnya  Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafir.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini Maka sucikanlah nama Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).

Ancaman Kebinasaan dari Allah Swt. Terhadap  Para Nabi Palsu

     Dalam ayat 46-48  keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila  Nabi Besar Muhamad saw.  itu pendusta  na’ūdzubillāhi min dzālik  -- maka tangan perkasa Allah pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw. telah menemui kematian yang pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu, firman-Nya:: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ --   Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ   -- niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --         dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya   (Al-Hāqqah [69]:45-48).
   Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20:
 18:17Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; 18:18 Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:17-20).
     Jadi, pengutusan Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan Bani Israil (QS.2:88-89) membatalkan itikad sesat lā nabiyya ba’dahu (tidak ada lagi nabi sesudahnya)  sejak wafatnya Nabi Yusuf a.s. di Mesir (QS.40:35-36; QS.72:8; QS.10:75), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ   --   Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu.  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ   --   Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka.  کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا --  Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ  --  demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewe-nang-wenang. (Al-Mu’mīn [40]:35-36).
    Nabi-nabi  dan rasul-rasul Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya,dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi itu berkata:   لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya”  atau mengatakan lā nabiyya ba’dahu bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.

Kesinambungan Turunnya Wahyu Ilahi Non-Syariat Setelah Pewahyuan Al-Quran Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

       Demikian pula halnya  setelah  pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.   dan diwahyukan-Nya sebagai agama dan kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), Sifat Mutakallīm (Maha Berbicara) dan  Sifat Al-Mursilīn (Yang senantiasa mengutus - QS.28:46; QS.44:6)  Allah Swt. tetap berlangsung (QS.7:35-37; QS.62:3-4), dengan demikian  tugas utama malaikat Jibril a.s.   menyampaikan wahyu Ilahi juga tetap berlangsung, firman-Nya:
مِاَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Segala puji milik Allah  Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ  --   Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ     --  dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu, وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fāthir [35]:2-3).
   Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu  melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt.  kepada rasul-rasul-Nya.
 Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat itu. Itulah makna jumlah  ‘ajnihah” (sayap) para malaikat:  جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ -- “Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.“

Makna “Ajnihah” (Sayap-sayap) Para Malaikat  & Penampakan Malaikat Jibril a.s.

  Karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat ini mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing.
  Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat  karena itu pekerjaan mahapenting  yakni  menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.
    Imam Bukhari meriwayatkan melalui shahabat Nabi Besar Muhammad saw., Abdullah Ibn Mas’ud r.a., bahwa  beliau saw. bersabda:
أَنَّهُ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّ مِائَةِ جَنَاحٍ
Artinya: “Melihat Jibril memiliki enam ratus sayap.” (HR. Bukhari).
       Makna ayat selanjutnya: مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ  --   Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia maka tidak ada yang dapat menahannya,”  sesudah menyebutkan dalam ayat sebelumnya bahwa Allah Swt.  telah menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan selengkap-lengkapnya, ayat yang sedang dibahas mengandung arti bahwa Allah Swt.  sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
     Kalau dalam ayat sebelum ini perbedaan derajat para malaikat ditentukan dengan perbedaan  jumlah ajnihah (sayap) mereka, dalam firman berikut  keadaan mereka  dalam melaksanakan tugas yang telah ditetapkan Allah Swt. digambarkan dengan shaf-shaf (barisan-barisan), firman-Nya: 
وَ مَا مِنَّاۤ   اِلَّا  لَہٗ  مَقَامٌ  مَّعۡلُوۡمٌ ﴿﴾ۙ  وَّ  اِنَّا  لَنَحۡنُ الصَّآفُّوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ  اِنَّا لَنَحۡنُ الۡمُسَبِّحُوۡنَ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak ada di antara kami melainkan ia memiliki kedudukan yang ditentukan,    dan sesungguhnya kami benar-benar berjajar-jajar di hadapan Tuhan, dan sesungguhnya kami benar-benar  senantiasa  bertasbih.” (Ash-Shāffat [37]:165-167).
      Dalam beberapa uraian kisah Nabi Besar Muhammad saw.,  malaikat  Jibril a.s. pernah menampakkan rupa aslinya kepada beliau saw. yaitu pada saat beliau saw. menerima wahyu untuk kali kedua. Pada saat itu, Nabi Besar Muhammad saw. meminta malaikat  Jibril a.s. menampakkan wujud aslinya.
       Lalu bagaimana wujud asli  malaikat  Jibril a.s. yang sebenarnya? Ketika menemui  Nabi Besar Muhammad saw.  malaikat  Jibril a.s.  selalu menampakkan dirinya dalam wujud manusia. Sebagaimana kita ketahui, para malaikat diberikan kemampuan oleh Allah Swt. untuk mengubah wujudnya.
       Terkadang, ketika  Nabi Besar Muhammad saw. sedang berjalan, dia menyaksikan wujud  malaikat  Jibril a.s.  memenuhi cakrawala, dan jika dia berpaling  beliau saw.  tetap menyaksikan  malaikat  Jibril a.s.  di hadapannya. Hal ini menggambarkan betapa besarnya  penampilan  malaikat  Jibril a.s.  dalam pandangan mata manusia.
      Ketika menampakkan wujud aslinya, terlihatlah bentuk  malaikat  Jibril a.s.  yang sangat besar, dan   malaikat  Jibril a.s.   menampakkan wujudnya dengan 600 sayap antara barat-timur (masyrik dan maghrib). Busana kebesaran  malaikat  Jibril a.s.  adalah putih laksana mutiara yang begitu indah dan rupawan dengan kekuatan yang dahsyat dan penuh mukjizat dari Allah Swt..

Kesaksian Masih Mau’ud a.s. Mengenai Keberadaan dan Peran Para Malaikat

       Sehubungan dengan kewajiban  beriman kepada para malaikat dalam Rukun Iman bagi umat Islam, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
       “Sungguh kasihan mereka yang karena terpengaruh kegelapan   filosofi yang keliru, lalu menyangkal keberadaan malaikat dan syaitan. Mereka menolak ayat-ayat yang jelas serta bukti-bukti yang telah diberikan Al-Quran dan mereka jadinya terperosok ke dalam bid’ah.
   Allah Swt. telah menugaskan kepada diriku semata mengenai masalah pembuktian hal ini berdasarkan kebenaran yang diungkapkan Al-Quran. Segala puji bagi Allah untuk hal ini.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. V, hlm.  89, London, 1984).
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai hubungan malaikat dengan alam semesta:
    “Allah Yang Maha Kuasa,  Yang Kesucian dan Keluhuran-Nya mengatasi segalanya, telah memanfaatkan sarana-sarana yang tepat bagi manifestasi  (penjelmaan) Wujud-Nya. Jasmani dan segala benda yang bersifat material terkungkung oleh karakteristik pribadi mereka sendiri, sehingga setiap niat dan tindakan alamiahnya membatasi kesadaran pada eksistensi (keberadaan) dirinya sendiri saja.
     Karena juga memiliki eksistensi yang nyata dan tetap,  yang mencakup egonya (keakuannya) sendiri dengan meluputkan yang non-ego, maka ia terpisah jauh dari Sang Maha Sumber Yang Maha Pemurah dimana ia terkucilkan oleh tirai tabir yang tebal berupa eksistensinya sendiri beserta ego dan karena ia adalah benda ciptaan.
      Mereka tidak berhak menerima berkat-berkat Allah Yang Maha Agung secara langsung,  selama tabir tersebut masih ada dan eksistensi mereka belum mendekati keadaan non-eksisten.  Karena eksistensi mereka tidak mirip dengan keadaan non-eksisten maka setiap jenis ciptaan seperti ini akan menyatakan eksistensinya secara gamblang.
     Matahari menyatakan bahwa wujudnya merupakan sumber panas dan dingin yang bisa mempengaruhi dunia selama 365 hari dalam setahun, dimana ia menciptakan panas melalui sinarnya dan menimbulkan dingin karena diversi (pengubahan) dari sinar tersebut.
       Dunia menyatakan perwujudan dirinya sebagai bumi yang terdiri dari 1000 negeri, menghasilkan berbagai jenis tanaman, mengandung berbagai bentuk batuan mineral di dalam dirinya dan ia menerima segala perlakuan langit sebagaimana halnya seorang perempuan.
     Adapun api mewujudkan dirinya sebagai sesuatu yang membakar dan menyala serta menjadi substitusi (pengganti) matahari ketika hari gelap.  Jadi segala benda di bumi ini memuji dan menyatakan dirinya sendiri. Semua benda-benda tersebut menyatakan wujud mereka masing-masing dan terkungkung oleh tirai dari karakteristik diri mereka sendiri serta meluputkan diri tidak berhubungan langsung dengan Sumber dari segala Berkat. Karena adanya tirai dimaksud maka tidak ada hubungan langsung yang tercipta di antara Sang Maha Pencipta dengan wujud mereka.

Peran Malaikat Sebagai Sarana Perantara

      Berhubung dengan itu maka kebijakan Sang Maha Agung menetapkan bahwa sebagai manifestasi utama dari segala rekayasa Wujud-Nya  haruslah ada suatu bentuk ciptaan yang tidak terhalang oleh tirai dirinya sendiri. Bentuk ciptaan ini harus memiliki bentuk yang berbeda dengan benda lainnya yaitu terbebas dari egonya sendiri dan melayani Tuhan sebagai bagian dari anggota Tubuh-Nya, dimana jumlah kuantitas mereka harus sejalan dan seimbang dengan perencanaan Allah Swt. berkaitan dengan keseluruhan makhluk ciptaan-Nya.
      Wujud ciptaan tersebut haruslah memiliki fitrat sebagai cermin yang tembus pandang dan harus selalu hadir di Hadirat Allah Swt.. Makhluk ciptaan tersebut harus mempunyai dua arahan. Arahan pertama ialah makhluk itu harus bersifat unik dan transcendental (di luar batas-batas). Karena tidak kasat mata dan terbebas dari segala tirai maka makhluk ini harus berbeda bentuk dari segala ciptaan lainnya dan amat mirip dengan Tuhan-nya karena merefleksikan (memantulkan) Wujud Sang Maha Kuasa.
     Arahan lainnya ialah karena juga merupakan makhluk ciptaan maka mereka ini dengan sendirinya bisa mempunyai hubungan dengan makhluk lainnya,  dan bisa mengadakan pendekatan dengan mereka. Melalui perencanaan-Nya tersebut maka Allah Swt. telah menciptakan makhluk yang disebut sebagai malaikat. Para malaikat ini semuanya larut dalam kepatuhan kepada Allah Swt. dan mereka tidak memiliki niat, rencana atau keinginan tersendiri.    
     Mereka tidak bisa berbaik hati kepada siapa pun atau murka kepada siapa pun atau mengharapkan sesuatu untuk dirinya sendiri atau pun tidak menyukai sesuatu berdasarkan keinginan dirinya sendiri, karena mereka sepenuhnya menjadi laiknya (seperti) anggota Tubuh Tuhan. Semua rencana dan rekayasa Allah Swt. direfleksikan pada cermin transparan mereka, lalu melalui mediasi (perantaraan) mereka disebarkan kepada seluruh ciptaan.
     Mengingat Allah Yang Maha Agung,  karena fitrat Kesucian-Nya Yang Maha Sempurna merupakan Wujud Yang Maha Unik dan Transendental maka semua makhluk yang tidak terbebas dari ego dan kekaburan dari tirai eksistensi mereka serta hanya sadar akan eksistensi dirinya saja, tidak mungkin mempunyai hubungan langsung dengan Sumber segala Berkat. Karena itu diperlukan adanya suatu bentuk makhluk yang di satu sisi berhubungan dengan Allah Swt. dan di sisi lain dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana dengan cara ini makhluk tersebut memperoleh berkat dari satu sisi dan menyalurkannya ke sisi lain.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 161-170, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 Mei    2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar