Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
MEREBAKNYA BERBAGAI BALA
BENCANA (AZAB ILAHI) MERUPAKAN MAKNA
LAIN “SUJUDNYA" PARA MALAIKAT KEPADA KHALIFAH
ALLAH (RASUL ALLAH) YANG DIDUSTAKAN
DAN DITENTANG SECARA ZALIM
Bab 51
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah
dikemukakan mengenai hubungan pelemparan
segenggar pasir oleh Nabi Besar Muhamad saw. dalam perang Badar dengan berhembusnya badai padang pasir yang
menyebabkan kekalahan telak
pasukan kaum kafir Quraisy Mekkah
pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawan, firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ
اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ ذٰلِکُمۡ
وَ اَنَّ اللّٰہَ مُوۡہِنُ کَیۡدِ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ اِنۡ
تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ
خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَعُوۡدُوۡا
نَعُدۡ ۚ وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ کَثُرَتۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ مَعَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan
supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Demikianlah yang terjadi, dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya
orang-orang kafir. اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا
فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ -- Hai orang-orang kafir, jika
kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu. Dan
jika kamu menahan diri maka lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali berbuat kejahatan, Kami pun akan kembali menghukum, dan
golongan kamu walau pun banyak tetapi tidak akan pernah berguna sedikit pun, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman. (Al-Anfāl [8]:18-20).
Yaumul-Furqan (Hari Pembeda) Haq dan Batil & Doa Takabbur Abu Jahal
Makna ayat 20: اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ
تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ -- Hai orang-orang
kafir, jika kamu meminta tanda kemenangan
maka sesungguhnya telah datang kepada kamu
kemenangan itu” orang-orang kafir menuntut
kepada Nabi Besar Muhammad saw. keputusan
dari Allah Swt. berupa kemenangan.
Kepada mereka diberitahukan bahwa keputusan Tuhan memang telah datang
dalam bentuk serupa dengan apa yang diminta mereka (yaitu kemenangan lasykar
Islam) dalam Perang Badar yang
disebut sebagai yaumul-furqan yakni Hari
Pembeda atau Hari Pemisah antara haq
(kebenaran) dan bathil (kepalsuan –
QS.8:42-45).
Dengan demikian tewasnya secara
hina Abu Jahal dan ketujuh pemimpin
kaum kafir Quraisy Mekkah lainnya dalam Perang
Badar tersebut pada hakikatnya merupakan pengabulan Allah Swt.
atas doa
Abu Jahal sendiri, firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالُوا اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ
فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ
اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا
لَہُمۡ اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ وَ ہُمۡ
یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ
ؕ اِنۡ اَوۡلِیَآؤُہٗۤ اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika mereka berkata: اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ
فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ
اَلِیۡمٍ -- “Ya Allah,
jika Al-Quran ini benar-benar kebenaran dari Engkau maka hujanilah
kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ
فِیۡہِمۡ -- Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab
mereka selama engkau berada di
tengah-tengah mereka, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ
ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ -- dan Allah sekali-kali tidak akan
mengazab mereka sedangkan mereka
meminta ampun. وَ مَا لَہُمۡ اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ وَ ہُمۡ
یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ --Dan mengapa Allah tidak akan mengazab mereka,
sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang dari Masjidilharam,
dan mereka sekali-kali bukanlah
orang-orang yang berhak melindunginya? اِنۡ
اَوۡلِیَآؤُہٗۤ اِلَّا
الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Tidak lain yang
berhak melindunginya melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Anfāl
[8]:33-35).
Doa Abu
Jahal dan kawan-kawannya yang
diwarnai ketakabburan: اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ ہٰذَا
ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ
اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ -- “Ya
Allah, jika Al-Quran ini benar-benar kebenaran dari Engkau maka hujanilah
kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Kira-kira
seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa
di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu
dikabulkan secara harfiah, Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain, terbunuh dan mayat-ayat mereka diseret lalu dilemparkan secara hina ke dalam sebuah lubang sebagaimana peringatan
Allah Swt. dalam QS.96:10-20.
Makna ayat:
وَ
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ -- “Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ -- dan Allah
sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan mereka meminta ampun.” Orang-orang kafir Mekkah mendapat hukuman Ilahi
setelah Nabi Besar Muhammad saw. hijrah
meninggalkan Mekkah, antara lain dalam perang Badar, perang Uhud dan perang Ahzab,
dan mencapai puncaknya pada peristiw Fathah
Makkah sebagai akibat dari Perjanjian
Hudaibiyah. Jadi betapa rasul-rasul
Allah berfungsi semacam perisai
terhadap hukuman-hukuman dari langit.
Makna Lain “Sujudnya” Para
Malaikat Kepada Adam (Khalifah Allah)
Kembali kepada ayat وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- “bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar”, betapa adanya
kesamaan antara kehendak Nabi Besar Muhammad saw. dengan kehendak Allah Swt., telah mengakibatkan kekuatan
alam yang dikendalikan para malaikat pun melaksanakan kedua kehendak yang berpadu tersebut berupa terjadinya badai padang pasir yang menyebabkan pasukan Abu Jahal dapat dikalahkan
oleh pasukan Muslim, firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ
اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan
supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl
[8]:18).
Berbagai peristiwa azab Ilahi yang menimpa kaum-kaum purbakala yang mendustakan
dan menentang para Rasul Allah yang ditimbulkan oleh kekuatan
alam tersebut pada hakikatnya
merupakan salah satu bentuk “sujudnya”
para malaikat kepada Adam (Khalifah
Allah) ketika diperintahkan Allah
Swt. (QS.2:31-35; QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS. 17:62; QS.18:51; QS.20:117;
QS.38:72-77), firman-Nya:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ
لَقَدۡ جَآءَہُمۡ مُّوۡسٰی
بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَکُلًّا اَخَذۡنَا
بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا
بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami membinasakan Qarun,
Fir’aun dan Haman. Dan sungguh Musa
benar-benar telah datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata
tetapi mereka ber-laku sombong di
bumi dan mereka se-kali-kali tidak
dapat melepaskan diri dari azab Kami. Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya, di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di
antara mereka ada yang disambar oleh
petir, di antara mereka ada yang Kami benamkan di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ -- dan
Allah sekali-kali tidak berbuat zalim
terhadap mereka, tetapi mereka menzalimi
diri mereka sendiri. (Al-Ankabūt [40-41).
Al-Quran telah mempergunakan berbagai
kata dan ungkapan untuk hukuman (azab
Ilahi) yang ditimpakan lawan-lawan
berbagai nabi Allah pada zamannya masing-masing. Azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai
pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa
bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan
dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Luth a.s. sebagai
batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75);
badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan
(QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
Penyebab Kesuksesan Duniawi
Kaum-kaum Purbakala & Kesuksesan
Duniawi Qarun
di Mesir
Terakhir dari semua itu ialah azab
Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah),
dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan,
“Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51;
QS.7:137; dan QS.17:104), dan azab yang menimpa Qarun dikatakan “Kami
menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82)
-- sebab kebinasaan Qarun
terjadi sebelum tenggelamnya Fir’aun
dan pasukannya di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil (QS.10:91-93) -- firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا کَانَ لَہٗ
مِنۡ فِئَۃٍ یَّنۡصُرُوۡنَہٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ
یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ
عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ اَنۡ
مَّنَّ اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا
ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ
الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka Kami
membenamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi,
dan selain
Allah tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang
dapat membela diri. Dan jadilah
orang-orang yang kemarin ingin mendapat kedudukannya itu berkata: “Celakalah bagi engkau! Sesungguhnya Allah-lah Yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya
dan menyempitkan. Seandainya Allah tidak menganugerahkan kemurahan-Nya
kepada kami niscaya Dia akan
membenamkan kami juga. Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.”
(Al-Qashash
[28]:82-83).
Perlu diketahui bahwa keberhasilan duniawi yang diraih Qarun
mau pun kaum-kaum purbakala
yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah pada hakikatnya sebagai
hasil dari kerjakeras mereka memanfaatkan
secara maksimal SDA
(Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber
Daya Manusia) yang dianugerahkan Allah Swt.
melalui Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya). yang berlaku bagi semua manusia, baik yang beriman
mau pun yang kafir kepada-Nya: firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ
مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا
تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan sungguh
Kami benar-be-nar telah
memuliakan keturunan Adam, dan
Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan
Kami melebihkan mereka dengan suatu
keutamaan atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan. (Bani
Israil [17]:71).
Allah Swt. telah memberikan kemuliaan yang sama
kepada seluruh anak-cucu Adam (Bani Adam)
-- yakni umat manusia -- dan
tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu. Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan.
Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan duniawi
mau pun ruhani tetap
terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran untuk kemajuan dan
kesejahteraan itu tidak terbatas kepada perjalanan
darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan
laut, bahkan di udara (di langit
– QS.55:34-35).
Tujuan Utama Penciptaan Manusia
yang Merupakan “Khalifah Allah” di Muka Bumi
Semua karunia
Allah Swt. tersebut karena manusia
adalah khalifah Allah di permukaan bumi maka sebagai jenis ia lebih mulia dari
semua makhluk yang lain, itulah pula
sebabnya berbeda dengan tujuan penciptaan makhluk
lainnya, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., agar dalam dirinya tercermin Sifat-sifat Ilahi, firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾ فَاِنَّ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذَنُوۡبًا مِّثۡلَ ذَنُوۡبِ
اَصۡحٰبِہِمۡ فَلَا یَسۡتَعۡجِلُوۡنِ ﴿﴾ فَوَیۡلٌ
لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
یَّوۡمِہِمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezeki dari
mereka, dan tidak pula Aku
menghendaki supaya mereka memberi
makan kepada-Ku. Sesungguhnya
Allah Dia-lah Pemberi rezeki,
Pemiliki
Kekuatan yang sangat kokoh.
Maka sesungguhnya bagi orang-orang yang berbuat zalim ada balasan seperti balasan teman-teman mereka, maka janganlah mereka meminta kepada-Ku
menyegerakan azab itu. Maka celakalah
bagi orang-orang yang ingkar
kepada Hari mereka yang
dijanjikan. (Adz-Dzāriyat [51]:57-60).
Arti yang utama untuk kata ‘ibadah adalah
menundukkan diri sendiri
kepada disiplin keruhanian yang
ketat, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai sepenuh jangkauannya,
sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan
mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Allah.
Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah
maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia
lahir dan batin yang terdapat
pada sifat manusia memberikan dengan
jelas pengertian kepada kita, bahwa
ada di antara kemampuan manusia yang
membangunkan pada dirinya dorongan
untuk mencari Allah dan yang
meresapkan kepadanya keinginan mulia
untuk menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah Swt. (QS.6:162-164;
QS.7:173-175; QS.30:31-33).
Makna ayat مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ -- “Aku
tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku”.
Bila sang musafir (kelana) keruhanian
menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan
tawakkal ia tidak berbuat bajik kepada Allah atau kepada siapa pun melainkan
dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan
perjuangannya.
Makna kata Dzanūb dalam ayat selanjutnya: َاِنَّ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذَنُوۡبًا
مِّثۡلَ ذَنُوۡبِ اَصۡحٰبِہِمۡ فَلَا
یَسۡتَعۡجِلُوۡنِ -- “Maka
sesungguhnya bagi orang-orang yang berbuat zalim ada balasan seperti balasan teman-te-man mereka, maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakan azab itu”, berarti:
nasib, suratan takdir, bagian; balasan; suatu hari buruk yang berlangsung lama
(Lexicon Lane).
Pentingnya Bersyukur
Kepada Allah Swt.
Jadi, suksesnya
atau tidak suksesnya seseorang atau suatu (kaum) dalam kehidupannya
-- baik kehidupan duniawi mau
pun kehidupan ruhani -- sangat erat kaitannya dengan sikap bersyukur dan tidak bersyukurnya manusia terhadap Allah Swt., Tuhan Maha
Pencipta seluruh alam, sebagaimana
perkataan Nabi Musa a.s. berikut ini kepada Bani
Israil, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak
karunia kepada kamu, tetapi jika
kamu benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” Dan
Musa berkata: “Jika kamu kafir, kamu dan siapa pun yang ada di bumi ini semuanya
tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha
Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
Syukr (syukur) itu tiga macam: (1)
Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati
mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan
memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3)
Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima
setimpal dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya
syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan
mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e)
tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya)
tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
Syukr dari pihak Allah
Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas ( terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang (ridha)
kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi
imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya
-- jasmani
dan ruhani -- dengan tepat
sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum ruhani (hukum syariat), terutama agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ
اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ
اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah
benar-benar Maha Menghargai,
Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Tetapi sikap “bersyukurnya” orang-orang duniawi seperti itu – termasuk kaum-kaum purbakala – hanyalah dalam segi duniawi, yakni mereka telah memanfaatkan secara tepat SDA dan SDM yang mereka
miliki sesuai hukum-hukum Allah
(hukum-hukum alam) maka mereka – sekali pun
mereka itu orang-orang musyrik
atau orang-orang Atheis -- maka mereka meraih kesuksesan duniawi, sebab hal tersebut sesuai dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah
Swt.: لَئِنۡ
شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ -- “Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak
karunia kepada kamu” (QS.14:8).
Ketakaburan dan Ketidak-bersyukuran Fir’aun
Namun mereka menisbahkan kesuksesan duniawi mereka itu
sebagai buah (hasil) dari upaya
dan kerja-keras mereka sendiri,
sebagaimana yang dikatakan Fir’aun dan Qarun, firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ
قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ
اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ
ہُوَ مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ
مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾ فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ
فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ اٰسَفُوۡنَا
انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ فَجَعَلۡنٰہُمۡ سَلَفًا وَّ
مَثَلًا لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: "Hai kaumku, bukankah
kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai
ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat? Atau
tidakkah aku lebih baik daripada
orang
yang hina ini (Musa) dan ia
tidak dapat menjelaskan? Mengapakah
tidak dianugerahkan kepadanya
gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?" Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka
patuh kepadanya, sesungguhnya mereka
adalah kaum durhaka. Maka ketika
mereka membuat Kami murka, Kami
menuntut balas dari mereka dan Kami
menenggelamkan mereka semua, dan Kami
menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal
bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf [43]:52-57).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 22 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar