Senin, 23 Mei 2016

Merebaknya Berbagai "Bala Bencana" (Azab Ilahi) Merupakan Makna Lain "Sujudnya" Para Malaikat Kepada "Khalifah Allah" (Rasul Allah) yang Didustakan dan Ditentang Secara Zalim



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


MEREBAKNYA BERBAGAI BALA BENCANA  (AZAB ILAHI) MERUPAKAN MAKNA LAIN “SUJUDNYA" PARA MALAIKAT  KEPADA KHALIFAH ALLAH (RASUL ALLAH) YANG DIDUSTAKAN DAN DITENTANG  SECARA ZALIM


Bab 51

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai  hubungan pelemparan segenggar pasir oleh Nabi Besar Muhamad saw. dalam perang Badar dengan berhembusnya badai padang pasir  yang menyebabkan kekalahan  telak pasukan kaum kafir Quraisy Mekkah pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawan, firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾   ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ  مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَعُوۡدُوۡا نَعُدۡ ۚ وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ  کَثُرَتۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ مَعَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.   Demikianlah yang terjadi, dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ --  Hai orang-orang kafir,  jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu.  Dan  jika kamu menahan diri maka lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali berbuat kejahatan, Kami pun akan kembali menghukum, dan golongan kamu walau pun banyak  tetapi tidak akan pernah  berguna  sedikit pun, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya  Allah beserta orang-orang  yang beriman.  (Al-Anfāl [8]:18-20).

Yaumul-Furqan (Hari Pembeda)  Haq dan Batil  & Doa Takabbur Abu Jahal

      Makna ayat 20:  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ --  Hai orang-orang kafir,  jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu” orang-orang kafir menuntut kepada Nabi Besar Muhammad saw. keputusan dari  Allah Swt.  berupa kemenangan. Kepada mereka diberitahukan bahwa keputusan Tuhan memang telah datang dalam bentuk serupa dengan apa yang diminta mereka (yaitu kemenangan lasykar Islam) dalam Perang Badar yang disebut sebagai yaumul-furqan  yakni Hari Pembeda atau Hari Pemisah  antara haq (kebenaran) dan bathil (kepalsuan – QS.8:42-45).
     Dengan demikian tewasnya secara hina Abu Jahal dan ketujuh  pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah lainnya dalam Perang Badar tersebut pada hakikatnya merupakan pengabulan  Allah Swt. atas  doa Abu Jahal sendiri, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  قَالُوا اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ ؕ اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika mereka berkata: اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ  --  “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ  --  Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  --   dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun.  وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ  --Dan  mengapa  Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan  mereka menghalang-halangi orang-orang dari Masjidilharam, dan mereka sekali-kali bukanlah orang-orang yang berhak melindunginya? اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ --  Tidak lain  yang berhak melindunginya  melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Anfāl [8]:33-35).
        Doa Abu Jahal  dan kawan-kawannya yang diwarnai ketakabburan:   اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ  --  “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.      Kira-kira seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah, Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain, terbunuh dan mayat-ayat mereka  diseret lalu dilemparkan secara hina ke dalam sebuah lubang sebagaimana peringatan Allah Swt. dalam QS.96:10-20.
      Makna ayat:  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ   -- “Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  --   dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun.”  Orang-orang kafir Mekkah mendapat hukuman  Ilahi setelah  Nabi Besar Muhammad saw. hijrah   meninggalkan Mekkah, antara lain dalam perang Badar, perang Uhud dan perang Ahzab, dan mencapai puncaknya pada peristiw Fathah Makkah sebagai akibat dari Perjanjian Hudaibiyah. Jadi betapa rasul-rasul  Allah berfungsi semacam perisai terhadap hukuman-hukuman dari langit.

Makna Lain “Sujudnya” Para Malaikat Kepada Adam (Khalifah Allah)

    Kembali kepada ayat وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- “bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar”, betapa adanya kesamaan antara kehendak Nabi Besar Muhammad saw. dengan kehendak Allah Swt., telah mengakibatkan  kekuatan alam  yang dikendalikan  para malaikat pun  melaksanakan kedua kehendak  yang berpadu tersebut berupa terjadinya badai padang pasir  yang menyebabkan pasukan Abu Jahal dapat dikalahkan oleh pasukan Muslim, firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  -- bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.    (Al-Anfāl [8]:18).
   Berbagai peristiwa azab Ilahi   yang menimpa kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah  yang ditimbulkan oleh  kekuatan alam tersebut pada hakikatnya  merupakan salah satu bentuk “sujudnya” para malaikat kepada Adam (Khalifah Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. (QS.2:31-35; QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS. 17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), firman-Nya:
  وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan  sungguh  Musa benar-benar telah datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka ber-laku sombong di bumi dan mereka se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.   Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami benamkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ  --   dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  menzalimi  diri mereka sendiri. (Al-Ankabūt [40-41).
    Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman (azab Ilahi) yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi Allah  pada zamannya masing-masing. Azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Luth a.s.  sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s.  sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).

Penyebab Kesuksesan Duniawi Kaum-kaum Purbakala & Kesuksesan Duniawi   Qarun di Mesir  

       Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan QS.17:104), dan azab yang menimpa Qarun dikatakan  “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82)  -- sebab kebinasaan Qarun terjadi sebelum tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil (QS.10:91-93)  -- firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ  الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا  کَانَ لَہٗ  مِنۡ فِئَۃٍ  یَّنۡصُرُوۡنَہٗ  مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا  کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ مَّنَّ  اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ  لَا  یُفۡلِحُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka  Kami membenamkan dia   beserta rumahnya ke dalam bumi,  dan  selain Allah tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang dapat membela diri.   Dan jadilah orang-orang yang kemarin ingin mendapat kedudukannya itu  berkata: “Celakalah bagi engkau! Sesungguhnya Allah-lah Yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkan. Seandainya Allah tidak menganugerahkan kemurahan-Nya kepada kami niscaya Dia akan membenamkan kami juga.  Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.” (Al-Qashash [28]:82-83).
       Perlu diketahui bahwa keberhasilan duniawi yang diraih Qarun  mau pun kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah pada hakikatnya  sebagai hasil dari kerjakeras mereka memanfaatkan  secara maksimal  SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dianugerahkan Allah Swt.  melalui  Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya).  yang berlaku bagi semua manusia, baik yang beriman mau pun yang kafir kepada-Nya:  firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan  sungguh   Kami benar-be-nar telah memuliakan keturunan Adam,  dan Kami angkut mereka di  daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:71).
     Allah Swt.   telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  (Bani Adam)  -- yakni umat manusia -- dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu. Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan.
    Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan  duniawi mau pun ruhani     tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan   itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut, bahkan di udara (di langit – QS.55:34-35).

Tujuan Utama Penciptaan Manusia yang  Merupakan “Khalifah Allah” di Muka Bumi

     Semua karunia Allah Swt. tersebut   karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain, itulah pula sebabnya berbeda dengan tujuan penciptaan  makhluk lainnya, tujuan penciptaan manusia     adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., agar dalam dirinya tercermin Sifat-sifat Ilahi, firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾   مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾   اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾  فَاِنَّ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذَنُوۡبًا مِّثۡلَ ذَنُوۡبِ اَصۡحٰبِہِمۡ  فَلَا یَسۡتَعۡجِلُوۡنِ ﴿﴾   فَوَیۡلٌ  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا مِنۡ یَّوۡمِہِمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku.  Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh.  Maka sesungguhnya bagi orang-orang yang berbuat zalim ada balasan seperti balasan teman-teman mereka, maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakan azab itu.   Maka  celakalah bagi  orang-orang yang ingkar  kepada Hari mereka yang dijanjikan. (Adz-Dzāriyat [51]:57-60).
    Arti yang utama untuk kata ‘ibadah  adalah  menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai  sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan  mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Allah.
    Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia lahir dan batin yang terdapat pada sifat manusia memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada  Allah Swt. (QS.6:162-164; QS.7:173-175; QS.30:31-33).
 Makna ayat  مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku”.  Bila sang musafir (kelana) keruhanian menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan tawakkal ia tidak berbuat bajik kepada Allah atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya.
 Makna kata      Dzanūb  dalam ayat selanjutnya:  َاِنَّ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذَنُوۡبًا مِّثۡلَ ذَنُوۡبِ اَصۡحٰبِہِمۡ  فَلَا یَسۡتَعۡجِلُوۡنِ  -- “Maka sesungguhnya bagi orang-orang yang berbuat zalim ada balasan  seperti balasan teman-te-man mereka, maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakan azab itu”,    berarti: nasib, suratan takdir, bagian; balasan; suatu hari buruk yang berlangsung lama (Lexicon Lane).

Pentingnya Bersyukur Kepada Allah Swt.

    Jadi, suksesnya  atau tidak suksesnya  seseorang atau suatu (kaum) dalam   kehidupannya  -- baik kehidupan duniawi mau pun kehidupan ruhani --  sangat erat kaitannya dengan sikap bersyukur dan tidak bersyukurnya manusia terhadap Allah Swt., Tuhan Maha Pencipta seluruh alam,  sebagaimana perkataan Nabi Musa a.s. berikut ini kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.”   Dan Musa berkata: “Jika  kamu kafir, kamu dan siapa pun yang ada di bumi ini semuanya tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun karena se-sungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Ibrahim [14]:8-9).
    Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
    Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
     Syukr dari pihak Allah Swt.   ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas ( terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
   Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya   -- jasmani dan ruhani  -- dengan tepat sesuai ketentuan hukum-Nya, baik hukum alam mau pun hukum  ruhani (hukum syariat), terutama agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
       Tetapi sikap “bersyukurnya” orang-orang  duniawi seperti itu – termasuk kaum-kaum purbakala – hanyalah dalam segi duniawi, yakni  mereka telah memanfaatkan  secara tepat SDA dan SDM yang mereka miliki sesuai hukum-hukum Allah (hukum-hukum alam) maka mereka – sekali pun  mereka itu orang-orang musyrik atau orang-orang Atheis --  maka mereka meraih kesuksesan duniawi, sebab hal tersebut sesuai dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.: لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ    -- “Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu” (QS.14:8).

Ketakaburan dan Ketidak-bersyukuran Fir’aun  

      Namun mereka menisbahkan kesuksesan duniawi mereka itu sebagai  buah (hasil) dari upaya dan kerja-keras mereka sendiri, sebagaimana yang dikatakan  Fir’aun dan Qarun, firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ  فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّاۤ  اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  فَجَعَلۡنٰہُمۡ  سَلَفًا وَّ  مَثَلًا  لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: "Hai kaumku,  bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?   Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang   yang hina ini (Musa) dan ia tidak dapat menjelaskan?  Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?" Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka.   Maka ketika mereka membuat Kami murka,  Kami menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka semua,   dan Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf [43]:52-57).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22  Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar