Sabtu, 14 Mei 2016

Negus (Najasyi), Raja Habsyi (Abessinia) Adalah Golongan "Jin" yang Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Hubungan Gejala Meteorik "Bintang Jatuh" Dengan "Pengusiran Syaitan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 



NEGUS (NAJASYI), RAJA   HABSYI (ABESSINIA) ADALAH GOLONGAN “JIN” YANG BERIMAN KEPADA  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & HUBUNGAN GEJALA METEORIK  “BINTANG JATUH”  DENGAN  “PENGUSIRAN  SYAITAN


Bab 46

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    firman Allah Swt. mengenai “segolongan jin” yang secara diam-diam di malam hari  bertemu dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.   Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  -- Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا --  dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak (Al-Jin [72]:1-4).

Ke-Muslim-an Raja Abessinia, Negus (Najasyi)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu adalah orang-orang Kristen yang berpegang kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi  yang bersekutu erat dengan mereka atau, yang karena ada di bawah pengaruh mereka – baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen.
       Disebutkan  oleh Imam Qurtubi dalam Tafsirnya bahwa  Ibnu Abbas r.a.  berkata: “Ada 7 sosok jin dr kalangan Jin Nashibin maka Nabi Muhammad saw. menjadikan mereka sebagai utusan kepada kaumnya.” Zirru bin Hubays berkata: "Mereka 9 sosok, salahsatunya bernama Zauba'ah". Qatadah berkata: "Mereka berasal dari penduduk Ninawa". Mujahid berkata: "Mereka berasal dr Penduduk Harran". Ikrimah berkata : "Mereka berasal dari jazirah Maushil”. Dan dikatakan pula bahwa mereka ada 7 jin, tiga dari Najran, 4 dari penduduk Nashibin.
      As-Suhaili berkata: "Mereka ada 7 jin, dan mereka sebelumnya beragana Yahudi kemudian masuk Islam; karenanya mereka berkata: "Kitab yg diturunkan setelah Musa". Disebutkan nama-nama mereka adalah: Syashir, Mashir, Mansya, Masiya dan Ahqab.
    “Raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Jin”, lihat hal.52. (Al-Hafizh Ibnu Katsir). Negus adalah kaisar kerajaan Habasyah (Abessinia) – penganut agama Nasrani (Kristen)   -- yang menerima kedatangan para pengungsi  rombongan Muslim yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib ra., sebelum  peristiwa  hijrah ke Medinah, firman-Nya:
وَ  اِذَا سَمِعُوۡا مَاۤ  اُنۡزِلَ  اِلَی الرَّسُوۡلِ تَرٰۤی اَعۡیُنَہُمۡ تَفِیۡضُ مِنَ  الدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُوۡا مِنَ الۡحَقِّ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul ini, engkau melihat mata mereka mengucurkan air mata  karena mereka telah mengenal kebenaran. Mereka berkata:  ”Ya Rabb (Tuhan) kami, kami telah beriman maka catatlah ka-mi di antara orang-orang yang menjadi saksi. (Al-Māidah [5]:84).
       Ayat ini  telah dikenakan pula teristimewa kepada Najasyi (Negus). Ketika Ja’far bin Abi Thalib r.a. -- saudara misan Nabi Besar Muhammad saw. dan saudara kandung Ali bin Abi Thalib ra.a.   – sebagi  juru bicara untuk para pengungsi kaum Muslimin di Abesinia,  membacakan padanya ayat-ayat permulaan Surah Maryam, nampak sekali hati Najasyi tergerak, dan air matanya mengalir  ke pipinya dan ia berkata dengan suara lirih penuh haru bahwa tak ubah seperti itulah kepercayaannya mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan bahwa ia memandang beliau  sedikit pun tidak lebih dari itu (Hisyam).
      Dalam hadits diriwayatkan  bahwa   Nabi Besar Muhammad saw. melakukan shalat jenazah gaib ketika  mendengar tentang kewafatan Najasyi (Negus), hal tersebut mengisyaratkan bahwa pada hakikatnya Raja Abessinia tersebut telah beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan wafat sebagai seorang Muslim
     Jadi, keliru jika mengartikan bahwa  “segolongan  jin” yang dikemukakan  dalam Surah Al-Ahqaf dan Surah Al-Jin adalah golongan  “makhluk halus” yang juga disebut jin. Mereka itu  adalah golongan manusia yaitu orang-orang Yahudi yang secara diam-diam pada malam hari bertemu dengan Nabi Besar Muhammad saw. guna mendengarkan wahyu Al-Quran. Selanjutnya mereka berkata: 
وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah. Dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah.    Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا --  dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul.  وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا  --  Dan sesungguhnya kami benar-benar telah berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan yang kuat dan nyala api. (Al-Jin [72]:5-9). 

“Syaitan-syaitan” yang Berusaha Menyentuh Langit & Bintang-bintang Jatuh Pengusir  Syaitan

   Ungkapan “berusaha menyentuh langit” dalam ayat وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ  فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ  شُہُبًا  --  “Dan sesungguhnya kami benar-benar telah berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan yang kuat dan nyala api” (QS.72:9)  berarti  mencoba membukakan rahasia-rahasia gaib.
  Apabila seorang mushlih rabbani (rasul Allah) hampir akan muncul di dunia, maka terjadilah bintang-bintang beralih (bintang jatuh) secara luar biasa. Gejala alam yang luar biasa berupa gejala meteorik itulah agaknya yang disebut dalam ayat ini  dan yang disebut sebagai sarana pengusir syaitan (QS.15:17-19; QS.37:7-11;  QS.67:6).
  Ada pun salah satu makna syaitan  yang diusir oleh “bintang-bintang ruhani yang bercahaya cemerlang”  berupa  pengutusan rasul Allah    dijelaskan dalam ayat selanjutnya mengenai “golongan jin”: 
وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ لِلسَّمۡعِ ؕ فَمَنۡ  یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ  یَجِدۡ لَہٗ  شِہَابًا  رَّصَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا لَا  نَدۡرِیۡۤ  اَشَرٌّ  اُرِیۡدَ بِمَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اَمۡ  اَرَادَ بِہِمۡ  رَبُّہُمۡ  رَشَدًا ﴿ۙ﴾ وَّ اَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنَّا دُوۡنَ ذٰلِکَ ؕ  کُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا ﴿ۙ﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ نُّعۡجِزَ اللّٰہَ  فِی  الۡاَرۡضِ وَ  لَنۡ  نُّعۡجِزَہٗ  ہَرَبًا ﴿ۙ﴾
Dan sesungguhnya kami biasa menduduki beberapa tempat duduknya untuk mendengarkan, فَمَنۡ  یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ  یَجِدۡ لَہٗ  شِہَابًا  رَّصَدًا  --  tetapi sekarang barangsiapa  berusaha mendengarkan  ia tentu akan mendapatkan di sana bintang menyala yang mengintaiوَّ اَنَّا لَا  نَدۡرِیۡۤ  اَشَرٌّ  اُرِیۡدَ بِمَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اَمۡ  اَرَادَ بِہِمۡ  رَبُّہُمۡ  رَشَدًا --  Dan  sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan dikehendaki untuk orang di bumi, ataukah Rabb (Tuhan) mereka menghendaki petunjuk kepada mereka. وَّ اَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنَّا دُوۡنَ ذٰلِکَ  --  Dan sesungguhnya di antara kami sebagian ada orang-orang saleh dan sebagian dari kami sebaliknya.  کُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا  -- Kami mengikuti jalan-jalan yang berbeda.  Dan sesungguhnya kami meyakini bahwa  kami   tidak akan pernah dapat menggagalkan Allah di bumi, dan kami tidak akan pernah dapat mehindarkannya  dengan melarikan diri, (Al-Jin [72]:10-13).  
   Sebelum kemunculan seorang mushlih rabbani (rasul Allah), juru-juru nujum dan juru-juru ramal meraba-raba lewat ilmu-ilmu mistik, dan dengan bantuan praktek-praktek mereka yang merupakan tanda tanya itu, mereka berusaha mengelabui rakyat jelata dengan pura-pura mampu menyelami rahasia gaib, dan karena telah mahir dalam tipu menipu, mereka berhasil mempermainkan orang-orang yang lekas percaya itu.
    Tetapi dengan kedatangan seorang pembaharu samawi (rasul Allah)  tipu daya   mereka dibukakan dan ilmu palsu mereka mengenai yang gaib menjadi terbuka kedoknya dan teryata mereka hanya mengenal ilmu perbintangan secara dangkal dan sepotong-potong belaka.
    Kata “sekarang“ dalam ayat: فَمَنۡ  یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ  یَجِدۡ لَہٗ  شِہَابًا  رَّصَدًا  -- “tetapi sekarang  barangsiapa  berusaha mendengarkan  ia tentu akan mendapatkan di sana bintang menyala yang mengintai,“ dipakai di sini khusus mengenai zaman Nabi Besar Muhammad saw.,  tetapi juga berarti tertuju  kepada zaman munculnya mushlih rabbani (rasul Allah – QS.7:35-37), firman-Nya:
اِنَّا زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾  وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾  لَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ ٭ۖ﴿﴾  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾  اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ    -- dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhakaلَا یَسَّمَّعُوۡنَ  اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی   -- Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan majlis malaikat-malaikat yang tinggi وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ  کُلِّ  جَانِبٍ -- dan mereka dilempari dari segala penjuru.  دُحُوۡرًا  وَّ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  وَّاصِبٌ  -- Terusir dan bagi mereka ada azab yang kekal, اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ  ثَاقِبٌ --  Kecuali barangsiapa mencuri-curi  sesuatu pembicaraan  maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang.  (Ash-Shāffat [37]:7-11).

Dua Macam “Syaitan

  Ayat ini menunjuk kepada kesejajaran antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam  jasmani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang yang terdiri dari nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam keruhanian, sebagaimana bintang-bintang dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam jasmani ini (QS.15:17-19;  QS.37:7-11;  QS.41:13; QS.67:6).
       Syaitan-syaitan dalam ayat   وَ  حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ   -- dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka”  terdiri dari dua golongan:
       (a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti orang-orang munafik, dan sebagainya. Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini, dan
   (b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim” (syaitan yang terkutuk - QS.15:18).
       Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan kepada seorang nabi Allah, maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya, dengan mengutip kata-kata nabi Allah  itu secara keliru, atau dengan mengambil sebagian wahyunya dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu ilahi itu (QS.2:79-80 & 175-177; QS.3:79-81); atau bahkan mereka mencoba mengemukakan  ajaran nabi itu sebagai ajaran mereka sendiri.
      Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan hakiki yang diberikan oleh sang mushlih rabbani (rasul Allah) mengenai wahyu-Nya itu, fiman-Nya:  
قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama. عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  --    Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal para malaikat berjalan di hadapannya dan di belakangnya, لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا --  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:26-29).
  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  --  penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
 Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara.

Martabat Manusia Lebih Tinggi dari Malaikat

   Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keunggulan kedudukan manusia-manusia khusus – yakni para wali Allah dan para nabi Allah   -- dibandingkan dengan kedudukan para malaikat:
    “Patut diingat,  bahwa dalam syariah Islam tidak ada dikatakan kalau malaikat khusus derajatnya lebih tinggi daripada orang-orang khusus tertentu. Bahkan dinyatakan bahwa manusia-manusia khusus tersebut derajatnya lebih tinggi dibanding malaikat.
   Fungsi para malaikat sebagai mediator (perantara) dalam sistem fisikal (jasmani) dan spiritual tidak menunjukkan superioritas (keunggulan) mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran, mereka itu diberi tugas dengan fungsi sebagai pelayan sebagaimana dinyatakan Allah Swt.:
وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ 
“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepada kamu  (Ibrahim [14]:34)
    Seorang opas (petugas) pos menyampaikan surat dari seorang Raja kepada seorang Gubernur, tidak berarti bahwa opas pos yang menjadi mediasi (perantara) di antara keduanya lalu menjadi lebih tinggi derajatnya daripada Gubernur tersebut. Keadaan malaikat  sama dengan mediator yang bertugas menyampaikan rancangan Sang Maha Kuasa dalam sistem fisikal dan spiritual kepada bumi.
    Allah Yang Maha Agung telah menjelaskan di beberapa tempat dalam Al-Quran bahwa apa pun yang telah diciptakan di langit dan di bumi adalah bagi kemaslahatan manusia dimana manusia memiliki derajat yang lebih tinggi daripada semuanya dan dilayani oleh semuanya itu sebagaimana dinyatakan:
وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ 
“Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepada kamu, kedua-duanya menjalankan tugasnya dengan tetap dan teratur (Ibrahim [14]:34)
Di tempat lain dikemukakan:
اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اِنِّیۡ خَالِقٌۢ  بَشَرًا مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿﴾  فَاِذَا سَوَّیۡتُہٗ وَ نَفَخۡتُ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِیۡ فَقَعُوۡا  لَہٗ   سٰجِدِیۡنَ ﴿﴾     فَسَجَدَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  کُلُّہُمۡ  اَجۡمَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾   اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اِسۡتَکۡبَرَ وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ 
“Ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat, dan demikianlah apabila telah Ku-bentuk dia hingga jadi sempurna dan telah Ku-tiupkan ruh-Ku ke dalamnya maka sungkurkanlah dirimu, sujud kepadanya.” Maka para malaikat pun bersujudlah mereka semua bersama-sama, kecuali Iblis tidak. Ia  takabur dan ia termasuk orang-orang kafir (Shād [38]:72-75).

Pengertian Hakiki Sujud Manusia & Hakikat Perintah  “Sujud” kepada Adam

    Perintah kepada para malaikat untuk bersujud ini tidak ada hubungannya dengan peristiwa ketika Adam diwujudkan (diciptakan). Kejadian ini merupakan perintah terpisah yang menyatakan bahwa jika manusia telah mencapai derajatnya sebagai manusia seutuhnya dan telah mencapai keseimbangan dimana ruh Allah Yang Maha Kuasa telah bermukim di dalam dirinya, para malaikat tersebut agar bersujud di hadapan manusia sempurna seperti itu. Dengan kata lain, para malaikat diperintahkan untuk turun kepada manusia tersebut dengan membawa nur Ilahi dan membawakan berkat-berkat kepadanya.
    Hal ini merupakan indikasi dari kaidah abadi yang ditegakkan Allah Swt. berkaitan dengan hamba-hamba pilihan-Nya,  dimana tiap orang yang telah berhasil mencapai keseimbangan spiritual di suatu zaman -- karena ruh Ilahi telah bermukim di dalam dirinya, dengan pengertian bahwa manusia tersebut telah melepaskan egonya dan mencapai derajat keabadian bersama Tuhan-nya -- maka para malaikat akan turun kepada yang bersangkutan secara khusus.
    Walaupun [benar bahwa] ketika manusia tersebut di awal pencahariannya sudah juga dibantu oleh para malaikat, namun turunnya malaikat setelah yang bersangkutan mencapai tingkat kesempurnaan akan bersifat demikian sempurna dan lengkap laiknya mereka itu bersujud kepadanya.
     Persujudan mengindikasikan bahwa malaikat itu tidak lebih luhur dibanding seorang manusia sempurna, bahkan laiknya para hamba raja mereka itu menghormati manusia sempurna tersebut dengan cara bersujud di hadapannya.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm.  74-77, London, 1984).
      Bahwa yang dimaksud dengan manusia-manusia  yang martabatnya lebih mulia dari pada para malaikat tersebut bukanlah manusia secara umumnya melainkan manusia-manusia yang khusus   -- terutama yang tubuh ruhaninya telah  terbentuk sempurna, ibarat janin  dalam rahim ibu yang telah memiliki ruh sehingga menjadi “ciptaan yang baru” (QS.23:13-15) -- mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk,  ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ  -- lalu Kami berfirman kepada para malaikat:   Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", maka mereka bersujud kecuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12).
 Makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ  --  “Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk,“  manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat mudah diberi bentuk apa pun.
 Tetapi perintah Allah Swt. kepada para malaikat  untuk sujud  tersebut hanya  kepada salah seorang di antara mereka yang pembentukan akhlak dan ruhaninya  telah sempurna, yakni Adam atau khalifah Allahثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ  -- “lalu Kami berfirman kepada para malaikat:   Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam."

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 15 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar