Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
NEGUS
(NAJASYI), RAJA HABSYI (ABESSINIA)
ADALAH GOLONGAN “JIN” YANG BERIMAN KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & HUBUNGAN
GEJALA METEORIK “BINTANG
JATUH” DENGAN “PENGUSIRAN SYAITAN”
Bab 46
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan firman Allah Swt. mengenai “segolongan
jin” yang secara diam-diam di malam
hari bertemu dengan Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾قُلۡ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ اَنَّہُ اسۡتَمَعَ
نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا
اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا
ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ
اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا
وَلَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan
jin mendengarkan Al-Quran, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.
Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya. وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ
اَحَدًا -- Dan
kami
tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ
رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, Dia
sekali-kali tidak beristri dan tidak
pula beranak (Al-Jin [72]:1-4).
Ke-Muslim-an Raja Abessinia, Negus (Najasyi)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu adalah orang-orang
Kristen yang berpegang kepada Tauhid,
atau orang-orang Yahudi yang bersekutu erat dengan mereka atau, yang
karena ada di bawah pengaruh mereka –
baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen.
Disebutkan oleh Imam
Qurtubi dalam Tafsirnya bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata: “Ada
7 sosok jin dr kalangan Jin Nashibin maka Nabi Muhammad saw. menjadikan mereka
sebagai utusan kepada kaumnya.” Zirru bin Hubays berkata: "Mereka 9 sosok, salahsatunya bernama
Zauba'ah". Qatadah berkata: "Mereka
berasal dari penduduk Ninawa". Mujahid berkata: "Mereka berasal dr Penduduk Harran".
Ikrimah berkata : "Mereka berasal dari
jazirah Maushil”. Dan dikatakan pula bahwa mereka ada 7 jin, tiga dari
Najran, 4 dari penduduk Nashibin.
As-Suhaili berkata: "Mereka ada 7 jin, dan mereka sebelumnya
beragana Yahudi kemudian masuk Islam; karenanya mereka berkata: "Kitab yg
diturunkan setelah Musa". Disebutkan nama-nama mereka adalah: Syashir,
Mashir, Mansya, Masiya dan Ahqab.
“Raja
Habsyi yang bernama Negus termasuk
golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Jin”,
lihat hal.52. (Al-Hafizh Ibnu Katsir). Negus adalah kaisar kerajaan Habasyah (Abessinia) – penganut
agama Nasrani (Kristen) -- yang menerima kedatangan para
pengungsi rombongan Muslim yang dipimpin oleh Ja’far
bin Abi Thalib ra., sebelum
peristiwa hijrah ke Medinah,
firman-Nya:
وَ اِذَا سَمِعُوۡا مَاۤ
اُنۡزِلَ اِلَی الرَّسُوۡلِ تَرٰۤی
اَعۡیُنَہُمۡ تَفِیۡضُ مِنَ الدَّمۡعِ مِمَّا عَرَفُوۡا مِنَ الۡحَقِّ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاکۡتُبۡنَا مَعَ
الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mendengar apa yang
diturunkan kepada Rasul ini, engkau melihat mata mereka mengucurkan air mata karena mereka
telah mengenal kebenaran. Mereka berkata: ”Ya Rabb (Tuhan) kami, kami
telah beriman maka catatlah ka-mi di
antara orang-orang yang menjadi saksi. (Al-Māidah [5]:84).
Ayat ini telah dikenakan pula teristimewa kepada Najasyi (Negus). Ketika Ja’far bin Abi Thalib r.a. -- saudara
misan Nabi Besar Muhammad saw. dan saudara kandung Ali bin Abi Thalib
ra.a. – sebagi juru
bicara untuk para pengungsi kaum Muslimin
di Abesinia, membacakan padanya
ayat-ayat permulaan Surah Maryam,
nampak sekali hati Najasyi tergerak,
dan air matanya mengalir ke pipinya dan ia berkata dengan suara lirih
penuh haru bahwa tak ubah seperti itulah kepercayaannya
mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dan bahwa ia memandang beliau sedikit pun tidak lebih dari itu (Hisyam).
Dalam hadits diriwayatkan bahwa
Nabi Besar Muhammad saw. melakukan shalat jenazah gaib ketika
mendengar tentang kewafatan Najasyi
(Negus), hal tersebut mengisyaratkan bahwa pada hakikatnya Raja Abessinia tersebut telah beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan wafat sebagai seorang Muslim.
Jadi, keliru
jika mengartikan bahwa “segolongan
jin” yang dikemukakan dalam
Surah Al-Ahqaf dan Surah Al-Jin adalah golongan “makhluk
halus” yang juga disebut jin. Mereka
itu adalah golongan manusia yaitu orang-orang Yahudi yang secara diam-diam pada malam hari bertemu dengan Nabi Besar Muhammad saw. guna
mendengarkan wahyu Al-Quran. Selanjutnya
mereka berkata:
وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ اَنۡ
لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ
یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا
ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ
فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya orang-orang bodoh di antara kami berkata
dusta berlebihan terhadap Allah.
Dan sesungguhnya kami menyangka ins (manusia) dan jin tidak akan pernah mengatakan
perkataan dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya ada
beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa
orang dari jin maka menambah kesombongan mereka, وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- dan sesungguhnya mereka menyangka
sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul. وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا
وَّ شُہُبًا -- Dan
sesungguhnya kami benar-benar telah
berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan yang kuat dan nyala api. (Al-Jin [72]:5-9).
“Syaitan-syaitan” yang Berusaha Menyentuh Langit & Bintang-bintang Jatuh Pengusir Syaitan
Ungkapan “berusaha
menyentuh langit” dalam ayat وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا
السَّمَآءَ فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ
حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا -- “Dan sesungguhnya
kami benar-benar telah berusaha menyentuh langit tetapi kami mendapatkannya penuh dengan penjagaan
yang kuat dan nyala api” (QS.72:9) berarti mencoba membukakan rahasia-rahasia gaib.
Apabila seorang mushlih
rabbani (rasul Allah) hampir
akan muncul di dunia, maka terjadilah bintang-bintang
beralih (bintang jatuh) secara luar
biasa. Gejala alam yang luar biasa berupa gejala meteorik itulah agaknya yang disebut dalam ayat ini dan yang disebut sebagai sarana pengusir syaitan (QS.15:17-19;
QS.37:7-11; QS.67:6).
Ada pun salah satu makna syaitan yang diusir
oleh “bintang-bintang ruhani yang bercahaya cemerlang” berupa
pengutusan rasul Allah dijelaskan dalam ayat selanjutnya mengenai
“golongan jin”:
وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا
مَقَاعِدَ لِلسَّمۡعِ ؕ فَمَنۡ
یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ یَجِدۡ
لَہٗ شِہَابًا رَّصَدًا ۙ﴿﴾ وَّ
اَنَّا لَا نَدۡرِیۡۤ اَشَرٌّ
اُرِیۡدَ بِمَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اَمۡ
اَرَادَ بِہِمۡ رَبُّہُمۡ رَشَدًا ﴿ۙ﴾ وَّ اَنَّا
مِنَّا الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنَّا دُوۡنَ ذٰلِکَ ؕ
کُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا ﴿ۙ﴾ وَّ
اَنَّا ظَنَنَّاۤ اَنۡ لَّنۡ نُّعۡجِزَ اللّٰہَ فِی
الۡاَرۡضِ وَ لَنۡ نُّعۡجِزَہٗ
ہَرَبًا ﴿ۙ﴾
Dan sesungguhnya kami biasa
menduduki beberapa tempat duduknya untuk mendengarkan, فَمَنۡ
یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ یَجِدۡ
لَہٗ شِہَابًا رَّصَدًا -- tetapi sekarang barangsiapa berusaha mendengarkan ia tentu akan mendapatkan di sana bintang menyala yang mengintai. وَّ اَنَّا لَا نَدۡرِیۡۤ
اَشَرٌّ اُرِیۡدَ بِمَنۡ فِی
الۡاَرۡضِ اَمۡ اَرَادَ بِہِمۡ رَبُّہُمۡ
رَشَدًا -- Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan dikehendaki untuk orang di bumi,
ataukah Rabb (Tuhan) mereka menghendaki petunjuk kepada mereka. وَّ اَنَّا مِنَّا
الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنَّا دُوۡنَ ذٰلِکَ -- Dan
sesungguhnya di antara kami sebagian ada
orang-orang saleh dan sebagian dari
kami sebaliknya. کُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا -- Kami mengikuti jalan-jalan yang berbeda. Dan sesungguhnya kami meyakini bahwa kami tidak akan pernah dapat menggagalkan Allah
di bumi, dan kami tidak akan pernah
dapat mehindarkannya dengan melarikan diri, (Al-Jin [72]:10-13).
Sebelum kemunculan
seorang mushlih rabbani (rasul
Allah), juru-juru nujum
dan juru-juru ramal meraba-raba lewat
ilmu-ilmu mistik, dan dengan bantuan praktek-praktek mereka yang merupakan tanda tanya itu, mereka berusaha mengelabui rakyat jelata dengan
pura-pura mampu menyelami rahasia gaib,
dan karena telah mahir dalam tipu menipu, mereka berhasil mempermainkan orang-orang yang lekas percaya itu.
Tetapi dengan kedatangan seorang pembaharu samawi (rasul Allah) tipu
daya mereka dibukakan
dan ilmu palsu mereka mengenai yang gaib menjadi terbuka kedoknya dan teryata mereka hanya mengenal ilmu perbintangan secara dangkal dan sepotong-potong
belaka.
Kata “sekarang“ dalam ayat: فَمَنۡ یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ یَجِدۡ لَہٗ
شِہَابًا رَّصَدًا -- “tetapi sekarang barangsiapa berusaha mendengarkan ia tentu akan mendapatkan di sana bintang menyala yang mengintai,“ dipakai di sini khusus
mengenai zaman Nabi Besar Muhammad saw., tetapi juga berarti tertuju kepada zaman
munculnya mushlih rabbani (rasul
Allah – QS.7:35-37), firman-Nya:
اِنَّا
زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا
بِزِیۡنَۃِۣ الۡکَوَاکِبِ ۙ﴿﴾ وَ
حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ ۚ﴿﴾ لَا یَسَّمَّعُوۡنَ اِلَی الۡمَلَاِ الۡاَعۡلٰی وَ یُقۡذَفُوۡنَ
مِنۡ کُلِّ جَانِبٍ
٭ۖ﴿﴾ دُحُوۡرًا وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ وَّاصِبٌ ۙ﴿﴾ اِلَّا
مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ
ثَاقِبٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, وَ حِفۡظًا مِّنۡ
کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ -- dan telah memeliharanya dari setiap syaitan durhaka. لَا
یَسَّمَّعُوۡنَ اِلَی الۡمَلَاِ
الۡاَعۡلٰی -- Mereka
tidak dapat mendengar-dengarkan pembicaraan
majlis malaikat-malaikat yang tinggi
وَ یُقۡذَفُوۡنَ مِنۡ کُلِّ جَانِبٍ -- dan mereka dilempari
dari segala penjuru. دُحُوۡرًا وَّ
لَہُمۡ عَذَابٌ وَّاصِبٌ -- Terusir
dan bagi mereka ada azab yang kekal,
اِلَّا
مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ
ثَاقِبٌ -- Kecuali barangsiapa mencuri-curi sesuatu
pembicaraan maka ia dikejar oleh cahaya api yang cemerlang. (Ash-Shāffat
[37]:7-11).
Dua Macam “Syaitan”
Ayat
ini menunjuk kepada kesejajaran
antara alam kebendaan dan alam keruhanian, bahwa seperti halnya cakrawala alam jasmani didukung oleh adanya planit-planit dan bintang-bintang, demikian pula cakrawala
alam ruhani didukung oleh adanya planit-planit
dan bintang-bintang yang terdiri dari
nabi-nabi dan mushlih-mushlih rabbani. Tiap-tiap wujud mereka itu berperan sebagai perhiasan bagi cakrawala alam
keruhanian, sebagaimana bintang-bintang
dan planit-planit di langit memperindah dan menghiasi cakrawala alam jasmani ini (QS.15:17-19; QS.37:7-11;
QS.41:13; QS.67:6).
Syaitan-syaitan dalam ayat وَ حِفۡظًا مِّنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ مَّارِدٍ -- dan telah
memeliharanya dari setiap syaitan durhaka” terdiri dari dua golongan:
(a) musuh-musuh di dalam selimut jemaat kaum Muslimin sendiri, seperti
orang-orang munafik, dan sebagainya.
Mereka itu disebut “syaitan durhaka,” seperti tersebut dalam ayat ini,
dan
(b) musuh-musuh dari luar atau orang-orang kafir yang disebut sebagai “syaithanirrajim”
(syaitan yang terkutuk - QS.15:18).
Selama Kalamullāh (firman Allah) terpelihara di langit maka Kalamullāh itu aman dan terpelihara dari
gangguan pencurian dan serobotan, tetapi sesudah diturunkan
kepada seorang nabi Allah, maka “syaitan” atau musuh-musuh nabi-nabi Allah berusaha menyalah-sampaikan atau menyalahartikannya,
dengan mengutip kata-kata nabi Allah itu secara keliru,
atau dengan mengambil sebagian wahyunya
dan mencampurkan banyak kepalsuan dengan wahyu ilahi itu (QS.2:79-80 & 175-177; QS.3:79-81); atau bahkan
mereka mencoba mengemukakan ajaran nabi itu sebagai ajaran mereka sendiri.
Tetapi kepalsuan mereka tersingkap oleh penjelasan
hakiki yang diberikan oleh sang mushlih
rabbani (rasul Allah) mengenai wahyu-Nya
itu, fiman-Nya:
قُلۡ
اِنۡ اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ
لَہٗ رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ
ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui
apakah yang dijanjikan kepada kamu itu
telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku)
telah menetapkan baginya masa yang lama.
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka
Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی
مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ
بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ
رَصَدًا -- kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal para malaikat berjalan di hadapannya dan di belakangnya, لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- supaya Dia
mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:26-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan
antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya
pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul
Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib -- penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan
atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Martabat Manusia Lebih Tinggi dari Malaikat
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keunggulan kedudukan manusia-manusia khusus – yakni para wali Allah dan para nabi Allah -- dibandingkan dengan kedudukan para malaikat:
“Patut
diingat, bahwa dalam syariah Islam tidak ada dikatakan kalau
malaikat khusus derajatnya lebih tinggi daripada orang-orang khusus tertentu. Bahkan dinyatakan bahwa manusia-manusia khusus tersebut derajatnya lebih tinggi dibanding malaikat.
Fungsi para malaikat sebagai mediator (perantara) dalam sistem
fisikal (jasmani) dan spiritual
tidak menunjukkan superioritas
(keunggulan) mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran, mereka itu diberi tugas
dengan fungsi sebagai pelayan sebagaimana dinyatakan Allah
Swt.:
وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ
“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepada kamu” (Ibrahim [14]:34)
Seorang opas (petugas) pos menyampaikan surat
dari seorang Raja kepada seorang Gubernur, tidak berarti bahwa opas pos yang menjadi mediasi (perantara) di antara keduanya
lalu menjadi lebih tinggi derajatnya
daripada Gubernur tersebut. Keadaan malaikat sama dengan mediator yang bertugas menyampaikan
rancangan Sang Maha Kuasa dalam sistem fisikal dan spiritual kepada bumi.
Allah Yang Maha Agung telah menjelaskan
di beberapa tempat dalam Al-Quran bahwa
apa pun yang telah diciptakan di langit dan di bumi adalah bagi kemaslahatan manusia
dimana manusia memiliki derajat yang
lebih tinggi daripada semuanya dan dilayani oleh semuanya itu sebagaimana dinyatakan:
وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ
“Dia telah menundukkan matahari dan bulan agar mengabdi kepada kamu, kedua-duanya menjalankan tugasnya dengan tetap
dan teratur” (Ibrahim
[14]:34)
Di tempat lain dikemukakan:
اِذۡ قَالَ
رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ
خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿﴾ فَاِذَا سَوَّیۡتُہٗ وَ نَفَخۡتُ فِیۡہِ مِنۡ
رُّوۡحِیۡ فَقَعُوۡا لَہٗ سٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ فَسَجَدَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ کُلُّہُمۡ
اَجۡمَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اِسۡتَکۡبَرَ وَ کَانَ مِنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
“Ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu berfirman
kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat, dan demikianlah apabila telah Ku-bentuk dia hingga jadi
sempurna dan telah Ku-tiupkan ruh-Ku ke dalamnya maka sungkurkanlah dirimu, sujud kepadanya.” Maka para malaikat pun bersujudlah mereka semua bersama-sama, kecuali Iblis tidak. Ia takabur dan ia termasuk orang-orang kafir’ (Shād
[38]:72-75).
Pengertian
Hakiki Sujud Manusia & Hakikat
Perintah “Sujud” kepada Adam
Perintah
kepada para malaikat untuk bersujud ini tidak ada hubungannya
dengan peristiwa ketika Adam
diwujudkan (diciptakan). Kejadian ini merupakan perintah terpisah yang menyatakan bahwa jika manusia telah mencapai derajatnya
sebagai manusia seutuhnya dan telah
mencapai keseimbangan dimana ruh Allah Yang Maha Kuasa telah bermukim di dalam dirinya, para malaikat
tersebut agar bersujud di hadapan manusia sempurna seperti itu.
Dengan kata lain, para malaikat diperintahkan
untuk turun kepada manusia tersebut dengan membawa nur Ilahi dan membawakan berkat-berkat kepadanya.
Hal ini
merupakan indikasi dari kaidah abadi yang ditegakkan Allah Swt.
berkaitan dengan hamba-hamba pilihan-Nya, dimana tiap orang yang telah berhasil
mencapai keseimbangan spiritual di suatu zaman -- karena ruh Ilahi telah bermukim di dalam dirinya,
dengan pengertian bahwa manusia tersebut telah melepaskan egonya dan mencapai
derajat keabadian bersama Tuhan-nya
-- maka para malaikat akan turun kepada yang bersangkutan secara khusus.
Walaupun [benar
bahwa] ketika manusia tersebut di
awal pencahariannya sudah juga dibantu oleh para malaikat, namun turunnya
malaikat setelah yang bersangkutan mencapai
tingkat kesempurnaan akan bersifat
demikian sempurna dan lengkap laiknya mereka itu bersujud kepadanya.
Persujudan mengindikasikan bahwa malaikat itu tidak lebih luhur dibanding seorang manusia sempurna, bahkan laiknya para hamba raja mereka itu menghormati
manusia sempurna tersebut dengan cara
bersujud di hadapannya.” (Tauzih Maram,
Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 74-77, London, 1984).
Bahwa yang dimaksud dengan manusia-manusia yang martabatnya lebih mulia dari pada para malaikat
tersebut bukanlah manusia secara umumnya melainkan manusia-manusia yang khusus -- terutama yang tubuh ruhaninya
telah terbentuk sempurna, ibarat janin
dalam rahim ibu yang telah
memiliki ruh sehingga menjadi “ciptaan yang baru” (QS.23:13-15) -- mengenai
hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ
صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu,
kemudian Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ
-- lalu Kami berfirman kepada para malaikat:
”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam", maka mereka
bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12).
Makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ -- “Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu,
kemudian Kami memberi kamu bentuk,“ manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah
liat mudah diberi bentuk apa pun.
Tetapi perintah Allah Swt. kepada para malaikat
untuk sujud tersebut hanya kepada salah
seorang di antara mereka yang pembentukan
akhlak dan ruhaninya telah sempurna, yakni Adam atau khalifah Allah: ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ
-- “lalu Kami berfirman kepada para malaikat:
”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam."
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 15 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar