Selasa, 17 Mei 2016

Keunggulan Kedudukan "Orang-orang Khusus" Dibanding Para Malaikat & Dua Macam Pengaruh Malaikat Terhadap Manusia



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


KEUNGGULAN KEDUDUKAN ORANG-ORANG KHUSUS DIBANDING PARA MALAIKAT  & DUA MACAM PENGARUH MALAIKAT TERHADAP MANUSIA


Bab 47

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan  mengenai bagian akhir sabda Masih Mau’ud a.s. tentang  pengertian hakiki sujud manusia   dan  hakikat perintah  “sujud” kepada Adam:
      “Perintah kepada para malaikat untuk bersujud ini tidak ada hubungannya dengan peristiwa ketika Adam diwujudkan (diciptakan). Kejadian ini merupakan perintah terpisah yang menyatakan bahwa jika manusia telah mencapai derajatnya sebagai manusia seutuhnya dan telah mencapai keseimbangan dimana ruh Allah Yang Maha Kuasa telah bermukim di dalam dirinya, para malaikat tersebut agar bersujud (patuh-taat) di hadapan manusia sempurna seperti itu. Dengan kata lain, para malaikat diperintahkan untuk turun kepada manusia tersebut dengan membawa nur Ilahi dan membawakan berkat-berkat kepadanya.
      Hal ini merupakan indikasi dari kaidah abadi yang ditegakkan Allah Swt. berkaitan dengan hamba-hamba pilihan-Nya,  dimana tiap orang yang telah berhasil mencapai keseimbangan spiritual di suatu zaman -- karena ruh Ilahi telah bermukim di dalam dirinya, dengan pengertian bahwa manusia tersebut telah melepaskan egonya dan mencapai derajat keabadian bersama Tuhan-nya -- maka para malaikat akan turun kepada yang bersangkutan secara khusus.
      Walaupun [benar bahwa] ketika manusia tersebut di awal pencahariannya sudah juga dibantu oleh para malaikat, namun turunnya malaikat setelah yang bersangkutan mencapai tingkat kesempurnaan akan bersifat demikian sempurna dan lengkap laiknya mereka itu bersujud kepadanya.
      Persujudan mengindikasikan bahwa malaikat itu tidak lebih luhur dibanding seorang manusia sempurna, bahkan laiknya para hamba raja mereka itu menghormati manusia sempurna tersebut dengan cara bersujud di hadapannya.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm.  77, London, 1984).
      Bahwa yang dimaksud dengan manusia-manusia  yang martabatnya lebih mulia dari pada para malaikat tersebut bukanlah manusia secara umumnya melainkan manusia-manusia yang khusus   -- terutama yang tubuh ruhaninya telah  terbentuk sempurna, ibarat janin  dalam rahim ibu yang telah memiliki ruh sehingga menjadi “ciptaan yang baru” (QS.23:13-15) -- mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk,  ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ  -- lalu Kami berfirman kepada para malaikat:   Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", maka mereka bersujud kecuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12).
 Makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ  --  “Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk,“  manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat   -- oleh pembuat tembikar  -- mudah diberi bentuk apa pun.
 Tetapi perintah Allah Swt. kepada para malaikat  untuk sujud  tersebut hanya  kepada salah seorang di antara mereka yang pembentukan akhlak dan ruhaninya  telah sempurna, yakni Adam atau khalifah Allah  yakni Rasul Allahثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ  -- “lalu Kami berfirman kepada para malaikat:   Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam." Dalam hal ini yang dimaksud dengan Adam adalah Khalifah Allah atau Rasul Allah  (QS.2:31-36).

Makna Lain “Sujudnya” Para Malaikat Kepada Adam & Alasan Penolakan Iblis “Sujud” Kepada Adam 

  Selanjutnya berfirman: فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ – “maka mereka bersujud kecuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.”  Karena perintah supaya sujud  kepada Adam a.s.  – yakni Rasul Allah  --  itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu berlaku untuk semua makhluk  -- termasuk iblis --   sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau “instrument” Allah Swt.   yang bertugas melaksanakan perintah-perintah-Nya atau berbagai kehendak-Nya.
Terjadinya kemenangan di pihak Rasul Allah dan orang-orang yang beriman kepadanya serta kehancuran pihak para penentang  Rasul Allah  -- sekali pun dari segi duniawi mereka itu jauh lebih besar dan lebih unggul  --  merupakan  salah satu bukti “sujudnya” para malaikat kepada Adam, antara lain berupa terjadinya bala-bencana serta azab-azab Ilahi lainnya (QS.6:165; QS.17:16; QS.35:19; QS.39:8; QS.53:39), karena berbagai sumber daya alam yang sebelumnya berhasil mereka kendalikan (daya-gunakan) untuk kepentingan duniawi mereka berubah menjadi  berbagai sarana azab Ilahi  yang menghancurkan kaum-kaum purbakala karena mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka (QS.7:35-37; QS.29:41-42; QS.34:16-21).
 Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada iblis mengenai alasan tidak mau “sujud” kepada Adam bersama para malaikat:
 قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia  berfirman: “Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ --  Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.”     قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا --  Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,  karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ -- karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina.” (Al- A’rāf [7]:13-14).
  Iblis itu bukan malaikat  karena iblis dari golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat sedangkan Jibril adalah pemimpin malaikat-malaikat. Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam pertama. Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam  a.s.,  yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan Nabi Nuh a.s. dan  Nabi Ibrahim a.s.  serta keturunan beliau-beliau.   
  Apa yang dikemukakan dalam ayat ini, sebagai percakapan antara Allah  Swt.   dan iblis  -- demikian juga percakapan Allah Swt. dengan para malaikat (QS.2:31)  --  tidak perlu diartikan bahwa wawancakap demikian benar-benar telah terjadi. Kata-kata itu hanya melukiskan keadaan-keadaan yang telah timbul sebagai akibat penolakan iblis untuk sujud kepada Adam a.s.., yang pada zaman itu sebagai Khalifah Allah (QS.2:31-36).
     Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang     Allah Swt.,  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
       Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.  oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
     Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat  -- sebagaimana umumnya dipercayai  --  sebab iblis  di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swst.   sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7). 
      Allah Swt. telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga dan pengendali berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.

Perbedaan Iblis dan Syaitan  Berkenaan dengan Adam  & Syaitan dari Kalangan Jin dan Ins (Manusia)

      Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia (iblis) mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..   
     Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikatmenolak berbakti kepada Adam a.s.  maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. harus keluar   atau hijrah   dari “kebun” (jannah) maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan (QS.7:20-26 & 28),  firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tuamu dari kebun, ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.  Sesungguhnya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman.  (Al-A’rāf [7]:28). 
  Ruh jahat yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak nampak oleh mata. Mereka mempergunakan pengaruh secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya.
  Namun dalam Al-Quran penyebutan syaitan berkenaan dengan pengutusan para Rasul Allah mengisyaratkan kepada para penentang yang berusaha menggagalkan misi Rasul Allah untuk memurnikan kembali Tauhid Ilahi dari berbagai bentuk kemusyrikan (QS.6:112-114; QS.7:49; QS.22:53-58).
 Allah Swt.  telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang dalam perlombaan ruhani yang sedang dihadapi manusia. Perintang-perintang itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat melainkan untuk menciptakan persaingan dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
  Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai, yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali diri mereka sendiri dan jangan menyalahkan  orang atau pihak yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba dan menguji ketabahan mereka.
Perbedaan  penyebutan  iblis dan syaitan tersebut   yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s.  sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikatiblis mampu menaati atau menentang Allah Swt..

Tiap Malaikat Mempunyai Tugas Khusus  & Peran Malaikat Jibril a.s.

       Kembali kepada masalah malaikat, selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai  kedudukan para malaikat:
     “Para malaikat tidak sama derajat dan kedudukannya serta berbeda-beda fungsinya masing-masing. Setiap malaikat mempunyai tugas khusus. Perubahan apa pun yang terjadi di dunia dan gerakan apa pun yang muncul dari kekuatan yang latent (tersembunyi), keberhasilan apa pun yang dicapai nurani dan jasmani dalam usaha mereka, semuanya itu dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh Samawi. Terkadang malaikat yang sama mempengaruhi berbagai kapasitas dengan cara yang berbeda.
     Sebagai contoh, malaikat Jibril yang merupakan malaikat utama dan terkait dengan segala benda langit yang bercahaya, ditugaskan melaksanakan berbagai tugas sejalan dengan kinerja yang dilakukan benda-benda langit tersebut. Meskipun ia turun kepada setiap orang yang dikaruniai dengan wahyu Samawi, perlu diingat bahwa bentuk turunnya tersebut bukan dalam pengertian nyata tetapi berupa pengaruh.
     Lingkaran efek turunnya malaikat Jibril bisa kecil atau pun besar, sepadan  dengan kapasitas manusia bersangkutan. Lingkaran terbesar dari efek spiritual malaikat tersebut adalah yang terkait dengan wahyu yang diturunkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw. Karena itulah maka wawasan, hakikat dan keluhuran kebijakan serta susunan komposisinya telah mencapai kesempurnaan di dalam Kitab Suci Al-Quran, yang tidak ada padanannya dalam kitab-kitab lainnya.

Dua Macam Pengaruh Malaikat Terhadap Ruhani Manusia

   Patut disimak dalam fikiran kita,  bahwa pengaruh malaikat atas ruhani manusia berbentuk dua macam:
      Pertama, adalah efek yang berdasarkan perintah Tuhan akan mempengaruhi benih yang ada di dalam rahim dengan beragam cara.
      Kedua, adalah efek yang beroperasi setelah manusia itu lahir,  dengan tujuan menyempurnakan kapasitas tersembunyi di dalam diri manusia tersebut.
     Efek yang kedua itu jika terkait dengan seorang nabi atau wali disebut sebagai wahyu.
   Nurani yang berhasrat kepada kemuliaan nur keimanannya serta nur kasihnya akan menciptakan tali perhubungan dengan Sumber Mata Air Rahmat,  dimana kasih Allah yang memberi hidup akan tercermin pada kasihnya itu. Kapasitas untuk itu sudah juga disampaikan malaikat ketika yang bersangkutan masih dalam rahim. Saat yang bersangkutan telah mencapai derajat kedekatan kepada Ilahi maka malaikat yang sama akan menerapkan kembali pengaruhnya yang berisi nur atas diri manusia pilihan tersebut.
     Malaikat bersangkutan tidak melakukan hal ini berdasarkan prakarsa sendiri tetapi dalam kapasitasnya sebagai hamba mediator. Sebagaimana halnya pipa yang menarik air dari sisi yang satu dan mengalirkannya ke sisi lain, pipa ini akan menyerap nur rahmat Ilahi dan dimana manusia karena kasihnya menempatkan diri dekat dengan pipa Ruhul Kudus tersebut, maka rahmat wahyu akan mengalir melalui pipa tersebut kepada dirinya. Pada saat seperti itu, Jibril akan menerapkan sinarnya yang cemerlang atas hati yang berhasrat tersebut dan mengukir gambaran dirinya di dalamnya.
     Jika nama malaikat yang ditempatkan di langit adalah Jibril, maka nama dari gambaran refleksi tersebut adalah Jibril juga. Bila nama malaikat tersebut adalah Ruhul Kudus maka nama dari gambaran refleksi tersebut adalah Ruhul Kudus pula. Tidak berarti bahwa malaikat bersangkutan memasuki wujud manusia, karena hanya refleksi dirinya yang muncul dalam hati manusia tersebut.
     Sebagai contoh, jika kalian menempatkan sebuah cermin jernih di depan  wajah maka setara dengan besarnya cermin, sebesar itu juga gambaran refleksinya terlihat di cermin. Keadaan demikian tidak menjadikan wajah atau kepala kalian terpisah dari tubuh dan ditempatkan di dalam cermin. Wajah atau kepala kalian tetap melekat di tubuhnya. Apa yang terpantul di cermin adalah gambarannya,  dan skala besarnya refleksi (pantulan) tersebut setara dengan besarnya cermin dari hati.
     Sebagai contoh, jika kalian melihat wajah di suatu cermin yang kecil berbentuk cincin maka kalian masih akan melihat wajah kalian tetapi dalam skala yang kecil pula. Bila yang digunakan adalah kaca yang besar yang bisa merefleksikan keseluruhan resam tubuh kalian, maka kalian akan melihat ciri dan anggota tubuh kalian dalam skala yang wajar.

Pentingnya Kesempurnaan Kuantitas dan Kualitas Kalbu

    Sama halnya dengan malaikat Jibril. Adalah malaikat Jibril yang menebarkan efek wahyu di hati seorang manusia suci yang sederhana, dan Jibril yang sama juga yang telah menebarkan efek wahyu di kalbu Hadhrat Rasulullah Saw.. Perbedaan di antara kedua bentuk wahyu tersebut adalah sebagaimana perbedaan refleksi di cermin yang sebesar cincin dengan cermin yang sebesar badan. Meskipun malaikatnya sama yaitu Jibril dan ia memberikan efek yang sama, namun yang dipengaruhinya tidak akan memperoleh kesan dan kejernihan yang sama.
       Perbedaan efek Jibrail tidak saja dalam masalah kuantitas tetapi juga dalam masalah kualitas atau mutu. Dengan kata lain, derajat kemurnian kalbu yang menjadi syarat penerimaan wahyu tidaklah sama pada semua penerima wahyu. Sebagaimana kalian ketahui, tidak semua cermin memiliki tingkat transparansi yang sama.
       Sebagian ada yang demikian jernih dan terang sehingga refleksi yang melihat ke dalamnya terlihat begitu sempurna, sedangkan yang lainnya terlihat buram dan berdebu yang menjadikan sulit melihat refleksi di dalamnya. Bahkan banyak cermin yang terdistorsi (berlekuk-lekuk) dimana refleksi mata mungkin terlihat tetapi hidungnya tidak, atau sebaliknya.
      Hal yang sama juga berlaku bagi cermin hati. Refleksi pada sebuah hati yang teramat murni akan terlihat amat jelas, adapun di hati yang berdebu maka pantulannya juga akan sedikit banyak buram. Kemurnian hati yang tertinggi dengan derajat yang paling sempurna hanya dimiliki oleh Hadhrat Rasulullah Saw.,  dan tidak ada kalbu manusia lainnya yang bisa menyamai kemurnian hati beliau.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 85-88, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 Mei    2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar