Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
KEUNGGULAN KEDUDUKAN ORANG-ORANG
KHUSUS DIBANDING PARA MALAIKAT & DUA MACAM PENGARUH MALAIKAT TERHADAP MANUSIA
Bab 47
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
bagian akhir sabda Masih Mau’ud a.s.
tentang pengertian hakiki sujud manusia
dan hakikat perintah “sujud”
kepada Adam:
“Perintah kepada para malaikat untuk bersujud ini tidak ada hubungannya dengan peristiwa ketika Adam diwujudkan (diciptakan). Kejadian
ini merupakan perintah terpisah yang
menyatakan bahwa jika manusia telah
mencapai derajatnya sebagai manusia seutuhnya dan telah mencapai keseimbangan dimana ruh Allah Yang Maha Kuasa telah bermukim di dalam dirinya, para malaikat
tersebut agar bersujud (patuh-taat) di
hadapan manusia sempurna seperti
itu. Dengan kata lain, para malaikat
diperintahkan untuk turun kepada manusia tersebut dengan membawa nur Ilahi dan membawakan berkat-berkat kepadanya.
Hal ini merupakan
indikasi dari kaidah abadi yang ditegakkan
Allah Swt. berkaitan dengan hamba-hamba
pilihan-Nya, dimana tiap orang yang telah berhasil mencapai keseimbangan spiritual di suatu zaman -- karena ruh Ilahi telah bermukim
di dalam dirinya, dengan pengertian bahwa manusia tersebut telah
melepaskan egonya dan mencapai
derajat keabadian bersama Tuhan-nya
-- maka para malaikat akan turun kepada yang bersangkutan secara khusus.
Walaupun [benar
bahwa] ketika manusia tersebut di
awal pencahariannya sudah juga dibantu oleh para malaikat, namun turunnya
malaikat setelah yang bersangkutan mencapai
tingkat kesempurnaan akan bersifat
demikian sempurna dan lengkap laiknya mereka itu bersujud kepadanya.
Persujudan mengindikasikan bahwa malaikat itu tidak lebih luhur dibanding seorang manusia sempurna, bahkan laiknya para hamba raja mereka itu menghormati
manusia sempurna tersebut dengan cara
bersujud di hadapannya.” (Tauzih Maram,
Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 77, London, 1984).
Bahwa yang dimaksud dengan manusia-manusia yang martabatnya
lebih mulia dari pada para malaikat tersebut bukanlah manusia secara umumnya melainkan manusia-manusia
yang khusus -- terutama yang tubuh ruhaninya
telah terbentuk sempurna, ibarat janin
dalam rahim ibu yang telah
memiliki ruh sehingga menjadi “ciptaan yang baru” (QS.23:13-15) --
mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu,
kemudian Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ
-- lalu Kami berfirman kepada para malaikat:
”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam", maka mereka
bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12).
Makna ayat: وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ -- “Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu,
kemudian Kami memberi kamu bentuk,“ manusia dapat menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah
liat -- oleh pembuat tembikar
-- mudah diberi bentuk apa
pun.
Tetapi perintah Allah Swt. kepada para malaikat
untuk sujud tersebut hanya kepada salah
seorang di antara mereka yang pembentukan
akhlak dan ruhaninya telah sempurna, yakni Adam atau khalifah Allah yakni Rasul
Allah: ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ
-- “lalu Kami berfirman kepada para malaikat:
”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu kepada Adam." Dalam hal ini yang dimaksud dengan Adam adalah Khalifah Allah
atau Rasul Allah (QS.2:31-36).
Makna Lain “Sujudnya” Para Malaikat
Kepada Adam & Alasan Penolakan Iblis “Sujud” Kepada Adam
Selanjutnya berfirman: فَسَجَدُوۡۤا
اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ – “maka mereka
bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.” Karena perintah supaya sujud kepada Adam a.s. – yakni Rasul
Allah -- itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu berlaku untuk semua makhluk -- termasuk iblis -- sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau “instrument” Allah Swt. yang
bertugas melaksanakan
perintah-perintah-Nya atau berbagai kehendak-Nya.
Terjadinya kemenangan
di pihak Rasul Allah dan orang-orang
yang beriman kepadanya serta kehancuran pihak para penentang Rasul
Allah -- sekali pun dari segi duniawi
mereka itu jauh lebih besar dan lebih
unggul --
merupakan salah satu bukti “sujudnya” para malaikat kepada Adam,
antara lain berupa terjadinya bala-bencana
serta azab-azab Ilahi lainnya (QS.6:165; QS.17:16; QS.35:19; QS.39:8;
QS.53:39), karena berbagai sumber daya
alam yang sebelumnya berhasil mereka kendalikan
(daya-gunakan) untuk kepentingan duniawi
mereka berubah menjadi berbagai sarana azab Ilahi yang menghancurkan kaum-kaum purbakala karena mendustakan dan menentang para Rasul Allah
yang diutus kepada mereka (QS.7:35-37; QS.29:41-42; QS.34:16-21).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman kepada iblis
mengenai alasan tidak mau “sujud”
kepada Adam bersama para malaikat:
قَالَ مَا مَنَعَکَ اَلَّا
تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ
فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia berfirman: “Apa yang telah menghalangi
engkau sehingga engkau tidak bersujud
yakni patuh sepenuhnya ketika Aku
memberi perintah kepada engkau?” قَالَ اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ وَّ
خَلَقۡتَہٗ مِنۡ طِیۡنٍ -- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau
menciptakan aku dari api dan Engkau
menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ
فِیۡہَا -- Dia berfirman:
”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, فَاخۡرُجۡ
اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ -- karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang
hina.” (Al- A’rāf [7]:13-14).
Iblis
itu bukan malaikat karena iblis
dari golongan jin (QS.18:51). Iblis adalah gembong ruh-ruh jahat sedangkan Jibril
adalah pemimpin malaikat-malaikat.
Kejadian yang disebutkan di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang
dapat disebut Adam pertama. Kejadian itu hanya berhubungan dengan Nabi Adam a.s.,
yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan Nabi
Nuh a.s. dan Nabi Ibrahim
a.s. serta keturunan
beliau-beliau.
Apa yang dikemukakan dalam ayat ini, sebagai percakapan antara Allah Swt. dan iblis -- demikian juga percakapan Allah Swt. dengan para malaikat (QS.2:31) -- tidak perlu diartikan bahwa wawancakap demikian benar-benar telah terjadi. Kata-kata itu hanya melukiskan keadaan-keadaan yang telah timbul
sebagai akibat penolakan iblis untuk sujud kepada Adam a.s.., yang pada zaman
itu sebagai Khalifah Allah
(QS.2:31-36).
Kata iblis berasal
dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2)
ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt., (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan
tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt. oleh
sikap pembangkangannya sendiri, maka
ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, tetapi
dalam beberapa hal berlainan dari
dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat
-- sebagaimana umumnya dipercayai
-- sebab iblis di sini dilukiskan
sebagai tidak patuh kepada Allah
Swst. sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
Allah Swt. telah murka
kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.
tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga dan pengendali berbagai
bagian alam semesta — dengan
sendirinya mencakup juga semua wujud.
Perbedaan Iblis dan Syaitan Berkenaan dengan Adam & Syaitan dari Kalangan Jin dan Ins (Manusia)
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang diberikan
atas dasar arti akar kata itu (ablasa) kepada ruh
jahat yang bertolak belakang dari
sifat malaikat. Diberi nama demikian
karena ia (iblis) mempunyai sifat-sifat
buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput
dari kebaikan dan telah dibiarkan
kebingungan dalam langkahnya dan hilang
harapan akan kasih-sayang Allah
Swt..
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama
itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam
a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang
cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam
a.s. maka senantiasa
Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran
membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam
a.s. harus keluar atau hijrah dari
“kebun” (jannah) maka Al-Quran
menyebutnya dengan nama syaitan
(QS.7:20-26 & 28), firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَیۡکُمۡ
مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا
سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا
تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tuamu
dari kebun, ia menanggalkan pakaian
keduanya itu untuk menampakkan kepada keduanya aurat mereka, sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihat kamu dari
tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami
telah menjadikan syaitan-syaitan itu
sahabat-sahabat bagi orang-orang
yang tidak beriman. (Al-A’rāf
[7]:28).
Ruh jahat
yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak nampak oleh mata. Mereka
mempergunakan pengaruh secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada
diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya.
Namun dalam
Al-Quran penyebutan syaitan berkenaan
dengan pengutusan para Rasul Allah
mengisyaratkan kepada para penentang
yang berusaha menggagalkan misi Rasul Allah untuk memurnikan kembali Tauhid
Ilahi dari berbagai bentuk kemusyrikan
(QS.6:112-114; QS.7:49; QS.22:53-58).
Allah Swt.
telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang
dalam perlombaan ruhani yang sedang
dihadapi manusia. Perintang-perintang
itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat
melainkan untuk menciptakan persaingan dalam
perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai, yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan
harus menyesali diri mereka sendiri
dan jangan menyalahkan orang atau pihak yang menempatkan
perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba dan menguji ketabahan
mereka.
Perbedaan penyebutan iblis
dan syaitan tersebut yang
sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada
sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51;
QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan
merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis
tergolong makhluk-makhluk Allah
tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat
— iblis mampu menaati atau menentang
Allah Swt..
Tiap Malaikat Mempunyai Tugas Khusus & Peran Malaikat
Jibril a.s.
Kembali
kepada masalah malaikat, selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kedudukan
para malaikat:
“Para
malaikat tidak sama derajat dan kedudukannya serta berbeda-beda
fungsinya masing-masing. Setiap malaikat
mempunyai tugas khusus. Perubahan apa pun yang terjadi di dunia dan gerakan apa pun yang muncul dari kekuatan yang latent (tersembunyi), keberhasilan
apa pun yang dicapai nurani dan jasmani dalam usaha mereka, semuanya itu dipengaruhi
oleh pengaruh-pengaruh Samawi.
Terkadang malaikat yang sama mempengaruhi berbagai kapasitas dengan cara yang berbeda.
Sebagai contoh, malaikat Jibril yang merupakan malaikat utama dan terkait dengan
segala benda langit yang bercahaya, ditugaskan melaksanakan berbagai tugas sejalan
dengan kinerja yang dilakukan benda-benda langit tersebut. Meskipun
ia turun kepada setiap orang yang dikaruniai dengan wahyu
Samawi, perlu diingat bahwa bentuk turunnya
tersebut bukan dalam pengertian nyata
tetapi berupa pengaruh.
Lingkaran efek turunnya malaikat Jibril bisa kecil atau pun besar, sepadan dengan kapasitas manusia bersangkutan. Lingkaran terbesar dari efek spiritual malaikat tersebut adalah
yang terkait dengan wahyu yang
diturunkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw.
Karena itulah maka wawasan, hakikat dan keluhuran kebijakan serta susunan
komposisinya telah mencapai kesempurnaan
di dalam Kitab Suci Al-Quran, yang tidak ada padanannya dalam kitab-kitab lainnya.
Dua Macam Pengaruh Malaikat
Terhadap Ruhani Manusia
Patut disimak
dalam fikiran kita, bahwa pengaruh malaikat atas ruhani manusia berbentuk dua macam:
Pertama,
adalah efek yang berdasarkan perintah Tuhan akan mempengaruhi benih yang ada di dalam rahim dengan beragam cara.
Kedua,
adalah efek yang beroperasi setelah manusia itu lahir, dengan tujuan menyempurnakan kapasitas tersembunyi di dalam diri manusia tersebut.
Efek yang kedua itu jika terkait dengan seorang nabi atau wali disebut
sebagai wahyu.
Nurani yang berhasrat kepada kemuliaan
nur keimanannya serta nur kasihnya
akan menciptakan tali perhubungan
dengan Sumber Mata Air Rahmat, dimana kasih
Allah yang memberi hidup akan tercermin pada kasihnya itu. Kapasitas
untuk itu sudah juga disampaikan malaikat
ketika yang bersangkutan masih dalam
rahim. Saat yang bersangkutan telah mencapai derajat kedekatan kepada Ilahi maka malaikat yang sama akan menerapkan kembali pengaruhnya
yang berisi nur atas diri manusia pilihan tersebut.
Malaikat bersangkutan tidak melakukan hal ini berdasarkan prakarsa sendiri tetapi dalam kapasitasnya sebagai hamba mediator. Sebagaimana halnya pipa yang menarik air dari sisi yang satu dan mengalirkannya ke sisi lain, pipa
ini akan menyerap nur rahmat Ilahi
dan dimana manusia karena kasihnya menempatkan diri dekat dengan pipa Ruhul Kudus tersebut,
maka rahmat wahyu akan mengalir melalui pipa tersebut kepada dirinya. Pada saat seperti itu, Jibril akan menerapkan sinarnya yang cemerlang atas hati yang berhasrat tersebut dan mengukir
gambaran dirinya di dalamnya.
Jika nama malaikat yang ditempatkan di
langit adalah Jibril, maka nama
dari gambaran refleksi tersebut
adalah Jibril juga. Bila nama malaikat tersebut adalah Ruhul Kudus maka nama dari gambaran refleksi
tersebut adalah Ruhul Kudus pula.
Tidak berarti bahwa malaikat
bersangkutan memasuki wujud manusia,
karena hanya refleksi dirinya yang muncul dalam hati manusia tersebut.
Sebagai contoh,
jika kalian menempatkan sebuah cermin
jernih di depan wajah maka setara dengan
besarnya cermin, sebesar itu juga gambaran refleksinya terlihat di cermin. Keadaan demikian tidak
menjadikan wajah atau kepala kalian terpisah dari tubuh dan ditempatkan di dalam cermin. Wajah atau kepala kalian tetap melekat
di tubuhnya. Apa yang terpantul di cermin adalah gambarannya, dan skala
besarnya refleksi (pantulan) tersebut setara dengan besarnya cermin dari hati.
Sebagai contoh,
jika kalian melihat wajah di suatu cermin yang kecil berbentuk cincin
maka kalian masih akan melihat wajah
kalian tetapi dalam skala yang kecil pula. Bila yang digunakan adalah kaca yang besar yang bisa merefleksikan keseluruhan resam tubuh kalian, maka kalian akan melihat ciri dan anggota tubuh kalian dalam skala
yang wajar.
Pentingnya Kesempurnaan Kuantitas
dan Kualitas Kalbu
Sama halnya
dengan malaikat Jibril. Adalah malaikat Jibril yang menebarkan efek wahyu di hati seorang manusia suci
yang sederhana, dan Jibril yang sama juga yang telah menebarkan
efek wahyu di kalbu Hadhrat
Rasulullah Saw.. Perbedaan di
antara kedua bentuk wahyu tersebut
adalah sebagaimana perbedaan refleksi
di cermin yang sebesar cincin dengan cermin
yang sebesar badan. Meskipun malaikatnya
sama yaitu Jibril dan ia
memberikan efek yang sama, namun
yang dipengaruhinya tidak akan
memperoleh kesan dan kejernihan yang sama.
Perbedaan efek Jibrail tidak saja dalam masalah kuantitas tetapi juga dalam masalah kualitas atau mutu. Dengan kata lain, derajat
kemurnian kalbu yang menjadi syarat
penerimaan wahyu tidaklah sama
pada semua penerima wahyu.
Sebagaimana kalian ketahui, tidak semua
cermin memiliki tingkat transparansi yang sama.
Sebagian ada
yang demikian jernih dan terang sehingga refleksi yang melihat ke
dalamnya terlihat begitu sempurna,
sedangkan yang lainnya terlihat buram
dan berdebu yang menjadikan sulit melihat refleksi di dalamnya.
Bahkan banyak cermin yang terdistorsi (berlekuk-lekuk) dimana refleksi mata mungkin terlihat tetapi hidungnya tidak, atau
sebaliknya.
Hal yang sama
juga berlaku bagi cermin hati. Refleksi pada sebuah hati yang teramat murni akan terlihat amat
jelas, adapun di hati yang berdebu maka pantulannya juga akan sedikit banyak buram. Kemurnian hati
yang tertinggi dengan derajat yang paling sempurna hanya dimiliki oleh Hadhrat Rasulullah Saw., dan
tidak ada kalbu manusia lainnya yang
bisa menyamai kemurnian hati beliau.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh
Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. III, hlm. 85-88, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 17 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar