Senin, 09 Mei 2016

Hanya Allah Swt. "Sembahan" Hakiki & Perbedaan Perlakuan Allah Swt. Terhadap Manusia Ketika Sebagai "Janin" Dalam "Rahim" dan Setelah Dilahirkan Sebagai Bayi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

   MALAIKAT ALLAH  



HANYA ALLAH SWT. "SEMBAHAN" HAKIKI & PERBEDAAN "PERLAKUAN" ALLAH SWT. TERHADAP MANUSIA KETIKA SEBAGAI  JANIN DALAM RAHIM DAN SETELAH DILAHIRKAN SEBAGAI BAYI 


Bab 42

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai jawaban para malaikat terhadap pertanyaan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini mempertegas kebenaran sabda Masih Mau’ud a.s. tentang  peran dan posisi para malaikat  sebagai “sarana penghubung”:
َ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ یَقُوۡلُ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اَہٰۤؤُلَآءِ  اِیَّاکُمۡ کَانُوۡا یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾   قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ اَنۡتَ وَلِیُّنَا مِنۡ دُوۡنِہِمۡ ۚ بَلۡ کَانُوۡا یَعۡبُدُوۡنَ الۡجِنَّ ۚ اَکۡثَرُہُمۡ بِہِمۡ  مُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan pada  hari   Dia akan menghimpun mereka semuanya, kemudian Dia akan berfirman kepada para malaikat:  “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Mereka berkata:  Maha Suci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami terhadap mereka. Tidak, bahkan mereka menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepadanya.” (Saba [34]:41-42).
     Ada pun yang dimaksud dengan “menyembah jin” maksudnya adalah;  (1) menyembah makhluk-makhluk gaib atau  “menyembah syaitan” (QS.19:69-71), (2) menyembah para pemimpin kaum, karena jin dan syaitan pun  dalam Al-Quran   mengisyaratkan pula kepada para pemimpin kaum   kafir yang menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka (QS.2:15; QS.6:112-114; QS.8:49;QS.22:53).

Hubungan Kinerja Para Malaikat dan Berfungsinya Seluruh Komponen  Alam Semesta

     Pendek kata, berfungsinya seluruh komponen alam semesta berhubungan erat dengan kinerja para malaikat yang merupakan “sarana penghubungan” antara Allah Swt. dengan seluruh ciptaan-Nya yang berjasad, firman-Nya:
لَہٗ  مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ  یَحۡفَظُوۡنَہٗ  مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ؕ وَ  اِذَاۤ   اَرَادَ  اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ  لَہٗ ۚ وَ مَا لَہُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖ مِنۡ  وَّالٍ ﴿﴾
Untuk dia yakni rasul ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya  Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki untuk menghukum suatu kaum maka tidak ada yang dapat menghindarkannya, dan tidak ada bagi mereka penolong selain dari Dia. (Ar-Rā’d [13]:12).  
       Yang dimaksudkan oleh kata al-mu’aqqibat dalam ayat:  لَہٗ  مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ  یَحۡفَظُوۡنَہٗ  مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ    ialah malaikat-malaikat malam hari dan siang hari, sebab mereka itu menggantikan satu sama lain secara bergiliran. Oleh karena para malaikat melakukan hal demikian berulang kali, maka bentuk jamak muannats (betina) itulah yang dipakainya di sini, dikarenakan dalam bahasa Arab bentuk muannats kadang-kadang dipakai untuk memberi tekanan atau untuk menyatakan  bahwa sesuatu itu sering terjadi.
   Kata yang diterjemahkan di sini “pergiliran malaikat-malaikat”, mungkin mengisyaratkan kepada makhluk-makhluk samawi, atau kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  yang setia, yang senantiasa menjaga beliau saw. tanpa memperhitungkan bahaya terhadap jiwa mereka sendiri. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai gejala-gejala di  langit:
ہُوَ  الَّذِیۡ یُرِیۡکُمُ  الۡبَرۡقَ خَوۡفًا وَّ طَمَعًا  وَّ یُنۡشِیُٔ  السَّحَابَ  الثِّقَالَ ﴿ۚ﴾   وَ یُسَبِّحُ الرَّعۡدُ بِحَمۡدِہٖ  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مِنۡ خِیۡفَتِہٖ ۚ وَ یُرۡسِلُ الصَّوَاعِقَ فَیُصِیۡبُ بِہَا مَنۡ یَّشَآءُ  وَ ہُمۡ  یُجَادِلُوۡنَ فِی اللّٰہِ ۚ وَ ہُوَ  شَدِیۡدُ الۡمِحَالِ ﴿ؕ﴾
Dia-lah Yang memperlihatkan kepada kamu kilat untuk membangkitkan ketakutan dan pengharapan, dan Dia menimbulkan awan-awan hujan yang tebal.   Dan guruh itu bertasbih dengan pujian-Nya  dan juga malaikat-malaikat karena takut kepada-Nya, dan  Dia mengirimkan petir lalu  menimpakannya kepada  siapa yang Dia kehendaki, tetapi mereka itu berbantah mengenai Allah, dan Dia sangat keras dalam menyiksa. (Ar-Rā’d [13]:13:14).
     Kilat membangkitkan rasa takut dan harapan, kilat itu menimbulkan rasa takut, sebab kadang-kadang orang mati karenanya, dan mudigah-mudigah (janin-janin) serta tumbuh-tumbuhan tertentu mendapat pengaruh tidak baik dari kilat itu. Ia membawa pula harapan kepada manusia, sebab ia menjadi tanda akan kedatangan hujan penyubur, dan membantu pula untuk membinasakan kuman-kuman pelbagai penyakit, dan dengan demikian menjadi berguna untuk menghindarkan berjangkitnya wabah-wabah.
    Dalam ayat-ayat tersebut bertasbihnya gejala-gejala langit kepada Allah Swt. disebutkan bersama dengan bertasbihnya para malaikat, karena keduabelah pihak memiliki hubungan langsung sebagai  pelaksanaan kehendak Allah Swt. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kesia-siaan penyembahan kepada tuhan-tuhan sembahan selain Allah Swt.:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,     dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15:16). 

Hanya Allah Swt. yang Berhak Disembah dan Diminta Pertolongan-Nya

    Ungkapan ayat:  لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ -- “Hanya bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar)“ diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt. sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.  sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt.   sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt.  sajalah yang akan unggul.
      Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati. Itulah makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.”
        Ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --  “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”,  mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt.   mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh-Nya.
      Contohnya lidah harus melaksanakan tugas mencicip,  dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
     Namun demikian dalam perbuatan-perbuatan  --  yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan  -- ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.  dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak. Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --  “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu   orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.,   dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah swt.   dengan menggerutu (terpaksa).

Ketidak-berdayaan “Sembahan-sembahan Palsu”  

       Selanjutnya Allah Swt. menyatakan mengenai  kelemahan dan ketidak-berdayaan “sembahan-sembahan palsu”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan  orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah Yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).  
     Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan ke-Esa-an Allah Swt.:  (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada  ke-Esa-an Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
       Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.  itu “Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt.,  sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:1-5).
    Allah Swt. berfirman mengenai keabadian  Wujud-Nya (Dzat-Nya) dan kesempurnaan  Sifat-sifat-Nya:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).

Malaikat Mengemban Tugas Masing-masing

   Makna ayat:  : کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ  -- “Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa,” bahwa     seluruh alam semesta tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu alam semesta  ini ditakdirkan akan binasa.   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --  dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan,   hanya Allah Swt. – sebagai Tuhan Pencipta – sajalah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu
   Wajh  dalam ayat tersebut  antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia;  wajah (Aqrab-ul-Mawarid).   Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal (logika) manusia menuntut bahwa seyogianya  harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah  Allah Swt., Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta.
  Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam  yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
  Untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya  seluruh  makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat Allah Swt. tersebut menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa: کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.”
   Jadi, Dzat atau Wujud Allah Swt. adalah Maha Kekal (Al-Baqa), ada pun yang berubah adalah dalam penjelmaaan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya   sebagai bukti bahwa Allah Swt. adalah Ash-Shamad,  yakni Wujud Tuhan Yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu   (QS.112:3).   Shamad berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  “Dia-lah  Allah  Yang Maha Esa. اَللّٰہُ  الصَّمَدُ  --    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ --      Dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).         
   Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu Sifat Allah Swt., berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
   Sifat Allah Swt. Ash-Shamad   ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya (QS.36:37).
   Allah Swt. sajalah   Wujud Tuhan  Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan dan  Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas, namun demikian guna mengokohkan Sifat Ash-Shamad-Nya guna memenuhi  semua kebutuhan seluruh makhluk-Nya – teruatama umat manusia – Dia berfirman: کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. (Ar-Rahmān [55]:30).    

Cara  Kerja Allah Swt.    yang Berlainan Terhadap Bayi Dalam Rahim dan di Luar Rahim Ibu

     Sehubungan dengan ayat tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai cara Allah Swt. memenuhi kebutuhan hidup manusia ketika masih sebagai janin dalam rahim ibu, setelah menjadi bayi dan setelah menjadi balita hingga menjadi manusia dewasa:
      “Tidak ada dalam Al-Quran dinyatakan bahwa Tuhan itu bisa berubah Sifat, tetapi jelas dikatakan kalau manusia memang mudah berubah. Adapun Tuhan menjalankan proses perubahan sejalan dengan kodrat-Nya. Ketika seorang anak berada di dalam rahim maka ia dihidupi oleh darah ibunya dan ketika telah lahir maka ia dihidupi pada awalnya oleh susu dan setelah itu dengan makanan lainnya. Allah Swt. telah mengatur hal ini dalam suatu proses yang berlangsung bersama waktu.
      Ketika anak itu berada dalam rahim maka Tuhan mengatur agar partikel-partikel internal dalam tubuh ibunya untuk memproduksi darah baginya. Ketika sudah lahir maka pengaturan tersebut dibatalkan. Malaikat sebagai partikel-partikel yang mengatur susu ibu, diperintahkan untuk menghasilkan susu.
      Begitu anak itu selesai masa susuannya maka perintah itu pun dibatalkan dan malaikat yang merupakan partikel bumi diperintahkan untuk menghasilkan makanan dan minuman baginya sampai akhir hayatnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi gambaran perubahan dalam firman Tuhan.
      Tuhan sudah memberitahukan kepada kita melalui Al-Quran bahwa sistem alamiah ini tidak berjalan dengan sendirinya dan bahwa semua partikel atau zarah dari semua benda-benda mendengar perintah Tuhan dan berlaku sebagai malaikat-Nya. Para malaikat tersebut ditugaskan oleh Wujud-Nya untuk melaksanakan berbagai fungsi yang telah ditetapkan atas mereka masing-masing dimana mereka melaksanakan semuanya sejalan dengan perintah-Nya.
      Partikel dari emas akan menghasilkan emas, partikel perak menghasilkan perak, partikel mutiara akan menghasilkan mutiara, sedangkan partikel dari tubuh manusia menyiapkan anaknya di dalam rahim. Keseluruhan partikel tersebut tidak berfungsi atas kemauannya sendiri, melainkan mengikuti perintah suara Tuhan dan bekerja sejalan dengan itu. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai malaikat-Nya.
      Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka semua itu termasuk malaikat bumi. Adapun malaikat langit melaksanakan pengaruhnya dari langit, seperti sinar matahari yang merupakan malaikat Tuhan yang menjadikan matang buah-buahan di pohon dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat Tuhan yang menghimpun awan yang mempengaruhi ladang pertanian dengan berbagai cara.
     Di samping mereka terdapat banyak lagi berbagai malaikat dengan fungsinya masing-masing. Alam menjadi saksi bahwa malaikat merupakan wujud yang esensial dan kita bisa menyaksikan kinerjanya dengan mata kita sendiri.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. XIX, hlm.  89-90, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 10 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar