Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HANYA ALLAH SWT. "SEMBAHAN" HAKIKI & PERBEDAAN "PERLAKUAN" ALLAH SWT. TERHADAP MANUSIA KETIKA SEBAGAI JANIN DALAM RAHIM DAN SETELAH DILAHIRKAN SEBAGAI BAYI
Bab 42
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai jawaban para malaikat terhadap pertanyaan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini mempertegas kebenaran sabda Masih Mau’ud a.s. tentang peran
dan posisi para malaikat sebagai “sarana penghubung”:
َ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ
یَقُوۡلُ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اَہٰۤؤُلَآءِ اِیَّاکُمۡ کَانُوۡا
یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
سُبۡحٰنَکَ اَنۡتَ وَلِیُّنَا مِنۡ دُوۡنِہِمۡ ۚ بَلۡ کَانُوۡا یَعۡبُدُوۡنَ
الۡجِنَّ ۚ اَکۡثَرُہُمۡ بِہِمۡ
مُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan pada hari Dia
akan menghimpun mereka semuanya, kemudian Dia akan berfirman kepada para malaikat: “Apakah mereka
ini dahulu menyembah kamu?” Mereka berkata: ”Maha Suci Engkau, Engkau-lah Pelindung
kami terhadap mereka. Tidak, bahkan
mereka menyembah jin, kebanyakan mereka
beriman kepadanya.” (Saba [34]:41-42).
Ada pun yang
dimaksud dengan “menyembah jin”
maksudnya adalah; (1) menyembah makhluk-makhluk gaib atau “menyembah
syaitan” (QS.19:69-71), (2) menyembah para pemimpin kaum, karena jin
dan syaitan pun dalam Al-Quran mengisyaratkan pula kepada para pemimpin kaum kafir yang menentang para Rasul Allah yang diutus kepada
mereka (QS.2:15; QS.6:112-114; QS.8:49;QS.22:53).
Hubungan Kinerja Para Malaikat dan
Berfungsinya Seluruh Komponen Alam Semesta
Pendek kata,
berfungsinya seluruh komponen alam
semesta berhubungan erat dengan kinerja
para malaikat yang merupakan “sarana penghubungan” antara Allah Swt.
dengan seluruh ciptaan-Nya yang
berjasad, firman-Nya:
لَہٗ
مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ یَحۡفَظُوۡنَہٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی
یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ؕ وَ
اِذَاۤ اَرَادَ اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَہٗ ۚ وَ مَا لَہُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖ مِنۡ وَّالٍ ﴿﴾
Untuk dia yakni rasul ada pergiliran malaikat-malaikat
di hadapannya dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada
diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki
untuk menghukum suatu kaum maka tidak
ada yang dapat menghindarkannya, dan tidak
ada bagi mereka penolong selain dari Dia.
(Ar-Rā’d
[13]:12).
Yang dimaksudkan oleh kata al-mu’aqqibat
dalam ayat: لَہٗ
مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ یَحۡفَظُوۡنَہٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ ialah malaikat-malaikat
malam hari dan siang hari, sebab
mereka itu menggantikan satu sama
lain secara bergiliran. Oleh karena
para malaikat melakukan hal demikian berulang kali, maka bentuk jamak muannats
(betina) itulah yang dipakainya di sini, dikarenakan dalam bahasa Arab bentuk muannats kadang-kadang dipakai untuk
memberi tekanan atau untuk menyatakan
bahwa sesuatu itu sering terjadi.
Kata yang diterjemahkan di sini “pergiliran
malaikat-malaikat”, mungkin mengisyaratkan kepada makhluk-makhluk samawi, atau kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang setia,
yang senantiasa menjaga beliau saw. tanpa
memperhitungkan bahaya terhadap jiwa mereka sendiri. Selanjutnya Allah
Swt. berfirman mengenai gejala-gejala
di langit:
ہُوَ
الَّذِیۡ یُرِیۡکُمُ الۡبَرۡقَ
خَوۡفًا وَّ طَمَعًا وَّ یُنۡشِیُٔ السَّحَابَ
الثِّقَالَ ﴿ۚ﴾ وَ یُسَبِّحُ الرَّعۡدُ بِحَمۡدِہٖ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مِنۡ خِیۡفَتِہٖ ۚ وَ
یُرۡسِلُ الصَّوَاعِقَ فَیُصِیۡبُ بِہَا مَنۡ یَّشَآءُ وَ ہُمۡ
یُجَادِلُوۡنَ فِی اللّٰہِ ۚ وَ ہُوَ
شَدِیۡدُ الۡمِحَالِ ﴿ؕ﴾
Dia-lah Yang memperlihatkan kepada kamu kilat untuk membangkitkan ketakutan dan pengharapan, dan Dia
menimbulkan awan-awan hujan yang tebal. Dan guruh itu bertasbih dengan pujian-Nya dan juga malaikat-malaikat karena takut
kepada-Nya, dan Dia mengirimkan petir lalu menimpakannya
kepada siapa yang Dia kehendaki,
tetapi mereka itu berbantah mengenai
Allah, dan Dia sangat keras dalam menyiksa. (Ar-Rā’d [13]:13:14).
Kilat membangkitkan rasa takut dan harapan, kilat
itu menimbulkan rasa takut, sebab
kadang-kadang orang mati karenanya,
dan mudigah-mudigah (janin-janin)
serta tumbuh-tumbuhan tertentu
mendapat pengaruh tidak baik dari kilat itu. Ia membawa pula harapan kepada manusia, sebab ia menjadi
tanda akan kedatangan hujan penyubur, dan membantu pula untuk membinasakan kuman-kuman pelbagai penyakit, dan dengan demikian menjadi
berguna untuk menghindarkan berjangkitnya
wabah-wabah.
Dalam ayat-ayat tersebut bertasbihnya gejala-gejala langit kepada Allah Swt. disebutkan
bersama dengan bertasbihnya para malaikat, karena keduabelah pihak
memiliki hubungan langsung
sebagai pelaksanaan kehendak Allah Swt. Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai kesia-siaan penyembahan
kepada tuhan-tuhan sembahan selain
Allah Swt.:
لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ ؕ وَ
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا
یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا
کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ
لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ
لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ
ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d
[13]:15:16).
Hanya Allah Swt. yang Berhak Disembah dan Diminta Pertolongan-Nya
Ungkapan ayat:
لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- “Hanya
bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)“ diterjemahkan
sebagai berikut: (1) Allah Swt. sajalah yang layak
disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.
sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran;
dan (4) suara Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan
segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt.
kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang
mereka berhak memilikinya. Hanya itu
saja satu-satunya jalan untuk mencapai
sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Itulah makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ -- “dan
mereka yang diseru oleh orang-orang itu
selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,
وَ
مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka.”
Ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”, mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan
Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh-Nya.
Contohnya lidah
harus melaksanakan tugas mencicip, dan telinga
tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu
dapat disebut sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di
mana ia dapat mempergunakan kemauannya
dan pertimbangan akalnya.
Namun demikian dalam perbuatan-perbuatan -- yang untuk melakukannya ia nampaknya
dianugerahi kebebasan -- ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan,
dan ia harus menaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka
atau tidak. Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat
juga mengisyaratkan kepada dua golongan
manusia, yaitu orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk
kepada Allah Swt., dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah swt. dengan menggerutu (terpaksa).
Ketidak-berdayaan “Sembahan-sembahan Palsu”
Selanjutnya Allah Swt. menyatakan
mengenai kelemahan dan ketidak-berdayaan
“sembahan-sembahan palsu”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil
selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan
untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang
yang melihat? Atau samakah gelap
dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah
sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah Yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Al-Quran memakai dua kata yang
berlainan untuk menyatakan ke-Esa-an
Allah Swt.: (1) Ahad
dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada ke-Esa-an
Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya
berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang
ketiga sebagai lanjutannya.
Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt. itu “Sumber”
sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah
Swt., sebagaimana
seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada
yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran
menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan
itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa
serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:1-5).
Allah Swt.
berfirman mengenai keabadian Wujud-Nya (Dzat-Nya) dan kesempurnaan Sifat-sifat-Nya:
کُلُّ
مَنۡ عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ
یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --dan akan
kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan)
engkau, Pemilik segala kemegahan
dan kemuliaan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Kepada-Nya memohon segala yang
ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- Setiap hari Dia menampakkan
sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.
Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Ar-Rahmān
[55]:27-31).
Malaikat Mengemban Tugas Masing-masing
Makna ayat:
: کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ -- “Segala sesuatu yang ada di atasnya
akan binasa,” bahwa seluruh alam
semesta tunduk kepada hukum kerusakan
dan kematian, dan oleh sebab itu alam semesta ini ditakdirkan
akan binasa. وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan)
engkau, Pemilik segala kemegahan
dan kemuliaan, hanya Allah Swt. –
sebagai Tuhan Pencipta – sajalah Yang
kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu
Wajh dalam ayat tersebut antara lain berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan
perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia; wajah (Aqrab-ul-Mawarid). Karena bumi
ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan,
tetapi akal (logika) manusia menuntut
bahwa seyogianya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah
mati atau tunduk kepada hukum
perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Allah
Swt., Tuhan Yang menciptakan
seluruh alam semesta.
Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam yang tidak
akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan,
dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
Untuk mempertahankan
hidup dan memenuhi segala keperluannya seluruh makhluk
bergantung pada Allah Swt., Yang
adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat
Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat Allah Swt. tersebut menjelmakan
diri dalam berbagai cara di
sepanjang masa: کُلَّ یَوۡمٍ
ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.”
Jadi, Dzat atau Wujud Allah Swt. adalah Maha Kekal (Al-Baqa), ada pun yang berubah adalah dalam penjelmaaan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya sebagai bukti bahwa Allah Swt. adalah Ash-Shamad,
yakni Wujud Tuhan Yang kepada-Nya bergantung
segala sesuatu (QS.112:3). Shamad
berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang
kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat
diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di
atasnya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. اَللّٰہُ الصَّمَدُ
-- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ -- Dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan-Nya.”
(Al-Ikhlash
[112]:1-5).
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu Sifat Allah Swt., berarti:
Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat
memenuhi segala keperluan; Yang tidak
bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya
segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya;
Yang akan terus berwujud untuk
selama-lamanya meski seluruh makhluk
sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada
wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Sifat Allah Swt. Ash-Shamad ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud
mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala
sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan
Dia, tetapi Dia tidak memerlukan
siapapun. Dia tidak memerlukan wujud
atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri
sendiri); tiap sesuatu bergantung
pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya (QS.36:37).
Allah Swt. sajalah Wujud Tuhan Yang tidak
bergantung pada wujud mana pun
dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan
dan Sifat-sifat-Nya
tidak mengenal batas, namun demikian
guna mengokohkan Sifat Ash-Shamad-Nya
guna memenuhi semua kebutuhan seluruh makhluk-Nya
– teruatama umat manusia – Dia
berfirman: کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ
-- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.” (Ar-Rahmān [55]:30).
Cara Kerja Allah Swt. yang Berlainan
Terhadap Bayi Dalam Rahim dan di Luar Rahim Ibu
Sehubungan dengan ayat tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai cara Allah Swt. memenuhi kebutuhan hidup manusia ketika masih
sebagai janin dalam rahim ibu, setelah menjadi bayi dan setelah menjadi balita hingga menjadi manusia dewasa:
“Tidak ada dalam Al-Quran dinyatakan
bahwa Tuhan itu bisa berubah Sifat, tetapi jelas dikatakan kalau manusia memang mudah berubah. Adapun Tuhan
menjalankan proses perubahan sejalan
dengan kodrat-Nya. Ketika seorang anak
berada di dalam rahim maka ia dihidupi oleh darah ibunya dan ketika telah lahir
maka ia dihidupi pada awalnya oleh susu dan setelah itu dengan makanan lainnya. Allah Swt. telah mengatur hal ini dalam suatu proses yang
berlangsung bersama waktu.
Ketika anak itu berada dalam rahim maka Tuhan mengatur agar
partikel-partikel internal dalam tubuh ibunya untuk memproduksi darah baginya. Ketika sudah lahir maka pengaturan
tersebut dibatalkan. Malaikat sebagai partikel-partikel yang mengatur
susu ibu, diperintahkan untuk menghasilkan susu.
Begitu anak itu selesai masa susuannya maka perintah
itu pun dibatalkan dan malaikat yang merupakan partikel bumi diperintahkan untuk menghasilkan makanan dan minuman baginya sampai akhir hayatnya. Hal-hal seperti inilah
yang menjadi gambaran perubahan
dalam firman Tuhan.
Tuhan sudah memberitahukan kepada kita melalui Al-Quran bahwa sistem
alamiah ini tidak berjalan dengan
sendirinya dan bahwa semua partikel
atau zarah dari semua benda-benda mendengar
perintah Tuhan dan berlaku
sebagai malaikat-Nya. Para malaikat tersebut ditugaskan oleh Wujud-Nya
untuk melaksanakan berbagai fungsi yang telah ditetapkan atas mereka
masing-masing dimana mereka
melaksanakan semuanya sejalan dengan perintah-Nya.
Partikel dari emas akan menghasilkan emas,
partikel perak menghasilkan perak, partikel mutiara akan menghasilkan mutiara, sedangkan partikel
dari tubuh manusia menyiapkan anaknya di dalam rahim. Keseluruhan partikel
tersebut tidak berfungsi atas kemauannya
sendiri, melainkan mengikuti perintah
suara Tuhan dan bekerja sejalan
dengan itu. Itulah sebabnya mereka disebut
sebagai malaikat-Nya.
Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka semua itu termasuk malaikat
bumi. Adapun malaikat langit
melaksanakan pengaruhnya dari langit,
seperti sinar matahari yang
merupakan malaikat Tuhan yang menjadikan matang buah-buahan di pohon
dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat Tuhan yang menghimpun
awan yang mempengaruhi ladang
pertanian dengan berbagai cara.
Di samping mereka
terdapat banyak lagi berbagai malaikat
dengan fungsinya masing-masing. Alam menjadi saksi bahwa malaikat
merupakan wujud yang esensial dan kita bisa menyaksikan kinerjanya dengan
mata kita sendiri.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIX, hlm. 89-90, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 10 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar