Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
UPAYA
PERSAINGAN GOLONGAN JIN (BLOK
KAPITALISME) DAN GOLONGAN INS (BLOK
SOSIALISME) MENEMBUS LANGIT DAN BUMI & GAMBARAN
MENGERIKAN PERANG NUKLIR
Bab 55
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan makna
ayat: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu
memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا
تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman [55]:34).
Ayat ini telah diberi
bermacam-macam penafsiran. Menurut
suatu penafsiran, bahwa para ilmuwan dan para ahli filsafat yang membanggakan
diri mengenai kemajuan besar yang
telah dicapai mereka dalam bidang ilmu
duniawi telah diberitahu, bahwa kendati
pun betapa besarnya kemajuan yang
mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu serta teknologi
(iptek), tetapi mereka tidak akan dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam
semesta ini dengan sepenuhnya.
Ketidak-terbatasan Khazanah
Ilmu Allah Swt.
Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian
mereka, sebab khazanah pengetahuan milik
Allah Swt. yang dikandung alam semesta tidak terbatas, firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ
لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ
کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku
(Tuhan-ku), niscaya lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan,
sekalipun Kami datangkan sebanyak itu
lagi sebagai tambahannya. (Al-Kahf
[18]:110).
Firman-Nya
lagi:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ
شَجَرَۃٍ اَقۡلَامٌ وَّ
الۡبَحۡرُ یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ
مَّا نَفِدَتۡ کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan seandainya
pohon-pohon di bumi ini menjadi pena dan laut ditambahkan
kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi
tinta, kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Luqman [31]:28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah
besar, dan bukan benar-benar “tujuh”
dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka
bilangan lazim.
Sehubungan
dengan ayat: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin
dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus
batas-batas seluruh langit dan bumi
maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan,” (Ar-Rahman [55]:34), bangsa-bangsa
Kristen dari barat – penganut system kapitalisme atau “jin”-- dan penganut sosialisme
atau “ins” yang atheis, kedua golongan
besar tersebut membanggakan diri
atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan, dan nampaknya mereka
dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui
seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq
(penciptaan) itu sendiri.
Menurut Allah
Swt. hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka, sebab rahasia-rahasia Allah Swt. tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia
Allah atau rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera.
Upaya Persaingan “Menembus
Langit dan Bumi” Blok
Kapitalisme (Jin) dan Blok Sosialisme (Ins) yang Menciptakan “Kobaran
Api”
Menurut penafsiran lain ayat ini یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu
memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا
تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan,” Allah Swt. memperingatkan orang-orang berdosa: “Biarkanlah
mereka memberanikan diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak
akan mampu menentang hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak
akan dapat meloloskan diri dari azab Ilahi.”
Ayat ini dapat juga
mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket,
sputnik-sputnik, dan kendara ruang-angkasa
lainnya, yang dengan alat-alat (sarana-sarana)
tersebut orang-orang Rusia dan Amerika Serikat berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling mereka
hanya akan dapat mencapai beberapa planet
terdekat dari bumi, tetapi jagat-jagat raya ciptaan Allah Swt. tidak mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.
Jadi, berbagai keberhasilan duniawi yang diraih kedua blok (golongan) manusia
di Akhir Zaman ini tersebut bukan merupakan sesuatu yang
dapat “dibanggakan” jika dibandingkan
dengan tidak-terbatasnya khazanah
milik Allah Swt. yang terkandung di alam
semesta yang luas atau besarnya tak terhingga ini.
Kesia-siaan upaya mereka itu karena mereka sendiri secara sadar telah mendustakan
Allah
Swt. sebagai Tuhan Pencipta
hakiki alam semesta ini, antara lain dengan menjadikan wujud-wujud yang lemah sebagai
sembahan-sembahan selain-Nya.
Bahkan segolongan dari mereka mendustakan
keberadaan Wujud Tuhan Pencipta alam
semesta ini (atheis) dan mendustakan akhirat (QS.6:30-31; QS.23:34-39;
QS.45:23-27).
Sebagai akibatnya Allah Swt. memperingatkan mereka dalam ayat
selanutnya: یُرۡسَلُ
عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ -- “Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api,
dan leburan tembaga, lalu
kamu berdua tidak akan dapat menolong
diri sendiri.” (Ar-Rahman [55]:36), ayat tersebut mengisyaratkan
kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan
yang akan menimpa kedua blok yang bermusuhan
itu.
Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang
api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan
seluruh peradaban manusia, contohnya yang nyata adalah Perang Dunia I dan Perang
Dunia II, sedangkan mengenai meletusnya
Perang Dunia III atau Perang Nuklir sulit untuk dihindari, firman-Nya:
ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ
رَبِّہِمۡ ۫ فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ مِّنۡ نَّارٍ ؕ
یُصَبُّ مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ ﴿ۚ﴾ یُصۡہَرُ بِہٖ
مَا فِیۡ بُطُوۡنِہِمۡ وَ الۡجُلُوۡدُ ﴿ؕ﴾ وَ
لَہُمۡ مَّقَامِعُ مِنۡ حَدِیۡدٍ ﴿﴾ کُلَّمَاۤ اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ
غَمٍّ اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ ﴿٪﴾ وَ ذُوۡقُوۡا
عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ﴿٪﴾
Mereka berdua ini golongan petengkar yang berbantah mengenai Rabb (Tuhan) mereka, فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ
مِّنۡ نَّارٍ -- maka orang-orang
kafir bagi mereka akan dipotongkan
pakaian-pakaian dari api, یُصَبُّ
مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ -- dituangkan
dari atas kepala mereka air
mendidih. یُصۡہَرُ بِہٖ
مَا فِیۡ بُطُوۡنِہِمۡ وَ الۡجُلُوۡدُ -- Akan dilebur dengannya apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka وَ لَہُمۡ
مَّقَامِعُ مِنۡ حَدِیۡدٍ -- dan bagi
mereka ada cambuk-cambuk besi. کُلَّمَاۤ
اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا -- Setiap kali mereka hendak ke luar dari situ karena sedih, mereka akan dikembalikan ke dalamnya وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ -- dan, dikatakan: ”Rasakanlah azab yang membakar!” (Al-Hajj
[22]:20-23).
Ancaman “Perang Nuklir”
Isyarat dalam kata-kata “Mereka berdua ini”
ditujukan kepada dua golongan manusia,
yaitu orang-orang beriman penganut Tauhid
Ilahi dan orang-orang kafir yang
menentang Tauhid Ilahi, di Akhir
Zaman ini adalah golongan
jin dan ins yang bangga dengan kepiawaian mereka “mengelola
energi api” – termasuk energi nuklir -- yang akan
menjadi sarana azab Ilahi,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ سَاَلَ سَآئِلٌۢ
بِعَذَابٍ وَّاقِعٍ ۙ﴿﴾ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ لَیۡسَ لَہٗ دَافِعٌ ۙ﴿﴾ مِّنَ
اللّٰہِ ذِی الۡمَعَارِجِ ؕ﴿﴾ تَعۡرُجُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ
خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ﴿﴾ فَاصۡبِرۡ صَبۡرًا
جَمِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّہُمۡ یَرَوۡنَہٗ
بَعِیۡدًا ۙ﴿﴾ وَّ نَرٰىہُ
قَرِیۡبًا ؕ﴿﴾ یَوۡمَ تَکُوۡنُ
السَّمَآءُ کَالۡمُہۡلِ ۙ﴿﴾ وَ تَکُوۡنُ
الۡجِبَالُ کَالۡعِہۡنِ
ۙ﴿﴾ وَ
لَا یَسۡـَٔلُ حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا ﴿ۚۖ﴾ یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ یَوَدُّ الۡمُجۡرِمُ لَوۡ یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ
بِبَنِیۡہِ ﴿ۙ﴾ وَ
صَاحِبَتِہٖ وَ اَخِیۡہِ ﴿ۙ﴾ وَ
فَصِیۡلَتِہِ الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ ﴿ۙ﴾ وَ
مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ
ثُمَّ یُنۡجِیۡہِ ﴿ۙ﴾ کَلَّا ؕ اِنَّہَا لَظٰی ﴿ۙ﴾ نَزَّاعَۃً لِّلشَّوٰی ﴿ۚۖ﴾ تَدۡعُوۡا
مَنۡ اَدۡبَرَ وَ تَوَلّٰی ﴿ۙ﴾ وَ جَمَعَ
فَاَوۡعٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Seorang penanya
menanyakan mengenai azab yang akan terjadi, untuk orang-orang
kafir, yang seorang pun dapat
menghindarkannya. Azab
itu dari Allah Yang memi-liki tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat
dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah dengan sabar
yang baik. Sesungguhnya mereka memandang hari itu sangat
jauh (mustahil),
sedangkan Kami melihatnya dekat, pasti terjadi. Pada hari langit akan menjadi seperti
cairan tembaga, dan
gunung-gunung akan menjadi seperti bulu
domba yang dihamburkan. Dan tidak akan bertanya sahabat
karib kepada sahabat karib lainnya. Hari itu akan diperlihatkan dengan jelas kepada mereka. Orang
berdosa ingin seandainya dia dapat
menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya
serta saudaranya, dan kaum
kerabatnya yang melindunginya, dan semua orang yang ada di bumi
kemudian menyelamatkannya. کَلَّا ؕ اِنَّہَا لَظٰی -- Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya itu
nyala api, نَزَّاعَۃً
لِّلشَّوٰی -- yang melucuti
kulit kepala, تَدۡعُوۡا مَنۡ
اَدۡبَرَ وَ تَوَلّٰی -- yang memanggil
orang yang membelakangi dan yang berpaling, وَ جَمَعَ
فَاَوۡعٰی -- dan menimbun
harta serta menahannya. (Al-Mā’arij [70]:1-19).
Dari segi asbabun-nuzulnya yang dimaksud “penanya” dalam ayat ini
dianggap oleh beberapa ahli tafsir tertuju kepada Nadhr bin Al-Harits, atau Abu
Jahal. Tetapi kata “penanya” itu
tidak hanya mengisyaratkan kepada seseorang tertentu, bahkan dapat dikenakan
kepada semua orang kafir -- termasuk di Akhir Zaman ini -- sebab mereka semua berulang-ulang menantang Nabi Besar Muhammad saw. supaya beliau saw. menurunkan atas
mereka azab Ilahi yang diancamkan (QS.8:33; QS.21:39; QS.27:72;
QS.32: 29; QS.34:30; QS.36:49; QS.67:26).
Makna ayat: مِّنَ اللّٰہِ ذِی الۡمَعَارِجِ -- “Azab
itu dari Allah Yang memiliki tempat-tempat naik.“ Sementara azab yang
akan menimpa orang-orang kafir akan
membuat mereka binasa, Allah Swt. menganugerahkan
kepada hamba-hamba-Nya yang taat kenaikan ruhani yang setinggi-tingginya.
Makna ayat selanjutnya: تَعۡرُجُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗ خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ -- “Malaikat-malaikat
dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun. ” Karena ar-ruh berarti jiwa manusia, ayat ini dapat berarti
bahwa perkembangan dan kemajuan ruh manusia tidak akan ada
hentinya (QS.66:9).
Atau ayat ini dapat berarti bahwa rancangan-rancangan dan rencana-rencana Allah Swt. dapat meliputi ribuan
tahun sampai jadi matang. Atau isyarat itu dapat juga tertuju kepada
peredaran (siklus) tertentu selama 50.000 tahun yang selama itu beberapa perubahan
agung yang tertentu telah ditakdirkan
akan terjadi, sebab nubuatan-nubuatan Allah
Swt. mempunyai masa-masa,
zaman-zaman, dan peredaran-peredaran (daur) waktu
tertentu yang di didalamnya nubu-atan-nubuatan
itu menjadi sempurna (terjadi).
Gambaran Mengerikan “Perang
Nuklir”
Makna ayat selanjutnya: اِنَّہُمۡ یَرَوۡنَہٗ
بَعِیۡدًا -- “Sesungguhnya
mereka memandang hari itu sangat
jauh (mustahil),
وَّ نَرٰىہُ
قَرِیۡبًا
-- sedangkan Kami melihatnya dekat, pasti terjadi. یَوۡمَ تَکُوۡنُ
السَّمَآءُ کَالۡمُہۡلِ -- Pada
hari langit akan menjadi seperti cairan tembaga, وَ تَکُوۡنُ الۡجِبَالُ کَالۡعِہۡنِ -- dan gunung-gunung
akan menjadi seperti bulu domba yang dihamburkan.”
Dalam abad-abad
atom dan hidrogen atau nuklir di Akhir
Zaman ini akibat ledakan-ledakan dahsyat bom
hidrogen dan nuklir terjadinya langit menjadi berwarna merah oleh kilatan cahaya ledakan bom, dan beterbangan gunung-gunung laksana bulu domba itu
sungguh mungkin sekali terjadi (QS.55:36-38).
Alangkah mengerikannya
lukisan Hari Pembalasan yang
diberikan dalam ayat-ayat selanjutnya:
وَ
لَا یَسۡـَٔلُ حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا -- “Dan tidak akan bertanya sahabat karib kepada sahabat karib
lainnya. یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ
یَوَدُّ الۡمُجۡرِمُ لَوۡ یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ
بِبَنِیۡہِ -- Hari
itu akan diperlihatkan dengan jelas
kepada mereka. Orang berdosa ingin seandainya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu
dengan anak-anaknya, وَ صَاحِبَتِہٖ وَ
اَخِیۡہِ
-- dan isterinya
serta saudaranya, وَ فَصِیۡلَتِہِ
الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ -- dan kaum kerabatnya yang melindunginya, وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ ثُمَّ یُنۡجِیۡہِ -- dan semua
orang yang ada di bumi kemudian menyelamatkannya.”
Berhadap-hadapan dengan suatu malapetaka, manusia bersedia pisah dari segala sesuatu, bahkan
bersedia mengorbankan orang-orang
yang paling karib dan tersayang sekalipun, asalkan saja dengan
berbuat demikian ia dapat menyelamatkan
dirinya sendiri.
Tetapi dengan tegas Allah Swt.
menyatakan: کَلَّا
ؕ اِنَّہَا لَظٰی -- “Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya itu
nyala api, نَزَّاعَۃً
لِّلشَّوٰی -- yang melucuti
kulit kepala”, karena azab
Ilahi tersebut merupakan dari ketetapan-Nya
bagi orang-orang kafir yang menolak menempuh “jalan pendakian yang terjal” (QS.90:5-21): تَدۡعُوۡا مَنۡ
اَدۡبَرَ وَ تَوَلّٰی -- yang memanggil
orang yang membelakangi dan yang berpaling, وَ جَمَعَ
فَاَوۡعٰی -- dan menimbun
harta serta menahannya.”
Betapa
jelasnya gambaran tentang azab Ilahi yang diancamkan itu: فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ -- Dan ketika langit terbelah dan menjadi
merah bagaikan kulit merah.” (Ar-Rahman
[55]:36). Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ --
Pada hari itu tidak akan ditanya
dosa manusia dan tidak
pula jin” (Ar-Rahman [55]:38). Amal-amal buruk orang-orang durhaka akan tertera pada wajah mereka, sehingga mereka tidak
akan ditanya lagi mengenai apakah mereka telah melakukan kedurhakaan atau tidak. Sebagaimana
tersebut pada tempat lain dalam Al-Quran (QS.41:21) anggota-anggota
tubuh orang-orang kafir itu
sendiri akan menjadi saksi atas
mereka.
Kobaran Api yang Menjangkau Hati
Sehubungan dengan sikap kikir
dan rakus (tamak) orang-orang kafir tersebut dalam surah
lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَیۡلٌ
لِّکُلِّ ہُمَزَۃٍ لُّمَزَۃِۣ
ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
جَمَعَ مَالًا وَّ عَدَّدَہٗ ۙ﴿﴾ یَحۡسَبُ
اَنَّ مَالَہٗۤ اَخۡلَدَہٗ ۚ﴿﴾ کَلَّا
لَیُنۡۢبَذَنَّ فِی الۡحُطَمَۃِ ۫﴿ۖ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡحُطَمَۃُ ؕ﴿﴾ نَارُ اللّٰہِ الۡمُوۡقَدَۃُ ۙ﴿﴾ الَّتِیۡ
تَطَّلِعُ عَلَی الۡاَفۡـِٕدَۃِ
ؕ﴿﴾ اِنَّہَا
عَلَیۡہِمۡ مُّؤۡصَدَۃٌ ۙ﴿ ﴾ فِیۡ عَمَدٍ
مُّمَدَّدَۃٍ ٪﴿ ﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Celakalah bagi setiap pengumpat dan
pencela, yang mengumpulkan
harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira
bahwa hartanya akan menjadikannya kekal.
Sekali-kali tidak! Pasti dia akan
dicampakkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah
engkau apakah Hutamah itu? Yaitu
Api Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Al-Humazah [104]:1-10)
Humazah
berarti orang yang mencela orang
lain di belakang, dan lumazah adalah
orang yang mencela orang-orang lain
di belakang maupun di depan mereka sendiri (Aqrab-ul-Mawarid). Sebagai
kebalikan dari dua sifat baik yang pokok – yaitu kebajikan
dan kesabaran yang tersebut dalam Surah Al-Ashr -- maka
dalam Surah Al-Humazah telah
disebutkan dua sifat buruk yang
membinasakan sendi-sendi segala keamanan
dan keserasian tata hidup dalam masyarakat.
Perbuatan-perbuatan mengumpat dan mencela merupakan dua macam kejahatan pokok, yang karena itu apa yang disebut masyarakat beradab dewasa ini sangat menderita.
Ayat الَّذِیۡ جَمَعَ مَالًا
وَّ عَدَّدَہٗ -- “yang mengumpulkan
harta dan menghitung-hitungnya” merupakan suatu ulasan bernada sedih mengenai
nafsu manusia ingin memperoleh kekayaan dunia. Penyembahan terhadap “dewi
kekayaan” merupakan racun peradaban
madiyah (kebendaan) masa kini.
Makna
ayat یَحۡسَبُ
اَنَّ مَالَہٗۤ اَخۡلَدَہٗ -- “Ia mengira bahwa hartanya akan menjadikannya kekal,” bahwa orang kikir yang bernasib malang dengan tiada henti-hentinya mencari kekayaan dengan segala macam jalan
– halal maupun haram – serta menimbun
dan menumpuknya, merasa bangga
karenanya, dan menahan diri dari membelanjakannya bagi tujuan-tujuan baik, dengan beranggapan
bahwa cara ini akan melestarikannya
dan menolong namanya agar tidak hapus dari ingatan orang dan
membuat dirinya tetap sejahtera untuk
selama-lamanya. Namun anggapan-anggapan demikian itu, amat keliru lagi salah.
Allah Swt. memperingatkan mereka: کَلَّا لَیُنۡۢبَذَنَّ فِی الۡحُطَمَۃِ -- “Sekali-kali tidak!
Pasti dia akan dicampakkan ke dalam
Hutamah.” Tidak ada penghinaan
dan siksaan batin dirasakan oleh
seseorang lebih pahit daripada
menyaksikan suatu gerakan yang pernah
ditentangnya mati-matian dengan
segala daya-upaya dan berusaha memusnahkannya; namun gerakan
itu malah memperoleh kemajuan dan kemenangan di hadapan matanya sendiri.
Siksaan batin yang membakar hati
itulah yang dirasakan oleh para pemimpin Quraisy, ketika mereka menyaksikan pohon Islam yang tadinya lemah itu, kini telah tumbuh di hadapan
mereka sendiri menjadi besar: وَ
مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا الۡحُطَمَۃُ -- “Dan tahukah
engkau apakah Hutamah itu? نَارُ اللّٰہِ الۡمُوۡقَدَۃُ -- Yaitu Api Allah yang dinyalakan, الَّتِیۡ تَطَّلِعُ عَلَی الۡاَفۡـِٕدَۃِ --
yang naik sampai ke hati.”
Orang-orang Arab berkata, hathamat-hu
al-sinnu, artinya masa tuanya telah
memporak-porandakannya (Lexicon Lane).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنَّہَا عَلَیۡہِمۡ
مُّؤۡصَدَۃٌ -- Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas
mereka, فِیۡ
عَمَدٍ مُّمَدَّدَۃٍ -- diikat pada tiang-tiang yang
panjang.”
Kesangatan panas api yang terkurung
itu kian bertambah beberapa kali lipat. Dan yang dimaksud dengan “tiang-tiang
yang panjang” itu ialah kebiasaan-kebiasaan
buruk, adat-istiadat tidak baik
yang tidak membiarkan orang-orang kafir menyesuaikan
kehidupan mereka dengan ukuran-ukuran dan nilai-nilai yang sempurna.
Kesaksian Anggota Tubuh Manusia
Mereka yang bangga dengan keberhasilan duniawi tersebut serta ingkar
kepada Sifat Rahmāniyat (Maha
Pemurah) Allah Swt. pada akhirnya akan diperlakukan Allah Swt. secara hina: یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ
الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang
berdosa ciri-ciri mereka akan dikenal
lalu mereka akan dipegang (diseret) pada jambul dan kakinya.” (Ar-Rahmān
[55]:42), firman-Nya:
فَیَوۡمَئِذٍ لَّا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ
لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ
﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ
بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Pada hari itu tidak akan ditanya dosa ins (manusia) dan tidak
pula jin. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka
nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? Orang-orang berdosa ciri-ciri
mereka akan dikenal lalu mereka akan
dipegang pada jambul dan kakinya.
فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua
dustakan? ہٰذِہٖ
جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Inilah
Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ -- mereka akan berkeliling-keliling di antara Jahannam itu dan air
panas mendidih. فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka yang
manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang kamu
dustakan? (Ar-Rahmān [55]:40-46).
Makna ayat فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ -- “Pada hari itu tidak akan ditanya dosa ins
(manusia) dan tidak pula jin”.
Amal-amal buruk orang-orang durhaka akan tertera pada wajah mereka, sehingga mereka tidak akan ditanya lagi mengenai apakah
mereka telah melakukan kedurhakaan
atau tidak. Sebagaimana tersebut pada tempat lain dalam Al-Quran (QS.41:21),
anggota-anggota tubuh orang-orang kafir
itu sendiri akan menjadi saksi atas
mereka, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ اللّٰہِ
اِلَی النَّارِ فَہُمۡ
یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ
سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ
لِمَ شَہِدۡتُّمۡ عَلَیۡنَا ؕ
قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ
الَّذِیۡۤ اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ
وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ
سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا
جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ اَنَّ
اللّٰہَ لَا یَعۡلَمُ کَثِیۡرًا
مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ
یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ
اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ
قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ
عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari ketika musuh-musuh
Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka
akan dibagi dalam kelompok-kelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga
mereka, mata mereka, dan kulit
mereka menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. Dan
mereka berkata kepada kulit mereka: ”Mengapa kamu memberi kesaksian terhadap kami?”
Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah
Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan
kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi bahwa telinga
kamu, dan tidak pula mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak
mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan itulah
sangkaanmu yang kamu sangkakan
kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah
membinasakanmu maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” Lalu jika mereka bersabar maka Api
tempat-tinggal bagi mereka, dan jika
mereka mengemukakan alasan maka sekali-kali mereka tidak termasuk
orang-orang yang
diterima alasan-alasannya. Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan umat-umat
yang telah berlalu
sebelum mereka dari jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:20-26). Lihat pula QS.24:25-26; QS.36:66.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 27 Mei
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar