Rabu, 11 Mei 2016

Hubungan Para Malaikat Dengan "Kinerja" Alam Semesta dan Manusia Dalam Kapasitasnya Sebagai "Instrument" Allah Swt.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  MALAIKAT ALLAH  


HUBUNGAN PARA MALAIKAT DENGAN KINERJA  ALAM SEMESTA DAN MANUSIA  DALAM KAPASITASNYA SEBAGAI “INSTRUMENT” ALLAH SWT.


Bab 44

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai  “turun” dan “naiknya” para malaikat:
       “Kami tidak menyangkal tentang turunnya malaikat,  dan jika memang ada yang bisa membuktikan bahwa malaikat memang demikian itu cara turunnya dari langit, kami ingin bisa menguji bukti tersebut dan meyakininya jika memang ternyata benar.
    Eksistensi  (keberadaan) malaikat merupakan bagian dari Rukun Iman. Turunnya Tuhan ke langit dunia  dan turunnya malaikat merupakan realitas (kenyataan) yang belum bisa dimengerti sepenuhnya. Sepanjang yang diketahui dari Kitab Suci, malaikat muncul di bumi sebagai suatu ciptaan tersendiri.
      Kemunculan malaikat Jibril dalam bentuk sosok Dahya Kalbi[1] merupakan suatu bentuk ciptaan baru, kalau tidak, lalu apa lagi namanya? Keadaan tersebut tidak berarti bahwa mengakui adanya suatu bentuk ciptaan baru, lalu kita harus menafikan ciptaan sebelumnya.
      Ciptaan yang pertama diteguhkan dan ditetapkan di langit, sedangkan ciptaan kedua merupakan efek dari kekuasaan Allah Swt. yang Maha Luas. Apakah kita harus meragukan kemampuan Allah Swt. untuk memperlihatkan satu sosok di dua tempat dalam dua jasad? Jelas tidak!
اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ
Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al-Baqarah [2]:107). (Sirrul Khilafah, Amritsar, Riyadh Hind Press, 1312 H.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VIII, hlm.  414-415, London, 1984).

Makna “Naik” dan “Turunnya” Malaikat  & “Naik” dan “Turunnya” Allah Swt.

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai penggunaan kata “naik” dan “turun”  berkenaan para malaikat  sebagai kata kiasan (perumpamaan):
      “Aku meyakini bahwa malaikat itu milik Allah Swt. dan mereka itu berada dekat dengan Wujud-Nya. Bagi setiap malaikat sudah ditentukan posisi kedudukannya masing-masing. Tidak ada dari mereka yang bergerak dari posisi tersebut, baik naik atau pun turun.
    Turunnya mereka sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Quran tidak sama dengan turunnya seorang manusia dari tempat ketinggian ke tempat yang lebih rendah, dan naiknya malaikat berbeda dengan kenaikan manusia ke suatu tempat yang lebih tinggi.
      Naik atau turunnya manusia terkait dengan perubahan dalam posisinya yang dilakukan dengan mengeluarkan upaya dan tenaga, sedangkan malaikat tidak perlu mengeluarkan tenaga atau pun melakukan perubahan posisi. Karena itu jangan kalian mengira bahwa naik atau turunnya malaikat sama dengan naik atau turunnya jasad lain.
     Naik dan turunnya malaikat mirip dengan naik dan turunnya Tuhan dari dan ke ‘Arasy-Nya serta dari langit   ke bumi. Allah Swt. telah menjadikan eksistensi (keberadaan) para malaikat sebagai bagian dari keimanan dan berfirman bahwa:
وَ مَا یَعۡلَمُ جُنُوۡدَ  رَبِّکَ اِلَّا ہُوَ
“Tidak ada yang mengetahui lasykar-lasykar Tuhan engkau selain Dia” (Al-Muddatsir [74]:32).
        Yakinilah  naik  atau turunnya malaikat,  tetapi kalian tidak perlu mencoba menembus realitas mereka, karena yang demikian itulah yang terbaik dan yang terdekat dengan ketakwaan. Allah Swt. mengungkapkan mereka tersebut sebagai berdiri, sujud, berbaris dalam shaf, mengagungkan Tuhan dan menempati posisi yang telah ditetapkan bagi mereka. Dia mengkaruniakan fitrat tersebut kepada mereka secara abadi dan permanen serta menjadikannya sebagai karakteristik mereka.
    Dengan demikian tidak dimungkinkan malaikat meninggalkan sujud, berdiri, mengusik barisan atau menghentikan pengagungan kesucian Tuhan, lalu turun ke bumi meninggalkan langit dari maqam (kedudukan) mereka.  Sesungguhnya mereka itu bergerak sejalan dengan fitrat mereka tetapi tetap berada di posisi laiknya seorang Raja “yang bersemayam teguh di atas ‘arasy (singgasana)” (Thā Hā [20]:6).
       Kalian sudah mengetahui bahwa Tuhan turun ke langit bumi pada bagian terakhir dari malam, namun tidak bisa dikatakan bahwa Dia meninggalkan ‘Arasy-Nya untuk kemudian kembali lagi ke sana. Keadaannya sama dengan para malaikat yang merefleksikan fitrat Tuhan mereka, sebagaimana bayangan merupakan refleksi dari wujud aslinya.
 Kita tidak mungkin mengungkapkan realitasnya tetapi kita tetap mengimaninya. Kita tidak bisa menggambarkan kondisi mereka dengan istilah-istilah kemanusiaan, namun kita meyakini fitrat, keterbatasan, gerakan serta diamnya mereka. Allah Swt. telah melarang kita melakukan hal itu dan telah berfirman:
وَ مَا یَعۡلَمُ جُنُوۡدَ  رَبِّکَ اِلَّا ہُوَ
“Tidak ada yang mengetahui lasykar-lasykar Tuhan engkau selain Dia” (Al-Muddatstsir [74]:32).
     Karena itu patuhilah kewajiban kalian kepada Tuhan, wahai kalian manusia-manusia bijak.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 384-387, London, 1984).

Malaikat Penyebab Perubahan

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pengaruh para malaikat  terhadap kinerja alam semesta:
    “Setelah jelas, bahwa sebagaimana hukum alam Samawi mengatur tentang adanya pengaruh eksternal yang disebut sebagai malaikat dalam sistem yang berkaitan dengan jasmani, begitu juga yang terdapat dalam sistem keruhanian. Dalam sistem jasmani (fisik) adanya perubahan selalu terjadi melalui mediasi (perantaraan)  malaikat. Allah Swt. menyebut para malaikat sebagai pengatur (regulator) dan distributor yang menjadi kausa (sebab) dari setiap perubahan dan perkembangan. Mereka itulah yang menjunjung tinggi (memikul) ‘Arasy Ilahi. Ayat yang menyatakan:
اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ ؕ﴿﴾
Tiada suatu jiwa pun melainkan mempunyai penjaga atas dirinya” (Al-Thāriq [86]:5).
      Ayat tersebut membuktikan adanya penugasan malaikat atas segala sesuatu di alam.   Ayat berikut ini juga mengindikasikan hal yang sama:
وَ انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَہِیَ یَوۡمَئِذٍ وَّاہِیَۃٌ ﴿ۙ﴾  وَّ الۡمَلَکُ  عَلٰۤی  اَرۡجَآئِہَا ؕ وَ یَحۡمِلُ عَرۡشَ رَبِّکَ فَوۡقَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ ثَمٰنِیَۃٌ ﴿ؕ﴾
“Dan langit akan terbelah, maka pada hari itu langit akan menjadi rapuh sekali. Dan malaikat-malaikat akan berdiri di tepi-tepinya dan di atas mereka pada hari itu delapan malaikat akan memikul ‘Arasy Tuhan engkau (Al-Hāqqah [69]:17-18).
      Berarti pada hari Kiamat nanti, langit akan koyak dan kehilangan fitratnya, atau dengan kata lain, para malaikat yang menjadi ruh dari langit dan benda-benda langit akan melepaskan tugasnya dan berdiri di tepi-tepinya, sedangkan 8 dari antara mereka akan menjunjung tinggi (memikul) ‘Arasy Ilahi.
  Shah Abdul ‘Aziz[2] dalam tafsirnya tentang ayat ini menulis,  bahwa kelangsungan  langit tergantung kepada ruhnya yaitu para malaikat yang menjadi ruh langit dan benda-benda langit. Sebagaimana ruh menjaga dan mengendalikan raganya, begitu juga sebagian malaikat mengendalikan langit dan benda-benda langit, dimana semua benda langit kewujudannya terjadi melalui mereka,  dan gerakan dari   planet-planet melalui sarana mereka.
    Ketika para malaikat meninggalkan posisi mereka -- seperti halnya ruh yang meninggalkan jasad raga --  maka keseluruhan sistem langit akan terguncang. Ayat lain dalam Al-Quran juga mengindikasikan hal ini:
وَ لَقَدۡ  زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ وَ جَعَلۡنٰہَا  رُجُوۡمًا  لِّلشَّیٰطِیۡنِ 
“Dan sungguh  Kami benar-benar telah menghiasi langit terbawah dengan pelita-pelita (bintang-bintang) itu sebagai sarana untuk mengusir syaitan-syaitan” (Al-Mulk [67]:6).

Para Malaikat Merupakan Regulator dan Distributor  Kinerja Alam Semesta

     Telah dikemukakan oleh ayat-ayat Al-Quran bahwa regulator dan distributor semua hal dari langit ke bumi adalah para malaikat,  dan dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa bintang beralih (meteor-meteor) adalah bintang-bintang di langit bawah. Kedengarannya hal ini bersifat kontradiktif dengan ayat tentang malaikat, namun jika direnungi secara teliti maka kontradiksi itu sebenarnya tidak ada.
     Kitab Suci Al-Quran telah mengajarkan bahwa para malaikat itu seperti ruh atau jiwa dari langit dan benda-benda langit, dan jelas bahwa jiwa itu tidak terpisah dari raganya. Karena itulah Allah Swt. di beberapa tempat dalam Al-Quran menyatakan malaikat sebagai penyebab dari bintang jatuh (meteor), dan di tempat lain mengemukakan bintang-bintang itulah yang jadi penyebabnya, karena malaikat telah mempengaruhi bintang-bintang tersebut sebagaimana halnya jiwa mempengaruhi raga.
   Pengaruh tersebut bermula dari bintang-bintang yang mempengaruhi atmosfir bumi dan menjadi bintang jatuh yang menyala berkat kekuasaan Allah Swt.. Dengan cara lain, adalah para malaikat yang mengendalikan bintang jatuh ke arah kiri atau kanan dengan nur mereka. Tidak ada filosof yang akan menyangkal bahwa segala sesuatu yang terjadi di bumi atau di atmosfir sebenarnya bersumber pada bintang-bintang dan pengaruh langit.
   Tidak semua orang bisa menembus misteri bahwa fitrat bintang-bintang memperolehnya dari para malaikat. Misteri tersebut diungkapkan oleh Al-Quran dan mereka yang memiliki wawasan bisa menelaahnya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. hlm. 137-143, London, 1984).
     Begitu unik serta misteri   masalah malaikat, sehingga bagi mereka yang melalui logika (akal) berusaha untuk menyelidikinya, jawaban Allah Swt. atas pertanyaan mengenai   hakikat ruh  berikut ini   sangat relevan  dengan  kerahasiaan atau kegaiban malaikat, firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا  -- dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.” (Bani Israil [17]:86).
      Firman Allah Swt. berikut ini mencukupi untuk mengekang hasrat berlebihan keingin-tahuan manusia mengenai masalah malaikat secara mendalam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡ اَشۡیَآءَ  اِنۡ تُبۡدَ لَکُمۡ  تَسُؤۡکُمۡ ۚ وَ  اِنۡ تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡہَا حِیۡنَ یُنَزَّلُ الۡقُرۡاٰنُ تُبۡدَ لَکُمۡ ؕ عَفَا اللّٰہُ عَنۡہَا ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ حَلِیۡمٌ ﴿﴾  قَدۡ سَاَلَہَا قَوۡمٌ مِّنۡ قَبۡلِکُمۡ ثُمَّ اَصۡبَحُوۡا بِہَا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,   janganlah kamu menanyakan rincian hal-hal yang apabila diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu, dan jika kamu menanyakan mengenai itu ketika Al-Quran sedang diturunkan pasti akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan  mengenainya, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.   Sungguh satu kaum sebelum kamu telah  menanyakan perihal itu, kemudian mereka menjadi kafir  karenanya.  (Al-Māidah [5]:102-103).

Penjelmaan Malaikat Dalam   Wujud Laki-laki
 
        Walau pun  hakikat “wujud” para malaikat tidak akan pernah ada manusia yang mengetahuinya, namun demikian Allah Swt. dalam Al-Quran mengemukakan salah satu penjelmaannya    dalam bentuk  seorang laki-laki sempurna, contohnya adalah ketika  malaikat Jibril a.s. memberikan kabar gembira   dari Allah Swt. kepada Maryam binti ‘Imran mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ مَرۡیَمَ ۘ اِذِ انۡتَبَذَتۡ مِنۡ اَہۡلِہَا مَکَانًا شَرۡقِیًّا ﴿ۙ﴾  فَاتَّخَذَتۡ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ  حِجَابًا ۪۟ فَاَرۡسَلۡنَاۤ  اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا ﴿﴾  قَالَتۡ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا ﴿﴾  قَالَ  اِنَّمَاۤ  اَنَا رَسُوۡلُ رَبِّکِ ٭ۖ لِاَہَبَ لَکِ غُلٰمًا  زَکِیًّا ﴿﴾  قَالَتۡ اَنّٰی یَکُوۡنُ لِیۡ غُلٰمٌ وَّ لَمۡ یَمۡسَسۡنِیۡ  بَشَرٌ  وَّ  لَمۡ   اَکُ  بَغِیًّا ﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکِ ۚ قَالَ رَبُّکِ ہُوَ  عَلَیَّ ہَیِّنٌ ۚ وَ  لِنَجۡعَلَہٗۤ  اٰیَۃً  لِّلنَّاسِ وَ رَحۡمَۃً  مِّنَّا ۚ وَ کَانَ  اَمۡرًا مَّقۡضِیًّا ﴿﴾
Dan ceriterakanlah di dalam Kitab itu mengenai Maryam, ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,  maka ia membuat di antara mereka tabir  اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا  فَاَرۡسَلۡنَاۤ --  lalu Kami  mengutus kepadanya  malaikat Kami  lalu ia menampak kepadanya berupa manusia sempurna. قَالَتۡ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا  -- Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari engkau, jika engkau bertakwa”.  Ia, malaikat, menjawab: "Sesungguhnya aku  se­orang utusan   Tuhan engkau supaya aku memberikan kabar gembira kepada engkau  mengenai seorang anak laki-laki suci."   Ia, Maryam,  berkata:  Bagai­manakah akan menjadikan seorang anak laki-laki bagiku, padahal tidak ada seorang manusia menyentuhku, dan aku tidak berzina.” Ia, malaikat, berkata: "Demikianlah. Rabb (Tuhan) engkau ber­firman: "Itu mudah bagi-Ku, dan supaya Kami menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia  serta suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah perkara yang telah di­putuskan.” (Maryam [19:17-22). Lihat pula QS.3:46-50.    
  Ungkapan ayat: فَاَرۡسَلۡنَاۤ  اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا --  “lalu Kami  mengutus ke-padanya  malaikat Kami  lalu ia menampak kepadanya berupa manusia sempurna”  menunjukkan bahwa kabar gembira dari Allah Swt.  mengenai kelahiran seorang putra agung itu  tidak disampaikan kepada  Maryam berupa kata-kata yang diucapkan dan beliau dapat mendengarnya, melainkan berupa mimpi (ru’ya) atau kasyaf.
  Dalam kasyaf,   satu  malaikat datang kepada beliau berupa seorang laki-laki segar bugar  menyampaikan kepada beliau amanat Ilahi mengenai kelahiran seorang putra. Jadi bukanlah suatu ruh yang masuk ke dalam tubuh  (rahim)  Maryam  binti ‘Imran, melainkan hanya satu malaikat yang menampakkan diri dalam wujud seorang laki-laki  dan nampak kepada beliau dalam kasyaf.
  Makna ayat selanjutnya:  قَالَتۡ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا  -- Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari engkau, jika engkau bertakwa”.  Seperti jelas dari ayat yang mendahuluinya apa yang dilihat Maryam  binti ‘Imran hanyalah sebuah kasyaf,  dan pada umumnya bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya dalam keadaan bangun  maka tidak disukainya pula hal itu bila dilihatnya dalam kasyaf.
Demikian juga ketika   Maryam binti Imran melihat malaikat itu sedang berdiri di hadapannya berupa seorang laki-laki, maka sebagai seorang perempuan  shalih sangat wajar  beliau terperanjat dan menjadi bingung seperti pula beliau akan terperanjat dan menjadi bingung seandainya dalam keadaan bangun melihat seorang laki-laki di dekat beliau, karena itu sudah sewajarnya kalau beliau mohon perlindungan Ilahi terhadap orang itu.
  Kata "utusan" (rasul) menunjukkan bahwa malaikat itu hanya pengemban amanat Tuhan, dan bahwa beliau tidak datang untuk memberi  Maryam binti ‘Imran seorang anak melainkan hanya membawa kabar gembira mengenai kelahiran seorang anak. Siapa yang tidak mengetahui bahwa Allah-lah yang mengaruniakan anak dan bukan malaikat? Tugas seorang malaikat hanya terbatas pada penyampaian kehendak dan keputusan Tuhan saja.

Penjelmaan Malaikat   Tidak Pernah Dalam Wujud Perempuan

      Dari Al-Quran diketahui bahwa walau  pun para malaikat dalam kasyaf dapat menampakkan dirinya  kepada yang menerima kasyaf  dalam berbagai perwujudan manusia, tetapi tidak pernah dalam wujud perempuan,  sekali pun penulisan malaikat dalam bahasa Arab dalam bentuk muannats (perempuan), fiman-Nya:
اَفَاَصۡفٰىکُمۡ رَبُّکُمۡ  بِالۡبَنِیۡنَ وَ اتَّخَذَ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  اِنَاثًا ؕ اِنَّکُمۡ  لَتَقُوۡلُوۡنَ قَوۡلًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Apakah Rabb (Tuhan) kamu memilih untukmu anak-anak lelaki sedangkan Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan dari antara para malaikat? Sesungguhnya kamu mengucapkan kata-kata yang besar dosanya. (Bani  Israil [17]:41). Lihat pula QS.37:151-155; QS.43:20;  QS.52:40.
Firman-Nya lagi:
وَ کَمۡ مِّنۡ مَّلَکٍ فِی السَّمٰوٰتِ لَا  تُغۡنِیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ اَنۡ یَّاۡذَنَ اللّٰہُ  لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ  یَرۡضٰی ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ  الۡمَلٰٓئِکَۃَ  تَسۡمِیَۃَ  الۡاُنۡثٰی ﴿﴾  وَ مَا  لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا الظَّنَّ ۚ وَ اِنَّ الظَّنَّ  لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا ﴿ۚ﴾
Dan berapa banyak malaikat di seluruh langit  syafaat mereka tidak akan berfaedah sedikit pun, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ  الۡمَلٰٓئِکَۃَ  تَسۡمِیَۃَ  الۡاُنۡثٰی  -- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat  niscaya mereka memberikan nama-nama perempuan kepada malaikat-malaikat. وَ مَا  لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ   -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya. اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا الظَّنَّ -- Mereka tidak mengikuti  melainkan dugaan, وَ اِنَّ الظَّنَّ  لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا  -- dan sesungguhnya   dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.  (An-Najm [53]:27-29).
     Sebagaimana  tidak ada  peralatan mekanik mau pun elektronik      buatan manusia yang berstatus  jantan (laki-laki) dan betina  (perempuan), demikian pula halnya dengan para malaikat yang merupakan instrument (sarana)  Allah Swt. yang melaksanakan kehendak-Nya mengenai seluruh makhluk-Nya, terutama manusia, sebab  para malaikat tidak memiliki kehendak sendiri selain melakanakan kehendak Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا قُوۡۤا  اَنۡفُسَکُمۡ  وَ اَہۡلِیۡکُمۡ  نَارًا وَّ قُوۡدُہَا  النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ  غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ  اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,   peliharalah diri kamu dan keluargamu dari  Api, yang bahan bakarnya manusia dan batu, عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ  غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ  اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ  -- penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah apa yang Dia perintahkan kepada mereka وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا  یُؤۡمَرُوۡنَ -- dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrīm [66]:7).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 13 Mei    2016



[1] Dihya al-Kalbi adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang diutus membawa surat   beliau kepada kaisar Roma Timur yaitu Heraclius pada tahun 628 M berisi ajakan untuk masuk ke dalam agama Islam. Kejadian ini setelah perdamaian  udaibiah. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
[2] Shah Abdul Aziz Dehlavi bin Shah Waliullah bin Sheikh Wajihuddin (1745-1823 M), cendekiawan M uslim yang antara lain menterjemahkan Al-Q uran ke dalam bahasa Urdu selain bukunya Tuhfah yang mencoba menjembatani konsep-konsep Sunni dan Shiah . (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar