Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HUBUNGAN PARA MALAIKAT DENGAN
KINERJA ALAM SEMESTA DAN MANUSIA DALAM KAPASITASNYA
SEBAGAI “INSTRUMENT” ALLAH SWT.
Bab 44
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab
sebelumnya telah
dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai “turun” dan “naiknya” para malaikat:
“Kami
tidak menyangkal tentang turunnya malaikat, dan jika memang ada yang bisa membuktikan
bahwa malaikat memang demikian itu cara turunnya dari langit, kami ingin bisa menguji
bukti tersebut dan meyakininya
jika memang ternyata benar.
Eksistensi (keberadaan) malaikat merupakan bagian dari Rukun
Iman. Turunnya Tuhan ke langit dunia dan turunnya
malaikat merupakan realitas
(kenyataan) yang belum bisa dimengerti
sepenuhnya. Sepanjang yang diketahui dari Kitab Suci, malaikat muncul di bumi sebagai suatu ciptaan tersendiri.
Kemunculan malaikat Jibril dalam bentuk sosok Dahya Kalbi[1]
merupakan suatu bentuk ciptaan baru,
kalau tidak, lalu apa lagi namanya? Keadaan tersebut tidak berarti bahwa mengakui
adanya suatu bentuk ciptaan baru,
lalu kita harus menafikan ciptaan
sebelumnya.
Ciptaan yang pertama diteguhkan dan ditetapkan di langit,
sedangkan ciptaan kedua merupakan efek dari kekuasaan Allah Swt. yang Maha
Luas. Apakah kita harus meragukan kemampuan
Allah Swt. untuk memperlihatkan satu sosok di dua tempat dalam dua jasad?
Jelas tidak!
اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
“Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al-Baqarah
[2]:107). (Sirrul Khilafah,
Amritsar, Riyadh Hind Press, 1312 H.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VIII,
hlm. 414-415, London, 1984).
Makna “Naik” dan “Turunnya” Malaikat & “Naik” dan “Turunnya” Allah Swt.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai penggunaan kata “naik” dan “turun” berkenaan para malaikat
sebagai kata kiasan
(perumpamaan):
“Aku
meyakini bahwa malaikat itu milik Allah
Swt. dan mereka itu berada dekat
dengan Wujud-Nya. Bagi setiap malaikat sudah ditentukan posisi kedudukannya masing-masing. Tidak ada dari mereka
yang bergerak dari posisi tersebut, baik naik atau pun turun.
Turunnya
mereka sebagaimana yang diungkapkan
dalam Al-Quran tidak sama dengan turunnya
seorang manusia dari tempat ketinggian ke tempat yang lebih rendah, dan naiknya malaikat berbeda dengan kenaikan manusia ke suatu tempat yang lebih tinggi.
Naik atau turunnya manusia terkait dengan perubahan dalam posisinya
yang dilakukan dengan mengeluarkan upaya dan tenaga,
sedangkan malaikat tidak perlu mengeluarkan tenaga atau pun melakukan perubahan posisi. Karena itu jangan
kalian mengira bahwa naik atau turunnya malaikat sama dengan naik atau turunnya jasad lain.
Naik dan turunnya malaikat mirip dengan naik
dan turunnya Tuhan dari dan ke ‘Arasy-Nya serta dari langit ke bumi. Allah Swt. telah menjadikan eksistensi (keberadaan) para malaikat sebagai bagian dari keimanan dan berfirman bahwa:
وَ مَا
یَعۡلَمُ جُنُوۡدَ رَبِّکَ اِلَّا ہُوَ
“Tidak ada yang
mengetahui lasykar-lasykar Tuhan
engkau selain Dia” (Al-Muddatsir
[74]:32).
Yakinilah naik atau turunnya
malaikat, tetapi kalian tidak perlu mencoba menembus realitas
mereka, karena yang demikian itulah yang
terbaik dan yang terdekat dengan
ketakwaan. Allah Swt. mengungkapkan
mereka tersebut sebagai berdiri, sujud, berbaris dalam shaf, mengagungkan Tuhan dan menempati posisi yang telah ditetapkan bagi mereka. Dia mengkaruniakan fitrat tersebut kepada mereka secara abadi dan permanen serta
menjadikannya sebagai karakteristik
mereka.
Dengan demikian tidak dimungkinkan malaikat meninggalkan
sujud, berdiri, mengusik barisan atau menghentikan pengagungan kesucian Tuhan,
lalu turun ke bumi meninggalkan langit dari maqam (kedudukan) mereka. Sesungguhnya mereka itu bergerak sejalan dengan fitrat
mereka tetapi tetap berada di posisi
laiknya seorang Raja “yang bersemayam
teguh di atas ‘arasy (singgasana)”
(Thā Hā [20]:6).
Kalian sudah
mengetahui bahwa Tuhan turun ke langit bumi pada bagian terakhir dari malam, namun tidak bisa dikatakan bahwa Dia meninggalkan ‘Arasy-Nya untuk kemudian kembali lagi ke sana. Keadaannya sama dengan para malaikat yang merefleksikan fitrat Tuhan mereka, sebagaimana bayangan merupakan refleksi
dari wujud aslinya.
Kita tidak
mungkin mengungkapkan realitasnya tetapi kita tetap mengimaninya. Kita tidak bisa menggambarkan
kondisi mereka dengan istilah-istilah
kemanusiaan, namun kita meyakini fitrat,
keterbatasan, gerakan serta diamnya
mereka. Allah Swt. telah melarang
kita melakukan hal itu dan telah berfirman:
وَ مَا
یَعۡلَمُ جُنُوۡدَ رَبِّکَ اِلَّا ہُوَ
“Tidak ada yang
mengetahui lasykar-lasykar Tuhan
engkau selain Dia” (Al-Muddatstsir
[74]:32).
Karena
itu patuhilah kewajiban kalian kepada
Tuhan, wahai kalian manusia-manusia
bijak.”
(Ayena Kamalati Islam,
Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 384-387, London, 1984).
Malaikat Penyebab Perubahan
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai pengaruh para malaikat
terhadap kinerja alam semesta:
“Setelah
jelas, bahwa sebagaimana hukum alam
Samawi mengatur tentang adanya pengaruh
eksternal yang disebut sebagai malaikat
dalam sistem yang berkaitan dengan jasmani, begitu juga yang terdapat
dalam sistem keruhanian. Dalam sistem jasmani (fisik) adanya perubahan selalu terjadi melalui mediasi (perantaraan) malaikat.
Allah Swt. menyebut para malaikat
sebagai pengatur (regulator) dan distributor yang menjadi kausa (sebab) dari setiap perubahan dan perkembangan.
Mereka itulah yang menjunjung tinggi
(memikul) ‘Arasy Ilahi. Ayat yang
menyatakan:
اِنۡ کُلُّ نَفۡسٍ لَّمَّا عَلَیۡہَا حَافِظٌ ؕ﴿﴾
“Tiada suatu jiwa pun melainkan mempunyai penjaga
atas dirinya” (Al-Thāriq
[86]:5).
Ayat tersebut membuktikan
adanya penugasan malaikat atas
segala sesuatu di alam. Ayat
berikut ini juga mengindikasikan hal
yang sama:
وَ انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَہِیَ
یَوۡمَئِذٍ وَّاہِیَۃٌ ﴿ۙ﴾ وَّ الۡمَلَکُ عَلٰۤی
اَرۡجَآئِہَا ؕ وَ یَحۡمِلُ عَرۡشَ رَبِّکَ فَوۡقَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ
ثَمٰنِیَۃٌ ﴿ؕ﴾
“Dan langit akan terbelah, maka pada hari itu langit akan menjadi rapuh
sekali. Dan malaikat-malaikat akan berdiri di tepi-tepinya dan di atas mereka pada hari itu delapan malaikat akan memikul ‘Arasy Tuhan engkau” (Al-Hāqqah [69]:17-18).
Berarti pada hari Kiamat nanti, langit akan koyak dan kehilangan fitratnya, atau dengan kata
lain, para malaikat yang menjadi ruh dari langit dan benda-benda
langit akan melepaskan tugasnya
dan berdiri di tepi-tepinya,
sedangkan 8 dari antara mereka akan menjunjung tinggi (memikul) ‘Arasy Ilahi.
Shah Abdul ‘Aziz[2]
dalam tafsirnya tentang ayat ini
menulis, bahwa kelangsungan langit
tergantung kepada ruhnya yaitu para malaikat yang menjadi ruh langit dan benda-benda langit. Sebagaimana ruh menjaga dan mengendalikan
raganya, begitu juga sebagian malaikat mengendalikan langit dan benda-benda
langit, dimana semua benda langit
kewujudannya terjadi melalui mereka, dan gerakan
dari planet-planet melalui sarana
mereka.
Ketika para malaikat meninggalkan posisi mereka -- seperti halnya ruh yang meninggalkan jasad raga -- maka keseluruhan
sistem langit akan terguncang.
Ayat lain dalam Al-Quran juga mengindikasikan hal ini:
وَ لَقَدۡ زَیَّنَّا السَّمَآءَ
الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ وَ جَعَلۡنٰہَا
رُجُوۡمًا لِّلشَّیٰطِیۡنِ
“Dan
sungguh Kami benar-benar telah menghiasi langit terbawah dengan pelita-pelita (bintang-bintang)
itu sebagai sarana untuk mengusir syaitan-syaitan” (Al-Mulk [67]:6).
Para Malaikat Merupakan
Regulator dan Distributor Kinerja Alam
Semesta
Telah dikemukakan
oleh ayat-ayat Al-Quran bahwa regulator
dan distributor semua hal dari langit ke bumi adalah para malaikat, dan dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa bintang beralih (meteor-meteor) adalah bintang-bintang di langit bawah. Kedengarannya hal ini bersifat kontradiktif dengan ayat tentang malaikat, namun jika direnungi secara teliti maka kontradiksi itu sebenarnya tidak ada.
Kitab Suci Al-Quran telah mengajarkan bahwa para malaikat itu seperti ruh
atau jiwa dari langit dan benda-benda
langit, dan jelas bahwa jiwa itu
tidak terpisah dari raganya. Karena
itulah Allah Swt. di beberapa tempat
dalam Al-Quran menyatakan malaikat sebagai penyebab dari bintang jatuh
(meteor), dan di tempat lain mengemukakan bintang-bintang
itulah yang jadi penyebabnya, karena
malaikat telah mempengaruhi bintang-bintang tersebut sebagaimana halnya jiwa mempengaruhi raga.
Pengaruh tersebut bermula dari bintang-bintang
yang mempengaruhi atmosfir bumi dan
menjadi bintang jatuh yang menyala berkat kekuasaan Allah Swt.. Dengan cara lain, adalah para malaikat yang mengendalikan bintang jatuh ke arah kiri atau kanan dengan nur mereka. Tidak ada filosof yang akan menyangkal bahwa segala
sesuatu yang terjadi di bumi atau di atmosfir
sebenarnya bersumber pada bintang-bintang dan pengaruh langit.
Tidak semua
orang bisa menembus misteri bahwa fitrat bintang-bintang memperolehnya dari para malaikat. Misteri tersebut diungkapkan
oleh Al-Quran dan mereka yang
memiliki wawasan bisa menelaahnya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian,
Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. hlm. 137-143, London, 1984).
Begitu unik serta misteri masalah malaikat,
sehingga bagi mereka yang melalui logika
(akal) berusaha untuk menyelidikinya, jawaban
Allah Swt. atas pertanyaan
mengenai hakikat ruh berikut ini sangat relevan
dengan kerahasiaan
atau kegaiban malaikat, firman-Nya:
وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ
الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا -- dan kamu sama sekali tidak
diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.” (Bani Israil [17]:86).
Firman Allah Swt. berikut ini mencukupi
untuk mengekang hasrat berlebihan keingin-tahuan manusia mengenai masalah malaikat secara mendalam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡ اَشۡیَآءَ اِنۡ تُبۡدَ
لَکُمۡ تَسُؤۡکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡہَا حِیۡنَ یُنَزَّلُ الۡقُرۡاٰنُ تُبۡدَ لَکُمۡ ؕ عَفَا اللّٰہُ
عَنۡہَا ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ حَلِیۡمٌ ﴿﴾ قَدۡ سَاَلَہَا قَوۡمٌ مِّنۡ قَبۡلِکُمۡ ثُمَّ اَصۡبَحُوۡا بِہَا
کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan rincian hal-hal yang apabila diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu, dan jika
kamu menanyakan mengenai itu ketika Al-Quran sedang diturunkan pasti akan
diterangkan kepadamu. Allah
memaafkan mengenainya, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. Sungguh satu
kaum sebelum kamu telah menanyakan
perihal itu, kemudian mereka menjadi
kafir karenanya. (Al-Māidah
[5]:102-103).
Penjelmaan Malaikat Dalam Wujud Laki-laki
Walau pun hakikat “wujud”
para malaikat tidak akan pernah ada
manusia yang mengetahuinya, namun
demikian Allah Swt. dalam Al-Quran mengemukakan salah satu penjelmaannya dalam bentuk
seorang laki-laki sempurna,
contohnya adalah ketika malaikat Jibril a.s. memberikan kabar gembira dari Allah Swt. kepada Maryam binti ‘Imran mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ مَرۡیَمَ ۘ
اِذِ انۡتَبَذَتۡ مِنۡ اَہۡلِہَا مَکَانًا شَرۡقِیًّا ﴿ۙ﴾ فَاتَّخَذَتۡ
مِنۡ دُوۡنِہِمۡ حِجَابًا ۪۟
فَاَرۡسَلۡنَاۤ اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا
سَوِیًّا ﴿﴾ قَالَتۡ
اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ
اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا ﴿﴾ قَالَ اِنَّمَاۤ
اَنَا رَسُوۡلُ رَبِّکِ ٭ۖ لِاَہَبَ لَکِ غُلٰمًا زَکِیًّا ﴿﴾ قَالَتۡ
اَنّٰی یَکُوۡنُ لِیۡ غُلٰمٌ وَّ لَمۡ یَمۡسَسۡنِیۡ بَشَرٌ
وَّ لَمۡ اَکُ
بَغِیًّا ﴿﴾ قَالَ کَذٰلِکِ ۚ قَالَ رَبُّکِ ہُوَ عَلَیَّ ہَیِّنٌ ۚ وَ لِنَجۡعَلَہٗۤ
اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ
رَحۡمَۃً مِّنَّا ۚ وَ کَانَ اَمۡرًا مَّقۡضِیًّا ﴿﴾
Dan
ceriterakanlah di dalam Kitab itu
mengenai Maryam, ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke
suatu tempat di sebelah timur, maka ia
membuat di antara mereka tabir اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا
بَشَرًا سَوِیًّا فَاَرۡسَلۡنَاۤ -- lalu Kami
mengutus kepadanya malaikat
Kami lalu ia menampak kepadanya berupa manusia
sempurna. قَالَتۡ
اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ
اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا -- Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha
Pemurah dari engkau, jika engkau
bertakwa”. Ia, malaikat, menjawab:
"Sesungguhnya aku seorang utusan Tuhan engkau supaya aku
memberikan kabar gembira kepada
engkau mengenai seorang anak laki-laki suci." Ia, Maryam, berkata: ”Bagaimanakah akan menjadikan seorang anak laki-laki bagiku,
padahal tidak ada seorang manusia
menyentuhku, dan aku tidak berzina.”
Ia, malaikat, berkata: "Demikianlah. Rabb (Tuhan) engkau berfirman: "Itu mudah bagi-Ku, dan supaya Kami
menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia serta suatu
rahmat dari Kami, dan hal itu adalah
perkara yang telah diputuskan.” (Maryam [19:17-22). Lihat pula QS.3:46-50.
Ungkapan ayat: فَاَرۡسَلۡنَاۤ اِلَیۡہَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَہَا بَشَرًا سَوِیًّا -- “lalu Kami mengutus ke-padanya malaikat Kami lalu ia
menampak kepadanya berupa manusia sempurna” menunjukkan bahwa kabar gembira dari Allah Swt. mengenai kelahiran seorang putra agung
itu tidak disampaikan kepada Maryam
berupa kata-kata yang diucapkan dan beliau dapat mendengarnya, melainkan berupa
mimpi (ru’ya) atau kasyaf.
Dalam kasyaf, satu malaikat datang kepada beliau berupa seorang laki-laki segar bugar menyampaikan kepada beliau amanat Ilahi mengenai kelahiran seorang putra. Jadi bukanlah suatu ruh
yang masuk ke dalam tubuh (rahim) Maryam binti
‘Imran, melainkan hanya satu malaikat
yang menampakkan diri dalam wujud seorang laki-laki dan nampak kepada beliau dalam kasyaf.
Makna ayat selanjutnya: قَالَتۡ اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ
بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡکَ اِنۡ کُنۡتَ تَقِیًّا -- Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha
Pemurah dari engkau, jika engkau
bertakwa”. Seperti jelas
dari ayat yang mendahuluinya apa yang dilihat Maryam binti ‘Imran hanyalah sebuah kasyaf,
dan pada umumnya bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya dalam keadaan bangun
maka tidak disukainya pula hal itu bila dilihatnya dalam kasyaf.
Demikian juga ketika Maryam binti Imran melihat malaikat itu sedang berdiri di
hadapannya berupa seorang laki-laki,
maka sebagai seorang perempuan shalih sangat wajar beliau terperanjat
dan menjadi bingung seperti pula
beliau akan terperanjat dan menjadi
bingung seandainya dalam keadaan bangun
melihat seorang laki-laki di dekat
beliau, karena itu sudah sewajarnya kalau beliau mohon perlindungan Ilahi terhadap orang itu.
Kata "utusan"
(rasul) menunjukkan bahwa malaikat
itu hanya pengemban amanat Tuhan, dan
bahwa beliau tidak datang untuk memberi Maryam binti ‘Imran seorang anak melainkan hanya membawa kabar gembira mengenai kelahiran seorang
anak. Siapa yang tidak mengetahui bahwa Allah-lah
yang mengaruniakan anak dan bukan malaikat? Tugas seorang malaikat hanya terbatas pada penyampaian kehendak dan keputusan Tuhan saja.
Penjelmaan Malaikat Tidak Pernah Dalam
Wujud Perempuan
Dari
Al-Quran diketahui bahwa walau pun para malaikat dalam kasyaf dapat menampakkan
dirinya kepada yang menerima kasyaf
dalam berbagai perwujudan manusia,
tetapi tidak pernah dalam wujud perempuan,
sekali pun penulisan malaikat dalam bahasa Arab dalam bentuk muannats
(perempuan), fiman-Nya:
اَفَاَصۡفٰىکُمۡ
رَبُّکُمۡ بِالۡبَنِیۡنَ وَ اتَّخَذَ مِنَ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنَاثًا ؕ اِنَّکُمۡ لَتَقُوۡلُوۡنَ قَوۡلًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Apakah Rabb (Tuhan) kamu memilih untukmu anak-anak lelaki sedangkan Dia sendiri mengambil
anak-anak perempuan dari antara para malaikat?
Sesungguhnya kamu mengucapkan kata-kata
yang besar dosanya. (Bani
Israil [17]:41). Lihat pula QS.37:151-155; QS.43:20; QS.52:40.
Firman-Nya lagi:
وَ کَمۡ مِّنۡ مَّلَکٍ فِی السَّمٰوٰتِ
لَا تُغۡنِیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ اَنۡ یَّاۡذَنَ اللّٰہُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یَرۡضٰی ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ
لَیُسَمُّوۡنَ الۡمَلٰٓئِکَۃَ تَسۡمِیَۃَ
الۡاُنۡثٰی ﴿﴾ وَ
مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ ؕ اِنۡ
یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ ۚ وَ
اِنَّ الظَّنَّ لَا یُغۡنِیۡ مِنَ
الۡحَقِّ شَیۡئًا ﴿ۚ﴾
Dan berapa banyak malaikat di seluruh
langit syafaat mereka tidak akan
berfaedah sedikit pun, kecuali sesudah
Allah mengizinkan bagi siapa yang
Dia kehendaki dan Dia ridhai. اِنَّ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ لَیُسَمُّوۡنَ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ تَسۡمِیَۃَ الۡاُنۡثٰی
-- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat niscaya mereka memberikan nama-nama perempuan kepada malaikat-malaikat. وَ مَا
لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ -- Mereka sekali-kali tidak memiliki
pengetahuan mengenainya. اِنۡ
یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ -- Mereka tidak
mengikuti melainkan dugaan, وَ اِنَّ الظَّنَّ لَا یُغۡنِیۡ مِنَ الۡحَقِّ شَیۡئًا -- dan sesungguhnya dugaan
itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (An-Najm [53]:27-29).
Sebagaimana tidak ada
peralatan mekanik mau pun elektronik buatan
manusia yang berstatus jantan (laki-laki) dan betina (perempuan), demikian pula halnya dengan para malaikat yang merupakan instrument (sarana) Allah Swt. yang melaksanakan kehendak-Nya mengenai seluruh makhluk-Nya, terutama manusia, sebab para malaikat
tidak memiliki kehendak sendiri
selain melakanakan kehendak Allah
Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ
وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ
قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ
مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
diri kamu dan keluargamu dari Api,
yang bahan bakarnya manusia dan batu, عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ -- penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah apa yang Dia perintahkan kepada mereka وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ -- dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.
(At-Tahrīm
[66]:7).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 13 Mei 2016
[1] Dihya
al-Kalbi adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang diutus membawa surat
beliau kepada kaisar Roma Timur yaitu
Heraclius pada tahun 628 M berisi ajakan untuk masuk ke dalam agama Islam.
Kejadian ini setelah perdamaian udaibiah. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
[2]
Shah
Abdul Aziz Dehlavi bin Shah Waliullah bin Sheikh Wajihuddin (1745-1823 M), cendekiawan
M uslim yang antara lain menterjemahkan Al-Q uran ke dalam bahasa Urdu selain bukunya
Tuhfah yang mencoba menjembatani konsep-konsep Sunni dan Shiah . (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar