Selasa, 10 Mei 2016

Hadits Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai "Peran" Malaikat Terhadap "Janin" Manusia dalam "Rahim" & Tiga "Bentuk" Malaikat dan Makna "Turunnya"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH  



 HADITS NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MENGENAI PERAN MALAIKAT  TERHADAP JANIN MANUSIA DALAM RAHIM &   TIGA  “BENTUK” MALAIKAT DAN MAKNA “TURUNNYA


Bab 43

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam    Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    mengenai cara Allah Swt. memenuhi kebutuhan hidup manusia ketika masih sebagai janin dalam rahim ibu, setelah menjadi bayi dan setelah menjadi balita hingga menjadi manusia dewasa, yaitu sehubungan dengan  ayat   کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”     dalam firman Allah Swt.:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-31).

Cara “Kerja Malaikat” Dalam Rahim Ibu

        Sehubungan dengan ayat   کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- “Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”     Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan:
      “Tidak ada dalam Al-Quran dinyatakan bahwa Tuhan itu bisa berubah Sifat, tetapi jelas dikatakan kalau manusia memang mudah berubah. Adapun Tuhan menjalankan proses perubahan sejalan dengan kodrat-Nya. Ketika seorang anak berada di dalam rahim maka ia dihidupi oleh darah ibunya dan ketika telah lahir maka ia dihidupi pada awalnya oleh susu dan setelah itu dengan makanan lainnya. Allah Swt. telah mengatur hal ini dalam suatu proses yang berlangsung bersama waktu.
      Ketika anak itu berada dalam rahim maka Tuhan mengatur agar partikel-partikel internal dalam tubuh ibunya untuk memproduksi darah baginya. Ketika sudah lahir maka pengaturan tersebut dibatalkan. Malaikat sebagai partikel-partikel yang mengatur susu ibu, diperintahkan untuk menghasilkan susu.
      Begitu anak itu selesai masa susuannya maka perintah itu pun dibatalkan dan malaikat yang merupakan partikel bumi diperintahkan untuk menghasilkan makanan dan minuman baginya sampai akhir hayatnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi gambaran perubahan dalam firman Tuhan.
     Tuhan sudah memberitahukan kepada kita melalui Al-Quran bahwa sistem alamiah ini tidak berjalan dengan sendirinya dan bahwa semua partikel atau zarah dari semua benda-benda mendengar perintah Tuhan dan berlaku sebagai malaikat-Nya. Para malaikat tersebut ditugaskan oleh Wujud-Nya untuk melaksanakan berbagai fungsi yang telah ditetapkan atas mereka masing-masing dimana mereka melaksanakan semuanya sejalan dengan perintah-Nya.
    Partikel dari emas akan menghasilkan emas, partikel perak menghasilkan perak, partikel mutiara akan menghasilkan mutiara, sedangkan partikel dari tubuh manusia menyiapkan anaknya di dalam rahim. Keseluruhan partikel tersebut tidak berfungsi atas kemauannya sendiri, melainkan mengikuti perintah suara Tuhan dan bekerja sejalan dengan itu. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai malaikat-Nya.
     Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka semua itu termasuk malaikat bumi. Adapun malaikat langit melaksanakan pengaruhnya dari langit, seperti sinar matahari yang merupakan malaikat Tuhan yang menjadikan matang buah-buahan di pohon dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat Tuhan yang menghimpun awan yang mempengaruhi ladang pertanian dengan berbagai cara.
     Di samping mereka terdapat banyak lagi berbagai malaikat dengan fungsinya masing-masing. Alam menjadi saksi bahwa malaikat merupakan wujud yang esensial dan kita bisa menyaksikan kinerjanya dengan mata kita sendiri.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. XIX, hlm.  89-90, London, 1984).
      Sehubungan dengan cara Allah Swt. memenuhi kebutuhan hidup dari  janin dalam rahim ibu yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. tersebut sehubungan  dengan tugas  para malaikat, tercantum pula dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw.:
Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud r.a. beliau berkata: “Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan harus dipercaya: “Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma), kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging, kemudian diutuslah malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka. Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) hingga antara dia dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Nār (neraka), sehingga masuk ke dalamnya (an-Nār). Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk an-Nār, hingga antara dia dengan an-Nār (neraka) sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga masuk ke dalamnya (jannah)” (H.R A-Bukhari dan Muslim).
     Makna ucapan Nabi Besar Muhammad saw.  “kemudian diutuslah malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka,” tidak berarti ada malaikat yang benar-benar masuk ke dalam rahim ibu untuk melakukan hal tersebut.

Tiga Bentuk Malaikat  & Para Malaikat Tetap Berada  di Posisinya  di Alam Malakut

    Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  “wujud”  para malaikat:
      “Kitab Suci Al-Quran mengemukakan 3 bentuk jenis malaikat yang dapat dikategorikan sebagai:
1.     Sebagai partikel-partikel jasmani bumi dan fitrat dari ruh.
2.     Sebagai langit, matahari, bulan, awan dan lain-lain yang beroperasi di alam.
3.     Sebagai kekuatan yang berada di atas semuanya itu seperti Jibril dan Mikail dan yang lain-lain,yang dalam kitab Veda disebut sebagai Jinn.
      Al-Quran sering sekali mengemukakan kata malaikat[1] seperti Jibril dan Mikail dan yang lainnya tersebut. Segala sesuatu yang mendengar suara-Nya adalah malaikat-Nya. Karena itu semua partikel di alam ini adalah malaikat Tuhan karena mereka mendengar dan mematuhi suara-Nya.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIX, hlm.  456-457, London, 1984).
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai cara “turunnya” dan “cara kerja” para malaikat dalam melaksanakan berbagai perintah Allah Swt.:
     “Para cendekiawan Islam tidak ada yang menyatakan bahwa para malaikat turun ke bumi dalam wujud seperti manusia yang berjalan di atas dua kaki. Pandangan seperti itu jelas keliru,  karena jika malaikat harus mengambil bentuk manusia ketika turun ke bumi maka mustahil bagi mereka untuk dapat melaksanakan tugas-tugas mereka dengan sempurna.
     Sebagai contoh, malaikat maut bisa mengambil nyawa dari ribuan orang yang tersebar di berbagai negeri dan kota yang terpisah oleh jarak ribuan kilometer hanya dalam waktu sekejap. Jika ia harus berjalan dengan kakinya ke setiap negeri, kota dan rumah guna mencabut nyawa tiap orang maka waktu berbulan-bulan pun tidak akan memadai guna melaksanakan tugasnya. Adalah suatu hal yang mustahil ada wujud seperti manusia yang bisa berkelana ke seluruh dunia dalam waktu sekejap mata.
     Setiap malaikat tidak akan bergerak satu sentimeter pun dari posisi tempat yang telah ditentukan Tuhan baginya. Allah Yang Maha Perkasa menyatakan tentang para malaikat tersebut dalam ayat:
وَ مَا مِنَّاۤ   اِلَّا  لَہٗ  مَقَامٌ  مَّعۡلُوۡمٌ ﴿﴾ۙ   وَّ  اِنَّا  لَنَحۡنُ الصَّآفُّوۡنَ ﴿﴾ۚ
[Mereka berkata]: “Tiada di antara kami ini melainkan baginya ada derajat (posisi) yang telah diketahui. Dan sesungguhnya kami  benar-benar yang berbaris dalam shaf-shaf’ (Ash-Shāffat [37]:165-166).
       Sebagaimana matahari menduduki posisinya dan sinar serta panasnya yang menyebar di bumi telah memberi manfaat kepada semuanya, begitu juga halnya dengan ruh-ruh langit -- apakah namanya disebut sebagai benda-benda angkasa menurut konsep filsafat Yunani, atau spirit (ruh) bintang-bintang dalam istilah kitab Veda, atau kita menyebutnya langsung sebagai malaikat-malaikat Tuhan --  yang jelas semua ciptaan tersebut menduduki posisi yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Bijaksana dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
    Ciptaan tersebut melaksanakan kinerja eksternal di samping juga yang internal. Seperti halnya tubuh dan indera kita dipengaruhi oleh matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya, maka demikian pula hati, fikiran dan indera keruhanian kita pun dipengaruhi para malaikat setara dengan kemampuan diri kita masing-masing.
      Apa pun yang memiliki kapasitas untuk menjadi suatu bentuk yang lebih luhur --  walaupun hanya sebutir debu yang masuk ke dalam kerang mutiara atau setitik air yang masuk ke dalam rahim seorang ibu -- melalui bimbingan keruhanian dari para malaikat Tuhan kemudian menjadi sebutir mutiara atau seorang manusia dengan nurani dan akal yang luhur.

Malaikat Merupakan Sumber Kehidupan (Ruh) Planet-planet

     Cara Kitab Suci Al-Quran menjelaskan masalah malaikat sesungguhnya bersifat langsung dan masuk akal, sehingga tidak ada penyangkalan atasnya. Renungan yang dalam atas keseluruhan Al-Quran telah mengungkapkan bahwa untuk pengembangan manusia, dan juga bagi pengembangan eksternal mau pun internal alam semesta, harus ada suatu sarana mediasi (perantara).
      Nyata sekali dari beberapa indikasi dalam Al-Quran bahwa beberapa wujud murni yang disebut sebagai malaikat mempunyai hubungan nyata dengan benda-benda angkasa. Sebagian malaikat bertugas menggiring angin dan bagian lain menyebabkan turunnya hujan serta yang lainnya lagi yang membawa berbagai pengaruh turun ke muka bumi.
      Kemungkinan besar wujud ciptaan murni tersebut berkaitan dengan bintang-bintang terang yang ada di langit, hanya saja hubungan tersebut tidak sama dengan hubungan di antara makhluk hidup dengan nyawanya sendiri. Ruh-ruh murni  -- yang karena kecemerlangan sinar yang dimilikinya -- secara spiritual mempunyai hubungan yang belum jelas dengan bintang-bintang terang yang demikian kuat itu. Ada yang memperkirakan jika ruh-ruh murni itu melepaskan diri dari bintang-bintang tersebut maka sinarnya akan meredup.  
      Adalah berkat kekuatan tersembunyi para ruh tersebut maka bintang-bintang bisa melaksanakan fungsinya. Dengan kata lain, sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa adalah Sumber kehidupan dari seluruh alam, maka ruh-ruh yang bercahaya itu adalah kehidupan dari planet dan bintang-bintang. Tidak ada yang membantah bahwa semua bintang dan planet di langit memang ikut mempengaruhi pengembangan dan penyempurnaan alam bumi.
       Sudah dibuktikan sebagai kebenaran bahwa semua tumbuhan, batu mineral dan hewan setiap saat dipengaruhi oleh benda-benda langit. Bahkan seorang petani yang bodoh pun mengetahui kalau sinar rembulan mempengaruhi besarnya buah-buahan dan sinar matahari membantu menjadikan buah itu matang dan manis serta angin bisa membantu penyebaran dan kuantitasnya.
      Sebagaimana alam yang kasat mata ini dikembangkan melalui pengaruh dari benda-benda angkasa, tidak diragukan lagi bahwa alam yang tersembunyi dengan perintah Allah Swt. juga dipengaruhi oleh ruh-ruh cemerlang yang mempunyai kaitan dengan benda-benda langit yang terang seperti halnya hubungan jiwa dengan raga.

Penampakan Malaikat Seperti  Wujud Manusia

   Sepertinya terkesan kurang hormat bahwa harus ada sarana mediasi (perantara) di antara Tuhan dengan para nabi suci guna menyampaikan suatu nur wahyu kepada mereka. Namun perenungan menunjukkan bahwa tidak ada suatu yang kurang hormat dalam hal ini, melainkan kenyataan kalau hal itu justru sejalan dengan kaidah Tuhan yang bersifat umum. Nyatanya para nabi itu pun bergantung pada mediator dalam hal-hal yang berkaitan dengan kinerja tubuh dan fitrat mereka sendiri.
  Betapa pun cemerlang dan berberkatnya mata seorang nabi namun sebagaimana halnya mata orang biasa, ia tidak akan mampu melihat apa pun tanpa bantuan sinar matahari atau substitusinya, dan telinganya tidak bisa mendengar tanpa mediasi (perantaran) udara.
   Dengan demikian kita harus mengakui bahwa keruhanian seorang nabi tentunya juga dipengaruhi oleh ruh cemerlang bintang-bintang di langit, bahkan lebih lagi dibanding keruhanian orang awam, karena tambah sempurna dan jernih kapasitas yang dimiliki maka akan lebih jelas juga dan sempurna pengaruh yang ditimbulkannya.
  Al-Quran menunjukkan bahwa bintang-bintang dan planet masing-masing memiliki ruh dan karena masing-masing memiliki karakteristik yang mempengaruhi segala sesuatu di bumi, sejalan dengan itu dengan perintah Tuhan maka ruh cemerlang mereka juga mempunyai sifat-sifat yang berbeda dalam mempengaruhi ruh alam bumi.
       Terkadang ruh cemerlang ini muncul dalam wujud [seperti] manusia kepada hamba-hamba Allah yang sempurna. Ini bukanlah suatu omong kosong tetapi  merupakan suatu ketentuan yang harus diterima oleh para pencari kebenaran.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 66-72, London, 1984).

Makna Naik dan Turunnya Para Malaikat  & Makna  Satu  “Hari” =  50.000 Tahun

    Allah Swt.  berfirman  dalam Al-Quran mengenai para malaikat  dengan menggunakan istilah kiasan  “turun”  dan “naik”, berikut firman-Nya mengenai hal tersebut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۚ﴿ۖ﴾  اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنٰہُ  فِیۡ  لَیۡلَۃِ  الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ﴾   وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ؕ﴿﴾ لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ  مِّنۡ  اَلۡفِ شَہۡرٍ ؕ﴿ؔ﴾  تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ﴾  سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Takdir  Takdir. Dan apakah engkau mengetahui apa Malam Takdir itu?  Malam Takdir  itu lebih baik daripada seribu bulan. تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ  --   Di dalamnya turun  malaikat-malaikat dan ruh  dengan izin Rabb (Tuhan) mereka  mengenai segala perintahmalam itu penuh kesejahtaraan hingga fajar terbit. (Al-Qadr [97]:1-6).
     Kemudian mengenai “naiknya” para malaikat  dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ سَاَلَ  سَآئِلٌۢ  بِعَذَابٍ  وَّاقِعٍ ۙ﴿﴾  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ لَیۡسَ لَہٗ  دَافِعٌ ۙ﴿﴾  مِّنَ اللّٰہِ  ذِی الۡمَعَارِجِ ؕ﴿﴾  تَعۡرُجُ  الۡمَلٰٓئِکَۃُ  وَ الرُّوۡحُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ  خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ﴿﴾  فَاصۡبِرۡ  صَبۡرًا  جَمِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّہُمۡ  یَرَوۡنَہٗ  بَعِیۡدًا ۙ﴿﴾  وَّ  نَرٰىہُ  قَرِیۡبًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Seorang penanya  menanyakan mengenai  azab yang akan terjadi,    untuk orang-orang kafir, yang seorang pun   dapat   menghindarkannya, مِّنَ اللّٰہِ  ذِی الۡمَعَارِجِ  --   azab itu dari Allah Yang memiliki  tempat-tempat naik, تَعۡرُجُ  الۡمَلٰٓئِکَۃُ  وَ الرُّوۡحُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ  خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَ --Malaikat-malaikat dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun.  فَاصۡبِرۡ  صَبۡرًا  جَمِیۡلًا  --    Maka bersabarlah dengan sabar yang baik.  اِنَّہُمۡ  یَرَوۡنَہٗ  بَعِیۡدًا --   Sesungguhnya mereka memandang hari itu sangat jauh, وَّ  نَرٰىہُ  قَرِیۡبًا  --  sedangkan Kami melihatnya dekat.  (Al-Ma’arīj [70]:1-8).
   Sementara azab yang akan menimpa orang-orang kafir akan membuat mereka binasa, Allah Swt. menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang taat kenaikan ruhani yang setinggi-tingginya. Itulah makna ayat: مِّنَ اللّٰہِ  ذِی الۡمَعَارِجِ  --   “azab itu dari Allah Yang memiliki  tempat-tempat naik.”
 Sedangkan makna ayat selanjutnya: تَعۡرُجُ  الۡمَلٰٓئِکَۃُ  وَ الرُّوۡحُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ  خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ  -- “Malaikat-malaikat dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun,“  karena ar-ruh berarti jiwa manusia, ayat ini dapat berarti bahwa perkembangan dan kemajuan ruh manusia tidak akan ada hentinya, termasuk di alam akhirat  (QS.66:9).
 Atau ayat ini dapat berarti bahwa rancangan-rancangan dan rencana-rencana Allah Swt.  dapat meliputi ribuan tahun sampai jadi matang. Atau isyarat itu dapat juga tertuju kepada peredaran (siklus) tertentu selama 50.000 tahun yang selama itu beberapa  perubahan agung yang tertentu telah ditakdirkan akan terjadi, sebab nubuatan-nubuatan Allah Swt.  itu mempunyai masa-masa, zaman-zaman, dan peredaran-peredaran (daur) waktu tertentu yang di didalamnya nubu-atan-nubuatan itu menjadi sempurna.
Sehubungan “turun” dan “naiknya” para malaikat tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
       “Kami tidak menyangkal tentang turunnya malaikat,  dan jika memang ada yang bisa membuktikan bahwa malaikat memang demikian itu cara turunnya dari langit, kami ingin bisa menguji bukti tersebut dan meyakininya jika memang ternyata benar.
   Eksistensi  (keberadaan) malaikat merupakan bagian dari Rukun Iman. Turunnya Tuhan ke langit dunia  dan turunnya malaikat merupakan realitas (kenyataan) yang belum bisa dimengerti sepenuhnya. Sepanjang yang diketahui dari Kitab Suci, malaikat muncul di bumi sebagai suatu ciptaan tersendiri.
       Kemunculan malaikat Jibrail dalam bentuk sosok Dihya Kalbi[2] merupakan suatu bentuk ciptaan baru, kalau tidak, lalu apa lagi namanya? Keadaan tersebut tidak berarti bahwa mengakui adanya suatu bentuk ciptaan baru, lalu kita harus menafikan ciptaan sebelumnya.
    Ciptaan yang pertama diteguhkan dan ditetapkan di langit, sedangkan ciptaan kedua merupakan efek dari kekuasaan Allah Swt. yang Maha Luas. Apakah kita harus meragukan kemampuan Allah Swt. untuk memperlihatkan satu sosok di dua tempat dalam dua jasad? Jelas tidak!
اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ
Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al-Baqarah [2]:107). (Sirrul Khilafah, Amritsar, Riyadh Hind Press, 1312 H.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VIII, hlm.  414-415, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 Mei    2016










[1] Jibril adalah malaikat yang dikenal sebagai pembawa wahyu dari Allah Swt. kepada para nabi-nabi dan manusia yang terpilih. Adapun Mikail dianggap sebagai malaikat yang mengatur pembagian rezeki bagi seluruh makhluk. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).

[2] Dihya al-Kalbi adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang diutus membawa surat   beliau kepada kaisar Roma Timur yaitu Heraclius pada tahun 628 M . berisi ajakan untuk masuk ke dalam agama Islam. Kejadian ini setelah perdamaian  Hudaibiyah . (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar