Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
HADITS NABI BESAR MUHAMMAD
SAW. MENGENAI PERAN MALAIKAT TERHADAP JANIN
MANUSIA DALAM RAHIM & TIGA
“BENTUK” MALAIKAT DAN MAKNA
“TURUNNYA”
Bab 43
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai cara Allah Swt.
memenuhi kebutuhan hidup manusia
ketika masih sebagai janin dalam rahim ibu, setelah menjadi bayi dan setelah menjadi balita hingga menjadi manusia dewasa,
yaitu sehubungan dengan ayat کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- “Setiap hari Dia menampakkan
sifat-Nya dalam keadaan yang
berlainan” dalam firman Allah Swt.:
کُلُّ
مَنۡ عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ
یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ
شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ --dan akan
kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan)
engkau, Pemilik segala kemegahan
dan kemuliaan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Kepada-Nya memohon segala yang
ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- Setiap hari Dia menampakkan
sifat-Nya dalam keadaan yang
berlainan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan)
kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Ar-Rahmān
[55]:27-31).
Cara “Kerja Malaikat” Dalam Rahim
Ibu
Sehubungan dengan
ayat کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ
-- “Setiap hari Dia menampakkan
sifat-Nya dalam keadaan yang
berlainan” Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Tidak ada dalam Al-Quran dinyatakan
bahwa Tuhan itu bisa berubah Sifat, tetapi jelas dikatakan kalau manusia memang mudah berubah. Adapun Tuhan
menjalankan proses perubahan sejalan
dengan kodrat-Nya. Ketika seorang anak
berada di dalam rahim maka ia dihidupi oleh darah ibunya dan ketika telah lahir
maka ia dihidupi pada awalnya oleh susu dan setelah itu dengan makanan lainnya. Allah Swt. telah mengatur hal ini dalam suatu proses yang
berlangsung bersama waktu.
Ketika anak itu berada dalam rahim maka Tuhan mengatur agar partikel-partikel
internal dalam tubuh ibunya untuk memproduksi
darah baginya. Ketika sudah lahir
maka pengaturan tersebut dibatalkan. Malaikat sebagai partikel-partikel
yang mengatur susu ibu, diperintahkan untuk menghasilkan susu.
Begitu anak itu selesai masa susuannya maka perintah
itu pun dibatalkan dan malaikat yang merupakan partikel bumi diperintahkan untuk menghasilkan makanan dan minuman baginya sampai akhir hayatnya. Hal-hal seperti inilah
yang menjadi gambaran perubahan
dalam firman Tuhan.
Tuhan sudah memberitahukan kepada kita melalui Al-Quran bahwa sistem
alamiah ini tidak berjalan dengan
sendirinya dan bahwa semua partikel
atau zarah dari semua benda-benda mendengar
perintah Tuhan dan berlaku
sebagai malaikat-Nya. Para malaikat tersebut ditugaskan oleh Wujud-Nya
untuk melaksanakan berbagai fungsi yang telah ditetapkan atas mereka
masing-masing dimana mereka
melaksanakan semuanya sejalan dengan perintah-Nya.
Partikel dari emas akan menghasilkan emas,
partikel perak menghasilkan perak, partikel mutiara akan menghasilkan mutiara, sedangkan partikel
dari tubuh manusia menyiapkan anaknya di dalam rahim. Keseluruhan partikel
tersebut tidak berfungsi atas kemauannya
sendiri, melainkan mengikuti perintah
suara Tuhan dan bekerja sejalan dengan
itu. Itulah sebabnya mereka disebut
sebagai malaikat-Nya.
Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka semua itu termasuk malaikat
bumi. Adapun malaikat langit
melaksanakan pengaruhnya dari langit,
seperti sinar matahari yang
merupakan malaikat Tuhan yang menjadikan matang buah-buahan di pohon
dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat Tuhan yang menghimpun
awan yang mempengaruhi ladang
pertanian dengan berbagai cara.
Di samping mereka
terdapat banyak lagi berbagai malaikat
dengan fungsinya masing-masing. Alam menjadi saksi bahwa malaikat
merupakan wujud yang esensial dan kita bisa menyaksikan kinerjanya dengan
mata kita sendiri.” (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIX, hlm. 89-90, London, 1984).
Sehubungan
dengan cara Allah Swt. memenuhi kebutuhan hidup dari janin
dalam rahim ibu yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. tersebut
sehubungan dengan tugas para malaikat, tercantum pula dalam hadits
Nabi Besar Muhammad saw.:
Dari
Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud r.a. beliau berkata: “Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami
dan beliau adalah orang yang jujur dan harus dipercaya: “Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian
dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma), kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah
kemudian selama itu (40 hari) menjadi
segumpal daging, kemudian diutuslah malaikat,
ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka. Demi Allah Yang
Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk
jannah (surga) hingga antara dia
dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Nār (neraka), sehingga masuk ke dalamnya (an-Nār).
Sesungguhnya ada di antara kalian yang
beramal dengan amalan penduduk an-Nār, hingga antara dia dengan an-Nār (neraka) sejarak satu hasta kemudian ia
didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga masuk ke dalamnya (jannah)” (H.R
A-Bukhari dan Muslim).
Makna ucapan Nabi Besar Muhammad saw. “kemudian diutuslah malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya,
ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung
atau celaka,” tidak berarti ada malaikat yang benar-benar masuk ke dalam rahim ibu untuk melakukan
hal tersebut.
Tiga Bentuk Malaikat & Para Malaikat
Tetap Berada di Posisinya di Alam Malakut
Sehubungan
dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
mengenai “wujud” para malaikat:
“Kitab Suci Al-Quran mengemukakan 3 bentuk jenis malaikat yang dapat dikategorikan sebagai:
1. Sebagai partikel-partikel
jasmani bumi dan fitrat dari ruh.
2. Sebagai langit, matahari, bulan, awan dan lain-lain
yang beroperasi di alam.
3. Sebagai kekuatan
yang berada di atas semuanya itu
seperti Jibril dan Mikail dan yang lain-lain,yang dalam kitab Veda disebut sebagai Jinn.
Al-Quran sering sekali mengemukakan kata malaikat[1] seperti Jibril
dan Mikail dan yang lainnya
tersebut. Segala sesuatu yang mendengar suara-Nya adalah malaikat-Nya. Karena itu semua partikel di alam ini adalah malaikat
Tuhan karena mereka mendengar dan mematuhi
suara-Nya.” (Nasimi Dawat,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIX, hlm. 456-457, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai cara “turunnya” dan “cara kerja” para malaikat
dalam melaksanakan berbagai perintah
Allah Swt.:
“Para
cendekiawan Islam tidak ada yang
menyatakan bahwa para malaikat turun ke bumi dalam wujud seperti manusia yang berjalan di atas dua kaki. Pandangan
seperti itu jelas keliru, karena jika malaikat harus mengambil
bentuk manusia ketika turun ke bumi
maka mustahil bagi mereka untuk dapat
melaksanakan tugas-tugas mereka
dengan sempurna.
Sebagai contoh, malaikat maut bisa mengambil nyawa dari ribuan
orang yang tersebar di berbagai negeri dan kota yang terpisah oleh jarak
ribuan kilometer hanya dalam waktu
sekejap. Jika ia harus berjalan
dengan kakinya ke setiap negeri, kota dan rumah guna mencabut nyawa tiap orang maka waktu
berbulan-bulan pun tidak akan memadai guna melaksanakan tugasnya. Adalah suatu hal yang mustahil ada wujud
seperti manusia yang bisa berkelana
ke seluruh dunia dalam waktu sekejap
mata.
Setiap malaikat tidak akan bergerak satu sentimeter pun dari posisi tempat yang telah
ditentukan Tuhan baginya. Allah Yang
Maha Perkasa menyatakan tentang para malaikat
tersebut dalam ayat:
وَ مَا مِنَّاۤ اِلَّا لَہٗ
مَقَامٌ مَّعۡلُوۡمٌ ﴿﴾ۙ وَّ
اِنَّا لَنَحۡنُ الصَّآفُّوۡنَ
﴿﴾ۚ
[Mereka
berkata]: “Tiada di antara kami ini
melainkan baginya ada derajat (posisi) yang telah diketahui. Dan
sesungguhnya kami benar-benar yang berbaris dalam shaf-shaf”’ (Ash-Shāffat
[37]:165-166).
Sebagaimana matahari menduduki posisinya
dan sinar serta panasnya yang menyebar di
bumi telah memberi manfaat kepada semuanya, begitu juga halnya dengan ruh-ruh langit -- apakah namanya disebut sebagai benda-benda angkasa menurut konsep filsafat Yunani, atau spirit (ruh) bintang-bintang dalam istilah kitab
Veda, atau kita menyebutnya langsung sebagai malaikat-malaikat Tuhan --
yang jelas semua ciptaan
tersebut menduduki posisi yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Bijaksana dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
Ciptaan tersebut melaksanakan kinerja eksternal di samping juga yang internal. Seperti halnya tubuh dan indera kita dipengaruhi
oleh matahari, bulan dan benda-benda langit
lainnya, maka demikian pula hati, fikiran dan indera keruhanian kita pun dipengaruhi
para malaikat setara dengan kemampuan diri kita masing-masing.
Apa pun yang
memiliki kapasitas untuk menjadi suatu bentuk yang lebih luhur -- walaupun hanya sebutir debu yang masuk ke dalam kerang mutiara atau setitik
air yang masuk ke dalam rahim
seorang ibu -- melalui bimbingan
keruhanian dari para malaikat Tuhan
kemudian menjadi sebutir mutiara
atau seorang manusia dengan nurani dan akal yang luhur.
Malaikat Merupakan Sumber Kehidupan (Ruh) Planet-planet
Cara Kitab Suci Al-Quran menjelaskan masalah
malaikat sesungguhnya bersifat langsung dan masuk akal, sehingga tidak
ada penyangkalan atasnya. Renungan
yang dalam atas keseluruhan Al-Quran
telah mengungkapkan bahwa untuk pengembangan
manusia, dan juga bagi pengembangan
eksternal mau pun internal alam
semesta, harus ada suatu sarana
mediasi (perantara).
Nyata sekali
dari beberapa indikasi dalam Al-Quran
bahwa beberapa wujud murni yang
disebut sebagai malaikat mempunyai hubungan nyata dengan benda-benda angkasa. Sebagian malaikat bertugas menggiring angin dan bagian lain menyebabkan turunnya hujan serta yang lainnya lagi yang membawa berbagai pengaruh turun ke muka
bumi.
Kemungkinan
besar wujud ciptaan murni tersebut berkaitan dengan bintang-bintang terang yang ada di langit, hanya saja hubungan
tersebut tidak sama dengan hubungan di antara makhluk hidup dengan nyawanya
sendiri. Ruh-ruh murni
-- yang karena kecemerlangan
sinar yang dimilikinya -- secara spiritual
mempunyai hubungan yang belum jelas
dengan bintang-bintang terang yang
demikian kuat itu. Ada yang memperkirakan
jika ruh-ruh murni itu melepaskan
diri dari bintang-bintang tersebut
maka sinarnya akan meredup.
Adalah berkat kekuatan tersembunyi para ruh tersebut maka bintang-bintang bisa melaksanakan
fungsinya. Dengan kata lain, sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa adalah Sumber
kehidupan dari seluruh alam,
maka ruh-ruh yang bercahaya itu
adalah kehidupan dari planet dan bintang-bintang. Tidak ada yang membantah bahwa semua bintang dan planet di langit memang ikut
mempengaruhi pengembangan dan penyempurnaan
alam bumi.
Sudah dibuktikan sebagai kebenaran bahwa semua tumbuhan,
batu mineral dan hewan setiap saat dipengaruhi oleh benda-benda
langit. Bahkan seorang petani
yang bodoh pun mengetahui kalau sinar
rembulan mempengaruhi besarnya buah-buahan dan sinar matahari membantu menjadikan buah itu matang dan manis serta angin bisa membantu
penyebaran dan kuantitasnya.
Sebagaimana alam yang kasat mata ini dikembangkan melalui pengaruh dari benda-benda angkasa, tidak diragukan lagi bahwa alam yang tersembunyi dengan perintah Allah Swt. juga dipengaruhi oleh ruh-ruh cemerlang yang
mempunyai kaitan dengan benda-benda langit yang terang seperti halnya hubungan jiwa dengan raga.
Penampakan Malaikat Seperti Wujud
Manusia
Sepertinya terkesan kurang hormat bahwa harus ada sarana mediasi (perantara) di antara Tuhan dengan para nabi suci guna menyampaikan suatu nur wahyu kepada
mereka. Namun perenungan menunjukkan bahwa tidak
ada suatu yang kurang hormat dalam hal ini, melainkan kenyataan kalau hal
itu justru sejalan dengan kaidah Tuhan
yang bersifat umum. Nyatanya para nabi
itu pun bergantung pada mediator
dalam hal-hal yang berkaitan dengan kinerja tubuh dan fitrat mereka sendiri.
Betapa pun cemerlang dan berberkatnya mata seorang nabi
namun sebagaimana halnya mata orang
biasa, ia tidak akan mampu melihat apa
pun tanpa bantuan sinar matahari
atau substitusinya, dan telinganya tidak bisa mendengar tanpa mediasi (perantaran) udara.
Dengan demikian
kita harus mengakui bahwa keruhanian seorang nabi tentunya juga dipengaruhi oleh ruh cemerlang bintang-bintang di langit, bahkan lebih
lagi dibanding keruhanian orang awam,
karena tambah sempurna dan jernih kapasitas yang dimiliki maka akan lebih jelas juga dan sempurna pengaruh yang ditimbulkannya.
Al-Quran menunjukkan bahwa bintang-bintang dan planet masing-masing memiliki ruh dan karena masing-masing memiliki karakteristik
yang mempengaruhi segala sesuatu di bumi,
sejalan dengan itu dengan perintah Tuhan
maka ruh cemerlang mereka juga
mempunyai sifat-sifat yang berbeda dalam mempengaruhi ruh alam bumi.
Terkadang ruh cemerlang ini muncul dalam wujud [seperti] manusia kepada hamba-hamba
Allah yang sempurna. Ini
bukanlah suatu omong kosong tetapi merupakan suatu ketentuan yang harus diterima oleh para pencari kebenaran.” (Tauzih Maram, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld.
III, hlm. 66-72, London, 1984).
Makna Naik dan Turunnya Para Malaikat & Makna Satu “Hari” =
50.000 Tahun
Allah
Swt. berfirman dalam Al-Quran mengenai para malaikat
dengan menggunakan istilah kiasan
“turun” dan “naik”,
berikut firman-Nya mengenai hal tersebut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۚ﴿ۖ﴾ اِنَّاۤ
اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃِ
الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ﴾ وَ
مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ؕ﴿﴾ لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ مِّنۡ
اَلۡفِ شَہۡرٍ ؕ﴿ؔ﴾ تَنَزَّلُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ فِیۡہَا
بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ کُلِّ اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ﴾ سَلٰمٌ
۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam
Takdir Takdir. Dan apakah engkau mengetahui apa Malam Takdir itu? Malam
Takdir itu lebih baik daripada seribu bulan. تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ کُلِّ
اَمۡرٍ -- Di dalamnya turun malaikat-malaikat
dan ruh dengan izin
Rabb (Tuhan) mereka mengenai
segala perintah, malam itu penuh kesejahtaraan hingga fajar
terbit. (Al-Qadr [97]:1-6).
Kemudian mengenai “naiknya” para malaikat
dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ سَاَلَ سَآئِلٌۢ
بِعَذَابٍ وَّاقِعٍ ۙ﴿﴾ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ لَیۡسَ لَہٗ
دَافِعٌ ۙ﴿﴾ مِّنَ
اللّٰہِ ذِی الۡمَعَارِجِ ؕ﴿﴾ تَعۡرُجُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ
خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ﴿﴾ فَاصۡبِرۡ صَبۡرًا
جَمِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّہُمۡ یَرَوۡنَہٗ
بَعِیۡدًا ۙ﴿﴾ وَّ نَرٰىہُ
قَرِیۡبًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Seorang penanya menanyakan
mengenai azab yang akan terjadi, untuk orang-orang
kafir, yang seorang pun dapat
menghindarkannya, مِّنَ اللّٰہِ
ذِی الۡمَعَارِجِ
-- azab itu dari Allah Yang memiliki tempat-tempat
naik, تَعۡرُجُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗ خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَ --Malaikat-malaikat
dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu
hari yang ukurannya lima puluh ribu
tahun. فَاصۡبِرۡ
صَبۡرًا جَمِیۡلًا -- Maka bersabarlah dengan sabar
yang baik. اِنَّہُمۡ
یَرَوۡنَہٗ بَعِیۡدًا -- Sesungguhnya mereka memandang hari itu sangat jauh, وَّ
نَرٰىہُ قَرِیۡبًا -- sedangkan Kami
melihatnya dekat. (Al-Ma’arīj
[70]:1-8).
Sementara azab
yang akan menimpa orang-orang kafir
akan membuat mereka binasa, Allah Swt.
menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya
yang taat kenaikan ruhani yang setinggi-tingginya. Itulah makna ayat: مِّنَ اللّٰہِ
ذِی الۡمَعَارِجِ
-- “azab itu dari Allah Yang memiliki tempat-tempat naik.”
Sedangkan makna ayat selanjutnya: تَعۡرُجُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ
خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ -- “Malaikat-malaikat
dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu
hari yang ukurannya lima puluh ribu
tahun,“ karena ar-ruh berarti
jiwa manusia, ayat ini dapat berarti
bahwa perkembangan dan kemajuan ruh manusia tidak akan ada
hentinya, termasuk di alam akhirat (QS.66:9).
Atau
ayat ini dapat berarti bahwa rancangan-rancangan
dan rencana-rencana Allah Swt. dapat meliputi ribuan tahun sampai jadi matang.
Atau isyarat itu dapat juga tertuju kepada peredaran
(siklus) tertentu selama 50.000 tahun
yang selama itu beberapa perubahan agung yang tertentu telah ditakdirkan akan terjadi, sebab nubuatan-nubuatan Allah Swt. itu mempunyai masa-masa, zaman-zaman,
dan peredaran-peredaran (daur) waktu tertentu yang di didalamnya nubu-atan-nubuatan itu menjadi sempurna.
Sehubungan “turun” dan “naiknya” para
malaikat tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Kami
tidak menyangkal tentang turunnya malaikat, dan jika memang ada yang bisa membuktikan
bahwa malaikat memang demikian itu cara turunnya dari langit, kami ingin bisa menguji
bukti tersebut dan meyakininya
jika memang ternyata benar.
Eksistensi (keberadaan) malaikat merupakan bagian dari Rukun
Iman. Turunnya Tuhan ke langit dunia dan turunnya malaikat merupakan realitas (kenyataan) yang belum bisa dimengerti sepenuhnya.
Sepanjang yang diketahui dari Kitab Suci, malaikat
muncul di bumi sebagai suatu ciptaan
tersendiri.
Kemunculan malaikat Jibrail dalam bentuk sosok Dihya Kalbi[2] merupakan suatu bentuk ciptaan
baru, kalau tidak, lalu apa lagi namanya? Keadaan tersebut tidak berarti bahwa mengakui adanya suatu bentuk ciptaan baru, lalu kita harus menafikan ciptaan sebelumnya.
Ciptaan yang pertama diteguhkan dan ditetapkan di langit,
sedangkan ciptaan kedua merupakan efek dari kekuasaan Allah Swt. yang Maha
Luas. Apakah kita harus meragukan kemampuan
Allah Swt. untuk memperlihatkan satu sosok di dua tempat dalam dua jasad?
Jelas tidak!
اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
“Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al-Baqarah
[2]:107). (Sirrul Khilafah,
Amritsar, Riyadh Hind Press, 1312 H.; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VIII, hlm. 414-415, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 12 Mei 2016
[1]
Jibril
adalah malaikat yang dikenal sebagai pembawa
wahyu dari Allah Swt. kepada para nabi-nabi dan manusia yang terpilih.
Adapun Mikail dianggap sebagai malaikat yang mengatur pembagian rezeki bagi
seluruh makhluk. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum).
[2] Dihya
al-Kalbi adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang diutus membawa surat
beliau kepada kaisar Roma Timur yaitu
Heraclius pada tahun 628 M . berisi ajakan untuk masuk ke dalam agama Islam.
Kejadian ini setelah perdamaian Hudaibiyah
. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar