Rabu, 01 Juni 2016

Tanda Orang-orang yang Mendustakan "Ad-Diin" (Agama/Pembalasan) & Hubungan Memahami Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Khasiat Shalat



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


  TANDA ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN AD-DIIN (AGAMA/PEMBALASAN) & HUBUNGAN MEMAHAMI AL-QURAN DAN SUNNAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN KHASIAT SHALAT   


Bab 58

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai makna  pengulangan ayat  کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ --  Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui”  dalam Surah At-Takatsur, yang bertujuan menambahkan tekanan pada dan membuat lebih ampuh peringatan yang terkandung di dalam Surah At-Takatsur tersebut. 
        Surah  At-Takatsur ini dapat pula ditujukan kepada pembalasan yang akan datang di belakang kesibukan manusia, yang secara membabi-buta berusaha memperoleh barang-barang duniawi di dalam kehidupan ini.   Makna ayat: کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ   --   Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  --     niscaya kamu akan melihat Jahannam”,  bahwa seandainya manusia mempergunakan akal sehatnya dan mempergunakan ilmu yang dimilikinya, niscaya  ia akan melihat neraka Jahannam sungguh-sungguh menganga di hadapan matanya sendiri di dunia ini juga, yaitu ia akan mengetahui bahwa kesibukannya dalam mengejar kebesaran, kemegahan, dan keuntungan kebendaan dalam kehidupan  di dunia yang  sementara ini menyebabkan kehancuran total akhlaknya.

Tiga Tingkatan Yaqin

  Surah At-Takatsur ayat-ayat 5-8 tidak meninggalkan syak sekelumit pun mengenai awal kehidupan neraka  di dalam dunia ini juga, sedangkan neraka di akhirat itu sebenamya disediakan di dunia ini, yang tersembunyi dari mata manusia tetapi dapat dikenal, dengan perantaraan ‘ilmulyaqin  oleh mereka yang merenungkannya:
  Jadi, ayat-ayat  tersebut menggambarkan tiga tingkat keyakinan manusia bertalian dengan neraka, yaitu:
 (1) ’ilmulyaqin atau keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu dengan mengambil kesimpulan;
 (2) ‘ainulyaqin yaitu keyakinan dengan perantaraan atau berdasarkan penglihatan;  
   (3) haqqulyaqin, yaitu keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri.
   ‘Ilmulyaqin dapat diperoleh di dunia ini juga, dengan mengambil kesimpulan oleh mereka yang merenungkan dan menekuni hakikat kejahatan (QS.3:191-193), namun sesudah mati ia akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri, sedang pada Hari Kebangkitan ia akan menghayati sepenuhnya haqqulyaqin dengan benar-benar mengalami setelah masuk ke dalam neraka: ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ  --  “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan.”
          Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya manusia  untuk bekerja-keras dalam melaksanakan kehidupannya dan berusaha  menempuh pendakian yang terjal, yakni dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57-59),  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  لَاۤ  اُقۡسِمُ  بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾   وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾  وَ  وَالِدٍ وَّ  مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾   لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ  ۘ﴿﴾  یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا ؕ﴿﴾   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ ؕ﴿﴾  اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾   اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tidak demikian,  Aku bersumpah dengan kota ini,  dan engkau akan singgah  di kota ini. Dan demi ayah dan anak.  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ  کَبَدٍ  -- Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan manusia  supaya bekerja keras.   اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  اَحَدٌ    -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ  اَہۡلَکۡتُ مَالًا  لُّبَدًا  --   Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ  لَّمۡ  یَرَہٗۤ   اَحَدٌ  -- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ  نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ  --  Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang mata? وَ  لِسَانًا وَّ  شَفَتَیۡنِ --  Dan sebuah lidah serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ  النَّجۡدَیۡنِ  --    Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.  فَلَا  اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak  mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ  --   Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ  --  Yaitu memerdekakan budak, اَوۡ  اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ      --  atau memberi makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ --  kepada anak yatim kerabat,  اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ --  atau kepada orang miskin yang terbaring di debu.  ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ  وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ   --     Kemudian dia menjadi di antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ  -- Mereka ini  golongan kanan.  وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ  --  Dan orang-orang yang kafir kepada  Tanda-tanda Kami mereka itu  golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ  نَارٌ  مُّؤۡصَدَۃٌ  --  Atas mereka akan ada Api yang  tertutup.  (Al-Balad [90]:1-21).

Orang-orang yang Mendustakan Ad-Dīn  & Khasiat Shalat

       Senada  makna menempuh  “pendakian terjal”  dalam Surah tersebut, dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai orang yang  tidak mau  menempuh  “pendakian terjal” sehingga  Allah Swt. menyebutnya sebagai orang-orang yang mendustakan ad-dīn:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾   فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾  فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿﴾   الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama? Maka itulah orang yang mengusir anak yatim,  dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari  shalatnya,   yaitu orang-orang yang berbuat  pamer, dan   mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil  kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn [107]:1-8).
      Menurut berbagai  kamus bahasa Arab  kata ad-dīn memiliki banyak arti, yaitu:  (1) pembalasan, (2) perhitungan, (3) keputusan, (4) kepatuhan,  (5) ketundukan, (6) sikap berserah diri (islm), (7) kerendahan, (8) wara’, (9) adat atau kebiasaan, (10) keadaan, (11) tingkah laku, (12) kekuasaan, (13) pemaksaan, (14) cara atau jalan, (15) peraturan, (16) hukum, (17) syariah, (18) akidah, dan (19) agama (millah).
 Makna ayat:  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ  -- “Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?” Sungguh amat buruk dia yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak percaya kepada dīn (agama) – sumber dan dasar semua akhlak.
 Makna ayat selanjutnya: فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ  --  “Maka itulah orang yang mengusir anak yatimوَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ   --  “Dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”  Kedua ayat tersebut membicarakan dua macam penyakit masyarakat yang sangat berbahaya, dan bila tidak mengadakan penjagaan seksama terhadap kedua penyakit itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran dan perpecahan total di dalam masyarakat.
 Kegagalan memelihara anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya akan membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa; sedangkan mengabaikan orang-orang miskin dan fakir akan menjauhkan satu bagian masyarakat yang berguna dari segala prakarsa dan kemauan memperbaiki nasib mereka, sebab mereka tidak mendapat kesempatan  dan tidak memiliki sarana  untuk melakukan hal tersebut.
 Orang-orang yang mengaku beragama – terutama agama Islam  -- dan melaksanakan berbagai ritual peribadahan  tetapi dalam dirinya tidak timbul akhlak yang baik  -- sebagaimana yang terkandung dalam pelaksanaan shalat secara benar (QS.29:46) mereka itu  itu disebut:  الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ   -- yaitu orang-orang yang lalai dari  shalatnya.
    Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman dalam surah berikut ini mengenai khasiat shalat:
اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah shalat اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  الۡمُنۡکَرِ    -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan  me-ngingat Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besarوَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ --  dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:46).
      Tiga hal telah disebut dalam ayat ini, yaitu (1) menablighkan dan membacakan Al-Quran, (2) mendirikan shalat, dan (3) dzikir Ilahi. Tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa dan membantu manusia untuk bangkit dan membuat kemajuan dalam akhlak dan keruhanian.

Cara  Mewujudkan  Berbagai Khasiat Shalat

      Makna  perintah:  اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ -- “Bacakanlah apa yang di-wahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu”. Arti kata utlu berarti: mengumumkan; menablighkan; membaca; mengutarakan; memperdengarkan, mengikuti (Lexicon Lane).
     Dari seluruh Kitab suci yang diwahyukan Allah Swt. yang paling sempurna dalam hal informasi mengenai  pelaksanaan  haququlLāh (hablun- minalLāh) dan haququl ibād (hablun-minan-nās) adalah Kitab suci Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).
      Adapun makna ayat selanjutnya: وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah shalat”  bahwa keimanan yang hidup kepada Dzat Yang Mahaluhur yakni Allah Swt., adalah asas pokok bagi semua agama yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang peranan sebagai suatu hambatan yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan dan perbuatan-perbuatan buruk manusia, yang merupakan salah satu dari sekian banyak khasiat shalat yang telah ditetapkan Allah Swt.
    Itulah sebabnya mengapa Al-Quran berulang kali kembali kepada masalah keimanan kepada adanya Tuhan   -- walau pun  Allah Swt. senantiasa  dalam keadaan gaib  -- dan membicarakan kekuasaan, keagungan, dan kecintaan-Nya yang besar, lalu memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir Ilahi dalam bentuk shalat secara Islam,  yang bila dikerjakan dengan memenuhi segala syarat yang diperlukan, maka kebersihan pikiran dan perbuatan, merupakan hasilnya yang pasti. Itulah makna ayat:  وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ --  “dan dirikanlah shalat” اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  الۡمُنۡکَرِ    -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.
      Kemudian makna ayat berikutnya: لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan  mengingat Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besar,”  Allah Swt. menyebut Al-Quran sebagai adz-Dzikir (QS.15:1), dengan demikian makna yang hakiki dari dzikir Ilahi  adalah memahami  dan mengamalkan semua petunjuk Al-Quran (Adz Dzikr) sebagaimana yang dipahami dan diamalkan atau dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw..         Itulah  yang dimaksud dengan ayat: وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا  -- “bagi yang banyak mengingat Allah”  dalam firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).

Orang-orang yang Mendustakan “Din

     Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. dalam Surah Al-Mā’ūn makna ayat  selanjutnya: فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ  -- “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.”  Shalat merupakan tugas dan kewajiban yang harus  dilaksanakan  orang-orang beriman karena Allah, tetapi   shalat orang-orang munafik yang tidak menunaikan kewajiban terhadap sesama makhluk Allah itu     tidak lebih daripada sebuah jasad tanpa ruh, atau kulit tanpa isi.
  Menurut ayat tersebut orang-orang munafik hanya memperagakan perbuatan-perbuatan baik dan sedekah sekedarnya tetapi tidak mengandung jiwa karena sekedar untuk pamerالَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ  --    “yaitu orang-orang yang berbuat  pamer, وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ  --  dan   mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil  kepada orang-orang miskin.
  Al-mā’ūn berarti: barang-barang kecil; perabot rumah tangga biasa; seperti, kapak, panci masak, dan sebagainya; suatu tindak kebaikan; sesuatu yang berguna; zakat (Aqrab-ul-Mawarid).
   Dengan demikian jelaslah bahwa tanpa memahami dan mengamalkan Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw. maka semua belum ritual peribadahan  yang dilakukan oleh umat Islam tidak akan mampu membuat umat Islam sebagai “khayru ummah” (umat yang terbaik – QS.2:144; QS.3:111), sebagaimana yang diperagakan oleh para sahabah di masa kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. yang penuh keberkatan dimana mereka itu  benar-benar  merupakan umat terbaik yang memberikan manfaat bagi umat manusia, firman-Nya:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ  الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh ber-buat makruf, melarang dari berbuat munkar, dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang-orang fasik. (Ali ‘Imran [3]:111).
       Ayat ini bukan saja mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu kaum  yang terbaik — sungguh suatu proklamasi besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
           (1) Mereka telah dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia seluruhnya;
     (2) telah menjadi kewajiban mereka menganjurkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa
       Kemuliaan kaum Muslimin bergantung pada dan ditentukan oleh kedua syarat itu.
Keadaan berimannya umat Islam  kepada Allah Swt. di masa Nabi Besar Muhammad saw. sedemikian rupa keadaaanya, sehingga keteguhan  mereka yang luar biasa kepada Tauhid Ilahi  -- bagaimana pun hebatnya ujian-ujian keimanan yang  harus mereka hadapi  --  telah menyebabkan para malaikat  menyertai kehidupan mereka, dan bahkan menjadikan mereka sebagai “manusia-manusia malaikat”, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguhتَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ --   kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  --  Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MimAs-Sajdah [41]:31-33).
  Dalam kehidupan di dunia ini malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat di jalan Allah Swt..
 Firman Allah Swt. berikutnya mengemukakan salah satu ciri umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. mereka itu  benar-benar merupakan “umat yang terbaik” yang dibangkitkan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia, firman-Nya:
 وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ  اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾ 
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang me-ngajak manusia kepada Allah dan beramal saleh serta berkata:  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.” وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ   -- Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ  --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya  maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia.    وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ  -- Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sa-bar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagi-an besar dalam kebaikan. (Hā MimAs-Sajdah [41]:34-36).
   Karena anjuran kepada kebenaran – yakni Tauhid Ilahi yang hakiki -- sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat ini menasihatkan kepada si penganjur supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan  --   yang diterima dari penganiaya-penganiaya   -- dengan kebaikan.

Malaikat Mengatur Pergerakan  Sesuai Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.

    Kembali kepada penjelasan Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, berkenaan dengan malaikat  -- dan “turunnya” para malaikat  -- selanjutnya beliau menjelaskan:
     “Ada yang bertanya, kalau benar para malaikat menjadi regulator (pengatur) dan distributor (penyalur) dari segala hal, lalu mengapa tujuan kita bisa berhasil dengan upaya sesuai dengan rancangan dan perencanaan kita sendiri? Jawaban untuk itu ialah bahwa semua proyek dan perencanaan kita tidak terlepas dari mediasi, sugesti dan pengungkapan atau wahyu para malaikat. Fungsi yang diemban para malaikat sejalan dengan perintah Tuhan, dilaksanakan melalui manusia yang mempunyai kecenderungan menerima sugesti para malaikat.
      Sebagai contoh, jika malaikat bermaksud menurunkan hujan di atas sebuah ladang, desa atau negeri atas perintah Tuhan, mereka sendiri tidak bisa lalu berubah menjadi air atau pun membuat api untuk melaksanakan fungsi air. Caranya adalah mereka membimbing awan ke sasaran bersangkutan, dan sebagai regulator  menyebabkan hujan turun sebanyak dan sampai dengan batas yang telah ditentukan.
        Awan itu sendiri memiliki semua kemampuan tersebut dalam karakter unsur-unsurnya sebagai suatu benda tak bernyawa yang tidak memiliki hasrat atau akal.   Adalah fungsi malaikat untuk bertindak selaku distributor dan regulator.
      Sugesti dan penampakan atau wahyu yang dikomunikasikan para malaikat sejalan dengan fitrat manusia bersangkutan. Wahyu yang mereka komunikasikan kepada para hamba pilihan Tuhan tidak akan dikomunikasikan kepada yang lainnya, malah mereka tidak mempedulikan yang lain sama sekali. Setiap manusia menerima rahmat sugesti dari para malaikat sepadan  dengan kapasitas diri mereka. Bantuan malaikat diterima dalam segala hal yang menjadi kecenderungan manusia seperti ilmu atau pun seni.
     Sebagai contoh, jika memang merupakan takdir Ilahi bahwa sembelit seseorang harus diatasi dengan pengobatan, maka ada malaikat yang memberikan sugesti kepada dokter untuk memberikan obat apa. Dokter itu meresepkan obatnya dan dengan bantuan malaikat maka diciptakan sistem reaksi dalam tubuh pasien untuk menerima obat tersebut dan benda tak diingini yang ada dalam tubuh bisa dibuang dengan perkenan (izin) Tuhan.
    Berdasarkan keluasan Kebijakan dan Kekuatan-Nya, Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan sistem seni dan pengetahuan eksternal menjadi sia-sia,  dan juga   Dia tidak   melepaskan kendali dan kepemilikan-Nya atas segala hal. Jika Tuhan tidak mempunyai kendali terinci  atas segala kondisi makhluk ciptaan-Nya atas kelanjutan hidup dan kehancuran mereka, maka Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan dan Ketauhidan-Nya juga tidak bisa ditegakkan.
      Hanya saja benar adanya,  bahwa Tuhan tidak menginginkan semua misteri ini menjadi nyata dan kasat mata bagi umat manusia, karena jika semuanya nyata maka tidak ada nilainya lagi bagi keimanan manusia. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm. 185-188, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 30 Mei    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar