Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT
ALLAH
TANDA
ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN AD-DIIN
(AGAMA/PEMBALASAN) & HUBUNGAN MEMAHAMI AL-QURAN
DAN SUNNAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
DENGAN KHASIAT SHALAT
Bab 58
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna pengulangan ayat کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- “Sekali-kali tidak, segera kamu
akan mengetahui” dalam Surah At-Takatsur, yang bertujuan menambahkan tekanan pada dan membuat lebih ampuh peringatan yang terkandung di dalam
Surah At-Takatsur tersebut.
Surah At-Takatsur
ini dapat pula ditujukan kepada pembalasan
yang akan datang di belakang kesibukan
manusia, yang secara membabi-buta
berusaha memperoleh barang-barang duniawi
di dalam kehidupan ini. Makna
ayat: کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡیَقِیۡنِ -- Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin. لَتَرَوُنَّ
الۡجَحِیۡمَ
-- niscaya kamu
akan melihat Jahannam”,
bahwa seandainya
manusia mempergunakan akal sehatnya
dan mempergunakan ilmu yang
dimilikinya, niscaya ia akan melihat neraka Jahannam sungguh-sungguh menganga di hadapan matanya sendiri di dunia ini juga, yaitu ia akan mengetahui
bahwa kesibukannya dalam mengejar kebesaran, kemegahan, dan keuntungan
kebendaan dalam kehidupan di dunia
yang sementara ini menyebabkan kehancuran total akhlaknya.
Tiga Tingkatan Yaqin
Surah At-Takatsur ayat-ayat 5-8 tidak
meninggalkan syak sekelumit pun mengenai awal
kehidupan neraka di dalam dunia ini juga, sedangkan neraka di akhirat itu sebenamya disediakan
di dunia ini, yang tersembunyi dari mata manusia tetapi dapat dikenal,
dengan perantaraan ‘ilmulyaqin oleh
mereka yang merenungkannya:
Jadi, ayat-ayat tersebut menggambarkan tiga tingkat keyakinan manusia bertalian dengan neraka, yaitu:
(1) ’ilmulyaqin atau keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu dengan mengambil kesimpulan;
(2) ‘ainulyaqin yaitu keyakinan dengan perantaraan atau berdasarkan penglihatan;
(3) haqqulyaqin, yaitu keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri.
‘Ilmulyaqin
dapat diperoleh di dunia ini juga,
dengan mengambil kesimpulan oleh
mereka yang merenungkan dan menekuni hakikat kejahatan (QS.3:191-193), namun
sesudah mati ia akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri, sedang pada Hari Kebangkitan ia akan menghayati
sepenuhnya haqqulyaqin dengan benar-benar mengalami setelah masuk ke dalam neraka: ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ -- “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya
mengenai kenikmatan.”
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai pentingnya manusia untuk
bekerja-keras dalam melaksanakan kehidupannya dan berusaha menempuh
pendakian yang terjal, yakni
dalam rangka melaksanakan ibadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57-59), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِہٰذَا الۡبَلَدِ ۙ﴿﴾ وَ اَنۡتَ حِلٌّۢ بِہٰذَا الۡبَلَدِ
ۙ﴿﴾ وَ وَالِدٍ وَّ مَا وَلَدَ ۙ﴿﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ کَبَدٍ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ ۘ﴿﴾ یَقُوۡلُ
اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ
یَرَہٗۤ اَحَدٌ ؕ﴿﴾ اَلَمۡ
نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ
لِسَانًا وَّ شَفَتَیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ ہَدَیۡنٰہُ النَّجۡدَیۡنِ ﴿ۚ﴾ فَلَا
اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ ﴿۫ۖ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ ﴿ؕ﴾ فَکُّ رَقَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
اِطۡعٰمٌ فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ ﴿ۙ﴾ اَوۡ مِسۡکِیۡنًا ذَا مَتۡرَبَۃٍ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ کَانَ مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡمَرۡحَمَۃِ ﴿ؕ﴾ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ ﴿ؕ﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ
اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ ﴿ؕ﴾ عَلَیۡہِمۡ
نَارٌ مُّؤۡصَدَۃٌ ﴿٪﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tidak demikian, Aku bersumpah dengan kota ini, dan engkau akan singgah di kota ini. Dan demi ayah dan anak. لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡ کَبَدٍ -- Sungguh Kami
benar-benar telah menciptakan manusia supaya bekerja keras. اَیَحۡسَبُ
اَنۡ لَّنۡ یَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ اَحَدٌ -- Apakah
ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun berkuasa atasnya? یَقُوۡلُ اَہۡلَکۡتُ مَالًا لُّبَدًا -- Ia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang
banyak.” اَیَحۡسَبُ اَنۡ لَّمۡ یَرَہٗۤ
اَحَدٌ
-- Apakah ia menyangka bahwa tidak ada seorang pun melihatnya? اَلَمۡ نَجۡعَلۡ لَّہٗ عَیۡنَیۡنِ -- Tidakkah Kami menjadikan baginya sepasang
mata? وَ لِسَانًا وَّ شَفَتَیۡنِ -- Dan sebuah lidah
serta dua buah bibir? وَ ہَدَیۡنٰہُ
النَّجۡدَیۡنِ -- Dan Kami telah menunjukkan kepadanya
dua jalan. فَلَا اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَۃَ -- Tetapi ia tidak
mendaki pendakian terjal. وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡعَقَبَۃُ -- Dan apakah yang engkau ketahui apa pendakian
terjal itu? فَکُّ رَقَبَۃٍ -- Yaitu
memerdekakan budak, اَوۡ اِطۡعٰمٌ
فِیۡ یَوۡمٍ ذِیۡ مَسۡغَبَۃٍ
-- atau memberi
makan pada hari kelaparan, یَّتِیۡمًا ذَا مَقۡرَبَۃٍ -- kepada
anak yatim kerabat, اَوۡ مِسۡکِیۡنًا
ذَا مَتۡرَبَۃٍ -- atau kepada orang miskin yang terbaring
di debu. ثُمَّ کَانَ مِنَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَوَاصَوۡا
بِالصَّبۡرِ وَ تَوَاصَوۡا
بِالۡمَرۡحَمَۃِ
-- Kemudian dia menjadi di antara orang-orang
beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain
berbelas kasih. اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡمَیۡمَنَۃِ -- Mereka
ini golongan
kanan. وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِنَا ہُمۡ اَصۡحٰبُ الۡمَشۡـَٔمَۃِ -- Dan orang-orang yang kafir kepada Tanda-tanda Kami mereka itu golongan kiri. عَلَیۡہِمۡ نَارٌ
مُّؤۡصَدَۃٌ --
Atas mereka akan ada Api yang tertutup. (Al-Balad [90]:1-21).
Orang-orang yang Mendustakan Ad-Dīn & Khasiat Shalat
Senada makna
menempuh “pendakian terjal” dalam
Surah tersebut, dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai orang
yang tidak mau menempuh
“pendakian terjal”
sehingga Allah Swt. menyebutnya sebagai
orang-orang yang mendustakan ad-dīn:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَرَءَیۡتَ
الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ فَذٰلِکَ
الَّذِیۡ یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾ فَوَیۡلٌ لِّلۡمُصَلِّیۡنَ
ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Apakah engkau melihat orang yang mendustakan
agama? Maka itulah orang yang mengusir anak yatim,
dan tidak
menganjurkan memberi makan
orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat,
yaitu orang-orang yang lalai dari
shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat pamer, dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn
[107]:1-8).
Menurut berbagai kamus bahasa Arab kata ad-dīn
memiliki banyak arti, yaitu: (1)
pembalasan, (2) perhitungan, (3) keputusan, (4) kepatuhan, (5) ketundukan, (6) sikap berserah diri
(islm), (7) kerendahan, (8) wara’, (9) adat atau kebiasaan, (10) keadaan, (11)
tingkah laku, (12) kekuasaan, (13) pemaksaan, (14) cara atau jalan, (15)
peraturan, (16) hukum, (17) syariah, (18) akidah, dan (19) agama (millah).
Makna
ayat: اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ
یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ --
“Apakah engkau melihat orang yang mendustakan agama?” Sungguh amat buruk dia yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak
percaya kepada dīn (agama) – sumber dan dasar semua akhlak.
Makna ayat selanjutnya: فَذٰلِکَ الَّذِیۡ
یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ -- “Maka itulah orang yang mengusir anak yatim” وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ
الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ -- “Dan tidak
menganjurkan memberi makan
orang miskin.” Kedua ayat tersebut membicarakan
dua macam penyakit masyarakat yang
sangat berbahaya, dan bila tidak
mengadakan penjagaan seksama terhadap
kedua penyakit itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran dan perpecahan total di dalam masyarakat.
Kegagalan memelihara anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya akan membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa; sedangkan mengabaikan orang-orang miskin dan fakir akan menjauhkan satu bagian
masyarakat yang berguna dari
segala prakarsa dan kemauan memperbaiki nasib mereka, sebab
mereka tidak mendapat kesempatan dan tidak memiliki sarana untuk melakukan hal
tersebut.
Orang-orang yang mengaku beragama – terutama agama
Islam -- dan melaksanakan berbagai ritual peribadahan tetapi dalam dirinya tidak timbul akhlak yang baik -- sebagaimana yang terkandung dalam pelaksanaan shalat secara benar (QS.29:46) mereka itu itu disebut:
الَّذِیۡنَ ہُمۡ
عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ -- yaitu
orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman dalam surah berikut ini mengenai khasiat
shalat:
اُتۡلُ
مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ
وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan
kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ
الصَّلٰوۃَ -- dan
dirikanlah shalat اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ -- sesungguhnya
shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.
لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan me-ngingat Allah benar-benar pekerjaan yang
lebih besar, وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ -- dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:46).
Tiga hal telah disebut dalam ayat
ini, yaitu (1) menablighkan dan membacakan Al-Quran, (2) mendirikan shalat, dan (3) dzikir Ilahi. Tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman
dosa dan membantu manusia untuk bangkit dan membuat kemajuan dalam akhlak
dan keruhanian.
Cara Mewujudkan Berbagai Khasiat Shalat
Makna
perintah: اُتۡلُ مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ -- “Bacakanlah apa
yang di-wahyukan kepada engkau dari Kitab
Al-Quran itu”. Arti kata utlu berarti: mengumumkan; menablighkan;
membaca; mengutarakan; memperdengarkan, mengikuti (Lexicon Lane).
Dari seluruh Kitab suci yang diwahyukan Allah Swt. yang paling sempurna dalam hal informasi mengenai
pelaksanaan haququlLāh (hablun- minalLāh) dan haququl ibād (hablun-minan-nās) adalah Kitab suci Al-Quran sebagaimana yang difahami dan
diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]:22).
Adapun makna ayat selanjutnya: وَ اَقِمِ
الصَّلٰوۃَ -- dan
dirikanlah shalat” bahwa keimanan
yang hidup kepada Dzat Yang Mahaluhur yakni Allah Swt., adalah asas pokok bagi semua agama
yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang peranan sebagai suatu hambatan yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan dan perbuatan-perbuatan
buruk manusia, yang merupakan salah satu dari sekian banyak khasiat shalat yang telah ditetapkan
Allah Swt.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran berulang kali kembali kepada
masalah keimanan kepada adanya Tuhan -- walau pun
Allah Swt. senantiasa dalam keadaan gaib -- dan membicarakan kekuasaan, keagungan, dan
kecintaan-Nya yang besar, lalu
memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir Ilahi dalam bentuk shalat secara Islam, yang bila dikerjakan dengan memenuhi segala syarat yang diperlukan, maka kebersihan pikiran dan perbuatan, merupakan hasilnya yang pasti. Itulah makna ayat: وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- “dan dirikanlah shalat” اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ -- “sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.”
Kemudian makna ayat berikutnya: لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ وَ -- Dan mengingat Allah benar-benar pekerjaan yang
lebih besar,” Allah Swt. menyebut
Al-Quran sebagai adz-Dzikir
(QS.15:1), dengan demikian makna yang hakiki dari dzikir Ilahi adalah memahami
dan mengamalkan semua petunjuk Al-Quran (Adz Dzikr) sebagaimana yang dipahami dan diamalkan atau dicontohkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw.. Itulah yang dimaksud dengan ayat: وَ ذَکَرَ اللّٰہَ
کَثِیۡرًا -- “bagi
yang banyak mengingat Allah” dalam firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]:22).
Orang-orang yang Mendustakan “Din”
Jadi, kembali kepada firman Allah
Swt. dalam Surah Al-Mā’ūn makna ayat selanjutnya: فَوَیۡلٌ لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.”
Shalat
merupakan tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan
orang-orang beriman karena Allah, tetapi shalat
orang-orang munafik yang tidak menunaikan kewajiban terhadap sesama makhluk
Allah itu tidak lebih daripada sebuah jasad tanpa ruh, atau kulit tanpa isi.
Menurut ayat tersebut orang-orang munafik
hanya memperagakan perbuatan-perbuatan
baik dan sedekah sekedarnya
tetapi tidak mengandung jiwa karena
sekedar untuk pamer: الَّذِیۡنَ ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ -- “yaitu
orang-orang yang berbuat pamer, وَ یَمۡنَعُوۡنَ
الۡمَاعُوۡنَ -- dan mencegah
diri mereka untuk memberi
barang-barang kecil kepada
orang-orang miskin.”
Al-mā’ūn
berarti: barang-barang kecil; perabot rumah tangga biasa; seperti, kapak,
panci masak, dan sebagainya; suatu tindak kebaikan; sesuatu yang berguna; zakat
(Aqrab-ul-Mawarid).
Dengan demikian jelaslah bahwa
tanpa memahami dan mengamalkan Al-Quran sebagaimana yang difahami
dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad
saw. maka semua belum ritual peribadahan yang dilakukan oleh umat Islam tidak
akan mampu membuat umat Islam sebagai “khayru ummah” (umat yang
terbaik – QS.2:144; QS.3:111), sebagaimana yang diperagakan oleh para sahabah
di masa kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. yang penuh keberkatan
dimana mereka itu benar-benar merupakan umat terbaik yang memberikan manfaat
bagi umat manusia, firman-Nya:
کُنۡتُمۡ
خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ
وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ
لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا
لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat
manusia, kamu menyuruh ber-buat
makruf, melarang dari berbuat munkar,
dan beriman kepada Allah. Dan
seandainya Ahlul Kitab beriman,
niscaya akan lebih baik bagi mereka.
Di antara mereka ada yang beriman
tetapi kebanyakan mereka orang-orang
fasik. (Ali ‘Imran [3]:111).
Ayat ini bukan saja
mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu
kaum yang terbaik — sungguh suatu proklamasi
besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
(1) Mereka telah
dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia seluruhnya;
(2) telah menjadi kewajiban mereka menganjurkan berbuat kebaikan
dan melarang berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kemuliaan kaum Muslimin bergantung
pada dan ditentukan oleh kedua syarat itu.
Keadaan berimannya
umat Islam kepada Allah Swt. di masa Nabi Besar Muhammad
saw. sedemikian rupa keadaaanya, sehingga keteguhan mereka yang luar biasa kepada Tauhid Ilahi -- bagaimana pun hebatnya ujian-ujian keimanan yang
harus mereka hadapi -- telah menyebabkan para malaikat menyertai kehidupan mereka, dan bahkan menjadikan
mereka sebagai “manusia-manusia malaikat”,
firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ
ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan)
kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada mereka turun malaikat-malaikat seraya
berkata: ”Janganlah kamu
takut, dan jangan pula bersedih,
dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- ”Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan
dunia dan di akhirat. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Dan bagi
kamu di dalamnya apa
yang diinginkan dirimu dan bagi kamu
di dalamnya apa yang kamu minta. نُزُلًا
مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā
Mim – As-Sajdah [41]:31-33).
Dalam
kehidupan di dunia ini malaikat-malaikat
turun kepada orang yang beriman untuk
memberi mereka kata-kata penghibur
dan pelipur lara jika mereka
menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat di jalan
Allah Swt..
Firman Allah Swt. berikutnya mengemukakan
salah satu ciri umat Islam di zaman
Nabi Besar Muhammad saw. mereka itu
benar-benar merupakan “umat yang
terbaik” yang dibangkitkan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia,
firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا
مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا
السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ
ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ
بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ
کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا
الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ
اِلَّا ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
daripada orang yang me-ngajak manusia
kepada Allah dan beramal saleh
serta berkata: اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.” وَ لَا تَسۡتَوِی
الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ
ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ
بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ
کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya
maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. وَ مَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا
ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا ذُوۡحَظٍّ
عَظِیۡمٍ -- Dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu
kecuali orang-orang yang sa-bar, dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagi-an
besar dalam kebaikan. (Hā Mim – As-Sajdah [41]:34-36).
Karena
anjuran kepada kebenaran – yakni Tauhid
Ilahi yang hakiki -- sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya,
ayat ini menasihatkan kepada si penganjur supaya bersabar dan bertabah hati
menanggung segala kesulitan, dan
malahan supaya membalas keburukan -- yang diterima dari penganiaya-penganiaya -- dengan kebaikan.
Malaikat Mengatur Pergerakan Sesuai Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.
Kembali kepada penjelasan Masih
Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, berkenaan dengan malaikat -- dan “turunnya” para malaikat -- selanjutnya
beliau menjelaskan:
“Ada
yang bertanya, kalau benar para malaikat
menjadi regulator (pengatur) dan distributor (penyalur) dari segala hal, lalu mengapa tujuan kita bisa berhasil dengan upaya sesuai dengan rancangan dan perencanaan
kita sendiri? Jawaban untuk itu
ialah bahwa semua proyek dan perencanaan kita tidak terlepas dari mediasi,
sugesti dan pengungkapan atau wahyu
para malaikat. Fungsi yang diemban para malaikat
sejalan dengan perintah Tuhan, dilaksanakan
melalui manusia yang mempunyai kecenderungan menerima sugesti
para malaikat.
Sebagai contoh,
jika malaikat bermaksud menurunkan hujan di atas sebuah ladang,
desa atau negeri atas perintah Tuhan,
mereka sendiri tidak bisa lalu berubah menjadi air atau pun membuat api
untuk melaksanakan fungsi air.
Caranya adalah mereka membimbing awan
ke sasaran bersangkutan, dan sebagai
regulator menyebabkan hujan turun sebanyak dan sampai
dengan batas yang telah ditentukan.
Awan
itu sendiri memiliki semua kemampuan
tersebut dalam karakter unsur-unsurnya
sebagai suatu benda tak bernyawa
yang tidak memiliki hasrat atau akal.
Adalah fungsi malaikat untuk bertindak selaku distributor dan regulator.
Sugesti dan penampakan atau wahyu
yang dikomunikasikan para malaikat sejalan dengan fitrat
manusia bersangkutan. Wahyu yang
mereka komunikasikan kepada para hamba pilihan Tuhan tidak akan dikomunikasikan kepada yang lainnya,
malah mereka tidak mempedulikan yang
lain sama sekali. Setiap manusia menerima
rahmat sugesti dari para malaikat
sepadan dengan kapasitas
diri mereka. Bantuan malaikat
diterima dalam segala hal yang
menjadi kecenderungan manusia
seperti ilmu atau pun seni.
Sebagai contoh, jika memang merupakan takdir Ilahi bahwa sembelit seseorang harus diatasi
dengan pengobatan, maka ada malaikat yang memberikan sugesti kepada dokter
untuk memberikan obat apa. Dokter itu meresepkan obatnya dan dengan bantuan malaikat maka diciptakan sistem reaksi dalam tubuh pasien untuk menerima obat tersebut dan benda
tak diingini yang ada dalam tubuh bisa
dibuang dengan perkenan (izin) Tuhan.
Berdasarkan keluasan Kebijakan dan Kekuatan-Nya, Allah Yang Maha Kuasa tidak
akan membiarkan sistem seni dan pengetahuan
eksternal menjadi sia-sia, dan juga
Dia tidak melepaskan kendali dan kepemilikan-Nya atas segala hal. Jika Tuhan tidak mempunyai kendali terinci atas segala kondisi makhluk ciptaan-Nya atas kelanjutan hidup dan kehancuran
mereka, maka Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan dan Ketauhidan-Nya
juga tidak bisa ditegakkan.
Hanya saja benar adanya, bahwa Tuhan
tidak menginginkan semua misteri ini menjadi
nyata dan kasat mata bagi umat
manusia, karena jika semuanya nyata
maka tidak ada nilainya lagi bagi keimanan manusia.” (Ayena
Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam
Ruhani Khazain, jld. V, hlm.
185-188, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 30 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar