Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Makna “Ditundukkan-Nya
Angin”
Kepada Nabi Sulaiman a.s. dan Pendayagunaan SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya
Manusia) & Wahyu Ilahi Merupakan “Pasangan” Kecerdasan Otak Manusia
Bab 13
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna “ditundukkan-Nya”
angin kepada Nabi Sulaiman a.s. bahwa
ungkapan kalimat “ditundukkan-Nya
angin” kepada Nabi Sulaiman a.s. dalam berbagai firman Allah Swt. bukan dalam makna harfiah melainkan merupakan ungkapan kiasan mengenai pemanfaatan berbagai keahlian dan pengetahuan yang diperlukan oleh Nabi Sulaiman a.s. sehubungan pembangunan
armada laut, seperti
pembuatan kapal (perahu) serta berbagai perlengkapannya
yang diperlukan, pengetahuan tentang angin,
arus laut, gelombang, jenis awan dan
lain-lain serta pengetahuan navigasi¸ yakni:
1. Navigasi duga,
yaitu penentuan posisi kapal di peta laut yang ditentukan berdasarkan penghitungan haluan dan kecepatan kapal.
2.
Navigasi datar,
yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan benda-benda bumi seperti
gunung, tanjung, pulau, dan lain-lain.
3. Navigasi astronomi,
yaitu penentuan posisi kapal diatas
peta laut yang di tentukan berdasarkan perhitungan
dari penilikan benda-benda Astronomi
seperti bulan, bintang, planet dan matahari.
4. Navigasi elektronik,
yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik. seperti
radio pencari arah (RDF),RADAR, LORAN, DECCA, dan lain-lain.
Ketiga jenis navigasi nomor 1,2 dan 3
tersirat dalam firman Allah Swt. berikut
ini:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً
تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ
الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ
عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di
dalamnya. Dan Kami Maha
Mengetahui segala sesuatu. Dan kalangan
syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia,
dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu dan Kami-lah
yang menjaga mereka. (Al-Anbiya
[21]:82-83).
Pemanfaatan SDM Kaum-kaum yang Ditaklukkan
Oleh Nabi Sulaiman a.s. yakni “Jin”
dan “Syaitan”
Nampaknya kapal-kapal
Nabi Sulaiman a.s. berlayar di teluk
Persia, laut Merah, dan Laut tengah, serta hubungan
dagang yang teratur diadakan di antara Palestina
dan negeri-negeri yang letaknya di sekeliling Teluk Persia dan dua lautan
tersebut (I Raja-raja 10:27-29):
“Bersama-sama dengan Hiram dan Tyre beliau
memelihara sejumlah armada sejumlah
kapal yang mampu mengarungi samudera, berniaga dengan jadwal waktu teratur ke
pelabuhan-pelabuhan di Laut Tengah, membawa mas, perak, gading, monyet, dan
burung-burung merak (I Raja-raja 10:22; 10:27-29; Tawarikh
8:18; Encyclopaedia Britanica
pada kata “Solomon”.
Dalam ayat ini kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat),
sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. karena
para nakhoda
dan awak kapal Nabi Sulaiman a.s.
sangat mahir dalam ilmu pelayaran.
Ada pun mengenai pentingnya pengetahuan navigasi elektronik, yaitu penentuan
posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik seperti
radio pencari arah (RDF), RADAR, LORAN, DECCA, dlsb, hal itu erat hubungannya dengan dibuatnya kapal-kapal laut yang menggunakan tenaga mekanik (mesin penggerak)
sebagaimana dinubuatkan dalam QS.16:9; QS.36:42-43; QS.43:13.
Sehubungan dengan ayat: وَ مِنَ
الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ -- ”Dan kalangan
syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia,
dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu وَ کُنَّا لَہُمۡ
حٰفِظِیۡنَ -- dan Kami-lah
yang menjaga mereka” Karena syaithan berarti pemberontak dan penentang, dan juga artinya orang yang ahli dalam sesuatu (QS.2:15),
maka ayat ini bermaksud mengatakan, bahwa bangsa-bangsa
bukan-Israil yang ditaklukkan
oleh Nabi Sulaiman a.s. telah dipekerjakan
pada berbagai pertukangan yang sulit dan berat atas perintah beliau.
Mereka bekerja sebagai tukang kayu, pandai besi,
penyelam, dan sebagainya, yaitu
pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh warga bangsa jajahan (Lihat I Raja-raja
9:21-22). Kata-kata, yang menyelam untuk dia dapat menunjuk kepada para penyelam dari Bahrain dan Masqat, yang
melakukan pekerjaan menyelam di Teluk Persia untuk mencari mutiara. Mereka dipekerjakan oleh Nabi
Sulaiman a.s. untuk tujuan
itu, firman-Nya:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ غُدُوُّہَا
شَہۡرٌ وَّ رَوَاحُہَا شَہۡرٌ ۚ وَ اَسَلۡنَا لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ ؕ وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ
یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ بِاِذۡنِ
رَبِّہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ یَعۡمَلُوۡنَ
لَہٗ مَا یَشَآءُ مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ
کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ ؕ اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا ؕ وَ
قَلِیۡلٌ مِّنۡ عِبَادِیَ الشَّکُوۡرُ ﴿﴾ فَلَمَّا
قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا
دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا
دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ
مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Dan kepada Sulaiman Kami menundukkan
angin, perjalanan paginya sama dengan sebulan
perjalanan darat dan perjalanan
petangnya sama dengan sebulan. وَ اَسَلۡنَا لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ -- Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga
untuk dia. وَ
مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ
بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan dari
jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ
اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ -- dan
barangsiapa
dari mereka menyimpang dari perintah
Kami, Kami membuat dia merasakan
azab Api yang menyala-nyala. یَعۡمَلُوۡنَ
لَہٗ مَا یَشَآءُ مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ
کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ -- Mereka mengerjakan
untuknya apa yang dia kehendaki berupa
tempat-tempat ibadah, patung-patung, kolam-kolam bagaikan bendungan
dan periuk-periuk besar yang tetap
pada tungkunya. اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا -- “Hai keluarga
Daud, beramallah sambil bersyukur.”
وَ قَلِیۡلٌ مِّنۡ عِبَادِیَ الشَّکُوۡرُ -- Tetapi sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku
yang bersyukur. فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ -- Maka tatkala Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada
mereka selain rayap bumi yang memakan tongkatnya. فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ
اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- Lalu tatkala tongkat
itu jatuh, jin-jin mengetahui
dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib, mereka
sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (As-Sabā
[34]:13-15).
Berbagai Pembangunan
yang Dilakukan Nabi Sulaiman a.s. & Makna
“Rayap Memakan Tongkat” Nabi Sulaiman
a.s.
Makna ungkapan ayat: وَ اَسَلۡنَا
لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ – “Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga
untuk dia” dapat mengisyaratkan
kepada industri peleburan logam guna
berbagai keperluan pembangunan. Wilayah
kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. terbentang dari Siria Utara sepanjang pantai Laut Tengah sebelah timur sampai Laut
Merah, sepanjang Laut Arab sampai Teluk
Persia, sehingga memerlukan sarana tranportasi
darat dan laut.
Pada hakikatnya di zaman Nabi Sulaiman a.s. kerajaan
Bani Israil telah mencapai puncak
kejayaan dalam kekayaan harta, kekuasaan, dan pengaruh, sebagaimana ditampakkan
oleh kata rīh, yang di antara lain artinya kekuasaan dan penaklukan-penaklukan (Lexicon Lane) seperti digunakan dalam ayat ini.
Ayat ini pun menunjukkan, bahwa
Nabi Sulaiman a.s. memiliki suatu armada niaga laut yang
besar (I Raja-raja 9:26-28 & Jewish Encyclopaedia Jilid XI hlm. 437) dan bahwa perindustrian dan kerajinan telah berkembang pesat di bawah pemerintahan beliau, dan
bahwa beliau telah menaklukkan serta memanfaatkan tenaga suku-suku bangsa pegunungan yang liar lagi suka memberontak
(II Tawarikh 2:18 &
4:1-2), sebagaimana firman-Nya: وَ اَسَلۡنَا لَہٗ عَیۡنَ الۡقِطۡرِ -- Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga
untuk dia. وَ
مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ
بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan dari
jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ
اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ مِنۡ عَذَابِ
السَّعِیۡرِ -- dan barangsiapa dari mereka menyimpang dari
perintah Kami, Kami membuat dia merasakan azab Api yang
menyala-nyala” (As-Sabā [34]:13).
Kecuali
itu selaku seorang raja yang
kaya-raya, sangat berkuasa dan beradab,
Nabi Sulaiman a.s. merupakan tokoh
di antara raja-raja bangsa Bani Israil, yang mendirikan bangunan-bangunan. Beliau mempunyai selera
yang istimewa mengenai seni bangunan yang telah berkembang
pesat di masa kekuasaan beliau. Baitulmuqadas
di Yerusalem memberi bukti yang
nyata tentang selera halus beliau
berkenaan dengan seni bangunan.
Makna ayat: فَلَمَّا قَضَیۡنَا
عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی
مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ -- Maka tatkala Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada
mereka selain rayap bumi yang memakan tongkatnya. فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ
اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ
الۡمُہِیۡنِ -- Lalu tatkala
tongkat itu jatuh, jin-jin mengetahui dengan jelas bahwa seandainya
mereka mengetahui yang gaib, mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam
azab yang menghinakan” (As-Sabā [34]:13-15). Putra yang sia-sia sebagai penerus
Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s., ang
tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan
(I Raja-raja, fatsal 12, 13, 14
& Jewish Encyclopaedia di
bawah “Rehoboam”). Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s. mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam.
Peran Pemuka Kaum Dalam Meredam Gejolak di Masyarakat
Kembali kepada firman Allah Swt. yang sedang dibahas mengenai ditundukkan-Nya berbagai komponen
alam semesta kepada manusia:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ الۡبَحۡرَ
لِتَاۡکُلُوۡا مِنۡہُ لَحۡمًا
طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ
مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ
تَمِیۡدَ بِکُمۡ وَ اَنۡہٰرًا وَّ
سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ بِالنَّجۡمِ
ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan Dia-lah
Dzat Yang telah menundukkan laut, supaya kamu dapat memakan daging ikan
segar darinya, dan kamu mengeluarkan
darinya benda-benda perhiasan yang kamu memakainya, dan engkau melihat kapal membelah air laut,
supaya kamu mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. وَ اَلۡقٰی فِی
الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ تَمِیۡدَ
بِکُمۡ وَ اَنۡہٰرًا وَّ سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- Dan Dia
telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu, dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat petunjuk. وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ
بِالنَّجۡمِ ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ -- Dan Dia
menciptakan tanda-tanda yang
lain, dan dengan bintang-bintang
itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah
yang benar. (An-Nahl
[16]:15-17).
Makna ayat: وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ
اَنۡ تَمِیۡدَ بِکُمۡ -- “Dan
Dia telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama
kamu,” Ilmu tanah (geologi) telah membuktikan
bahwa gunung-gunung sangat besar
peranannya dalam menjaga bumi ini
dari gangguan gempa bumi.
Demikian pula fungsi para pemimpin masyarakat atau pemimpin
agama -- yang dalam Al-Quran pun dimisalkan sebagai gunung -- karena mereka dapat
menjadi sarana “peredam” terjadinya
berbagai goncangan atau gejolak
di kalangan masyarakat, bukan
malah sebaliknya, yakni demi kepentingan pribadi atau golongannya
(kelompoknya) atau komunitasnya
-- mereka justru menjadi para “pemicu” terjadinya gejolak atau goncangan
dalam masyarakat, sehingga masyararakat semakin terpecah-belah menjadi berbagai macam kelompok
atau firqah yang saling bertentangan, terutama di
kalangan umat beragama (QS.30:31-33).
Makna ayat selanjutnya: وَ اَنۡہٰرًا وَّ
سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- “dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat petunjuk. وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ
بِالنَّجۡمِ ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ -- Dan Dia
menciptakan tanda-tanda yang
lain, dan dengan bintang-bintang
itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah
yang benar.”
Kata subul (jalan-jalan) di sini tidak berarti jalan-jalan buatan yang dikerjakan oleh
tangan manusia, melainkan jalan-jalan
alam yang dibentuk oleh celah-celah
gunung, sungai-sungai, dan lembah-lembah, yang telah dimanfaatkan sebagai jalan raya sepanjang masa.
Hikmah Adanya Perbedaan Keadaan Permukaan Bumi
Ayat: وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ
بِالنَّجۡمِ ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ -- “Dan Dia
menciptakan tanda-tanda yang
lain, dan dengan bintang-bintang
itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah
yang benar” mengandung arti, bahwa sekiranya bumi ini permukaannya datar
seluruhnya dan tidak ada pendakian
dan penurunan, tidak ada lembah-lembah, gunung-gunung atau sungai-sungai,
maka boleh dikata hampir tidak mungkin
bagi manusia untuk mencari jalan dari
satu tempat ke tempat lain.
Ciri-ciri khas yang berbeda-beda
pada permukaan bumi menolong manusia
untuk mengetahui jalan mereka. Zaman
sekarang, sempadan-sempadan
(tanda-tanda batas) alami telah
terbukti merupakan penolong besar
untuk penerbangan. Bintang-bintang pun menolong kaum musafir kelana menemukan jalan mereka di
daratan dan di lautan pada kegelapan malam.
Sehubungan dengan kesempurnaan penciptaan alam semesta tersebut selanjutnya Allah
Swt. berfirman:
اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا
یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا
تُسِرُّوۡنَ وَ مَا تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡوَاتٌ
غَیۡرُ اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ
ۙ اَیَّانَ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿٪﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan
yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran? وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ
لَا تُحۡصُوۡہَا -- Dan jika kamu
menghitung nikmat-nikmat Allah,
kamu tidak akan dapat
menghitungnya, اِنَّ اللّٰہَ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Pengampun, Maha
Penyayang. Dan Allah
mengetahui apa pun yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu zahirkan. وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ لَا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ
ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ -- Dan mereka yang diseru selain Allah,
mereka itu tidak menjadikan sesuatu pun,
bahkan mereka sendiri yang telah diciptakan.
اَمۡوَاتٌ غَیۡرُ اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ۙ
اَیَّانَ یُبۡعَثُوۡنَ -- Mereka itu mati, tidak hidup, dan mereka
tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. (An-Nahl [16]:11-22).
Firman-Nya
lagi:
وَ اٰیَۃٌ لَّہُمُ الۡاَرۡضُ الۡمَیۡتَۃُ ۚۖ
اَحۡیَیۡنٰہَا وَ اَخۡرَجۡنَا مِنۡہَا حَبًّا فَمِنۡہُ یَاۡکُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
جَعَلۡنَا فِیۡہَا جَنّٰتٍ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ وَّ فَجَّرۡنَا فِیۡہَا
مِنَ الۡعُیُوۡنِ ﴿ۙ﴾ لِیَاۡکُلُوۡا
مِنۡ ثَمَرِہٖ ۙ وَ مَا عَمِلَتۡہُ اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ اَفَلَا یَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ
﴿﴾
Dan suatu Tanda bagi mereka bumi yang mati, Kami menghidupkannya dan Kami mengeluarkan darinya padi-padian
lalu mereka makan darinya. Dan Kami menjadikan di dalamnya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami memancarkan di dalamnya mata-mata air. Supaya mereka
dapat makan buah-buahannya, dan sekali-kali
bukan tangan mereka yang mengerjakannya, lalu
mengapakan mereka tidak bersyukur?
سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala
sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan
dari diri mereka sendiri, mau
pun dari
apa yang tidak mereka ketahui. (Yā Sīn [36]:34-37).
Wahyu Ilahi Merupakan “Pasangan” Kecerdasan Otak Manusia
Kiasan dalam
ayat ini bermaksud mengatakan bahwa dari tanah gersang Arabia melalui hujan ruhani berupa wahyu Al-Quran kepada Nabi
Besar Muhammad saw. akan memancar sumber-sumber
dan mata-mata air ilmu keruhanian,
dan pohon-pohon dengan berbagai macam
buah-buahan ruhani akan tumbuh di mana-mana di seluruh negeri.
Makna ayat: سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ
کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan
baik dari apa yang ditumbuhkan
oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, mau pun
dari apa yang tidak mereka ketahui” (Yā Sīn
[36]:37), ilmu pengetahuan telah
menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan
terdapat dalam segala sesuatu — dalam
alam nabati, dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, karena unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud.
Kebenaran ilmiah
ini berlaku juga untuk kecerdasan
manusia. Sebelum nur-nur samawi berupa
wahyu Ilahi turun -- terutama wahyu
Al-Quran -- manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu
Ilahi dan kecerdasan otak
manusia. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ اٰیَۃٌ لَّہُمُ الَّیۡلُ ۚۖ نَسۡلَخُ مِنۡہُ
النَّہَارَ فَاِذَا ہُمۡ مُّظۡلِمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الشَّمۡسُ
تَجۡرِیۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّہَا ؕ ذٰلِکَ
تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿ؕ﴾ وَ الۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰہُ مَنَازِلَ حَتّٰی عَادَ کَالۡعُرۡجُوۡنِ الۡقَدِیۡمِ ﴿﴾ لَا الشَّمۡسُ
یَنۡۢبَغِیۡ لَہَاۤ اَنۡ تُدۡرِکَ الۡقَمَرَ
وَ لَا الَّیۡلُ سَابِقُ النَّہَارِ ؕ وَ کُلٌّ فِیۡ فَلَکٍ
یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Dan suatu Tanda bagi mereka adalah malam, darinya siang hari Kami tanggalkan
maka tiba-tiba mereka berada dalam
kegelapan. Dan matahari
beredar ke arah tujuan yang telah
ditetapkan baginya, demikian itulah takdir
Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan Kami
telah menetapkan bagi bulan
tingkat-tingkatnya, hingga ia kembali lagi seperti bentuk tandan korma
yang tua. Matahari
tidak mungkin menyusul bulan, dan tidak pula malam mendahului siang. Dan semua itu terus beredar pada tempat peredarannya. (Yā Sīn
[36]:38-41).
Maksud ayat:
وَ
الۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰہُ مَنَازِلَ حَتّٰی
عَادَ کَالۡعُرۡجُوۡنِ الۡقَدِیۡمِ -- “Dan Kami
telah menetapkan bagi bulan tingkat-tingkatnya, hingga ia
kembali lagi seperti bentuk tandan korma yang tua” ialah bahwa apabila bulan zahir kembali, maka itu tampak
seperti satu kelopak tua mayang pohon yang bengkok. Demikian pula halnya kebenaran yang mula-mula nampak tidak
ada artinya namun tidak lama kemudian memancarkan sinarnya bagaikan bulan
purnama.
Isyarat
dalam ayat: لَا الشَّمۡسُ
یَنۡۢبَغِیۡ لَہَاۤ اَنۡ تُدۡرِکَ الۡقَمَرَ
وَ لَا الَّیۡلُ سَابِقُ النَّہَارِ ؕ وَ کُلٌّ فِیۡ فَلَکٍ
یَّسۡبَحُوۡنَ -- “Matahari tidak mungkin menyusul bulan, dan tidak pula malam mendahului siang. Dan semua itu terus beredar pada tempat peredarannya“ ini tertuju kepada peredaran benda-benda langit dalam ruang angkasa atau ruang
ether. Al-Quran menentang pendapat yang lama dianut
(dipercayai), bahwa seluruh langit
itu padat dalam susunannya. Telah
menjadi ciri khas Al-Quran bahwa
Kitab itu memakai ungkapan-ungkapan
yang bukan saja menolak pandangan dan
gagasan yang keliru, melainkan juga mendahului penemuan-penemuan baru dalam
bidang ilmu pengetahuan dan filsafat.
Ayat ini menunjuk pula kepada rencana
dan tertib sempurna yang meliputi seluruh alam semesta, semua benda langit dan bumi melaksanakan bagian tugasnya
masing-masing dengan teratur, tepat
sekali tanpa kekeliruan, tanpa
langgar melanggari ruang gerak
masing-masing.
Tata surya itu hanyalah merupakan
salah satu dari ratusan juta susunan benda langit, yang beberapa di antaranya
tidak terperikan jauh lebih besar dari tata surya kita. Namun jutaan -- bahkan milyaran -- matahari dan bintang yang tidak terhitung banyaknya itu tersebar bertaburan di
dalam ruang kosong, yang luasnya
tidak terbatas, begitu teraturnya dan
terbagi dalam kelompok-kelompok dalam
hubungannya satu sama lain untuk menjamin
kelestarian secara keseluruhan, dan untuk menimbulkan keserasian dan keindahan
di mana-mana.
Tiap-tiap benda
langit dan kelompok benda-benda
langit (galaxy) mempengaruhi orbit
(jalan peredaran) lain, namun masing-masing benda
langit itu beredar terus dengan aman pada jalan (garis orbit) yang telah ditakdirkan
Allah Swt. dan semua benda langit
sebagai keseluruhan merupakan suatu keserasian agung dalam struktur dan gerakan (QS.13:3-5; QS.31:11-12; QS.67:1-6).
Nubuatan
mengenai pembuatan sarana transportasi modern di darat, di laut dan di udara, firman-Nya:
وَ اٰیَۃٌ لَّہُمۡ
اَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّیَّتَہُمۡ
فِی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿ۙ﴾ وَ
خَلَقۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا
یَرۡکَبُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ فَلَا
صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ یُنۡقَذُوۡنَ
﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنَّا وَ
مَتَاعًا اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Dan suatu
Tanda bagi mereka bahwasanya Kami
angkut anak-cucu mereka dalam bahtera-bahtera yang bermuatan penuh. وَ خَلَقۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ -- Dan Kami
menciptakan bagi mereka semacam itu juga yang
akan mereka kendarai. وَ اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ یُنۡقَذُوۡنَ -- Dan jika
Kami menghendaki Kami dapat
menenggelamkan mereka maka tidak ada yang menolong mereka, dan tidak pula mereka akan diselamatkan. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنَّا وَ مَتَاعًا اِلٰی حِیۡنٍ -- Kecuali dengan
rahmat dari Kami dan sebagai bekal
sampai suatu masa. (Yā Sīn
[36]:41-45).
Al-Quran meramalkan
semenjak dahulu kala bahwa Allah Swt. akan mewujudkan sarana-sarana pengangkutan baru, antara lain berupa kapal api dan kapal lintas-samudera raksasa, balon
zeppelin, pesawat terbang, dan
sebagainya yang begitu banyak dipergunakan dewasa ini adalah penggenapan nubuatan Al-Quran secara jelas dan
nyata.
Peringatan
Allah Swt. dalam ayat: وَ اِنۡ نَّشَاۡ
نُغۡرِقۡہُمۡ فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ
لَا ہُمۡ یُنۡقَذُوۡنَ -- Dan jika Kami menghendaki Kami dapat menenggelamkan mereka maka tidak
ada yang menolong mereka, dan tidak
pula mereka akan diselamatkan” terbukti
dengan terjadinya berbagai kecelakaan
tragis yang dialami sarana-sarana
transportasi modern, baik yang terjadi di darat, di laut mau pun di udara, antara lain berupa kecelakaan
yang menimpa pesawat ruang angkasa yang meledak di dalam perjalanannya di
angkasa. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
لَیَقُوۡلُنَّ خَلَقَہُنَّ الۡعَزِیۡزُ الۡعَلِیۡمُ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ
جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ مَہۡدًا وَّ جَعَلَ لَکُمۡ فِیۡہَا سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ الَّذِیۡ
نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ
بِقَدَرٍ ۚ فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً
مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡ
خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ
مَا تَرۡکَبُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ رَبِّکُمۡ
اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا
ہٰذَا وَ مَا کُنَّا لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلُوۡا
لَہٗ مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا ؕ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَکَفُوۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ؕ٪﴾
Dan jika engkau menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan seluruh langit dan bumi?"
Pasti mereka akan berkata: "Semua
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” Yaitu
Dia Yang telah menja-dikan bumi bagi kamu hamparan, dan telah menjadikan bagi kamu di dalam-nya jalan-jalan supaya
kamu mendapat petunjuk. وَ الَّذِیۡ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ -- Dan Yang
menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami
menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan. وَ الَّذِیۡ خَلَقَ
الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا -- Dan
Yang telah menciptakan segala sesuatu
berpasang-pasangan, وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا
تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan
bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang
ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ رَبِّکُمۡ
اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ -- supaya
kamu duduk dengan di atas punggungnya
kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan) kamu apabila
kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ
لَنَا ہٰذَا وَ مَا کُنَّا لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan
ini kepada kami, dan kami
sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar
akan kembali." وَ جَعَلُوۡا
لَہٗ مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا -- Tetapi mereka
menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai
bagian dari-Nya. اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَکَفُوۡرٌ مُّبِیۡنٌ -- Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (Az-Zukhruf
[43]:11-16).
Makna ayat: وَ الَّذِیۡ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ -- Dan Yang
menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami
menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan” berarti, seperti halnya tanah yang kering dan gersang
pun mulai hidup kembali dengan segar bila hujan jatuh di atas tanah
itu, demikian pula kaum yang secara akhlak dan ruhani telah mati memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu
Ilahi, teutama wahyu Al-Quran.
Sungguh benar pernyataan Allah
Swt. dalam ayat selanjutnya, bahwa
sekali pun yang menjadi “perantara”
pembuatan kapal-kapal adalah manusia,
tetapi pada hakikatnya Allah Swt.
Yang membuatnya: وَ جَعَلَ لَکُمۡ
مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu
tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ
ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ
رَبِّکُمۡ اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ
عَلَیۡہِ -- supaya kamu
duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)
kamu apabila kamu telah duduk
di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا وَ مَا کُنَّا لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan
ini kepada kami, dan kami
sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar
akan kembali." (Az-Zukhruf [43]:13-15).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 2 April 2016
MashaaAllah
BalasHapusMashaaAllah
BalasHapus