Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Tiga Cara Allah Swt. “Berkomunikasi” Dengan Manusia
& Wahyu Ilahi Kepada Ibu
Nabi Musa a.s. dan Hawari (Murid-murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Bab 20
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab 1 s/d
Bab 18 telah dijelaskan mengenai kesempurnaan bahasa Arab sebagai ibu
segala bahasa, dalam Bab ini dan selanjutnya akan dibahas masalah
wahyu, ilham, kasyaf dan mimpi,
yang merupakan sarana yang digunakan
Allah Swt. untuk “berkomunikasi”
dengan manusia -- terutama dengan para nabi (rasul) Allah -- firman-Nya:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا
ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya, اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ
عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ -- kecuali dengan wahyu atau dari belakang
tabir atau dengan mengirimkan
seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia
Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah
Kami telah mewahyukan kepada engkau firman
ini dengan perintah Kami.
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ
لَا الۡاِیۡمَانُ -- Engkau
sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit
dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ
اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ
الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah,
kepada Allāh segala perkara kembali.
(Asy-Syūrā [42]:52-54).
Tiga Cara Allah Swt. “Berkomunikasi” dengan Manusia & Turunnya Wahyu
Ilahi Kepada Orang-orang yang Bukan Rasul Allah dan Lebah
Ayat 52
menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara
kepada hamba-hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka: (a)
Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara. (b) Dia membuat
mereka menyaksikan kasyaf
(penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan
atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu
itu mereka tidak melihat wujud yang
berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir," (c) Allah Swt. menurunkan seorang
utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
Al-Quran dalam ayat 53 disebut ruh
(رُوۡحًا -- nafas
hidup — Lexicon Lane), sebab
dengan perantaraannya bangsa
yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan
baru: وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah
Kami telah mewahyukan kepada engkau firman
ini dengan perintah Kami.
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ
لَا الۡاِیۡمَانُ -- Engkau
sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus.”
Betapa
pentingnya keberadaan wahyu Ilahi tersebut sehingga ibu Nabi Musa a.s. pun tidak
ragu-ragu untuk menghanyutkan
Nabi Musa a.s. ketika masih bayi di sungai Nil, dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt. agar selamat dari perintah pembunuhan dari Fir’aun terhadap semua
bayi laki-laki di kalangan
Bani Israil di wilayah Mesir,
firman-Nya:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اُمِّ مُوۡسٰۤی اَنۡ اَرۡضِعِیۡہِ ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ وَ لَا تَخَافِیۡ وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡتَقَطَہٗۤ اٰلُ فِرۡعَوۡنَ لِیَکُوۡنَ لَہُمۡ عَدُوًّا وَّ حَزَنًا ؕ
اِنَّ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا کَانُوۡا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ وَ
قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ ٭ۖ
عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ
وَلَدًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَصۡبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا ؕ
اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا
لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa supaya dia menyusuinya: فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ
فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ وَ لَا
تَخَافِیۡ وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا
رَآدُّوۡہُ اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- “Lalu apabila engkau takut mengenai dia maka letakkanlah dia di sungai, dan janganlah
engkau takut dan jangan pula engkau
bersedih, sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepada engkau,
dan Kami akan menjadikannya salah
seorang dari orang-orang yang
diutus.” Lalu seorang
dari keluarga Fir’aun memungut dia, supaya aki-batnya menjadi musuh dan kesedihan
bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan
Haman serta lasykar-lasykar keduanya itu adalah orang-orang yang bersalah. وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا
تَقۡتُلُوۡہُ
-- Dan seorang perempuan dari keluarga Fir’aun berkata: “Anak ini akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagi
engkau, jangan engkau membunuhnya,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ
وَلَدًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- mudah-mudahan
ia akan bermanfaat bagi kita atau kita
akan menjadikannya anak” sedang mereka tidak menyadari. وَ اَصۡبَحَ
فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا -- Dan kegelisahan
hati ibu Musa hilang menjadi kegembiraan, اِنۡ کَادَتۡ
لَتُبۡدِیۡ بِہٖ لَوۡ لَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ
مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- hampir
saja ia menyingkapkan mengenai anak itu, seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang beriman. (Al-Qashash [28]:8-11).
Cara bekerja Allah Swt. sungguh tidak dapat kita maklumi. Fir’aun tidak mengetahui, bahwa justru anak yang kepadanya itu ia curahkan
segenap kasih-sayang, pada suatu hari
anak itu juga ternyata akan menjadi alat penghukum baginya sebagai ketetapan
takdir Ilahi, sebab ia telah menghina dan menentang perintah-perintah Tuhan, dan telah mengikat orang-orang Bani
Israil dalam belenggu perbudakan,
dan berlaku zalim terhadap mereka
beberapa waktu lamanya.
Ibunda
Nabi Musa a.s. begitu girang dengan pengembalian Nabi Musa
a.s. kepadanya, sehingga saking sangat girangnya hampir-hampir ia akan mengatakan
bahwa anak itu anaknya sendiri. Jika sekiranya Allah Swt. tidak
mencegahnya, beliau nyaris menceriterakan kepada orang seluruh
kejadian, bagaimana beliau menerima wahyu
Ilahi dan bagaimana dalam menaatinya,
beliau telah menghanyutkan anaknya
itu di sungai dan seterusnya.
Turunnya Wahyu Ilahi Kepada Murid-murid Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dan Lebah
Demikian pula berimannya para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. kepada beliau di masa awal pun karena peran wahyu Ilahi pula, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”
Mereka berkata: “Kami telah beriman,
dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
(Al-Māidah
[5]:112).
Bahkan, menurut Al-Quran kepada lebah
madu pun Allah Swt. menurunkan wahyu-Nya,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ
اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ
﴿ۙ﴾ ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً
لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah: اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ
مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ -- “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon
dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ
الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا -- “Kemudian makanlah
dari setiap buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb
(Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ
مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ
لِّلنَّاسِ -- Keluar
dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً
لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl [16]: 69-70).
Wahyu di sini berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah
Swt. telah menganugerahi
semua makhluk. Ayat ini mengandung
satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu
(atau ilham) Ilahi, baik yang nyata ataupun tersembunyi (QS.41:12-13)
Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluk memenuhi tujuan
kejadiannya hanya dengan bekerja
menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya. Dan lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi
dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula
kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan
dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.
Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut
dalam ayat selanjutnya, yakni Allah Swt. mewahyukan
(mengilhamkan) kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya
dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.
Madu mempunyai
bermacam-macam warna dan rasa
serta berbagai khasiat -- terutama untuk menyembuhkan berbagai penyakit
-- akan tetapi semua coraknya
yang berbeda-beda itu sangat berguna
sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti bahwa wahyu Ilahi pun telah
terus-menerus turun kepada nabi-nabi Allah di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi Allah dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi lain, walaupun demikian semuanya itu
merupakan sarana-sarana untuk
menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau
diutus, terutama sekali ajaran Al-Quran
yang diwahyukan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw..
Mereka yang “Memusuhi”
Malaikat Jibril a.s.
Sehubungan dengan kenyataan
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai pentingnya keberadaan serta kesinambungan turunnya wahyu
Ilahi tersebut bagi umat manusia
melalui Ruhulqudus (Malaikat Jibril
a.s.):
“Aku beritahukan
kepada kalian bahwa sesungguhnya semua
pintu bisa saja telah tertutup
namun pintu turunnya Ruhulqudus tidak pernah ditutup. Bukalah pintu hati kalian agar ruh
itu bisa masuk ke dalamnya.”
Allah Swt. berfirman mengenai tidak
pernah berhentinya Malaikat Jibril a.s. menyampaikan wahyu Ilahi yang menjadi tugasnya dan tanggungjawabnya
(QS.35:1-3) sekali pun wahyu syariat telah berakhir dengan diwahyukan-Nya
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4; QS.26:193-198):
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا
لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا
لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ
وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ
اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena
sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau
dengan izin Allah menggenapi Kalam yang ada
sebelumnya, sebagai petunjuk dan
kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ
جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa
menjadi musuh bagi Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan Jibril
dan Mikail فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ
لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun men-jadi musuh bagi orang-orang kafir.”
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menurunkan
Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,
dan sekali-kali tidak ada
yang kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik. Apakah patut setiap
kali mereka membuat janji, segolongan
dari mereka membuangnya? Bahkan kebanyakan dari mereka tidak beriman. (Al-Baqarah
[2]:98-100).
Jibril itu kata majemuk dari jabr
dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr
yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il
berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew
English-Lexicon) oleh William Geseneus (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari
Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir). Jibril
sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran. Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril
itu searti dengan Rūhulqudus dan Rūhul-Amīn.
Menurut Bible pun tugas Jibril adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya
(Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19). Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini,
menetapkan tugas yang sama kepada Jibril. Tetapi dalam tulisan-tulisan
Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat
api dan guntur” (Encyclopaedia
Biblica, pada Gabriel).
Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh dan sebagai malaikat
peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Jarir dan Musnad).
Mikal
(Mikail) pun salah satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan
il, yang berarti “siapa yang seperti
Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia
dan Bukhari). Orang-orang
Yahudi memandang Mikail
sebagai malaikat yang paling mereka
sukai (Yewish Encyclopaedia),
dan sebagai malaikat keamanan serta
kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan
pekerjaan pemeliharaan dunia.
Makna ayat:
مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ -- ”Barangsiapa
menjadi musuh bagi Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan Jibril
dan Mikail فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ
لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- maka sesungguhnya Allah pun men-jadi musuh bagi orang-orang kafir,”
bahwa malaikat-malaikat merupakan mata
rantai penting dalam silsilah
keruhanian dan barangsiapa memutuskan
sekali pun hanya satu mata rantai ruhani
atau menampakkan maksud buruk
terhadap salah satu unit tatanan ruhani
itu, pada hakikatnya ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.
Kesinambungan Turunnya “Wahyu-wahyu
Syaitan”
Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar,
dan menjadikan dirinya layak menerima
siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar,
akibatnya bukan malaikat pembawa wahyu
Ilahi (Jibril a.s.) yang turun
kepada mereka melainkan yang turun
adalah wahyu-wahyu syaitan, berikut
firman-Nya mengenai wahyu Al-Quran:
وَ مَا تَنَزَّلَتۡ بِہِ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ وَ
مَا یَنۡۢبَغِیۡ لَہُمۡ وَ مَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اِنَّہُمۡ عَنِ
السَّمۡعِ لَمَعۡزُوۡلُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan
sekali-kali bukan syaitan-syaitan yang membawanya turun, dan sekali-kali
tidak layak untuk mereka dan sekali-kali tidak pula mereka
mempunyai kekuatan. Sesungguhnya mereka itu telah dihalangi dari mendengar Kalam Ilahi. Maka janganlah engkau me-nyeru tuhan lain bersama Allah, karena engkau akan menjadi orang-orang yang diazab.
(Asy-Syū’arā
[26]:211-214).
Ayat:
-- ini mengandung tiga buah dalil
yang mendukung pendakwaan, bahwa syaitan tidak ikut membantu dalam pembuatan
Al-Quran:
(a) Ajarannya merupakan suatu celaan
keras, yang paling jitu, tidak mengenal kerjasama terhadap semua hal yang
dibela oleh syaitan.
(b) Al-Quran begitu agung sifatnya dan
mendukung kebenaran-kebenaran yang demikian luhurnya, sehingga sama sekali ada
di luar jangkauan kekuasaan syaitan untuk menghasilkan yang serupa itu
(QS.17:89).
(c) Al-Quran mengandung nubuatan-nubuatan yang hebat tentang
kemenangan Islam pada akhirnya. Syaitan tidak dapat membuat nubuatan-nubuatan,
sebab mereka tidak mempunyai ilmu tentang masa depan.
Jadi, Al-Quran tidak mungkin karya syaitan atau wahyu
syaitan, sebab hasil karya syaitan tidak mungkin menekankan begitu tegas mengenai Ke-Esa-an
Tuhan sebagaimana telah ditekankan dalam Al-Quran, firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ
تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ تَنَزَّلُ
عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ یُّلۡقُوۡنَ
السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ وَ
الشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ اَلَمۡ تَرَ
اَنَّہُمۡ فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَ اَنَّہُمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ
کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ
الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ
مُنۡقَلَبٍ یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu
kepada siapa syaitan-syaitan itu
turun? Mereka turun
kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa.
Mereka mengarahkan telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta. Dan penyair-penyair itu yang mengikuti
mereka adalah orang yang
sesat. Tidakkah engkau melihat bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari
tanpa tujuan di dalam setiap lembah,
dan bahwasanya
mereka itu mengatakan apa yang tidak
mereka lakukan, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh serta banyak-banyak
mengingat Allah, dan mereka membela diri setelah mereka dizalimi.
Dan orang-orang zalim itu segera
akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syū’arā
[26]:222-228).
Dalam aya-ayat ini tuduhan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. adalah seorang
penyair (QS.21:6) disangkal. Tiga alasan yang diberikan
sebagai sangkalan, ialah:
(1) Orang-orang yang mengikut dan berteman dengan penyair-penyair bukanlah orang-orang
yang berbudi pekerti tinggi, tetapi
para pengikut Nabi Besar Muhammad saw. memiliki cita-cita yang sangat mulia dan berbudi
pekerti yang sangat luhur.
(2) Penyair-penyair
tidak mempunyai cita-cita atau rencana hidup yang terarah. Mereka itu seakan-akan melantur
tidak menentu arah-tujuannya di
tiap-tiap lembah. Akan tetapi Nabi
Besar Muhammad saw. mempunyai
suatu tugas hidup yang sangat
agung dan luhur.
(3). Penyair-penyair
tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan (QS.2:45; QS.[61]3-5) sedangkan Nabi
Besar Muhammad saw. bukan hanya Guru
yang paling mulia, melainkan juga
seorang pribadi terbesar dari antara
orang-orang yang sibuk berkarya, dan seorang suri teladan yang sempurna (QS.33:22).
Kekeliruan Pandangan
Para Filsuf yang Hanya Mengandalkan
Logika & Pentingnya Kedatangan “Manusia-manusia Pilihan” Allah Swt.
Sehubungan dengan pentingnya kesinambungan turunnya wahyu-wahyu Ilahi yang bukan-
syariat -- setelah wahyu Al-Quran (QS.5:4)
-- guna membimbing manusia dari ketersesatan akibat
pengaruh wahyu syaitan yang diancamkan iblis (QS.7:12- 18) -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Tidak ada suatu kaidah apa pun yang dapat menjamin
bahwa dengan mengikutinya maka
manusia akan mutlak terpelihara dari
segala kesalahan. Karena itulah para
filosof yang merangkai aturan-aturan logika dan mengemukakan cara-cara diskusi serta membangun argumentasi filosofi, selalu terjerumus dalam kesalahan dan mewariskan
kepada manusia ketiadaan pengetahuan mereka
tentang suatu pandangan, pendapat filosofi yang salah serta berbagai diskursus (artikel) kosong.
Hal ini menunjukkan adalah tidak mungkin
mengungkap kebenaran setiap hal, lalu menentukan akidah yang benar berdasarkan telaah
sendiri tanpa melakukan suatu kesalahan.
Kami belum
pernah mengetahui atau mendengar
atau pun membaca bahwa ada perorangan di kitab sejarah mana pun
yang terbebas dari kesalahan dalam keseluruhan pandangan dan renungannya. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin menemukan seseorang yang melalui penelitian tentang hukum alam
dan yang menyelaraskan kesadaran dirinya
sejalan dengan kondisi dunia, lalu sanggup
membawa penelitiannya ke tingkat kebenaran tertinggi dimana tidak ada lagi kemungkinan munculnya kesalahan.
Kalau nyatanya manusia tidak mungkin berlepas diri dari kesalahan dengan mengandalkan pengetahuannya
sendiri, sedangkan Allah Yang Maha
Pemurah dan Maha Penyayang, Yang
bersih dari segala kesalahan dan mengetahui
kebenaran segala hal, lalu tidak
menolong hamba-Nya melalui wahyu,
bagaimana mungkin kita ini sebagai makhluk yang lemah dapat keluar dari kungkungan kegelapan kebodohan dan kesalahan, serta bagaimana membebaskan
diri dari segala keraguan dan kecurigaan?
Karena itu, aku dengan sangat yakin menyatakan bahwa kebijakan, kasih dan kecintaan Allah Swt. dari waktu ke waktu -- bilamana dalam pandangan-Nya sudah tepat saatnya -- akan menciptakan manusia-manusia pilihan yang menjadi penerima wahyu demi penegakan akidah hakiki dan menetapkan akhlak yang benar.
Kepada manusia-manusia pilihan tersebut dikaruniakan kemampuan menyampaikan ajaran mereka kepada manusia
lainnya, sehingga tujuan bahwa umat manusia diciptakan agar mendapat bimbingan yang benar tidak akan kehilangan apa yang menjadi hak mereka.” (Purani
Tehrirain; Ruhani Khazain,
jld. II, hlm. 20-21, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 13 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar