Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Nabi Besar Muhammad Saw. Suri
Teladan Terbaik & Hikmah Diwahyukan-Nya Al-Quran Dalam Bahasa
Arab Melalui Rūh-ul-Amīn Kepada “Al-Amīn” (Nabi Besar Muhammad saw.)
Bab 18
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai pribadi
Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan
himpunan dari keutamaan sifat-sifat seluruh rasul
Allah, karena itu Allah Swt. telah berfirman
mengenai hal tersebut:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ
اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا
رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ وَ تَقَطَّعُوۡۤا
اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
umat kamu ini merupakan satu umat, dan Aku
adalah Rabb (Tuhan) kamu maka sembahlah
Aku. Tetapi mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,
padahal semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya
[21]:93-94).
Pada ayat-ayat yang
mendahuluinya, beberapa nabi Allah
dan beberapa orang bertakwa disebutkan
bersama-sama. Ini bukan secara kebetulan
saja. Nabi-nabi Allah itu disebut
bersama-sama mempunyai suatu tujuan tertentu. Semuanya
mempunyai satu hal yang sama.
Dalam upaya memurnikan dan menegakkan Tauhid Ilahi dari berbentuk penyimpangan (kemusyrikan),
para rasul Allah tersebut mengalami penderitaan-penderitaan
dan kemalangan-kemalangan besar dalam
satu bentuk atau lain, tetapi mereka memperlihatkan kesabaran dan ketabahan
yang sangat tinggi dan sangat mulia di bawah himpitan cobaan-cobaan yang paling hebat. Mereka
mengajarkan pula asas pokok semua agama, yaitu Tauhid Ilahi (QS.5:117-119; QS.16:37; QS.21:109).
Sehubungan dengan hal tersebut
Nabi Besar Muhammad saw. telah memperagakan ketangguhan yang diperlihatkan para rasul Allah tersebut dalan kuantitas
dan kualitasnya yang jauh lebih
sempurna dalam segala seginya, sebagai pengamalan
dari perintah Allah Swt. berikut ini:
اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ۚ فَاِنۡ
یَّکۡفُرۡ بِہَا ہٰۤؤُلَآءِ فَقَدۡ
وَکَّلۡنَا بِہَا قَوۡمًا لَّیۡسُوۡا بِہَا بِکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾ اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ ؕ قُلۡ لَّاۤ اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ اَجۡرًا ؕ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا ذِکۡرٰی لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka
itulah orang-orang yang Kami telah menganugerahkan kepada mereka Kitab, kekuasaan, dan kenabian. Tetapi jika mereka
kafir terhadapnya maka sungguh Kami telah menyerahkannya kepada satu kaum
yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.
اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ -- Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka. Ka-takanlah: “Untuk tugas ini aku tidak meminta upah kepada kamu, ini
tidak lain melainkan suatu nasihat untuk
seluruh alam.” (Al-An’ām [6]:90-91).
Makna ayat:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ -- “Mereka
itulah orang-orang yang Kami telah menganugerahkan kepada mereka Kitab, kekuasaan, dan kenabian” itu tidak
berarti bahwa tiap-tiap nabi Allah diberi
Kitab masing-masing. “Memberi Kitab” itu ungkapan yang
dipergunakan dalam Al-Quran, pada umumnya dalam artian memberi
Kitab melalui seorang nabi pembawa syariat.
Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.45:17) dikatakan
bahwa tiga hal, yaitu Kitab, kedaulatan dan kenabian diberikan kepada semua keturunan Bani Israil. Dalam QS.5:45 kita baca bahwa satu rangkaian nabi Allah datang sesudah Nabi Musa a.s. tidak diberi syariat baru, melainkan mengikuti
syariat yang diberikan dalam Taurat
dan menjalankan hukum dengan syariat itu (QS.2:88).
Sebenarnya nabi-nabi
Allah itu ada dua golongan: nabi-nabi pembawa syariat yang kepada mereka masing-masing diberikan sebuah Kitab (hukum atau syariat) dan nabi-nabi Allah yang tidak diberi Kitab atau syariat, tetapi mengikuti syariat nabi pembawa
syariat. Ihwal mereka kata-kata, “Kami beri mereka Kitab” berarti
bahwa mereka diberi pengetahuan mengenai
Kitab atau mereka mewarisi Kitab
atau syariat nabi pembawa syariat
yang mendahuluinya.
“Suri
Teladan Terbaik” Bergelar “Khātaman
Nabiyyīn” & Perkembangan Bahasa di Kalangan Manusia
Kata-kata
dalam ayat selanjutnya: اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ -- “Mereka itulah orang-orang
yang Allah telah memberi petunjuk
maka ikutilah petunjuk mereka,” dapat dianggap tertuju kepada Nabi
Besar Muhammad saw. atau kepada tiap-tiap orang Islam, sebab dasar
ajaran para nabi Allah semuanya sama. Atau, kata-kata itu dapat
diartikan bahwa wujud ruhani atau fitrat Nabi Besar Muhammad saw. adalah demikian rupa
sehingga seakan-akan beliau saw. diperintahkan
supaya memadukan di dalam diri beliau
segala sifat utama (akhlak fadhilah) yang
terdapat pada pribadi nabi-nabi Allah
lainnya, sehingga menjadikan beliau saw.
sebagai suri teladan terbaik (QS.33:22) dan bergelar “Khātaman Nabiyyīn” (QS.33:41).
Perintah yang dikemukakan dengan
kata-kata, فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ -- “ maka ikutilah
petunjuk mereka” itu disebut dalam istilah keruhanian Amr kauni atau
Amr khalqi yang berarti satu keinginan
atau sifat yang terdapat pada suatu benda atau orang. Sebagai contoh mengenai perintah itu lihatlah QS.3:60 dan
QS.21:70.
Dengan kata lain lingkaran
perkembangan umat manusia atau umat
beragama dan kemanusiaan
dimulai dari Adam dan mencapai puncak
kesempurnaannya perkembangannya
dalam satu kesatuan pula pada Adam berikutnya, yang paling sempurna
dalam segala seginya -- yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. sehingga Allah Swt.
memberi gelar “Khātaman-Nabiyyin
(mahkota/puncak kesempurnaan nabi-nabi
-- QS.33:41) dan beliau
saw. telah berhasil melahirkan satu “umat
terbaik” yang dibangkitkan Allah
Swt. bagi kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111),
firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah
seorang laki-laki di antara laki-laki
kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai
sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb
[33]:41).
Seiring dengan penyebaran keturunan
Nabi Adam a.s. yakni Bani Adam ke berbagai kawasan dunia -- sehingga menjadi kaum-kaum yang terpisah dari bangsa induknya (QS.49:14)
-- demikian pula bahasa yang mereka
pergunakan untuk berkomunikasi pun –
yakni bahasa Arab -- mengalami perkembangan atau perubahan
pula dan
menjadi bahasa-bahasa yang berbeda.
Dengan perantaraan bahasa-bahasa --
yang bersumber dari bahasa Arab --
yang dipergunakan kaum-kaum itu pulalah
Allah Swt. telah berkomunikasi
melalui para Rasul Allah yang diutus
di kalangan kaum-kaum tersebut, untuk
memperingatkan mereka mengenai tujuan utama penciptaan mereka di dunia, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah Swt. (QS.51:57), firman-Nya:
وَ
مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِہٖ لِیُبَیِّنَ لَہُمۡ ؕ فَیُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
یَّشَآءُ وَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ
وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak mengutus seorang
rasul, melainkan dengan wahyu dalam bahasa kaumnya, supaya ia dapat menjelaskan kepada mereka,
maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi
petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Ibrahim [14]:5).
Jika ayat ini ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak
berarti, bahwa amanat Nabi Besar Muhammad saw. – yakni agama
Islam atau Al-Quran yang diwahyukan
Allah Swt. dalam bahasa Arab -- hanya
terbatas kepada bangsa Arab saja. Dugaan demikian disangkal oleh ayat-ayat Al-Quran lainnya, di mana
beliau saw. jelas dan tanpa aling-aling dinyatakan sebagai utusan Allah yang dikirim untuk seluruh
dunia (QS.7:159; QS.21:108; QS.34:29).
Bukan hanya Al-Quran yang
menyatakan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
rasul Allah untuk seluruh dunia, bahkan juga beliau saw. . sendiri menurut riwayat pernah
bersabda: “Aku dikirimkan kepada bangsa
yang berkulit hitam dan yang berkulit merah,” maksudnya kepada seluruh umat
manusia” (Al-Bihar-ul-Anwar); dan “Aku telah dibangkitkan untuk seluruh umat manusia” (Bukhari).
Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sebab bangsa Arab merupakan bangsa
yang pertama-tama dan dengan perantaraan
mereka amanat itu harus disebarkan ke seluruh dunia (QS.62:3-5). Jadi bahwa diturunkan wahyu
Al-Quran dalam bahasa Arab itu, bukan karena dimaksudkannya hanya untuk bangsa Arab saja, melainkan karena bahasa Arab pun sebagai bahasa yang paling jelas, fasih, sangat luas, sangat tepat untuk menjadi kendaraan guna menyampaikan amanat Al-Quran -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:5) -- firman-Nya:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam
bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu
bagi orang-orang yang beriman
sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,
dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:45).
Bisa Berbahasa Arab
Tidak Otomatis Bisa Memahami Al-Quran & Hikmah Adanya “Pengulangan” Dalam Al-Quran
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- “Dan
orang-orang yang tidak beriman dalam
telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Quran
itu kebutaan bagi mereka,”
bahwa apa pun yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar bagi mereka serta keindahan
dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat
yang amat jauh”, berarti bahwa
pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat
jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan
buruk mereka.
Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang amat
jauh, benarlah firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ
شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ
اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami
menurunkan dari Al-Quran
suatu penyembuh dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman,
tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83).
Kemudian Allah Swt. berfirman
mengenai hikmah adanya pengulangan berbagai topik pembahasan dalam Al-Quran:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنِ لِیَذَّکَّرُوۡا ؕ
وَ مَا
یَزِیۡدُہُمۡ اِلَّا نُفُوۡرًا ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menerangkan segala
sesuatu berulang-ulang dalam
Al-Quran ini supaya mereka mengambil
pelajaran, tetapi sama sekali tidaklah
Al-Quran itu menambah bagi mereka,
kecuali kebencian. (Bani
Israil [17]:42).
Untuk suatu Kitab suci yang harus memecahkan segala masalah dan persoalan
yang penting-penting adalah wajar dan menjadi keharusan, supaya Kitab
itu berulang kali mengupas kembali
hal-hal yang bertalian erat dengan suatu masalah
pokok.
Bila pengulangan itu
dimaksudkan untuk mengupas suatu masalah dari sudut yang baru atau untuk membantah
suatu tuduhan baru, maka tiada orang
yang waras otaknya lagi cerdas pikirannya dapat mengemukakan keberatan terhadap hal demikian, firman-Nya
lagi:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ۫
فَاَبٰۤی اَکۡثَرُ النَّاسِ اِلَّا کُفُوۡرًا ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menguraikan bagi manusia berbagai macam cara perumpamaan
dalam Al-Quran ini tetapi kebanyakan manusia menolak segala
sesuatu kecuali kekafiran. (Bani Israil [17]:90).
Karena kemampuan-kemampuan
manusia terbatas, paling-paling orang dapat menghadapi masalah-masalah yang jumlahnya
terbatas saja. Tetapi Al-Quran
telah membahas dengan selengkap-lengkapnya
semua masalah dan persoalan yang bertalian dengan kemajuan akhlak dan ruhani manusia, sebab misi Kitab suci Al-Quran berlaku sampai Hari Kiamat, firman-Nya lagi:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ
شَیۡءٍ
جَدَلًا ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia setiap perumpamaan,
tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling
banyak membantah. (Al-Kahf [18]:55).
Makna Manusia “Banyak Membantah” & “Rūh-ul
Amīn” dan “Al-Amīn”
Ayat: وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ
شَیۡءٍ
جَدَلًا -- “tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah”
ini dapat berarti:
(a) Dari semua makhluk
Allah Swt., manusia telah dianugerahi akal
dan kemampuan-kemampuan otak, tetapi
amat disayangkan ia mempergunakannya untuk menolak
kebenaran dan juga untuk tujuan-tujuan
buruk lainnya;
(b) atau dapat pula berarti, bahwa manusia itu adalah kurban prasangka-prasangka dan keragu-raguan
mendalam yang jarang memperoleh kepuasan;
dan oleh karena sifat ragu-ragu
menjadi darah-dagingnya maka ia berusaha menemukan celah-celah untuk mengelak
dari dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang sangat meyakinkan sekalipun, firman-Nya:
وَ اِنَّہٗ
لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan
sesungguhnya Al-Quran ini
diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ بِہِ الرُّوۡحُ
الۡاَمِیۡنُ -- Telah turun dengannya Ruh
yang terpercaya, عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas kalbu
engkau supaya engkau termasuk di antara para pemberi
peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- Dengan bahasa Arab yang jelas. وَ اِنَّہٗ لَفِیۡ
زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam
kitab-kitab2135 terdahulu. اَوَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan
tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
Ayat
ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu
Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah
tersebut di atas, amanat Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan
bahwa nabi-nabi Allah terdahulu
dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran
diturunkan untuk seluruh bangsa di
dunia, sebab Al-Quran “diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Dalam ayat ini, malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut Rūhul-amīn,
yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat
lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir (Ruhul-qudus) dipergunakan
dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak
dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn)
mengandung arti, bahwa Al-Quran akan
terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi
terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya.
Nama kehormatan Rūhul-Amīn ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan
dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata
dalam kitab suci itu karena berlalunya
masa telah menderita campur tangan
manusia dan perubahan.
Sungguh mengherankan bahwa di
Mekkah Nabi
Besar Muhammad saw. sendiri
dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu
Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat
Jibrail r.a. kepada seorang amīn!
Diketahui Para Ulama
Bani Israil
Kata-kata عَلٰی
قَلۡبِکَ -- “atas
kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu
Al-Quran bukan hanya gagasan yang
dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw. dengan perkataan beliau saw. sendiri
(QS.69:42-49), melainkan benar-benar Kalam Allah Swt. Sendiri yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail r.a. (QS.2:98-99;
QS.53:1-19).
Makna
ayat: اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- “Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi
mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil
pun mengetahuinya?” Hal diutus-Nya
Nabi Besar Muhammad saw. dan hal diturunkan-Nya Al-Quran,
kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama,
akan tetapi Bible —yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan
paling luas dibaca di antara seluruh kitab
wahyu sebelum Al-Quran, dan juga
karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat —
mengandung paling banyak jumlah nubuatan
demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal
Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya
16:12-14.
Namun demikian, menurut ayat selanjutnya para
pemuka agama-agama sebelum agama Islam tetap akan mendustakan nubuatan-nubuatan mengenai
Nabi Besar Muhammad saw. yang ada dalam Kitab-kitab
suci mereka itu, apalagi kalau Al-Quran diwahyukan
kepada seorang rasul Allah yang bukan
bangsa Arab, firman-Nya:
وَ
لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ
﴿﴾ۙ فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ؕ کَذٰلِکَ
سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ
﴿﴾ؕ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ حَتّٰی یَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ۙ
Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.
کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa. Mereka tidak
akan beriman kepadanya hingga mereka
melihat azab yang pedih. (Asy-Syu’arā
[26]:199-202). Lihat pula QS.16:102-104;
QS.19:98; QS.44:59; QS.46:13; QS.54:18).
Sunnatullah
Dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”
Kebiasaan buruk orang-orang kafir ini berakar
dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan
buruk itu lahir akibat mereka telah bergelimang
dalam dosa dan keburukan, dan bukanlah datang dari luar. Sesungguhnya ayat: کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- “Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa” ini menyatakan hakikat
umum bahwa, bila seseorang bergelimang
dalam dosa kata hatinya menjadi tumpul, malahan dengan berlalunya
waktu tumbuh rasa suka dalam dirinya kepada dosa
itu. Dengan cara demikianlah dosa
menimbulkan karat dan kerusakan dalam hati
orang-orang yang berdosa
(QS.83:8-15).
Jadi, masalahnya adalah bahwa pada hakikatnya penolakan
para pemuka kaum di kalangan bangsa Arab terhadap pendakwaan
Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu
Al-Quran hal tersebut bukan
karena Nabi Besar Muhammad saw. bangsa
Arab atau bukan bangsa
Arab, atau bukan karena Al-Quran diwahyukan
Allah Swt. dalam bahasa Arab atau bukan
dalam bahasa Arab, melainkan sudah merupakan Sunnatullah yang berlaku
berkenaan penolakan iblis untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) dalam kisah monumental “Adam, Malaikat, dan Iblis”
(QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:27-43; QS.17: QS.38:78), firman-Nya:
مَا یُقَالُ لَکَ اِلَّا مَا قَدۡ قِیۡلَ لِلرُّسُلِ مِنۡ قَبۡلِکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ لَذُوۡ مَغۡفِرَۃٍ وَّ ذُوۡ عِقَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ
لَوۡ جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak ada sesuatu yang dikatakan terhadap
engkau melainkan apa yang telah
dikatakan terhadap rasul-rasul sebelum engkau. Sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau benar-benar Pemilik pengampunan dan Pe-milik siksaan yang pedih. وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ
قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- Dan
seandainya Kami men-jadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
ہُدًی وَّ شِفَآءٌ -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ
شِفَآءٌ -- Katakanlah:
”Al-Quran itu bagi orang-orang
yang beriman sebagai petunjuk
dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ
وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan orang-orang
yang tidak beriman dalam telinga mereka
ada sumbatan, dan Al-Quran
itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ
یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:44-45).
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ
وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- “Dan orang-orang
yang tidak beriman dalam telinga mereka
ada sumbatan, dan Al-Quran
itu kebutaan bagi mereka”, bahwa arti
atau makna atau hakikat yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar
bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- “Mereka
akan dipanggil dari suatu tempat
yang amat jauh”, berarti bahwa pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka
akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Ungkapan itu dapat juga berarti
bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya
seperti suara kacau-balau yang
didengar seseorang dari tempat yang amat jauh.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 11 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar