Minggu, 10 April 2016

Nabi Besar Muhammad Saw Suri Teladan Terbaik & Hikmah Diwahyukan-Nya Al-Quran Dalam Bahasa Arab Melalui "Ruuh-ul-Amiin" Kepada "Al-Amiin" (Nabi Besar Muhammad Saw.)


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


Nabi Besar Muhammad Saw.   Suri Teladan Terbaik  & Hikmah  Diwahyukan-Nya  Al-Quran Dalam Bahasa Arab Melalui Rūh-ul-Amīn Kepada “Al-Amīn” (Nabi Besar Muhammad saw.)

Bab 18


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai pribadi  Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan himpunan dari keutamaan sifat-sifat  seluruh rasul Allah,  karena itu Allah Swt. telah berfirman mengenai hal tersebut:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ  اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  وَ تَقَطَّعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya umat kamu ini merupakan satu umat,  dan Aku adalah Rabb (Tuhan) kamu  maka sembahlah Aku.   Tetapi mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,  padahal semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya [21]:93-94).
     Pada  ayat-ayat yang mendahuluinya, beberapa nabi Allah dan beberapa orang bertakwa disebutkan bersama-sama. Ini bukan secara kebetulan saja. Nabi-nabi Allah itu disebut bersama-sama  mempunyai suatu tujuan tertentu. Semuanya mempunyai satu hal yang sama.
   Dalam upaya memurnikan  dan menegakkan Tauhid Ilahi  dari berbentuk penyimpangan (kemusyrikan),  para rasul Allah  tersebut  mengalami penderitaan-penderitaan dan kemalangan-kemalangan besar dalam satu bentuk atau lain,  tetapi mereka  memperlihatkan kesabaran dan ketabahan yang sangat tinggi dan sangat mulia di bawah himpitan cobaan-cobaan yang paling hebat. Mereka mengajarkan pula asas pokok semua agama, yaitu Tauhid Ilahi (QS.5:117-119; QS.16:37; QS.21:109).
   Sehubungan dengan hal tersebut Nabi Besar Muhammad saw. telah memperagakan ketangguhan   yang diperlihatkan para rasul Allah tersebut dalan kuantitas dan kualitasnya   yang jauh lebih sempurna dalam segala seginya, sebagai pengamalan dari perintah Allah Swt. berikut ini:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ۚ فَاِنۡ یَّکۡفُرۡ بِہَا ہٰۤؤُلَآءِ  فَقَدۡ وَکَّلۡنَا بِہَا قَوۡمًا لَّیۡسُوۡا بِہَا بِکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ ؕ قُلۡ  لَّاۤ  اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ  اَجۡرًا ؕ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  ذِکۡرٰی لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka itulah  orang-orang yang  Kami telah menganugerahkan  kepada mereka Kitab,    kekuasaan, dan kenabian. Tetapi jika mereka kafir terhadapnya maka sungguh  Kami telah menyerahkannya kepada satu kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ  --   Mereka itulah orang-orang yang Allah telah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka.  Ka-takanlah: “Untuk tugas ini aku tidak meminta upah kepada kamu, ini tidak lain melainkan suatu nasihat untuk seluruh alam.” (Al-An’ām [6]:90-91).
  Makna ayat:  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ  -- “Mereka itulah  orang-orang yang  Kami telah menganugerahkan  kepada mereka Kitab,   kekuasaan, dan kenabian” itu tidak berarti bahwa tiap-tiap nabi Allah diberi Kitab masing-masing. “Memberi Kitab” itu ungkapan yang dipergunakan dalam Al-Quran, pada umumnya dalam artian  memberi Kitab melalui seorang nabi pembawa syariat.
Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.45:17) dikatakan bahwa tiga hal, yaitu Kitab, kedaulatan dan kenabian diberikan kepada semua keturunan Bani Israil. Dalam QS.5:45 kita baca bahwa satu rangkaian nabi Allah  datang sesudah Nabi Musa a.s.  tidak diberi syariat baru, melainkan mengikuti syariat yang diberikan dalam Taurat dan menjalankan hukum dengan syariat itu (QS.2:88).
Sebenarnya nabi-nabi Allah  itu ada dua golongan: nabi-nabi pembawa syariat yang kepada mereka masing-masing diberikan sebuah Kitab (hukum atau syariat) dan nabi-nabi Allah yang tidak diberi Kitab atau syariat, tetapi mengikuti syariat nabi pembawa syariat. Ihwal mereka kata-kata, “Kami beri mereka Kitab” berarti bahwa mereka diberi pengetahuan mengenai Kitab atau mereka mewarisi Kitab atau syariat nabi pembawa syariat yang mendahuluinya.

Suri Teladan Terbaik” Bergelar “Khātaman Nabiyyīn”  & Perkembangan Bahasa di Kalangan Manusia

  Kata-kata dalam ayat selanjutnya:  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ  -- “Mereka itulah orang-orang yang Allah telah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka,”  dapat dianggap tertuju kepada  Nabi Besar Muhammad saw. atau kepada tiap-tiap orang Islam, sebab dasar ajaran para nabi Allah semuanya sama. Atau, kata-kata itu dapat diartikan bahwa wujud ruhani atau fitrat  Nabi Besar Muhammad saw. adalah demikian rupa sehingga seakan-akan beliau saw. diperintahkan supaya memadukan di dalam diri beliau segala sifat utama (akhlak fadhilah) yang terdapat pada pribadi nabi-nabi Allah  lainnya, sehingga menjadikan beliau saw. sebagai  suri teladan terbaik (QS.33:22) dan bergelar “Khātaman Nabiyyīn” (QS.33:41).
 Perintah yang dikemukakan dengan kata-kata,  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ  -- “ maka ikutilah petunjuk mereka” itu disebut dalam istilah keruhanian Amr kauni atau Amr khalqi yang berarti satu keinginan atau sifat yang terdapat pada suatu benda atau orang. Sebagai contoh mengenai perintah itu lihatlah QS.3:60 dan QS.21:70.
      Dengan  kata lain lingkaran perkembangan  umat  manusia  atau umat beragama dan kemanusiaan dimulai  dari Adam  dan  mencapai puncak kesempurnaannya perkembangannya dalam satu kesatuan pula pada Adam berikutnya, yang paling sempurna dalam segala seginya --   yaitu Nabi Besar Muhammad saw. sehingga Allah Swt. memberi gelar “Khātaman-Nabiyyin (mahkota/puncak kesempurnaan nabi-nabi  -- QS.33:41)   dan beliau saw.  telah  berhasil melahirkan  satu “umat terbaik” yang dibangkitkan  Allah Swt. bagi kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
     Seiring dengan penyebaran  keturunan Nabi Adam a.s.  yakni Bani Adam  ke berbagai kawasan dunia -- sehingga   menjadi kaum-kaum  yang terpisah dari bangsa induknya  (QS.49:14) -- demikian pula  bahasa  yang mereka pergunakan untuk berkomunikasi pun – yakni bahasa Arab  -- mengalami perkembangan atau perubahan pula  dan   menjadi bahasa-bahasa  yang berbeda.
     Dengan perantaraan bahasa-bahasa   -- yang bersumber dari bahasa Arab  --  yang dipergunakan kaum-kaum  itu pulalah  Allah Swt. telah berkomunikasi melalui para Rasul Allah yang diutus di kalangan kaum-kaum tersebut, untuk memperingatkan mereka mengenai tujuan utama penciptaan mereka di dunia, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah Swt. (QS.51:57),    firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِہٖ  لِیُبَیِّنَ لَہُمۡ ؕ فَیُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ یَّشَآءُ  وَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak mengutus seorang rasul, melainkan dengan wahyu dalam bahasa kaumnya, supaya ia dapat menjelaskan kepada mereka,   maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki  dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ibrahim [14]:5).
      Jika ayat ini  ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak berarti, bahwa amanat  Nabi Besar Muhammad saw.  – yakni agama Islam  atau Al-Quran   yang diwahyukan Allah Swt. dalam bahasa Arab --   hanya terbatas kepada bangsa Arab saja. Dugaan demikian disangkal oleh ayat-ayat Al-Quran lainnya, di mana beliau saw. jelas dan tanpa aling-aling dinyatakan sebagai utusan Allah yang dikirim untuk seluruh dunia (QS.7:159; QS.21:108; QS.34:29).
      Bukan hanya Al-Quran yang menyatakan  Nabi Besar Muhammad saw.    sebagai rasul Allah untuk seluruh dunia, bahkan juga beliau saw. sendiri menurut riwayat pernah bersabda: “Aku dikirimkan kepada bangsa yang berkulit hitam dan yang berkulit merah,” maksudnya kepada seluruh umat manusia” (Al-Bihar-ul-Anwar); dan “Aku telah dibangkitkan untuk seluruh umat manusia” (Bukhari).
     Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sebab bangsa Arab merupakan bangsa yang pertama-tama  dan dengan perantaraan mereka amanat itu harus disebarkan ke seluruh dunia (QS.62:3-5). Jadi bahwa diturunkan  wahyu Al-Quran  dalam bahasa Arab itu, bukan karena dimaksudkannya hanya untuk bangsa Arab saja, melainkan  karena   bahasa Arab pun sebagai bahasa yang paling jelas, fasih, sangat luas,  sangat tepat untuk menjadi kendaraan guna menyampaikan amanat Al-Quran  -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:5)  -- firman-Nya:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Hā MīmAs-Sajdah [41]:45).

Bisa Berbahasa Arab Tidak Otomatis Bisa  Memahami Al-Quran & Hikmah Adanya “Pengulangan” Dalam Al-Quran

      Makna  ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  -- “Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka,”   bahwa apa pun yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
     Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh”, berarti bahwa pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
     Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang amat jauh, benarlah firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83).
     Kemudian Allah Swt. berfirman mengenai  hikmah adanya  pengulangan berbagai topik pembahasan dalam Al-Quran:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنِ  لِیَذَّکَّرُوۡا ؕ وَ  مَا  یَزِیۡدُہُمۡ   اِلَّا  نُفُوۡرًا ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah menerangkan segala sesuatu berulang-ulang dalam Al-Quran ini supaya mereka mengambil pelajaran, tetapi sama sekali tidaklah Al-Quran itu menambah bagi mereka, kecuali kebencian. (Bani Israil [17]:42).
      Untuk suatu Kitab suci yang harus memecahkan segala masalah dan persoalan yang penting-penting  adalah wajar dan menjadi keharusan, supaya Kitab itu berulang kali mengupas kembali hal-hal yang bertalian erat dengan suatu masalah pokok.
      Bila pengulangan itu dimaksudkan untuk mengupas suatu masalah dari sudut yang baru atau untuk membantah suatu tuduhan baru, maka tiada orang yang waras otaknya lagi cerdas pikirannya dapat mengemukakan keberatan terhadap hal demikian, firman-Nya lagi:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ۫ فَاَبٰۤی اَکۡثَرُ النَّاسِ اِلَّا کُفُوۡرًا ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menguraikan bagi manusia berbagai macam cara perumpamaan dalam Al-Quran ini tetapi kebanyakan manusia menolak segala sesuatu kecuali kekafiran.  (Bani Israil [17]:90). 
     Karena kemampuan-kemampuan manusia terbatas, paling-paling orang dapat menghadapi masalah-masalah yang jumlahnya terbatas saja. Tetapi Al-Quran telah membahas dengan selengkap-lengkapnya semua masalah dan persoalan yang bertalian dengan kemajuan akhlak dan ruhani manusia, sebab  misi Kitab  suci Al-Quran    berlaku sampai Hari Kiamat, firman-Nya lagi:
وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia  setiap perumpamaan,  tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah. (Al-Kahf [18]:55).

Makna Manusia “Banyak Membantah”  &  “Rūh-ul Amīn”  dan  “Al-Amīn

 Ayat: وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا  -- “tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah” ini dapat berarti:
(a) Dari semua makhluk Allah Swt.,  manusia telah dianugerahi akal dan kemampuan-kemampuan otak, tetapi amat disayangkan ia mempergunakannya untuk menolak kebenaran dan juga untuk tujuan-tujuan buruk lainnya;
(b) atau dapat pula berarti, bahwa manusia itu adalah kurban prasangka-prasangka dan keragu-raguan mendalam yang jarang memperoleh kepuasan; dan oleh karena sifat ragu-ragu menjadi darah­-dagingnya maka ia berusaha menemukan celah-celah untuk mengelak dari dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang sangat meyakinkan sekalipun, firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  --    Telah turun dengannya  Ruh yang terpercayaعَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  --   atas kalbu engkau  supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan.  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ --    Dengan bahasa Arab yang jelas. وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ   -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab2135 terdahulu. اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
     Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah  tersebut di atas, amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi Allah terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia, sebab Al-Quran “diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
    Dalam ayat ini, malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut Rūhul-amīn, yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir (Ruhul-qudus) dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya.
     Nama kehormatan   Rūhul-Amīn  ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata dalam kitab suci itu  karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
      Sungguh mengherankan  bahwa di Mekkah   Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail  r.a. kepada seorang amīn!

Diketahui Para Ulama Bani Israil

      Kata-kata عَلٰی قَلۡبِکَ   -- “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan perkataan beliau saw. sendiri (QS.69:42-49), melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.   Sendiri yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail r.a. (QS.2:98-99; QS.53:1-19).
      Makna ayat: اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  “Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?”  Hal diutus-Nya Nabi Besar Muhammad  saw.    dan hal diturunkan-Nya  Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
     Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible —yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat — mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
      Namun demikian, menurut ayat selanjutnya para pemuka agama-agama sebelum agama Islam tetap akan mendustakan nubuatan-nubuatan  mengenai Nabi Besar Muhammad saw. yang ada dalam Kitab-kitab suci mereka itu, apalagi kalau Al-Quran diwahyukan kepada seorang rasul Allah yang bukan  bangsa Arab, firman-Nya:
وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ؕ  کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ حَتّٰی یَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ۙ
Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab,   lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --   Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa.    Mereka tidak akan beriman kepadanya hingga mereka melihat azab yang  pedih. (Asy-Syu’arā [26]:199-202). Lihat pula   QS.16:102-104;  QS.19:98;  QS.44:59;  QS.46:13; QS.54:18).

Sunnatullah  Dalam  Kisah MonumentalAdam, Malaikat dan Iblis

    Kebiasaan buruk orang-orang kafir ini berakar dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan buruk itu lahir akibat mereka telah bergelimang dalam dosa dan keburukan, dan bukanlah datang dari luar. Sesungguhnya ayat:  کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --   “Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa” ini  menyatakan hakikat umum bahwa, bila seseorang bergelimang dalam dosa kata hatinya menjadi tumpul, malahan dengan berlalunya waktu  tumbuh rasa suka dalam dirinya kepada dosa itu. Dengan cara demikianlah dosa menimbulkan karat dan kerusakan  dalam hati orang-orang yang berdosa (QS.83:8-15).
      Jadi, masalahnya adalah bahwa pada hakikatnya  penolakan para pemuka kaum  di kalangan bangsa Arab  terhadap pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran  hal tersebut    bukan karena Nabi Besar Muhammad saw. bangsa Arab atau bukan  bangsa Arab,  atau bukan karena Al-Quran diwahyukan Allah Swt. dalam bahasa Arab  atau bukan dalam bahasa Arab,  melainkan sudah merupakan Sunnatullah  yang berlaku berkenaan penolakan iblis untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah)  dalam kisah monumental “Adam, Malaikat, dan Iblis” (QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:27-43; QS.17: QS.38:78), firman-Nya:
مَا یُقَالُ  لَکَ اِلَّا مَا قَدۡ قِیۡلَ  لِلرُّسُلِ مِنۡ قَبۡلِکَ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ لَذُوۡ مَغۡفِرَۃٍ  وَّ ذُوۡ عِقَابٍ  اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak ada sesuatu yang dikatakan terhadap engkau melainkan apa yang telah dikatakan terhadap rasul-rasul sebelum engkau. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau benar-benar Pemilik pengampunan dan Pe-milik siksaan yang pedih.  وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ   --  Dan seandainya Kami men-jadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.”  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  --  Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.   (Ha MimAs-Sajdah [41]:44-45).
      Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  -- “Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka”,  bahwa arti atau makna atau hakikat yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
     Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  --  “Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh, berarti bahwa pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
     Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang amat jauh.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 April    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar