Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Wahyu Ilahi Bukan Hasil “Renungan”
(Tafakur) & Perbedaan “Ciptaan” (Khalq)
dan dengan ”Perintah” (Amr) Allah Swt.
Bab 24
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan
mengenai
peran wahyu Ilahi sebagai sarana Allah Swt. untuk memberikan ketentraman kepada
orang-orang beriman dalam masa kesulitan,
contohnya adalah wahyu Ilahi
kepada ibu Nabi Musa a.s. cara menyelamatkan Nabi Musa a.s. yang baru dilahirkannya dari upaya pembunuhan semua bayi
laki-laki atas perintah Fir’aun (QS.28:8-14).
Sangkalan dan Jawaban
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan sangkalan
yang dikemukakan oleh orang-orang yang menganggap tidak ada wahyu Ilahi, padahal melalui wahyu Ilahi Allah Swt. berkomunikasi
dengan manusia (QS.42:52-54) serta sebagai bukti Sifat Al-Mutakallim-Nya (Maha Berbicara-Nya) tetap abadi:
“Kepercayaan yang mengatakan bahwa Tuhan menurunkan firman-Nya dari langit adalah suatu hal yang sama
sekali tidak benar karena tidak ditopang oleh hukum alam, di
samping manusia memang belum pernah mendengar adanya suara yang secara langsung
datang dari atas. Yang disebut wahyu dianggap sebagai hasil buah fikiran yang muncul di benak manusia bijak, sebagai hasil dari suatu telaah atau perenungan.”
Terhadap sanggahan yang hanya berdasarkan logika tersebut Masih Mau’ud
a.s. memberi jawaban:
"Suatu kebenaran
yang sudah dibuktikan dan dihayati dengan mata kepala sendiri oleh manusia-manusia
bijak yang tidak terhitung jumlahnya,
dimana buktinya bisa dilihat oleh
para pencari kebenaran pada setiap
masa, tidak akan menjadi rancu hanya
karena sangkalan seseorang yang tidak memiliki wawasan keruhanian.
Bila kemampuan
berfikir atau pengetahuan dangkal
seseorang yang hatinya tertutup
berbagai tirai ternyata tidak mampu membuktikannya, maka kebenaran tidak lantas dapat dianggap sebagai bertentangan dengan hukum
alam.
Sebagai contoh, jika ada seorang yang tidak mengetahui kemampuan daya tarik-menarik besi berani (magnet) -- dan memang belum
pernah melihatnya -- lalu menyatakan bahwa magnet
itu hanya sebutir batu, dan karena
ia tidak pernah melihat batu yang
memiliki daya tarik-menarik,
mengatakan bahwa kekuatan demikian bertentangan dengan hukum alam, apakah pernyataannya itu akan menjadikan sifat magnet diragukan? Jelas tidak.
Pernyataan yang dilontarkan olehnya hanya
akan membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah seorang tolol dimana ia menjadikan kebodohannya sebagai dasar
untuk menisbikan suatu realitas dengan menolak bukti-bukti dari ribuan
orang yang telah mengalaminya
sendiri. Tidak mungkin setiap kaidah
hukum alam bisa diuji oleh
setiap perorangan.
Allah
Yang Maha Kuasa telah menciptakan spesi
manusia dengan berbagai fitrat yang nyata dan tersembunyi
yang amat bervariasi. Sebagai
contoh, sebagian orang mempunyai daya
penglihatan yang amat baik,
sebagian lain lemah matanya dan
bahkan ada yang buta sama sekali.
Mereka yang penglihatannya lemah jika mereka mendengar bahwa yang lainnya yang bermata sehat melihat suatu hal dari
kejauhan (misalnya hilal di awal bulan) yang mereka sendiri tidak mampu mendeteksinya, tidak serta-merta
akan menyangkalnya, karena penyangkalan mereka itu hanya akan
menunjukkan kelemahan dirinya
sendiri. Adapun mereka yang buta dengan sendirinya tidak bisa ikut berkomentar.
Begitu pula dengan orang yang tidak
memiliki indera penciuman,
sepatutnya mempercayai orang-orang
yang dianggap benar jika mereka
berbicara tentang aroma yang harum atau busuk. Mereka tidak akan membantahnya
karena mereka meyakini bahwa
sedemikian banyak orang pasti tidak
mungkin berdusta, karena menyadari indera
penciuman mereka sendiri cacat
adanya.
Manusia juga memiliki perbedaan-perbedaan dalam fitrat tersembunyi dirinya. Kemampuan sebagian orang nyatanya amat rendah dan tertutup berbagai macam tirai.
Sebagian lainnya sejak awal sudah dibekali nurani
yang bersih dan luhur dimana
mereka sudah terbiasa menerima wahyu
Ilahi.
Jika golongan yang disebut pertama di atas
lalu menyangkal kemampuan pribadi dari mereka yang disebut belakangan, sama saja
dengan seorang yang berpenglihatan buruk
atau buta menyangkal hasil pandangan mereka yang bermata awas.
Ada beberapa cara guna meyakinkan
seseorang yang menyangkal eksistensi
wahyu berdasarkan indera yang nyata.
Sebagai contoh, seorang yang sejak lahir
tidak memiliki indera penciuman dan menyangkal adanya aroma yang harum atau
yang busuk, lalu menganggap orang lainnya sebagai salah atau pendusta, maka ia bisa disadarkan
akan kesalahannya dengan cara
sebagai berikut.
Ia agar diminta memilih beberapa potong kain
dimana pada yang sebagian dibubuhi
wewangian dan yang lainnya tidak. Lalu potongan
kain itu ditunjukkan kepada orang-orang
normal lainnya sehingga dari pengalaman
berulangkali ia akan memperoleh kesimpulan
bahwa memang ada eksistensi aroma
dan memang ada orang-orang yang bisa membedakan mana yang harum dan mana yang tidak mengandung bau (aroma) sama sekali.
Dengan cara yang sama seorang pencari kebenaran bisa membuktikan eksistensi wahyu melalui pengalaman berulang. Ketika kepada
seorang penerima wahyu dibukakan hal-hal dan misteri yang tersembunyi
yang tidak mungkin diungkapkan oleh penalaran
semata, atau melihat sebuah kitab
yang berisikan banyak keajaiban yang
tidak ditemui dalam kitab lainnya,
seorang pencari kebenaran akan menyadari bahwa wahyu Ilahi itu merupakan suatu keniscayaan.
Dalam hal manusia bersangkutan memiliki hati yang bersih maka ia sendiri dengan
mengikuti jalan yang lurus akan
memperloh pencerahan kalbunya
sendiri, mengalami berbagai wahyu Ilahi sebagaimana halnya para wali serta sebagian pengetahuan
tentang wahyu yang umumnya diturunkan kepada para Rasul Ilahi.
Bagi para pencari kebenaran yang berhasrat
untuk menerima Islam, aku bersedia
memberikan sarana untuk pemuasan keingin-tahuannya. Kalau ada
yang meragukan, silakan yang
bersangkutan datang kepadaku dengan hati yang tulus. Allah memiliki kemampuan sepenuhnya guna menzahirkan apa yang aku sampaikan dan Dia adalah Maha Penolong dalam segala bidang.
Khayalan Indah Tidak Sama dengan Wahyu
Ilahi
Siapa yang menganggap bahwa kata-kata mutiara yang diungkapkan
seseorang sebagai hasil suatu renungan
dan telaah sebagai suatu wahyu, dan yang namanya wahyu tidak lebih dari hal demikian,
sesungguhnya ia berada dalam kesalahan
karena ketidak-tahuannya. Jika benar
bahwa daya fikir manusia merupakan wahyu Ilahi maka sewajarnya manusia
juga mampu melihat hal-hal tersembunyi melalui perenungan dan observasinya.
Nyatanya, betapa pun bijaknya seseorang tetapi tetap saja ia tidak akan mampu mengemukakan hal-hal tersembunyi semata-mata melalui perenungan saja. Tidak juga ia akan mampu memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Ilahi. Cara bicara yang bersangkutan tidak mengindikasikan adanya tanda-tanda kekuatan Tuhan, dan betapa
tekunnya pun ia berfikir, ia tidak
akan mampu menemukan hal-hal tersembunyi
yang berada di luar kemampuan akal, telaah dan inderanya yang lain.
Begitu pula dengan bicara atau komposisi
karangannya tidak akan mencapai suatu tingkatan
tinggi yang tidak bisa ditandingi
orang lain. Dengan demikian cukup banyak alasan bagi seorang yang bijak guna menyimpulkan bahwa apa pun yang dihasilkan oleh daya fikir
atau telaah manusia tidak mungkin hal
itu dikatakan sebagai firman Tuhan.
Jika memang benar hal itu merupakan firman Tuhan maka yang bersangkutan
akan memiliki akses ke segala hal yang tersembunyi dan ia akan
mampu menjelaskan
hal-hal tersebut, karena kinerja
dan firman Tuhan akan selalu selaras dengan manifestasi Ketuhanan.
Perbedaan antara Ciptaan
dan Perintah
Mungkin ada yang bertanya, dari siapa dan dari mana datangnya pemikiran
baik atau buruk yang muncul
dalam benak seseorang sebagai hasil dari suatu perenungan atau observasi?
Jawabannya adalah bahwa bentuk-bentuk pemikiran demikian
merupakan ciptaan (khalq) Allah
Swt. dan bukan perintah-Nya (amr).
Ada perbedaaan
di antara penciptaan dan perintah. Yang dimaksud dengan penciptaan ialah dimana Allah Swt. menghasilkan sesuatu melalui pemanfaatan sarana fisikal dan mengatribusikannya kepada Wujud-Nya Sendiri karena Dia adalah Kausa (Sebab) dari segala kausa.
Adapun perintah
adalah sesuatu yang datang secara
langsung dari Allah Swt. tanpa perantaraan sarana apa pun. Wahyu yang datang dari Tuhan berasal dari aspek perintah (amr)dan
bukan dari aspek penciptaan (khalq).
Fikiran
yang muncul dalam benak seseorang
sebagai konsekwensi dari observasi dan perenungan, semuanya berasal dari aspek penciptaan, dimana kekuasaan
Ilahi bekerja di belakang tabir
berbagai sarana. Tuhan telah
menciptakan manusia di tengah sarana
duniawi yang dilengkapi dengan
berbagai bentuk kekuatan dan fitrat serta melengkapinya dengan
berbagai karakteristik, dimana jika
manusia memanfaatkan hasil telaahnya
untuk kebaikan atau kejahatan maka fikiran mereka akan mencari sendiri rencana jalan yang akan ditempuh untuk mencapainya.
Karena sudah merupakan bagian dari hukum alam bahwa ketika manusia membuka matanya ia akan melihat
sesuatu dan ketika ia mengarahkan
telinganya ke arah suara ia akan
bisa mendengar, begitu pula jika ia
mempertimbangkan cara pencapaian
suatu rancangan yang baik atau jahat maka akan muncul dengan sendirinya di kepalanya suatu gagasan.
Seorang yang berhati baik dengan merenungi
gagasan-gagasan yang baik hanya
akan berfikir tentang hal-hal yang baik saja, sedangkan seorang pencuri misalnya hanya akan menekuni berbagai cara untuk mengambil harta
dari orang yang akan menjadi mangsanya.
Sebagaimana seseorang bisa merenung secara mendalam tentang cara-cara
melakukan kejahatan, maka begitu juga jika ia memanfaatkan fitrat dirinya guna mencapai kebaikan dengan cara-cara yang baik.
Seperti juga fikiran jahatnya, betapa dalam sekali pun perenungannya, tidak bisa dianggap sebagai wahyu, begitu juga dengan fikiran-fikiran
baik tidak lantas merupakan wahyu.
Singkat kata, apa pun fikiran baik yang muncul dalam benak seorang yang baik, dan apa pun fikiran atau gagasan jahat
yang timbul di kepala seorang pencuri,
perampok, pezinah, pendusta atau
pun pembunuh, semuanya merupakan hasil dari perenungan dan observasi sebagai bagian dari pemanfaatan fitrat alamiah dirinya.
Karena Tuhan itu adalah Kausa
(Sebab) dari segala kausa, maka
semua itu merupakan bagian dari ciptaan-Nya dan bukan dari perintah-Nya. Semua hal itu adalah sifat-sifat alamiah manusia, sama
halnya dengan jenis tanaman yang
bisa bersifat sebagai pencahar atau jenis lain yang bisa memampatkan pencernaan.
Sebagaimana Tuhan telah membekali
segala benda dan makhluk dengan berbagai sifat, Dia juga telah membekali kemampuan berfikir manusia
manakala dibutuhkan untuk menyusun
suatu rencana atau gagasan yang baik atau pun buruk.
Fikiran seorang penyair yang sedang menyusun
bait-bait untuk mengejek seseorang akan bergerak ke arah tersebut dan ia akan berhasil membuat sajak-sajak
bersangkutan. Jika ada penyair
lain yang ingin memuja orang yang
sama, maka bait-bait yang indah akan
muncul di kepalanya.
Kondisi Melemahnya Fungsi Panca
Indra Ketika Menerima Wahyu Ilahi
Bentuk fikiran buruk dan baik
seperti itu tidak bisa dikatakan
sebagai cerminan dari keinginan Ilahi dan tidak mungkin disebut sebagai firman-Nya. Firman suci Tuhan adalah kata-kata
yang berada jauh di atas kemampuan
fitrat manusia serta penuh
dengan kesempurnaan, keagungan dan kesucian.
Syarat utama dari manifestasinya adalah keadaan dimana semua fitrat kemanusiaan
dipadamkan terlebih dahulu dan
dianggap tidak berfungsi sama
sekali. Pada saat seperti itu tidak ada
perenungan atau pun pemikiran,
dan orang bersangkutan harus seperti
dalam keadaan mati. Semua sarana pengantar dan penghubung haruslah dalam keadaan sirna dan yang ada hanya realitas Allah Yang Maha Kuasa saja, Yang menurunkan firman-Nya ke dalam hati manusia yang memang telah dipilih-Nya.
Perlu dimengerti, bahwa sebagaimana halnya sinar matahari hanya datang dari langit dan tidak bisa diproduksi
di dalam bola mata, begitu juga nur wahyu yang turun dari Tuhan dan gagasan-Nya, bukan merupakan sesuatu yang bisa muncul dari diri
manusia sendiri. Mengingat Tuhan itu
sesungguhnya eksis, melihat, mendengar, mengetahui
dan berbicara, maka firman-Nya hanya akan turun dari Diri-Nya dan bukan merupakan hasil
rekaan fikiran manusia.
Fikiran
kita sendiri bisa saja menghasilkan
hal-hal yang baik atau pun buruk, yang merupakan bagian dari fitrat diri kita masing-masing, namun pengetahuan Allah Swt. yang tanpa batas serta kebijakan-Nya
yang tidak bertepi, tidak mungkin begitu
saja bermukim di hati kita.
Alangkah
takaburnya manusia yang menganggap
bahwa semua khazanah pengetahuan dan
kebijakan Ilahi serta misteri-misteri yang tersembunyi ada semua di dalam hati kita. Keadaan seperti itu sama saja dengan menganggap diri
kita sebagai Tuhan dan tidak ada Wujud lain di luar kita yang Tegak dengan Dzat-Nya sendiri, Yang memiliki Sifat-sifat Ilahi dan disebut
sebagai Tuhan.
Karena jika Tuhan memang Wujud adanya,
dan pengetahuan-Nya yang tanpa batas merupakan Sifat yang khusus bagi Diri-Nya, dimana hati
kita sendiri tidak akan mungkin menjadi tolok
ukurnya, maka jelas merupakan suatu kekeliruan
bodoh untuk menganggap bahwa hakikat pengetahuan Tuhan yang tidak berbatas memenuhi hati kita
berikut segala kebijakan-Nya mewadah
di kalbu kita. Hal demikian sama
saja dengan mengaku diri sebagai Tuhan. Apakah mungkin kalbu manusia memahami seluruh keagungan
Ilahi? Mungkinkah sebutir zarah
(partikel) menjadi matahari? Jelas
tidak.
Kami telah mengemukakan bahwa karakteristik Ilahi seperti pengetahuan-Nya akan segala hal yang tersembunyi, keluasan kebijakan-Nya serta berbagai tanda-tanda alamiah, tidak mungkin dimanifestasikan oleh manusia. Firman Tuhan mengandung ciri Keagungan, Kekuatan, Berkat, Kebijaksanaan dan Ketiadataraan Ilahi. Semua karakteristik
tersebut terkandung di dalam Kitab Suci
Al-Quran yang bukti-buktinya
akan kami kemukakan pada saatnya yang tepat.
Pembukaan Rahasia-rahasia Gaib Ilahi Melalui Wahyu Ilahi
Kalau mereka dari kalangan Brahmo Samaj [1]tetap saja menyangkal eksistensi (keberadaan) wahyu, maka mereka sepatutnya mempelajari
Al-Quran secara tekun agar mereka mengetahui bahwa dalam Firman Suci tersebut terbuka samudra luas mengenai segala hal yang tersembunyi serta manifestasi kekuasaan yang berada di luar kemampuan manusia.
Dalam hal mereka tidak mampu karena tidak
memiliki wawasan yang memadai guna menemukan
sendiri semua keluhuran Al-Quran,
sekurang-kurangnya mereka bisa membaca buku
karanganku ini secara tekun agar mereka dapat menemukan beberapa contoh dari khazanah hal-hal tersembunyi dan misteri-misteri keagungan yang memenuhi Al-Quran.
Kaum Brahmo
Samaj perlu mengetahui juga bahwa
sebagai bukti dari eksistensi wahyu yang turun dari Tuhan,
yang mencakup hal-hal tersembunyi,
ada jalan lain yang terbuka yaitu bahwa Allah Swt. selalu menciptakan dari antara orang-orang
Muslim yang mendasarkan keimanan
mereka pada agama yang benar,
sekelompok orang-orang yang diberkati
dengan wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa, Yang membukakan hal-hal tersembunyi yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengetahuinya.
Allah
Yang Maha Agung hanya mengaruniakan wahyu
suci ini kepada para mukminin
yang sepenuhnya beriman kepada Al-Quran sebagai firman Tuhan dan menerapkan
(mengamalkan) ajarannya setulus hati, serta beriman kepada Muhammad Saw. sebagai nabi
yang benar dan sempurna, yang lebih agung daripada semua nabi lainnya serta Khātamul Anbiya dan menerima
beliau sebagai pembimbing dan penunjuk jalan.
Wahyu
seperti itu tidak diturunkan kepada umat Yahudi,
Kristen, Arya dan Brahmo karena
hanya dikhususkan bagi para penganut hakiki Al-Quran, baik yang ada sekarang maupun
yang akan diberikan kepada mereka di masa mendatang.
Meskipun wahyu
khusus berkaitan dengan kerasulan
(syariat) telah diputus karena tidak
diperlukan lagi, namun wahyu yang
diturunkan kepada para hamba Hadhrat
Rasulullah Saw. yang tulus tidak
akan pernah dihentikan. Wahyu ini merupakan bukti akbar yang memalukan bagi para musuh
Islam.
Mengingat wahyu
berberkat berikut segala keluhuran
dan keagungannya sekarang ini hanya dikhususkan bagi para hamba mulia yang merupakan pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. maka para penganut agama lainnya tidak lagi memperoleh nur sempurna yang menggambarkan kedekatan dan keridhaan
Allah Swt. tersebut.
Dengan demikian, wahyu suci tersebut tidak saja telah membuktikan eksistensi-Nya, tetapi juga membuktikan bahwa hanya umat Muslim saja yang diridhai oleh Allah Swt. karena telah mengikuti
agama yang benar, sedangkan yang lainnya itu menyembah kedustaan, menyimpang dari akidah yang benar serta diancam kemurkaan Tuhan.
Mereka yang bodoh akan mengatakan berbagai macam hal jika mendengar ini dan
akan menggelengkan kepalanya sebagai
tanda menyangkal, atau bahkan mencaci-maki diriku sebagai orang yang konyol dan jahat. Mereka sepatutnya menyadari
bahwa penyangkalan dan pelecehan bukanlah cara-cara dari orang
yang memiliki keluhuran batin atau orang
yang mencari kebenaran, melainkan
jalan orang-orang durhaka yang mengabaikan Tuhan dan kebenaran.
Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang
memiliki sifat-sifat yang tidak mudah dicerna oleh penalaran dan hanya bisa disadari melalui pengalaman. Mereka yang bijak tidak akan meragukan fitrat dari sesuatu yang berulang kali dialami dan dari sana lalu menyimpulkan kebenaran eksistensinya
(keberadaannya). Hanya keledai saja
yang tetap akan menyangkal setelah
berulangkali mengalami suatu pengalaman.
Sebagai contoh, daun kelembak[2] (rhubarb) bisa menjadi pencahar sedangkan besi magnit mempunyai daya
tarik, walaupun tidak ada alasan logis mengapa benda-benda itu
memiliki sifat demikian. Namun jika pengalaman berulang memperlihatkan bahwa benda-benda itu memang demikian sifatnya maka setiap orang yang waras
akan mengakui kalau kelembak bersifat pencahar dan besi magnit mempunyai kekuatan daya tarik. Jika ada yang
menyangkal dengan mengatakan bahwa hal itu tidak ada dasar logikanya maka orang tersebut akan dianggap sinting.
Undangan Untuk Menyaksikan Keberlangsungan Wahyu Ilahi
Karena itu kami mengimbau kepada kaum Brahmo
dan para lawan lainnya bahwa segala sesuatu yang kami kemukakan mengenai wahyu -- yang sebenarnya sekarang ini pun merupakan pengalaman biasa bagi mereka yang sempurna keimanannya dari antara umat Muslim
-- bukannya tanpa dasar karena bisa dibuktikan kepada para pencari kebenaran melalui percobaan dan pengalaman sebagaimana
halnya beribu-ribu kebenaran lainnya
yang ditemukan dengan cara sama.
Kalau memang ada yang benar-benar berminat mencari kebenaran, kami akan mendemonstrasikan hal ini
kepadanya, dengan syarat yang bersangkutan membuat pernyataan tertulis bahwa dengan adanya bukti nantinya ia akan
menerima Islam dan mengikuti kami
dengan ketulusan dan itikad baik. Jika mereka menolak, sesungguhnya Tuhan lebih
mengetahui siapa yang senang menciptakan kerusuhan.
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ
اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِالۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿٪﴾
“Maka jika mereka
berpaling maka ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perusuh-perusuh” (Āli Imran [3]:64).
Beberapa orang mengajukan keberatan dan menyatakan bahwa banyak
kelompok orang seperti ahli perbintangan,
tukang nujum, tabib-tabib, pembaca rajah
tangan dan lain-lain yang mengaku
bisa melihat hal-hal tersembunyi
dan meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dimana akhir-akhir
ini ada pula orang-orang yang bisa mengungkapkannya
melalui hipnotisme. Lalu bagaimana
menisbahkan pengungkapan hal tersembunyi
tersebut sebagai bukti konklusif
bahwa wahyu berasal dari Tuhan,
jika orang-orang tersebut pun mampu melakukannya?
Ramalan Para Peramal Hanya Dugaan, Bukan Kepastian
Seperti Nubuatan Melalui Wahyu Ilahi
Jawabannya
adalah, semua orang-orang itu berbicara
dari hasil menduga-duga saja dan
mereka tidak memiliki pengetahuan yang
pasti dimana mereka juga tidak ada
mengakui memiliki pengetahuan khusus.
Sesungguhnya ramalan-ramalan mereka didasarkan pada tanda-tanda dan indikasi
yang meragukan serta tidak
mengandung kepastian dan tidak luput
dari keraguan dan kesalahan. Sering sekali ternyata ramalan mereka itu terbukti tidak berdasar dan palsu
adanya, sehingga menjadikan ramalan
mereka tersebut tidak dihargai atau diterima orang.
Mereka yang biasa melakukan ramalan-ramalan demikian umumnya dari
kalangan orang-orang yang didera
kemiskinan, kelompok yang tidak dihargai, para pengecut dan mereka yang tidak beradab. Mereka tidak akan mampu mengkonversi (mengubah) hal-hal tersembunyi sejalan dengan ramalan mereka, dan di kalangan mereka
terdapat tanda-tanda kemurkaan Tuhan
dimana mereka tidak ada memiliki berkat,
kemuliaan atau pertolongan Samawi.
Adapun para nabi dan wali-wali tidak hanya mengungkapkan hal yang tersembunyi
seperti yang dilakukan oleh para ahli
perbintangan, tetapi juga diikuti dengan rahmat dan berkat Tuhan
yang selalu menyertai mereka. Ramalan atau nubuatan mereka itu dipenuhi dengan nur keridhaan dan kemuliaan
yang bersinar seperti matahari yang
mencakup kabar baik, kemuliaan dan pertolongan Tuhan.
Perhatikanlah nubuatan-nubuatan dalam Al-Quran
yang penuh keagungan serta kemuliaan. dan kalian akan menyadari
betapa berbedanya semua itu dengan ramalan para tukang nujum. Semua nubuatan
tersebut ditandai dengan pernyataan tentang kemuliaan si penerima dan kenistaan
lawan-lawan mereka, keberhasilan
mereka dan kegagalan musuh-musuh
tersebut, kemenangan mereka dan kekalahan lawannya serta kemakmuran mereka dan kerugian para musuh.
Mungkinkah para ahli perbintangan (astrolog), tukang
ramal atau penghipnotis
mengemukakan nubuatan-nubuatan
seperti itu? Jelas tidak mungkin.
Karakteristik
untuk selalu memberikan pernyataan
tentang kebaikan satu pihak dan kerugian para lawannya serta bantahan atas apa yang dikatakan lawan-lawan itu -- berikut janji pemenuhan kepada mereka yang dikasihi -- hanya bisa berasal dari Tuhan dan
bukan merupakan ciptaan manusia.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, jld. III, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 232-242, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 18 April 2016
[1] Kaum Brahmo Samaj merupakan aliran di
dalam agama Hindu yang didirikan oleh Ram Mohun Roy di Kalkuta dalam tahun
1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen, aliran ini menjauhi
polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang ini pengaruhnya
hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
[2]
Disini
mungkin lebih jelas dengan contoh minyak dari biji pohon jarak (castor oil)
yang dahulu biasa digunakan sebagai pencahar atau urus-urus pencernaan (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar