Minggu, 17 April 2016

"Wahyu Ilahi" Bukan Hasil "Renungan" (Tafakur) & Perbedaan "Ciptaan" (Khalq) dengan "Perintah" (Amr) Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


  Wahyu Ilahi Bukan Hasil “Renungan” (Tafakur) & Perbedaan “Ciptaan” (Khalq) dan dengan ”Perintah” (Amr) Allah Swt.

Bab 24


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan  mengenai  peran wahyu Ilahi sebagai sarana Allah Swt. untuk memberikan ketentraman   kepada orang-orang beriman dalam masa kesulitan, contohnya adalah wahyu Ilahi kepada  ibu Nabi Musa a.s. cara menyelamatkan  Nabi Musa a.s. yang baru dilahirkannya dari upaya pembunuhan   semua bayi laki-laki   atas perintah Fir’aun (QS.28:8-14).

Sangkalan dan Jawaban

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan sangkalan yang dikemukakan oleh orang-orang yang menganggap tidak  ada  wahyu Ilahi, padahal melalui wahyu Ilahi Allah Swt. berkomunikasi dengan manusia (QS.42:52-54) serta sebagai bukti Sifat Al-Mutakallim-Nya (Maha Berbicara-Nya) tetap abadi:
       Kepercayaan yang mengatakan bahwa Tuhan menurunkan firman-Nya dari langit adalah suatu hal yang sama sekali tidak benar karena tidak ditopang oleh hukum alam, di samping manusia memang belum pernah mendengar adanya suara yang secara langsung datang dari atas. Yang disebut wahyu dianggap sebagai hasil buah fikiran yang muncul di benak manusia bijak, sebagai hasil dari suatu telaah atau perenungan.”
       Terhadap sanggahan  yang hanya berdasarkan logika tersebut Masih Mau’ud a.s. memberi  jawaban:
      "Suatu kebenaran yang sudah dibuktikan dan dihayati dengan mata kepala sendiri oleh manusia-manusia bijak yang tidak terhitung jumlahnya, dimana buktinya bisa dilihat oleh para pencari kebenaran pada setiap masa, tidak akan menjadi rancu hanya karena sangkalan seseorang yang tidak memiliki wawasan keruhanian.
     Bila kemampuan berfikir atau pengetahuan dangkal seseorang yang hatinya tertutup berbagai tirai ternyata tidak mampu membuktikannya, maka kebenaran tidak lantas dapat dianggap sebagai bertentangan dengan hukum alam.
     Sebagai contoh, jika ada seorang yang tidak mengetahui kemampuan daya tarik-menarik  besi berani (magnet) -- dan memang belum pernah melihatnya -- lalu menyatakan bahwa magnet itu hanya sebutir batu, dan karena ia tidak pernah melihat batu yang memiliki daya tarik-menarik, mengatakan bahwa kekuatan demikian bertentangan dengan hukum alam, apakah pernyataannya itu akan menjadikan sifat magnet diragukan? Jelas tidak.
     Pernyataan yang dilontarkan olehnya hanya akan membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah seorang tolol dimana ia menjadikan kebodohannya sebagai dasar untuk menisbikan suatu realitas dengan menolak bukti-bukti dari ribuan orang yang telah mengalaminya sendiri. Tidak mungkin setiap kaidah hukum alam bisa diuji oleh setiap perorangan.
      Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan spesi manusia dengan berbagai fitrat yang nyata dan tersembunyi yang amat bervariasi. Sebagai contoh, sebagian orang mempunyai daya penglihatan yang amat baik, sebagian lain lemah matanya dan bahkan ada yang buta sama sekali.
    Mereka yang penglihatannya lemah jika mereka mendengar bahwa yang lainnya yang bermata sehat melihat suatu hal dari kejauhan (misalnya hilal di awal bulan) yang mereka sendiri tidak mampu mendeteksinya, tidak serta-merta akan menyangkalnya, karena penyangkalan mereka itu hanya akan menunjukkan kelemahan dirinya sendiri.  Adapun mereka yang buta dengan sendirinya tidak bisa ikut berkomentar.
      Begitu pula dengan orang yang tidak memiliki indera penciuman, sepatutnya mempercayai orang-orang yang dianggap benar jika mereka berbicara tentang    aroma  yang harum atau busuk. Mereka tidak akan membantahnya karena mereka meyakini bahwa sedemikian banyak orang pasti tidak mungkin berdusta, karena menyadari indera penciuman mereka sendiri cacat adanya.
      Manusia juga memiliki perbedaan-perbedaan dalam fitrat tersembunyi dirinya. Kemampuan sebagian orang nyatanya amat rendah dan tertutup berbagai macam tirai. Sebagian lainnya sejak awal sudah dibekali nurani yang bersih dan luhur dimana mereka sudah terbiasa menerima wahyu Ilahi.
       Jika golongan yang disebut pertama di atas lalu menyangkal kemampuan pribadi dari mereka yang disebut belakangan, sama saja dengan seorang yang berpenglihatan buruk atau buta menyangkal hasil pandangan mereka yang bermata awas.
       Ada beberapa cara guna meyakinkan seseorang yang menyangkal eksistensi wahyu berdasarkan indera yang nyata. Sebagai contoh, seorang yang sejak lahir tidak memiliki indera penciuman dan menyangkal adanya aroma yang harum atau yang busuk, lalu menganggap orang lainnya sebagai salah atau pendusta, maka ia bisa disadarkan akan kesalahannya dengan cara sebagai berikut.
      Ia agar diminta memilih beberapa potong kain dimana pada yang sebagian dibubuhi wewangian dan yang lainnya tidak. Lalu potongan kain itu ditunjukkan kepada orang-orang normal lainnya sehingga dari pengalaman berulangkali ia akan memperoleh kesimpulan bahwa memang ada eksistensi aroma dan memang ada orang-orang yang bisa membedakan mana yang harum dan mana yang tidak mengandung bau (aroma) sama sekali.
   Dengan cara yang sama seorang pencari kebenaran bisa membuktikan eksistensi wahyu melalui pengalaman berulang. Ketika kepada seorang penerima wahyu dibukakan hal-hal dan misteri yang tersembunyi yang tidak mungkin diungkapkan oleh penalaran semata, atau melihat sebuah kitab yang berisikan banyak keajaiban yang tidak ditemui dalam kitab lainnya, seorang pencari kebenaran akan menyadari bahwa wahyu Ilahi itu merupakan suatu keniscayaan.
      Dalam hal manusia bersangkutan memiliki hati yang bersih maka ia sendiri dengan mengikuti jalan yang lurus akan memperloh pencerahan kalbunya sendiri, mengalami berbagai wahyu Ilahi sebagaimana halnya para wali serta sebagian pengetahuan tentang wahyu yang umumnya diturunkan kepada para Rasul Ilahi.
     Bagi para pencari kebenaran yang berhasrat untuk menerima Islam, aku bersedia memberikan sarana untuk pemuasan keingin-tahuannya. Kalau ada yang meragukan, silakan yang bersangkutan datang kepadaku dengan hati yang tulus. Allah memiliki kemampuan sepenuhnya guna menzahirkan apa yang aku sampaikan dan Dia adalah Maha Penolong dalam segala bidang.

Khayalan Indah Tidak Sama dengan Wahyu Ilahi

    Siapa yang menganggap bahwa kata-kata mutiara yang diungkapkan seseorang sebagai hasil suatu renungan dan telaah sebagai suatu wahyu, dan yang namanya wahyu tidak lebih dari hal demikian, sesungguhnya ia berada dalam kesalahan karena ketidak-tahuannya. Jika benar bahwa daya fikir manusia merupakan wahyu Ilahi maka sewajarnya manusia juga mampu melihat hal-hal tersembunyi melalui perenungan dan observasinya.
      Nyatanya, betapa pun bijaknya seseorang tetapi tetap saja ia tidak akan mampu mengemukakan hal-hal tersembunyi semata-mata melalui perenungan saja. Tidak juga ia akan mampu memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Ilahi. Cara bicara yang bersangkutan tidak mengindikasikan adanya tanda-tanda kekuatan Tuhan, dan betapa tekunnya pun ia berfikir, ia tidak akan mampu menemukan hal-hal tersembunyi yang berada di luar kemampuan akal, telaah dan inderanya yang lain.
       Begitu pula dengan bicara atau komposisi karangannya tidak akan mencapai suatu tingkatan tinggi yang tidak bisa ditandingi orang lain.  Dengan demikian cukup banyak alasan bagi seorang yang bijak guna menyimpulkan bahwa apa pun yang dihasilkan oleh daya fikir atau telaah manusia tidak mungkin hal itu dikatakan sebagai firman Tuhan.
       Jika memang benar hal itu merupakan firman Tuhan maka yang bersangkutan akan memiliki akses ke segala hal yang tersembunyi dan ia akan mampu  menjelaskan hal-hal tersebut, karena kinerja dan firman Tuhan akan selalu selaras dengan manifestasi Ketuhanan.

Perbedaan   antara Ciptaan dan Perintah

      Mungkin ada yang bertanya, dari siapa dan dari mana datangnya pemikiran baik atau buruk yang muncul dalam benak seseorang sebagai hasil dari suatu perenungan atau observasi? Jawabannya adalah  bahwa bentuk-bentuk pemikiran demikian merupakan ciptaan (khalq)  Allah Swt. dan bukan perintah-Nya  (amr).  
     Ada perbedaaan di antara penciptaan dan perintah. Yang dimaksud dengan penciptaan ialah dimana Allah Swt. menghasilkan sesuatu melalui pemanfaatan sarana fisikal dan mengatribusikannya kepada Wujud-Nya Sendiri karena Dia adalah Kausa (Sebab) dari segala kausa.
      Adapun perintah adalah sesuatu yang datang secara langsung dari Allah Swt. tanpa perantaraan sarana apa pun. Wahyu yang datang dari Tuhan berasal dari aspek perintah  (amr)dan bukan dari aspek penciptaan (khalq).
     Fikiran yang muncul dalam benak seseorang sebagai konsekwensi dari observasi dan perenungan, semuanya berasal dari aspek penciptaan, dimana kekuasaan Ilahi bekerja di belakang tabir berbagai sarana. Tuhan telah menciptakan manusia di tengah sarana duniawi yang dilengkapi dengan berbagai bentuk kekuatan dan fitrat serta melengkapinya dengan berbagai karakteristik, dimana jika manusia memanfaatkan hasil telaahnya untuk kebaikan atau kejahatan maka fikiran mereka akan mencari sendiri rencana jalan yang akan ditempuh untuk mencapainya.
      Karena sudah merupakan bagian dari hukum alam bahwa ketika manusia membuka matanya ia akan melihat sesuatu dan ketika ia mengarahkan telinganya ke arah suara ia akan bisa mendengar, begitu pula jika ia mempertimbangkan cara pencapaian suatu rancangan yang baik atau jahat maka akan muncul dengan sendirinya di kepalanya suatu gagasan.
      Seorang yang berhati baik dengan merenungi gagasan-gagasan yang baik hanya akan berfikir tentang hal-hal yang baik saja, sedangkan seorang pencuri misalnya hanya akan menekuni berbagai cara untuk mengambil harta dari orang yang akan menjadi mangsanya.
       Sebagaimana seseorang bisa merenung secara mendalam tentang cara-cara melakukan kejahatan, maka begitu juga jika ia memanfaatkan fitrat dirinya guna mencapai kebaikan dengan cara-cara yang baik.
      Seperti juga fikiran jahatnya, betapa dalam sekali pun perenungannya, tidak bisa dianggap sebagai wahyu, begitu juga dengan fikiran-fikiran baik tidak lantas merupakan wahyu.
      Singkat kata, apa pun fikiran baik yang muncul dalam benak seorang yang baik,  dan apa pun fikiran atau gagasan jahat yang timbul di kepala seorang pencuri, perampok, pezinah, pendusta atau pun pembunuh, semuanya merupakan hasil dari perenungan dan observasi sebagai bagian dari pemanfaatan fitrat alamiah dirinya.
      Karena Tuhan itu adalah Kausa (Sebab) dari segala kausa, maka semua itu merupakan bagian dari ciptaan-Nya dan bukan dari perintah-Nya. Semua hal itu adalah sifat-sifat alamiah manusia, sama halnya dengan jenis tanaman yang bisa bersifat sebagai pencahar atau jenis lain yang bisa memampatkan pencernaan.
     Sebagaimana Tuhan telah membekali segala benda dan makhluk dengan berbagai sifat, Dia juga telah membekali kemampuan berfikir manusia manakala dibutuhkan untuk menyusun suatu rencana atau gagasan yang baik atau pun buruk.
     Fikiran seorang penyair yang sedang menyusun bait-bait untuk mengejek seseorang akan bergerak ke arah tersebut dan ia akan berhasil membuat sajak-sajak bersangkutan. Jika ada penyair lain yang ingin memuja orang yang sama, maka bait-bait yang indah akan muncul di kepalanya.

Kondisi Melemahnya Fungsi  Panca Indra Ketika Menerima Wahyu Ilahi

    Bentuk fikiran buruk dan baik seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai cerminan dari keinginan Ilahi dan tidak mungkin disebut sebagai firman-Nya. Firman suci Tuhan adalah kata-kata yang berada jauh di atas kemampuan fitrat manusia serta penuh dengan kesempurnaan, keagungan dan kesucian.
    Syarat utama dari manifestasinya adalah keadaan dimana semua fitrat kemanusiaan dipadamkan terlebih dahulu dan dianggap tidak berfungsi sama sekali. Pada saat seperti itu tidak ada perenungan atau pun pemikiran, dan orang bersangkutan harus seperti dalam keadaan mati. Semua sarana pengantar dan penghubung haruslah dalam keadaan sirna dan yang ada  hanya realitas Allah Yang Maha Kuasa saja, Yang menurunkan firman-Nya ke dalam hati manusia yang memang telah dipilih-Nya.
       Perlu dimengerti, bahwa sebagaimana halnya sinar matahari hanya datang dari langit dan tidak bisa diproduksi di dalam bola mata, begitu juga nur wahyu yang turun dari Tuhan dan gagasan-Nya, bukan merupakan sesuatu yang bisa  muncul dari diri manusia sendiri. Mengingat Tuhan itu sesungguhnya eksis, melihat, mendengar, mengetahui dan berbicara, maka firman-Nya hanya akan turun dari Diri-Nya dan bukan merupakan hasil rekaan fikiran manusia.
     Fikiran kita sendiri bisa saja menghasilkan hal-hal yang baik atau pun buruk, yang merupakan bagian dari fitrat diri kita masing-masing, namun pengetahuan Allah Swt. yang tanpa batas serta kebijakan-Nya yang tidak bertepi, tidak mungkin begitu saja bermukim di hati kita.
       Alangkah takaburnya manusia yang menganggap bahwa semua khazanah pengetahuan dan kebijakan Ilahi serta misteri-misteri yang tersembunyi  ada semua di dalam hati kita. Keadaan seperti itu sama saja dengan menganggap diri kita sebagai Tuhan dan tidak ada Wujud lain di luar kita yang Tegak dengan Dzat-Nya sendiri, Yang memiliki Sifat-sifat Ilahi dan disebut sebagai Tuhan.
      Karena jika Tuhan memang Wujud adanya, dan pengetahuan-Nya yang tanpa batas merupakan Sifat yang khusus bagi Diri-Nya, dimana hati kita sendiri tidak akan mungkin menjadi tolok ukurnya, maka jelas merupakan suatu kekeliruan bodoh untuk menganggap bahwa hakikat pengetahuan Tuhan yang tidak berbatas memenuhi hati kita berikut segala kebijakan-Nya mewadah di kalbu kita. Hal demikian sama saja dengan mengaku diri sebagai Tuhan. Apakah mungkin kalbu manusia memahami seluruh keagungan Ilahi? Mungkinkah sebutir zarah (partikel) menjadi matahari? Jelas tidak.
     Kami telah mengemukakan bahwa karakteristik Ilahi seperti pengetahuan-Nya akan segala hal yang tersembunyi, keluasan kebijakan-Nya serta berbagai tanda-tanda alamiah, tidak mungkin dimanifestasikan oleh manusia. Firman Tuhan mengandung ciri Keagungan, Kekuatan, Berkat, Kebijaksanaan dan Ketiadataraan Ilahi. Semua karakteristik tersebut terkandung di dalam Kitab Suci Al-Quran yang bukti-buktinya akan kami kemukakan pada saatnya yang tepat.

Pembukaan Rahasia-rahasia Gaib Ilahi Melalui Wahyu Ilahi

    Kalau mereka dari kalangan Brahmo Samaj [1]tetap saja menyangkal eksistensi  (keberadaan) wahyu, maka mereka sepatutnya mempelajari Al-Quran secara tekun agar mereka mengetahui bahwa dalam Firman Suci tersebut terbuka samudra luas mengenai segala hal yang tersembunyi serta manifestasi kekuasaan yang berada di luar kemampuan manusia.
    Dalam hal mereka tidak mampu karena tidak memiliki wawasan yang memadai guna menemukan sendiri semua keluhuran Al-Quran, sekurang-kurangnya mereka bisa membaca buku karanganku ini secara tekun agar mereka dapat menemukan beberapa contoh dari khazanah hal-hal tersembunyi dan misteri-misteri keagungan yang memenuhi Al-Quran.
   Kaum Brahmo Samaj   perlu mengetahui juga bahwa sebagai bukti dari eksistensi wahyu yang turun dari Tuhan,  yang mencakup hal-hal tersembunyi, ada jalan lain yang terbuka yaitu bahwa Allah Swt. selalu menciptakan dari antara orang-orang Muslim yang mendasarkan keimanan mereka pada agama yang benar, sekelompok orang-orang yang diberkati dengan wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa, Yang membukakan hal-hal tersembunyi yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengetahuinya.
      Allah Yang Maha Agung hanya mengaruniakan wahyu suci ini kepada para mukminin yang sepenuhnya beriman kepada Al-Quran sebagai firman Tuhan dan menerapkan (mengamalkan) ajarannya setulus hati, serta beriman kepada Muhammad Saw. sebagai nabi yang benar dan sempurna, yang lebih agung daripada semua nabi  lainnya serta Khātamul Anbiya dan menerima beliau sebagai pembimbing dan penunjuk jalan.
      Wahyu seperti itu tidak diturunkan kepada umat Yahudi, Kristen, Arya dan Brahmo karena hanya dikhususkan bagi para penganut hakiki   Al-Quran, baik yang ada sekarang maupun yang akan diberikan kepada mereka di masa mendatang.
     Meskipun wahyu khusus berkaitan dengan kerasulan (syariat) telah diputus karena tidak diperlukan lagi, namun wahyu yang diturunkan kepada para hamba Hadhrat Rasulullah Saw. yang tulus tidak akan pernah dihentikan.  Wahyu ini merupakan bukti akbar yang memalukan bagi para musuh Islam.
    Mengingat wahyu berberkat berikut segala keluhuran dan keagungannya sekarang ini hanya dikhususkan bagi para hamba mulia yang merupakan pengikut dari Hadhrat Rasulullah Saw. maka para penganut agama lainnya tidak lagi memperoleh nur sempurna yang menggambarkan kedekatan dan keridhaan Allah Swt. tersebut.
    Dengan demikian, wahyu suci tersebut tidak saja telah membuktikan eksistensi-Nya, tetapi juga membuktikan bahwa hanya umat Muslim saja yang diridhai oleh Allah Swt. karena telah mengikuti agama yang benar, sedangkan yang lainnya itu menyembah kedustaan, menyimpang dari akidah yang benar serta diancam kemurkaan Tuhan.
      Mereka yang bodoh akan mengatakan berbagai macam hal jika mendengar ini dan akan menggelengkan kepalanya sebagai tanda menyangkal, atau bahkan mencaci-maki diriku sebagai orang yang konyol dan jahat. Mereka sepatutnya menyadari bahwa penyangkalan dan pelecehan bukanlah cara-cara dari orang yang memiliki keluhuran batin atau orang yang mencari kebenaran, melainkan jalan orang-orang durhaka yang mengabaikan Tuhan dan kebenaran.
       Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang memiliki sifat-sifat yang tidak mudah dicerna oleh penalaran dan hanya bisa disadari melalui pengalaman. Mereka yang bijak tidak akan meragukan fitrat dari sesuatu yang berulang kali dialami dan dari sana lalu menyimpulkan kebenaran eksistensinya (keberadaannya). Hanya keledai saja yang tetap akan menyangkal setelah berulangkali mengalami suatu pengalaman.
     Sebagai contoh, daun kelembak[2] (rhubarb) bisa menjadi pencahar sedangkan besi magnit mempunyai daya tarik,  walaupun tidak ada alasan logis mengapa benda-benda itu memiliki sifat demikian. Namun jika pengalaman berulang memperlihatkan bahwa benda-benda itu memang demikian sifatnya maka setiap orang yang waras akan mengakui kalau kelembak bersifat pencahar dan besi magnit mempunyai kekuatan daya tarik. Jika ada yang menyangkal dengan mengatakan bahwa hal itu tidak ada dasar logikanya maka orang tersebut akan dianggap sinting.

Undangan Untuk Menyaksikan Keberlangsungan Wahyu Ilahi  

      Karena itu kami mengimbau kepada kaum Brahmo dan para lawan lainnya bahwa segala sesuatu yang kami kemukakan mengenai wahyu --  yang sebenarnya sekarang ini pun merupakan pengalaman biasa bagi mereka yang sempurna keimanannya dari antara umat Muslim --  bukannya tanpa dasar karena bisa dibuktikan kepada para pencari kebenaran melalui percobaan dan pengalaman sebagaimana halnya beribu-ribu kebenaran lainnya yang ditemukan dengan cara sama.
      Kalau memang ada yang benar-benar berminat mencari kebenaran, kami akan mendemonstrasikan hal ini kepadanya,  dengan syarat yang bersangkutan membuat pernyataan tertulis bahwa dengan adanya bukti nantinya ia akan menerima Islam dan mengikuti kami dengan ketulusan dan itikad baik. Jika mereka menolak, sesungguhnya Tuhan lebih mengetahui siapa yang senang menciptakan kerusuhan.
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ  بِالۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿٪﴾
“Maka jika mereka berpaling maka ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perusuh-perusuh” (Āli Imran [3]:64).
     Beberapa orang mengajukan keberatan dan menyatakan bahwa banyak kelompok orang seperti ahli perbintangan, tukang nujum, tabib-tabib, pembaca rajah tangan dan lain-lain yang mengaku bisa melihat hal-hal tersembunyi dan meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dimana akhir-akhir ini ada pula orang-orang yang bisa mengungkapkannya melalui hipnotisme. Lalu bagaimana menisbahkan pengungkapan hal tersembunyi tersebut sebagai bukti konklusif bahwa wahyu berasal dari Tuhan,  jika orang-orang tersebut pun mampu melakukannya?

Ramalan Para Peramal Hanya Dugaan, Bukan Kepastian Seperti Nubuatan Melalui Wahyu Ilahi

   Jawabannya adalah, semua orang-orang itu berbicara dari hasil menduga-duga saja dan mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti dimana mereka juga tidak ada mengakui memiliki pengetahuan khusus. Sesungguhnya ramalan-ramalan mereka didasarkan pada tanda-tanda dan indikasi yang meragukan serta tidak mengandung kepastian dan tidak luput dari keraguan dan kesalahan. Sering sekali ternyata ramalan mereka itu terbukti tidak berdasar dan palsu adanya, sehingga menjadikan ramalan mereka tersebut tidak dihargai atau diterima orang.
    Mereka yang biasa melakukan ramalan-ramalan demikian umumnya dari kalangan orang-orang yang didera kemiskinan, kelompok yang tidak dihargai, para pengecut dan mereka yang tidak beradab. Mereka tidak akan mampu mengkonversi (mengubah) hal-hal tersembunyi sejalan dengan ramalan mereka, dan di kalangan mereka terdapat tanda-tanda kemurkaan Tuhan dimana mereka tidak ada memiliki berkat, kemuliaan atau pertolongan Samawi.
       Adapun para nabi dan wali-wali  tidak hanya mengungkapkan hal yang tersembunyi seperti yang dilakukan oleh para ahli perbintangan, tetapi juga diikuti dengan rahmat dan berkat Tuhan yang selalu menyertai mereka. Ramalan atau nubuatan mereka itu dipenuhi dengan nur keridhaan dan kemuliaan yang bersinar seperti matahari yang mencakup kabar baik, kemuliaan dan pertolongan Tuhan.
     Perhatikanlah nubuatan-nubuatan dalam Al-Quran yang penuh keagungan serta kemuliaan. dan kalian akan menyadari betapa berbedanya semua itu dengan ramalan para tukang nujum. Semua nubuatan tersebut ditandai dengan pernyataan tentang kemuliaan si penerima dan kenistaan lawan-lawan mereka, keberhasilan mereka dan kegagalan musuh-musuh tersebut, kemenangan mereka dan kekalahan lawannya serta kemakmuran mereka dan kerugian para musuh.
    Mungkinkah para ahli perbintangan (astrolog), tukang ramal atau penghipnotis mengemukakan nubuatan-nubuatan seperti itu? Jelas tidak mungkin.
      Karakteristik untuk selalu memberikan pernyataan tentang kebaikan satu pihak dan kerugian para lawannya serta bantahan atas apa yang dikatakan lawan-lawan itu -- berikut janji pemenuhan kepada mereka yang dikasihi --  hanya bisa berasal dari Tuhan dan bukan merupakan ciptaan manusia.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, jld. III, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 232-242, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 18 April    2016


[1]  Kaum Brahmo Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu yang didirikan oleh Ram Mohun Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen, aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana teori saja. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).
[2] Disini mungkin lebih jelas dengan contoh minyak dari biji pohon jarak (castor oil) yang dahulu biasa digunakan sebagai pencahar atau urus-urus pencernaan  (Penterjemah/Khalid A.Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar