Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Hubungan Itikad Sesat Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) dengan Penentangan Terhadap Para Rasul Allah & Ma’rifat Ilahi Hakiki Diperoleh Hanya Melalui Wahyu Ilahi
Bab 22
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah menjelaskan mengenai bahaya faham
keliru “Lā Nabiyya Ba’dahu” (tidak
ada lagi nabi sesudahnya), karena dari Al-Quran diketahui bahwa pada
hakikatnya kesinambungan
terjadinya pendustaan dan penentangan kaum-kaum purbakala terhadap
para rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka (QS.7:35-37; QS.36:31) bersumber pada itikad sesat “lā nabiyya ba’dahu” (tidak ada lagi nabi
sesudahnya), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ
قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ
شَکٍّ مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada
kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti
yang nyata, tetapi kamu selalu dalam
keraguan mengenai apa
yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati kamu
berkata: لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ -- Demikianlah Allah menyesatkan barangsiapa
yang melampaui batas, yang ragu-ragu. Yaitu orang-orang yang ber-tengkar mengenai
Tanda-tanda Allah tanpa dalil
yang datang kepada mereka. Sangat
besar kebencian di sisi Allah dan di
sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap hati orang
sombong lagi sewenang-senang. (Al-Mu’min [40]:35-36). Lihat pula
QS.10:75-77; QS.72:8.
Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah di Kalangan Bani Adam
Sesuai dengan amanat-Nya kepada Bani Adam
a.s. (QS.7:35-37) nabi-nabi Allah telah senantiasa datang
ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran
orang-orang — setiap kali datang seorang nabi
baru, mereka menolak dan menentangnya, dan ketika ia wafat
orang-orang yang beriman kepada nabi Allah Swt. itu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya,” bahwa tidak
ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, yakni mereka mengatakan: Lā nabiyya ba’dahu -- “tidak ada lagi nabi sesudahnya” (QS.10:75;
QS.72:8).
Mengapa keberlangsungkan wahyu Ilahi yang bukan
syariat sangat penting bagi suatu agama
-- terutama bagi umat Islam? Sebab tanpa berlangsungnya wahyu Ilahi pada suatu agama berarti agama
tersebut merupakan agama yang telah mati, sebab keberlangsungan wahyu Ilahi dalam suatu agama bagaikan keberadaan ruh bagi tubuh jasmani.
Sehubungan dengan pentingnya keberadaan “ruh” Islam (Al-Quran)
berupa kesinambungan wahyu Ilahi tersebut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Wahai umat Muslim, berhati-hatilah karena jalan fikiran seperti itu hanyalah ciri
suatu kebodohan dan keawaman. Jika Islam merupakan agama
yang mati, lalu siapakah yang akan kalian ajak
untuk memasukinya? Apakah kalian mau
membawa-bawa mayatnya ke Jepang atau mempersembahkannya kepada Eropa?
Siapa orangnya yang cukup tolol untuk mencintai suatu agama
yang telah mati yang luput dari segala berkat dan keruhanian
seperti halnya agama-agama kuno di
masa lalu? Dalam agama-agama lama itu para perempuannya
saja masih menerima wahyu
sebagaimana halnya ibunda Musa dan Yesus, dimana laki-laki kalian ternyata tidak
setara dengan perempuan-perempuan
tersebut.
Wahai kalian yang bodoh dan buta,
ketahuilah bahwa Nabi Suci Saw., Junjungan dan Penghulu kita, berada jauh
di depan dari semua nabi dalam
segala hal yang berkaitan dengan berkat
keruhanian. Berkat para nabi
terdahulu telah berakhir pada suatu saat tertentu, dimana umat dan agamanya sekarang ini sudah
mati. Tidak ada lagi kehidupan
dalam agama mereka.
Namun berkat dari Hadhrat
Rasulullah Saw. akan berlanjut
terus sampai Hari Kiamat. Karena itu
tidak diperlukan adanya Al-Masih yang dijanjikan datang dari umat lain. Tumbuh dan berkembang di
bawah naungan bayangan Hadhrat
Rasulullah saw. bisa mengubah seorang hamba yang lemah menjadi
seorang Al-Masih sebagaimana yang
telah dilakukan Tuhan atas diriku.” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX,
hlm. 389, London, 1984).
Sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya kedatangan Masih Mau’ud a.s. guna “menghidupkan” kembali agama dan umat Islam tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini
mengenai kedatangan misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ
اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ
لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ
قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا
لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila
Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya,
dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan semata.
Bahkan mereka adalah kaum yang biasa
berbantah. Ia tidak lain
melainkan seorang hamba yang telah
Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan
Kami menjadikan dia suatu perumpamaan bagi Bani
Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s. Israili adalah
tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan
kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
Ayat ini pun di samping arti yang diberikan dalam ayat ini,
dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi
Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
akan dibangkitkan di antara mereka (QS.62:3-4) untuk memperbaharui mereka dan
mengembalikan kejayaan ruhani mereka
yang telah hilang (QS.61:10), maka dari bergembira
atas kabar gembira itu malah mereka
berteriak mengajukan protes dan penentangan terhadap beliau. Jadi, ayat ini dapat dianggap
mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. untuk kedua kalinya dari kalangan umat Islam.
Wahyu Sebagai Pemahaman
Ilahi (Makrifat Ilahi) Tertinggi
Mengenai pentingnya kesinambungan serta peran wahyu Ilahi non-syariat tersebut sehubungan makrifat Ilahi yang hakiki (QS.2:31-34;
QS.72:27-29) selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan:
“Pengakuanku jelas dan benar, bahwa dengan mengikuti jalan yang lurus maka seorang pencari
kebenaran bisa menjadi penerima wahyu
Ilahi. Pengalaman diriku sendiri
menjadi buktinya. Lagi pula setiap
orang yang waras akan memahami bahwa di dunia ini tidak ada
lagi tingkat yang lebih tinggi dalam
pemahaman Ilahi (makrifat Ilahi) selain
kondisi dimana seseorang bisa berkomunikasi dengan Tuhan-nya.
Pada tingkatan
inilah jiwa akan dipuaskan secara sempurna serta semua keraguan
dan kecurigaan dihilangkan. Saat
mencapai tingkatan ini seseorang
akan memperoleh pengertian yang
untuk itu ia telah diciptakan. Tahapan
ini menjadi kunci surga yang
membuktikan betapa dekat Sang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya yang lemah. Kami
mengetahui tingkatan ini berkat Nur yang bernama Al-Quran. Nur tersebut
memberikan kabar gembira bahwa mata air wahyu Ilahi tidak pernah mengering.
Semua penghuni bumi di Timur dan di
Barat, jika mau mencari Allah Yang Maha
Luhur dan berdamai dengan-Nya serta menepis semua tirai yang ada di antara keduanya,
pasti akan menemukan Diri-Nya. Bila
ia bisa menemukan Tuhan-nya secara hakiki dan sempurna maka Tuhan akan
berbicara kepadanya.
Kitab-kitab Veda tidak ada memberikan kesempatan
kepada manusia untuk mencapai tingkatan
tersebut, karena katanya hanya terbatas kepada keempat orang Rishi, yang menurut kaum Arya Samaj, adalah pengarang
atau penyusun kitab Veda tersebut. Ini adalah kekeliruan kitab Veda sebagaimana juga
dengan banyak kekeliruan lain di
dalamnya.
Sesungguhnya semua manusia sama fitratnya
dan apa yang dimungkinkan bagi
seseorang pasti mungkin juga bagi
orang lain. Kedekatan seseorang
kepada Tuhan dan pemahaman tentang Wujud-Nya bisa pula diperoleh oleh orang lain karena kesamaan fitrat tersebut. Memang benar
bahwa ada perbedaan dalam tingkat keluhuran, namun tidak ada
seorang pun yang dikucilkan dari keluhuran yang dapat dicapai di antara sesama manusia.
Kalau ternyata ada yang sama sekali tidak
memiliki kemampuan guna mencapai keluhuran kemanusiaan maka orang
tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai termasuk makhluk manusia. Singkat
kata, bisa saja ada perbedaan dalam kapasitas, tetapi tidak ada yang sama sekali tidak
memiliki kapasitas tersebut.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. II, hlm. 239-240, London, 1984).
Kemampuan Intelektual dan Kemampuan Spriritual Manusia
Selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
tentang kemampuan intelektual dan kemampuan
spriritual manusia guna meraih makrifat
Ilahi:
“Tuhan Yang Maha
Pemurah dan Maha Penyayang, Yang membekali
manusia dengan fitrat haus dan lapar akan pemahaman Ilahiah, telah mengaruniakan dua bentuk kemampuan guna menggapai pemahaman tersebut. Bentuk yang pertama adalah kemampuan intelektual yang bersumber pada otaknya, sedangkan bentuk yang kedua adalah kemampuan spiritual yang bersumber
dari hati, dimana kemurnian ruhani yang bersangkutan amat
tergantung kepada kemurnian hatinya.
Segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan melalui kemampuan intelektual bisa dicapai melalui kemampuan spiritual. Kemampuan spiritual
bisa berkembang menjadi demikian murninya sehingga berkat-berkat dari Sumber
Segala Berkat akan tercermin di
dalamnya.
Untuk itu persyaratannya
adalah yang bersangkutan memang mendambakan
berkat tersebut dengan cara menghilangkan
semua tabir dan rintangan ke arah itu, sehingga ia menjadi penerima rahmat pemahaman yang sempurna.
Pengakuan dirinya tentang Tuhan tidak hanya terbatas kepada keyakinan semata bahwa alam ini pasti ada Pencipta-nya, tetapi
juga karena telah mampu menyaksikan
Wujud-Nya melalui pengamatan
berbagai tanda-tanda-Nya yang akbar sehingga meyakini sepenuhnya bahwa Sang
Pencipta itu memang benar ada.
Hanya saja karena sebagian besar manusia tidak bisa terbebas dari berbagai rintangan
dan mereka itu dijangkiti kecintaan
dan kerakusan akan dunia, keangkuhan, takabur, rasa harga diri tinggi, kemunafikan, sifat mementingkan diri sendiri serta berbagai kelemahan akhlak lainnya,
sehingga secara sengaja
mereka mengabaikan Tuhan serta para hamba-Nya dan secara sadar berpaling
dari ketulusan, kejujuran dan kecintaan
serta pengabdian kepada Allah Swt., maka mereka tidak memenuhi kualifikasi untuk
mendapatkan rahmat untuk komunikasi dengan Tuhan.
Namun karunia Tuhan yang abadi
yang tidak menginginkan manusia
menjadi makhluk yang sia-sia, telah memungkinkan manusia terkadang mendapat kasyaf atau wahyu hakiki
agar mereka bisa melihat terbukanya
pintu gerbang untuk kemajuan ruhani.
Sekedar Mengalami Kasyaf dan Menerima Wahyu Ilahi Bukan Indikasi Kesucian Ruhani
Tetapi kasyaf dan wahyu yang
mereka terima tidak lantas menjadi indikasi
bahwa mereka itu termasuk yang diridhai
Tuhan, sepanjang tidak diikuti dengan tanda-tanda
kecintaan dan rahmat Ilahi serta
mereka belum disucikan dari segala kekotoran
ego mereka.
Mereka diberi kasyaf demikian hanya agar mereka mendapat dasar alasan untuk beriman
kepada para Rasul Tuhan, karena jika
tidak diberikan kesempatan untuk mendapat kasyaf
atau wahyu seperti itu guna menguatkan keyakinannya maka mereka
bisa menggugat Allah Yang Maha Kuasa bahwa mereka tidak ada memperoleh pemahaman realitas kenabian karena
mereka tidak mendapat contoh-contoh
yang bisa dilihatnya sendiri.
Sehubungan dengan itu maka sudah
menjadi tradisi Tuhan (Sunnatullah)
untuk memberikan kasyaf dan wahyu kepada manusia -- terlepas dari apakah yang bersangkutan itu bersifat baik atau jahat, bertakwa atau durhaka, atau pun menjadi penganut dari agama yang
benar atau yang salah -- agar ia
mempunyai contoh untuk menyesuaikan pandangannya yang bisa
menjadikannya yakin dan mendorong dirinya kepada kemajuan keruhanian.
Sang
Maha Pencipta telah membentuk otak
manusia sedemikian rupa dan membekalinya
dengan kemampuan ruhaniah agar mampu
juga menerima kasyaf dan wahyu hakiki. Hanya saja adanya kasyaf dan wahyu itu tidak lantas menjadi indikasi
derajat keruhanian yang
bersangkutan, karena hanya merupakan contoh
yang dapat dimanfaatkan bagi kemajuan ruhani.” (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld XXII,
hlm. 8-10, London, 1984).
Perlunya Keberadaan Wahyu
Ilahi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan dua macam
argumentasi mengenai pentingnya
keberadaan wahyu Ilahi dalam rangka
memenuhi rasa lapar dan rasa haus ruhani manusia:
“Argumentasi terdiri dari dua jenis, yaitu induktif dan deduktif. Argumentasi induktif
memungkinkan kita untuk mengenali sesuatu menurut apa yang diindikasikan
seperti jika kita melihat kepulan asap
maka kita akan menyimpulkan pasti ada api.
Dalam argumentasi deduktif, kita bergerak dari kesimpulan
ke arah kausanya atau penyebabnya. Sebagai contoh, jika kita
melihat seseorang diserang demam tinggi,
kita meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.
Kita mulai dengan argumentasi induktif
tentang perlunya ada wahyu. Kiranya tidak ada yang meragukan
bahwa sistem fisikal (jasmani) dan spiritual (ruhani) manusia diatur oleh hukum alam yang sama. Dalam sistem fisikal
kita melihat bahwa hasrat apa pun
yang ditanamkan oleh Tuhan dalam
diri manusia, Dia juga telah memberikan sarana
untuk pemuasannya.
Tubuh manusia merasakan lapar dan kebutuhan akan pangan, untuk itu Tuhan telah memberikan berbagai macam makanan untuk memenuhinya. Begitu pula
manusia membutuhkan air guna
menghilangkan rasa hausnya dan Tuhan
menyediakan sumur, mata air dan sungai untuk itu.
Manusia memerlukan sinar surya dan sinar dari sumber-sumber lainnya untuk membantu penglihatannya, dan untuk itu Tuhan
telah menyediakan sinar dari langit
dalam bentuk matahari dan memberikan
sinar dari berbagai sarana lainnya di bumi.
Manusia membutuhkan udara untuk bernafas dan
mendengar suara yang lainnya, dan
untuk itu Tuhan telah menyediakannya. Begitu pula ketika manusia memerlukan pasangan untuk berkembang biak maka Tuhan telah menciptakan laki-laki sebagai pasangan
perempuan dan perempuan sebagai pasangan
laki-laki. Singkat kata, hasrat apa pun yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri manusia,
maka Dia juga telah memberikan sarana
untuk pemenuhannya.
Sekarang kita perlu mempertimbangkan,
bahwa jika semua sarana telah
disediakan bagi pemenuhan kebutuhan fisikal dari jasmani manusia, betapa pula yang
disediakan bagi pemenuhan hasrat batin
manusia akan kecintaan, pemahaman dan pengabdian kepada Tuhan.
Sarana tersebut berbentuk kasyaf dan
tanda-tanda Ilahi yang bisa mencerahkan pengetahuan dangkal seseorang dengan keyakinan hakiki.
Sebagaimana Tuhan telah menyediakan sarana guna pemenuhan hasrat jasmani manusia, begitu juga Dia telah
mengaruniakan sarana ruhani untuk pemenuhan kebutuhannya dan dengan
demikian sistem fisikal dan spiritual akan menjadi selaras.
Penalaran induktif seperti ini selanjutnya disempurnakan melalui penalaran deduktif atau dengan kata
lain melalui contoh dari wahyu itu
sendiri. Kesadaran akan kebutuhan terhadap sesuatu merupakan suatu hal terpisah dengan pencaharian cara
pemenuhannya.
Kalian menyadari bahwa makanan dan air selalu tersedia bagi tubuh kalian, baik sekarang ini mau pun bagi manusia di masa lalu. Namun jika disebutkan wahyu maka kalian membatasinya
hanya ada di masa berabad-abad yang lalu dan tidak mempunyai rujukan untuk itu di masa kini. Lalu
bagaimana mungkin akan tercipta keselarasan
di antara hukum fisikal dan spiritual di alam ini?
Cobalah diam
dan renungkan. Kalian tidak bisa menyangkal bahwa kebutuhan jasmani kalian selalu tersedia setiap saat, tetapi kalian tidak punya apa pun sebagai
sarana pemenuhan kebutuhan ruhani
kalian kecuali dongeng-dongeng kuno.
Kalian mengetahui bahwa sumber mata air fisikal (jasmani) yang
kalian ambil airnya untuk memuaskan dahaga sekarang ini pun masih tetap mengalir, begitu pula dengan ladang-ladang kalian yang ditanami untuk memenuhi pemuasan rasa lapar sampai sekarang ini masih
tetap menghasilkan.
Lalu kemanakah mata air ruhani yang selama ini biasa memuaskan dahaga keruhanian kalian dalam bentuk wahyu Ilahi? Atau pun makanan ruhani guna menghidupkan jiwa kalian. Sepertinya
kalian berada di gurun pasir tanpa makanan dan air.” (Chasmai Marifat, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 63-66, London, 1984).
Qasidah Bahasa Urdu: Wahyu
Ilahi
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan dalam bentuk qasidah
(syair)
mengenai pentingnya kesinambungan wahyu
Ilahi bagi manusia:
Betapa
sedihnya, mereka bilang wahyu dihentikan sudah,
Kini
umat hanya bergantung pada dongeng kuno sampai Kiamat tiba.
Sungguh
keimanan seperti itu melawan Kalam Ilahi,
Namun
siapa ‘kan membuang belenggu lama
ini?
Tuhan tetap memilih siapa yang jadi penerima
wahyu-Nya,
Dia tetap berbicara dengan siapa
Dia suka.
Mengapa kalian buang mustika
wahyu Ilahi, hati-hatilah,
Karena
hanya ini sumber kemuliaan dan kelebihan iman.
Ini
adalah bunga tanpa tanding di taman surgawi,
Ini
adalah wewangian yang lebih harum daripada kesturi Tartari.
Ini
adalah kunci pembuka pintu gerbang langit,
Ini
adalah cermin pantulan Wujud Sang Kekasih.
Hanya inilah senjata yang menjamin kemenangan
kita,
Hanya inilah benteng, kastil (istana)keamanan kita.
Dalam Islam,
hanya inilah sarana mencapai pengetahuan Ilahi,
Dongeng semata tak ‘kan menolong umat dari amukan badai.
Wahyu Ilahi pertanda pengenalan Ilahi
Yang menerimanya ‘kan menemukan
juga Sang Sahabat Abadi.
Betapa
moleknya kebun kasih, jalan
menujunya lewat lembah maut,
Buahnya
adalah persatuan dengan Sang Kekasih meski ditingkar duri.
(Brahin-i-
Ahmadiyah, jld. V, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXI, hlm. 137, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menerangkan bahwa wahyu Ilahi bukan merupakan “inspirasi”
sebagai akibat dari suatu renungan:
“Wahyu adalah pesan
tersembunyi yang tidak tergantung kepada perenungan atau pun pemikiran
yang mendalam. Wahyu tersebut
bersifat jernih dan jelas seperti perasaan seseorang yang mendengarkan
seorang pembicara atau pun sentuhan dari seseorang yang menyentuhnya.
Jiwa tidak akan mengalami kesakitan ruhani karenanya. Jiwa selalu memiliki keselarasan abadi dengan wahyu sebagaimana halnya kebahagiaan seorang pecinta yang memandang wujud yang dikasihinya. Wahyu
adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan yang amat menyenangkan.” (Purani Tehrerain, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II,
hlm. 20, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 15 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar