Jumat, 15 April 2016

Hubungan Itikad Sesat "Laa Nabiyya Ba'dahu" (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) Dengan Penentangan Terhadap Para Rasul Allah & "Ma'rifat Ilahi" Hakiki Diperoleh Hanya Melalui "Wahyu Ilahi"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Hubungan Itikad Sesat Lā Nabiyya Ba’dahu (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya) dengan Penentangan Terhadap Para Rasul Allah & Ma’rifat Ilahi Hakiki Diperoleh Hanya Melalui Wahyu Ilahi

Bab 22


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya    telah menjelaskan  mengenai bahaya faham keliru “Lā Nabiyya Ba’dahu” (tidak ada lagi nabi sesudahnya), karena dari Al-Quran diketahui bahwa  pada  hakikatnya kesinambungan terjadinya pendustaan dan penentangan kaum-kaum purbakala terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37; QS.36:31) bersumber pada itikad sesat “lā nabiyya ba’dahu” (tidak ada lagi nabi sesudahnya), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan  mengenai  apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ   -- Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-raguYaitu orang-orang yang ber-tengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang. (Al-Mu’min [40]:35-36). Lihat pula QS.10:75-77; QS.72:8.

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah di Kalangan Bani Adam

  Sesuai dengan amanat-Nya kepada Bani Adam a.s.  (QS.7:35-37) nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya, dan  ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi Allah Swt. itu berkata:  لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya,”       bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, yakni mereka  mengatakan: Lā nabiyya ba’dahu   --   “tidak ada lagi nabi sesudahnya” (QS.10:75; QS.72:8).
  Mengapa keberlangsungkan wahyu Ilahi yang bukan syariat  sangat penting bagi suatu agama  -- terutama bagi  umat Islam? Sebab  tanpa berlangsungnya wahyu Ilahi pada suatu agama  berarti agama tersebut merupakan agama yang telah mati, sebab keberlangsungan wahyu Ilahi dalam suatu agama bagaikan keberadaan ruh bagi tubuh jasmani.
 Sehubungan dengan  pentingnya keberadaan “ruh” Islam (Al-Quran)   berupa kesinambungan wahyu Ilahi  tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Wahai umat Muslim, berhati-hatilah karena jalan fikiran seperti itu hanyalah ciri suatu kebodohan dan keawaman. Jika Islam merupakan agama yang mati, lalu siapakah yang akan kalian ajak untuk memasukinya? Apakah kalian mau membawa-bawa mayatnya ke Jepang atau mempersembahkannya kepada Eropa?
      Siapa orangnya yang cukup tolol untuk mencintai suatu agama yang telah mati yang luput dari segala berkat dan keruhanian seperti halnya agama-agama kuno di masa lalu?  Dalam agama-agama lama itu para perempuannya saja masih menerima wahyu sebagaimana halnya ibunda Musa dan Yesus, dimana laki-laki kalian   ternyata tidak setara dengan perempuan-perempuan tersebut.
     Wahai kalian yang bodoh dan buta, ketahuilah bahwa Nabi Suci Saw., Junjungan dan Penghulu kita, berada jauh di depan dari semua nabi dalam segala hal yang berkaitan dengan berkat keruhanian. Berkat para nabi terdahulu telah berakhir pada suatu saat tertentu, dimana umat dan agamanya sekarang ini sudah mati. Tidak ada lagi kehidupan dalam agama mereka.
      Namun berkat dari Hadhrat Rasulullah Saw. akan berlanjut terus sampai Hari Kiamat. Karena itu tidak diperlukan adanya Al-Masih yang dijanjikan datang dari umat lain. Tumbuh dan berkembang di bawah naungan bayangan Hadhrat Rasulullah saw. bisa mengubah seorang hamba yang lemah menjadi seorang Al-Masih sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan atas diriku.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  389, London, 1984).
       Sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai pentingnya kedatangan Masih Mau’ud a.s. guna “menghidupkan” kembali agama dan umat Islam tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini mengenai kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan terhadapnya,   dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
   Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s. Israili   adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
      Ayat ini pun  di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka  (QS.62:3-4) untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.61:10), maka dari bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes dan penentangan terhadap beliau. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya dari kalangan umat Islam.

Wahyu Sebagai Pemahaman Ilahi  (Makrifat Ilahi) Tertinggi

      Mengenai pentingnya kesinambungan serta peran wahyu Ilahi non-syariat tersebut sehubungan makrifat Ilahi yang hakiki (QS.2:31-34; QS.72:27-29) selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      “Pengakuanku jelas dan benar, bahwa dengan mengikuti jalan yang lurus maka seorang pencari kebenaran bisa menjadi penerima wahyu Ilahi. Pengalaman diriku sendiri menjadi buktinya. Lagi pula setiap orang yang waras akan memahami bahwa di dunia ini tidak ada lagi tingkat yang lebih tinggi dalam pemahaman Ilahi (makrifat Ilahi) selain kondisi dimana seseorang bisa berkomunikasi dengan Tuhan-nya.
     Pada tingkatan inilah jiwa akan dipuaskan secara sempurna serta semua keraguan dan kecurigaan dihilangkan. Saat mencapai tingkatan ini seseorang akan memperoleh pengertian yang untuk  itu ia telah diciptakan.  Tahapan ini menjadi kunci surga yang membuktikan betapa dekat Sang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya yang lemah. Kami mengetahui tingkatan ini berkat Nur yang bernama Al-Quran. Nur tersebut memberikan kabar gembira bahwa mata air wahyu Ilahi tidak pernah mengering.
       Semua penghuni bumi di Timur dan di Barat, jika mau mencari Allah Yang Maha Luhur dan berdamai dengan-Nya serta menepis semua tirai yang ada di antara keduanya, pasti akan menemukan Diri-Nya. Bila ia bisa menemukan Tuhan-nya secara hakiki dan sempurna maka Tuhan akan berbicara kepadanya.
      Kitab-kitab Veda tidak ada memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencapai tingkatan tersebut,  karena katanya hanya terbatas kepada keempat orang Rishi, yang menurut kaum Arya Samaj, adalah pengarang atau penyusun kitab Veda tersebut. Ini adalah kekeliruan kitab Veda sebagaimana juga dengan banyak kekeliruan lain di dalamnya.
      Sesungguhnya semua manusia sama fitratnya dan apa yang dimungkinkan bagi seseorang pasti mungkin juga bagi orang lain. Kedekatan seseorang kepada Tuhan dan pemahaman tentang Wujud-Nya bisa pula diperoleh oleh orang lain karena kesamaan fitrat tersebut. Memang benar bahwa ada perbedaan dalam tingkat keluhuran, namun tidak ada seorang pun yang dikucilkan dari keluhuran yang dapat dicapai di antara sesama manusia.
   Kalau ternyata ada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan guna mencapai keluhuran kemanusiaan maka orang tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai termasuk makhluk manusia. Singkat kata, bisa saja ada perbedaan dalam kapasitas, tetapi tidak ada yang sama sekali tidak memiliki kapasitas tersebut.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  239-240, London, 1984).

Kemampuan Intelektual dan Kemampuan Spriritual Manusia

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan tentang  kemampuan intelektual dan kemampuan spriritual manusia guna meraih makrifat Ilahi:
    “Tuhan Yang Maha Pemurah  dan Maha Penyayang, Yang membekali manusia dengan fitrat haus dan lapar akan pemahaman Ilahiah, telah mengaruniakan dua bentuk kemampuan guna menggapai pemahaman tersebut. Bentuk yang pertama adalah kemampuan intelektual yang bersumber pada otaknya, sedangkan bentuk yang kedua adalah kemampuan spiritual yang bersumber  dari hati, dimana kemurnian ruhani yang bersangkutan amat tergantung kepada kemurnian hatinya.
    Segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan melalui kemampuan intelektual bisa dicapai melalui kemampuan spiritual. Kemampuan spiritual bisa berkembang menjadi demikian murninya sehingga berkat-berkat dari Sumber Segala Berkat akan tercermin di dalamnya.
   Untuk itu persyaratannya adalah yang bersangkutan memang mendambakan berkat tersebut dengan cara menghilangkan semua tabir dan rintangan ke arah itu, sehingga ia menjadi penerima rahmat pemahaman yang sempurna.
   Pengakuan dirinya tentang Tuhan tidak hanya terbatas kepada keyakinan semata bahwa alam ini pasti ada Pencipta-nya, tetapi juga karena telah mampu menyaksikan Wujud-Nya melalui pengamatan berbagai tanda-tanda-Nya yang akbar sehingga meyakini sepenuhnya bahwa Sang Pencipta itu memang benar ada.
      Hanya saja karena sebagian besar manusia tidak bisa terbebas dari berbagai  rintangan dan mereka itu dijangkiti kecintaan dan kerakusan akan dunia, keangkuhan, takabur, rasa harga diri tinggi, kemunafikan, sifat mementingkan diri sendiri serta berbagai kelemahan akhlak lainnya,  sehingga secara sengaja mereka mengabaikan Tuhan serta para hamba-Nya dan secara sadar berpaling dari ketulusan, kejujuran dan kecintaan serta pengabdian kepada Allah Swt., maka mereka tidak memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan rahmat untuk komunikasi dengan Tuhan.  
     Namun karunia Tuhan yang abadi yang tidak menginginkan manusia menjadi makhluk yang sia-sia, telah memungkinkan manusia terkadang mendapat kasyaf atau wahyu hakiki agar mereka bisa melihat terbukanya pintu gerbang untuk kemajuan ruhani.

Sekedar Mengalami Kasyaf dan Menerima Wahyu Ilahi  Bukan Indikasi Kesucian Ruhani

   Tetapi kasyaf dan wahyu yang mereka terima tidak lantas menjadi indikasi bahwa mereka itu termasuk yang diridhai Tuhan, sepanjang tidak diikuti dengan tanda-tanda kecintaan dan rahmat Ilahi serta mereka belum disucikan dari segala kekotoran ego mereka.
    Mereka diberi kasyaf demikian hanya agar mereka mendapat dasar alasan untuk beriman kepada para Rasul Tuhan, karena jika tidak diberikan kesempatan untuk mendapat kasyaf atau wahyu seperti itu guna menguatkan keyakinannya maka mereka bisa menggugat Allah Yang Maha Kuasa bahwa mereka tidak ada memperoleh pemahaman realitas kenabian karena mereka tidak mendapat contoh-contoh yang bisa dilihatnya sendiri.
    Sehubungan dengan itu maka sudah menjadi tradisi Tuhan (Sunnatullah) untuk memberikan kasyaf dan wahyu kepada manusia --  terlepas dari apakah yang bersangkutan itu bersifat baik atau jahat, bertakwa atau durhaka,  atau pun menjadi penganut dari agama yang benar atau yang salah -- agar ia mempunyai contoh untuk menyesuaikan pandangannya yang bisa menjadikannya yakin dan mendorong dirinya kepada kemajuan keruhanian.
  Sang Maha Pencipta telah membentuk otak manusia sedemikian rupa dan membekalinya dengan kemampuan ruhaniah agar mampu juga menerima kasyaf dan wahyu hakiki. Hanya saja adanya kasyaf dan wahyu itu tidak lantas menjadi indikasi derajat keruhanian yang bersangkutan, karena hanya merupakan contoh yang dapat dimanfaatkan bagi kemajuan ruhani.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld XXII, hlm.  8-10, London, 1984).

Perlunya Keberadaan    Wahyu Ilahi

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan dua macam argumentasi mengenai pentingnya keberadaan wahyu Ilahi dalam rangka memenuhi rasa lapar dan rasa haus ruhani manusia:
    “Argumentasi terdiri dari dua jenis, yaitu induktif dan deduktif. Argumentasi induktif memungkinkan kita untuk mengenali sesuatu menurut apa yang diindikasikan seperti jika kita melihat kepulan asap maka kita akan menyimpulkan pasti ada api.
     Dalam argumentasi deduktif, kita bergerak dari kesimpulan ke arah kausanya atau penyebabnya. Sebagai contoh, jika kita melihat seseorang diserang demam tinggi, kita meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.
    Kita mulai dengan argumentasi induktif tentang perlunya ada wahyu. Kiranya tidak ada yang meragukan bahwa sistem fisikal (jasmani) dan spiritual (ruhani) manusia diatur oleh hukum alam yang sama. Dalam sistem fisikal kita melihat bahwa hasrat apa pun yang ditanamkan oleh Tuhan dalam diri manusia, Dia juga telah memberikan sarana untuk pemuasannya.
     Tubuh manusia merasakan lapar dan kebutuhan akan pangan, untuk itu Tuhan telah memberikan berbagai macam makanan untuk memenuhinya. Begitu pula manusia membutuhkan air guna menghilangkan rasa hausnya dan Tuhan menyediakan sumur, mata air dan sungai untuk itu.
     Manusia memerlukan sinar surya dan sinar dari sumber-sumber lainnya untuk membantu penglihatannya, dan untuk itu Tuhan telah menyediakan sinar dari langit dalam bentuk matahari dan memberikan sinar dari berbagai sarana lainnya di bumi.
   Manusia membutuhkan udara untuk bernafas dan mendengar suara yang lainnya, dan untuk itu Tuhan telah menyediakannya. Begitu pula ketika manusia memerlukan pasangan untuk berkembang biak maka Tuhan telah menciptakan laki-laki sebagai pasangan perempuan dan perempuan sebagai pasangan laki-laki.  Singkat kata, hasrat apa pun yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri manusia, maka Dia juga telah memberikan sarana untuk pemenuhannya.
  Sekarang kita perlu mempertimbangkan, bahwa jika semua sarana telah disediakan bagi pemenuhan kebutuhan fisikal dari jasmani manusia, betapa pula yang disediakan bagi pemenuhan hasrat batin manusia akan kecintaan, pemahaman dan pengabdian kepada Tuhan. Sarana tersebut berbentuk kasyaf dan tanda-tanda Ilahi yang bisa mencerahkan pengetahuan dangkal seseorang dengan keyakinan hakiki.
   Sebagaimana Tuhan telah menyediakan sarana guna pemenuhan hasrat jasmani manusia, begitu juga Dia telah mengaruniakan sarana ruhani untuk pemenuhan kebutuhannya dan dengan demikian sistem fisikal dan spiritual akan menjadi selaras.
    Penalaran induktif seperti ini selanjutnya disempurnakan melalui penalaran deduktif atau dengan kata lain melalui contoh dari wahyu itu sendiri. Kesadaran akan kebutuhan terhadap sesuatu merupakan suatu hal terpisah dengan pencaharian  cara pemenuhannya.
    Kalian menyadari bahwa makanan dan air selalu tersedia bagi tubuh kalian, baik sekarang ini mau pun bagi manusia di masa lalu. Namun jika disebutkan wahyu maka kalian membatasinya hanya ada di masa berabad-abad yang lalu dan tidak mempunyai rujukan untuk itu di masa kini. Lalu bagaimana mungkin akan tercipta keselarasan di antara hukum fisikal dan spiritual di alam ini?
   Cobalah diam dan renungkan. Kalian tidak bisa menyangkal bahwa kebutuhan jasmani kalian selalu tersedia setiap saat, tetapi kalian tidak punya apa pun sebagai sarana pemenuhan kebutuhan ruhani kalian kecuali dongeng-dongeng kuno.
     Kalian mengetahui bahwa sumber mata air fisikal (jasmani) yang kalian ambil airnya untuk memuaskan dahaga sekarang ini pun masih tetap mengalir, begitu pula dengan ladang-ladang kalian yang ditanami untuk memenuhi pemuasan rasa lapar sampai sekarang ini masih tetap menghasilkan.
     Lalu kemanakah mata air ruhani yang selama ini biasa memuaskan dahaga keruhanian kalian dalam bentuk wahyu Ilahi? Atau pun makanan ruhani guna menghidupkan jiwa kalian. Sepertinya kalian berada di gurun pasir tanpa makanan dan air.” (Chasmai Marifat, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  63-66, London, 1984).

Qasidah Bahasa Urdu: Wahyu Ilahi

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam bentuk qasidah   (syair) mengenai pentingnya kesinambungan wahyu Ilahi bagi manusia:

Betapa sedihnya, mereka bilang wahyu dihentikan sudah,
Kini umat hanya bergantung pada dongeng kuno sampai Kiamat tiba.
Sungguh keimanan seperti itu melawan Kalam Ilahi,
Namun siapa ‘kan membuang belenggu lama ini?

Tuhan tetap memilih siapa yang jadi penerima wahyu-Nya,
Dia tetap berbicara dengan siapa Dia suka.
      Mengapa kalian buang mustika wahyu Ilahi, hati-hatilah,
Karena hanya ini sumber kemuliaan dan kelebihan iman.

Ini adalah bunga tanpa tanding di taman surgawi,
Ini adalah wewangian yang lebih harum daripada kesturi Tartari.
Ini adalah kunci pembuka pintu gerbang langit,
Ini adalah cermin pantulan Wujud Sang Kekasih.

Hanya inilah senjata yang menjamin kemenangan kita,
Hanya inilah benteng, kastil (istana)keamanan kita.
Dalam Islam, hanya inilah sarana mencapai pengetahuan Ilahi,
Dongeng semata tak ‘kan menolong umat dari amukan badai.

Wahyu Ilahi pertanda pengenalan Ilahi
Yang menerimanya  ‘kan menemukan juga Sang Sahabat Abadi.
Betapa moleknya kebun kasih, jalan menujunya lewat lembah maut,
Buahnya adalah persatuan dengan Sang Kekasih meski ditingkar duri.

(Brahin-i- Ahmadiyah,  jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm.  137, London, 1984).
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menerangkan bahwa wahyu Ilahi bukan merupakan “inspirasi” sebagai akibat dari suatu  renungan
      “Wahyu adalah pesan tersembunyi yang tidak tergantung kepada perenungan atau pun pemikiran yang mendalam. Wahyu tersebut bersifat jernih dan jelas seperti perasaan seseorang yang mendengarkan seorang pembicara atau pun sentuhan dari seseorang yang menyentuhnya.
        Jiwa tidak akan mengalami kesakitan ruhani karenanya. Jiwa selalu memiliki keselarasan abadi dengan wahyu sebagaimana halnya kebahagiaan seorang pecinta yang memandang wujud yang dikasihinya. Wahyu adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan yang amat menyenangkan.” (Purani Tehrerain, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  20, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 15 April    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar