Minggu, 03 April 2016

Makna "Ditundukkan-Nya Angin" Kepada Nabi Sulaiman a.s. dan Pendayagunaan SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) & "Wahyu Ilahi" Merupakan "Pasangan" "Kecerdasan Otak" Manusia


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


Makna “Ditundukkan-Nya  Angin” Kepada Nabi Sulaiman a.s.  dan   Pendayagunaan SDA  (Sumber Daya Alam) dan SDM  (Sumber Daya Manusia)  & Wahyu Ilahi Merupakan “Pasangan” Kecerdasan Otak Manusia

Bab 13


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  makna “ditundukkan-Nya” angin kepada Nabi Sulaiman a.s. bahwa   ungkapan kalimat “ditundukkan-Nya angin” kepada Nabi Sulaiman a.s.  dalam berbagai firman  Allah Swt. bukan dalam makna harfiah  melainkan merupakan ungkapan kiasan  mengenai pemanfaatan berbagai keahlian dan pengetahuan yang diperlukan oleh Nabi Sulaiman a.s. sehubungan  pembangunan  armada laut, seperti pembuatan  kapal (perahu) serta berbagai perlengkapannya yang diperlukan,   pengetahuan tentang angin, arus laut, gelombang, jenis awan dan lain-lain serta  pengetahuan   navigasi¸ yakni:
1. Navigasi duga, yaitu penentuan posisi kapal di peta laut yang ditentukan berdasarkan penghitungan haluan dan kecepatan kapal.
2.     Navigasi datar, yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan benda-benda bumi seperti gunung, tanjung, pulau, dan lain-lain.
3. Navigasi astronomi, yaitu penentuan posisi kapal diatas peta laut yang di tentukan berdasarkan perhitungan dari penilikan benda-benda Astronomi seperti bulan, bintang, planet dan matahari.
4.  Navigasi elektronik, yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik.     seperti radio pencari arah (RDF),RADAR, LORAN, DECCA, dan lain-lain.
         Ketiga jenis navigasi   nomor 1,2 dan 3 tersirat dalam firman  Allah Swt. berikut ini:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.  Dan  kalangan   syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu  dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:82-83).

Pemanfaatan SDM Kaum-kaum  yang Ditaklukkan Oleh Nabi Sulaiman a.s. yakni “Jin” dan “Syaitan

       Nampaknya kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar di teluk Persia, laut Merah, dan Laut tengah, serta hubungan dagang yang teratur diadakan di antara Palestina dan negeri-negeri yang letaknya di sekeliling Teluk Persia  dan dua lautan tersebut (I Raja-raja 10:27-29):
Bersama-sama dengan Hiram dan Tyre beliau memelihara sejumlah armada  sejumlah kapal yang mampu mengarungi samudera, berniaga dengan jadwal waktu teratur ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Tengah, membawa mas, perak, gading, monyet, dan burung-burung merak (I Raja-raja 10:22; 10:27-29; Tawarikh 8:18;  Encyclopaedia Britanica pada kata “Solomon”.
     Dalam ayat ini kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat), sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. karena para  nakhoda dan awak kapal Nabi Sulaiman a.s. sangat mahir dalam ilmu pelayaran.
      Ada pun mengenai pentingnya pengetahuan navigasi elektronik,  yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik    seperti radio pencari arah (RDF), RADAR, LORAN, DECCA, dlsb, hal itu  erat hubungannya dengan dibuatnya kapal-kapal laut yang menggunakan tenaga mekanik (mesin penggerak) sebagaimana dinubuatkan dalam  QS.16:9; QS.36:42-43; QS.43:13.
     Sehubungan dengan ayat: وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ --   ”Dan kalangan   syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ --  dan Kami-lah yang menjaga  mereka”  Karena syaithan berarti pemberontak dan penentang, dan juga artinya  orang yang ahli dalam sesuatu (QS.2:15), maka ayat ini bermaksud mengatakan, bahwa bangsa-bangsa bukan-Israil yang ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman a.s. telah dipekerjakan pada berbagai pertukangan yang sulit dan berat atas perintah beliau.
      Mereka bekerja sebagai tukang kayu, pandai besi, penyelam, dan sebagainya, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh warga bangsa jajahan (Lihat I Raja-raja 9:21-22). Kata-kata, yang menyelam untuk dia dapat menunjuk kepada para penyelam dari Bahrain dan Masqat, yang melakukan pekerjaan menyelam di Teluk Persia untuk mencari mutiara. Mereka dipekerjakan oleh Nabi Sulaiman a.s.  untuk tujuan itu, firman-Nya:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ غُدُوُّہَا شَہۡرٌ وَّ رَوَاحُہَا شَہۡرٌ ۚ وَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ ؕ وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ  بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ  مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ یَعۡمَلُوۡنَ لَہٗ  مَا یَشَآءُ  مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ ؕ اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا ؕ وَ قَلِیۡلٌ  مِّنۡ عِبَادِیَ  الشَّکُوۡرُ ﴿﴾ فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Dan kepada Sulaiman Kami  menundukkan angin, perjalanan paginya sama dengan sebulan perjalanan darat dan perjalanan petangnya sama dengan sebulan.  وَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ -- Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga untuk dia. وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ  بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   -- Dan dari jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ  مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ  --   dan   barangsiapa dari mereka menyimpang dari perintah Kami, Kami membuat dia merasakan azab Api yang menyala-nyala.  یَعۡمَلُوۡنَ لَہٗ  مَا یَشَآءُ  مِنۡ مَّحَارِیۡبَ وَ تَمَاثِیۡلَ وَ جِفَانٍ کَالۡجَوَابِ وَ قُدُوۡرٍ رّٰسِیٰتٍ --  Mereka mengerjakan untuknya apa yang dia kehendaki berupa  tempat-tempat ibadah, patung-patung, kolam-kolam bagaikan bendungan  dan periuk-periuk besar yang tetap pada tungkunya.   اِعۡمَلُوۡۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُکۡرًا   --  “Hai keluarga Daud, beramallah sambil bersyukur.”  وَ قَلِیۡلٌ  مِّنۡ عِبَادِیَ  الشَّکُوۡرُ -- Tetapi sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukurفَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ   -- Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya.  فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaibmereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (As-Sabā [34]:13-15).
     
Berbagai Pembangunan yang Dilakukan Nabi Sulaiman a.s. &  Makna “Rayap Memakan Tongkat” Nabi Sulaiman a.s.

        Makna ungkapan ayat: وَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ – “Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga untuk dia” dapat mengisyaratkan  kepada industri  peleburan logam  guna  berbagai keperluan pembangunan. Wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. terbentang dari Siria Utara sepanjang pantai Laut Tengah sebelah timur sampai Laut Merah, sepanjang Laut Arab sampai Teluk Persia, sehingga memerlukan sarana tranportasi  darat dan laut.
       Pada hakikatnya di zaman Nabi Sulaiman a.s.  kerajaan Bani Israil telah mencapai puncak kejayaan dalam kekayaan harta, kekuasaan, dan pengaruh, sebagaimana ditampakkan oleh kata rīh, yang di antara lain artinya kekuasaan dan penaklukan-penaklukan (Lexicon Lane) seperti digunakan dalam ayat ini.
      Ayat ini pun menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s. memiliki suatu armada niaga laut yang besar (I  Raja-raja 9:26-28 & Jewish Encyclopaedia Jilid XI hlm. 437) dan bahwa perindustrian dan kerajinan telah berkembang pesat di bawah pemerintahan beliau, dan bahwa beliau telah menaklukkan serta memanfaatkan tenaga suku-suku bangsa pegunungan yang liar lagi suka   memberontak (II Tawarikh 2:18 & 4:1-2), sebagaimana firman-Nya: وَ اَسَلۡنَا لَہٗ  عَیۡنَ الۡقِطۡرِ -- Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga untuk dia. وَ مِنَ الۡجِنِّ مَنۡ یَّعۡمَلُ بَیۡنَ یَدَیۡہِ  بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   -- Dan dari jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ مَنۡ یَّزِغۡ مِنۡہُمۡ عَنۡ اَمۡرِنَا نُذِقۡہُ  مِنۡ عَذَابِ السَّعِیۡرِ  --   dan   barangsiapa dari mereka menyimpang dari perintah Kami, Kami membuat dia merasakan azab Api yang menyala-nyala”  (As-Sabā [34]:13).
       Kecuali itu selaku seorang raja yang kaya-raya, sangat berkuasa dan beradab, Nabi Sulaiman a.s. merupakan tokoh di antara raja-raja bangsa Bani Israil, yang mendirikan bangunan-bangunan. Beliau mempunyai selera   yang istimewa mengenai seni bangunan yang telah berkembang pesat di masa kekuasaan beliau. Baitulmuqadas di Yerusalem memberi bukti yang nyata tentang selera halus beliau berkenaan dengan seni bangunan.
        Makna ayat: فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ   -- Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya.  فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaibmereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan (As-Sabā [34]:13-15). Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s., ang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I  Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”).   Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.  mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam.

Peran Pemuka Kaum Dalam Meredam Gejolak di Masyarakat

       Kembali kepada firman Allah Swt. yang sedang dibahas mengenai  ditundukkan-Nya  berbagai komponen alam semesta kepada manusia:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ  الۡبَحۡرَ   لِتَاۡکُلُوۡا  مِنۡہُ لَحۡمًا طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ   تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ  تَمِیۡدَ بِکُمۡ  وَ اَنۡہٰرًا وَّ سُبُلًا  لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan  Dia-lah Dzat Yang telah menundukkan laut, supaya kamu dapat memakan daging ikan  segar darinya, dan kamu mengeluarkan darinya benda-benda perhiasan yang kamu memakainya, dan engkau  melihat kapal membelah air laut, supaya kamu mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.   وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ  تَمِیۡدَ بِکُمۡ  وَ اَنۡہٰرًا وَّ سُبُلًا  لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ  --  Dan  Dia telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu, dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat petunjuk. وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ --  Dan Dia  menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah yang benar.   (An-Nahl [16]:15-17). 
      Makna ayat:  وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ  تَمِیۡدَ بِکُمۡ     -- “Dan  Dia telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu,”      Ilmu tanah (geologi) telah membuktikan bahwa gunung-gunung sangat besar peranannya dalam menjaga bumi ini dari gangguan gempa bumi.
     Demikian pula fungsi   para  pemimpin masyarakat  atau pemimpin agama --  yang dalam Al-Quran pun dimisalkan sebagai  gunung --   karena mereka    dapat menjadi sarana “peredam” terjadinya berbagai goncangan atau gejolak  di kalangan masyarakat, bukan malah sebaliknya, yakni  demi kepentingan pribadi atau  golongannya (kelompoknya) atau komunitasnya --  mereka justru menjadi para “pemicu” terjadinya gejolak atau goncangan dalam masyarakat, sehingga masyararakat semakin terpecah-belah menjadi berbagai macam  kelompok atau firqah  yang  saling bertentangan, terutama di kalangan umat beragama (QS.30:31-33).
       Makna ayat selanjutnya: وَ اَنۡہٰرًا وَّ سُبُلًا  لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ  -- “dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat petunjuk. وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ --  Dan Dia  menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah yang benar.”  
       Kata subul (jalan-jalan) di sini tidak berarti jalan-jalan buatan yang dikerjakan oleh tangan manusia, melainkan jalan-jalan alam yang dibentuk oleh celah-celah gunung, sungai-sungai, dan lembah-lembah, yang telah dimanfaatkan sebagai jalan raya sepanjang masa.

Hikmah Adanya Perbedaan  Keadaan Permukaan Bumi

        Ayat:   وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ --  “Dan Dia  menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah yang benar” mengandung arti, bahwa sekiranya bumi ini permukaannya datar seluruhnya dan tidak ada pendakian dan penurunan, tidak ada lembah-lembah, gunung-gunung atau sungai-sungai, maka boleh dikata hampir tidak mungkin bagi manusia untuk mencari jalan dari satu tempat ke tempat lain.
       Ciri-ciri khas yang berbeda-beda pada permukaan bumi menolong manusia untuk mengetahui jalan mereka. Zaman sekarang, sempadan-sempadan (tanda-tanda batas) alami telah terbukti merupakan penolong besar untuk penerbangan. Bintang-bintang pun menolong kaum musafir kelana menemukan jalan mereka di daratan dan di lautan pada kegelapan malam.
     Sehubungan dengan kesempurnaan penciptaan alam semesta tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  مَا تُسِرُّوۡنَ وَ مَا  تُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  لَا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ  یُخۡلَقُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡوَاتٌ غَیۡرُ  اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ۙ اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿٪﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran?  وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا --   Dan  jika  kamu  menghitung nikmat-nikmat Allah,  kamu tidak akan dapat menghitungnya,  اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan  Allah mengetahui apa pun yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu zahirkan. وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  لَا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ  یُخۡلَقُوۡنَ  --   Dan  mereka yang diseru selain Allah, mereka itu tidak menjadikan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri yang telah diciptakan.  اَمۡوَاتٌ غَیۡرُ  اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ۙ اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ --  Mereka itu mati, tidak hidup, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. (An-Nahl [16]:11-22).
Firman-Nya lagi: 
وَ اٰیَۃٌ  لَّہُمُ الۡاَرۡضُ الۡمَیۡتَۃُ ۚۖ اَحۡیَیۡنٰہَا وَ اَخۡرَجۡنَا مِنۡہَا حَبًّا فَمِنۡہُ  یَاۡکُلُوۡنَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا فِیۡہَا جَنّٰتٍ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ وَّ فَجَّرۡنَا فِیۡہَا مِنَ الۡعُیُوۡنِ ﴿ۙ﴾  لِیَاۡکُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِہٖ ۙ وَ مَا عَمِلَتۡہُ اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ اَفَلَا  یَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan suatu Tanda bagi mereka  bumi yang mati, Kami menghidupkannya dan Kami mengeluarkan darinya padi-padian lalu mereka makan darinya.   Dan Kami menjadikan di dalamnya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami memancarkan di dalamnya mata-mata air.  Supaya mereka dapat makan buah-buahannya, dan sekali-kali bukan tangan mereka yang mengerjakannya,  lalu  mengapakan mereka tidak bersyukur? سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ --   Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui.  (Yā Sīn [36]:34-37).

Wahyu Ilahi Merupakan “Pasangan” Kecerdasan Otak  Manusia

       Kiasan   dalam ayat   ini bermaksud mengatakan bahwa dari tanah gersang Arabia  melalui hujan ruhani berupa wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. akan memancar sumber-sumber dan mata-mata air ilmu keruhanian, dan pohon-pohon dengan berbagai macam buah-buahan ruhani akan tumbuh di mana-mana di seluruh negeri.
       Makna ayat: سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ --   Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui” (Yā Sīn [36]:37), ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati, dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, karena unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud.
      Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan manusia. Sebelum nur-nur samawi  berupa wahyu Ilahi turun   -- terutama wahyu Al-Quran  --  manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ اٰیَۃٌ  لَّہُمُ الَّیۡلُ ۚۖ نَسۡلَخُ مِنۡہُ النَّہَارَ  فَاِذَا ہُمۡ  مُّظۡلِمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الشَّمۡسُ تَجۡرِیۡ لِمُسۡتَقَرٍّ  لَّہَا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ  الۡعَزِیۡزِ  الۡعَلِیۡمِ ﴿ؕ﴾ وَ الۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰہُ  مَنَازِلَ حَتّٰی عَادَ کَالۡعُرۡجُوۡنِ  الۡقَدِیۡمِ ﴿﴾ لَا الشَّمۡسُ یَنۡۢبَغِیۡ لَہَاۤ اَنۡ تُدۡرِکَ الۡقَمَرَ  وَ لَا الَّیۡلُ سَابِقُ النَّہَارِ ؕ وَ کُلٌّ فِیۡ  فَلَکٍ  یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Dan suatu Tanda bagi mereka adalah malam, darinya siang hari Kami tanggalkan maka tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan.   Dan  matahari beredar ke arah tujuan yang telah ditetapkan baginya, demikian itulah takdir Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.    Dan   Kami telah   menetapkan bagi bulan tingkat-tingkatnya,  hingga ia kembali lagi seperti bentuk tandan korma yang tua.  Matahari tidak mungkin  menyusul bulan,  dan tidak pula malam mendahului siang.  Dan semua itu terus beredar pada tempat peredarannya. (Yā Sīn [36]:38-41).
      Maksud ayat:  وَ الۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰہُ  مَنَازِلَ حَتّٰی عَادَ کَالۡعُرۡجُوۡنِ  الۡقَدِیۡمِ  -- “Dan   Kami telah   menetapkan bagi bulan tingkat-tingkatnya,  hingga ia kembali lagi seperti bentuk tandan korma yang tua” ialah bahwa apabila bulan zahir kembali, maka itu tampak seperti satu kelopak tua mayang pohon yang bengkok. Demikian pula halnya kebenaran yang mula-mula nampak tidak ada artinya namun tidak lama kemudian memancarkan sinarnya bagaikan bulan purnama.
        Isyarat dalam ayat:  لَا الشَّمۡسُ یَنۡۢبَغِیۡ لَہَاۤ اَنۡ تُدۡرِکَ الۡقَمَرَ  وَ لَا الَّیۡلُ سَابِقُ النَّہَارِ ؕ وَ کُلٌّ فِیۡ  فَلَکٍ  یَّسۡبَحُوۡنَ   -- “Matahari tidak mungkin  menyusul bulan,  dan tidak pula malam mendahului siang.  Dan semua itu terus beredar pada tempat peredarannya“  ini tertuju kepada peredaran benda-benda langit dalam ruang angkasa atau ruang ether. Al-Quran menentang pendapat  yang   lama  dianut (dipercayai), bahwa seluruh langit itu padat dalam susunannya. Telah menjadi ciri khas Al-Quran bahwa Kitab itu memakai ungkapan-ungkapan yang bukan saja menolak pandangan dan gagasan yang keliru, melainkan juga mendahului penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat.
       Ayat ini menunjuk pula kepada rencana dan tertib sempurna yang meliputi seluruh alam semesta, semua benda langit dan bumi melaksanakan bagian tugasnya masing-masing dengan teratur, tepat sekali tanpa kekeliruan, tanpa langgar melanggari ruang gerak masing-masing.
        Tata surya itu hanyalah merupakan salah satu dari ratusan juta susunan benda langit, yang beberapa di antaranya tidak terperikan jauh lebih besar dari tata surya kita. Namun jutaan  -- bahkan milyaran  --  matahari dan bintang yang tidak terhitung banyaknya itu tersebar bertaburan di dalam ruang kosong, yang luasnya tidak terbatas, begitu teraturnya dan terbagi dalam kelompok-kelompok dalam hubungannya satu sama lain untuk menjamin kelestarian secara keseluruhan, dan untuk menimbulkan keserasian dan keindahan di mana-mana.
        Tiap-tiap benda langit dan kelompok benda-benda langit (galaxy) mempengaruhi orbit (jalan peredaran) lain, namun masing-masing benda langit itu beredar terus dengan aman pada jalan (garis orbit) yang telah ditakdirkan Allah Swt. dan semua benda langit sebagai keseluruhan merupakan suatu keserasian agung dalam struktur dan gerakan (QS.13:3-5; QS.31:11-12; QS.67:1-6).
        Nubuatan mengenai pembuatan  sarana transportasi modern  di darat, di laut dan di udara, firman-Nya:
وَ اٰیَۃٌ  لَّہُمۡ  اَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّیَّتَہُمۡ  فِی الۡفُلۡکِ  الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقۡنَا  لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ  فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ  یُنۡقَذُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنَّا وَ مَتَاعًا اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Dan  suatu Tanda bagi mereka bahwasanya Kami angkut  anak-cucu mereka dalam bahtera-bahtera yang bermuatan penuh.  وَ خَلَقۡنَا  لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ   --  Dan Kami menciptakan bagi mereka semacam itu juga  yang akan mereka kendarai.  وَ  اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ  فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ  یُنۡقَذُوۡنَ  -- Dan jika Kami menghendaki    Kami dapat menenggelamkan mereka  maka tidak ada yang menolong mereka, dan tidak pula mereka akan diselamatkan.  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنَّا وَ مَتَاعًا اِلٰی حِیۡنٍ --   Kecuali dengan rahmat dari Kami dan sebagai bekal sampai suatu masa. (Yā Sīn [36]:41-45). 
     Al-Quran meramalkan semenjak dahulu kala bahwa Allah Swt.  akan mewujudkan sarana-sarana pengangkutan baru, antara lain berupa kapal api dan kapal lintas-samudera raksasa, balon zeppelin, pesawat terbang, dan sebagainya yang begitu banyak dipergunakan dewasa ini adalah penggenapan nubuatan Al-Quran secara jelas dan nyata.
       Peringatan Allah Swt. dalam ayat: وَ  اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ  فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ  یُنۡقَذُوۡنَ  -- Dan jika Kami menghendaki   Kami dapat menenggelamkan mereka  maka tidak ada yang menolong mereka, dan tidak pula mereka akan diselamatkan” terbukti  dengan terjadinya berbagai kecelakaan tragis yang dialami sarana-sarana transportasi modern, baik yang terjadi di darat, di  laut mau pun di udara,  antara lain berupa  kecelakaan yang menimpa   pesawat ruang angkasa   yang meledak di dalam perjalanannya di angkasa. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman: 
وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ  مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ لَیَقُوۡلُنَّ خَلَقَہُنَّ الۡعَزِیۡزُ الۡعَلِیۡمُ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ مَہۡدًا وَّ جَعَلَ لَکُمۡ فِیۡہَا سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ ۚ فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلُوۡا لَہٗ  مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَکَفُوۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿ؕ٪﴾
Dan jika engkau menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan seluruh langit dan bumi?" Pasti mereka akan berkata: "Semua diciptakan oleh Tuhan  Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”    Yaitu Dia  Yang telah menja-dikan bumi bagi kamu hamparan, dan telah menjadikan  bagi kamu di dalam-nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk. وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ  --   Dan Yang menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu  فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan.   وَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا  -- Dan Yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ  --  supaya kamu duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)  kamu apabila kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ  -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan ini kepada kami, dan kami sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ  --    dan sesungguhnya kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar  akan kembali."  وَ جَعَلُوۡا لَہٗ  مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا -- Tetapi mereka menjadikan  dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَکَفُوۡرٌ  مُّبِیۡنٌ  --  Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:11-16).
        Makna ayat: وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ  --   Dan Yang menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu  فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan”      berarti, seperti halnya tanah yang kering dan gersang pun mulai hidup kembali dengan segar bila hujan jatuh di atas tanah itu, demikian pula kaum yang secara akhlak dan ruhani telah mati  memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu Ilahi, teutama wahyu Al-Quran.
      Sungguh benar pernyataan Allah Swt.  dalam ayat selanjutnya, bahwa sekali pun yang menjadi “perantara” pembuatan kapal-kapal  adalah manusia, tetapi pada hakikatnya Allah Swt. Yang membuatnya:  وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ  --  supaya kamu duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)  kamu apabila kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ  -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan ini kepada kami, dan kami sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ  --    dan sesungguhnya kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar  akan kembali." (Az-Zukhruf [43]:13-15).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 2 April    2016



2 komentar: