Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Wahyu
Ilahi Cara Mengatasi Hambatan Biaya Penerbitan Buku “Barāhin-i-Ahmadiyyah”
& Berbagai Macam Wahyu Ilahi dan Makna “Khātaman
Nabiyyīn”
Bab 27
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan
mengenai kondisi
yang dialami beliau pada saat wahyu Ilahi turun: “Lelap
sejenak yang menguasai seseorang
ketika firman Tuhan turun ke dalam hatinya, bukanlah akibat dari sesuatu
hal eksternal, dimana keadaan kondisi jasmani seolah terhenti pada
saat itu. Ketika seorang bertakwa
yang memiliki hubungan kecintaan dan
ketulusan yang hakiki dengan Tuhan-nya, mengajukan permohonan doa kepada-Nya, pada saat
demikian ia terkadang mengalami lelap
ringan walau sedang dalam keadaan berdoa, dan ia merasa seperti terbangun dan menemukan jawaban
atas permohonannya itu yang turun
kepadanya dalam bentuk kata-kata yang
fasih.
Firman
demikian mengandung keagungan dan kegembiraan dimana kekuasaan Ilahi terasa bersinar
di dalamnya. Firman tersebut menembus hati seperti sebuah paku besi dan seringkali mengandung hal-hal tersembunyi. Seringkali terjadi dimana ketika orang bertakwa itu mengajukan suatu permohonan tentang hal yang berkaitan
dengan permohonan sebelumnya, atau
pun suatu permohonan yang baru sama sekali, ia akan mengalami lelap ringan yang akan hilang lagi
dalam waktu sekejap, dan dari sana akan muncul kata-kata suci, laiknya biji
yang keluar dari kulitnya, yang
terasa nikmat dan penuh keagungan. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang menjawab setiap pertanyaan hamba-Nya dengan segala kelembutan serta tidak ada mengemukakan
suatu penghinaan atau kesebalan.
Kalau ada yang mendoa sebanyak 60 kali, 70 kali atau pun 100 kali, jawabannya pun akan diterima dengan
cara yang sama. Setiap kali suatu permohonan
diajukan, pada saat itu ada kantuk
ringan yang menguasai si penerima
wahyu. Terkadang keadaan lelap
tersebut menjadi lebih berat,
seolah-olah yang bersangkutan menjadi pingsan. Wahyu seperti
ini biasanya berkaitan dengan suatu masalah
yang amat penting dan merupakan wahyu dari derajat yang tertinggi.
Rasa lelap
yang dialami seorang penerima wahyu
pada saat berdoa yang merupakan layar tabir dari turunnya wahyu Ilahi, bukanlah akibat dari sebab-sebab jasmani. Apa pun yang
dikemukakan para dokter berkaitan
dengan hukum alam tentang tidur,
tidak berlaku dalam keadaan demikian. Masih terdapat beratus-ratus masalah keruhanian
yang bertentangan dengan pandangan
para filosof.
Seringkali seseorang bisa melihat dalam suatu kasyaf suatu obyek yang terpisah beribu-ribu
kilometer yang terlihat seolah-olah di depan
mata. Begitu pula seseorang dimungkinkan bertemu dan berbicara
dalam keadaan sadar sepenuhnya
dengan ruh orang-orang yang telah meninggal dunia.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 111-112, London, 1984).
Berbagai Bentuk Wahyu
Ilahi & Hambatan Biaya Penerbitan Buku “Barāhin-i-Ahmadiyyah”
Karya tulis Masih Mau’ud a.s. yang mengundang
berbagai pujian tokoh-tokoh Muslim di Hindustan dalam membela
kesucian Nabi Besar Muhammad saw. dan
kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) adalah “Barahin-i-Ahmadiya”
berisi dalil-dalil kesempurnaan Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.. Penulisan
buku tersebut dilakukan sebelum beliau diperintahkan Allah Swt. untuk mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud a.s..
Namun dalam pelaksanaan penerbitan buku
“Barahin-i-Ahmadiyya” tersebut
terkendala masalah biaya penerbitannya, sehubungan dengan masalah
tersebut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan:
“Dari sekian banyak bentuk wahyu yang telah diungkapkan Allah Swt. kepadaku, salah satunya adalah ketika Tuhan ingin mengungkapkan suatu hal tersembunyi
dengan cara menzahirkannya sebagai kata-kata yang mengalir dari bibir, saat yang bersangkutan dalam keadaan lelap ringan, terkadang dalam kata-kata yang lembut dan terkadang secara keras.
Kalimat-kalimat
yang meluncur dari lidah terasa keras seperti hujan es yang menghantam tanah yang keras, atau sebagai ladam kuda yang sedang berlari cepat menghantam bumi. Wahyu seperti itu turunnya cepat sekali dan begitu menggentarkan, sehingga seluruh tubuh terpengaruh dimana lidah yang bersangkutan berbicara
demikian cepat dengan suara yang agung seolah-olah bukan
lidahnya sendiri. Keadaan lelap
itu hilang begitu wahyu selesai, tetapi
saat turunnya maka tubuh yang bersangkutan tergeletak seperti orang mati.
Wahyu
seperti itu biasanya turun ketika Allah Swt. berdasar kebijakan-Nya memutuskan untuk tidak mengabulkan suatu permohonan, menunda
saat pengabulannya atau bermaksud menyampaikan
sesuatu yang akan memberatkan si penerima wahyu. Sebagai contoh adalah ketika
seseorang menginginkan sesuatu dalam
waktu segera sedangkan hal itu bertentangan
dengan keinginan Ilahi atau harus ditunda pengabulannya.
Aku sendiri beberapa kali menerima wahyu seperti itu, yang akan terlalu
panjang jika diuraikan secara rinci, namun aku akan memberikan satu contoh.
Sekitar 3 tahun yang lalu aku berdoa
agar orang-orang tergugah untuk membantu penerbitan
buku [Barāhin-i- Ahmadiyyah] ini, dimana saat itu aku menerima wahyu jenis ini dalam bentuk kata-kata
yang keras: “Belum saatnya.”
Ketika menerima wahyu ini,
aku memberitahukannya kepada beberapa orang Hindu dan Muslim yang
sekarang masih banyak yang hidup, dimana mereka menyaksikan kurangnya minat orang-orang terhadap buku ini.
Mengenai bentuk lain dari wahyu yang kata-katanya mengalir dari lidah
dengan kelembutan, contohnya adalah
ketika setelah berlangsung suatu masa setelah wahyu di atas, saat aku sedang mengalami berbagai kesulitan, suatu hari aku menerima wahyu yang berbunyi:
وَ ہُزِّیۡۤ اِلَیۡکِ بِجِذۡعِ النَّخۡلَۃِ تُسٰقِطۡ عَلَیۡکِ رُطَبًا جَنِیًّا ﴿۫﴾
“Goyangkanlah
ke arah engkau batang pohon kurma
itu, ia akan menjatuhkan atas engkau buah
kurma yang matang lagi segar.”[1]
Dari sini aku memperoleh indikasi bahwa aku sebaiknya meminta bantuan orang-orang lain, dan
terkandung di dalam wahyu itu suatu janji bahwa melalui upaya demikian akan terkumpul uang yang cukup guna
membiayai pencetakan buku
tersebut.
Aku memberitahukan isi wahyu itu kepada beberapa orang Hindu dan Muslim serta kepada Hafiz
Hidayat Ali Khan, pejabat Assisten Komisioner, yang tiba di Qadian pada
hari itu atau keesokan harinya. Aku juga telah memberitahukan hal ini kepada Maulvi Muhammad Husain dari Batala.
Singkat kata, setelah menerima wahyu tersebut, sejalan dengan perintah Ilahi, aku telah melakukan
beberapa upaya untuk mengundang bantuan dan hasilnya aku menerima kiriman uang dari Lahore, Peshawar,
Rawalpindi, Malerkotla dan beberapa tempat lainnya, yang jumlahnya cukup untuk
membiayai pencetakan bagian buku tersebut. Segala puji bagi Allah Swt.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir
Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
248-251, London, 1984).
Kadang-kadang Wahyu Ilahi Turun Dalam Bahasa Asing
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa kadangkala wahyu Ilahi yang beliau terima dalam berbagai bahasa -- selain bahasa Urdu dan bahasa Arab -- sehingga
perlu melihat kamus untuk dapat mengerti wahyu
Ilahi yang beliau terima tersebut:
“Bentuk kedua dari wahyu -- yang karena kandungan keajaibannya
aku anggap sebagai wahyu yang
sempurna -- adalah ketika Allah Yang
Maha Perkasa ingin memberitahu hamba-Nya tentang suatu yang tersembunyi
berdasarkan doa yang bersangkutan atau pun karena keinginan Tuhan sendiri. Pada saat demikian Dia akan menimbulkan keadaan seperti pingsan dimana yang
bersangkutan lupa sepenuhnya
akan keadaan dirinya dan terasa
seperti menyelam ke lubuk air yang dalam dan menghilang di
dasarnya.
Ketika ia muncul dari penyelaman itu, ia merasakan sejenis gema di dalam dirinya yang kemudian diikuti untaian kata-kata yang tepat, cantik dan manis. Penyelaman ke dalam kefanaan
demikian itu merupakan pengalaman
mengasyikkan yang tidak mungkin diuraikan dengan kata-kata. Dalam keadaan demikian itulah seluruh samudra pengertian dibukakan kepada
yang bersangkutan.
Jika sudah berulangkali mengalami penyelaman demikian yang dilantarankan
oleh Allah Yang Maha Agung, dan ia menerima respons (tanggapan) atas segala permohonannya dalam kata-kata
yang indah, dimana Tuhan mengungkapkan
baginya kebenaran yang berada di luar jangkauan manusia biasa, maka
ia akan mencapai tingkat kadar pemahaman
dan pengenalan sepenuhnya.
Permohonan
manusia dan pengabulan Tuhan melalui
manifestasi Ketuhanan-Nya merupakan pengalaman seolah-olah si pemohon itu melihat Tuhan di dunia ini juga, dan kedua
dunia itu terlihat seimbang dalam pandangannya.
Saat seorang hamba ketika sedang dalam masa kesulitan
mengajukan permohonan doa
berulangkali kepada Tuhan-nya dan ia
menerima respons (tanggapan) yang terangkum dalam kata-kata yang indah, terkadang dalam bahasa yang sebenarnya tidak
dikenalnya sama sekali, serta mengandung hal-hal tersembunyi yang berada di luar kuasa makhluk,
terkadang berisi kabar gembira tentang karunia akbar, derajat
yang tinggi dan kedekatan kepada Tuhan,
atau pun mengandung nubuatan-nubuatan
tentang karunia keduniaan lainnya,
maka dengan mendengar kalimat-kalimat
indah dan fasih yang berada di
luar kemampuan manusia untuk mengarangnya, ia akan mencapai suatu tingkatan pengertian yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang menerima karunia demikian itu.
Sesungguhnya orang-orang seperti itu akan
mengenali Tuhan-nya sebagaimana seseorang mengenali seorang sahabat lama yang akrab. Wahyu seperti itu biasanya berkaitan
dengan hal-hal akbar. Terkadang di
dalamnya mengandung kata-kata yang
harus dicari artinya dalam sebuah kamus. Beberapa kali aku menerima wahyu seperti itu dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris atau bahasa lain yang sama sekali aku
tidak mengenalnya.”’ (Brahin-i-
Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 260-264, London, 1984).
Wahyu Ilahi Berupa
“Suara” dan “Tulisan”
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan jenis-jenis wahyu Ilahi
lainnya yang pernah beliau alami:
“Bentuk ketiga
dari wahyu disampaikan ke dalam kalbu seseorang dengan cara yang halus. Suatu kalimat
melintas di dalam hati tetapi tidak
mengandung semua keajaiban yang
merupakan karakteristik dari wahyu
yang sempurna. Wahyu seperti ini tidak selalu didahului oleh rasa kantuk ringan atau kehilangan
kesadaran.
Wahyu
seperti ini bisa saja diterima dalam keadaan jaga (sadar) sepenuhnya. Terasanya seperti ada seseorang
meniupkan kata-kata itu ke dalam hati
dimana yang bersangkutan bisa saja dalam keadaan jaga sepenuhnya atau setengah
terjaga. Terkadang setelah masuk ke dalam hati, kata-kata itu mensiratkan nurnya sehingga yang bersangkutan langsung menyadari bahwa kata-kata
tersebut berasal dari Tuhan.
Wahyu
demikian memberikan ketentraman dan kepuasan dalam hati, seperti udara yang dihisap paru-paru yang memberikan kenyamanan
kepada jantung dan anggota tubuh. Fikiran
yang resah kemudian menjadi tenang dan gembira. Semua itu merupakan misteri
yang tidak diketahui manusia awam,
tetapi orang-orang berpengertian
yang telah memperoleh karunia misteri
Ilahi bisa memahaminya dengan
baik. Aku sendiri sudah sering kali
menerima wahyu seperti itu.
Bentuk keempat dari wahyu ialah
ketika Allah Swt. mengungkapkannya
dalam bentuk ru’ya atau mimpi yang benar, dimana misalnya seorang malaikat
yang mengambil bentuk manusia akan membukakan suatu hal yang tersembunyi, atau bisa juga berbentuk tulisan di atas secarik kertas atau sekeping
batu atau pun bentuk-bentuk
lainnya, yang semuanya mengungkapkan
misteri-misteri yang tersembunyi.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah,
Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
273-274, London, 1984).
Masih Mau’ud a.s.
bersabda lagi:
“Bentuk kelima
dari wahyu adalah ketika seseorang mendengar
suara eksternal dari orang yang sepertinya berbicara di belakang
suatu tabir, hanya saja suara yang disampaikan secara cepat tersebut terkesan amat menyenangkan dan menggembirakan hati. Turunnya wahyu
bisa ketika seseorang sedang berfikir
secara tekun dan tiba-tiba terdengar suara yang membuat yang bersangkutan terkesima menduga-duga dari arah mana
datangnya.
Saat ia mencari-cari siapa yang berbicara, tersadar batinnya bahwa datangnya dari malaikat. Umumnya wahyu
demikian menyampaikan kabar suka ketika
seseorang sedang bersedih dilanda duka atau dicengkeram ketakutan mendengar berita buruk.
Wahyu
seperti ini bukan merupakan akibat dari permohonan
doa berulang. Malaikat begitu
saja menyampaikan suatu berita
ketika Allah Yang Maha Agung
menginginkannya, berbeda dengan bentuk wahyu
lain yang turun karena permohonan berulang kepada Tuhan. Jika
ada yang mengajukan 100 kali permohonan
maka ia juga akan menerima100 jawaban
dari Yang Maha Pemurah, sebagaimana
kesan pengalamanku sendiri.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. I, hlm. 287-288, London,1984).
Berjumpa dengan Para Nabi Allah yang Telah Wafat
Sehubungan dengan kasyaf (penglihatan ruhani), Masih Mau’ud a.s. menceritakan pengalaman ruhani beliau berupa perjumpaan dengan para Rasul Allah yang telah wafat:
“Aku sudah beberapa kali berjumpa dalam kasyaf
dengan Nabi Isa a.s. (Yesus)
disamping beberapa nabi lainnya dalam keadaan jaga sepenuhnya. Aku juga sudah bertemu dan berbicara
berulang-kali dengan Junjungan dan Penghulu kita Muhammad Saw. dalam keadaan sadar
yang bebas dari lelap atau pun lamunan.
Aku juga pernah berjumpa beberapa orang
yang sudah meninggal dunia di kuburan mereka masing-masing, dan pernah berbincang-bincang dengan mereka dalam keadaan sadar sepenuhnya. Karena itulah aku yakin sekali bahwa bertemu
dengan orang-orang yang sudah meninggal lalu berbicara dan menjabat tangan mereka adalah hal yang sangat mungkin.
Sebenarnya tidak ada perbedaan berarti di antara keadaan
jaga seperti ini dengan keadaan
sadar yang normal. Kita akan merasa bahwa kita tetap ada di dunia ini lengkap dengan telinga, mata dan lidah,
namun juga merasa seperti berada di dunia lain. Manusia duniawi
tidak ada yang menyadari tentang
keadaan jaga demikian karena mereka
memang tidak menghiraukan, sedangkan
kesadaran seperti itu merupakan karunia langit.
Kesadaran
seperti itu dikaruniakan kepada
mereka yang telah memperoleh indera-indera
baru. Semua ini benar adanya dan
merupakan fakta.” (Masih
Hindustan Mein, Machine Press, Qadian, 1908, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XV, hlm. 36-37,
London, 1984).
Diperlukan Kapasitas
Untuk Menerima Wahyu Ilahi & Dua Ujung Garis
Vertikal Kemanusiaan
Tidak
sembarang orang dapat menjadi nabi
(rasul) Allah, demikian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam
sabdanya berikut ini:
“Untuk bisa menerima wahyu seseorang memerlukan kapasitas dan kemampuan.
Tidak semua orang bisa menjadi nabi
Allah dan menjadi penerima wahyu.
Kitab Suci Al-Quran ada memberikan indikasi
mengenai hal ini dalam ayat:
وَ اِذَا جَآءَتۡہُمۡ اٰیَۃٌ قَالُوۡا لَنۡ
نُّؤۡمِنَ حَتّٰی
نُؤۡتٰی
مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ رُسُلُ اللّٰہِ ؕۘؔ اَللّٰہُ اَعۡلَمُ
حَیۡثُ یَجۡعَلُ رِسَالَتَہٗ
Apabila datang kepada mereka suatu tanda, berkata mereka: “Kami sekali-kali tidak akan beriman sebelum kami diberikan seperti apa apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul
Allah.” Allah amat mengetahui dimana
Dia akan menempatkan risalah-Nya’ (Al-An’ām
[6]:125).
Berarti Tuhan itu tahu betul siapa yang mampu dan tidak mampu menerima wahyu.
Dia akan mengaruniakan berkat wahyu
kepada siapa yang memiliki kemampuan
dan kapasitas yang sesuai.
Sang Pencipta
Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dalam segala jenis untuk berbagai tujuan, dimana umat manusia secara
keseluruhan mirip dengan sebuah garis yang ujung satunya terletak di tempat yang sangat tinggi, sedangkan ujung lainnya di tempat yang sangat rendah.
Pada ujung
yang tinggi adalah jiwa-jiwa yang
murni yang memiliki kapasitas
sempurna dan di ujung yang terendah
adalah mereka yang lebih dekat
kepada sifat hewaniah sedangkan yang
di tengah adalah mereka dengan beraneka kapasitas.
Keragaman
ini dibenarkan oleh penelitian, dan
jelas tidak ada manusia yang bisa
membantah bahwa umat manusia berada
pada tingkatan pemahaman, ketakwaan, takutnya kepada Tuhan
dan kadar kasih Tuhan kepadanya yang amat bervariasi.
Sebagaimana keadaan seseorang yang dilahirkan sudah cantik dan yang lainnya dilahirkan dengan wajah biasa-biasa saja, begitu pula ada yang lahir dengan daya lihat yang baik dan yang lainnya buta,
ada yang lahir normal dan ada yang cacat, begitu jugalah fitrat intelektual dan spiritual masing-masing manusia sudah
merupakan bagian dari dirinya.
Memang benar, bahwa setiap pribadi -- sepanjang otaknya
waras -- bisa memperoleh kemajuan dalam penalaran, ketakwaan dan
kecintaannya kepada Tuhan, namun harus tetap diingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melampaui batasan dari kapasitas dirinya.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I,
hlm. 181-182, London, 1984).
Ujung teratas (tertinggi) “garis vertikal” kemanusiaan sebagaimana yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut ditempati
oleh Nabi Besar Muhammad saw.,
sehingga Allah Swt. telah memberi beliau saw. gelar “Khātaman-Nabiyyīn, firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ
خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb
[33]:41).
Makna Kata Khātam
Khātam berasal dari kata khatama yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua
ialah: ia mencapai ujung benda itu;
atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan
dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun.
Khātam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda;
ujung atau bagian terakhir dan hasil
atau anak (cabang) suatu benda. Kata
itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau paling sempurna.
Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama artinya (Lexicon Lane, Al-Mufradat; Fath-ul-Bari; dan Zurqani). Maka kata khātaman
nabiyyin akan berarti: meterai
para nabi; yang terbaik dan paling sempurna
dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir.
Ayat ini mengatakan bahwa
Baginda Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak
ruhani seluruh umat manusia dan
beliau juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa beliau saw. adalah bapak
ruhani seluruh nabi Allah.
Oleh karena itu jika Nabi Besar Muhammad saw. merupakan bapak
ruhani semua orang beriman dan
semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat
disebut abtar atau tak berketurunan (abtar)
sebagaimana bantahan Allah Swt. dalam QS.108:1-4. Itulah sebabnya kewafatan putra-putra jasmani beliau
saw. pada waktu kecil tidak merupakan
aib
bagi beliau saw. sebagaimana tuduhan dusta serta fitnah
yang dilontarkan para penentang
beliau saw., sebab kedudukan beliau
saw. sebagai “bapak ruhani” lebih
mulia dari sekedar sebagai “bapak jasmani”
belaka, firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ
خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb
[33]:41).
Apabila ungkapan وَ
خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ini diambil dalam arti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah nabi
yang terakhir, dan bahwa tidak ada
nabi Allah akan datang sesudah beliau, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai
pertautan dengan konteks ayat, dan
daripada menyanggah ejekan
orang-orang kafir bahwa beliau
saw. seorang yang abtar (tidak berketurunan), malahan mendukung dan menguatkannya,
karena akan berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. baik dari segi
jasmani mau pun dari segi ruhani adalah seorang yang abtar (terputus keturunannya). Na’ādzubillāhi
min dzālik.
Berbagai Makna Khātaman
Nabiyyīn
Pendek kata, menurut arti yang
tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman
Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
(1) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah
meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya
tidak bermeteraikan beliau saw. Kenabian
semua nabi Allah yang sudah lampau
harus dikuatkan dan disahkan oleh beliau saw. dan juga tidak ada seorang pun yang
dapat mencapai tingkat kenabian
sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut
beliau (QS.3:32; QS.4:70).
(2) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah nabi Allah yang terbaik, termulia, dan
paling sempurna dari antara semua nabi
Allah dan juga beliau saw. adalah sumber
hiasan bagi mereka (Zurqani,
Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
(3) Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang terakhir di antara para nabi
pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka,
orang-orang suci dan waliullah
seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan
lain-lain.
Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah
itu, tidak ada nabi Allah dapat
datang sesudah Nabi Besar Muhammad saw.
yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau saw. atau yang akan
datang dari luar umat beliau saw. (Futuhat, Tafhimat, Maktubat,
dan Yawaqit wa’l Jawahir).
Sitti Aisyah r.a., istri Nabi
Besar Muhammad saw. yang amat
berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw,.) adalah Khātaman Nabiyyīn, tetapi janganlah
mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah
beliau” (Mantsur).
(4) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah nabi
Allah yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya
dan selengkap-lengkapnya dalam diri
beliau saw.
Khatam dalam arti sebutan terakhir
untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim
dipakai. Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya
nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad
saw. wafat (QS.7:35-36;
QS,61:10; QS.62:3-4).
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau saw. pernah
bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra
beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik
orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz-ul-Umal),
sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut selaras dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. (An-Nisa [4]:70-71).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 22 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar