Jumat, 22 April 2016

Wahyu Ilahi Cara Mengatasi Hambatan Biaya Penerbitan Buku "Baraahin Ahmadiyyah" & Berbagai Macam "Wahyu Ilahi" dan Makna "Khaataman-Nabiyyiin"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


   Wahyu Ilahi  Cara Mengatasi Hambatan Biaya Penerbitan Buku “Barāhin-i-Ahmadiyyah”  & Berbagai Macam Wahyu Ilahi  dan Makna “Khātaman Nabiyyīn

Bab 27


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan  mengenai kondisi yang dialami beliau pada saat wahyu Ilahi  turun: Lelap sejenak yang menguasai seseorang ketika firman Tuhan turun ke dalam hatinya, bukanlah akibat dari sesuatu hal eksternal, dimana keadaan kondisi jasmani seolah terhenti pada saat itu. Ketika seorang bertakwa yang memiliki hubungan kecintaan dan ketulusan yang hakiki dengan Tuhan-nya, mengajukan permohonan doa kepada-Nya, pada saat demikian ia terkadang mengalami lelap ringan walau sedang dalam keadaan berdoa,  dan ia merasa seperti terbangun dan menemukan jawaban atas permohonannya itu yang turun kepadanya dalam bentuk kata-kata yang fasih.
   Firman demikian mengandung keagungan dan kegembiraan dimana kekuasaan Ilahi terasa bersinar di dalamnya. Firman tersebut menembus hati seperti sebuah paku besi dan seringkali mengandung hal-hal tersembunyi. Seringkali terjadi dimana ketika orang bertakwa itu mengajukan suatu permohonan tentang hal yang berkaitan dengan permohonan sebelumnya, atau pun suatu permohonan yang baru sama sekali, ia akan mengalami lelap ringan yang akan hilang lagi dalam waktu sekejap,  dan dari sana akan muncul kata-kata suci, laiknya biji yang keluar dari kulitnya, yang terasa nikmat dan penuh keagungan. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang menjawab setiap pertanyaan hamba-Nya dengan segala kelembutan serta tidak ada mengemukakan suatu penghinaan atau kesebalan.
   Kalau ada yang mendoa sebanyak 60 kali, 70 kali atau pun 100 kali, jawabannya pun akan diterima dengan cara yang sama. Setiap kali suatu permohonan diajukan, pada saat itu ada kantuk ringan yang menguasai si penerima wahyu. Terkadang keadaan lelap tersebut menjadi lebih berat,  seolah-olah yang bersangkutan menjadi pingsan. Wahyu seperti ini biasanya berkaitan dengan suatu masalah yang amat penting dan merupakan wahyu dari derajat yang tertinggi.
   Rasa lelap yang dialami seorang penerima wahyu pada saat berdoa yang merupakan layar tabir dari turunnya wahyu Ilahi, bukanlah akibat dari sebab-sebab jasmani. Apa pun yang dikemukakan para dokter berkaitan dengan hukum alam tentang tidur, tidak berlaku dalam keadaan demikian. Masih terdapat beratus-ratus masalah keruhanian yang bertentangan dengan pandangan para filosof.
    Seringkali seseorang bisa melihat dalam suatu kasyaf suatu obyek yang terpisah beribu-ribu kilometer yang terlihat seolah-olah di depan mata. Begitu pula seseorang dimungkinkan bertemu dan berbicara dalam keadaan sadar sepenuhnya dengan ruh orang-orang yang telah meninggal dunia.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  111-112, London, 1984).

Berbagai Bentuk Wahyu Ilahi  & Hambatan Biaya Penerbitan Buku “Barāhin-i-Ahmadiyyah

      Karya tulis Masih Mau’ud a.s. yang mengundang  berbagai pujian  tokoh-tokoh Muslim di Hindustan dalam membela kesucian Nabi Besar Muhammad saw. dan kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) adalah “Barahin-i-Ahmadiya” berisi dalil-dalil kesempurnaan Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.. Penulisan buku tersebut dilakukan sebelum beliau diperintahkan Allah Swt. untuk mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud a.s..
  Namun dalam pelaksanaan penerbitan buku “Barahin-i-Ahmadiyya” tersebut terkendala masalah biaya penerbitannya, sehubungan dengan masalah tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
   “Dari sekian banyak bentuk wahyu yang telah diungkapkan Allah Swt. kepadaku, salah satunya adalah ketika Tuhan ingin mengungkapkan suatu hal tersembunyi dengan cara menzahirkannya sebagai kata-kata yang mengalir dari bibir,  saat yang bersangkutan dalam keadaan lelap ringan, terkadang dalam kata-kata yang lembut dan terkadang secara keras.
    Kalimat-kalimat yang meluncur dari lidah terasa keras seperti hujan es yang menghantam tanah yang keras,  atau sebagai ladam kuda yang sedang berlari cepat menghantam bumi. Wahyu seperti itu turunnya cepat sekali dan begitu menggentarkan, sehingga seluruh tubuh terpengaruh dimana lidah yang bersangkutan berbicara demikian cepat dengan suara yang agung seolah-olah bukan lidahnya sendiri. Keadaan lelap itu hilang begitu wahyu selesai, tetapi saat turunnya maka tubuh yang bersangkutan tergeletak seperti orang mati.
    Wahyu seperti itu biasanya turun ketika Allah Swt. berdasar kebijakan-Nya memutuskan untuk tidak mengabulkan suatu permohonan, menunda saat pengabulannya atau bermaksud menyampaikan sesuatu yang akan memberatkan si penerima wahyu. Sebagai contoh adalah ketika seseorang menginginkan sesuatu dalam waktu segera sedangkan hal itu bertentangan dengan keinginan Ilahi atau harus ditunda pengabulannya.
   Aku sendiri beberapa kali menerima wahyu seperti itu, yang akan terlalu panjang jika diuraikan secara rinci, namun aku akan memberikan satu contoh. Sekitar 3 tahun yang lalu aku berdoa agar orang-orang tergugah untuk membantu penerbitan buku [Barāhin-i- Ahmadiyyah] ini, dimana saat itu aku menerima wahyu jenis ini dalam bentuk kata-kata yang keras: “Belum saatnya.”  Ketika menerima wahyu ini, aku memberitahukannya kepada beberapa orang Hindu dan Muslim yang sekarang masih banyak yang hidup, dimana mereka menyaksikan kurangnya minat orang-orang terhadap buku ini.
   Mengenai bentuk lain dari wahyu yang kata-katanya mengalir dari lidah dengan kelembutan, contohnya adalah ketika setelah berlangsung suatu masa setelah wahyu di atas, saat aku sedang mengalami berbagai kesulitan, suatu hari aku menerima wahyu yang berbunyi:
وَ ہُزِّیۡۤ  اِلَیۡکِ بِجِذۡعِ النَّخۡلَۃِ  تُسٰقِطۡ عَلَیۡکِ  رُطَبًا جَنِیًّا ﴿۫﴾
Goyangkanlah ke arah engkau batang pohon kurma itu, ia akan menjatuhkan atas engkau buah kurma yang matang lagi segar.”[1]
     Dari sini aku memperoleh indikasi  bahwa aku sebaiknya meminta bantuan orang-orang lain,  dan terkandung di dalam wahyu itu suatu janji bahwa melalui upaya demikian akan terkumpul uang yang cukup guna membiayai pencetakan buku tersebut.  
      Aku memberitahukan isi wahyu itu kepada beberapa orang Hindu dan Muslim serta kepada Hafiz Hidayat Ali Khan, pejabat Assisten Komisioner, yang tiba di Qadian pada hari itu atau keesokan harinya. Aku juga telah memberitahukan hal ini kepada Maulvi Muhammad Husain dari Batala.
      Singkat kata, setelah menerima wahyu tersebut, sejalan dengan perintah Ilahi, aku telah melakukan beberapa upaya untuk mengundang bantuan dan hasilnya aku menerima kiriman uang dari Lahore, Peshawar, Rawalpindi, Malerkotla dan beberapa tempat lainnya, yang jumlahnya cukup untuk membiayai pencetakan bagian buku tersebut. Segala puji bagi Allah Swt.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  248-251, London, 1984).

Kadang-kadang Wahyu Ilahi Turun Dalam Bahasa Asing

      Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa kadangkala wahyu Ilahi yang beliau terima  dalam berbagai bahasa  -- selain bahasa Urdu dan bahasa Arab  -- sehingga perlu melihat kamus untuk dapat mengerti wahyu Ilahi yang beliau terima tersebut:
    “Bentuk kedua dari wahyu -- yang karena kandungan keajaibannya aku anggap sebagai wahyu yang sempurna -- adalah ketika Allah Yang Maha Perkasa ingin memberitahu  hamba-Nya tentang suatu yang tersembunyi berdasarkan doa yang bersangkutan atau pun karena keinginan Tuhan sendiri.  Pada saat demikian Dia akan menimbulkan keadaan seperti pingsan dimana yang  bersangkutan lupa sepenuhnya akan keadaan dirinya dan terasa seperti menyelam ke lubuk air yang dalam dan menghilang di dasarnya.
   Ketika ia muncul dari penyelaman itu, ia merasakan sejenis gema di dalam dirinya yang kemudian diikuti untaian kata-kata yang tepat, cantik dan manis. Penyelaman ke dalam kefanaan demikian itu merupakan pengalaman mengasyikkan yang tidak mungkin diuraikan dengan kata-kata. Dalam keadaan demikian itulah seluruh samudra pengertian dibukakan kepada yang bersangkutan.
    Jika sudah berulangkali mengalami penyelaman demikian yang dilantarankan oleh Allah Yang Maha Agung,  dan ia menerima respons (tanggapan) atas segala permohonannya dalam kata-kata yang indah, dimana Tuhan mengungkapkan baginya kebenaran yang berada di luar jangkauan manusia biasa, maka ia akan mencapai tingkat kadar pemahaman dan pengenalan sepenuhnya.      
   Permohonan manusia dan pengabulan Tuhan melalui manifestasi Ketuhanan-Nya merupakan pengalaman seolah-olah si pemohon itu melihat Tuhan di dunia ini juga, dan kedua dunia itu terlihat seimbang dalam pandangannya.
   Saat seorang hamba ketika sedang dalam masa kesulitan mengajukan permohonan doa berulangkali kepada Tuhan-nya dan ia menerima respons (tanggapan) yang terangkum dalam kata-kata yang indah, terkadang dalam bahasa yang sebenarnya tidak dikenalnya sama sekali, serta mengandung hal-hal tersembunyi yang berada di luar kuasa makhluk, terkadang berisi kabar gembira tentang karunia akbar, derajat yang tinggi dan kedekatan kepada Tuhan, atau pun mengandung nubuatan-nubuatan tentang karunia keduniaan lainnya, maka dengan mendengar kalimat-kalimat indah dan fasih yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengarangnya, ia akan mencapai suatu tingkatan pengertian yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang menerima karunia demikian itu.
   Sesungguhnya orang-orang seperti itu akan mengenali Tuhan-nya sebagaimana seseorang mengenali seorang sahabat lama yang akrab. Wahyu seperti itu biasanya berkaitan dengan hal-hal akbar. Terkadang di dalamnya mengandung kata-kata yang harus dicari artinya dalam sebuah kamus. Beberapa kali aku menerima wahyu seperti itu dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris atau bahasa lain yang sama sekali aku tidak mengenalnya.”’  (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  260-264, London, 1984).

Wahyu Ilahi Berupa “Suara” dan “Tulisan

       Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan jenis-jenis wahyu Ilahi  lainnya yang pernah beliau  alami:
      “Bentuk ketiga dari wahyu disampaikan ke dalam kalbu seseorang dengan cara yang halus. Suatu kalimat melintas di dalam hati tetapi tidak mengandung semua keajaiban yang merupakan karakteristik dari  wahyu yang sempurna. Wahyu seperti ini tidak selalu didahului oleh rasa kantuk ringan atau kehilangan kesadaran.
     Wahyu seperti ini bisa saja diterima dalam keadaan jaga (sadar) sepenuhnya. Terasanya seperti ada seseorang meniupkan kata-kata itu ke dalam hati dimana yang bersangkutan bisa saja dalam keadaan jaga sepenuhnya atau setengah terjaga. Terkadang setelah masuk ke dalam hati, kata-kata itu mensiratkan nurnya sehingga yang bersangkutan langsung menyadari bahwa kata-kata tersebut berasal dari Tuhan.
    Wahyu demikian memberikan ketentraman dan kepuasan dalam hati,  seperti udara yang dihisap paru-paru yang memberikan kenyamanan kepada jantung dan anggota tubuhFikiran yang resah kemudian menjadi tenang dan gembira. Semua itu merupakan misteri yang tidak diketahui manusia awam, tetapi orang-orang berpengertian yang telah memperoleh karunia misteri Ilahi bisa memahaminya dengan baik. Aku sendiri sudah sering kali menerima wahyu seperti itu.
     Bentuk keempat dari wahyu ialah ketika Allah Swt. mengungkapkannya dalam bentuk ru’ya atau mimpi yang benar, dimana misalnya seorang malaikat yang mengambil bentuk manusia akan membukakan suatu hal yang tersembunyi, atau bisa juga berbentuk tulisan di atas secarik kertas atau sekeping batu atau pun bentuk-bentuk lainnya, yang semuanya mengungkapkan misteri-misteri yang tersembunyi.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  273-274, London, 1984).
Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi:
    “Bentuk kelima dari  wahyu adalah ketika seseorang mendengar suara eksternal dari orang yang sepertinya berbicara di belakang suatu tabir, hanya saja suara yang disampaikan secara cepat tersebut terkesan amat menyenangkan dan menggembirakan hati. Turunnya wahyu bisa ketika seseorang sedang berfikir secara tekun dan tiba-tiba terdengar suara yang  membuat yang bersangkutan terkesima menduga-duga dari arah mana datangnya. 
    Saat ia mencari-cari siapa yang berbicara, tersadar batinnya bahwa datangnya dari  malaikat.  Umumnya wahyu demikian menyampaikan kabar suka ketika seseorang sedang bersedih dilanda duka atau dicengkeram ketakutan mendengar berita buruk.
   Wahyu seperti ini bukan merupakan akibat dari permohonan doa berulang. Malaikat begitu saja menyampaikan suatu berita ketika Allah Yang Maha Agung menginginkannya, berbeda dengan bentuk wahyu lain yang turun karena permohonan berulang kepada Tuhan. Jika ada yang mengajukan 100 kali permohonan maka ia juga akan menerima100 jawaban dari Yang Maha Pemurah, sebagaimana kesan pengalamanku sendiri.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 287-288, London,1984).

Berjumpa dengan Para Nabi Allah yang Telah Wafat

      Sehubungan dengan kasyaf (penglihatan ruhani), Masih Mau’ud a.s. menceritakan pengalaman ruhani beliau berupa perjumpaan dengan para Rasul Allah yang telah wafat:
      “Aku sudah beberapa kali berjumpa dalam kasyaf dengan Nabi Isa a.s. (Yesus) disamping beberapa nabi  lainnya dalam keadaan jaga sepenuhnya. Aku juga sudah bertemu dan berbicara berulang-kali dengan Junjungan dan Penghulu kita Muhammad Saw. dalam keadaan sadar yang bebas dari lelap atau pun lamunan.
      Aku juga pernah berjumpa beberapa orang yang sudah meninggal dunia di kuburan mereka masing-masing,  dan pernah berbincang-bincang dengan mereka dalam keadaan sadar sepenuhnya. Karena itulah aku yakin sekali bahwa bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal lalu berbicara dan menjabat tangan mereka adalah hal yang sangat mungkin.   
      Sebenarnya tidak ada perbedaan berarti di antara keadaan jaga seperti ini dengan keadaan sadar yang normal. Kita akan merasa bahwa kita tetap ada di dunia ini lengkap dengan telinga, mata dan lidah, namun juga merasa seperti berada di dunia lain.  Manusia duniawi tidak ada yang menyadari tentang keadaan jaga demikian karena mereka memang tidak menghiraukan, sedangkan kesadaran seperti itu merupakan karunia langit.
      Kesadaran seperti itu dikaruniakan kepada mereka yang telah memperoleh indera-indera baru. Semua ini benar adanya dan merupakan fakta.” (Masih Hindustan Mein, Machine Press, Qadian, 1908, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XV, hlm. 36-37, London, 1984).

Diperlukan Kapasitas Untuk Menerima Wahyu Ilahi &  Dua Ujung Garis Vertikal Kemanusiaan

      Tidak sembarang orang dapat menjadi nabi (rasul) Allah, demikian Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam sabdanya berikut ini:
      “Untuk bisa menerima wahyu seseorang memerlukan kapasitas dan kemampuan. Tidak semua orang bisa menjadi nabi Allah dan menjadi penerima wahyu. Kitab Suci Al-Quran ada memberikan indikasi mengenai hal ini dalam ayat:
وَ اِذَا جَآءَتۡہُمۡ اٰیَۃٌ  قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ حَتّٰی نُؤۡتٰی مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ رُسُلُ اللّٰہِ ؕۘؔ اَللّٰہُ اَعۡلَمُ حَیۡثُ یَجۡعَلُ رِسَالَتَہٗ
Apabila datang kepada mereka suatu tanda, berkata mereka: “Kami sekali-kali tidak akan beriman sebelum kami diberikan seperti apa apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah.” Allah amat mengetahui dimana Dia akan menempatkan risalah-Nya’ (Al-An’ām [6]:125).
       Berarti Tuhan itu tahu betul siapa yang mampu dan tidak mampu menerima wahyu. Dia akan mengaruniakan berkat wahyu kepada siapa yang memiliki kemampuan dan kapasitas yang sesuai.
    Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dalam segala jenis untuk berbagai tujuan, dimana umat manusia secara keseluruhan mirip dengan sebuah garis yang ujung satunya terletak di tempat yang sangat tinggi, sedangkan ujung lainnya di tempat yang sangat rendah.
     Pada ujung yang tinggi adalah jiwa-jiwa yang murni yang memiliki kapasitas sempurna dan di ujung yang terendah adalah mereka yang lebih dekat kepada sifat hewaniah sedangkan yang di tengah adalah mereka dengan beraneka kapasitas.
     Keragaman ini dibenarkan oleh penelitian, dan jelas tidak ada manusia yang bisa membantah bahwa umat manusia berada pada tingkatan pemahaman, ketakwaan, takutnya kepada Tuhan dan kadar kasih Tuhan kepadanya  yang amat bervariasi.
    Sebagaimana keadaan seseorang yang dilahirkan sudah cantik dan yang lainnya dilahirkan dengan wajah biasa-biasa saja, begitu pula ada yang lahir dengan daya lihat yang baik dan yang lainnya buta, ada yang lahir normal dan ada yang cacat, begitu jugalah fitrat intelektual dan spiritual masing-masing manusia sudah merupakan bagian dari dirinya.
      Memang benar,  bahwa setiap pribadi -- sepanjang otaknya waras  -- bisa memperoleh kemajuan dalam penalaran, ketakwaan dan kecintaannya kepada Tuhan, namun harus tetap diingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melampaui batasan dari kapasitas dirinya.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  181-182, London, 1984).
   Ujung  teratas (tertinggi) “garis vertikalkemanusiaan sebagaimana yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga Allah Swt. telah memberi beliau saw. gelar “Khātaman-Nabiyyīn, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).

Makna  Kata  Khātam 

    Khātam berasal dari kata khatama yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun.
     Khātam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama artinya (Lexicon Lane, Al-Mufradat; Fath-ul-Bari; dan Zurqani). Maka kata khātaman nabiyyin akan berarti: meterai para nabi; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir.
      Ayat ini mengatakan bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh umat manusia dan beliau juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa beliau saw. adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah.
      Oleh karena itu jika Nabi  Besar Muhammad saw. merupakan  bapak ruhani semua orang beriman dan semua nabi Allah, betapa beliau saw. dapat disebut abtar atau tak berketurunan (abtar) sebagaimana bantahan Allah Swt. dalam QS.108:1-4. Itulah sebabnya kewafatan putra-putra jasmani beliau saw. pada waktu kecil tidak merupakan aib   bagi beliau saw. sebagaimana tuduhan dusta  serta fitnah yang dilontarkan para penentang beliau saw., sebab kedudukan beliau saw. sebagai “bapak ruhani” lebih mulia dari sekedar sebagai “bapak jasmani” belaka, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
     Apabila ungkapan  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  ini diambil dalam arti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah nabi yang terakhir, dan bahwa tidak ada nabi Allah akan datang sesudah beliau, maka ayat ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa beliau saw.  seorang yang abtar (tidak berketurunan), malahan mendukung dan menguatkannya, karena akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  baik dari   segi jasmani mau pun dari segi ruhani  adalah seorang yang abtar (terputus keturunannya). Na’ādzubillāhi min dzālik.

Berbagai Makna     Khātaman Nabiyyīn

     Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
      (1)  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan  beliau saw.  Kenabian semua nabi Allah yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh  beliau saw.  dan juga tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut beliau (QS.3:32; QS.4:70).
    (2)  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah nabi Allah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi Allah dan juga beliau saw. adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
    (3)  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
    Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tidak ada nabi Allah dapat datang sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.  yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau saw. atau yang akan datang dari luar umat beliau saw. (Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Sitti Aisyah r.a.,    istri     Nabi Besar Muhammad saw.  yang amat berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw,.) adalah Khātaman Nabiyyīn, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
       (4)  Nabi Besar Muhammad saw. adalah nabi Allah  yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau saw.
     Khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai. Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.  wafat (QS.7:35-36; QS,61:10; QS.62:3-4).
     Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau saw. pernah bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz-ul-Umal), sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  selaras dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  (An-Nisa [4]:70-71).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22 April    2016



[1] Al-Quran,   Maryam [QS.19]:26. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar