Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Dua Penawaran Pembuatan “Singgasana” Penyambutan Ratu
Saba & Falsafah “Istana Berlantai
Kaca Bening” yang Dibuat Nabi Sulaiman a.s.
Bab 14
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna doa menaiki tunggangan (berkendara) sehubungan dengan peringatan
Allah Swt. dalam ayat: وَ اِنۡ نَّشَاۡ
نُغۡرِقۡہُمۡ فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ
لَا ہُمۡ یُنۡقَذُوۡنَ -- Dan jika Kami menghendaki Kami dapat menenggelamkan mereka maka tidak
ada yang menolong mereka, dan tidak
pula mereka akan diselamatkan” (Yā Sīn [36]:41-45),
terbukti dengan terjadinya berbagai kecelakaan tragis yang dialami sarana-sarana transportasi modern, baik
yang terjadi di darat, di laut
mau pun di udara, antara lain berupa kecelakaan
yang menimpa pesawat ruang angkasa yang meledak di dalam perjalanannya di
angkasa. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
لَیَقُوۡلُنَّ خَلَقَہُنَّ الۡعَزِیۡزُ الۡعَلِیۡمُ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ
جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ مَہۡدًا وَّ جَعَلَ لَکُمۡ فِیۡہَا سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ الَّذِیۡ
نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ
بِقَدَرٍ ۚ فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً
مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡ
خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ
مَا تَرۡکَبُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ رَبِّکُمۡ
اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ
لَنَا ہٰذَا وَ مَا کُنَّا لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلُوۡا
لَہٗ مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا ؕ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَکَفُوۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ؕ٪﴾
Dan jika engkau menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan seluruh langit dan bumi?"
Pasti mereka akan berkata: "Semua
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” Yaitu
Dia Yang telah menja-dikan bumi bagi kamu hamparan, dan telah menjadikan bagi kamu di dalam-nya jalan-jalan supaya
kamu mendapat petunjuk. وَ الَّذِیۡ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ -- Dan Yang
menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami
menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan. وَ الَّذِیۡ خَلَقَ
الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا -- Dan
Yang telah menciptakan segala sesuatu
berpasang-pasangan, وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا
تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan
bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang
ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ رَبِّکُمۡ
اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ -- supaya
kamu duduk dengan di atas punggungnya
kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan) kamu apabila
kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ
سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا وَ مَا کُنَّا
لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan
ini kepada kami, dan kami
sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar
akan kembali." وَ جَعَلُوۡا
لَہٗ مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا -- Tetapi mereka
menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai
bagian dari-Nya. اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَکَفُوۡرٌ مُّبِیۡنٌ -- Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (Az-Zukhruf
[43]:11-16).
Penundukkan Berbagai Sarana Transportasi
& Doa Naik Tunggangan
(Kendara)
Makna ayat: وَ الَّذِیۡ نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ -- Dan Yang
menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami
menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan” berarti, seperti halnya tanah yang kering dan gersang
pun mulai hidup kembali dengan segar bila hujan jatuh di atas tanah
itu, demikian pula kaum yang secara akhlak dan ruhani telah mati memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu
Ilahi, teutama wahyu Al-Quran.
Sungguh benar pernyataan Allah
Swt. dalam ayat selanjutnya, bahwa
sekali pun yang menjadi “perantara”
pembuatan kapal-kapal adalah manusia,
tetapi pada hakikatnya Allah Swt. Yang
membuatnya: وَ جَعَلَ لَکُمۡ
مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu
tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ
ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ
رَبِّکُمۡ اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ
عَلَیۡہِ -- supaya kamu
duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)
kamu apabila kamu telah duduk
di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا وَ مَا کُنَّا لَہٗ مُقۡرِنِیۡنَ -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan
ini kepada kami, dan kami
sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ اِنَّاۤ
اِلٰی رَبِّنَا لَمُنۡقَلِبُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar
akan kembali." (Az-Zukhruf [43]:13-15).
Kembali kepada
Nabi Sulaiman a.s. yang dengan karunia Allah Swt. telah memanfaatkan secara tepat-guna berbagai SDM
(sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) yang dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau -- termasuk dalam upaya beliau mengajak Ratu Saba kepada Tauhid Ilahi -- selanjutnya firman-Nya:
قَالَ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ
مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ
اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ
وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ اَمِیۡنٌ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ
مِّنَ الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ
بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ
طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ مُسۡتَقِرًّا
عِنۡدَہٗ قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ
۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ ءَاَشۡکُرُ اَمۡ اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَفَرَ
فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ کَرِیۡمٌ
﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar,
siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya sebelum mereka
datang kepadaku ber-serah diri?” Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau
sebelum engkau berdiri dari tempat
engkau, dan sesungguhnya atas itu
aku memiliki kekuatan lagi terpercaya.”
Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata: “Aku
akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau.”
Maka tatkala ia, Sulaiman,
melihatnya telah ada di hadapannya ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak
bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya
ia ber-syukur untuk manfaat dirinya sendiri, dan barangsiapa
tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku
(Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.” (An-Naml [27]:39-41).
Makna “Jin ‘Ifrit”
Arti kata ‘ifrit dalam ayat: َالَ
عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ
تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ لَقَوِیٌّ
اَمِیۡنٌ -- “Seorang
hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit) dari kalangan
para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum
engkau berdiri dari tempat engkau,
dan sesungguhnya atas itu aku
memiliki kekuatan lagi terpercaya”
berasal dari kata ‘afara yang berarti
“ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina
dia”, yaitu suatu kata yang digunakan
baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang
yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi
sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan
dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit
tersebut adalah seorang pembesar dalam
kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi
kedudukannya serta mempunyai wewenang
besar, dan karena itu sangat
percaya diri untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu
yang diberikan kepadanya.
Kalimat
maqāmika dalam
ayat: اَنَا
اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ -- “Aku
akan membawanya kepada engkau sebelum engkau
berdiri dari tempat engkau”, mengandung arti tempat
Nabi Sulaiman a.s. berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu
Saba.
Kemudian
mengenai makna kata tharf -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat
yang lain ayat selanjutnya:
قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمٌ
مِّنَ الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ
بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ
طَرۡفُکَ -- “Orang
yang memiliki pengetahuan mengenai buku
berkata: “Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan kembali kepada engkau” -- berarti:
sekilas pandang; seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang
utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
Ungkapan itu dapat diartikan: (1)
“sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”;
(3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”.
Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti: “Aku
tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah
cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.” Ungkapan “yang mempunyai pengetahuan mengenai
buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk
keuangan. Mungkin juga ia menteri
keuangan Nabi Sulaiman a.s..
Saling “Membaca”
Kekuatan Lawan Melalui Pembuatan Singgasana
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
pembuatan singgasana yang diinginkan
oleh Nabi Sulaiman a.s.:
قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ
وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ
قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ صَدَّہَا
مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” Maka
tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: “Serupa inikah singgasana engkau?” Ia
menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti
itu, dan kami telah diberi
pengetahuan sebelumnya dan kami
adalah orang-orang yang berserah diri.” Dan apa
yang senantiasa di-sembahnya selain Allah telah
menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir. (An-Naml
[27]:42-44).
Makkara-hu
dalam ayat: قَالَ نَکِّرُوۡا
لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ
اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ -- “Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk,” berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak
dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon
Lane).
Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam
terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana ini lebih baik daripada singgasananya,
sehingga singgasananya sendiri
nampak biasa saja.” Ayat ini
bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah memerintahkan pembesarnya yang
dipercayakan tugas menyiapkan singgasana
bagi Ratu Saba, supaya membuatnya demikian cantik,
sehingga Ratu itu akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan demikian Ratu Saba dapat mengerti
bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman
a.s. jauh lebih besar dan lebih unggul daripada kekuasaan
dan sumber-sumber kekayaan Ratu Saba sendiri.
Itulah nampaknya arti kalimat “apakah ia mendapat petunjuk.” Ykani Nabi Sulaiman a.s. berusaha
menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan
beliau. Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istananya nampaknya merasa
bangga oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan
Nabi Sulaiman a.s. berkehendak menyadarkan
mereka dari anggapan keliru itu
(QS.27:37).
Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s. sebagai
hadiah (QS.27:33-37), maka kata nakkiru
akan berarti bahwa singgasana itu
demikian dihiasi dan diperindah serta gambar-gambar patung yang dilukis padanya —jika memang ada— dihapus begitu sempurna, sehingga Ratu Saba tidak dapat mengenalnya kembali, firman-Nya:
فَلَمَّا
جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ
قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ صَدَّہَا
مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: “Serupa inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya
dan kami adalah orang-orang yang
berserah diri.” وَ
صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ -- Dan apa yang senantiasa disembahnya
selain Allah telah
menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir. (An-Naml
[27]:43-44).
Istana
Khusus Berlantai Kaca Bening
Kata-kata, kami telah diberi
pengetahuan sebelumnya, maknanya ialah bahwa Ratu Saba telah menjadi maklum akan kekuasaan dan sumber-sumber
kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah kepada beliau.
Namun menyerahnya Ratu
Saba secara fisik tersebut tidak lantas membuat Nabi Sulaiman a.s. puas,
karena kedudukan beliau sebagai seorang nabi
Allah berkewajiban untuk menyeru Ratu Saba dan kaumnya yang menyembah berbagai benda langit kepada Tauhid
Ilahi.
Itulah sebabnya Nabi Sulaiman
a.s. kemudian mengundang Ratu Saba
untuk berkunjung ke pusat pemerintahan
beliau di Yerusalem yang di dalamnya terdapat istana khusus untuk menerima kunjungan Ratu Saba, firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang
dalam, dan ia menyingkapkan kain dari
betisnya. Ia, Sulaiman,
berkata: “Sesungguhnya ini istana
yang berlantaikan ubin dari kaca bening.” Ia, Ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
(An-Naml
[27]: 45).
Sehubungan
dengan ayat: قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ
فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ
لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ
سَاقَیۡہَا --
“Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang
dalam, dan ia menyingkapkan kain dari
betisnya“ ungkapan kasyāfa’an
sāqihi adalah muhawarah (idiom/kiasan)
yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti menjadi siap untuk menghadapi kesukaran atau pikirannya menjadi kacau-balau atau kebingungan.
Kasyāfat
’an sāāqaiha berarti: (1) ia (perempuan)
menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia
bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia
menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
Nabi Sulaiman a.s.
menginginkan agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan
dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu Nabi Sulaiman
a.s. secara bijaksana sekali memakai cara demikian yang niscaya menyebabkan perempuan yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya. Singgasana dan Istana khusus yang Nabi Sulaiman a.s.
telah perintahkan untuk disiapkan
bagi Ratu Saba itu dimaksudkan guna tujuan itu.
Singgasana itu dibuat jauh lebih indah
dan dalam segala seginya lebih unggul
daripada singgasana Ratu Saba sendiri
yang sangat dibanggakannya. Nabi Sulaiman
a.s. berbuat demikian, agar supaya Ratu
Saba dapat menyadari, bahwa Nabi
Sulaiman a.s. itu pilihan
Tuhan, dan karunia ruhani itu
jauh lebih berlimpah-limpah daripada
yang telah dianugerahkan kepada Ratu Saba.
Keunggulan SDM milik Nabi Sulaiman a.s.
tersebut terjadi karena wahyu Ilahi senantiasa menyertai pemikiran-pemikiran
dan tindakan-tindakan Nabi Sulaiman
a.s., termasuk pembuatan istana yang
berlantai kaca bening yang falsafahnya telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikan
yang dilakukan olehnya dan kaumnya.
Falsafah Istana
Khusus Berlantai Kaca Bening & Kesuksesan
Duniawi Kaum Saba dan Kehancurannya
Istana yang
disinggung dalam ayat ini pun dibangun dengan tujuan yang sama. Sebagaimana
diperlihatkan dalam ayat ini, jalan masuk ke istana itu berlantaikan ubin terbuat dari kaca bening yang di bawahnya mengalir
air yang jernih sekali, sehingga ketika Ratu
Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu
ia menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya, dan pemandangan air itu membingungkannya dan ia
tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s. perhatian
Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba telah salah duga bahwa ubin
kaca itu genangan air, seperti itu
pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan sumber cahaya sebenarnya, karena benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka.
Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda
langit itu cahaya yang
dipancarkannya. Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s. berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai dalam
menyadarkan kekeliruan Ratu Saba berkenaan dengan benda-benda langit yang disembahnya. Perempuan yang mulia itu membuat
pengakuan atas kesalahannya, dan dari seorang penyembah
berhala-berhala kayu dan batu,
beliau menjadi seorang abdi mukhlis
Tuhan Yang Maha Esa.
Berikut adalah
firman Allah Swt. mengenai keberhasilan
duniawi kaum Saba yang mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan Ratu Saba -- yang sezaman dengan masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.
– serta masa kehancuran kejayaan kaum
Saba setelah masa pemerintahan Ratu Saba, karena mereka kembali kepada kemusyrikan, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ
یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ
بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ
جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ
اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾
ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا
کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا
الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾ وَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی
ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا
السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾
Sungguh bagi
kaum Saba benar-benar terdapat satu
Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan
dan di kiri sungai. کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ
رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ -- Kami berfirman: “Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah
dan Rabb (Tuhan) Maha
Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ
جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ
اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan Kami
menganti kedua kebun mereka itu dengan dua
kebun yang berbuah buah-buahan pahit,
pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada
mereka karena mereka tidak bersyukur.
Dan tidaklah Kami membalas seperti
itu kecuali kepada orang-orang yang
sangat tidak bersyukur. وَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی
ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا
السَّیۡرَ --
Dan Kami telah menjadikan antara mereka
dan antara kota-kota yang telah
Kami berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan
di antara kota-kota itu, Kami berfirman: سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ - “Berjalanlah
di dalamnya dengan aman malam dan siang.”
فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ
اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara
perjalanan kami,” وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ صَبَّارٍ
شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang
yang bersabar dan bersyukur. (Sabā [34]:16-20).
Pemanfaatan SDM dan SDA Kaum Saba
Saba,
sebagaimana tersebut dalam QS.27:23 sebelumnya adalah sebuah kota di negeri Yaman, terletak kira-kira tiga hari
perjalanan dari Shan’a yang disebut
juga Ma’arib. Kota ini sering
disebut-sebut dalam kitab Taurat dan
dalam kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti
yang terdapat di Arabia Selatan.
Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur
lagi berkebudayaan tinggi, dan
kepadanya Allah Swt. telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan duniawi yang serba senang dan
sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur
sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan
dan bangunan-bangunan irigasi lainnya
serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai (kanal-kanal).
Dari
antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang
dan bendungan-bendungan yang paling
tersohor ialah Bendungan Ma’arib (Encyclopaedia
of Islam, Jilid IV, hlm. 16). Tirmidzi
menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala
ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw.: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama
seorang perempuan melainkan nama seorang
laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10 orang anak laki-laki, 6 di antaranya
menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim
di sana.” (Taj-ul-‘Arus).
‘Arim
dalam ayat: فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan” berarti suatu bendungan atau beberapa
bendungan yang dibangun di
lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus
deras; atau sebuah sungai deras
yang daya desak arus airnya tidak tetahankan; atau hujan lebat (Lexicon Lane).
Ayat tersebut mengisyaratkan
kepada suatu banjir hebat telah
menyebabkan Bendungan Al-Na’ārib -- yang
menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka -- roboh
dan menggenangi seluruh wilayah,
sehingga menyebabkan kehancuran yang
luas jangkauannya: وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan Kami
menganti kedua kebun mereka itu dengan dua
kebun yang berbuah buah-buahan pahit,
pohon cemara dan sedikit pohon bidara.” (Sabā
[34]:17).
Akibat banjir
dahsyat tersebut, wilayah negeri Saba yang sebelumnya penuh dengan taman-taman asri, sungai-sungai
(kanal-kanal) dan bangunan-bangunan
anggun yang artistik telah
berubah menjadi belantara yang
membentang luas. Bendungan Al-Ma’arib
itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120
kaki tingginya tersebut hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua
sebelum Masehi (Palmer): ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا
کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا
الۡکَفُوۡرَ -- “Demikianlah Kami memberi balasan kepada
mereka karena mereka tidak bersyukur.
Dan tidaklah Kami membalas seperti
itu kecuali kepada orang-orang yang
sangat tidak bersyukur” (Sabā
[34]:18).
Doa Buruk Kaum Saba Melalui Perbuatan
Kata-kata “Kota yang telah Kami beri berkat” dalam
ayat selanjutnya: وَ جَعَلۡنَا
بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ -- “Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan
antara kota-kota yang telah Kami berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan
di antara kota-kota itu” (Sabā
[34]:19), menunjuk kepada kota Palestina,
tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., yang dengan kota
itu bangsa Saba' melangsungkan
hubungan niaga dan mendatangkan
kemakmuran.
Kata-kata, “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,”
mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan satu sama lain
sehingga mudah sekali terlihat, atau kata-kata itu dapat pula berarti kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria sangat ramai dilalui orang, aman,
dan berpenduduk cukup banyak: سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ - “Berjalanlah
di dalamnya dengan aman malam dan siang.”
Menurut Sir Williams Muir pada
waktu itu ada 70 tempat perhentian dari Hadramaut
ke Ailah pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai dilalui orang lagi aman,
diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun .
Kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba' dalam ayat
selanjutnya: فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara
perjalanan kami” (Sabā [34]:20), makna ucapan
mereka itu sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika
mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt.
-- setelah masa pemerintahan Ratu Saba -- dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa.
Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang menjadi sunyi-senyap.
Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti bahwa karena banyak
kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing,
sehingga jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak aman. Orang-orang Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru
dongeng: وَ ظَلَمُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ
وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya” (Sabā [34]:20).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 4 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar