Senin, 04 April 2016

Dua "Penawaran" Pembuatan "Singgasana" Penyambutan Ratu Saba & Falsafah "Istana Berlantai Kaca Bening" yang Dibuat Nabi Sulaiman a.s.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


    Dua Penawaran  Pembuatan “Singgasana” Penyambutan Ratu Saba & Falsafah “Istana Berlantai Kaca Bening” yang Dibuat Nabi Sulaiman a.s.

Bab 14


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  makna   doa menaiki  tunggangan  (berkendara) sehubungan dengan  peringatan Allah Swt. dalam ayat: وَ  اِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡہُمۡ  فَلَا صَرِیۡخَ لَہُمۡ وَ لَا ہُمۡ  یُنۡقَذُوۡنَ  -- Dan jika Kami menghendaki   Kami dapat menenggelamkan mereka  maka tidak ada yang menolong mereka, dan tidak pula mereka akan diselamatkan” (Yā Sīn [36]:41-45),  terbukti  dengan terjadinya berbagai kecelakaan tragis yang dialami sarana-sarana transportasi modern, baik yang terjadi di darat, di  laut mau pun di udara,  antara lain berupa  kecelakaan yang menimpa   pesawat ruang angkasa   yang meledak di dalam perjalanannya di angkasa. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman: 
وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ  مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ لَیَقُوۡلُنَّ خَلَقَہُنَّ الۡعَزِیۡزُ الۡعَلِیۡمُ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ مَہۡدًا وَّ جَعَلَ لَکُمۡ فِیۡہَا سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ ۚ فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلُوۡا لَہٗ  مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَکَفُوۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿ؕ٪﴾
Dan jika engkau menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan seluruh langit dan bumi?" Pasti mereka akan berkata: "Semua diciptakan oleh Tuhan  Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”    Yaitu Dia  Yang telah menja-dikan bumi bagi kamu hamparan, dan telah menjadikan  bagi kamu di dalam-nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk. وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ  --   Dan Yang menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu  فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan.   وَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا  -- Dan Yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ  --  supaya kamu duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)  kamu apabila kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ  -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan ini kepada kami, dan kami sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ  --    dan sesungguhnya kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar  akan kembali."  وَ جَعَلُوۡا لَہٗ  مِنۡ عِبَادِہٖ جُزۡءًا -- Tetapi mereka menjadikan  dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَکَفُوۡرٌ  مُّبِیۡنٌ  --  Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:11-16).

Penundukkan Berbagai Sarana Transportasi  & Doa Naik Tunggangan (Kendara)

      Makna ayat: وَ الَّذِیۡ  نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ  بِقَدَرٍ  --   Dan Yang menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu  فَاَنۡشَرۡنَا بِہٖ بَلۡدَۃً  مَّیۡتًا ۚ کَذٰلِکَ تُخۡرَجُوۡنَ -- lalu dengan itu Kami menghidupkan negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan”      berarti, seperti halnya tanah yang kering dan gersang pun mulai hidup kembali dengan segar bila hujan jatuh di atas tanah itu, demikian pula kaum yang secara akhlak dan ruhani telah mati  memperoleh hidup baru dengan perantaraan wahyu Ilahi, teutama wahyu Al-Quran.
      Sungguh benar pernyataan Allah Swt.  dalam ayat selanjutnya, bahwa sekali pun yang menjadi “perantara” pembuatan kapal-kapal  adalah manusia, tetapi pada hakikatnya Allah Swt. Yang membuatnya:  وَ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡفُلۡکِ وَ الۡاَنۡعَامِ مَا تَرۡکَبُوۡنَ -- dan menjadikan bagi kamu kapal-kapal serta binatang-binatang ternak yang kamu tunggangi, لِتَسۡتَوٗا عَلٰی ظُہُوۡرِہٖ  ثُمَّ تَذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ  رَبِّکُمۡ  اِذَا اسۡتَوَیۡتُمۡ عَلَیۡہِ  --  supaya kamu duduk dengan di atas punggungnya kemudian kamu mengingat nikmat Rabb (Tuhan)  kamu apabila kamu telah duduk di atasnya وَ تَقُوۡلُوۡا سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَنَا ہٰذَا  وَ مَا کُنَّا لَہٗ  مُقۡرِنِیۡنَ  -- dan kamu berkata: "Maha Suci Dia Yang telah menundukkan ini kepada kami, dan kami sekali-kali tidak mampu menundukkannya sebagai teman, وَ  اِنَّاۤ  اِلٰی  رَبِّنَا  لَمُنۡقَلِبُوۡنَ  --    dan sesungguhnya kami kepada Rabb (Tuhan) kami benar-benar  akan kembali." (Az-Zukhruf [43]:13-15).
      Kembali kepada  Nabi Sulaiman a.s.  yang   dengan karunia Allah Swt. telah memanfaatkan secara tepat-guna berbagai  SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) yang dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau   -- termasuk dalam upaya beliau mengajak Ratu Saba kepada Tauhid Ilahi  --  selanjutnya firman-Nya:
قَالَ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اَیُّکُمۡ یَاۡتِیۡنِیۡ بِعَرۡشِہَا قَبۡلَ  اَنۡ یَّاۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ ﴿﴾   قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہُ  مُسۡتَقِرًّا عِنۡدَہٗ  قَالَ ہٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّیۡ ۟ۖ لِیَبۡلُوَنِیۡۤ  ءَاَشۡکُرُ اَمۡ  اَکۡفُرُ ؕ وَ مَنۡ شَکَرَ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ  لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  کَفَرَ  فَاِنَّ رَبِّیۡ غَنِیٌّ  کَرِیۡمٌ ﴿﴾
Ia (Sulaiman) berkata: “Hai para pembesar, siapakah dari antara kamu akan membawa kepadaku singgasananya  sebelum mereka datang kepadaku ber-serah  diri?”   Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya.”  Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau.” Maka tatkala ia, Sulaiman, melihatnya telah ada di hadapannya  ia berkata: “Ini adalah dari karunia Rabb-ku (Tuhan-ku) supaya Dia mengujiku apakah aku bersyukur ataukah tidak bersyukur. Dan barangsiapa yang bersyukur  maka sesungguhnya ia ber-syukur untuk manfaat dirinya sendiri,  dan barangsiapa tidak bersyukur maka sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Mahacukup, Mahamulia.”  (An-Naml [27]:39-41).

Makna “Jin ‘Ifrit

       Arti kata  ‘ifrit dalam ayat:  َالَ عِفۡرِیۡتٌ مِّنَ الۡجِنِّ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ ۚ وَ اِنِّیۡ عَلَیۡہِ  لَقَوِیٌّ  اَمِیۡنٌ  -- “Seorang hulubalang yang gagah-perkasa (‘ifrit)  dari kalangan  para jin berkata: “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau, dan sesungguhnya atas itu aku memiliki  kekuatan lagi terpercaya  berasal dari kata ‘afara yang berarti  “ia melemparkan dia ke tanah” atau “ia menghina dia”, yaitu suatu kata yang digunakan baik untuk manusia ataupun untuk jin, dan berarti: (1) seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lexicon Lane).
      Kata-kata itu menunjukkan bahwa ‘ifrit tersebut adalah seorang pembesar dalam kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tinggi kedudukannya serta mempunyai wewenang besar, dan karena itu sangat percaya   diri  untuk dapat melaksanakan perintah atasannya dengan memuaskan dalam batas waktu yang diberikan kepadanya.
      Kalimat maqāmika dalam ayat:  اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ  تَقُوۡمَ مِنۡ مَّقَامِکَ   --  “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau”,   mengandung arti  tempat Nabi Sulaiman a.s.  berkemah dalam perjalanan beliau ke Saba dan beliau sedang menantikan duta beliau kembali dengan membawa jawaban atas surat yang beliau kirim kepada Ratu Saba.
      Kemudian mengenai  makna kata tharf  -- sehubungan kesanggupan yang dikemukakan pejabat yang lain  ayat  selanjutnya:  قَالَ الَّذِیۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمٌ  مِّنَ  الۡکِتٰبِ اَنَا اٰتِیۡکَ بِہٖ قَبۡلَ  اَنۡ یَّرۡتَدَّ اِلَیۡکَ طَرۡفُکَ   -- “Orang yang memiliki pengetahuan mengenai buku berkata:  Aku akan mendatangkannya kepada engkau sebelum utusan   kembali kepada engkau   --  berarti: sekilas pandang; seorang bangsawan; penghasilan pajak pemerintah; seorang utusan dari Yaman (Lexicon Lane).
      Ungkapan itu dapat diartikan: (1) “sebelum duta engkau dari Yaman kembali kepada engkau”; (2) “dalam sekejap mata”; (3) “sebelum pajak pendapatan pemerintah disetor kepada perbendaharaan negara”. Dalam arti yang tersebut belakangan (3) ungkapan itu akan berarti:  Aku tidak perlu lagi uang; uang yang sudah ada dalam khazanah pemerintah sudah cukup memenuhi perongkosan mendirikan singgasana bagi Sang Ratu.” Ungkapan  “yang mempunyai pengetahuan mengenai buku,” agaknya menunjuk kepada seseorang pejabat tinggi yang mengetahui seluk-beluk keuangan. Mungkin juga ia menteri keuangan Nabi Sulaiman a.s..

Saling “Membaca” Kekuatan Lawan Melalui Pembuatan Singgasana

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pembuatan singgasana yang diinginkan oleh Nabi Sulaiman a.s.:
قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ 
Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu,  kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.”    Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: Serupa inikah singgasana engkau?” Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”  Dan apa yang senantiasa di-sembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir. (An-Naml [27]:42-44).         
       Makkara-hu dalam ayat: قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ  -- “Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu,  kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk,”  berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon Lane).
     Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasananya sendiri nampak biasa saja.” Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s.   telah memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba, supaya membuatnya demikian cantik, sehingga Ratu itu akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan demikian Ratu Saba dapat mengerti  bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s. jauh lebih besar dan lebih unggul daripada kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Ratu Saba  sendiri.
     Itulah nampaknya arti kalimat  “apakah ia mendapat petunjuk.” Ykani Nabi Sulaiman a.s.   berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan beliau. Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istananya nampaknya  merasa bangga oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s. berkehendak menyadarkan mereka dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
      Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana  yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s.   sebagai hadiah (QS.27:33-37), maka kata nakkiru akan berarti bahwa singgasana itu demikian dihiasi dan diperindah  serta gambar-gambar patung yang dilukis padanya —jika memang ada— dihapus begitu sempurna, sehingga Ratu Saba tidak dapat mengenalnya kembali, firman-Nya:
فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ 
Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: Serupa inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ --  Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ  -- Dan apa yang senantiasa disembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir. (An-Naml [27]:43-44).

Istana Khusus Berlantai Kaca Bening

       Kata-kata, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya, maknanya ialah bahwa Ratu Saba telah menjadi maklum akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah kepada beliau.
Namun menyerahnya  Ratu Saba secara fisik tersebut tidak lantas membuat Nabi Sulaiman a.s. puas, karena kedudukan beliau sebagai seorang nabi Allah  berkewajiban untuk menyeru Ratu Saba dan kaumnya yang menyembah berbagai benda langit kepada Tauhid Ilahi.
      Itulah sebabnya Nabi Sulaiman a.s. kemudian mengundang Ratu Saba untuk berkunjung ke pusat pemerintahan beliau di Yerusalem  yang di dalamnya terdapat istana khusus  untuk menerima kunjungan Ratu Saba, firman-Nya:
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya.  Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca bening.” Ia, Ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam.” (An-Naml [27]: 45).  
      Sehubungan dengan ayat:  قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا  -- “Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya  ungkapan kasyāfa’an sāqihi adalah muhawarah (idiom/kiasan) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti menjadi siap untuk menghadapi kesukaran atau pikirannya menjadi kacau-balau atau kebingungan.
     Kasyāfat ’an sāāqaiha berarti: (1) ia (perempuan)  menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia  bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia  menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
Nabi Sulaiman a.s. menginginkan  agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu Nabi Sulaiman a.s.  secara bijaksana sekali memakai cara demikian  yang niscaya menyebabkan perempuan  yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya. Singgasana dan  Istana khusus yang Nabi Sulaiman a.s.   telah perintahkan untuk disiapkan bagi Ratu Saba itu dimaksudkan guna tujuan itu.
      Singgasana itu dibuat jauh lebih indah dan dalam segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu Saba sendiri yang sangat dibanggakannya. Nabi Sulaiman a.s. berbuat demikian, agar supaya  Ratu Saba  dapat menyadari, bahwa Nabi Sulaiman a.s. itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani itu jauh lebih berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan kepada  Ratu Saba.
      Keunggulan SDM milik Nabi Sulaiman a.s.  tersebut terjadi  karena wahyu Ilahi  senantiasa menyertai  pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan Nabi Sulaiman a.s., termasuk pembuatan istana yang berlantai kaca bening  yang falsafahnya  telah menyadarkan Ratu Saba dari kemusyrikan yang dilakukan olehnya dan kaumnya.

Falsafah Istana Khusus Berlantai Kaca Bening  & Kesuksesan Duniawi Kaum Saba dan Kehancurannya

      Istana yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun dengan tujuan yang sama. Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini, jalan masuk ke istana itu berlantaikan  ubin terbuat dari kaca bening yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali, sehingga ketika  Ratu Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu ia menyingkapkan kain sehingga nampak betisnya, dan pemandangan air itu membingungkannya  dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
      Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s.  perhatian   Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba telah salah duga  bahwa  ubin kaca itu  genangan air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan sumber cahaya sebenarnya, karena benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka.
    Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri  Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda langit itu cahaya yang dipancarkannya. Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s. berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai dalam menyadarkan kekeliruan Ratu Saba  berkenaan dengan benda-benda langit yang disembahnya. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya, dan dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu, beliau menjadi seorang abdi mukhlis Tuhan Yang Maha Esa. 
       Berikut adalah  firman Allah Swt. mengenai keberhasilan duniawi kaum Saba yang mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan Ratu Saba   --  yang sezaman dengan   masa pemerintahan Nabi Sulaiman  a.s.   – serta masa kehancuran kejayaan kaum Saba setelah masa pemerintahan Ratu Saba, karena mereka kembali kepada kemusyrikan, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾
Sungguh  bagi kaum Saba  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai. کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ   --  Kami berfirman: Makanlah rezeki dari Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya.  بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan.  وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ --  Dan Kami menganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara.    ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  --  Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  -- Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu,  Kami berfirman: سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ -   Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”    فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,”  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur. (Sabā [34]:16-20).

Pemanfaatan SDM dan SDA Kaum Saba

      Saba, sebagaimana tersebut dalam QS.27:23 sebelumnya adalah sebuah kota di negeri Yaman, terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari Shan’a yang disebut juga Ma’arib. Kota ini sering disebut-sebut dalam kitab Taurat dan dalam kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti yang terdapat di Arabia Selatan.
     Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt. telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan duniawi yang serba senang dan sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai (kanal-kanal).
     Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan yang paling tersohor ialah Bendungan Ma’arib (Encyclopaedia of Islam, Jilid IV, hlm. 16). Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon  Nabi Besar Muhammad saw.: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama seorang perempuan  melainkan nama seorang laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10 orang anak laki-laki, 6 di antaranya menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim di sana.” (Taj-ul-‘Arus).
       ‘Arim dalam ayat: فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan     berarti suatu bendungan atau beberapa bendungan yang dibangun  di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tetahankan; atau hujan lebat (Lexicon Lane).
     Ayat tersebut mengisyaratkan kepada suatu banjir hebat telah menyebabkan Bendungan Al-Na’ārib   -- yang menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka  -- roboh dan menggenangi seluruh wilayah, sehingga menyebabkan kehancuran yang luas jangkauannya: وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ --  Dan Kami menganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara.”    (Sabā [34]:17).
      Akibat banjir dahsyat tersebut,  wilayah negeri Saba yang sebelumnya  penuh dengan taman-taman asri, sungai-sungai (kanal-kanal) dan bangunan-bangunan anggun yang artistik telah berubah menjadi belantara yang membentang luas. Bendungan Al-Ma’arib  itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120 kaki tingginya  tersebut  hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum Masehi (Palmer):  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  --  “Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur”  (Sabā [34]:18).

Doa Buruk  Kaum Saba Melalui Perbuatan

       Kata-kata  “Kota yang telah Kami beri berkat” dalam ayat selanjutnya: وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  -- “Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu   (Sabā [34]:19), menunjuk kepada kota Palestina, tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., yang dengan kota itu bangsa Saba' melangsungkan hubungan niaga dan mendatangkan kemakmuran.
   Kata-kata, “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,” mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan satu sama lain sehingga mudah sekali terlihat, atau kata-kata itu dapat pula berarti  kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria sangat ramai dilalui orang, aman, dan berpenduduk cukup banyak:  سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ -   Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”     
     Menurut Sir Williams Muir pada waktu itu ada 70 tempat perhentian dari Hadramaut ke Ailah pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai dilalui orang lagi aman, diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun .
      Kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba' dalam ayat selanjutnya: فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami” (Sabā [34]:20),    makna ucapan mereka   itu sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt.  --   setelah masa pemerintahan Ratu Saba  -- dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa.
     Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang   menjadi sunyi-senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti  bahwa  karena banyak kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing, sehingga jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan  tidak aman. Orang-orang Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng: وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya” (Sabā [34]:20).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 4 April    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar