Sabtu, 16 April 2016

Manusia Merupakan "Micro Cosmos" (Miniatur Alam Semesta) & Turunnya Para Malaikat Pembawa Kabar Gembira Kepada Orang-orang yang Teguh Keimanannya Kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


  Manusia Merupakan “Micro Cosmos” (Miniatur Alam Semesta) & Turunnya Para Malaikat Pembawa Wahyu Kabar Gembira Kepada Orang-orang yang Teguh   Keimanannya Kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya    

Bab 23


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan   bahwa wahyu Ilahi bukan merupakan “inspirasi” sebagai akibat dari suatu  renungan
      “Wahyu adalah pesan tersembunyi yang tidak tergantung kepada perenungan atau pun pemikiran yang mendalam. Wahyu tersebut bersifat jernih dan jelas seperti perasaan seseorang yang mendengarkan seorang pembicara atau pun sentuhan dari seseorang yang menyentuhnya.
       Jiwa tidak akan mengalami kesakitan ruhani karenanya. Jiwa selalu memiliki keselarasan abadi dengan wahyu sebagaimana halnya kebahagiaan seorang pecinta yang memandang wujud yang dikasihinya. Wahyu adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan yang amat menyenangkan.” (Purani Tehrerain, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  20, London, 1984).

Kemampuan Menerima Wahyu Ilahi  Bagian dari  Fitrat Manusia

       Pernyataan Masih Mau’ud a.s. bahwa kemampuan seseorang untuk dapat menjadi penerima wahyu Ilahi merupakan bagian dari fitrat manusia sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,    dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.  (Asy-Syams [91]:8-11).
   Ayat:  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا  -- “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya“  berarti  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (menghidmati) makhluk-makhluk Allah   Swt., terutama manusia (QS.91:1-7) -- dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10 -- memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi matahari  dan sinarnya di pagi hari, dan demi bulan apabila ia mengikutinya.  Dan demi siang. apabila ia menzahirkan kemegahannya,   dan demi malam  apabila ia menutupinya, dan demi langit dan pembinaannya,  dan demi bumi dan penghamparannya.   (Asy-Syams [91]:1-7).
         Sumpah-sumpah dalam Al-Quran mengandung makna yang mendalam. Hukum Allah Swt. menampakkan dua segi perbuatan-Nya,  yaitu yang nyata dan yang tersirat. Segi pertama (yang nyata) dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami yang terakhir (yang tersirat) ada kemungkinan bisa keliru.

Makna Sumpah Allah Swt. Dalam Al-Quran

        Dalam sumpah-sumpah-Nya  Allah Swt.  menarik perhatian kita kepada apa yang dapat disimpulkan dan benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah tersebut pada ayat-ayat 2-7, matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, termasuk “yang nyata” – karena khasiat-khasiat benda-benda tersebut pada ayat-ayat ini telah dimaklumi  (diketahui) serta diakui secara umum.
      Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat pada ruh (jiwa) manusia “tidak nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan mengenal adanya khasiat-khasiat dalam ruh manusia, Allah Swt. telah menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata itu sebagai saksi.  Itulah makna persumpahan  Allah Swt. dengan nyebutkan berbagai benda ciptaan-Nya yang nyata tersebut.
  “Matahari” dalam ayat: وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا  -- “Demi matahari  dan sinarnya di pagi hari “  ini dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar Muhammad saw.  – yang merupakan sumber seluruh cahaya ruhani dan yang akan terus-menerus menyinari dunia sampai Akhir Zaman.
   “Bulan” dalam ayat: وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا   --  ”demi bulan apabila ia mengikutinya“ dapat juga menunjuk  Nabi Besar Muhammad saw.  sebab beliau saw. menerima cahaya dari Allah Swt. dan menyiarkan (memancarkan) cahaya itu ke persada alam ruhani yang gelap itu.
   Atau, kata “bulan”  dalam ayat itu pun  dapat pula menunjuk kepada para wali  Allah dan para Imam Zaman – khususnya kepada wakil agung beliau saw., Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-4) ketika manzilah-manzilah (tingkatan-tingkatan)  bulan menjadi “bulan purnama” (QS.36:40; QS.84:17-20)  – yang akan menerima cahaya kebenaran dari  Nabi Besar Muhammad saw.  dan menyiarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan ruhani di Akhir Zaman  (QS.30:42-44) ini serta mewujudkan kemenangan Islam yang kedua kali  atas agama-agama lainnya (QS.61:10).
  “Siang”  dalam ayat: وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا --   “demi siang. apabila ia menzahirkan kemegahannya“ dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran pendirinya (Nabi Besar Muhammad saw.) ditegakkan serta dasar-dasar telah ditegakkan untuk  penyebarluasannya di dunia. Isyarat yang terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin, ketika cahaya Islam memancar dengan segala kemegahan dan kejayaannya.
  “Malam”  dalam ayat: وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا  -- “demi malam  apabila ia menutupinya dapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosotan orang-orang Islam ketika cahaya Islam telah tersembunyi dari mata dunia (QS.32:6).

Empat Kurun Masa Perjalanan Islam & Kesempurnaan Jiwa Manusia

  Keempat ayat ini (2-5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu, yaitu: 
 (1) masa  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri, ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar Muhammad saw.) sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
 (2) masa wakil agung beliau saw., yaitu  Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-4), ketika nur (cahaya) yang diperoleh dari  Nabi Besar Muhammad saw. dipantulkan ke suatu dunia yang gelap (QS.32:6; QS.30:42-43);
 (3) masa para khalifah  Nabi Besar Muhammad saw. ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan
 (4) masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah lewat 3  abad pertama kejayaan Islam (QS.17:86-89; QS.32:6).
  Huruf mā  dalam ayat:  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا --   “demi langit dan pembinaannya”   dan dalam dua ayat berikutnya: وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا - “demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا  -- “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya“         adalah masdariyah atau berarti alladzi  yakni  “ia yang”.
  Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang Arsitek Agung alam semesta ini – yaitu Allah Swt.  -- atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan (QS.57:2; QS.63:2; QS.67:1-5).
   Sehubungan dengan ayat  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا  -- “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya“  pada hakikatnya  manusia adalah micro cosmos (alam semesta ukuran  kecil) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil segala sesuatu yang terwujud di alam semesta.
  Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan  bulan ia memancarkan kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Sumber Asli lagi agung (Allah Swt.)  untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
  Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih.
    Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang memberi kesegaran. Laksana  bumi ia menyerahkan diri dengan segela kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang, sebagai  cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
    Demikianlah keadaan  orang-orang kusus dan para mushlih rabbani (nabi Allah), di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad  saw. yang bergelar Khātaman Nabiyyīn (QS.3:32; QS.33:22 & 41; QS.68:1-8). 
   Makna ayat selanjutnya:  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا – “maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya“  Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baikقَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا – “Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا  -- “dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.  (Asy-Syams [91]:10-11).
 
 Perbedaan Wahyu Ilahi dengan Inspirasi

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai wahyu Ilahi yang hakiki serta khasiatnya (pengaruhnya) kepada keyakinan  penerimanya:
     “Yang dimaksud dengan wahyu atau ilham bukanlah sesuatu yang muncul dalam fikiran sebagai hasil dari pemikiran atau perenungan, sebagaimana yang biasa dialami seorang penyair ketika sedang menyusun syairnya. Ia biasanya menulis satu bait dan merenungkan bait berikutnya yang terkadang muncul secara tiba-tiba dalam fikirannya. Hal seperti itu bukanlah ilham dalam pengertian sebagai wahyu, tetapi merupakan akibat dari pemikiran dan perenungan yang mengalir berdasarkan hukum alam.
   Siapa pun yang berfikir tentang hal-hal yang baik atau pun buruk akan menemukan sesuatu muncul dalam fikirannya,  sejalan dengan apa yang difikirkan atau dicarinya. Sebagai contoh, seorang yang saleh dan bertakwa yang menuliskan beberapa bait guna menopang suatu kebenaran,  dengan seorang yang jahat yang mengemukakan suatu kedustaan dalam bait-baitnya untuk menghina orang yang saleh.
   Masing-masing mereka akan menghasilkan kalimat-kalimat (bait-bait),  dan bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika lawan orang saleh itu dalam mendukung kedustaannya malah mampu menuliskan kalimat-kalimat yang lebih bagus karena yang bersangkutan mempunyai pengalaman menulis yang lebih baik.
     Jika semua yang muncul dalam fikiran disebut sebagai wahyu atau ilham, maka seorang penyair yang jahat yang memusuhi mereka yang saleh dan bertakwa dan selalu mengejek kebenaran serta senang berpretensi, akan dikatakan sebagai seorang penerima wahyu.
       Demikian juga karangan-karangan fiktif banyak yang mengandung kalimat-kalimat yang menyentuh hati walaupun si pengarang mendasarkannya pada hal-hal yang murni rekaan semata, dan hal seperti ini tidak dapat disebut sebagai ilham atau wahyu.
    Jika segala gagasan yang muncul dalam kepala seorang pencuri mengenai cara-cara mencuri, merampok atau membegal orang disebut sebagai ilham maka pencuri itu bisa disebut sebagai seorang penerima ilham atau wahyu. Jelas tidak mungkin kita menyebut hal demikian sebagai suatu wahyu.
     Semua itu adalah hasil fikiran orang-orang yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan Yang hakiki, Tuhan Yang memberikan kesejukan hati melalui komunikasi-Nya serta mengaruniakan pengertian akan pengetahuan keruhanian kepada mereka yang belum mengerti. Yang dimaksud dengan wahyu adalah pembicaraan Tuhan dalam bahasa yang hidup dan tegas kepada seorang hamba pilihan-Nya atau siapa pun yang akan Dia pilih.
    Pembicaraan seperti itu akan bermula dengan cara yang menyenangkan, bebas dari kegelapan fikiran yang palsu dan tidak terbatas pada beberapa kata-kata yang tidak jelas. Wahyu demikian diterima sebagai suatu kenikmatan yang bernas dengan segala kebijakan serta keluhuran dan merupakan firman Tuhan yang menenteramkan hati hamba-Nya,  dan melaluinya Dia memanifestasikan Wujud-Nya kepada yang bersangkutan.
     Terkadang komunikasi seperti itu berbentuk   cobaan (ujian) dan tidak diikuti semua ciri-ciri dari suatu wahyu.  Dengan cara ini seorang hamba Allah akan dicoba dimana dengan mengecap sedikit kenikmatan wahyu, apakah lalu ia akan menyesuaikan kondisi dirinya menjadi seorang penerima wahyu hakiki,  ataukah ia menjadi manusia yang gagal meneruskannya. Jika ia kemudian tidak mengikuti jalan ketakwaan maka ia akan diluputkan dari kesempurnaan karunia ini dan yang tinggal baginya hanyalah bualan kosong.

Perbedaan Derajat Para Penerima  Wahyu Ilahi

    Berjuta-juta manusia yang telah menerima wahyu tetapi tidak semua dari mereka itu mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah Swt.. Bahkan para nabi  yang merupakan penerima wahyu tidak sama kedudukannya seperti yang dinyatakan firman Tuhan:
تِلۡکَ الرُّسُلُ  فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ
“Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain”  (Al-Baqarah [2]: 254).
   Hal ini membuktikan bahwa wahyu adalah murni semata-mata merupakan berkat dan bukan merupakan tanda dari kedudukan atau jabatan. Derajat para penerima wahyu ditentukan oleh ketulusan dan kesetiaan yang hanya diketahui Allah Swt. semata.
     Wahyu yang diikuti dengan keadaan yang berberkat juga merupakan buah dari ketulusan dan kesetiaan. Tidak diragukan kalau wahyu diterima dalam bentuk tanya-jawab dalam urutannya yang benar dan ditandai oleh keagungan dan Nur Ilahi serta mengandung hal-hal tersembunyi atau pengertian hakiki, maka benarlah itu sebuah wahyu Ilahi. Karena sepatutnyalah wahyu Ilahi berupa pembicaraan di antara seorang hamba dengan Tuhan-nya sebagaimana halnya pembicaraan di antara dua orang sahabat ketika mereka bertemu.
   Ketika seorang hamba mengajukan pertanyaan dan sebagai jawaban ia menerima kata-kata yang nikmat dan fasih dari Allah Yang Maha Agung, dimana tidak ada tercampur pandangan dirinya sendiri atau pun renungannya, maka jelas bahwa itu adalah firman Tuhan, sedangkan dirinya itu termasuk dalam golongan hamba yang dikasihi-Nya. Hanya saja tingkat wahyu yang merupakan berkat seperti ini serta bersifat hidup, murni, jernih dan tidak terkontaminasi, hanya dikaruniakan kepada mereka yang bersiteguh dalam keimanan, ketulusan dan ketakwaannya.
    Wahyu hakiki yang suci memperlihatkan berbagai ciri-ciri Ilahi yang akbar. Seringkali wahyu diawali dengan suatu cahaya gemilang dan bersamaan dengan itu diturunkanlah wahyu yang agung dan cemerlang. Apa lagi yang bisa lebih luhur daripada seorang penerima wahyu yang sedang berbicara dengan Wujud Yang menciptakan langit dan bumi?
   Menyaksikan eksistensi (keberadaan) Tuhan di dunia ini adalah melalui komunikasi dengan Tuhan. Dalam hal ini tidak termasuk keadaan dimana beberapa kata-kata, kalimat atau bait yang mungkin diutarakan seseorang yang tidak dituju langsung oleh Tuhan. Orang seperti itu nyatanya sedang diuji. Ia meraba-raba dalam kegelapan seperti orang buta dan tidak mengetahui sumber komunikasi itu apakah berasal dari Tuhan atau syaitan. Sebaiknya orang seperti ini langsung beristighfar saja.
    Namun jika seorang yang saleh dan bertakwa menerima komunikasi Ilahi tanpa hambatan dalam bentuk pembicaraan, maka ia akan mendengar keagungan bentuk komunikasi yang terang, nyaman, bermakna dan penuh kebijakan, dalam keadaan diri sadar sepenuhnya.
      Pada saat seperti itu akan terlintas paling sedikit 10 pertanyaan dan jawaban dimana Tuhan juga mengabulkan permohonannya serta menyampaikan kepadanya mutiara pemahaman dan kabar gaib tentang hal-hal yang akan datang.
     Orang seperti ini sepatutnya amat bersyukur kepada Tuhan dan sepenuhnya mengabdi kepada-Nya karena Tuhan berkat karunia-Nya yang suci telah memilih yang bersangkutan dari sekian banyak hamba-Nya dan telah menjadikannya sebagai pewaris dari orang-orang bertakwa yang telah berlalu sebelum dirinya.
    Karunia seperti itu jarang sekali terjadi dan merupakan takdir nasib yang baik. Semua hal lainnya dibandingkan dengan karunia seperti itu menjadi tidak ada artinya sama sekali. Islam selama ini selalu menghasilkan orang-orang dengan derajat seperti ini. Hanya dalam Islam saja Tuhan akan datang mendekat kepada hamba-Nya dan berbicara kepadanya. Dia berbicara di dalam hatinya dan menjadikan kalbunya sebagai tahta-Nya dan menarik yang bersangkutan ke langit guna diberkati dengan segala karunia sebagaimana yang telah diberikan kepada mereka sebelum dirinya.
     Sayang sekali dunia yang buta ini tidak menyadari betapa dekatnya seseorang bisa menghampiri Tuhan. Mereka sendiri tidak mau maju ke muka, dan ketika seseorang melakukannya maka mereka langsung mengkafirkannya atau malah mendewakannya sebagai  pengganti Tuhan.” (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. X, hlm.  437-441, London, 1984).

Wahyu Memberikan Ketentraman  Dalam Masa Kesulitan

      Allah Swt. berfirman mengenai pemberian kabar gembira dari-Nya  kepada orang-orang yang  istiqamah (teguh) dalam keimanannya melalui     wahyu Ilahi yang disampaikan para   malaikat:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  -- kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat.  وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ  -- Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  --  Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ha MimAs-Sajdah [41]:31-33).
     Perlu diketahui bahwa makna ayat: اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا  -- “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh“, bukan tertuju  kepada orang yang hanya mengucapkan “Lā ilaha illallahu  (Tiadsa Tuhan kecuali Allah) melainkan mereka yang beriman kepada Tauhid Ilahi  yang diserukan  Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.3:191-195) lalu mereka  bersikap teguh  terhadap penentangan dan penganiayaan dari pihak-pihak penentang Rasul Allah yang diimaninya tersebut.
   Menuurt ayat tersebut dalam kehidupan di dunia ini malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman seperti itu untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat dalam melaksanakan keimanannya.
  Mengapa demikian? Sebab anjuran (seruan) kepada kebenaran  pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat ini menasihatkan kepada si penganjur supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan, yang diterima dari penganiaya-penganiaya dengan kebaikan, firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.”  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukanاِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya maka tiba-tiba ia, yang di anta-ra engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia  وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ --  Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki  bagi-an besar dalam kebaikanوَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ  --  Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Ha MimAs-Sajdah [41]:34-37).
       Sehubungan dengan  turunnya para malaikat  pembawa kabar gembira terhadap orang-orang beriman yang bersikap teguh tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
  “Banyak orang awam menganggap wahyu itu tidak ada realitasnya (kenyataannya) dan merupakan suatu yang sia-sia, bahkan dianggap lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Pandangan demikian berasal dari seorang yang belum pernah menikmati minuman anggur yang murni ini dan ia memang tidak menginginkan perolehan keimanan hakiki.
     Orang seperti itu cukup puas dengan adat kebiasaannya sehari-hari dan tidak pernah ingin mencari tahu sejauh mana kadar keimanannya kepada Allah Yang Maha Agung dan seberapa jauh tingkat pemahamannya serta apa yang harus dilakukannya guna memupus kelemahan-kelemahan dirinya untuk mengubah akhlak dan kelakuannya. Ia tidak berhasrat memelihara benih kasih yang akan memudahkan perjalanannya ke dunia lain untuk pengembangan batin dan kemajuan ruhaninya.
     Dalam kehidupan yang selalu menekan manusia ke bawah, karena beban tanggung jawab isteri dan anak-anak serta keinginan menjaga kehormatan dan nama baik,  yang semuanya itu seperti batu berat yang menggandul di lehernya, sepatutnya ia membutuhkan kekuatan luhur yang membawa dirinya ke arah tujuan yang hakiki sehingga akan timbul hasrat di dirinya untuk menjumpai kecantikan Allah Yang Maha Perkasa yang sempurna. Kekuatan luhur itu adalah wahyu Ilahi yang memberikan ketentraman dalam masa kesulitan.
     Adanya wahyu menjadikan seseorang dapat bertahan dengan hati lapang dan nyaman meski ditimpa segunung bencana. Wujud tidak terlihat (gaib) yang selama ini selalu membingungkan fikiran dan benak para filosof, memanifestasikan Diri-Nya hanya melalui wahyu. Dia akan menenangkan kalbu para pencari dan mengaruniakan kepuasan kepada mereka serta menghidupkan kembali mereka yang sudah separuh mati dengan firman-Nya: “Aku ini ada.”
   Memang benar bahwa Al-Quran mengandung semua petunjuk yang dibutuhkan manusia, tetapi ketika Al-Quran membimbing seseorang ke Sumber mata air segala petunjuk maka salah satu indikasi mengenai hal itu adalah ia mulai mengalami komunikasi dengan Tuhan.
       Saat itu ia mulai mengalami pencerahan pada tingkat yang tinggi dimana ia melihat nur dan berkat yang nyata, sehingga ia memperoleh pemahaman yang tidak mungkin didapat dari mengikuti teori-teori intelektual secara membuta karena intelek manusia bersifat terbatas, penuh keraguan, cacat dan tidak lengkap. Kita seharusnya meluaskan jangkauan pengenalan (makrifat) kita secara langsung karena dengan bertambah pemahaman maka akan meningkat pula hasrat kita.
      Dengan pengenalan (makrifat)  yang cacat dengan sendirinya kita tidak bisa mengharapkan hasrat yang sempurna. Mengherankan sekali bahwa ada manusia-manusia bodoh yang menganggap dirinya tidak membutuhkan sarana guna pengenalan kebenaran, yang sebenarnya merupakan kebutuhan hidup keruhaniannya.
        Ingatlah selalu bahwa pengetahuan dan pemahaman keruhanian hanya bisa didapat melalui wahyu dan kasyaf dimana sebelum kita berhasil mencapai tingkatan nur untuk itu maka fitrat kemanusiaan kita belum berhasil memperoleh pemahaman atau kesempurnaan hakiki.

Wahyu Sebagai Sarana Keselamatan

      Manusia ini diciptakan untuk suatu tujuan luhur yaitu pemahaman hakiki mengenai Wujud Tuhan, karena atas dasar pemahaman itulah tergantung keselamatan kita. Pemahaman demikian akan  membebaskan  kita dari setiap cara tidak bersih yang meragukan dan menuntun kita ke tepi sebuah sungai yang jernih dan murni.  Hal ini hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi.
      Ketika sedang fana (tenggelam) dengan diri kita sendiri, kita akan menyelam dalam dengan hasrat yang menggebu ke lubuk Wujud Yang tersembunyi dan sampai di hadirat Tuhan untuk kemudian kembali sambil membawa beberapa tanda-tanda dan nur dari dunia tersebut.
     Sesungguhnya apa yang dicemoohkan oleh dunia adalah satu-satunya cara yang bisa mempertemukan seketika seseorang dengan Wujud Yang dikasihinya dimana Dia akan mengaruniakan ketentraman kepada para pecinta-Nya. Pengalaman demikian akan memupus kalbu seseorang dari segala bentuk keterbatasan egonya karena tanpa nur hakiki yang turun ke hatinya maka tidak mungkin seseorang memperoleh pencerahan. Justru karena ketidak-sempurnaan penalaran manusia serta keterbatasan pengetahuan menjadikannya membutuhkan wahyu.” (Izalah Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm. 326-329, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 17 April    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar