Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Manusia Merupakan “Micro
Cosmos” (Miniatur Alam Semesta) & Turunnya Para Malaikat
Pembawa Wahyu Kabar Gembira Kepada
Orang-orang yang Teguh Keimanannya Kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya
Bab 23
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan
bahwa wahyu Ilahi bukan merupakan “inspirasi”
sebagai akibat dari suatu renungan:
“Wahyu adalah pesan
tersembunyi yang tidak tergantung kepada perenungan atau pun pemikiran
yang mendalam. Wahyu tersebut
bersifat jernih dan jelas seperti perasaan seseorang yang mendengarkan
seorang pembicara atau pun sentuhan dari seseorang yang menyentuhnya.
Jiwa tidak akan mengalami kesakitan ruhani karenanya. Jiwa selalu memiliki keselarasan abadi dengan wahyu sebagaimana halnya kebahagiaan seorang pecinta yang memandang wujud yang dikasihinya. Wahyu
adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan yang amat menyenangkan.” (Purani Tehrerain, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II,
hlm. 20, London, 1984).
Kemampuan Menerima Wahyu Ilahi Bagian dari
Fitrat Manusia
Pernyataan Masih Mau’ud a.s. bahwa kemampuan seseorang untuk dapat menjadi
penerima wahyu Ilahi merupakan bagian
dari fitrat manusia sesuai dengan
firman Allah Swt. berikut ini:
وَ نَفۡسٍ وَّ
مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا
فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,
maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. Sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.
(Asy-Syams [91]:8-11).
Ayat: وَ نَفۡسٍ وَّ مَا
سَوّٰىہَا -- “Dan
demi jiwa dan penyempurnaannya“ berarti
bahwa semua khasiat yang
dipersembahkan benda-benda langit
seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (menghidmati) makhluk-makhluk Allah Swt., terutama manusia (QS.91:1-7) -- dan yang mengenai kenyataan itu telah
disebutkan dalam ayat 10 -- memberi kesaksian
bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ
الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾
وَ
الۡقَمَرِ اِذَا تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ
النَّہَارِ اِذَا جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ
وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾
وَ الۡاَرۡضِ وَ
مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi matahari dan sinarnya
di pagi hari, dan demi bulan
apabila ia mengikutinya. Dan demi siang. apabila ia menzahirkan
kemegahannya, dan
demi malam apabila ia menutupinya, dan demi langit
dan pembinaannya, dan demi bumi dan penghamparannya.
(Asy-Syams [91]:1-7).
Sumpah-sumpah dalam Al-Quran mengandung makna
yang mendalam. Hukum Allah Swt. menampakkan
dua segi perbuatan-Nya, yaitu yang nyata dan yang tersirat.
Segi pertama (yang nyata) dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami
yang terakhir (yang tersirat) ada kemungkinan bisa keliru.
Makna Sumpah Allah Swt. Dalam Al-Quran
Dalam sumpah-sumpah-Nya Allah Swt.
menarik perhatian kita kepada apa yang
dapat disimpulkan dan benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah
tersebut pada ayat-ayat 2-7, matahari
dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, termasuk “yang nyata” – karena khasiat-khasiat benda-benda tersebut pada ayat-ayat ini telah
dimaklumi (diketahui) serta diakui
secara umum.
Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat pada ruh (jiwa) manusia “tidak
nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan
mengenal adanya khasiat-khasiat dalam
ruh manusia, Allah Swt. telah
menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang
nyata itu sebagai saksi. Itulah makna persumpahan Allah Swt. dengan
nyebutkan berbagai benda ciptaan-Nya
yang nyata tersebut.
“Matahari” dalam ayat: وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا -- “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari “ ini dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan sumber seluruh cahaya ruhani
dan yang akan terus-menerus menyinari
dunia sampai Akhir Zaman.
“Bulan” dalam ayat: وَ الۡقَمَرِ
اِذَا تَلٰىہَا -- ”demi bulan
apabila ia mengikutinya“ dapat
juga menunjuk Nabi Besar Muhammad saw. sebab beliau saw. menerima cahaya dari Allah Swt. dan menyiarkan (memancarkan) cahaya itu ke persada alam
ruhani yang gelap itu.
Atau, kata “bulan” dalam ayat itu pun dapat pula menunjuk kepada para wali Allah dan para Imam Zaman – khususnya kepada wakil
agung beliau saw., Masih Mau’ud a.s.
(QS.62:3-4) ketika manzilah-manzilah
(tingkatan-tingkatan) bulan menjadi “bulan purnama” (QS.36:40; QS.84:17-20) – yang akan menerima cahaya kebenaran dari Nabi Besar Muhammad saw. dan menyiarkannya
ke dunia untuk menghilangkan kegelapan
akhlak dan ruhani di Akhir Zaman (QS.30:42-44) ini serta mewujudkan kemenangan Islam yang kedua kali atas agama-agama
lainnya (QS.61:10).
“Siang” dalam ayat: وَ النَّہَارِ
اِذَا جَلّٰىہَا -- “demi siang. apabila ia menzahirkan
kemegahannya“ dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran pendirinya (Nabi Besar Muhammad saw.) ditegakkan serta dasar-dasar telah ditegakkan untuk
penyebarluasannya di dunia.
Isyarat yang terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin, ketika cahaya Islam memancar dengan segala kemegahan dan kejayaannya.
“Malam” dalam ayat: وَ الَّیۡلِ اِذَا یَغۡشٰىہَا -- “demi malam apabila ia menutupinya“ dapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosotan
orang-orang Islam ketika cahaya Islam
telah tersembunyi dari mata dunia (QS.32:6).
Empat Kurun Masa Perjalanan Islam
& Kesempurnaan Jiwa Manusia
Keempat ayat ini (2-5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu,
yaitu:
(1) masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar Muhammad saw.) sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
(2) masa wakil agung beliau saw., yaitu Masih
Mau’ud a.s. (QS.62:3-4), ketika nur
(cahaya) yang diperoleh dari Nabi Besar
Muhammad saw. dipantulkan
ke suatu dunia yang gelap (QS.32:6;
QS.30:42-43);
(3) masa para khalifah Nabi Besar Muhammad saw. ketika cahaya Islam masih tetap
berkilau-kilauan dan
(4) masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh
dunia yang terjadi sesudah lewat 3 abad
pertama kejayaan Islam (QS.17:86-89; QS.32:6).
Huruf mā
dalam ayat: وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا -- “demi langit dan pembinaannya” dan dalam dua ayat berikutnya: وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا - “demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya“ adalah masdariyah atau berarti alladzi
yakni
“ia yang”.
Dengan demikian dalam
ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang
Arsitek Agung alam semesta ini – yaitu Allah Swt. -- atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan
(QS.57:2; QS.63:2; QS.67:1-5).
Sehubungan dengan ayat وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya“ pada
hakikatnya manusia adalah micro cosmos
(alam semesta ukuran kecil) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil segala sesuatu yang terwujud
di alam semesta.
Bagaikan matahari
ia memancarkan cahayanya ke alam
dunia serta meneranginya dengan
kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan bulan
ia memancarkan kembali cahaya
kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Sumber Asli lagi agung (Allah Swt.) untuk
ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam
ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain,
meringankan beban mereka, dan
memberikan istirahat kepada si lelah
dan si letih.
Seperti langit
ia menaungi setiap jiwa yang bersusah
hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang
memberi kesegaran. Laksana bumi
ia menyerahkan diri dengan segela kerendahan untuk diinjak-injak di bawah
telapak kaki orang-orang, sebagai cobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu tumbuhlah dengan berlimpah-ruah
bermacam-macam pohon ilmu pengetahuan
dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan
bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
Demikianlah keadaan orang-orang
kusus dan para mushlih rabbani
(nabi Allah), di antaranya yang terbesar
dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad saw. yang bergelar Khātaman Nabiyyīn (QS.3:32; QS.33:22 & 41; QS.68:1-8).
Makna
ayat selanjutnya: فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا – “maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya
dan ketakwaannya“ Allah Swt. telah menanamkan dalam fitrat
manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan
kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan
ruhani dengan menjauhi apa yang buruk
dan salah dan menerima apa yang benar
dan baik: قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ
زَکّٰىہَا – “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- “dan sungguh binasalah
orang yang mengotorinya. (Asy-Syams
[91]:10-11).
Perbedaan Wahyu
Ilahi dengan Inspirasi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai wahyu Ilahi yang hakiki serta khasiatnya
(pengaruhnya) kepada keyakinan penerimanya:
“Yang
dimaksud dengan wahyu atau ilham bukanlah sesuatu yang muncul dalam fikiran
sebagai hasil dari pemikiran atau perenungan, sebagaimana yang biasa dialami seorang penyair ketika sedang menyusun syairnya. Ia biasanya menulis satu
bait dan merenungkan bait berikutnya
yang terkadang muncul secara tiba-tiba dalam fikirannya. Hal seperti itu
bukanlah ilham dalam pengertian
sebagai wahyu, tetapi merupakan akibat dari pemikiran dan perenungan
yang mengalir berdasarkan hukum alam.
Siapa pun yang berfikir tentang hal-hal yang baik
atau pun buruk akan menemukan sesuatu muncul dalam fikirannya, sejalan dengan apa yang difikirkan atau dicarinya.
Sebagai contoh, seorang yang saleh
dan bertakwa yang menuliskan beberapa bait guna menopang suatu kebenaran, dengan seorang yang jahat yang mengemukakan
suatu kedustaan dalam bait-baitnya
untuk menghina orang yang saleh.
Masing-masing mereka akan menghasilkan kalimat-kalimat (bait-bait), dan bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika lawan orang saleh itu dalam mendukung kedustaannya malah mampu
menuliskan kalimat-kalimat yang lebih bagus karena yang bersangkutan
mempunyai pengalaman menulis yang
lebih baik.
Jika semua yang muncul dalam fikiran
disebut sebagai wahyu atau ilham, maka seorang penyair yang jahat yang memusuhi mereka yang saleh dan bertakwa dan selalu mengejek
kebenaran serta senang berpretensi,
akan dikatakan sebagai seorang penerima
wahyu.
Demikian juga karangan-karangan fiktif banyak yang mengandung kalimat-kalimat yang menyentuh hati walaupun si pengarang
mendasarkannya pada hal-hal yang murni
rekaan semata, dan hal seperti ini tidak dapat disebut sebagai ilham atau wahyu.
Jika segala gagasan yang muncul dalam kepala seorang pencuri mengenai cara-cara
mencuri, merampok atau membegal orang disebut sebagai ilham maka pencuri itu
bisa disebut sebagai seorang penerima
ilham atau wahyu. Jelas tidak
mungkin kita menyebut hal demikian sebagai suatu wahyu.
Semua itu adalah hasil fikiran orang-orang yang tidak
memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan
Yang hakiki, Tuhan Yang
memberikan kesejukan hati melalui komunikasi-Nya serta mengaruniakan pengertian akan pengetahuan keruhanian kepada mereka yang belum mengerti. Yang
dimaksud dengan wahyu adalah pembicaraan Tuhan dalam bahasa yang hidup dan tegas kepada seorang hamba pilihan-Nya atau siapa
pun yang akan Dia pilih.
Pembicaraan
seperti itu akan bermula dengan cara
yang menyenangkan, bebas dari kegelapan fikiran yang palsu dan tidak terbatas pada beberapa
kata-kata yang tidak jelas. Wahyu
demikian diterima sebagai suatu kenikmatan
yang bernas dengan segala kebijakan serta keluhuran dan merupakan firman
Tuhan yang menenteramkan hati
hamba-Nya, dan melaluinya Dia memanifestasikan Wujud-Nya kepada
yang bersangkutan.
Terkadang komunikasi seperti itu berbentuk cobaan (ujian) dan tidak
diikuti semua ciri-ciri dari suatu wahyu. Dengan cara ini seorang hamba Allah akan dicoba
dimana dengan mengecap sedikit kenikmatan
wahyu, apakah lalu ia akan menyesuaikan
kondisi dirinya menjadi seorang penerima
wahyu hakiki, ataukah ia menjadi
manusia yang gagal meneruskannya.
Jika ia kemudian tidak mengikuti jalan ketakwaan maka ia akan diluputkan dari kesempurnaan karunia ini dan yang tinggal baginya hanyalah bualan kosong.
Perbedaan Derajat Para Penerima Wahyu
Ilahi
Berjuta-juta manusia yang telah menerima wahyu tetapi tidak semua dari mereka
itu mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah Swt.. Bahkan para nabi
yang merupakan penerima wahyu
tidak sama kedudukannya seperti yang
dinyatakan firman Tuhan:
“Inilah
Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang
lain” (Al-Baqarah [2]: 254).
Hal ini membuktikan bahwa wahyu adalah murni semata-mata
merupakan berkat dan bukan merupakan
tanda dari kedudukan atau jabatan. Derajat para penerima wahyu ditentukan oleh ketulusan
dan kesetiaan yang hanya diketahui Allah Swt. semata.
Wahyu
yang diikuti dengan keadaan yang
berberkat juga merupakan buah
dari ketulusan dan kesetiaan. Tidak diragukan kalau wahyu diterima dalam bentuk tanya-jawab dalam urutannya yang benar
dan ditandai oleh keagungan dan Nur Ilahi serta mengandung hal-hal
tersembunyi atau pengertian hakiki,
maka benarlah itu sebuah wahyu Ilahi.
Karena sepatutnyalah wahyu Ilahi
berupa pembicaraan di antara seorang
hamba dengan Tuhan-nya sebagaimana halnya pembicaraan
di antara dua orang sahabat ketika
mereka bertemu.
Ketika
seorang hamba mengajukan pertanyaan dan sebagai jawaban ia menerima kata-kata yang nikmat dan fasih dari Allah Yang Maha Agung, dimana tidak ada
tercampur pandangan dirinya sendiri
atau pun renungannya, maka jelas
bahwa itu adalah firman Tuhan,
sedangkan dirinya itu termasuk dalam golongan hamba yang dikasihi-Nya.
Hanya saja tingkat wahyu yang
merupakan berkat seperti ini serta
bersifat hidup, murni, jernih dan tidak terkontaminasi, hanya dikaruniakan kepada mereka yang bersiteguh dalam keimanan, ketulusan dan ketakwaannya.
Wahyu
hakiki yang suci memperlihatkan
berbagai ciri-ciri Ilahi yang akbar. Seringkali wahyu diawali dengan suatu cahaya
gemilang dan bersamaan dengan itu diturunkanlah wahyu yang agung dan cemerlang. Apa lagi yang bisa lebih luhur daripada seorang penerima wahyu yang sedang berbicara dengan Wujud Yang menciptakan
langit dan bumi?
Menyaksikan eksistensi (keberadaan) Tuhan
di dunia ini adalah melalui komunikasi
dengan Tuhan. Dalam hal ini tidak termasuk keadaan dimana beberapa kata-kata, kalimat atau bait yang
mungkin diutarakan seseorang yang tidak
dituju langsung oleh Tuhan.
Orang seperti itu nyatanya sedang diuji.
Ia meraba-raba dalam kegelapan seperti orang buta dan tidak mengetahui sumber komunikasi itu apakah berasal dari Tuhan atau syaitan.
Sebaiknya orang seperti ini langsung beristighfar
saja.
Namun jika seorang yang saleh dan bertakwa
menerima komunikasi Ilahi tanpa hambatan dalam bentuk pembicaraan, maka ia akan mendengar keagungan bentuk komunikasi yang terang, nyaman, bermakna dan penuh kebijakan, dalam keadaan diri sadar
sepenuhnya.
Pada saat seperti itu akan terlintas paling sedikit 10 pertanyaan dan jawaban dimana Tuhan
juga mengabulkan permohonannya serta
menyampaikan kepadanya mutiara pemahaman
dan kabar gaib tentang hal-hal yang akan datang.
Orang seperti ini sepatutnya amat bersyukur kepada Tuhan dan sepenuhnya mengabdi kepada-Nya karena Tuhan berkat karunia-Nya yang suci telah memilih
yang bersangkutan dari sekian banyak hamba-Nya
dan telah menjadikannya sebagai pewaris
dari orang-orang bertakwa yang telah
berlalu sebelum dirinya.
Karunia
seperti itu jarang sekali terjadi
dan merupakan takdir nasib yang baik. Semua hal lainnya dibandingkan
dengan karunia seperti itu menjadi tidak ada artinya sama sekali. Islam selama ini selalu menghasilkan orang-orang dengan derajat seperti ini. Hanya dalam Islam saja Tuhan akan datang mendekat
kepada hamba-Nya dan berbicara kepadanya. Dia berbicara di dalam hatinya dan menjadikan
kalbunya sebagai tahta-Nya dan menarik yang bersangkutan ke langit guna diberkati dengan segala karunia
sebagaimana yang telah diberikan
kepada mereka sebelum dirinya.
Sayang sekali dunia yang buta ini tidak
menyadari betapa dekatnya
seseorang bisa menghampiri Tuhan.
Mereka sendiri tidak mau maju ke muka, dan ketika seseorang melakukannya maka mereka langsung mengkafirkannya atau malah mendewakannya
sebagai pengganti
Tuhan.” (Islami
Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. X, hlm.
437-441, London, 1984).
Wahyu Memberikan Ketentraman Dalam Masa Kesulitan
Allah Swt.
berfirman mengenai pemberian kabar gembira dari-Nya kepada orang-orang yang istiqamah
(teguh) dalam keimanannya melalui wahyu
Ilahi yang disampaikan para malaikat:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ
ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ
فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh,
تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada mereka turun
malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepada kamu. نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di
akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا
مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ -- Dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan
dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa
yang kamu minta. نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai
hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:31-33).
Perlu diketahui bahwa makna ayat: اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا -- “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Rabb
(Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka
teguh“, bukan tertuju kepada orang yang hanya mengucapkan “Lā ilaha illallahu (Tiadsa Tuhan kecuali Allah) melainkan mereka
yang beriman kepada Tauhid Ilahi yang diserukan
Rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan kepada mereka
(QS.3:191-195) lalu mereka bersikap teguh
terhadap penentangan dan penganiayaan dari pihak-pihak penentang Rasul Allah yang diimaninya tersebut.
Menuurt ayat tersebut dalam kehidupan di dunia ini malaikat-malaikat turun kepada orang
yang beriman seperti itu untuk
memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan
di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat dalam melaksanakan keimanannya.
Mengapa
demikian? Sebab anjuran (seruan) kepada
kebenaran pasti
diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi
penganjurnya, ayat ini menasihatkan
kepada si penganjur supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan,
dan malahan supaya membalas keburukan, yang diterima dari penganiaya-penganiaya dengan kebaikan, firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا
مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا
السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ
اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ
صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ
اِلَّا ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ
اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ
اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
daripada orang yang mengajak manusia kepada
Allah dan beramal saleh serta
berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk
orang-orang yang berserah diri.” وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ
ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ
بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya maka tiba-tiba
ia, yang di anta-ra engkau dan
dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti
seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا ذُوۡحَظٍّ
عَظِیۡمٍ -- Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang
yang sabar, dan sekali-kali tidak
dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagi-an besar dalam kebaikan. وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ
الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Ha Mim – As-Sajdah [41]:34-37).
Sehubungan dengan turunnya
para malaikat pembawa kabar
gembira terhadap orang-orang beriman
yang bersikap teguh tersebut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Banyak orang awam menganggap wahyu itu tidak ada realitasnya (kenyataannya) dan
merupakan suatu yang sia-sia, bahkan
dianggap lebih banyak mudharatnya daripada
manfaatnya. Pandangan demikian
berasal dari seorang yang belum pernah menikmati minuman anggur yang murni ini dan ia memang tidak menginginkan perolehan keimanan hakiki.
Orang seperti itu cukup puas dengan adat kebiasaannya sehari-hari dan tidak
pernah ingin mencari tahu sejauh
mana kadar keimanannya kepada Allah Yang Maha Agung dan seberapa jauh
tingkat pemahamannya serta apa yang
harus dilakukannya guna memupus kelemahan-kelemahan dirinya untuk
mengubah akhlak dan kelakuannya. Ia tidak berhasrat
memelihara benih kasih yang akan
memudahkan perjalanannya ke dunia lain
untuk pengembangan batin dan kemajuan ruhaninya.
Dalam kehidupan yang selalu menekan
manusia ke bawah, karena beban tanggung
jawab isteri dan anak-anak serta
keinginan menjaga kehormatan dan nama baik, yang semuanya itu seperti batu berat yang menggandul di lehernya, sepatutnya ia membutuhkan kekuatan luhur yang membawa dirinya ke
arah tujuan yang hakiki sehingga
akan timbul hasrat di dirinya untuk
menjumpai kecantikan Allah Yang Maha
Perkasa yang sempurna. Kekuatan luhur itu adalah wahyu Ilahi yang memberikan ketentraman dalam masa kesulitan.
Adanya wahyu menjadikan seseorang
dapat bertahan dengan hati lapang
dan nyaman meski ditimpa segunung bencana. Wujud tidak terlihat (gaib) yang selama ini
selalu membingungkan fikiran dan benak para filosof, memanifestasikan
Diri-Nya hanya melalui wahyu.
Dia akan menenangkan kalbu para pencari dan mengaruniakan kepuasan kepada mereka serta menghidupkan kembali mereka yang sudah separuh mati dengan firman-Nya: “Aku ini ada.”
Memang benar bahwa Al-Quran mengandung semua petunjuk
yang dibutuhkan manusia, tetapi
ketika Al-Quran membimbing seseorang
ke Sumber mata air segala petunjuk maka salah satu indikasi mengenai hal itu adalah ia mulai mengalami komunikasi dengan Tuhan.
Saat itu ia mulai mengalami pencerahan pada tingkat yang tinggi dimana ia melihat
nur dan berkat yang nyata,
sehingga ia memperoleh pemahaman
yang tidak mungkin didapat dari mengikuti
teori-teori intelektual secara membuta
karena intelek manusia bersifat terbatas, penuh keraguan, cacat dan tidak lengkap. Kita seharusnya
meluaskan jangkauan pengenalan (makrifat)
kita secara langsung karena dengan bertambah pemahaman maka akan meningkat pula hasrat kita.
Dengan pengenalan (makrifat) yang cacat dengan sendirinya kita tidak bisa
mengharapkan hasrat yang sempurna.
Mengherankan sekali bahwa ada manusia-manusia
bodoh yang menganggap dirinya tidak
membutuhkan sarana guna pengenalan
kebenaran, yang sebenarnya merupakan kebutuhan
hidup keruhaniannya.
Ingatlah selalu bahwa pengetahuan dan pemahaman
keruhanian hanya bisa didapat melalui wahyu
dan kasyaf dimana sebelum kita
berhasil mencapai tingkatan nur
untuk itu maka fitrat kemanusiaan
kita belum berhasil memperoleh pemahaman
atau kesempurnaan hakiki.
Wahyu Sebagai Sarana
Keselamatan
Manusia ini diciptakan untuk suatu tujuan luhur yaitu pemahaman hakiki mengenai Wujud
Tuhan, karena atas dasar pemahaman
itulah tergantung keselamatan kita. Pemahaman demikian akan membebaskan kita dari setiap cara tidak bersih yang meragukan
dan menuntun kita ke tepi sebuah sungai yang jernih dan murni. Hal ini hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi.
Ketika sedang fana (tenggelam) dengan diri kita sendiri, kita akan menyelam dalam dengan hasrat yang menggebu ke lubuk Wujud Yang tersembunyi dan sampai di hadirat Tuhan untuk kemudian kembali
sambil membawa beberapa tanda-tanda
dan nur dari dunia tersebut.
Sesungguhnya apa yang dicemoohkan oleh dunia
adalah satu-satunya cara yang bisa mempertemukan seketika seseorang dengan
Wujud Yang dikasihinya dimana Dia akan mengaruniakan ketentraman kepada para pecinta-Nya. Pengalaman
demikian akan memupus kalbu
seseorang dari segala bentuk keterbatasan
egonya karena tanpa nur hakiki
yang turun ke hatinya maka tidak
mungkin seseorang memperoleh pencerahan.
Justru karena ketidak-sempurnaan
penalaran manusia serta keterbatasan
pengetahuan menjadikannya membutuhkan
wahyu.” (Izalah
Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. III, hlm.
326-329, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 17 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar