Senin, 11 April 2016

Tiga Cara Allah Swt. "Berkomunikasi" Dengan Manusia & "Wahyu Ilahi" kepada Ibu Nabi Musa a.s. dan "Hawari" (Murid-murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI



Tiga Cara Allah Swt. “Berkomunikasi” Dengan Manusia   & Wahyu Ilahi Kepada Ibu Nabi Musa a.s. dan Hawari (Murid-murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

Bab 19


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 1 s/d Bab 18   telah dijelaskan mengenai    kesempurnaan bahasa Arab sebagai ibu segala bahasa, dalam Bab  ini dan selanjutnya akan dibahas  masalah  wahyu, ilham, kasyaf dan mimpi, yang merupakan sarana yang digunakan Allah Swt. untuk “berkomunikasi” dengan manusia  -- terutama dengan para nabi (rasul) Allah   --  firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ  -- kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya  Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا   --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ  -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.  وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ  -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ  -- Ketahuilah, kepada Allāh segala perkara kembali.  (Asy-Syūrā [42]:52-54).

Tiga Cara Allah Swt. “Berkomunikasi” dengan Manusia &  Turunnya Wahyu Ilahi  Kepada Orang-orang yang Bukan Rasul Allah dan Lebah

    Ayat 52 menyebut tiga cara Allah  Swt.    berbicara kepada hamba-hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka: (a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara. (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud   yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir," (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
   Al-Quran dalam ayat 53 disebut   ruh (رُوۡحًا -- nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya   bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru:  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا   --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ  -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.  وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ  -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus.”
    Betapa pentingnya keberadaan wahyu Ilahi  tersebut sehingga ibu Nabi Musa a.s. pun tidak ragu-ragu untuk menghanyutkan Nabi Musa a.s. ketika masih bayi  di sungai Nil, dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt. agar selamat dari perintah pembunuhan dari Fir’aun  terhadap  semua   bayi laki-laki di kalangan Bani Israil  di wilayah Mesir, firman-Nya:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰۤی اُمِّ مُوۡسٰۤی اَنۡ  اَرۡضِعِیۡہِ ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ  فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ  وَ لَا تَخَافِیۡ  وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ  اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ  مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡتَقَطَہٗۤ  اٰلُ فِرۡعَوۡنَ  لِیَکُوۡنَ لَہُمۡ عَدُوًّا وَّ حَزَنًا ؕ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ  وَ ہَامٰنَ  وَ جُنُوۡدَہُمَا  کَانُوۡا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾   وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ  نَتَّخِذَہٗ   وَلَدًا  وَّ  ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَصۡبَحَ فُؤَادُ  اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا ؕ اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  wahyukan kepada ibu Musa supaya   dia menyusuinya:  فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ  فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ  وَ لَا تَخَافِیۡ  وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ  اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ  مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ  -- “Lalu apabila engkau takut mengenai  dia maka letakkanlah dia di sungai, dan janganlah engkau takut dan jangan pula engkau bersedih,  sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepada engkau, dan Kami akan menjadikannya salah seorang dari   orang-orang yang diutus.”   Lalu  seorang dari keluarga Fir’aun memungut dia, supaya aki-batnya menjadi musuh dan  kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman serta lasykar-lasykar keduanya itu adalah orang-orang yang bersalah. وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ  --   Dan   seorang perempuan  dari keluarga Fir’aun berkata: “Anak ini akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagi engkau, jangan engkau membunuhnya, عَسٰۤی اَنۡ  یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ  نَتَّخِذَہٗ   وَلَدًا  وَّ  ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- mudah-mudahan ia akan bermanfaat bagi kita atau kita akan menjadikannya anak” sedang  mereka tidak menyadari. وَ اَصۡبَحَ فُؤَادُ  اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا --   Dan kegelisahan hati ibu Musa hilang  menjadi kegembiraan, اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- hampir saja ia menyingkapkan mengenai anak itu,  seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang beriman. (Al-Qashash [28]:8-11).
    Cara bekerja Allah Swt.  sungguh tidak dapat kita maklumi. Fir’aun tidak mengetahui, bahwa justru anak yang kepadanya itu ia curahkan segenap kasih-sayang, pada suatu hari anak itu juga ternyata akan menjadi alat penghukum baginya sebagai ketetapan takdir Ilahi, sebab ia telah menghina dan menentang perintah-perintah Tuhan, dan telah mengikat orang-orang Bani Israil dalam belenggu perbudakan, dan berlaku zalim terhadap mereka beberapa waktu lamanya.
    Ibunda Nabi Musa a.s.    begitu girang dengan pengembalian Nabi Musa a.s. kepadanya, sehingga saking sangat  girangnya hampir-hampir ia akan mengatakan bahwa anak itu anaknya sendiri. Jika sekiranya Allah Swt.  tidak mencegahnya, beliau nyaris menceriterakan kepada orang seluruh kejadian, bagaimana beliau menerima wahyu Ilahi dan bagaimana dalam menaatinya, beliau telah menghanyutkan anaknya itu di sungai dan seterusnya.

Turunnya Wahyu Ilahi  Kepada Murid-murid Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   dan Lebah

    Demikian pula berimannya para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   kepada beliau  di masa awal pun karena peran wahyu Ilahi  pula, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Māidah [5]:112).
       Bahkan, menurut Al-Quran   kepada lebah madu pun Allah Swt. menurunkan wahyu-Nya, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah:  اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ -- “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.  ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا  --  “Kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan  Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia.  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ --  Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang memikirkan.(An-Nahl [16]: 69-70).
      Wahyu di sini berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah Swt.  telah menganugerahi semua makhluk. Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham) Ilahi, baik yang nyata ataupun tersembunyi (QS.41:12-13)
Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluk memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya. Dan lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.
        Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayat selanjutnya, yakni Allah Swt. mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt.  kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.
      Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa  serta berbagai  khasiat  -- terutama untuk menyembuhkan  berbagai penyakit  --  akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti bahwa wahyu Ilahi  pun telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi Allah di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi Allah  dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi lain, walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus, terutama sekali  ajaran  Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw..

Mereka yang “Memusuhi” Malaikat Jibril a.s.

      Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya keberadaan serta kesinambungan turunnya  wahyu Ilahi  tersebut bagi umat manusia melalui Ruhulqudus (Malaikat Jibril a.s.):
      “Aku beritahukan kepada kalian bahwa sesungguhnya semua pintu bisa saja telah tertutup namun pintu turunnya Ruhulqudus tidak pernah ditutup. Bukalah pintu hati kalian agar ruh itu bisa masuk ke dalamnya.” 
     Allah Swt. berfirman mengenai tidak pernah berhentinya Malaikat Jibril a.s. menyampaikan wahyu Ilahi  yang menjadi tugasnya dan tanggungjawabnya (QS.35:1-3), sekali pun wahyu syariat telah berakhir dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4; QS.26:193-198):
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”, karena sesungguhnya dialah yang  menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ     -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya,  dan Jibril dan Mikail  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ    --   maka sesungguhnya Allah pun men-jadi musuh bagi orang-orang kafir.”  Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik.   Apakah patut   setiap kali mereka membuat janji, segolongan dari mereka membuangnya? Bahkan kebanyakan dari mereka tidak beriman. (Al-Baqarah [2]:98-100).
       Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
        Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir).   Jibril sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran.   Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril itu searti dengan Rūhulqudus  dan Rūhul-Amīn.
       Menurut Bible pun tugas Jibril  adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada Jibril. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica, pada Gabriel). Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Jarir dan Musnad).
        Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
       Makna ayat:  مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ     -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya,  dan Jibril dan Mikail  فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ    --   maka sesungguhnya Allah pun men-jadi musuh bagi orang-orang kafir,”  bahwa malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya  ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.

Kesinambungan Turunnya “Wahyu-wahyu Syaitan

       Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar, akibatnya bukan malaikat pembawa wahyu Ilahi (Jibril a.s.) yang turun kepada mereka melainkan  yang turun adalah  wahyu-wahyu syaitan,  berikut firman-Nya mengenai wahyu Al-Quran:
وَ مَا  تَنَزَّلَتۡ بِہِ  الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾   وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لَہُمۡ وَ مَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ﴿﴾ؕ   اِنَّہُمۡ  عَنِ  السَّمۡعِ  لَمَعۡزُوۡلُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan sekali-kali bukan  syaitan-syaitan yang membawanya  turun,   dan sekali-kali tidak layak untuk mereka dan sekali-kali tidak pula mereka mempunyai kekuatan. Sesungguhnya mereka itu telah dihalangi dari mendengar Kalam Ilahi.  Maka janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama Allah,  karena engkau akan menjadi orang-orang yang diazab. (Asy-Syū’arā [26]:211-214).
      Ayat-ayat ini mengandung tiga buah dalil yang mendukung pendakwaan, bahwa syaitan tidak ikut membantu dalam pembuatan Al-Quran:
      (a) Ajaran Al-Quran merupakan suatu celaan keras, yang paling jitu, tidak mengenal kerjasama terhadap semua hal yang dibela oleh syaitan.
      (b) Al-Quran begitu agung sifatnya dan mendukung kebenaran-kebenaran yang demikian luhurnya, sehingga sama sekali ada di luar jangkauan kekuasaan syaitan untuk menghasilkan yang serupa itu (QS.17:89).
      (c) Al-Quran mengandung nubuatan-nubuatan yang hebat tentang kemenangan Islam pada akhirnya. Syaitan tidak dapat membuat nubuatan-nubuatan, sebab mereka tidak mempunyai ilmu tentang masa depan.
      Jadi,  Al-Quran tidak mungkin karya syaitan atau wahyu syaitan, sebab  hasil karya syaitan tidak mungkin menekankan begitu tegas mengenai Ke-Esa-an Tuhan sebagaimana telah ditekankan dalam Al-Quran, firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ  تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ  یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ  اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ  وَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ  کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ  مُنۡقَلَبٍ  یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu   kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?   Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa.   Mereka mengarahkan  telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta. Dan penyair-penyair itu yang  mengikuti mereka adalah orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat  bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari  tanpa tujuan di dalam setiap lembah,    dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang  tidak mereka  lakukan,  kecuali orang-orang yang beriman  dan beramal saleh  serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka   membela diri setelah mereka dizalimi. Dan orang-orang zalim itu segera akan  mengetahui  ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syū’arā [26]:222-228).
        Dalam ayat-ayat ini tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.   adalah seorang penyair (QS.21:6) disangkal. Tiga alasan yang diberikan sebagai sangkalan, ialah:
      (1) Orang-orang yang mengikut dan berteman dengan penyair-penyair bukanlah orang-orang yang berbudi pekerti tinggi, tetapi para pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  memiliki cita-cita yang sangat mulia dan berbudi pekerti yang sangat luhur.
      (2) Penyair-penyair tidak mempunyai cita-cita atau rencana hidup yang terarah. Mereka itu seakan-akan melantur tidak menentu arah-tujuannya di tiap-tiap lembah. Akan tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai suatu tugas hidup yang  sangat agung dan luhur.
     (3). Penyair-penyair tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan (QS.2:45; QS.[61]3-5) sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya Guru yang paling mulia, melainkan juga seorang pribadi terbesar dari antara orang-orang yang sibuk berkarya, dan seorang suri teladan yang sempurna (QS.33:22).
      Ada pun yang dimaksud dengan "penyair-penyair" dalam ayat-ayat tersebut terutama tertuju kepada ahli-ahli syair di kalangan bangsa Arab di masa Nabi Besar Muhammad saw.  yang sangat bangga dengaan kefasihan syair-syair mereka yang dianggap dapat "menyihir" orang-orang yang mendengarnya serta dapat menimbulkan semangat  juang  para prajurit ketika mereka melakukan peperangan.

Kekeliruan Pandangan Para   Filsuf yang Hanya Mengandalkan Logika &  Pentingnya Kedatangan “Manusia-manusia Pilihan” Allah Swt.

       Sehubungan dengan pentingnya kesinambungan turunnya wahyu-wahyu Ilahi yang bukan- syariat  -- setelah wahyu Al-Quran  (QS.5:4)  -- guna membimbing manusia dari ketersesatan   akibat pengaruh wahyu syaitan  yang diancamkan iblis (QS.7:12- 18)  -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      Tidak ada suatu kaidah apa pun yang dapat menjamin bahwa dengan mengikutinya maka manusia akan mutlak terpelihara dari segala kesalahan. Karena itulah para filosof yang merangkai aturan-aturan logika dan mengemukakan cara-cara diskusi serta membangun argumentasi filosofi, selalu terjerumus dalam kesalahan dan mewariskan kepada manusia ketiadaan pengetahuan mereka tentang suatu pandangan, pendapat filosofi yang salah serta berbagai diskursus (artikel)  kosong. Hal ini menunjukkan adalah tidak mungkin mengungkap kebenaran setiap hal, lalu menentukan akidah yang benar berdasarkan telaah sendiri tanpa melakukan suatu kesalahan.
      Kami belum pernah mengetahui atau mendengar atau pun membaca bahwa ada perorangan di kitab sejarah mana pun yang terbebas dari kesalahan dalam keseluruhan pandangan dan renungannya. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin menemukan seseorang yang melalui penelitian tentang hukum alam dan yang menyelaraskan kesadaran dirinya sejalan dengan kondisi dunia, lalu sanggup membawa penelitiannya ke tingkat kebenaran tertinggi dimana tidak ada lagi kemungkinan munculnya kesalahan.
     Kalau nyatanya manusia tidak mungkin berlepas diri dari kesalahan dengan mengandalkan pengetahuannya sendiri, sedangkan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Yang bersih dari segala kesalahan dan mengetahui kebenaran segala hal, lalu tidak menolong hamba-Nya melalui wahyu, bagaimana mungkin kita ini sebagai makhluk yang lemah dapat keluar dari kungkungan kegelapan kebodohan dan kesalahan, serta bagaimana membebaskan diri dari segala keraguan dan kecurigaan?
       Karena itu, aku dengan sangat yakin menyatakan bahwa kebijakan, kasih dan kecintaan Allah Swt.  dari waktu ke waktu -- bilamana dalam pandangan-Nya sudah tepat saatnya -- akan menciptakan manusia-manusia pilihan yang menjadi penerima wahyu demi penegakan akidah hakiki dan menetapkan akhlak yang benar.
     Kepada manusia-manusia pilihan tersebut dikaruniakan kemampuan menyampaikan ajaran mereka kepada manusia lainnya, sehingga tujuan bahwa umat manusia diciptakan agar mendapat bimbingan yang benar tidak akan kehilangan apa yang menjadi hak mereka.” (Purani Tehrirain; Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  20-21, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 April    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar