Selasa, 19 April 2016

Pengalaman "Berkomunikasi" Dengan Allah Swt. Ketika Menerima "Wahyu Ilahi" & Kemunculan "Bintang Bercahaya Cemerlang" Pengusir "Syaitan-syaitan Pencuri Dengar" Kalam Ilahi





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


  Pengalaman   Berkomunikasi” Dengan Allah Swt.   Ketika Menerima  Wahyu Ilahi  & Kemunculan “Bintang” Bercahaya  Cemerlang   Pengusir Syaitan-syaitan  "Pencuri Dengar” Kalam Ilahi

Bab 25


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D

alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan    mengenai perbedaan wahyu Iahi  dengan   fenomena psikis  berupa hasil melakukan perenungan (tafakur) berkenaan dengan  ramalan yang dilakukan oleh para ahli nujum dan para peramal lainnya.  Beliau bersabda:

    “Beberapa orang mengajukan keberatan dan menyatakan bahwa banyak kelompok orang seperti ahli perbintangan, tukang nujum, tabib-tabib, pembaca rajah tangan dan lain-lain yang mengaku bisa melihat hal-hal tersembunyi dan meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dimana akhir-akhir ini ada pula orang-orang yang bisa mengungkapkannya melalui hipnotisme. Lalu bagaimana menisbahkan pengungkapan hal tersembunyi tersebut sebagai bukti konklusif bahwa wahyu berasal dari Tuhan,  jika orang-orang tersebut pun mampu melakukannya?

   Jawabannya adalah, semua orang-orang itu berbicara dari hasil menduga-duga saja dan mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti dimana mereka juga tidak ada mengakui memiliki pengetahuan khusus. Sesungguhnya ramalan-ramalan mereka didasarkan pada tanda-tanda dan indikasi yang meragukan serta tidak mengandung kepastian dan tidak luput dari keraguan dan kesalahan. Sering sekali ternyata ramalan mereka itu terbukti tidak berdasar dan palsu adanya, sehingga menjadikan ramalan mereka tersebut tidak dihargai atau diterima orang.

     Mereka yang biasa melakukan ramalan-ramalan demikian umumnya dari kalangan orang-orang yang didera kemiskinan, kelompok yang tidak dihargai, para pengecut dan mereka yang tidak beradab. Mereka tidak akan mampu mengkonversi (mengubah) hal-hal tersembunyi sejalan dengan ramalan mereka, dan di kalangan mereka terdapat tanda-tanda kemurkaan Tuhan dimana mereka tidak ada memiliki berkat, kemuliaan atau pertolongan Samawi.

     Adapun para nabi dan wali-wali  tidak hanya mengungkapkan hal yang tersembunyi seperti yang dilakukan oleh para ahli perbintangan, tetapi juga diikuti dengan rahmat dan berkat Tuhan yang selalu menyertai mereka. Ramalan atau nubuatan mereka itu dipenuhi dengan nur keridhaan dan kemuliaan yang bersinar seperti matahari yang mencakup kabar baik, kemuliaan dan pertolongan Tuhan.

     Perhatikanlah nubuatan-nubuatan dalam Al-Quran yang penuh keagungan serta kemuliaan. dan kalian akan menyadari betapa berbedanya semua itu dengan ramalan para tukang nujum. Semua nubuatan tersebut ditandai dengan pernyataan tentang kemuliaan si penerima dan kenistaan lawan-lawan mereka, keberhasilan mereka dan kegagalan musuh-musuh tersebut, kemenangan mereka dan kekalahan lawannya serta kemakmuran mereka dan kerugian para musuh.

    Mungkinkah para ahli perbintangan (astrolog), tukang ramal atau penghipnotis mengemukakan nubuatan-nubuatan seperti itu? Jelas tidak mungkin.

     Karakteristik untuk selalu memberikan pernyataan tentang kebaikan satu pihak dan kerugian para lawannya serta bantahan atas apa yang dikatakan lawan-lawan itu -- berikut janji pemenuhan kepada mereka yang dikasihi --  hanya bisa berasal dari Tuhan dan bukan merupakan ciptaan manusia.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, jld. III, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 238-242, London, 1984).

      Salah satu contoh nubuatan Al-Quran yang senantiasa terbukti kebenarannya, baik  yang terjadi di masa lalu mau pun di masa ini serta di masa yang akan datang:

اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ  --   Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.”  Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadilah [58]:21-22).



Bintang yang Bercahaya Sangat Cemerlang



     Sehubungan dengan terpeliharanya berbagai  nubuatan yang datang melalui wahyu Ilahi kepada rasul Allah tersebut dari kegagagalan penggenapannya,  Allah Swt. berfirman:

 وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا  لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾

Dan  sungguh  Kami benar-benar   telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya  untuk orang-orang yang melihat.   Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk.  Melainkan  jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang.   (Al-Hijr, [15]:17-19).

        Yang dimaksudkan ayat: وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا  لِلنّٰظِرِیۡنَ   -- “Dan  sungguh  Kami benar-benar   telah menjadikan gugusan-gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya  untuk orang-orang yang melihat   bukan semata-mata keindahan pemandangan planit-planit dan bintang-bintang yang nampak di waktu malam.

    Tujuan agung yang dipenuhi oleh penciptaan  benda-benda langit itu, disebut dalam ayat-ayat berikutnya, seperti juga dalam QS.16:17 dan QS.67:6.  dan dalam menjadi sempurnanya tujuan agung itulah terletak keindahan yang sesungguhnya dari benda-benda langit itu.

    Makna ayat:  وَ  حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ  -- “Dan  Kami telah memeliharanya dari gangguan setiap syaitan yang terkutuk   menunjukkan, bahwa sebagaimana dalam alam kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai sedikit banyak tenaga (energi) atau pengaruh dan dapat mendatangkan beberapa kemudaratan tertentu kepada orang-orang lain, namun mereka sama sekali tidak dapat memahrumkan (meluputkan) orang-orang dari nikmat-nikmat samawi  dari langit, seperti pengaruh  sehat dari bintang-bintang dan sebagainya,  demikian pula syaitan dalam alam keruhanian   tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi Allah dan pengikut-pengikut mereka yang sejati (QS.15:43).

      Kata “syaitan” dalam ayat yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang kafir tertentu, yang berkeinginan mencapai keakraban dengan Allah Swt. tanpa mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi (ayat-ayat 14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga dan pintu gerbangnya ditutup erat-erat.



Syaitan-syaitanPencuri  Dengar” Kalam Ilahi



       Makna  mencuri Kalam Ilahi” dalam ayat: اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ  -- “Melainkan  jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang“ dapat mengandung arti perbuatan palsu orang-orang yang berlagak mengemukakan ajaran-ajaran para nabi Allah  sebagai ajaran dari mereka sendiri, seperti yang dilakukan Samiri yang membuat patung anak sapi dari perhiasan yang dikumpulkan dari orang-orang  Bani Israil  (QS.7:149-152; QS.20:84-99).

       Mereka itu berusaha menipu orang-orang agar mempercayai bahwa nabi-nabi Allah  tidak membawa ajaran baru, dan bahwa mereka juga mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi Allah. Atau ayat itu dapat juga berarti, bahwa mereka mengutip suatu bagian dari ajaran dengan jalan memisahkannya dari siaq-sabaq (ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan orang-orang yang sederhana pikirannya, dengan memberikan penafsiran salah tentang kata-kata itu dan mengaburkan artinya.

       Kata-kata, اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ  --  jika ada orang yang mencuri dengar  jelas menunjukkan, bahwa kata-kata langit dalam ayat 17 menggambarkan sistem keruhanian dan bukan angkasa alam jasmani, sebab mencuri Kalam Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.

        Kata burūj (gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allah secara umum, sedangkan kata-kata syihābun mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai untuk nabi Allah masa ini yaitu Penghulu para nabi Allah  (Nabi Besar Muhammad saw.).

      Pengejaran syaitan oleh syihāb maksudnya, bahwa selama suatu ajaran agama berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-dzikr, ayat 10) dan memberi nur dan hidayat maka  para mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu dari Allah) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya. Salah satu tanda kedatangan mushlih-mushlih rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang dalam jumlah besar.

    Di zaman pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.   meteor-meteor jatuh sedemikian banyaknya, sehingga kaum kafir menyangka bahwa langit dan bumi akan runtuh (Tafsir Ibnu Katsir). Dari kejadian yang luar biasa inilah Heraclius   -- kaisar kerajaan Romawi  --  yang agaknya mempunyai sedikit pengetahuan tentang ilmu perbintangan, menarik kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).

       Di zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa besarnya (Bihar-ul-Anwar). Gejala langit ini pernah disaksikan di masa  di Akhir Zaman ini  dalam tahun 1885 sehubungan pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi a.s.  dan Al-Masih Mau’ud a.s..  atau Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:8-18).

      Dengan demikian sejarah dan hadits kedua-duanya memberikan kesaksian, bahwa berjatuhannya meteor-meteor dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti mengenai munculnya seorang mushlih rabbani  (rasul Allah).



Pengetahuan Manusia itu Defektif (Lemah)



      Kata “syaitan” dalam ayat 18 dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung. Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih rabbani (rasul Allah) maka  ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani (nabi Allah), ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya dan orang-orang dengan mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) dari rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan (ramalan-ramalan) dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir.

      Ayat  اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ  -- “Melainkan  jika ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya maka ia dikejar kobaran nyala api yang terang-benderang dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong dari wahyu Ilahi dengan menceraikannya (memisahkannya) dari susunan kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keterbatasan kemampuan manusia:    

     Meskipun manusia sudah beribu-ribu tahun berusaha mencari tahu kekuatan Tuhan melalui ilmu-ilmu fisika dan matematika, namun pengetahuan yang dimilikinya itu demikian tidak sempurnanya, sehingga mereka tidak dapat dikatakan telah berhasil dalam pencaharian mereka. Di pihak lain, beratus-ratus misteri tersembunyi dibukakan kepada mereka yang menerima wahyu dan kasyaf dimana semuanya itu disaksikan kebenarannya oleh ribuan orang-orang bertakwa.

    Tetapi para filosof tetap saja menyangkal mereka. Para filosof tersebut mendasarkan pemikiran dan perenungan mereka hanya pada otak saja, sedangkan mereka yang memiliki pengalaman kasyaf setelah menemukan kebenaran melalui pengalaman keruhanian, menyadari bahwa yang menjadi sumber mata air penalaran dan pemahaman adalah kalbu manusia.

      Selama 53  tahun saya telah mengamati bahwa wahyu yang menjadi dasar pemahaman keruhanian dan pengetahuan tentang hal-hal yang tersembunyi, terungkapnya selalu melalui hati. Seringkali suatu suara menghentak hati dengan kuat, seperti ember yang dilemparkan dengan kuat ke sebuah sumur yang penuh air, dimana air nurani itu melonjak ke atas laiknya sekuntum bunga yang kuncup,  yang ketika mendekati otak lalu mekar dan menzahirkan kata-kata yang merupakan firman Ilahi.

      Pengalaman ruhani tersebut menegaskan bahwa otak sebenarnya tidak terkait dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar. Memang benar bahwa jika otak itu sehat tanpa cacat maka otak itu akan memperoleh manfaat dari pengetahuan rahasia yang dimiliki kalbu, mengingat otak sebagai pusat dari jaringan syaraf berfungsi sebagai mesin yang memompa air dari dalam sumur.

     Adapun kalbu merupakan sumur yang menjadi sumber mata air dari semua pengetahuan yang tersembunyi. Semua itu merupakan rahasia yang telah ditemukan oleh orang-orang suci melalui kasyaf hakiki, dan aku sendiri juga telah mengalaminya.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  282-283, London, 1984).



Pembukaan Rahasia-rahasia Gaib Allah Swt. kepada Rasul-Nya   



    Allah Swt. berfirman mengenai keistimewaan pembukaan rahasia-rahasia gaib Allah Swt. kepada rasul Allah:

عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾

Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).

       Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti   diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Ayat-ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.

     Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  -- “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.

       Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara.

       Tujuan pengutusan rasul Allah yang dijanjikan tersebut selain bertugas sebagai  pengusir “syaitan-syaitan pencuri dengar kalam Ilahi”  juga sebagai “pemisah” antara orang-orang yang keimanannya benar dari yang keimanannya tidak benar, firman-Nya:

مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾

Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya   hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Āli ‘Imran [3]:180).



Pengalaman “Berkomunikasi” dengan Allah Swt.



   Ayat ini maksudnya adalah  bahwa  cobaan dan kemalangan yang telah dialami kaum Muslimin hingga saat itu tidak akan segera berakhir. Masih banyak lagi  cobaan dan ujian-ujian keimanan yang tersedia bagi mereka, dan  cobaan-cobaan itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang beriman  sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah iman.

       Kata-kata  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki“ itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul Allah  terpilih dan sebagian lagi tidak. Kata-kata itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt.    sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih yang paling sesuai untuk zaman tertentu, di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, demikian juga di Akhir Zaman ini.

      Sehubungan pembukaan rahasia -rahasia gaib Allah Swt.  kepada para rasul Allah tersebut Masih Mau’ud a.s.  bersabda:

     Aku telah mendapat kehormatan dalam bentuk komunikasi dengan Tuhan selama hampir 11 tahun, dan aku tahu betul bahwa wahyu itu turun dari langit. Jika ada yang mencoba menggambarkan wahyu dengan padanannya pada benda-benda duniawi, mungkin bisa dibandingkan dengan telegram.[1] 

     Berdasarkan pengalamanku, pada saat turunnya wahyu yang dikemukakan kepadaku sebagai wahyu para wali, aku merasa berada dalam pengendalian kekuatan eksternal (luar) yang amat ketat. Kadang-kadang pengendalian itu demikian kuatnya dan merengkuh diriku dalam nurnya yang cemerlang sehingga aku merasa tersedot ke dalamnya dan seluruh inderaku sama sekali tidak dapat bertahan.

      Dalam kondisi demikian aku lalu mendengar firman yang jelas dan jernih. Terkadang pada saat demikian aku melihat beberapa malaikat dan menyaksikan kekuatan dan kedahsyatan kebenaran. Firman yang disampaikan kepadaku seringkali berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi dan di dalamnya mengandung kekuatan pengendalian yang membuktikan eksistensi  (keberadaan) Allah Yang Maha Agung. Menyangkal adanya hal seperti itu sama saja dengan memusnahkan suatu kebenaran yang nyata.” (Barakatud Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  26, London, 1984).



(Bersambung)

       

Rujukan: The Holy Quran

Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 19 April    2016







[1] Pada masa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjadi sarana komunikasi tercanggih adalah 5 telegram yang menghubungkan antar manusia melalui saluran kawat logam dan menghasilkan simbol-simbol kata di tiap terminalnya. Telepon waktu itu belum lagi dikenal. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar