Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Pengalaman “Berkomunikasi” Dengan Allah Swt. Ketika Menerima Wahyu
Ilahi & Kemunculan “Bintang” Bercahaya Cemerlang Pengusir Syaitan-syaitan "Pencuri Dengar” Kalam Ilahi
Bab 25
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya Masih
Mau’ud a.s. telah menjelaskan mengenai perbedaan wahyu Iahi dengan fenomena psikis
berupa hasil melakukan perenungan (tafakur) berkenaan dengan ramalan
yang dilakukan oleh para ahli nujum
dan para peramal lainnya. Beliau bersabda:
“Beberapa orang mengajukan keberatan dan menyatakan bahwa banyak kelompok orang seperti ahli perbintangan, tukang nujum, tabib-tabib, pembaca rajah
tangan dan lain-lain yang mengaku
bisa melihat hal-hal tersembunyi
dan meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dimana akhir-akhir
ini ada pula orang-orang yang bisa mengungkapkannya melalui hipnotisme. Lalu bagaimana menisbahkan pengungkapan hal tersembunyi tersebut
sebagai bukti konklusif bahwa wahyu berasal dari Tuhan, jika orang-orang
tersebut pun mampu melakukannya?
Jawabannya
adalah, semua orang-orang itu berbicara
dari hasil menduga-duga saja dan
mereka tidak memiliki pengetahuan yang
pasti dimana mereka juga tidak ada mengakui memiliki pengetahuan khusus. Sesungguhnya ramalan-ramalan mereka didasarkan pada tanda-tanda dan indikasi
yang meragukan serta tidak
mengandung kepastian dan tidak luput
dari keraguan dan kesalahan. Sering sekali ternyata ramalan mereka itu terbukti tidak berdasar dan palsu
adanya, sehingga menjadikan ramalan
mereka tersebut tidak dihargai atau diterima orang.
Mereka yang biasa melakukan ramalan-ramalan demikian umumnya dari
kalangan orang-orang yang didera
kemiskinan, kelompok yang tidak dihargai, para pengecut dan mereka yang tidak beradab. Mereka tidak akan mampu mengkonversi (mengubah) hal-hal tersembunyi sejalan dengan ramalan mereka, dan di kalangan mereka
terdapat tanda-tanda kemurkaan Tuhan
dimana mereka tidak ada memiliki berkat,
kemuliaan atau pertolongan Samawi.
Adapun para nabi dan wali-wali tidak hanya mengungkapkan hal yang tersembunyi
seperti yang dilakukan oleh para ahli
perbintangan, tetapi juga diikuti dengan rahmat dan berkat Tuhan
yang selalu menyertai mereka. Ramalan atau nubuatan mereka itu dipenuhi dengan nur keridhaan dan kemuliaan
yang bersinar seperti matahari yang
mencakup kabar baik, kemuliaan dan pertolongan Tuhan.
Perhatikanlah nubuatan-nubuatan dalam Al-Quran
yang penuh keagungan serta kemuliaan. dan kalian akan menyadari
betapa berbedanya semua itu dengan ramalan para tukang nujum. Semua nubuatan
tersebut ditandai dengan pernyataan tentang kemuliaan si penerima dan kenistaan
lawan-lawan mereka, keberhasilan
mereka dan kegagalan musuh-musuh
tersebut, kemenangan mereka dan kekalahan lawannya serta kemakmuran mereka dan kerugian para musuh.
Mungkinkah para ahli perbintangan (astrolog), tukang
ramal atau penghipnotis
mengemukakan nubuatan-nubuatan
seperti itu? Jelas tidak mungkin.
Karakteristik
untuk selalu memberikan pernyataan
tentang kebaikan satu pihak dan kerugian para lawannya serta bantahan atas apa yang dikatakan lawan-lawan itu -- berikut janji pemenuhan kepada mereka yang dikasihi -- hanya bisa berasal dari Tuhan dan
bukan merupakan ciptaan manusia.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, jld. III, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. I, hlm. 238-242, London, 1984).
Salah satu
contoh nubuatan Al-Quran yang
senantiasa terbukti kebenarannya,
baik yang terjadi di masa lalu mau pun
di masa ini serta di masa yang akan datang:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی
الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ
اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ
رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ
لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ رُسُلِیۡ
-- Allah
telah menetapkan: “Aku dan
rasul-rasul-Ku pasti
akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Mujadilah [58]:21-22).
Bintang yang Bercahaya
Sangat Cemerlang
Sehubungan
dengan terpeliharanya berbagai nubuatan
yang datang melalui wahyu Ilahi
kepada rasul Allah tersebut dari kegagagalan penggenapannya, Allah Swt. berfirman:
وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا فِی
السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا
لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan gugusan-gugusan bintang
di langit dan Kami telah
menghiasinya untuk
orang-orang yang melihat. Dan Kami
telah memeliharanya dari gangguan
setiap syaitan yang terkutuk. Melainkan jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya
maka ia dikejar kobaran nyala api
yang terang-benderang. (Al-Hijr, [15]:17-19).
Yang dimaksudkan ayat: وَ لَقَدۡ جَعَلۡنَا
فِی السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّ زَیَّنّٰہَا
لِلنّٰظِرِیۡنَ -- “Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan gugusan-gugusan bintang
di langit dan Kami telah menghiasinya
untuk orang-orang yang melihat“ bukan
semata-mata keindahan pemandangan
planit-planit dan bintang-bintang
yang nampak di waktu malam.
Tujuan agung yang dipenuhi oleh penciptaan benda-benda
langit itu, disebut dalam ayat-ayat berikutnya, seperti juga dalam QS.16:17
dan QS.67:6. dan dalam menjadi
sempurnanya tujuan agung itulah
terletak keindahan yang sesungguhnya
dari benda-benda langit itu.
Makna ayat: وَ حَفِظۡنٰہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ -- “Dan Kami
telah memeliharanya dari gangguan
setiap syaitan yang terkutuk“ menunjukkan, bahwa sebagaimana dalam alam kebendaan, orang-orang yang berpembawaan buruk mempunyai sedikit
banyak tenaga (energi) atau pengaruh dan dapat mendatangkan beberapa
kemudaratan tertentu kepada orang-orang
lain, namun mereka sama sekali tidak dapat memahrumkan
(meluputkan) orang-orang dari nikmat-nikmat
samawi dari langit, seperti pengaruh sehat
dari bintang-bintang dan
sebagainya, demikian pula syaitan dalam alam keruhanian tidak mempunyai kekuasaan atas nabi-nabi Allah
dan pengikut-pengikut mereka yang
sejati (QS.15:43).
Kata “syaitan” dalam ayat
yang sedang dibahas ini menunjuk kepada orang-orang
kafir tertentu, yang berkeinginan
mencapai keakraban dengan Allah Swt.
tanpa mengikuti ajaran yang
dibawa oleh nabi-nabi (ayat-ayat
14-16). Terhadap orang-orang semacam itu memang langit keruhanian telah dijaga
dan pintu gerbangnya ditutup
erat-erat.
Syaitan-syaitan “Pencuri Dengar” Kalam Ilahi
Makna “mencuri Kalam Ilahi” dalam ayat: اِلَّا مَنِ
اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ -- “Melainkan jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya
maka ia dikejar kobaran nyala api
yang terang-benderang“ dapat
mengandung arti perbuatan palsu
orang-orang yang berlagak mengemukakan ajaran-ajaran
para nabi Allah sebagai ajaran
dari mereka sendiri, seperti yang dilakukan Samiri
yang membuat patung anak sapi dari perhiasan yang dikumpulkan dari
orang-orang Bani Israil (QS.7:149-152;
QS.20:84-99).
Mereka itu berusaha menipu
orang-orang agar mempercayai bahwa nabi-nabi Allah tidak membawa ajaran baru, dan bahwa mereka juga mempunyai pengetahuan yang dimiliki oleh para nabi Allah. Atau ayat itu dapat juga berarti, bahwa mereka mengutip suatu bagian dari ajaran dengan jalan memisahkannya dari siaq-sabaq
(ujung pangkalnya) dan berusaha menyesatkan
orang-orang yang sederhana pikirannya,
dengan memberikan penafsiran salah
tentang kata-kata itu dan mengaburkan
artinya.
Kata-kata, اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ -- jika ada orang yang mencuri dengar jelas menunjukkan, bahwa kata-kata langit dalam ayat 17 menggambarkan sistem keruhanian dan bukan angkasa alam jasmani, sebab mencuri Kalam
Ilahi itu tidak ada sangkut pautnya dengan langit jasmani.
Kata burūj
(gugusan bintang-bintang) dalam ayat 17 menggambarkan rasul-rasul Allah secara umum, sedangkan kata-kata syihābun
mubīn (kobaran nyala api yang terang benderang) dalam ayat ini atau syihābun
tsāqib (kobaran nyala api yang menembus) tercantum dalam QS.37:11 dipakai
untuk nabi Allah masa ini yaitu Penghulu para nabi Allah (Nabi Besar Muhammad saw.).
Pengejaran syaitan oleh syihāb maksudnya, bahwa selama suatu ajaran agama berlandaskan pada wahyu Ilahi (Adz-dzikr, ayat 10) dan
memberi nur dan hidayat maka para mushlih rabbani (pembaharu-pembaharu
dari Allah) juga terus-menerus muncul untuk menjaganya.
Salah satu tanda kedatangan mushlih-mushlih
rabbani ke dunia adalah seringnya terjadi gejala meteorik, yaitu berjatuhannya bintang-bintang dalam jumlah besar.
Di zaman pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. meteor-meteor jatuh sedemikian
banyaknya, sehingga kaum kafir
menyangka bahwa langit dan bumi akan runtuh (Tafsir Ibnu Katsir). Dari kejadian yang
luar biasa inilah Heraclius -- kaisar kerajaan Romawi -- yang agaknya mempunyai sedikit pengetahuan
tentang ilmu perbintangan, menarik
kesimpulan, bahwa nabi dan raja bangsa Arab pasti sudah muncul (Bukhari bab bad’al-wahy).
Di zaman Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. juga bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah
yang luar biasa besarnya (Bihar-ul-Anwar).
Gejala langit ini pernah disaksikan di masa di Akhir
Zaman ini dalam tahun 1885
sehubungan pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad
a.s. sebagai Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih
Mau’ud a.s.. atau Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya
ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama
dengan nama yang berlainan
(QS.77:8-18).
Dengan demikian sejarah dan hadits
kedua-duanya memberikan kesaksian,
bahwa berjatuhannya meteor-meteor
dalam jumlah yang luar biasa besarnya, adalah satu tanda yang pasti mengenai munculnya seorang mushlih rabbani (rasul Allah).
Pengetahuan Manusia itu Defektif
(Lemah)
Kata “syaitan” dalam ayat
18 dapat dianggap menunjuk kepada ahli-ahli
nujum dan tukang-tukang tenung.
Dalam hal itu “merajam syaitan-syaitan” (QS.67:6) akan berarti bahwa
manakala di dunia ini tidak ada seorang mushlih
rabbani (rasul Allah) maka ahli-ahli nujum dan tukang-tukang sihir akan berhasil sampai batas tertentu dalam permainan kotornya dengan menipu orang-orang yang bodoh, tetapi dengan munculnya seorang mushlih rabbani (nabi Allah), ilmu mereka yang lancung itu terbuka kedoknya dan orang-orang dengan
mudah dapat membedakan antara kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) dari
rasul-rasul Ilahi dengan dugaan-dugaan dan terkaan-terkaan (ramalan-ramalan) dari ahli-ahli nujum dan tukang-tukang
sihir.
Ayat اِلَّا مَنِ اسۡتَرَقَ السَّمۡعَ
فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ مُّبِیۡنٌ -- “Melainkan jika
ada orang yang mencuri dengar wahyu Ilahi dan memutarbalikkannya
maka ia dikejar kobaran nyala api
yang terang-benderang“ dapat juga diartikan, bahwa tatkala beberapa
orang yang buruk pikirannya, mengambil sepotong
dari wahyu Ilahi dengan
menceraikannya (memisahkannya) dari susunan
kalimatnya, dan berusaha menyebar-luaskannya
dalam bentuk yang sudah rusak itu, maka sebuah tanda baru datang laksana sekilas cahaya yang berbinar-binar lalu menghancur-leburkan rencana-rencana buruk orang-orang yang bertingkah laku seperti syaitan itu.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keterbatasan kemampuan manusia:
“Meskipun manusia sudah beribu-ribu tahun berusaha mencari tahu kekuatan Tuhan melalui ilmu-ilmu
fisika dan matematika, namun pengetahuan yang dimilikinya itu
demikian tidak sempurnanya, sehingga
mereka tidak dapat dikatakan telah berhasil
dalam pencaharian mereka. Di pihak
lain, beratus-ratus misteri tersembunyi dibukakan kepada
mereka yang menerima wahyu dan kasyaf dimana semuanya itu disaksikan kebenarannya oleh ribuan orang-orang bertakwa.
Tetapi para filosof tetap saja menyangkal
mereka. Para filosof tersebut
mendasarkan pemikiran dan perenungan mereka hanya pada otak saja, sedangkan mereka yang
memiliki pengalaman kasyaf setelah
menemukan kebenaran melalui pengalaman keruhanian, menyadari bahwa
yang menjadi sumber mata air penalaran
dan pemahaman adalah kalbu manusia.
Selama 53 tahun saya telah mengamati bahwa wahyu yang menjadi dasar
pemahaman keruhanian dan pengetahuan
tentang hal-hal yang tersembunyi,
terungkapnya selalu melalui hati.
Seringkali suatu suara menghentak hati
dengan kuat, seperti ember yang dilemparkan dengan kuat ke sebuah sumur yang
penuh air, dimana air nurani itu
melonjak ke atas laiknya sekuntum bunga
yang kuncup, yang ketika mendekati otak lalu mekar dan
menzahirkan kata-kata yang merupakan
firman Ilahi.
Pengalaman
ruhani tersebut menegaskan bahwa otak
sebenarnya tidak terkait dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar.
Memang benar bahwa jika otak itu
sehat tanpa cacat maka otak itu akan
memperoleh manfaat dari pengetahuan rahasia yang dimiliki kalbu, mengingat otak sebagai pusat dari jaringan syaraf
berfungsi sebagai mesin yang memompa air dari dalam sumur.
Adapun kalbu merupakan sumur
yang menjadi sumber mata air dari
semua pengetahuan yang tersembunyi. Semua itu merupakan rahasia yang telah ditemukan oleh orang-orang suci melalui kasyaf hakiki, dan aku sendiri juga
telah mengalaminya.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXIII, hlm. 282-283, London, 1984).
Pembukaan Rahasia-rahasia Gaib Allah Swt. kepada
Rasul-Nya
Allah Swt. berfirman
mengenai keistimewaan pembukaan rahasia-rahasia
gaib Allah Swt. kepada rasul Allah:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی
کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di
hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia
mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti
diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting. Ayat-ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat
dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan
dan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan
bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan
dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib
-- “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang suci lainnya tidak
menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa
lainnya tidak begitu terpelihara.
Tujuan pengutusan rasul Allah yang dijanjikan tersebut selain bertugas sebagai pengusir
“syaitan-syaitan pencuri dengar kalam Ilahi”
juga sebagai “pemisah” antara
orang-orang yang keimanannya benar
dari yang keimanannya tidak benar, firman-Nya:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga
Dia memisahkan yang buruk
dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Āli ‘Imran [3]:180).
Pengalaman “Berkomunikasi” dengan Allah Swt.
Ayat ini maksudnya adalah bahwa cobaan dan kemalangan yang telah dialami kaum Muslimin hingga saat itu tidak akan segera berakhir. Masih banyak
lagi cobaan dan ujian-ujian
keimanan yang tersedia bagi mereka, dan cobaan-cobaan
itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang
beriman sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah
iman.
Kata-kata وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki“ itu tidaklah berarti bahwa sebagian rasul-rasul Allah terpilih
dan sebagian lagi tidak. Kata-kata
itu berarti bahwa dari orang-orang yang ditetapkan Allah Swt. sebagai rasul-rasul-Nya, Dia memilih
yang paling sesuai untuk zaman tertentu, di zaman rasul Allah itu dibangkitkan, demikian
juga di Akhir Zaman ini.
Sehubungan pembukaan rahasia -rahasia gaib Allah Swt. kepada para rasul Allah tersebut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku telah mendapat kehormatan dalam bentuk komunikasi
dengan Tuhan selama hampir 11 tahun,
dan aku tahu betul bahwa wahyu itu
turun dari langit. Jika ada yang
mencoba menggambarkan wahyu dengan
padanannya pada benda-benda duniawi,
mungkin bisa dibandingkan dengan telegram.[1]
Berdasarkan pengalamanku, pada saat turunnya
wahyu yang dikemukakan kepadaku
sebagai wahyu para wali, aku merasa berada dalam pengendalian kekuatan eksternal (luar)
yang amat ketat. Kadang-kadang pengendalian itu demikian kuatnya dan merengkuh diriku dalam nurnya
yang cemerlang sehingga aku merasa tersedot ke dalamnya dan seluruh inderaku sama sekali tidak dapat
bertahan.
Dalam kondisi demikian aku lalu mendengar
firman yang jelas dan jernih. Terkadang pada saat demikian aku melihat beberapa malaikat
dan menyaksikan kekuatan dan kedahsyatan
kebenaran. Firman yang
disampaikan kepadaku seringkali berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi dan di dalamnya mengandung kekuatan pengendalian yang membuktikan eksistensi (keberadaan) Allah Yang Maha Agung. Menyangkal adanya hal seperti itu sama saja dengan memusnahkan suatu kebenaran
yang nyata.” (Barakatud
Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI,
hlm. 26, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 April 2016
[1]
Pada
masa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjadi sarana komunikasi tercanggih adalah
5 telegram yang menghubungkan antar manusia melalui saluran kawat logam dan
menghasilkan simbol-simbol kata di tiap terminalnya. Telepon waktu itu belum
lagi dikenal. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar