Rabu, 20 April 2016

Makna "Pingsannya" Nabi Musa a.s. Ketika Menyaksikan "Tajalli Ilahi" (Penampakan Keagungan Tuhan) Sempurna yang Diperuntukkan Nabi Besar Muhammad Saw. (Nabi yang Seperti Musa a.s.) ke Sebuah Gunung)



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI

  Makna “Pingsannya” Nabi Musa  a.s. Ketika Menyaksikan Tajalli Ilahi (Penampakan Keagungan Tuhan) Sempurna yang Diperuntukkan Nabi Besar Muhammad Saw.  (Nabi yang Seperti Musa a.s.) ke Sebuah Gunung

Bab 26


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan    mengenai pengalaman  beliau ketika menerima wahyu Ilahi sesuai firman Allah Swt. dalam QS.72:27-29:   Kata-kata  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki.“ 
Sehubungan pembukaan rahasia -rahasia gaib Allah Swt.  kepada para rasul Allah tersebut Masih Mau’ud a.s.  bersabda:
       “Aku telah mendapat kehormatan dalam bentuk komunikasi dengan Tuhan selama hampir 11 tahun, dan aku tahu betul bahwa wahyu itu turun dari langit. Jika ada yang mencoba menggambarkan wahyu dengan padanannya pada benda-benda duniawi, mungkin bisa dibandingkan dengan telegram.[1] 
     Berdasarkan pengalamanku, pada saat turunnya wahyu yang dikemukakan kepadaku sebagai wahyu para wali, aku merasa berada dalam pengendalian kekuatan eksternal (luar) yang amat ketat. Kadang-kadang pengendalian itu demikian kuatnya dan merengkuh diriku dalam nurnya yang cemerlang sehingga aku merasa tersedot ke dalamnya dan seluruh inderaku sama sekali tidak dapat bertahan.
      Dalam kondisi demikian aku lalu mendengar firman yang jelas dan jernih. Terkadang pada saat demikian aku melihat beberapa malaikat dan menyaksikan kekuatan dan kedahsyatan kebenaran. Firman yang disampaikan kepadaku seringkali berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi dan di dalamnya mengandung kekuatan pengendalian yang membuktikan eksistensi  (keberadaan) Allah Yang Maha Agung. Menyangkal adanya hal seperti itu sama saja dengan memusnahkan suatu kebenaran yang nyata.” (Barakatud Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  26, London, 1984).

Berbagai Keadaan  Nabi Besar Muhammad saw. Ketika Meneriwa Wahyu Al-Quran

     Dari berbagai riwayat, bahwa setiap  Nabi Besar Muhammad saw. menerima wahyu  Al-Quran dalam keadaan yang sangat berat untuk membawa dirinya, sehingga kadang beliau saw. sampai tidak sadarkan diri karena beratnya wahyu yang diterima.
     Al-Harith bin Hisham bertanya, ‘’Wahai Rasulullah saw. bagaimana wahyu itu sampai pada engkau?’’ Beliau menjawab, ‘’Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu yang paling dahsyat  yang sampai kepadaku, kemudian lenyap dan aku dapat mengulang apa yang dikatakan. Kadang-kadang malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata kepadaku dan aku dapat memahami apa yang dikatakannya.’’
     Ummul-mukminin  ‘Aisyah r.a. pernah menuturkan, ‘’Sungguh aku pernah melihat Nabi saw. saat wahyu turun kepadanya, pada hari itu beliau merasa kedinginan sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat.’’
   Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “adalah Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam apabila wahyu sedang turun kepadanya, beliau kesusahan karenanya dan wajahnya berubah menjadi ke hitam-hitaman” (An-Nasai’).
   Hadits tersebut  berkaitan tentang keadaan Nabi Besar Muhammad saw. saat menerima wahyu Al-Quran, dan keadaan tersebut sering kali disaksikan oleh para sahabat dan tidak terkecuali ‘Ubadah bi ash-Shamit.  Dan masih banyak lagi hadits lain, bagaimana turunnya wahyu, yang menceritakan begitu berat serta merasa kesusahan dan bahkan membuat wajah tampan beliau saw. berubah kehitaman, hal ini merupakan kenyataan tentang ‘beratnya’ setiap huruf al-Quran, dan tentunya sekaligus menunjukan betapa dahsyatnya “kekuatan” yang tersimpan pada setiap kata di dalamnya, Subhanallāh.

Bagaikan Pemanah Membidik Sasaran

       Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan pengalaman beliau   ketika menerima wahyu Ilahi:
      “Aku bersaksi demi Allah akan kebenaran bahwa wahyu turun dari langit ke dalam hati, sebagaimana sinar matahari yang menerangi sebuah dinding. Sudah menjadi pengalaman keseharian bahwa ketika firman Tuhan akan turun kepadaku maka pada tahap awal aku akan merasakan sejenis ketidakberdayaan dan mengalami perubahan dimana suatu kekuatan dahsyat telah merengkuh diriku dalam cengkeramannya, meskipun inderaku masih tetap berfungsi, tetapi setiap untai syaraf dan nadi diriku berada dalam kendali kekuatan tersebut dan segala hal telah menjadi miliknya.
      Ketika sedang berada dalam keadaan demikian itu, pada awalnya Allah Yang Maha Kuasa akan membukakan fikiran-fikiran diriku yang akan dicerahkan dengan firman-Nya. Fikiran-fikiran demikian melintas berurutan di hadapanku dalam berbagai kemasan.
    Sebagai contoh, tentang apakah seseorang yang sedang kudoakan akan sembuh kembali dari sakitnya atau tidak, tiba-tiba turun kalimat Tuhan berbentuk cahaya dan saat itu seluruh tubuhku akan berguncang. Kemudian diikuti dengan fikiran berikutnya yang juga dicerahkan oleh wahyu lain, demikian berturut-turut seperti pemanah yang membidik setiap sasaran  (target) yang bermunculan. Pada saat seperti itu terasa bahwa rangkaian fikiran tersebut dihasilkan oleh fitrat alamiah kita sendiri, sedangkan firman yang turun berasal dari atas.
   Walaupun para penyair, pemikir dan lain-lainnya juga menerima sugesti sebagai hasil dari hasil perenungannya, namun tidak ada kaitan antara wahyu dengan sugesti demikian. Sugesti merupakan hasil pemikiran dan perenungan yang ditentukan oleh batasan kemanusiaan menurut kemampuan inderanya masing-masing.
   Adapun wahyu diterima manusia ketika yang bersangkutan sedang berada dalam pengendalian Allah Yang Maha Kuasa,  dimana indera dan fikirannya sendiri tidak terkait di dalam proses bersangkutan. Terasa sepertinya lidah ini bukan lagi milik diri sendiri tetapi sedang digunakan oleh suatu kekuatan yang dahsyat. Hal ini cukup kiranya untuk menjelaskan perbedaan di antara fitrat alamiah dengan sesuatu yang turun dari langit.” (Barakatud Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  22-23, London, 1984).
     Pernyataan Masih Mau’ud a.s. mengenai “guncangan” hebat yang dialami ketika wahyu Ilahi turun kepada beliau nampaknya  sesuai dengan “guncangan hebat”  yang membuat Nabi Musa a.s. pingsan  ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan kekuasaan-Nya) ke atas gunung:
   “Sebagai contoh, tentang apakah seseorang yang sedang kudoakan akan sembuh kembali dari sakitnya atau tidak, tiba-tiba turun kalimat Tuhan berbentuk cahaya dan saat itu seluruh tubuhku akan berguncang. Kemudian diikuti dengan fikiran berikutnya yang juga dicerahkan oleh wahyu lain, demikian berturut-turut seperti pemanah yang membidik setiap sasaran  (target) yang bermunculan. Pada saat seperti itu terasa bahwa rangkaian fikiran tersebut dihasilkan oleh fitrat alamiah kita sendiri, sedangkan firman yang turun berasal dari atas.”

Makna Pingsannya Nabi Musa a.s.

   Mengenai  “guncangan hebat”  yang ditimbulkan hancurnya gunung dalam pengalaman ruhani  Nabi Musa a.s.   Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata:  رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
      Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt. dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
      Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi Wujud Allah Swt. sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah yang besar seperti Nabi Musa a.s.  dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
     Nabi Musa a.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah  Swt.,  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (QS.28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan:  رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampak-kanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
      Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada “rekan sejawat” beliau dari kalangan Bani Isma’il, yakni diri Nabi Besar Muhammad a.s. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s. diberi janji  (nubuatan) bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22; QS.46:11).
     Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli Ilahi  lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat (mengetahui) macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt.    yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu.  Nabi Musa a.s. berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu yang akan diemban  Nabi Besar Muhammad saw.  ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
      Nabi Musa a.s. diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau,tetapi  untuk memberi pengertian kepada Nabi Musa a.s. mengenai bagaimana kesempurnaan martabat ruhani “nabi Allah” yang dijanjikan tersebut Allah Swt.  memilih gunung untuk bertajalli.
       Gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri. Dengan cara demikian beliau dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau dapat menyaksikannya sendiri   orang yang kepadanya  Allah Swt.   bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau.

Kesempurnaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

         Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang rasul Allah yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Besar Muhammad a.s..    Pengalaman ruhani Nabi Musa a.s.  yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau berseru: سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu,  dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.)  adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s.  kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
      Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu, sebab  jika gunung tersebut benar-benar hancur-lebur pada akan  membinasakan Bani Israil dan Nabi Harun a.s. yang juga berada  di  wilayah itu.Lihat Keluaran 24:18.
       Kenyataan tersebut membuktikan bahwa peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa a.s. tersebut bukan merupakan peristiwa jasmani melainkan merupakan peristiwa  ruhani, yang menggambarkan  keluhuran martabat ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang secara kiasan digambarkan pula dalam QS.33:73-74 berupa penolakan seluruh   langit, bumi dan gunung-gunung  ketika  ditawari  Allah Swt. untuk memikul amanat syariat Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ --  tetapi manusia memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya. Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:73-74).
       Hamala al-amānata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti  lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
      (1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi untuk menayang citra (bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata sanggup melaksanakannya, sedangkan makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung   -- sama sekali tidak dapat menandinginya.
    Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri), dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap dirinya sendiri dalam, arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
      (2) Jika kata al-amānat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna, yakni   Nabi Besar Muhammad saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan penutup,  yaitu syariat Al-Quran (QS.5:4), sebab  kecuali beliau saw. tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya.
      (3) Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusiamenolak mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
    Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51; QS.57:2; QS.1:2; QS.62:2; QS.64:2), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan (QS.2:257; QS.18:30) mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:10-12 berkenaan proses penciptaan seluruh langit dan bumi.

 Kondisi  Ketika Wahyu Ilahi Turun

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menggambarkan kondisi yang dialami beliau pada saat wahyu Ilahi  turun:
      “Lelap sejenak yang menguasai seseorang ketika firman Tuhan turun ke dalam hatinya, bukanlah akibat dari sesuatu hal eksternal, dimana keadaan kondisi jasmani seolah terhenti pada saat itu. Ketika seorang bertakwa yang memiliki hubungan kecintaan dan ketulusan yang hakiki dengan Tuhan-nya, mengajukan permohonan doa kepada-Nya, pada saat demikian ia terkadang mengalami lelap ringan walau sedang dalam keadaan berdoa,  dan ia merasa seperti terbangun dan menemukan jawaban atas permohonannya itu yang turun kepadanya dalam bentuk kata-kata yang fasih.
   Firman demikian mengandung keagungan dan kegembiraan dimana kekuasaan Ilahi terasa bersinar di dalamnya. Firman tersebut menembus hati seperti sebuah paku besi dan seringkali mengandung hal-hal tersembunyi. Seringkali terjadi dimana ketika orang bertakwa  itu mengajukan suatu permohonan tentang hal yang berkaitan dengan permohonan sebelumnya, atau pun suatu permohonan yang baru sama sekali, ia akan mengalami lelap ringan yang akan hilang lagi dalam waktu sekejap,  dan dari sana akan muncul kata-kata suci, laiknya biji yang keluar dari kulitnya, yang terasa nikmat dan penuh keagungan. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang menjawab setiap pertanyaan hamba-Nya dengan segala kelembutan serta tidak ada mengemukakan suatu penghinaan atau kesebalan.
  Kalau ada yang mendoa sebanyak 60 kali, 70 kali atau pun 100 kali, jawabannya pun akan diterima dengan cara yang sama. Setiap kali suatu permohonan diajukan, pada saat itu ada kantuk ringan yang menguasai si penerima wahyu. Terkadang keadaan lelap tersebut menjadi lebih berat,  seolah-olah yang bersangkutan menjadi pingsan. Wahyu seperti ini biasanya berkaitan dengan suatu masalah yang amat penting dan merupakan wahyu dari derajat yang tertinggi.
   Rasa lelap yang dialami seorang penerima wahyu pada saat berdoa yang merupakan layar tabir dari turunnya wahyu Ilahi, bukanlah akibat dari sebab-sebab jasmani. Apa pun yang dikemukakan para dokter berkaitan dengan hukum alam tentang tidur, tidak berlaku dalam keadaan demikian. Masih terdapat beratus-ratus masalah keruhanian yang bertentangan dengan pandangan para filosof.
     Seringkali seseorang bisa melihat dalam suatu kasyaf suatu obyek yang terpisah beribu-ribu kilometer yang terlihat seolah-olah di depan mata. Begitu pula seseorang dimungkinkan bertemu dan berbicara dalam keadaan sadar sepenuhnya dengan ruh orang-orang yang telah meninggal dunia.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  111-112, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 21 April    2016



[1] Pada masa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjadi sarana komunikasi tercanggih adalah 5 telegram yang menghubungkan antar manusia melalui saluran kawat logam dan menghasilkan simbol-simbol kata di tiap terminalnya. Telepon waktu itu belum lagi dikenal. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar