Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Makna “Pingsannya”
Nabi Musa a.s. Ketika Menyaksikan Tajalli Ilahi (Penampakan Keagungan
Tuhan) Sempurna yang Diperuntukkan Nabi
Besar Muhammad Saw. (Nabi yang
Seperti Musa a.s.) ke Sebuah Gunung
Bab 26
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan
mengenai pengalaman beliau ketika menerima wahyu Ilahi sesuai firman Allah Swt. dalam QS.72:27-29: Kata-kata وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- “Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki.“
Sehubungan pembukaan rahasia -rahasia gaib Allah Swt. kepada para rasul Allah tersebut Masih Mau’ud
a.s. bersabda:
“Aku telah mendapat kehormatan dalam bentuk komunikasi
dengan Tuhan selama hampir 11 tahun,
dan aku tahu betul bahwa wahyu itu
turun dari langit. Jika ada yang
mencoba menggambarkan wahyu dengan
padanannya pada benda-benda duniawi,
mungkin bisa dibandingkan dengan telegram.[1]
Berdasarkan pengalamanku, pada saat turunnya
wahyu yang dikemukakan kepadaku
sebagai wahyu para wali, aku merasa berada dalam pengendalian kekuatan eksternal (luar)
yang amat ketat. Kadang-kadang pengendalian itu demikian kuatnya dan merengkuh diriku dalam nurnya
yang cemerlang sehingga aku merasa tersedot ke dalamnya dan seluruh inderaku sama sekali tidak dapat
bertahan.
Dalam kondisi demikian aku lalu mendengar
firman yang jelas dan jernih. Terkadang pada saat demikian aku melihat beberapa malaikat
dan menyaksikan kekuatan dan kedahsyatan
kebenaran. Firman yang
disampaikan kepadaku seringkali berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi dan di dalamnya mengandung kekuatan pengendalian yang membuktikan eksistensi (keberadaan) Allah Yang Maha Agung. Menyangkal adanya hal seperti itu sama saja dengan memusnahkan suatu kebenaran
yang nyata.” (Barakatud
Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI,
hlm. 26, London, 1984).
Berbagai Keadaan
Nabi Besar Muhammad saw. Ketika Meneriwa Wahyu Al-Quran
Dari berbagai riwayat, bahwa setiap Nabi Besar Muhammad saw. menerima wahyu
Al-Quran dalam keadaan yang sangat berat untuk membawa dirinya, sehingga kadang beliau saw. sampai
tidak sadarkan diri karena beratnya wahyu
yang diterima.
Al-Harith
bin Hisham bertanya, ‘’Wahai Rasulullah saw.
bagaimana wahyu itu sampai pada engkau?’’ Beliau menjawab, ‘’Kadang-kadang
seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu yang paling dahsyat yang sampai
kepadaku, kemudian lenyap dan aku dapat mengulang apa yang dikatakan.
Kadang-kadang malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata kepadaku dan aku
dapat memahami apa yang dikatakannya.’’
Ummul-mukminin ‘Aisyah r.a. pernah
menuturkan, ‘’Sungguh aku pernah melihat
Nabi saw. saat wahyu turun kepadanya, pada hari itu beliau merasa kedinginan
sebelum wahyu berhenti dan dahinya penuh keringat.’’
Dari ‘Ubadah bin Ash
Shamit Radhiyallahu’anhu, dia berkata: “adalah Nabi Muhammad Shalallaahu
‘alaihi wa sallam apabila wahyu sedang turun kepadanya, beliau kesusahan
karenanya dan wajahnya berubah menjadi ke hitam-hitaman” (An-Nasai’).
Hadits tersebut
berkaitan tentang keadaan Nabi Besar Muhammad
saw. saat menerima wahyu Al-Quran, dan keadaan tersebut sering kali disaksikan
oleh para sahabat dan tidak terkecuali ‘Ubadah bi ash-Shamit. Dan masih banyak lagi hadits lain, bagaimana
turunnya wahyu, yang menceritakan
begitu berat serta merasa kesusahan dan bahkan membuat wajah tampan beliau saw. berubah kehitaman, hal ini merupakan kenyataan
tentang ‘beratnya’ setiap huruf al-Quran, dan tentunya sekaligus menunjukan
betapa dahsyatnya “kekuatan” yang tersimpan pada setiap kata di dalamnya, Subhanallāh.
Bagaikan Pemanah Membidik Sasaran
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan pengalaman
beliau ketika menerima wahyu Ilahi:
“Aku bersaksi
demi Allah akan kebenaran bahwa wahyu
turun dari langit ke dalam hati, sebagaimana sinar matahari yang menerangi
sebuah dinding. Sudah menjadi pengalaman keseharian bahwa ketika firman Tuhan akan turun kepadaku maka
pada tahap awal aku akan merasakan
sejenis ketidakberdayaan dan
mengalami perubahan dimana suatu kekuatan dahsyat telah merengkuh diriku dalam cengkeramannya, meskipun inderaku masih tetap berfungsi, tetapi setiap untai syaraf dan nadi diriku berada dalam kendali
kekuatan tersebut dan segala hal telah menjadi miliknya.
Ketika sedang berada dalam keadaan demikian itu, pada awalnya Allah Yang Maha Kuasa akan membukakan fikiran-fikiran diriku yang akan dicerahkan dengan firman-Nya. Fikiran-fikiran demikian melintas berurutan di hadapanku dalam berbagai kemasan.
Sebagai contoh, tentang apakah seseorang yang sedang kudoakan akan sembuh kembali dari sakitnya
atau tidak, tiba-tiba turun kalimat
Tuhan berbentuk cahaya dan saat
itu seluruh tubuhku akan berguncang. Kemudian diikuti dengan fikiran berikutnya yang juga dicerahkan oleh wahyu lain, demikian berturut-turut seperti pemanah yang membidik setiap sasaran (target) yang bermunculan. Pada saat seperti
itu terasa bahwa rangkaian fikiran tersebut dihasilkan oleh fitrat alamiah kita sendiri, sedangkan firman yang turun
berasal dari atas.
Walaupun para penyair, pemikir dan
lain-lainnya juga menerima sugesti
sebagai hasil dari hasil perenungannya, namun tidak ada kaitan
antara wahyu dengan sugesti demikian. Sugesti merupakan hasil
pemikiran dan perenungan yang ditentukan oleh batasan kemanusiaan menurut kemampuan
inderanya masing-masing.
Adapun wahyu diterima manusia ketika yang bersangkutan sedang berada dalam
pengendalian Allah Yang Maha Kuasa,
dimana indera dan fikirannya sendiri tidak terkait di dalam proses bersangkutan.
Terasa sepertinya lidah ini bukan lagi milik diri sendiri tetapi
sedang digunakan oleh suatu kekuatan yang dahsyat. Hal ini cukup kiranya untuk menjelaskan perbedaan di antara fitrat alamiah dengan sesuatu
yang turun dari langit.” (Barakatud Du’a, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. VI, hlm. 22-23, London, 1984).
Pernyataan Masih Mau’ud a.s. mengenai “guncangan” hebat yang dialami ketika wahyu Ilahi turun kepada beliau
nampaknya sesuai dengan “guncangan hebat” yang membuat Nabi Musa a.s. pingsan ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan kekuasaan-Nya) ke atas gunung:
“Sebagai contoh, tentang apakah seseorang yang sedang kudoakan akan sembuh kembali dari sakitnya
atau tidak, tiba-tiba turun kalimat
Tuhan berbentuk cahaya dan saat
itu seluruh tubuhku akan berguncang. Kemudian diikuti dengan fikiran berikutnya yang juga dicerahkan oleh wahyu lain, demikian berturut-turut seperti pemanah yang membidik setiap sasaran (target) yang bermunculan. Pada saat seperti
itu terasa bahwa rangkaian fikiran tersebut dihasilkan oleh fitrat alamiah kita sendiri, sedangkan firman yang turun
berasal dari atas.”
Makna Pingsannya Nabi Musa a.s.
Mengenai “guncangan hebat” yang
ditimbulkan hancurnya gunung dalam pengalaman ruhani Nabi Musa a.s.
Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا جَآءَ
مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala
Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap
dengannya, ia berkata: رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ -- “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku
supaya aku dapat memandang Engkau.”
Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah
dapat melihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.”
Maka tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia menjadikannya
hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar
kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau
dan aku adalah orang pertama di
antara orang-orang yang beriman kepadanya
di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah
satu masalah keagamaan yang sangat
penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat
disaksikan oleh mata jasmani
(QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat
melihat penjelmaan mereka belaka.
Begitu pula hanya tajalli
(penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi Wujud Allah Swt. sendiri tidak. Oleh karena itu tidak
dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah
yang besar seperti Nabi Musa a.s. dengan
segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan
mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt.,
dan bukan Wujud-Nya Sendiri.
Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (QS.28:30).
Jadi apa gerangan maksud Musa a.s.
dengan perkataan: رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
tampak-kanlah kepadaku supaya aku dapat
melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya
mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna
Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada “rekan sejawat” beliau dari kalangan Bani
Isma’il, yakni diri Nabi Besar Muhammad
a.s. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s. diberi janji (nubuatan) bahwa dari
antara saudara-saudara Bani Israil
akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22; QS.46:11).
Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli
Ilahi lebih besar daripada yang
pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena itu beliau dengan sendirinya
sangat berhasrat melihat (mengetahui) macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan
Allah Swt. yang
akan tampak dalam tajalli yang
dijanjikan itu. Nabi Musa a.s. berharap
bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu yang akan diemban Nabi Besar Muhammad saw. ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
Nabi Musa a.s. diberi
tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya, tajalli itu tidak akan dapat terjelma
pada hati beliau,tetapi untuk memberi pengertian kepada Nabi Musa a.s.
mengenai bagaimana kesempurnaan martabat
ruhani “nabi Allah” yang dijanjikan
tersebut Allah Swt. memilih gunung untuk bertajalli.
Gunung itu berguncang dengan
hebat serta nampak seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena
dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri. Dengan cara demikian
beliau dibuat sadar bahwa beliau
tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau dapat menyaksikannya sendiri orang
yang kepadanya Allah Swt. bertajalli sebagaimana
dimohonkan beliau.
Kesempurnaan Martabat Ruhani
Nabi Besar Muhammad Saw.
Hak istimewa yang unik itu
disediakan untuk seorang rasul Allah yang
lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota
segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Besar
Muhammad a.s.. Pengalaman ruhani Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan
beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau berseru: سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,”
yang berarti beliau telah sadar bahwa
beliau tidak dianugerahi kemampuan
melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma
pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar
itu. Keimanan Nabi Musa a.s. kepada Nabi
Besar Muhammad saw. itu
telah disinggung juga dalam QS.46:11.
Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah
dipergunakan secara majasi (kiasan)
untuk menyatakan kehebatan gempa bumi
itu, sebab jika gunung tersebut benar-benar hancur-lebur
pada akan membinasakan Bani Israil dan Nabi Harun a.s. yang juga berada di
wilayah itu.Lihat Keluaran 24:18.
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa peristiwa yang dialami oleh Nabi
Musa a.s. tersebut bukan merupakan peristiwa
jasmani melainkan merupakan peristiwa ruhani, yang menggambarkan keluhuran martabat
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang secara kiasan digambarkan pula dalam QS.33:73-74 berupa penolakan seluruh langit,
bumi dan gunung-gunung ketika ditawari
Allah Swt. untuk memikul amanat syariat Islam (Al-Quran),
firman-Nya:
اِنَّا
عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ
اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا
وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ
الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ
یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung,
tetapi semuanya enggan memikulnya
dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ -- tetapi manusia
memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ
ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan abai terhadap dirinya. Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik
lelaki dan orang-orang munafik
perempuan, dan orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang
musyrik perempuan, dan
Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang
kepada orang-orang lelaki dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Al-Ahzāb
[33]:73-74).
Hamala
al-amānata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia
mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim
yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan
benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri
sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan
pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang
berarti lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
(1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat
Ilahi untuk menayang citra
(bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia
sendiri dari seluruh isi jagat raya
ini yang ternyata sanggup melaksanakannya,
sedangkan makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat,
seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung -- sama sekali tidak dapat menandinginya.
Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat
itu. Manusia menerima tanggungjawab
ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum
(aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri),
dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya
terhadap dirinya sendiri dalam, arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan
diri atau alpa dalam arti bahwa
dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan kepentingan
pribadinya dan hasratnya untuk
memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
(2) Jika kata al-amānat
diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran
dan kata al-insan sebagai manusia
sempurna, yakni Nabi
Besar Muhammad saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan penutup,
yaitu syariat Al-Quran (QS.5:4), sebab kecuali beliau saw. tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak
diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab
besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya.
(3) Kalau kata hamala
diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat,
maka ayat ini akan berarti bahwa amanat
syariat Ilahi telah dibebankan
atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit.
Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati amanat ini,
yakni mereka itu sepenuhnya dan
dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka
dengan setia dan patuh (QS.16:50-51; QS.57:2; QS.1:2; QS.62:2; QS.64:2), hanya manusia saja yang disebabkan telah
dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan (QS.2:257; QS.18:30) mau juga
mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan
serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai
ayat ini didukung oleh QS.41:10-12 berkenaan proses penciptaan seluruh langit
dan bumi.
Kondisi Ketika
Wahyu
Ilahi Turun
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menggambarkan kondisi yang dialami
beliau pada saat wahyu Ilahi turun:
“Lelap
sejenak yang menguasai seseorang
ketika firman Tuhan turun ke dalam hatinya, bukanlah akibat dari sesuatu
hal eksternal, dimana keadaan kondisi jasmani seolah terhenti pada
saat itu. Ketika seorang bertakwa
yang memiliki hubungan kecintaan dan
ketulusan yang hakiki dengan Tuhan-nya, mengajukan permohonan doa kepada-Nya, pada saat
demikian ia terkadang mengalami lelap
ringan walau sedang dalam keadaan berdoa, dan ia merasa seperti terbangun dan menemukan jawaban
atas permohonannya itu yang turun
kepadanya dalam bentuk kata-kata yang
fasih.
Firman
demikian mengandung keagungan dan kegembiraan dimana kekuasaan Ilahi terasa bersinar
di dalamnya. Firman tersebut menembus hati seperti sebuah paku besi dan seringkali mengandung hal-hal tersembunyi. Seringkali terjadi dimana ketika orang bertakwa itu mengajukan suatu permohonan tentang hal yang berkaitan dengan permohonan sebelumnya, atau pun suatu permohonan yang baru sama
sekali, ia akan mengalami lelap ringan
yang akan hilang lagi dalam waktu sekejap,
dan dari sana akan muncul kata-kata suci, laiknya biji yang keluar dari kulitnya, yang terasa nikmat dan penuh keagungan. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang menjawab setiap pertanyaan
hamba-Nya dengan segala kelembutan
serta tidak ada mengemukakan suatu penghinaan
atau kesebalan.
Kalau ada yang mendoa sebanyak 60 kali, 70 kali atau pun 100 kali, jawabannya pun akan diterima dengan
cara yang sama. Setiap kali suatu permohonan
diajukan, pada saat itu ada kantuk
ringan yang menguasai si penerima
wahyu. Terkadang keadaan lelap
tersebut menjadi lebih berat,
seolah-olah yang bersangkutan menjadi pingsan. Wahyu seperti
ini biasanya berkaitan dengan suatu masalah
yang amat penting dan merupakan wahyu dari derajat yang tertinggi.
Rasa lelap
yang dialami seorang penerima wahyu
pada saat berdoa yang merupakan layar tabir dari turunnya wahyu Ilahi, bukanlah akibat dari sebab-sebab jasmani. Apa pun yang
dikemukakan para dokter berkaitan
dengan hukum alam tentang tidur,
tidak berlaku dalam keadaan demikian. Masih terdapat beratus-ratus masalah keruhanian
yang bertentangan dengan pandangan para
filosof.
Seringkali seseorang bisa melihat dalam suatu kasyaf suatu obyek yang terpisah beribu-ribu
kilometer yang terlihat seolah-olah di depan
mata. Begitu pula seseorang dimungkinkan bertemu dan berbicara
dalam keadaan sadar sepenuhnya
dengan ruh orang-orang yang telah meninggal dunia.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 111-112, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 21 April 2016
[1]
Pada
masa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjadi sarana komunikasi tercanggih adalah
5 telegram yang menghubungkan antar manusia melalui saluran kawat logam dan
menghasilkan simbol-simbol kata di tiap terminalnya. Telepon waktu itu belum
lagi dikenal. (Penterjemah/Khalid
A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar