Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Doa
Buruk Kaum Saba Melalui Amal (Perbuatan) & Cara Membaca “Bahasa Khazanah Ruhani” dan
“Bahasa Nubuatan” Dalam Kitab-kitab Suci, Khususnya Al-Quran
Bab 15
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai makna doa buruk kaum Saba melalui perbuatan sehubungan firman Allah Swt.:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ
یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ
بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ
ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ
شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا
فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا
فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾
Sungguh bagi
kaum Saba benar-benar terdapat satu
Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan
dan di kiri sungai. کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ
رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ -- Kami berfirman: “Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah
dan Rabb (Tuhan) Maha
Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ
جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ
اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan Kami
menganti kedua kebun mereka itu dengan dua
kebun yang berbuah buah-buahan pahit,
pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada
mereka karena mereka tidak bersyukur.
Dan tidaklah Kami membalas seperti
itu kecuali kepada orang-orang yang
sangat tidak bersyukur. وَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی
ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا
السَّیۡرَ --
Dan Kami telah menjadikan antara mereka
dan antara kota-kota yang telah
Kami berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan
di antara kota-kota itu, Kami berfirman: سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ - “Berjalanlah
di dalamnya dengan aman malam dan siang.”
فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ
اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara
perjalanan kami,” وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ صَبَّارٍ
شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang
yang bersabar dan bersyukur. (Sabā [34]:16-20).
Menjadi Bagian dari “Kisah Kaum-kaum Purbakala”
Kata-kata “Kota yang telah Kami beri berkat” dalam
ayat selanjutnya: وَ جَعَلۡنَا
بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ -- “Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan
antara kota-kota yang telah Kami berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan
di antara kota-kota itu” (Sabā
[34]:19), menunjuk kepada kota Palestina,
tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., yang dengan kota
itu bangsa Saba' melangsungkan
hubungan niaga dan mendatangkan kemakmuran bagi kedua belah pihak.
Kata-kata, “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,”
mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan satu sama lain sehingga mudah sekali terlihat, atau
kata-kata itu dapat pula berarti
kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria sangat ramai
dilalui orang, aman, dan berpenduduk
cukup banyak: سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ - “Berjalanlah
di dalamnya dengan aman malam dan siang.”
Menurut Sir Williams Muir pada
waktu itu ada 70 tempat perhentian dari Hadramaut
ke Ailah pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai dilalui orang lagi aman,
diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun .
Kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba' dalam ayat
selanjutnya: فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara
perjalanan kami” (Sabā [34]:20), makna ucapan
mereka itu sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika
mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt.
-- setelah masa pemerintahan Ratu Saba -- dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa. Akibatnya, jalan yang tadinya makmur
dan ramai dilalui orang menjadi sunyi-senyap.
Kata-kata “Jauhkanlah jarak di
antara perjalanan kami,” berarti bahwa karena banyak
kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing,
sehingga jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak aman. Orang-orang Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng: وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya” (Sabā [34]:20).
Jadi, azab
Ilahi yang menimpa kaum Saba
setelah masa pemerintahan Ratu Saba -- karena mereka kembali kepada kemusyrikan --
sesuai dengan ucapan Nabi Musa
a.s. berikut ini ketika memperingatkan
Bani Israil mengenai akibat buruk ketidak-bersyukuran kepada Allah yang
dialami kaum-kaum purbakala
(QS.14:7-10):
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia
kepada kamu, tetapi jika kamu
benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” (Ibrahim [14]:8).
Syukr (syukur) itu tiga macam: (1)
Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati
mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan
memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3)
Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima
setimpal dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya
syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan
mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e)
tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah
memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
Syukr dari pihak Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan baik untuknya atau senang
kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon
Lane). Kita hanya dapat benar-benar bersyukur
kepada Allah Swt. , bila kita
mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat.
“Bahasa” Kitab-kitab
Suci & Cara “Membaca” (Memahami) Khazanah
Kitab Suci
Kembali
kepada masalah “bahasa” dan “cara membaca bahasa” Kitab suci, demikian
pula agama atau Kitab suci pun memiliki bermacam-macam “bahasa”, misalnya bahasa yang dipergunakan dalam Weda adalah bahasa Sansakerta, Kitab Taurat dan Injil
berbahasa Ibrani yang merupakan bahasa kaum Bani
Israil, dan Al-Quran diwahyukan Allah
Swt. dalam bahasa Arab.
Tetapi disamping bahasa-bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi di kalangan
sesama manusia melalui ucapan (lisan) tersebut, Kitab-kitab suci pun memiliki “bahasa”
lainnya antara lain “bahasa
kiasan” atau “bahasa perumpamaan.” Misalnya dalam Bible – terutama dalam mazmur Nabi Daud a.s. dan dalam nubuatan-nubuatan para nabi Bani Israil, seperti Yehezkiel a.s.,
Yermia a.s., Daniel a.s.., terutama Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dalam melakukan da’wahnya banyak menggunakan bahasa perumpamaan (Matius 13:34-35), yang bahkan murid-muridnya pun tidak memahaminya, sehingga benar-benar menjadi “batu sandungan” yang sangat menggelincirkan banyak orang dan bahkan telah mensalah-tafsirkannya.
Demikian juga dalam Al-Quran terdapat banyak
sekali “bahasa kiasan” atau “bahasa perumpamaan”, sekali
pun dari segi bahasa yang digunakan dalam Kitab-kitab suci tersebut banyak yang dapat membaca dan dapat menterjemahkannya,
tetapi sangat jarang orang-orang yang
benar-benar dapat memahami makna-makna mendalam dari “bahasa kiasan” atau “bahasa
perumpamaan” Kitab-kitab suci tersebut, sehingga terjadi kekeliruan dalam menafsirkan ayat-ayat
Kitab suci yang mutasyābihāt
seperti itu, yang bukan saja menyesatkan orang yang menafsirkannya tetapi juga menyesatkan
orang-orang lain yang mempercayai penafsirannya yang keliru
tersebut, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ
اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ
مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di
antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang
lain ayat-ayat mutasyābihāt.
Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada ke-bengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang
mutasyābihāt karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang
salah, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah; dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan)
kami.” Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. Mereka berdoa: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah
kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Eng-kau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali
‘Imran [3]:8-9).
Makna Muhkamat Mutasyābihāt
Muhkam dalam ayat مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ -- “ di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok
Al-Kitab” berarti: (1) hal yang telah terjamin aman
dari perobahan atau pergantian; (2) hal yang tidak mengandung arti ganda atau
kemungkinan ada keraguan; (3) hal yang jelas artinya dan pasti dalam
keterangan, dan (4) ayat yang merupakan ajaran khusus dari Al-Quran (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
Makna umm
dalam ayat berarti: (1) ibu; (2) sumber atau
asal atau dasar sesuatu; (3) sesuatu yang merupakan sarana pembantu dan
penunjang, atau sarana islah (reformasi dan koreksi) untuk orang lain; (4)
sesuatu yang di sekitarnya benda-benda lain dihubungkan (Al-Aqrab-ul-Mawarid dan Al-Mufradat).
Mutasyābih
dipakai mengenai: (1) ucapan, kalimat atau ayat yang memungkinkan adanya
penafsiran yang berbeda, meskipun selaras; (2) hal yang bagian-bagiannya
mempunyai persamaan atau yang selaras satu sama lain; (3) hal yang makna
sebenarnya mengandung persamaan dengan artian yang tidak dimaksudkan; (4) hal
yang arti sebenarnya diketahui hanya dengan menunjuk kepada apa yang disebut muhkam;
(5) hal yang tidak dapat dipahami dengan segera
tanpa pengamatan yang berulang-ulang; (6) sesuatu ayat yang berisi ajaran
sesuai dengan atau menyerupai apa yang dikandung oleh Kitab-kitab wahyu
terlebih dahulu (Al-Mufradat).
Ta’wil
berarti: (1) penafsiran atau penjelasan; (2) terkaan mengenai arti suatu pidato
atau tulisan; (3) penyimpangan suatu pidato atau tulisan dari penafsiran yang benar; (4) penafsiran
suatu impian; (5) akhir, hasil atau akibat sesuatu (Lexicon Lane). Dalam ayat ini kata ta’wil dijumpai dua kali, pada tempat pertama kata itu mengandung arti yang kedua atau yang
ketiga, sedangkan pada tempat kedua kata itu mempunyai arti yang pertama atau
yang kelima.
Surah Ali ‘Imran ayat 8 meletakkan peraturan
yang sangat luhur bahwa untuk membuktikan sesuatu hal yang mengenainya suatu ayat terdapat perbedaan
paham, bagian-bagian sebuah Kitab
Suci yang diterangkan dengan kata-kata
yang tegas dan jelas (muhkam) harus diperhatikan. Bila bagian yang tegas (muhkam) itu terbukti berlawanan dengan susunan kalimat tertentu yang mengandung dua maksud dari ayat-ayat yang mutasyābihāt,
maka kalimat itu harus diartikan
sedemikian rupa sehingga menjadi selaras
dengan bagian-bagian yang tegas dan jelas kata-katanya (muhkamat).
Menurut ayat
ini Al-Quran mempunyai dua perangkat ayat atau dua macam “bahasa”. Beberapa di antaranya yang muhkam (kokoh dan pasti dalam artinya)
dan lain-lainnya mutasyābih (yang dapat diberi penafsiran berbeda-beda).
Cara yang tepat untuk mengartikan ayat mutasyābih adalah arti yang dapat
diterima hanyalah yang sesuai dengan ayat-ayat muhkam.
Dalam QS.39:24 Allah Swt. menyatakan bahwa seluruh Al-Quran disebut mutasyābih
sedangkan dalam QS.11:2 dinyatakan bahwa semua ayat Al-Quran dikatakan
muhkam. Hal itu tak boleh dianggap bertentangan
dengan ayat yang sedang dibahas ini (QS.3:8) bahwa menurut ayat ini beberapa
ayat Al-Quran itu muhkam dan beberapa lainnya mutasyabih.
Sepanjang hal yang menyangkut maksud hakiki ayat-ayat Al-Quran,
seluruh Al-Quran itu muhkam, dalam pengertian bahwa ayat-ayatnya mengandung kebenaran-kebenaran
pasti dan kekal-abadi. Tetapi
dalam pengertian lain seluruh
Al-Quran itu mutasyābih, sebab ayat-ayat
Al-Quran itu disusun dengan kata-kata
demikian rupa, sehingga pada waktu itu juga ayat itu mempunyai berbagai arti yang sama-sama benar dan baik.
Al-Quran itu mutasyābih pula
(menyerupai satu sama lain) dalam pengertian
bahwa tidak ada pertentangan atau ketidakselarasan di dalamnya, berbagai ayat-ayatnya bantu-membantu. Tetapi ada bagian-bagiannya yang muhkam
dan yang lain mutasyābih untuk berbagai pembaca menurut ilmu
pengetahuan, keadaan mental, dan kemampuan alami mereka seperti dikemukakan
oleh ayat sekarang ini.
“Bahasa Nubuatan” Penuh Dengan Makna yang Halus
Adapun nubuatan-nubuatan yang dikemukakan
dengan bahasa yang jelas dan
langsung menyerap satu arti saja
harus dianggap sebagai muhkam, sedangkan nubuatan-nubuatan yang digambarkan
dengan bahasa majaz (kiasan) dan mampu menyerap tafsiran lebih dari satu harus dianggap mutasyābih. Karena
itu nubuatan-nubuatan yang digambarkan
dengan bahasa majaz (perumpamaan, kiasan) harus ditafsirkan sesuai dengan nubuatan-nubuatan
yang jelas dan secara harfiah menjadi sempurna dan pula sesuai
dengan asas-asas ajaran Islam yang pokok.
Untuk nubuatan-nubuatan
yang muhkam (jelas) para pembaca
diingatkan kepada QS.58:22 yaitu mengenai kepastian
keunggulan para rasul Allah terhadap para penentangnya, sedang QS.28:86 mengenai akan
kembalinya Nabi Besar Muhammad saw. ke Mekkah sebagai pemenang atas kaum kafir Mekkah,
berisikan nubuatan-nubuatan
yang mutasyābih.
Istilah muhkam dapat pula dikenakan kepada ayat-ayat yang mengandung peraturan-peraturan
yang penuh dan lengkap, sedang ayat-ayat mutasyābih itu ayat-ayat yang memberikan bagian dari perintah tertentu dan perlu dibacakan
bersama-sama dengan ayat-ayat
lain untuk menjadikan suatu perintah
yang lengkap.
Muhkamat (ayat-ayat yang jelas dan pasti)
umumnya membahas hukum dan itikad-itikad agama, sedang mutasyābihāt
umumnya membahas pokok pembahasan
yang menduduki tingkat kedua menurut pentingnya, atau menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan nabi-nabi atau sejarah
bangsa-bangsa, dan dalam berbuat demikian kadang-kadang memakai tata-bahasa (idiom) serta peribahasa-peribahasa yang dapat
dianggap mempunyai berbagai arti.
Ayat-ayat demikian hendaknya jangan diartikan demikian rupa sehingga
seolah-olah bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang diterangkan
dengan kata-kata yang jelas (muhkamat). Baiklah dicatat di
sini, bahwa penggunaan kiasan-kiasan
yang menjadi dasar pokok ayat-ayat mutasyābih
dalam Kitab-kitab Suci, perlu sekali menjamin keluasan arti dengan kata-kata sesingkat-singkatnya, untuk
menambah keindahan dan keagungan gaya bahasanya dan untuk
memberikan kepada manusia suatu percobaan
(ujian) yang tanpa itu perkembangan
dan penyempurnaan ruhaninya tidak
akan mungkin tercapai.
Makna ayat: وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ
یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ
عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ
اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- “padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali
Allah; dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan)
kami.” Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal,” bahwa makrifat Al-Quran hanya dianugerahkan kepada para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang berhati suci atau yang disucikan Allah Swt. (QS.56:80),
terutama yang meraih martabat nabi Allah
(QS.4:70-71), firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah
Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā[4]:70-71).
Makna Kata Ma’a (Bersama)
Kata
depan ma’a menunjukkan adanya dua orang atau lebih, bersama pada suatu tempat
atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan.
Kata itu mengandung arti bantuan,
seperti tercantum dalam QS.9:40 (Mufradat).
Kata itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian fī
artinya “di antara” (QS.3:194; QS.4: 147).
Ayat 70 sangat penting, sebab ia menerangkan semua
jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin, sesuai dngan doa
dalam Surah Al-Fatihah ayat 6. Keempat martabat keruhanian — para nabi,
para shiddiq, para syuhada dan para shalih (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
Hal ini
merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang
membicarakan nabi-nabi secara umum
dan mengatakan: “Dan orang-orang yang
beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi
(syuhada) di sisi Rabb (Tuhan)
mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai
martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman
dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka
empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia
telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengapa nikmat kenabian di kalangan para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw.
terbuka:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی
کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat
Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara
berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib
bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat
dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan
dan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa
lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- “penguasaan atas
yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang
diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi
yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa
lainnya tidak begitu terpelihara.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 6 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar