Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Keberagaman Inteligensia
Manusia Bagaikan Berbagai Jenis Mineral
& Berbagai Persyaratan Menerima Wahyu Ilahi
Bab 29
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai makna ayat وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- “Dan sungguh dia
benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- dekat pohon
Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ
الۡمَاۡوٰی -- yang di dekatnya ada surga tempat
tinggal”
bahwa kasyaf Nabi Besar
Muhammad saw. itu suatu pengalaman ruhani berganda.
Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad
saw. telah mencapai martabat qurb
Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di
luar jangkauan otak manusia untuk
memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi, hakikat-hakikat
serta kebenaran-kebenaran abadi.
Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi
Sadir yang diambil
dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir
ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan.
Ayat ini dapat berarti
bahwa ajaran yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal
terhadap bahaya kerusakan, melainkan
juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan. Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada
sebatang pohon, yang di bawah pohon
itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. mengikat janji setia kepada beliau pada
peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
Kata-kata “yang menyelubungi”
pada ayat
اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی --
Ketika pohon Sidrah diselubungi
oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا
طَغٰی -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.” maknanya
ialah penjelmaan Ilahi. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ
اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی – “Sungguh ia
benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).“
Jadi, betapa
tingginya serta sempurnanya
bagian ujung atas “garis
vertical” kemanusiaan yang ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw.
dalam peristiwa mi’raj tersebut dan betapa
beliau saw. telah menyaksikan “Tanda
paling besar dari Tanda-tanda
Rabb-nya (Tuhan-Nya),“ firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ
مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾
اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾
ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ
ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا
جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang
apabila jatuh.
Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik
Kekuatan, lalu
Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan
Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia,
Rasulullah, mendekati Allah,
lalu Dia kian dekat kepadanya, -- فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی
عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ
مَا رَاٰی -- Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا
یَرٰی -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?
Dan sungguh dia
benar-benar melihat-Nya kedua kali, dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di
dekatnya ada surga tempat
tinggal. Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی -- Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya
(Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).
Intelegensia
Manusia Beraneka Ragam Bagaikan Berbagai Jenis Mineral
Kembali kepada penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai wahyu
Ilahi, selanjutnya beliau bersabda:
“Sifat
manusia sebenarnya mirip dengan berbagai jenis mineral yaitu ada yang cemerlang seperti perak, ada yang berbau busuk dan mudah terbakar seperti belerang, ada yang labil
bergerak terus seperti air raksa, dan ada pula yang keras seperti besi.
Keragaman
seperti itu nyata adanya dan selaras dengan pengaturan Ilahi. Semuanya tidak
bertentangan dengan hukum alam
dan bahkan memberikan kontribusi
(peran-serta) bagi kedamaian dan penyesuaian sosial. Jelas kiranya jika setiap benda alam mempunyai kapasitas
yang sama maka berbagai karya
yang memerlukan berbagai tingkatan
kapasitas berbeda -- yang merupakan hal esensial bagi penyesuaian kondisi
sosial -- akan menjadi tidak tuntas
dan menggantung tidak sempurna. Bagi
suatu kerja keras dibutuhkan sarana yang bersifat keras sedangkan untuk pekerjaan yang halus diperlukan sarana
yang juga halus.
Para filosof Yunani mengemukakan pandangan yang menyatakan, bahwa sebagaimana ada manusia yang fitratnya
mendekati hewaniah, tentunya ada
juga yang fitratnya itu halus dan jernih. Jika dari pandangan kita bisa dilihat adanya manusia-manusia yang demikian rendahnya sehingga mirip dengan hewan,
begitu pula tentunya ada yang mampu
mencapai derajat demikian luhur sehingga mereka bisa menciptakan hubungan dengan dunia yang lebih tinggi.
Kelayakan Penerima Wahyu Ilahi
Kalau sudah dimaklumi bahwa setiap individual mempunyai tingkat keragaman dalam intelektual, akhlak dan kecerahan hati,
jelas kiranya bahwa wahyu Ilahi
terbatas hanya bagi orang-orang tertentu
yang sempurna dalam segala aspek.
Setiap orang waras memahami bahwa setiap kalbu
akan menerima Nur Ilahi sepadan dengan kapasitas dan kemampuan
dirinya, tidak lebih daripada itu. Matahari
bisa menjadi ilustrasi yang baik
mengenai asas ini. Sinar matahari disebarkan
ke segala penjuru namun tidak semua tempat menerima
sinarnya secara merata.
Ruang yang pintunya tertutup jelas tidak
akan menerima sinarnya sedangkan yang punya lubang
angin kecil ke arah matahari
akan bisa menerima sinarnya dalam jumlah yang kecil pula tetapi belum akan dapat
menghalau kegelapan sepenuhnya.
Adapun ruang yang pintunya terbuka semua dan dindingnya terbuat dari bahan kaca tembus pandang, tidak saja
akan menerima sinar matahari sepenuhnya bahkan
juga bisa menyalurkannya ke segala arah dan ruang-ruang lainnya.
Hal yang sama juga terjadi pada kalbu
para nabi yang jernih. Jiwa-jiwa suci
yang telah dipilih Allah Swt. untuk
membawa tugas kerasulan-Nya sama
seperti istana kristal yang tidak
ada keburamannya sama sekali dan
tidak ada tabir yang menghalangi nur yang masuk.
Karena itu jelas sudah bahwa individual yang tidak mempunyai kesempurnaan batin dengan sendirinya
tidak akan mungkin mencapai derajat
kerasulan Ilahi. Derajat ini
hanya dikaruniakan kepada mereka yang nurani
sucinya, sama sekali terbebas dari tabir kegelapan dan selimut keduniawian dimana kesucian transendental (di luar batas)
mereka sulit bisa dibayangkan. Jiwa-jiwa
suci seperti itulah yang bisa menjadi sarana
bimbingan bagi umat manusia.
Sebagaimana berkat kehidupan disalurkan oleh jantung ke seluruh anggota
tubuh maka Yang Maha Bijaksana
juga menyalurkan karunia bimbingan
melalui jiwa-jiwa suci
demikian, karena mereka itulah yang diberkati dengan hubungan sempurna yang ada di antara Mata Air rahmat dengan si
penerima rahmat.
Adalah tidak mungkin jika Allah
Yang Maha Luhur, Yang Maha Unik
dan Maha Transenden (di luar nalar),
lalu mengaruniakan rahmat berupa wahyu suci kepada orang-orang yang nuraninya gelap dan kelam, atau picik dan sempit, dan
yang fitrat jahatnya lebih dekat
kepada keaiban.
Dibutuhkan Kemampuan dan Kecemerlangan yang Tepat
Dengan tidak mengelabui diri sendiri, sepatutnya kita mengakui bahwa untuk
menciptakan hubungan sempurna dengan
Wujud Sumber Abadi dan menikmati komunikasi dengan Yang Maha Suci, dengan sendirinya
dibutuhkan kemampuan dan kecemerlangan yang tepat bagi derajat yang tinggi tersebut.
Mereka yang kehilangan arah dan tidak
memiliki amal ibadah serta diselaputi
kegelapan dan berfitrat rendah
disamping juga pengecut, dengan
sendirinya tidak akan mungkin
mencapai derajat seperti itu. Tidak benar apa yang dikemukakan umat Kristen bahwa kesucian, fitrat
transendental, kemurnian dan kecintaan kepada Ilahi bukanlah hal esensial
bagi para nabi sebagai penerima wahyu Ilahi.
Mereka ini sudah kehilangan prinsip-prinsip utama dan telah mengorbankan semua kebenaran,
dengan pertimbangan atas dasar
itu Yesus bisa dipertuhan dan konsep penebusan
dosa dapat diterima manusia. Mengingat kemurnian
dan kesucian para nabi tidak bisa membenarkan struktur pemikiran mereka itu, mereka jadinya mengarang kedustaan lain guna menopang kedustaan berikutnya. Karena kehilangan sebelah mata, mereka jadinya
ingin mengorek mata satunya lagi.
Mereka ini menyukai kedustaan dan meninggalkan
kebenaran. Mereka menghina para nabi
dan mengemukakan wujud-wujud suci
sebagai orang-orang kotor. Begitu pula mereka mencemoohkan fitrat suci wujud para penerima wahyu Ilahi sebagai kotor dan gelap, dengan tujuan agar keagungan
dewa fiktif mereka menjadi terangkat
dan konsep penebusan dosa tidak akan
disangkal orang.
Sikap mementingkan diri sendiri tersebut telah menjadikan mereka lupa bahwa akidah mereka itu tidak saja telah menghina para nabi
lainnya tetapi juga menjadikan manusia meragukan
kesucian Tuhan, karena bagaimana mungkin Dia itu dianggap suci
jika mempunyai hubungan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang dianggap tidak suci.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind
Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
188-190, London, 1984).
Kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Terhadap
Orang-orang Yahudi
Bukan hanya Al-Quran yang mengemukakan kebiasaan buruk “menukar kebenaran dengan kepalsuan” yang umumnya
terjadi kalangan para pemuka agama Yahudi
(QS.2:43; Qs.3:71-72 & 78-81; QS.9:30-32), bahkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun
mengecam keras berbagai perbuatan buruk mereka itu
dan menyebut mereka sebagai “keturunan
ular beludak” serta mengutuk
mereka (Matius 23:1-39):
23:29 Celakalah kamu,
hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah
tugu orang-orang saleh 23:30 dan
berkata: Jika kami hidup di zaman nenek
moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi
itu. 23:31 Tetapi
dengan demikian kamu bersaksi terhadap
diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah
keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! 23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan
diri dari hukuman neraka? 23:34 Sebab
itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu
nabi-nabi, orang-orang bijaksana
dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh
dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu
aniaya dari kota ke kota, 23:35 supaya
kamu menanggung akibat penumpahan darah
orang yang tidak bersalah mulai dari Habel,
orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. 23:36 Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya
ini akan ditanggung angkatan ini! " (Matius 23:29-36).
Selanjutnya dengan menyebut para pemuka agama Yahudi tersebut dengan “Yerusalem” Allah Swt. melalui mulut Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. bernubuat
mengenai hukuman-Nya yang kedua kali akan
akan menimpa mereka, dan mereka akan kehilangan nikmat kenabian karena
sesuai dengan nubuatan Nabi
Musa a.s. (Ulangan 18:18-19)
dipindahkan kepada Bani Ismail
melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang disebut sebagai “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
23:37 "Yerusalem,
Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan
anak-anakmu, sama seperti induk ayam
mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan
menjadi sunyi. 23:39 Dan
Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang
kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
Mengenai dua hukuman yang menimpa Bani Israil lihat QS.17:5-9 dan kutukan Allah Swt. melalui lidah Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam lihat
QS.6:79-81).
Hubungan Penerima
Wahyu dengan Tuhan
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. membahas persyaratan
untuk layak menjadi penerima wahyu Ilahi:
“Filosofi
turunnya Nur wahyu menyatakan bahwa Nur itu akan turun dalam keadaan terang dan tidak akan singgah di tempat
yang gelap, karena yang namanya rahmat menuntut adanya kedekatan,
padahal tidak ada hubungan di antara terang
dengan gelap. Cahaya hanya berkaitan dengan cahaya
lagi dan Yang Maha Bijaksana hanya
akan berkinerja dalam lingkungan kepantasan.
Dalam penganugrahan rahmat Nur normanya mengatur bahwa Nur yang lebih akbar
akan diberikan kepada mereka yang
sudah dicerahkan, dan tidak akan
turun kepada mereka yang tidak memiliki
apa pun. Mereka yang memiliki pencerahan
mata akan mampu melihat sinar
matahari, sedangkan mereka yang tidak
mempunyai kecerahan mata dengan
sendirinya tidak akan dapat menikmati
sinar sang surya. Mereka yang fitrat
cahaya dirinya sedikit akan juga
menerima nur dalam jumlah sedikit, sedangkan mereka yang memang
sudah cerah fitratnya akan menerima nur dalam porsi yang lebih banyak.
Para
nabi adalah wujud-wujud suci yang dikaruniai dengan
begitu banyak pecerahan diri
sehingga mereka menjadi Nur yang dipersonifikasikan (dijelmakan). Karena
itu jugalah maka Hadhrat Rasulullah Saw.
disebut sebagai nur dan matahari yang memberikan sinar sebagaimana dikemukakan dalam
ayat:
قَدۡ جَآءَکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ
نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ
Sungguh telah
datang kepada kamu Nur dari Allah dan kitab yang terang (Al-Māidah
[5]:16).
dan di
tempat lain dinyatakan:
وَّ دَاعِیًا اِلَی
اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا
مُّنِیۡرًا
Dan juga sebagai penyeru
kepada Allah dengan perintah-Nya dan sebagai matahari yang memancarkan cahaya’ (Al-Ahzāb [33]:47).
Membantah Anggapan Keliru Orang-orang Kristen
Dengan demikian nur wahyu yang mensyaratkan kesempurnaan
dan keakbaran pencerahan diri hanya diberikan dan dibatasi kepada para nabi saja. Hal ini membantah anggapan
orang-orang -- yang meskipun mengakui adanya perbedaan derajat di antara manusia, tetapi tetap saja karena kebodohannya -- membayangkan bahwa Nur yang dikaruniakan kepada mereka yang berfitrat sempurna akan juga diberikan kepada manusia-manusia cacat lainnya.
Sepatutnya mereka merenungi lagi hal ini secara lebih mendalam dan menyadari kesalahan diri mereka. Mereka
sepatutnya menyadari bahwa norma hukum alam dari Tuhan tidak mendukung pandangan seperti
itu, hanya saja karena kefanatikan
dan rasa permusuhan maka mereka
tetap menganut pandangan salah
tersebut.
Begitu juga yang terjadi pada umat Kristen yang menganggap bahwa tidak diperlukan syarat adanya pencerahan
diri bagi seseorang untuk menerima rahmat
Nur dan wahyu Ilahi. Dalam
pandangan umat Kristen -- seseorang yang bodoh (dan bukan seorang yang waras), bersifat pengecut (dan bukan seorang pemberani), berhati kikir (dan bukan dermawan), tidak bermalu, mencintai
dunia (dan bukannya kasih kepada Tuhan-nya), pencuri dan perampok
(dan bukannya seorang yang saleh dan dapat dipercaya), senang berfoya-foya (dan bukan seorang yang sederhana dan polos)
bahkan bersifat rakus -- bisa saja
menjadi nabi dan pilihan Tuhan.
Sesungguhnya dalam pandangan mereka --
dengan mengecualikan Yesus a.s.
-- maka semua nabi lainnya,
meskipun mereka akui sebagai benar dan Kitab-kitabnya dianggap suci, namun mereka semua itu dianggap mempunyai
cacat dan luput dari kesempurnaan kesucian serta tidak memiliki kemurnian nurani. Betapa
anehnya filosofi yang dianut umat Kristen mengenai Nur wahyu Ilahi.
Pandangan seperti itu hanya mungkin dianut dan diikuti oleh orang-orang yang terperangkap
dalam kegelapan yang sangat dan kebutaan nurani. Rasanya seorang yang tidak terlalu cemerlang daya fikirnya
pun tidak akan membantah kenyataan
bahwa untuk dapat menerima rahmat berupa
Nur Ilahi dipersyaratkan bahwa yang bersangkutan
harus juga memiliki nur pencerahan
di dalam dirinya sendiri.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. I, hlm. 195-197, London, 1984).
Tipuan Syaitan Melalui “Ucapan”
& Tiga Ciri Pokok Wahyu Ilahi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan tiga
syarat yang harus dipenuhi bagi para penerima wahyu Ilahi yang benar:
“Sayang sekali kebanyakan orang-orang menganggap sebagai firman Tuhan segala hal
yang mengalir dari lidah mereka
dalam keadaan tertidur dimana hal
ini bertentangan dengan ayat yang
menyatakan:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ
‘Janganlah
engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu mengenainya (Bani Israil [17]:37).
Patut diperhatikan bahwa segala sesuatu yang keluar dari lidah walaupun tidak
bertentangan dengan firman Tuhan
dan hadist Rasulullah Saw. tidak
langsung bisa dianggap sebagai firman
Tuhan, kecuali dibuktikan dan dilandasi oleh tindakan Allah Swt.. Sebab yang namanya syaitan sebagai musuh umat
manusia yang selalu mencari berbagai
macam cara untuk menjerumuskan,
juga menggunakan metoda meletakkan
kata-katanya di dalam hati manusia
dan meyakinkan kepada yang
bersangkutan bahwa itu adalah firman
Tuhan. Mereka yang terjerumus
hanya akan mengalami kerugian sendiri.
Terdapat 3 buah syarat yang harus dipenuhi sebelum sesuatu dapat diterima
sebagai wahyu atau firman Tuhan:
Pertama,
isinya tidak boleh bertentangan
dengan Kitab Suci Al-Quran, namun
ini saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan syarat ketiga sebagaimana yang
akan disebutkan di bawah.
Kedua,
wahyu tersebut hanya bisa turun kepada seseorang
yang kalbunya telah dimurnikan secara
sempurna. Yang bersangkutan haruslah
seseorang yang telah menarik diri
sepenuhnya dari segala nafsu dan
telah mengalami keadaan kematian
yang melaluinya mereka mendekat kepada
Tuhan dan telah menjauh sepenuhnya dari
segala godaan syaitan.
Sebagaimana orang biasanya hanya mau mendengar kepada orang lain yang akrab dengan dirinya, begitu juga ia akan mendengar omongan syaitan jika memang dekat
kepadanya. Adapun mereka yang akrab kepada Tuhan hanya akan mendengar
perkataan Tuhan saja.
Manusia sepatutnya berupaya dengan sekuat daya
untuk mencapai kesucian batin. Semua
bentuk pencaharian akan berakhir
pada titik tersebut. Dengan kata
lain, hal demikian itu mirip kematian
yang memupus semua kekotoran di dalam kalbu.
Ketika seseorang telah mencapai tahap akhir dari pencahariannya, ia akan sampai pada suatu tingkatan dimana ia sepenuhnya
berada dalam pengendalian Ilahi.
Dengan cara demikian itulah Tuhan
menghidupkan kembali para hamba-Nya dalam
suasana pemahaman dan kasih karena mereka telah menanggalkan segala nafsu sehingga
telah mencapai tingkat kematian
(mati terhadap dunia). Kemudian dengan tanda-tanda-Nya
yang luar biasa Tuhan akan membukakan
kepada mereka keajaiban-keajaiban
ruhaniah serta mengisi hati mereka
dengan Kasih Allah yang tidak bisa dimengerti oleh dunia awam. Pada keadaan seperti itu dapat dikatakan bahwa yang bersangkutan telah dikaruniai dengan suatu kehidupan
baru yang tidak lagi mengenal maut
(kematian).
Kehidupan
baru demikian hanya mungkin dicapai melalui pemahaman dan kecintaan
yang sempurna. Adapun pemahaman sempurna bisa diperoleh
melalui tanda-tanda Tuhan yang abadi. Pada saat itulah yang
bersangkutan sudah bisa menikmati
komunikasi langsung dengan Tuhan-nya.
Hanya saja kondisi ini pun belum memadai tanpa persyaratan ketiga, karena kesucian
yang sempurna merupakan suatu hal
yang tersembunyi dan merupakan suatu
hal yang masih bisa dibualkan oleh seorang yang iseng.
Persyaratan
ketiga dari seorang penerima wahyu
yang benar adalah kata-kata yang diungkapkannya sebagai datang dari Tuhan tersebut memang
ditunjang oleh tindakan-tindakan Tuhan.
Dengan kata lain, harus cukup banyak
tanda-tanda yang menopang ungkapan
itu, sehingga setiap orang waras akan berpendapat bahwa ungkapan itu benar berasal
dari Allah Swt.
Persyaratan
ini lebih tinggi di atas persyaratan lainnya dan merupakan persyaratan yang demikian sempurna sehingga tidak ada yang mampu menyangkalnya. Keadaan demikian itulah
yang membantu para nabi
Allah dalam mengatasi umat yang membantah.
Jika seseorang mengaku bahwa firman Tuhan
telah turun ke atas dirinya dan ratusan
tanda-tanda telah muncul
bersamaan dengan itu serta ribuan macam
bantuan dan pertolongan Ilahi
telah diperlihatkan -- dimana Tuhan
telah menyerang para musuhnya secara terbuka -- siapa lagi yang akan bisa mengatakan bahwa orang tersebut palsu adanya?
Mereka yang menikmati kesempatan komunikasi
dengan Tuhan serta mendapat tugas untuk memanggil manusia kepada bimbingan
Ilahi, akan memperoleh dukungan
berupa tanda-tanda Ilahi yang turun laiknya hujan, sedangkan dunia tidak akan mampu membendung
mereka. Tindakan-tindakan Tuhan yang
mengikutinya menjadi bukti kesaksian
bahwa ucapan-ucapan yang mereka
kemukakan sebagai wahyu memang benar
adalah firman Tuhan.
Kalau saja mereka yang mengakukan dirinya sebagai penerima wahyu-wahyu mau memperhatikan persyaratan ini dalam hatinya, tentunya mereka bisa terhindar dari terjerumus dalam kesalahan.” (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.
534-538, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar