Senin, 25 April 2016

Keberagaman "Inteligensia" Manusia Bagaikan Berbagai Jenis Mineral & Berbagai Persyaratan Menerima Wahyu Ilahi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Keberagaman Inteligensia Manusia Bagaikan Berbagai Jenis Mineral  & Berbagai Persyaratan Menerima Wahyu Ilahi

Bab 29


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan    mengenai  makna  ayat  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی     -- “Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی   --  dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی    --                 yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal      bahwa kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.  itu suatu pengalaman ruhani berganda.
  Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahihakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.

Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi

 Sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan.
Ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan, melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan. Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
  Kata-kata “yang menyelubungi”   pada ayat   اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی     --    Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi,  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.”  maknanya ialah penjelmaan Ilahi  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی – “Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).“
  Jadi,  betapa  tingginya  serta sempurnanya bagian ujung   atas  “garis vertical” kemanusiaan  yang ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj tersebut dan betapa beliau saw.  telah menyaksikan  “Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya),“ firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang apabila  jatuh. Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی --  Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --   Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan  lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --   Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,   --  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,   dekat pohon Sidrah tertinggi,      yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal.  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi,  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melanturلَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  --   Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).

Intelegensia Manusia  Beraneka Ragam Bagaikan  Berbagai Jenis Mineral

     Kembali kepada  penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai wahyu Ilahi, selanjutnya beliau bersabda:   
       “Sifat manusia sebenarnya mirip dengan berbagai jenis mineral yaitu ada yang cemerlang seperti perak, ada yang berbau busuk dan mudah terbakar seperti belerang, ada yang labil bergerak terus seperti air raksa,  dan ada pula yang keras seperti besi.
       Keragaman seperti itu nyata adanya dan selaras dengan pengaturan Ilahi. Semuanya tidak bertentangan dengan hukum alam dan bahkan memberikan kontribusi (peran-serta) bagi kedamaian dan penyesuaian sosial.   Jelas kiranya jika setiap benda alam mempunyai kapasitas yang sama maka berbagai karya yang memerlukan berbagai tingkatan kapasitas berbeda -- yang merupakan hal esensial bagi penyesuaian kondisi sosial -- akan menjadi tidak tuntas dan menggantung tidak sempurna. Bagi suatu kerja keras dibutuhkan sarana yang bersifat keras sedangkan untuk pekerjaan yang halus diperlukan sarana yang juga halus.
    Para filosof Yunani mengemukakan pandangan yang menyatakan,  bahwa sebagaimana ada manusia yang fitratnya mendekati hewaniah, tentunya ada juga yang fitratnya itu halus dan jernih. Jika dari pandangan kita bisa dilihat adanya manusia-manusia yang demikian rendahnya sehingga mirip dengan hewan, begitu pula tentunya ada yang mampu mencapai derajat demikian luhur sehingga mereka bisa menciptakan hubungan dengan dunia yang lebih tinggi.

Kelayakan Penerima Wahyu Ilahi

   Kalau sudah dimaklumi bahwa setiap individual mempunyai tingkat keragaman dalam intelektual, akhlak dan kecerahan hati, jelas kiranya bahwa wahyu Ilahi terbatas hanya bagi orang-orang tertentu yang sempurna dalam segala aspek.
       Setiap orang waras memahami bahwa setiap kalbu akan menerima Nur Ilahi sepadan dengan kapasitas dan kemampuan dirinya, tidak lebih daripada itu. Matahari bisa menjadi ilustrasi yang baik mengenai asas ini.  Sinar matahari disebarkan ke segala penjuru namun tidak semua tempat menerima sinarnya secara merata.
       Ruang yang pintunya tertutup jelas tidak akan menerima sinarnya sedangkan yang punya lubang angin kecil ke arah matahari akan bisa menerima sinarnya dalam jumlah yang kecil pula tetapi belum akan dapat menghalau kegelapan sepenuhnya. Adapun ruang yang pintunya terbuka semua dan dindingnya terbuat dari bahan kaca tembus pandang, tidak saja akan menerima sinar matahari sepenuhnya bahkan juga bisa menyalurkannya ke segala arah dan ruang-ruang lainnya.
     Hal yang sama juga terjadi pada kalbu para nabi yang jernih. Jiwa-jiwa suci yang telah dipilih Allah Swt. untuk membawa tugas kerasulan-Nya sama seperti istana kristal yang tidak ada keburamannya sama sekali dan tidak ada tabir yang menghalangi nur yang masuk.
    Karena itu jelas sudah bahwa individual yang tidak mempunyai kesempurnaan batin dengan sendirinya tidak akan mungkin mencapai derajat kerasulan Ilahi. Derajat ini hanya dikaruniakan kepada mereka yang nurani sucinya,  sama sekali terbebas dari tabir kegelapan dan selimut keduniawian dimana kesucian transendental (di luar batas) mereka sulit bisa dibayangkan. Jiwa-jiwa suci seperti itulah yang bisa menjadi sarana bimbingan bagi umat manusia.
     Sebagaimana berkat kehidupan disalurkan oleh jantung ke seluruh anggota tubuh maka Yang Maha Bijaksana juga menyalurkan karunia bimbingan melalui jiwa-jiwa suci demikian,  karena mereka itulah yang diberkati dengan hubungan sempurna yang ada di antara Mata Air rahmat dengan si penerima rahmat.
       Adalah tidak mungkin jika Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha Unik dan Maha Transenden (di luar nalar), lalu mengaruniakan rahmat berupa wahyu suci kepada orang-orang yang nuraninya gelap dan kelam, atau picik dan sempit, dan yang fitrat jahatnya lebih dekat kepada keaiban.

Dibutuhkan Kemampuan dan Kecemerlangan yang Tepat

     Dengan tidak mengelabui diri sendiri, sepatutnya kita mengakui bahwa untuk menciptakan hubungan sempurna dengan Wujud Sumber Abadi dan menikmati komunikasi dengan Yang Maha Suci, dengan sendirinya dibutuhkan kemampuan dan kecemerlangan yang tepat bagi derajat yang tinggi tersebut.
    Mereka yang kehilangan arah dan tidak memiliki amal ibadah serta diselaputi kegelapan dan berfitrat rendah disamping juga pengecut, dengan sendirinya tidak akan mungkin mencapai derajat seperti itu. Tidak benar apa yang dikemukakan umat Kristen bahwa kesucian, fitrat transendental, kemurnian dan kecintaan kepada Ilahi bukanlah hal esensial bagi para nabi sebagai penerima wahyu Ilahi.
     Mereka ini sudah kehilangan prinsip-prinsip utama dan telah mengorbankan semua kebenaran,  dengan pertimbangan atas dasar itu Yesus bisa dipertuhan dan konsep penebusan dosa dapat diterima manusia.  Mengingat kemurnian dan kesucian para nabi tidak bisa membenarkan struktur pemikiran mereka itu, mereka jadinya mengarang kedustaan lain guna menopang kedustaan berikutnya. Karena kehilangan sebelah mata, mereka jadinya ingin mengorek mata satunya lagi.
     Mereka ini menyukai kedustaan dan meninggalkan kebenaran. Mereka menghina para nabi  dan mengemukakan wujud-wujud suci sebagai orang-orang kotor. Begitu pula mereka mencemoohkan fitrat suci wujud para penerima wahyu Ilahi sebagai kotor dan gelap, dengan tujuan agar keagungan dewa fiktif mereka menjadi terangkat dan konsep penebusan dosa tidak akan disangkal orang.
     Sikap mementingkan diri sendiri tersebut telah menjadikan mereka lupa bahwa akidah mereka itu tidak saja telah menghina para nabi lainnya tetapi juga menjadikan manusia meragukan kesucian Tuhan, karena bagaimana mungkin Dia itu dianggap suci jika mempunyai hubungan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang dianggap tidak suci.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  188-190, London, 1984).

Kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Terhadap Orang-orang Yahudi

     Bukan hanya Al-Quran yang mengemukakan kebiasaan buruk “menukar kebenaran dengan kepalsuan”  yang umumnya terjadi kalangan para pemuka agama Yahudi (QS.2:43; Qs.3:71-72 & 78-81; QS.9:30-32), bahkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun  mengecam keras  berbagai perbuatan buruk  mereka itu  dan menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” serta mengutuk mereka (Matius 23:1-39):
23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi   dan memperindah tugu orang-orang saleh 23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.    23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! 23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!  Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?   23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan,  yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu  dan kamu aniaya dari kota ke kota,   23:35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel,   orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya,  yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.  23:36 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini! " (Matius 23:29-36).
    Selanjutnya dengan menyebut para pemuka agama Yahudi tersebut dengan “Yerusalem” Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bernubuat mengenai hukuman-Nya yang kedua kali akan akan menimpa  mereka, dan  mereka akan kehilangan nikmat kenabian  karena  sesuai dengan nubuatan Nabi Musa  a.s. (Ulangan 18:18-19) dipindahkan kepada Bani Ismail melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang disebut sebagai “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!   Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,  tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.    23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
      Mengenai dua hukuman yang menimpa Bani Israil lihat QS.17:5-9 dan kutukan Allah Swt. melalui lidah Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam  lihat QS.6:79-81).

Hubungan Penerima Wahyu dengan Tuhan

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. membahas persyaratan untuk layak menjadi penerima wahyu Ilahi
      “Filosofi turunnya Nur wahyu menyatakan bahwa Nur itu akan turun dalam keadaan terang dan tidak akan singgah di tempat yang gelap,  karena yang namanya rahmat menuntut adanya kedekatan, padahal tidak ada hubungan di antara terang dengan gelap. Cahaya hanya berkaitan dengan cahaya lagi dan Yang Maha Bijaksana hanya akan berkinerja dalam lingkungan kepantasan.
     Dalam penganugrahan rahmat Nur normanya mengatur bahwa Nur yang lebih akbar akan diberikan kepada mereka yang sudah dicerahkan, dan tidak akan turun kepada mereka yang tidak memiliki apa pun. Mereka yang memiliki pencerahan mata akan mampu melihat sinar matahari, sedangkan mereka yang tidak mempunyai kecerahan mata dengan sendirinya tidak akan dapat menikmati sinar sang surya. Mereka yang fitrat cahaya dirinya sedikit akan juga menerima nur dalam jumlah sedikit, sedangkan mereka yang memang sudah cerah fitratnya akan menerima nur dalam porsi yang lebih banyak.
      Para  nabi adalah wujud-wujud suci yang dikaruniai dengan begitu banyak pecerahan diri sehingga mereka menjadi Nur yang dipersonifikasikan (dijelmakan). Karena itu jugalah maka Hadhrat Rasulullah Saw. disebut sebagai nur dan matahari yang memberikan sinar sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
قَدۡ جَآءَکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ  نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ
 Sungguh  telah datang kepada kamu Nur dari Allah dan kitab yang terang  (Al-Māidah [5]:16).
dan di tempat lain dinyatakan:
وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا
Dan juga sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya dan sebagai matahari yang memancarkan cahaya (Al-Ahzāb [33]:47).

Membantah Anggapan Keliru   Orang-orang  Kristen

    Dengan demikian nur wahyu yang mensyaratkan kesempurnaan dan keakbaran pencerahan diri hanya diberikan dan dibatasi kepada para   nabi saja. Hal ini membantah anggapan orang-orang -- yang meskipun mengakui adanya perbedaan derajat di antara manusia, tetapi tetap saja karena kebodohannya -- membayangkan bahwa Nur yang dikaruniakan kepada mereka yang berfitrat sempurna akan juga diberikan kepada manusia-manusia cacat lainnya.
   Sepatutnya mereka merenungi lagi hal ini secara lebih mendalam dan menyadari kesalahan diri mereka. Mereka sepatutnya menyadari bahwa norma hukum alam dari Tuhan tidak mendukung pandangan seperti itu, hanya saja karena kefanatikan dan rasa permusuhan maka mereka tetap menganut pandangan salah tersebut.
      Begitu juga yang terjadi pada umat Kristen yang menganggap bahwa tidak diperlukan syarat adanya pencerahan diri bagi seseorang untuk menerima rahmat Nur dan wahyu Ilahi. Dalam pandangan umat Kristen --  seseorang yang bodoh (dan bukan seorang yang waras), bersifat pengecut (dan bukan seorang pemberani), berhati kikir (dan bukan dermawan), tidak bermalu, mencintai dunia (dan bukannya kasih kepada Tuhan-nya), pencuri dan perampok (dan bukannya seorang yang saleh dan dapat dipercaya), senang berfoya-foya (dan bukan seorang yang sederhana dan polos) bahkan bersifat rakus -- bisa saja menjadi nabi dan pilihan Tuhan.
      Sesungguhnya dalam pandangan mereka -- dengan mengecualikan Yesus a.s. --   maka semua   nabi lainnya, meskipun mereka akui sebagai benar dan Kitab-kitabnya dianggap suci, namun mereka semua itu dianggap mempunyai cacat dan luput dari kesempurnaan kesucian serta tidak memiliki kemurnian nurani. Betapa anehnya filosofi yang dianut umat Kristen mengenai Nur wahyu Ilahi.
      Pandangan seperti itu hanya mungkin dianut dan diikuti oleh orang-orang yang terperangkap dalam kegelapan yang sangat dan kebutaan nurani. Rasanya seorang yang tidak terlalu cemerlang daya fikirnya pun tidak akan membantah kenyataan bahwa untuk dapat menerima rahmat berupa Nur Ilahi dipersyaratkan bahwa yang bersangkutan harus juga memiliki nur pencerahan di dalam dirinya sendiri.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 195-197, London, 1984).

Tipuan Syaitan Melalui “Ucapan” &  Tiga Ciri Pokok Wahyu Ilahi

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengemukakan tiga  syarat yang harus dipenuhi bagi para penerima wahyu Ilahi yang benar:
       “Sayang sekali kebanyakan orang-orang menganggap sebagai firman Tuhan segala hal yang mengalir dari lidah mereka dalam keadaan tertidur dimana hal ini bertentangan dengan ayat yang menyatakan:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ
 ‘Janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu  mengenainya (Bani Israil [17]:37).
       Patut diperhatikan bahwa segala sesuatu yang keluar dari lidah walaupun tidak bertentangan dengan firman Tuhan dan hadist Rasulullah Saw. tidak langsung bisa dianggap sebagai firman Tuhan, kecuali dibuktikan dan dilandasi oleh tindakan Allah Swt.. Sebab yang namanya syaitan sebagai musuh umat manusia yang selalu mencari berbagai macam cara untuk menjerumuskan, juga menggunakan metoda meletakkan kata-katanya di dalam hati manusia dan meyakinkan kepada yang bersangkutan bahwa itu adalah firman Tuhan. Mereka yang terjerumus hanya akan mengalami kerugian sendiri.
       Terdapat 3 buah syarat yang harus dipenuhi sebelum sesuatu dapat diterima sebagai wahyu atau firman Tuhan:
     Pertama, isinya tidak boleh bertentangan dengan Kitab Suci Al-Quran, namun ini saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan syarat ketiga sebagaimana yang akan disebutkan di bawah.    
     Kedua, wahyu tersebut hanya bisa turun kepada seseorang yang kalbunya telah dimurnikan secara sempurna. Yang bersangkutan haruslah seseorang yang telah menarik diri sepenuhnya dari segala nafsu dan telah mengalami keadaan kematian yang melaluinya mereka mendekat kepada Tuhan dan telah menjauh sepenuhnya dari segala godaan syaitan.
      Sebagaimana orang biasanya hanya mau mendengar kepada orang lain yang akrab dengan dirinya, begitu juga ia akan mendengar omongan syaitan jika memang dekat kepadanya.   Adapun mereka yang akrab kepada Tuhan hanya akan mendengar perkataan  Tuhan saja.
       Manusia sepatutnya berupaya dengan sekuat daya untuk mencapai kesucian batin. Semua bentuk pencaharian akan berakhir pada titik tersebut. Dengan kata lain, hal demikian itu mirip kematian yang memupus semua kekotoran di dalam kalbu.
      Ketika seseorang telah mencapai tahap akhir dari pencahariannya, ia akan sampai pada suatu tingkatan dimana ia sepenuhnya berada dalam pengendalian Ilahi. Dengan cara demikian itulah Tuhan menghidupkan kembali para hamba-Nya dalam suasana pemahaman dan kasih karena mereka telah menanggalkan segala nafsu sehingga telah mencapai tingkat kematian (mati terhadap dunia). Kemudian dengan tanda-tanda-Nya yang luar biasa Tuhan akan membukakan kepada mereka keajaiban-keajaiban ruhaniah serta mengisi hati mereka dengan Kasih Allah yang tidak bisa dimengerti oleh dunia awam. Pada keadaan seperti itu dapat dikatakan bahwa yang bersangkutan telah dikaruniai dengan suatu kehidupan baru yang tidak lagi mengenal maut (kematian).   
      Kehidupan baru demikian hanya mungkin dicapai melalui pemahaman dan kecintaan yang sempurna. Adapun pemahaman sempurna bisa diperoleh melalui tanda-tanda Tuhan yang abadi. Pada saat itulah yang bersangkutan sudah bisa menikmati komunikasi langsung dengan Tuhan-nya. Hanya saja kondisi ini pun belum memadai tanpa persyaratan ketiga,  karena kesucian yang sempurna merupakan suatu hal yang tersembunyi dan merupakan suatu hal yang masih bisa dibualkan oleh seorang yang iseng.
       Persyaratan ketiga dari seorang penerima wahyu yang benar adalah kata-kata yang diungkapkannya sebagai datang dari Tuhan tersebut memang ditunjang oleh tindakan-tindakan Tuhan. Dengan kata lain, harus cukup banyak tanda-tanda yang menopang ungkapan itu, sehingga setiap orang waras akan berpendapat bahwa ungkapan itu benar berasal dari Allah Swt.
      Persyaratan ini lebih tinggi di atas persyaratan lainnya dan merupakan persyaratan yang demikian sempurna sehingga tidak ada yang mampu menyangkalnya. Keadaan demikian itulah yang membantu para   nabi Allah dalam mengatasi umat yang membantah.
       Jika seseorang mengaku bahwa firman Tuhan telah turun ke atas dirinya dan ratusan tanda-tanda telah muncul bersamaan dengan itu serta ribuan macam bantuan dan pertolongan Ilahi telah diperlihatkan -- dimana Tuhan telah menyerang para musuhnya secara terbuka --  siapa lagi yang akan bisa mengatakan bahwa orang tersebut palsu adanya?
   Mereka yang menikmati kesempatan komunikasi dengan Tuhan serta mendapat tugas untuk memanggil manusia kepada bimbingan Ilahi, akan memperoleh dukungan berupa tanda-tanda Ilahi yang turun laiknya hujan,  sedangkan dunia tidak akan mampu membendung mereka. Tindakan-tindakan Tuhan yang mengikutinya menjadi bukti kesaksian bahwa ucapan-ucapan yang mereka kemukakan sebagai wahyu memang benar adalah firman Tuhan.
      Kalau saja mereka yang mengakukan dirinya sebagai penerima wahyu-wahyu mau memperhatikan persyaratan ini dalam hatinya, tentunya mereka bisa terhindar dari terjerumus dalam kesalahan.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm. 534-538, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 24 April    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar