Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Tiga Bagian Alam
Ciptaan Allah Swt. & Kemampuan
Manusia Menerima Wahyu Ilahi
Merupakan Bagian dari Fitrat
Bab 21
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya Masih
Mau’ud a.s. telah menjelaskan
mengenai
pentingnya kemunculan “orang-orang pilihan” yang memperoleh wahyu Ilahi guna mengeluarkan
manusia dari berbagai macam “kegelapan” atau kekeliruan pemikiran dan amal kepada “cahaya”:
“Tidak ada suatu kaidah apa pun yang dapat menjamin
bahwa dengan mengikutinya maka
manusia akan mutlak terpelihara dari
segala kesalahan. Karena itulah para
filosof yang merangkai aturan-aturan logika dan mengemukakan cara-cara diskusi serta membangun argumentasi filosofi, selalu terjerumus dalam kesalahan dan mewariskan
kepada manusia ketiadaan pengetahuan mereka
tentang suatu pandangan, pendapat filosofi yang salah serta berbagai diskursus (artikel) kosong.
Hal ini menunjukkan adalah tidak mungkin
mengungkap kebenaran setiap hal, lalu menentukan akidah yang benar berdasarkan telaah
sendiri tanpa melakukan suatu kesalahan.
Kami belum
pernah mengetahui atau mendengar
atau pun membaca bahwa ada perorangan di kitab sejarah mana pun
yang terbebas dari kesalahan dalam keseluruhan pandangan dan renungannya. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin menemukan seseorang yang melalui penelitian tentang hukum alam
dan yang menyelaraskan kesadaran dirinya
sejalan dengan kondisi dunia, lalu sanggup
membawa penelitiannya ke tingkat kebenaran tertinggi dimana tidak ada lagi kemungkinan munculnya kesalahan.
Kalau nyatanya manusia tidak mungkin berlepas diri dari kesalahan dengan mengandalkan pengetahuannya
sendiri, sedangkan Allah Yang Maha
Pemurah dan Maha Penyayang, Yang
bersih dari segala kesalahan dan mengetahui
kebenaran segala hal, lalu tidak
menolong hamba-Nya melalui wahyu,
bagaimana mungkin kita ini sebagai makhluk yang lemah dapat keluar dari kungkungan kegelapan kebodohan dan kesalahan, serta bagaimana membebaskan
diri dari segala keraguan dan kecurigaan?
Karena itu, aku dengan sangat yakin menyatakan bahwa kebijakan, kasih dan kecintaan Allah Swt. dari waktu ke waktu -- bilamana dalam pandangan-Nya sudah tepat saatnya -- akan menciptakan manusia-manusia pilihan yang menjadi penerima wahyu demi penegakan akidah hakiki dan menetapkan akhlak yang benar.
Kepada manusia-manusia pilihan tersebut dikaruniakan kemampuan menyampaikan ajaran mereka kepada manusia
lainnya, sehingga tujuan bahwa umat manusia diciptakan agar mendapat bimbingan yang benar tidak akan kehilangan apa yang menjadi hak mereka.” (Purani
Tehrirain; Ruhani Khazain,
jld. II, hlm. 20-21, London, 1984).
Alam Perwahyuan yang Tersembunyi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai keunikan alam ciptaan-Nya:
“Allah
Yang Maha Kuasa telah membagi alam-Nya yang menakjubkan ini dalam tiga bagian:
·
Pertama, adalah alam nyata yang bisa diindera oleh mata, telinga dan indera jasmani lainnya atau melalui peralatan lain.
·
Kedua, adalah alam tersembunyi yang hanya bisa
dipahami melalui logika dan dugaan.
·
Ketiga, adalah alam yang amat tersembunyi, yang hampir tidak diketahui sehingga hanya sedikit yang menyadarinya.
Alam
yang ketiga ini sama sekali tidak
tampak terlihat, tidak bisa dicapai melalui logika dan sepenuhnya merupakan dugaan atau perkiraan.
Alam tersebut tidak mungkin diindera
melalui cara lain dan hanya dapat
diketahui melalui kasyaf, wahyu dan ilham.
Sebagaimana diketahui, untuk mengetahui alam jenis pertama dan kedua maka Allah Yang Maha Agung telah menganugrahkan berbagai fitrat dan kekuatan kepada manusia. Dengan cara yang sama Dia telah memberikan sarana bagi manusia guna menemukan
alam ketiga dalam bentuk wahyu, ilham dan kasyaf yang kapan pun tidak pernah ditangguhkan. Mereka yang mentaati
persyaratan untuk menggapainya,
sesungguhnya telah menjadi penerima
dan akan terus menerimanya.
Mengingat manusia
diciptakan untuk mencapai kemajuan tanpa
batas, sedangkan Allah Swt. itu bebas dari kekurangan dan kekikiran,
adalah tidak pantas menganggap bahwa
setelah Dia menanamkan dalam diri
manusia hasrat mempelajari ketiga jenis alam tersebut lalu Dia tidak memberikan pengetahuan
tentang sarana untuk mengetahui alam ketiga. Hal ini mendorong orang-orang bijak untuk meyakini adanya kebutuhan permanen diri manusia akan kasyaf, dan mereka tidak membatasi turunnya wahyu
sebagaimana yang dilakukan oleh kaum
Arya.
Kaum Arya meyakini bahwa hanya ada 4
orang Rishi[1] saja yang mungkin mencapai
kesempurnaan untuk itu, dan tidak
mungkin ada orang kelima lainnya. Sebaliknya, orang-orang bijaksana yang meyakini
akan karunia mutlak dari Allah Swt. menganggap bahwa pintu ilham selalu dalam keadaan
terbuka dan tidak dibatasi bagi
suatu negeri atau agama tertentu saja.
Namun sama halnya dengan berbagai hal
lainnya yang mempunyai aturan dan metoda konformitas
(penyesuaian/penyelarasan), begitu pula untuk wahyu, ilham dan kasyaf yang hanya bisa dicapai
oleh mereka yang mengikuti jalan lurus yang telah ditetapkan.
Tidak ada manusia yang menyangkal
keajaiban dunia kasyaf. Mereka mengakui
bahwa Sang Maha Pemurah, Yang telah
menganugrahkan fitrat dan kekuatan kepada manusia untuk meneliti segala hal di alam pertama, tidak akan meluputkan manusia akan sarana guna mengetahui
keadaan di alam ketiga, karena dari
sinilah manusia memperoleh hubungan
yang benar dan sempurna dengan Allah Yang
Maha Agung. Melalui pemahaman hakiki
yang pasti maka Nur Samawi akan mewujud
di dunia ini.
Sebagaimana juga dengan metoda untuk kedua alam lainnya, metoda
bagi alam ketiga ini pun terbuka bagi orang-orang benar untuk mengikutinya
guna mencapai hasil yang diinginkan. Keajaiban alam ketiga itu jumlahnya tidak
terbilang dan jika dibandingkan dengan kedua
alam lainnya sama seperti membandingkan matahari dengan sebutir biji
sawi.
Jika ada yang menganggap bahwa misteri alam ketiga itu bisa dibuka semata-mata dengan logika, sama seperti yang bersangkutan menutup mata dan menganggap bisa melihat benda-benda kasat mata hanya dengan indera penciuman saja.
Keajaiban alam ketiga sama sekali membingungkan
yang namanya logika. Dalam alam ini bagi mereka yang memiliki pengalaman mendapat kasyaf, mudah baginya meresapi bagaimana terciptanya jiwa atau ruh, sedangkan logika
tidak akan mampu menembus realita
hal itu.
Terkadang mereka yang mendapat kemampuan melihat kasyaf bisa melihat
seseorang dari jarak ratusan
kilometer tanpa terhalang hambatan
apa pun. Bahkan dalam beberapa kejadian
ketika berada dalam keadaan sadar
sepenuhnya, ia juga bisa mendengar suara
orang itu, dan ajaibnya yang
bersangkutan juga bisa mendengarnya.
Pada beberapa
kejadian dalam keadaan sadar
sepenuhnya, ia bisa berjumpa
dengan ruh dari orang-orang yang sudah meninggal
dunia, yang biasanya digambarkan
sebagai penghuni kuburan. Aku
sendiri juga pernah memperoleh pengalaman
demikian. Hal ini sama sekali bertentangan dengan akidah reinkarnasi jiwa sebagaimana yang
dianut kaum Hindu.
Keajaiban
terbesar adalah ketika seseorang
yang memiliki kemampuan melihat kasyaf,
melalui konsentrasi (tawajuh),
dengan izin Allah Swt. bisa muncul di hadapan orang lain yang terpisah jarak ratusan kilometer, dalam keadaan sadar tanpa memindahkan
tubuhnya sendiri dari tempatnya.
Logika
mengatakan bahwa seseorang dalam satu saat tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda, namun kemustahilan tersebut menjadi hal yang mungkin di alam ketiga.
Begitu juga biasanya orang-orang bijak
yang telah menyaksikan ratusan keajaiban,
merasa heran atas penyangkalan
mereka yang sama sekali menolak konsep keajaiban alam ketiga.
Aku sendiri telah menyaksikan dengan mata kepalaku keajaiban dan kasyaf-kasyaf yang
langka dari alam tersebut kurang
lebih sekitar 5000 kali. Dibutuhkan
buku tebal untuk mencatat rincian dari pengalaman-pengalaman tersebut. Salah
satu aspek luar biasa dari
pengalaman demikian ialah mewujudnya
beberapa hal yang sebenarnya tidak
memiliki eksistensi (keberadaan) eksternal berkat kekuasaan Ilahi.
Pengarang
buku Futuhat Wa Fusus[2] dan beberapa sufi
akbar lainnya telah mengemukakan pengalaman
mereka sendiri dari jenis ini dalam
kompilasi buku-buku mereka. Hanya saja karena ada perbedaan yang besar antara mendengar
dengan melihat maka aku tidak bisa meyakini sepenuhnya hal tersebut
semata-mata dari hanya membaca, dan keyakinan itu baru didapat setelah mengalaminya sendiri.
Aku teringat bahwa dalam salah satu kasyaf aku merasa telah menuliskan beberapa takdir keputusan Tuhan berkaitan dengan
masa depan yang kemudian diajukan
kepada Allah Yang Maha Agung untuk ditanda-tangani-Nya. (Patut disimak
bahwa sering terjadi dalam kasyaf
dan mimpi yang benar bahwa beberapa Sifat-sifat keindahan dan keagungan Ilahi tampak sebagai wujud manusia dan yang bersangkutan membayangkannya sebagai Wujud Allah Swt. Pengalaman seperti ini merupakan hal
biasa bagi mereka yang mendapat karunia
memperoleh kasyaf dan merupakan suatu hal yang tidak bisa dibantah).
Ketika aku mempersembahkan dokumen dimaksud kepada Allah Swt. Yang berwujud sebagai seorang penguasa
atau raja, Dia mencelupkan pena-Nya dalam tinta
merah lalu menjentikkannya ke
arahku, kemudian dengan tinta yang
tersisa di ujung pena Dia menanda-tangani dokumen itu.
Setelah itu kasyaf berakhir dan ketika membuka mata, terlihat beberapa titik
tinta merah di pakaianku dimana
ada 2 atau 3 titik jatuh di atas kopiah
seseorang bernama Abdullah dari
Sannaur yang saat itu sedang duduk bersamaku.
Tinta merah yang merupakan bagian dari kasyaf tersebut ternyata mewujud
dan terlihat secara eksternal.
Aku juga pernah melihat beberapa kasyaf lainnya yang mirip tetapi akan
terlalu panjang jika diuraikan di sini, namun pengalamanku meneguhkan bahwa sesuatu yang dilihat dalam kasyaf bisa mengambil bentuk eksternal dengan perkenan
(kehendak) Allah Swt.. Hal-hal seperti ini tidak bisa diresapi hanya dengan logika
saja. Bahkan orang-orang yang membanggakan
logikanya, ketika mendengar hal-hal seperti itu akan menyatakan dengan
sombongnya bahwa hal tersebut mustahil
adanya, dan menyatakan orang yang mengaku mendapat pengalaman tersebut adalah seorang pembohong atau tidak waras,
karena penelitiannya sendiri tidak
mampu menembus realitasnya.
Orang-orang seperti itu tidak memaklumi bahwa hal-hal yang diyakini oleh ribuan orang-orang bertakwa dari pengalaman diri mereka sendiri,
sepatutnya tidak diremehkan begitu saja. Di luar keajaiban dunia kasyaf, dalam alam nyata ini logika manusia belum sepenuhnya mampu memahami dunia fikiran dan masih berjuta-juta lagi misteri yang masih
tersembunyi dari logika manusia.” (Surma Chasm
Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 175-181, London, 1984).
Kemampuan Manusia Menerima Wahyu
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan, bahwa selain melengkapi manusia
dengan berbagai kemampuan dan kecerdasan otak, Allah Swt. pun memberikan kemampuan kepada manusia untuk menerima wahyu Ilahi:
“Sebagaimana Tuhan telah membekali
manusia dengan kemampuan berfikir
untuk memahami hal-hal yang mendasar,
begitu juga Tuhan telah membekali mereka dengan kemampuan tersembunyi untuk menerima wahyu. Ketika logika manusia sudah sampai di batas kemampuannya maka pada saat itu Allah Yang Maha Perkasa dalam rangka membimbing hamba-hamba-Nya yang hakiki dan saleh ke arah
kesempurnaan pemahaman dan kepastian, akan memberikan petunjuk melalui wahyu dan kasyaf.
Tahapan
yang tidak mungkin lagi ditembus oleh logika, dapat ditembus
melalui sarana wahyu dan kasyaf sehingga para pencari kebenaran
akan mencapai kepastian penuh. Begitu itulah cara-cara Allah dalam membimbing
para nabi yang diutus ke dunia yang
dengan mengikutinya akan membawa
mereka kepada pemahaman yang hakiki dan sempurna.
Tetapi seorang filosof kering biasanya lebih suka tergesa-gesa mengharapkan bahwa apa pun yang akan dikemukakan
haruslah berlandaskan logika. Ia
tidak menyadari bahwa logika tidak
mungkin memikul beban yang berada di luar batas kemampuannya atau melangkah lebih jauh dari kapasitasnya. Ia tidak menyadari bahwa
untuk mencapai tingkat keluhuran
yang diinginkan, Allah Swt. sudah membekali
manusia tidak saja kemampuan berfikir
tetapi juga kemampuan menerima wahyu.
Sungguh sial sekali mereka yang hanya mampu memanfaatkan sarana-sarana mendasar dari sekian banyak kemampuan yang telah dikaruniakan kepada manusia guna mengenali Tuhan, dan tetap tidak menyadari adanya kemampuan lain
tersebut. Bodoh sekali mensia-siakan kemampuan tersebut karena
tidak digunakan atau karena tidak mencari manfaat darinya.
Seseorang yang tidak memanfaatkan kemampuannya menerima wahyu, malah menyangkal eksistensinya
(keberadaannya), tidak dapat dikatakan sebagai seorang filosof tulen, padahal eksistensi
kemampuan seperti itu sudah dibenarkan
oleh kesaksian ribuan orang-orang bertakwa dimana orang-orang itu telah memperoleh pemahaman yang sempurna melalui sarana
tersebut.” (Surma
Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 87-90, London, 1984).
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut didukung
oleh kesaksian
Al-Quran mengenai wahyu Ilahi yang diterima
ibu Nabi Musa a.s. dan para hawari
(murid-murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اُمِّ مُوۡسٰۤی اَنۡ اَرۡضِعِیۡہِ ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ وَ لَا تَخَافِیۡ وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡتَقَطَہٗۤ اٰلُ فِرۡعَوۡنَ لِیَکُوۡنَ لَہُمۡ عَدُوًّا وَّ حَزَنًا ؕ
اِنَّ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا کَانُوۡا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ وَ
قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ ٭ۖ
عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ
وَلَدًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَصۡبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا ؕ
اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا
لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa supaya dia menyusuinya: فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ
فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ وَ لَا
تَخَافِیۡ وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا
رَآدُّوۡہُ اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- “Lalu apabila engkau takut mengenai dia maka letakkanlah dia di sungai, dan janganlah
engkau takut dan jangan pula engkau
bersedih, sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepada engkau,
dan Kami akan menjadikannya salah
seorang dari orang-orang yang
diutus.” Lalu seorang
dari keluarga Fir’aun memungut dia, supaya aki-batnya menjadi musuh dan kesedihan
bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan
Haman serta lasykar-lasykar keduanya itu adalah orang-orang yang bersalah. وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا
تَقۡتُلُوۡہُ
-- Dan seorang perempuan dari keluarga Fir’aun berkata: “Anak ini akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagi
engkau, jangan engkau membunuhnya,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ
وَلَدًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- mudah-mudahan
ia akan bermanfaat bagi kita atau kita
akan menjadikannya anak” sedang mereka tidak menyadari. وَ اَصۡبَحَ
فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا -- Dan kegelisahan
hati ibu Musa hilang menjadi kegembiraan, اِنۡ کَادَتۡ
لَتُبۡدِیۡ بِہٖ لَوۡ لَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ
مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- hampir
saja ia menyingkapkan mengenai anak itu, seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang beriman. (Al-Qashash [28]:8-11).
Demikian pula berimannya para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. kepada beliau di masa awal pun karena peran wahyu Ilahi pula, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”
Mereka berkata: “Kami telah beriman,
dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
(Al-Māidah
[5]:112).
Bukan Nabi Bisa
Menerima Wahyu
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
doa yang diajarkan Allah Swt.
dalam Surah Al-Fatihah yang
mengisyaratkan kepada terbukanya “pintu wahyu Ilahi” bagi manusia,
terutama bagi para pengikut sejati
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71):
“Beberapa ulama bodoh malah sedemikian jauhnya dalam penyangkalan mereka dengan mengatakan bahwa pintu wahyu telah tertutup sama sekali, sehingga tidak
mungkin lagi seorang Muslim
menyempurnakan keimanannya melalui berkat ini.
Jawaban bagi mereka yang berpandangan seperti itu adalah jika memang benar umat Muslim
demikian sialnya, buta dan merupakan kaum yang paling buruk, lalu mengapa mereka disebut Allah Swt. sebagai umat yang terbaik? Sesungguhnya orang
yang berpandangan cupat seperti
itulah yang sebenarnya bodoh dan tolol.
Sebagaimana Allah Swt. telah mengajarkan umat Muslim doa yang diberikan dalam Surah
Al-Fatihah, Dia juga telah mengatur
akan memberikan karunia atas mereka
sebagaimana yang diberikan kepada
para nabi yaitu berkat berupa komunikasi
langsung dengan Tuhan Yang
menjadi Mata sumber dari segala keberkatan. Apakah Allah Yang Maha Agung telah membohongi
kita dengan doa ini?
Apa
manfaatnya suatu umat yang tidak berguna dan telah jatuh, yang bahkan lebih
buruk dari perempuan-perempuan
Israil? Adalah suatu kenyataan bahwa ibunda
Yesus a.s. mau pun Musa a.s.
bukanlah nabi-nabi namun mereka
mendapat karunia berupa wahyu Ilahi.
Bisakah dibayangkan bahwa seorang Muslim yang berjiwa bersih laiknya Ibrahim
a.s. dan demikian patuhnya
kepada Tuhan sehingga telah menanggalkan egonya sama sekali, dimana
ia demikian mengabdi kepada Allah Swt. sehingga fana bagi dirinya sendiri, namun
dikatakan bahwa ia tidak bisa menjadi
penerima wahyu sebagaimana halnya ibunda
Musa? Beranikah kita melekatkan sifat
kekikiran demikian kepada Wujud
Allah Yang Maha Agung?
Tanggapanku bagi orang-orang seperti ini
ialah: “Laknat Allah atas
para pendusta.” Sesungguhnya
ketika orang-orang seperti ini telah
menjadi seperti serangga di muka
bumi, dimana tanda-tanda ke-Islam-an di antara mereka hanya tinggal
dalam bentuk sorban, janggut, khitan dan beberapa pelafazan
ucapan serta pelaksanaan shalat
dan puasa secara formal, karena nyatanya Allah Swt. telah membekukan hati mereka dan menurunkan
ribuan tabir menutup mata mereka,
sehingga mereka telah kehilangan
semua tanda-tanda kehidupan keruhanian.
Mereka inilah yang menyangkal kemungkinan komunikasi
langsung dengan Tuhan padahal penyangkalan mereka itu merupakan penyangkalan kepada Islam. Karena hati mereka sudah mati
maka mereka tidak menyadari kondisi
diri mereka sebenarnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, jld. V,
sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXI, hlm. 310-311,
London, 1984).
Bahaya Faham Keliru “Lā Nabiyya Ba’dahu”
Dari Al-Quran diketahui
bahwa pada hakikatnya kesinambungan terjadinya
pendustaan dan penentangan yang dilakukan kaum-kaum purbakala terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka bersumber pada itikad sesat “lā nabiyya ba’dahu” (tidak ada lagi nabi
sesudahnya), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ
قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ
شَکٍّ مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada
kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti
yang nyata, tetapi kamu selalu dalam
keraguan mengenai apa
yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati kamu
berkata: لَنۡ
یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan per-nah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ -- Demikianlah Allah me-nyesatkan barangsiapa
yang melampaui batas, yang ragu-ragu. Yaitu orang-orang yang ber-tengkar mengenai
Tanda-tanda Allah tanpa dalil
yang datang kepada mereka. Sangat
besar kebencian di sisi Allāh dan di
sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap hati orang
sombong lagi sewe-nang-senang. (Al-Mu’min [40]:35-36).
Sesuai dengan amanat-Nya kepada Bani Adam
a.s. (QS.7:35-37) nabi-nabi Allah telah senantiasa datang
ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran
orang-orang — setiap kali datang seorang nabi
baru, mereka menolak dan menentangnya, dan ketika ia wafat
orang-orang yang beriman kepada nabi Allah Swt. itu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah tidak akan pernah mengutus seorang rasul pun sesudahnya,” bahwa tidak
ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, yakni mereka mengatakan: Lā nabiyya ba’dahu -- “tidak ada lagi nabi sesudahnya” (QS.10:75;
QS.72:8).
Mengapa keberlangsungkan wahyu Ilahi yang bukan
syariat sangat penting bagi suatu
agama -- terutama bagi umat
Islam? Sebab tanpa berlangsungnya wahyu Ilahi pada suatu agama berarti agama
tersebut merupakan agama yang telah mati, sebab keberlangsungan wahyu Ilahi dalam suatu agama bagaikan keberadaan ruh bagi tubuh jasmani.
Sehubungan
dengan pentingnya keberadaan “ruh” Islam (Al-Quran) berupa kesinambungan wahyu Ilahi selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Wahai umat Muslim, berhati-hatilah karena jalan fikiran seperti itu hanyalah ciri
suatu kebodohan dan keawaman. Jika Islam merupakan agama
yang mati, lalu siapakah yang akan kalian ajak
untuk memasukinya? Apakah kalian mau
membawa-bawa mayatnya ke Jepang atau mempersembahkannya kepada Eropa?
Siapa orangnya yang cukup tolol untuk mencintai suatu agama
yang telah mati yang luput dari segala berkat dan keruhanian
seperti halnya agama-agama kuno di
masa lalu? Dalam agama-agama lama itu para perempuannya
saja masih menerima wahyu
sebagaimana halnya ibunda Musa dan Yesus, dimana laki-laki kalian ternyata tidak
setara dengan perempuan-perempuan
tersebut.
Wahai kalian yang bodoh dan buta,
ketahuilah bahwa Nabi Suci Saw., Junjungan dan Penghulu kita, berada jauh
di depan dari semua nabi dalam
segala hal yang berkaitan dengan berkat
keruhanian. Berkat para nabi
terdahulu telah berakhir pada suatu saat tertentu, dimana umat dan agamanya sekarang ini sudah
mati. Tidak ada lagi kehidupan
dalam agama mereka.
Namun berkat dari Hadhrat
Rasulullah Saw. akan berlanjut
terus sampai Hari Kiamat. Karena itu
tidak diperlukan adanya Al-Masih yang dijanjikan datang dari umat lain. Tumbuh dan berkembang di
bawah naungan bayangan Hadhrat
Rasulullah saw. bisa mengubah seorang hamba yang lemah menjadi
seorang Al-Masih sebagaimana yang
telah dilakukan Tuhan atas diriku.” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX,
hlm. 389, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 14 April 2016
[1]
Keempat
Rishi itu adalah yang menyusun keempat kitab Veda, masing-masing diberi nama 1
Rigveda (kebijakan ayat-ayat), Yajurveda (kebijakan pengorbanan), Samaveda
(kebijakan mantra) dan Atharvaveda (kebijakan pendeta Atharva). (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
[2]
Yang
dimaksud adalah Ibn Al-Arabi atau nama lengkapnya Muhyi Ad-din Abdullah Muhammad
Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Al-‘Arabi Al-Hatimi, digelari juga Asy-shaikh
Al-Akbar, lahir 28 Juli 1165, meninggal 16 Nov. 1240. Dianggap sebagai tokoh
tasauf Islam yang paling akbar. Karya monumentalnya adalah al-Futuhat a
l-Makiyah (Wahyu-wahyu Mekah) dan Fusus a l- Hikam (Sudut-sudut
Kebijakan). (Penterjemah’Khalid
A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar