Kamis, 14 April 2016

Tiga Bagian Alam Ciptaan Allah Swt. & Kemampuan Manusia Menerima "Wahyu Ilahi" Merupakan Bagian dari "Fitrat"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Tiga Bagian Alam Ciptaan Allah Swt.  & Kemampuan Manusia Menerima Wahyu Ilahi Merupakan Bagian dari Fitrat

Bab 21


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.     telah menjelaskan  mengenai   pentingnya   kemunculan “orang-orang pilihan” yang memperoleh wahyu Ilahi guna mengeluarkan manusia dari berbagai  macam “kegelapan”  atau kekeliruan  pemikiran dan amal kepada “cahaya”:
       “Tidak ada suatu kaidah apa pun yang dapat menjamin bahwa dengan mengikutinya maka manusia akan mutlak terpelihara dari segala kesalahan. Karena itulah para filosof yang merangkai aturan-aturan logika dan mengemukakan cara-cara diskusi serta membangun argumentasi filosofi, selalu terjerumus dalam kesalahan dan mewariskan kepada manusia ketiadaan pengetahuan mereka tentang suatu pandangan, pendapat filosofi yang salah serta berbagai diskursus (artikel)  kosong. Hal ini menunjukkan adalah tidak mungkin mengungkap kebenaran setiap hal, lalu menentukan akidah yang benar berdasarkan telaah sendiri tanpa melakukan suatu kesalahan.
      Kami belum pernah mengetahui atau mendengar atau pun membaca bahwa ada perorangan di kitab sejarah mana pun yang terbebas dari kesalahan dalam keseluruhan pandangan dan renungannya. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin menemukan seseorang yang melalui penelitian tentang hukum alam dan yang menyelaraskan kesadaran dirinya sejalan dengan kondisi dunia, lalu sanggup membawa penelitiannya ke tingkat kebenaran tertinggi dimana tidak ada lagi kemungkinan munculnya kesalahan.
     Kalau nyatanya manusia tidak mungkin berlepas diri dari kesalahan dengan mengandalkan pengetahuannya sendiri, sedangkan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Yang bersih dari segala kesalahan dan mengetahui kebenaran segala hal, lalu tidak menolong hamba-Nya melalui wahyu, bagaimana mungkin kita ini sebagai makhluk yang lemah dapat keluar dari kungkungan kegelapan kebodohan dan kesalahan, serta bagaimana membebaskan diri dari segala keraguan dan kecurigaan?
       Karena itu, aku dengan sangat yakin menyatakan bahwa kebijakan, kasih dan kecintaan Allah Swt.  dari waktu ke waktu -- bilamana dalam pandangan-Nya sudah tepat saatnya -- akan menciptakan manusia-manusia pilihan yang menjadi penerima wahyu demi penegakan akidah hakiki dan menetapkan akhlak yang benar.
     Kepada manusia-manusia pilihan tersebut dikaruniakan kemampuan menyampaikan ajaran mereka kepada manusia lainnya, sehingga tujuan bahwa umat manusia diciptakan agar mendapat bimbingan yang benar tidak akan kehilangan apa yang menjadi hak mereka.” (Purani Tehrirain; Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  20-21, London, 1984).

Alam  Perwahyuan yang Tersembunyi

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  keunikan alam ciptaan-Nya:
      “Allah Yang Maha Kuasa telah membagi alam-Nya yang menakjubkan ini dalam tiga bagian:
·        Pertama, adalah alam nyata yang bisa diindera oleh mata, telinga dan indera jasmani lainnya atau melalui peralatan lain.
·        Kedua, adalah alam tersembunyi yang hanya bisa dipahami melalui logika dan dugaan.
·        Ketiga, adalah alam yang amat tersembunyi, yang hampir tidak diketahui sehingga hanya sedikit yang menyadarinya.
           Alam yang ketiga ini sama sekali tidak tampak terlihat, tidak bisa dicapai melalui logika dan sepenuhnya merupakan dugaan atau perkiraan. Alam tersebut tidak mungkin diindera melalui cara lain dan hanya dapat diketahui melalui kasyaf, wahyu dan ilham.
     Sebagaimana diketahui, untuk mengetahui alam jenis pertama dan kedua maka Allah Yang Maha Agung telah menganugrahkan berbagai fitrat dan kekuatan kepada manusia. Dengan cara yang sama Dia telah memberikan sarana bagi manusia guna menemukan alam ketiga dalam bentuk wahyu, ilham dan kasyaf yang kapan pun tidak pernah ditangguhkan. Mereka yang mentaati persyaratan untuk menggapainya, sesungguhnya telah menjadi penerima dan akan terus menerimanya.
       Mengingat manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan tanpa batas, sedangkan Allah Swt. itu bebas dari kekurangan dan kekikiran, adalah tidak pantas menganggap bahwa setelah Dia menanamkan dalam diri manusia hasrat mempelajari ketiga jenis alam tersebut lalu Dia tidak memberikan pengetahuan tentang sarana untuk mengetahui alam ketiga. Hal ini mendorong orang-orang bijak untuk meyakini adanya kebutuhan permanen diri manusia akan kasyaf,  dan mereka tidak membatasi turunnya wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Arya.
      Kaum Arya meyakini bahwa hanya ada 4 orang Rishi[1] saja yang mungkin mencapai kesempurnaan untuk itu, dan tidak mungkin ada orang kelima lainnya. Sebaliknya, orang-orang bijaksana yang meyakini akan karunia mutlak dari Allah Swt.  menganggap bahwa pintu ilham selalu dalam keadaan terbuka dan tidak dibatasi bagi suatu negeri atau agama tertentu saja.
       Namun sama halnya dengan berbagai hal lainnya yang mempunyai aturan dan metoda konformitas (penyesuaian/penyelarasan), begitu pula untuk wahyu, ilham dan kasyaf yang hanya bisa  dicapai oleh mereka yang mengikuti jalan lurus yang telah ditetapkan.
     Tidak ada manusia yang menyangkal keajaiban dunia kasyaf. Mereka mengakui bahwa Sang Maha Pemurah, Yang telah menganugrahkan fitrat dan kekuatan kepada manusia untuk meneliti segala hal di alam pertama, tidak akan meluputkan  manusia akan sarana guna mengetahui keadaan di alam ketiga, karena dari sinilah manusia memperoleh hubungan yang benar dan sempurna dengan Allah Yang Maha Agung. Melalui pemahaman hakiki yang pasti maka Nur Samawi akan mewujud di dunia ini.
      Sebagaimana juga dengan metoda untuk kedua alam lainnya, metoda bagi alam ketiga ini pun terbuka bagi orang-orang benar untuk mengikutinya guna mencapai hasil yang diinginkan. Keajaiban alam ketiga itu jumlahnya tidak terbilang dan jika dibandingkan dengan kedua alam lainnya sama seperti membandingkan matahari dengan sebutir biji sawi.
      Jika ada yang menganggap bahwa misteri alam ketiga itu bisa dibuka semata-mata dengan logika, sama seperti yang bersangkutan menutup mata dan menganggap bisa melihat benda-benda kasat mata hanya dengan indera penciuman saja.
      Keajaiban alam ketiga sama sekali membingungkan yang namanya logika. Dalam alam ini bagi mereka yang memiliki pengalaman mendapat kasyaf, mudah baginya meresapi bagaimana terciptanya jiwa atau ruh, sedangkan logika tidak akan mampu menembus realita hal itu.
       Terkadang mereka yang mendapat kemampuan melihat kasyaf bisa melihat seseorang dari jarak ratusan kilometer tanpa terhalang hambatan apa pun. Bahkan dalam beberapa kejadian ketika berada dalam keadaan sadar sepenuhnya, ia juga bisa mendengar suara orang itu, dan ajaibnya yang bersangkutan juga bisa mendengarnya.
      Pada beberapa kejadian dalam keadaan sadar sepenuhnya, ia bisa berjumpa dengan ruh dari orang-orang yang sudah meninggal dunia,  yang biasanya digambarkan sebagai penghuni kuburan. Aku sendiri juga pernah memperoleh pengalaman demikian.  Hal ini sama sekali bertentangan dengan akidah reinkarnasi jiwa sebagaimana yang dianut kaum Hindu.
      Keajaiban terbesar adalah ketika seseorang yang memiliki kemampuan melihat kasyaf, melalui konsentrasi (tawajuh), dengan izin Allah Swt. bisa muncul di hadapan orang lain yang terpisah jarak ratusan kilometer, dalam keadaan sadar tanpa memindahkan tubuhnya sendiri dari tempatnya.
     Logika mengatakan bahwa seseorang dalam satu saat tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda, namun kemustahilan tersebut menjadi hal yang mungkin di alam ketiga. Begitu juga biasanya orang-orang bijak yang telah menyaksikan ratusan keajaiban, merasa heran atas penyangkalan mereka yang  sama sekali menolak konsep keajaiban alam ketiga.
     Aku sendiri telah menyaksikan dengan mata kepalaku keajaiban dan kasyaf-kasyaf yang langka dari alam tersebut kurang lebih sekitar 5000 kali. Dibutuhkan buku tebal untuk mencatat rincian dari pengalaman-pengalaman tersebut. Salah satu aspek luar biasa dari pengalaman demikian ialah mewujudnya beberapa hal yang sebenarnya tidak memiliki eksistensi  (keberadaan) eksternal berkat kekuasaan Ilahi.
      Pengarang  buku Futuhat Wa Fusus[2] dan beberapa sufi akbar lainnya telah mengemukakan pengalaman mereka sendiri dari jenis ini dalam kompilasi buku-buku mereka. Hanya saja karena ada perbedaan yang besar antara mendengar dengan melihat maka aku tidak bisa meyakini sepenuhnya hal tersebut semata-mata dari hanya membaca, dan keyakinan itu baru didapat setelah mengalaminya sendiri.
      Aku teringat bahwa dalam salah satu kasyaf aku merasa telah menuliskan beberapa takdir keputusan Tuhan berkaitan dengan masa depan yang kemudian diajukan kepada Allah Yang Maha Agung untuk ditanda-tangani-Nya. (Patut disimak bahwa sering terjadi dalam kasyaf dan mimpi yang benar bahwa beberapa Sifat-sifat keindahan dan keagungan Ilahi tampak sebagai wujud manusia dan yang bersangkutan membayangkannya sebagai Wujud Allah Swt.       Pengalaman seperti ini merupakan hal biasa bagi mereka yang mendapat karunia memperoleh kasyaf dan merupakan suatu hal yang tidak bisa dibantah).
      Ketika aku mempersembahkan dokumen dimaksud kepada Allah Swt. Yang berwujud sebagai seorang penguasa atau raja, Dia mencelupkan pena-Nya dalam tinta merah lalu menjentikkannya ke arahku, kemudian dengan tinta yang tersisa di ujung pena Dia menanda-tangani dokumen itu.
       Setelah itu kasyaf berakhir dan ketika membuka mata, terlihat beberapa titik tinta merah di pakaianku dimana ada 2 atau 3 titik jatuh di atas kopiah seseorang bernama Abdullah dari Sannaur yang saat itu sedang duduk bersamaku.  Tinta merah yang merupakan bagian dari kasyaf tersebut ternyata mewujud dan terlihat secara eksternal.
     Aku juga pernah melihat beberapa kasyaf lainnya yang mirip tetapi akan terlalu panjang jika diuraikan di sini, namun pengalamanku meneguhkan bahwa sesuatu yang dilihat dalam kasyaf bisa mengambil bentuk eksternal dengan perkenan (kehendak) Allah Swt.. Hal-hal seperti ini tidak bisa diresapi hanya dengan logika saja. Bahkan orang-orang yang membanggakan logikanya, ketika mendengar hal-hal seperti itu akan menyatakan dengan sombongnya bahwa hal tersebut mustahil adanya,  dan menyatakan orang yang mengaku mendapat pengalaman tersebut adalah seorang pembohong atau tidak waras, karena penelitiannya sendiri tidak mampu menembus realitasnya.
     Orang-orang seperti itu tidak memaklumi bahwa hal-hal yang diyakini oleh ribuan orang-orang bertakwa dari pengalaman diri mereka sendiri, sepatutnya tidak diremehkan begitu saja. Di luar keajaiban dunia kasyaf, dalam alam nyata ini logika manusia belum sepenuhnya mampu memahami dunia fikiran dan masih berjuta-juta lagi misteri yang masih tersembunyi dari logika manusia.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm.  175-181, London, 1984).

Kemampuan Manusia Menerima Wahyu

          Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan, bahwa selain melengkapi manusia dengan berbagai kemampuan dan kecerdasan otak, Allah Swt. pun memberikan kemampuan   kepada manusia untuk menerima wahyu Ilahi:
      “Sebagaimana Tuhan telah membekali manusia dengan kemampuan berfikir untuk memahami hal-hal yang mendasar, begitu juga Tuhan telah membekali mereka dengan kemampuan tersembunyi untuk menerima wahyu. Ketika logika manusia sudah sampai di batas kemampuannya maka pada saat itu Allah Yang Maha Perkasa dalam rangka membimbing hamba-hamba-Nya yang hakiki dan saleh ke arah kesempurnaan pemahaman dan kepastian, akan memberikan petunjuk melalui wahyu dan kasyaf
      Tahapan yang tidak mungkin lagi ditembus oleh logika, dapat ditembus melalui sarana wahyu dan kasyaf sehingga para pencari kebenaran akan mencapai kepastian penuh.  Begitu itulah cara-cara Allah dalam membimbing para nabi yang diutus ke dunia yang dengan mengikutinya akan membawa mereka kepada pemahaman yang hakiki dan sempurna.
     Tetapi seorang filosof kering biasanya lebih suka tergesa-gesa mengharapkan bahwa apa pun yang akan dikemukakan haruslah berlandaskan logika. Ia tidak menyadari bahwa logika tidak mungkin memikul beban yang berada di luar batas kemampuannya atau melangkah lebih jauh dari kapasitasnya. Ia tidak menyadari bahwa untuk mencapai tingkat keluhuran yang diinginkan,  Allah Swt. sudah membekali manusia tidak saja kemampuan berfikir tetapi juga kemampuan menerima wahyu.
      Sungguh sial sekali mereka yang hanya mampu memanfaatkan sarana-sarana mendasar dari sekian banyak kemampuan yang telah dikaruniakan kepada manusia guna mengenali Tuhan, dan tetap tidak menyadari adanya kemampuan lain tersebut. Bodoh sekali mensia-siakan kemampuan tersebut karena tidak digunakan atau karena tidak mencari manfaat darinya.
     Seseorang yang tidak memanfaatkan kemampuannya menerima wahyu, malah menyangkal eksistensinya (keberadaannya), tidak dapat dikatakan sebagai seorang filosof tulen, padahal eksistensi kemampuan seperti itu sudah dibenarkan oleh kesaksian ribuan orang-orang bertakwa  dimana orang-orang itu telah memperoleh pemahaman yang sempurna melalui sarana tersebut.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. II, hlm. 87-90, London, 1984).
       Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut didukung oleh  kesaksian Al-Quran mengenai  wahyu Ilahi yang diterima  ibu Nabi Musa a.s. dan para hawari (murid-murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰۤی اُمِّ مُوۡسٰۤی اَنۡ  اَرۡضِعِیۡہِ ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ  فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ  وَ لَا تَخَافِیۡ  وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ  اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ  مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡتَقَطَہٗۤ  اٰلُ فِرۡعَوۡنَ  لِیَکُوۡنَ لَہُمۡ عَدُوًّا وَّ حَزَنًا ؕ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ  وَ ہَامٰنَ  وَ جُنُوۡدَہُمَا  کَانُوۡا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾   وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ  نَتَّخِذَہٗ   وَلَدًا  وَّ  ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَصۡبَحَ فُؤَادُ  اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا ؕ اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  wahyukan kepada ibu Musa supaya   dia menyusuinya:  فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ  فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ  وَ لَا تَخَافِیۡ  وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ  اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ  مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ  -- “Lalu apabila engkau takut mengenai  dia maka letakkanlah dia di sungai, dan janganlah engkau takut dan jangan pula engkau bersedih,  sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepada engkau, dan Kami akan menjadikannya salah seorang dari   orang-orang yang diutus.”   Lalu  seorang dari keluarga Fir’aun memungut dia, supaya aki-batnya menjadi musuh dan  kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman serta lasykar-lasykar keduanya itu adalah orang-orang yang bersalah. وَ قَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَیۡنٍ لِّیۡ وَ لَکَ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡہُ  --   Dan   seorang perempuan  dari keluarga Fir’aun berkata: “Anak ini akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagi engkau, jangan engkau membunuhnya, عَسٰۤی اَنۡ  یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ  نَتَّخِذَہٗ   وَلَدًا  وَّ  ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- mudah-mudahan ia akan bermanfaat bagi kita atau kita akan menjadikannya anak” sedang  mereka tidak menyadari. وَ اَصۡبَحَ فُؤَادُ  اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا --   Dan kegelisahan hati ibu Musa hilang  menjadi kegembiraan, اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- hampir saja ia menyingkapkan mengenai anak itu,  seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang beriman. (Al-Qashash [28]:8-11).
Demikian pula berimannya para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   kepada beliau  di masa awal pun karena peran wahyu Ilahi  pula, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Māidah [5]:112).
    
Bukan Nabi Bisa Menerima Wahyu

        Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan  doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah yang mengisyaratkan kepada  terbukanyapintu wahyu Ilahi” bagi manusia,  terutama bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71):
      “Beberapa ulama bodoh malah sedemikian jauhnya dalam penyangkalan mereka dengan mengatakan bahwa pintu wahyu telah tertutup sama sekali,  sehingga tidak mungkin lagi seorang Muslim menyempurnakan keimanannya melalui berkat ini.
       Jawaban bagi mereka yang berpandangan seperti itu adalah jika memang benar umat Muslim demikian sialnya, buta dan merupakan kaum yang paling buruk, lalu mengapa mereka disebut Allah Swt. sebagai umat yang terbaik? Sesungguhnya orang yang berpandangan cupat seperti itulah yang sebenarnya bodoh dan tolol.
      Sebagaimana Allah Swt. telah mengajarkan umat Muslim   doa yang diberikan dalam Surah Al-Fatihah, Dia juga telah mengatur akan memberikan karunia atas mereka sebagaimana yang diberikan kepada para nabi yaitu berkat berupa komunikasi langsung dengan Tuhan Yang menjadi Mata sumber dari segala keberkatan. Apakah Allah Yang Maha Agung telah membohongi kita dengan doa ini?
     Apa manfaatnya suatu umat yang tidak berguna dan telah jatuh, yang bahkan lebih buruk dari perempuan-perempuan Israil? Adalah suatu kenyataan bahwa ibunda Yesus a.s. mau pun Musa a.s. bukanlah nabi-nabi namun mereka mendapat karunia berupa wahyu Ilahi.
      Bisakah dibayangkan bahwa seorang Muslim yang berjiwa bersih laiknya Ibrahim a.s. dan demikian patuhnya kepada Tuhan sehingga telah menanggalkan egonya sama sekali, dimana ia demikian mengabdi kepada Allah Swt. sehingga fana bagi dirinya sendiri, namun dikatakan bahwa ia tidak bisa menjadi penerima wahyu sebagaimana halnya ibunda Musa? Beranikah kita melekatkan sifat kekikiran demikian kepada Wujud Allah Yang Maha Agung?
     Tanggapanku bagi orang-orang seperti ini ialah: “Laknat Allah atas para pendusta.” Sesungguhnya ketika orang-orang seperti ini telah menjadi seperti serangga di muka bumi, dimana tanda-tanda ke-Islam-an di antara mereka hanya tinggal dalam bentuk sorban, janggut, khitan dan beberapa pelafazan ucapan serta pelaksanaan shalat dan puasa secara formal, karena nyatanya Allah Swt. telah membekukan hati mereka dan menurunkan ribuan tabir menutup mata mereka,  sehingga mereka telah kehilangan semua tanda-tanda kehidupan keruhanian.
      Mereka inilah yang menyangkal kemungkinan komunikasi langsung dengan Tuhan padahal penyangkalan mereka itu merupakan penyangkalan kepada Islam. Karena hati mereka sudah mati maka mereka tidak menyadari kondisi diri mereka sebenarnya.” (Brahin-i- Ahmadiyah, jld. V,  sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm.  310-311, London, 1984).

Bahaya Faham Keliru “Lā Nabiyya Ba’dahu

       Dari Al-Quran diketahui bahwa  pada  hakikatnya kesinambungan terjadinya pendustaan dan penentangan yang dilakukan kaum-kaum purbakala terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka bersumber pada itikad sesat lā nabiyya ba’dahu” (tidak ada lagi nabi sesudahnya), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan  mengenai  apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan per-nah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ   -- Demikianlah Allah me-nyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-raguYaitu orang-orang yang ber-tengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allāh dan di sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewe-nang-senang. (Al-Mu’min [40]:35-36).
     Sesuai dengan amanat-Nya kepada Bani Adam a.s.  (QS.7:35-37) nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya, dan  ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi Allah Swt. itu berkata:  لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا  -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya,”       bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, yakni mereka  mengatakan: Lā nabiyya ba’dahu   --   “tidak ada lagi nabi sesudahnya” (QS.10:75; QS.72:8).
  Mengapa keberlangsungkan wahyu Ilahi yang bukan syariat  sangat penting bagi suatu agama  -- terutama bagi  umat Islam? Sebab  tanpa berlangsungnya wahyu Ilahi pada suatu agama  berarti agama tersebut merupakan agama yang telah mati, sebab keberlangsungan wahyu Ilahi dalam suatu agama bagaikan keberadaan ruh bagi tubuh jasmani.
Sehubungan dengan  pentingnya keberadaan “ruh” Islam (Al-Quran)   berupa kesinambungan wahyu Ilahi   selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Wahai umat Muslim, berhati-hatilah karena jalan fikiran seperti itu hanyalah ciri suatu kebodohan dan keawaman. Jika Islam merupakan agama yang mati, lalu siapakah yang akan kalian ajak untuk memasukinya? Apakah kalian mau membawa-bawa mayatnya ke Jepang atau mempersembahkannya kepada Eropa?
      Siapa orangnya yang cukup tolol untuk mencintai suatu agama yang telah mati yang luput dari segala berkat dan keruhanian seperti halnya agama-agama kuno di masa lalu?  Dalam agama-agama lama itu para perempuannya saja masih menerima wahyu sebagaimana halnya ibunda Musa dan Yesus, dimana laki-laki kalian   ternyata tidak setara dengan perempuan-perempuan tersebut.
      Wahai kalian yang bodoh dan buta, ketahuilah bahwa Nabi Suci Saw., Junjungan dan Penghulu kita, berada jauh di depan dari semua nabi dalam segala hal yang berkaitan dengan berkat keruhanian. Berkat para nabi terdahulu telah berakhir pada suatu saat tertentu, dimana umat dan agamanya sekarang ini sudah mati. Tidak ada lagi kehidupan dalam agama mereka.
      Namun berkat dari Hadhrat Rasulullah Saw. akan berlanjut terus sampai Hari Kiamat. Karena itu tidak diperlukan adanya Al-Masih yang dijanjikan datang dari umat lain. Tumbuh dan berkembang di bawah naungan bayangan Hadhrat Rasulullah saw. bisa mengubah seorang hamba yang lemah menjadi seorang Al-Masih sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan atas diriku.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  389, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 April    2016



[1] Keempat Rishi itu adalah yang menyusun keempat kitab Veda, masing-masing diberi nama 1 Rigveda (kebijakan ayat-ayat), Yajurveda (kebijakan pengorbanan), Samaveda (kebijakan mantra) dan Atharvaveda (kebijakan pendeta Atharva). (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

[2] Yang dimaksud adalah Ibn Al-Arabi atau nama lengkapnya Muhyi Ad-din Abdullah Muhammad Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Al-‘Arabi Al-Hatimi, digelari juga Asy-shaikh Al-Akbar, lahir 28 Juli 1165, meninggal 16 Nov. 1240. Dianggap sebagai tokoh tasauf Islam yang paling akbar. Karya monumentalnya adalah al-Futuhat a l-Makiyah (Wahyu-wahyu Mekah) dan Fusus a l- Hikam (Sudut-sudut Kebijakan). (Penterjemah’Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar