Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Realitas Wahyu
Syaitan dan Karakteristik (Ciri-ciri) Wahyu
Ilahi &Pengalaman Yesus a.s. dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani Berkenaan Wahyu
Syaitan
Bab 30
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai tiga syarat yang harus dipenuhi
bagi para penerima wahyu Ilahi yang
benar:
“Persyaratan
ketiga dari seorang penerima
wahyu yang benar adalah kata-kata yang diungkapkannya sebagai datang dari Tuhan tersebut memang
ditunjang oleh tindakan-tindakan Tuhan.
Dengan kata lain, harus cukup banyak
tanda-tanda yang menopang ungkapan
itu, sehingga setiap orang waras akan berpendapat bahwa ungkapan itu benar berasal
dari Allah Swt.
Persyaratan
ini lebih tinggi di atas persyaratan lainnya dan merupakan persyaratan yang demikian sempurna sehingga tidak ada yang mampu menyangkalnya. Keadaan demikian itulah
yang membantu para nabi
Allah dalam mengatasi umat yang membantah.
Jika seseorang mengaku bahwa firman Tuhan
telah turun ke atas dirinya dan ratusan
tanda-tanda telah muncul
bersamaan dengan itu serta ribuan macam
bantuan dan pertolongan Ilahi
telah diperlihatkan -- dimana Tuhan
telah menyerang para musuhnya secara terbuka -- siapa lagi yang akan bisa mengatakan bahwa orang tersebut palsu adanya?
Mereka yang menikmati kesempatan komunikasi
dengan Tuhan serta mendapat tugas untuk memanggil manusia kepada bimbingan
Ilahi, akan memperoleh dukungan
berupa tanda-tanda Ilahi yang turun laiknya hujan, sedangkan dunia tidak akan mampu membendung
mereka. Tindakan-tindakan Tuhan yang
mengikutinya menjadi bukti kesaksian
bahwa ucapan-ucapan yang mereka
kemukakan sebagai wahyu memang benar
adalah firman Tuhan.
Kalau saja mereka yang mengakukan dirinya sebagai penerima wahyu-wahyu mau memperhatikan persyaratan ini dalam hatinya, tentunya mereka bisa terhindar dari terjerumus dalam kesalahan.” (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.
536-538, London, 1984).
Realitas Wahyu
Syaitan
Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan mengenai keberadaan “wahyu
syaitan” sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ
تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ تَنَزَّلُ
عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ یُّلۡقُوۡنَ
السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿ؕ وَ
الشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ اَلَمۡ تَرَ
اَنَّہُمۡ فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَ اَنَّہُمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ مُنۡقَلَبٍ
یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu
kepada siapa syaitan-syaitan itu
turun? Mereka
turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa. Mereka mengarahkan
telinga ke langit dan kebanyakan
mereka pendusta. Dan penyair-penyair
itu yang mengikuti mereka adalah
orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari
tanpa tujuan di dalam setiap lembah,
dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang
tidak mereka lakukan, kecuali orang-orang
yang beriman, dan beramal saleh serta banyak-banyak
mengingat Allah, dan mereka membela diri setelah mereka dizalimi.
Dan orang-orang zalim itu segera
akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syū’arā [26]:222-228).
Sehubungan dengan keberadaan wahyu
syaitan tersebut Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Wahyu
syaitan merupakan suatu fakta (kenyataan) yang dialami
oleh beberapa pencari kebenaran yang
tidak sempurna. Disamping itu juga
terdapat yang namanya sugesti diri
yang dapat diartikan sebagai mimpi
atau ru’ya yang rancu. Ia yang membantah
eksistensi (keberadaan) hal ini
sebenarnya juga telah membantah Al-Quran
yang membenarkan adanya wahyu syaitan.
Allah Swt. menyatakan bahwa sepanjang proses pensucian nurani seseorang belum selesai dan belum mencapai kesempurnaan maka ia bisa saja menjadi penerima
wahyu syaitan dan masuk dalam klasifikasi
yang dikemukakan ayat:
تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ
اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ
“Mereka
turun kepada tiap-tiap orang berdosa yang pendusta”
(Al-Syu’arā [26]:223).
Adapun mereka yang berhati suci selalu diingatkan
terhadap pendekatan yang mungkin dilakukan oleh syaitan. Sayang sekali para pendeta Kristen sudah demikian jauh
melenceng dalam pandangan mereka yang menganggap bahwa ketika syaitan membawa Yesus a.s. ke sebuah bukit, digambarkan bahwa hal tersebut bukan suatu kejadian eksternal (nyata) yang bisa disaksikan orang banyak serta umat
Yahudi, disamping pernyataan yang mengatakan bahwa Yesus sampai tiga kali menerima wahyu syaitan yang tidak diakui beliau.
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
& Godaan Syaitan
Gemetar tubuhku mendengar pernyataan bahwa
sosok Yesus a.s. (yang demikian
suci) masih dimungkinkan menerima wahyu
syaitan. Tidak ada fikiran syaitan
yang mungkin bisa menguasai sebuah kalbu yang suci. Jika ada fikiran
yang menjurus ke arah sana otomatis akan tersingkir dan nurani mereka
tidak akan pernah ternoda jadinya.
Dalam Al-Quran fikiran seperti itu
disebut sebagai taif. Fikiran demikian sangat sedikit kaitannya dengan kalbu dan lebih mirip bayang-bayang dari sebuah pohon yang berada di kejauhan.
Bisa jadi syaitan berusaha menciptakan keraguan
di hati Yesus a.s. dalam bentuk
tersebut dan beliau menangkisnya
segera dengan kekuatan kenabian.
Kami meyakini bahwa dengan kekuatan kenabian tersebut serta Nur kebenaran yang beliau miliki, Yesus tidak akan membiarkan fikiran syaitan mendekati dirinya dan
pasti langsung akan ditolaknya.
Sebagaimana kegelapan tidak bisa
melawan terang maka syaitan pun tidak sanggup melawan beliau dan karena itu langsung melarikan diri. Hal inilah yang
dimaksud dalam ayat:
اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ
عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ
“Sesungguhnya
engkau tidak akan mempunyai sesuatu kekuasaan atas hamba-hamba-Ku” (Al-Hijr [15]:43).
Syaitan
hanya mempunyai kekuasaan di atas
mereka yang memang menganut pandangan
dan menerima wahyu-wahyu syaitan.
Mereka yang menembakkan anak panah Nur
ke arah syaitan dan melukainya dari kejauhan serta tidak mematuhinya dalam hal apa pun
yang diperintahkan olehnya, dengan
sendirinya berada di luar kekuasaan
syaitan.
Hanya saja Tuhan juga kadang berkeinginan
memperlihatkan kerajaan-Nya di langit
dan di bumi dimana syaitan merupakan bagian dari kerajaan bumi.
Agar hamba-hamba-Nya bisa melengkapi
observasi (penyelidikan) mereka
tentang fungsi penciptaan Tuhan,
perlu juga bagi mereka untuk mengenali
wajah makhluk ajaib ini serta mendengar
suaranya. Adapun jubah transendental
dan kesucian mereka tidak akan ternoda karenanya.
Syaitan
secara licik sejalan dengan cara-caranya sejak awal mula, mungkin
telah mencoba memberikan iming-iming kepada Yesus a.s. yang ditolak langsung oleh nurani beliau yang suci. Hal ini bukan merupakan suatu aib bagi Yesus, karena mungkin saja orang-orang jahat bisa berbicara
di hadapan raja-raja. Dengan cara
sama syaitan telah mencoba memasukkan
kata-katanya secara keruhanian
ke dalam kalbu Yesus namun beliau
segera menolaknya. Hal ini merupakan suatu hal yang patut dipuji.
Sayid Abdul Qadir Jailani Menolak Tipu-daya
Syaitan
Tidak semua orang saleh atau pun Sufi
bisa menolak sugesti syaitan serta menelanjangi kebusukannya sebagaimana
yang telah dilakukan oleh Yesus a.s.
dengan cemeti nur beliau. Sayid Abdul Qadir Jailani menyatakan
bahwa suatu ketika ia menerima sebuah wahyu
syaitan dimana dikatakan: “Abdul
Qadir, ibadah engkau telah diterima
dan sekarang ini semua hal yang tadinya diharamkan bagi orang lain
telah dihalalkan bagi engkau dan
engkau dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat.’ Sayid Abdul Qadir
mengatakan: ‘Pergi engkau syaitan! Bagaimana mungkin dihalalkan bagiku apa yang diharamkan bagi Rasulullah Saw.?”
Syaitan
kemudian menghilang bersama tahta
emasnya. Jika seorang hamba Allah
dan pribadi unik seperti Sayid Abdul Qadir bisa menerima wahyu syaitan, bagaimana lagi orang awam yang belum selesai dalam pencaharian
mereka dapat mengelak darinya?
Mereka belum lagi memiliki mata Nur
untuk mengenali wahyu syaitan
sebagaimana halnya dengan Sayid Abdul
Qadir dan Yesus a.s..
Para juru
nujum yang banyak sekali terdapat di Arab
sebelum kedatangan Hadhrat Rasulullah
Saw. banyak menerima wahyu-wahyu
syaitan dan berdasarkan itu mereka lalu membuat ramalan yang terkadang memang menjadi kenyataan.
Literatur Islam banyak dipenuhi dengan
cerita-cerita seperti ini. Mereka yang menyangkal kemungkinan adanya wahyu syaitan, sesungguhnya menentang ajaran dari Hadhrat Rasulullah Saw. sendiri dan menyangkal keseluruhan sistem kenabian.
Kitab Injil
ada mengemukakan sebuah kisah dimana pada suatu ketika ada 400 orang nabi-nabi yang telah menerima wahyu syaitan yang merupakan hasil
karya dari seorang jinn putih dimana berdasarkan wahyu tersebut mereka meramalkan kemenangan bagi sang raja, namun nyatanya raja itu kemudian mati secara hina di
medan laga dan mengalami kekalahan
dahsyat.
Seorang nabi[1] yang menerima wahyu melalui malaikat Jibrail telah menubuatkan
bahwa raja itu akan terbunuh dan
mengalami kekalahan besar dimana
jasadnya pun akan dimakan oleh
anjing-anjing. Nubuatan nabi benar inilah yang menjadi kenyataan dan kedustaan dari 400 nabi lainnya telah diperlihatkan.
Secara wajar akan muncul
pertanyaan: Kalau wahyu syaitan merupakan suatu hal yang umum maka semua wahyu
jadinya meragukan, apalagi jika
sosok suci seperti Yesus a.s. saja
bisa mengalaminya. Dengan demikian
yang namanya wahyu malah menjadi
suatu cobaan besar. Jawaban atas hal
itu ialah kalian tidak perlu berkecil
hati. Sudah menjadi bagian dari norma
Ilahi bahwa segala sesuatu yang
berharga biasanya selalu diikuti hal-hal
lainnya yang palsu.
Karakteristik Wahyu
hakiki
Mutiara
yang murni dihasilkan oleh lautan, tetapi ada juga mutiara palsu yang dibuat manusia. Perdagangan mutiara
murni tidak lantas harus dihentikan hanya karena adanya mutiara palsu. Seorang jauhari (ahli permata) yang dikaruniai keahlian oleh Allah Swt. akan segera dapat mengetahui mana mutiara palsu dan mana yang asli.
Imam
zaman ini adalah seorang jauhari
tentang permata-permata wahyu.
Barangsiapa yang akrab dengan wujudnya akan juga bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Wahai para Sufi,
berhati-hatilah karena wahyu hakiki dari
Allah Swt. memiliki beberapa
karakteristik sebagai berikut:
a. Wahyu
tersebut diterima pada saat si penerimanya
yang karena sedang kesakitan dalam
mencari kebenaran lalu hatinya meleleh ke arah Allah Swt. laiknya air yang jernih. Hal ini diindikasikan dalam Hadits yang menyatakan
bahwa Al-Quran diwahyukan secara berat (khusyuk) dan harus dipelajari
dengan hati yang berat (khusyuk)
juga.
b. Wahyu
hakiki selalu diikuti perasaan
menyenangkan dan berisi kepastian
tentang suatu hal yang diragukan
serta menembus ke lubuk hati laiknya sebuah paku besi. Kata-kata wahyu tersebut bersifat fasih dan bebas dari segala kesalahan.
c. Wahyu
hakiki mengandung keagungan dan menyentuh kalbu secara dahsyat dan turun ke dalamnya dengan suara yang amat berwibawa. Wahyu palsu
biasanya turun dalam nada suara rendah
seperti suara para pencuri, kasim (orang yang dikebiri) dan perempuan karena sebenarnya syaitan itu bersifat seperti pencuri, kasim dan betina.
d. Wahyu
hakiki menyiratkan kekuasaan Allah
Yang Maha Agung dan berisi nubuatan-nubuatan
yang akan dipenuhi.
e. Wahyu
hakiki meningkatkan kadar kesalehan
seseorang dan akan membersihkan
kekotoran yang masih tersisa serta memperbaiki
kondisi akhlak yang bersangkutan.
f. Wahyu
hakiki dirasakan benar oleh
semua daya kekuatan internal si
penerima dan wahyu itu akan
menyiarkan Nur baru yang murni ke segenap anggota tubuhnya dan ia akan merasakan
adanya perubahan pada dirinya. Kehidupan sebelumnya terasa menjadi berakhir dan mulailah baginya suatu kehidupan baru dimana ia menjadi sumber simpati bagi seluruh umat manusia.
g. Wahyu hakiki tidak akan selesai dalam satu kalimat saja karena suara
Tuhan berkelanjutan. Dia itu amat
lembut dan selalu berbicara
kepada hamba yang dikasihi-Nya serta
menjawab segala pertanyaannya. Seorang penerima
wahyu hakiki akan menerima jawaban
atas permohonannya satu per satu
menurut tempat atau waktu, walaupun terkadang terdapat jeda di antara rangkaian dua wahyu.
h. Seorang penerima wahyu hakiki tidak mungkin seorang pengecut yang takut terhadap hujatan
orang karena dianggap telah mengada-ada.
Ia meyakini bahwa Tuhan akan selalu beserta dirinya dan akan mempermalukan
si pendusta.
i. Wahyu
hakiki merupakan sarana untuk
memperoleh suatu pengetahuan dan pemahaman karena Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya
tetap dalam keadaan bodoh atau awam.
j. Wahyu
hakiki selalu diikuti dengan berbagai berkat
lainnya. Seorang penerima wahyu hakiki
akan dikaruniai kemuliaan dan derajat tinggi dari Wujud Yang tersembunyi. (Zaruratul
Imam, Ziaul Islam Press, Qadian, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm.
483-490, London, 1984).
Cara Mengundang “Berbincang” Dengan Allah Swt.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan cara agar
Allah Swt. berkenan “berkomunikasi”
dengan hamba-Nya yang hakiki:
“Aku dahulu pernah muda dan sekarang ini sudah tua,
tetapi sejak awal aku bersaksi atas
kenyataan bahwa Tuhan Yang selalu tersembunyi, nyatanya memanifestasikan (menampakkan) Diri-Nya melalui Islam.
Jika seseorang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh
hati dan selalu memperbaiki dirinya selaras
dengan ajarannya serta mengikuti hidup sebagai pelayan agama, mengabdikan diri sepenuhnya pada jalan Allah dan mengasihi
Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad Saw., dan ia bebas
dari perasaan ingin menonjolkan diri,
takabur atau pun keangkuhan, tidak mencari kemuliaan diri dan hanya mencari kemuliaan dan keagungan Ilahi, merendahkan
dirinya serata debu demi perintah-Nya, maka hasil dari semua itu ialah Yang Maha Kuasa akan mulai berbicara kepada yang bersangkutan
dalam bahasa Arab yang fasih.
Perkataan
Ilahi terasa amat menyejukkan
dan amat mulia. Wahyu demikian bukanlah hasil
fikiran seseorang, karena yang
seperti ini biasanya turun dalam nada
suara yang rendah seperti suara seorang kasim atau orang yang sakit.
Firman Tuhan selalu penuh keagungan dan sebagian besar dalam bahasa Arab dan seringkali dalam bentuk
ayat-ayat dari Al-Quran.
Dari pengalamanku
dapat diungkapkan bahwa wahyu itu
pada awalnya datang menghantam kalbu
secara dahsyat dimana timbul sebuah gema, yang kemudian merebak seperti sebuah bunga dan diikuti serangkaian kalimat yang suci
dan menyejukkan hati. Wahyu tersebut mengandung penjelasan akan
hal-hal tersembunyi yang dikemukakan secara agung dan menembus kalbu
laiknya sebuah paku besi namun harum dengan wewangian Ilahi.
Karakteristik
seperti ini melekat pada wahyu hakiki karena selalu ada saja orang berperangai buruk yang menerima wahyu syaitan atau terkecoh oleh hasil
fikirannya sendiri. Allah Yang Maha
Agung selalu menyertakan Nur yang
cemerlang mengikuti wahyu yang diturunkan-Nya guna membedakannya dari wahyu bentuk lain.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 314-315, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 25 April 2016
[1] Kisah ini berkaitan dengan raja Ahab dari Israil yang bersama-sama
dengan Yosafat ra ja Yehuda merencanakan akan menyerbu tanah Ramot Gilead dari
bangsa Aram. Adapun Nabi benar yang menubuatkan kekalahan rajanya adalah Mikha
bin Yimla dimana yang bersangkutan kemudian dipenjara karena menyampaikan hal
yang bertentangan dengan ramalan para nabi lainnya. Riwayat ini terdapat dalam
Perjanjian Lama, 1 Raja-raja 22:1-38. (Penterjemah/ Khalid. A. Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar