Selasa, 26 April 2016

Realitas "Wahyu Syaitan" dan Karakteristik (Ciri-ciri) "Wahyu Ilahi" & Pengalaman Yesus a.s. dan Syeikh Abdul-Qadir al-Jailani Berkenaan "Wahyu Syaitan"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Realitas Wahyu Syaitan  dan   Karakteristik (Ciri-ciri)    Wahyu Ilahi   &Pengalaman Yesus a.s. dan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani  Berkenaan Wahyu Syaitan

Bab 30


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan    mengenai  tiga  syarat yang harus dipenuhi bagi para penerima wahyu Ilahi yang benar:
“Persyaratan ketiga dari seorang penerima wahyu yang benar adalah kata-kata yang diungkapkannya sebagai datang dari Tuhan tersebut memang ditunjang oleh tindakan-tindakan Tuhan. Dengan kata lain, harus cukup banyak tanda-tanda yang menopang ungkapan itu, sehingga setiap orang waras akan berpendapat bahwa ungkapan itu benar berasal dari Allah Swt.
  Persyaratan ini lebih tinggi di atas persyaratan lainnya dan merupakan persyaratan yang demikian sempurna sehingga tidak ada yang mampu menyangkalnya. Keadaan demikian itulah yang membantu para   nabi Allah dalam mengatasi umat yang membantah.
       Jika seseorang mengaku bahwa firman Tuhan telah turun ke atas dirinya dan ratusan tanda-tanda telah muncul bersamaan dengan itu serta ribuan macam bantuan dan pertolongan Ilahi telah diperlihatkan -- dimana Tuhan telah menyerang para musuhnya secara terbuka --  siapa lagi yang akan bisa mengatakan bahwa orang tersebut palsu adanya?
   Mereka yang menikmati kesempatan komunikasi dengan Tuhan serta mendapat tugas untuk memanggil manusia kepada bimbingan Ilahi, akan memperoleh dukungan berupa tanda-tanda Ilahi yang turun laiknya hujan,  sedangkan dunia tidak akan mampu membendung mereka. Tindakan-tindakan Tuhan yang mengikutinya menjadi bukti kesaksian bahwa ucapan-ucapan yang mereka kemukakan sebagai wahyu memang benar adalah firman Tuhan.
     Kalau saja mereka yang mengakukan dirinya sebagai penerima wahyu-wahyu mau memperhatikan persyaratan ini dalam hatinya, tentunya mereka bisa terhindar dari terjerumus dalam kesalahan.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm. 536-538, London, 1984).

Realitas Wahyu Syaitan

    Selanjutnya   Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai keberadaan “wahyu syaitan” sebagaimana  dikemukakan  dalam firman-Nya berikut ini:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ   تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ  یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿ؕ  وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ  اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ  وَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ  اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ  کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ  مُنۡقَلَبٍ  یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu   kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?   Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa.   Mereka mengarahkan  telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta.   Dan penyair-penyair itu yang  mengikuti mereka adalah orang yang sesat.   Tidakkah engkau melihat  bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari  tanpa tujuan di dalam setiap lembah,    dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang  tidak mereka  lakukan,  kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh  serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka   membela diri setelah mereka dizalimi. Dan orang-orang zalim itu segera akan  mengetahui  ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syū’arā [26]:222-228).
      Sehubungan dengan   keberadaan wahyu syaitan tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Wahyu syaitan merupakan suatu fakta (kenyataan) yang dialami oleh beberapa pencari kebenaran yang tidak sempurna. Disamping itu juga terdapat yang namanya sugesti diri yang dapat diartikan sebagai mimpi atau ru’ya yang rancu. Ia yang membantah eksistensi (keberadaan) hal ini sebenarnya juga telah membantah Al-Quran yang membenarkan adanya wahyu syaitan.
   Allah Swt. menyatakan bahwa sepanjang proses pensucian nurani seseorang belum selesai dan belum mencapai kesempurnaan maka ia bisa saja menjadi penerima wahyu syaitan dan masuk dalam klasifikasi yang dikemukakan ayat:
تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ
 “Mereka turun kepada tiap-tiap orang berdosa yang pendusta” (Al-Syu’arā  [26]:223).
     Adapun mereka yang berhati suci selalu diingatkan terhadap pendekatan yang mungkin dilakukan oleh syaitan.  Sayang sekali para pendeta Kristen sudah demikian jauh melenceng dalam pandangan mereka yang menganggap bahwa ketika syaitan membawa Yesus a.s. ke sebuah bukit, digambarkan bahwa hal tersebut bukan suatu kejadian eksternal (nyata) yang bisa disaksikan orang banyak serta umat Yahudi, disamping pernyataan yang mengatakan bahwa Yesus  sampai tiga kali menerima wahyu syaitan yang tidak diakui beliau.

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Godaan Syaitan

     Gemetar tubuhku mendengar pernyataan bahwa sosok Yesus a.s. (yang demikian suci) masih dimungkinkan menerima wahyu syaitan. Tidak ada fikiran syaitan yang mungkin bisa menguasai sebuah kalbu yang suci. Jika ada fikiran yang menjurus ke arah sana  otomatis akan tersingkir dan nurani mereka tidak akan pernah ternoda jadinya. Dalam Al-Quran fikiran seperti itu disebut sebagai taif. Fikiran demikian sangat sedikit kaitannya dengan kalbu dan lebih mirip bayang-bayang dari sebuah pohon yang berada di kejauhan.
      Bisa jadi syaitan berusaha menciptakan keraguan di hati Yesus a.s. dalam bentuk tersebut dan beliau menangkisnya segera dengan kekuatan kenabian. Kami meyakini bahwa dengan kekuatan kenabian tersebut serta Nur kebenaran yang beliau miliki, Yesus tidak akan membiarkan fikiran syaitan mendekati dirinya dan pasti langsung akan ditolaknya. Sebagaimana kegelapan tidak bisa melawan terang maka syaitan pun tidak sanggup melawan beliau dan karena itu langsung melarikan diri. Hal inilah yang dimaksud dalam ayat:
اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ  
“Sesungguhnya engkau tidak akan mempunyai sesuatu kekuasaan atas hamba-hamba-Ku” (Al-Hijr [15]:43).
     Syaitan hanya mempunyai kekuasaan di atas mereka yang memang menganut pandangan dan menerima wahyu-wahyu syaitan. Mereka yang menembakkan anak panah Nur ke arah syaitan dan melukainya dari kejauhan serta tidak mematuhinya dalam hal apa pun yang diperintahkan olehnya, dengan sendirinya berada di luar kekuasaan syaitan.
     Hanya saja Tuhan juga kadang berkeinginan memperlihatkan kerajaan-Nya di langit dan di bumi dimana syaitan merupakan bagian dari kerajaan bumi. Agar hamba-hamba-Nya bisa melengkapi observasi (penyelidikan) mereka tentang fungsi penciptaan Tuhan, perlu juga bagi mereka untuk mengenali wajah makhluk ajaib ini serta mendengar suaranya. Adapun jubah transendental dan kesucian mereka tidak akan ternoda karenanya.
     Syaitan secara licik sejalan dengan cara-caranya sejak awal mula, mungkin telah mencoba memberikan iming-iming kepada Yesus a.s. yang ditolak langsung oleh nurani beliau yang suci. Hal ini bukan merupakan suatu aib bagi Yesus,  karena mungkin saja orang-orang jahat bisa berbicara di hadapan raja-raja. Dengan cara sama  syaitan telah mencoba memasukkan kata-katanya secara keruhanian ke dalam kalbu Yesus namun beliau segera  menolaknya. Hal ini merupakan suatu hal yang patut dipuji.

Sayid Abdul Qadir Jailani  Menolak Tipu-daya Syaitan

    Tidak semua orang saleh atau pun Sufi bisa menolak sugesti syaitan serta menelanjangi kebusukannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yesus a.s. dengan cemeti nur beliau. Sayid Abdul Qadir Jailani menyatakan bahwa suatu ketika ia menerima sebuah wahyu syaitan dimana dikatakan: “Abdul Qadir,  ibadah engkau telah diterima dan sekarang ini semua hal yang tadinya diharamkan bagi orang lain telah dihalalkan bagi engkau dan engkau dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat.’ Sayid Abdul Qadir mengatakan: ‘Pergi engkau syaitan! Bagaimana mungkin dihalalkan bagiku apa yang diharamkan bagi Rasulullah Saw.?”
    Syaitan kemudian menghilang bersama tahta emasnya. Jika seorang hamba Allah dan pribadi unik seperti Sayid Abdul Qadir bisa menerima wahyu syaitan, bagaimana lagi orang awam yang belum selesai dalam pencaharian mereka dapat mengelak darinya? Mereka belum lagi memiliki mata Nur untuk mengenali wahyu syaitan sebagaimana halnya dengan Sayid Abdul Qadir dan Yesus a.s..
   Para juru nujum yang banyak sekali terdapat di Arab sebelum kedatangan Hadhrat Rasulullah Saw. banyak menerima wahyu-wahyu syaitan dan berdasarkan itu mereka lalu membuat ramalan yang terkadang memang menjadi kenyataan.
   Literatur Islam banyak dipenuhi dengan cerita-cerita seperti ini. Mereka yang menyangkal kemungkinan adanya wahyu syaitan, sesungguhnya menentang ajaran dari Hadhrat Rasulullah Saw. sendiri dan menyangkal keseluruhan sistem kenabian.
     Kitab Injil ada mengemukakan sebuah kisah dimana pada suatu ketika ada 400 orang nabi-nabi yang telah menerima wahyu syaitan yang merupakan hasil karya dari seorang jinn putih dimana berdasarkan wahyu tersebut mereka meramalkan kemenangan bagi sang raja, namun nyatanya raja itu kemudian mati secara hina di medan laga dan mengalami kekalahan dahsyat.
  Seorang nabi[1] yang menerima wahyu melalui malaikat Jibrail telah menubuatkan bahwa raja itu akan terbunuh dan mengalami kekalahan besar dimana jasadnya pun akan dimakan oleh anjing-anjing.   Nubuatan nabi benar inilah yang menjadi kenyataan dan kedustaan dari 400 nabi lainnya telah diperlihatkan.
     Secara wajar akan muncul pertanyaan:  Kalau wahyu syaitan merupakan suatu hal yang umum maka semua wahyu jadinya meragukan, apalagi jika sosok suci seperti Yesus a.s. saja bisa mengalaminya. Dengan demikian yang namanya wahyu malah menjadi suatu cobaan besar. Jawaban atas hal itu ialah kalian tidak perlu berkecil hati. Sudah menjadi bagian dari norma Ilahi bahwa segala sesuatu yang berharga biasanya selalu diikuti hal-hal lainnya yang palsu.

Karakteristik Wahyu hakiki

    Mutiara yang murni dihasilkan oleh lautan, tetapi ada juga mutiara palsu yang dibuat manusia. Perdagangan mutiara murni tidak lantas harus dihentikan hanya karena adanya mutiara palsu. Seorang jauhari (ahli permata) yang dikaruniai keahlian oleh Allah Swt. akan segera dapat mengetahui mana mutiara palsu dan mana yang asli.
     Imam zaman ini adalah seorang jauhari tentang permata-permata wahyu. Barangsiapa yang akrab dengan wujudnya akan juga bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Wahai para Sufi, berhati-hatilah karena wahyu hakiki dari Allah Swt. memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
     a. Wahyu tersebut diterima pada saat si penerimanya yang karena sedang kesakitan dalam mencari kebenaran lalu hatinya meleleh ke arah Allah Swt. laiknya air yang jernih. Hal ini diindikasikan dalam Hadits yang menyatakan bahwa Al-Quran diwahyukan secara berat (khusyuk) dan harus dipelajari dengan hati yang berat (khusyuk) juga.
      b. Wahyu hakiki selalu diikuti perasaan menyenangkan dan berisi kepastian tentang suatu hal yang diragukan serta menembus ke lubuk hati laiknya sebuah paku besi. Kata-kata wahyu tersebut bersifat fasih dan bebas dari segala kesalahan.
   c. Wahyu hakiki mengandung keagungan dan menyentuh kalbu secara dahsyat dan turun ke dalamnya dengan suara yang amat berwibawa. Wahyu palsu biasanya turun dalam nada suara rendah seperti suara para pencuri, kasim (orang yang dikebiri) dan perempuan karena sebenarnya syaitan itu bersifat seperti pencuri, kasim dan betina.
      d. Wahyu hakiki menyiratkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung dan berisi nubuatan-nubuatan yang akan dipenuhi.
  e. Wahyu hakiki meningkatkan kadar kesalehan seseorang dan akan membersihkan kekotoran yang masih tersisa serta memperbaiki kondisi akhlak yang bersangkutan.
    f. Wahyu hakiki dirasakan benar oleh semua daya kekuatan internal si penerima dan wahyu itu akan menyiarkan Nur baru yang murni ke segenap anggota tubuhnya dan ia akan merasakan adanya perubahan pada dirinya. Kehidupan sebelumnya terasa menjadi berakhir dan mulailah baginya suatu kehidupan baru dimana ia menjadi sumber simpati bagi seluruh umat manusia.
      g. Wahyu hakiki tidak akan selesai dalam satu kalimat saja karena suara Tuhan berkelanjutan. Dia itu amat lembut dan selalu berbicara kepada hamba yang dikasihi-Nya serta menjawab segala pertanyaannya. Seorang penerima wahyu hakiki akan menerima jawaban atas permohonannya satu per satu menurut tempat atau waktu, walaupun terkadang terdapat jeda di antara rangkaian dua wahyu.
      h. Seorang penerima wahyu hakiki tidak mungkin seorang pengecut yang takut terhadap hujatan orang karena dianggap telah mengada-ada. Ia meyakini bahwa Tuhan akan selalu beserta dirinya dan akan mempermalukan si pendusta.
      i. Wahyu hakiki merupakan sarana untuk memperoleh suatu pengetahuan dan pemahaman karena Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya tetap dalam keadaan bodoh atau awam.
    j. Wahyu hakiki selalu diikuti dengan berbagai berkat lainnya. Seorang penerima wahyu hakiki akan dikaruniai kemuliaan dan derajat tinggi dari Wujud Yang tersembunyi. (Zaruratul Imam, Ziaul Islam Press, Qadian, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 483-490, London, 1984).

Cara Mengundang  “Berbincang” Dengan Allah Swt.

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan cara  agar  Allah Swt. berkenan “berkomunikasi” dengan hamba-Nya yang hakiki:
     “Aku dahulu pernah muda dan sekarang ini sudah tua, tetapi sejak awal aku bersaksi atas kenyataan bahwa Tuhan Yang selalu tersembunyi, nyatanya memanifestasikan (menampakkan) Diri-Nya melalui Islam.
  Jika seseorang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh hati dan selalu memperbaiki dirinya selaras dengan ajarannya serta mengikuti hidup sebagai pelayan agama, mengabdikan diri sepenuhnya pada jalan Allah dan mengasihi Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad Saw.,  dan ia bebas dari perasaan ingin menonjolkan diri, takabur atau pun keangkuhan, tidak mencari kemuliaan diri dan hanya mencari kemuliaan dan keagungan Ilahi, merendahkan dirinya serata debu demi perintah-Nya, maka hasil dari  semua itu ialah Yang Maha Kuasa akan mulai berbicara kepada yang bersangkutan dalam bahasa Arab yang fasih.
       Perkataan Ilahi terasa amat menyejukkan dan amat mulia. Wahyu demikian bukanlah hasil fikiran seseorang,  karena yang seperti ini biasanya turun dalam nada suara yang rendah seperti suara seorang kasim atau orang yang sakit. Firman Tuhan selalu penuh keagungan dan sebagian besar dalam bahasa Arab dan seringkali dalam bentuk ayat-ayat dari Al-Quran.
   Dari pengalamanku dapat diungkapkan bahwa wahyu itu pada awalnya datang menghantam kalbu secara dahsyat dimana timbul sebuah gema,  yang kemudian merebak seperti sebuah bunga dan diikuti serangkaian kalimat yang suci dan menyejukkan hati. Wahyu tersebut mengandung penjelasan akan hal-hal tersembunyi yang dikemukakan secara agung dan menembus kalbu laiknya sebuah paku besi namun harum dengan wewangian Ilahi.
    Karakteristik seperti ini melekat pada wahyu hakiki karena selalu ada saja orang berperangai buruk yang menerima wahyu syaitan atau terkecoh oleh hasil fikirannya sendiri. Allah Yang Maha Agung selalu menyertakan Nur yang cemerlang mengikuti wahyu yang diturunkan-Nya guna membedakannya dari wahyu bentuk lain.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  314-315, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 25 April    2016






[1] Kisah ini berkaitan dengan raja Ahab dari Israil yang bersama-sama dengan Yosafat ra ja Yehuda merencanakan akan menyerbu tanah Ramot Gilead dari bangsa Aram. Adapun Nabi benar yang menubuatkan kekalahan rajanya adalah Mikha bin Yimla dimana yang bersangkutan kemudian dipenjara karena menyampaikan hal yang bertentangan dengan ramalan para nabi lainnya. Riwayat ini terdapat dalam Perjanjian Lama, 1 Raja-raja 22:1-38. (Penterjemah/ Khalid. A. Qoyum)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar