Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Tiga “Teman” Logika
yang Membawa Kepada Keyakinan yang Menentramkan Hati: Pengalaman, Sejarah, dan Wahyu Ilahi
Bab 32
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai peran wahyu Ilahi sebagai
sahabat baik bagi logika
yang menolongnya dari ketersesatan:
“Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika
ditemani oleh wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus dan menopangnya ketika tergelincir?
Apakah sahabat seperti itu akan
menjadi hambatan ataukah sebaliknya
sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan menganggap
seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.
Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada kalian
bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan
wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang
ke segala arah yang salah.
Bahkan dengan wahyu itu maka akal
manusia menemukan tujuan hakiki
eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan pencaharian
sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak akan ada orang yang
lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu, yang telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang sedang dicari tersebut, apalagi dengan
mengatakan bahwa si penolong
tersebut hanya menghambat pencaharian saja.
Sebaliknya, mereka yang terlibat akan sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan mereka sendiri dan disediakan
petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga mereka tidak
lagi hanya menduga-duga saja.
Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras
oleh Allah Swt. akan berterima kasih
dan memuji wahyu hakiki. Mereka
inilah yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu.
Wahyu
memberikan pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, yang melaluinya maka manusia terpelihara
dari segala kesulitan yang
diakibatkan oleh singkatnya umur
manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah,
Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
307-309, London, 1984).
Peran Wahyu Ilahi Sebagai “Pelita Penerang”
Sejalan
dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut, Allah Swt. berfirman mengenai peran wahyu Ilahi dalam menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk “kegelapan” (kesesatan dan kebodohan) akibat kelemahan logika, firman-Nya:
اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی
الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, dan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thāghūt, yang mengeluarkan
mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:258).
Allah Swt. berfirman
lagi:
اَوَ
مَنۡ کَانَ مَیۡتًا
فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ
نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ
کَمَنۡ مَّثَلُہٗ
فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ
مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ
زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ
کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ
اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah orang
yang telah mati lalu Kami
menghidupkannya dan Kami menjadikan
baginya cahaya dan ia
berjalan dengan cahaya itu di tengah-tengah manusia, sama seperti keadaan orang yang berada di dalam berbagai macam
kegelapan dan ia sekali-kali
tidak dapat keluar darinya?
Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang
kafir apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Dan demikianlah Kami menjadikan
di dalam tiap negeri pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang terkena makar
mereka kecuali dirinya sendiri
tetapi mereka tidak menyadarinya. (Al-An’ām [6]:123-124).
Dalam ayat-ayat terdahulu (QS.6:117-122) telah
diterangkan bahwa hukum-hukum rekaan
manusia selamanya ada kekurangannya.
Dalam ayat sekarang (123) disebutkan bahwa ajaran-ajaran yang direka
manusia tidak dapat melawan ajaran-ajaran
Allah Swt. yang diturunkan melalui wahyu
Ilahi kepada rasul Allah pembawa
syariat.
Adapun mereka yang merancang undang-undang dengan pertolongan
akal manusia sendiri, sama halnya seperti orang yang meraba-raba dalam gelap dan tidak dapat keluar dari sana, sebab Allah Swt. telah menciptakan segala
sesuatu “berpasangan”, dan pasangan
hakiki bagi logika (akal) adalah wahyu Ilahi, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ
﴿﴾
Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik
dari apa yang ditum-buhkan oleh bumi
dan dari diri mereka sendiri, mau pun
dari apa yang tidak mereka ketahui. (Yā Sīn [36]:37).
Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan
bahwa pasangan-pasangan terdapat
dalam segala sesuatu — dalam alam nabati,
dan malahan dalam zat anorganik.
Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, karena
unsur-unsur
itu pun bergantung pada zat-zat lain
untuk dapat mengambil wujud.
Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan
manusia. Sebelum nur-nur samawi –
berupa wahyu Ilahi -- turun, manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia.
Fungsi Logika dan
Kelemahannya & Peran Wahyu
Ilahi
Sehubungan dengan fungsi logika selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Memang benar sesungguhnya logika merupakan obor penerangan yang diberikan Tuhan
kepada manusia, agar mereka dibawa kepada kebenaran dan memeliharanya dari segala keraguan dan kecurigaan serta mengesampingkan berbagai pola fikiran yang tidak berdasar
dan dugaan-dugaan yang salah.
Kemampuan logika merupakan suatu hal yang amat berguna, amat diperlukan
dan merupakan suatu karunia akbar.
Hanya saja meski pun memiliki kemampuan
yang demikian hebat, tetap saja logika memiliki kelemahan dimana ia dengan sendirinya
saja tidak akan bisa memberikan kepastian
sepenuhnya dalam pemahaman realitas
dari segala hal.
Tingkat tertinggi dari kepastian
hakiki ialah ketika manusia bisa
menyadari bahwa realitas suatu benda
memang sesuai dengan faktanya. Dengan logika saja tidak mungkin dicapai tingkat kepastian yang demikian tinggi, karena logika hanya membuktikan
bahwa sesuatu itu sewajarnya (seharusnya) eksis (ada), namun tidak membuktikan bahwa hal itu secara faktual memang eksis.
Tingkat kepastian pengetahuan seseorang seharusnya mampu bergerak dari
tingkat ‘seharusnya ada’ kepada tingkatan ‘memang benar ada’
dan hal ini hanya bisa dicapai jika logika
ditemani sesuatu yang setelah meyakini penampilannya lalu mengkonversinya (mengubahnya) menjadi
suatu fakta.
Logika
hanya menetapkan perlunya ada sesuatu namun tidak dapat memastikan eksistensinya
(keberadaannya). Karena itulah logika
memerlukan teman yang menjadi suplemen (pelengkap) guna membuktikan apakah ‘seharusnya
ada’ dari logika dengan afirmative (mengesahkan/menguatkan) bahwa ‘memang
benar ada’ disamping informasi
tentang fakta sebagaimana adanya.
Allah
Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang menginginkan manusia
bisa mencapai tingkat kepastian yang
tertinggi dan Dia memenuhi kebutuhan untuk itu dengan cara
memberikan beberapa teman bagi logika. Dengan cara demikian maka arah kepada kepastian hakiki menjadi
terbuka agar kalbu manusia yang keselamatannya tergantung pada kepastian tersebut tidak kehilangan haknya,
sehingga nurani manusia bisa
segera menyeberang melalui “jembatan berbahaya” yang bernama ‘seharusnya
ada’ yang melintas di atas “sungai”
keraguan dan kecurigaan, memasuki istana
akbar dari ‘memang benar ada’ yang merupakan maqam (martabat) kedamaian
dan kepuasan hati.
Tiga “Teman” Logika:
(1) Pengalaman. (2) Sejarah, (3) Wahyu Ilahi
Teman-teman logika -- yang juga menjadi penolong
tersebut -- berfungsi menurut saatnya
yang tepat dan jumlahnya hanya ada tiga. Dalam hal logika sedang mencerna
sesuatu yang bisa dirasa atau diperhatikan, seperti sesuatu yang dilihat, didengar, dicium atau diraba, maka teman logika
yang akan memberikan kepastian
adalah ‘pengalaman.’
Jika logika
sedang mempertimbangkan sesuatu yang
terjadi di tempat dan saat yang berbeda, maka teman logika
dalam hal ini adalah ‘sejarah’ dalam bentuk surat
kabar, surat, buku atau catatan. Sejarah berikut pengalaman akan mencerahkan
kekelaman logika seseorang, sehingga
penyangkalan akan hal itu
selanjutnya dianggap sebagai kebodohan atau ketidak-warasan.
Bila kinerja logika berkaitan dengan hal-hal yang bersifat metaphisika -- yang tidak bisa dilihat
dengan mata, didengar melalui
telinga, disentuh dengan tangan
serta tidak bisa ditanya melalui
sejarah -- maka teman yang bisa
membantu logika hanyalah wahyu.
Hukum
alam menetapkan bahwa sebagaimana cacat
kekurangan logika pada dua keadaan sebelumnya diatasi dengan kedua teman tersebut, maka harus juga ada teman dari logika yang menemaninya pada keadaan kategori ketiga. Dalam hukum
alam tidak ada diskriminasi dan
selalu berlaku umum.
Jika nyatanya Tuhan tidak ingin membiarkan
manusia dalam keadaan cacat mengenai pengetahuan keduniaan, yang sebenarnya tidak banyak merugikan dirinya, maka
jelas Dia juga tidak akan mengabaikan
manusia berkaitan dengan pemahaman berbagai hal dimana kondisi keselamatan ruhaninya akan sangat
bergantung, karena bisa membawa kebinasaan abadi atas dirinya.
Tanpa bantuan
Ilahi maka pengetahuan manusia
tentang alam akhirat
yang akan datang semata-mata hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan ia tidak memiliki sarana apa pun yang bisa dimanfaatkan
untuk memberi kepastian serta kepuasan batin.
Kebutuhan logika yang memerlukan kepastian
tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada melainkan suatu hal yang nyata. Bilamana disadari bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi bahwa manusia hanya bisa
memperoleh kepastian hakiki melalui wahyu dan ia memang membutuhkannya untuk keselamatan ruhaninya, karena tanpa kepastian hakiki tidak mungkin menjaga keimanan seseorang, jelas kiranya jika
manusia memang benar-benar membutuhkan
wahyu Ilahi.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld, I, hlm. 78-80, London, 1984).
Keakuratan Informasi
Berdasarkan Pengalaman Sendiri
Keakuratan Informasi yang diperoleh
dari nara-sumber
yang mengalaminya sendiri lebih pasti mengenai kebenarannya
daripada informasi yang diperoleh dari
nara-sumber yang mengetahuinya dari pemberitahuan sumber lainnya. Sehubungan dengan hal
tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Konsep-konsep pemikiran tidak saja mempunyai kekurangan
dari segi kepastian -- disamping
juga tidak mampu memahami rincian detil
dari hal-hal yang berkaitan dengan Samawi
-- namun yang pokok adalah karena diskursus (artikel/paparan) yang
didasarkan pada logika semata tidak efektif dalam mempengaruhi kalbu manusia.
Suatu diskursus
(artikel/paparan) bisa mempengaruhi
nurani manusia jika kebenaran
yang dikemukakannya memang sepenuhnya diterima
hati manusia tanpa ada ruang
bagi keraguan sekecil apa pun karena
tiadanya kemungkinan kesalahan.
Kami telah mengungkapkan bagaimana logika saja tidak mungkin memberikan kepastian yang sempurna. Jadi jelas kiranya bahwa pengaruh yang dihasilkan
oleh suatu kepastian yang sempurna
tidak mungkin diharapkan semata-mata
dari logika saja dan semua itu dibuktikan oleh pengalaman sehari-hari.
Sebagai contoh, ketika
seseorang kembali ke rumahnya
setelah bepergian ke suatu negeri yang jauh, semua kenalannya
tentu ingin tahu bagaimana keadaan negeri tersebut. Mereka itu menerima
dengan baik penuturan yang
bersangkutan sepanjang ia itu
termasuk orang yang dihargai dan jujur serta tidak dicurigai sebagai pendusta.
Mengapa kata-katanya diterima dengan baik? Terutama adalah karena yang bersangkutan dianggap sebagai seorang yang benar dan mereka meyakini
bahwa apa pun yang diceritakannya
tentang negeri yang jauh
tersebut memang telah disaksikannya
dengan mata kepala sendiri.
Dengan demikian maka penuturan yang bersangkutan akan mempengaruhi kalbu para pendengarnya dan pernyataan yang dikeluarkannya dianggap sebagai pengalaman mereka sendiri pula.
Terkadang jika ia menceritakan suatu
keadaan menyedihkan maka para pemirsanya ikut meneteskan air mata seolah-olah menyaksikan sendiri kejadiannya.
Lalu kalau ada seseorang yang belum pernah keluar dari batas keempat dinding rumahnya apalagi pernah melanglang ke negeri
lain, tidak pula pernah mendengar keadaan atau lingkungan
suatu negeri, kemudian ia berbicara menuturkan keadaan dan lingkungan suatu negeri semata-mata hanya berdasarkan khayalannya saja, jelas pembicaraannya
tidak akan mempunyai efek apa pun
kepada para pendengarnya.
Yang pasti
adalah mereka akan menganggapnya
sebagai seorang yang kurang waras, karena mengutarakan
sesuatu yang berada diluar penelaahan,
pengalaman serta pengetahuan dirinya. Keadaannya mirip
dengan cerita tentang seorang bodoh
yang menyatakan keunggulan roti dari
tepung yang murni, ketika ada yang bertanya apakah ia pernah menyantapnya, ia
menjawab belum pernah tetapi kakeknya dulu pernah suatu waktu melihat orang lain menyantapnya.
Kecuali dalam pandangan para pemirsa atau pendengarnya bahwa yang bersangkutan
sepenuhnya memahami apa yang diutarakannya
(diceritakannya), maka diskursus
(artikel/paparan) yang bersangkutan tidak akan membuahkan hasil sama sekali dalam kalbu mereka, bahkan ia hanya akan menjadi bulan-bulanan ejekan orang.
Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa diskursus orang-orang bijak
yang bersifat sekuler (keduniawian)
tentang keadaan di alam akhirat tidak pernah menarik
minat orang. Para pendengarnya tetap saja berfikir bahwa selama si
pembicara mengungkapkannya berdasar dugaan semata, mereka juga bisa membantah dengan dugaan mereka sendiri mengingat kedua fihak belum ada yang pernah menyaksikan
realitasnya.
Ini juga yang menjadi penyebab mengapa ketika beberapa orang bijak duniawi (filsuf) menyatakan dirinya menyokong eksistensi (keberadaan)
Tuhan maka orang bijak lainnya menentang mereka dan malah menulis buku-buku yang menyokong atheisme.
Kenyataannya pemikiran mereka yang menyatakan dirinya sampai suatu tingkat tertentu sebagai penyokong eksistensi Tuhan, sebenarnya belum sama sekali bersih dari konsep pemikiran atheistik.
Kepicikan Pandangan Kaum
Brahmo Samaj Mengenai Wahyu Ilahi
Perhatikan saja misalnya kaum Brahmo. Mereka tidak
meyakini bahwa Tuhan memiliki Sifat-sifat yang sempurna. Mereka tidak percaya bahwa Dia memiliki Sifat berbicara sebagai
mana halnya makhluk hidup. Mereka tidak meyakini Wujud-Nya sebagai Maha Pengendali dan Maha Pemelihara. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Hidup dan Maha Penjaga serta Dia itu berbicara kepada hati-hati
yang bertakwa. Mereka menganggap-Nya
sebagai sosok yang fiktif dan
merupakan hasil imajinasi khayalan
manusia. Tidak ada yang pernah mendengar
suara-Nya. Nyatanya Dia itu
bukan Tuhan, tetapi hanya sebuah berhala yang terletak di sebuah sudut.
Aku tidak
habis mengerti bagaimana kaum
ini bisa menerima konsep pemikiran
yang kekanak-kanakan tersebut dan
apa yang menjadi hasil dari pemikiran fiktif seperti itu? Mengapa
mereka tidak berusaha mencari
sebagai seorang pencari kebenaran adanya
Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha
Hidup serta menegaskan
eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) Sendiri
dan menghidupkan yang mati dengan
ucapan: “Aku-lah Allah.”
Ketika mereka menyadari bahwa terangnya logika
tertutup kabut, mengapa mereka tidak
mencari pencerahan yang sempurna?
Mereka mengakui kalau mereka itu
sedang sakit, tetapi tidak mau
mencari obatnya. Sayang sekali
mereka itu tidak mau membuka mata
mereka untuk melihat kebenaran.
Kenapa tutup telinga mereka tidak dibuang
agar mereka bisa mendengar suara Ilahi?
Mengapa hati mereka begitu berbelit dan mengapa pemahaman mereka begitu rancu sehingga kelemahan diri mereka itu malah dilontarkan kepada para pengikut wahyu yang hakiki?
Kaum Brahmo Samaj juga mempunyai ilusi
lain, bahwa yang namanya wahyu
merupakan suatu pembatasan, dan karena mereka itu terbebas dari segala kekangan,
maka mereka itu sebenarnya lebih baik
sebagaimana seorang bebas lebih baik
daripada seorang tawanan.
Kemerdekaan Hakiki Melalui Wahyu
Ilahi
Kita terima kritik ini dan mengakui bahwa wahyu
merupakan kekangan, namun suatu kekangan yang tanpanya tak mungkin mencapai kemerdekaan hakiki. Yang dimaksud
dengan kemerdekaan hakiki adalah
keadaan dimana seseorang terbebas
dari segala bentuk kesalahan, keraguan dan kecurigaan guna mencapai tingkat
kepastian yang sempurna,
sehingga yang bersangkutan bisa menyaksikan
Tuhan-nya bahkan di dunia ini
juga.
Kemerdekaan
hakiki demikian diperoleh di
dunia ini juga oleh para Muslim yang
takut kepada Tuhan mereka melalui tuntunan Kitab Suci Al-Quran yang tidak tersedia kepada umat lainnya, termasuk kaum Brahmo atau pun yang lainnya.
Keberatan
lain yang dikemukakan kaum Brahmo Samaj
ialah bahwa mematuhi suatu wahyu sama saja dengan menentang hukum alam, karena pandangan yang jernih dan terang
tentang suatu realitas hanya mungkin
dicapai melalui logika.
Sebagai contoh, tindak pencurian itu secara logika dianggap sebagai suatu yang tidak pantas dan tidak diizinkan secara sosial,
dan bukan karena dianggap sebagai dosa oleh kitab-kitab yang diwahyukan.
Arsenik tidak boleh ditelan karena merupakan racun yang mematikan, dan bukan karena dilarang
oleh wahyu Ilahi. Karena itu mereka bersikeras menyatakan bahwa logika itulah yang mengungkapkan realitas hakiki dan bukannya wahyu.
Mereka tidak menyadari fakta bahwa argumentasi
mereka menjadi mentah dengan
sendirinya ketika dibuktikan bahwa
yang namanya logika itu tidak sempurna dan tidak bisa diandalkan, apalagi jika
masalahnya tidak diperkuat oleh pengulangan kejadian.
Memang benar bahwa sampai suatu tingkat tertentu, realitas segala hal diungkapkan
melalui argumentasi yang berdasar logika, namun logika saja tidak bisa
melengkapi sampai ke tingkat
kepastian tertinggi.
Contoh-contoh yang mereka kemukakan
justru menafikan (menolak) pandangan mereka. Sifat mematikan dari arsenik tidak semata-mata berdasarkan logika itu semata, karena kepastian
fitratnya tersebut baru akan jelas sepenuhnya setelah eksprimen memperlihatkan sifat-sifat
tersembunyi dari arsenik. Hal
inilah yang ingin kami tegaskan, bahwa untuk mencari kepastian tentang sifat
mematikan dari arsenik maka logika harus diikuti salah satu temannya yaitu upaya eksprimen yang
sejalan.
Kepastian Mengenai Kebenaran
Hal-hal yang Bersifat Gaib
Begitu juga untuk menentukan kepastian dari hal-hal yang bersifat Samawi serta realitas
kehidupan manusia setelah kematian
maka logika memerlukan bantuan dari wahyu Ilahi, karena tanpa
itu maka logika tidak akan mungkin
mendapatkan kepastian hakiki dalam
segala hal yang berkaitan dengan keimanan.
Berkaitan dengan hal-hal lainnya pun, akal saja tanpa dibantu sarana lain
menjadi tidak berdaya, tidak sempurna dan tidak akan lengkap. Menurut batasan kemampuannya sendiri maka akal saja tidak akan mampu menentukan sesuatu secara pasti.
Akal
atau logika harus selalu ditemani yang lainnya agar terlepas dari kemungkinan kesalahan, apalagi dalam hal-hal yang
berkaitan dengan Samawi, dimana realitasnya tersembunyi di belakang tabir yang berlapis, sedangkan contohnya
tidak ada di dunia ini. Dalam hal
ini logika yang tidak sempurna tidak bisa menuntun
manusia kepada pemahaman hakiki,
apalagi menghindari segala
kemungkinan kesalahan.
Kesulitan
yang kami temui berkenaan dengan hal-hal
yang terkait dengan dunia yang tidak terlihat (dunia gaib) serta keterpesonaan yang dijumpai ketika
membayangkan keadaan dari dunia yang tidak terlihat dan tersembunyi
tersebut, memaksa kami harus mengakui bahwa untuk bisa
memahami sepenuhnya dunia tersebut serta meyakininya secara pasti, kita ini memerlukan lebih banyak ahli
sejarah, tawarikh dan orang-orang yang berpengalaman dibanding untuk meneliti
dunia nyata yang ada sekarang ini.
Ahli
sejarah atau tawarikh dari dunia tersembunyi tersebut tidak lain
adalah firman Tuhan karena tanpanya maka yang namanya kepastian tidak akan pernah ditemui. Dalam keadaan seperti itu tidak akan ada orang waras yang akan mengabaikan wahyu dan mengandalkan dirinya semata-mata kepada
logika saja yang nyatanya memang tidak sempurna tersebut. Keselamatan ruhaninya dalam hal ini
amat bergantung kepada wahyu,
karena hanya dengan wahyu
saja bisa dihindarkan upaya menduga-duga.
Wahyu
yang menemani argumentasi yang berasaskan
akal akan memberikan kepada kita informasi tentang fakta-fakta dari dunia
berikut (akhirat) tersebut, sebagaimana
seorang ahli sejarah memberikan penuturan tentang suatu pandangan mata [yang terjadi di
masa lalu]” (Barāhin-i-Ahmadiyyah,
Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 327-335, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 29 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar