Jumat, 29 April 2016

Tiga "Teman" Logika (Akal) yang Membawa Kepada "Keyainan" yang Menentramkan Hati: Pengalaman, Sejarah dan Wahyu Ilahi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Tiga “Teman” Logika yang Membawa Kepada Keyakinan yang Menentramkan Hati: Pengalaman, Sejarah, dan Wahyu Ilahi

Bab 32


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan  sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai  peran wahyu Ilahi  sebagai  sahabat baik  bagi logika yang menolongnya dari ketersesatan:
     “Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika ditemani oleh wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus dan menopangnya ketika tergelincir? Apakah sahabat seperti itu akan menjadi hambatan ataukah sebaliknya sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan menganggap seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.
       Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada kalian bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang ke segala arah yang salah.
      Bahkan dengan wahyu itu maka akal manusia menemukan tujuan hakiki eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan pencaharian sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak akan ada orang yang lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu, yang telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang sedang dicari tersebut, apalagi dengan mengatakan bahwa si penolong tersebut hanya menghambat pencaharian saja.
    Sebaliknya, mereka yang terlibat akan sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan mereka sendiri dan disediakan petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga mereka tidak lagi hanya menduga-duga saja.
     Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras oleh Allah Swt. akan berterima kasih dan memuji wahyu hakiki. Mereka inilah yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu.
     Wahyu memberikan pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, yang melaluinya maka manusia terpelihara dari segala kesulitan yang diakibatkan oleh singkatnya umur manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  307-309, London, 1984).

Peran Wahyu Ilahi  Sebagai “Pelita Penerang

    Sejalan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s.  tersebut, Allah Swt. berfirman mengenai peran wahyu Ilahi dalam menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk “kegelapan” (kesesatan dan kebodohan) akibat kelemahan logika, firman-Nya:
اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Allah adalah Pelindung orang-orang beriman,  Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, dan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thāghūt,  yang   mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, mereka itu  penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:258).
Allah Swt. berfirman  lagi:
اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ  اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah  orang yang telah mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami menjadikan baginya cahaya dan ia berjalan dengan cahaya itu  di tengah-tengah manusia, sama  seperti keadaan  orang yang berada di dalam berbagai macam kegelapan  dan ia  sekali-kali tidak  dapat keluar darinya?  Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang kafir apa yang senantiasa mereka kerjakan.  Dan demikianlah Kami  menjadikan di dalam tiap negeri pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang terkena makar mereka kecuali dirinya sendiri tetapi mereka tidak menyadarinya. (Al-An’ām [6]:123-124).
   Dalam ayat-ayat terdahulu (QS.6:117-122) telah diterangkan bahwa hukum-hukum rekaan manusia selamanya ada kekurangannya.  Dalam ayat sekarang  (123) disebutkan bahwa ajaran-ajaran yang direka manusia tidak dapat melawan ajaran-ajaran Allah Swt. yang diturunkan melalui wahyu Ilahi kepada rasul Allah pembawa syariat.
    Adapun mereka yang merancang undang-undang dengan pertolongan akal manusia sendiri, sama halnya seperti orang yang meraba-raba dalam gelap dan tidak dapat keluar dari sana, sebab     Allah Swt. telah menciptakan segala sesuatu “berpasangan”, dan pasangan  hakiki  bagi logika  (akal) adalah wahyu Ilahi, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditum-buhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui.  (Yā Sīn [36]:37).
   Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati, dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, karena  unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud. Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan manusia. Sebelum nur-nur samawi – berupa wahyu Ilahi   -- turun, manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia.

Fungsi Logika dan Kelemahannya &  Peran Wahyu Ilahi

     Sehubungan dengan fungsi logika  selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan:
  “Memang benar sesungguhnya logika merupakan obor penerangan yang diberikan Tuhan kepada manusia,  agar mereka dibawa kepada kebenaran dan memeliharanya dari segala keraguan dan kecurigaan serta mengesampingkan berbagai pola fikiran yang tidak berdasar dan dugaan-dugaan yang salah.
     Kemampuan logika merupakan suatu hal yang amat berguna, amat diperlukan dan merupakan suatu karunia akbar. Hanya saja meski pun memiliki kemampuan yang demikian hebat, tetap saja logika memiliki kelemahan dimana ia dengan sendirinya saja tidak akan bisa memberikan kepastian sepenuhnya dalam pemahaman realitas dari segala hal.
     Tingkat tertinggi dari kepastian hakiki ialah ketika manusia bisa menyadari bahwa realitas suatu benda memang sesuai dengan faktanya. Dengan logika saja tidak mungkin dicapai tingkat kepastian yang demikian tinggi, karena logika hanya membuktikan bahwa sesuatu itu sewajarnya  (seharusnya) eksis (ada),  namun tidak membuktikan bahwa hal itu secara faktual memang eksis.
     Tingkat kepastian pengetahuan seseorang seharusnya mampu bergerak dari tingkat ‘seharusnya ada’ kepada tingkatan ‘memang benar ada’ dan hal ini hanya bisa dicapai jika logika ditemani sesuatu yang setelah meyakini penampilannya lalu mengkonversinya (mengubahnya) menjadi suatu fakta.
   Logika hanya menetapkan perlunya ada sesuatu namun tidak dapat memastikan eksistensinya (keberadaannya). Karena itulah logika memerlukan teman yang menjadi suplemen (pelengkap) guna membuktikan apakah ‘seharusnya ada’ dari logika dengan afirmative  (mengesahkan/menguatkan) bahwa ‘memang benar ada’ disamping informasi tentang fakta sebagaimana adanya.
    Allah Yang Maha Pemurah  dan Maha Penyayang menginginkan manusia bisa mencapai tingkat kepastian yang tertinggi dan Dia memenuhi kebutuhan untuk itu dengan cara memberikan beberapa teman bagi logika. Dengan cara demikian maka arah kepada kepastian hakiki menjadi terbuka agar kalbu manusia yang keselamatannya tergantung pada kepastian tersebut tidak kehilangan haknya,  sehingga nurani manusia bisa segera menyeberang melalui “jembatan berbahaya” yang bernama ‘seharusnya ada’ yang melintas di atas “sungaikeraguan dan kecurigaan, memasuki istana akbar dari ‘memang benar ada’ yang merupakan maqam (martabat) kedamaian dan kepuasan hati.

Tiga “Teman” Logika: (1) Pengalaman. (2) Sejarah, (3) Wahyu Ilahi

    Teman-teman logika -- yang juga menjadi penolong tersebut -- berfungsi menurut saatnya yang tepat dan jumlahnya hanya ada tiga. Dalam hal logika sedang mencerna sesuatu yang bisa dirasa atau diperhatikan,  seperti sesuatu yang dilihat, didengar, dicium atau diraba, maka teman logika yang akan memberikan kepastian adalah ‘pengalaman.’
     Jika logika sedang mempertimbangkan sesuatu yang terjadi di tempat dan saat yang berbeda, maka teman logika dalam hal ini adalah ‘sejarah’ dalam bentuk surat kabar, surat, buku atau catatan.   Sejarah berikut pengalaman akan mencerahkan kekelaman logika seseorang,  sehingga penyangkalan akan hal itu selanjutnya dianggap sebagai kebodohan atau ketidak-warasan.
       Bila kinerja logika berkaitan dengan hal-hal yang bersifat metaphisika -- yang tidak bisa dilihat dengan mata, didengar melalui telinga, disentuh dengan tangan serta tidak bisa ditanya melalui sejarah -- maka teman yang bisa membantu logika hanyalah wahyu.
      Hukum alam menetapkan bahwa sebagaimana cacat kekurangan logika pada dua keadaan sebelumnya diatasi dengan kedua teman tersebut, maka harus juga ada teman dari logika yang menemaninya pada keadaan kategori ketiga.   Dalam hukum alam tidak ada diskriminasi dan selalu berlaku umum.
      Jika nyatanya Tuhan tidak ingin membiarkan manusia dalam keadaan cacat mengenai pengetahuan keduniaan, yang sebenarnya tidak banyak merugikan dirinya, maka jelas Dia juga tidak akan mengabaikan manusia berkaitan dengan pemahaman berbagai hal dimana kondisi keselamatan ruhaninya akan sangat bergantung,  karena bisa membawa kebinasaan abadi atas dirinya.
       Tanpa bantuan Ilahi maka pengetahuan manusia tentang  alam  akhirat yang akan datang semata-mata hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan ia tidak memiliki sarana apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk memberi kepastian serta kepuasan batin.
     Kebutuhan logika yang memerlukan kepastian tersebut  bukanlah sesuatu yang mengada-ada melainkan suatu hal yang nyata. Bilamana disadari bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi bahwa manusia hanya bisa memperoleh kepastian hakiki melalui wahyu dan ia memang membutuhkannya untuk keselamatan ruhaninya, karena tanpa kepastian hakiki tidak mungkin menjaga keimanan seseorang, jelas kiranya jika manusia memang benar-benar membutuhkan wahyu Ilahi.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld, I, hlm.  78-80, London, 1984).

Keakuratan Informasi Berdasarkan Pengalaman Sendiri

     Keakuratan Informasi  yang diperoleh dari  nara-sumber yang mengalaminya sendiri   lebih pasti  mengenai kebenarannya daripada informasi yang diperoleh dari nara-sumber  yang mengetahuinya dari pemberitahuan sumber lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Konsep-konsep pemikiran tidak saja mempunyai kekurangan dari segi kepastian -- disamping juga tidak mampu memahami rincian detil dari hal-hal yang berkaitan dengan Samawi --  namun yang pokok adalah karena diskursus (artikel/paparan) yang didasarkan pada logika semata tidak efektif dalam mempengaruhi kalbu manusia.
      Suatu diskursus (artikel/paparan) bisa mempengaruhi nurani manusia jika kebenaran yang dikemukakannya memang sepenuhnya diterima hati manusia tanpa ada ruang bagi keraguan sekecil apa pun karena tiadanya kemungkinan kesalahan.
      Kami telah mengungkapkan bagaimana logika saja tidak mungkin memberikan kepastian yang sempurna. Jadi jelas kiranya bahwa pengaruh yang dihasilkan oleh suatu kepastian yang sempurna tidak mungkin diharapkan semata-mata dari logika saja dan semua itu dibuktikan oleh pengalaman sehari-hari.
      Sebagai contoh, ketika seseorang kembali ke rumahnya setelah bepergian ke suatu negeri yang jauh, semua kenalannya tentu ingin tahu bagaimana keadaan negeri tersebut. Mereka itu menerima dengan baik penuturan yang bersangkutan sepanjang ia itu termasuk orang yang dihargai dan jujur serta tidak dicurigai sebagai pendusta.
      Mengapa kata-katanya diterima dengan baik? Terutama adalah karena yang bersangkutan dianggap sebagai seorang yang benar dan mereka meyakini bahwa apa pun yang diceritakannya tentang negeri yang  jauh tersebut memang telah disaksikannya dengan mata kepala sendiri.
       Dengan demikian maka penuturan yang bersangkutan akan mempengaruhi kalbu para pendengarnya dan pernyataan yang dikeluarkannya dianggap sebagai pengalaman mereka sendiri pula. Terkadang jika ia menceritakan suatu keadaan menyedihkan maka para pemirsanya ikut meneteskan air mata seolah-olah menyaksikan sendiri kejadiannya.
     Lalu kalau ada seseorang yang belum pernah keluar dari batas keempat dinding rumahnya apalagi pernah melanglang ke negeri lain, tidak pula pernah mendengar keadaan atau lingkungan suatu negeri, kemudian ia berbicara menuturkan keadaan dan lingkungan suatu negeri semata-mata hanya berdasarkan khayalannya saja, jelas pembicaraannya tidak akan mempunyai efek apa pun kepada para pendengarnya.
     Yang pasti adalah mereka akan menganggapnya sebagai seorang yang kurang waras,  karena mengutarakan sesuatu yang berada diluar penelaahan, pengalaman serta pengetahuan dirinya. Keadaannya mirip dengan cerita tentang seorang bodoh yang menyatakan keunggulan roti dari tepung yang murni, ketika ada yang bertanya apakah ia pernah menyantapnya, ia menjawab belum pernah tetapi kakeknya dulu pernah suatu waktu melihat orang lain menyantapnya.
    Kecuali dalam pandangan para pemirsa atau pendengarnya bahwa yang bersangkutan sepenuhnya memahami apa yang diutarakannya (diceritakannya), maka diskursus (artikel/paparan) yang bersangkutan tidak akan membuahkan hasil sama sekali dalam kalbu mereka, bahkan ia hanya akan menjadi bulan-bulanan ejekan orang.
     Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa diskursus orang-orang bijak yang bersifat sekuler (keduniawian) tentang keadaan di   alam  akhirat tidak pernah menarik minat orang. Para pendengarnya tetap saja berfikir bahwa selama si pembicara mengungkapkannya berdasar dugaan semata, mereka juga bisa membantah dengan dugaan mereka sendiri mengingat kedua fihak belum ada yang pernah menyaksikan realitasnya.
    Ini juga yang menjadi penyebab mengapa ketika beberapa orang bijak  duniawi (filsuf) menyatakan dirinya menyokong eksistensi  (keberadaan)  Tuhan maka orang bijak lainnya menentang mereka dan malah menulis buku-buku yang menyokong atheisme.
    Kenyataannya pemikiran mereka yang menyatakan dirinya sampai suatu tingkat tertentu sebagai penyokong eksistensi Tuhan, sebenarnya belum sama sekali bersih dari konsep pemikiran atheistik.

Kepicikan Pandangan Kaum Brahmo Samaj Mengenai Wahyu Ilahi

     Perhatikan saja misalnya kaum Brahmo. Mereka tidak meyakini bahwa Tuhan memiliki Sifat-sifat yang sempurna. Mereka tidak percaya bahwa Dia memiliki Sifat berbicara sebagai mana halnya makhluk hidup. Mereka tidak meyakini Wujud-Nya sebagai Maha Pengendali dan Maha Pemelihara. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Hidup dan Maha Penjaga serta Dia itu berbicara kepada hati-hati yang bertakwa.  Mereka menganggap-Nya sebagai sosok yang fiktif dan merupakan hasil imajinasi khayalan manusia. Tidak ada yang pernah mendengar suara-Nya. Nyatanya Dia itu bukan Tuhan, tetapi hanya sebuah berhala yang terletak di sebuah sudut.
    Aku tidak habis mengerti bagaimana kaum ini bisa menerima konsep pemikiran yang kekanak-kanakan tersebut dan apa yang menjadi hasil dari pemikiran fiktif seperti itu? Mengapa mereka tidak berusaha mencari sebagai seorang pencari kebenaran adanya Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Hidup serta menegaskan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) Sendiri dan menghidupkan yang mati dengan ucapan: “Aku-lah Allah.”
     Ketika mereka menyadari bahwa terangnya logika tertutup kabut, mengapa mereka tidak mencari pencerahan yang sempurna? Mereka mengakui kalau mereka itu sedang sakit, tetapi tidak mau mencari obatnya. Sayang sekali mereka itu tidak mau membuka mata mereka untuk melihat kebenaran.
      Kenapa tutup telinga mereka tidak dibuang agar mereka bisa mendengar suara Ilahi? Mengapa hati mereka begitu berbelit dan mengapa pemahaman mereka begitu rancu sehingga kelemahan diri mereka itu malah dilontarkan kepada para pengikut wahyu yang hakiki?
       Kaum Brahmo Samaj juga mempunyai ilusi lain, bahwa yang namanya wahyu merupakan suatu pembatasan,  dan karena mereka itu terbebas dari segala kekangan, maka mereka itu sebenarnya lebih baik sebagaimana seorang bebas lebih baik daripada seorang tawanan.

Kemerdekaan Hakiki Melalui Wahyu Ilahi

     Kita terima kritik ini dan mengakui bahwa wahyu merupakan kekangan, namun suatu kekangan yang tanpanya tak mungkin mencapai kemerdekaan hakiki. Yang dimaksud dengan kemerdekaan hakiki adalah keadaan dimana seseorang terbebas dari segala bentuk kesalahan, keraguan dan kecurigaan guna mencapai tingkat kepastian yang sempurna, sehingga yang bersangkutan bisa menyaksikan Tuhan-nya bahkan di dunia ini juga.
      Kemerdekaan hakiki demikian diperoleh di dunia ini juga oleh para Muslim yang takut kepada Tuhan mereka melalui tuntunan Kitab Suci Al-Quran yang tidak tersedia kepada umat lainnya, termasuk kaum Brahmo atau pun yang lainnya.
    Keberatan lain yang dikemukakan kaum Brahmo Samaj ialah bahwa mematuhi suatu wahyu sama saja dengan menentang hukum alam, karena pandangan yang jernih dan terang tentang suatu realitas hanya mungkin dicapai melalui logika.
      Sebagai contoh, tindak pencurian itu secara logika dianggap sebagai suatu yang tidak pantas dan tidak diizinkan secara sosial, dan bukan karena dianggap sebagai dosa oleh kitab-kitab yang diwahyukan. Arsenik tidak boleh ditelan karena merupakan racun yang mematikan, dan bukan karena dilarang oleh wahyu Ilahi. Karena itu mereka bersikeras menyatakan bahwa logika itulah yang mengungkapkan realitas hakiki dan bukannya wahyu.
      Mereka tidak menyadari fakta bahwa argumentasi mereka menjadi mentah dengan sendirinya ketika dibuktikan bahwa yang namanya logika itu tidak sempurna dan tidak bisa diandalkan, apalagi jika masalahnya tidak diperkuat oleh pengulangan kejadian.
     Memang benar bahwa sampai suatu tingkat tertentu, realitas segala hal diungkapkan melalui argumentasi yang berdasar logika, namun logika saja tidak bisa melengkapi sampai ke tingkat kepastian tertinggi.
    Contoh-contoh yang mereka kemukakan justru menafikan (menolak) pandangan mereka. Sifat mematikan dari arsenik tidak semata-mata berdasarkan logika itu semata, karena kepastian fitratnya tersebut baru akan jelas sepenuhnya setelah eksprimen memperlihatkan sifat-sifat tersembunyi dari arsenik. Hal inilah yang ingin kami tegaskan, bahwa untuk mencari kepastian tentang sifat mematikan dari arsenik maka logika harus diikuti salah satu temannya yaitu upaya eksprimen yang sejalan.

Kepastian Mengenai Kebenaran Hal-hal yang Bersifat Gaib

      Begitu juga untuk menentukan kepastian dari hal-hal yang bersifat Samawi serta realitas kehidupan manusia setelah kematian maka logika memerlukan bantuan dari wahyu Ilahi, karena tanpa itu maka logika tidak akan mungkin mendapatkan kepastian hakiki dalam segala hal yang berkaitan dengan keimanan.
     Berkaitan dengan hal-hal lainnya pun, akal saja tanpa dibantu sarana lain menjadi tidak berdaya, tidak sempurna dan tidak akan lengkap.  Menurut batasan kemampuannya sendiri maka akal saja tidak akan mampu menentukan sesuatu secara pasti.
    Akal atau logika harus selalu ditemani yang lainnya agar terlepas dari kemungkinan kesalahan, apalagi dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi, dimana realitasnya tersembunyi di belakang tabir yang berlapis, sedangkan contohnya tidak ada di dunia ini. Dalam hal ini logika yang tidak sempurna tidak bisa menuntun manusia kepada pemahaman hakiki, apalagi menghindari segala kemungkinan kesalahan.
    Kesulitan yang kami temui berkenaan dengan hal-hal yang terkait dengan dunia yang tidak terlihat (dunia gaib) serta keterpesonaan yang dijumpai ketika membayangkan keadaan dari dunia yang tidak terlihat dan tersembunyi tersebut, memaksa kami harus mengakui bahwa untuk bisa memahami sepenuhnya dunia tersebut serta meyakininya secara pasti, kita ini memerlukan lebih banyak ahli sejarah, tawarikh dan orang-orang yang berpengalaman dibanding untuk meneliti dunia nyata yang ada sekarang ini.
      Ahli sejarah atau tawarikh dari dunia tersembunyi tersebut tidak lain adalah firman Tuhan karena tanpanya maka yang namanya kepastian tidak akan pernah ditemui. Dalam keadaan seperti itu tidak akan ada orang waras yang akan mengabaikan wahyu dan mengandalkan dirinya semata-mata kepada logika saja yang nyatanya memang tidak sempurna tersebut. Keselamatan ruhaninya dalam hal ini amat bergantung kepada wahyu,  karena hanya dengan wahyu saja bisa dihindarkan upaya menduga-duga.
      Wahyu yang menemani argumentasi yang berasaskan akal akan memberikan kepada kita informasi tentang fakta-fakta dari dunia berikut (akhirat) tersebut,  sebagaimana seorang ahli sejarah memberikan penuturan tentang suatu pandangan mata [yang terjadi di masa lalu]” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 327-335, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 29 April    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar