Jumat, 08 April 2016

Pentingnya "Wahyu Ilahi" Dalam Memahami "Khazanah Ruhani" Al-Quran & Hakikat "Kekeliruan" Adam Dalam Menanggapi "Tipu-daya" Syaitan yang Mengelincirkan


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


      Pentingnya   Wahyu Ilahi  Dalam Memahami Khazanah Al-Quran &  Hakikat “Kekeliruan” Adam   Dalam Menanggapi   “Tipu-daya” Syaitan yang Memggelincirkan

Bab 16


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai keberlangsungan   nikmat kenabian di kalangan para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:  
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾   اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).

Makna Ungkapan “Izhhar ‘ala al-Ghaib“ Kepada Rasul Allah   

 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa  lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  -- “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa  dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara.
 Jadi, tanpa keberlangsungan kenabian dan wahyu Ilahi  yang tidak membawa syariat di kalangan umat Islam (QS.4:70-71) maka sulit untuk dapat “membaca” Al-Quran  secara hakiki, sebab untuk dapat “membaca” Al-Quran tidak cukup dengan mengerti  dan fasih berbahasa Arab serta mengetahui  tata-bahasanya (nahwu- sharaf), itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman:
اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia, dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  ---  yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.   Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. (Al-Wāqi’ah [56]:78-81).
   Makna ayat:  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara,” bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik (QS.15:10), merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad  tantangan Allah Swt.  itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.
  Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya. Tetapi semua daya upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  kepada dunia  14   abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun (Sir Williams Muir).
  Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara  dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan dalam ayat berikutnya. Ayat فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam suatu kitab yang sangat terpelihara,”  ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam.   Seperti hukum alam, cita-cita dan asas-asas itu juga kekal dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.
   Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia (QS.30:31). Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar dan telah dilimpahi kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya  ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.

Orang-orang yang “Disucikan” Allah Swt. & Doa Memohon  “Ditambah Ilmu

   Makna ayat selanjutnya:  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --- “yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan,” bahwa hanya  orang yang bernasib baik sajalah yang  diberi pengertian  mengenai dan dan dapat mendalami kandungan arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih.
    Dalam rangka menghormati Al-Quran, secara sambil lalu  dalam ayat  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --- “yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan dikatakan  bahwa   hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik   tidak bersih.
   Sehubungan dengan makna ayat لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --- “yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan,” dalam Surah lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya  keberadaan petunjuk berupa  penganugerahan  ilmu pengetahuan  dari Allah Swt.:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka.   Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ      -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمً  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan?  Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā[20]:114-116).
  Sehubungan dengan ayat:   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمً --   “dan katakanlah: "Ya  Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan?” Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin ditemukannya jauh di rantau Cina" (Tafsir Shagir, jilid I).

Hakikat “Kekeliruan” Adam

  Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (2:270 & 4:114). Ilmu itu ada dua macam: (a) ilmu yang dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran. (b) ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri.
  Ayat:  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا   -- “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa“ ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s. dalam merespon  “tipu-daya” yang dikemukakan syaitan   yang sangat meyakinkan  (QS.7:21-23)   hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan.
 Kekeliruan  Nabi Adam a.s. tersebut  tanpa disengaja dan sama sekali tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab manusia tidak luput dari kesalahan termasuk kesalahan dalam memaknai ayat-ayat Al-Quran   -- terutama ayat-ayat yang myasyabihat (QS.3:8-8) --  atau memakna perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran  atau memaknai  berbagai petunjuk, falsafah serta nubuatan-nubutan  yang  terkandung dalam kisah-kisah dalam Al-Quran dan sebagainya, sebagaimana firman-Nya  sebelum ini:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka.   Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ     -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمً  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan?  Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā[20]:114-116).

Hikmah Adanya Perbedaan Bangsa dan Bahasa  Untuk “Saling Mengenal

      Kembali kepada proses terbentuknya bangsa-bangsa   -- serta suku-suku bangsa  serta bahasa-bahasa sebagai  sarana berkomunikasi   di kalangan mereka   --dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami  telah  menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا  -- supaya kamu dapat saling mengenal.  اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --Sesungguhnya  yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
       Syu’ub itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).
     Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia, semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..   
    Menurut Allah Swt. bahwa harga seseorang tidak dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt. dan manusiaاِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --  Sesungguhnya  yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.”  
    Seluruh keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka. Pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik  terhadap satu-sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing.  Itulah makna: لِتَعَارَفُوۡا  -- “supaya kamu dapat saling mengenal.”  
   Pada peristiwa Hajj terakhir di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw.   wafat, beliau saw.  khutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan, “Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terha-dap Allāh dan manusia. Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pan-dangan Allāh ialah yang paling bertakwa di antaramu” (Baihaqi).
   Sabda agung  Nabi Besar Muhammad saw. ini menyimpulkan cita-cita paling luhur dan asas-asas paling kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah, beliau saw.   mengajarkan asas yang sangat demokratis.

Keragamaan Bangsa dan  Bahasa Membuktikan Tauhid Ilahi, Bukan Membuktikan Banyaknya “Tuhan” (Kemusyrikan)

       Kemudian mengenai   hikmah adanya    perbedaan bahasa  di kalangan berbagvai macam bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa  yang berasal satu leluhur tersebut (QS.49:14)  Allah Swt.  berfirman:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ خَلَقَکُمۡ  مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَاۤ   اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ  تَنۡتَشِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan seluruh langit dan bumi serta perbedaan bahasa kamu dan warna kulit kamu. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi mereka yang berilmu. (Ar-Rūm [30]:23).    
     Kemajuan manusia sangat erat hubungannya dengan adanya perbedaan-perbedaan dalam bahasa dan warna kulit. Perbedaan-perbedaan itu mengisyaratkan kepada adanya suatu perencanaan dan satu Perencana. Sang Perencana itu ialah Sang Pencipta seluruh langit dan bumi.
   Di balik perbedaan bahasa dan warna kulit, yang mengakibatkan bercorak-ragamnya peradaban dan kebudayaan ada kesatuan   yaitu  kesatuan umat manusia. Dan kesatuan umat manusia itu menjurus kepada kesimpulan yang tidak dapat dihindarkan  yaitu Ke-Esa-an Sang Pencipta-nya yaitu Allah Swt., firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri  sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ       --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  -- “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ   -- Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --  sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ --   Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supa-ya mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf [7]:173-175).

Kesaksian Ruh  dan Fitrat Manusia Mengenai Tauhid Ilahi

    Ayat itu menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi – yakni Allah Swt.   -- Yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. (QS.7:35-37).   
 Ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus. Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah yang baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- “Bukankah  Aku Tuhan kamu?”
   Pertanyaan itu berarti bahwa jika Allah Swt.  telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya. Sesungguhnya karena menolak nabi Allah yang dibangkitkan di  kalangan mereka  maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau  tidak mengetahui syariat-Nya atau tidak mengetahui  Hari Pembalasan.
  Mengisyaratkan kepada pertanyaan Allah Swt.: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- “Bukankah  Aku Tuhan kamu?” itu pulalah makna   “fitrah Allah”  dalam firman Allah Swt. berikut ini:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا -- yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ -- tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ  --   itulah agama yang lurus, وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡن --  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.   مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ     -- Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,   وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik,  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا --   Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.(Ar-Rūm [30]:31-33).
       Tuhan adalah  Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allh dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
     Ayat    مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ     -- “Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat” menjelaskan bahwa hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Ke-Esa-an Tuhan  --  yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki  -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalatlah yang harus mendapat prioritas utama sebagai sarana  bagi manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Allah Swt atau atau  melaksanakan hablun-minallāh  atau haququllāh.
      Ayat selanjutnya: وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik,  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا --   Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka menerangkan bahwa penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran (firqah-firqah atau sekte-sekte) yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa di antara mereka.

Keturunan “Adam”  yang Lahir di  Wilayah Timur Tengah
    
     Jadi, perkembangan suatu bangsa atau suatu ras bangsa  berasal dari sepasang suami istri  --  salah satu contohnya adalah  Nabi Adam a.s. dan  istrinya (Hawa) yang keberadaannya sekitar 6000 tahun yang lalu di wilayah Timur Tengah  yang disebut “Jannah” (kebun/taman) yaitu wilayah Mesopotamia yang subur  karena dialiri sungai Eufrat dan Tigris --  kemudian dari pasangan tersebut  berkembang menjadi berbagai bangsa dan berbagai  suku-suku bangsa,    antara lain   kaum Nabi Nuh a.s., yang dari keturunan beliau muncul kaum-kaum lainnya, antara lain   kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud a.s.), kaum Tsamud (kaum Nabi Shaleh a.s.); kaum Nabi Ibrahim a.s.; kaum Nabi Luth a.s.; kaum  Midian (kaum Nabi Syu’aib a.s.) sampai dengan munculnya  Bani Isma’il dan  Bani Israil, Allah Swt. berfirman:
وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ جَعَلۡنٰہُ ہُدًی  لِّبَـنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  اَلَّا  تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَکِیۡلًا  ؕ﴿﴾ ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ عَبۡدًا  شَکُوۡرًا ﴿﴾ 
Dan  Kami telah memberi  Musa kitab Taurat  dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil: اَلَّا  تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَکِیۡلًا    --  ”Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku, ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ --  “Hai keturunan orang-orang  yang Kami naikkan ke dalam bahtera beserta Nuh, اِنَّہٗ  کَانَ عَبۡدًا  شَکُوۡرًا  -- sesungguhnya ia se-orang hamba Kami yang sangat bersyukur.”  (Bani Israil [17]:3-4).
       Demikian juga Nabi Ibrahim a.s. pun  -- yang adalah leluhur kaum Midian, Bani Isma’il dan Bani Israil   --  merupakan keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh a.s. pula (QS.3:34; QS.19:55-59; QS.33:8; QS.37:76-84), firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ اِسۡمٰعِیۡلَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صَادِقَ الۡوَعۡدِ وَ کَانَ رَسُوۡلًا نَّبِیًّا  ﴿ۚ﴾ وَ کَانَ یَاۡمُرُ اَہۡلَہٗ  بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ ۪ وَ کَانَ عِنۡدَ رَبِّہٖ  مَرۡضِیًّا ﴿﴾  وَ اذۡکُرۡ فِی  الۡکِتٰبِ  اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ  کَانَ  صِدِّیۡقًا  نَّبِیًّا ﴿٭ۙ﴾  وَّ رَفَعۡنٰہُ  مَکَانًا عَلِیًّا ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اٰدَمَ ٭ وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ۫ وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ ۫ وَ مِمَّنۡ ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا ؕ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ  خَرُّوۡا  سُجَّدًا  وَّ  بُکِیًّا ﴿ٛ﴾  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا ﴿ۙ﴾
Dan ceriterakan kisah Isma’il di dalam Kitab Al-Quran, sesungguhnya ia adalah seorang  yang janji­-janjinya senantiasa benar, dan ia adalah seorang rasul, seorang nabi.   Dan  ia senantiasa me­nyuruh keluarganya mendirikan shalat dan membayar zakat, dan ia diridhai oleh  Rabb-nya (Tuhan-nya).  وَ اذۡکُرۡ فِی  الۡکِتٰبِ  اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ  کَانَ  صِدِّیۡقًا  نَّبِیًّا --   Dan ceriterakanlah kisah Idris  di dalam Kitab Al-Quran, se-sungguhnya ia adalah seorang  yang benar dan seorang nabiوَّ رَفَعۡنٰہُ  مَکَانًا عَلِیًّا  -- Dan  Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اٰدَمَ  --    Mereka inilah orang-orang  yang Allah telah memberi nikmat atas mereka dari antara nabi-nabi dari keturunan Adam, وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ  --  dari antara keturunan orang-orang yang Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh, وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ --  dari keturunan Ibrahim dan Israil, وَ مِمَّنۡ ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا  -- dan  dari antara orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ  خَرُّوۡا  سُجَّدًا  وَّ  بُکِیًّا  --    Apabila Ayat-ayat Yang Maha Pemu-rah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur bersujud dan menangisفَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ  --  Lalu datang menggantikan sesudah mereka  pengganti yang mengabaikan shalat dan meng­ikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا  -- maka segera mereka  akan menemui kesesatan (Maryam [19]:55-60).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 April    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar