Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Pentingnya Wahyu Ilahi Dalam Memahami Khazanah Al-Quran & Hakikat “Kekeliruan”
Adam Dalam Menanggapi “Tipu-daya” Syaitan yang Memggelincirkan
Bab 16
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan
mengenai keberlangsungan nikmat kenabian di kalangan para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی
کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa
sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Makna
Ungkapan “Izhhar ‘ala al-Ghaib“ Kepada Rasul Allah
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan
dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang
tiada tara bandingannya guna membedakan
antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- “penguasaan atas yang
gaib”, maka rahasia-rahasia yang
diturunkan kepada orang-orang bertakwa
dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi
yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Jadi, tanpa keberlangsungan
kenabian dan wahyu Ilahi yang tidak
membawa syariat di kalangan umat Islam (QS.4:70-71) maka sulit untuk dapat “membaca” Al-Quran
secara hakiki, sebab untuk
dapat “membaca” Al-Quran tidak cukup
dengan mengerti dan fasih berbahasa Arab serta mengetahui tata-bahasanya
(nahwu- sharaf), itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman:
اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ
کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
itu
benar-benar Al-Quran
yang mulia, dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ --- yang tidak dapat menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan. Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh
alam. (Al-Wāqi’ah [56]:78-81).
Makna ayat: فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam suatu
kitab yang sangat terpelihara,” bahwa Al-Quran
itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik (QS.15:10), merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad tantangan
Allah Swt. itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.
Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela
kemurnian teksnya. Tetapi semua daya
upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada dunia 14 abad
yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa
perubahan barang satu huruf pun (Sir
Williams Muir).
Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan
dalam ayat berikutnya. Ayat فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam suatu
kitab yang sangat terpelihara,” ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran
itu tercantum di dalam kitab alam,
yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam. Seperti hukum
alam, cita-cita dan asas-asas itu juga kekal dan tidak berubah serta
hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.
Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt.
kepada manusia (QS.30:31). Fitrat insani
berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar
dan telah dilimpahi kemampuan untuk
sampai kepada keputusan yang benar.
Orang yang secara jujur bertindak
sesuai dengan naluri atau fitratnya ia dengan mudah
dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
Orang-orang
yang “Disucikan” Allah Swt. & Doa
Memohon “Ditambah Ilmu”
Makna ayat
selanjutnya: لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
--- “yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan,” bahwa hanya orang yang bernasib baik sajalah yang diberi pengertian mengenai dan dan dapat mendalami kandungan arti
Al-Quran yang hakiki, melalui cara
menjalani kehidupan bertakwa lalu
meraih kebersihan hati dan dimasukkan
ke dalam alam rahasia ruhani makrifat
Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang
yang hatinya tidak bersih.
Dalam rangka menghormati Al-Quran, secara sambil lalu dalam ayat
لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
--- “yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” dikatakan bahwa hendaknya jangan
menyentuh atau membaca Al-Quran
sementara keadaan fisik tidak bersih.
Sehubungan dengan makna ayat لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
--- “yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan,” dalam Surah lain Allah
Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya keberadaan petunjuk berupa
penganugerahan ilmu pengetahuan dari Allah Swt.:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ
الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ
وَحۡیُہٗ ۫ وَ قُلۡ رَّبِّ
زِدۡنِیۡ عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی
اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ -- Dan janganlah
engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمً
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum
ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad
untuk berbuat dosa. (Thā Hā[20]:114-116).
Sehubungan
dengan ayat: وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمً -- “dan katakanlah:
"Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah
kepadaku ilmu pengetahuan?” Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin
ditemukannya jauh di rantau Cina" (Tafsir Shagir, jilid I).
Hakikat “Kekeliruan” Adam
Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (2:270 & 4:114). Ilmu itu ada dua macam: (a) ilmu yang dianugerahkan kepada manusia
dengan perantaraan wahyu dan yang
telah mencapai kesempurnaan dalam
wujud Al-Quran. (b) ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan
usaha dan jerih-payahnya sendiri.
Ayat: وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ
لَمۡ نَجِدۡ لَہٗ
عَزۡمًا -- “Dan
sungguh Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa“ ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s. dalam merespon “tipu-daya” yang dikemukakan syaitan
yang sangat meyakinkan (QS.7:21-23) hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan.
Kekeliruan Nabi Adam a.s. tersebut tanpa
disengaja dan sama sekali tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab
manusia tidak luput dari kesalahan termasuk kesalahan dalam memaknai
ayat-ayat Al-Quran -- terutama
ayat-ayat yang myasyabihat (QS.3:8-8) --
atau memakna perumpamaan-perumpamaan
dalam Al-Quran atau memaknai berbagai petunjuk,
falsafah serta nubuatan-nubutan yang terkandung dalam kisah-kisah dalam Al-Quran
dan sebagainya, sebagaimana firman-Nya
sebelum ini:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ
الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ
وَحۡیُہٗ ۫ وَ قُلۡ رَّبِّ
زِدۡنِیۡ عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی
اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca
Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمً -- dan katakanlah:
"Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan?
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum
ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad
untuk berbuat dosa. (Thā
Hā[20]:114-116).
Hikmah Adanya Perbedaan Bangsa
dan Bahasa Untuk “Saling
Mengenal”
Kembali kepada proses terbentuknya bangsa-bangsa -- serta suku-suku
bangsa serta bahasa-bahasa sebagai sarana
berkomunikasi di kalangan mereka --dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami
telah menjadikan kamu
bangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu
dapat saling mengenal. اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ --Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt
[49]:14).
Syu’ub
itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk
suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang
meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon
Lane).
Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul
semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat
manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki
dan perempuan, maka sebagai makhluk
manusia, semua orang telah dinyatakan
sama dalam pandangan Allah Swt..
Menurut Allah Swt. bahwa harga seseorang tidak dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya,
melainkan oleh keagungan akhlaknya
dan oleh caranya melaksanakan kewajiban
kepada Allah Swt. dan manusia: اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.”
Seluruh keturunan
manusia, tidak lain hanya suatu keluarga
belaka. Pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik terhadap satu-sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing. Itulah makna: لِتَعَارَفُوۡا -- “supaya kamu dapat saling mengenal.”
Pada peristiwa Hajj terakhir
di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw. wafat,
beliau saw. khutbah di hadapan sejumlah
besar orang-orang Muslim dengan
mengatakan, “Wahai sekalian manusia!
Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai
kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak
mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya,
seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit
putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan
kewajibannya terha-dap Allāh dan manusia. Orang yang paling mulia di antara
kamu sekalian pada pan-dangan Allāh ialah yang paling bertakwa di antaramu”
(Baihaqi).
Sabda agung Nabi Besar Muhammad
saw. ini menyimpulkan cita-cita paling
luhur dan asas-asas paling kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas
yang berbeda itulah, beliau saw. mengajarkan asas yang sangat demokratis.
Keragamaan Bangsa dan Bahasa Membuktikan
Tauhid Ilahi, Bukan Membuktikan Banyaknya “Tuhan” (Kemusyrikan)
Kemudian mengenai hikmah adanya perbedaan bahasa di kalangan berbagvai macam bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang
berasal satu leluhur tersebut
(QS.49:14) Allah Swt. berfirman:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ اَنۡ
خَلَقَکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ
اِذَاۤ اَنۡتُمۡ بَشَرٌ
تَنۡتَشِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
dari antara Tanda-tanda-Nya adalah penciptaan seluruh langit dan bumi serta perbedaan bahasa kamu dan warna
kulit kamu. Sesungguhnya dalam yang
demikian itu ada Tanda-tanda
bagi mereka yang berilmu. (Ar-Rūm [30]:23).
Kemajuan manusia
sangat erat hubungannya dengan adanya perbedaan-perbedaan
dalam bahasa dan warna kulit. Perbedaan-perbedaan itu mengisyaratkan kepada adanya suatu perencanaan dan satu Perencana. Sang Perencana itu ialah Sang Pencipta
seluruh langit dan bumi.
Di balik perbedaan bahasa dan warna
kulit, yang mengakibatkan bercorak-ragamnya
peradaban dan kebudayaan ada kesatuan yaitu kesatuan umat manusia. Dan kesatuan umat manusia itu menjurus
kepada kesimpulan yang tidak dapat
dihindarkan yaitu Ke-Esa-an Sang Pencipta-nya yaitu Allah
Swt., firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا
اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi
saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
-- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari
Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ
ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- “Sesungguhnya
kami
benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ -- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- sedangkan kami
hanyalah keturunan sesudah mereka.
اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan
kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat batil
itu?” وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda
itu dan supa-ya mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Kesaksian
Ruh dan Fitrat Manusia
Mengenai Tauhid Ilahi
Ayat itu menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi – yakni Allah Swt. -- Yang telah menciptakan seluruh alam
serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. (QS.7:35-37).
Ungkapan “dari
sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada
mereka rasul Allah diutus. Pada
hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah
yang baru itulah yang mendorong timbulnya
pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- “Bukankah Aku Tuhan kamu?”
Pertanyaan
itu berarti bahwa jika Allah Swt. telah
menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan
demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian
betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya karena menolak nabi Allah
yang dibangkitkan di kalangan
mereka maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, sebab
jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau tidak
mengetahui syariat-Nya atau tidak
mengetahui Hari Pembalasan.
Mengisyaratkan
kepada pertanyaan Allah Swt.: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ
-- “Bukankah Aku Tuhan kamu?” itu pulalah makna “fitrah
Allah” dalam firman Allah Swt.
berikut ini:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ
اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ
الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾ مُنِیۡبِیۡنَ
اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ
فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا -- yaitu fitrat
Allah, yang atas dasar
itu Dia menciptakan manusia, لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ -- tidak ada perubahan
dalam penciptaan Allah, ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ -- itulah agama yang lurus, وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡن -- tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ
اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ -- Kembalilah
kamu kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat,
وَ لَا
تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ
الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ
کَانُوۡا شِیَعًا -- Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ -- tiap-tiap
golongan bangga dengan apa yang ada
pada mereka.(Ar-Rūm [30]:31-33).
Tuhan adalah
Esa dan kemanusiaan itu satu,
inilah fithrat Allh dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia
menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Nabi Besar Muhammad saw.
bersabda bahwa di dalam agama inilah
seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan
orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
Ayat مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ
اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ -- “Kembalilah
kamu kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat”
menjelaskan bahwa hanya semata-mata
percaya kepada Kekuasaan mutlak
dan Ke-Esa-an Tuhan --
yang sesungguhnya hal itu merupakan asas
pokok agama yang hakiki -- adalah
tidak cukup. Suatu agama yang benar
harus memiliki peraturan-peraturan
dan perintah-perintah tertentu. Dari
semua peraturan dan perintah itu shalatlah yang harus mendapat prioritas
utama sebagai sarana bagi manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Allah Swt atau atau melaksanakan hablun-minallāh atau haququllāh.
Ayat selanjutnya: وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ
الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ
کَانُوۡا شِیَعًا -- Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ -- tiap-tiap
golongan bangga dengan apa yang ada
pada mereka menerangkan bahwa penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran
(firqah-firqah atau sekte-sekte) yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa
di antara mereka.
Keturunan “Adam” yang Lahir di
Wilayah Timur Tengah
Jadi, perkembangan
suatu bangsa atau suatu ras bangsa berasal dari sepasang suami istri -- salah satu contohnya adalah Nabi
Adam a.s. dan istrinya (Hawa) yang keberadaannya
sekitar 6000 tahun yang lalu di
wilayah Timur Tengah yang disebut “Jannah” (kebun/taman) yaitu
wilayah Mesopotamia yang subur
karena dialiri sungai Eufrat
dan Tigris -- kemudian dari pasangan tersebut berkembang menjadi berbagai bangsa dan berbagai suku-suku
bangsa, antara lain kaum Nabi Nuh a.s., yang dari keturunan
beliau muncul kaum-kaum lainnya,
antara lain kaum ‘Ad
(kaum Nabi Hud a.s.), kaum Tsamud (kaum
Nabi Shaleh a.s.); kaum Nabi Ibrahim
a.s.; kaum Nabi Luth a.s.; kaum Midian
(kaum Nabi Syu’aib a.s.) sampai dengan munculnya Bani
Isma’il dan Bani Israil, Allah Swt. berfirman:
وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ
جَعَلۡنٰہُ ہُدًی لِّبَـنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَلَّا تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ وَکِیۡلًا ؕ﴿﴾ ذُرِّیَّۃَ مَنۡ
حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا
شَکُوۡرًا ﴿﴾
Dan Kami
telah memberi Musa kitab Taurat dan Kami
menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil: اَلَّا تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ وَکِیۡلًا -- ”Janganlah
kamu mengambil pelindung selain Aku, ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- “Hai keturunan orang-orang yang Kami naikkan ke dalam bahtera beserta Nuh, اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا
شَکُوۡرًا -- sesungguhnya ia se-orang hamba Kami yang sangat bersyukur.” (Bani
Israil [17]:3-4).
Demikian juga Nabi Ibrahim a.s. pun --
yang adalah leluhur kaum Midian, Bani Isma’il dan Bani Israil -- merupakan
keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh a.s. pula (QS.3:34;
QS.19:55-59; QS.33:8; QS.37:76-84), firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ
فِی الۡکِتٰبِ اِسۡمٰعِیۡلَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صَادِقَ الۡوَعۡدِ وَ کَانَ رَسُوۡلًا
نَّبِیًّا ﴿ۚ﴾ وَ کَانَ یَاۡمُرُ اَہۡلَہٗ بِالصَّلٰوۃِ
وَ الزَّکٰوۃِ ۪ وَ کَانَ عِنۡدَ رَبِّہٖ
مَرۡضِیًّا ﴿﴾ وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ
اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صِدِّیۡقًا
نَّبِیًّا ﴿٭ۙ﴾ وَّ رَفَعۡنٰہُ مَکَانًا عَلِیًّا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ
اٰدَمَ ٭ وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ۫ وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ ۫ وَ مِمَّنۡ
ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا ؕ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا
سُجَّدًا وَّ بُکِیًّا ﴿ٛ﴾ فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ غَیًّا ﴿ۙ﴾
Dan
ceriterakan kisah Isma’il di dalam Kitab Al-Quran, sesungguhnya ia adalah seorang yang janji-janjinya senantiasa benar,
dan ia adalah seorang rasul, seorang nabi. Dan ia
senantiasa menyuruh keluarganya mendirikan shalat dan membayar zakat, dan ia
diridhai oleh Rabb-nya (Tuhan-nya). وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ
اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صِدِّیۡقًا
نَّبِیًّا -- Dan ceriterakanlah
kisah Idris di dalam Kitab
Al-Quran, se-sungguhnya ia adalah
seorang yang benar dan seorang nabi. وَّ رَفَعۡنٰہُ مَکَانًا عَلِیًّا
-- Dan Kami
telah mengangkatnya ke martabat yang
tinggi. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ
ذُرِّیَّۃِ اٰدَمَ
-- Mereka inilah orang-orang yang
Allah telah memberi nikmat atas mereka dari antara nabi-nabi dari keturunan Adam, وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- dari antara keturunan orang-orang yang Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh, وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ -- dari keturunan Ibrahim dan Israil, وَ مِمَّنۡ
ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا -- dan
dari antara orang-orang yang
telah Kami beri petunjuk dan telah
Kami pilih. اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا
سُجَّدًا وَّ بُکِیًّا
-- Apabila Ayat-ayat Yang Maha Pemu-rah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur bersujud dan menangis. فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ
-- Lalu datang menggantikan sesudah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ
یَلۡقَوۡنَ غَیًّا
-- maka segera mereka akan menemui kesesatan (Maryam
[19]:55-60).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 8 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar