Rabu, 27 April 2016

"Wahyu Syaitan" dan Kelemahan-kelemahannya & Tanda-tanda Penerima "Wahyu Ilahi" yang Hakiki dan Manfaat Besar "Wahyu Ilahi" Bagi Keterbatasan Logika


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


  Wahyu Syaitan  dan Kelemahan-kelemahannya  &  Tanda-tanda Penerima Wahyu Ilahi yang Hakiki  dan Manfaat Besar Wahyu Ilahi  Bagi Keterbatasan  Logika

Bab 31


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan  sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai  cara  agar Allah Swt. berkenan “berkomunikasi” dengan hamba-Nya yang hakiki (QS.42:52-54):
       “Aku dahulu pernah muda dan sekarang ini sudah tua, tetapi sejak awal aku bersaksi atas kenyataan bahwa Tuhan Yang selalu tersembunyi, nyatanya memanifestasikan (menampakkan) Diri-Nya melalui Islam.
   Jika seseorang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh hati dan selalu memperbaiki dirinya selaras dengan ajarannya serta mengikuti hidup sebagai pelayan agama, mengabdikan diri sepenuhnya pada jalan Allah dan mengasihi Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad Saw.,  dan ia bebas dari perasaan ingin menonjolkan diri, takabur atau pun keangkuhan, tidak mencari kemuliaan diri dan hanya mencari kemuliaan dan keagungan Ilahi, merendahkan dirinya serata debu demi perintah-Nya, maka hasil dari  semua itu ialah Yang Maha Kuasa akan mulai berbicara kepada yang bersangkutan dalam bahasa Arab yang fasih.
       Perkataan Ilahi terasa amat menyejukkan dan amat mulia. Wahyu demikian bukanlah hasil fikiran seseorang,  karena yang seperti ini biasanya turun dalam nada suara yang rendah seperti suara seorang kasim atau orang yang sakit. Firman Tuhan selalu penuh keagungan dan sebagian besar dalam bahasa Arab dan seringkali dalam bentuk ayat-ayat dari Al-Quran.
    Dari pengalamanku dapat diungkapkan bahwa wahyu itu pada awalnya datang menghantam kalbu secara dahsyat dimana timbul sebuah gema,  yang kemudian merebak seperti sebuah bunga dan diikuti serangkaian kalimat yang suci dan menyejukkan hati. Wahyu tersebut mengandung penjelasan akan hal-hal tersembunyi yang dikemukakan secara agung dan menembus kalbu laiknya sebuah paku besi namun harum dengan wewangian Ilahi.
    Karakteristik seperti ini melekat pada wahyu hakiki karena selalu ada saja orang berperangai buruk yang menerima wahyu syaitan atau terkecoh oleh hasil fikirannya sendiri. Allah Yang Maha Agung selalu menyertakan Nur yang cemerlang mengikuti wahyu yang diturunkan-Nya guna membedakannya dari wahyu bentuk lain.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  314-315, London, 1984).

Perbedaan Wahyu Ilahi dan Wahyu Syaitan

    Menurut Masih Mau’ud a.s., bahwa sebagaimana perbincangan antara dua sahabat terjadi secara berkesinambungan, demikian pula halnya perbincangan antara Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya yang hakiki, terutama rasul Allah:
   “Orang-orang yang amat bodoh menganggap sugesti dari syaitan sebagai firman Tuhan karena mereka tidak mampu membedakan di antara wahyu syaitan dengan wahyu Ilahi. Perlu diingat bahwa persyaratan pertama dari wahyu Ilahi ialah dimana yang menjadi penerima wahyu haruslah seorang yang sudah menyerahkan sepenuh hidupnya kepada Tuhan dan syaitan tidak berkuasa atas dirinya. Dimana terdapat bangkai, disitu juga biasanya anjing berkumpul, karena itulah maka Tuhan menyatakan:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ   تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ
Maukah Aku beritahukan kepada kamu kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap orang berdosa yang pendusta” (Al-Syu’arā[26]:222-223).
      Syaitan tidak bisa mengendalikan orang yang tidak dikuasainya dan yang telah meninggalkan kehidupan rendah serta telah menjadi hamba Allah yang bertakwa dan saleh, sebagaimana janji Tuhan:
اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ
“Sesungguhnya engkau tidak akan mempunyai sesuatu kekuasaan atas hamba-hamba-Ku” (Al-Hijr [15]:43).
        Adapun mereka yang menjadi milik syaitan dan mengikuti jalannya maka mereka inilah yang akan menjadi mangsanya serta selalu berada dalam kuasanya.
  Perlu selalu diingat, bahwa firman Tuhan itu selalu membawa berkat, keagungan dan kegembiraan. Karena Tuhan itu Maha Mendengar, Maha Pemurah dan Maha Mengetahui maka Dia selalu mendengar permohonan hamba-Nya yang bertakwa dan saleh. Antara permohonan doa dengan respons  (tanggapan)  bisa berlangsung dalam waktu beberapa jam.
   Ketika seorang hamba dengan merendahkan diri mengajukan permohonannya, dalam waktu beberapa menit ia akan merasa terlena seperti kehilangan kesadaran dimana pada saat itulah ia akan menerima responsi dari permohonannya tersebut. Jika ia mengajukan lagi permohonan baru, kembali ia akan mengalami peristiwa serupa.
     Tuhan itu demikian Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Maha Mengetahui sehingga jika hamba-Nya memohon 1000 kali maka yang bersangkutan akan menerima responsi sebanyak itu juga. Hanya saja karena Tuhan itu juga bersifat Dzat Yang Tegak dengan sendirinya (Al-Qayyum) dan memperhatikan kebijakan dan kepantasan, maka ada beberapa permohonan yang tidak diberi-Nya jawaban langsung.

Berbagai Kelemahan Syaitan Dalam “Berkomunikasi

   Lagi pula syaitan itu sebenarnya dungu dan tidak fasih bicaranya. Ia memasukkan satu atau dua kalimat dalam hati dengan cara yang busuk. Syaitan tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatakan dirinya dalam kata-kata yang agung dan menyejukkan hati.
      Begitu juga ia tidak sanggup melayani tanya-jawab selama beberapa jam. Ia juga tuli dan tidak mampu memberikan responsi langsung atas setiap pertanyaan. Ia adalah sosok tidak berdaya yang tidak mempunyai kekuasaan atau mengungkapkan hal-hal penting yang tersembunyi.
    Kerongkongannya parau dan ia tidak bisa berbicara dalam kata-kata yang keras dan agung. Suaranya sebenarnya rendah nadanya seperti suara seorang kasim (orang yang dikebiri). Kalian bisa mengenali wahyu syaitan dari tanda-tanda tersebut.
     Adapun Tuhan bukanlah Wujud yang dungu, tuli atau pun tanpa daya. Dia mendengar dan menjawab. Firman-Nya disampaikan dalam kata-kata yang agung, keras dan menggetarkan hati. Firman-Nya bersifat langsung kepada permasalahan dan menyejukkan hati, sedangkan perkataan syaitan selalu disampaikan dalam nada yang rendah, seperti suara perempuan dan bunyinya meragukan. Tidak ada nada keagungan atau keluhuran dalam perkataan syaitan.
    Begitu juga ia itu tidak sanggup lama berbicara karena cepat sekali kelelahan, sedangkan kata-katanya itu lemah dan menggambarkan sifat kepengecutan. Firman Tuhan tidak ada lelahnya dan selalu mengandung berbagai hal yang bernuansa kekuasaan, hal-hal tersembunyi, janji-janji Ilahi serta diwarnai keagungan, keluhuran, kekuasaan dan kesucian.
   Wahyu Tuhan menciptakan kesucian di dalam hati dan mengubah penerimanya menjadi seorang yang amat pemberani. Sedemikian pemberaninya ia sehingga misalnya pun ia dipotong-potong dengan pedang, digantung di atas sebuah tiang, disakiti dengan segala macam siksaan, dipermalukan atau direndahkan sekali pun, bahkan dimasukkan ke dalam api membara, tidak sekali pun ia akan menyangkal bahwa kata-kata yang turun kepadanya adalah firman Tuhan.
    Tuhan akan selalu mengaruniakan kemantapan hati kepadanya dan menjadikan yang bersangkutan sebagai pencinta Wujud-Nya. Ia ini menganggap nyawa dirinya, kehormatan dan harta bendanya tidak lebih berharga daripada selembar jerami kering. Ia tidak akan pernah melepaskan pegangannya pada Jubah Tuhan meskipun seluruh dunia akan menginjak-injak dirinya di bawah kaki mereka.
   Ia menjadi seorang yang tanpa tandingan dalam masalah amanah kepercayaan, keberanian dan keteguhan hati. Mereka yang biasa menerima wahyu syaitan tidak ada memiliki kekuasaan yang serupa. Mereka itu bersifat pengecut karena syaitan sendiri memang bersifat pengecut adanya.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  142-144, London, 1984).

Cara Meyakini Ru’ya (Mimpi)  Berasal dari Allah Swt.

   Dari Al-Quran diketahui bahwa orang-orang  kafir atau musyrik pun dapat mengalami ru’ya atau mimpi yang benar, seperti yang dialami oleh dua orang pemuda yang dipenjara bersama dengan Nabi Yusuf a.s. di Mesir (QS.12:37-43) dan juga mimpi Fir’aun mengenai tujuh ekor sapi betina yang  gemuk dimakan oleh tujuh ekor  sapi kurus (QS.12:44) yang ditafsirkan maknanya oleh Nabi Yusuf a.s. (QS.12:46-50) dan menjadi kenyataan.
    Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai cara membedakan sumber dari ru’ya  atau mimpi yang dialami, apakah benar-benar dari Allah Swt. atau dari sumber lain:
    “Jika ada yang bertanya: Mengingat tidak ada jaminan sempurna terhadap intervensi syaitan, lalu bagaimana kita meyakini bahwa ru’ya atau mimpi kita memang benar berasal dari Tuhan? Bukankah bisa saja terjadi bahwa ru’ya yang sebenarnya berasal dari Tuhan lalu kita anggap dari syaitan atau pun sebaliknya?
     Jawaban atas pertanyaan demikian ialah: Setiap ru’ya atau mimpi dari Tuhan selalu mengandung keagungan, keberkatan, keakbaran dan Nur.  Sesuatu yang datang dari Sumber mata air suci akan memiliki kemurnian dan   aroma  yang harum, sedangkan yang datang dari kekotoran dan sumber air yang tidak bersih akan segera memaklumatkan baunya yang tidak sedap.
     Ru’ya benar yang berasal dari Allah Yang Maha Kuasa berupa pesan suci yang murni tidak akan diikuti kerancuan apa pun serta memiliki kekuasaan yang efektif dimana nurani terasa tertarik ke arahnya sebagaimana kesaksian kalbu bahwa ru’ya itu memang berasal dari Tuhan karena keagungan dan keakbarannya menembus ke dalam hati laiknya sebuah hunjaman paku besi.
     Seringkali terjadi ketika seseorang menerima sebuah ru’ya yang benar, lalu Tuhan memperlihatkan mimpi yang sama atau serupa sebagai konfirmasi kepada salah seorang sahabat yang bersangkutan. Dengan cara itu suatu ru’ya akan mendukung ru’ya lainnya.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. V, hlm.  354, London, 1984).

Membantah Pendapat Keliru Mengenai Wahyu Ilahi

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjawab pendapat keliru yang menyatakan bahwa mempercayai wahyu Ilahi  menghalangi   manusia mempergunakan akalnya (logikanya):
    “Beberapa orang berpandangan cupat mengajukan keberatan bahwa yang namanya wahyu bisa saja cacat sehingga menghalangi si penerimanya untuk mencapai pemahaman yang sempurna, padahal pemahaman sempurna merupakan suatu yang tidak bisa dipungkiri merupakan persyaratan dari kehidupan dan kebahagiaan abadi.
    Mereka memaklumkan keberatan mereka dengan menyatakan bahwa wahyu hanya menghalangi proses berfikir dan memintas yang namanya penelitian atau riset.  Akibatnya, kata mereka, para penerima wahyu tersebut jadinya hanya bisa mengatakan bahwa “Ini bisa (halal), itu terlarang (haram),  dalam buku-buku wahyu karangan mereka,” karena mereka tidak lagi menggunakan daya fikir yang telah dikaruniakan Tuhan.
    Lalu karena daya fikir itu tidak lagi digunakan maka para penerima wahyu tersebut akan kehilangan kemampuan berfikirnya.  Dan  fitrat manusia jadinya akan berubah dan mulai mendekati fitrat hewan dimana keluhuran jiwa manusia yang ditandai oleh kemajuan kemampuan berfikir menjadi rusak sama sekali dan manusia tidak lagi memiliki pemahaman yang sempurna.
    Dengan kata lain disimpulkan, bahwa [menurut mereka] kitab-kitab yang diwahyukan hanya merupakan rintangan dalam upaya mencapai keabadian hidup dan kebahagiaan yang dibutuhkan manusia.
   Jawaban atas pandangan seperti itu ialah kesimpulan mereka, khususnya kalangan Brahmo, diucapkan demikian karena mereka tidak cukup memiliki intelegensia yang juga diikuti dengan kedegilan dalam melakukan kesalahan. Mereka menganggap bahwa dengan menganut petunjuk kitab-kitab yang diwahyukan maka kemampuan berfikir yang telah dikaruniakan Tuhan akan menjadi tidak berguna lagi, seolah-olah wahyu dan daya fikir saling bertentangan satu dengan lainnya dan tidak mungkin eksis (ada) secara bersamaan.
     Kecurigaan mereka itu pada dasarnya sebagian akibat dari fitrat kedustaan, sebagian karena kefanatikan dan sebagian lagi karena kebodohan. Yang dimaksud dengan kedustaan adalah dimana mereka meski tahu bahwa kebenaran Tuhan hanya mungkin dikembangkan oleh orang-orang yang mengikuti wahyu dimana Ketauhidan Ilahi telah disiarkan di dunia hanya melalui orang-orang pilihan yang beriman kepada firman Tuhan, nyatanya mereka itu telah menyangkal hal tersebut.
     Ada pun yang berkaitan dengan kefanatikan, terlihat dari kenyataan bahwa untuk menopang pandangannya  mereka telah menyembunyikan kebenaran, yakni bahwa tanpa bantuan Ilahi  fikiran saja tidak akan mungkin bisa membawa manusia kepada kepastian yang sempurna.
       Sedangkan  mengenai  kebodohan mereka dicirikan oleh pandangan bahwa wahyu dan daya fikir tidak konsisten satu sama lain dan tidak mungkin eksis secara bersamaan. Mereka menganggap bahwa wahyu bertentangan dengan nalar sehat dan malah bersifat destruktif terhadapnya.
     Keraguan mereka itu sama sekali tidak ada dasarnya. Jelas bahwa seorang penganut wahyu yang benar tidak akan meluputkan  dirinya dari upaya mencari tahu, bahkan yang bersangkutan mendapat bantuan dari wahyu tersebut dalam usahanya meneliti realitas suatu permasalahan dengan cara yang logis. Bahkan berkat bantuan wahyu dan berkat dari nurnya maka yang bersangkutan terhindar dari kerancuan berfikir yang didasarkan pada logika.
     Ia tidak akan perlu mengarang segala argumentasi yang lemah karena ia telah memperoleh pandangan logis yang akan membawanya kepada kebenaran. Sama sekali tidak ada pertentangan di antara wahyu dan fikiran, bahkan keduanya konsisten satu sama lain.

Peran Besar Wahyu Bagi  Keterbatasan Logika

     Logika menopang wahyu,  dan wahyu memelihara logika dari kesesatan jalan. Wahyu hakiki seperti Al-Quran tidak akan menghalangi kemajuan daya berfikir manusia, bahkan wahyu tersebut mencerahkan fikiran dan menjadi penopang dan penolong yang agung.
      Sebagaimana nilai penuh dari matahari hanya bisa dihayati oleh mata, dan manfaat dari hari yang terang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki daya penglihatan, begitu juga dengan wahyu Ilahi yang hanya bisa dihargai oleh mereka yang memiliki daya nalar, mengingat Tuhan telah berfirman:
وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ  اِلَّا  الۡعٰلِمُوۡنَ
“Itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi umat manusia, tetapi tidaklah dapat memahaminya melainkan orang-orang yang berilmu” (Al-‘Ankabūt [29]:44).
        Sebagaimana manfaat pencerahan mata dikemukakan melalui sinar matahari -- karena tanpa adanya sinar maka yang buta dengan yang melek menjadi sama saja  -- begitu juga dengan keluhuran wawasan fikiran yang diungkapkan melalui wahyu.
   Melalui wahyu maka fikiran akan terpelihara dari upaya sia-sia dan menuntunnya langsung ke arah proses perenungan yang benar. Setiap orang bijak memahami manfaat   petunjuk yang membimbing seseorang ke arah pemikiran yang benar, daripada harus berkutat melalui proses berfikir rumit yang terkadang menghasilkan kesia-siaan semata.
     Para penganut wahyu tidak saja menghargai nalar bahkan menyadari bahwa wahyu itulah justru yang menyempurnakan proses berfikir mereka, sehingga mereka malah menikmati kemajuan dalam cara berfikir:  Pertama, adalah hasrat alamiah seseorang untuk mencari tahu melalui daya fikir mengenai segala hal yang berkaitan dengan realitas dan kebenaran eksistensi yang ada di sekelilingnya.  Kedua, adalah dorongan wahyu yang justru meningkatkan hasrat mereka itu.
   Mereka yang mempelajari Kitab Suci Al-Quran meski pun secara selintas pandang saja, tidak akan menyangkal kenyataan bahwa firman Suci tersebut selalu menekankan pentingnya perenungan dan observasi, sedemikian rupa sehingga Kitab tersebut menyatakan bahwa ciri atau karakteristik dari  orang-orang beriman    adalah karena mereka ini selalu merenungi semua keajaiban di langit dan di bumi serta menelaah kaidah dari kebijakan Ilahi sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا   
Dalam kejadian seluruh langit dan bumi, serta pertukaran malam dan siang sesungguhnya ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang ingat kepada Allah ketika berdiri dan duduk dan ketika berbaring miring atas rusuknya, dan mereka bertafakur tentang kejadian seluruh langit dan bumi sambil berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, tidaklah Engkau menjadikan segala ini sia-sia  (Āli Imran [3]:191-192).

Kerusakan Kitab-kitab Suci Sebelum Al-Quran Akibat Logika Sesat

   Kitab-kitab yang diwahyukan lainnya sekarang ini sudah banyak sekali mengalami perubahan dan isinya malah mengajak manusia kepada hal-hal yang tidak masuk akal dan bersifat mustahil, sebagai contoh antara lain adalah Kitab Injil. Hanya saja keadaan demikian bukanlah karena kesalahan wahyu itu sendiri melainkan hasil pemikiran manusia yang rancu.
      Kalau saja mereka yang menjadi penganutnya mau menggunakan akal sehat, pasti mereka akan meninggalkan kitab-kitab tersebut dan tidak akan membiarkan jalan fikirannya dipengaruhi. Apakah masuk akal bahwa Wujud Yang Maha Sempurna dan Maha Abadi lalu mengambil bentuk sebagai sebuah nutfah atau embryo yang tak berdaya, dihidupi oleh bahan makanan yang tidak suci dari rahim seorang perempuan, mengambil wujud berupa tubuh manusia yang tidak sempurna, lahir melalui saluran peranakan yang tidak murni untuk memasuki dunia yang fana, lalu setelah mengalami derita berbagai siksa kemudian menyerahkan nyawanya dalam keadaan sangat kesakitan sambil berteriak: “Eli, Eli, lama sabakhtani[1].
      Adalah wahyu Ilahi yang telah mengusir dan menumpas kesalahan seperti itu. Maha Suci Allah, betapa agung dan luhurnya samudra kasih dari firman yang telah menarik mereka para penyembah makhluk kembali kepada Ketauhidan Ilahi, dan betapa indah dan menariknya cahaya Nur yang telah membawa seluruh dunia keluar dari kegelapan.
       Di luar lingkungan mereka yang telah menyadari hal tersebut, masih ribuan orang banyaknya yang disebut sebagai orang-orang bijak dan filosof yang tetap saja masih tenggelam dalam kesalahan demikian. Sebelum diturunkannya Al-Quran, tidak ada seorang pun filosof yang menentang akidah-akidah yang melenceng seperti itu, juga tidak ada yang berupaya memperbaiki umat manusia yang telah rusak tersebut. Para filosof itu sendiri terjerat dalam berbagai akidah rancuTrinitas mengikuti pola filosof Plato[2] dan mereka membangun struktur palsu berdasarkan dasar pemikiran yang keliru dari orang Yunani yang bodoh ini.

Pembukaan Hal-hal Gaib Melalui Wahyu Ilahi

     Sebagai kesimpulan, wahyu Ilahi yang hakiki dan sempurna tidak akan bertentangan dengan penalaran, namun fitrat penalaran mereka yang tidak sempurna justru menjadi bencana bagi mereka yang setengah matang logikanya.
       Suatu obat penawar tidak akan bersifat mudharat bagi tubuh manusia, hanya saja jika ada yang penglihatannya terbatas lalu salah mengambil racun sebagai pengganti obat, yang jelas salah adalah logika yang bersangkutan dan bukan kesalahan obatnya. Jika mereka beranggapan bahwa berbahaya untuk mengandalkan kepada Kitab yang diwahyukan untuk segala hal di dunia ini, mereka itu jelas bodoh.
     Sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya, yang namanya wahyu itu merupakan cermin yang merefleksikan kebenaran bagi kemaslahatan logika dimana kebenaran hakikinya terbebas dari segala hal yang bersifat tidak masuk akal.  Bahkan, dalam hal-hal yang bersifat Samawi yang tersembunyi dalam-dalam, wahyu merupakan satu-satunya petunjuk bagi logika manusia yang lemah. Bersandar kepada wahyu tidak menjadikan penalaran lalu menjadi tidak berguna, bahkan wahyu menuntun manusia kepada rahasia-rahasia tersembunyi yang sulit ditembus oleh akal itu sendiri.
     Penalaran menuai manfaat yang besar sekali dari wahyu hakiki yang dikenal sebagai Al-Quran dan jelas logika tidak akan dirugikan karenanya. Melalui wahyu maka penalaran dipelihara dari segala bahaya yang dapat menjerumuskannya. Setiap orang bijak mengakui dan memang nyata dengan sendirinya bahwa suatu penelitian atau observasi yang semata-mata berdasarkan logika, cenderung bisa saja mengandung berbagai kesalahan, sedangkan dalam firman dari Yang Maha Mengetahui akan segala hal yang tersembunyi tidak mungkin ada kesalahan.

Wahyu Ilahi  Merupakan Sahabat Baik Logika

      Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika ditemani oleh wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus dan menopangnya ketika tergelincir? Apakah sahabat seperti itu akan menjadi hambatan ataukah sebaliknya sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan menganggap seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.
       Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada kalian bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang ke segala arah yang salah.
      Bahkan dengan wahyu itu maka akal manusia menemukan tujuan hakiki eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan pencaharian sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak akan ada orang yang lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu, yang telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang sedang dicari tersebut, apalagi dengan mengatakan bahwa si penolong tersebut hanya menghambat pencaharian saja.
        Sebaliknya, mereka yang terlibat akan sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan mereka sendiri dan disediakan petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga mereka tidak lagi hanya menduga-duga saja.
     Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras oleh Allah Swt. akan berterima kasih dan memuji wahyu hakiki. Mereka inilah yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu.
       Wahyu memberikan pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, yang melaluinya maka manusia terpelihara dari segala kesulitan yang diakibatkan oleh singkatnya umur manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  292-309, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 27 April    2016





[1] Artinya: ‘Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ Perjanjian Baru, Matius 27:46. (Penterjemah/ Khalid A.Qoyum)

[2] Sebagaimana dikemukakan oleh pendeta Mr. Yut, umat Kristen ternyata menganut akidah Filosof besar Yunani disamping Socrates dan Aristoteles, lahir 427 S.M. dan meninggal 9 S.M di kota Athena. Ketiganya dianggap sebagai pemberi dasar pada filosofi kebudayaan Barat. Pandangan Plato banyak didasarkan pada logika, epistemologika dan metaphisika. Banyak dipengaruhi oleh dugaan-dugaan, mithologi (dongeng-dongeng) dan mistik walaupun secara fundamental ia adalah seorang rasionalis. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar