Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Wahyu
Syaitan dan Kelemahan-kelemahannya & Tanda-tanda Penerima Wahyu Ilahi yang Hakiki dan Manfaat Besar Wahyu Ilahi Bagi Keterbatasan Logika
Bab 31
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai cara agar Allah Swt. berkenan “berkomunikasi” dengan hamba-Nya yang hakiki (QS.42:52-54):
“Aku dahulu pernah muda dan sekarang ini sudah tua,
tetapi sejak awal aku bersaksi atas
kenyataan bahwa Tuhan Yang selalu tersembunyi, nyatanya memanifestasikan (menampakkan) Diri-Nya melalui Islam.
Jika seseorang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh
hati dan selalu memperbaiki dirinya selaras
dengan ajarannya serta mengikuti hidup sebagai pelayan agama, mengabdikan diri sepenuhnya pada jalan Allah dan mengasihi
Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad Saw., dan ia bebas
dari perasaan ingin menonjolkan diri,
takabur atau pun keangkuhan, tidak mencari kemuliaan diri dan hanya mencari kemuliaan dan keagungan Ilahi, merendahkan
dirinya serata debu demi perintah-Nya, maka hasil dari semua itu ialah Yang Maha Kuasa akan mulai berbicara kepada yang bersangkutan
dalam bahasa Arab yang fasih.
Perkataan
Ilahi terasa amat menyejukkan
dan amat mulia. Wahyu demikian bukanlah hasil
fikiran seseorang, karena yang seperti ini biasanya turun dalam nada suara yang rendah
seperti suara seorang kasim atau orang yang sakit. Firman
Tuhan selalu penuh keagungan dan
sebagian besar dalam bahasa Arab dan seringkali dalam bentuk ayat-ayat
dari Al-Quran.
Dari pengalamanku
dapat diungkapkan bahwa wahyu itu pada
awalnya datang menghantam kalbu
secara dahsyat dimana timbul sebuah gema, yang kemudian merebak seperti sebuah bunga dan diikuti serangkaian kalimat yang suci
dan menyejukkan hati. Wahyu tersebut mengandung penjelasan akan
hal-hal tersembunyi yang dikemukakan secara agung dan menembus kalbu
laiknya sebuah paku besi namun harum dengan wewangian Ilahi.
Karakteristik
seperti ini melekat pada wahyu hakiki karena selalu ada saja orang berperangai buruk yang menerima wahyu syaitan atau terkecoh oleh hasil
fikirannya sendiri. Allah Yang Maha
Agung selalu menyertakan Nur yang
cemerlang mengikuti wahyu yang diturunkan-Nya guna membedakannya dari wahyu bentuk lain.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 314-315, London, 1984).
Perbedaan Wahyu
Ilahi dan Wahyu Syaitan
Menurut Masih Mau’ud a.s., bahwa sebagaimana perbincangan antara dua sahabat
terjadi secara berkesinambungan,
demikian pula halnya perbincangan
antara Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya yang hakiki, terutama rasul Allah:
“Orang-orang yang amat bodoh menganggap sugesti
dari syaitan sebagai firman Tuhan karena mereka tidak mampu membedakan di antara wahyu syaitan dengan wahyu Ilahi.
Perlu diingat bahwa persyaratan pertama
dari wahyu Ilahi ialah dimana yang
menjadi penerima wahyu haruslah
seorang yang sudah menyerahkan sepenuh
hidupnya kepada Tuhan dan syaitan tidak berkuasa atas dirinya. Dimana terdapat bangkai, disitu juga biasanya anjing
berkumpul, karena itulah maka Tuhan menyatakan:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ
تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ تَنَزَّلُ
عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ
“Maukah Aku
beritahukan kepada kamu kepada siapa
syaitan-syaitan itu turun?
Mereka turun kepada tiap-tiap orang
berdosa yang pendusta” (Al-Syu’arā[26]:222-223).
Syaitan
tidak bisa mengendalikan orang yang tidak dikuasainya dan yang telah meninggalkan
kehidupan rendah serta telah menjadi hamba
Allah yang bertakwa dan saleh,
sebagaimana janji Tuhan:
اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ
عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ
“Sesungguhnya engkau
tidak akan mempunyai sesuatu kekuasaan
atas hamba-hamba-Ku” (Al-Hijr [15]:43).
Adapun mereka yang menjadi milik syaitan dan mengikuti jalannya maka mereka inilah yang akan menjadi mangsanya serta selalu berada dalam kuasanya.
Perlu selalu diingat, bahwa firman Tuhan itu selalu membawa berkat, keagungan dan kegembiraan. Karena Tuhan
itu Maha Mendengar, Maha Pemurah dan Maha Mengetahui maka Dia selalu mendengar permohonan hamba-Nya yang bertakwa dan saleh.
Antara permohonan doa dengan respons
(tanggapan) bisa berlangsung
dalam waktu beberapa jam.
Ketika seorang hamba dengan merendahkan
diri mengajukan permohonannya,
dalam waktu beberapa menit ia akan
merasa terlena seperti kehilangan kesadaran dimana pada saat
itulah ia akan menerima responsi
dari permohonannya tersebut. Jika ia
mengajukan lagi permohonan baru,
kembali ia akan mengalami peristiwa
serupa.
Tuhan
itu demikian Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Maha Mengetahui sehingga jika hamba-Nya
memohon 1000 kali maka yang bersangkutan akan menerima responsi sebanyak itu juga. Hanya saja karena Tuhan itu juga bersifat Dzat Yang Tegak dengan sendirinya (Al-Qayyum) dan
memperhatikan kebijakan dan kepantasan, maka ada beberapa permohonan yang tidak diberi-Nya jawaban langsung.
Berbagai Kelemahan Syaitan Dalam “Berkomunikasi”
Lagi pula syaitan itu sebenarnya dungu
dan tidak fasih bicaranya. Ia memasukkan satu atau dua kalimat dalam hati dengan cara yang busuk.
Syaitan tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatakan dirinya dalam kata-kata
yang agung dan menyejukkan hati.
Begitu juga ia tidak sanggup melayani tanya-jawab
selama beberapa jam. Ia juga tuli
dan tidak mampu memberikan responsi langsung atas setiap pertanyaan. Ia adalah sosok tidak berdaya yang tidak mempunyai kekuasaan atau mengungkapkan hal-hal penting yang tersembunyi.
Kerongkongannya
parau dan ia tidak bisa berbicara
dalam kata-kata yang keras dan agung. Suaranya sebenarnya rendah nadanya seperti suara seorang kasim (orang yang
dikebiri). Kalian bisa mengenali wahyu
syaitan dari tanda-tanda tersebut.
Adapun Tuhan bukanlah Wujud yang
dungu, tuli atau pun tanpa daya. Dia mendengar dan menjawab. Firman-Nya disampaikan dalam kata-kata yang agung, keras dan menggetarkan hati. Firman-Nya bersifat langsung
kepada permasalahan dan menyejukkan hati, sedangkan perkataan syaitan selalu disampaikan
dalam nada yang rendah, seperti suara perempuan dan bunyinya meragukan. Tidak ada nada
keagungan atau keluhuran dalam perkataan syaitan.
Begitu juga ia itu tidak sanggup lama berbicara karena cepat sekali kelelahan,
sedangkan kata-katanya itu lemah dan menggambarkan sifat kepengecutan. Firman Tuhan tidak ada lelahnya dan selalu mengandung berbagai
hal yang bernuansa kekuasaan,
hal-hal tersembunyi, janji-janji Ilahi serta diwarnai keagungan, keluhuran, kekuasaan dan kesucian.
Wahyu
Tuhan menciptakan kesucian di
dalam hati dan mengubah penerimanya menjadi seorang yang amat pemberani. Sedemikian pemberaninya
ia sehingga misalnya pun ia dipotong-potong
dengan pedang, digantung di atas
sebuah tiang, disakiti dengan segala macam siksaan, dipermalukan atau direndahkan sekali pun, bahkan dimasukkan
ke dalam api membara, tidak sekali pun ia
akan menyangkal bahwa kata-kata
yang turun kepadanya adalah firman Tuhan.
Tuhan
akan selalu mengaruniakan kemantapan
hati kepadanya dan menjadikan yang bersangkutan
sebagai pencinta Wujud-Nya. Ia ini
menganggap nyawa dirinya, kehormatan dan harta bendanya tidak lebih berharga
daripada selembar jerami kering. Ia
tidak akan pernah melepaskan pegangannya
pada Jubah Tuhan meskipun seluruh dunia akan menginjak-injak dirinya di bawah kaki mereka.
Ia menjadi seorang yang tanpa tandingan dalam masalah amanah kepercayaan, keberanian
dan keteguhan hati. Mereka yang biasa menerima wahyu syaitan tidak ada
memiliki kekuasaan yang serupa.
Mereka itu bersifat pengecut karena syaitan sendiri memang bersifat pengecut adanya.” (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII,
hlm. 142-144, London, 1984).
Cara Meyakini Ru’ya (Mimpi) Berasal dari Allah Swt.
Dari Al-Quran diketahui bahwa orang-orang kafir
atau musyrik pun dapat mengalami ru’ya atau mimpi yang benar, seperti yang dialami oleh dua orang pemuda yang
dipenjara bersama dengan Nabi Yusuf a.s. di Mesir (QS.12:37-43) dan juga mimpi Fir’aun mengenai tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi
kurus (QS.12:44) yang ditafsirkan
maknanya oleh Nabi Yusuf a.s.
(QS.12:46-50) dan menjadi kenyataan.
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
cara membedakan sumber dari ru’ya
atau mimpi yang dialami,
apakah benar-benar dari Allah Swt.
atau dari sumber lain:
“Jika ada yang bertanya: Mengingat tidak ada jaminan sempurna terhadap intervensi syaitan, lalu bagaimana kita
meyakini bahwa ru’ya atau mimpi kita
memang benar berasal dari Tuhan? Bukankah bisa saja terjadi bahwa ru’ya yang sebenarnya berasal dari Tuhan lalu kita anggap
dari syaitan atau pun sebaliknya?
Jawaban atas pertanyaan demikian ialah: Setiap
ru’ya atau mimpi dari Tuhan selalu
mengandung keagungan, keberkatan, keakbaran dan Nur. Sesuatu yang datang dari Sumber mata air suci akan memiliki kemurnian dan aroma yang harum,
sedangkan yang datang dari kekotoran
dan sumber air yang tidak bersih akan segera memaklumatkan baunya yang tidak sedap.
Ru’ya benar yang berasal dari Allah Yang Maha Kuasa berupa pesan suci yang murni tidak akan diikuti kerancuan
apa pun serta memiliki kekuasaan
yang efektif dimana nurani terasa tertarik ke arahnya
sebagaimana kesaksian kalbu bahwa ru’ya itu memang berasal dari Tuhan
karena keagungan dan keakbarannya menembus ke dalam hati laiknya sebuah hunjaman paku besi.
Seringkali terjadi ketika seseorang menerima sebuah ru’ya yang benar,
lalu Tuhan memperlihatkan mimpi yang sama atau serupa sebagai konfirmasi
kepada salah seorang sahabat yang
bersangkutan. Dengan cara itu suatu
ru’ya akan mendukung ru’ya
lainnya.” (Ayena
Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam
Ruhani Khazain, jld. V,
hlm. 354, London, 1984).
Membantah Pendapat
Keliru Mengenai Wahyu Ilahi
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjawab pendapat
keliru yang menyatakan bahwa mempercayai wahyu Ilahi menghalangi manusia mempergunakan akalnya (logikanya):
“Beberapa orang berpandangan cupat mengajukan keberatan
bahwa yang namanya wahyu bisa saja cacat sehingga menghalangi si penerimanya untuk mencapai pemahaman yang sempurna,
padahal pemahaman sempurna merupakan
suatu yang tidak bisa dipungkiri merupakan persyaratan
dari kehidupan dan kebahagiaan abadi.
Mereka memaklumkan keberatan mereka dengan menyatakan bahwa wahyu hanya menghalangi
proses berfikir dan memintas
yang namanya penelitian atau riset.
Akibatnya, kata mereka, para penerima
wahyu tersebut jadinya hanya bisa mengatakan bahwa “Ini bisa (halal), itu terlarang (haram), dalam buku-buku wahyu karangan mereka,”
karena mereka tidak lagi menggunakan daya
fikir yang telah dikaruniakan Tuhan.
Lalu karena daya fikir itu tidak lagi digunakan
maka para penerima wahyu tersebut
akan kehilangan kemampuan berfikirnya. Dan fitrat manusia jadinya akan berubah dan mulai mendekati fitrat hewan dimana keluhuran jiwa manusia yang ditandai oleh kemajuan kemampuan berfikir menjadi rusak sama sekali dan manusia tidak lagi memiliki pemahaman yang sempurna.
Dengan kata lain disimpulkan, bahwa [menurut mereka] kitab-kitab yang diwahyukan
hanya merupakan rintangan dalam
upaya mencapai keabadian hidup dan kebahagiaan yang dibutuhkan manusia.
Jawaban
atas pandangan seperti itu ialah kesimpulan mereka, khususnya kalangan Brahmo, diucapkan demikian karena
mereka tidak cukup memiliki intelegensia
yang juga diikuti dengan kedegilan
dalam melakukan kesalahan. Mereka
menganggap bahwa dengan menganut
petunjuk kitab-kitab yang diwahyukan
maka kemampuan berfikir yang telah dikaruniakan Tuhan akan menjadi tidak berguna lagi, seolah-olah wahyu dan daya fikir saling bertentangan
satu dengan lainnya dan tidak mungkin eksis
(ada) secara bersamaan.
Kecurigaan
mereka itu pada dasarnya sebagian akibat
dari fitrat kedustaan, sebagian
karena kefanatikan dan sebagian lagi
karena kebodohan. Yang dimaksud
dengan kedustaan adalah dimana
mereka meski tahu bahwa kebenaran Tuhan
hanya mungkin dikembangkan oleh orang-orang yang mengikuti wahyu dimana Ketauhidan
Ilahi telah disiarkan di dunia hanya melalui orang-orang pilihan yang beriman
kepada firman Tuhan, nyatanya mereka
itu telah menyangkal hal tersebut.
Ada pun yang berkaitan dengan kefanatikan, terlihat dari kenyataan
bahwa untuk menopang pandangannya mereka telah menyembunyikan kebenaran, yakni bahwa tanpa bantuan Ilahi fikiran
saja tidak akan mungkin bisa membawa
manusia kepada kepastian yang sempurna.
Sedangkan mengenai
kebodohan mereka dicirikan oleh pandangan bahwa wahyu dan daya fikir tidak konsisten
satu sama lain dan tidak mungkin eksis secara bersamaan. Mereka menganggap bahwa wahyu bertentangan
dengan nalar sehat dan malah
bersifat destruktif terhadapnya.
Keraguan
mereka itu sama sekali tidak ada
dasarnya. Jelas bahwa seorang penganut
wahyu yang benar tidak akan meluputkan
dirinya dari upaya mencari
tahu, bahkan yang bersangkutan mendapat bantuan dari wahyu
tersebut dalam usahanya meneliti realitas suatu permasalahan dengan cara yang logis.
Bahkan berkat bantuan wahyu dan
berkat dari nurnya maka yang
bersangkutan terhindar dari kerancuan
berfikir yang didasarkan pada logika.
Ia tidak akan perlu mengarang segala argumentasi
yang lemah karena ia telah memperoleh pandangan
logis yang akan membawanya kepada kebenaran.
Sama sekali tidak ada pertentangan di antara wahyu dan fikiran, bahkan keduanya konsisten
satu sama lain.
Peran Besar Wahyu Bagi Keterbatasan Logika
Logika
menopang wahyu, dan wahyu
memelihara logika dari kesesatan jalan. Wahyu hakiki seperti Al-Quran
tidak akan menghalangi kemajuan daya
berfikir manusia, bahkan wahyu
tersebut mencerahkan fikiran dan
menjadi penopang dan penolong yang agung.
Sebagaimana nilai penuh dari matahari
hanya bisa dihayati oleh mata, dan manfaat dari hari yang terang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki daya penglihatan, begitu juga dengan wahyu Ilahi yang hanya bisa dihargai oleh mereka yang memiliki daya nalar, mengingat Tuhan telah
berfirman:
وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا
لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ
اِلَّا الۡعٰلِمُوۡنَ
“Itulah perumpamaan-perumpamaan
yang Kami kemukakan bagi umat manusia,
tetapi tidaklah dapat memahaminya
melainkan orang-orang yang berilmu” (Al-‘Ankabūt [29]:44).
Sebagaimana
manfaat pencerahan mata dikemukakan
melalui sinar matahari -- karena tanpa adanya sinar maka yang buta
dengan yang melek menjadi sama saja -- begitu juga dengan keluhuran wawasan fikiran yang diungkapkan melalui wahyu.
Melalui wahyu
maka fikiran akan terpelihara dari upaya sia-sia dan menuntunnya
langsung ke arah proses perenungan
yang benar. Setiap orang bijak memahami manfaat
petunjuk yang membimbing
seseorang ke arah pemikiran yang benar,
daripada harus berkutat melalui proses
berfikir rumit yang terkadang menghasilkan
kesia-siaan semata.
Para penganut
wahyu tidak saja menghargai nalar
bahkan menyadari bahwa wahyu itulah justru yang menyempurnakan proses berfikir mereka,
sehingga mereka malah menikmati kemajuan
dalam cara berfikir: Pertama, adalah hasrat alamiah seseorang untuk mencari
tahu melalui daya fikir mengenai segala
hal yang berkaitan dengan realitas
dan kebenaran eksistensi yang ada di
sekelilingnya. Kedua, adalah dorongan wahyu yang justru meningkatkan hasrat mereka itu.
Mereka yang mempelajari Kitab Suci Al-Quran meski pun secara selintas pandang saja, tidak akan menyangkal kenyataan bahwa firman Suci tersebut selalu menekankan pentingnya perenungan dan observasi, sedemikian rupa sehingga Kitab tersebut menyatakan bahwa ciri atau karakteristik
dari orang-orang beriman adalah karena mereka ini selalu merenungi semua keajaiban di langit dan di bumi serta
menelaah kaidah dari kebijakan Ilahi sebagaimana diungkapkan
dalam ayat-ayat:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ
لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا
Dalam kejadian
seluruh langit dan bumi, serta pertukaran malam dan siang sesungguhnya
ada Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal, yaitu orang-orang yang ingat kepada Allah
ketika berdiri dan duduk dan ketika berbaring miring atas rusuknya, dan mereka bertafakur tentang kejadian seluruh
langit dan bumi sambil berkata:
“Ya Rabb (Tuhan) kami, tidaklah Engkau
menjadikan segala ini sia-sia” (Āli Imran [3]:191-192).
Kerusakan Kitab-kitab Suci Sebelum Al-Quran Akibat Logika Sesat
Kitab-kitab yang diwahyukan lainnya sekarang ini sudah banyak sekali mengalami perubahan dan isinya malah mengajak manusia kepada hal-hal yang tidak masuk akal dan bersifat
mustahil, sebagai contoh antara lain adalah
Kitab Injil. Hanya saja keadaan demikian bukanlah karena kesalahan wahyu itu sendiri melainkan hasil pemikiran manusia yang rancu.
Kalau saja mereka yang menjadi penganutnya mau menggunakan akal sehat, pasti mereka akan meninggalkan kitab-kitab tersebut dan tidak akan membiarkan jalan fikirannya dipengaruhi. Apakah
masuk akal bahwa Wujud Yang Maha Sempurna dan Maha Abadi lalu mengambil bentuk
sebagai sebuah nutfah atau embryo yang tak berdaya, dihidupi oleh bahan
makanan yang tidak suci dari rahim seorang perempuan, mengambil wujud berupa tubuh manusia yang tidak
sempurna, lahir melalui saluran
peranakan yang tidak murni untuk
memasuki dunia yang fana, lalu
setelah mengalami derita berbagai siksa kemudian menyerahkan nyawanya dalam keadaan sangat kesakitan sambil berteriak: “Eli, Eli, lama sabakhtani”[1].
Adalah wahyu
Ilahi yang telah mengusir dan menumpas kesalahan seperti itu. Maha Suci Allah, betapa agung dan luhurnya samudra kasih
dari firman yang telah menarik
mereka para penyembah makhluk
kembali kepada Ketauhidan Ilahi, dan betapa indah dan menariknya cahaya Nur yang telah membawa seluruh
dunia keluar dari kegelapan.
Di luar lingkungan mereka yang telah menyadari hal tersebut, masih ribuan orang banyaknya yang disebut
sebagai orang-orang bijak dan filosof yang tetap saja masih tenggelam dalam kesalahan demikian. Sebelum diturunkannya Al-Quran, tidak ada seorang pun filosof yang menentang akidah-akidah
yang melenceng seperti itu, juga
tidak ada yang berupaya memperbaiki
umat manusia yang telah rusak
tersebut. Para filosof itu sendiri terjerat dalam berbagai akidah rancu. Trinitas
mengikuti pola filosof Plato[2] dan mereka membangun struktur palsu berdasarkan dasar pemikiran yang keliru dari orang Yunani yang bodoh
ini.
Pembukaan Hal-hal Gaib Melalui Wahyu Ilahi
Sebagai kesimpulan, wahyu Ilahi yang hakiki
dan sempurna tidak akan bertentangan dengan penalaran, namun fitrat penalaran mereka yang tidak
sempurna justru menjadi bencana
bagi mereka yang setengah matang
logikanya.
Suatu obat
penawar tidak akan bersifat mudharat
bagi tubuh manusia, hanya saja jika ada yang penglihatannya terbatas lalu salah
mengambil racun sebagai pengganti
obat, yang jelas salah adalah logika yang bersangkutan dan bukan kesalahan
obatnya. Jika mereka beranggapan bahwa berbahaya
untuk mengandalkan kepada Kitab yang diwahyukan untuk segala hal
di dunia ini, mereka itu jelas bodoh.
Sebagaimana telah kami ungkapkan
sebelumnya, yang namanya wahyu itu
merupakan cermin yang merefleksikan kebenaran bagi kemaslahatan logika dimana kebenaran hakikinya terbebas dari segala hal yang bersifat tidak masuk akal. Bahkan, dalam hal-hal yang bersifat Samawi
yang tersembunyi dalam-dalam, wahyu merupakan satu-satunya petunjuk bagi logika
manusia yang lemah. Bersandar kepada
wahyu tidak menjadikan penalaran lalu menjadi tidak berguna, bahkan wahyu menuntun manusia kepada rahasia-rahasia tersembunyi yang sulit ditembus oleh akal itu sendiri.
Penalaran
menuai manfaat yang besar sekali
dari wahyu hakiki yang dikenal
sebagai Al-Quran dan jelas logika tidak akan dirugikan karenanya. Melalui wahyu
maka penalaran dipelihara dari
segala bahaya yang dapat menjerumuskannya. Setiap orang bijak mengakui dan memang nyata
dengan sendirinya bahwa suatu penelitian
atau observasi yang semata-mata
berdasarkan logika, cenderung bisa
saja mengandung berbagai kesalahan,
sedangkan dalam firman dari Yang Maha Mengetahui akan segala hal yang tersembunyi tidak mungkin ada kesalahan.
Wahyu Ilahi
Merupakan Sahabat Baik Logika
Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika ditemani oleh wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus
dan menopangnya ketika tergelincir? Apakah sahabat seperti itu akan menjadi hambatan ataukah sebaliknya sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan menganggap
seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.
Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada kalian
bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan
wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang
ke segala arah yang salah.
Bahkan dengan wahyu itu maka akal
manusia menemukan tujuan hakiki
eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan pencaharian
sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak akan ada orang yang
lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu, yang telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang sedang dicari tersebut, apalagi dengan
mengatakan bahwa si penolong
tersebut hanya menghambat pencaharian saja.
Sebaliknya, mereka yang terlibat akan sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan mereka sendiri dan disediakan
petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga mereka tidak
lagi hanya menduga-duga saja.
Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras
oleh Allah Swt. akan berterima kasih
dan memuji wahyu hakiki. Mereka
inilah yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu.
Wahyu
memberikan pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, yang melaluinya maka manusia terpelihara
dari segala kesulitan yang
diakibatkan oleh singkatnya umur
manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah,
Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
292-309, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 27 April 2016
[1]
Artinya:
‘Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ Perjanjian Baru, Matius 27:46. (Penterjemah/ Khalid A.Qoyum)
[2]
Sebagaimana
dikemukakan oleh pendeta Mr. Yut, umat Kristen ternyata menganut akidah Filosof
besar Yunani disamping Socrates dan Aristoteles, lahir 427 S.M. dan meninggal 9
S.M di kota Athena. Ketiganya dianggap sebagai pemberi dasar pada filosofi kebudayaan
Barat. Pandangan Plato banyak didasarkan pada logika, epistemologika dan
metaphisika. Banyak dipengaruhi oleh dugaan-dugaan, mithologi (dongeng-dongeng)
dan mistik walaupun secara fundamental ia adalah seorang rasionalis. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar