Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Kesempurnaan Ujung Atas “Garis Vertikal Kemanusiaan"
yang Ditempati Nabi Besar
Muhammad Saw. dan Hubungannya Dengan Peristiwa Mi’raj
Nabi Besar Muhammad Saw.
Bab 28
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya Masih
Mau’ud a.s. telah menjelaskan mengenai berbagai makna Khātaman
Nabiyyīn, firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ
خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb
[33]:41).
Menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam
seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman Nabiyyīn dapat
mempunyai kemungkinan empat macam arti:
(1) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah
meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya
tidak bermeteraikan beliau saw. Kenabian
semua nabi Allah yang sudah lampau
harus dikuatkan dan disahkan oleh beliau saw. dan juga tidak ada seorang pun yang
dapat mencapai tingkat kenabian
sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut
beliau (QS.3:32; QS.4:70).
(2) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah nabi Allah yang terbaik, termulia, dan
paling sempurna dari antara semua nabi
Allah dan juga beliau saw. adalah sumber
hiasan bagi mereka (Zurqani,
Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
(3) Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang terakhir di antara para nabi
pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka,
orang-orang suci dan waliullah
seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan
lain-lain.
Menurut ulama-ulama besar dan para
waliullah itu, tidak ada nabi Allah
dapat datang sesudah Nabi Besar Muhammad
saw. yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah
beliau saw. atau yang akan datang dari luar
umat beliau saw. (Futuhat,
Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Sitti
Aisyah r.a., istri Nabi
Besar Muhammad saw. yang amat
berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw,.) adalah Khātaman Nabiyyīn, tetapi janganlah
mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah
beliau” (Mantsur).
(4) Nabi
Besar Muhammad saw. adalah nabi
Allah yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya
dan selengkap-lengkapnya dalam diri
beliau saw.
Khatam dalam arti sebutan terakhir
untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim
dipakai. Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya
nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad
saw. wafat (QS.7:35-36;
QS,61:10; QS.62:3-4).
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau saw. pernah
bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra
beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik
orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz-ul-Umal),
sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut selaras dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ
وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ
رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. (An-Nisa [4]:70-71).
Hakikat “Mi’raj” Nabi Besar Muhammad Saw. & Berbagai Makna “Najm” (Bintang) dan Lambang
“Bulan”
Kembali kepada titik
tertinggi dari “garis vertical”
kemanusiaan yang ditempati oleh Nabi
Besar Muhammad saw., -- hal tersebut digambarkan
dalam peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. -- Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ
مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾
اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾
ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ
ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا
جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ
الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang apabila
jatuh. Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik
Kekuatan, lalu
Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya
ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia,
Rasulullah, mendekati Allah,
lalu Dia kian dekat kepadanya, -- فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی
عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی -- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی -- Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا
یَرٰی -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? Dan
sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di
dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika pohon
Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی -- Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya
(Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).
An-najm
berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi
bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh “ (Bintang Kartika atau
Pleiades). Kata an-najm itu dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai
mengandung arti pewahyuan Al-Quran secara berangsur-angsur, dan oleh
beberapa sumber lainnya dianggap mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. sendiri. Kata jamaknya an-nujum, berarti
juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf;
Taj-ul-Arus & Ghara’ib-al-Quran).
Mengingat akan arti
yang berbeda-beda maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:
(1) Menurut sebuah hadits yang masyhur, Nabi Besar Muhammad saw. pernah
mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani
meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali
namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke
Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya
kembali ke bumi” (Bukhari, tafsir Surah Al-Jumu’ah).
(2) Kata itu dapat berarti
bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas
kebenarannya sendiri.
(3) Pohon Islam yang masih lemah, kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya,
tidak lama lagi akan bangkit dan
berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk bangsa-bangsa
besar akan berteduh (QS.14:25-26; QS.48:30).
(4) Karena orang-orang Arab sudah biasa
menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka di padang pasir Arabia pada malam hari oleh peredaran
bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang
yang paling cemerlang, yaitu Nabi Besar Muhammad saw..
(5) Ayat ini dapat juga
mengandung sebuah nubuatan tentang
jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok,
suatu nubuatan yang lebih jelas lagi
diterangkan dalam QS.54:2, firman-Nya:
اِقۡتَرَبَتِ
السَّاعَۃُ وَ انۡشَقَّ الۡقَمَرُ ﴿ ﴾
Telah dekat Saat itu dan bulan
terbelah (Al-Qamar [54]:2).
Bulan
adalah lambang kebangsaan orang Arab
dan lambang kekuasaan politik mereka,
seperti halnya matahari merupakan lambang kebangsaan orang-orang Parsi.
Tatkala Siti Shafiyah r.a. anak perempuan Huyay ibn Akhthab,
pemimpin orang-orang Yahudi dari
Khaibar menceritakan kepada ayahnya bahwa ia melihat mimpi bulan
telah jatuh ke atas pangkuannya. Sang ayah menampar muka beliau seraya berkata
bahwa “Rupanya engkau menginginkan
menikah dengan pemimpin bangsa Arab.” Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti
Shafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh Nabi Besar Muhammad
saw. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).
Ufuq Tertinggi Martabat
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Makna ayat مَا ضَلَّ
صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- “Tidaklah sesat
sahabat kamu dan tidak pula keliru“
bahwa cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh Nabi
Besar Muhammad saw. tidak
salah lagi pula beliau saw. sekali-kali
tidak menyimpang dari asas-asas itu yakni beliau saw. juga tidak tersesat. Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia
beliau saw. dan mengingat pula cara
beliau saw. menjalani hidup sesuai
dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah
penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat
berikut-nya.
Kalau ayat اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی -- “Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang
diwahyukan“ ini membicarakan sumber asal wahyu yang adalah dari Allah Swt., maka
dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada bantahan
terhadap khayalan kosong orang yang berotak
miring dan kepada alam pikiran
yang timbul dari nafsu pribadinya dan
dorongan-dorongan ruh jahat: مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ
مَا غَوٰی -- “Tidaklah
sesat sahabat kamu dan tidak pula
keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ
عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.”
Makna ayat selanjutnya: عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik Kekuatan, lalu
Dia bersemayam di atas ‘Arasy,“ Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci
terdahulu pudar artinya. Mirrah dalam
ayat: ذُوۡ مِرَّۃٍ
ؕ فَاسۡتَوٰی -- “Pemilik Kekuatan, lalu Dia
bersemayam di atas ‘Arasy”, berarti: kekuatan karya
atau kecerdasan, pertimbangan sehat, keteguhan
(Aqrab-ul-Mawarid). Dzū mirrah dapat juga berarti orang yang kekuatannya nampak kentara
dengan lestari.
Ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i -- sehubungan
dengan ayat: وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika
ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi” berarti
bahwa ia memperoleh atau memiliki hak
penguasaan atau pengaruh penuh atas
barang itu.
Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., makna
ayat akan
berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani
dan intelek beliau saw. telah
mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya. Yakni Nabi
Besar Muhammad saw. telah mencapai batas
tertinggi dalam mikraj beliau
saw., ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya
(Tajalli) kepada beliau saw. dengan kebenaran
dan keagungan yang sempurna.
Atau, ayat ini dapat
berarti bahwa cahaya Islam
ditempatkan pada suatu tempat yang sangat tinggi -- seperti ‘ufuq cakrawala -- dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa
dalam ayat
وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ
الۡاَعۡلٰی dapat
menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana lebih lanjut diterangkan
dalam ayat 10.
Ungkapan dalla al-dalwa sehubungan ayat: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya“ berarti: ia menurunkan ember ke
dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti:
ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau
kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
Ayat tersebut berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. naik mendekati Allah Swt. dan Allah Swt.
turun mendekat kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga
berarti bahwa beliau saw. mencapai
kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt., dan setelah minum dengan sepuas-puasnya
di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi
(Makrifat Ilahi), beliau saw. turun
kembali dan memberikan ilmu kepada
segenap umat manusia selaras dengana
misi kerasulan beliau saw. (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Makna “Seutas Tali Dua Buah Busur”
Makna qāb dalam selanjutnya فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan,
seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,“ berarti:
(1) bagian busur antara
bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
(2) dari satu ujung busur
ke ujung busur yang lain;
(3) ukuran atau ruang.
Orang Arab berkata bainahumā qāba qausaini, yakni di antara mereka
berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka
sangat akrab.
Peribahasa Arab yang
mengatakan ramaunā ‘an qausin wāhidin, yakni “mereka
memanah kami dari satu busur”, yaitu
bahwa “mereka seia-sekata melawan
kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-Arab, dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj dan menghampiri
Allah Swt. – demikian pula Allah Swt. “turun” mendekati beliau saw. sehingga jarak
antara keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw seolah-olah
menjadi “seutas tali dari dua busur”.
Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang
Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan
busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu
dan kemudian mereka melepaskan anak panah
dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka
menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan
telah menjadi satu wujud, dan bahwa
suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
Menggambarkan “perpaduan” kehendak
dan gerak (amal) Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah
Swt. itu pulalah firman Allah Swt. dalam QS.8:18 mengenai pelontaran pasir yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Perang Badar yang kemudian menimbulkan badai pasir¸ dan dalam QS.48:11 mengenai orang-orang yang melakukan baiat kepada Nabi Besar Muhammad saw.
dengan cara menjabat tangan beliau
saw..
Bila kata tadalla dalam
ayat ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “Kemudian ia mendekati Allah, lalu Dia
kian dekat kepadanya“ dianggap mengenai Allah Swt., maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. . naik
(mikraj) menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw.,
sehingga kedua-duanya seolah-olah
telah menyatu menjadi satu wujud.
Perpaduan Kehendak dan Gerak Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad
saw.
Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan
halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di
pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh
cinta dan dengan rasa kasih serta
merasa prihatin akan mereka, sehingga
sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan
beliau menjadi titik-pusat tali kedua
busur Ketuhanan dan kemanusiaan, firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar
telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman
ia sangat berbelas kasih
lagi penyayang. (At-Taubah
[9]:128).
Ayat
ini boleh dikenakan kepada orang-orang
beriman maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama
kepada orang-orang beriman, bagian
permulaannya mengenai orang-orang kafir
dan bagian terakhir mengenai orang-orang
beriman.
Kepada orang-orang
kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi
Besar Muhammad saw. merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu
sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan,
namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia,
sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya
menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagimu.
Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak
tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan
kesusahan kepadamu.”
Kepada orang-orang beriman ayat ini berkata: “Nabi Besar Muhammad saw. penuh
dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan
gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi
pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu,
dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”
Mi’raj (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata-kata “atau lebih dekat lagi” dalam
ayat فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan,
seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,“ mengandung arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
Ayat-ayat 8 sampai 18
menggambarkan mikraj Nabi BesarMuhammad saw. ketika beliau saw.
secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan ruhani Allah, dan secara ruhani beliau saw. naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani, yakni (1) kenaikan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
dan (2) turunnya tajalli (penampakan
kebesaran) Allah Swt. kepada beliau
saw..
Dalam pikiran umum, mikraj telah dicampurbaurkan dengan isra’
(perjalanan Nabi Besar Muhammad saw.
pada waktu malam ke
Yerusalem), sedangkan masing-masing berlainan
dan terpisah waktu terjadinya.
Peristiwa Isra terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun
Nabawi (Zurqani), padahal Nabi Besar Muhammad saw. telah lebih dahulu mengalami mikraj pada tahun ke-5, tidak lama
sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6
atau 7 tahun sebelum terjadi isra’. Penelaahan saksama dan teliti
mengenai rincian kedua peristiwa mi’raj
dan isra itu, sebagaimana
disebut-sebut di dalam hadits juga
mendukung pendapat ini.
Mā dalam
ayat فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- “lalu
Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan”, kadang-kadang dipergunakan untuk
menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini
mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan
wahyu kepada hamba-Nya, dan alangkah
bagus lagi hebatnya wahyu itu!
Makna
ayat: مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی -- Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا
یَرٰی -- Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?” Hakikatnya ialah apa yang
telah dilihat oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dalam mi’raj adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan
khayal beliau saw..
Makna ayat selanjutnya وَ لَقَدۡ
رَاٰہُ نَزۡلَۃً اُخۡرٰی -- “Dan sungguh
dia benar-benar melihat-Nya kedua
kali, عِنۡدَ
سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- dekat pohon
Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ
الۡمَاۡوٰی -- yang di dekatnya ada surga tempat
tinggal” bahwa kasyaf Nabi Besar Muhammad saw. itu suatu pengalaman ruhani berganda.
Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad
saw. telah mencapai martabat qurb
Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di
luar jangkauan otak manusia untuk
memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi, hakikat-hakikat
serta kebenaran-kebenaran abadi.
Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi
Sadir yang diambil
dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir
ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan.
Ayat ini dapat berarti
bahwa ajaran yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal
terhadap bahaya kerusakan, melainkan
juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan. Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada
sebatang pohon, yang di bawah pohon
itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. mengikat janji setia kepada beliau pada
peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
Kata-kata “yang menyelubungi”
pada ayat
اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی --
Ketika pohon Sidrah diselubungi
oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا
طَغٰی -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.” maknanya
ialah penjelmaan Ilahi. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ
اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی –
“Sungguh ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).“
Jadi, betapa
tingginya bagian ujung
atas “garis vertical” kemanusiaan yang ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw.
dalam peristiwa mi’raj tersebut dan
beliau saw. telah menyaksikan “Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya
(Tuhan-Nya).“
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 23 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar