Minggu, 24 April 2016

Kesempurnaan Ujung Atas "Garis Vertikal Kemanusiaan" yang Ditempati Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hubungannya Dengan Peristiwa "MI'raj" Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


   Kesempurnaan   Ujung Atas “Garis Vertikal Kemanusiaan"   yang Ditempati Nabi Besar Muhammad Saw.   dan Hubungannya Dengan Peristiwa    Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw.  

Bab 28


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya  Masih Mau’ud a.s.   telah menjelaskan    mengenai berbagai makna    Khātaman Nabiyyīn, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
       Menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
       (1)  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah meterai para nabi, yakni, tidak ada nabi dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan  beliau saw.  Kenabian semua nabi Allah yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh  beliau saw. dan juga tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut beliau (QS.3:32; QS.4:70).
      (2)  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah nabi Allah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi Allah dan juga beliau saw. adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
     (3)  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
      Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tidak ada nabi Allah dapat datang sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.  yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau saw. atau yang akan datang dari luar umat beliau saw. (Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir). Sitti Aisyah r.a., istri  Nabi Besar Muhammad saw.  yang amat berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah saw,.) adalah Khātaman Nabiyyīn, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
      (4)  Nabi Besar Muhammad saw. adalah nabi Allah  yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau saw.
    Khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai. Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah  Nabi Besar Muhammad saw. wafat (QS.7:35-36; QS,61:10; QS.62:3-4).
     Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau. Menurut riwayat, beliau saw. pernah bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Kanz-ul-Umal), sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  selaras dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  (An-Nisa [4]:70-71).

Hakikat “Mi’raj” Nabi Besar Muhammad Saw. &  Berbagai Makna “Najm” (Bintang) dan Lambang  “Bulan

   Kembali kepada  titik tertinggi dari “garis vertical” kemanusiaan  yang ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  -- hal tersebut digambarkan dalam peristiwa mi’raj  Nabi Besar Muhammad saw.   -- Allah Swt. berfirman:   
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang apabila  jatuh. Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  -- Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,   ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan  lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --   Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,   --  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,   dekat pohon Sidrah tertinggi,      yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal.  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi,  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  --   Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).
   An-najm berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh “ (Bintang Kartika atau Pleiades). Kata an-najm itu dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti pewahyuan  Al-Quran secara berangsur-angsur, dan oleh beberapa sumber lainnya dianggap mengisyaratkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri. Kata jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf; Taj-ul-Arus & Ghara’ib-al-Quran).
     Mengingat akan arti yang berbeda-beda maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:
   (1) Menurut sebuah hadits yang masyhur,  Nabi Besar Muhammad saw.   pernah mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari, tafsir Surah Al-Jumu’ah).
  (2) Kata itu dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri.
 (3) Pohon Islam yang masih lemah, kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk  bangsa-bangsa besar akan berteduh (QS.14:25-26; QS.48:30).
 (4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka di padang pasir Arabia pada malam hari oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang,  yaitu Nabi Besar Muhammad saw..    
  (5) Ayat ini dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam  QS.54:2, firman-Nya:
اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ  وَ انۡشَقَّ  الۡقَمَرُ ﴿
Telah dekat  Saat itu dan bulan terbelah  (Al-Qamar [54]:2).
       Bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kekuasaan politik mereka, seperti halnya matahari merupakan lambang kebangsaan orang-orang Parsi. Tatkala Siti Shafiyah r.a. anak perempuan Huyay ibn Akhthab, pemimpin orang-orang Yahudi dari Khaibar menceritakan kepada ayahnya bahwa ia melihat mimpi  bulan telah jatuh ke atas pangkuannya. Sang ayah menampar muka beliau seraya berkata bahwa “Rupanya engkau menginginkan menikah dengan pemimpin bangsa Arab.” Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti Shafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh Nabi Besar Muhammad saw. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).

Ufuq  Tertinggi Martabat Ruhani  Nabi Besar Muhammad Saw.

Makna ayat مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru“ bahwa cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   tidak salah  lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu  yakni beliau  saw. juga tidak tersesat. Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia beliau saw. dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikut-nya.
    Kalau ayat   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  -- “Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan“ ini membicarakan sumber asal wahyu    yang adalah dari Allah Swt.,  maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada bantahan terhadap  khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahatمَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  --   Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.”
   Makna ayat selanjutnya:  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی    -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    --  Pemilik Kekuatan,  lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,“  Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya.  Mirrah  dalam ayat: ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    -- “Pemilik Kekuatan,  lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy”,  berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, keteguhan (Aqrab-ul-Mawarid). Dzū  mirrah dapat juga berarti  orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari.
     Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i   -- sehubungan dengan ayat:  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   -- “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi”  berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu.
     Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,   makna ayat    akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya. Yakni Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj beliau saw., ketika Allah Swt. menampakkan Wujud-Nya (Tajalli) kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna.
   Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang sangat  tinggi   -- seperti ‘ufuq   cakrawala   -- dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa  dalam ayat  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   dapat menunjuk kepada Allah  Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana lebih lanjut diterangkan dalam  ayat 10.
 Ungkapan  dalla al-dalwa  sehubungan ayat:    ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- “Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya“ berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-‘Arab).
   Ayat tersebut  berarti bahwa   Nabi Besar Muhammad saw. naik  mendekati Allah Swt.  dan Allah Swt.  turun mendekat  kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa beliau saw.      mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.,   dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi (Makrifat Ilahi), beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia selaras dengana misi kerasulan beliau saw. (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).

Makna “Seutas Tali Dua Buah Busur

  Makna qāb  dalam selanjutnya فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,“ berarti:
 (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
 (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain;
 (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
   Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-Arab, dan Zamakhsyari).
   Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah Swt. – demikian pula Allah Swt. “turun” mendekati beliau saw. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan  Nabi Besar Muhammad saw seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
   Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
Menggambarkan “perpaduan” kehendak dan gerak (amal)  Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.   itu pulalah  firman Allah Swt. dalam QS.8:18 mengenai pelontaran pasir  yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Perang Badar yang kemudian menimbulkan badai pasir¸ dan dalam  QS.48:11 mengenai orang-orang yang melakukan baiat kepada Nabi Besar Muhammad saw. dengan cara menjabat tangan beliau saw..
  Bila kata tadalla  dalam ayat  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- “Kemudian ia  mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya dianggap mengenai Allah Swt.,  maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. . naik (mikraj) menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.

Perpaduan Kehendak  dan Gerak Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw.

Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.  menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan, firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan   terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.  (At-Taubah [9]:128).
  Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman, bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman
    Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw. merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.”
Kepada orang-orang beriman  ayat ini berkata: “Nabi Besar Muhammad saw.    penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”

Mi’raj (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw.

  Kata-kata “atau lebih dekat lagi” dalam ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,“ mengandung arti bahwa perhubungan antara   Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
   Ayat-ayat 8 sampai 18 menggambarkan mikraj Nabi BesarMuhammad saw. ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah, dan secara ruhani beliau saw. naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani, yakni (1) kenaikan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  dan (2) turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw..
 Dalam pikiran umum, mikraj telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan  Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam ke Yerusalem), sedangkan masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Peristiwa  Isra  terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal Nabi Besar Muhammad saw. telah lebih dahulu mengalami  mikraj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi isra’. Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa  mi’raj dan isra itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini.  
  Mā   dalam ayat فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --   “lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan”, kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
   Makna ayat: مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?”   Hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat oleh Nabi Besar Muhammad  saw. dalam mi’raj    adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
       Makna ayat selanjutnya وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی     -- “Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی   --  dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی    --                  yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal      bahwa kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.  itu suatu pengalaman ruhani berganda.
  Pada waktu mikraj, Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahihakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.

Makna “Pohon Sidrah” Tertinggi

 Sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan.
Ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan, melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan. Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
  Kata-kata “yang menyelubungi”   pada ayat   اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی     --    Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi,  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  -- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.”  maknanya ialah penjelmaan Ilahi  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی – “Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).“
  Jadi,  betapa  tingginya  bagian ujung   atas  “garis vertical” kemanusiaan  yang ditempati oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj tersebut dan beliau saw.  telah menyaksikan  “Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).“

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 23 April    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar