Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Dua Macam “Ditundukkan-Nya”
Alam Semesta Kepada Manusia: Secara Alami dan Melalui Upaya Manusia & Nubuatan
Pembuatan Sarana Transportasi
Modern
Bab 12
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna bertasbihnya
dan bertahmidnya para malaikat kepada Allah Swt., yakni mereka semua “menyanjung kesucian Allah Swt. dengan puji-pujian-Nya,”
dan
mereka semua melaksanakan
tugas-tugas yang telah ditetapkan Allah Swt. kepada mereka, dan dengan demikian menampakkan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan
sama sekali bebas dari segala kekurangan,
kegagalan, dan kelemahan; dan begitu pulalah hasil
karya-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ سَبَّحَ
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ
یُمِیۡتُ ۚ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Menyanjung kesucian
Allah apa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi,
Dia menghidupkan dan Dia
mematikan, dan Dia
berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Hadīd [57]:1-3).
Makna “Bertasbih” Kepada Allah Swt.
Sabbaha fī hawā’ijihi artinya:
ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya. Sabh
berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha
sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh menyatakan
kecepatan pergi berlindung kepada Allah
dan kesigapan melayani dan menaati
perintah-Nya.
Mengingat akan arti dasar kata
ini, masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya menyatakan bahwa Allah Swt. itu jauh dari segala kekurangan atau aib, atau
cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah Swt. dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan “Subhānallāh --
Maha Suci Allah“ (Lexicon Lane).
Oleh karena itu makna ayat: سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Menyanjung kesucian
Allah apa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi,”
berarti bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan
yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara
yang sangat ajaib (menakjubkan), sehingga kita
mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek
alam semesta ini, sungguh Maha Kuasa
dan Maha Bijaksana, dan bahwa seluruh
alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu
serta dalam batas kemampuannya
masing-masing, memberi kesaksian
mengenai kebenaran yang tidak dapat
dipungkiri, bahwa karya Allah Swt. itu mutlak bebas
dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala
seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.
Itulah maksud ungkapan bahwa segala
sesuatu di alam semesta ini bertasbih
kepada Allah Swt. dengan puji-pujian-Nya (QS.17:45; QS.24:42; QS.572; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2), demikian juga
para malaikat-Nya, terutama
kepada para khalifah (wakil) Allah
yakni para rasul Allah, antara lain Nabi Adam a.s. (QS.2:31; QS.39:76;
QS.40:8).
Menurut
Allah Swt. semua yang ada di alam semesta ini “ditundukkan”
untuk mengkhidmati manusia, tetapi apabila manusia berlaku ingkar
kepada Allah Swt. serta tidak mensyukuri
nikmat-nikmat Allah Swt. maka alam semesta yang sebelumnya
diperintahkan untuk “berkhidmat”
kepada manusia akan berubah menjadi penentang mereka antara lain berupa
timbulnya berbagai bentuk azab Ilahi.
Makna “Ditundukkan-Nya” Alam
Semesta Untuk Umat Manusia
Kembali kepada pembahasan mengenai Nabi
Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.,
sehubungan dengan hal tersebut di beberapa tempat dalam Al-Quran, bukan saja gunung-gunung dan burung-burung,
bahkan semua
benda di seluruh langit dan bumi -- seperti matahari, bulan, bintang-kemintang,
siang dan malam, margasatwa, unggas, sungai-sungai, angin, gumpalan-gumpalan
awan dan sebagainya -- disebutkan telah
diciptakan untuk mengkhidmati makhluk
manusia (2:165; 7:55; 22:38 & 45:13-14), firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ
لَکُمۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ
نِعَمَہٗ ظَاہِرَۃً وَّ بَاطِنَۃً ؕ وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ
یُّجَادِلُ فِی اللّٰہِ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ
وَّ لَا ہُدًی وَّ لَا کِتٰبٍ مُّنِیۡرٍ ﴿﴾
Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah telah menundukkan bagi kamu apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang
ada di bumi, وَ اَسۡبَغَ
عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ ظَاہِرَۃً وَّ بَاطِنَۃً -- dan Dia
telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang
tidak nampak? Dan di antara manusia ada orang-orang yang berbantah mengenai Allah tanpa
pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang terang. (Luqman [31]:21)
Kata-kata dalam ayat: وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ
ظَاہِرَۃً وَّ بَاطِنَۃً -- dan Dia telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya,
baik yang nampak atau pun yang tidak nampak?” Ayat itu dapat mengandung arti semua keperluan manusia — baik jasmani maupun ruhaninya, yang bersifat kebendaan
maupun akal-pikiran, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui telah sepenuhnya dipersiapkan (disediakan) Allah Swt., firman-Nya:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا
لَّکُمۡ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡفُلۡکَ لِتَجۡرِیَ فِی الۡبَحۡرِ
بِاَمۡرِہٖ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡاَنۡہٰرَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ
دَآئِبَیۡنِ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ﴿ۚ﴾ وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ
اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَظَلُوۡمٌ
کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Allah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi
dan menurunkan air dari awan, lalu Dia mengeluarkan dengan itu buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu, dan وَ سَخَّرَ لَکُمُ الۡفُلۡکَ
لِتَجۡرِیَ فِی الۡبَحۡرِ بِاَمۡرِہٖ -- Dia
telah menundukkan bagi kamu kapal (perahu) supaya berlayar
di lautan atas perintah-Nya, وَ
سَخَّرَ لَکُمُ الۡاَنۡہٰرَ -- dan Dia
telah menundukkan sungai-sungai bagi
kamu. Dan Dia
telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, kedua-duanya melaksanakan
tugasnya dengan dawam (teratur). Dan begitu pun Dia telah menundukkan bagi kamu malam dan siang. وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ -- Dan Dia
telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا -- dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu
tidak akan dapat menghitungnya, اِنَّ الۡاِنۡسَانَ
لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ -- sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur (Ibrahim
[14]:33-35).
Dua Macam “Ditundukkan-Nya” Alam Semesta Kepada Manusia
“Ditundukkan-Nya”
seluruh langit dan bumi kepada manusia ada dua macam, yakni:
(1) Yang
penundukkan-Nya sepenuhnya diluar
upaya manusia, atau penundukan secara alami, misalnya peredaran matahari, bulan, bintang-bintang,
pergantian siang dan malam serta perkisaran angin serta musim (QS.3:191-193);
(2)
Yang penundukan-Nya
manusia -- sampai batas-batas tertentu -- dapat berperan,
contohnya pemanfaatan lautan, danau dan aliran sungai untuk sarana transportasi air dengan pembuatan perahu -- baik berupa; rakit,
perahu dayung, perahu layar mau pun perahu yang digerakkan dengan tenaga mekanik (mesin – QS.16:15-16;
QS.36:42-44); atau penundukkan
binatang-binatang liar menjadi binatang
ternak sebagai tunggangan
(QS.43:13-16) dll, sebagaimana firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ
لَکُمۡ مَّا فِی الۡاَرۡضِ وَ الۡفُلۡکَ
تَجۡرِیۡ فِی الۡبَحۡرِ بِاَمۡرِہٖ ؕ وَ
یُمۡسِکُ السَّمَآءَ اَنۡ تَقَعَ عَلَی الۡاَرۡضِ اِلَّا
بِاِذۡنِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ
لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Tidakkah engkau melihat bahwa Allah telah menundukkan kepada kamu apa pun
yang ada di bumi dan kapal-kapal yang mengarungi lautan atas
perintah-Nya? Dan Dia-lah Yang menahan langit supaya jangan
jatuh ke atas bumi, kecuali dengan izin-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Pengasih, Maha Penyayang terhadap
manusia. (Al-Hājj [22]:66).
Allah Swt. berfirman lagi mengenai
pentingnya pemanfaatan berberbagai
SDA (sumber daya alam) yang terkandung
di lautan:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡبَحۡرَ لِتَجۡرِیَ الۡفُلۡکُ
فِیۡہِ بِاَمۡرِہٖ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمۡ
مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مِّنۡہُ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Allah Dia-lah Yang
menundukkan laut kepada kamu
supaya kapal-kapal dapat berlayar di
dalamnya dengan perintah-Nya dan
supaya kamu dapat mencari karunia-Nya serta
supaya kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan bagi kamu apa pun yang ada di seluruh langit
dan di bumi, semuanya
itu dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada Tanda-tanda
bagi kaum yang mau berpikir. (Al-Jatsiyāh [45]:13-14)
Seluruh alam telah diciptakan untuk mengkhidmati manusia. Hal itu
me-nunjukkan bahwa manusia mempunyai
suatu tugas besar yang harus
dilaksanakannya, yakni sebagai khalifah
(wakil) Allah di muka bumi, firman-Nya:
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ تَعٰلٰی عَمَّا
یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ فَاِذَا ہُوَ
خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ وَ
الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ فِیۡہَا دِفۡءٌ
وَّ مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
لَکُمۡ فِیۡہَا جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ تَسۡرَحُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
تَحۡمِلُ اَثۡقَالَکُمۡ اِلٰی بَلَدٍ
لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ اِلَّا
بِشِقِّ الۡاَنۡفُسِ ؕ اِنَّ رَبَّکُمۡ
لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾ وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ
زِیۡنَۃً ؕ وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
عَلَی اللّٰہِ قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ
مِنۡہَا جَآئِرٌ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ لَہَدٰىکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan seluruh langit dan bumi dengan haq, Maha
Tinggi Dia daripada apa yang mereka
persekutukan. خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ فَاِذَا ہُوَ خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ -- Dia telah menjadikan manusia dari setetes
mani maka tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. وَ الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ
فِیۡہَا دِفۡءٌ وَّ مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا تَاۡکُلُوۡنَ -- Dan binatang
ternak pun Dia telah menciptakannya,
kamu memperoleh kehangatan di dalamnya serta manfaat-manfaat lainnya, dan darinya kamu makan. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا
جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ
تَسۡرَحُوۡنَ --Dan di dalamnya
terdapat sarana keindahan bagi kamu, ketika kamu menggiringnya di waktu petang pulang ke kandang dan
ketika kamu melepaskannya di
waktu pagi ke tempat penggembalaan. وَ تَحۡمِلُ
اَثۡقَالَکُمۡ اِلٰی بَلَدٍ لَّمۡ
تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ اِلَّا بِشِقِّ
الۡاَنۡفُسِ -- Dan binatang itu mengangkut muatan kamu ke suatu negeri yang kamu tidak dapat mencapainya kecuali dengan banyak penderitaan bagi diri kamu.
اِنَّ
رَبَّکُمۡ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ -- Sesungguhnya
Rabb
(Tuhan) kamu Maha Penyantun, Maha
Penyayang. وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا
وَ زِیۡنَۃً -- Dan Dia telah menciptakan kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai,
supaya kamu dapat menungganginya, dan juga sebagai
sarana keindahan, وَ یَخۡلُقُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- dan Dia
akan menciptakan apa yang kamu
belum ketahui. وَ عَلَی اللّٰہِ قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا جَآئِرٌ -- Dan hak
Allah menunjukkan jalan yang benar, dan dari antaranya ada yang
menyimpang arah. وَ عَلَی
اللّٰہِ قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا
جَآئِرٌ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ لَہَدٰىکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Dan seandainya
Dia menghendaki, niscaya Dia telah
memberi petunjuk kepada kamu semua. (An-Nahl [16]:4-10).
Ketidak-bersyukuran Manusia
Kepada Allah Swt.
Ungkapan bil-haqqi
(sesuai dengan keperluan-keperluan hikmah) dalam ayat: خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ ؕ تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- “Dia menciptakan
seluruh langit dan bumi dengan haq,
Maha Tinggi Dia daripada apa yang mereka persekutukan“ dapat
diartikan bahwa langit dan bumi masing-masing mempunyai tugas-tugas tertentu dalam kebangkitan kembali keruhanian manusia, sehingga keduanya bersama-sama menimbulkan hasil yang dikehendaki.
Atau
dapat pula diartikan, bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh seluruh langit
dan bumi, supaya dapat berguna untuk mengarahkan perhatian manusia kepada Tuhan, dan supaya manusia dapat
melihat bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak
sempurna kecuali Dia.
Langit memerlukan bumi
untuk melaksanakan tugasnya, dan
begitu pula bumi bergantung pada langit, dan kedua-duanya tunduk kepada kehendak Ilahi. Maka tujuan
penciptaan seluruh langit dan bumi ialah untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna dalam dirinya sendiri kecuali Allah
Swt..
Sesudah
Allah Swt. menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan tata hukum yang pasti, lalu Dia menciptakan
manusia dan menurunkan wahyu-Nya
untuk membimbingnya. Tetapi
kendatipun Dia menciptakan manusia
dari sebuah benih yang kelihatannya hina, dan menganugerahinya kemampuan-kemampuan yang tertinggi, namun ia daripada berbuat sesuai dengan petunjuk yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya, ia malah mulai mempersoalkan kekuasaan-kekuasaan dan hak-hak istimewa-Nya. Itulah makna ayat:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ فَاِذَا ہُوَ
خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ -- “Dia
telah menjadikan manusia dari setetes mani maka tiba-tiba
ia menjadi pembantah yang nyata. ” (An-Nahl [16]:5).
Di mana
Allah Swt. telah menaruh perhatian begitu besar dalam mengadakan persediaan bagi segala keperluan jasmani manusia, maka sejenak
pun akan tidak terlintas dalam pikiran bahwa Dia
seakan-akan telah mengabaikan untuk menyediakan jaminan yang sepadan bagi
keperluan-keperluan ruhaninya,
sebagaimana firman-Nya: وَ اٰتٰىکُمۡ
مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ -- Dan
Dia telah memberikan kepada kamu
segala sesuatu apa yang kamu minta
kepada-Nya, وَ اِنۡ
تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا -- dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu
tidak akan dapat menghitungnya, اِنَّ الۡاِنۡسَانَ
لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ -- sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur (Ibrahim
[14]:35).
Penciptaan Sarana-sarana Transportasi
Baru di Darat, Laut dan Udara & Peran Air
Hujan Bagi Pertumbuhan Pepohonan dan Tumbuhan
Lainnya
Makna firman Allah Swt.: وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- dan Dia
akan menciptakan apa yang kamu
belum ketahui ( An-Nahl [16]:9), kata-kata
itu dapat diartikan, bahwa Allah Swt. akan mewujudkan alat-alat pengangkutan baru yang dahulu masih belum dikenal
manusia.
Nubuatan
itu dengan ajaib sekali telah menjadi
sempurna dalam bentuk kereta api, kapal laut, mobil, pesawat terbang,
dan lain-lainnya. Allah Swt. saja Yang mengetahui alat-alat pengangkutan baru
apa yang masih akan diciptakan lagi
(QS.36:42-44).
Mengenai penundukkan
seluruh langit dan bumi
kepada manusia
selanjutnya Allah Swt. berfirman lagi:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ مِنَ
السَّمَآءِ مَآءً لَّکُمۡ مِّنۡہُ شَرَابٌ
وَّ مِنۡہُ شَجَرٌ فِیۡہِ تُسِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ یُنۡۢبِتُ
لَکُمۡ بِہِ الزَّرۡعَ وَ الزَّیۡتُوۡنَ وَ النَّخِیۡلَ وَ الۡاَعۡنَابَ وَ مِنۡ
کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Dzat Yang menurunkan air bagi kamu dari awan, darinya kamu memperoleh air minum, dan darinya tumbuh pohon-pohonan yang di dalamnya kamu menggembala ternak. Dengan air itu Dia menumbuhkan bagimu tanam-tanaman, zaitun, pohon kurma, anggur,
dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya
dalam yang demikian itu ada Tanda
bagi orang-orang yang mere-nungkan. (An-Nahl
[16]:11-12).
Daya yang
membuat tanaman-tanaman tumbuh, boleh
jadi ada tersembunyi (latent) dalam tanah,
tetapi daya itu tidak bekerja selama
tanah tidak menerima air dari langit. Demikian pula manusia itu dapat memiliki kemampuan-kemampuan sangat luhur yang
ada tertanam dalam dirinya, akan tetapi ia tidak dapat mengembangkan bakat-bakat itu tanpa
pertolongan wahyu Ilahi.
Mendasarkan perkembangan ruhani manusia hanya pada otaknya saja, sama halnya dengan mengatakan, bahwa tanah dapat menumbuhkan tanaman tanpa pertolongan air. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ
سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ۙ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ وَ
النُّجُوۡمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمۡرِہٖ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
مَا ذَرَاَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہٗ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Dia
menundukkan bagi kamu malam dan siang
serta matahari dan bulan, dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam
yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi orang-orang
yang mempergunakan akal. Dan Dia
menundukkan bagi kamu beraneka ragam apa pun
di bumi.
Sesungguhnya dalam yang demikian
itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mengambil pelajaran. (An-Nahl
[16]:13-14).
Hikmah Perbedaan
dan Keaneka-ragaman Ciptaan Allah
Swt.
Salah
satu ciri-ciri khas yang paling ajaib dari ciptaan
Allah Swt. ialah bahwa tidak
ada dua benda atau manusia yang benar-benar serupa. Tanpa adanya perbedaan ini niscaya di muka bumi akan
ada kericuhan dan kekacauan yang sukar dapat digambarkan,
sehingga akan sukarlah untuk membedakan satu benda dari yang lainnya atau seseorang
dari yang lain (QS.30: 23).
Begitu pula demikian besar perbedaan dalam pembawaan
dan watak manusia, sehingga ada di luar kemampuan
manusia untuk menciptakan satu ajaran
yang kiranya dapat cocok untuk semua pembawaan. Tidak ada seorang pun
mempunyai ilmu yang cukup mengenai sifat-sifat beraneka-ragam yang ada
dalam alam.
Hanya Allah Swt. sajalah yang mengetahui perbedaan-perbedaan dan perlainan-perlainan itu, dan karena itu
hanya Dia-lah yang dapat memberikan ajaran
yang dapat selaras dengan dan memberikan faedah kepada semua manusia, sebagaimana air hujan yang sama mampu menumbuhkan
berbagai jenis tananam dengan
beranekaragam bunga dan buah yang dihasilkannya (QS.6:100; QS.13:4-5; QS.16:11-12).
Tiap-tiap dari ketiga kata, yakni yatafakkarūn,
ya’qilūn dan yadzdzakkarūn, yang telah diletakkan pada akhir Surah An-Nahl ayat-ayat ke-12, ke-13,
dan ke-14, masing-masing cocok dengan pokok masalah ayat yang bersangkutan.
Kecuali itu, kata-kata tersebut masing-masing dapat juga dikenakan kepada masalah umum yang dibahas secara
keseluruhan dalam ketiga ayat itu. Dan pemakaian tiap-tiap kata itu pada
tempatnya masing-masing, ditetapkan menurut derajat
kepentingannya.
Manfaat “Merenung”
(Tafakkur)
Kata “renungan” (yatafakkarūn)
itulah yang mula-mula sekali dipergunakan, karena “renungan” itu merupakan alat yang pertama untuk mewujudkan akhlak manusia; dan dari semua sifat
akhlak, “renungan” itulah yang
pertama-tama harus dibangunkan.
Dari kebiasaan merenungkan bersemilah pengertian atau “penggunaan akal” (ya’qilūn) Pada taraf kedua ini manusia mencapai perbaikan akhlaknya. Sesudah itu datang
tahapan ketiga, bila segala godaan telah dapat diatasi sepenuhnya
dan perjuangan akhlak telah berakhir
lalu manusia “mengambil pelajaran” (yadzdzakkarūn) dan menjadi mawas
diri, sehingga beramal shalih
menjadi bagian dari tabiatnya.
Firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ الۡبَحۡرَ
لِتَاۡکُلُوۡا مِنۡہُ لَحۡمًا
طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ
مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ
تَمِیۡدَ بِکُمۡ وَ اَنۡہٰرًا وَّ
سُبُلًا لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ بِالنَّجۡمِ
ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan Dia-lah
Dzat Yang telah menundukkan laut, supaya kamu dapat memakan daging ikan
segar darinya, dan kamu mengeluarkan
darinya benda-benda perhiasan yang kamu memakainya, dan engkau melihat kapal membelah air laut, supaya kamu mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia
telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu, dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat pe-tunjuk. وَ عَلٰمٰتٍ ؕ وَ
بِالنَّجۡمِ ہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ -- Dan Dia
menciptakan tanda-tanda yang
lain, dan dengan bintang-bintang
itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah
yang benar. (An-Nahl
[16]:15-17).
Lautan adalah sebuah sumber yang penting sekali untuk kemanfaatan-kemanfaatan materi (kebendaan)
bagi manusia. Lautan merupakan penampung air yang besar, dari mana matahari memenuhi keperluan kita akan air hujan. Juga lautan merupakan jalan raya
untuk lalu-lintas dan perhubungan dagang, dan menjadi sumber pangan yang penting untuk
manusia.
Namun demikian merupakan kewajiban manusia untuk semakin mengambil manfaat yang lebih besar dari dari "ditundukkan-Nya" alam semesta tersebut melalui upaya-upaya manusia sesuai dengan petunjuk Allah Swt., contohnya dengan membuat kapal-kapal laut, baik sebagai sarana tranportasi laut, untuk menangkap ikan dan untuk keperluan lainnya.
Makna “Ditundukkan-Nya”
Angin Kepada Nabi Sulaiman a.s.
Jadi,
ungkapan kalimat “ditundukkan-Nya
angin” kepada Nabi Sulaiman a.s. dalam berbagai firman Allah Swt. bukan dalam makna harfiah melainkan merupakan ungkapan kiasan mengenai pemanfaatan berbagai keahlian dan pengetahuan yang diperlukan oleh Nabi Sulaiman a.s. sehubungan pembangunan
armada laut, seperti pembuatan kapal
(perahu) serta berbagai perlengkapannya
yang diperlukan, seperti pengetahuan
tentang angin, arus laut, gelombang,
jenis awan serta --
di zaman modern ini -- perlu pengetahuan
mengenai navigasi¸ yakni:
1.
Navigasi duga,
yaitu penentuan posisi kapal di peta laut yang ditentukan berdasarkan penghitungan haluan dan kecepatan kapal.
2.
Navigasi datar,
yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan benda-benda bumi seperti
gunung, tanjung, pulau, dll,
3. Navigasi astronomi,
yaitu penentuan posisi kapal diatas
peta laut yang di tentukan berdasarkan perhitungan
dari penilikan benda-benda Astronomi
seperti bulan, bintang, planet dan matahari.
4. Navigasi elektronik,
yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik. seperti
radio pencari arah (RDF). RADAR, LORAN, DECCA, dan lain-lain.
Ketiga jenis navigasi nomor 1,2 dan 3
tersirat dalam firman Allah Swt. berikut
ini:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً
تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ
الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ
شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ
عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin
itu bertiup atas perintahnya ke arah
daerah yang telah Kami berkati di
dalamnya. Dan Kami Maha
Mengetahui segala sesuatu. Dan kalangan
syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia,
dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu dan Kami-lah
yang menjaga mereka. (Al-Anbiya
[21]:82-83).
Nampaknya kapal-kapal
Nabi Sulaiman a.s. berlayar di teluk
Persia, laut Merah, dan Laut tengah, serta hubungan
dagang yang teratur diadakan di antara Palestina
dan negeri-negeri yang letaknya di sekeliling Teluk Persia dan dua lautan
tersebut (I Raja-raja 10:27-29):
“Bersama-sama dengan Hiram dan Tyre beliau
memelihara sejumlah armada sejumlah
kapal yang mampu mengarungi samudera, berniaga dengan jadwal waktu teratur ke
pelabuhan-pelabuhan di Laut Tengah, membawa mas, perak, gading, monyet, dan
burung-burung merak (I Raja-raja 10:22; 10:27-29; Tawarikh
8:18; Encyclopaedia Britanica
pada kata “Solomon”.
Dalam ayat ini kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat),
sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. karena
para nakhoda
dan awak kapal Nabi Sulaiman a.s.
sangat mahir dalam ilmu pelayaran.
Ada pun mengenai pentingnya pengetahuan navigasi elektronik, yaitu penentuan
posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik seperti radio pencari arah (RDF), RADAR, LORAN,
DECCA, dlsb, hal itu erat hubungannya dengan
dibuatnya kapal-kapal laut yang
menggunakan tenaga mekanik (mesin
penggerak) sebagaimana dinubuatkan
dalam QS.16:9; QS.36:42-43; QS.43:13.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 1 April Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar