Sabtu, 02 April 2016

Dua Macam "Ditundukkan-Nya" Alam Semesta Kepada Manusia: Secara Alami dan Melalui Upaya Manusia & Nubuatan Pembuatan Sarana Transportasi Modern



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


Dua Macam “Ditundukkan-Nya” Alam Semesta Kepada Manusia:  Secara Alami  dan Melalui Upaya Manusia  & Nubuatan  Pembuatan Sarana Transportasi Modern

Bab 12


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna  bertasbihnya dan bertahmidnya para malaikat kepada Allah Swt., yakni mereka semua “menyanjung kesucian Allah Swt. dengan puji-pujian-Nya,”  dan   mereka   semua   melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan  Allah Swt.  kepada mereka, dan dengan demikian menampakkan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan sama sekali bebas dari segala kekurangan, kegagalan, dan kelemahan; dan begitu pulalah hasil karya-Nya, firman-Nya:  
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۚ وَ ہُوَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang Menyanjung  kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, Dia menghidupkan dan  Dia mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Hadīd [57]:1-3).

Makna “Bertasbih” Kepada Allah Swt.

  Sabbaha fī hawā’ijihi artinya:  ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya. Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh menyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya.
Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya  menyatakan bahwa Allah Swt.   itu  jauh dari segala kekurangan atau aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah Swt. dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan “Subhānallāh   -- Maha Suci Allah“ (Lexicon Lane).
 Oleh karena itu makna ayat:  سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  “Menyanjung  kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi,”  berarti bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah Swt.  kepadanya    memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib (menakjubkan),  sehingga kita  mau tidak mau  harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini, sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa seluruh alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karya Allah Swt.  itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.
   Itulah maksud  ungkapan bahwa segala sesuatu  di alam semesta  ini    bertasbih kepada Allah Swt.  dengan puji-pujian-Nya  (QS.17:45; QS.24:42;  QS.572; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2),  demikian juga  para malaikat-Nya, terutama kepada para khalifah (wakil) Allah yakni para rasul Allah, antara lain Nabi Adam a.s. (QS.2:31; QS.39:76; QS.40:8).
  Menurut Allah Swt. semua  yang ada di alam semesta ini  “ditundukkan” untuk mengkhidmati manusia,  tetapi apabila manusia  berlaku ingkar kepada Allah Swt. serta tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt. maka alam semesta yang sebelumnya diperintahkan untuk “berkhidmat” kepada manusia akan berubah menjadi penentang mereka antara lain berupa timbulnya berbagai bentuk azab Ilahi.
  
Makna “Ditundukkan-Nya”  Alam Semesta Untuk  Umat Manusia

   Kembali kepada pembahasan mengenai Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., sehubungan dengan hal tersebut di beberapa tempat dalam Al-Quran,  bukan saja gunung-gunung dan burung-burung,   bahkan semua benda di seluruh langit dan bumi -- seperti matahari, bulan, bintang-kemintang, siang dan malam, margasatwa, unggas, sungai-sungai, angin, gumpalan-gumpalan awan dan sebagainya  -- disebutkan   telah diciptakan untuk mengkhidmati makhluk manusia (2:165; 7:55; 22:38 & 45:13-14), firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ لَکُمۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ  ظَاہِرَۃً  وَّ بَاطِنَۃً ؕ وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یُّجَادِلُ فِی اللّٰہِ  بِغَیۡرِ عِلۡمٍ وَّ لَا ہُدًی وَّ لَا کِتٰبٍ مُّنِیۡرٍ ﴿﴾
Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah telah menundukkan bagi kamu apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi, وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ  ظَاہِرَۃً  وَّ بَاطِنَۃً --  dan Dia telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang tidak nampak?  Dan di antara manusia ada orang-orang yang  berbantah mengenai Allah tanpa pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang terang.  (Luqman [31]:21)
     Kata-kata dalam ayat:  وَ اَسۡبَغَ عَلَیۡکُمۡ نِعَمَہٗ  ظَاہِرَۃً  وَّ بَاطِنَۃً --  dan Dia telah melengkapkan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak atau pun yang tidak nampak?”  Ayat itu dapat mengandung arti semua keperluan manusia — baik jasmani maupun ruhaninya, yang bersifat kebendaan maupun akal-pikiran, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui telah sepenuhnya dipersiapkan (disediakan) Allah Swt., firman-Nya:
اَللّٰہُ  الَّذِیۡ  خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ  الۡفُلۡکَ  لِتَجۡرِیَ فِی  الۡبَحۡرِ  بِاَمۡرِہٖ ۚ وَ  سَخَّرَ  لَکُمُ  الۡاَنۡہٰرَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ ۚ  وَ سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ﴿ۚ﴾ وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Allah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dan  menurunkan air dari awan, lalu Dia mengeluarkan dengan  itu buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu, dan وَ سَخَّرَ لَکُمُ  الۡفُلۡکَ  لِتَجۡرِیَ فِی  الۡبَحۡرِ  بِاَمۡرِہٖ  --   Dia telah menundukkan bagi kamu kapal (perahu)   supaya berlayar di lautan atas perintah-Nya, وَ  سَخَّرَ  لَکُمُ  الۡاَنۡہٰرَ  -- dan Dia telah menundukkan sungai-sungai  bagi kamu.   Dan  Dia telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, kedua-duanya melaksanakan tugasnya dengan dawam (teratur). Dan begitu pun Dia telah menundukkan bagi kamu malam dan siang.    وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ  --  Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا --  dan  jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya,   اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ --  sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur  (Ibrahim [14]:33-35).

Dua Macam “Ditundukkan-Nya” Alam Semesta Kepada Manusia

       “Ditundukkan-Nya” seluruh langit dan bumi kepada manusia ada dua macam, yakni:
    (1)  Yang penundukkan-Nya  sepenuhnya diluar upaya  manusia, atau penundukan secara alami, misalnya peredaran   matahari, bulan, bintang-bintang, pergantian siang dan malam serta perkisaran angin  serta musim (QS.3:191-193);  
      (2) Yang  penundukan-Nya   manusia   -- sampai batas-batas tertentu  -- dapat berperan, contohnya pemanfaatan lautan, danau dan aliran sungai untuk sarana transportasi air  dengan pembuatan perahu  -- baik berupa; rakitperahu dayung, perahu layar mau pun perahu yang digerakkan dengan tenaga mekanik (mesin – QS.16:15-16; QS.36:42-44); atau penundukkan binatang-binatang liar menjadi binatang ternak   sebagai tunggangan (QS.43:13-16) dll, sebagaimana firman-Nya: 
اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰہَ سَخَّرَ لَکُمۡ مَّا فِی الۡاَرۡضِ وَ الۡفُلۡکَ  تَجۡرِیۡ فِی الۡبَحۡرِ بِاَمۡرِہٖ ؕ وَ  یُمۡسِکُ  السَّمَآءَ   اَنۡ تَقَعَ عَلَی الۡاَرۡضِ اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ  لَرَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Tidakkah engkau melihat bahwa  Allah telah menundukkan kepada kamu apa pun yang ada di bumi  dan kapal-kapal yang mengarungi lautan atas perintah-Nya? Dan Dia-lah Yang menahan langit supaya jangan jatuh ke atas bumi, kecuali dengan izin-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Hājj [22]:66). 
        Allah Swt. berfirman lagi mengenai pentingnya pemanfaatan berberbagai SDA (sumber daya alam) yang  terkandung di lautan:
اَللّٰہُ  الَّذِیۡ سَخَّرَ  لَکُمُ  الۡبَحۡرَ  لِتَجۡرِیَ الۡفُلۡکُ فِیۡہِ بِاَمۡرِہٖ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ  وَ لَعَلَّکُمۡ   تَشۡکُرُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ  لَکُمۡ  مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مِّنۡہُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Allah Dia-lah  Yang menundukkan laut kepada kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar di dalamnya dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya serta supaya kamu bersyukur.  Dan Dia telah menundukkan bagi kamu apa pun yang ada di seluruh langit dan di bumisemuanya itu dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.  (Al-Jatsiyāh [45]:13-14)
  Seluruh alam telah diciptakan untuk mengkhidmati manusia. Hal itu me-nunjukkan bahwa  manusia mempunyai suatu tugas besar yang harus dilaksanakannya, yakni sebagai khalifah (wakil) Allah  di muka bumi, firman-Nya:
 خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ تَعٰلٰی عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  فَاِذَا ہُوَ خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾  وَ الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ فِیۡہَا دِفۡءٌ  وَّ  مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ لَکُمۡ فِیۡہَا جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ  تَسۡرَحُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ تَحۡمِلُ اَثۡقَالَکُمۡ  اِلٰی بَلَدٍ لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ   اِلَّا بِشِقِّ الۡاَنۡفُسِ ؕ اِنَّ رَبَّکُمۡ   لَرَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾  وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ زِیۡنَۃً ؕ وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ عَلَی اللّٰہِ  قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا جَآئِرٌ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ لَہَدٰىکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan seluruh langit dan bumi  dengan haq,  Maha Tinggi Dia daripada apa yang mereka persekutukan. خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  فَاِذَا ہُوَ خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ  --  Dia telah menjadikan manusia dari setetes mani  maka tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.  وَ الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ فِیۡہَا دِفۡءٌ  وَّ  مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا  تَاۡکُلُوۡنَ --   Dan  binatang ternak pun Dia telah menciptakannya,  kamu memperoleh  kehangatan di dalamnya serta manfaat-manfaat lainnya, dan darinya kamu makan. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ  تَسۡرَحُوۡنَ --Dan di dalamnya  terdapat sarana keindahan bagi kamu, ketika kamu menggiringnya di waktu petang pulang ke kandang dan ketika kamu melepaskannya di waktu pagi ke tempat penggembalaan. وَ تَحۡمِلُ اَثۡقَالَکُمۡ  اِلٰی بَلَدٍ لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ   اِلَّا بِشِقِّ الۡاَنۡفُسِ  --  Dan  binatang itu mengangkut muatan kamu ke suatu negeri yang kamu tidak dapat mencapainya kecuali dengan banyak penderitaan bagi diri kamu. اِنَّ رَبَّکُمۡ   لَرَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ -- Sesungguhnya  Rabb (Tuhan)  kamu Maha Penyantun, Maha Penyayang. وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ زِیۡنَۃً --   Dan Dia telah menciptakan kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai, supaya kamu dapat  menungganginya, dan juga sebagai sarana keindahan, وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  --   dan Dia akan menciptakan apa yang  kamu belum  ketahui.  وَ عَلَی اللّٰہِ  قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا جَآئِرٌ  --  Dan hak Allah menunjukkan jalan yang benar, dan dari antaranya  ada yang menyimpang arah.  وَ عَلَی اللّٰہِ  قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا جَآئِرٌ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ لَہَدٰىکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Dan  seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia telah memberi petunjuk kepada kamu semua. (An-Nahl [16]:4-10).

Ketidak-bersyukuran Manusia Kepada Allah Swt.

       Ungkapan bil-haqqi (sesuai dengan keperluan-keperluan hikmah) dalam ayat:  خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ تَعٰلٰی عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ -- “Dia menciptakan seluruh langit dan bumi  dengan haq, Maha Tinggi Dia daripada apa yang mereka persekutukan“ dapat diartikan bahwa langit dan bumi masing-masing mempunyai tugas-tugas tertentu dalam kebangkitan kembali keruhanian manusia, sehingga keduanya bersama-sama menimbulkan hasil yang dikehendaki.
       Atau dapat pula diartikan, bahwa Allah Swt.  telah menciptakan seluruh seluruh langit dan bumi, supaya dapat berguna untuk mengarahkan perhatian manusia kepada Tuhan, dan supaya manusia dapat melihat  bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak sempurna kecuali Dia.
     Langit memerlukan bumi untuk melaksanakan tugasnya, dan begitu pula bumi bergantung pada langit, dan kedua-duanya tunduk kepada kehendak Ilahi. Maka tujuan penciptaan seluruh langit dan bumi ialah untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna dalam dirinya sendiri kecuali  Allah Swt..
     Sesudah Allah Swt.  menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan tata hukum yang pasti, lalu Dia menciptakan manusia dan menurunkan wahyu-Nya untuk membimbingnya. Tetapi kendatipun Dia menciptakan manusia dari sebuah benih yang kelihatannya hina, dan menganugerahinya kemampuan-kemampuan yang tertinggi, namun ia daripada berbuat sesuai dengan petunjuk yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya, ia malah mulai mempersoalkan kekuasaan-kekuasaan dan hak-hak istimewa-Nya. Itulah makna ayat: خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  فَاِذَا ہُوَ خَصِیۡمٌ مُّبِیۡنٌ  -- “Dia telah menjadikan manusia dari setetes mani  maka tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. ” (An-Nahl [16]:5).
       Di mana Allah Swt.  telah menaruh perhatian begitu besar dalam mengadakan persediaan bagi segala keperluan jasmani manusia, maka sejenak pun akan tidak terlintas dalam pikiran  bahwa Dia seakan-akan telah mengabaikan untuk menyediakan jaminan yang sepadan bagi keperluan-keperluan ruhaninya, sebagaimana firman-Nya: وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ  --  Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا -- dan  jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya,   اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ --  sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur  (Ibrahim [14]:35).

Penciptaan Sarana-sarana Transportasi Baru di  Darat, Laut dan Udara &  Peran Air Hujan Bagi Pertumbuhan  Pepohonan dan  Tumbuhan Lainnya

        Makna firman Allah Swt.: وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  --   dan Dia akan menciptakan apa yang  kamu belum  ketahui ( An-Nahl [16]:9), kata-kata itu dapat diartikan, bahwa Allah Swt.  akan mewujudkan alat-alat pengangkutan baru yang dahulu masih belum dikenal manusia.
     Nubuatan itu dengan ajaib sekali telah menjadi sempurna dalam bentuk kereta api, kapal laut, mobil, pesawat terbang, dan lain-lainnya. Allah Swt. saja Yang mengetahui alat-alat pengangkutan  baru apa yang masih akan diciptakan lagi (QS.36:42-44).
   Mengenai penundukkan seluruh langit dan bumi  kepada manusia selanjutnya  Allah Swt. berfirman lagi:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لَّکُمۡ  مِّنۡہُ شَرَابٌ وَّ مِنۡہُ  شَجَرٌ  فِیۡہِ تُسِیۡمُوۡنَ ﴿﴾  یُنۡۢبِتُ لَکُمۡ بِہِ الزَّرۡعَ وَ الزَّیۡتُوۡنَ وَ النَّخِیۡلَ وَ الۡاَعۡنَابَ وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾      
Dia-lah Dzat Yang menurunkan air bagi kamu dari awan, darinya kamu memperoleh air minum, dan darinya tumbuh pohon-pohonan yang di dalamnya kamu menggembala ternak.   Dengan air itu Dia menumbuhkan bagimu tanam-tanaman, zaitun,   pohon kurma,   anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang mere-nungkan. (An-Nahl [16]:11-12).
     Daya yang membuat tanaman-tanaman tumbuh, boleh jadi ada tersembunyi (latent) dalam tanah, tetapi daya itu tidak bekerja selama tanah tidak menerima air dari langit. Demikian pula manusia itu dapat memiliki kemampuan-kemampuan sangat luhur yang ada tertanam dalam dirinya, akan tetapi ia tidak dapat mengembangkan bakat-bakat itu tanpa pertolongan wahyu Ilahi.
     Mendasarkan perkembangan ruhani manusia hanya pada otaknya saja, sama halnya dengan mengatakan, bahwa tanah dapat menumbuhkan tanaman tanpa pertolongan air. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ  سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ۙ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ وَ النُّجُوۡمُ  مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمۡرِہٖ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا ذَرَاَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہٗ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  لِّقَوۡمٍ یَّذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan  Dia menundukkan bagi kamu malam dan siang serta  matahari dan  bulan, dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mempergunakan akal.  Dan Dia menundukkan  bagi kamu beraneka ragam  apa pun  di  bumi. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada  Tanda-tanda bagi orang-orang yang mengambil pelajaran. (An-Nahl [16]:13-14).

Hikmah  Perbedaan dan Keaneka-ragaman Ciptaan Allah Swt.

       Salah satu ciri-ciri khas yang paling ajaib dari  ciptaan Allah Swt. ialah  bahwa tidak ada dua benda atau manusia yang benar-benar serupa. Tanpa adanya perbedaan ini niscaya di muka bumi akan ada kericuhan dan kekacauan yang sukar dapat digambarkan, sehingga akan sukarlah untuk membedakan satu benda dari yang lainnya atau seseorang dari yang lain (QS.30: 23).
      Begitu pula  demikian besar perbedaan dalam pembawaan dan watak manusia, sehingga ada di luar kemampuan manusia untuk menciptakan satu ajaran yang kiranya dapat cocok untuk semua pembawaan. Tidak ada seorang pun mempunyai ilmu yang cukup mengenai sifat-sifat beraneka-ragam yang ada dalam alam.
      Hanya Allah  Swt.  sajalah yang mengetahui perbedaan-perbedaan dan perlainan-perlainan itu, dan karena itu hanya Dia-lah yang dapat memberikan ajaran yang dapat selaras dengan dan memberikan faedah kepada semua manusia, sebagaimana air hujan yang sama mampu menumbuhkan berbagai jenis tananam  dengan  beranekaragam  bunga dan buah yang dihasilkannya (QS.6:100; QS.13:4-5; QS.16:11-12).
      Tiap-tiap dari ketiga kata, yakni yatafakkarūn, ya’qilūn dan yadzdzakkarūn, yang telah diletakkan pada akhir Surah An-Nahl ayat-ayat ke-12, ke-13, dan ke-14, masing-masing cocok dengan pokok masalah ayat yang bersangkutan. Kecuali itu, kata-kata tersebut masing-masing dapat juga dikenakan kepada masalah umum yang dibahas secara keseluruhan dalam ketiga ayat itu. Dan pemakaian tiap-tiap kata itu pada tempatnya masing-masing, ditetapkan menurut derajat kepentingannya.

Manfaat “Merenung” (Tafakkur)

     Kata “renungan” (yatafakkarūn) itulah yang mula-mula sekali dipergunakan, karena “renungan” itu merupakan alat yang pertama untuk mewujudkan akhlak manusia; dan dari semua sifat akhlak, “renungan” itulah yang pertama-tama harus dibangunkan.
     Dari kebiasaan merenungkan bersemilah pengertian atau “penggunaan akal” (ya’qilūn)    Pada taraf kedua ini manusia mencapai perbaikan akhlaknya. Sesudah itu datang tahapan ketiga, bila segala godaan telah dapat diatasi sepenuhnya dan perjuangan akhlak telah berakhir lalu manusia “mengambil pelajaran” (yadzdzakkarūn) dan menjadi mawas diri, sehingga beramal shalih menjadi bagian dari tabiatnya. Firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ  الۡبَحۡرَ   لِتَاۡکُلُوۡا  مِنۡہُ لَحۡمًا طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ   تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ  تَمِیۡدَ بِکُمۡ  وَ اَنۡہٰرًا وَّ سُبُلًا  لَّعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ 
Dan  Dia-lah Dzat Yang telah menundukkan laut, supaya kamu dapat memakan daging ikan  segar darinya, dan kamu mengeluarkan darinya benda-benda perhiasan yang kamu memakainya, dan engkau  melihat kapal membelah air laut, supaya kamu mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.   Dan  Dia telah meletakkan gunung-gunung di bumi, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu, dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu mendapat pe-tunjuk. وَ  عَلٰمٰتٍ ؕ وَ  بِالنَّجۡمِ  ہُمۡ  یَہۡتَدُوۡنَ --  Dan Dia  menciptakan tanda-tanda yang lain, dan dengan bintang-bintang itu mereka dapat mengikuti petunjuk arah yang benar. (An-Nahl [16]:15-17).
    Lautan adalah sebuah sumber yang penting sekali untuk kemanfaatan-kemanfaatan materi (kebendaan) bagi manusia. Lautan merupakan penampung air yang besar, dari mana matahari memenuhi keperluan kita akan air hujan. Juga lautan merupakan jalan raya untuk lalu-lintas dan perhubungan dagang, dan menjadi sumber pangan yang penting untuk manusia. 
    Namun  demikian merupakan kewajiban manusia untuk semakin mengambil manfaat yang lebih besar dari dari "ditundukkan-Nya" alam semesta tersebut melalui upaya-upaya manusia sesuai dengan petunjuk Allah Swt., contohnya dengan membuat kapal-kapal laut, baik  sebagai sarana tranportasi laut, untuk menangkap ikan dan untuk keperluan lainnya. 

Makna “Ditundukkan-Nya” Angin Kepada Nabi Sulaiman a.s.

       Jadi,  ungkapan kalimat “ditundukkan-Nya angin” kepada Nabi Sulaiman a.s.  dalam berbagai firman  Allah Swt. bukan dalam makna harfiah  melainkan merupakan ungkapan kiasan  mengenai pemanfaatan berbagai keahlian dan pengetahuan yang diperlukan oleh Nabi Sulaiman a.s. sehubungan  pembangunan  armada laut, seperti pembuatan  kapal (perahu) serta berbagai perlengkapannya yang diperlukan,  seperti  pengetahuan tentang angin, arus laut, gelombang, jenis awan   serta  -- di zaman modern  ini  -- perlu pengetahuan  mengenai   navigasi¸ yakni:
1.     Navigasi duga, yaitu penentuan posisi kapal di peta laut yang ditentukan berdasarkan penghitungan haluan dan kecepatan kapal.
2.     Navigasi datar, yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan benda-benda bumi seperti gunung, tanjung, pulau, dll,
3. Navigasi astronomi, yaitu penentuan posisi kapal diatas peta laut yang di tentukan berdasarkan perhitungan dari penilikan benda-benda Astronomi seperti bulan, bintang, planet dan matahari.
4.  Navigasi elektronik, yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik.     seperti radio pencari arah (RDF). RADAR, LORAN, DECCA, dan lain-lain.
         Ketiga jenis navigasi   nomor 1,2 dan 3 tersirat dalam firman  Allah Swt. berikut ini:
وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ  شَیۡءٍ  عٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.  Dan  kalangan   syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan  pekerjaan lain selain itu  dan Kami-lah yang menjaga  mereka. (Al-Anbiya [21]:82-83).
       Nampaknya kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar di teluk Persia, laut Merah, dan Laut tengah, serta hubungan dagang yang teratur diadakan di antara Palestina dan negeri-negeri yang letaknya di sekeliling Teluk Persia  dan dua lautan tersebut (I Raja-raja 10:27-29):
Bersama-sama dengan Hiram dan Tyre beliau memelihara sejumlah armada  sejumlah kapal yang mampu mengarungi samudera, berniaga dengan jadwal waktu teratur ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Tengah, membawa mas, perak, gading, monyet, dan burung-burung merak (I Raja-raja 10:22; 10:27-29; Tawarikh 8:18;  Encyclopaedia Britanica pada kata “Solomon”.
     Dalam ayat ini kata sifat yang dipakai mengenai angin adalah ashifah (kencang/cepat), sedang dalam QS.38:37 kata sifat itu disebut rukha’ (lembut), yang menunjukkan bahwa sekali pun angin bertiup kencang namun tetap lembut dan tidak mendatangkan kerusakan apa pun kepada kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. karena para  nakhoda dan awak kapal Nabi Sulaiman a.s. sangat mahir dalam ilmu pelayaran.
      Ada pun mengenai pentingnya pengetahuan navigasi elektronik,  yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang di tentukan berdasarkan penilikan yang menggunakan alat-alat elektronik    seperti radio pencari arah (RDF), RADAR, LORAN, DECCA, dlsb, hal itu  erat hubungannya dengan dibuatnya kapal-kapal laut yang menggunakan tenaga mekanik (mesin penggerak) sebagaimana dinubuatkan dalam  QS.16:9; QS.36:42-43; QS.43:13.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 April Maret  2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar