Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Bukti-bukti Kesempurnaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa
yang Berasal dari Allah Swt. & Tujuh Makna Lain Kata Rabb
Bab 19
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai hakikat penolakan
para pemuka kaum di kalangan bangsa Arab terhadap pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran, bahwa hal tersebut bukan
karena Nabi Besar Muhammad saw. bangsa
Arab atau bukan bangsa
Arab, atau bukan karena Al-Quran diwahyukan
Allah Swt. dalam bahasa Arab atau bukan
dalam bahasa Arab, melainkan sudah merupakan Sunnatullah yang berlaku
berkenaan penolakan iblis untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) dalam kisah monumental “Adam, Malaikat, dan Iblis”
(QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:27-43; QS.17: QS.38:78), firman-Nya:
مَا یُقَالُ لَکَ اِلَّا مَا قَدۡ قِیۡلَ لِلرُّسُلِ مِنۡ قَبۡلِکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ لَذُوۡ مَغۡفِرَۃٍ وَّ ذُوۡ عِقَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ
لَوۡ جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak ada sesuatu yang dikatakan terhadap
engkau melainkan apa yang telah
dikatakan terhadap rasul-rasul sebelum engkau. Sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau benar-benar Pemilik pengampunan dan Pemilik siksaan yang pedih. وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ
قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ -- Dan
seandainya Kami men-jadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
ہُدًی وَّ شِفَآءٌ -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ
شِفَآءٌ -- Katakanlah:
”Al-Quran itu bagi orang-orang
yang beriman sebagai petunjuk
dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ
وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan orang-orang
yang tidak beriman dalam telinga mereka
ada sumbatan, dan Al-Quran
itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ
یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Ha Mim – As-Sajdah
[41]:44-45).
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ
وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- “Dan orang-orang
yang tidak beriman dalam telinga mereka
ada sumbatan, dan Al-Quran
itu kebutaan bagi mereka”, bahwa arti
atau makna atau hakikat yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar
bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- “Mereka
akan dipanggil dari suatu tempat
yang amat jauh”, berarti bahwa pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka
akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Ungkapan itu dapat juga berarti
bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya
seperti suara kacau-balau yang
didengar seseorang dari tempat yang sangat jauh.
Kemampuan Berbicara
Sebagai Realitas Dasar Manusia
Kembali kepada penjelasan Masih
Mau’ud a.s. mengapa bahasa Arab bukan saja merupakan induk bahasa-bahasa dari bangsa-bangsa di dunia tetapi juga alasan
mengapa bahasa Arab telah dijadikan bahasa dari wahyu syariat yang terakhir
dan tersempurna yakni Al-Quran
(QS.5:4), beliau bersabda:
“Perlu dikemukakan kalau penelitian atas kaidah-kaidah
alam mendorong kita untuk mengakui bahwa sesuatu yang diciptakan
atau datang dari Tuhan, pastilah akan membawa kita untuk mengakui keberadaan-Nya. Semua itu dibuktikan dari penelitian
atas berbagai spesi (jenis) ciptaan Tuhan. Karena itu jika bahasa Arab memang keluar dari “Mulut” Tuhan Sendiri, maka bahasa itu juga pasti memperlihatkan tanda-tanda tersebut,
sehingga bisa diyakini sepenuhnya
kalau bahasa itu berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, tanpa
intervensi (campur-tangan) upaya manusia.
Segala puji bagi Allah karena bahasa Arab memang menunjukkan tanda-tanda demikian secara jelas dan nyata. Ayat yang menyatakan:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
“Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz-Dzāriyāt [51]:57), menyatakan tujuan pokok dari penciptaan
manusia dengan segala kemampuannya.
Begitu juga kaidah yang sama berlaku
terhadap bahasa Arab sebagai bahasa manusia yang sebenarnya dan yang juga merupakan hasil ciptaan-Nya.
Bisa dimengerti kalau penciptaan wujud manusia belum akan dianggap lengkap jika tidak disertai juga dengan penciptaan kemampuannya untuk berbicara.
Sesungguhnya keindahan dari kemanusiaan adalah kemampuannya berbicara beserta segala ikutannya.
Jadi pengukuhan
bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya juga mengandung arti
bahwa Dia telah menciptakan realitas
kemanusiaan yang berbentuk kemampuan
berbicara, dimana kemampuan ini
beserta semua kemampuan-kemampuan
dan pengamalan lainnya adalah
semata-mata untuk mengkhidmati Wujud-Nya.
Bila
kita renungi tentang apa sebenarnya
yang dimaksud sebagai manusia, akan jelas bahwa ia adalah mahhluk hidup yang sama sekali berbeda dari makhluk hidup lainnya karena kemampuan
berbicaranya itu. Hal ini menjelaskan bahwa kemampuan berbicara merupakan realitas
dasar manusia, sedangkan kemampuan-kemampuan lainnya menjadi hamba dan tunduk kepada kemampuan
tersebut. Karena itu jika ada yang mengatakan bahwa bahasa manusia tidak berasal dari Allah Yang Maha Agung, sama saja dengan mengatakan bahwa fitrat kemanusiaannya juga tidak berasal dari Dia.
Adalah
suatu hal yang pasti bahwa Tuhan adalah Pencipta manusia dan karena itu juga menjadi Guru Yang mengajarnya bicara. Lalu dalam bahasa apa Sang Guru
mengajar manusia, pastinya ditentukan
oleh pertimbangan bahwa bahasa bersangkutan haruslah memadai untuk mengenali Tuhan, dimana kemampuan lain dari manusia melayani dirinya untuk memenuhi tujuan dari ayat:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
“Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku” (Adz- Dzāriyāt
[51]:57), dimana sebagaimana telah dijelaskan hanya bahasa Arab saja yang memenuhi persyaratan
tersebut.
Keluar-biasaan Bahasa Arab
Bahasa
Arab memiliki kemampuan luar biasa
untuk menyampaikan kepada manusia pemahaman
tentang Tuhan, dimana bahasa ini dapat mengungkapkan secara indah dalam kata-kata dasarnya mengenai perbedaan
di antara Sifat-sifat Ilahi yang
terdapat dalam hukum alam. Bahasa ini memperjelas perbedaan yang halus dan tersirat di antara Sifat-sifat
Ilahi serta bukti Ketauhidan-Nya
dalam hukum alam.
Begitu pula berbagai bentuk rancangan Ilahi berkenaan dengan para makhluk-Nya yang dipaparkan secara
indah. Bahasa tersebut menggambarkan secara jelas perbedaan
tersirat di antara Sifat-sifat
dan Fitrat Ilahi di satu sisi, serta
rancangan dan kinerja-Nya di sisi lain, dimana semuanya itu tercermin dalam hukum alam.
Dengan demikian jelas kiranya bahwa Tuhan sejak awal telah dengan sengaja menciptakan bahasa Arab sebagai sarana manifestasi segala Sifat-sifat, kinerja dan rancangan-Nya
serta menggambarkan keselarasan di
antara firman dengan hasil karya-Nya dan sebagai kunci untuk memecahkan segala hal yang berkaitan dengan misteri Ketuhanan.
Kalau kita perhatikan karakteristik agung dan indah
bahasa Arab tersebut, terasa jika bahasa-bahasa lainnya itu gelap dan berkekurangan. Tidak ada bahasa
lain yang memiliki kualitas
seperti yang inheren (melekat) di
dalam bahasa Arab, yaitu bahwa bahasa ini merupakan cermin bagi Sifat-sifat dan petunjuk
Ilahi serta memberikan diagram
rekflektif dari pola-pola alamiah
berbagai aspek Ketuhanan.
Bila kita amati dengan bantuan fikiran
yang waras dan jernih tentang pembagian Sifat-sifat
Ilahi sebagaimana tercermin secara
alamiah dalam buku tentang alam
ini sejak awalnya, kita juga akan menemukan
pembagian yang sama dalam kata-kata
dasar bahasa Arab.
Sebagai contoh, bila kita mengamati
berapa banyak aspek rahmat Ilahi secara
dasarnya dipilah-pilah, maka hukum alam
memberitahukan kepada kita bahwa rahmat-Nya
memiliki dua aspek, yaitu keberadaannya
(eksistensinya) sebelum ada tindakan apa
pun dari diri kita dan yang
keberadaannya muncul setelah upaya kita. Sistem kebijaksanaan secara nyata membuktikan bahwa rahmat Ilahi dimanifestasikan kepada manusia dalam dua aspek sejalan dengan pemilahan dasarnya.
Dua Aspek Rahmat
Ilahi: Rahmān dan Rahīm
Pertama
adalah rahmat yang dimanifestasikan kepada manusia tanpa perlu ada tindakan apa pun dari umat
manusia. Sebagai contoh adalah penciptaan
langit dan bumi, matahari dan bulan, planet-planet, air, udara, api dan segala karunia yang merupakan persyaratan pokok bagi kehidupan dan keselamatan manusia. Tidak diragukan
lagi kalau semua karunia itu
merupakan rahmat bagi manusia semata-mata karena Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya. Semua itu
adalah rahmat yang telah beroperasi sejak sebelum adanya manusia.
Bentuk rahmat yang kedua adalah yang mewujud
karena amal baik manusia. Sebagai
contoh, jika manusia berdoa secara khusyuk maka doanya akan dikabulkan.
Bila ia mengolah tanahnya secara tekun dan menebarkan benihnya, rahmat
Ilahi akan menumbuhkan tanamannya
sehingga menghasilkan panen yang melimpah.
Hasil pengamatan
juga menunjukkan bahwa rahmat Ilahi
selalu menyertai siapa pun yang beramal saleh, tanpa membedakan apakah yang bersangkutan itu
bersifat sekuler atau beragama. Apa pun yang kita kerjakan
sepanjang selaras dengan kaidah-kaidah Tuhan, maka rahmat Ilahi akan menyertai dan menjadikan amalan
kita memberikan hasil.
Kedua bentuk rahmat tersebut demikian esensialnya
sehingga kita tidak mungkin selamat tanpanya. Tidak ada seorang pun yang akan menyangsikan eksistensinya. Keduanya merupakan manifestasi cemerlang yang mendukung keseluruhan pola kehidupan manusia. Kalau sudah diyakini bahwa Allah Yang Maha Agung telah menyebabkan mata air dari dua rahmat
itu mengalir demi menopang dan guna penyempurnaan pohon kehidupan kita, maka sekarang kita akan melihat
bagaimana kedua sumber mata air
tersebut direfleksikan dalam bahasa Arab.
Karena Sifat dari rahmat yang
pertama maka Allah Swt. dalam bahasa Arab disebut sebagai Rahmān
(Maha Pemurah), dan
karena Sifat yang kedua maka Dia disebut sebagai Rahīm (Maha Penyayang). Adalah dengan
tujuan untuk menggambarkan sifat
dari bahasa Arab ini maka kami telah
mengutarakan istilah Rahmān
di awal diskursus (artikel) ini. Karena sifat rahmat menurut pemilahan
dasar terdiri dari dua jenis sebagaimana diatur dalam hukum alam Ilahi,
maka bahasa Arab pun mempunyai dua kata dasar untuk itu.
Kriteria Sifat dan kinerja Ilahi
sebagaimana terdapat dalam hukum alam
tersebut akan sangat membantu seorang pencari kebenaran untuk memahami perbedaan tersirat dalam bahasa
Arab serta untuk menelaah
pemilahan-pemilahan dalam kata-kata
dasar bahasa itu sejalan dengan hukum
alam.
Perbedaan Sinonim Bahasa Arab
Bila ada yang ingin meneliti perbedaan di antara sinonim-sinonim
bahasa Arab, khususnya yang
berkaitan dengan Sifat atau kinerja Tuhan, perhatian kiranya perlu
diarahkan pada pemilahan sifat-sifat
dan kinerja tersebut sebagaimana
yang tercermin dalam hukum alam. Hal ini adalah karena tujuan hakiki dari bahasa Arab ialah mengkhidmati
Ilahiah, dimana tujuan manusia
adalah memahami Allah Yang Maha Kuasa, dan hal ini bisa dicapai dengan cara mengetahui
tujuan dari suatu ciptaan.
Sebagai contoh, seekor lembu diciptakan dengan tujuan sebagai sarana transportasi atau membajak tanah. Kalau kita mengabaikan tujuan tersebut dan menggunakannya sebagai anjing
pemburu maka hewan itu akan gagal dan dianggap tidak berguna. Sebaliknya, bila hewan itu kita gunakan
di ladang menjalankan fungsi yang menjadi tujuannya maka akan terlihat bahwa lembu tersebut memiliki porsi tanggung jawab yang besar dalam sistem pemeliharaan kehidupan manusia.
Singkat kata, nilai sesuatu dinyatakan
oleh kegunaannya dalam menjalankan fungsi tujuan hakikinya.
Tujuan hakiki dari bahasa
Arab adalah untuk menggambarkan
Wujud cemerlang dari semua manifestasi
Ketuhanan. Mengingat pelaksanaan dari tindak yang halus dan tersirat
tersebut serta menjaganya dari
segala kesalahan adalah suatu hal
yang berada di luar kemampuan manusia,
maka Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang telah mewahyukan Al-Quran dalam bahasa Arab karena hanya bahasa ini saja yang memiliki pembedaan tersirat di antara berbagai kata dasar serta konotasi yang luar biasa
kaya dalam kata-kata majemuknya.
Semua kelebihan
bahasa Arab tidak saja diakui oleh para ahli bahasa yang paling terkemuka, tetapi juga menunjukkan ketidak-mampuan manusia mencipta padanannya dalam mengungkapkan
segala kebenaran dan wawasan yang dikandungnya.
Kita telah mempelajari perbedaan di antara Rahmān dan Rahīm dalam Kitab Suci Al-Quran sebagai salah satu contoh dalam diskursus (artikel) kita tentang bahasa Arab ini. Setiap bahasa mengandung banyak sekali sinonim-sinonim, namun sepanjang kita belum memahami perbedaan-perbedaan di
antaranya, dan sepanjang kata-kata tersebut tidak berkaitan
dengan hal-hal mengenai Ketuhanan
dan ajaran keagamaan, rasanya tidak
perlu dihiraukan.
Perlu diingat bahwa manusia tidak dapat mencipta kata-kata dasar tersebut, tetapi
begitu sudah tercipta melalui kekuatan Ilahi maka manusia melalui penelaahannya dapat menemukan pembedaan tersirat yang terkandung dan pemanfaatannya sesuai tujuan.
Sebagai contoh, para ahli tata-bahasa
setelah mempelajari bahasa alamiah
ini menemukan bahwa bahasa itu
merupakan ilustrasi dari sistem tatanannya, dan mereka
selanjutnya memformulasikan tatanan
itu untuk mempermudah pembelajaran
bahasa tersebut.
Begitu juga dengan Al-Quran, melalui penggunaan
setiap kata di tempatnya yang sesuai, telah menggambarkan bagaimana kata-kata
dasar bahasa Arab dapat dimanfaatkan,
bagaimana kata-kata itu telah mengkhidmati Ketuhanan dan betapa halus perbedaan di antaranya.
Beberapa Konotasi
Kata
Bahasa Arab: Rabb
Sekarang mari kita telaah beberapa konotasi dari sebuah kata bahasa Arab yang juga telah kami
pilih dari Al-Quran yaitu kata Rabb.
Kata ini muncul dalam ayat pertama dari Surah pertama dalam Al-Quran dimana
dinyatakan:
اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”
Kitab Lisanul ‘Arab dan Tajul
‘Urus yang merupakan dua buku leksikon
(kamus) bahasa Arab yang paling
dipercaya, telah mengemukakan bahwa kata Rabb mengandung 7 konotasi
yaitu: Malik (Tuan
atau Pemilik), Sayyad (Tuan
atau Penghulu), Mudabbir (Pengatur),
Murabbi (Yang Memelihara/Mendidik), Qayyum (Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri), Mun’im (Pemberi) dan Mutammim (Penyempurna).
Dari 7
konotasi itu, 3 di antaranya berkaitan dengan keagungan Wujud Yang Maha Agung itu sendiri. Salah satunya adalah Malik yang membawa konotasi bahwa Dia
adalah Pemilik alam semesta yang
dapat menggunakannya menurut kehendak-Nya
sendiri dimana kepemilikan-Nya tidak
ada berbagi dengan siapa pun.
Kata ini dalam pengertiannya yang murni tidak dapat diterapkan pada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Kuasa,
karena kendali penuh serta kekuasaan mutlak serta hak yang sempurna tidak mungkin diterapkan kepada siapa pun kecuali Allah Yang
Maha Agung.
Kata Sayyad mengandung konotasi
bahwa terdapat banyak sekali bawahan
yang melayani Wujud bersangkutan
semata-mata karena hasrat dan kepatuhan alamiah. Perbedaan di antara
seorang raja dengan sayyad adalah seorang raja menaklukkan rakyatnya
dengan kekuatan dan disiplin peraturannya, sedangkan pengikut sayyad patuh kepadanya secara sukarela
semata-mata karena kecintaan dan hasrat yang tulus serta menganggapnya sebagai penghulu hanya karena rasa
sayang.
Seorang raja bisa saja dipatuhi
dalam semangat demikian jika ia dalam pandangan
rakyatnya memang dianggap sebagai seorang sayyad.
Kata ini (sayyad) pun tidak bisa digunakan selain kepada Allah Swt., karena kepatuhan yang tulus dan bersemangat
tanpa memperhatikan kepentingan pribadi
tidak mungkin dapat diberikan selain
kepada Allah Swt.. Hanya Dia saja yang kepada-Nya kalbu manusia
bersujud karena hanya Dia itulah
Sumber penciptaan diri mereka.
Karena itulah setiap kalbu secara alamiah bersujud kepada-Nya.
Para penyembah
berhala dan manusia lainnya juga
memiliki hasrat untuk mematuhi sembahannya sebagai wujud Ketauhidan Ilahi, namun mereka gagal karena kekeliruan dan nafsu
yang salah untuk mengenali Sumber Hakiki dari kehidupan, dimana karena kebutaannya mereka telah mengarahkan hasrat mereka kepada benda-benda yang salah. Karena itulah mengapa mereka ada yang menyembah batu, Ramchandra[1], Krishna[2] atau pun Yesus putra Maryam, karena kekeliruan
pandangan yang memandang sembahan
mereka sebagai Tuhan yang benar.
Mereka merusak diri mereka sendiri
dengan menganggap makhluk lain
sebagai Tuhan.
Begitu pula dengan manusia yang mengikuti
nafsunya sendiri dimana mereka telah tersesat
dalam pencarian keruhanian mereka
akan Yang Maha Terkasih dan wujud Sayyad.
Hati mereka sebenarnya juga mencari Wujud
Sayyad yang benar, tetapi karena gagal dalam mengenali hasrat hati mereka yang suci dan murni, akhirnya
mereka menganggap harta kekayaan dan
kesenangan duniawi sebagai sembahannya. Hal ini merupakan kesalahan diri mereka sendiri.
Yang menjadi Pencetus hasrat keruhanian yang sejati serta Sumber murni
dari segala konotasi adalah Wujud Yang berfirman:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
“Dan Aku
sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz-Dzāriyāt
[51]:57).
Dengan kata lain, hanya penyembahan Dia sajalah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia berikut
segala kemampuannya, dimana semua
itu diciptakan agar mampu mengenali dan menyembah Tuhan-nya.
Ayat tersebut mengindikasikan bahwa penciptaan
manusia telah dibekali dengan hasrat pencarian, pengenalan dan kepatuhan
kepada Tuhan. Jika nyatanya manusia
memang tidak dibekali demikian maka
tidak akan ada manusia yang memburu
nafsu, menyembah berhala atau menyembah manusia di dunia ini, karena
semua kekeliruan itu muncul akibat kesalahan dalam mengungkap kebenaran. Hanya
Allah saja yang sebenar-benarnya Sayyad.
Atribut lainnya adalah Mudabbir (Pengatur). Dalam kata itu
terkandung pengertian bahwa semua usaha,
keseluruhan sistem peristiwa di masa lalu serta segala konsekwensi di masa depan berikut pengaturan
segala sesuatu di tempatnya yang sesuai
tanpa kecuali. Atribut ini pun tidak
mungkin dikenakan kepada siapa pun kecuali Tuhan, karena perencanaan
yang sempurna menuntut adanya pengetahuan
tentang segala hal yang tersembunyi
dan hal ini semata-mata hanya milik
Allah Yang Maha Kuasa.
Keempat nama lainnya yaitu Murabbi,
Qayyum,
Mun’im dan Mutammim mengindikasikan karunia yang dilimpahkan
Allah Swt. kepada manusia sebagai berkat dari Sifat Pengendalian, Kepemimpinan
dan Perencanaan yang maha sempurna.
Murabbi berarti Dia Yang memelihara, dimana pemeliharaan
yang sempurna mencakup semua aspek kemanusiaan seperti jiwa, raga, fitrat dan kemampuan. Adapun sistem pemeliharaan itu tentunya berlanjut sampai tingkat puncak
dari kemajuan manusia dalam jasmani dan keruhanian.
Manifestasi titik awal dimana kemanusiaan
bermula dan ciri-cirinya bergerak
dari titik ketiadaan menuju eksistensi (berwujud) juga termasuk
dalam fungsi memelihara ini. Hal
tersebut memperlihatkan bahwa kosa-kata rububiyyat dalam bahasa Arab
memiliki konotasi yang luas sekali karena mencakup keseluruhan
dari titik ketiadaan sampai klimaks kesempurnaan. Nama-nama Sang Maha Pencipta dan sejenisnya
merupakan turunan dari kata Rabb.
Adapun Qayyum berarti Wujud Yang
menjaga keseluruhan sistem, sedangkan
Mun’im adalah Wujud Yang menurunkan semua karunia bagi manusia dan segala makhluk,
sejalan dengan kapasitas dan hasrat mereka agar dapat mencapai klimaks (puncak) sebagaimana dinyatakan
ayat:
رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ ثُمَّ
ہَدٰی
“Rabb (Tuhan)
kami ialah Dia Yang memberikan
kepada segala sesuatu bentuk yang serasi
dan kemudian Dia memberi petunjuk
kepadanya untuk melaksanakan
tugasnya yang murni (Thā Hā [20]:51).
Berarti setiap makhluk telah diberikan
semua fitrat yang diperlukan serta disediakan petunjuk guna mencapai klimaks (puncak) kesempurnaan.
Kata Mutammim mengandung pengertian bahwa sistem kemurahan hati Tuhan tidak akan mengandung cacat sedikit pun serta akan membawa kepada kesempurnaan dalam semua aspeknya.
Jadi kata Rabb di atas
mengandung semua bentuk konotasi
sebagaimana diuraikan secara singkat.
Dengan sedih hati kami terpaksa
mengemukakan adanya seorang penulis
Eropa Kristiani yang secara tolol,
dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa agama
Kristen memiliki keunggulan di
atas agama Islam karena mereka
menggunakan istilah ‘Bapak’ bagi Tuhan, yang menurut mereka adalah suatu
istilah yang cantik dan terkesan akrab, dimana nama ini tidak ada digunakan dalam Al-Quran.
Mengherankan bahwa si kritikus ini tidak mempertimbangkan
pengertian keagungan dan kebesaran dari istilah ‘Bapak’ dari leksikon (kamus bahasa) yang ada, karena kita baru bisa menghargai setiap kata jika jelas
pengertiannya, sedangkan pengertian
di luar leksikon tentunya tidak absah.
Berdasarkan hal itu juga maka firman Tuhan tidak mengabaikan leksikon, sehingga seorang yang waras
fikirannya tentunya merujuk terlebih dahulu kepada leksikon sebelum menetapkan posisi
suatu kata. Dengan memperhatikan kriteria tersebut, dari pengamatan kami ditemukan bahwa leksikon ada mengungkapkan kalau seseorang dilahirkan dari benih seorang lainnya dimana sang pemilik
benih ini kemudian tidak lagi mempunyai hubungan langsung dengan kelahiran
yang bersangkutan maka dikatakan bahwa orang itu adalah bapaknya.
Jika yang dimaksudkan untuk menggambarkan
bahwa Allah Yang Maha Perkasa
sebagai Wujud Yang mencipta seseorang secara sadar dan Dia sendiri yang akan membimbingnya ke arah kesempurnaan, dimana berdasar Sifat Pemurah-Nya Dia melimpahkan karunia yang sepadan kepadanya serta Dia menjadi Maha Penjaga dan Maha
Pemelihara, yang jelas leksikon
tidak ada mengatur bahwa konotasi
seperti itu boleh diekspresikan dengan kata ‘Bapak.’
Leksikon
memberikan istilah lain untuk ekspresi konsep seperti itu yaitu
perkataan Rabb, yang maknanya telah diuraikan di atas
berdasarkan penjelasan leksikon.
Kita tentunya tidak bisa menciptakan leksikon
sendiri dan sepatutnya mengikuti pemilahan
kata sebagaimana yang telah ditetapkan
oleh Allah Yang Maha Agung dari
sejak awalnya.
Penghinaan Istilah “Bapak”
bagi Tuhan (Allah Swt.)
Dari sini jelas kiranya bahwa penggunaan
kata ‘Bapak’ bagi Tuhan merupakan suatu penghinaan dan sikap tidak menghormati Wujud-Nya. Mereka
yang mengarang cerita bahwa Yesus
terbiasa menyebut Allah Yang Maha Kuasa
sebagai ‘Bapak’ -- dan bahkan
meyakini kalau Tuhan adalah bapak (ayah) beliau -- sesungguhnya
telah melakukan kesalahan memfitnah
beliau dengan suatu pelanggaran keji
yang palsu.
Bisakah seseorang yang waras membayangkan bahwa Yesus akan melakukan ketololan
seperti itu terhadap Allah Yang Maha
Luhur, yaitu menerapkan suatu kata yang menurut etimologi (ilmu akar kata) bermakna
demikian rendah, menghina dan mensiratkan kelemahan dari sudut pandang mana pun?
Kata ‘Ab’ (bapak) bermakna demikian rendah dan menghina
dimana tidak ada tersirat fitrat
kecintaan, pemeliharaan atau perencanaan di dalamnya. Sebagai
contoh, seekor kambing jantan yang mengawini betinanya untuk melepaskan benih-benihnya, atau seekor banteng yang melepaskan nafsunya kepada seekor sapi betina untuk kemudian meninggalkannya tanpa memikirkan kemungkinan akan lahir anak sapi dari tindakannya itu, atau juga seperti babi yang selalu secara berulangkali sibuk melepas nafsunya tanpa memikirkan bahwa dari tindakannya itu akan lahir sekumpulan
anak babi yang akan menyebar di muka bumi, tanpa diragukan lagi para jantan
seperti itu disebut sebagai bapak
mereka.
Berdasarkan semua leksikon yang ada, perkataan ‘bapak’
tidak ada mensiratkan bahwa seorang bapak setelah melepas bibitnya lalu melakukan tindakan lainnya guna memastikan agar lahir seorang bayi, atau hal itu memang telah ia rencanakan saat melakukan persetubuhan.
Malah sebenarnya kata ‘bapak’ dalam leksikon tidak ada menggambarkan keinginan yang bersangkutan mempunyai keturunan karena implikasi
yang dimunculkan hanyalah tentang ia
melepaskan bibitnya saja. Karena itu bagaimana mungkin menggunakan kata yang demikian rendahnya terhadap Wujud
Yang Maha Kuasa, yang semua hasil kinerja-Nya merupakan cerminan
dari Perencanaan, Pengetahuan dan Kekuasaan-Nya yang sempurna?
Bagaimana dapat dibenarkan suatu kata yang bisa digunakan terhadap seekor sapi atau babi, juga digunakan terhadap Allah
Yang Maha Agung? Alangkah jahatnya
tindakan yang terus saja dilakukan oleh umat
Kristen yang bodoh itu. Mereka
terkesan tidak mempunyai rasa malu, kepantasan atau pun pengertian
tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Akidah penebusan telah melumpuhkan fitrat manusiawi mereka sehingga mereka
jadinya tidak lagi punya perasaan.
Makna Istilah Arab dan Ajam
Kita rasanya perlu menyimak keraguan yang dikemukakan oleh Max Muller[3] dalam jilid pertama
bukunya yang berjudul “Science of Languages” dimana ia mengatakan:
“Salah satu faktor yang menghambat kemajuan pengetahuan adalah karena kelakuan kelompok orang yang karena ingin mempermalukan orang lain, lalu menggunakan nama panggilan mencemoohkan, dengan akibat mereka tidak mampu memahami bahasa mereka yang dihinakan itu.
Sepanjang kata liar dan tolol (ajami) seperti yang diterapkan pada kelompok tersebut tidak dihapus dari kamus
bahasa manusia, untuk digantikan dengan kata ‘saudara’, dan sepanjang belum ada
pengakuan bahwa umat manusia
sesungguhnya adalah satu spesi
(jenis makhluk) yang sama maka tidak akan ada awal permulaan dari pengetahuan mengenai bahasa-bahasa.”
Pernyataan di atas menunjukkan kalau si pengarang ini bersifat kritis terhadap bahasa
Arab dan membayangkan bahwa ekspresi
kata Ajam (bangsa
asing/bukan bangsa Arab) seperti diterapkan kepada mereka yang tidak berbahasa Arab, adalah karena adanya pelecehan dan kefanatikan
pandangan terhadap mereka.
Ia melakukan kesalahan ini karena kefanatikan
Kristiani dirinya telah menghalanginya memahami
istilah Ajam dan Arab itu apakah hasil ciptaan manusia ataukah berasal dari Allah Swt.. Ia sendiri mengakui dalam bukunya kalau manusia tidak memiliki kemampuan merumuskan kata-kata dasar
suatu bahasa dengan kemampuan sendiri.
Bahasa
Arab memiliki dua kata yang
saling terkait. Yang satu adalah Arab, yang berkonotasi kefasihan dan penguasaan pengungkapan ekspresi, sedangkan yang lainnya adalah Ajam yang bermakna tidak fasih dan berlidah
kelu. Jika Max Muller menganggap
bahwa kedua kata itu bukan berasal
dari zaman purba dan Islam menciptanya hanya karena rasa kefanatikan, maka mestinya ia
mampu menspesifikasikan istilah asli yang digunakan dalam konotasi tersebut, karena tidak mungkin jika tidak ada kaitannya dengan masa-masa terdahulu.
Kalau ternyata terbukti bahwa kedua ekspresi tersebut memang sudah demikian dari zaman purba, berarti kata-kata itu bukan merupakan hasil ciptaan
manusia melainkan ciptaan Yang Maha
Mengetahui, Yang telah mencipta manusia dengan fitrat yang berbeda-beda
dimana Dia Sendiri menerapkan kedua kata
itu kepada berbagai bangsa, sejalan
dengan kemampuan mereka masing-masing.
Pandangan yang menyatakan bahwa kedua ekspresi yaitu Arab dan Ajam tersebut telah diciptakan oleh
beberapa orang hanya karena rasa fanatik
dan memandang rendah orang lain,
jelas bertentangan dengan fakta serta dusta adanya.
Kami telah mengemukakan dalam buku ini bahwa kata Arab
menggambarkan suatu realitas
(kenyataan/fakta), dan memang benar adanya kalau bahasa Arab karena sistemnya
tentang kata-kata dasar dan strukturnya yang halus serta keindahan-keindahan lainnya, menduduki posisi demikian tinggi sehingga membuat orang terpaksa harus mengakui
bahwa jika dibandingkan maka bahasa lainnya itu terkesan dungu.
Belum lagi dari pengamatan kami terkesan
bahwa bahasa-bahasa lain itu bersifat kaku seperti benda-benda solid dan tidak mempunyai gerak ke arah perkembangan, laiknya sesuatu yang
sudah mati, sehingga harus dikatakan bahwa bahasa tersebut menduduki posisi yang amat rendah.
Bahasa Arab menyebut mereka yang non-Arab
secara sopan dengan kata Ajam, padahal
sebenarnya mereka itu pun tidak pantas
mendapat gelar tersebut. Deskripsi
yang paling tepat dari kondisi rendah bahasa-bahasa mereka itu
adalah sebagai bahasa-bahasa mati.” (Minanur
Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. IX, hlm. 145-161, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sungguh agung bahasa Arab, betapa cantik
perwujudannya dengan jubah yang cemerlang. Bumi telah menjadi lebih
terang berkat nurnya yang agung dan
terbukti kalau bahasa ini telah merangkum hasrat tertinggi manusia. Di
dalamnya ditemui berbagai keajaiban Yang
Maha Bijaksana dan Maha Kuasa, sebagaimana dapat dilihat dalam segala
hal yang berasal dari Sang Maha Pencipta.
Allah
telah menyempurnakan keseluruhan kerangkanya dalam keindahan dan kecemerlangan, dimana tidak ada yang meragukan kesempurnaan ekspresi yang mencakup
semua harapan manusia. Tidak ada satu tindakan pun, atau Sifat-sifat Allah Swt., atau akidah manusia yang tidak ada akar katanya dalam bahasa
Arab.” Minanur
Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. IX, hlm. 193-194).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 12 April 2016
[1]
Salah
satu dewa yang banyak disembah umat H indu dan dianggap sebagai inkarnasi
ketujuh 3 dari dewa Wisynu. Namanya digunakan juga sebagai ucapan salam di
antara para penganutnya (Ram! Ram!). Di sini lebih dikenal dengan nama Sri
Rama. (Penterjemah/ Khalid.
A.Qoyum).
[2]
Dewa
lain yang juga disembah banyak umat Hindu dan dianggap sebagai inkarnasi
kedelapan dari dewa Wishnu. Dewa ini digambarkan sebagai seorang penggembira
dan pecinta wanita, sedangkan Ramchandra
dianggap sebagai tokoh yang lebih serius, lurus dan jujur. (Penterjemah/
Khalid. A.Qoyum).
[3]
Friedric
Max Muller, 1823 - 1900, seorang ahli bahasa dan orientalis bangsa Jerman
yang hasil karyanya telah merangsang
minat orang akan bidang linguistik, mithologi dan keagamaan. Karya
monumentalnya adalah 51 jilid buku The Sacred Books of the East yang
disusun sejak 1879 dan selesai 1904. (Penterjemah/Khalid A. Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar