Selasa, 12 April 2016

Bukti-bukti Kesempurnaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa yang Berasal dari Allah Swt. & Tujuh Makna Lain Kata "Rabb"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


Bukti-bukti Kesempurnaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa yang Berasal dari Allah Swt.  & Tujuh Makna Lain   Kata Rabb   

Bab 19


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai hakikat  penolakan para pemuka kaum di kalangan bangsa Arab terhadap pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran,  bahwa hal tersebut    bukan karena Nabi Besar Muhammad saw. bangsa Arab atau bukan  bangsa Arab,  atau bukan karena Al-Quran diwahyukan Allah Swt. dalam bahasa Arab  atau bukan dalam bahasa Arab,  melainkan sudah merupakan Sunnatullah  yang berlaku berkenaan penolakan iblis untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah)  dalam kisah monumental “Adam, Malaikat, dan Iblis” (QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:27-43; QS.17: QS.38:78), firman-Nya:
مَا یُقَالُ  لَکَ اِلَّا مَا قَدۡ قِیۡلَ  لِلرُّسُلِ مِنۡ قَبۡلِکَ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ لَذُوۡ مَغۡفِرَۃٍ  وَّ ذُوۡ عِقَابٍ  اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak ada sesuatu yang dikatakan terhadap engkau melainkan apa yang telah dikatakan terhadap rasul-rasul sebelum engkau. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau benar-benar Pemilik pengampunan dan Pemilik siksaan yang pedih.  وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ   --  Dan seandainya Kami men-jadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan?  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  -- Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.”  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  --  Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.   (Ha MimAs-Sajdah [41]:44-45).
 Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی  -- “Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka”,  bahwa arti atau makna atau hakikat yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka.
  Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  --  “Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh, berarti bahwa pada Hari Pembalasan orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang sangat jauh.

Kemampuan Berbicara Sebagai Realitas Dasar Manusia

       Kembali kepada  penjelasan Masih Mau’ud a.s.   mengapa bahasa Arab bukan saja merupakan induk bahasa-bahasa  dari   bangsa-bangsa di dunia tetapi juga alasan mengapa bahasa Arab telah dijadikan bahasa dari wahyu syariat yang terakhir dan tersempurna yakni Al-Quran (QS.5:4), beliau bersabda:
      “Perlu dikemukakan kalau penelitian atas kaidah-kaidah alam mendorong kita untuk mengakui bahwa sesuatu yang diciptakan atau datang dari Tuhan, pastilah akan membawa kita untuk mengakui keberadaan-Nya. Semua itu dibuktikan dari penelitian atas berbagai spesi (jenis) ciptaan Tuhan. Karena itu jika bahasa Arab memang keluar dari “Mulut” Tuhan Sendiri, maka bahasa itu juga pasti memperlihatkan tanda-tanda tersebut, sehingga bisa diyakini sepenuhnya kalau bahasa itu berasal dari Allah Yang Maha Kuasa,  tanpa intervensi  (campur-tangan) upaya  manusia.
     Segala puji bagi Allah karena bahasa Arab memang menunjukkan tanda-tanda demikian secara jelas dan nyata. Ayat yang menyatakan:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
“Dan  Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz-Dzāriyāt [51]:57), menyatakan tujuan pokok dari penciptaan manusia dengan segala kemampuannya. Begitu juga kaidah yang sama berlaku terhadap bahasa Arab sebagai bahasa manusia yang sebenarnya dan yang juga merupakan hasil ciptaan-Nya.
        Bisa dimengerti kalau penciptaan wujud manusia belum akan dianggap lengkap jika tidak disertai juga dengan penciptaan kemampuannya untuk berbicara. Sesungguhnya keindahan dari kemanusiaan adalah kemampuannya berbicara beserta segala ikutannya.
       Jadi pengukuhan bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya juga mengandung arti bahwa Dia telah menciptakan realitas kemanusiaan yang berbentuk kemampuan berbicara, dimana kemampuan ini beserta semua kemampuan-kemampuan dan pengamalan lainnya adalah semata-mata untuk mengkhidmati Wujud-Nya.
       Bila kita renungi tentang apa sebenarnya yang dimaksud sebagai manusia, akan jelas bahwa ia adalah mahhluk hidup yang sama sekali berbeda dari makhluk hidup lainnya karena kemampuan berbicaranya itu. Hal ini menjelaskan bahwa kemampuan berbicara merupakan realitas dasar   manusia, sedangkan kemampuan-kemampuan lainnya menjadi hamba dan tunduk kepada kemampuan tersebut. Karena itu jika ada yang mengatakan bahwa bahasa manusia tidak berasal dari Allah Yang Maha Agung, sama saja dengan mengatakan bahwa fitrat kemanusiaannya juga tidak berasal dari Dia.
         Adalah suatu hal yang pasti bahwa Tuhan adalah Pencipta manusia dan karena itu juga menjadi Guru Yang mengajarnya bicara. Lalu dalam bahasa apa Sang Guru mengajar manusia, pastinya ditentukan oleh pertimbangan bahwa bahasa bersangkutan haruslah memadai untuk mengenali Tuhan, dimana kemampuan lain dari manusia melayani dirinya untuk memenuhi tujuan dari ayat:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
“Dan  Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz- Dzāriyāt [51]:57), dimana sebagaimana telah dijelaskan hanya bahasa Arab saja yang memenuhi persyaratan tersebut.

Keluar-biasaan Bahasa Arab

      Bahasa Arab memiliki kemampuan luar biasa untuk menyampaikan kepada manusia pemahaman tentang Tuhan, dimana bahasa ini dapat mengungkapkan secara indah dalam kata-kata dasarnya mengenai perbedaan di antara Sifat-sifat Ilahi yang terdapat dalam hukum alam. Bahasa ini memperjelas perbedaan yang halus dan tersirat di antara Sifat-sifat Ilahi serta bukti Ketauhidan-Nya dalam hukum alam.
      Begitu pula berbagai bentuk rancangan Ilahi berkenaan dengan para makhluk-Nya yang dipaparkan secara indah. Bahasa tersebut menggambarkan secara jelas perbedaan tersirat di antara Sifat-sifat dan Fitrat Ilahi di satu sisi, serta rancangan dan kinerja-Nya di sisi lain, dimana semuanya itu tercermin dalam hukum alam.     
      Dengan demikian jelas kiranya bahwa Tuhan sejak awal telah dengan sengaja menciptakan bahasa Arab sebagai sarana manifestasi segala Sifat-sifat, kinerja dan rancangan-Nya serta menggambarkan keselarasan di antara firman dengan hasil karya-Nya dan sebagai kunci untuk memecahkan segala hal yang berkaitan dengan misteri Ketuhanan.
       Kalau kita perhatikan karakteristik agung dan indah bahasa Arab tersebut, terasa jika bahasa-bahasa lainnya itu gelap dan berkekurangan. Tidak ada bahasa lain yang memiliki kualitas seperti yang inheren (melekat) di dalam bahasa Arab, yaitu bahwa bahasa ini merupakan cermin bagi Sifat-sifat dan petunjuk Ilahi serta memberikan diagram rekflektif dari pola-pola alamiah berbagai aspek Ketuhanan.
       Bila kita amati dengan bantuan fikiran yang waras dan jernih tentang pembagian Sifat-sifat Ilahi sebagaimana tercermin secara alamiah dalam buku tentang alam ini sejak awalnya, kita juga akan menemukan pembagian yang sama dalam kata-kata dasar  bahasa Arab.
       Sebagai contoh, bila kita mengamati berapa banyak aspek rahmat Ilahi secara dasarnya dipilah-pilah, maka hukum alam memberitahukan kepada kita bahwa rahmat-Nya memiliki dua aspek,  yaitu keberadaannya (eksistensinya) sebelum ada tindakan apa pun dari diri kita dan yang keberadaannya muncul setelah upaya kita. Sistem kebijaksanaan secara nyata membuktikan bahwa rahmat Ilahi dimanifestasikan kepada manusia dalam dua aspek sejalan dengan pemilahan dasarnya.

Dua Aspek Rahmat Ilahi: Rahmān dan Rahīm

      Pertama adalah rahmat yang dimanifestasikan kepada manusia tanpa perlu ada tindakan apa pun dari umat manusia. Sebagai contoh adalah penciptaan langit dan bumi, matahari dan bulan, planet-planet, air, udara, api dan segala karunia yang merupakan persyaratan pokok bagi kehidupan dan keselamatan manusia. Tidak diragukan lagi kalau semua karunia itu merupakan rahmat bagi manusia semata-mata karena Sifat Pemurah dan Penyayang-Nya.  Semua itu adalah rahmat yang telah beroperasi sejak sebelum adanya manusia.
      Bentuk rahmat yang kedua adalah yang mewujud karena amal baik manusia. Sebagai contoh, jika manusia berdoa secara khusyuk maka doanya akan dikabulkan. Bila ia mengolah tanahnya secara tekun dan menebarkan benihnya, rahmat Ilahi akan menumbuhkan tanamannya sehingga menghasilkan panen yang melimpah.
        Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa rahmat Ilahi selalu menyertai siapa pun yang beramal saleh, tanpa membedakan apakah yang bersangkutan itu bersifat sekuler atau beragama. Apa pun yang kita kerjakan sepanjang selaras dengan kaidah-kaidah Tuhan, maka rahmat Ilahi akan menyertai dan menjadikan amalan kita memberikan hasil.
      Kedua bentuk rahmat tersebut demikian esensialnya  sehingga kita tidak mungkin selamat tanpanya. Tidak ada seorang pun yang akan menyangsikan eksistensinya. Keduanya merupakan manifestasi cemerlang yang mendukung keseluruhan pola kehidupan manusia. Kalau sudah diyakini bahwa Allah Yang Maha Agung telah menyebabkan mata air dari dua rahmat itu mengalir demi menopang dan guna penyempurnaan pohon kehidupan kita, maka sekarang kita akan melihat bagaimana kedua sumber mata air tersebut direfleksikan dalam bahasa Arab.
      Karena Sifat dari rahmat yang pertama maka Allah Swt. dalam bahasa Arab disebut sebagai Rahmān (Maha Pemurah), dan karena Sifat yang kedua maka Dia disebut sebagai Rahīm (Maha Penyayang). Adalah dengan tujuan untuk menggambarkan sifat dari bahasa Arab ini maka kami telah mengutarakan istilah  Rahmān di awal diskursus (artikel) ini. Karena sifat rahmat menurut pemilahan dasar terdiri dari dua jenis sebagaimana diatur dalam hukum alam Ilahi, maka bahasa Arab pun mempunyai dua kata dasar untuk itu.
      Kriteria Sifat dan kinerja Ilahi sebagaimana terdapat dalam hukum alam tersebut akan sangat membantu seorang pencari kebenaran untuk memahami perbedaan tersirat dalam bahasa Arab serta untuk menelaah pemilahan-pemilahan dalam kata-kata dasar bahasa itu sejalan dengan hukum alam.

Perbedaan Sinonim Bahasa Arab

      Bila ada yang ingin meneliti perbedaan di antara sinonim-sinonim bahasa Arab,  khususnya yang berkaitan dengan Sifat atau kinerja Tuhan, perhatian kiranya perlu diarahkan pada pemilahan sifat-sifat dan kinerja tersebut sebagaimana yang tercermin dalam hukum alam. Hal ini adalah karena tujuan hakiki dari bahasa Arab ialah mengkhidmati Ilahiah, dimana tujuan manusia adalah memahami Allah Yang Maha Kuasa,  dan hal ini bisa dicapai dengan cara mengetahui tujuan dari suatu ciptaan.
      Sebagai contoh, seekor lembu diciptakan dengan tujuan sebagai sarana transportasi atau membajak tanah.   Kalau kita mengabaikan tujuan tersebut dan menggunakannya sebagai anjing pemburu maka hewan itu akan gagal dan dianggap tidak berguna. Sebaliknya, bila hewan itu kita gunakan di ladang menjalankan fungsi yang menjadi tujuannya maka akan terlihat bahwa lembu tersebut memiliki porsi tanggung jawab yang besar dalam sistem pemeliharaan kehidupan manusia.
      Singkat kata, nilai sesuatu dinyatakan oleh kegunaannya dalam menjalankan fungsi tujuan hakikinya. Tujuan hakiki dari  bahasa Arab adalah untuk menggambarkan Wujud cemerlang dari semua manifestasi Ketuhanan.   Mengingat pelaksanaan dari tindak yang halus dan tersirat tersebut serta menjaganya dari segala kesalahan adalah suatu hal yang berada di luar kemampuan manusia, maka Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang telah mewahyukan Al-Quran dalam bahasa Arab karena hanya bahasa ini saja yang memiliki pembedaan tersirat di antara berbagai kata dasar serta konotasi yang luar biasa kaya dalam kata-kata majemuknya.
       Semua kelebihan   bahasa Arab tidak saja diakui oleh para ahli bahasa yang paling terkemuka, tetapi juga menunjukkan ketidak-mampuan manusia mencipta padanannya dalam mengungkapkan segala kebenaran dan wawasan yang dikandungnya.
       Kita telah mempelajari perbedaan di antara Rahmān dan Rahīm dalam Kitab Suci Al-Quran sebagai salah satu contoh dalam diskursus (artikel) kita tentang bahasa Arab ini. Setiap bahasa mengandung banyak sekali sinonim-sinonim, namun sepanjang kita belum memahami perbedaan-perbedaan di antaranya,  dan sepanjang kata-kata tersebut tidak berkaitan dengan hal-hal mengenai Ketuhanan dan ajaran keagamaan, rasanya tidak perlu dihiraukan.
      Perlu diingat bahwa manusia tidak dapat mencipta kata-kata dasar tersebut, tetapi begitu sudah tercipta melalui kekuatan Ilahi maka manusia melalui penelaahannya dapat menemukan pembedaan tersirat yang terkandung dan pemanfaatannya sesuai tujuan. Sebagai contoh, para ahli tata-bahasa setelah mempelajari bahasa alamiah ini menemukan bahwa bahasa itu merupakan ilustrasi dari sistem tatanannya, dan mereka selanjutnya memformulasikan tatanan itu untuk mempermudah pembelajaran bahasa tersebut.
       Begitu juga dengan Al-Quran, melalui penggunaan setiap kata di tempatnya yang sesuai, telah menggambarkan bagaimana kata-kata dasar bahasa Arab dapat dimanfaatkan, bagaimana kata-kata itu telah mengkhidmati Ketuhanan dan betapa halus perbedaan di antaranya.

Beberapa Konotasi   Kata Bahasa Arab:  Rabb

     Sekarang mari kita telaah beberapa konotasi dari sebuah kata bahasa Arab yang juga telah kami pilih dari Al-Quran yaitu kata Rabb. Kata ini muncul dalam ayat pertama dari Surah pertama dalam Al-Quran dimana dinyatakan:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”
      Kitab Lisanul ‘Arab dan Tajul ‘Urus yang merupakan dua buku leksikon (kamus) bahasa Arab yang paling dipercaya, telah mengemukakan bahwa kata Rabb mengandung 7 konotasi yaitu: Malik (Tuan atau Pemilik), Sayyad (Tuan atau Penghulu), Mudabbir (Pengatur), Murabbi (Yang Memelihara/Mendidik), Qayyum (Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri), Mun’im (Pemberi) dan Mutammim (Penyempurna).
      Dari 7 konotasi itu, 3 di antaranya berkaitan dengan keagungan Wujud Yang Maha Agung itu sendiri. Salah satunya adalah Malik yang membawa konotasi bahwa Dia adalah Pemilik alam semesta yang dapat menggunakannya menurut kehendak-Nya sendiri dimana kepemilikan-Nya tidak ada berbagi dengan siapa pun.
        Kata ini dalam pengertiannya yang murni tidak dapat diterapkan pada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Kuasa,  karena kendali penuh serta kekuasaan mutlak serta hak yang sempurna tidak mungkin diterapkan kepada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Agung.
      Kata Sayyad mengandung konotasi bahwa terdapat banyak sekali bawahan yang melayani Wujud bersangkutan semata-mata karena hasrat dan kepatuhan alamiah. Perbedaan di antara seorang raja dengan sayyad adalah seorang raja menaklukkan rakyatnya dengan kekuatan dan disiplin peraturannya, sedangkan pengikut sayyad patuh kepadanya secara sukarela semata-mata karena kecintaan dan hasrat yang tulus serta menganggapnya sebagai penghulu hanya karena rasa sayang.
      Seorang raja bisa saja dipatuhi dalam semangat demikian jika ia dalam pandangan rakyatnya memang dianggap sebagai seorang sayyad. Kata ini (sayyad) pun tidak bisa digunakan selain kepada Allah Swt.,  karena kepatuhan yang tulus dan bersemangat tanpa memperhatikan kepentingan pribadi tidak mungkin dapat diberikan selain kepada Allah Swt.. Hanya Dia saja yang kepada-Nya  kalbu manusia bersujud karena hanya Dia itulah Sumber penciptaan diri mereka. Karena itulah setiap kalbu secara alamiah bersujud kepada-Nya.
     Para penyembah berhala dan manusia lainnya juga memiliki hasrat untuk mematuhi sembahannya sebagai wujud Ketauhidan Ilahi, namun mereka gagal karena kekeliruan dan nafsu yang salah untuk mengenali Sumber Hakiki dari kehidupan, dimana karena kebutaannya mereka telah mengarahkan hasrat mereka kepada benda-benda yang salah. Karena itulah mengapa mereka ada yang menyembah batu, Ramchandra[1], Krishna[2] atau pun Yesus putra Maryam,  karena kekeliruan pandangan yang memandang sembahan mereka sebagai Tuhan yang benar. Mereka merusak diri mereka sendiri dengan menganggap makhluk lain sebagai Tuhan.
       Begitu pula dengan manusia yang mengikuti nafsunya sendiri dimana mereka telah tersesat dalam pencarian keruhanian mereka akan Yang Maha Terkasih dan wujud Sayyad. Hati mereka sebenarnya juga mencari Wujud Sayyad yang benar,  tetapi karena gagal dalam mengenali hasrat hati mereka yang suci dan murni, akhirnya mereka menganggap harta kekayaan dan kesenangan duniawi sebagai sembahannya. Hal ini merupakan kesalahan diri mereka sendiri.
      Yang menjadi Pencetus hasrat keruhanian yang sejati serta Sumber murni dari segala konotasi adalah Wujud Yang berfirman:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
 “Dan  Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Adz-Dzāriyāt [51]:57).
      Dengan kata lain, hanya penyembahan Dia sajalah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia berikut segala kemampuannya, dimana semua itu diciptakan agar mampu mengenali dan menyembah Tuhan-nya.
      Ayat tersebut mengindikasikan bahwa penciptaan manusia telah dibekali dengan hasrat pencarian, pengenalan dan kepatuhan kepada Tuhan. Jika nyatanya manusia memang tidak dibekali demikian maka tidak akan ada manusia yang memburu nafsu, menyembah berhala atau menyembah manusia di dunia ini, karena semua kekeliruan itu muncul akibat kesalahan dalam mengungkap kebenaran.   Hanya Allah saja yang sebenar-benarnya Sayyad.
      Atribut lainnya adalah Mudabbir (Pengatur). Dalam kata itu terkandung pengertian bahwa semua usaha, keseluruhan sistem peristiwa di masa lalu serta segala konsekwensi di masa depan berikut pengaturan segala sesuatu di tempatnya yang sesuai tanpa kecuali. Atribut ini pun tidak mungkin dikenakan kepada siapa pun kecuali Tuhan, karena perencanaan yang sempurna menuntut adanya pengetahuan tentang segala hal yang tersembunyi dan hal ini semata-mata hanya milik Allah Yang Maha Kuasa.
       Keempat nama lainnya yaitu Murabbi, Qayyum, Mun’im dan Mutammim mengindikasikan karunia yang dilimpahkan Allah Swt. kepada manusia sebagai berkat dari Sifat Pengendalian, Kepemimpinan dan Perencanaan yang maha sempurna.
       Murabbi berarti Dia Yang memelihara, dimana pemeliharaan yang sempurna mencakup semua aspek kemanusiaan seperti jiwa, raga, fitrat dan kemampuan. Adapun sistem pemeliharaan itu tentunya berlanjut sampai tingkat puncak dari kemajuan manusia dalam jasmani dan keruhanian.
       Manifestasi titik awal dimana kemanusiaan bermula dan ciri-cirinya bergerak dari titik ketiadaan menuju eksistensi (berwujud) juga termasuk dalam fungsi memelihara ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kosa-kata rububiyyat dalam bahasa Arab memiliki konotasi yang luas sekali karena mencakup keseluruhan dari titik ketiadaan sampai klimaks kesempurnaan. Nama-nama Sang Maha Pencipta dan sejenisnya merupakan turunan dari kata Rabb.
        Adapun Qayyum berarti Wujud Yang menjaga keseluruhan sistem, sedangkan Mun’im adalah Wujud Yang menurunkan semua karunia bagi manusia dan segala makhluk, sejalan dengan kapasitas dan hasrat mereka agar dapat mencapai klimaks (puncak) sebagaimana dinyatakan ayat:
  رَبُّنَا الَّذِیۡۤ اَعۡطٰی کُلَّ شَیۡءٍ خَلۡقَہٗ  ثُمَّ  ہَدٰی  
Rabb (Tuhan) kami ialah Dia Yang memberikan kepada segala sesuatu bentuk yang serasi dan kemudian Dia memberi petunjuk kepadanya untuk melaksanakan tugasnya yang murni  (Thā Hā [20]:51).
      Berarti setiap makhluk telah diberikan semua fitrat yang diperlukan serta disediakan petunjuk guna mencapai klimaks (puncak) kesempurnaan.
      Kata Mutammim mengandung pengertian bahwa sistem kemurahan hati Tuhan tidak akan mengandung cacat sedikit pun serta akan membawa kepada kesempurnaan dalam semua aspeknya. Jadi kata Rabb di atas mengandung semua bentuk konotasi sebagaimana diuraikan secara singkat.
      Dengan sedih hati kami terpaksa mengemukakan adanya seorang penulis Eropa  Kristiani yang secara tolol, dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa agama Kristen memiliki keunggulan di atas agama Islam karena mereka menggunakan istilah ‘Bapak’ bagi Tuhan, yang menurut mereka adalah suatu istilah yang cantik dan terkesan akrab, dimana nama ini tidak ada digunakan dalam Al-Quran.
      Mengherankan bahwa si kritikus ini tidak mempertimbangkan pengertian keagungan dan kebesaran dari istilah ‘Bapak’ dari leksikon (kamus bahasa) yang ada, karena kita baru bisa menghargai setiap kata jika jelas pengertiannya, sedangkan pengertian di luar leksikon tentunya tidak absah.
      Berdasarkan hal itu juga maka firman Tuhan tidak mengabaikan leksikon, sehingga seorang yang waras fikirannya tentunya merujuk terlebih dahulu kepada leksikon sebelum menetapkan posisi suatu kata. Dengan memperhatikan kriteria tersebut, dari pengamatan kami ditemukan bahwa leksikon ada mengungkapkan kalau seseorang dilahirkan dari benih seorang lainnya dimana sang pemilik benih ini kemudian tidak lagi mempunyai hubungan langsung dengan kelahiran yang bersangkutan maka dikatakan bahwa orang itu adalah bapaknya.
      Jika yang dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa Allah Yang Maha Perkasa sebagai Wujud Yang mencipta seseorang secara sadar dan Dia sendiri yang akan membimbingnya ke arah kesempurnaan, dimana berdasar Sifat Pemurah-Nya  Dia melimpahkan karunia yang sepadan kepadanya serta Dia menjadi Maha Penjaga dan Maha Pemelihara, yang jelas leksikon tidak ada mengatur bahwa konotasi seperti itu boleh diekspresikan dengan kata ‘Bapak.’
       Leksikon memberikan istilah lain untuk ekspresi konsep seperti itu yaitu perkataan Rabb,  yang maknanya telah diuraikan di atas berdasarkan penjelasan leksikon. Kita tentunya tidak bisa menciptakan leksikon sendiri dan sepatutnya mengikuti pemilahan kata sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Agung dari sejak awalnya.

Penghinaan Istilah “Bapak” bagi Tuhan (Allah Swt.)

      Dari sini jelas kiranya bahwa penggunaan kata ‘Bapak’ bagi Tuhan merupakan suatu penghinaan dan sikap tidak menghormati Wujud-Nya. Mereka yang mengarang cerita bahwa Yesus terbiasa menyebut Allah Yang Maha Kuasa sebagai ‘Bapak’ -- dan bahkan meyakini kalau Tuhan adalah bapak (ayah) beliau -- sesungguhnya telah melakukan kesalahan memfitnah beliau dengan suatu pelanggaran keji yang palsu.
      Bisakah seseorang yang waras membayangkan bahwa Yesus akan melakukan ketololan seperti itu terhadap Allah Yang Maha Luhur, yaitu menerapkan suatu kata yang menurut etimologi (ilmu akar kata) bermakna demikian rendah, menghina dan mensiratkan kelemahan dari sudut pandang mana pun?
      Kata ‘Ab’ (bapak) bermakna demikian rendah dan menghina dimana tidak ada tersirat fitrat kecintaan, pemeliharaan atau perencanaan di dalamnya. Sebagai contoh, seekor kambing jantan yang mengawini betinanya untuk melepaskan benih-benihnya, atau seekor banteng yang melepaskan nafsunya kepada seekor sapi betina untuk kemudian meninggalkannya tanpa memikirkan kemungkinan akan lahir anak sapi dari tindakannya itu, atau juga seperti babi yang selalu secara berulangkali sibuk melepas nafsunya tanpa memikirkan bahwa dari tindakannya itu akan lahir sekumpulan anak babi yang akan menyebar di muka bumi, tanpa diragukan lagi para jantan seperti itu disebut sebagai bapak mereka.
      Berdasarkan semua leksikon yang ada, perkataan ‘bapak’ tidak ada mensiratkan bahwa seorang bapak setelah melepas bibitnya lalu melakukan tindakan lainnya guna memastikan agar lahir seorang bayi, atau hal itu memang telah ia rencanakan saat melakukan persetubuhan.
       Malah sebenarnya kata ‘bapak’ dalam leksikon tidak ada menggambarkan keinginan yang bersangkutan mempunyai keturunan karena implikasi yang dimunculkan hanyalah tentang ia melepaskan bibitnya saja. Karena itu bagaimana mungkin menggunakan kata yang demikian rendahnya terhadap Wujud Yang Maha Kuasa,  yang semua hasil kinerja-Nya merupakan cerminan dari Perencanaan, Pengetahuan dan Kekuasaan-Nya yang sempurna?
       Bagaimana dapat dibenarkan suatu kata yang bisa digunakan terhadap seekor sapi atau babi, juga digunakan terhadap Allah Yang Maha Agung? Alangkah jahatnya tindakan yang terus saja dilakukan oleh umat Kristen yang bodoh itu. Mereka terkesan tidak mempunyai rasa malu, kepantasan atau pun pengertian tentang nilai-nilai kemanusiaan. Akidah penebusan telah melumpuhkan fitrat manusiawi mereka sehingga mereka jadinya tidak lagi punya perasaan.

Makna Istilah Arab dan Ajam

       Kita rasanya perlu menyimak keraguan yang dikemukakan oleh Max Muller[3] dalam jilid pertama bukunya yang berjudul “Science of Languages” dimana ia mengatakan:
“Salah satu faktor yang menghambat kemajuan pengetahuan adalah karena kelakuan kelompok orang yang karena ingin mempermalukan orang lain, lalu menggunakan nama panggilan mencemoohkan, dengan akibat mereka tidak mampu memahami bahasa mereka yang dihinakan itu.
Sepanjang kata liar dan tolol (ajami) seperti yang diterapkan pada kelompok tersebut tidak dihapus dari kamus bahasa manusia, untuk digantikan dengan kata ‘saudara’, dan sepanjang belum ada pengakuan bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu spesi (jenis makhluk) yang sama maka tidak akan ada awal permulaan dari pengetahuan mengenai bahasa-bahasa.”
      Pernyataan di atas menunjukkan kalau si pengarang ini bersifat kritis terhadap bahasa Arab dan membayangkan bahwa ekspresi kata Ajam (bangsa asing/bukan bangsa Arab) seperti diterapkan kepada mereka yang tidak berbahasa Arab,  adalah karena adanya pelecehan dan kefanatikan pandangan terhadap mereka.
      Ia melakukan kesalahan ini karena kefanatikan Kristiani dirinya telah menghalanginya memahami istilah Ajam dan Arab itu apakah hasil ciptaan manusia ataukah berasal dari Allah Swt.. Ia sendiri mengakui dalam bukunya kalau manusia tidak memiliki kemampuan merumuskan kata-kata dasar suatu bahasa dengan kemampuan sendiri.
      Bahasa Arab memiliki dua kata yang saling terkait. Yang satu adalah Arab,  yang berkonotasi kefasihan dan penguasaan pengungkapan ekspresi, sedangkan yang lainnya adalah Ajam yang bermakna tidak fasih dan berlidah kelu. Jika Max Muller menganggap bahwa kedua kata itu bukan berasal dari zaman purba dan Islam menciptanya hanya karena rasa kefanatikan, maka mestinya ia mampu menspesifikasikan istilah asli yang digunakan dalam konotasi tersebut,  karena tidak mungkin jika tidak ada kaitannya dengan masa-masa terdahulu.
      Kalau ternyata terbukti bahwa kedua ekspresi tersebut memang sudah demikian dari zaman purba, berarti kata-kata itu bukan merupakan hasil ciptaan manusia melainkan ciptaan Yang Maha MengetahuiYang telah mencipta manusia dengan fitrat yang berbeda-beda dimana Dia Sendiri menerapkan kedua kata itu kepada berbagai bangsa, sejalan dengan kemampuan mereka masing-masing.
       Pandangan yang menyatakan bahwa kedua ekspresi yaitu Arab dan Ajam tersebut telah diciptakan oleh beberapa orang hanya karena rasa fanatik dan memandang rendah orang lain, jelas bertentangan dengan fakta serta dusta adanya.
      Kami telah mengemukakan dalam buku ini bahwa kata Arab menggambarkan suatu realitas (kenyataan/fakta), dan memang benar adanya kalau bahasa Arab karena sistemnya tentang kata-kata dasar dan strukturnya yang halus serta keindahan-keindahan lainnya, menduduki posisi demikian tinggi sehingga membuat orang terpaksa harus mengakui bahwa jika dibandingkan maka bahasa lainnya itu terkesan dungu.
      Belum lagi dari pengamatan kami terkesan bahwa bahasa-bahasa lain itu bersifat kaku seperti benda-benda solid dan tidak mempunyai gerak ke arah perkembangan, laiknya sesuatu yang sudah mati,  sehingga harus dikatakan bahwa bahasa tersebut menduduki posisi yang amat rendah.
      Bahasa Arab menyebut mereka yang non-Arab secara sopan dengan kata Ajam,  padahal sebenarnya mereka itu pun tidak pantas mendapat gelar tersebut.  Deskripsi yang paling tepat dari kondisi rendah bahasa-bahasa mereka itu adalah sebagai bahasa-bahasa mati.” (Minanur Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm.  145-161, London, 1984).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
       “Sungguh agung bahasa Arab, betapa cantik perwujudannya dengan jubah yang cemerlang. Bumi telah menjadi lebih terang berkat nurnya yang agung dan terbukti kalau bahasa ini telah merangkum hasrat tertinggi manusia. Di dalamnya ditemui berbagai keajaiban   Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa,  sebagaimana dapat dilihat dalam segala hal yang berasal dari Sang Maha Pencipta.
      Allah telah menyempurnakan keseluruhan kerangkanya dalam keindahan dan kecemerlangan, dimana tidak ada yang meragukan kesempurnaan ekspresi yang mencakup semua harapan manusia. Tidak ada satu tindakan pun, atau Sifat-sifat Allah Swt., atau akidah manusia  yang tidak ada akar katanya dalam bahasa Arab.” Minanur Rahmān, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. IX, hlm.  193-194).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 April    2016



[1] Salah satu dewa yang banyak disembah umat H indu dan dianggap sebagai inkarnasi ketujuh 3 dari dewa Wisynu. Namanya digunakan juga sebagai ucapan salam di antara para penganutnya (Ram! Ram!). Di sini lebih dikenal dengan nama Sri Rama. (Penterjemah/ Khalid. A.Qoyum).

[2] Dewa lain yang juga disembah banyak umat Hindu dan dianggap sebagai inkarnasi kedelapan dari dewa Wishnu. Dewa ini digambarkan sebagai seorang penggembira dan pecinta wanita, sedangkan Ramchandra dianggap sebagai tokoh yang lebih serius, lurus dan jujur.  (Penterjemah/ Khalid. A.Qoyum).


[3] Friedric Max Muller, 1823 - 1900, seorang ahli bahasa dan orientalis bangsa Jerman yang  hasil karyanya telah merangsang minat orang akan bidang linguistik, mithologi dan keagamaan. Karya monumentalnya adalah 51 jilid buku The Sacred Books of the East yang disusun sejak 1879 dan selesai 1904. (Penterjemah/Khalid A. Qoyum)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar