Sabtu, 09 April 2016

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah di Kalangan Bani Adam & Perkembangan Agama dan Umat Beragama serta Munculnya "Generasi Penerus" yang Meninggalkan Shalat


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA


Kesinambungan Pengutusan  Rasul Allah di Kalangan Bani Adam &  Perkembangan Agama dan Umat Beragama serta Munculnya  Generasi Penerus yang Meninggalkan Shalat

Bab 17


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai keturunan “Adam”  yang lahir di  wilayah Timur Tengah, bahwa  perkembangan suatu bangsa atau suatu ras bangsa  berasal dari sepasang suami istri  --  salah satu contohnya adalah  Nabi Adam a.s. dan  istrinya (Hawa) yang keberadaannya sekitar 6000 tahun yang lalu di wilayah Timur Tengah  yang disebut “Jannah” (kebun/taman) yaitu wilayah Mesopotamia yang subur  karena dialiri sungai Eufrat dan Tigris --  kemudian dari pasangan tersebut  berkembang menjadi berbagai bangsa dan berbagai  suku-suku bangsa,  antara lain   kaum Nabi Nuh a.s., yang dari keturunan beliau muncul kaum-kaum lainnya, antara lain   kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud a.s.), kaum Tsamud (kaum Nabi Shaleh a.s.); kaum Nabi Ibrahim a.s.; kaum Nabi Luth a.s.; kaum  Midian (kaum Nabi Syu’aib a.s.) sampai dengan munculnya  Bani Isma’il dan  Bani Israil, Allah Swt. berfirman:
وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ جَعَلۡنٰہُ ہُدًی  لِّبَـنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  اَلَّا  تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَکِیۡلًا  ؕ﴿﴾ ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ عَبۡدًا  شَکُوۡرًا ﴿﴾ 
Dan  Kami telah memberi  Musa kitab Taurat  dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil: اَلَّا  تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَکِیۡلًا    --  ”Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku, ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ --  “Hai keturunan orang-orang  yang Kami naikkan ke dalam bahtera beserta Nuh, اِنَّہٗ  کَانَ عَبۡدًا  شَکُوۡرًا  -- sesungguhnya ia seorang hamba Kami yang sangat bersyukur.”  (Bani Israil [17]:3-4).
         Demikian juga Nabi Ibrahim a.s. pun  -- yang adalah leluhur kaum Midian, Bani Isma’il dan Bani Israil   --  merupakan keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh a.s. pula (QS.3:34; QS.19:55-59; QS.33:8; QS.37:76-84), firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ اِسۡمٰعِیۡلَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صَادِقَ الۡوَعۡدِ وَ کَانَ رَسُوۡلًا نَّبِیًّا  ﴿ۚ﴾ وَ کَانَ یَاۡمُرُ اَہۡلَہٗ  بِالصَّلٰوۃِ  وَ الزَّکٰوۃِ ۪ وَ کَانَ عِنۡدَ رَبِّہٖ  مَرۡضِیًّا ﴿﴾  وَ اذۡکُرۡ فِی  الۡکِتٰبِ  اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ  کَانَ  صِدِّیۡقًا  نَّبِیًّا ﴿٭ۙ﴾  وَّ رَفَعۡنٰہُ  مَکَانًا عَلِیًّا ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اٰدَمَ ٭ وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ۫ وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ ۫ وَ مِمَّنۡ ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا ؕ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ  خَرُّوۡا  سُجَّدًا  وَّ  بُکِیًّا ﴿ٛ﴾  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا ﴿ۙ﴾
Dan ceriterakan kisah Isma’il di dalam Kitab Al-Quran, sesungguhnya ia adalah seorang  yang janji­-janjinya senantiasa benar, dan ia adalah seorang rasul, seorang nabi.   Dan  ia senantiasa me­nyuruh keluarganya mendirikan shalat dan membayar zakat, dan ia diridhai oleh  Rabb-nya (Tuhan-nya).  وَ اذۡکُرۡ فِی  الۡکِتٰبِ  اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ  کَانَ  صِدِّیۡقًا  نَّبِیًّا --   Dan ceriterakanlah kisah Idris  di dalam Kitab Al-Quran, se-sungguhnya ia adalah seorang  yang benar dan seorang nabiوَّ رَفَعۡنٰہُ  مَکَانًا عَلِیًّا  --  Dan  Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اٰدَمَ  --    Mereka inilah orang-orang  yang Allah telah memberi nikmat atas mereka dari antara nabi-nabi dari keturunan Adam, وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ  --  dari antara keturunan orang-orang yang Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh, وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ --  dari keturunan Ibrahim dan Israil, وَ مِمَّنۡ ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا  --  dan  dari antara orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ  خَرُّوۡا  سُجَّدًا  وَّ  بُکِیًّا  --    Apabila Ayat-ayat Yang Maha Pemu-rah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur bersujud dan menangisفَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ  --  Lalu datang menggantikan sesudah mereka  pengganti yang mengabaikan shalat dan meng­ikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا  -- maka segera mereka  akan menemui kesesatan (Maryam [19]:55-60).

Generasi Penerus yang Buruk  & Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah di Kalangan Bani Adam

   Kebanyakan para ahli tafsir Al-Quran berpendapat bahwa Nabi Idris a.s.   adalah Enokh­nya Bible. Kata-kata Hanuk (Enokh) dan Idris dekat sekali persamaannya dalam arti dan maksud.  Idris berarti “seseorang yang membaca” atau “mengajar banyak” sedangkan Hanuk berarti “pengajaran” atau “pentahbisan” (Encyclopaedia Biblica). Lagi pula  uraian tentang  Enokh sebagaimana diberikan dalam Bible dan kepustakaan agama Yahudi amat menyerupai uraian mengenai Idris seperti diberikan dalam Al-Quran.  
  Sebagian ahli tafsir Al-Quran berpendapat bahwa kata-kata  مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اٰدَمَ --  "dari keturunan Adam”  menunjuk kepada Nabi Idris a.s.,   kata-kata   حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- "yang  Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh" menunjuk kepada Nabi Ibrahim a.s..  dan kata-kata وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ  اِبۡرٰہِیۡمَ  -- "dari keturunan Ibrahim" menunjuk kepada Nabi Isma’il a.s.,  Nabi Ishaq a.s., dan Nabi Ya'qub a.s. ; sedangkan kata-kata وَ اِسۡرَآءِیۡلَ -- "dari keturunan" telah dihadzafkan (dipahami seolah-olah ada) sebelum kata Israil menunjuk kepada Nabi Musa a.s. , Nabi Harun a.s., Nabi Zakaria a.s.,  Nabi Yahya a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang kesemuanya telah disebut dalam ayat-ayat  QS.19:3-54  sebelum ayat  QS.19:59 ini.
 Makna ayat selanjutnya: فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ  --  Lalu datang menggantikan sesudah mereka  pengganti yang mengabaikan shalat dan meng­ikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا  -- maka segera mereka  akan menemui kesesatan”,   sebenarnya kealpaan dan kelalaian dalam melaksanakan shalat membuat orang menjadi jahil mengenai Sifat-sifat Allah  serta memusnahkan keinginannya untuk menegakkan hubungan dengan Khaliq-nya, dengan demikian selanjutnya melemparkan dia ke dalam cengkeraman syaitan.
  Di mana kealpaan dalam memohon rahmat Ilahi dan dalam mendoa kepada-Nya membawa orang kepada kegagalan, maka menuruti ajakan nafsu buruk mengakibatkan ada sikap tidak acuh terhadap ilmu hakiki dan bergelimang dengan perbuatan-perbuatan kotor serta usaha-usaha yang tidak berguna, dan bila semua hal tersebut tergabung  menjadi satu, maka hal itu akan mendatangkan kehancuran akhlak dan ruhani manusia secara total.
  Dalam rangka mengembalikan generasi-generasi penerus para rasul Allah  yang telah menyimpang dari ajaran para rasul Allah  yang dibangkitkan di setiap umat  pada zamannya masing-masing di  zaman tersebut Allah Swt. telah mewasiatkan mengenai kesinambungan pengutusan  para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam. firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ  -- mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ   --   Wahai Bani Adam, jika da-tang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamuفَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ     -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ --  maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ   --  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalam-nya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

Penentangan Terhadap Rasul Allah Penyebab Turunnya Azab Ilahi

 Makna ayat 35 bahwa jika waktu yang ditetapkan Allah Swt.  untuk menghukum suatu kaum tiba maka waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda dan penghukuman-Nya tersebut benar-benar menimpa kaum-kaum tersebut. Tetapi merupakan Sunnatullah bahwa Allah Swt. tidak pernah menghukum (mengazab)  suatu kaum sebelum terlebih dulu kepada kaum tersebut diutus rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka  agar  mereka tidak menyalahkan Allah Swt. (QS.6:132;  QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136;  QS.26:209; QS.28:60).
 Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. dalam ayat selanjutnya berkenaan dengan  kesinambungan pengutusan para rasul Allah di kalangan Bani (keturunan) Adam. Sebutan – “Hai Bani Adam” (keturunan Adam), hal ini patut mendapat perhatian istimewa.
Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32 mengenai kesinambungan pembuatan  pakaian dan tipuan syaitan), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat manusia di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  dan kepada generasi-generasi yang akan lahir, bukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa  Nabi Adam a.s. sebagaimana yang keliru memahami ayat-ayat tersebut.
 Mengapa demikian? Sebab Sunnatullah mengenai kemunculan para penentang Rasul Allah dan mengenai  kemunculan  generasi pembangkang  yang  terjadi  di masa lalu tersebut  berlaku pula  di kalangan    Bani  Isma’il, firman-Nya:   فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ  --  Lalu datang menggantikan sesudah mereka  pengganti yang mengabaikan shalat dan meng­ikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ  غَیًّا  -- maka segera mereka  akan menemui kesesatan”  (QS.19:60), yaitu seiring dengan pencabutan kembali “ruh” Al-Quran secara bertahap selama 1000 tahun setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6). 
  Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah    ayat selanjutnya:  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ   --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya” (QS.7:27),  berarti, bahwa mereka yang mendustakan dan menentang  para rasul Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka  akibat mendustakan dan menentang  para rasul Allah  tersebut.

Perkembangan Agama dan Umat Beragama

Jadi, sebagaimana halnya umat  manusia  dari  kalangan Bani (keturunan) Adam   -- yang  kemudian berkembang menjadi  berbagai bangsa dan suku-suku bangsa yang demikian banyak   jumlahnya -- pada awalnya berasal dari sepasang  laki-laki dan perempuan  (Adam dan Hawa) --  demikian pula halnya dengan perkembangan agama yang dimulai dari satu agama  kemudian berkembang menjadi berbagai macam agama dan umat beragama serta berbagai macam sekte agama, kemudian Allah Swt. menakdirkan  bahwa berbagai bangsa dan berbagai umat  beragama  yang berbeda-beda tersebut ditakdirkan Allah Swt. akan kembali  menjadi  penyembah satu Tuhan yang hakiki   atau  Tauhid Ilahi  yang  telah tertanam dalam jiwa dan fitrat manusia  yakni Allah Swt. (QS.7:173-175; QS.30:31-33),   dan  akan beriman kepada satu Rasul Allah yang membawa   satu  agama  yang terakhir dan tersempurna  yaitu  agama Islam (QS.5:4)  yang  diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.. firman-Nya:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat,  lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq (benar) supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan,  dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka. Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah [2]:214).
      Makna ayat:  کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً  --  “Manusia dahulunya merupakan satu umat” bahwa sebelum kedatangan seorang nabi Allah semua orang (manusia)  adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa mereka semua orang-orang kafir.
Tetapi bila seorang nabi Allah muncul guna mengajar mereka Tauhid Ilahi yang hakiki   lalu  mereka  itu walau pun satu sama lain berbeda  --   dalam   masalah kemusyrikan yang mereka lakukan  -- tetapi mereka merupakan satu barisan atau satu umat dalam melakukan perlawanan kepada para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka itu (QS.7:36), itulah makna ayat: فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ  --  lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai  pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq (benar) supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan.”
      Ungkapan “umat manusia adalah satu umat” atau kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain dalam ayat ini. Dalam  QS.10:20, QS.21:93 dan QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan nasional”, dan dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat ini berarti “mempunyai  identitas yang sama dalam pikiran.”

Dua Macam Perselisihan Umat Manusia & Lima Tingkatan Perkembangan  Agama dan Umat Beragama

        Makna  “perselisihan” yang  disebut dua kali  dalam ayat selanjutnya: وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ   -- “dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka” menunjukkan dua macam ketidaksepahaman yang berlain-lainan:
     (1) Sebelum kedatangan seorang nabi Allah   orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik atau mengenai kekafiran mereka.    
        (2) Sesudah nabi Allah itu muncul mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya. Para nabi Allah itu tidak menimbulkan perselisihan, karena  sebenarnya perselisihan  di kalangan mereka itu telah ada,  hanya saja sesudah kedatangan rasul Allah  adanya  perselisihan  di kalangan mereka itu  mengambil bentuk baru.
Sebelum seorang nabi  Allah datang orang-orang meskipun berselisih  paham antara satu sama lain,  tetapi   setelah kedatangan nabi Allah mereka  sebelumnya berselisih di antara  mereka itu nampak seperti satu kaum, yakni mereka mulai terpisah menjadi dua blok yang sangat berbeda — orang-orang yang beriman kepada rasul Allah  dan orang-orang kafir.  
   Dipandang secara kolektif ayat ini menggambarkan lima tingkat berlainan yang telah dilalui umat manusia:
      (1) Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya merupakan satu umat.
     (2) Dengan bertambahnya penduduk dan meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang dihadapi mereka, mereka mulai berselisih antara satu sama lain.
      (3) Kemudian  Allah Swt.  membangkitkan nabi-nabi dan mewahyukan kehendak-Nya berupa syariat atau Kitab suci.
     (4)   Kemudian setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan melalui para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan kaum-kaum tersebut.
      (5)  Allah Swt.  akhirnya membangkitkan  Nabi Besar Muhammad  saw.  dengan Kitab-Nya terakhir (Al-Quran) beserta ajaran yang universal (QS.5:4), beliau saw.  berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar panjinya (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; QS.34:29).
       Dengan demikian lingkaran telah bertemu dan dunia atau umat manusia yang mulai dengan kesatuan lalu ditakdirkan  Allah Swt. untuk berakhir dalam kesatuan pula, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya  Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:108-109).
    Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu di masa beliau saw. saja tetapi juga bagi umat manusia di masa  setelah beliau saw. wafat (QS.62:3-5). Dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati,  yang belum pernah  umat manusia   itu diberkati sebelum itu.

Puncak Kesempurnaan Himpunan Keunggulan Pribadi Para Rasul Allah

      Karena pribadi  Nabi Besar Muhammad saw. merupakan himpunan dari keutamaan sifat-sifat  seluruh rasul Allah,  karena itu Allah Swt.  sebelumnya berfirman mengenai hal tersebut:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ  اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  وَ تَقَطَّعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya umat kamu ini merupakan satu umat,  dan Aku adalah Rabb (Tuhan) kamu  maka sembahlah Aku.   Tetapi mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,  padahal semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya [21]:93-94).
      Dalam beberapa ayat yang mendahuluinya, beberapa nabi Allah dan beberapa orang bertakwa disebutkan bersama-sama. Ini bukan secara kebetulan saja. Nabi-nabi Allah itu disebut bersama-sama  mempunyai suatu tujuan tertentu. Semuanya mempunyai satu hal yang sama. Dalam upaya memurnikan  dan menegakkan Tauhid Ilahi  dari berbentuk penyimpangan (kemusyrikan)  para rasul Allah  mengalami penderitaan-penderitaan dan kemalangan-kemalangan besar dalam satu bentuk atau lain  tetapi mereka  memperlihatkan kesabaran dan ketabahan yang sangat tinggi dan sangat mulia di bawah himpitan cobaan-cobaan yang paling hebat. Mereka mengajarkan pula asas pokok semua agama, yaitu Tauhid Ilahi.
   Sehubungan dengan hal tersebut Nabi Besar Muhammad saw. telah memperagakan ketangguhan   yang diperlihatkan para rasul Allah tersebut dalam kuantitas dan kualitasnya   yang jauh lebih sempurna dalam segala seginya, sebagai pengamalan dari perintah Allah Swt. berikut ini:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ۚ فَاِنۡ یَّکۡفُرۡ بِہَا ہٰۤؤُلَآءِ  فَقَدۡ وَکَّلۡنَا بِہَا قَوۡمًا لَّیۡسُوۡا بِہَا بِکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ ؕ قُلۡ  لَّاۤ  اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ  اَجۡرًا ؕ اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  ذِکۡرٰی لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka itulah  orang-orang yang  Kami telah menganugerahkan  kepada mereka Kitab,    kekuasaan, dan kenabian. Tetapi jika mereka kafir terhadapnya maka sungguh  Kami telah menyerahkannya kepada satu kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  فَبِہُدٰىہُمُ اقۡتَدِہۡ  --   Mereka itulah orang-orang yang Allah telah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka.  Ka-takanlah: “Untuk tugas ini aku tidak meminta upah kepada kamu, ini tidak lain melainkan suatu nasihat untuk seluruh alam.” (Al-An’ām [6]:90-91).
  Makna ayat:  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ  -- “Mereka itulah  orang-orang yang  Kami telah menganugerahkan  kepada mereka Kitab,   kekuasaan, dan kenabian” itu tidak berarti bahwa tiap-tiap nabi Allah diberi Kitab masing-masing. “Memberi Kitab” itu ungkapan yang dipergunakan dalam Al-Quran, pada umumnya dalam artian  memberi Kitab melalui seorang nabi pembawa syariat.
 Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.45:17) dikatakan bahwa tiga hal, yaitu Kitab, kedaulatan dan kenabian diberikan kepada semua keturunan Bani Israil. Dalam QS.5:45 kita baca bahwa satu rangkaian nabi Allah  datang sesudah Nabi Musa a.s. tidak diberi syariat baru, melainkan mengikuti syariat yang diberikan dalam Taurat dan menjalankan hukum dengan syariat itu (QS.2:88).
 Sebenarnya nabi-nabi Allah  itu ada dua golongan: nabi-nabi pembawa syariat yang kepada mereka masing-masing diberikan sebuah Kitab (hukum atau syariat) dan nabi-nabi Allah yang tidak diberi Kitab atau syariat, tetapi mengikuti syariat nabi pembawa syariat. Ihwal mereka kata-kata, “Kami beri mereka Kitab” berarti bahwa mereka diberi pengetahuan mengenai Kitab atau mereka mewarisi Kitab atau syariat nabi pembawa syariat yang mendahuluinya.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 April    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar