Bismillaahirrahmaanirrahiim
BAHASA ARAB
IBU SEGALA BAHASA
Kesinambungan Pengutusan Rasul
Allah di Kalangan Bani Adam
& Perkembangan Agama dan Umat Beragama serta Munculnya Generasi Penerus yang Meninggalkan Shalat
Bab 17
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai keturunan “Adam” yang lahir di wilayah Timur
Tengah, bahwa perkembangan suatu bangsa
atau suatu ras bangsa berasal dari sepasang suami istri -- salah satu contohnya adalah Nabi Adam
a.s. dan istrinya (Hawa) yang keberadaannya
sekitar 6000 tahun yang lalu di
wilayah Timur Tengah yang disebut “Jannah” (kebun/taman) yaitu
wilayah Mesopotamia yang subur
karena dialiri sungai Eufrat
dan Tigris -- kemudian dari pasangan tersebut berkembang menjadi berbagai bangsa dan berbagai suku-suku bangsa, antara lain
kaum Nabi Nuh a.s., yang dari
keturunan beliau muncul kaum-kaum
lainnya, antara lain kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud a.s.), kaum Tsamud (kaum Nabi Shaleh a.s.); kaum Nabi Ibrahim a.s.; kaum Nabi Luth a.s.; kaum Midian
(kaum Nabi Syu’aib a.s.) sampai dengan munculnya Bani
Isma’il dan Bani Israil, Allah Swt. berfirman:
وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ
جَعَلۡنٰہُ ہُدًی لِّبَـنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَلَّا تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ وَکِیۡلًا ؕ﴿﴾ ذُرِّیَّۃَ مَنۡ
حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا
شَکُوۡرًا ﴿﴾
Dan Kami
telah memberi Musa kitab Taurat dan Kami
menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil: اَلَّا تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ وَکِیۡلًا -- ”Janganlah
kamu mengambil pelindung selain Aku, ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- “Hai keturunan orang-orang yang Kami naikkan ke dalam bahtera beserta Nuh, اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا
شَکُوۡرًا -- sesungguhnya ia seorang hamba Kami yang sangat bersyukur.” (Bani
Israil [17]:3-4).
Demikian
juga Nabi Ibrahim a.s. pun -- yang adalah leluhur kaum Midian, Bani Isma’il dan Bani Israil -- merupakan keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Nuh
a.s. pula (QS.3:34; QS.19:55-59; QS.33:8; QS.37:76-84), firman-Nya:
وَ اذۡکُرۡ
فِی الۡکِتٰبِ اِسۡمٰعِیۡلَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صَادِقَ الۡوَعۡدِ وَ کَانَ رَسُوۡلًا
نَّبِیًّا ﴿ۚ﴾ وَ کَانَ یَاۡمُرُ اَہۡلَہٗ بِالصَّلٰوۃِ
وَ الزَّکٰوۃِ ۪ وَ کَانَ عِنۡدَ رَبِّہٖ
مَرۡضِیًّا ﴿﴾ وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ
اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صِدِّیۡقًا
نَّبِیًّا ﴿٭ۙ﴾ وَّ رَفَعۡنٰہُ مَکَانًا عَلِیًّا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ
اٰدَمَ ٭ وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ۫ وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ ۫ وَ مِمَّنۡ
ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا ؕ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا
سُجَّدًا وَّ بُکِیًّا ﴿ٛ﴾ فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ غَیًّا ﴿ۙ﴾
Dan
ceriterakan kisah Isma’il di dalam Kitab Al-Quran, sesungguhnya ia adalah seorang yang janji-janjinya senantiasa benar,
dan ia adalah seorang rasul, seorang nabi. Dan ia
senantiasa menyuruh keluarganya mendirikan shalat dan membayar zakat, dan ia
diridhai oleh Rabb-nya (Tuhan-nya). وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ
اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صِدِّیۡقًا
نَّبِیًّا -- Dan ceriterakanlah
kisah Idris di dalam Kitab
Al-Quran, se-sungguhnya ia adalah
seorang yang benar dan seorang nabi. وَّ رَفَعۡنٰہُ مَکَانًا عَلِیًّا
-- Dan Kami
telah mengangkatnya ke martabat yang
tinggi. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ
ذُرِّیَّۃِ اٰدَمَ
-- Mereka inilah orang-orang yang
Allah telah memberi nikmat atas mereka dari antara nabi-nabi dari keturunan Adam, وَ مِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- dari antara keturunan orang-orang yang Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh, وَّ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡرَآءِیۡلَ -- dari keturunan Ibrahim dan Israil, وَ مِمَّنۡ
ہَدَیۡنَا وَ اجۡتَبَیۡنَا -- dan
dari antara orang-orang yang
telah Kami beri petunjuk dan telah
Kami pilih. اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا
سُجَّدًا وَّ بُکِیًّا
-- Apabila Ayat-ayat Yang Maha Pemu-rah dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur bersujud dan menangis. فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ
-- Lalu datang menggantikan sesudah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ
یَلۡقَوۡنَ غَیًّا
-- maka segera mereka akan menemui kesesatan (Maryam
[19]:55-60).
Generasi Penerus yang Buruk & Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah di Kalangan Bani Adam
Kebanyakan para ahli tafsir Al-Quran berpendapat bahwa Nabi Idris a.s. adalah
Enokhnya Bible. Kata-kata Hanuk (Enokh) dan Idris dekat
sekali persamaannya dalam arti dan maksud.
Idris berarti “seseorang yang membaca” atau “mengajar banyak” sedangkan Hanuk berarti “pengajaran” atau
“pentahbisan” (Encyclopaedia Biblica).
Lagi pula uraian tentang Enokh sebagaimana diberikan dalam Bible dan kepustakaan agama Yahudi amat menyerupai uraian mengenai Idris
seperti diberikan dalam Al-Quran.
Sebagian ahli tafsir Al-Quran berpendapat bahwa kata-kata مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اٰدَمَ -- "dari
keturunan Adam” menunjuk kepada Nabi Idris a.s., kata-kata حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ -- "yang
Kami angkut dalam bahtera bersama Nuh" menunjuk kepada Nabi
Ibrahim a.s.. dan kata-kata وَّ مِنۡ
ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ -- "dari
keturunan Ibrahim" menunjuk kepada Nabi Isma’il a.s., Nabi Ishaq a.s., dan Nabi Ya'qub
a.s. ; sedangkan kata-kata وَ اِسۡرَآءِیۡلَ -- "dari keturunan" telah dihadzafkan
(dipahami seolah-olah ada) sebelum kata Israil
menunjuk kepada Nabi Musa a.s. ,
Nabi Harun a.s., Nabi Zakaria a.s., Nabi
Yahya a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang kesemuanya telah disebut dalam
ayat-ayat QS.19:3-54 sebelum ayat QS.19:59 ini.
Makna ayat
selanjutnya: فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا
الشَّہَوٰتِ -- Lalu datang
menggantikan sesudah mereka pengganti
yang mengabaikan shalat dan
mengikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ
یَلۡقَوۡنَ غَیًّا
-- maka segera mereka akan menemui kesesatan”, sebenarnya kealpaan dan kelalaian
dalam melaksanakan shalat membuat
orang menjadi jahil mengenai Sifat-sifat Allah serta memusnahkan
keinginannya untuk menegakkan
hubungan dengan Khaliq-nya,
dengan demikian selanjutnya melemparkan
dia ke dalam cengkeraman syaitan.
Di mana kealpaan dalam memohon rahmat Ilahi dan dalam mendoa
kepada-Nya membawa orang kepada kegagalan,
maka menuruti ajakan nafsu buruk
mengakibatkan ada sikap tidak acuh
terhadap ilmu hakiki dan bergelimang
dengan perbuatan-perbuatan kotor
serta usaha-usaha yang tidak berguna, dan bila semua hal
tersebut tergabung menjadi satu,
maka hal itu akan mendatangkan kehancuran
akhlak dan ruhani manusia secara total.
Dalam rangka mengembalikan generasi-generasi penerus para rasul
Allah yang telah menyimpang dari ajaran para rasul Allah yang
dibangkitkan di setiap umat pada zamannya masing-masing di zaman tersebut Allah Swt. telah mewasiatkan mengenai kesinambungan pengutusan para Rasul
Allah dari kalangan Bani Adam.
firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
لَا
یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ لَا
یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ -- mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika da-tang kepada
kamu rasul-rasul dari
antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ -- Dan orang-orang yang men-dustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api, mereka
kekal di dalam-nya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Penentangan Terhadap Rasul Allah Penyebab Turunnya Azab
Ilahi
Makna ayat 35 bahwa
jika waktu yang ditetapkan Allah Swt.
untuk menghukum suatu kaum tiba
maka waktu itu tidak dapat
dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda dan penghukuman-Nya tersebut benar-benar menimpa kaum-kaum tersebut. Tetapi merupakan Sunnatullah
bahwa Allah Swt. tidak pernah menghukum
(mengazab) suatu kaum sebelum terlebih dulu kepada kaum tersebut diutus rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka agar
mereka tidak menyalahkan Allah
Swt. (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16;
QS.20:134-136; QS.26:209; QS.28:60).
Mengisyaratkan
kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. dalam ayat selanjutnya berkenaan
dengan kesinambungan pengutusan para rasul Allah di kalangan Bani
(keturunan) Adam. Sebutan – “Hai Bani Adam” (keturunan Adam), hal ini
patut mendapat perhatian istimewa.
Seperti pada
beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32 mengenai kesinambungan
pembuatan pakaian dan tipuan syaitan),
seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat manusia
di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan
kepada generasi-generasi yang akan
lahir, bukan kepada umat yang hidup
di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi
Adam a.s. sebagaimana yang keliru
memahami ayat-ayat tersebut.
Mengapa
demikian? Sebab Sunnatullah mengenai
kemunculan para penentang Rasul Allah
dan mengenai kemunculan generasi
pembangkang yang terjadi
di masa lalu tersebut berlaku
pula di kalangan Bani Isma’il, firman-Nya: فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
اَضَاعُوا الصَّلٰوۃَ وَ اتَّبَعُوا الشَّہَوٰتِ
-- Lalu datang menggantikan sesudah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa-nafsu فَسَوۡفَ
یَلۡقَوۡنَ غَیًّا
-- maka segera mereka akan menemui kesesatan” (QS.19:60), yaitu seiring dengan pencabutan kembali “ruh” Al-Quran secara bertahap selama 1000 tahun setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6).
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu
pulalah ayat
selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ -- Dan orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api, mereka
kekal di dalamnya” (QS.7:27), berarti,
bahwa mereka yang mendustakan dan menentang para rasul
Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) yang
meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada
mereka akibat mendustakan dan menentang para rasul
Allah tersebut.
Perkembangan Agama dan Umat Beragama
Jadi, sebagaimana halnya umat manusia dari
kalangan Bani (keturunan) Adam
-- yang kemudian berkembang menjadi berbagai bangsa
dan suku-suku bangsa yang demikian
banyak jumlahnya -- pada awalnya berasal dari sepasang laki-laki dan perempuan (Adam dan Hawa) -- demikian pula halnya dengan perkembangan agama yang dimulai dari satu agama kemudian berkembang menjadi berbagai macam agama dan umat
beragama serta berbagai macam sekte
agama, kemudian Allah Swt. menakdirkan bahwa berbagai bangsa dan berbagai umat beragama
yang berbeda-beda tersebut ditakdirkan Allah Swt. akan kembali
menjadi penyembah satu Tuhan yang hakiki atau Tauhid Ilahi yang telah
tertanam dalam jiwa dan fitrat manusia yakni Allah
Swt. (QS.7:173-175; QS.30:31-33), dan akan beriman
kepada satu Rasul Allah yang
membawa satu agama yang terakhir
dan tersempurna yaitu agama Islam (QS.5:4) yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw.. firman-Nya:
کَانَ
النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ
اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ
النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا
بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ
مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat, lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
(benar) supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan, dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya
kecuali orang-orang yang diberi Alkitab
itu sesudah Tanda-tanda yang nyata
datang kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi
petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah [2]:214).
Makna ayat: کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً -- “Manusia dahulunya merupakan satu umat” bahwa sebelum kedatangan
seorang nabi Allah semua orang
(manusia) adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa
mereka semua orang-orang kafir.
Tetapi bila seorang nabi Allah muncul guna mengajar mereka Tauhid Ilahi yang hakiki lalu
mereka itu walau pun satu sama lain berbeda --
dalam masalah kemusyrikan yang mereka lakukan -- tetapi mereka merupakan satu barisan atau satu umat dalam melakukan perlawanan
kepada para Rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka itu (QS.7:36), itulah makna ayat: فَبَعَثَ اللّٰہُ
النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ
۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ
بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ -- lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
(benar) supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan.”
Ungkapan “umat manusia adalah satu umat” atau kata-kata yang serupa dipakai
pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain dalam ayat ini. Dalam QS.10:20, QS.21:93 dan QS.23:53 ungkapan itu
berarti “kesatuan nasional”, dan
dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat ini berarti “mempunyai
identitas yang sama dalam pikiran.”
Dua Macam Perselisihan
Umat Manusia & Lima Tingkatan Perkembangan Agama dan Umat Beragama
Makna “perselisihan” yang disebut dua kali dalam ayat selanjutnya: وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- “dan
sekali-kali tidak ada yang
memperselisihkannya kecuali orang-orang
yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda
yang nyata datang kepada mereka, karena
kedengkian di antara mereka” menunjukkan dua macam ketidaksepahaman yang berlain-lainan:
(1) Sebelum kedatangan seorang nabi Allah orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik atau mengenai kekafiran
mereka.
(2) Sesudah nabi Allah itu muncul mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya.
Para nabi Allah itu tidak menimbulkan
perselisihan, karena sebenarnya perselisihan
di kalangan mereka itu telah ada, hanya saja sesudah kedatangan rasul Allah adanya perselisihan
di kalangan mereka itu mengambil bentuk baru.
Sebelum seorang nabi Allah datang orang-orang meskipun berselisih paham
antara satu sama lain, tetapi setelah kedatangan nabi Allah mereka
sebelumnya berselisih di antara
mereka itu nampak seperti satu
kaum, yakni mereka mulai terpisah
menjadi dua blok yang sangat berbeda
— orang-orang yang beriman kepada rasul Allah dan orang-orang
kafir.
Dipandang secara kolektif ayat
ini menggambarkan lima tingkat
berlainan yang telah dilalui umat manusia:
(1) Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya
merupakan satu umat.
(2) Dengan bertambahnya penduduk
dan meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang
dihadapi mereka, mereka mulai berselisih
antara satu sama lain.
(3) Kemudian Allah Swt. membangkitkan nabi-nabi dan mewahyukan
kehendak-Nya berupa syariat atau Kitab suci.
(4)
Kemudian setiap wahyu-baru
dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan melalui para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan kaum-kaum tersebut.
(5) Allah
Swt. akhirnya membangkitkan Nabi
Besar Muhammad saw. dengan Kitab-Nya terakhir (Al-Quran) beserta ajaran yang universal
(QS.5:4), beliau saw. berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar panjinya
(QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29).
Dengan demikian lingkaran telah bertemu
dan dunia atau umat manusia yang mulai dengan kesatuan
lalu ditakdirkan Allah Swt. untuk berakhir dalam kesatuan pula, firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah:
“Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku,
bahwasanya Rabb (Tuhan) kamu adalah
Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya
[21]:108-109).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu
di masa beliau saw. saja tetapi juga bagi umat manusia di masa setelah beliau saw. wafat (QS.62:3-5). Dengan
perantaraan Nabi Besar Muhammad saw. bangsa-bangsa
dunia telah diberkati, yang belum pernah umat
manusia itu diberkati
sebelum itu.
Puncak Kesempurnaan Himpunan
Keunggulan Pribadi Para Rasul Allah
Karena pribadi Nabi Besar Muhammad
saw. merupakan himpunan dari
keutamaan sifat-sifat seluruh rasul
Allah, karena itu Allah Swt. sebelumnya berfirman mengenai hal tersebut:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ
اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا
رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ وَ تَقَطَّعُوۡۤا
اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
umat kamu ini merupakan satu umat, dan Aku
adalah Rabb (Tuhan) kamu maka sembahlah
Aku. Tetapi mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,
padahal semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya
[21]:93-94).
Dalam beberapa ayat yang
mendahuluinya, beberapa nabi Allah
dan beberapa orang bertakwa
disebutkan bersama-sama. Ini bukan secara kebetulan saja. Nabi-nabi Allah itu disebut bersama-sama mempunyai suatu
tujuan tertentu. Semuanya mempunyai satu
hal yang sama. Dalam upaya memurnikan dan menegakkan Tauhid Ilahi dari berbentuk penyimpangan (kemusyrikan) para rasul
Allah mengalami penderitaan-penderitaan dan kemalangan-kemalangan
besar dalam satu bentuk atau lain tetapi mereka memperlihatkan kesabaran dan ketabahan
yang sangat tinggi dan sangat mulia di bawah himpitan cobaan-cobaan yang paling hebat. Mereka
mengajarkan pula asas pokok semua agama, yaitu Tauhid Ilahi.
Sehubungan dengan hal tersebut
Nabi Besar Muhammad saw. telah memperagakan ketangguhan yang diperlihatkan para rasul Allah tersebut dalam kuantitas
dan kualitasnya yang jauh lebih
sempurna dalam segala seginya, sebagai pengamalan dari perintah Allah Swt.
berikut ini:
اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ۚ فَاِنۡ
یَّکۡفُرۡ بِہَا ہٰۤؤُلَآءِ فَقَدۡ
وَکَّلۡنَا بِہَا قَوۡمًا لَّیۡسُوۡا بِہَا بِکٰفِرِیۡنَ ﴿ ﴾ اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ ؕ قُلۡ لَّاۤ اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ اَجۡرًا ؕ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا ذِکۡرٰی لِلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka
itulah orang-orang yang Kami telah menganugerahkan kepada mereka Kitab, kekuasaan, dan kenabian. Tetapi jika mereka
kafir terhadapnya maka sungguh Kami telah menyerahkannya kepada satu kaum
yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.
اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ فَبِہُدٰىہُمُ
اقۡتَدِہۡ -- Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka. Ka-takanlah: “Untuk tugas ini aku tidak meminta upah kepada kamu, ini
tidak lain melainkan suatu nasihat untuk
seluruh alam.” (Al-An’ām [6]:90-91).
Makna ayat:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ -- “Mereka
itulah orang-orang yang Kami telah menganugerahkan kepada mereka Kitab, kekuasaan, dan kenabian” itu tidak
berarti bahwa tiap-tiap nabi Allah diberi
Kitab masing-masing. “Memberi Kitab” itu ungkapan yang
dipergunakan dalam Al-Quran, pada umumnya dalam artian memberi
Kitab melalui seorang nabi pembawa syariat.
Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.45:17) dikatakan
bahwa tiga hal, yaitu Kitab, kedaulatan dan kenabian diberikan kepada semua keturunan Bani Israil. Dalam QS.5:45 kita baca bahwa satu rangkaian nabi Allah datang sesudah Nabi Musa a.s. tidak diberi syariat baru, melainkan mengikuti
syariat yang diberikan dalam Taurat
dan menjalankan hukum dengan syariat itu (QS.2:88).
Sebenarnya nabi-nabi
Allah itu ada dua golongan: nabi-nabi pembawa syariat yang kepada mereka masing-masing diberikan sebuah Kitab (hukum atau syariat) dan nabi-nabi Allah yang tidak diberi Kitab atau syariat, tetapi mengikuti syariat nabi pembawa
syariat. Ihwal mereka kata-kata, “Kami beri mereka Kitab” berarti
bahwa mereka diberi pengetahuan mengenai
Kitab atau mereka mewarisi Kitab
atau syariat nabi pembawa syariat
yang mendahuluinya.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 10 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar