Sabtu, 30 April 2016

Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib & Tanda Pertama Orang-orang yang Bertakwa "Beriman Kepada yang Gaib"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib  &   Tanda  Pertama Orang Bertakwa  Beriman kepada yang Gaib

Bab 33


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan  sabda Masih Mau’ud a.s.  mengenai kejahilan para pemuja logika:
Perhatikanlah bahwa tanpa wahyu tidak mungkin mencapai suatu kepastian hakiki atau menghindari kesalah-pahaman, atau mendasarkan diri pada Ketauhidan Ilahi atau pun mengatasi gejolak nafsu dirinya sendiri. Hanya melalui wahyu saja maka kita akan bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ‘memang ada.’ Adalah keberadaan wahyu yang sejak awal telah mengilhami hati manusia dengan kepastian bahwa Tuhan itu ‘memang ada.’ Hanya melalui wahyu maka para penyembah memperoleh kenikmatan dalam ibadah dan para mukminin diyakinkan akan eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kehidupan setelah kematian di dunia.
     Adalah wahyu Ilahi yang telah menguatkan hati berjuta-juta orang-orang bertakwa  meninggalkan dunia ini dengan keteguhan hati dan hasrat akan kasih Ilahi. Kebenaran  wahyu telah dibuktikan oleh darah dari beribu-ribu syuhada. Adalah daya tarik dari wahyu yang telah menggerakkan raja-raja mengenakan jubah pengemis dan banyak orang kaya yang lebih memilih kepapaan daripada kekayaan. Berkat dari wahyu juga yang menyebabkan berjuta-juta wanita tua tidak terpelajar telah meninggalkan dunia ini dengan keimanan penuh hasrat.
     Wahyu Ilahi adalah bahtera yang telah mengangkut tidak terbilang manusia melalui lubuk pusaran dari penyembahan makhluk dan keraguan menuju keselamatan dari Ketauhidan Ilahi dan kepastian hakiki. Adalah wahyu yang menjadi teman di saat terakhir dan penolong dalam keadaan yang berbahaya.
      Kemudharatan yang dilakukan terhadap dunia  akibat dari mengikuti logika saja bukanlah suatu hal yang tersembunyi. Apa yang telah menjadikan Plato dan para pengikutnya maka mereka menyangkal bahwa Tuhan adalah Sang Maha Pencipta? Apa yang menyebabkan Galen[1] meragukan keabadian ruh manusia dan realitas  (keberadaan)  Hari Penghisaban? Apa yang telah menjadikan para filosof mengingkari kenyataan bahwa Tuhan mengetahui segala hal? Apa yang telah menyebabkan para filosof akbar malah menyembah berbagai berhala? Apa yang telah mendorong manusia untuk mengorbankan ayam atau hewan lain di depan altar berhala? Tidakkah jelas bahwa semuanya itu akibat dari akal atau logika yang tidak disertai wahyu?
      Tidak benar pandangan yang mengatakan bahwa manusia tetap saja menjadi penyembah berhala atau menciptakan sesembahan baru meskipun telah mengikuti wahyu. Hal ini bukan karena kesalahan wahyu itu sendiri tetapi akibat kebiasaan mereka mencampuradukkan kedustaan dengan kebenaran dan karena lebih menyukai pemuasan nafsu mereka sendiri daripada  hasrat menyembah Tuhan. Namun nyatanya wahyu Ilahi tidak melupakan perbaikan akhlak mereka. Selalu ada wahyu-wahyu segar bagi perbaikan mereka.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 163-164, London, 1984).

Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib

       Mengenai orang-orang yang jahil yang membanggakan logika tersebut Allah Swt. menyatakan seperti  orang buta  dituntun oleh orang buta pula, firman-Nya:
بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya, tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu, bahkan mengenainya mereka buta”   (An-Naml [27]:67).
     Pengetahuan dan akal saja, tidak dapat melepaskan kerinduan jiwa manusia, tidak dapat pula secara meyakinkan membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati, kedua rukun iman yang pokok itu, sebab pengertian yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia.
      Hanya makrifat yang diperoleh dengan perantaraan wahyu Ilahi sajalah yang dapat menimbulkan dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan dalam pikiran manusia tentang hal itu. Pengetahuan manusia dengan semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan  bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan  sesudah mati itu ada, tetapi hanya wahyu Ilahi sajalah yang dapat mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian bahwa Tuhan itu “benar-benar ada”. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     “Memang benar bahwa yang namanya logika bukannya sesuatu yang tidak berguna dan kami pun tidak ada mengatakannya demikian. Hanya saja kita tidak bisa mengingkari bahwa dengan logika dan dugaan semata kita tidak akan memperoleh kepastian hakiki, belum lagi munculnya kesalahan karena pembenaran sendiri dan akibat merasa diri penting. Kepastian tersebut hanya mungkin dicapai melalui kombinasi akal dan wahyu.
      Pandangan hasil rekaan fikiran sendiri tidak akan dapat mengatasi nafsu kita sebagaimana halnya keagungan dan keluhuran firman Tuhan. Daya khayal kita tidak bisa menghasilkan kegembiraan dan kepuasan sebagaimana yang disampaikan oleh firman-firman yang menyejukkan hati dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
      Apakah setelah menyadari hal itu lalu kita hanya akan bersandar pada logika saja dan mengambil risiko mengalami berbagai kesalahan, kesulitan, kerugian dan ribuan musibah? Tidak ada manusia waras yang bisa menerima bahwa setelah Tuhan memberikan kepada manusia cita kehausan akan pemahaman hakiki, lalu meluputkan kita dari sarana pemuasannya.
         Tidak mungkin bahwa Dia yang telah menarik kalbu manusia ke arah Wujud-Nya lalu menutup pintu pemahaman hakiki dan membatasi pengenalan Tuhan hanya sebatas renungan kebutuhan fiktif belaka. Apakah mungkin bahwa Tuhan telah menciptakan manusia yang demikian sialnya sehingga tidak mampu memperoleh kepuasan batin di dunia ini juga dalam mencari pengenalan Tuhan serta hasrat yang memenuhi kalbunya?
    Apakah tidak ada satu pun dari kalian yang beribu-ribu banyaknya ini yang memahami bahwa pintu pemahaman yang hanya dapat dibuka oleh Tuhan tidak mungkin dibukakan oleh tenaga manusia, dan bahwa imajinasi (angan-angan) manusia tidak akan pernah bisa mengimbangi keyakinan yang telah diberikan Tuhan bahwa ‘Aku ini ada.’
    Penegasan mengenai Wujud-Nya yang diberikan Tuhan kepada kita tidak mungkin dihasilkan dari dugaan semata. Kalau disadari bahwa dugaan yang didasarkan pada logika semata tidak mungkin menyamai firman Tuhan yang menegaskan Eksistensi-Nya, tidakkah itu berarti bahwa firman-Nya dibutuhkan guna kesempurnaan keyakinan? Tidakkah hati kalian tergugah melihat disparitas (ketidak-seimbangan) demikian? Tidak adakah sesuatu dari semua hal yang telah kami ungkapkan ini yang bisa menyentuh hati kalian?
   Tidak sulit kiranya untuk menyadari bahwa akal manusia tidak mungkin menjadi sarana guna memastikan segala sesuatu yang tersembunyi. Siapakah dari antara kalian yang dapat menyangkal bahwa apa saja yang akan kita temui setelah kematian sesungguhnya merupakan hal yang tersembunyi?
     Sebagai contoh, apakah dari antara kalian ada yang mengetahui bagaimana nyawa memisahkan diri dari jasad saat kematian, kemana ruh itu pergi, dengan siapa perginya dan apa saya yang dialaminya? Bagaimana mungkin akal manusia memberikan kepastian tentang hal-hal seperti ini?
   Suatu pernyataan yang bersifat konklusif  (lengkap/pasti) hanya mungkin diberikan apabila manusia memang mengalami kematian lebih dari satu kali dimana ia telah mengenal jalan menuju kepada Tuhan-nya dan ia memiliki ingatan dimana saja tempat persinggahan yang telah dilaluinya dalam perjalanannya tersebut. 
    Nyatanya kita hanya memiliki dugaan-dugaan saja karena tidak ada seorang pun yang telah pernah melihat segala hal tersebut, padahal dugaan saja tidak mungkin memberikan kepastian hakiki.
     Bila kalian bermaksud menganalisis persoalan ini dengan pandangan seorang peneliti, kalian akan meyakini bahwa akal dan kesadaran manusia saja tidak akan bisa mengungkapkan hal-hal tersebut sebagai suatu kepastian,  dan tidak ada norma-norma dari hukum alam yang bisa menunjukkan arah.
    Jika berdiri sendiri, sebenarnya akal atau logika sudah kebingungan sejak awal dan tidak mampu menjelaskan apa itu nyawa atau ruh, bagaimana cara masuknya ke dalam tubuh manusia dan bagaimana cara meninggalkannya.
     Tidak ada seorang pun yang pernah melihat bagaimana ruh itu masuk dan pergi. Misalnya pun kalian masukkan suatu makhluk bernyawa ke dalam sebuah gelas (botol/tabung) terbuat dari kaca pada saat kematiannya, tetap saja kalian tidak akan melihat ada sesuatu yang meninggalkan jasadnya ketika hal (kematian)  itu terjadi.
    Menetasnya sebuah telur menimbulkan keterpesonaan yang lebih besar lagi. Bagaimana caranya nyawa memasuki telur tersebut, dan kalau  misalnya isinya mati muda, melalui cara mana nyawa itu pergi lagi? Adakah seorang bijak yang mampu menjelaskan teka-teki ini hanya berdasar logika saja?
    Bisa saja muncul berbagai dugaan, namun mengandalkan akal saja tidak mungkin mencapai suatu kepastian. Apalagi jika ingin berbicara mengenai segala hal yang ada dalam kehidupan setelah kematian kita.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 336-338, London, 1984).

Salah Satu Ciri Orang Bertakwa adalah  “Beriman  Kepada yang Gaib

     Mengisyaratkan kepada kelemahan akal (logika) manusia itu pulalah maka Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyebut  ciri  pertama orang-orang yang bertakwa adalah mereka   beriman kepada yang gaib, firman-Nya:
ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾
Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di da-lamnya,  petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.  Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka. (Al-Baqarah [2]:3-4).
      Al-ghaib berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah  Swt.,   para malaikat dan hari kiamat,  semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).
     Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
    Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal (logika) atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran (keberadaan) benda-benda yang tidak nampak itu.
     Keyakinan yang kokoh terhadap “yang gaib”   -- terutama Allah Swt. dan alam akhirat – itulah yang   menjuruskan orang-orang bertakwa tersebut  berusaha menjalin “hubungan komunikasi” dengan Allah Swt.  dalam bentuk یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ  -- “mendirikan shalat”.
     Anak kalimat  وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ  -- “dan mendirikan shalat” berarti: mereka melakukan shalat dengan segala syarat yang telah ditetapkan; aqama berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat (Lexicon Lane). Beribadah itu merupakan ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Allah Swt.Wujud Yang Maha Gaib.  Tambahan pula  karunia Ilahi  meliputi baik jasmani  maupun ruh.
    Jadi ibadah yang sempurna adalah saat ketika jasmani dan ruhani manusia keduanya sama-sama berperan. Tanpa keduanya jiwa sejati ibadah   tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan oleh jasmani hanya kulitnya, namun isi tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulit binasa isinya pun  pasti  mengalami nasib yang sama.
      Rizq  dalam ayat:   یُنۡفِقُوۡنَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ   وَ --  “dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka“   berarti  sesuatu yang dianugerahkan  Allah Swt.    kepada manusia, baik anugerah itu, bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradat).
Ayat  ini  menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan ruhani manusia:
      (1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian  menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
    (2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya, dan bila  sebagai hasil dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menciptakan  maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat  tersebut terpenuhi dengan mendirikan shalat.
      (3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup dengan Khāliq-nya (Pencipta-nya), ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti kepada sesama manusia berupa mengorbankan sebagian   rezeki yang dianugerahkan Allah Swt..
     Bahkan mengenai Nabi Besar Muhammad saw., bukan lagi “mengorbankan sebagian   rezeki yang dianugerahkan Allah Swt.“ melainkan firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupan-ku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam,  tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan, وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:163-164).
   Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan  Nabi Besar Muhammad saw. disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,  semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau  saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Hukum Alam Mengharuskan Adanya Wahyu

Jadi, betapa  hebatnya pengaruh wahyu Ilahi  terhadap munculnya keyakinan, terutama wahyu Al-Quran terhadap keyakinan Nabi Besar Muhammad saw.       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya menerima kabar gembira melalui wahyu Ilahi agar hati tetap teguh  dan tentram menghadapi kesulitan hidup:
     “Yang Maha Bijaksana tidak berkeinginan membiarkan manusia yang lemah terperangkap dalam imajinasi (angan-angan) dan dugaannya sendiri. Dia telah memberikan bermacam pengkhutbah dan pendidik yang dapat memuaskan manusia dan memberikan kedamaian pada jiwanya yang gelisah serta membekalinya dengan firman yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kaidah hukum alam dari Tuhan memastikan perlunya wahyu untuk itu.
    Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa ketika berjuta-juta manusia yang terkekang penderitaan akibat dosa dan penyelewengan, kemudian bisa dipengaruhi oleh bicara seorang pengkhutbah atau penasihat, karena ilmu dan fikiran mereka sendiri sudah tidak lagi memadai?
    Kepuasan yang diperoleh umat manusia dari sumber-sumber seperti itu tergantung juga pada kadar kekaguman dan penghormatan yang diberikan kepada sumber tersebut. Hanya janji-janji dari seorang yang bersifat amanah pada janjinya serta memiliki kemampuan memperbaiki mereka yang akan memberikan kepuasan dan ketenteraman kepada para pendengar atau pengikutnya.
   Dalam keadaan seperti itu, siapa yang akan meragukan jika ada yang menyatakan bahwa berkaitan dengan keadaan manusia setelah mati dan hal-hal yang bersifat metaphisika, cara terbaik mendapatkan kepuasan dan pemupus kesakitan ruhani adalah firman Tuhan.
    Jika seseorang beriman sepenuhnya pada firman Tuhan maka hal itu akan menyelamatkan yang bersangkutan dari berbagai pusaran permasalahan, meredam nafsu-nafsu yang berlebihan serta mengaruniakan kepadanya keteguhan hati menghadapi musibah-musibah yang menakutkan.
    Ketika seorang bijak pada saat kesulitan atau sedang dalam cengkeraman nafsu, bisa menemukan janji atau peringatan Tuhan di dalam firman-Nya, atau melalui penjelasan dari seseorang tentang apa yang diperintahkan Tuhan maka yang bersangkutan akan demikian terpengaruh sehingga langsung bertobat.
    Manusia selalu membutuhkan Tuhan guna menenteramkan dirinya. Demikian seringnya ia harus menghadapi berbagai musibah sehingga jika tidak ada firman Tuhan yang memberikan kabar suka, pasti ia akan berputus asa sedemikian rupa sampai-sampai ia akan menyangkal Tuhan-nya, atau bahkan dalam kekecewaannya malah meninggalkan Tuhan sama sekali atau juga mati karena kesedihan. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan:
 وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
“Dan niscaya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan; tetapi hai Rasul berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Mereka inilah yang dilimpahi berkah dan rahmat dari Tuhan mereka pulalah yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
      Dengan cara yang sama, guna mengatasi nafsu seseorang maka dibutuhkan firman Tuhan karena pada setiap langkahnya manusia selalu terantuk pada permasalahan yang hanya bisa diatasi dengan bantuan firman Tuhan. Bila seseorang berkeinginan berpaling kembali kepada Tuhan, ia akan menghadapi berbagai rintangan. Terkadang ia teringat kembali pada segala kenikmatan duniawi, tertarik kepada keakraban kawan-kawannya atau gamang menghadapi kesulitan dalam jalan yang akan ditempuh.
      Kadang kala kebiasaan dan adat setempat menghalangi jalannya, atau juga pertimbangan mengenai derajat kehormatan, kemuliaan atau pun kekuasaan duniawi. Bisa jadi semuanya itu bergabung bersama menjadi satu seperti gerombolan yang berusaha menariknya ke arah mereka dan menawarkan kepadanya berbagai kemudahan atau kenikmatan dimana kesatuan mereka itu menekan fikirannya sedemikian rupa sehingga tidak tertahankan lagi.
       Dalam perseteruan seperti itu maka persenjataan yang efektif berupa firman Tuhan amat diperlukan guna menumpas kekuatan lawan pada serangan pertama. Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya pada satu sisi saja. Tak mungkin Tuhan akan berdiam diri seperti batu sedangkan hamba-Nya berusaha mencapai kemajuan dengan kekuatannya sendiri guna mengembangkan kesetiaan, ketulusan dan keteguhan hati. Manusia akan melaju maju dalam kasih dan diperkuat oleh keyakinan bahwa ada Wujud Yang menciptakan langit dan bumi. Dugaan saja tidak akan pernah bisa menggantikan fakta.
      Sebagai contoh, misalkan seorang miskin yang berutang memperoleh janji dari seorang kaya yang jujur bahwa pada saat pelunasannya nanti ia akan dibantu menyelesaikan semua utangnya, dibandingkan dengan pengutang lain yang tidak mendapat janji dari siapa pun dimana ia terpaksa menahan diri untuk tidak berangan-angan bahwa ia akan dibantu seseorang melunasi utangnya ketika saatnya tiba. Apakah mungkin kedua orang seperti itu memiliki tingkat kepuasan yang sama? Jelas tidak!
     Semua hal ini tercakup dalam hukum alam dan tidak ada kebenaran lain yang berada di luarnya. Sial sekali mereka yang katanya mengaku mengikuti hukum alam tetapi kemudian melepaskan diri dan malah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 340-342, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 30 April    2016






[1] Galen adalah ahli pengobatan, pengarang dan filosof Yunani yang lahir di Pergamum 10 (sekarang Bergama, Turki) tahun 129 meninggal 216. Jalan fikirannya amat dominan mempengaruhi teori-teori kedokteran Barat mau pun Islam sampai dengan abad ke 17. (Penterjemah/Khalid A. Qoyum)

Jumat, 29 April 2016

Tiga "Teman" Logika (Akal) yang Membawa Kepada "Keyainan" yang Menentramkan Hati: Pengalaman, Sejarah dan Wahyu Ilahi



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI


Tiga “Teman” Logika yang Membawa Kepada Keyakinan yang Menentramkan Hati: Pengalaman, Sejarah, dan Wahyu Ilahi

Bab 32


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian  akhir Bab sebelumnya   telah dijelaskan  sabda Masih Mau’ud a.s.   mengenai  peran wahyu Ilahi  sebagai  sahabat baik  bagi logika yang menolongnya dari ketersesatan:
     “Bukankah suatu hal yang amat baik jika logika ditemani oleh wahyu yang bisa memeliharanya dari jatuh terjerumus dan menopangnya ketika tergelincir? Apakah sahabat seperti itu akan menjadi hambatan ataukah sebaliknya sebagai penolong? Hanya mereka yang berfikiran cupat yang akan menganggap seorang penolong sebagai penghambat dan melihat suatu yang sempurna sebagai suatu hal yang berbahaya.
       Kalau saja kalian mau merenunginya secara mendalam, akan jelas kepada kalian bahwa Tuhan tidak akan merugikan logika dengan cara memberikan wahyu sebagai sahabatnya. Bahkan sebaliknya, ketika Dia melihat logika manusia sudah kebingungan maka Dia lalu memberikan instrumen yang pasti bagi akal untuk mengenali kebenaran sehingga dengan demikian maka akal akan terpelihara dari kemungkinan menyimpang ke segala arah yang salah.
      Bahkan dengan wahyu itu maka akal manusia menemukan tujuan hakiki eksistensinya. Keadaannya sama seperti seseorang yang mengarahkan pencaharian sesuatu yang hilang ke tempat dimana hal itu tersembunyi. Tidak akan ada orang yang lalu berkeberatan atas bantuan penolong seperti itu, yang telah amat membantu dengan memberikan jalan termudah mencapai hal yang sedang dicari tersebut, apalagi dengan mengatakan bahwa si penolong tersebut hanya menghambat pencaharian saja.
    Sebaliknya, mereka yang terlibat akan sangat berterima kasih karena telah diungkapkan bagi mereka kebodohan mereka sendiri dan disediakan petunjuk arah ke gerbang kepastian sehingga mereka tidak lagi hanya menduga-duga saja.
     Dengan cara demikian itulah maka mereka yang dikaruniai akal yang waras oleh Allah Swt. akan berterima kasih dan memuji wahyu hakiki. Mereka inilah yang menyadari bahwa wahyu tidak akan menghambat kemajuan proses berfikir mereka, bahkan membantunya agar tidak rancu.
     Wahyu memberikan pengarahan kepada jalan yang pasti dan benar, yang melaluinya maka manusia terpelihara dari segala kesulitan yang diakibatkan oleh singkatnya umur manusia, terbatasnya pengetahuan dan ketiadaan wawasan.” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  307-309, London, 1984).

Peran Wahyu Ilahi  Sebagai “Pelita Penerang

    Sejalan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s.  tersebut, Allah Swt. berfirman mengenai peran wahyu Ilahi dalam menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk “kegelapan” (kesesatan dan kebodohan) akibat kelemahan logika, firman-Nya:
اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Allah adalah Pelindung orang-orang beriman,  Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, dan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thāghūt,  yang   mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, mereka itu  penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:258).
Allah Swt. berfirman  lagi:
اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ  اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah  orang yang telah mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami menjadikan baginya cahaya dan ia berjalan dengan cahaya itu  di tengah-tengah manusia, sama  seperti keadaan  orang yang berada di dalam berbagai macam kegelapan  dan ia  sekali-kali tidak  dapat keluar darinya?  Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang kafir apa yang senantiasa mereka kerjakan.  Dan demikianlah Kami  menjadikan di dalam tiap negeri pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang terkena makar mereka kecuali dirinya sendiri tetapi mereka tidak menyadarinya. (Al-An’ām [6]:123-124).
   Dalam ayat-ayat terdahulu (QS.6:117-122) telah diterangkan bahwa hukum-hukum rekaan manusia selamanya ada kekurangannya.  Dalam ayat sekarang  (123) disebutkan bahwa ajaran-ajaran yang direka manusia tidak dapat melawan ajaran-ajaran Allah Swt. yang diturunkan melalui wahyu Ilahi kepada rasul Allah pembawa syariat.
    Adapun mereka yang merancang undang-undang dengan pertolongan akal manusia sendiri, sama halnya seperti orang yang meraba-raba dalam gelap dan tidak dapat keluar dari sana, sebab     Allah Swt. telah menciptakan segala sesuatu “berpasangan”, dan pasangan  hakiki  bagi logika  (akal) adalah wahyu Ilahi, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan baik dari apa yang ditum-buhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui.  (Yā Sīn [36]:37).
   Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati, dan malahan dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya, karena  unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud. Kebenaran ilmiah ini berlaku juga untuk kecerdasan manusia. Sebelum nur-nur samawi – berupa wahyu Ilahi   -- turun, manusia tidak dapat memperoleh ilmu sejati yang lahir dari perpaduan wahyu Ilahi dan kecerdasan otak manusia.

Fungsi Logika dan Kelemahannya &  Peran Wahyu Ilahi

     Sehubungan dengan fungsi logika  selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan:
  “Memang benar sesungguhnya logika merupakan obor penerangan yang diberikan Tuhan kepada manusia,  agar mereka dibawa kepada kebenaran dan memeliharanya dari segala keraguan dan kecurigaan serta mengesampingkan berbagai pola fikiran yang tidak berdasar dan dugaan-dugaan yang salah.
     Kemampuan logika merupakan suatu hal yang amat berguna, amat diperlukan dan merupakan suatu karunia akbar. Hanya saja meski pun memiliki kemampuan yang demikian hebat, tetap saja logika memiliki kelemahan dimana ia dengan sendirinya saja tidak akan bisa memberikan kepastian sepenuhnya dalam pemahaman realitas dari segala hal.
     Tingkat tertinggi dari kepastian hakiki ialah ketika manusia bisa menyadari bahwa realitas suatu benda memang sesuai dengan faktanya. Dengan logika saja tidak mungkin dicapai tingkat kepastian yang demikian tinggi, karena logika hanya membuktikan bahwa sesuatu itu sewajarnya  (seharusnya) eksis (ada),  namun tidak membuktikan bahwa hal itu secara faktual memang eksis.
     Tingkat kepastian pengetahuan seseorang seharusnya mampu bergerak dari tingkat ‘seharusnya ada’ kepada tingkatan ‘memang benar ada’ dan hal ini hanya bisa dicapai jika logika ditemani sesuatu yang setelah meyakini penampilannya lalu mengkonversinya (mengubahnya) menjadi suatu fakta.
   Logika hanya menetapkan perlunya ada sesuatu namun tidak dapat memastikan eksistensinya (keberadaannya). Karena itulah logika memerlukan teman yang menjadi suplemen (pelengkap) guna membuktikan apakah ‘seharusnya ada’ dari logika dengan afirmative  (mengesahkan/menguatkan) bahwa ‘memang benar ada’ disamping informasi tentang fakta sebagaimana adanya.
    Allah Yang Maha Pemurah  dan Maha Penyayang menginginkan manusia bisa mencapai tingkat kepastian yang tertinggi dan Dia memenuhi kebutuhan untuk itu dengan cara memberikan beberapa teman bagi logika. Dengan cara demikian maka arah kepada kepastian hakiki menjadi terbuka agar kalbu manusia yang keselamatannya tergantung pada kepastian tersebut tidak kehilangan haknya,  sehingga nurani manusia bisa segera menyeberang melalui “jembatan berbahaya” yang bernama ‘seharusnya ada’ yang melintas di atas “sungaikeraguan dan kecurigaan, memasuki istana akbar dari ‘memang benar ada’ yang merupakan maqam (martabat) kedamaian dan kepuasan hati.

Tiga “Teman” Logika: (1) Pengalaman. (2) Sejarah, (3) Wahyu Ilahi

    Teman-teman logika -- yang juga menjadi penolong tersebut -- berfungsi menurut saatnya yang tepat dan jumlahnya hanya ada tiga. Dalam hal logika sedang mencerna sesuatu yang bisa dirasa atau diperhatikan,  seperti sesuatu yang dilihat, didengar, dicium atau diraba, maka teman logika yang akan memberikan kepastian adalah ‘pengalaman.’
     Jika logika sedang mempertimbangkan sesuatu yang terjadi di tempat dan saat yang berbeda, maka teman logika dalam hal ini adalah ‘sejarah’ dalam bentuk surat kabar, surat, buku atau catatan.   Sejarah berikut pengalaman akan mencerahkan kekelaman logika seseorang,  sehingga penyangkalan akan hal itu selanjutnya dianggap sebagai kebodohan atau ketidak-warasan.
       Bila kinerja logika berkaitan dengan hal-hal yang bersifat metaphisika -- yang tidak bisa dilihat dengan mata, didengar melalui telinga, disentuh dengan tangan serta tidak bisa ditanya melalui sejarah -- maka teman yang bisa membantu logika hanyalah wahyu.
      Hukum alam menetapkan bahwa sebagaimana cacat kekurangan logika pada dua keadaan sebelumnya diatasi dengan kedua teman tersebut, maka harus juga ada teman dari logika yang menemaninya pada keadaan kategori ketiga.   Dalam hukum alam tidak ada diskriminasi dan selalu berlaku umum.
      Jika nyatanya Tuhan tidak ingin membiarkan manusia dalam keadaan cacat mengenai pengetahuan keduniaan, yang sebenarnya tidak banyak merugikan dirinya, maka jelas Dia juga tidak akan mengabaikan manusia berkaitan dengan pemahaman berbagai hal dimana kondisi keselamatan ruhaninya akan sangat bergantung,  karena bisa membawa kebinasaan abadi atas dirinya.
       Tanpa bantuan Ilahi maka pengetahuan manusia tentang  alam  akhirat yang akan datang semata-mata hanya berdasarkan dugaan-dugaan dan ia tidak memiliki sarana apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk memberi kepastian serta kepuasan batin.
     Kebutuhan logika yang memerlukan kepastian tersebut  bukanlah sesuatu yang mengada-ada melainkan suatu hal yang nyata. Bilamana disadari bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi bahwa manusia hanya bisa memperoleh kepastian hakiki melalui wahyu dan ia memang membutuhkannya untuk keselamatan ruhaninya, karena tanpa kepastian hakiki tidak mungkin menjaga keimanan seseorang, jelas kiranya jika manusia memang benar-benar membutuhkan wahyu Ilahi.” (Barāhin-i- Ahmadiyyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1880, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld, I, hlm.  78-80, London, 1984).

Keakuratan Informasi Berdasarkan Pengalaman Sendiri

     Keakuratan Informasi  yang diperoleh dari  nara-sumber yang mengalaminya sendiri   lebih pasti  mengenai kebenarannya daripada informasi yang diperoleh dari nara-sumber  yang mengetahuinya dari pemberitahuan sumber lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Konsep-konsep pemikiran tidak saja mempunyai kekurangan dari segi kepastian -- disamping juga tidak mampu memahami rincian detil dari hal-hal yang berkaitan dengan Samawi --  namun yang pokok adalah karena diskursus (artikel/paparan) yang didasarkan pada logika semata tidak efektif dalam mempengaruhi kalbu manusia.
      Suatu diskursus (artikel/paparan) bisa mempengaruhi nurani manusia jika kebenaran yang dikemukakannya memang sepenuhnya diterima hati manusia tanpa ada ruang bagi keraguan sekecil apa pun karena tiadanya kemungkinan kesalahan.
      Kami telah mengungkapkan bagaimana logika saja tidak mungkin memberikan kepastian yang sempurna. Jadi jelas kiranya bahwa pengaruh yang dihasilkan oleh suatu kepastian yang sempurna tidak mungkin diharapkan semata-mata dari logika saja dan semua itu dibuktikan oleh pengalaman sehari-hari.
      Sebagai contoh, ketika seseorang kembali ke rumahnya setelah bepergian ke suatu negeri yang jauh, semua kenalannya tentu ingin tahu bagaimana keadaan negeri tersebut. Mereka itu menerima dengan baik penuturan yang bersangkutan sepanjang ia itu termasuk orang yang dihargai dan jujur serta tidak dicurigai sebagai pendusta.
      Mengapa kata-katanya diterima dengan baik? Terutama adalah karena yang bersangkutan dianggap sebagai seorang yang benar dan mereka meyakini bahwa apa pun yang diceritakannya tentang negeri yang  jauh tersebut memang telah disaksikannya dengan mata kepala sendiri.
       Dengan demikian maka penuturan yang bersangkutan akan mempengaruhi kalbu para pendengarnya dan pernyataan yang dikeluarkannya dianggap sebagai pengalaman mereka sendiri pula. Terkadang jika ia menceritakan suatu keadaan menyedihkan maka para pemirsanya ikut meneteskan air mata seolah-olah menyaksikan sendiri kejadiannya.
     Lalu kalau ada seseorang yang belum pernah keluar dari batas keempat dinding rumahnya apalagi pernah melanglang ke negeri lain, tidak pula pernah mendengar keadaan atau lingkungan suatu negeri, kemudian ia berbicara menuturkan keadaan dan lingkungan suatu negeri semata-mata hanya berdasarkan khayalannya saja, jelas pembicaraannya tidak akan mempunyai efek apa pun kepada para pendengarnya.
     Yang pasti adalah mereka akan menganggapnya sebagai seorang yang kurang waras,  karena mengutarakan sesuatu yang berada diluar penelaahan, pengalaman serta pengetahuan dirinya. Keadaannya mirip dengan cerita tentang seorang bodoh yang menyatakan keunggulan roti dari tepung yang murni, ketika ada yang bertanya apakah ia pernah menyantapnya, ia menjawab belum pernah tetapi kakeknya dulu pernah suatu waktu melihat orang lain menyantapnya.
    Kecuali dalam pandangan para pemirsa atau pendengarnya bahwa yang bersangkutan sepenuhnya memahami apa yang diutarakannya (diceritakannya), maka diskursus (artikel/paparan) yang bersangkutan tidak akan membuahkan hasil sama sekali dalam kalbu mereka, bahkan ia hanya akan menjadi bulan-bulanan ejekan orang.
     Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa diskursus orang-orang bijak yang bersifat sekuler (keduniawian) tentang keadaan di   alam  akhirat tidak pernah menarik minat orang. Para pendengarnya tetap saja berfikir bahwa selama si pembicara mengungkapkannya berdasar dugaan semata, mereka juga bisa membantah dengan dugaan mereka sendiri mengingat kedua fihak belum ada yang pernah menyaksikan realitasnya.
    Ini juga yang menjadi penyebab mengapa ketika beberapa orang bijak  duniawi (filsuf) menyatakan dirinya menyokong eksistensi  (keberadaan)  Tuhan maka orang bijak lainnya menentang mereka dan malah menulis buku-buku yang menyokong atheisme.
    Kenyataannya pemikiran mereka yang menyatakan dirinya sampai suatu tingkat tertentu sebagai penyokong eksistensi Tuhan, sebenarnya belum sama sekali bersih dari konsep pemikiran atheistik.

Kepicikan Pandangan Kaum Brahmo Samaj Mengenai Wahyu Ilahi

     Perhatikan saja misalnya kaum Brahmo. Mereka tidak meyakini bahwa Tuhan memiliki Sifat-sifat yang sempurna. Mereka tidak percaya bahwa Dia memiliki Sifat berbicara sebagai mana halnya makhluk hidup. Mereka tidak meyakini Wujud-Nya sebagai Maha Pengendali dan Maha Pemelihara. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Hidup dan Maha Penjaga serta Dia itu berbicara kepada hati-hati yang bertakwa.  Mereka menganggap-Nya sebagai sosok yang fiktif dan merupakan hasil imajinasi khayalan manusia. Tidak ada yang pernah mendengar suara-Nya. Nyatanya Dia itu bukan Tuhan, tetapi hanya sebuah berhala yang terletak di sebuah sudut.
    Aku tidak habis mengerti bagaimana kaum ini bisa menerima konsep pemikiran yang kekanak-kanakan tersebut dan apa yang menjadi hasil dari pemikiran fiktif seperti itu? Mengapa mereka tidak berusaha mencari sebagai seorang pencari kebenaran adanya Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Hidup serta menegaskan eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) Sendiri dan menghidupkan yang mati dengan ucapan: “Aku-lah Allah.”
     Ketika mereka menyadari bahwa terangnya logika tertutup kabut, mengapa mereka tidak mencari pencerahan yang sempurna? Mereka mengakui kalau mereka itu sedang sakit, tetapi tidak mau mencari obatnya. Sayang sekali mereka itu tidak mau membuka mata mereka untuk melihat kebenaran.
      Kenapa tutup telinga mereka tidak dibuang agar mereka bisa mendengar suara Ilahi? Mengapa hati mereka begitu berbelit dan mengapa pemahaman mereka begitu rancu sehingga kelemahan diri mereka itu malah dilontarkan kepada para pengikut wahyu yang hakiki?
       Kaum Brahmo Samaj juga mempunyai ilusi lain, bahwa yang namanya wahyu merupakan suatu pembatasan,  dan karena mereka itu terbebas dari segala kekangan, maka mereka itu sebenarnya lebih baik sebagaimana seorang bebas lebih baik daripada seorang tawanan.

Kemerdekaan Hakiki Melalui Wahyu Ilahi

     Kita terima kritik ini dan mengakui bahwa wahyu merupakan kekangan, namun suatu kekangan yang tanpanya tak mungkin mencapai kemerdekaan hakiki. Yang dimaksud dengan kemerdekaan hakiki adalah keadaan dimana seseorang terbebas dari segala bentuk kesalahan, keraguan dan kecurigaan guna mencapai tingkat kepastian yang sempurna, sehingga yang bersangkutan bisa menyaksikan Tuhan-nya bahkan di dunia ini juga.
      Kemerdekaan hakiki demikian diperoleh di dunia ini juga oleh para Muslim yang takut kepada Tuhan mereka melalui tuntunan Kitab Suci Al-Quran yang tidak tersedia kepada umat lainnya, termasuk kaum Brahmo atau pun yang lainnya.
    Keberatan lain yang dikemukakan kaum Brahmo Samaj ialah bahwa mematuhi suatu wahyu sama saja dengan menentang hukum alam, karena pandangan yang jernih dan terang tentang suatu realitas hanya mungkin dicapai melalui logika.
      Sebagai contoh, tindak pencurian itu secara logika dianggap sebagai suatu yang tidak pantas dan tidak diizinkan secara sosial, dan bukan karena dianggap sebagai dosa oleh kitab-kitab yang diwahyukan. Arsenik tidak boleh ditelan karena merupakan racun yang mematikan, dan bukan karena dilarang oleh wahyu Ilahi. Karena itu mereka bersikeras menyatakan bahwa logika itulah yang mengungkapkan realitas hakiki dan bukannya wahyu.
      Mereka tidak menyadari fakta bahwa argumentasi mereka menjadi mentah dengan sendirinya ketika dibuktikan bahwa yang namanya logika itu tidak sempurna dan tidak bisa diandalkan, apalagi jika masalahnya tidak diperkuat oleh pengulangan kejadian.
     Memang benar bahwa sampai suatu tingkat tertentu, realitas segala hal diungkapkan melalui argumentasi yang berdasar logika, namun logika saja tidak bisa melengkapi sampai ke tingkat kepastian tertinggi.
    Contoh-contoh yang mereka kemukakan justru menafikan (menolak) pandangan mereka. Sifat mematikan dari arsenik tidak semata-mata berdasarkan logika itu semata, karena kepastian fitratnya tersebut baru akan jelas sepenuhnya setelah eksprimen memperlihatkan sifat-sifat tersembunyi dari arsenik. Hal inilah yang ingin kami tegaskan, bahwa untuk mencari kepastian tentang sifat mematikan dari arsenik maka logika harus diikuti salah satu temannya yaitu upaya eksprimen yang sejalan.

Kepastian Mengenai Kebenaran Hal-hal yang Bersifat Gaib

      Begitu juga untuk menentukan kepastian dari hal-hal yang bersifat Samawi serta realitas kehidupan manusia setelah kematian maka logika memerlukan bantuan dari wahyu Ilahi, karena tanpa itu maka logika tidak akan mungkin mendapatkan kepastian hakiki dalam segala hal yang berkaitan dengan keimanan.
     Berkaitan dengan hal-hal lainnya pun, akal saja tanpa dibantu sarana lain menjadi tidak berdaya, tidak sempurna dan tidak akan lengkap.  Menurut batasan kemampuannya sendiri maka akal saja tidak akan mampu menentukan sesuatu secara pasti.
    Akal atau logika harus selalu ditemani yang lainnya agar terlepas dari kemungkinan kesalahan, apalagi dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi, dimana realitasnya tersembunyi di belakang tabir yang berlapis, sedangkan contohnya tidak ada di dunia ini. Dalam hal ini logika yang tidak sempurna tidak bisa menuntun manusia kepada pemahaman hakiki, apalagi menghindari segala kemungkinan kesalahan.
    Kesulitan yang kami temui berkenaan dengan hal-hal yang terkait dengan dunia yang tidak terlihat (dunia gaib) serta keterpesonaan yang dijumpai ketika membayangkan keadaan dari dunia yang tidak terlihat dan tersembunyi tersebut, memaksa kami harus mengakui bahwa untuk bisa memahami sepenuhnya dunia tersebut serta meyakininya secara pasti, kita ini memerlukan lebih banyak ahli sejarah, tawarikh dan orang-orang yang berpengalaman dibanding untuk meneliti dunia nyata yang ada sekarang ini.
      Ahli sejarah atau tawarikh dari dunia tersembunyi tersebut tidak lain adalah firman Tuhan karena tanpanya maka yang namanya kepastian tidak akan pernah ditemui. Dalam keadaan seperti itu tidak akan ada orang waras yang akan mengabaikan wahyu dan mengandalkan dirinya semata-mata kepada logika saja yang nyatanya memang tidak sempurna tersebut. Keselamatan ruhaninya dalam hal ini amat bergantung kepada wahyu,  karena hanya dengan wahyu saja bisa dihindarkan upaya menduga-duga.
      Wahyu yang menemani argumentasi yang berasaskan akal akan memberikan kepada kita informasi tentang fakta-fakta dari dunia berikut (akhirat) tersebut,  sebagaimana seorang ahli sejarah memberikan penuturan tentang suatu pandangan mata [yang terjadi di masa lalu]” (Barāhin-i-Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm. 327-335, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 29 April    2016