Bismillaahirrahmaanirrahiim
WAHYU, ILHAM,
KASYAF DAN MIMPI
Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib & Tanda Pertama Orang
Bertakwa “Beriman kepada yang
Gaib”
Bab 33
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai kejahilan para pemuja logika:
“Perhatikanlah bahwa tanpa wahyu tidak mungkin mencapai suatu kepastian hakiki atau menghindari kesalah-pahaman, atau mendasarkan diri pada Ketauhidan Ilahi atau pun mengatasi gejolak nafsu dirinya sendiri. Hanya melalui wahyu saja maka kita akan bisa mengatakan bahwa Tuhan itu ‘memang ada.’ Adalah
keberadaan wahyu yang sejak awal
telah mengilhami hati manusia dengan
kepastian bahwa Tuhan itu ‘memang
ada.’ Hanya melalui wahyu
maka para penyembah memperoleh kenikmatan dalam ibadah dan para mukminin
diyakinkan akan eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kehidupan setelah kematian di dunia.
Adalah wahyu Ilahi yang telah menguatkan
hati berjuta-juta orang-orang bertakwa meninggalkan dunia ini dengan keteguhan hati dan hasrat akan kasih Ilahi.
Kebenaran wahyu telah dibuktikan
oleh darah dari beribu-ribu syuhada. Adalah daya tarik dari wahyu
yang telah menggerakkan raja-raja
mengenakan jubah pengemis dan banyak
orang kaya yang lebih memilih kepapaan daripada kekayaan. Berkat dari wahyu
juga yang menyebabkan berjuta-juta wanita
tua tidak terpelajar telah meninggalkan
dunia ini dengan keimanan penuh hasrat.
Wahyu
Ilahi adalah bahtera yang telah mengangkut tidak terbilang manusia
melalui lubuk pusaran dari penyembahan makhluk dan keraguan menuju keselamatan dari Ketauhidan
Ilahi dan kepastian hakiki.
Adalah wahyu yang menjadi teman di saat terakhir dan penolong
dalam keadaan yang berbahaya.
Kemudharatan
yang dilakukan terhadap dunia akibat dari mengikuti logika saja bukanlah suatu hal yang tersembunyi. Apa yang
telah menjadikan Plato dan para pengikutnya maka mereka menyangkal bahwa Tuhan adalah Sang Maha
Pencipta? Apa yang menyebabkan Galen[1] meragukan keabadian ruh manusia dan realitas (keberadaan) Hari
Penghisaban? Apa yang telah menjadikan para filosof mengingkari
kenyataan bahwa Tuhan mengetahui segala hal? Apa yang telah
menyebabkan para filosof akbar malah
menyembah berbagai berhala? Apa yang telah mendorong
manusia untuk mengorbankan ayam atau
hewan lain di depan altar berhala? Tidakkah jelas bahwa
semuanya itu akibat dari akal atau logika yang tidak disertai
wahyu?
Tidak benar pandangan yang mengatakan bahwa manusia tetap saja menjadi penyembah
berhala atau menciptakan sesembahan
baru meskipun telah mengikuti wahyu.
Hal ini bukan karena kesalahan wahyu
itu sendiri tetapi akibat kebiasaan
mereka mencampuradukkan kedustaan
dengan kebenaran dan karena lebih menyukai pemuasan nafsu mereka sendiri
daripada hasrat menyembah Tuhan. Namun nyatanya wahyu Ilahi tidak melupakan perbaikan
akhlak mereka. Selalu ada wahyu-wahyu
segar bagi perbaikan mereka.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
163-164, London, 1984).
Akal (Logika) Tidak Mengetahui Hal-hal yang Gaib
Mengenai orang-orang yang jahil yang membanggakan
logika tersebut Allah Swt. menyatakan
seperti orang buta dituntun oleh orang buta pula, firman-Nya:
بَلِ ادّٰرَکَ
عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ
ہُمۡ فِیۡ شَکٍّ مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ ہُمۡ
مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Bahkan
sebenarnya pengetahuan mereka mengenai
akhirat telah sampai kepada batasnya,
tetapi mereka dalam keragu-raguan
mengenai itu, bahkan mengenainya
mereka buta” (An-Naml [27]:67).
Pengetahuan
dan akal saja, tidak dapat melepaskan
kerinduan jiwa manusia, tidak dapat
pula secara meyakinkan membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati,
kedua rukun iman yang pokok itu,
sebab pengertian yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia.
Hanya makrifat
yang diperoleh dengan perantaraan wahyu
Ilahi sajalah yang dapat menimbulkan
dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan
dalam pikiran manusia tentang hal
itu. Pengetahuan manusia dengan
semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan sesudah mati itu ada, tetapi hanya wahyu Ilahi
sajalah yang dapat mengubah kemungkinan
itu menjadi kepastian bahwa Tuhan itu “benar-benar ada”. Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Memang benar
bahwa yang namanya logika bukannya sesuatu yang tidak berguna dan kami pun tidak ada mengatakannya demikian. Hanya
saja kita tidak bisa mengingkari
bahwa dengan logika dan dugaan semata kita tidak akan
memperoleh kepastian hakiki, belum
lagi munculnya kesalahan karena pembenaran sendiri dan akibat merasa diri penting. Kepastian tersebut hanya mungkin
dicapai melalui kombinasi akal dan wahyu.
Pandangan hasil rekaan fikiran sendiri tidak akan dapat mengatasi nafsu kita sebagaimana halnya keagungan dan keluhuran
firman Tuhan. Daya khayal kita
tidak bisa menghasilkan kegembiraan
dan kepuasan sebagaimana yang
disampaikan oleh firman-firman yang menyejukkan hati dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
Apakah setelah menyadari hal itu lalu kita hanya akan bersandar pada logika
saja dan mengambil risiko mengalami
berbagai kesalahan, kesulitan, kerugian dan ribuan musibah?
Tidak ada manusia waras yang bisa
menerima bahwa setelah Tuhan
memberikan kepada manusia cita kehausan
akan pemahaman hakiki, lalu meluputkan kita dari sarana pemuasannya.
Tidak
mungkin bahwa Dia yang telah menarik
kalbu manusia ke arah Wujud-Nya
lalu menutup pintu pemahaman hakiki
dan membatasi pengenalan Tuhan hanya
sebatas renungan kebutuhan fiktif
belaka. Apakah mungkin bahwa Tuhan telah menciptakan manusia yang demikian sialnya sehingga tidak
mampu memperoleh kepuasan batin di dunia ini juga dalam mencari pengenalan Tuhan serta hasrat yang memenuhi kalbunya?
Apakah tidak ada satu pun dari kalian
yang beribu-ribu banyaknya ini yang memahami
bahwa pintu pemahaman yang hanya
dapat dibuka oleh Tuhan tidak mungkin dibukakan oleh tenaga manusia, dan
bahwa imajinasi (angan-angan) manusia tidak akan pernah bisa mengimbangi keyakinan yang telah
diberikan Tuhan bahwa ‘Aku
ini ada.’
Penegasan
mengenai Wujud-Nya yang diberikan Tuhan kepada kita tidak mungkin dihasilkan dari dugaan
semata. Kalau disadari bahwa dugaan
yang didasarkan pada logika semata tidak mungkin menyamai firman Tuhan yang menegaskan Eksistensi-Nya, tidakkah itu
berarti bahwa firman-Nya dibutuhkan
guna kesempurnaan keyakinan?
Tidakkah hati kalian tergugah melihat disparitas (ketidak-seimbangan) demikian? Tidak adakah sesuatu dari
semua hal yang telah kami ungkapkan
ini yang bisa menyentuh hati kalian?
Tidak
sulit kiranya untuk menyadari
bahwa akal manusia tidak mungkin
menjadi sarana guna memastikan segala sesuatu yang tersembunyi. Siapakah dari antara
kalian yang dapat menyangkal bahwa
apa saja yang akan kita temui
setelah kematian sesungguhnya
merupakan hal yang tersembunyi?
Sebagai contoh, apakah dari antara kalian ada
yang mengetahui bagaimana nyawa
memisahkan diri dari jasad saat kematian, kemana ruh itu pergi, dengan siapa
perginya dan apa saya yang dialaminya?
Bagaimana mungkin akal manusia
memberikan kepastian tentang hal-hal
seperti ini?
Suatu pernyataan
yang bersifat konklusif (lengkap/pasti) hanya mungkin diberikan apabila manusia memang mengalami kematian lebih dari satu kali dimana ia telah mengenal jalan menuju
kepada Tuhan-nya dan ia memiliki ingatan dimana saja tempat persinggahan yang telah
dilaluinya dalam perjalanannya
tersebut.
Nyatanya kita hanya memiliki dugaan-dugaan saja karena tidak ada seorang pun yang telah pernah melihat segala hal tersebut,
padahal dugaan saja tidak mungkin memberikan kepastian hakiki.
Bila kalian bermaksud menganalisis persoalan ini dengan pandangan seorang peneliti,
kalian akan meyakini bahwa akal dan kesadaran manusia saja tidak akan bisa mengungkapkan hal-hal tersebut sebagai suatu kepastian, dan tidak ada norma-norma dari hukum alam yang bisa menunjukkan
arah.
Jika berdiri sendiri, sebenarnya akal atau logika sudah kebingungan
sejak awal dan tidak mampu menjelaskan
apa itu nyawa atau ruh, bagaimana cara masuknya ke dalam tubuh
manusia dan bagaimana cara
meninggalkannya.
Tidak
ada seorang pun yang pernah melihat
bagaimana ruh itu masuk dan pergi. Misalnya pun kalian masukkan
suatu makhluk bernyawa ke dalam
sebuah gelas (botol/tabung) terbuat
dari kaca pada saat kematiannya, tetap saja kalian tidak akan melihat ada sesuatu yang meninggalkan jasadnya ketika hal
(kematian) itu terjadi.
Menetasnya
sebuah telur menimbulkan keterpesonaan yang lebih besar lagi.
Bagaimana caranya nyawa memasuki telur tersebut, dan kalau misalnya isinya mati muda, melalui cara mana nyawa
itu pergi lagi? Adakah seorang bijak
yang mampu menjelaskan teka-teki ini
hanya berdasar logika saja?
Bisa saja muncul berbagai dugaan, namun mengandalkan akal saja tidak mungkin mencapai suatu kepastian. Apalagi jika ingin berbicara mengenai segala hal yang ada dalam kehidupan
setelah kematian kita.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
336-338, London, 1984).
Salah Satu Ciri Orang Bertakwa adalah “Beriman
Kepada yang Gaib”
Mengisyaratkan kepada kelemahan
akal (logika) manusia itu pulalah maka Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyebut ciri
pertama
orang-orang yang bertakwa adalah
mereka beriman kepada yang gaib,
firman-Nya:
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾
Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di da-lamnya,
petunjuk bagi orang-orang
yang bertakwa. Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang
gaib, dan mendirikan
shalat dan mereka membelanjakan sebagian dari apa
yang Kami rezekikan kepada mereka. (Al-Baqarah [2]:3-4).
Al-ghaib
berarti: sesuatu yang tersembunyi
atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh
sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah
Swt., para malaikat dan hari kiamat, semuanya al-ghaib.
Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Quran
tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali
dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan
adanya meskipun tidak nampak
(QS.32:7; QS.49:19).
Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira
oleh beberapa kritikus Al-Quran dari
Barat — bahwa Islam memaksakan kepada
para pengikutnya beberapa kepercayaan
aneh yang tidak dapat dipahami
dan mengajak mereka mempercayainya
dengan membabi buta.
Kata gaib
itu berarti hal-hal yang meskipun di
luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal (logika)
atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada
dari hal-hal gaib yang orang
Islam diminta agar beriman
kepadanya itu di luar jangkauan akal.
Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak
nampak tetapi terbukti adanya
dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang
pun dapat menolak kehadiran (keberadaan)
benda-benda yang tidak nampak itu.
Keyakinan
yang kokoh terhadap “yang gaib” -- terutama Allah Swt. dan alam akhirat – itulah yang menjuruskan orang-orang bertakwa tersebut berusaha
menjalin “hubungan komunikasi” dengan
Allah Swt. dalam bentuk یُقِیۡمُوۡنَ
الصَّلٰوۃَ -- “mendirikan
shalat”.
Anak kalimat وَ یُقِیۡمُوۡنَ
الصَّلٰوۃَ -- “dan
mendirikan shalat” berarti: mereka
melakukan shalat dengan segala syarat yang telah ditetapkan; aqama
berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan
yang tepat (Lexicon Lane). Beribadah
itu merupakan ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Allah Swt. – Wujud Yang Maha Gaib. Tambahan pula karunia
Ilahi meliputi baik jasmani
maupun ruh.
Jadi ibadah yang sempurna adalah saat ketika jasmani
dan ruhani manusia keduanya sama-sama
berperan. Tanpa keduanya jiwa sejati ibadah tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya
dan pemujaan oleh jasmani hanya kulitnya, namun isi tidak
dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulit binasa isinya
pun pasti mengalami nasib yang sama.
Rizq dalam ayat:
یُنۡفِقُوۡنَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ وَ -- “dan mereka membelanjakan sebagian dari apa
yang Kami rezekikan kepada mereka“ berarti
sesuatu yang dianugerahkan Allah
Swt. kepada manusia, baik anugerah itu,
bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradat).
Ayat ini
menentukan tiga petunjuk dan
menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan
ruhani manusia:
(1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar
jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan
demikian menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
(2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya, dan bila sebagai hasil
dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menciptakan maka
suatu hasrat yang tidak dapat ditahan
untuk mempunyai perhubungan nyata dan
benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat tersebut terpenuhi dengan mendirikan shalat.
(3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup
dengan Khāliq-nya (Pencipta-nya), ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti kepada sesama manusia berupa mengorbankan sebagian rezeki yang dianugerahkan Allah Swt..
Bahkan mengenai Nabi Besar
Muhammad saw., bukan lagi “mengorbankan
sebagian rezeki yang dianugerahkan Allah Swt.“ melainkan firman-Nya:
قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا
شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupan-ku, dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan)
seluruh
alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah
aku diperintahkan, وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- dan akulah orang pertama yang
berserah diri. (Al-An’ām [6]:163-164).
Shalat,
korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. disuruh menyatakan
bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan
oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Hukum Alam Mengharuskan Adanya Wahyu
Jadi, betapa
hebatnya pengaruh wahyu Ilahi terhadap munculnya keyakinan, terutama wahyu
Al-Quran terhadap keyakinan Nabi
Besar Muhammad saw. Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya menerima kabar gembira melalui wahyu Ilahi agar hati tetap teguh dan tentram
menghadapi kesulitan hidup:
“Yang
Maha Bijaksana tidak berkeinginan
membiarkan manusia yang lemah terperangkap dalam imajinasi (angan-angan) dan dugaannya
sendiri. Dia telah memberikan bermacam pengkhutbah
dan pendidik yang dapat memuaskan manusia dan memberikan kedamaian pada jiwanya yang gelisah
serta membekalinya dengan firman yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kaidah hukum alam dari Tuhan
memastikan perlunya wahyu untuk itu.
Bukankah merupakan suatu kenyataan bahwa ketika berjuta-juta manusia yang terkekang penderitaan akibat dosa dan penyelewengan,
kemudian bisa dipengaruhi oleh bicara seorang pengkhutbah atau penasihat,
karena ilmu dan fikiran mereka sendiri sudah tidak
lagi memadai?
Kepuasan yang diperoleh umat manusia dari sumber-sumber seperti itu tergantung juga pada kadar kekaguman dan penghormatan
yang diberikan kepada sumber
tersebut. Hanya janji-janji dari
seorang yang bersifat amanah pada
janjinya serta memiliki kemampuan
memperbaiki mereka yang akan memberikan kepuasan dan ketenteraman
kepada para pendengar atau pengikutnya.
Dalam keadaan seperti itu, siapa yang
akan meragukan jika ada yang
menyatakan bahwa berkaitan dengan keadaan
manusia setelah mati dan hal-hal
yang bersifat metaphisika, cara terbaik mendapatkan kepuasan dan pemupus kesakitan ruhani adalah firman Tuhan.
Jika seseorang beriman sepenuhnya pada firman Tuhan maka hal itu akan menyelamatkan yang bersangkutan dari
berbagai pusaran permasalahan, meredam nafsu-nafsu yang berlebihan serta mengaruniakan kepadanya keteguhan
hati menghadapi musibah-musibah
yang menakutkan.
Ketika seorang bijak pada saat kesulitan
atau sedang dalam cengkeraman nafsu,
bisa menemukan janji atau peringatan Tuhan di dalam firman-Nya, atau melalui penjelasan dari seseorang tentang apa yang diperintahkan
Tuhan maka yang bersangkutan akan demikian terpengaruh sehingga langsung bertobat.
Manusia selalu membutuhkan Tuhan guna menenteramkan
dirinya. Demikian seringnya ia harus menghadapi berbagai musibah sehingga jika tidak ada firman Tuhan yang memberikan kabar suka, pasti ia akan berputus asa sedemikian rupa sampai-sampai ia akan menyangkal Tuhan-nya, atau bahkan dalam
kekecewaannya malah meninggalkan Tuhan sama sekali atau
juga mati karena kesedihan. Sebagai contoh, Al-Quran
menyatakan:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ
اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ
قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
“Dan niscaya
akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan
dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan;
tetapi hai Rasul berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Mereka inilah yang dilimpahi berkah dan rahmat dari Tuhan mereka pulalah yang mendapat petunjuk’ (Al-Baqarah [2]:156-158).
Dengan cara yang sama, guna mengatasi
nafsu seseorang maka dibutuhkan firman
Tuhan karena pada setiap langkahnya
manusia selalu terantuk pada permasalahan yang hanya bisa diatasi
dengan bantuan firman Tuhan. Bila
seseorang berkeinginan berpaling kembali kepada Tuhan, ia akan menghadapi berbagai rintangan. Terkadang ia teringat kembali pada segala kenikmatan
duniawi, tertarik kepada keakraban
kawan-kawannya atau gamang
menghadapi kesulitan dalam jalan yang akan ditempuh.
Kadang kala kebiasaan dan adat
setempat menghalangi jalannya, atau
juga pertimbangan mengenai derajat kehormatan, kemuliaan atau pun kekuasaan duniawi. Bisa jadi semuanya itu bergabung bersama menjadi satu
seperti gerombolan yang berusaha menariknya ke arah mereka dan menawarkan kepadanya berbagai kemudahan atau kenikmatan dimana kesatuan
mereka itu menekan fikirannya
sedemikian rupa sehingga tidak tertahankan
lagi.
Dalam perseteruan seperti itu maka persenjataan
yang efektif berupa firman Tuhan amat diperlukan guna menumpas
kekuatan lawan pada serangan pertama.
Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya
pada satu sisi saja. Tak mungkin Tuhan akan berdiam diri seperti batu
sedangkan hamba-Nya berusaha
mencapai kemajuan dengan kekuatannya sendiri guna mengembangkan kesetiaan, ketulusan dan keteguhan hati. Manusia akan melaju
maju dalam kasih dan diperkuat oleh keyakinan bahwa ada Wujud
Yang menciptakan langit dan bumi.
Dugaan saja tidak akan pernah bisa
menggantikan fakta.
Sebagai contoh, misalkan seorang miskin yang berutang memperoleh janji
dari seorang kaya yang jujur bahwa pada saat pelunasannya nanti ia akan dibantu menyelesaikan semua utangnya, dibandingkan dengan pengutang lain yang tidak mendapat janji dari siapa pun
dimana ia terpaksa menahan diri
untuk tidak berangan-angan bahwa ia
akan dibantu seseorang melunasi utangnya ketika saatnya tiba. Apakah mungkin kedua orang seperti
itu memiliki tingkat kepuasan yang sama? Jelas tidak!
Semua hal ini tercakup dalam hukum alam dan tidak ada kebenaran lain yang berada di luarnya.
Sial sekali mereka yang katanya mengaku mengikuti
hukum alam tetapi kemudian melepaskan
diri dan malah melakukan hal yang bertentangan
dengan apa yang mereka yakini.” (Barāhin-i-
Ahmadiyyah, Riadh Hind Press, Amritsar, 1884, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
340-342, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 30 April 2016
[1]
Galen
adalah ahli pengobatan, pengarang dan filosof Yunani yang lahir di Pergamum 10
(sekarang Bergama, Turki) tahun 129 meninggal 216. Jalan fikirannya amat
dominan mempengaruhi teori-teori kedokteran Barat mau pun Islam sampai dengan
abad ke 17. (Penterjemah/Khalid
A. Qoyum)