Bismillaahirrahmaanirrahiim
MALAIKAT ALLAH
JEJARING HADANGAN IBLIS DI JALAN
ALLAH TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) & KEDENGKIAN DALAM KISAH MONUMENTAL “DUA ANAK ADAM”
Bab 69
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan makna surah Al-Falaq
ayat 4: وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ -- “dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi,”
yang diisyaratkan ayat ini mungkin keburukan-keburukan
masa -- khususnya masa
kemunduran Islam selama 1000 tahun
setelah umat Islam mengalami masa kejayaannya yang pertama
selama 3 abad (QS.32:6) -- ketika cahaya kebenaran Islam secara
berangsur-angsur padam serta kegelapan
dosa dan keburukan tersebar di
seluruh permukaan bumi, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ
فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya (Ar-Rūm
[30]:42).
Atau, boleh jadi ayat وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ
-- “dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi”
menunjuk kepada keburukan-keburukan saat ketika orang sedang dirundung derita dan kemalangan,
maka hanya kegelapan belaka yang
nampak di sekitarnya serta sinar harapan
terakhir pun menghilang.
Peniupan “buhul”
Persatuan dan Ketaatan Agar Cerai-berai
Isyarat dalam ayat selanjutnya: وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
-- “dan dari keburukan
orang-orang yang meniupkan ke dalam
buhul” (ayat 5) erat kaitannya dengan
ancaman iblis
untuk menghadang misi suci Adam (Khalifah Allah – QS.7-12-19,
QS.17:62-66), antara lain berupa bahaya dari orang-orang
yang membisik-bisikkan
kisikan-kisikan jahat dan menyebabkan ikatan-ikatan
serta persahabatan-persahabatan yang tulus – yang dibina oleh rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:103-104 & 160; QS.8:64; QS.63:8)
-- jadi berantakan dan
menimbulkan pikiran pada orang-orang semangat melawan kekuasaan yang sah atau
melanggar sumpah kesetia-kawanan,
lalu dengan demikian berusaha menimbulkan
keresahan dan perpecahan
di kalangan umat Islam dan menimbulkan di antara mereka kecenderungan-kecenderungan
pecah belah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ
اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾ مِنۡ
شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ
ۙ﴿﴾ وَ
مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَ -- dari
keburukan makhluk yang Dia
ciptakan, وَ مِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ
اِذَا وَقَبَ -- dan dari keburukan kegelapan malam apabila meliputi, وَ مِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ
فِی الۡعُقَدِ -- dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ
شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- dan dari
keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
Jadi,
surah Al-Falāq membahas berbagai bahaya secara fisik
yang dialami orang-orang yang beriman
kepada Rasul Allah akibat penentangan yang dilakukan iblis
dan para pengikutnya -- sebagaimana
yang “diprediksi para malaikat”
mengenai akan munculnya orang-orang
yang berbuat kerusakan dan akan
menumpahkan darah (QS.2:31) -- melalui berbagai macam hadangan iblis di jalan Allah (QS.7:12-19; QS.17:62-66), firman-Nya:
قَالَ
اَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ اِنَّکَ
مِنَ الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَبِمَاۤ
اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ
لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ
﴿ۙ﴾ ثُمَّ
لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ
ؕ وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ
﴿﴾ قَالَ اخۡرُجۡ
مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ
جَہَنَّمَ مِنۡکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Iblis, berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari
mereka dibangkitkan.” Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- Ia, Iblis, berkata: “Karena Engkau
telah menyatakan aku sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus, ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ
اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ -- kemudian
niscaya akan ku-datangi mereka dari depan
mereka, dari belakang mereka,
dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, وَ لَا
تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ -- dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan
mereka bersyukur.” قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا
مَّدۡحُوۡرًا -- Dia
berfirman: “Keluarlah engkau darinya
dengan terhina dan terusir, لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنۡکُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ -- barangsiapa
dari mereka mengikuti engkau,
niscaya akan Aku penuhi Jahannam dengan
kamu semua.” (Al-A’rāf [7]:15-19).
Makna “Kebangkitan”
& Tiga Jenis “Hadangan” Iblis dan Syaitan di Jalan Allah
Swt.
Kebangkitan yang disebut dalam ayat: قَالَ
اَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ -- “Ia, Iblis, berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan,” bukan Kiamat Besar (Kiamat Qubra) yang umat manusia yang ditakdirkan mengalaminya alam akhirat, melainkan kebangkitan ruhani manusia di dunia ini atau keadaan pada saat alam-sadar ruhaninya telah
sepenuh-penuhnya berkembang, sebagai hasil dari kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang mengajarkan Tauhid Ilahi hakiki (QS.3:191-196;
QS.41:31-33; QS.58:23).
Iblis hanya dapat membawa manusia ke jalan kesesatan
selama ia secara ruhani belum dibangkitkan, tetapi begitu ia mencapai martabat ruhani yang tinggi
melalui
kepatuh-taatan kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37) -- sebagaimana dikenal dengan istilah baqa
(kelahiran kembali) -- maka iblis
tidak dapat mencelakakannya (QS.15:41;
QS.17:66; QS.38:84).
Jejaring godaan-godaan dan bujukan-bujukan yang diancamkan
oleh iblis dalam ayat
selanjutnya dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ
طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا الَّذِیۡ
کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ
لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ
جَہَنَّمَ جَزَآؤُکُمۡ جَزَآءً
مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ
اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ
وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ
الشَّیۡطٰنُ اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ
لَیۡسَ لَکَ عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni patuhlah kepada Adam,” maka mereka
bersujud kecuali iblis. Ia
berkata: “Apakah aku harus bersujud
kepada orang yang Engkau jadikan
dari tanah liat?” Ia
berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin bahwa yang
telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat, niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” قَالَ اذۡہَبۡ
فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ
جَزَآؤُکُمۡ جَزَآءً مَّوۡفُوۡرًا
-- Dia berfirman: “Pergilah,
lalu barangsiapa akan mengikuti engkau
dari antara mereka maka sesungguhnya
Jahannamlah balasan bagi kamu, suatu
balasan yang penuh, وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ
بِصَوۡتِکَ ِ -- Dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggup dengan suara engkau, وَ اَجۡلِبۡ
عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ -- dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda
engkau dan pasukan berjalan-kaki
engkau وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ -- dan berserikatlah dengan mereka dalam harta dan anak-anak
mereka, وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ
مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ اِلَّا غُرُوۡرًا -- dan berikanlah janji-janji kepada mereka.” Dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya. اِنَّ
عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ
عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی
بِرَبِّکَ وَکِیۡلًا -- Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai
kekuasaan atas mereka,
dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pelindung. (Bani
Israil [17]:62-66).
Dalam ayat-ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya yang dilakukan
oleh iblis dan syaitan -- yakni anak-anak
kegelapan -- untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran:
(1) وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ ِ -- “dan bujuklah
siapa dari antara mereka yang engkau
sanggup dengan suara engkau,” mereka
berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan
mempergunakan kekerasan terhadap
mereka.
(2) عِدۡہُمۡ -- “dan berikanlah janji-janji kepada mereka,”
mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap mereka yang tidak
dapat ditakut-takuti dengan cara
gertak sambal (ancaman), yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan
segala cara;
(3) وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ
الشَّیۡطٰنُ اِلَّا غُرُوۡرًا – “dan berikanlah janji-janji kepada mereka,” mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh dengan tawaran
akan menjadikannya pemimpin mereka,
asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran.
Kedengkian Dalam Kisah Monumental “Dua Anak Adam”
Demikianlah intisari doa mohon
perlindungan kepada Allah Swt.
sebagai Rabb-al-Falaq yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq, dari berbagai makar buruk yang dilakukan musuh-musuh
kebenaran yang dilandasi kedengkian, sebagaimana yang diancamkan iblis
untuk menghadang perjuangan suci Adam dan para pengikutnya di jalan
Allah Swt. (QS.7:12-19; QS.17:62-66).
Manusia dihadapkan kepada macam-macam bahaya dan kesulitan dalam kehidupan
ini. Ketika ia di tengah kesibukan
melaksanakan sesuatu yang sangat penting,
terutama ketika ia mewajibkan atas dirinya
menyebarkan cahaya kebenaran (Tauhid
Ilahi) maka kekuatan-kekuatan kegelapan mengerubutinya dari segala penjuru; dan
ketika ia rupa-rupanya akan berhasil,
orang-orang yang mempunyai rencana-rencana
jahat menghalangi jalannya dan menimbulkan
segala macam rintangan dan kesulitan baginya. Tetapi bila ia pada
akhirnya berada di mahkota keberhasilan,
maka orang-orang berwatak dengki
berusaha meluputkan dia dari meraih buah usahanya.
Sebagai
penjagaan terhadap segala macam rintangan, kesulitan dan bahaya
dalam menempuh jalan hidupnya, orang-orang beriman diperintahkan agar memohon pertolongan dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya
memberinya nur, ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan
dan supaya melindunginya dari
rencana-rencana jahat tukang-tukang
fitnah: وَ مِنۡ
شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan
ke dalam buhul,” dan dari persekongkolan
jahat para pendengki: وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang dengki
apabila ia mendengki.”
Contoh
bahaya yang ditimbulkan orang yang dengki
apabila melaksanakan kedengkiannya sebagaimana dikemukakan ayat terakhir surah Al-Falaq وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ -- “dan
dari keburukan orang yang dengki apabila ia mendengki” adalah
yang dilakukan salah seorang dari Bani
(keturunan) Adam terhadap saudaranya dalam firman-Nya berikut ini -- yang juga
merupakan kisah monumental yang
senantiasa terulang di kalangan Bani Adam, termasuk di Akhir Zaman ini -- firman-Nya :
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا
فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ
لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا
یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ
مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ
لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ اَخَافُ
اللّٰہَ رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ
اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ
النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Dan ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua anak Adam dengan sebenarnya, اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ
مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ -- ketika
keduanya memberikan pengorbanan,
maka dikabulkan salah seorang dari
keduanya itu sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, قَالَ
لَاَقۡتُلَنَّکَ -- lalu ia
berkata: “Niscaya engkau akan kubunuh.” قَالَ
اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ
مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ
-- Saudaranya berkata:
“Sesungguhnya Allah hanya
mengabulkan pengorbanan dari orang-orang
yang bertakwa. لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ
لِاَقۡتُلَکَ -- Jika engkau benar-benar menjangkaukan tangan
engkau terhadapku untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh
engkau, ِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ رَبَّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- sesungguhnya aku takut kepada
Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam. اِنِّیۡۤ اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ
اِثۡمِکَ -- Sesungguhnya aku menginginkan bahwa engkau
menanggung dosaku dan dosa engkau sendiri, فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ -- maka engkau akan menjadi penghuni Api, وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ -- dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Māidah
[5]:28-35).
Kedengkian Bani
Israil kepada Bani Isma’il (Umat
Islam)
Sebagaimana “dialog” dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” bukan dalam makna harfiah melainkan dalam makna kiasan
yang menggambarkan keadaan pasti terjadi, demikian pula halnya “dialog”
antara “kedua anak Adam” dalam ayat-ayat tersebut.
Walau
pun sebutan “kedua anak Adam” secara kiasan
maksudnya ialah dua pribadi siapa
saja dari antara segenap keturunan umat
manusia (Bani Adam), tetapi perumpamaan
tersebut secara khusus menggambarkan sikap
tidak bersahabat atau kedengkian kaum Bani Israil terhadap keturunan Nabi
Isma’il a.s. karena silsilah kenabian telah dipindahkan
Allah Swt. dari Bani Israil kepada
kaum Bani Isma’il dalam pribadi Nabi Besar Muhammad saw., sesuai perjanjian Allah Swt. dengan Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:126-30).
Itulah sebabnya dalam surah Al-Baqarah, setelah membahas kisah
monumental “Adam – Malaikat – Iblis” (QS.2:31-40, selanjutnya Allah Swt.
mengemukakan tentang Bani Israil (ayat 41 dan seterusnya),
dengan demikian jelaslah bahwa kisah
monumental “dua anak Adam” tersebut secara khusus tertuju kepada Bani Israil (QS.5:28-35).
Makna kata Urīdu (aku
menginginkan) dalam ayat: اِنِّیۡۤ
اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ
-- Sesungguhnya aku menginginkan
bahwa engkau menanggung dosaku dan dosa
engkau sendiri” diserap dari kata rāda, yang kadang-kadang tidak
menyatakan keinginan yang sebenarnya, melainkan hanya menerangkan suatu keadaan atau kondisi praktis yang agaknya menjurus
kepada suatu situasi tertentu,
misalnya mengenai “dinding yang hampir runtuh” digunakan kata yurīdu (QS.18:78).
Jadi, makna ayat tersebut tidak berarti bahwa Habel menghendaki saudaranya, Kain,
dicampakkan ke dalam neraka. Apa yang dimaksud olehnya hanya akibat wajar tapi pasti dari sikapnya sendiri yang tidak-agresip (pengalah) itu maka saudaranya
(Kain) akan masuk neraka.
Kata
itsmi artinya “dosa yang dibuat terhadapku.” Di sini
calon korban itu hanya menggambarkan akibat
dari perbuatan yang akan dilakukan oleh saudaranya. Ungkapan ini dapat juga
dijelaskan dengan jalan lain sebagai berikut. Menurut riwayat Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa pada “Hari Peradilan” perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan orang-orang zalim akan dipindahkan
kepada orang-orang yang dizalimi oleh mereka, dan seandainya orang-orang
zalim itu sama sekali tidak pernah berbuat
baik, maka dosa orang-orang yang
dizalimi akan diperhitungkan (dipindahkan) kepada orang-orang zalim sehingga dengan demikian, orang-orang fasik bukan saja
menanggung dosa mereka sendiri,
tetapi pula dosa-dosa orang yang dizalimi (Muslim, bab al-Birr wa’l Shila).
Fenomena “Burung Gagak”
& Hukuman Allah Swt. Bagi Bani
Israil
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai penyesalan terlambat yang dialami Kain perbuatan buruknya:
فَطَوَّعَتۡ لَہٗ نَفۡسُہٗ
قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ
فَاَصۡبَحَ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا
یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ
یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ اَکُوۡنَ
مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ
سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ مِنَ النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚۛۙ﴾
Tetapi nafsunya telah membuat dia taat kepadanya supaya membunuh saudaranya, lalu dia
membunuhnya maka dia pun menjadi termasuk orang-orang yang rugi. Lalu Allah
mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk
di tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana
cara menyembunyikan mayat
saudaranya. قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ
اَکُوۡنَ مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ -- Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah
aku berbuat seperti gagak ini
supaya dapat kusembunyikan mayat
saudara-ku?” فَاَصۡبَحَ مِنَ النّٰدِمِیۡنَ -- maka jadilah
ia di antara orang-orang yang menyesal. (Al-Māidah [31-32).
Para mufasirin berlainan pendapat mengenai peristiwa burung gagak itu — apakah benar-benar
terjadi ataukah hanya sekedar perumpamaan.
Tidak mustahil bahwa peristiwa demikian itu sungguh-sungguh terjadi. Terdapat keterangan mengenai salah satu dari sekian banyak kecerdasan burung yaitu jika salah satu burung gagak terluka oleh seseorang atau terjangkit
penyakit dalam anggota kelompok sehingga tidak mampu untuk terbang, maka mereka mengambil keputusan untuk membunuhnya dan menguburkannya,
karena mereka kuatir akan penyebaran
penyakit darinya ke seluruh anggota burung gagak lainnya, atau dengan alasan lainnya yang belum diketahui
manusia.
Bahwa kisah
monumental “dua anak Adam”
tersebut -- walau pun bersifat
umum -- tetapi secara khusus tertuju
kepada Bani Israil -- sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. selanjutnya:
مِنۡ اَجۡلِ
ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا
بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ
جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ اَحۡیَاہَا
فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا
بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ اِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾
Oleh sebab itu کَتَبۡنَا عَلٰی
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Kami
tetapkan bagi Bani Israil bahwa: اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ
نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ
-- Barangsiapa
yang membunuh seseorang, padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau telah
mengadakan kerusakan di bumi, فَکَاَنَّمَا قَتَلَ
النَّاسَ جَمِیۡعًا -- maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;
وَ مَنۡ
اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا -- dan barangsiapa
menyelamatkan nyawa seseorang maka ia
seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا
بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ -- Dan
sungguh benar-benar telah datang kepada
mereka rasul-rasul
Kami dengan Tanda-tanda yang nyata,
ثُمَّ
اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ -- kemudian
sesudah itu sungguh kebanyakan
dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi. (Al-Māidah [33).
Nubuatan Pengutusan
“Nabi yang Seperti Musa”
Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini
ialah suatu peristiwa yang serupa
dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua
putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas
lagi penting itu akan terjadi kelak
di kemudian hari. Yakni sesuai nubuatan dalam Bible (Ulangan 18:15-19 & 33:2; Yesaya
21:13-17 & 20:62; Syiru’Lasyar 1:5-6; Hubakuk
3-7; Matius
23:39; Yahya 14:16, 26 & 16:7-14; Wahyu
16:12-13), seorang nabi Allah akan
muncul di antara saudara-saudara Bani
Israil, dari kalangan Bani Isma’il
dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw., seorang rasul
Allah untuk seluruh umat
manusia, termasuk Bani Israil, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۪
فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ
النَّبِیِّ الۡاُمِّیِّ الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ
اتَّبِعُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul Allah ke-pada kamu semua. Dia-lah Yang Memiliki kerajaan seluruh
langit dan bumi, tidak ada Tuhan kecuali Dia. Dia
menghidupkan dan mematikan, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ الۡاُمِّیِّ
الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ -- maka berimanlah
kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Ummi yang beriman kepada Allah dan Kalimat-kalimat-Nya,
وَ
اتَّبِعُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’rāf
[7]:158-159). Lihat pula QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29.
Berikut ini adalah nubuatan dalam Biblel
mengenai kedatangan “nabi yang seperti
Musa” yang muncul dari kalangan saudara
Bani Israil, yakni Bani Isma’il:
18:15 Seorang nabi dari
tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku ,
akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada
hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak
mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau
aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi
akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau
ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi
nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. (Ulangan
18:15-19).
Pada hakikatnya nubuatan
mengenai pengutusan “nabi
yang seperti Musa” dari kalangan Bani Ismail -- yakni
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11; QS.73:16-17) -- tersebut merupakan jawaban Allah Swt. kepada permohonan ampun yang dipanjatkan Nabi
Musa a.s. di gunung Thur akibat kedurhakaan Bani Israil yang kembali menyembah patung anak sapi buatan Samiri (QS.2:149-157; QS.20:84-99), sebagaimana dikemukakan
sebelumnya:
18:16 Tepat seperti yang
kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan,
dengan berkata: Tidak mau aku mendengar
lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya
lagi, supaya jangan aku mati. (Ulangan
18:16).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,13 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar