Jumat, 17 Juni 2016

Jejaring "Hadangan Iblis di Jalan Allah" Terhadap Adam (Khalifah Allah) & "Kedengkian" Dalam Kisah Monumental "Dua Anak Adam"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  MALAIKAT ALLAH 


JEJARING HADANGAN IBLIS  DI JALAN ALLAH  TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH)  & KEDENGKIAN DALAM KISAH MONUMENTAL “DUA ANAK ADAM”

Bab 69

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir  Bab   sebelumnya   telah dikemukakan    makna  surah Al-Falaq ayat 4: وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ  --  “dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,” yang diisyaratkan ayat ini mungkin   keburukan-keburukan masa   -- khususnya  masa kemunduran Islam selama 1000 tahun setelah umat Islam mengalami masa kejayaannya yang pertama selama  3 abad (QS.32:6)  -- ketika cahaya kebenaran Islam secara berangsur-angsur  padam  serta kegelapan dosa dan keburukan tersebar di seluruh permukaan bumi, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya (Ar-Rūm [30]:42).
    Atau, boleh jadi ayat  وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ  --  “dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi”  menunjuk kepada keburukan-keburukan saat ketika orang sedang dirundung derita dan kemalangan, maka hanya kegelapan belaka yang nampak di sekitarnya serta sinar harapan terakhir pun menghilang.

Peniupan “buhul” Persatuan   dan Ketaatan   Agar Cerai-berai

     Isyarat dalam ayat selanjutnya: وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ  -- “dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul” (ayat 5) erat kaitannya dengan  ancaman  iblis  untuk menghadang misi suci Adam (Khalifah Allah – QS.7-12-19, QS.17:62-66), antara lain berupa bahaya dari  orang-orang yang membisik-bisikkan kisikan-kisikan jahat dan menyebabkan ikatan-ikatan serta persahabatan-persahabatan yang tulus – yang dibina oleh rasul Allah,  terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:103-104 & 160; QS.8:64; QS.63:8)  -- jadi berantakan dan menimbulkan pikiran pada orang-orang semangat melawan kekuasaan yang sah atau melanggar sumpah kesetia-kawanan, lalu dengan demikian berusaha menimbulkan keresahan dan perpecahan di kalangan umat Islam dan menimbulkan di antara mereka kecenderungan-kecenderungan pecah belah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   قُلۡ اَعُوۡذُ  بِرَبِّ الۡفَلَقِ ۙ﴿﴾   مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ﴿﴾   وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ ۙ﴿﴾  وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada  Rabb (Tuhan) Yang Memiliki fajar, مِنۡ  شَرِّ مَا خَلَقَ  --   dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan, وَ مِنۡ  شَرِّ غَاسِقٍ  اِذَا وَقَبَ --  dan dari keburukan kegelapan malam  apabila meliputi,  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ --   dan dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul, وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ --    dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.” (Al-Falaq [113]:1-6).
    Jadi, surah Al-Falāq    membahas  berbagai bahaya  secara fisik yang dialami orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah akibat penentangan yang dilakukan  iblis dan para pengikutnya -- sebagaimana yang “diprediksi para malaikat” mengenai akan munculnya orang-orang yang berbuat kerusakan dan akan  menumpahkan darah (QS.2:31) -- melalui berbagai macam hadangan iblis di jalan Allah   (QS.7:12-19; QS.17:62-66), firman-Nya:
قَالَ  اَنۡظِرۡنِیۡۤ   اِلٰی  یَوۡمِ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ   اِنَّکَ  مِنَ  الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ  مِنۡکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Iblis berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan.”   Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ  --  Ia, Iblis,  berkata: “Karena  Engkau telah menyatakan  aku  sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus,    ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ  --  kemudian  niscaya  akan ku-datangi mereka dari depan  mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ  -- dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka  bersyukur.” قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا  --   Dia berfirman: “Keluarlah engkau darinya dengan  terhina dan terusir,  لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ  مِنۡکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ --  barangsiapa dari mereka mengikuti engkau, niscaya akan Aku penuhi Jahannam dengan kamu semua.” (Al-A’rāf [7]:15-19).

Makna “Kebangkitan” &  Tiga Jenis “Hadangan” Iblis dan Syaitan di Jalan Allah Swt.

    Kebangkitan yang disebut dalam ayat: قَالَ  اَنۡظِرۡنِیۡۤ   اِلٰی  یَوۡمِ  یُبۡعَثُوۡنَ  -- “Ia, Iblis berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan,”   bukan Kiamat Besar (Kiamat Qubra) yang  umat manusia yang ditakdirkan mengalaminya alam akhirat, melainkan kebangkitan ruhani manusia di dunia ini atau keadaan pada saat alam-sadar ruhaninya telah sepenuh-penuhnya berkembang, sebagai hasil dari kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang   mengajarkan Tauhid Ilahi   hakiki (QS.3:191-196; QS.41:31-33; QS.58:23).
    Iblis hanya dapat membawa manusia  ke jalan kesesatan selama ia secara ruhani belum dibangkitkan,  tetapi begitu ia mencapai martabat ruhani yang tinggi  melalui  kepatuh-taatan kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37)  -- sebagaimana dikenal dengan istilah baqa (kelahiran kembali) -- maka iblis tidak dapat mencelakakannya (QS.15:41; QS.17:66; QS.38:84).
      Jejaring godaan-godaan dan bujukan-bujukan yang diancamkan oleh iblis  dalam ayat  selanjutnya dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ  خَلَقۡتَ  طِیۡنًا﴿ۚ﴾  قَالَ  اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا  الَّذِیۡ  کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ  وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا  ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”  maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?”    Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin  bahwa    yang telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat,   niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا  -- Dia berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu,  suatu balasan yang penuh,  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ ِ   --    Dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggup dengan suara engkau, وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ --  dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ -- dan berserikatlah dengan mereka dalam harta  dan anak-anak mereka,   وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا -- dan berikanlah janji-janji kepada mereka.”    Dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya.  اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا    --   Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan  atas mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:62-66).
      Dalam ayat-ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya yang dilakukan oleh iblis dan syaitan  -- yakni anak-anak   kegelapan   -- untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran:
(1)        وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ ِ   --    “dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggup dengan suara engkau,” mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan kekerasan terhadap mereka.
(2)    عِدۡہُمۡ   -- “dan berikanlah janji-janji kepada mereka,”    mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti dengan cara gertak sambal (ancaman), yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan segala cara;
(3)       وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا – “dan berikanlah janji-janji kepada mereka,” mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran.

Kedengkian Dalam Kisah Monumental “Dua Anak Adam”

     Demikianlah intisari  doa  mohon perlindungan kepada Allah Swt. sebagai  Rabb-al-Falaq yang dikemukakan dalam Surah Al-Falaq, dari  berbagai makar buruk  yang dilakukan  musuh-musuh kebenaran  yang dilandasi kedengkian, sebagaimana yang diancamkan iblis  untuk menghadang  perjuangan suci Adam dan para pengikutnya  di jalan Allah Swt. (QS.7:12-19; QS.17:62-66).
    Manusia dihadapkan kepada macam-macam bahaya dan kesulitan dalam kehidupan ini. Ketika ia di tengah kesibukan melaksanakan sesuatu yang sangat penting, terutama ketika ia mewajibkan atas dirinya menyebarkan cahaya kebenaran (Tauhid Ilahi)  maka kekuatan-kekuatan kegelapan mengerubutinya dari segala penjuru; dan ketika ia rupa-rupanya akan berhasil, orang-orang yang mempunyai rencana-rencana jahat menghalangi jalannya dan menimbulkan segala macam rintangan dan kesulitan baginya. Tetapi bila ia pada akhirnya berada di mahkota keberhasilan, maka orang-orang berwatak dengki berusaha meluputkan dia dari meraih buah usahanya.
     Sebagai penjagaan terhadap segala macam rintangan, kesulitan dan bahaya dalam menempuh jalan hidupnya, orang-orang beriman diperintahkan agar memohon pertolongan dan bantuan dari Rabbul-Falāq supaya memberinya nur, ketika kegelapan mengepung dari semua jurusan dan supaya melindunginya dari rencana-rencana jahat tukang-tukang fitnah:  وَ مِنۡ  شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِی الۡعُقَدِ -- “dari keburukan orang-orang yang meniupkan ke dalam buhul,” dan dari persekongkolan jahat para pendengkiوَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ -- “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki.
   Contoh  bahaya yang ditimbulkan  orang yang dengki apabila  melaksanakan kedengkiannya  sebagaimana dikemukakan  ayat terakhir surah Al-Falaq    وَ مِنۡ  شَرِّ حَاسِدٍ  اِذَا حَسَدَ --    “dan dari keburukan orang yang  dengki apabila ia mendengki”  adalah yang dilakukan  salah seorang  dari Bani (keturunan) Adam terhadap saudaranya  dalam firman-Nya berikut ini -- yang juga merupakan kisah monumental yang senantiasa terulang  di kalangan Bani Adam, termasuk di Akhir Zaman ini  -- firman-Nya :
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ  بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ  اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ  اللّٰہُ مِنَ  الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ   اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ  رَبَّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  اِنِّیۡۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Dan ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua anak  Adam  dengan sebenarnya,  اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ   -- ketika keduanya  memberikan pengorbanan, maka dikabulkan salah seorang dari keduanya itu  sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ --  lalu ia berkata: “Niscaya  engkau akan kubunuh.” قَالَ  اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ  اللّٰہُ مِنَ  الۡمُتَّقِیۡنَ  -- Saudaranya berkata:  “Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan pengorbanan dari orang-orang yang bertakwa. لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ   اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ --   Jika engkau benar-benar menjangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, ِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ  رَبَّ  الۡعٰلَمِیۡنَ -- sesungguhnya aku takut kepada Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh alam.  اِنِّیۡۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ  -- Sesungguhnya aku menginginkan  bahwa engkau menanggung dosaku  dan dosa engkau sendiri,  فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ -- maka engkau akan menjadi penghuni Api,  وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ -- dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Māidah [5]:28-35).

Kedengkian Bani Israil kepada Bani Isma’il (Umat Islam)

      Sebagaimana  “dialog” dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” bukan dalam makna harfiah melainkan dalam makna kiasan  yang menggambarkan keadaan   pasti terjadi, demikian pula halnya “dialog” antara “kedua  anak Adam” dalam ayat-ayat tersebut.
   Walau pun sebutan “kedua anak Adam” secara kiasan maksudnya ialah dua pribadi siapa saja dari antara segenap keturunan umat manusia (Bani Adam), tetapi perumpamaan tersebut secara khusus menggambarkan sikap tidak bersahabat  atau kedengkian kaum Bani Israil terhadap keturunan Nabi Isma’il a.s.  karena   silsilah kenabian telah dipindahkan Allah Swt. dari Bani Israil kepada kaum Bani Isma’il dalam pribadi Nabi Besar Muhammad saw., sesuai perjanjian Allah Swt. dengan Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:126-30).
       Itulah sebabnya dalam surah Al-Baqarah, setelah membahas   kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” (QS.2:31-40, selanjutnya  Allah Swt.  mengemukakan tentang  Bani Israil (ayat 41 dan seterusnya), dengan demikian jelaslah bahwa kisah monumental “dua anak Adam” tersebut secara khusus tertuju kepada Bani Israil (QS.5:28-35).
    Makna kata Urīdu (aku menginginkan) dalam ayat: اِنِّیۡۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ  -- Sesungguhnya aku menginginkan  bahwa engkau menanggung dosaku  dan dosa engkau sendiri” diserap dari kata rāda, yang kadang-kadang tidak menyatakan keinginan yang sebenarnya, melainkan hanya menerangkan suatu keadaan atau kondisi praktis yang agaknya menjurus kepada suatu situasi tertentu, misalnya  mengenai “dinding yang hampir runtuh” digunakan kata  yurīdu (QS.18:78).
   Jadi, makna ayat  tersebut  tidak berarti bahwa Habel menghendaki saudaranya, Kain, dicampakkan ke dalam neraka. Apa yang dimaksud olehnya hanya akibat wajar tapi pasti dari sikapnya sendiri yang tidak-agresip (pengalah) itu   maka    saudaranya (Kain) akan masuk neraka.
    Kata itsmi   artinya “dosa yang dibuat terhadapku.” Di sini calon korban itu hanya menggambarkan akibat dari perbuatan yang akan dilakukan oleh saudaranya. Ungkapan ini dapat juga dijelaskan dengan jalan lain sebagai berikut. Menurut riwayat  Nabi Besar Muhammad saw.  bersabda bahwa pada “Hari Peradilan” perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan orang-orang zalim  akan dipindahkan kepada orang-orang yang dizalimi  oleh mereka, dan seandainya  orang-orang zalim itu sama sekali tidak pernah berbuat baik, maka dosa orang-orang yang dizalimi  akan diperhitungkan (dipindahkan) kepada orang-orang zalim sehingga dengan demikian, orang-orang fasik  bukan saja menanggung dosa mereka sendiri, tetapi pula dosa-dosa orang yang dizalimi (Muslim, bab al-Birr wa’l Shila).

Fenomena “Burung Gagak”  & Hukuman Allah Swt. Bagi Bani Israil

     Selanjutnya  Allah Swt. berfirman mengenai  penyesalan   terlambat  yang dialami Kain  perbuatan buruknya:
فَطَوَّعَتۡ  لَہٗ نَفۡسُہٗ  قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ  فَاَصۡبَحَ  مِنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚۛۙ﴾
Tetapi nafsunya telah membuat dia taat kepadanya supaya membunuh saudaranya, lalu   dia membunuhnya  maka dia pun menjadi termasuk orang-orang yang  rugi.  Lalu Allah mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk di tanah  untuk memperlihatkan kepadanya  bagaimana cara  menyembunyikan mayat saudaranya. قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ  -- Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah aku berbuat seperti gagak ini supaya dapat kusembunyikan mayat saudara-ku?” فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ --  maka jadilah ia di antara orang-orang yang menyesal.   (Al-Māidah [31-32).
    Para mufasirin berlainan pendapat mengenai peristiwa burung gagak itu — apakah benar-benar terjadi ataukah hanya sekedar perumpamaan. Tidak mustahil bahwa peristiwa demikian itu sungguh-sungguh terjadi.  Terdapat keterangan mengenai salah satu  dari sekian banyak kecerdasan burung yaitu   jika salah satu burung gagak  terluka oleh seseorang atau terjangkit penyakit dalam anggota kelompok sehingga tidak mampu untuk terbang, maka  mereka mengambil   keputusan untuk membunuhnya dan menguburkannya, karena mereka kuatir akan penyebaran penyakit darinya ke seluruh anggota burung gagak lainnya, atau dengan alasan lainnya yang belum diketahui manusia.
     Bahwa kisah monumental “dua anak Adam”  tersebut   -- walau pun bersifat umum -- tetapi  secara khusus tertuju kepada Bani Israil   -- sebagaimana dijelaskan dalam  firman Allah Swt. selanjutnya:
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾
Oleh sebab itu کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ   --  Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ  --    Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan kerusakan  di bumi, فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا  -- maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;  وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا --  dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫   -- Dan sungguh benar-benar telah datang kepada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata,  ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ -- kemudian sesudah itu  sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi.  (Al-Māidah [33).  

Nubuatan Pengutusan “Nabi yang Seperti Musa
  
      Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu akan terjadi kelak di kemudian hari.  Yakni  sesuai nubuatan  dalam Bible (Ulangan 18:15-19 & 33:2; Yesaya 21:13-17 & 20:62; Syiru’Lasyar 1:5-6;  Hubakuk 3-7;  Matius 23:39;  Yahya 14:16, 26 & 16:7-14; Wahyu 16:12-13), seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil, dari kalangan Bani Isma’il dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw.,  seorang  rasul Allah  untuk  seluruh umat manusia, termasuk Bani Israil, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ  وَ الۡاَرۡضِ ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۪ فَاٰمِنُوۡا  بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ  الۡاُمِّیِّ  الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ اتَّبِعُوۡہُ  لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai manusia,  sesungguhnya aku Rasul Allah ke-pada kamu semua.  Dia-lah Yang Memiliki  kerajaan seluruh langit dan bumi, tidak ada Tuhan kecuali Dia.  Dia menghidupkan dan mematikanفَاٰمِنُوۡا  بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ  الۡاُمِّیِّ  الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ     --  maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Ummi yang beriman kepada Allah dan Kalimat-kalimat-Nya, وَ اتَّبِعُوۡہُ  لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ --  dan  ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’rāf [7]:158-159). Lihat pula  QS.21:108;  QS.25:2;  QS.34:29.
      Berikut ini adalah nubuatan dalam Biblel mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” yang muncul dari kalangan saudara Bani Israil, yakni Bani Isma’il:
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku , akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. (Ulangan 18:15-19).
         Pada hakikatnya nubuatan  mengenai pengutusan   “nabi yang seperti Musa”  dari kalangan Bani Ismail  -- yakni  Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.46:11; QS.73:16-17)  -- tersebut merupakan   jawaban Allah Swt. kepada permohonan ampun yang dipanjatkan Nabi Musa a.s. di gunung Thur akibat kedurhakaan Bani Israil  yang kembali menyembah patung anak sapi buatan Samiri (QS.2:149-157; QS.20:84-99), sebagaimana dikemukakan sebelumnya:
18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. (Ulangan 18:16).

(Bersambung)
            
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar,13  Juni    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar